Beranda Tokoh Tafsir Stefan Wild dan Luxenberg dalam Memaknai Bidadari Surga dalam Al-Quran

Stefan Wild dan Luxenberg dalam Memaknai Bidadari Surga dalam Al-Quran

Isu-isu yang membahas tentang persoalan metafisika akhirat adalah hal yang jarang dapat dikritik karena tidak pernah membuahkan hasil yang signifikan. Hal ini biasa disebut dengan eskatologi. Eskatologi sendiri berasal dari kata escaton yang secara harfiah dimaknai doktrin tentang akhir, sebuah doktrin yang membahas tentang keyakinan yang berhubungan dengan kejadian-kejadian akhir hidup manusia, seperti kematian, hari kiamat, berakhirnya dunia, kebangkitan kembali, pangadilan akhir, surga, neraka dan lain sebagainya (Angeles, 1981). Eskatologi dipahami sebagai doktrin tentang akhir kehidupan manusia. Al-Quran menempatkan eskatologi sebagai sesuatu yang berperan sebagai penghubung antara kehidupan dunia dan akhirat, salah satunya adalah tentang kenikmatan surga.

Konsep paling unik dalam penggambaran surga adalah konsep “malaikat surga” atau sebagaimana Al-Qur’an mengungkapkan kata hurun ‘in. Luxenberg sebagai salah satu cendekiawan Barat yang concern dengan kajian Al-Quran, mencoba menafsirkan kembali kata hurun ’in yang terkandung dalam Al-Quran. Hipotesis yang dikemukakan oleh Luxenberg ini kemudian memancing beberapa sarjana lain untuk berkomentar dan memberikan kritik, salah satunya Stefan Wild.

Baca Juga: Sanggahan Terhadap Pandangan Orientalis Christoph Luxenberg: Problematika Pembacaan Ulang Al-Qur’an Menggunakan Bahasa Syiriak-Aramaik

Sekilas Tentang Luxenberg

Christoph Luxenberg merupakan nama samaran seorang sarjana dari Jerman yang membantah pandangan Muslim ortodoks mengenai Al-Quran. dia adalah seorang warga dari Jerman yang berkebangsaan Lebanon dan penganut Kristen, yang mempunyai nama asli Ephraem Malkiyaitu seorang Dr. Phil. dalam bidang Arabustik. Christoph Luxenberg adalah salah seorang orientalis yang tertarik terhadap kajian Al-Quran. Luxenberg mengajukan kritik terhadap otentisitas bahasa Al-Quran dalam bentuk buku yang berjudul The Syro-Aramaicaicaic Reading of The Qur’an: A Contribution to the Decoding of the Language of the Koran. Menurutnya, ada banyak hal yang harus direkonstruksi dan dikaji ulang dalam Al-Quran, termasuk persepsi mengenai asal bahasa Al-Quran.

Pemaknaan Luxenberg Mengenai Bidadari Surga

Jika kita melihat Al-Quran, kita akan menemukan bahwa deskripsi malaikat dengan kata hurun ‘in sering diikuti dengan konsep pernikahan, meskipun tidak selalu demikian. Dalam beberapa ayat bahkan disebutkan bahwa seseorang yang ada di surga akan dinikahkan dengan beberapa bidadari. Hal ini menimbulkan adanya persepsi bagi sebagian orang untuk mendefinisikan surga yang dipahami oleh umat Islam sebagai tempat kesenangan tanpa batas, di mana seksualitas menempati posisi yang sangat menonjol (Al-Azmeh, 1995).

Luxenberg menggunakan kata “malaikat surga” (hurun ‘in) sebagai contoh untuk menekankan hipotesisnya tentang keaslian bahasa Al-Quran. “Bidadari surga” atau hur’in menurut Luxenberg sebenarnya berasal dari bahasa Aramaic yang karena salah baca kemudian disalahartikan (Wild, 2010). Jadi, menurut Luxenberg, satu-satunya jalan keluar untuk memecahkan masalah makna “malaikat surgawi” ini adalah mempelajari dan memperjelas etimologi bahasa Aramaic. Dengan menelaah secara langsung etimologi bahasa Aramaic, Luxenberg kemudian berpendapat bahwa kata hurun ‘in dalam Al-Quran memiliki arti “anggur putih” (Wild, 2010). yang dalam sastra Syriac-Aramaic menjadi simbol kekayaan dan kemewahan. Untuk itu, menurut dia, manusia di surga tidak akan mendapatkan bidadari, melainkan anggur putih.

Terlepas dari masalah kata bidadari surga yang diklaim Luxenberg berasal dari bahasa Aram, penolakannya terhadap gagasan bidadari surga sebenarnya juga karena dalam persepsinya, gagasan bidadari surga yang identik dengan seksualitas tidak akan mungkin dalam Al-Qur’an. Jika Al-Quran benar-benar wahyu Tuhan, berarti wahyu Tuhan harus steril dari gambaran-gambaran yang berhubungan dengan seksualitas dan bersifat erotis seperti bidadari surga. Oleh karena itu, menurutnya citra bidadari surga juga harus diubah menjadi makna yang lebih sesuai dan dapat diterima sebagai bagian dari wahyu Tuhan.

Baca Juga: Sepak Terjang Orientalis dalam Penerjemahan Al-Qur’an dan Respons Umat Islam

Sekilas Tentang Stefan Wild

Stefan Wild adalah profesor emeritus studi filologi bahasa Semit dan studi Islam di Universitas Bonn. Selain ahli dalam bidang kajian Al-Quran dan sastra Arab klasik dan modern, beliau juga ahli dalam bidang Leksikografi Arab Klasik. Beberapa karyanya adalah sebagai editor “Self Referentiality in the Qur’an” (2006) dan co-editor “Die Welt des Islams: International Journal for the Study of Modern Islam” yang diterbitkan di Leiden.

Kritik Stefan Wild terhadap Hipotesa Luxenberg

Kritik Stefan Wild menganggap bahwa temuan Luxenberg tersebut terlalu mengada-ngada dan terlalu berlebihan. Bagi Wild, pendekatan Luxenberg terhadap bukunya hanya berfokus pada proses kodifikasi Al-Qur’an melalui ortografi dan pembacaan, serta menafikan peran penting narasi (naql) dalam proses pelestarian dan kodifikasi teks Al-Qur’an. Artinya, jika terjadi kesalahan dalam membaca tulisan Al-Qur’an, tentunya akan langsung mendapatkan konfirmasi melalui bacaan lisan atau naql (Wild, 2010).

Lebih lanjut, Wild juga mengkritisi hipotesis Luxenberg yang menjelaskan otentisitas bahasa Al-Qur’an. Kritik Wild, Luxenberg tidak dapat memberikan bukti kuat yang menunjukkan bahwa bahasa campuran Aramaic-Arab telah digunakan di Mekah pada abad ke-7 M. Artinya, kemungkinan makna yang dihasilkan oleh Luxenberg tentang bidadari surgawi patut dipertanyakan. Sebab bagi Wild, kemungkinan perbedaan pemaknaan tersebut disebabkan karena memang pokok kata dalam teks tersebut memungkinkan untuk dimaknai berbeda-beda (Wild, 2010).

Wild juga menilai bahwa pendekatan Luxenberg ini membuka peluang untung menghasilkan ragam makna yang sangat banyak tetapi ia tidak memberikan perangkat yang cukup untuk menentukan makna-makna yang dipakai. Sehingga berpotensi akan menimbulkan kebingungan yang beruntun.

Selanjutnya, Wild juga mengkritik tentang pernyataan Luxenberg bahwa hanya Islam yang menggambarkan surga dengan citra kesenangan seksual. Menurutnya citra seksual tersebut juga terdapat dalam Kristen seperti pada Perjanjian Baru yang menegaskan bahwa hubungan antara Yesus dan gereja adalah seperti hubungan antara mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Beberapa teosofi Kristen modern pun memberikan ruang bagi seksualitas untuk menggambarkan surga.

Ana Anissilfi
Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

0
Islam memberikan perhatian terhadap kebersihan dan kerapian penampilan. Ini ditunjukkan dengan disyariatkannya kesunnahan memotong kuku. Aktivitas memotong kuku, meski tampak remeh, memperoleh perhatian dalam...