Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tarbawi Khazanah Tafsir Tarbawi di Indonesia (2): Background Keilmuan Mufassir

Khazanah Tafsir Tarbawi di Indonesia (2): Background Keilmuan Mufassir

Kehadiran karya-karya Tafsir Tarbawi dalam konteks Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari latar bekalang penulis atau mufasirnya. Sebagai sebuah tafsir yang bernuansa pendidikan, umumnya para mufasir Tafsir Tarbawi adalah seorang akademisi dan dosen di perguruan tinggi Islam. Rata-rata dari mereka sudah menyelesaikan studi pada program doktoral. Bahkan beberapa di antaranya telah menyabet gelar profesor atau guru besar.

Disiplin keilmuan yang digeluti oleh para penulis Tafsir Tarbawi di sini cukup beragam. Ada yang berlatar belakang studi tafsir Al-Quran, ilmu pendidikan, bahasa Arab, perbandingan madzhab hingga ekonomi Islam. Walau secara umum mereka semua masih tetap dalam ranah dan mendalami kajian keislaman.

Masih satu paket dengan tulisan sebelumnya, Khazanah Tafsir Tarbawi Di Indonesia (1): Embriologi dan Perkembangannya, kali ini saya akan mencoba mengulas lebih jauh bagaimana background keilmuan dari para mufasir Tafsir Tarbawi tersebut.

Dari Bermacam Disiplin Keilmuan

Surahman dalam kajiannya, Tafsir Tarbawi di Indonesia mencatat setidaknya ada enam penulis Tafsir Tarbawi yang akrab dengan ilmu Al-Quran dan tafsir karena mereka sendiri pernah mengenyam pendidikan di bidang tafsir atau ulum al-Qur’an, baik pada tingkat sarjana, magister atau doktor. Mereka antara lain adalah Nurwajdah Ahmad E.Q, Ahmad Munir, Ahmad Izzan, Salman Harun, Nanang Gojali, dan Kadar M. Yusuf.

Walau begitu, bukan berarti mufasir-mufasir yang tidak memiliki latar belakang ilmu Al-Quran dan tafsir lantas awam terhadap kajian ilmu Al-Quran maupun tafsir. Sebut saja seperti Abuddin Nata, meski belum pernah mengambil konsentrasi ilmu tafsir Al-Quran pada pendidikan formalnya, tapi kapasitasnya di bidang kajian Al-Quran patut diperhitungkan. Ini dibuktikan dengan satu karyanya yang berkaitan dengan ulum al-Qur’an berjudul Al-Quran dan Hadits (Dirasah Islamiyah I). Bagaimanapun, ini menunjukkan bahwa Nata memahami seluk beluk ilmu tafsir Al-Quran serta bagaimana cara menafsirkan Al-Quran.

Begitu pula dengan Rosidin, Dedeng Rosidin dan Aam Abdussalam. Ketiganya secara formal konsen di bidang pendidikan Islam, tetapi mereka juga melalukan tinjauan terhadap perspektif Al-Quran. Belum lagi mereka kuat dalam penguasaan bahasa Arab, sebagai modal utama untuk menafsirkan Al-Quran. Sangat ganjil kalau seumpama mereka dikatakan tabu dan tidak menguasai ulum al-Qur’an. Asumsi ini diperkuat dengan karya dan aktifitas mereka. Misalnya Aam Abdussalam, selain aktif mengajar mata kuliah tafsir Al-Quran di kampus, ia juga seringkali ditunjuk menjadi salah satu dewan juri ajang Musabaqah Sharhil Qur’an (MSQ) tingkat Jawa Barat.

Selain dari yang sudah disebutkan di atas, mufasir-mufasir Tafsir Tarbawi secara formal tidak menempuh pendidikan formal di bidang tafsir dan tidak pula menekuni kajian tafsir. Tampaknya kemampuan dan keilmuan mereka ditopang oleh penguasaan bahasa Arab yang kuat seperti Akhmad Alim, Syukri, dan Mahyudin. Selain itu, mungkin juga mereka menyusun Tafsir Tarbawi atau tafsir terkait pendidikan lantaran sempat terlibat langsung dalam pengajaran mata kuliah Tafsir Tarbawi. Sedikit banyak mereka pasti mempelajari, mendalami, dan mengerti seputar tafsir Al-Quran.

Dalam data Surahman, mayoritas dari mufasir-mufasir Tafsir Tarbawi adalah dosen Pegawai Negeri Sipil (PNS), baik di lingkungan kementerian Agama ataupun kementerian pendidikan (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi/Ristek Dikti). Sisanya adalah para pengajar di kampus-kampus swasta. Seperti Muh. Anis yang berstatus sebagai pengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Akhmad Alim pengajar di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor, dan Arief Hidayat Afendi pengajar di Universitas Muhammadiyah Cirebon

Baca juga: Dinamika Perkembangan Tafsir Indonesia: Dari Masuknya Islam hingga Era Kolonialisme

Mufasir Tafsir Tarbawi dan Latar Belakang Pendidikannya

Untuk mengetahui peta background keilmuan para mufasir Tafsir Tarbawi di Indonesia bisa dilihat dari tabel berikut ini:

No Nama Mufasir Pendidikan
1 Abuddin Nata S1 Pendidikan Islam IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

S2 Pendidikan Islam IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

S3 Pendidikan Islam IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Nurwajdah Ahmad E.Q S1 Pendidikan Agama Islam IAIN Bandung

S2 Tafsir Al-Quran IAIN Jakarta

S3 Tafsir Al-Quran IAIN Jakarta

3 Ahmad Munir S1 Syariah/Tafsir Hadis IAIN Ar-Raniry Aceh

S2 Tafsir Hadis IAIN Ar-Raniry Aceh

S3 Pengkajian Islam UIN Jakarta

4 Ahmad Izzan S1 Perbandingan Agama ISID Gontor

S2 Studi Al-Quran UIN Bandung

S3 Studi Tafsir UIN Jakarta

Saehuddin S1 Tafsir Hadis UIN Bandung
5 Suteja (tidak terlacak)
6 Muh. Anis (tidak terlacak)
7 Salman Harun S1 Bahasa Arab Tadris IAIN Jakarta

Post Graduate Program Universiteit Leiden Belanda

S3 Tafsir Al-Quran IAIN Jakarta

8 Nanang Gojali S1 Pendidikan Agama Islam IAIN Bandung

S2 Tafsir dan Ulumul Qur’an IAIN Alaludin Makasar

S3 Hukum Islam UIN Bandung

9 Rosidin S1 Pendidikan Agama Islam STAIMA al-Hikam Malang

S2 Pendidikan Islam STAIMA al-Hikam Malang

S3 Dirasah Islamiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya

10 Kadar M. Yusuf S1 Bahasa Arab IAIN Pekanbaru

S2 Tafsir Al-Quran IAIN Pekanbaru

S3 Univercity Kebangsaan Malaysia

11 Akhmad Alim S1 LIPIA Jakarta

S2 UM Surakarta

S3 Pendidikan Islam UIKA Bogor

12 Dedeng Rosidin S1 Bahasa Arab IKIP Bandung

S2 Pendidikan Islam IAIN Sunan Gunung Djati Bandung

S3 Pendidikan Islam IAIN Sunan Gunung Djati Bandung

13 Mahmud Arif S1 Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

S2 Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

S3 Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

14 Syukri S1 Bahasa Arab IAIN Sunan Ampel Surabaya

S2 UIN Malik Malang

S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

15 Arief Hidayat Afendi S1 Perbandingan Madzhab Hukum UIN Bandung

S2 Studi Islam UIN Bandung

16 Listiawati S1 Syariah IAIN Yogyakarta

S2 Ekonomi Islam IAIN Palembang

S3 Ekonomi Islam UIN Jakarta

17 Aam Abdussalam S1 Bahasa Arab IKIP Bandung

S2 Pendidikan Umum IKIP Bandung

S3 Pendidikan Islam UIN Bandung

18 Mahyudin S1 Pendidikan Agama Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya

S2 UNISMA Malang

S3 UIN Sunan Ampel Surabaya

Wallahu a’lam []

Baca juga: Mengenal Kitab Tafsir Indonesia yang Lahir dari Ruang Akademik

Fawaidur Ramdhani
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dosen Ma’had Ali UIN Sunan Ampel Surabaya. Minat pada kajian tafsir Al-Quran Nusantara, manuskrip keagamaan kuno Nusantara, dan kajian keislaman Nusantara
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tentang fitnah

Penjelasan tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan

0
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata fitnah diartikan sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama...