Tafsir yang “Dihapus” dari Sejarah: Ibn Barrajān dan Revolusi Senyap Tanbīh al-Afhām

0
35
Tafsir yang “Dihapus” dari Sejarah: Ibn Barrajān dan Revolusi Senyap Tanbīh al-Afhām
Tafsir yang “Dihapus” dari Sejarah: Ibn Barrajān dan Revolusi Senyap Tanbīh al-Afhām

Sosok Mufasir yang Terlupakan dalam Historiografi Andalus

Sebuah fakta yang menggelisahkan dalam sejarah intelektual Islam Barat adalah ketiadaan entri nama Ibn Barrajān dalam kamus biografi klasik Andalus abad pertengahan, al-Ṣila karya Ibn Bashkuwāl, sebuah karya otoritatif yang memuat hampir seluruh biografi ulama terkemuka pada zamannya (Casewit, 2014: 22). Sosok yang oleh generasi belakangan dijuluki sebagai “al-Ghazālī dari Andalus” ini merupakan seorang mufasir, muhaddits, dan teoritikus gnosis yang wafat dalam tahanan Dinasti Murābiṭūn di Marrakesh pada tahun 536 H / 1141 M (Y. Casewit, 2019: 125-127).

Keheningan catatannya dalam al-Ṣila bukanlah sebuah kebetulan historiografis. Ibn Barrajān diadili oleh penguasa Murābiṭūn atas tuduhan penyebaran “bidah” (bidʿah) dan pengaruh politik-spiritual yang dianggap mengancam, sehingga pengabaian namanya merupakan bentuk damnatio memoriae—penghapusan memori akademik yang disengaja (Fierro, 2021: 174).

Padahal, ia meninggalkan karya eksegetis monumental sebanyak lima jilid berjudul Tanbīh al-Afhām ilā Tadabbur al-Kitāb al-Ḥakīm wa Taʿarruf al-Āyāt wa al-Nabaʾ al-ʿAẓīm yang membentang hingga hampir 2.900 halaman (Ibn Barrajān, 2013). Ironi sejarah justru menyingkap kekuatan pemikirannya yang menggelisahkan: sebagai praktisi iʿtibār (kontemplasi atas tanda-tanda ilahi), melalui metode tadabbur, ia berhasil menerobos monopoli otoritas fikih fuqahāʾ resmi dan membangun jalur gnosis (maʿrifah) langsung antara teks suci dan pembaca (Nazarpour, 2019: 155-173).  

Baca juga: Ibn ‘Aṭiyyah, Penyeimbang Poros Tradisi Tafsir Retoris dari Andalusia

Metodologi Eksegetis yang Menembus Konvensi

Penyimpangan metodologis Tanbīh al-Afhām terlihat dari penataan pembahasannya. Ibn Barrajān meninggalkan model penafsiran runtut ayat demi ayat (taḥlīlī) yang dominan pada masanya dan memilih menyusun tafsirnya berdasarkan urutan turunnya wahyu (tartīb al-nuzūl)(Ibn Barrajān, 2013: 45). Melalui sistematika ini, ia berupaya merekonstruksi “pengalaman wahyu yang hidup”, di mana pembaca diajak mengikuti irama historis penyingkapan Al-Qur’an secara bertahap.

Pendekatan ini menegaskan bahwa otoritas teks suci tidak hanya terletak pada bentuk kanoniknya, melainkan pada perannya sebagai “petunjuk” (hidāyah) yang terungkap dalam sejarah (Y. Casewit, 2019: 171). Secara metodologis, Ibn Barrajān memadukan prinsip penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an (tafsīr al-Qurʾān bi-l-Qurʾān) dan riwayat maʾthūr, sembari menyelaraskannya dengan teologi Ashʿarī serta kecenderungan iʿtibārī (Khalil, 2022: 52-71).

Ia menegaskan pentingnya penyingkapan “makna batin” (bāṭin). Dalam pandangannya, makna lahir (ẓāhir) dan makna batin bukanlah dua entitas yang saling bertentangan, melainkan dua lapisan dari hakikat kebenaran yang sama. Penyingkapan makna batin menuntut penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs) dan pertumbuhan spiritual mufasir, sehingga aktivitas penafsiran itu sendiri bertransformasi menjadi sebuah praktik ibadah dan latihan spiritual (riyāḍah) (Küçük, 2013).

