Makna Cinta dalam Pendekatan Sufistik Nasaruddin Umar

0
90

Cinta sering kali dipahami masyarakat modern hanya sebagai emosi romantis yang bersifat personal dan sementara. Padahal, dalam cakrawala spiritualitas Islam, cinta adalah energi kosmik yang menjadi fondasi utama penciptaan alam semesta oleh Allah Swt. Salah satu ayat yang menjadi rujukan fundamental dalam memahami dimensi cinta adalah Q.S. Ar-Rum [30]: 21 . Ayat ini bukan sekadar landasan hukum pernikahan, melainkan pernyataan teologis tentang kasih sayang Ilahi sebagai perekat utama hubungan antarmanusia.

Q.S. Ar-Rum [30]: 21

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya :”Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Baca Juga: Bukan Hanya Cinta: Fondasi Pernikahan Menurut Al-Qur’an

Fondasi Teologis dan Analisis Semantik Cinta

Dalam pandangan Nasaruddin Umar, ayat ini menempatkan cinta sebagai salah satu tanda kebesaran Allah yang paling nyata di muka bumi. Beliau menekankan bahwa kemunculan rasa mawaddah dan rahmah di antara pasangan bukan sebuah kebetulan biologis semata, melainkan anugerah yang sengaja ditanamkan Tuhan ke dalam hati manusia. Cinta berfungsi sebagai jembatan bagi manusia untuk memahami sifat-sifat Tuhan yang Maha Pengasih, sehingga hubungan insani menjadi ruang untuk saling menyempurnakan kualitas iman (Argumen Kesetaraan Jender…, 142).

Nasaruddin Umar secara spesifik membedah perbedaan semantik antara mawaddah dan rahmah untuk mempertegas kedalaman hubungan tersebut. Mawaddah dipahami sebagai cinta yang bersifat lahiriah, dinamis, dan penuh dengan gairah yang membara pada fase awal pernikahan. Sementara itu, rahmah adalah cinta yang lebih dalam, stabil, dan melampaui batas-batas fisik. Dalam pendekatan sufistiknya, seseorang yang mampu menyeimbangkan keduanya akan mencapai kematangan ruhani yang luar biasa dalam menjalani kehidupan berumah tangga (Kodrat Perempuan…, 144).

Rahmah sebagai Penopang Keabadian Pernikahan

Rahmah menjadi penopang ketika mawaddah mulai memudar dimakan oleh waktu dan usia yang terus bertambah. Dalam pandangan Nasaruddin Umar, rahmah adalah kasih sayang yang melahirkan empati mendalam serta kesiapan untuk berkorban demi pasangan. Tanpa adanya rahmah, sebuah hubungan akan sangat rentan rapuh ketika menghadapi guncangan hidup, sehingga rahmah adalah kunci agar cinta tetap terasa segar meski ikatan fisik telah melewati usia emas pernikahan (Argumen Kesetaraan Jender, 145).

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa rahmah bukan sekadar perasaan pasif, melainkan tindakan aktif untuk melindungi pasangan dari segala marabahaya, baik fisik maupun psikis. Dalam Tasawuf Modern, disinggung bahwa rahmah adalah manifestasi dari sifat Rahman dan Rahim Allah yang diaktualisasikan dalam keseharian. Dengan menumbuhkan rahmah, pasangan akan mampu menghadapi perbedaan karakter yang tajam tanpa harus mengorbankan integritas diri atau rasa hormat kepada pasangannya (Tasawuf Modern…, 88).

Baca Juga: Triadik Cinta dalam Al-Quran: Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

Mencapai Hakikat Sakinah dan Ketenangan Jiwa

Tujuan akhir dari cinta dalam Q.S. Ar-Rum [30]: 21 adalah litaskunu ilaiha, yaitu untuk mencapai ketenangan jiwa. Ketenangan ini bukanlah kondisi diam tanpa aksi, melainkan keadaan di mana seseorang merasa utuh karena menemukan cerminan dirinya dalam pasangan. Dalam perspektif Nasaruddin Umar, ketenangan tersebut adalah hasil dari perpaduan antara keamanan batin dan kepuasan ruhani. Pasangan yang saling mencintai akan menciptakan lingkungan yang aman bagi masing-masing untuk bertumbuh (Argumen Kesetaraan Jender, 147).

Rumah tangga, menurutnya, bukan sekadar tempat bernaung dari hujan, melainkan sebuah ruang sakral di mana jiwa yang lelah dapat menemukan tempat untuk beristirahat. Inilah hakikat dari sakinah yang sesungguhnya di mata Tuhan, di mana setiap individu merasa dihargai dan dipahami secara utuh dalam bingkai kasih sayang yang suci. Ketenangan ini menjadi modal utama agar pasangan mampu menghadapi dunia luar yang penuh dengan kompetisi dan tekanan tanpa kehilangan jati diri spiritualnya (Kodrat Perempuan…, 150).

Cinta sebagai Ibadah dan Perlawanan Ego

Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa cinta adalah bentuk perlawanan terhadap egoisme yang kian menguat di zaman modern. Memaknai cinta melalui lensa sufistik berarti mengakui bahwa pasangan adalah “rumah” bagi jiwa yang sedang berpetualang. Beliau berargumen bahwa kegagalan dalam membangun rumah tangga sering kali disebabkan oleh dangkalnya pemahaman tentang cinta yang sakral. Cinta harus dipandang sebagai ibadah berkelanjutan yang harus dirawat dengan kesabaran tinggi (Argumen Kesetaraan Jender…, 152).

Ketika seorang hamba memandang pasangannya dengan penuh kasih, ia sebenarnya sedang mempraktikkan pengabdian kepada Pencipta. Nasaruddin Umar menekankan bahwa cinta yang sufi adalah cinta yang mampu melihat kehadiran Tuhan di balik wajah pasangan. Dengan demikian, hubungan pernikahan berubah menjadi sebuah perjalanan spiritual yang tidak pernah berujung, di mana setiap tindakan kasih sayang dicatat sebagai amal saleh yang memperdekat hubungan hamba dengan Tuhan (Tasawuf Modern…, 95).

Baca Juga: Kata al-Mahabbah (Cinta) dan Persaudaraan Universal dalam Al-Quran

Refleksi: Pernikahan sebagai Jalan Spiritual

Menjadi pribadi yang mampu mencintai secara sufistik menuntut seseorang untuk melakukan dekonstruksi ego secara total. Banyak orang gagal dalam hubungan karena mereka lebih mencintai diri sendiri daripada pasangannya. Dalam Q.S. Ar-Rum [30]: 21, tersirat pesan bahwa untuk menemukan ketenangan, seseorang harus berani melepaskan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. Ini adalah bentuk perjuangan batin yang sangat berat namun sangat mulia (Argumen Kesetaraan Jender…, 158).

Setiap tantangan dalam pernikahan adalah ujian yang dirancang Tuhan untuk mengasah kepekaan spiritual. Jika disikapi dengan penuh kesadaran, maka setiap pertengkaran kecil justru akan memperkuat ikatan emosional dan membawa pasangan lebih dekat kepada Allah sebagai tujuan akhir. Tadabbur atas pemikiran Nasaruddin Umar ini mengajak kita untuk melakukan reorientasi terhadap cara kita mencintai, di mana pernikahan bukan sekadar ikatan sosial, melainkan jalan spiritual untuk kembali kepada Sang Pencipta (Kodrat Perempuan…, 162).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini