Semangat di Awal, Hilang di Tengah Jalan; Tadabbur Istiqamah dalam Q.S. Fussilat [41]: 30

0
30
Semangat di Awal, Hilang di Tengah Jalan ; Tadabbur Istiqomah dalam Q.S. Fussilat [41]: 30
Semangat di Awal, Hilang di Tengah Jalan ; Tadabbur Istiqomah dalam Q.S. Fussilat [41]: 30

Tidak sedikit mahasiswa yang rajin membuat jadwal belajar di awal semester, tetapi melupakan jadwal itu bahkan sebelum bulan pertama berakhir. Target baru ditulis dengan penuh semangat, buku catatan dibeli, meja belajar dirapikan, dan media sosial dipenuhi unggahan tentang perubahan diri.

Namun, beberapa minggu kemudian, semangat itu perlahan menghilang. Tugas mulai menumpuk, rasa malas semakin sulit dikendalikan, dan kebiasaan menunda pekerjaan kembali terulang. Banyak mahasiswa akhirnya terjebak dalam pola yang sama: semangat di awal, lelah di tengah jalan.

Fenomena ini terasa semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa hari ini. Media sosial membuat seseorang terbiasa melihat hasil akhir tanpa menyaksikan proses panjang di belakangnya. Orang melihat wisuda, pencapaian akademik, atau kesuksesan orang lain, tetapi tidak melihat perjuangan dan kegagalan yang mereka lalui sebelumnya.

Tidak sedikit mahasiswa yang lebih sibuk menyusun study plan, membuat daftar target, atau mengunggah rutinitas produktif di media sosial daripada benar-benar menjalani proses belajar secara konsisten. Produktivitas akhirnya lebih sering tampil sebagai citra daripada kebiasaan nyata yang dijaga setiap hari.

Akibatnya, banyak mahasiswa lebih sibuk mencari motivasi baru daripada membangun disiplin kecil yang bertahan lama. Ketika semangat menurun, seseorang memilih membuat target baru daripada memperbaiki kebiasaan yang mulai runtuh.

Budaya seperti ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai reset motivation, yaitu kebiasaan mengulang semangat tanpa benar-benar membangun ketahanan diri. Padahal kehidupan tidak dibangun dari semangat besar yang muncul sesekali. Kehidupan justru dibentuk oleh kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Dalam konteks inilah konsep istiqamah dalam Al-Qur’an menjadi menarik untuk direnungkan kembali.

Baca juga: Menggeser Polemik Kurban: Dari Debat Identitas ke Kesalehan Struktural

Istiqamah dan Keteguhan dalam Al-Qur’an

Allah Swt. Berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا

Inna alladzīna qālū rabbunā Allāh tsumma istaqāmū tatanazzalu ‘alaihim al-malāikatu allā takhāfū wa lā taḥzanū.

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): ‘Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih hati.’” (Q.S. Fussilat [41]: 30)

Ayat ini sering dipahami sebagai penjelasan tentang keteguhan iman. Namun, jika direnungkan lebih jauh, ayat tersebut juga berbicara tentang kemampuan manusia menjaga arah hidupnya secara konsisten.

Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan:

أي استقاموا على طاعة الله

“Yakni mereka istiqamah di atas ketaatan kepada Allah.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, juz 7, hlm. 164)

Penjelasan ini menunjukkan bahwa istiqamah bukan sekadar semangat sesaat, tetapi kemampuan bertahan dalam jalan ketaatan secara terus-menerus. Sementara itu, Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa istiqamah adalah keteguhan dalam tauhid, amal saleh, dan ketaatan tanpa berubah oleh keadaan. (Tafsir al-Munir, juz 24, hlm. 265)

Jika Ibnu Katsir lebih menekankan istiqamah sebagai keteguhan dalam ketaatan, maka M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah melihat istiqamah sebagai konsistensi menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, istiqamah tidak selalu berbentuk amal besar, tetapi kemampuan menjaga kebiasaan baik agar tetap hidup secara berkelanjutan. (Tafsir Al-Misbah, jilid 12, hlm. 412)

Baca juga: Tafsir Surah Hud Ayat 112: Perintah Istiqomah Dalam Kebaikan

Analisis Kebahasaan Kata Istiqamah

Menariknya, ayat tersebut menggunakan redaksi ثُمَّ اسْتَقَامُوا  (summa istaqāmū). Kata tsumma dalam bahasa Arab tidak hanya berarti “kemudian”, tetapi juga menunjukkan adanya jeda dan proses yang panjang. Seolah-olah Al-Qur’an ingin memberi pesan bahwa mengucapkan iman mungkin mudah, tetapi menjaga komitmen adalah perjuangan yang sebenarnya.

Kata istiqamah sendiri berasal dari akar kata ق و م  (qāma). Dalam Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah, Ibn Fāris menjelaskan bahwa akar kata tersebut memiliki makna dasar “tegak”, “lurus”, dan “berdiri kokoh”. Dari akar kata ini lahir istilah istiqamah yang menunjukkan keadaan tetap berdiri teguh tanpa mudah berubah arah. (Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah, juz 5, hlm. 43)

Sementara itu, al-Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān menjelaskan bahwa istiqamah berarti tetap berada pada jalan yang lurus tanpa menyimpang dari tujuan yang benar. (al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān, hlm. 682)

Makna kebahasaan ini menjadi sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Sebab problem terbesar mahasiswa hari ini sering kali bukan kurang cerdas, tetapi kurang mampu menjaga arah hidup secara konsisten.

Baca juga: Muhasabah sebagai Mindfulness dalam Perspektif QS. Al-Hasyr [59]: 18

Mahasiswa dan Budaya “Reset Motivation

Mahasiswa hari ini hidup di tengah banjir distraksi digital. Media sosial, video pendek, dan budaya doom scrolling membuat seseorang mudah kehilangan fokus hanya dalam hitungan menit. Tidak sedikit mahasiswa yang sebenarnya ingin berubah menjadi lebih baik, tetapi merasa lelah sebelum proses itu benar-benar berjalan jauh.

Sebagian mahasiswa bahkan lebih akrab dengan konten motivasi daripada proses belajar itu sendiri. Mereka terus mencari dorongan semangat baru, tetapi jarang memberi ruang bagi disiplin untuk tumbuh perlahan. Akibatnya, motivasi berubah menjadi konsumsi sesaat, bukan energi yang benar-benar menggerakkan perubahan.

Akibatnya, mahasiswa lebih sering mengejar motivasi sesaat daripada membangun kebiasaan kecil yang konsisten. Dalam situasi seperti ini, istiqamah menjadi nilai yang semakin sulit dijaga sekaligus semakin penting untuk dimiliki.

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. Bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Aḥabbu al-a‘māli ilā Allāhi adwamuhā wa in qalla.

Artinya : “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (H.R. al-Bukhari no. 6464; Muslim no. 783)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai keberlanjutan amal. Nilai suatu pekerjaan tidak selalu diukur dari besarnya, tetapi dari konsistensinya.

Istiqamah sebagai Kritik terhadap Budaya Instan

Hari ini, banyak orang ingin segera sampai tujuan tanpa menikmati prosesnya. Kita ingin cepat sukses, cepat berubah, dan cepat berhasil. Akibatnya, proses panjang sering dianggap membosankan. Padahal hampir semua pencapaian besar lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.

Dalam konteks ini, istiqamah menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya instan yang hanya menghargai hasil cepat. Istiqamah mengajarkan bahwa proses kecil yang dijaga secara konsisten jauh lebih bernilai daripada semangat besar yang hanya muncul sesaat.

Barangkali, problem terbesar manusia modern bukan kurangnya mimpi, tetapi ketidakmampuan bertahan dalam proses. Kita terlalu sibuk mencari motivasi baru, sampai lupa bahwa Al-Qur’an justru mengajarkan keteguhan dalam langkah kecil yang terus dijaga.

Mungkin, yang membawa seseorang sampai pada tujuannya bukan selalu mereka yang paling cepat, tetapi mereka yang mampu bertahan paling lama di tengah proses yang melelahkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini