Beranda blog Halaman 317

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 66-72

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 66-72 masih melanjutkan kisah Nabi Luth, bahwa upaya pembinasaan terhadap kaumnya sudah Allah ceritakan, dan tibalah hari yang dimaksud. Ketika para malaikat datang bertamu, kaum durhaka itupun hadir di rumah Luth guna mengajak para tamu yang tampan itu melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Meski sudah diperingatkan oleh Luth, akan tetapi mereka tidak menggubrisnya, justru menentang peringatan tersebut dengan angkuh.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 57-65


Ayat 66

Dalam ayat ini diterangkan bahwa sebelum kedatangan para malaikat, Allah telah mewahyukan kepada Luth a.s. tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sebelum dan sesudah azab yang ditimpakan kepada kaumnya.

Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa setelah para malaikat memberi penjelasan kepada Luth a.s. tentang beban yang ditugaskan Allah kepada mereka, dan mendengar perintah-perintah malaikat yang diberikan kepada beliau, dan sesuai dengan wahyu yang telah diturunkan Allah, beliau percaya bahwa azab yang akan ditimpakan pada kaumnya oleh para malaikat benar-benar akan terjadi.

Sebab itu juga, beliau mengikuti dengan khidmat perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk yang diberikan para malaikat itu dalam usaha menghindarkan orang-orang yang beriman dari malapetaka yang mengerikan itu.


Baca Juga: Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 80-81: Benarkah Kaum Nabi Luth Homoseksual?


Ayat 67-71

Ketika kaum Luth, penduduk kota Sodom, mendengar bahwa Luth kedatangan tamu-tamu yang gagah, mereka pun bergembira. Timbullah hawa nafsu jahat mereka untuk berbuat homoseksual dengan tamu-tamu itu, yang merupakan kebiasaan buruk yang selalu mereka lakukan.

Melihat tingkah laku kaumnya, Luth a.s. berkata kepada mereka, “Sesungguhnya pemuda-pemuda yang kamu datangi dan kamu ajak melakukan perbuatan mesum adalah tamu-tamuku.

Aku harus menghormati dan memuliakan tamu-tamuku itu, janganlah kamu melakukan perbuatan mesum dengan mereka, karena tindakan kamu itu akan memberi malu kepadaku. Bertakwalah kamu kepada Allah, peliharalah dirimu dari siksaan-Nya, dan janganlah kamu memperkosa mereka.”

Kaum Luth menentang dan mengancam Nabi Luth karena perkataannya itu dengan mengatakan, “Bukankah kami pernah melarangmu untuk melindungi tamu-tamu yang datang ke sini dari keinginan dan perbuatan yang akan kami lakukan terhadap mereka.”

Perkataan kaum Luth ini memberikan isyarat bahwa kaum Luth itu selalu memaksa tamu-tamu yang datang ketika itu agar bersedia melakukan perbuatan homoseksual dengan mereka. Perbuatan keji itu dilarang oleh Luth. Akan tetapi, mereka tidak menghiraukan larangan itu, bahkan mereka mengancam Luth dengan suatu hukuman, seandainya Luth masih mencampuri urusan mereka itu.

Tetapi Luth masih memperingatkan mereka dan menawarkan kepada mereka putri-putrinya untuk mereka nikahi, karena itulah yang sesuai dengan sunatullah. Beliau berkata:

“Hai kaumku, menikahlah dengan putri-putriku. Janganlah kamu melakukan perkawinan dengan orang yang sejenis denganmu, karena kawin dengan orang yang sejenis itu diharamkan Allah. Lakukanlah perbuatan yang halal dan sesuai dengan sunatullah.

Allah sengaja menciptakan laki-laki dan perempuan agar mereka menikah dan  memiliki keturunan. Jika kamu terus berbuat demikian, niscaya kamu tidak akan  memiliki keturunan dan jenis manusia akan punah dari muka bumi.”

Dalam ayat ini, Luth a.s. menyebut “putri-putriku”. Maksudnya ialah “para pengikutnya yang wanita” karena seorang nabi biasa menyebut kaumnya dengan anak-anaknya dan istri nabi adalah ibu dari umatnya sebagaimana firman Allah:

اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ وَاَزْوَاجُهٗٓ اُمَّهٰتُهُمْ ۗ

Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. (al-Ahzab/33: 6).

Jika istri-istri nabi adalah ibu orang-orang yang beriman, tentulah nabi sendiri adalah bapak mereka dan seluruh umatnya adalah putra-putrinya.

Ayat 72

Ayat ini menerangkan penegasan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw bahwa perbuatan homoseksual dan lesbian yang dilakukan kaum Luth benar-benar perbuatan keji dan sesat, karena itu wajib dijauhi dan ditinggalkan.

Orang Arab biasa bersumpah dengan menyebut umur seseorang. Dalam ayat ini Allah swt bersumpah dengan umur dan kehidupan Nabi Muhammad saw yang tujuannya ialah untuk menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad saw.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang bersumpah dalam ayat ini ialah para malaikat. Mereka menyatakan perbuatan kaum Luth yang demikian itu keterlaluan.

Akan tetapi, pendapat ini dibantah oleh riwayat yang mengatakan bahwa Allah swt tidak pernah bersumpah dengan menyebut umur nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain, kecuali menyebut umur Nabi Muhammad saw. Hal ini semata-mata untuk menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad.

 

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 73-76


 

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 57-65

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 57-65 masih mengisahkan tentang era nabi Ibrahim. Setelah sebelumnya kedangan tamu dari para malaikat dan merasa yakin dengan informasi yang mereka bawa. Ibrahim pun bertanya terkait tujuan mereka berada di kota tersebut selain dari menyampaikan berita gembira kepada Ibrahim dan Istrinya.

Disampaikan pula dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 57-65 bahwa tujuan lain dari kedua malaikat tersebut adalah sebagai utusan kepada kaum nabi Luth untuk membinasakan mereka yak durhaka dan berdosa. Sedangkan kaum yang mengikuti nabi Luth akan diselamatkan dari bencana tersebut.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 47-50


Selanjutnya dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 57-65 mengisahkan tentang kedatangan kedua malaikat itu menemui Luth menceritakan kepadanya perihal upaya pembinasaan pada kaumnya yang ingkar, dan menjanjikan keselamatan kepada kaumnya yang taat.

Ayat 57-58

Setelah Ibrahim yakin bahwa para tamunya adalah malaikat, timbul pertanyaan di benaknya kenapa yang datang beberapa malaikat, padahal biasanya hanya satu yang datang. Jika yang datang beberapa malaikat, tentu tugas yang dipikulnya sangat besar. Beliau lalu bertanya kepada malaikat tentang tugas yang diberikan Allah kepada mereka.

Malaikat pun menjawab bahwa mereka ditugaskan untuk mengazab kaum yang berdosa, yaitu kaum Luth yang telah durhaka kepada Allah dan mengingkari seruan rasul yang diutus kepada mereka.


Baca Juga: Kisah perilaku Homoseksual Kaum Nabi Luth


Ayat 59-60

Para malaikat yang menjadi tamu Nabi Ibrahim menerangkan kepadanya bahwa mereka ditugaskan untuk membinasakan kaum Luth yang tidak mengindahkan seruan nabi yang diutus kepada mereka. Termasuk orang-orang yang dibinasakan itu adalah istri Luth sendiri. Sedangkan orang-orang yang mengikuti Luth akan diselamatkan dari azab itu.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa seseorang tidak dapat membebaskan orang lain dari azab Allah walaupun orang lain itu adalah istri, anak-anak atau orang tuanya, karena manusia bertanggung jawab kepada Allah atas segenap perbuatan yang telah dilakukannya. Allah tidak akan membebani seseorang dengan dosa orang lain sedikit pun. Firman Allah:

 وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ

… Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain… (al-An’am/6: 164)

Ayat 61-62

Setelah para malaikat menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim a.s. akan anugerah Allah kepadanya berupa kelahiran seorang putra dan berita akan kehancuran kaum Luth yang ingkar, mereka pun meninggalkan rumah Ibrahim menuju kota Sodom, negeri tempat tinggal kaum Lut yang terletak di daerah Yordania, untuk melaksanakan tugas yang telah dipikulkan Allah kepada mereka.

Kedatangan mereka secara tiba-tiba ke rumahnya tidak diduga-duga sedikit pun oleh Luth a.s. dan ia tidak mengetahui sedikit pun siapa para tamu yang datang itu. Hal ini tergambar dalam ucapan Luth ketika menyambut tamunya itu, “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang yang tidak dikenal.” Pada firman Allah yang lain digambarkan pula kegelisahan Lut dan ketidaktahuannya terhadap kaumnya itu.

Allah berfirman:

وَلَمَّآ اَنْ جَاۤءَتْ رُسُلُنَا لُوْطًا سِيْۤءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا

Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) datang kepada Lut, dia merasa bersedih hati karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka. (al-‘Ankabut/29: 33).

Dari ayat dipahami bahwa sebab kekhawatiran dan kegelisahan Nabi Lut itu ialah kedatangan tamu-tamu itu ke rumahnya secara tiba-tiba dan tidak terduga sebelumnya.

Para malaikat itu menyamar seperti laki-laki rupawan yang sangat disukai oleh kaum Luth yang senang mengerjakan perbuatan homoseksual. Biasanya kalau datang laki-laki seperti itu, kaum Lut akan datang beramai-ramai ke rumahnya dan memaksa Luth menyerahkan tamunya kepada mereka.

Seandainya Luth a.s. mengetahui dengan pasti bahwa yang datang itu para malaikat, tentulah dia tidak merasa khawatir karena dia percaya bahwa para malaikat dapat mempertahankan dan membela diri dari tindakan mereka itu.

Ayat 63-65

Para malaikat menerangkan maksud kedatangan mereka kepada Luth a.s. Mereka datang untuk menyampaikan kabar buruk yaitu azab yang akan ditimpakan kepada kaumnya yang telah mengingkari dan men-dustakannya.

Dalam ayat ini disebutkan jawaban para malaikat, “Sesungguhnya kami datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan.” Bahkan dengan perkataan, “Kami datang untuk mengazab mereka.”

Maksud jawaban para malaikat dengan perkataan yang demikian itu ialah untuk menyatakan kebenaran ancaman yang biasa disampaikan Lut kepada kaumnya selama ini. Nabi Luth a.s. selalu memperingatkan kaumnya agar mengikuti dan memeluk agama yang telah disampaikannya serta mengakui kerasulannya.

Jika mereka tetap ingkar, mereka akan ditimpa azab Allah. Seruan dan pernyataan Luth ini mereka sambut dengan ejekan. Mereka tidak mempercayai keesaan dan kekuasaan Allah yang dapat mengazab orang-orang yang ingkar. Bahkan mereka menantang Luth agar segera menurunkan azab yang dijanjikan itu.

Kemudian para malaikat menegaskan kepada Luth bahwa maksud kedatangan mereka ialah untuk melaksanakan tugas yang telah dibebankan Allah swt kepada mereka untuk menyampaikan azab kepada kaumnya.

Tugas ini pasti terlaksana dan segala yang mereka ucapkan itu adalah benar, karena mereka sendiri adalah para malaikat yang tidak pernah menyalahi perintah Allah.

Setelah itu, para malaikat memberikan perintah kepada Luth a.s. tentang cara-cara yang harus dilaksanakannya beserta pengikut-pengikutnya untuk menghindarkan diri dari azab Allah yang akan datang.

Luth beserta keluarga dan kaumnya yang telah beriman diperintahkan untuk segera meninggalkan negeri itu pada akhir malam. Luth a.s. diminta berjalan di belakang pengikut-pengikutnya, agar dia dapat mengatur dan mempertahankan diri dari serangan kaumnya yang mengejar dari belakang. Ini juga bertujuan  agar Luth a.s. dapat mendorong para pengikutnya berjalan secepatnya, karena azab yang akan ditimpakan hampir datang, dan ia dapat memperhatikan kaumnya yang tidak mau meneruskan perjalanan.

Selanjutnya para malaikat memerintahkan agar tidak seorang pun dari pengikut Luth yang menoleh ke belakang pada waktu mendengar halilintar yang menghancurkan. Dengan demikian, mereka tidak dapat melihat peristiwa yang mengerikan yang dapat merusak dan menggoncangkan jiwa mereka, sehingga mereka selamat dan iman mereka bertambah kuat sampai ke tempat yang aman yang sedang dituju itu.

Pada ayat ini, disebutkan agar Luth berangkat beserta keluarga dan kaumnya yang setia. Kemudian para malaikat menguatkan perintah dan larangannya dengan mengatakan, “Teruskanlah perjalananmu ke tempat yang telah diperintahkan kepadamu.” Menurut suatu riwayat yang dimaksud dengan tempat yang diperintahkan dalam ayat ini ialah negeri Syam (Syria).

Pada Surah Hud, kisah Luth dikisahkan menurut urutan peristiwa yang pernah terjadi, sedang pada surah ini dikisahkan secara melompat-lompat, tidak menurut urutan kejadian yang sebenarnya.

Perbedaan cara dalam mengutarakan kisah ini adalah karena tujuan Allah menyampaikan kisah ini pada kedua surah tersebut juga berbeda. Jika dihubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya, maka tujuan mengutarakan kisah Luth dalam Surah Hud ialah untuk menguatkan hati Nabi Muhammad saw beserta sahabat-sahabatnya, dalam menyampaikan agama Allah dan menyatakan keesaan dan kekuasaan Allah swt yang wajib disembah.

Rasul-rasul yang diutus Allah sejak dahulu selalu mendapat tantangan dan ancaman dari kaumnya, tetapi mereka tetap tabah dan sabar melaksanakan tugas yang dibebankan Allah kepada mereka.

Sedang tujuan kisah Luth dengan kaumnya pada Surah Al-Hijr ini adalah untuk menjelaskan kepada orang-orang yang beriman akan rahmat dan nikmat Allah yang telah mereka terima. Juga nikmat yang telah diterima oleh orang-orang yang beriman dahulu kala kepada rasul-rasul yang diutus Allah kepada mereka.

Di antaranya adalah nikmat yang telah dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim a.s. berupa putra-putra yang selalu diidam-idamkannya, dan nikmat yang telah dilimpahkan kepada Nabi Luth beserta pengikutnya. Juga untuk menerangkan azab Allah yang telah ditimpakan kepada orang-orang kafir dan ingkar kepada dakwah rasul yang diutus kepada mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 66-72


Keindahan Bahasa Al-Qur’an dan Kemunculan Metode Tafsir Sastrawi

0
Keindahan Bahasa Al-Qur’an dan Kemunculan Metode Tafsir Sastrawi
Keindahan Bahasa Al-Qur’an

Sebelum lebih jauh membahas mengenai wacana kesusastraan dalam kajian Al-Qur’an. Hal yang juga penting untuk dipahami ialah kesadaran bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang berbahasa Arab. Hal ini penting untuk diutarakan sebagai sebuah wacana awal dan titik perjumpaan antara Al-Qur’an dengan sastra dan bagaimana konteks kemunculan sisi sastrawi Al-Qur’an.

Sejauh ini tidak ada perdebatan yang sangat mencolok mengenai definisi yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Tuhan (kalamullah), khususnya dalam ranah teologis. Hal tersebut, bahkan sudah menjadi sebuah konsensus (ijma) di kalangan para ulama dan para sarjana Al-Qur’an. Namun, pada tingkatan filologi-linguistik muncul beragam respon, khususnya dari kalangan cendikiawan dan pengkaji Qur’an modern (W. M. Watt dan R. Bell, Introduction to The Qur’an: 1991).

Respon-respon tersebut setidaknya bila dirasakan mengarah pada satu gagasan yang mencoba menempatkan Al-Qur’an sebagai salah satu dari beberapa kitab suci yang diturunkan Tuhan dan ditujukan kepada manusia. Sederhananya, mereka mencoba membangun kesadaran bahwa Al-Qur’an adalah sebuah teks yang nantinya akan berdialektika dengan manusia itu sendiri.

Konsekuensi dari hal ini ialah ketika Al-Qur’an yang merupakan bahasa Tuhan ini diturunkan kepada manusia, maka tentu saja memerlukan sebuah medium supaya ia dapat dipahami oleh audiensnya. Sederhananya, kalam Tuhan tersebut perlu diformulasikan dalam bahasa manusia agar pesan Tuhan sampai kepada manusia, yang dalam hal ini adalah bahasa Arab (Aksin Wijaya, Arah Baru Studi Ulum Al-Qur’an: 2009).

Dari wacana di atas dapat kita lihat bahwa bahasa secara aksidensi (dalam hal pewahyuan) memiliki fungsi sebagai media ketika Tuhan ingin menyampaikan pesannya yang berupa Al-Qur’an kepada manusia. Namun, dengan tidak mengabaikan fungsi tersebut lebih jauh lagi seharusnya kita tidak berhenti pada fungsi bahasa sebagai penyampai pesan, karena hal ini memberikan implikasi bahwa bahasa (dalam hal ini bahasa Arab) hanya secara kebetulan dipilih karena audiensnya pada saat itu adalah masyarakat Arab.

Keistimewaan bahasa Arab dan motif pemilihannya sebagai bahasa Al-Qur’an

Bila dilihat lebih jauh, tentu saja ada beberapa argumen mengapa bahasa Arab menjadi opsi utama sebagai bahasa Al-Qur’an. Dari sisi kompleksitas misalnya, menurut Quraish Shihab, bahasa Arab memiliki keunikan tersendiri. Bahasa Arab juga sangat kaya akan kosa kata, di sisi lain bahasa Arab juga mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk melahirkan makna-makna baru dari akar-akar kata yang dimilikinya (M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir: 2013).

Selanjutnya, jika dibaca secara politis, bahasa Arab yang digunakan oleh Al-Qur’an juga merupakan salah satu cara Al-Qur’an untuk mempengaruhi audiensnya yaitu bangsa Arab yang dikenal sangat dekat dengan kesusateraan dan syair-syair. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Hitti bahwa tidak ada bangsa di dunia ini selain bangsa Arab yang memiliki apresiasi terhadap bahasa dan mendapatkan pengaruh secara emosional yang besar melebihi bahasa Arab (Philip K. Hitti, History of Arabs: 2002).

Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh Al-Qur’an pada saat itu merupakan strategi politis untuk mengontrol pertumbuhan wacana melalui bahasa. Karena jika ada yang ingin melakukan perubahan secara radikal di tanah Arab pada saat itu, maka medium yang paling ampuh untuk digunakan adalah bahasa. Pola pikir dan psikologi bangsa Arab yang bisa dikendalikan oleh bahasa menjadi pintu masuk bagi Al-Qur’an menuju ruang nalar dan psikologi mereka.

Pemilihan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an juga merupakan sebuah strategi yang sangat akurat. Sebab, posisi bahasa Arab dan sastra sangat sentral di kalangan masyarakat Arab pra-Qur’an pada saat itu. Maka tentu saja hal yang paling ampuh untuk memperkenalkan sebuah identitas kitab suci baru adalah bahasa dan sastra yang pada saat itu sangat dekat dengan masyarakat Arab pra-Qur’an.

Strategi ini terbukti ampuh, jika dilihat dengan waktu yang cukup singkat, yaitu sekitar 23 tahun pasca kenabian. Nabi Muhammad berhasil menyebarkan pengaruhnya ke seantero jazirah Arab. Bahkan dalam sejarah, Nabi Muhammad tercatat menempati urutan pertama dari seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Pencapaian tersebut tentu saja tidak lepas dari power Al-Qur’an yang secara historis menemani dakwah Nabi ketika itu (Michael H. Hart, Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh di Dunia: 1986).

Baca juga: Surah al-Kahfi Ayat 110: Melihat Sisi Kemanusiaan Nabi Muhammad

Keindahan bahasa Al-Qur’an dan tradisi sastra bangsa Arab

Kembali lagi pada aspek kebahasaan Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an menggunakan bahasa sebagai alat, secara otomatis bahasa yang digunakan tersebut memberikan efek psikologis bagi pendengarnya. Sehingga, Nabi Muhammad tidak perlu secara personal melakukan negosiasi dengan bangsa Arab supaya mereka mengikutinya. Ia hanya butuh menyampaikan wahyu, dan membiarkan struktur bahasa tersebut memberikan efek, terutama efek psikologis bagi pendengarnya.

Selain sebagai sebuah strategi pendekatan emosional, sejauh ini terlihat bahwa bahasa Arab juga memiliki fungsi khusus sebagai sebuah mekanisme kuasa. Melihat kondisi masyarakat Arab pra-Qur’an pada saat itu sangat dekat dengan bahasa dan kesastraan, maka bahasa Arab yang digunakan oleh Al-Qur’an menjadi sebuah senjata yang sangat jitu dalam hal memengaruhi masyarakat pada saat itu. Bahkan, lebih jauh lagi nanti dapat kita lihat dalam sejarah bagaimana Al-Qur’an mereproduksi makna-makna baru yang nantinya merubah secara perlahan budaya dan kebiasaan masyarakat Arab pada saat itu.

Al-Qur’an sebagai sebuah teks berbahasa Arab tentu saja memiliki nilai sastra yang begitu tinggi. Hal ini bisa dilihat dari ketertarikan para penyair Arab pada saat itu yang mencoba menirukan teks Al-Qur’an. Namun, usaha mereka pada akhirnya berakhir sia-sia. Misalnya apa yang dilakukan oleh Musailamah yang berusaha menandingi ayat-ayat Al-Qur’an dengan syair yang ia buat:

يا ضفدع بنت ضفدعين نقي ما تنقين اعلاك في الماء و اسفلك في الطين

Wahai anak katak dari dua katak, berkuaklah sesukamu, bagian atasmu berada di air dan bawahmu ada ditanah.”

Upaya-upaya penyair pada saat itu tentu saja pada akhirnya menemui kegagalan. Hal ini dikarenakan walaupun syair-syair yang dibuat oleh para penyair menggunakan bahasa Arab sebagaimana yang digunakan oleh Al-Qur’an. Namun, aspek moral dan pesan dari perkataan para penyair tersebut sama sekali tidak mengandung nilai kemaslahatan bagi manusia sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Hal tersebut juga tentu saja tidak terlepas dari aspek kemukjizatan Al-Qur’an itu sendiri. Peran mukjizat sangat penting dalam rangka mendukung karisma dan daya tarik suatu klaim otoritas ilahi. Jika para nabi selalu memiliki mukjizat untuk mendukung klaim kenabiannya, maka Al-Qur’an juga diklaim memiliki mukjizat untuk mendukung klaim keilahian dan keontentikannya sebagai sebuah wahyu Tuhan.

Berbeda halnya dengan mukjizat nabi-nabi sebelumnya yang terpisah dari wahyu (teks) itu sendiri, kemukjizatan Al-Qur’an yang menunjukkan kebenaran dirinya dan kebenaran pembawanya (Muhammad) sebagaimana termanifestasikan secara tekstual dalam struktur Al-Qur’an yang berbentuk kebahasaan dan kesusastraan. (Amin al-Khulli dan Nasr Hamid Abu Zaid, Metode Tafsir Sastra).

Baca juga: Melihat Al-Quran sebagai Pembungkam Nalar Sastra Arab

Tantangan Al-Qur’an kepada para penentangnya

Aspek kebahasaan dan ketinggian sastra yang dimiliki oleh Al-Qur’an ini juga merupakan aspek kemukjizatan utama dan yang pertama kali ditunjukkan oleh Al-Qur’an kepada masyarakat Arab pra-Qur’an pada saat itu. Hal ini bisa dilihat dari fakta sejarah di mana pada saat itu ahli-ahli bahasa berkumpul untuk menantang kesastraan Al-Qur’an. Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang berhasil menyaingi ketinggian sastra Al-Qur’an.

Padahal menurut fakta sejarah, masa-masa ketika Al-Qur’an turun merupakan era di mana lembaga-lembaga dan pusat-pusat bahasa kesusateraan Arab sedang berada dalam titik puncak keemasan. (Manna’ Khalil Qaththan, Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an: 2009).

Bahkan menurut data sejarah, Makkah pada saat itu merupakan tempat yang paling tepat untuk mendengar lantunan puisi para penyair Arab terbaik. Di kota ini, tepatnya di pasar Ukaz, para penyair terbaik berkumpul setiap tahunnya untuk memperdengarkan karya epik mereka dalam sebuah kompetisi. Puisi-puisi yang dianggap istimewa digantungkan (Mu’allaqat) di Ka’bah sebagai sebuah bentuk apresiasi. (Ingrid Mattson, Ulumul Qur’an Zaman Kita: 2013).

Namun, menghadapi kondisi masyarakat yang seperti itu Al-Qur’an dengan gentle malah menanggapi tantangan tersebut dengan menantang balik para penyair dan ahli bahasa yang mencoba membuat tandingan Al-Qur’an. Namun, tetap saja tidak ada seorang pun dari mereka yang berhasil menghadirkan karya sastra semisal Al-Qur’an.

Al-Qur’an memberi tantangan secara bertahap kepada para penantangnya pada saat. Hal ini terekam dalam beberapa penggalan surahnya, di mana mula-mula Al-Qur’an memberikan tantangan kepada siapa saja yang mampu membuat Al-Qur’an tandingan QS. At-Ṭur: 34, dan setelah melihat ketidakmampuan para penantangnya pada saat itu, Al-Qur’an pun mulai menurunkan tantangannya yang semula menuntut para ahli bahasa dan penyair untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an menjadi 10 surah saja.

Hal ini sebagaimana yang digambarkan dalam QS. Hud: 13. Bahkan Al-Qur’an menurunkan tantangannya kepada para penyair saat itu untuk menghadirkan satu surah saja semisal Al-Qur’an sebagaimana terekam dalam QS. Al-Baqarah: 23.

Namun, mereka juga masih tidak sanggup menghadirkan semisal Al-Qur’an walau satu ayat pun. Akhirnya, Al-Qur’an mengeluarkan sebuah ultimatum bahwa tidak ada yang mampu menghadirkan satu ayat pun semisalnya. Bahkan jika manusia bekerjasama dengan jin sekalipun hal tersebut tetap tidak akan pernah terwujud (QS. Al-Isrā: 88).

Wacana tafsir Al-Qur’an bercorak sastrawi

Beberapa argumen di atas setidaknya menggambarkan bagaimana hubungan Al-Qur’an dan sastra. Hubungan yang digambarkan oleh sejarah mengenai Al-Qur’an dan sastra bagaiakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa sastra merupakan salah satu senjata jitu yang membersamai Al-Qur’an ketika menghadapi masyarakat Makkah pada saat itu.

Kesadaran-kesadaran akan sisi sastrawi yang melekat pada Al-Qur’an ini juga yang nantinya memunculkan ketertarikan para muffasir untuk mengkaji Al-Qur’an secara mendalam, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menjadikan sisi sastrawi ini sebagai kajian tersendiri dalam pembahasannya.

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 51-56

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 51-56 mengisahkan tentang Nabi Ibrahim yang merasa takut dengan tamu tak dikenal yang mendatanginya, dan mengabarkan kepada Ibrahim beserta istrinya bahwa mereka akan dikaruniai seorang anak. Adalah berita yang tidak mereka sangka dan tidak masuk di akal, sebab keduanya sudah berusia lanjut. Namun, demikianlah permisalan karunia Allah terhadap hamba-Nya yang soleh lagi taat.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 47-50


Ayat 51-52

Ayat ini menerangkan keadaan Nabi Ibrahim ketika kedatangan tamu yang tidak dikenal dan tidak diundang. Para tamu itu masuk dan mengucapkan salam. Karena tidak mengenal para tamunya, Nabi Ibrahim mengatakan bahwa ia takut kepada mereka. Penyebab ketakutan Ibrahim dijelaskan dalam ayat yang lain. Allah swt berfirman:

فَلَمَّا رَاٰىٓ اَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ اِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَاَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيْفَةً ۗقَالُوْا لَا تَخَفْ اِنَّآ اُرْسِلْنَآ اِلٰى قَوْمِ لُوْطٍۗ

Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, dia (Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat) berkata, ”Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Lut.” (Hud/11: 70)

Menurut ayat ini, Ibrahim merasa takut kepada tamunya karena mereka tidak mau memakan daging anak lembu yang dipanggang dan disuguhkan kepada mereka. Menurut kebiasaan, tamu yang tidak mau memakan suguhan yang dihidangkan kepadanya adalah tamu yang datang untuk maksud jahat atau bisa juga berarti bahwa tamu itu curiga dengan niat baik tuan rumah.


Baca Juga: Kisah Kelahiran Nabi Ishaq dalam Al-Quran


Ayat 53-56

Melihat Ibrahim merasa takut, maka para tamu itu mengatakan kepadanya, agar tidak takut karena maksud kedatangan mereka ialah untuk menyampaikan kabar gembira dari Allah, bahwa ia akan dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh. Dalam firman Allah yang lain disebutkan bahwa anak yang akan dianugerahkan itu akan mempunyai kedudukan yang penting di kemudian hari.

Allah berfirman:

وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. (ash-Shaffat/37: 112).

Ibrahim merasa heran atas berita gembira yang disampaikan para malaikat itu. Dia hampir saja tidak mempercayainya, apalagi berita itu disampaikan oleh orang yang belum dikenalnya dan ketika itu Ibrahim dan istrinya Sarah telah berusia lanjut.

Menurut kebiasaan, orang yang sudah berusia lanjut tidak mungkin lagi mempunyai anak. Sudah tentu berita itu dianggapnya aneh, apalagi istrinya juga seorang yang mandul.

Tamu-tamu Ibrahim itu menegaskan bahwa berita yang disampaikan mereka itu adalah berita yang benar, sebab kelahiran seorang putra yang diinginkan itu termasuk nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.

Allah kuasa melimpahkan nikmat itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia juga kuasa untuk mengadakan atau menciptakan sesuatu yang menyimpang dari sunnah-Nya sendiri.

Setelah mendengar keterangan para malaikat itu, timbullah keyakinan pada diri Ibrahim bahwa tamu yang aneh itu bukanlah sembarang tamu. Mereka adalah malaikat-malaikat Allah yang diutus kepadanya untuk menyampaikan berita gembira.

Karena keyakinan itulah Ibrahim segera menjawab perkataan mereka bahwa tidak ada orang yang putus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat. Dalam hadis Nabi saw diterangkan betapa banyak dan luasnya nikmat Allah:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ خَلَقَ الرَّحْمَةَ. يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِى خَلْقِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ كُلَّ الَّذِيْ عِنْدَهُ مِنْ رَحْمَةٍ لَمْ يَيْأَسْ مِنَ الرَّحْمَةِ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ كُلًّ الَّذِيْ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنَ الْعَذَابِ لمَ ْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan rahmat, ketika itu Dia menciptakan seratus rahmat, maka ditahan-Nya sembilan puluh sembilan rahmat, dan melepaskan satu rahmat kepada makhluk-Nya seluruh-Nya. Kalau orang kafir mengetahui semua rahmat yang ada pada sisi Allah, niscaya mereka tidak putus asa dari rahmat itu, dan kalau orang mukmin mengetahui semua macam azab yang ada pada Allah swt, niscaya mereka tidak merasa aman dari api neraka.” (Riwayat al-Bukhar dan Muslim dari Abu Hurairah).

Dalam hal ini, Ibrahim a.s. sebagai nabi dan rasul Allah pasti mengetahui betapa banyaknya rahmat yang ada pada sisi Allah. Oleh karena itu, beliau yakin akan kebenaran yang disampaikan para malaikat itu.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 57-65


Matahari Sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam Menurut Al-Quran

0
Matahari Sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam
Matahari Sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam

Matahari berperan penting dalam kehidupan manusia. Tanpa sinar matahari tidak ada kehidupan di muka bumi ini. Matahari sebagai pusat tata surya telah menjaga keberlangsungkan alam semesta ini. Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang pakar matematika dan astronom, yang dikutip oleh Profesor Robert S. Westman, mengatakan bahwa matahari diam di pusat alam semesta (center of the universe) dan bumi berputar mengelilinginya.

Hal ini menegaskan posisi matahari sebagai pusat tata surya, bergerak sesuai garis edarnya sehingga mampu menjaga keseimbangan alam sebagaimana difirmankan-Nya dalam Q.S. al-Anbiya [21]: 33),

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 33)

Baca juga: 3 Hal yang Menjadikan Hermeneutika Al-Qur’an Penting Digunakan menurut Fahruddin Faiz

Tafsir Tentang Energi Matahari

Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan ayat di atas dengan menukil riwayat sahabat, yaitu telah menceritakan kepada Kami Qasim, dari al-Husain, Hujaj, dari Ibn Juraih, dari Mujahid, bahwa,

والله الذي خـلق لكم أيها الناس اللـيـل والنهار، نعمة منه علـيكم وحجة ودلالة علـى عظيـم سلطانه وأن الألوهة له دون كلّ ما سواه فهما يختلفـان علـيكم لصلاح معايشكم وأمور دنـياكم وآخرتكم، وخـلق الشمس والقمر أيضا

“Demi Allah yang telah menciptakan manusia, siang dan malam, dan berbagai kenikmatan sebagai hujjah dan dalil (bukti empirik) atas kekuasan-Nya. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lain yang dapat menyamai-Nya. Semua ciptaan Allah tidak lain bertujuan untuk memberi kemaslahatan bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat (li shalahi ma’ayisyakum wa umuri dunyakum wa akhiratikum) termasuk dalam hal ini penciptaaan matahari dan bulan”

Sedangkan al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib mengulas panjang lebar matahari sebagai pusat tata surya dan garis edar planet. Ia menjelaskan bahwasannya,

وتقريره أن نقول قد ثبت بالأرصاد أن للكواكب حركات مختلفة فمنها حركة تشملها بأسرها آخذة من المشرق إلى المغرب وهي حركة الشمس اليومية

“Kami mengamati bahwa planet-planet memiliki pergerakan yang berbeda-beda (harakat mukhtalifah), beberapa di antaranya mencakup secara keseluruhan, bergerak dari ufuk timur ke Barat yang merupakan pergerakan harian matahari”.

Lebih jauh, mayoritas ahli filsafat dan ahli planet (jumhur al-falasifah wa ashab al-haiah) mengatakan justru memiliki pergerakan lain seperti dari Barat ke Timur. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa ternyata ada planet yang bergerak lebih cepat melebihi planet lainnya. Begitupula ada yang lambat dari yang lain. Ketika planet itu bergerak ke arah timur, maka terlihat lah bulan karena muncul satu atau dua hari setelahnya.

Baca juga: Berikut Tips Beristikamah dari Tafsir Ayat tentang Istikamah

Termasuk juga bertambahnya siang dan malam karena diakibatkan pergerakan planet-planet tersebut. Para ilmuwan, demikian kata al-Razi, juga menemukan bahwa planet-planet itu tetap bergerak perlahan sesuai garis orbitnya. Tidak jauh berbeda dengan al-Razi, Tantawi Jauhari dalam Tafsir al-Wasith, menafsirkannya bahwa pergerakan matahari dan bulan yang sesuai dengan garis edarnya merupakan bentuk sujudnya kepada Allah (ra-aituhum li sajidin).

Selain itu, Tantawi juga menuturkan hendaknya manusia meniru sikap matahari dan bulan yang patuh berjalan sesuai relnya tanpa harus ingin mendahului dan didahului sebab semuanya pasti binasa. Hal ini dikatakan Tantawi dalam rangka menyitir orang musyrik dan sifat manusia yang selalu serakah. Dalam tafsir yang lain, Fathul Qadir karya al-Syaukani, misalnya, bahwa ayat ini memberi warning bagi kepada mereka yang suka melalaikan kenikmatan-Nya (haadza tadzkir lahum bini’matin ukhra mimma an’ama bihi ‘aaihim).

Dia menciptakan siang dan malam, demikian kata al-Syaukani, untuk manusia tinggali. Dia juga menciptakan matahari dan bulan sebagai kehidupan bagi mereka. Terkait pergerakan matahari dan bulan yang sesuai garis orbitnya, penafsiran al-Syaukani relatif sama dengan beberapa penafsir di atasnya, hanya saja ia mengistilahkan kata yasbahun seperti berenang di dalam air (ka al-sabih fil ma’).

Adapun al-Suyuti dalam al-Dur al-Mantsur menafsirkan ayat di atas dengan menukil riwayat sahabat di bawah ini,

وأخرج ابن جرير وابن أبي حاتم وأبو الشيخ في العظمة، عن ابن عباس رضي الله عنهما في قوله: { كل في فلك } قال: فلكة كفلكة المغزل { يسبحون } قال: يدورون في أبواب السماء ما تدور الفلكة في المغزل

“Diriwayatkan Ibn Jarir dan Ibn Hatim, dan Syekh yang agung Ibn Abbas r.a. bahwasannya firman Allah (kullun fi falakin) bermakna masing-masing beredar sesuai porosnya. Dan kata yasbahun bermakna mereka berputar di pintu-pintu langit sesuai porosnya”.

Matahari sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam

Ayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa Allah swt telah menjadikan malam dan siang serta matahari dan bulan untuk melayani manusia dan seluruh alam. NASA dalam lamannya solarsystemnasa.gov, menyatakan bukti empiris bahwa matahari adalah objek terbesar (the largest object) dalam tata surya kita, terdiri dari 99,8% massa sistem. Matahari terletak di pusat tata surya (the center of our solar system) kita, dan Bumi mengorbit 93 juta mil jauhnya darinya.

Radiasi dan medan magnet matahari menyebar ke seluruh tata surya melalui angin matahari. Masih tetap laporan NASA, matahari merupakan jantung tata surya kita (the heart of our solar system) yang berisi bola panas dan gas-gas yang bercahaya. Gravitasinya menyatukan tata surya, menjaga segala sesuatu mulai dari planet terbesar hingga partikel puing terkecil di orbitnya. Arus listrik di Matahari mampu menghasilkan medan magnet yang dibawa melalui tata surya oleh angin matahari — aliran gas bermuatan listrik (a stream of electrically charged gas) yang bertiup keluar dari Matahari ke segala arah.

Baca juga: Proyek Tafsir Al-Mishbah: Menggapai Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an ala M. Quraish Shihab

Medan magnet ini kemudian menarik segala planet dan menjaga keseimbangan di dalamnya sehingga dapat mengatur musim, cuaca, iklim dan segala hal lainnya. Hal senada juga disampaikan Markus J.Aschwanden dalam The Sun dan Eugene F. Milone dalam The Core of the Solar System: The Sun bahwa matahari adalah bintang terdekat kita (our nearest star) sekaligus pusat gravitasi dan sumber energi tata surya kita (the gravity center and ultimate energy source for many processes in our solar system).

Sungguh takjub betapa Allah swt menciptakan matahari beserta energi yang ditimbulkannya hanya untuk kehidupan manusia dan menjaga keseimbangan alam seisinya. Semoga kita mampu menjaga dan memanfaatnya dengan baik. Wallahu A’lam.

Proyek Tafsir Al-Mishbah: Menggapai Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an ala M. Quraish Shihab

0
Tafsir Al-Mishbah
Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab

Quraish Shihab adalah seorang ulama sekaligus penafsir yang terbilang sangat berpengaruh di dunia studi Al-Qur’an di Indonesia selama era modern-kontemporer ini. Sebagian orang bahkan menyebut beliau sebagai maestro dalam studi Al-Qur’an. Karyanya berjudul Tafsir Al-Mishbah menjadi karya fenomenal setelah Tafsir Al-Azhar yang ditulis Buya Hamka. Hingga saat ini, Tafsir Al-Misbah masih menjadi rujukan terpercaya oleh berbagai kalangan, terutama kalangan sarjana Al-Qur’an, di Indonesia.

Menariknya, Tafsir Al-Mishbah yang ditemui saat ini sebenarnya bukan karya tafsir yang langsung ada, tetapi melewati perjalanan panjang, mulai sebelum hingga selesai ditulis. Tujuannya jelas, yaitu upaya menggapai pesan, kesan, dan keseraian Al-Qur’an. Dari sini, Tafsir Al-Misbah dapat disebut kitab tafsir yang diarahkan selalu hidup mengiringi perjalanan kehidupan M. Quraish Shihab, hingga saat ini.

Tulisan ini akan memaparkan secara ringkas proyek Tafsir Al-Mishbah M. Quraish Shihab, terutama apa yang dimaksud pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an. Proses transfomasi Tafsir Al-Mishbah menjadi titik berangkat tulisan ini dalam melihat kerja M. Quraish Shihab memperlihatkan pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an dalam penafsirannya.

Transformasi Tafsir Al-Mishbah: Sebuah Perjalanan Tafsir

Quraish Shihab adalah ulama tafsir kelahiran Bugis pada 16 Februari 1944 di Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Keberadaannya di Indonesia menjadi kebangaan tersendiri bagi bangsa Indonesia, sebab ia banyak memberi sumbangsih besar pada Islam di Indonesia. Bahkan termasuk 500 muslim yang paling berpengaruh di dunia. Tidak heran jika ia ditempatkan sebagai muslim moderat yang banyak dirujuk oleh berbagai kalangan Islam dan non-Islam.

Baca Juga: Quraish Shihab: Ada Isyarat Kedamaian Pada Ayat-Ayat Perang

Ada sangat banyak karya M. Quraish Shihab, baik yang tertulis maupun dalam bentuk lisan. Tidak jarang karya tulisnya disampaikan kembali dalam bentuk lisan, atau sebaliknya. Kitab Tafsir Al-Misbah dapat disebut sebagai salah satu karya fenomenal M. Quraish Shihab. Kitab tersebut merupakan hasil upaya M. Quraish Shihab melakukan penafsiran dengan gaya baru dari yang telah dilakukan dalam kitab Tafsir Al-Qur’an al-Karim (1997) yang dipaparkan secara tartib nuzuli –yakni berdasarkan turunnya surah, yang dimulainya dengan surah Al-Fatihah.

Proyek kitab Tafsir Al-Mishbah yang dicetak pertama kali pada tahun 2002 hingga pada tahun 2021 ini terus dilakukan cetakan terbaru dengan model dan gaya yang semakin menarik. Hal ini menunjukkan bahwa kitaf Tafsir Al-Misbah mendapat tempat tersendiri di kalangan pembacanya, dari berbagai kalangan. Bahkan, tafsir Al-Misbah ini tidak berhenti disajikan dalam bentuk kitab (tulisan), tetapi tetapi berlanjut hingga kajian yang dikenal “Kajian Tafsir Al-Mishbah” sejak tahun 2004.

“Kajian Tafsir Al-Mishbah” merupakan kajian yang ditayangkan dalam program televise nasional, bahkan telah tersedia dalam Youtube. Melalui program ini, M. Quraish Shihab menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan metode tahlili. Lebih jauh, M. Quraish Shihab memaparkan kandungan dan penafsiran Al-Qur’an berdasarkan susunan mushafi, yakni dari surah Al-Fatihah hingga surah Al-Nas.

Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an

Sebenarnya, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an adalah ungkapan yang menjadi subtitle dari Tafsir Al-Misbah yang menjadi judul karya fenomenal M. Quraish Shihab di atas, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Pengungkapan pesan, kesan dan keserasian dalam tulisan ini memberi penekanan bahwa bagian penting dalam penafsiran M. Quraish Shihab adalah penggapaian pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an yang bermuara pada tema-tema pokok dan tujuan surah.

Ungkapan ‘pesan Al-Qur’an’ yang hendak digapai melalui kitab Tafsir Al-Misbah menunjukkan bahwa ada pesan utama dalam setiap ayat Al-Qur’an yang dapat digapai dan ditemukan melalui memahami tema-tema pokok setiap surah Al-Qur’an. Sehingga, ketika 114 surah dapat dipahami tema-tema pokoknya, maka ia dapat memahami pesan Al-Qur’an yang menjadikan kitab Suci ini dikenal lebih dekat dan mudah.

Ungkapan ‘kesan Al-Qur’an’ menunjukkan bahwa dengan memahami tema-tema pokok dan tujuan surah dapat memunculkan kesan yang benar. Yang dimaksud kesan keliru di sini adalah adanya pengkhususan satu surah tertentu dibandingkan surah lainnya. Menurut M. Quraish Shihab, memahami tema-tema pokok Al-Qur’an atau tujuan surah tersebut akan membantu mengatasi dan meluruskan kesan yang keliru tersebut.

Sementara ungkapan ‘keserasian Al-Qur’an’ menunjukkan bahwa sistematika penyusunan ayat dan surah dalam Al-Qur’an mempunyai keserasian yang di dalamnya mengandung unsur pendidikan yang sangat menyentuh. Dengan memahami tema-tema pokok Al-Qur’an dan menunjukkan keserasian surah dengan temanya, maka akan membantu menghilangkan kerancuan dan kekacauan yang dimiliki oleh siapa saja yang melakukannya.

Baca Juga: Merawat Nilai-nilai Kebangsaan dalam Tafsir Lisan M. Quraish Shihab

Dari sini, dapat dikatakan bahwa M. Quraish Shihab melalui proyek Tafsir Al-Mishbah hendak menyampaikan kepada seluruh umat Islam, terutama pembacanya, bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab Suci yang dibaca penuh keimanan, tetapi lebih dari itu. Al-Qur’an semestinya dipahami, dikaji, dan dimaknai sehingga pesan, kesan, dan keserasiannya dapat dirasakan oleh pembacanya. [] Wallahu A’lam.

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 47-50

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 47-50 berbicara perihal janji Allah kepada penduduk surga bahwa akan dicabut dalam diri mereka sifat-sifat buruk yang terpedam sewaktu di dunia, dan menggantinya menjadi sifat yang kasih terhadap sesama, dan kebahagian kan selalu membersamai mereka dengan sifat yang demikian.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 41-46


Janji lain yang Allah terangkan dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 47-50 adalah penduduk surga tidak akan pernah merasakan letih dan khawatir sebagaimana yang mereka rasakan ketika di dunia. Sehingga yang mereka rasakan hanyalah ketentraman dan kesenangan semata ketika berada di surga.

Ayat 47

Allah berjanji akan mencabut dari hati penduduk surga segala macam dendam, kebencian, dan rasa dengki yang telah terpendam selama mereka hidup di dunia, dan menjadikan mereka hidup bersaudara dan berkasih sayang. Mereka senantiasa bergembira bersama-sama dan duduk berhadap-hadapan di atas permadani yang terhampar.

Diriwayatkan oleh al-Qasim dan Abu Umamah, ia berkata, “Semula ahli surga ketika masuk surga masih membawa apa yang telah tersimpan dalam hati mereka selama hidup di dunia, seperti rasa dengki dan dendam, hingga mereka duduk berhadapan dengan temannya di atas dipan dalam surga.

Allah lalu mencabut segala yang tersimpan di dalam hati mereka itu.” Kemudian Abu Umamah membaca ayat ini.

Keadaan penghuni surga itu diterangkan pula dalam firman Allah swt:

عَلٰى سُرُرٍ مَّوْضُوْنَةٍۙ ١٥مُّتَّكِـِٕيْنَ عَلَيْهَا مُتَقٰبِلِيْنَ ١٦يَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُوْنَۙ ١٧بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَۙ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۙ ١٨لَّا يُصَدَّعُوْنَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُوْنَۙ ١٩وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُوْنَۙ ٢٠وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَۗ ٢١وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ    ٢٢كَاَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُوْنِۚ  ٢٣

Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata, mereka bersandar di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan apa pun yang mereka pilih, dan daging burung apa pun yang mereka inginkan. Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik. (al-Waqi’ah/56: 15-23).


Baca Juga: Perjanjian Manusia dengan Allah Sebelum Lahir ke Dunia


Ayat 48-50

Penduduk surga tidak pernah merasa letih dan lelah, karena mereka tidak lagi dibebani oleh berbagai usaha untuk melengkapi kebutuhan pokok yang mereka perlukan. Segala sesuatu yang mereka inginkan telah tersedia, tinggal memanfaatkan saja.

Mereka tidak pernah merasa khawatir akan dipindahkan ke tempat yang tidak mereka senangi karena mereka kekal di dalam surga. Mereka akan terus merasakan kenikmatan dan kesenangan yang sudah tersedia.

Pada ayat yang lain Allah swt melukiskan keadaan di dalam surga itu:

الَّذِيْٓ اَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهٖۚ  لَا يَمَسُّنَا فِيْهَا نَصَبٌ وَّلَا يَمَسُّنَا فِيْهَا لُغُوْبٌ

Yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.” (Fathir/35: 35).

Hadis Nabi saw menjelaskan keadaan surga:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ اللهَ أَمَرَنِيْ اَنْ اُبَشِّرَ خَدِيْجَةَ بِبَيْتٍ فِى الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لاَ صَعْبَ فِيْهِ وَلاَ نَصَبَ.

(رواه البخاري و مسلم عن عبد الله بن أوفى)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah (yang akan ditempatinya) di surga yang terbuat dari bambu, tidak ada kesulitan di dalamnya, dan tidak ada pula kelelahan.” (Riwayat a-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin Aufa)

Dari keterangan di atas, maka keadaan orang-orang beriman dalam surga itu dapat digambarkan sebagai berikut: orang-orang yang beriman berada dalam keadaan terhormat, bersih dari berbagai penyakit hati seperti rasa dengki, iri hati, marah, kecewa, dan sebangsanya.

Tidak pernah merasa lelah, sakit, dan lapar, selalu dalam keadaan senang dan gembira, saling bersilaturrahim, dan bersahabat dengan penduduk surga yang lain, dan mereka kekal di surga sehingga tidak perlu merasa khawatir akan dipindahkan ke tempat yang tidak disenangi.

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Abdullah bin Zubair bahwa Rasulullah saw menegur para sahabat yang tertawa ketika beliau lewat di hadapan mereka. Beliau berkata, “Apa yang menyebabkan kamu tertawa?.” Maka turunlah ayat ini sebagai teguran kepada Nabi saw agar membiarkan mereka tertawa karena Allah Maha Pengampun di samping siksa-Nya yang sangat pedih.

Diriwayatkan pula oleh Abµ Hātim dari Ali bin Abi Husain bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan Abu Bakar dan Umar bin al-Khathab, yang mana rasa dengki keduanya telah dicabut Allah dari dalam hatinya. Ketika ditanya orang, “Kedengkian apa?”

Ali bin Abi Husain menjawab, “Kedengkian jahiliyah, yaitu sikap permusuhan antara Bani Tamim (Kabilah Abu Bakar) dan Bani Umayyah.” Ketika Abu Bakar terserang penyakit pinggang, Ali memanaskan tangannya dan dengan tangannya ia memanaskan pinggang Abu Bakar, maka turunlah ayat ini.

Pada ayat ini, Allah swt menjelaskan janji dan ancaman-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menyampaikan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia bersedia menghapus segala dosa, jika seseorang telah bertobat dalam arti yang sebenarnya dan kembali menempuh jalan yang diridai-Nya. Allah tidak akan mengazab hamba-hamba-Nya yang bertobat.

Allah juga memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada hamba-Nya bahwa azab-Nya akan menimpa orang yang durhaka dan berbuat maksiat dan tidak mau bertobat atau kembali ke jalan-Nya. Azab-Nya itu sangat pedih, dan tidak ada bandingannya di dunia ini.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 51-56


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 41-46

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Melaui Tafsir Surah al-Hijr Ayat 41-46 Allah menegaskan bahwa tidak semua yang dibicarakan Iblis itu benar, sedangkan mereka yang tergoda kepada rayuan Iblis hanyalah hamba yang lemah imannya. Berbeda dengan mereka yang imannya kuat, lagi teguh dalam ketakwaan, maka Allah menjamin mereka tetap lurus dan terjaga dari rayuan setan.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 34-40


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 41-46 juga menjelaskan bagaimana keadaan hamba-hamba yang ingkar dan berlaku dosa kelak ketika masa penghakiman dihadapan Allah, mereka akan ditempatkan di neraka-neraka, sesuai dengan dosa yang mereka lakukan. Sedangkan mereka yang taat dan lurus, mereka akan mendapatkan surga dengan segala kenikmatan didalamnya.

Ayat 41-44

Allah swt mengecam Iblis dengan ayat ini bahwa apa yang dinyatakan Iblis itu tidak semuanya benar karena ia tidak dapat memperdaya hamba-hamba-Nya yang saleh. Ini dikatakan Allah sebagai jalan yang lurus. Dia memberi pahala semua amal baik seorang hamba dan membalas dengan siksa semua amal buruk seseorang.

Untuk menghilangkan keragu-raguan yang mungkin dipahami pada ayat-ayat yang lalu maka Allah swt menegaskan dalam ayat ini, bahwa hamba-hamba Allah yang ikhlas beriman tidak seorang pun yang dapat dikuasai setan.

Semuanya telah diberi taufik untuk beriman, melaksanakan perintah-perintah Allah, dan menghentikan semua larangan-Nya. Godaan apapun tidak akan mempengaruhi iman mereka. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya yang lain:

وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَآ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, ”Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim/14: 22).

Firman Allah swt:

اِنَّهٗ لَيْسَ لَهٗ سُلْطٰنٌ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ ٩٩ اِنَّمَا سُلْطٰنُهٗ عَلَى الَّذِيْنَ يَتَوَلَّوْنَهٗ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِهٖ مُشْرِكُوْنَ ࣖ  ١٠٠  .

Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (an-Nahl/16: 99-100)

Kemudian Allah swt mengancam setan dan pengikut-pengikutnya dengan neraka Jahanam sebagai pembalasan bagi segala macam kejahatan yang pernah mereka perbuat.

Allah swt menerangkan keadaan neraka yang akan didiami oleh orang-orang yang sesat, yaitu terdiri atas tujuh tingkat. Tiap-tiap tingkat didiami oleh orang-orang yang dosa dan hukumannya sesuai dengan tingkat kejahatan yang telah mereka perbuat.

Menurut Ibnu Juraij, neraka itu tujuh tingkat, pertama Jahannam; kedua Laza’; ketiga Huthamah; keempat: Sa’³r; kelima Saqar; keenam Jahim; dan ketujuh Hawiyah. Masing-masing tingkat ditempati sesuai dengan kadar dosa mereka.

Dari ayat-ayat ini dapat dipahami bahwa manusia mempunyai dua macam sifat yang menonjol, yaitu pertama, mempunyai sifat yang suka mengikuti hawa nafsu dan terpengaruh oleh kehidupan dunia dengan segala macam kenikmatan hidup yang memesona dirinya. Mereka inilah orang-orang musyrik yang mudah dipengaruhi setan.

Kedua, manusia yang mempunyai sifat percaya kepada Allah dan rasul, jiwanya bersih dan mulia, hubungannya dengan Allah sangat dekat, dan suka kepada kebaikan. Golongan ini tidak dapat dipengaruhi oleh setan karena hati mereka telah cenderung kepada Allah swt.


Baca Juga: Kajian Semantik Kata Surga dan Neraka dalam Al-Quran 


Ayat 45

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang bertakwa akan ditempatkan dalam surga dengan taman-taman yang memiliki beberapa mata air yang mengalir. Pada firman Allah swt yang lain diterangkan pula sifat surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa itu, sebagaimana firman Allah:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ ۗفِيْهَآ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّاۤءٍ غَيْرِ اٰسِنٍۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ ۚوَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ ەۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۗوَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَاۤءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَاۤءَهُمْ

Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong? (Muhammad/47: 15).

Yang dimaksudkan dengan orang-orang yang bertakwa ialah orang yang menjaga dirinya dari azab Allah dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Ayat 46

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang bertakwa dipersilakan masuk ke dalam surga. Di sana mereka akan selamat, sejahtera, aman, dan sentosa, serta tiada rasa takut sedih, dan gundah. Tidak ada suatu apa pun yang mengganggu ketenangan perasaan mereka, dan tidak ada bencana yang akan menyusahkan, bahkan Allah akan menurunkan nikmat yang tiada putus-putusnya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 47-50


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 34-40

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Sebelumnya telah dibahas tentang iblis yang diusir dari surga akibat keangkuhannya atas perintah Allah Swt. Adapun Tafsir Surah al-Hijr Ayat 34-40 menceritakan tentang keadaan Iblis setelah diusir dari surga, mereka bahkan tidak meminta ampun kepada Allah Swt. Justru meminta izin untuk mengajak anak cucu adam membersamai mereka di neraka, yakni dengan menggoda mereka untuk melakukan kejahatan sewaktu di dunia.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 28-33


Ayat 34-38

Allah swt menjawab keingkaran Iblis dengan memerintahkannya agar keluar dari surga atau dari golongan malaikat. Akibat pengingkaran itu, Iblis telah jauh dari rahmat Allah, dikenai hukuman, dan terus menerus mendapat kutukan-Nya sampai hari pembalasan nanti.

Dalam firman Allah yang lain, diterangkan bahwa Iblis diusir dari surga karena ia menyombongkan diri dan termasuk golongan orang-orang yang hina. Allah swt berfirman:

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَكَ اَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَاخْرُجْ اِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيْنَ

(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguh-nya kamu termasuk makhluk yang hina.” (al-A’raf/7: 13).

Setelah mendengar keputusan Allah itu, Iblis menyatakan menerima hukuman itu. Akan tetapi, ia mohon kepada Tuhan agar umurnya dipanjang-kan sampai hari ketika manusia dibangkitkan dari kubur.

Permohonan Iblis itu dikabulkan Allah dan ia akan hidup terus-menerus sampai akhir zaman hingga tiupan sangkakala yang membangkitkan manusia dari kubur.


Baca Juga: Ketika Iblis Membangkang Sujud Kepada Adam


Ayat 39-40

Karena telah dikutuk dan dilaknat Allah dengan menjauhkannya dari nikmat-Nya dan menjadikan ia sesat dan hina, Iblis memohon supaya Allah memberi kesempatan untuk menyesatkan anak cucu Adam dengan menjadikan perbuatan jahat menjadi baik menurut pandangannya.

Dengan demikian, akan menarik hati mereka sehingga tanpa disadari mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat itu. Namun hal itu tidak berlaku bagi hamba-hamba yang ikhlas dan saleh, yang tidak dapat dipalingkan dari kebenaran.

Menurut sebagian mufasir, setelah dikutuk, Iblis tidak memohon ampun kepada Allah, tetapi malahan bersumpah akan menipu dan memperdaya anak cucu Adam sampai hari kiamat, kecuali hamba-hamba yang saleh dan ikhlas.

Mereka tidak dapat ditipu dan diperdaya karena kekuatan imannya, berdasarkan firman Allah swt:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ  ٨٢  اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ  ٨٣

(Iblis) menjawab, ”Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (Hud/38: 82-83).

Sumpah ini benar-benar dilaksanakan dan diwujudkan Iblis dengan segala kemampuan yang ada padanya, sebagaimana firman Allah swt:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ  ١٦  ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ  ١٧

(Iblis) menjawab, ”Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (al-A’raf/7: 16-17).

Allah swt menyatakan bahwa Iblis dapat memenuhi target sumpahnya dengan menyesatkan sebagian besar manusia. Allah berfirman:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin. (Saba’/34: 20).

Orang-orang yang mengikuti setan dan Iblis menjadikannya sebagai pimpinan mereka, sebagaimana firman Allah swt:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْاٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (al-A’raf/7: 27);

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 41-46


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 28-33

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 28-33 menceritakan kembali tentang proses ketika hendak menciptakan manusia, yakni Adam. Dimana ada perdebatan dikalangan malaikat yang khawatir jikalau manusia nantinya akan berlaku zalim dikala di dunia.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 25-27


Namun, Allah menepis keraguan malaikat dan memerintahkan mereka serta seluruh mahluk untuk bersujud pada Adam, kecuali Iblis yang menolak. Sikap Iblis yang merasa lebih mulia dari Adam mendapat kecaman dari Allah, hingga kemudian mengutuk dan mengusir Iblis dari syurga, serta menjamin bahwa Iblis akan ditempatkan di neraka selama-lamanya.

Ayat 28-33

Pada ayat ini, Allah swt memerintahkan agar Nabi Muhammad saw mengingatkan umatnya, tatkala Allah mengatakan kepada para malaikat tentang maksud-Nya untuk menciptakan Adam.

Dia akan menciptakan manusia dari tanah kering yang berasal dari lumpur hitam, dan jika Dia telah menyempurnakan bentuknya dengan sebaik-baiknya, akan ditiupkan ke dalamnya roh ciptaan-Nya serta akan memerintahkan malaikat dan Iblis sujud kepadanya sebagai penghormatan kepadanya.

Perintah Allah ini dilaksanakan oleh para malaikat dengan patuh dan khidmat, kecuali Iblis. Ia enggan bersujud kepada Adam, karena ia merasa dirinya lebih tinggi derajatnya daripada Adam. Ia diciptakan dari api, sedang Adam diciptakan dari tanah.

Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa peristiwa penciptaan Adam dan peristiwa pengingkaran Iblis terhadap perintah Allah serta ketaatan dan keikhlasan malaikat melaksanakan perintah itu menggambarkan watak dari ketiga macam makhluk Allah tersebut.

Malaikat diciptakan sebagai makhluk yang selalu tunduk dan patuh kepada perintah Allah, tidak pernah mengingkarinya sedikit pun. Oleh karena itu, malaikat dijadikan Allah sebagai pengawal dan pengatur bumi dengan izin-Nya, dan diperintahkan tunduk kepada Adam beserta keturunannya.


Baca Juga: Hakikat Penciptaan Manusia dalam Surah al-Dzariyat ayat 56


Adapun manusia adalah makhluk Allah yang terdiri dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Penggabungan kedua macam unsur ini menyebabkan manusia mempunyai potensi untuk mengambil manfaat dari bumi seluruhnya dengan pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Terbuka berbagai kemungkinan baginya untuk berbuat dan bekerja guna memenuhi dan melengkapi kebutuhan yang diperlukannya dengan menggali dan mengambilnya dari perbendaharaan Allah swt.

Dengan potensi diri dan ilmu pengetahuan, manusia dapat memanfaatkan air, udara, barang tambang, tumbuh-tumbuhan, binatang ternak, garis edar planet-planet, kekuatan listrik, kekuatan atom, dan sebagainya.

Dengan demikian, tampaklah kelebihan manusia dari malaikat dan setan sebagai-mana yang dapat dipahami dari jawaban Allah kepada para malaikat waktu Adam a.s. akan diciptakan Allah. Allah swt berfirman:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ”Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, ”Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, ”Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah/2: 30).

Di atas telah diterangkan keingkaran Iblis yang tidak mau mengikuti perintah Allah agar sujud kepada Adam. Diterangkan pula berbagai alasan yang dikemukakan Iblis sehubungan dengan keingkarannya itu. Sikap Iblis yang demikian menunjukkan kebodohan dan kefasikannya, karena:

  1. Ia menentang perintah Tuhannya, sebagaimana yang dipahami dari jawabannya.
  2. Ia mengemukakan alasan-alasan yang sangat lemah. Alasan-alasan itu menunjukkan kebodohannya sendiri.
  3. Ia tidak mau mengikuti perintah Allah dengan mengatakan bahwa ia lebih baik dari Adam.
  4. Alasan yang dikemukakan bahwa ia lebih baik dari Adam merupakan pendapatnya sendiri tanpa alasan yang dapat diterima oleh akal pikiran.

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 34-40