Penafsiran Sifat Allah dan Pengaruhnya terhadap Mistisisme

Pendekatan yang mengikat perolehan pengetahuan dengan transformasi spiritual tampak jelas dalam Tanbīh al-Afhām ketika membahas ayat-ayat sifat (ṣifāt khabariyyah). Ibn Barrajān merupakan pendukung penafsiran metaforis (taʾwīl) yang secara konsisten mengkritik kelompok literalis, baik “penyerupaan” (Mushabbihah) maupun “penjasmanian” (Mujassimah) (Ibn Barrajān, 2013: 112).

Namun, taʾwīl-nya tidak berhenti pada rasionalisme Ashʿarī atau Muʿtazilī semata, melainkan merambah ke dimensi mistis yang mendalam. Sebagai contoh, ia menafsirkan konsep “bersemayam” (istiwāʾ) sebagai pengepungan dan liputan menyeluruh (al-iḥāṭah al-tāmmah) Allah atas alam semesta, baik dalam dimensi pengetahuan maupun kekusaan (Y. Casewit, 2019: 218).

Lebih jauh, ia mengajukan bahwa konsep istiwāʾ juga memiliki analogi spiritual pada manusia: istiwāʾ manusia tercapai ketika seorang hamba meraih kesempurnaan spiritual (kamāl rūḥī) hingga mencapai derajat kewalian (wilāyah) atau kenabian (nubuwwah) (Y. A. Casewit, 2014: 82). Penafsiran perintis ini memberikan kontribusi penting bagi perkembangan mistisisme Islam, yang secara langsung membentangkan jalan bagi pemikiran “kesatuan wujud” (waḥdat al-wujūd) Ibn al-ʿArabī di kemudian hari (Addas et al., 1993: 56).

Baca juga: Mengenal Baqi ibn Makhlad, Pelopor Tafsir Alquran di Andalusia Abad 3 H

Epistemologi Sintesis: Melampaui Dikotomi Mazhab

Mengklasifikasikan Ibn Barrajān secara reduktif sebagai “mufasir Sufi” atau “pengikut Ashʿarī” dapat mengabaikan keunikan epistemologinya. Tafsirnya tidak sepenuhnya tergolong tafsīr Ṣūfī naẓarī (Sufi teoretis doktrinal) dan bukan pula sekadar tafsīr Ṣūfī isyārī (Sufi isyarat alegoris) (Y. Casewit, 2019: 110). Gagasan utamanya berpusat pada penjelajahan mendalam terhadap dunia Al-Qur’an, di mana ayat-ayat Al-Qur’an, fenomena alam semesta (āyāt kāʾiniyyah), dan sosok pembimbing spiritual dipandang sebagai “tanda-tanda” yang ditetapkan Allah untuk keselamatan manusia. Melalui “teori kesatuan tanda” (theory of the unity of signs) dan prinsip “hegemoni Qur’ani” (Qurʾānic hegemony), karya Ibn Barrajān melampaui sekat-sekat mazhab dan berdiri sebagai paradigma pengetahuan hermeneutis yang mandiri.

Baca juga: Ibnu Al-Arabi atau Ibnu Arabi? Inilah Dua Mufasir dari Andalusia

Resepsi Akademis dan Warisan Intelektual

Karya Tanbīh al-Afhām secara utuh baru berhasil disunting dan diterbitkan pada tahun 2013 oleh Aḥmad Farīd al-Mazyadī di Beirut, setelah sebelumnya hanya diakses dalam bentuk ringkasan oleh al-ʿAdlūnī al-Idrīsī (Y. Casewit, 2019: 157-159). Edisi kritis modern lainnya, khususnya Īḍāḥ al-Ḥikma, telah diterbitkan oleh Böwering dan Casewit (2015). Kajian akademis modern terhadap karya ini masih berada pada tahap awal, dengan terbukanya ranah penelitian baru meliputi penggunaan terjemahan Alkitab berbahasa Arab secara non-polemis oleh Ibn Barrajān, praktik “ilmu huruf” (ʿilm al-ḥurūf), posisi terhadap qirāʾāt, serta transmisi pemikiran iʿtibārī-nya kepada Ibn al-ʿArabī. Teks yang sempat disisihkan dari historiografi resmi ini menjadi kunci penting untuk memahami pergeseran peta intelektual Islam di Andalus dari dominasi fikih menuju penguatan doktrin gnosis dan kontemplasi (muʿtabirūn).

Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini