Beranda blog Halaman 276

Tafsir Surah Yasin Ayat 13-17

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Tafsir Surah Yasin Ayat 13-17 menerangkan bahwa keingkaran kaum kafir Mekah terhadap kerasulan Nabi Muhammad hampir sama dengan keingkaran umat terdahulu. Karena itu, Allah memerintahkan Nabi Muhammad mengubah strategi dakwahnya, dengan memotivasi mereka supaya beriman, dan menyampaikan suatu perumpamaan bagi mereka dengan kisah kaum Antakiah yang menolak dakwah para utusan Allah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 12


Ayat 13

Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menceritakan kepada kaum musyrik Mekah dan sekaligus kepada kaum yang mendustakan risalahnya tentang riwayat Ashabul Qaryah sebagai pengajaran bagi mereka. Intisari dari kisah itu menyatakan bahwa siapa saja yang mendustakan rasul akan mengalami nasib malang seperti apa yang dialami oleh Ashabul Qaryah.

Dalam beberapa tafsir diterangkan bahwa yang dimaksud dengan Ashabul Qaryah adalah penduduk kota  Antakia (Arab: Anthakiyah), tetapi ada yang menyebut penduduk suatu kota yang tidak dikenal.

Sedangkan tiga utusan itu, ada yang menyebut bahwa mereka adalah utusan Isa kepada penduduk negeri tersebut, dan ada pula yang menyebut mereka adalah rasul yang diutus kepada penduduk negeri tersebut.

Ayat 14

Oleh karena kedua utusan itu ada yang menyebutkan bernama (Yuhana dan Bulus) tidak berhasil melaksanakan misinya, dikirim lagi seorang yang bernama Syam’un dengan tugas yang sama.

Risalah yang mereka bawa adalah supaya penduduk Antakia itu mau membersihkan dirinya dari perbuatan syirik, supaya mereka melepaskan diri dari segala bentuk sesembahan selain Allah, dan kemudian kembali kepada ajaran tauhid.

Ayat 15

Kemudian dalam ayat ini disebutkan alasan mendasar kaumnya tidak mau beriman kepada Allah. Kebanyakan orang-orang yang mendustakan itu berkeyakinan bahwa ketiga utusan itu adalah manusia biasa saja seperti mereka juga, tanpa ada keistimewaan yang menonjol. Ketika itu, mungkin juga sekarang, seseorang tidak akan dihargai kalau tidak mempunyai kepandaian atau keahlian yang luar biasa.

Alasan kedua, karena mereka yakin bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih tidaklah menurunkan risalah ataupun kitab yang berisi wahyu dan Dia tidak pula memerintahkan untuk beriman kepada ketiga utusan itu. Oleh karena itu, mereka menyimpulkan ketiga utusan itu bohong belaka.

Firman Allah yang menggambarkan penolakan mereka “ma anzala ar-rahman”, menunjukkan bahwa penduduk Antakia itu telah lama mengenal Tuhan, hanya mereka mengingkarinya dan digantinya dengan berhala. Oleh sebab itu, semua rasul mereka tolak.


Baca Juga: Meneladani Kisah Ashabul Kahfi dalam Al Quran


Ayat 16

Pandangan demikian dibantah oleh utusan-utusan itu dengan mengatakan hanya Allah yang mengetahui bahwa mereka benar-benar orang yang diutus kepada penduduk tersebut. Apabila mereka bohong, maka azab yang pedih akan menimpa mereka.

Tugas mereka ini akan diridai Allah, dan pasti akan diketahui kelak siapa yang bersalah dan harus menanggung risiko atas kesalahan itu. Dalam ayat lain, jawaban seperti itu memang bisa diucapkan oleh seorang rasul, misalnya:

وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالْعَذَابِۗ وَلَوْلَآ اَجَلٌ مُّسَمًّى لَّجَاۤءَهُمُ الْعَذَابُۗ وَلَيَأْتِيَنَّهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

Dan mereka meminta kepadamu agar segera diturunkan azab. Kalau bukan karena waktunya yang telah ditetapkan, niscaya datang azab kepada mereka, dan (azab itu) pasti akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya. (al-‘Ankabut/29: 53)

Ayat 17

Ayat ini menjelaskan bahwa misi yang dibawa para rasul itu hanyalah sekadar menyampaikan risalah Allah. Keputusan ada di tangan manusia, apakah akan beriman  kepada risalah tersebut atau tidak.

Jika mereka beriman, faedah keimanan itu adalah untuk kebahagiaan mereka juga, di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, kalau orang-orang kafir itu tidak mau melaksanakan seruan para rasul itu, tentu akibatnya akan menimpa diri mereka sendiri.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 18-20


Apa Maksud Qalbun Salim (Hati yang Sehat) dalam As-Syu’ara: 88-89?

0
Apa Maksud Qalbun Salim (Hati yang Sehat) dalam As-Syu’ara: 88-89?
Qalbun Salim (Hati yang Sehat)

Manusia adalah makhluk dwi dimensi; jasmani dan rohani. Masing-masing memiliki kadar dan kebutuhan yang perlu dipenuhi, tanpa berlebihan atau kekurangan. Jika manusia hanya fokus pada aspek rohaninya saja, ia akan menjadi layaknya malaikat. Sebaliknya, jika terlalu memprioritaskan aspek jasmani, ia tak ubahnya seperti binatang. Padahal manusia bukanlah malaikat, juga bukan binatang.

Jasmani ditandai oleh tubuh sementara rohani tercermin oleh hati. Pada umumnya, manusia lebih cenderung memperhatikan aspek jasmani ketimbang rohani. Karena memang jasmani terlihat jelas dan lebih mudah dijangkau daripada rohani. Itu sebabnya manusia lebih banyak melakukan apa yang menguntungkan jasmaninya, tidak dengan rohani yang sering kali diabaikan, bahkan tidak dihiraukan sama sekali.

Ketidaktahuan adalah alasan pertama dari terbengkalainya kebutuhan rohani. Yaitu tidak tahu bahwa dirinya adalah gabungan jasmani dan rohani.

Akibat ketidaktahuan akan unsur dan dimensi diri ini, akan terjadi ketidakseimbangan dalam pemenuhan hak. Sebagaimana jasmani, rohani akan bermasalah saat kebutuhannya terabaikan. Dan sebagai tanda dari bermasalahnya rohani, adalah ketika amal kebaikan yang merupakan asupanya, tidak lagi terasa nikmat dan lezat, serta tidak ada lagi kegelisahan jiwa saat melakukan keburukan yang merupakan gejala penyakitnya.

Keadaan Hati Manusia

Tidak dapat dipungkiri sebagaimana yang banyak diterangkan oleh para ulama, bahwa hati juga dapat mengalami seperti yang dialami oleh tubuh manusia. Seperti sakit, sehat, hidup, bahkan mati. Sehingga ada istilah hati yang sehat dan hati yang sakit. (Tazkiyah an-Nufus, 25).

Di dalam Q.S. As-Syu’ara [26]: 88-89 Allah berfirman,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ  إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Ingatlah) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan (membawa) hati yang salim (sehat).”

Ayat ini dan ayat-ayat semakna lainnya dianggap sebagai dalil bahwa hati manusia itu berbeda-beda dan dapat berubah-ubah. Selain itu, juga banyak hadis yang mendukung kesimpulan ini. Seperti hadis Muttafaq alaih yang berbicara tentang hati yang menjadi penentu sekaligus pengatur seluruh tubuh manusia. (Shaheh Bukhari No. 52 dan Shaheh Muslim No. 1599).

Saat menafsiri ayat di atas, Ibn Sirin mengatakan qalbun salim adalah hati yang mengenal Allah dan menyakini hari kiamat. Hal senada juga disampaikan oleh Ibn Abbas, Mujahid, dan Hasan al-Bashri. Sementara menurut Sa’id ibn Musayyib, ia adalah hati yang sehat dari penyakit kemusyrikan dan kemunafikan. Menurutnya qalbun salim itu adalah hatinya orang mukmin saja. Sementara yang sakit (qalbun marid) adalah hati orang kafir dan munafik sebagaimana yang disinggung dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 10. (Tafsir Ibn Katsir [6], 561).

Sudut pandang kedua pendapat di atas sama-sama menghubungkan pengertian salim kepada keimanan. Sehingga menurut mereka, hati itu sehat kalau beriman, sebaliknya sakit manakala yang bersangkutan tidak beriman. Dengan begitu, boleh jadi pandangan ini menganggap hati orang mukmin tidak mungkin mengalami sakit selagi ia masih beriman.

Sepertinya Al-Razi tidak puas dengan pandangan ini, sehingga beliau mengemukakan pandangan lain yang menurutnya lebih tepat. Menurut beliau, qalbun salim yang dimaksudkan oleh ayat di atas adalah hati yang sehat, dalam artian terhindar dari berbagai gejala penyakit hati seperti kebodohan, kemaksiatan dan perilaku-perilaku buruk lainnya, bukan hanya terhindar dari penyakit kemusyrikan dan kemunafikan. Sehingga menurutnya tidak semua mukmin itu memiliki qalbun salim, tapi juga ada yang memiliki qalbun marid.

Lebih jauh lagi al-Razi mengatakan, hakikatnya, hati tak jauh berbeda dengan tubuh. Dikatakan sehat manakala hak dan kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi. Sebaliknya, akan menjadi sakit tatkala hak dan kebutuhan-kebutuhan itu terbengkalai atau terabaikan. (Mafatih al-Ghaib [12], 140).

Sampai disini dapat diduga bahwa letak perselisihan ulama menyoal kandungan makna qalbun salim hanya berhenti pada skala cakupan makna kata salim. Ia dapat saja dipahami selamat dari kemusyrikan dan kemunafikan saja, atau tidak hanya itu, tapi juga selamat dari penyakit-penyakit hati lainnya seperti kebodohan, dan kemaksiatan.

Dengan begitu, mengikuti alur pendapat kedua, berarti kita dituntut mencari tahu gejala-gejala penyakit hati, sebagai upaya menghindarinya dan juga menjaga hati tetap dalam keadaan sehat tentunya.

Baca juga: Penjelasan Para Mufasir tentang Hati yang Sakit dalam Surah al-Baqarah Ayat 10

Gejala-Gejala Penyakit Hati

Seorang arif bijak berkata; “Barang siapa yang tidak mengenal keburukan, dia akan terjatuh ke dalam keburukan tersebut. Itu artinya untuk selamat dari sesuatu haruslah lebih dahulu mengetahui hakikat sesuatu itu, agar kemudian dapat dihindari. Demikian halnya dengan penyakit hati, mengetahui gejala-gejala penyakitnya adalah langkah pertama dari upaya menjaga hati.

Dalam Mausu’ah al-Akhlaq al-Islamiyah disebutkan ada tiga belas gejala yang menyebabkan keras atau sakitnya hati. Di antaranya adalah lalai mengigat Allah. Dalam Q.S. Thaha [20]: 124. Allah berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Siapa yang berpaling dari dzikri, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”

Secara umum mayoritas ulama memahami maksud kalimat dzikri di atas dengan peringatan Allah berupa al-Quran. Alasannya, memang ayat ini sedang membicarakan orang-orang kafir yang ingkar dan tidak percaya pada al-Quran. Tetapi bagaimana pun perbedaan tetap tidak bisa dielakkan, sehingga tetap saja ada yang berpendapat lain. Pandangan lain itu menganggap bahwa maksud dzikri di atas adalah mengigat Allah yang merupakan makna dasar kata dzikri itu sendiri. Dengan begitu menurut pandangan ini, berpaling atau lalai dari mengigat Allah adalah di antara penyebab kesengsaraan hidup yang di antaranya dirasakan oleh hati yang membuatnya sakit.

Pendapat itu disebutkan oleh Imam al-Qusyairi dalam tafsir Lathaif al-Isyarat-nya. Beliau juga menyebutkan sebagian kalam-kalam hikmah yang mendukung pandangan itu, antara lain; “Barang siapa yang berpaling dari mengingat Allah, hatinya akan mudah dimasuki waswas setan, jiwanya akan selalu gelisah, dan akan jauh dari ketenangan dan kebahagiaan.”(Lathaif al-Isyarat [2], 486).

Dzikrullah yang berati mengingat Allah sebenarnya adalah asupan hati sebagaimana makanan bagi tubuh manusia. Apa yang akan dialami jasmani juga akan dialami oleh hati manakala kebutuhan makannya tidak dipenuhi dengan baik. Itu sebabnya dalam Q.S. Al-Ra’du [13], 28 Allah berfirman, mengingatkan bahwa dzikrullah adalah asupan hati yang dapat membuatnya stabil dan tenang.

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.”

Wallahu A’lam.

Baca juga: Al-Quran adalah Obat Bagi Penyakit Rohani: Tafsir Surat Al-Isra Ayat 82

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 16-19

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 16-19 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kebinasaan suatu kaum. Biasa sebelum Allah SWT membinasakan suatu kaum, akan didahului oleh peringatan untuk bertaubat. Kedua mengenai pengelompokan manusia pada dua golongan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 15


Ayat 16

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa apabila Dia berkehendak untuk membinasakan suatu negeri, maka Allah swt memerintahkan kepada orang-orang yang hidup bermewah-mewah di negeri itu supaya menaati Allah.

Maksudnya apabila suatu kaum telah melakukan kemaksiatan dan kejahatan secara merata, dan pantas dijatuhi siksaan, maka Allah swt karena keadilan-Nya, tidaklah segera menjatuhkan siksaan sebelum memberikan peringatan kepada para pemimpin mereka untuk menghentikan kemaksiatan dan kejahatan kaumnya dan segera kembali taat kepada ajaran Allah.

Akan tetapi, dari sejarah kita mengetahui bahwa orang-orang yang jauh dari hidayah Allah tidak mau mendengarkan peringatan itu, bahkan mereka menjadi pembangkang dan penentangnya.

Allah lalu memusnahkan mereka dari muka bumi dengan berbagai azab, baik berupa bencana alam, maupun bencana-bencana lainnya. Itulah ketentuan Allah yang tak dapat dielakkan. Allah menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya, sehingga tidak ada sedikit pun yang tersisa, baik rumah-rumah maupun harta kekayaan mereka.

Ayat 17

Allah lalu mengisahkan kaum-kaum yang mengalami nasib yang sama setelah Nuh. Mereka dibinasakan karena pembangkangan mereka terhadap utusan-utusan Allah yang ditugasi untuk menghentikan mereka dan mengajak untuk kembali menaati Allah.

Ayat ini sebagai penegasan terhadap ayat yang lalu, bahwa tiap kaum yang tetap membangkang setelah datangnya rasul yang memberi peringatan kepada mereka, pasti akan mengalami nasib buruk  yang sama dengan umat-umat terdahulu.

Di akhir ayat ini, Allah swt menyebutkan bahwa balasan yang serupa itu adalah balasan yang bijaksana dan adil, karena Allah telah memberi peringatan dan mengetahui tindak-tanduk mereka. Allah Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya.


Baca juga: Benarkah Mushaf Rotterdam Tertua Se-Nusantara? Ini Data Pembandingnya


Ayat 18

Allah swt mengelompokkan manusia ke dalam dua golongan: golongan yang mencintai kehidupan dunia, dan golongan yang mencintai kehidupan akhirat.

Dalam ayat ini, Allah swt menyebutkan golongan yang pertama, sedangkan golongan yang kedua disebutkan dalam ayat berikutnya.

Ketika menyebutkan golongan yang pertama, Allah swt menyatakan bahwa barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dengan kenikmatannya yang dapat mereka rasakan, maka Allah swt menyegerakan keinginan mereka itu di dunia sesuai dengan kehendaknya. Tetapi di akhirat, mereka tidak mendapat apapun kecuali azab neraka.

Pernyataan ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak mempercayai adanya hari kebangkitan dan hari pembalasan, sehingga mereka yakin bahwa tidak ada lagi kehidupan sesudah kehidupan di dunia ini. Itulah sebabnya mengapa mereka terlalu rakus terhadap kekayaan dunia dan kemewahannya, padahal kehidupan dunia serta kenikmatannya bersifat sementara. Oleh karena itu, kehidupan di dunia dan kemewahannya itu digambarkan Allah sebagai suatu yang segera dapat diperoleh dan dirasakan, tetapi segera pula musnah dan berakhir. Firman Allah:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِّاَنْفُسِهِمْ ۗ اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْٓا اِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ

Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan. (Ali ‘Imran/3: 178)

Kemudian Allah swt mengancam mereka dengan ancaman neraka Jahanam sebagai balasan yang pantas bagi mereka. Di dunia, mereka akan mengalami kesedihan yang mendalam karena berpisah dengan kemewahan dunia yang sangat mereka cintai ketika ajal datang merenggut. Sedangkan di akhirat, mereka akan mengalami penderitaan yang seberat-beratnya dan menyesali perbuatan tercela yang mereka lakukan di dunia.

Ayat 19

Dalam ayat ini, Allah swt menyebutkan golongan yang kedua. Allah swt menyatakan bahwa barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh serta tetap beriman, maka dialah orang yang usahanya mendapat balasan yang baik.

Yang dimaksud dengan orang-orang yang menghendaki kehidupan akhirat ialah orang-orang yang mencita-citakan kebahagiaan hidup di akhirat, dan berusaha untuk mendapatkannya dengan mematuhi bimbingan Allah serta menjauhi tuntutan hawa nafsunya.

Orang yang demikian ini selama hidupnya di dunia menganggap bahwa kenikmatan hidup di dunia serta kemewahannya adalah nikmat Allah yang harus disyukuri dan digunakan sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya.

Itulah sebabnya di akhir ayat ini, Allah swt menegaskan bahwa orang yang demikian itulah yang akan mendapat balasan dari Allah dengan pahala yang berlimpah-limpah, sebagai imbalan dari amalnya yang saleh dan ketabahannya melawan kehendak hawa nafsu. Ia akan dimasukkan ke dalam surga Firdaus dan kekal selama-lamanya di sana.

Dalam ayat ini disebut tiga syarat yang harus dipenuhi agar seseorang itu mencapai kebahagiaan yang abadi yakni:

  1. Adanya kehendak untuk melakukan suatu perbuatan dengan meng-utamakan kebahagiaan akhirat di atas kepentingan duniawi.
  2. Melakukan amal saleh sebagai perwujudan niatnya mendapatkan kebahagiaan akhirat dengan jalan menaati perintah Allah dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya.
  3. Menjadi orang mukmin, karena iman merupakan dasar untuk diterima atau tidaknya amal perbuatan. Seseorang yang hatinya kosong dari iman, tidak akan mungkin menerima kebahagiaan yang abadi itu.

Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 20-22


(Tafsir Kemenag)

Alegori Keadaan Orang Munafik dalam Surah Al-Baqarah Ayat 17-20

0
keadaan orang munafik dalam surah Al-Baqarah ayat 17-20
keadaan orang munafik dalam surah Al-Baqarah ayat 17-20

Bahasa merupakan media terbaik untuk menyampaikan makna sekaligus sebagai alat komunikasi. Demikian pula Al-Qur’an turun berbahasa Arab untuk menyampaikan pesan ilahi dengan gaya bahasa sastra tertinggi yang tak akan tertandingi. Salah satu contoh gaya bahasa yang digunakan misalnya penggunaan perumpamaan alegorik dalam surah Al-Baqarah ayat 17-20.

Dalam KBBI, alegori dimaknai sebagai cerita yang melambangkan realitas kehidupan untuk mendidik atau menerangkan sesuatu. Dengan kata lain, alegori dapat dikategorikan sebagai majas dalam studi sastra Indonesia (karena menggunakan makna lambang) yang membandingkan dua hal yang memiliki sisi keserupaan.

Kehidupan manusia layaknya sebuah sungai yang dialiri air. Sebelum mencapai muara dan bertemu air laut, air tersebut harus melewati ragam tempat. Ia bisa menyusuri tebing-tebing, bahkan terkadang jurang. Air sungai tak pernah melawan arus, ia mengalir apa adanya hingga ia pada akhirnya tiba pada muara dimana ia akan lebur menjadi air laut.”

Contoh ungkapan alegorik tersebut berisi cerita yang menyerupakan kehidupan manusia dengan aliran sungai. Akan tetapi bukan aspek material yang diserupakan, melainkan keadaan. Bahwasanya kehidupan manusia selalu melewati berbagai hambatan sebelum tercapainya tujuan. Demikian pula air sungai yang melewati berbagai medan sebelum akhirnya bermuara ke laut. Dalam hal ini, sisi keserupaan keduanya adalah sama-sama melalui kondisi sulit penuh hambatan.

Baca Juga: Tafsir Surah Ali ‘Imran Ayat 54: Belajar Mewaspadai Makar dari Kisah Nabi Isa

Senada dengan ungkapan tersebut, Allah menyerupakan kondisi orang-orang munafik dengan dua kondisi sebagaimana tersebut dalam surah Al-Baqarah ayat 17-20 berikut.

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِى اسْتَوْقَدَ نَارًا ۚ فَلَمَّآ اَضَاۤءَتْ مَا حَوْلَهٗ ذَهَبَ اللّٰهُ بِنُوْرِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِيْ ظُلُمٰتٍ لَّا يُبْصِرُوْنَ ١٧ صُمٌّ ۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَۙ

Perumpamaan mereka seperti orang yang menyalakan api. Setelah (api itu) menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. (Mereka) tuli, bisu, lagi buta, sehingga mereka tidak dapat kembali. (QS. Al-Baqarah [2]: 17-18)

اَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ فِيْهِ ظُلُمٰتٌ وَّرَعْدٌ وَّبَرْقٌۚ يَجْعَلُوْنَ اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِۗ وَاللّٰهُ مُحِيْطٌۢ بِالْكٰفِرِيْنَ ١٩ يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ اَبْصَارَهُمْ ۗ كُلَّمَآ اَضَاۤءَ لَهُمْ مَّشَوْا فِيْهِ ۙ وَاِذَآ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوْا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَاَبْصَارِهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ  قَدِيْرٌ

Atau, seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit yang disertai berbagai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya (untuk menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu. Apabila gelap menerpa mereka, mereka berdiri (tidak bergerak). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 19-20)

Alegori dalam Bingkai Ilmu Balaghah

Ilmu bayan, salah satu cabang ilmu balaghah memuat kajian tentang gaya bahasa perumpamaan yang diistilahkan dengan tasybih. Lazimnya, tasybih tersusun dari 4 unsur; subjek yang diserupakan (musyabbah), objek penyerupaan (musyabbah bih), huruf atau kata penyerupaan (adat al-syabh) dan sisi keserupaan (wajh al-syabh). Jika ditinjau dari sisi keserupaannya (wajh al-syabh), ada yang disebut dengan tasybih tamtsil yang memiliki konsep sebagaimana majas alegori dalam kajian sastra Indonesia.

Sayyid Ahmad Al-Hasyimi dalam Jawaahir al-Balaghah mendefinisikan tasybih tamtsil dengan;

مَا كَانَ وَجْهُ الشَّبْهِ فِيْهِ صُوْرَةً مُتْنَزِعَةً مِنْ مُتَعَدِّدٍ

Tasybih yang sisi keserupaannya berupa (kesimpulan dari) penggambaran yang diambil dari beberapa penyerupaan (keadaan).

Hal senada juga diungkapkan oleh KH. Afifuddin Dimyathi, dalam karyanya Asy-Syamil fi Balaghah al-Qur’an.

Baca Juga: Balaghah Al-Qur’an: Majaz Isti’arah dan Penggunaannya dalam Al-Qur’an

Korelasi Kemunafikan dengan Kegelapan

Dalam tafsir surah Al-Baqarah ayat 17-20, para ulama’ berbeda pendapat dalam memahami sisi keserupaan dalam tasybih tersebut. Ibnu Qatadah menilai bahwa deklarasi keimanan dan eksistensi Al-Qur’an bagi orang munafik adalah seperti nyala api, sangat singkat munculnya atau bahkan tak sempat muncul. Hal ini karena redaksi ayat dengan ‘lamma’ mengisyaratkan bahwa hal yang dimaksud dalam syarat terjadi beriringan dengan jawabnya (ذَهَبَ اللهُ بِنُوْرِهِمْ). Artinya, keimanan mereka hanyalah sekejap dan akan kembali pada watak asalnya, kafir (gelap gulita). Demikian penjelasan Ibnu ‘Athiyah (w. 546 H.) dalam Al-Muharrar al-Wajiz.

Saat kondisi kafir, mereka bagaikan orang yang tuli, bisu dan buta. Apapun yang datang dari Allah tak dapat mereka terima dengan segenap indranya. Padahal, petunjuk Allah telah turun selebat hujan serta janji dan ancaman-Nya telah menghampiri mereka seperti kilat dan petir. Sayangnya, mereka justru menutup rapat indra dari semua itu dan memilih tetap pada pencitraan iman demi kepentingan memperoleh keuntungan.

Perumpamaan kedua, turun berkaitan dengan berpalingnya dua orang munafik Madinah dari Rasulullah menuju tempat kaum musyrikin. Dalam perjalanan, keduanya dilanda hujan dengan kondisi sebagaimana tersurat dalam surah Al-Baqarah ayat 19.

Orang-orang munafik menutup pendengaran setiap menghadiri majelis Nabi lantaran takut akan turunnya wahyu atau sabda yang mengancam mereka seperti takut matinya dua orang munafik. Mereka menjadikan Islam sebagai tameng untuk memperoleh nikmat aman (terpelihara darah dan hartanya, bebas dari ghanimah, menikahi wanita muslimah dan lain sebagainya) seperti dua orang munafik yang merasa aman dapat melanjutkan perjalanan setiap muncul cahaya kilat. Sebaliknya, caci makian dan kemurtadan atas Islam terlontar saat dilanda bala’ (kesusahan) seolah semua disebabkan oleh Islam. Kondisi demikian seperti diamnya dua orang munafik saat cahaya kilat tak lagi menerangi jalan mereka. Demikian Imam asy-Suyuthi (w. 911 H.) dalam Lubab al-Nuqul fi Asbab an-Nuzul mengutip riwayat dari Ibnu Jarir melalui sahabat Ibnu Mas’ud. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 15

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 15 berbicara mengenai hoaks yang dilakukan oleh Walid bin Mughirah. Hoaks yang Walid siarkan adalah ia akan menanggung dosa orang-orang yang mengingkari dakwah Nabi Muhammad SAW. Padahal setiap orang menganggung dosanya sendiri-sendiri.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 13-14


Ayat 15

Dalam sebuah riwayat yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dinyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Walid bin Mugirah ketika ia berkata kepada penduduk Mekah, “Ingkarilah Muhammad dan sayalah yang menanggung dosamu.”

Dalam ayat ini, Allah swt menegaskan bahwa barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah Allah dan tuntunan Rasulullah, yaitu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, berarti dia telah berbuat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Ia akan memperoleh catatan tentang amal perbuatan baiknya di dalam kitabnya. Ia akan merasa bahagia karena akan mendapatkan keridaan Allah, dan menerima imbalan yang berlimpah, yaitu surga dengan berbagai kenikmatan yang serba menyenang-kan.

Akan tetapi, barang siapa yang sesat, yaitu orang yang menyimpang dari bimbingan Al-Qur’an, akan mengalami kerugian. Ia akan mendapatkan catatan tentang amal perbuatan buruknya di dalam kitab itu. Ia akan merasakan penyesalan yang tidak ada gunanya dan akan dimasukkan ke dalam neraka, sebagai balasan yang pantas baginya.

Selanjutnya, Allah swt menegaskan bahwa pada hari itu orang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain. Tiap-tiap orang bertanggung jawab terhadap perbuatan buruknya sendiri, sehingga tidak mungkin sese-orang dibebani dosa selain dosanya sendiri. Mereka akan menerima balasan amal sesuai dengan berat ringan kejahatan yang mereka lakukan.

Apabila ada orang yang disiksa karena menyesatkan orang lain, sehingga dijatuhi hukuman sesuai dengan dosa orang yang disesatkan, bukan berarti orang yang menyesatkan itu menanggung dosa orang yang disesatkan. Akan tetapi, orang yang menyesatkan itu dianggap berdosa karena menyesatkan orang lain. Oleh sebab itu, ia dihukum sesuai dengan dosanya sendiri, dan ditambah dengan dosa menyesatkan orang.

Allah swt berfirman:

لِيَحْمِلُوْٓا اَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙوَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ

(Ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). (an-Nahl/16: 25)


Baca juga: Tafsir Ahkam: Hukum Membasuh Jenggot Saat Wudhu


Dan firman Allah:

وَلَيَحْمِلُنَّ اَثْقَالَهُمْ وَاَثْقَالًا مَّعَ اَثْقَالِهِمْ

Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka. (al-‘Ankabµt/29: 13)

Di akhir ayat ini, disebutkan bahwa Allah tidak akan mengazab seseorang atau suatu kaum sebelum mengutus seorang rasul. Maksudnya Allah tidak akan membebankan hukuman kepada orang-orang yang melakukan suatu perbuatan kecuali setelah mengutus seorang rasul untuk membacakan dan menerangkan ketentuan hukumannya. Dengan demikian, ayat ini dipandang sebagai asas legalitas dalam pidana Islam.

Artinya, semua perbuatan yang diancam dengan hukuman haruslah terlebih dahulu diundangkan melalui sarana perundang-perundangan yang dapat menjamin bahwa peraturan ini dapat diketahui oleh seluruh rakyat. Hal itu juga berarti bahwa sosialisasi perundang-undangan merupakan hal yang penting.

Ayat ini juga mengandung maksud bahwa Allah tidak akan membinasa-kan umat karena dosanya, sebelum mengutus seorang utusan yang memberi peringatan dan menyampaikan syariat Allah kepada mereka, dan memberi ancaman jika mereka membangkang dan tetap dalam pembangkangannya.

Allah swt berfirman:

كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌۙ  ٨  قَالُوْا بَلٰى قَدْ جَاۤءَنَا نَذِيْرٌ ەۙ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍۖ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ كَبِيْرٍ  ٩

Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, ”Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)?” Mereka menjawab, ”Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan, ”Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya dalam kesesatan yang besar.” (al-Mulk/67: 8-9)

Dan firman-Nya:

اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ   ٣٧

Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun. (Fatir/35: 37)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 16-19


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ath-Thur Ayat 21: Orang-Orang Beriman Akan Bersama Anak-Cucunya di Surga

0
Orang-Orang Beriman Akan Bersama Anak-Cucunya di Surga
Orang-Orang Beriman Akan Bersama Anak-Cucunya di Surga

Dalam Al-Qur’an banyak disebutkan Allah Swt menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan. Bahkan, ada dua jenis manusia yang Allah ciptakan, yaitu laki-laki dan perempuan. Di antara maksud Allah Swt menciptakan manusia berpasang-pasangan adalah sebagaimana yang tercantum dalam QS. Ar-Rum ayat 21; agar tercipta ketentraman, serta rasa kasih dan sayang di antara keduanya, tentu dengan jalan pernikahan. Dan apakah kelak orang yang masuk surga bisa bersama anak-cucunya di surga?

Bagi orang-orang yang beriman tujuan pernikahan itu bukan hanya untuk menyalurkan kebutuhan biologis saja, tetapi memiliki tujuan-tujuan lain. Di antara tujuan lainnya adalah untuk merealisasikan harapan Rasulullah Saw dengan banyaknya umat beliau kelak di Hari Kiamat, dan untuk menciptakan anak-keturunan (generasi-generasi) yang kuat dalam hal keimanan agar dapat meneruskan perjuangan dakwah Islam para pendahulunya. Kelak orang-orang yang beriman akan berkumpul kembali bersama anak-cucu mereka yang senantiasa mengikuti keimanan mereka di dalam surga. Hal ini telah Allah tegaskan di dalam Al-Qur’an surah Ath-Thur ayat 21:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ

Artinya: Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun pahala amala (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Surat Ath-Thur: 21)

Baca juga: Ragam Makna Kata An-Nur dalam Al-Quran

Tafsir Surah Ath-Thur Ayat 21

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan maksud ayat tersebut –QS. Ath-Thur ayat 21— bahwa Allah Swt hendak menerangkan terkait keutamaan, kemuliaan, anugerah, dan kelemah lembutan dalam penciptaan, serta kebaikan-Nya (kepada para makhluk, terkhusus orang-orang beriman). Orang-orang mukmin itu apabila anak-cucu mereka senantiasa mengikuti mereka dalam hal keimanan, maka Allah kelak akan mempertemukannya –anak-cucu dengan para orang tua yang beriman— di dalam sebuah manzilah (tempat/kedudukan di surga). Hal tersebut terjadi apabila mereka senantiasa dapat mencapai atau menyamai amal saleh yang telah dilakukan oleh orang tua mereka.

Ibnu Abbas menafsirkan bahwa Allah akan menghimpun mereka –orang yang beriman beserta keturunannya— atas kondisi yang paling baik, dan sesungguhnya Allah akan mengangkat atau meninggikan anak-cucu (keturunan) seorang Mukmin dalam beberapa derajat, disebabkan amalnya mendekati atau hampir menyamai (amal-amal) orang tua mereka.

Kemudian Ibnu Abbas menambahkan maksud ayat tersebut adalah anak-cucu (keturunan) orang-orang yang beriman, kemudian mereka mati dalam keadaan beriman; meskipun manzilah (kedudukan/tempat) orang tua mereka lebih tinggi dari pada manzilah mereka, tetapi Allah akan tetap mempertemukan atau menyertakan mereka dengan orang tua mereka (di surga), dan mereka tidak akan mengurangi amal-amal yang telah dilakukan oleh orang tua mereka sedikit pun. (Tafsir Ibnu Katsir, 1997)

Baca juga: Tafsir Nusantara: Mengenal Tafsir Fatihah Karya Raden Haji Hadjid

Sedangkan Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Tafsir al-Munir menerangkan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan yang Allah berikan kepada anak-cucu (keturunan) disebabkan keberkahan amal saleh yang telah dilakukan oleh orang tuanya, dan keutamaan yang didapatkan oleh para orang tua karena keberkahan doa yang senantiasa dipanjatkan oleh anak keturunannya. Wahbah az-Zuhaili menguatkan penafsirannya ini dengan hadis Nabi Saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ : يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ ؟ فَيَقُولُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ “.

Artinya: Dari Abu Hurairah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga, hamba tersebut bertanya: Wahai rabb, ada apa dengan diriku ini (tiba2 saja derajatnya ditinggikan)? Allah berfirman: ini disebabkan oleh istigfar yang dipanjatkan anakmu untukmu.” (HR. Ahmad)

Hadis tersebut memiliki syahid dalam kitab sahih Muslim dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ ؛ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

Artinya: Apabila manusia mati, maka terputuslah (pahala) amalnya, kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendo’akannya. (HR. Muslim)

Baca juga: Kritik Sayyid Abdullah al-Ghumari Terhadap Kitab al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an

Selanjutnya beliau menambahkan bahwa Allah akan menyertakan atau mengikutkan anak-cucu (keturunan) baik yang masih kecil maupun yang sudah besar dengan para orang tuanya –yang beriman— kelak, dan sebaliknya orang tua dengan anak-cucu mereka dalam sebuah manzilah dan derajat di dalam surga sebagai bentuk kemuliaan, keutamaan, dan kebaikan yang Allah karuniakan kepada mereka. Allah tidak akan mengurangi pahala anak-anak dan juga orang tuanya sedikit pun disebabkan keikutsertaan anak keturunan terhadap mereka. Hal tersebut tentu dapat terealisasikan dengan syarat keimanan –pada diri mereka dan anak-cucu mereka—dalam perkara yang ushul dan perkara yang furu’. (Tafsir al-Munir, 2009)

Berdasarkan penafsiran Ibnu Katsir dan Wahbah az-Zuhaili bahwasannya Allah Swt kelak akan mempertemukan dan menghimpun antara orang-orang yang beriman beserta anak-cucu mereka dalam sebuah manzilah (kedudukan) di surga. Semua itu dengan syarat anak-cucu (keturunan) tersebut mengikuti keimanan para orang tua mereka. Keimanan tersebut tentu bukan hanya perihal keyakinan terhadap perkara yang zhahir dan ghaib, tetapi disertai dengan banyak mengerjakan amal saleh.

Wallahu A’lam bi ash-Shawwab.

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 13-14

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 13-14 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai pencatatan amal perbuatan manusia ketika di dunia. Amal tersebut tidak akan berkurang sedikitpun. Kedua berbicara mengenai dibukanya catatan amal tersebut dan manusia tidak bisa mengelak sama sekali.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 12 (2)


Ayat 13

Allah swt menjelaskan bahwa masing-masing manusia dicatat amal perbuatannya dalam suatu buku catatan dan tetap tercatat di dalamnya seperti kalung yang tetap berada di leher mereka. Amal perbuatan tersebut mencakup amal baik dan amal buruk, besar maupun kecil, yang diperbuat manusia atas dasar pilihannya sendiri.

Perumpamaan tetapnya catatan-catatan mereka dalam kitab itu dengan tetapnya kalung pada leher manusia, sebagai kiasan bahwa catatan itu akan tetap terpelihara, tidak akan hilang atau terhapus, dan selalu dinisbahkan pada seseorang.

Selanjutnya Allah swt menegaskan bahwa kitab yang mengandung catatan amal perbuatan manusia itu akan dikeluarkan dari simpanannya pada hari kiamat, dan akan diperlihatkan kepada mereka, sehingga mereka dapat mengetahui isinya secara terbuka.

Dalam ayat yang lain dijelaskan bahwa tugas pencatatan amal perbuatan manusia itu diurus oleh malaikat. Allah swt berfirman:

وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ  ١٠  كِرَامًا كَاتِبِيْنَۙ  ١١  يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ  ١٢

Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Infitar/82: 10-12)

Hadis Nabi Muhammad berikut menerangkan lebih jelas hal yang sama:

عَنِ الْحَسَنِ اَنَّهُ قَالَ: قَالَ اللهُ: يَا ابْن آدَمَ بَسَطْنَا لَكَ صَحِيْفَةً وَوُكِّلَ بِكَ مَلَكَانِ كَرِيْمَانِ. أَحَدُهُمَا عَنْ يَمِيْنِكَ وَاْلآخِرُ عَنْ يَسَارِكَ. فَأَمَّا الَّذِيْ عَنْ يَمِيْنِكَ فَيَحْفَظُ حَسَنَاتِكَ. وَأَمَّا عَنْ شِمَالِكَ فَيَحْفَظُ سَيِّئَاتِكَ. فَاعْمَلْ مَا شِئْتَ أَقَلَّ أَوْ كَثُرَ حَتَّى إِذَا مُتَّ طَوَيْتُ صَحِيْفَتَكَ فَجَعَلْتُ فِى عُنُقِكَ مَعَكَ فِى قَبْرِكَ حَتَّى تَخْرُجَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا تلقاه مَنْشُوْرًا، اِقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ حَسِيْبًا. (رواه ابن جرير الطبري)

Diriwayatkan dari Al-¦asan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah berfirman kepada Bani Adam, “Hai Bani Adam! Kami telah membuka lembaran-lembaran Kitab, dan telah ditunjuk dua malaikat yang mulia sebagai wakil: satu di sebelah kanan, dan satu lagi di sebelah kiri. Adapun yang di sebelah kanan, pekerjaannya mencatat amal baikmu, sedang yang di sebelah kiri mencatat amal perbuatan burukmu. Maka berbuatlah menurut kesukaanmu amal perbuatan yang banyak atau yang sedikit sehingga ajal datang merenggutmu. Dan apabila engkau telah mati, Aku lipat lembaran-lembaran kitab itu dan Aku kalungkan ke lehermu dan tetap bersamamu dalam kubur hingga hari kiamat. Pada hari itu, kitab itu akan dikeluarkan dan engkau menemuinya dalam keadaan terbuka. Bacalah kitab catatan itu niscaya pada hari itu engkau akan mengetahui bahwa kitab itu cukup sebagai penghisab amal perbuatanmu. (Riwayat Ibnu Jarir at-Tabari)


Baca juga: Perjalanan Teks Al-Quran: Transisi Media dan Otoritas


Ayat 14

Ayat ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat, manusia tidak dapat memungkiri catatan-catatan itu, karena pencatatnya adalah para malaikat yang memang ditunjuk oleh Allah, yang pekerjaannya khusus mencatat amal perbuatan manusia.

Itulah sebabnya maka Allah swt menegaskan di akhir ayat bahwa cukuplah pada hari itu diri mereka sendiri sebagai penghisab amal perbuatan mereka. Maksudnya semua catatan yang termuat dalam kitab itu cukup akurat sebagai bukti karena apa yang tercatat dalam kitab itu merupakan rekaman dari amal perbuatan mereka. Seolah-olah mereka sendirilah yang membuat catatan-catatan itu. Firman Allah:

وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًاۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا ࣖ   ٤٩

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ”Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun. (al-Kahf/18: 49)

Dengan demikian, tidak perlu adanya bukti-bukti lain sebagai penguat karena semua catatan yang tergores dalam kitab itu menjadi bukti yang sangat meyakinkan, sehingga tidak bisa ditambah atau dikurangi lagi.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 15


(Tafsir Kemenag)

Tiga Macam Bentuk Jadal (Perdebatan) Yang Direkam dalam Al-Quran

0
Bentuk Jadal
Ragam Bentuk Jadal dalam Al-Quran

Sebagai makhluk yang dianugrahi akal oleh Allah, manusia memiliki satu keistimewaan yaitu kemampuan untuk berpikir dan bernalar logis. Akal inilah yang menurut Hamka dalam Pandangan Hidup Muslim (hal. 62) membuat sosok manusia menjadi lebih utama daripada hewan. Semakin maju kehidupannya maka semakin maju pula akalnya, berbeda dengan hewan yang hanya memiliki insting.

Karena dianugrahi akal inilah manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, dan karenanya pula manusia cenderung suka berdebat atau dalam bahasa Arab disebut dengan kata jadal atau munazharah. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Kahfi [18]: 54.

…وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

“…Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak debatannya.

Bahkan salah satu metode dakwah yang digariskan oleh Allah dalam Al-Quran adalah dengan metode debat ini, misalnya dapat dijumpai dalam firman Allah Q.S. Al-Nahl [16]: 125.

…وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ…

…dan debatlah mereka dengan cara yang baik…

Dalam tafsirnya (4/613), Ibn Katsir menjelaskan bahwa berdebat atau dialog adalah salah satu cara untuk mendakwahkan agama Allah, khususnya terhadap mereka yang menentang dan mendebat kebenaran Islam. Tentu saja disertai dengan cara yang baik dan adab-adabnya.

Baca Juga: Perdebatan Nabi Musa dengan Fir’aun tentang Hakikat Tuhan

Nah, persoalan bagaimana bentuk dan metode yang digunakan Al-Quran ketika beradu argumen (jadal) dengan para penentangnya ini tak luput dari perhatian para ulama. Pembahasan ini dalam ulumul qur’an kemudian diberi tajuk jadal Al-Quran yang beberapa macamnya akan coba dibahas secara ringkas dalam artikel ini.

Macam-Macam Bentuk Jadal dalam Al-Quran

Ada banyak ragam bentuk jadal dalam Al-Quran, namun berikut akan ditampilkan beberapa contohnya saja.

1. Jadal antara Allah dengan Orang-Orang Kafir

Contohnya ketika orang-orang yang mengingkari nubuwah Muhammad serta risalah yang dibawanya, lalu mereka menuntut kepada Allah agar seandainya menurunkan utusan dari kalangan malaikat, tentu mereka akan beriman.

Namun hal ini langsung disanggah oleh Allah pada ayat selanjutnya, yakni Q.S. Al-An’am [6]: 9 yang berbunyi,

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا لَجَعَلْنَاهُ رَجُلًا وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَ

Dan sekiranya Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan Kami akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu

Al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Munir (4/149) menjelaskan bahwa seandainya Allah mengutus malaikat, tentu malaikat itu akan ‘menyamar’ dalam bentuk manusia agar memungkinkan adanya interaksi dan penyampaian risalah kepada mereka. Mereka tak akan mampu melihat malaikat yang tercipta dari cahaya. Sehingga ujung-ujungnya akan sama saja keadaannya sebagaimana pengutusan nabi Muhammad.

Maka jelaslah hal di atas hanya alibi mereka karena tidak mau beriman kepada Rasulullah. Mereka mencari celah untuk mendukung ketidak berimanan mereka, namun Allah membantahnya pada ayat tesebut.

2. Jadal antara Nabi dengan Kaumnya

Bentuk jadal pada model kedua ini bisa ditemukan antara nabi Ibrahim dengan kaumnya yang dimunculkan pada beberapa tempat dalam Al-Quran, salah satunya ketika nabi Ibrahim as. berdialog dengan kaumnya seperti yang terdapat dalam Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 51-70.

Pada ayat-ayat tersebut dikisahkan bahwa nabi Ibrahim mengajak berpikir kaumnya tentang konsep ketuhanan, spesifiknya soal penyembahan berhala. Maka, pertama-tama nabi Ibrahim menghancurkan semua berhala-berhala kaumnya itu, hingga akhirnya beliau ‘disidang’ oleh kaumnya.

Mereka bertanya kepada Ibrahim, ‘apakah engkau yang melakukan ini kepada tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim?’, nabi Ibrahim menjawab, ‘berhala paling besar yang melakukannya, tanyalah dia kalau dia memang bisa berbicara’. Seketika mereka pun sadar akan kekeliruannya dan mengakui bahwa berhala-berhala yang selama ini tidak memiliki kekuasaan apa-apa.

Nabi Ibrahim lalu menutup perdebatannya dengan pertanyaan seperti disebutkan pada ayat 66-67 yang berbunyi,

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Ibrahim berkata: Maka mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat maupun mudharat sedikitpun kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka tidakkah kalian berpikir?

Al-Shabuni dalam Shafwah al-Tafasir (2/268) menyebutkan ada tiga kecacatan logika dalam penyembahan berhala, 1). Berhala itu berupa benda mati, 2). Mereka menyembah benda mati yang tidak bisa memberi manfaat atau membahayakan, 3). Berhala tidak bisa berbicara, bahkan tak bisa melindungi diri sendiri, maka bagaimana bisa melindungi mereka?

Anehnya, kaumnya ini malah kembali menentang nabi Ibrahim bahkan berkehendak membakar beliau, padahal sebelumnya mereka sadar akan kesalahannya dan argumentasinya sudah dikalahkan. Wa kana al-insanu akthara syai’in jadala.

3. Jadal antara Sesama Manusia

Contohnya adalah perdebatan pemilik dua kebun yang terdapat pada Q.S. al-Kahfi [18]: 32-44, al-Sya’rawi dalam Surah al-Kahfi (hal. 32-42) menyebutkan bahwa sang pemilik kebun dengan banyaknya nikmat yang diberikan kepadanya, malah membuatnya angkuh dan lupa diri kepada Dzat yang memberikannya kenikmatan tersebut, sampai-sampai mengklaim kekayaannya itu akan kekal abadi, bahkan ia mengingkari hari kiamat.

Logika yang dipakainya sangat materialistis, yakni kekayaan dan banyaknya anak di dunia ini adalah tanda ridha-Nya Allah, kalaupun benar nantinya mereka akan dibangkitkan, ia yakin di akhirat akan mendapatkan nikmat yang serupa. Padahal kenyataannya belum tentu begitu, keduanya bisa saja menjadi nikmat maupun azab dari Allah, tergantung bagaimana seseorang menyikapi amanah Allah tersebut.

Lalu sahabatnya mencoba mengajaknya merenung, sebagaimana digambarkan pada ayat 37 yang bunyinya,

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

Temannnya berkata kepadanya sambil berdialog dengannya: “Apakah kamu ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?

Baca Juga: Mutawalli As-Sya’rawi: Mufasir Kontemporer dari Mesir

Masih menukil al-Sya’rawi, temannya itu seakan-akan berkata kepadanya, ‘apakah kamu lupa siapa dirimu sebenarnya sampai berkata demikian? bukankah dulu kau hanyalah bongkahan tanah, lalu Allah meniupkan ruh kepadamu? Lalu dia juga yang menciptakanmu dari air mani hingga menjadi manusia yang utuh? Atau seakan-akan ia mengatakan apakah kamu yang menumbuhkan sendiri tanaman di kebunmu itu ataukah Allah yang menumbuhkannya?

Si pemilik kebun terdiam dan tidak bisa membantah argumentasi temannya tersebut. Namun ia tetap dalam kekufuran, hingga akhirnya azab Allah menimpanya dan ia ‘terpaksa’ sadar dan mengakui ke Maha Kuasa-an Allah serta kelemahan dirinya.

Sebetulnya masih ada lagi bentuk perdebatan yang lain dalam Al-Quran, seperti ketika Allah menyebutkan ayat-ayat kauniyah sebagai dalil untuk menyadarkan lawan debat seperti pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 21-22, ada juga membatalkan pendapat lawan dengan membuktikan sebaliknya seperti pada Q.S. Al-An’am [6]: 91, menghimpun dan memerinci seperti tercantum dalam Q.S. Al-An’am [6]: 143-144 dan masih banyak lagi yang tentu menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 12 (2)

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 12 berbicara mengenai hitungan hari antara wamariah dan syamsiah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 12 (1)


Dari saat matahari terbenam pada suatu saat, hingga matahari terbenam pada hari berikutnya disebut satu hari satu malam menurut kebiasaan dan anggapan dalam perhitungan tahun qamariah. Tetapi dalam perhitungan tahun syamsiah, yang disebut sehari semalam ialah waktu dari pertengahan malam hingga pertengahan malam berikutnya.

Dengan ditegaskannya tentang pergantian siang dan malam sebagai dasar untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungannya dalam mengharap keutamaan Allah, jelaslah bahwa ayat ini menyiratkan keluwesan penang-galan dalam Islam. Sistem penanggalan yang didasari pada penggantian siang dan malam disusun berdasarkan hanya pergerakan (semu) dari matahari terhadap bumi.

Sistem ini sama sekali tidak melibatkan pergerakan bulan terhadap bumi. Ini adalah sistem penanggalan matahari (tahun syamsiah/ solar year) yang menyatakan bahwa satu tahun sama dengan 365 ditambah seperempat kali malam berganti siang dan sebaliknya.

Oleh karena itu, menurut sistem ini satu tahun lamanya 365 hari untuk tahun-tahun basitah dan 366 hari untuk tahun-tahun kabisah.  Secara umum, satu tahun syamsiah adalah lamanya waktu dari tanggal 1 Januari hingga tanggal 31 Desember.

Penghitungannya didasarkan pada waktu yang dibutuhkan bumi untuk mengelilingi matahari. Sistem penanggalan ini identik dengan tahun Masehi yang sekarang digunakan secara meluas dalam pergaulan internasional.

Satu tahun dalam perhitungan tahun qamariah ialah lama waktu dari tanggal 1 Muharram hingga tanggal 30 Zulhijjah, yang lamanya 354 hari untuk tahun-tahun basitah atau 355 hari untuk tahun-tahun kabisah. Perhitungan serupa ini dinamakan hisab ‘urfi.

Perhitungan tahun qamariah didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Dari bulan sabit ke bulan sabit berikutnya disebut 1 bulan, dan apabila telah 12 kali terjadi bulan sabit dianggap telah genap satu tahun qamariah.


Baca juga: Ramadhan sebagai Bulan Pewahyuan Al-Qur’an Perspektif Ibnu Ishaq


Ayat ini menegaskan bahwa sistem penanggalan Masehi atau tahun syamsiah boleh digunakan umat Islam dalam pergaulan internasional, terutama dalam melakukan transaksi dan bisnis (muamalah) seperti biasa dengan umat manapun secara nasional.

Sistem penanggalan Hijriah yang bersifat tahun bulan (lunar year) secara terbatas dapat digunakan untuk menentukan saat-saat beribadah, yaitu penentuan waktu 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 10 Zulhijah. Tidak perlu dipaksakan penggunaan tahun Hijriah ini untuk kehidupan muamalah dalam pergaulan dan transaksi sehari-hari secara nasional dan internasional.

Pada kenyataannya penanggalan atau tahun Masehi juga dipakai untuk menentukan waktu ibadah lain, yaitu waktu salat, karena waktu salat ini sepenuhnya ditentukan oleh pergerakan (semu) matahari dan sama sekali tidak berurusan dengan pergerakan bulan terhadap bumi.

Jadi walaupun ada ayat Al-Qur’an yang menyiratkan penggunaan tahun Hijriah (yang notabene tahun qamariah) tetapi ayat ini memfirmankan perintah Allah untuk menggunakan tahun matahari yang manapun untuk muamalah dan secara umum untuk pergaulan dengan umat lain.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 13-14


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 12 (1)

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 12 bagian satu berbicara mengenai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. tanda-tanda tersebut agar dipikirkan baik-baik oleh manusia. salah satu contohnya adalah adanya siang dan malam.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 9-11


Ayat 12

Kemudian Allah swt menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang ada di alam semesta, dengan maksud agar manusia memikirkan dan merenungkan semua ciptaan-Nya di alam ini. Allah swt menjelaskan bahwa Dia menciptakan malam dan siang, masing-masing sebagai tanda kekuasaan-Nya.

Siang dan malam merupakan dua peristiwa yang selalu silih berganti yang sangat berguna bagi kemaslahatan hidup manusia dalam menjalankan kewajiban agama dan urusan-urusan duniawi. Pergantian yang teratur seperti itu merupakan tanda kekuasaan Allah yang sangat jelas bagi manusia.

Barang siapa yang memperhatikan dan memikirkan pergantian siang dan malam tentu yakin bahwa alam semesta ini ada yang mengaturnya dengan aturan-aturan yang sangat baik dan tepat, dan juga menunjukkan bahwa pengaturnya sangat teliti. Dengan demikian, manusia akan terbimbing untuk mengakui adanya Pencipta jagat raya ini dan seluruh isinya.

Di samping itu, adanya pergantian siang dan malam merupakan anugerah yang dapat dirasakan secara langsung oleh manusia dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Di waktu malam mereka dapat beristirahat untuk melepaskan lelah. Allah juga menjadikan tanda-tanda malam datang yaitu hilangnya cahaya matahari dari ufuk barat, sehingga lama kelamaan hari menjadi gelap gulita.

Hal ini merupakan tanda kekuasaan-Nya. Allah menjadikan siang yang terang benderang sebagai tanda kekuasaan-Nya pula guna memberikan kesempatan kepada manusia untuk mencari kebutuhan hidup diri mereka sendiri dan keluarganya.

Di sisi lain, perubahan siang dan malam itu sangat berguna bagi manusia untuk mengetahui bilangan tahun, bulan, dan hari serta perhitungannya, terkecuali di daerah kutub utara dan selatan.

Dalam Al-Qur’an, Allah tidak saja memberitahu manusia mengenai ciptaan-Nya, namun juga memberikan indikasi-indikasi untuk memanfaat-kannya untuk kesejahteraan manusia.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Hukum Membasuh Bagian Dalam Mata Saat Wudhu


Dalam kaitan dengan matahari dan bulan, Allah memberikan petunjuk yang sangat jelas bahwa siang dan malam, atau dengan kata lain peredaran matahari dan bulan, akan sangat berguna untuk dijadikan patokan dalam membuat penanggalan atau kalender.

Ayat yang secara jelas menyatakan mengenai penganggalan adalah ayat 36 Surah at-Taubah/9, yang penggalannya  berikut:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram. Itulah agama yang lurus……”

Satu ayat lain yang serupa adalah ayat 5 dari Surah Yµnus/10:

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan waktu …………”

Siang dan malam terjadi karena perputaran bumi pada porosnya yang bergerak dari barat ke timur, yang memberikan kesan kepada manusia seolah-olah matahari bergerak dari timur ke barat. Apabila matahari muncul di ufuk timur disebut hari telah siang dan apabila matahari terbenam di ufuk barat disebut hari telah malam.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 12 (2)


(Tafsir Kemenag)