Ada dua term yang menarik untuk dikaji, karena beberapa ulama berbeda pendapat dan banyak orang yang keliru dalam penggunaannya; yaitu walid dan ab. Tulisan ini sepenuhnya bukanlah pendapat penulis. Tetapi merujuk ayat al-Qur’an yang ditafsirkan oleh para mufasir.
Perbedaan pendapat muncul ketika memahami manakah dari kedua kata ini yang menunjuk ayah kandung, apakah walid atau ab. Kelompok pertama memahami kata ab sebagai ayah kandung. Sedangkan kelompok kedua memahami walid sebagai ayah kandung.
Kata walid terambil dari kata walad yang berarti anak yang dilahirkan. Sehingga bapaknya disebut walid. Sedangkan secara bahasa, ab berarti setiap orang yang menjadi terwujud, memperbaiki, atau kemunculan sesuatu yang dinamai ayah (Mufradat Alfaz Al-Qur’an).
Sekilas tidak ada beda makna keduanya, sama-sama merujuk kepada sosok ayah. Menurut Thabathaba’i, kata walid digunakan oleh al-Qur’an untuk menunjuk ayah kandung, sedangkan kata ab gunakan untuk menunjuk makna kakek atau paman dalam surah Al-Baqarah: 133 dan Yusuf: 38. Namun, ini kemudian dibantah oleh Quraish Shihab yang menyebutkan bahwa kedua kata tersebut, baik walid ataupun ab digunakan dalam penyebutan untuk menunjuk makna ayah kandung. Misalnya dalam surah Yusuf ayat 4, kata ab digunakan untuk menunjuk ayah kandung. Dan dalam surah Ibrahim ayat 41 kata walid menunjukkan makna ayah kandung atau orang tua kandung.
Baca juga: Menimbang Ulang Kata Pepatah “Banyak Anak Banyak Rezeki”
Menurut al-Raghib Al-Ishfahani, makna kata ab itu lebih luas cakupannya dari pada walid. Ab dalam bahasa Arab digunakan dalam beberapa istilah. Di antaranya أبو الاضيف untuk orang yang sering mengunjungi sahabat-sahabatnya. Ada juga istilah ابو الحرب (bapak perang), sebutan untuk orang yang semangat perangnya berkobar-kobar. Ada juga istilah أبو عذرتها (bapak keperawanan) sebutan untuk orang yang telah menikahi seorang gadis yang perawan.
Paman bisa juga disebut sebagai ab apabila disandingkan dengan ayah, sehingga sebutannya menjadi abawaini (ابوين). Kakek atau nenek moyang juga bisa diistilahkan sebagai ab, bahkan guru-guru yang mendidik dan mangajarkan ilmu juga bisa disebut sebagai ab seperti sebutan yang sering kita dengar, abur ruh (أبو الروح). Nabi Muhammad saw. sendiri disebut sebagai Abul Mu’minin (Bapak orang-orang Muslim), sehingga istri-istri Nabi disebut sebagai Ummul Mu’minin (Ibunya orang-orang Muslim).
Di segmen yang lain, Mutawalli Asy-Sya’rawi yang dikutip oleh M Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menyatakan bahwa apabila kata ab dirangkaikan dengan nama orang, maka kata ab yang dimaksud bukanlah ayah kandung. Misalnya dalam surah al-An’am ayat 74.
Makna kata walid, kalau kita merujuk kepada apa yang dijelaskan oleh al-Raghib Al-Ishfahani, kata ini hanya menunjukkan makna yang dilahirkan, dalam artian ibunya walidah dan ayahnya disebut walid. Maka makna walid ini hanya terbatas kepada ayah kandung atau ayah biologis. Sedangkan kata ab tadi, maknanya beragam dan penyebutannya dalam al-Qur’an bisa untuk menunjuk ayah kandung, paman, atau kakek.
Kesimpulannya adalah bahwa menurut pendapat ulama yang kita rujuk, walid dan ab ini ada persamaan dan perbedaan penggunaannya. Walid khusus penyebutannya untuk ayah kandung. Sedangkan ab bisa digunakan untuk penyebutan ayah kandung juga. Selain itu ab bisa dipakai untuk menyebut paman sebagai saudara kandung ayah, kakek sebagai orangtua ayah, ataupun guru yang telah mendidik dan mengemban sebagian tanggung jawab dan tugas ayah.
Tulisan ini sedikit berbeda dengan apa yang dikemukan oleh Prof. Dr. Ahmad Thib Raya yang menyatakan bahwa ab itu adalah ayah hakiki atau ayah biologis, sedangkan walid adalah ayah majazi yang mengasuh, membesarkan, dan mendidik. Kalau menurut hasil tinjauan kami, kesimpulan beliau kurang tepat. Wallahu a’lam.

















