Masihkah Ada Jalan Pulang Setelah Jatuh Berkali-kali? Refleksi Q.S. al-Zumar [39]: 53

0
18

Sebenarnya, adakah jalan pulang setelah manusia melakukan banyak sekali kesalahan? Tentu, banyak dari kita terlalu terlena dengan dunia. Sibuk scroll media sosial, yang pada akhirnya lalai melakukan ibadah. Akhirnya hal ini membuat kita merasa terlalu jauh dari Allah. Semakin lama menjauh, terkadang semakin besar pula rasa malu untuk kembali kepada-Nya. Tak sedikit juga yang justru semakin terjerumus pada jurang kemaksiatan.

Padahal, yang sering kita lupakan adalah Dia yang memberikan kita segalanya. Namun hal yang luar biasanya adalah Allah Swt. tidak pernah sekalipun meninggalkan kita. Sekelam apapun masa lalu yang dilalui hamba-Nya.

Mungkin jarak itu tetap ada karena selalu berjalan menjauh dari perintah-Nya. Namun pada faktanya, ketika manusia pergi, Allah  Swt. tetap membuka pintu untuk kita kembali.

Allah Swt. berfirman dalam Q.S. al-Zumar [39]: 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Ada yang menarik dalam ayat tersebut. Allah Swt bahkan tetap memanggil “hamba-hamba-Ku” kepada orang yang telah banyak melakukan dosa. Selain itu, dalam ayat tersebut disebutkan bahwasanya mereka melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Jadi Allah Swt. sesungguhnya tidak dirugikan karena kita berbuat dosa. Tapi diri kita sendirilah yang akan  rugi.

Baca juga: Tafsir yang “Dihapus” dari Sejarah: Ibn Barrajān dan Revolusi Senyap Tanbīh al-Afhām

Bagaimana Al-Tabari Memandang?

Al-Tabari dalam Jāmi’ al-Bayān juga menjelaskan bahwa ayat ini merupakan seruan agar manusia tidak berputus asa dari ampunan Allah. Namun, harapan tersebut tidak berdiri sendiri. Ia diikuti dengan perintah untuk kembali dan berserah diri kepada Allah Swt. sebagaimana disebutkan pada ayat berikutnya.

Allah Swt. berfirman:

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang kepada kamu azab, kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (Q.S. al-Zumar [39]: 54)

Dengan demikian, rahmat Allah bukan alasan untuk terus melakukan dosa. Rahmat justru menjadi alasan untuk berani kembali. Seseorang mungkin telah jatuh berkali-kali, tetapi selama ia masih diberi kesempatan hidup, ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Seringkali kita merasa terpuruk karena dosa yang telah kita lakukan sampai lupa menghitung luasnya ampunan Allah. Kita berkata dalam hati, “Aku sepertinya sudah terlalu jauh,” atau “Aku malu kembali kepada Allah Swt.” Padahal, Q.S. al-Zumar [39]: 53 justru diturunkan dengan pesan agar manusia tidak membiarkan dosa tersebut berubah menjadi keputusasaan.

Baca juga: Tafsir Q.S. Al-Hujurat [49]: 11 Tentang Batas Etis Kebebasan Berekspresi di Ruang Digital

Salah adalah Jalan untuk Memperbaiki Diri

Dalam bukunya Spiritually Integrated Psychotherapy, Kenneth I. Pargament menjelaskan bahwa keyakinan pada agama dapat menjadi sumber makna, kenyamanan, dan solusi dalam menghadapi tantangan psikologis. Namun, pengalaman keagamaan juga dapat melibatkan religious struggle atau pergulatan dalam hubungan seseorang dengan Tuhan. Karena itu, cara seseorang memaknai hubungan dengan Tuhan menjadi penting.

Maka dalam konteks ayat ini, harapan dapat menjadi titik yang membuat seseorang kembali bergerak. Rasa bersalah karena dosa dapat mendorong seseorang memperbaiki diri. Namun sebaliknya, ketika rasa bersalah berubah menjadi keyakinan bahwa dirinya tidak layak diampuni, seseorang justru dapat semakin menjauh. Al-Qur’an memutus siklus itu dengan kalimat, “janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”

Harapan tersebut juga terdapat dalam hadis Nabi Muhammad Saw.:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ…

Rasulullah Saw. bersabda bahwa “Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hamba ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali kendaraannya yang hilang di padang pasir, padahal di atasnya terdapat makanan dan minumannya.” (HR. Muslim, no. 2747)

Berdasarkan hadis tersebut, Allah Swt jauh lebih bergembira kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat dibandingkan kegembiraan seseorang yang menemukan kendaraannya yang hilang. Walaupun di kendaraan itu terdapat makanan.

Kenyataannya sangat jauh jika dibandingkan ketika kita datang kepada manusia saat kita butuh.  Ada yang dengan senang hati menolong kita. Namun ada juga yang tidak mau menolong kita. Tapi Allah Swt. dengan senang hati memaafkan bahkan mengabulkan permohonan kita selagi kita mau bertaubat.

Meskipun demikian, bukan berarti kita boleh sengaja berbuat dosa dengan alasan Allah Swt. Maha Pengampun. Justru karena rahmat-Nya yang begitu luas, seharusnya kita semakin malu untuk terus menjauh dan berbuat dosa terus-menerus. Karena taubat bukan sekadar mengatakan “aku menyesal”, tetapi juga selalu berusaha untuk meninggalkan kesalahan dan memperbaiki hubungan dengan Allah Swt.

Mungkin hari ini kita merasa belum pantas untuk kembali. Mungkin salat kita belum sempurna, doa kita masih terbata-bata, dan dosa yang sama masih kita lakukan. Tetapi jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk kembali kepada Allah Swt. Sebab, kembali kepada-Nya memang bagian dari proses menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaannya “Bukan seberapa jauh aku sudah meninggalkan Allah?” tetapi, “Apakah hari ini aku masih mau kembali?” Karena sejauh apa pun manusia merasa telah pergi, rahmat Allah Swt. amat dekat dengan kita. Semoga kita termasuk orang yang senantiasa bertaubat kepada Allah Swt. setiap waktu. Aamiin.

Baca juga: Tafsir Q.S. Al-Hujurat [49]: 11 Tentang Batas Etis Kebebasan Berekspresi di Ruang Digital

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini