Beranda blog Halaman 101

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 19-21

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 19-21 ini menjelaskan perbedaan golongan orang kafir dan mukmin dan perbedaan keadaan mereka di akhirat. Orang kafir akan dibalas dengan azab atas perbuatan mereka, bahkan di dunia orang kafir telah diberi azab berupa cobaan.


Baca sebelumnya : Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 17-18


Ayat 19

Pada ayat ini dijelaskan perbedaan kedua golongan itu dan perbedaan keadaan mereka di akhirat nanti. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, serta mengerjakan amal saleh akan diberi ganjaran pahala yang berlipat ganda di akhirat nanti. Mereka akan tinggal di rumah-rumah yang megah dengan taman-taman yang indah, sebagai balasan keimanan dan amal saleh yang mereka perbuat selama hidup di dunia. Firman Allah:

;يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۙ   ;

Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung. (as-Saff/61: 12)

Ayat 20

Adapun orang-orang yang kafir, mengingkari Allah dan rasul-Nya, serta mengerjakan perbuatan-perbuatan jahat akan dibalas dengan azab neraka di akhirat nanti. Setiap mereka mendekati pintu neraka untuk keluar, mereka dikembalikan ke dalamnya lagi.

Jika neraka itu diibaratkan dengan kawah atau kepundan gunung berapi, maka orang-orang kafir berada di dalamnya. Nyala api dari kawah itu sedemikian berbahaya dan setiap saat menyemburkan bunga api. Dalam gambaran itu terbawa pula orang-orang kafir yang sedang diazab, mereka terlempar ke mulut kawah itu, kemudian mereka dibenamkan lagi ke dasarnya, sehingga tidak mempunyai kesempatan sedikit pun untuk keluar dari neraka itu. Di saat mereka dibenamkan kembali ke dalam neraka, kepada mereka dikatakan, “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulu kamu tidak mempercayainya sedikit pun sewaktu hidup di dunia.”


Baca juga: Amalan Mempermudah Melewati Sakratulmaut


Ayat 21

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa sebenarnya orang-orang kafir itu sewaktu masih hidup di dunia telah diazab oleh Allah dengan berbagai macam azab, baik yang tampak maupun yang hanya dapat di-rasakan oleh mereka. Siksaan bagi mereka di dunia disebut dengan al-adzab al-adni (azab yang dekat), sedangkan siksaan di akhirat disebut al-adzab al-akbar (azab yang lebih besar).

Banyak cobaan-cobaan yang diberikan Allah kepada manusia selama hidup di dunia, sejak dari cobaan yang kecil sampai kepada cobaan yang paling besar. Bisa juga dalam bentuk kemewahan lahiriah sampai kepada kemiskinan dan kesengsaraan. Seorang yang kaya tetapi tidak dilandasi dengan iman kepada Allah, hatinya selalu was-was dan khawatir, mungkin ada orang yang akan merampas kekayaannya itu, atau ada ahli waris yang hendak membunuhnya agar memperoleh kekayaan itu.

Seorang penguasa yang tidak beriman selalu khawatir kekuasaannya akan pindah kepada orang lain. Kalau perlu, kekuasaan itu dipertahankan dengan tangan besi dan kekerasan. Kekhawatiran seperti ini pernah terjadi pada Fir’aun di kala tukang-tukang sihirnya dikalahkan oleh Nabi Musa.

Allah berfirman:

;قَالَ اٰمَنْتُمْ لَهٗ قَبْلَ اَنْ اٰذَنَ لَكُمْۗ اِنَّهٗ لَكَبِيْرُكُمُ الَّذِيْ عَلَّمَكُمُ السِّحْرَۚ فَلَاُقَطِّعَنَّ اَيْدِيَكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ وَّلَاُصَلِّبَنَّكُمْ فِيْ جُذُوْعِ النَّخْلِۖ وَلَتَعْلَمُنَّ اَيُّنَآ اَشَدُّ عَذَابًا وَّاَبْقٰى   ;

Dia (Fir’aun) berkata, “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia itu pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka sungguh, akan kupotong tangan dan kakimu secara bersilang, dan sungguh, akan aku salib kamu pada pangkal pohon kurma dan sungguh, kamu pasti akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksaannya.” (Taha/20: 71)

Banyak penguasa-penguasa yang bersikap seperti Fir’aun ini. Mereka mengira bahwa merekalah yang memiliki semuanya dan merekalah yang paling berkuasa.

Sebenarnya Allah memberikan cobaan-cobaan dari azab duniawi itu agar semuanya menjadi pelajaran bagi orang-orang kafir itu. Hal ini bertujuan agar mereka mau beriman, beramal saleh, dan mudah-mudahan kembali ke jalan yang benar. Biarlah mereka menanggung siksa yang ringan di dunia ini asal di akhirat nanti mereka terhindar dari siksa yang amat berat.


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 22-23


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 17-18

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 17-18 ini membicarakan tentang balasan perbuatan baik orang saleh yang telah dikerjakan selama hidup di dunia. Dan menerangkan tentang perbedaan sifat-sifat orang kafir dan sifat-sifat orang-orang mukmin.


Baca sebelumnya : Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 15-16


Ayat 17

Ayat ini menerangkan bahwa seseorang tidak dapat mengetahui betapa besar kebahagiaan dan kesenangan yang akan diberikan Allah kepadanya di akhirat nanti, dan betapa enak dan nyamannya tinggal di dalam surga itu. Semua itu adalah balasan perbuatan baik yang telah dikerjakan selama hidup di dunia.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan imam-imam hadis yang lain dari Abµ Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

يَقُوْلُ الله ُتَعَالَى: اَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَالاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَخَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ اِلاَّ مَا أَطْلَعْتُكُمْ عَلَيْهِ, اِقْرَؤُا اِنْ شِئْتُمْ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَااُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍ.

Allah berfirman, “Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya dan belum pernah tergores di dalam hati manusia, kecuali apa yang telah Aku kemukakan kepadamu. Bacalah, jika kamu menghendakinya “Fala ta lamu nafs . . . sampai akhir.”

Diriwayatkan oleh al-Firyabi, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir at-Tabari, at-Tabrani, al-hakim dan dinyatakan sebagai hadis sahih dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Sesungguhnya termaktub dalam Taurat bahwa Allah menjanjikan kepada orang-orang yang jauh lambung mereka dari tempat tidurnya, apa yang belum dilihat mata, belum didengar telinga, belum tergores dalam hati manusia.

Malaikat yang dekat kepada Tuhan tidak mengetahuinya demikian pula para rasul yang diutusnya. Sesungguhnya itu terdapat pula di dalam Al-Qur’an, sebagaimana tersebut dalam ayat ini.”


Baca juga: Hukum Menuntun Bacaan Tahlil kepada Orang yang Mendekati Ajal


Ayat 18

Pada ayat ini diterangkan bahwa setelah menerangkan sifat-sifat orang kafir dan sifat-sifat orang-orang mukmin, Allah menyuruh mem-bandingkan kedua sifat itu, apakah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, tidak percaya kepada janji dan ancaman-Nya, mengingkari perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya itu sama dengan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat Allah, mengakui kebenaran janji dan ancaman-Nya mengikuti perintah-perintah-Nya dan menghentikan larangan-larangan-Nya?

Allah menegaskan bahwa kedua golongan itu sama sekali tidak sama, amat besar perbedaannya di sisi-Nya. Orang yang tidak berpengetahuan dan tidak mempunyai pandangan yang tajam saja dapat membedakan kedua macam golongan itu. Firman Allah yang lain yang sama isinya dengan ayat ini, ialah:

;اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ اجْتَرَحُوا السَّيِّاٰتِ اَنْ نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَوَاۤءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۗسَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ ࣖࣖ

Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. (al-Jatsiyah/45: 21)

Firman Allah:

;اَمْ نَجْعَلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَالْمُفْسِدِيْنَ فِى الْاَرْضِۖ اَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِيْنَ كَالْفُجَّارِ  ;

Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat? (Sad/38: 28)


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 19-21


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 15-16

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 15-16 ini membicarakan mengenai orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan mengakui bahwa Muhammad itu adalah rasul Allah. Dan tanda lain dari orang beriman adalah bangun tengah malam untuk menunaikan sholat tahajud.


Baca sebelumnya : Tafsir Surah As-Sajadah Ayat 12-14


Ayat 15

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan mengakui bahwa Muhammad itu adalah rasul Allah adalah orang-orang yang apabila diperingatkan kepada mereka ayat-ayat Allah dan dibacakan di hadapan mereka, mereka lalu bersujud kepada-Nya. Mereka juga bertasbih memuji-Nya seraya membaca, “Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil ‘azim.” Sujud yang demikian dinamakan sujud tilawah. Hukumnya sunah, baik dalam salat maupun di luar salat.

Tindakan mereka itu adalah tanda ketaatan dan ketundukan mereka. Hal itu juga sebagai tanda bahwa mereka benar-benar menghayati ajaran dan petunjuk ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka. Tidak sedikit pun terdapat sikap angkuh dan sombong dalam menghambakan diri kepada Allah. Mereka juga senang dan khusyuk dalam beribadah.


baca juga: Hukum Menuntun Bacaan Tahlil kepada Orang yang Mendekati Ajal


Ayat 16

Pada ayat ini, Allah menerangkan tanda-tanda lain lagi bagi orang-orang yang beriman. Di antaranya adalah mereka mengurangi tidur, dan sering bangun di pertengahan malam untuk melakukan salat dan berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari siksaan-Nya. Mereka juga menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah mereka peroleh dari Allah.

Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw yang menerangkan keutamaan dan manfaat salat malam, terutama untuk mendekatkan diri kepada Allah untuk menambah kekuatan iman di dalam dada.

Salat Tahajud dapat mengangkat manusia ke tempat yang terpuji, sebagaimana Allah berfirman:

;وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا  ;

Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat Tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (al-Isra’/17: 79)

Pada ayat yang lain, Allah menerangkan bahwa salat dan membaca Al- Qur’an di malam hari dapat menguatkan jiwa. Dengan demikian, jiwa itu akan dapat menerima kewajiban yang lebih berat dan besar dari Allah, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

;;يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ  ١  قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ  ٢  نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ  ٣  اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ  ٤  اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا  ٥  اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ  ٦

Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan. (al-Muzzammil/73: 1-6)

Diriwayatkan oleh at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Abµ Dawud, dan at-Tabrani bahwa Mu’adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah saw:

يَا رَسُوْلَ اللهِ اَخْبِرْنِيْ بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِى عَنِ النَّارِ. قَالَ: لَقَدْ سَأَلْتَنِيْ عَنْ عَظِيْمٍ وَاِنَّهُ لَيَسِيْرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ الله َوَلاَتُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ. ثُمَّ قَالَ: اَلاَ اَدُلُّكَ عَلَى اَبْوَابِ الْخَيْرِ، اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ، اَلصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصّلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ تَلاَ: {تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ} حتى بلغ {يَعْمَلُوْنَ} (رواه الترمذي و ابن ماجه و أبو داود و الطبراني)

Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku perbuatan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari api neraka. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya engkau benar-benar telah menanyakan sesuatu yang besar, sesungguhnya perbuatan itu mudah dilakukan oleh orang yang dimudahkan Allah baginya, Engkau menyembah Allah, tidak menyekutukan Nya dengan sesuatupun, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, berhaji ke Baitullah.” Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya, “Maukah engkau aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai, sedekah menghapuskan kesalahan seperti air memadamkan api, dan salat pada pertengahan malam.” Kemudian beliau membaca Tatajafa . . . sampai akhir ayat. (Riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Abµ Dawud, dan at-Tabrani)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarar at-Tabari dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,  “Maksud “lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka” ialah beribadah kepada Allah, zikir, salat, berdiri, duduk atau berbaring, mereka selalu mengingat Allah.”


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 17-18


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 12-14

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 12-14 ini menjelaskan tentang orang-orang yang mengingkari hari Kiamat. Mereka memohon agar diberi kesempatan untuk kembali ke dunia sehingga dapat mengikuti semua ajaran rasul. Tetapi pintu taubat telah ditutup oleh Allah dan mereka kekal di dalam neraka, akibat tindakan dan perbuatan mereka.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 8-11


Ayat 12

Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya bahwa ia akan merasa ngeri jika melihat keadaan orang-orang yang mengingkari hari Kiamat ketika mereka menundukkan kepala di hadapan Allah karena malu dan takut atas segala tindakan dan perbuatan mereka dalam hidup di dunia. Mereka menyatakan kepada Allah bahwa mereka telah melihat kenyataan hari Kiamat itu benar-benar terjadi, dan telah merasakan pula malapetaka yang menimpa mereka pada hari itu.

Mereka kemudian memohon agar diberi kesempatan untuk kembali ke dunia sehingga dapat mengikuti semua petunjuk rasul. Ketika itu, mereka mengaku benar-benar telah meyakini apa yang dahulu mereka dustakan. Mereka juga mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah, yang menghidupkan dan mematikan, serta yang membangkitkan kembali, seperti saat itu.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

;وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ وُقِفُوْا عَلَى النَّارِ فَقَالُوْا يٰلَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِاٰيٰتِ رَبِّنَا وَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (al-An’am/6: 27)

Ayat 13

Jika Allah menghendaki semua manusia mendapat taufik dan hidayah untuk beriman dan beramal saleh, tentu hal itu tidak sukar bagi-Nya. Akan tetapi, hal itu tidak sesuai dengan sunatullah yang dahulu berlaku di alam ini. Aturan dan hukum Allah yang berlaku di alam ini adalah aturan dan hukum yang paling sempurna.

Menurut aturan dan hukum itu ialah menempatkan segala sesuatu di tempatnya, seperti menempatkan mata, telinga, hati, tangan, kaki, dan sebagainya berada di tempat yang layak dan wajar, sesuai dengan keindahan dan fungsinya. Di antara sunatullah itu ialah Allah akan mengisi neraka Jahanam dengan jin dan manusia yang layak bertempat tinggal di sana dan menjadi penghuninya, sebagaimana Dia akan memenuhi surga dengan orang-orang yang layak pula bertempat tinggal di sana.

Jika manusia memperhatikan sunatullah yang berlaku di alam ini, akan tampak suatu keserasian dan kerapian di dalamnya. Ikan yang hidup di dalam air mempunyai sirip, insang, dan berdarah dingin. Demikian pula lalat, ular, burung, dan sebagainya. Jika mata memandang ke cakrawala luas, maka di dalamnya terdapat pula sunatullah yang juga sangat rapi, sehingga planet-planet itu tidak berbenturan antara yang satu dengan yang lain.


Baca juga: Apa Makna “Kiamat Sudah Dekat” dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya


Ayat 14

Karena orang-orang musyrik mendustakan hari Kiamat, dan me-mandangnya sebagai suatu hal yang mustahil terjadi, serta meyakini bahwa mereka tidak akan bertemu dengan Tuhan pada hari Kiamat, mereka merasakan azab yang ditimpakan itu. Pada waktu pintu tobat telah tertutup, Allah menyatakan bahwa Ia tidak akan memperhatikan lagi permintaan mereka.

Pada akhir ayat ini, Allah menyebutkan bentuk azab yang ditimpakan kepada orang-orang kafir adalah azab yang kekal di dalam neraka, akibat tindakan dan perbuatan mereka itu.


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 14-15


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 8-11

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 8-11 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai proses penciptaan manusia dari setets nutfah. Kedua berbicara mengenai keingakaran orang-orang kafir terhadap hari kebangkitan. Ketiga mengenai kebenaran hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 6-7


Ayat 8

Ayat ini menerangkan bahwa Allah menciptakan keturunan manusia dari sperma, yaitu air yang sedikit dan memancar, yang bertemu dengan sel telur. Hasil pertemuan ini disebut dengan nu¯fah.

Ayat 9

Kemudian di dalam rahim perempuan, Allah menyempurnakan kejadian nutfah itu, sehingga berbentuk manusia. Kemudian ditiupkan roh ke dalamnya. Dengan demikian bergeraklah janin yang kecil itu. Setelah nyata kepadanya tanda-tanda kehidupan, Allah menganugerahkan kepadanya pendengaran, penglihatan, akal, perasaan, dan sebagainya.

Manusia pada permulaan hidupnya di dalam rahim ibu, sekalipun telah dianugerahi mata, telinga, dan otak, tetapi ia belum dapat melihat, mendengar, dan berpikir. Hal itu baru diperolehnya setelah ia lahir, dan semakin lama panca inderanya itu dapat berfungsi dengan sempurna.

Pada akhir ayat ini, Allah mengatakan bahwa hanya sedikit manusia yang mau mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya.


Baca juga: Mengenal Mushaf Kuno Buleleng


Ayat 10

Ayat ini menerangkan tentang pertanyaan orang-orang musyrik kepada Rasulullah saw, yang menunjukkan keingkaran dan kesombongan mereka. Mereka berkata, “Apakah apabila daging dan tulang belulang kami telah hancur menjadi tanah, mungkinkah kami dihidupkan lagi seperti semula?”

Dari pertanyaan di atas tergambar bahwa menurut mereka mustahil manusia dapat hidup kembali setelah mati dan tubuhnya hancur menjadi tanah. Mereka tidak dapat menggambarkan dalam pikirannya bagaimana besarnya kekuasaan Allah.

Jika mereka ingin mencapai kebenaran, mereka dapat mencari bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran Allah pada penciptaan manusia. Mereka dahulu tidak ada, kemudian menjadi ada. Tentu menciptakan kembali yang pernah ada lebih mudah bagi Allah. Sebenarnya jika mereka mau berpikir tentu mereka sampai kepada kesimpulan bahwa segala sesuatu itu adalah sama mudahnya bagi Allah, tidak ada yang sukar bagi-Nya.

Orang-orang musyrik itu bukan hanya mengingkari kekuasaan Allah, tetapi juga mengingkari adanya hari kebangkitan, yaitu hari semua manusia dihadapkan di Mahkamah Agung Ilahiah.

Ayat 11

Ayat ini menolak anggapan orang-orang musyrik yang menyatakan bahwa hari Kiamat itu tidak ada. Dalam ayat ini dikatakan, “Hai orang-orang musyrik, sesungguhnya malaikat yang bertugas mencabut nyawa manusia, benar-benar menjaga waktu, maka mereka mencabut nyawa orang itu tepat pada waktunya, tidak mundur sesaat pun, dan tidak pula dipercepat walau sesaat.” Hal ini berlaku bagi semua orang-orang musyrik itu, dan mereka tidak dapat lari dari ketetapan Allah ini. Kemudian mereka dibangkitkan kembali di hari Kiamat dan diminta pertanggungjawaban semua perbuatannya dengan adil.


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 12-14


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 6-7

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 6-7 berbicara mengenai kekuasaan Allah SWT meliputi segala penjuru. Selain itu di sini juga membahas cara pandang ideal untuk melihat alam semesta.


Baca juga: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 4-5


Ayat 6-7

Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang menciptakan, mengatur, dan mengurus langit dan bumi serta segala yang ada padanya itu adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib, yang tersembunyi dalam hati, yang akan terjadi, dan yang telah terjadi. Dia juga Maha Mengetahui segala yang dapat dilihat dan yang tidak dapat dilihat oleh mata. Dialah Tuhan Yang Mahakuasa, Mahakekal Rahmat-Nya dan Dia pulalah Yang menciptakan seluruh makhluk dengan bentuk yang baik, serasi serta dengan faedah dan kegunaan yang hanya Dia saja yang mengetahuinya.

Jika diperhatikan seluruh makhluk yang ada di alam ini sejak dari yang besar sampai kepada yang sekecil-kecilnya akan timbul dugaan bahwa di antara makhluk itu ada yang besar faedahnya dan ada pula yang dirasa tidak berfaedah atau tidak berguna sama sekali, bahkan dapat menimbulkan bahaya bagi manusia, seperti ular berbisa, hama-hama penyakit menular, tanaman yang mengandung racun, dan sebagainya. Dugaan ini akan timbul jika masing-masing makhluk itu dilihat secara terpisah, tidak dalam satu kesatuan alam semesta ini.

Jika makhluk-makhluk itu dilihat dalam satu kesatuan alam semesta, dimana antara yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan erat, akan terlihat bahwa semua makhluk itu ada faedah dan kegunaannya dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam ini.

Bahkan terlihat dengan nyata bahwa usaha-usaha sebagian manusia, baik secara sengaja atau tidak, merusak dan membunuh sebagian makhluk hidup, menimbulkan pencemaran di alam ini, sehingga kelestariannya terganggu. Salah satu contoh ialah dengan adanya obat pembasmi hama, banyak cacing dan bakteri yang musnah. Akibatnya, proses pembusukan sampah menjadi terganggu.

Padahal bakteri dan cacing itu dianggap binatang yang tidak ada gunanya sama sekali. Penebangan hutan mengakibatkan tanah menjadi gundul, sehingga banyak terjadi banjir dan tanah longsor di musim hujan, serta kekeringan pada musim kemarau.


Baca juga: Penjelasan tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan


Semua itu akibat keserakahan manusia. Hal itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan merusak di bumi. Akibat yang ditimbulkannya bisa luas dan memberi efek domino (beruntun).

Berdasarkan paparan di atas nyatalah bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, ada faedahnya, tetapi banyak manusia yang tidak mau memperhatikannya.

Kemudian ayat ini menerangkan bahwa Dia menciptakan manusia dari tanah. Maksudnya ialah Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian menciptakan anak cucu Adam dari sari pati tanah yang diperoleh oleh ayah dan ibu dari makanan berupa hewan dan tumbuh-tumbuhan yang semuanya berasal dari tanah.

Dalam ayat 7 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah, tetapi pada ayat ini ditegaskan bahwa hanya pada permulaannya saja manusia diciptakan dari tanah. Dengan ayat ini dapat pula ditafsirkan bahwa ada fase lain setelah awal penciptaan sebelum ciptaan tersebut menjadi manusia.

Jika hal tersebut memang terjadi demikian, banyak pertanyaan lain yang masih tersisa, antara lain (1) apakah awal penciptaan manusia sama dan bersamaan dengan awal penciptaan makhluk hidup bumi lainnya (lihat tafsir Surah al- An’am ayat 2), (2) apakah fase setelah penciptaan awal tersebut manusia berkembang melalui bentuk antara seperti halnya proses evolusi makhluk hidup lainnya yang kini banyak dipercayai (lihat Surah ar-Rum/30 ayat 20), atau (3) manusia tercipta melalui proses khusus yang berbeda dari makhluk hidup lainnya (al-Ahzab/33 ayat 33).


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 8-11


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 4-5

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 4-5 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai penegasan dan peringatan Allah SWT. Kedua berbicara mengenai perbedaan waktu antara di dunia dan di akhirat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 2-3


Ayat 4

Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada Muhammad saw itu adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Maksud enam masa dalam ayat ini bukanlah hari (masa) yang dikenal seperti sekarang ini, tetapi adalah hari sebelum adanya langit dan bumi. Hari pada waktu sekarang ini adalah setelah adanya langit dan bumi, serta setelah adanya peredaran bumi mengelilingi matahari dan sebagainya.

Setelah menciptakan langit dan bumi, Allah pun bersemayam di atas ‘Arasy, sesuai dengan kekuasaan dan kebesaran-Nya. (lihat al-A’raf/7: 54) Allah menegaskan bahwa tidak seorang pun yang dapat mengurus segala urusannya, menolak bahaya, malapetaka, dan siksa. Tidak seorang pun yang dapat memberi syafaat ketika azab menimpanya, kecuali Allah semata, karena Dialah Yang Mahakuasa menentukan segala sesuatu.

Kemudian Allah memperingatkan, “Apakah kamu hai manusia tidak dapat mengambil pelajaran dan memikirkan apa yang selalu kamu lihat itu? Kenapa kamu masih juga menyembah selain Allah?”


Baca juga: Hadis Tentang Istigfar Rasulullah dan Tafsir Surah Al-Fath Ayat 1-2


Ayat 5

Hanya Allah-lah yang mengurus, mengatur, mengadakan, dan me-lenyapkan segala yang ada di dunia ini. Segala yang terjadi itu adalah sesuai dengan kehendak dan ketetapan-Nya, tidak ada sesuatu pun yang menyimpang dari kehendak-Nya itu. Pengaturan Allah dimulai dari langit hingga sampai ke bumi, kemudian urusan itu naik kembali kepada-Nya.

Semua yang tersebut pada ayat ini merupakan gambaran dari kebesaran dan kekuasaan Allah, agar manusia mudah memahaminya. Kemudian Dia menggambarkan pula waktu yang digunakan Allah mengurus, mengatur, dan menyelesaikan segala urusan alam semesta ini, yaitu selama sehari. Akan tetapi, ukuran sehari itu sama lamanya dengan 1000 tahun dari ukuran tahun yang dikenal manusia di dunia ini.

Perkataan seribu tahun dalam bahasa Arab tidak selamanya berarti 1000 dalam arti sebenarnya, tetapi kadang-kadang digunakan untuk menerangkan banyaknya sesuatu jumlah atau lamanya waktu yang diperlukan.

Dalam ayat ini bilangan seribu itu digunakan untuk menyatakan lamanya waktu kehidupan alam semesta ini sejak diciptakan Allah pertama kali sampai kehancurannya di hari Kiamat, kemudian kembalinya segala urusan ke tangan Allah, yaitu hari berhisab. Semua itu menempuh waktu yang lama sekali, sehingga sukar bagi manusia menghitungnya.

Dalam ayat yang lain digunakan perkataan ribuan itu untuk menerangkan lamanya waktu yang dibutuhkan seandainya manusia ingin naik menghadap Allah, sekalipun para malaikat hanya perlu sehari saja. Allah berfirman:

تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ

Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun. (al-Ma’arij/70: 4)

Ada pula yang berpendapat bahwa maksud ayat ini ialah segala urusan dunia ini kembali kepada Allah di hari Kiamat dalam waktu satu hari, yang sama lamanya dengan 1000 tahun waktu di dunia ini. Sebagian mufasir menafsirkan ayat ini, “Para malaikat naik kepada Allah ke langit dalam satu hari. Jika jarak itu ditempuh oleh selain malaikat, maka ia memerlukan waktu 1000 tahun.”

Rasulullah saw dalam malam mi’raj pernah naik ke langit bersama malaikat Jibril menghadap Allah. Jarak itu ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah malam.


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 6-7


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 2-3

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 2-3 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai  bantahan atas tuduhan kepada Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Kedua berbicara mengenai mengenai penegasan bahwa al-Qur’an bukan buatan Nabi Muhammad SAW.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 1


Ayat 2

Ayat ini menerangkan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad ini benar-benar wahyu dari Allah, Tuhan semesta alam. Al- Qur’an ini bukanlah buatan tukang sihir, bukan mantra-mantra tukang tenung, dan bukan pula buatan Muhammad, tidak ada keraguan padanya sedikit pun.

Ayat ini merupakan bantahan bagi dakwaan orang-orang kafir yang menyatakan bahwa Al-Qur’an ini adalah syair yang digubah oleh penyair, dan ada yang mengatakan gubahan tukang tenung. Ada juga yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongengan-dongengan purbakala saja, serta ada pula yang mengatakan bahwa dia adalah buatan Muhammad.

Allah berfirman:

;وَقَالُوْٓا اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلٰى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا

Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (al-Furqan/25: 5)


Baca juga: Empat Mental Block Yang Harus Dijauhi Oleh Pelajar


Ayat 3

Ayat ini menerangkan bahwa sikap orang-orang musyrik seperti yang diterangkan ayat di atas adalah sikap yang tidak layak. Tidak pantas mereka menuduh Muhammad telah melakukan kedustaan dengan mengatakan bahwa ia telah membuat-buat Al-Qur’an, padahal mereka benar-benar telah mengetahui keadaan Muhammad, sejak ia masih kecil sampai ia dewasa dan diangkat menjadi rasul. Bahkan mereka memberi gelar dengan “Al-Amin” (orang kepercayaan) karena mereka sangat percaya kepada Muhammad. Akan tetapi, tiba-tiba mereka menuduhnya sebagai pendusta.

Oleh karena itu, Allah menegaskan bahwa semua yang disampaikan Muhammad itu adalah benar. Al-Qur’an benar-benar berasal dari Allah dan diturunkan kepadanya untuk memperingatkan orang-orang musyrik pada azab akhirat yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang mengingkari rasul yang diutus kepada mereka. Al-Qur’an berisi pelajaran dan petunjuk yang mengantar mereka menuju jalan kebahagiaan abadi.

Pada ayat yang lain dinyatakan pula sikap orang-orang musyrik itu terhadap Al-Qur’an. Allah berfirman:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّآ اِفْكُ ِۨافْتَرٰىهُ وَاَعَانَهٗ عَلَيْهِ قَوْمٌ اٰخَرُوْنَۚ فَقَدْ جَاۤءُوْ ظُلْمًا وَّزُوْرًاۚ

Dan orang-orang kafir berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), dibantu oleh orang-orang lain,” Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar. (al-Furqan/25: 4)


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 4-5


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 1

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Pembahasan diawali dengan Tafsir Surat As Sajdah ayat 1. Pembahasan ini berkaitan dengan huruf Muqata’ah atau huruf lepas yang terpisah-pisah. Ada sekitar 29 surat yang dimulai dengan huruf muqata’ah, salah satunya adalah surat As Sajdah ini.

Dalam Tafsir Surat As Sajdah ayat 1 ini juga dipaparkan mengenai maksud dari penyebutan huruf muqata’ah ini serta apa hikmah yang ada dibalik penyebutannya. setidaknya ada dua pendapat mengenai hal itu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Luqman Ayat 1-16


Ayat 1

Alif Lam Mim. Ayat pertama surah Al-Baqarah ini terdiri dari huruf-huruf lepas. Sebagaimana pada surah-surah Makkiyah banyak yang dibuka dengan huruf-huruf lepas seperti Alif Lam Ra, Alif Lam Mim Ra, Ha Mim, Ta Ha, Kaf Ha Ya ‘Ain Sad, dan lain-lain.

Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf singkatan (muqata’ah) semuanya berjumlah 29 surah. Selengkapnya sebagai berikut: al-Baqarah dengan Alif Lam Mim, Ali ‘Imran dimulai dengan Alif Lam Mim, al-A’raf dimulai dengan Alif Lam Mim Sad, Yunus dengan Alif Lam Ra, Hud dengan Alif Lam Ra, ar-Ra’d dengan Alif Lam Mim Ra; Ibrahim dengan Alif Lam Ra; al-Hijr dengan Alif LAm Ra;

Maryam dengan Kaf Ha Ya ‘Ain Sad; Taha dengan Ta Ha; asy-Syu’ara′ dengan Ta Sin Mim; an-Naml dengan Ta Sin; al-Qasas dengan Ta Sin Mim; al-‘Ankabut dengan Alif Lam Mim; ar-Rum dengan Alif Lam Mim, Luqman dengan Alif Lam Mim, as-Sajdah dengan Alif Lam Mim, Yasin dengan Ya Sin; Sad dengan Sad; al-Mu′min dengan Ha Mim; Fussilat dengan Ha Miim; asy-Syura dengan Ha Mim; az-Zukhruf dengan Ha Mim; ad-Dukhan dengan Ha Mim; al-Jasiyah dengan Ha Mim; al-hqaf dengan Ha Mim; Qaf dengan Qaf; dan al-Qalam dengan Nun.

Huruf yang disebutkan ini berjumlah 14 huruf, yaitu setengah dari huruf hijaiyah. Huruf-huruf ini adalah huruf-huruf yang banyak terpakai dalam bahasa Arab. Huruf-huruf ini ada yang disebutkan berulang-ulang.

Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Al-Qur′an itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini.


Baca juga: Surah An-Nur Ayat 26: Penjelasan Ayat dan Konsep Jodoh


Tentang soal pertama, maka para mufasir berlainan pendapat:

  1. Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, “Allah saja yang mengetahui maksudnya.” Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasy±bih±t.
  2. Ada yang menafsirkannya. Mufasir yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka:
  3. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (singkatan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka Alif adalah singkatan dari “Allah”, Lam singkatan dari “Jibril”, dan M³m singkatan dari Muhammad, yang berarti bahwa Al-Qur′an itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra, Alif singkatan dari “Ana”, Lam singkatan dari “Allah” dan Ra singkatan dari “ar-Rahman”, yang berarti “Aku Allah Yang Maha Pengasih.”
  4. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.
  5. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan Alif adalah “Alif”, yang dimaksud dengan Lam, adalah “Lam”, yang dimaksud dengan Nµn adalah “Nun”, dan begitu seterusnya.
  6. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian. Ada mufasir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah Al-Qur′an untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh Bangsa Arab pada waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka.
  7. Untuk tantangan. Menurut para mufasir ini, huruf-huruf singkatan itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Al-Qur′an, hikmahnya adalah untuk “menantang”. Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Al-Qur′an itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf singkatan, seperti Alif Lam Mim Ra, Kaf Ha Ya ‘Ain Sad, Qaf, Ta Sin dan lain-lain.

Maka kalau kamu tidak percaya bahwa Al-Qur′an datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Al-Qur′an ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya”

Maka ada “penantang”, yaitu Allah, dan ada “yang ditantang”, yaitu bangsa Arab, dan ada “alat penantang”, yaitu Al-Qur′an. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk beluk bahasa Arab menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu ada pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Al-Qur′an dengan membuat ayat-ayat seperti Al-Qur′an.

Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Al-Qur′an itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Al-Qur′an itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri.


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 2-3


Hadis Tentang Istigfar Rasulullah dan Tafsir Surah Al-Fath Ayat 1-2

0
hadis istigfar Rasulullah dan tafsir surah al-Fath ayat 1-2
hadis istigfar Rasulullah dan tafsir surah al-Fath ayat 1-2

Hadis yang lumayan popular di kalangan beberapa mubaligh atau dai di antaranya adalah ahadis tentang istigfar Rasulullah saw. Pada hadis tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah setiap hari membaca istigfar seratus kali. Hadis yang cukup popular ini termuat dalam beberapa kitab hadis induk, seperti Sahih Muslim, Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasa’i, dan lainnya. Sepintas penjelasan sederhana ini tidak mengandung sesuatu yang problematik, akan tetapi bunyi literal hadis ini bertentangan dengan Alquran, surah Al-Fath ayat 1-2 yang berbunyi:

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ (١

”Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata…”

لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ

“…agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Nabi Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, menunjukimu ke jalan yang lurus,”

Dua ayat pertama dalam surah Al-Fath ini memberikan penjelasan cukup gamblang bahwa Nabi Muhammad adalah manusia yang telah terjamin dari melakukan dosa. Berdasarkan ayat ini pula, para ulama bersepakat atas kemaksuman (terjaga dari dosa) para Nabi. Konsensus ini dikutip, di antaranya oleh Imam Al-Subki dan Ibnu Atiyyah dalam karya tafsirnya.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apa maksud dari sabda Nabi, bahwa beliau beristighfar seratus kali dalam sehari? Tulisan ini akan berupaya memberikan penjelasan berdasarkan pendapat para ulama, khususnya padangan ulama tasawuf.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Fath Ayat 1 (2)

Hadis Tentang Nabi Muhammad Beristighfar Seratus Kali Sehari

Redaksi lengkap dari hadis tersebut, sebagaimana tercantum dalam Musnad Ahmad dan lain-lain, bersumber dari Al-Agharr Al-Muzani, adalah sebagai berikut:

إنَّه لَيُغَانُ علَى قَلْبِي، وإنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ في اليَومِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Sungguh hatiku (seperti) tertutupi (sesuatu), dan Aku beristghfar dalam sehari seratus kali

Jika kita membaca redaksi hadis ini secara tekstual, pemahaman yang didapat tentu menunjukkan bahwa Nabi Muhammad membaca istighfar karena hatinya lalai dan melakukan kesalahan ataupun dosa. Padahal sebagaimana diungkapkan di awal, terkait kesepakatan ulama, bahwa semua Rasul adalah maksum, artinya terjaga dari melalukan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil, yang tidak sampai pada merendahkan martabat. Meskipun demikian, beberapa kelompok, seperti Muktazilah, mengatakan bahwa boleh saja Nabi melakukan dosa kecil yang tidak sampai merendahkan martabat Nabi. Argumentasi mereka adalah ayat kedua dari surah Al-Fath yang telah dikutip di atas. Namun, pendapat yang dipilih (al-mukhtar) adalah yang menegaskan bahwa Nabi terjaga dari segala bentuk dosa, karena kita semua diperintahkan untuk mengikuti Nabi baik dalam segi ucapan maupun perilaku.

Baca Juga: Meninjau Ulang Makna Asyiddaa’u alal Kuffar dalam Al-Quran Surah Al-Fath Ayat 29

Beberapa Penjelasan Ulama Terkait Makna “Tertutupi” dalam Hadis Istigfar Nabi

Ada beberapa penjelasan alternatif dari para ulama terkait makna dari kata “layughanu” (tertutupi) dalam hadis di atas. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah kondisi saat Nabi tidak berdzikir atau mengingat Allah, yang seharusnya itu harus senantiasa terjadi, dan itu oleh Nabi dianggap sebagai sebuah ‘dosa’, sehingga beliau beristighfar. Ada yang memaknai kata “layughanu” dengan “ketenangan hati”, sedangkan istigfar adalah bentuk penegasan kehambaan Nabi, sekaligus sebagai ungkapan syukur. Ada juga yang memaknainya dengan “rasa takut”, dan istigfar adalah bentuk ungkapan rasa syukur.

Pendapat lain mengatakan bahwa Nabi bermaksud memberikan edukasi kepada umatnya, bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa, dan oleh karenanya harus banyak beristigfar. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa dalam hadis itu sebenarnya Nabi beristigfar untuk umatnya atas dosa-dosa yang telah dan akan mereka lakukan di masa dahulu dan yang akan datang. Pendapat yang terakhir ini, menurut penulis lebih bisa diterima dan tidak menciderai kemuliaan Nabi Muhammad sebagai manusia yang maksum.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Fath Ayat 1 (1)

Pandangan Ulama Tasawuf

Ulama tasawuf memiliki pemaknaan yang berbeda dari beberapa alternatif pemakaan yang telah dikutip di atas. Dalam pemaknaan sufistik, hadis di atas bukan berarti mengindikasikan bahwa Nabi melalukan dosa, karena mereka adalah sosok manusia yang sempurna dan maksum. Namun menunjukkan dan mengisaratkan bahwa Nabi Muhammad senantiasa meningkat dan naik (al-taraqi) serta bertambah (al-tazayudi) dekat dengan Allah setiap waktu, dari satu kondisi spiritual (ahwal) ke kondisi spiritual yang lebih tinggi.

Para Nabi adalah orang-orang yang paling kuat mujahadah-nya. Mereka senantiasa ber-mujahadah dalam beribadah sebagai bentuk syukur kepada Allah, seraya merasa kurang sempurna dalam mengabdi kepada Allah. Dari sinilah kemudian Nabi beristigfar untuk menyesali kekurangsempurnaan itu dan menuju yang lebih sempurna. Dengan demikian makna “tertutupi” dalam hadis di atas, adalah ketertutupan atau hijab ‘cahaya’ dalam arti spiritual, bukan hijab ‘kegelapan’ dalam arti dosa.

Ketika Nabi telah berhasil naik dari satu kondisi spiritual ke kondisi spiritual yang lebih tinggi, beliau beristigfar atas kondisi sebelumnya, yang beliau ungkapkan dengan ‘ketertutupan’ (gelap), walaupun pada hakikatnya itu adalah ‘cahaya’ (terang). Hal ini bukan berarti menunjukkan suatu kekurangan, akan tetapi justru kesempurnaan yang senantiasa meningkat.

Pemaknaan ini selaras dengan penafsiran, tepatnya penakwilan Ibnu Abbas atas surah al-Duha ayat 4 yang berbunyi: ﴿ وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ  ﴾. Beliau mengatakan bahwa makna ayat ini adalah, “‘kondisi’ yang terakhir lebih baik bagimu daripada ‘kondisi’ sebelumnya”.

Pemaknaan yang hamper sama juga disampaikan oleh Al-Ghazali. Dia menegaskan bahwa hadis ini tidak bisa dipahami secara tekstual (lafdiyah). Dia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad senantiasa naik dari satu ‘kondisi ruhani’ ke ‘kondisi ruhani’ yang lebih tinggi. Tatkala Nabi melihat kondisi sebelumnya, beliau kemudian membaca istghfar. Jumlah istighfar yang beliau baca sesuai dengan jumlah kondisi ruhani di level sebelumnya. Inilah makna dari ungkapan para ulama tasawuf, “hasanatul abrar sayyi’atul muqarrabin” (kebaikan-kebaikan orang yang sudah dekat dengan Allah, adalah keburukan bagi mereka yang sedang dalam proses pendekatan kepada Allah). Wallah a’lam