Beranda Tafsir Tahlili Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 49-51

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 49-51

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 49-51 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kuasa Allah meliputi langit dan bumi. Kedua berbicara mengenai proses komunikasi antara Allah dan hambanya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 47-48


Ayat 49-50

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi, memiliki, berkuasa dan berbuat sekehendak-Nya terhadap apa yang ada di langit dan di bumi. Apa saja yang Dia kehendaki pasti terwujud dan menjadi kenyataan, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terwujud.

Dia memberikan nikmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Tidak seorang pun dapat menghalangi apa yang dikehendaki-Nya tidak seorang pun dapat memberikan nikmat kepada siapa yang tidak dikehendaki-Nya. Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu menurut kehendak-Nya.

Dia-lah yang memberikan keturunan anak perempuan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, memberikan keturunan anak laki-laki kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberikan keturunan anak laki-laki dan perempuan, dan ada pula yang dijadikannya mandul, tidak memiliki keturunan, semua itu ada hikmahnya.

Semuanya itu menunjukkan ke-Mahakuasaan Allah yang tidak seorang pun dapat menentang-Nya. Dia berbuat sekehendak-Nya sesuai dengan kodrat-Nya dan tidak seorang pun yang sanggup merintangi-Nya atau turut membantu mengatur keinginan-Nya.

Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan, bahwa Allah Maha Mengetahui siapa-siapa yang layak dan berhak dianugerahi tiap-tiap macam karunia tersebut di atas. Dia Mahakuasa menciptakan apa yang dikehendaki dan berbuat sekehendak-Nya menurut kebijaksanaan dan ilmu-Nya.


Baca juga: Tafsir Surah Ar Rum Ayat 23: Kemampuan Mendengar bagi Orang yang Tidur


Ayat 51

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Allah tidak akan berkata-kata dengan hamba-Nya kecuali dengan salah satu dari tiga cara seperti berikut ini:

  1. Dengan wahyu, yakni Allah menanamkan ke dalam hati sanubari seorang nabi suatu pengertian yang tidak diragukannya bahwa yang diterimanya adalah dari Allah. Seperti halnya yang terjadi dengan Nabi Muhammad saw. Beliau bersabda:

اِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِى رُوْعِى أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَأَجَلَهَا فَاتَّقُواالله وَأَجْمِلُوْا فِى الطَّلَبِ. (رواه ابن حبان)

Sesungguhnya Ru¥ul Qudus telah menghembuskan ke dalam lubuk hatiku bahwasanya seseorang tidak akan meninggal dunia hingga dia menerima dengan sempurna rezeki dan ajalnya, maka bertakwalah kepada Allah dan berusahalah dengan cara yang sebaik-baiknya. (Riwayat Ibnu Hibban)

  1. Di belakang tabir yakni dengan cara mendengar dan tidak melihat siapa yang berkata, tetapi perkataannya itu didengar, seperti halnya Allah berbicara dengan Nabi Musa, Firman Allah :

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ

Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” (Allah) berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku. (al-A’raf/7: 143)

  1. Mengutus seorang utusan, yakni Allah mengutus Malaikat Jibril, maka utusan itu menyampaikan wahyu kepada siapa yang dikehendaki Allah, sebagaimana halnya Jibril turun kepada Nabi Muhammad saw dan kepada nabi-nabi yang lain.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَأْتِيْكَ الْوَحْيُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحْيَانًا يَأْتِيْنِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ.وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلاً فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَايَقُوْلُ.قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِى الْيَوْمِ الشَّدِيْدِ الْبَرْدِ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَﺇِنَّ جَبِيْنَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقاً. (رواه البخاري)

‘Aisyah meriwayatkan bahwa Al-Harist bin Hisyam bertanya kepada Nabi saw, “Bagaimana cara wahyu datang kepadamu?” Rasulullah saw menjawab, “Terkadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Cara inilah yang sangat berat bagiku. Setelah ia berhenti, aku telah mengerti apa yang telah dikatakan-Nya; kadang-kadang malaikat mewujudkan dirinya kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, maka aku mengerti apa yang dibicarakannya”. Berkata ‘Aisyah ra, sesungguhnya saya lihat Nabi ketika turun kepadanya wahyu di hari yang sangat dingin, kemudian setelah wahyu itu berhenti terlihat dahinya bercucuran keringat. (Riwayat al-Bukhari)

Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah itu Mahatinggi lagi Mahasuci dari sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya. Dia disebut menurut kebijaksanaan-Nya, berbicara dengan hamba-hamba-Nya, adakalanya tanpa perantara baik berupa ilham atau berupa percakapan dari belakang tabir.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 52-53


(Tafsir Kemenag)

Redaksihttp://tafsiralquran.id
Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...