Kiai Maimoen: Bencana Alam dan Bagaimana Kita Bersikap

0
30
Kiai Maimoen: Bencana Alam dan Bagaimana Kita Bersikap
Kiai Maimoen: Bencana Alam dan Bagaimana Kita Bersikap

Dari tahun ke tahun, pembicaraan mengenai Indonesia agaknya tidak bisa dilepaskan dari bencana alam. Belum selesai dari pemulihan banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatera, kini perhatian tertuju pada Kalimantan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sejak Agustus tak kunjung padam. Kabut dan asap yang ditimbulkan konon bahkan telah mencapai Pulau Sumatera dan Jawa.

Menjadi relevan kemudian untuk menelaah kembali salah satu tulisan Kiai Maimoen Zubair berjudul Tsunami fi Biladina Indonesia: A huwa ‘Adzab am Mushibah (?). Tulisan reflektif atas bencana tsunami Aceh 2004 yang rampung ditulis pada 2006 (27 Jumadilawal 1427 H.) silam tentang bagaimana umat manusia seharusnya bersikap terhadap bencana alam yang menimpa mereka.

For your information, tulisan Kiai Maimoen ini boleh dikatakan sangat singkat. Diterbitkan oleh Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, dalam model buku saku setebal 26 halaman. Meski demikian, tulisan ini sangat kaya akan ayat Alquran dan hadis Nabi saw. Metode pengutipan yang digunakan juga cenderung langsung, kata per kata, berbeda dari tulisan lain beliau seperti Al-‘Ulama al-Mujaddidun yang menyamarkannya dalam model iqtibas.

Sebagaimana judul yang digunakan, salah satu premis penting yang hendak sampaikan Kiai Maimoen adalah bagaimana seharusnya bencana alam itu dibaca, sebuah rahmat atau justru azab. Terkait dua klasifikasi ini, ada beberapa istilah yang beliau gunakan secara taradif dan diposisikan saling berhadap-hadapan: musibah, rahmat, ibtila’, dan ishtifa’ di satu sisi, dengan azab, ‘uqubah (balasan), sathwah, sukhth (murka), dan nakaal (siksa) di sisi yang lain.

Baca juga: Ada Isyarat Mitigasi Bencana dalam Mimpi Sang Raja di Kisah Nabi Yusuf

Dalam menjawab pertanyaan ini, perlu dipahami sebelumnya bahwa Kiai Maimoen telah membagi ayat-ayat Allah ke dalam dua bagian. Ayat yang pertama disebut dengan ayat sam‘iyyah. Istilah lain yang barangkali lebih familier di telinga pembaca sekalian adalah ayat qauliyyah. Maksud dari keduanya sama, yakni kata, kalimat, atau surah yang menjadi bagian dari wahyu Allah dalam Alquran. Firman-Nya dalam QS. Ali Imran [3] ayat 7,

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali ululalbab.”

Adapun ayat yang kedua adalah ayat kauniyyah. Kiai Maimoen sendiri mendefinisikan ayat ini sebagai sesuatu yang dapat dilihat (mar’iyyah) dan diamati melalui pancaindra (mahsusah). Dengan definisi ini, diksi ayat dalam frasa ayat kauniyyah agaknya lebih dimaksudkan sebagai alamat atau tanda alih-alih kata, kalimat, atau surah. Allah berfirman,

وَمَا جَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ وَنُخَوِّفُهُمْ فَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا طُغْيَانًا كَبِيرًا

“Kami tidak menjadikan ru’yā yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon yang terkutuk dalam Al-Qur’an. Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka.” (QS. Al-Isra’ [17]: 60)

Relevansi pembagian ayat ini terletak pada tingkatan umat manusia dan bagaimana mereka memahaminya. Ayat sam‘iyyah diperuntukkan bagi mereka yang tergolong dalam ulul albab, yang dianggap mampu menerima pesan Allah melalui isyarat dan i‘tibar. Sedangkan ayat kauniyyah diperuntukkan bagi mereka yang oleh Kiai Maimoen disebut dengan taballadat afhamuhum wa ahasisihim (tumpul pikiran dan pancaindranya).

Baca juga: Bencana Alam dan Misi Dasar Islam: Refleksi Surah Alanbiya’ Ayat 107

Karena memiliki bentuk dan peruntukan yang berbeda, sudah barang tentu ayat-ayat ini memiliki proses transmisi yang juga berbeda. Jika ayat sam‘iyyah ditransmisikan melalui pembacaan, maka ayat kauniyyah yang bersifat indrawi ‘ditransmisikan’ dalam ragam bentuk yang berbeda sepanjang relevan dengan pengertian yang telah disebutkan. Dalam hal ini, turunnya bencana alam harus dipahami sebagai proses di mana Allah juga tengah mentransmisikan ayat-ayat-Nya.

Oleh karenanya, sekalipun berbentuk tsunami, banjir bandang, atau kebakaran hutan, bencana alam merupakan kasih sayang (rahmah) dari Allah kepada umat manusia sebagaimana ia telah menurunkan Alquran kepada mereka. Karena hakikatnya, bencana alam ini merupakan alamat atau tanda dari Tuhan kepada hamba-Nya agar mereka senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya ke jalan yang benar.

Selain itu, merujuk pada QS. Al-Anfal [8] ayat 2, ayat-ayat kauniyyah sejatinya memiliki karakteristik yang sama sebagaimana ayat-ayat sam‘iyyah, yakni potensi menambah keimanan bagi setiap mukmin yang menyaksikannya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal”

Masalahnya, potensi menambah keimanan sebagaimana disebutkan dalam ayat ini hanya (hashr) berkorelasi dengan golongan al-mu’min. Sementara jika kita saksikan realitasnya, banyak yang menjadi korban bencana alam justru mereka yang secara lahir masuk dalam golongan mukmin. Pertanyaannya kemudian, bagaimana hal itu bisa terjadi? Apakah ada yang salah dengan keimanan mereka? Simak jawabannya di bagian selanjutnya. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Baca juga: Hujan yang Disalahkan, padahal Manusia yang Lupa Diri: Tafsir Alquran tentang Hujan dan Bencana

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini