Beranda blog Halaman 318

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 25-27

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 25-27 berbicara tentang kehidupan di akhirat, bahwa manusia akan dikumpulkan dari kaum terdahulu hingga yang akan datang dan mereka semua tidak akan luput dari kesaksian serta pertanggung-jawaban atas perbuatan selama hidup di dunia.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 23-24


Dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 25-27 juga menjelaskan tentang penciptaan manusia dan jin, bahwa manusia diciptakan dari tanah, sedangkan jin dan setan diciptakan sebelum manusia dari api yang sangat panas. Ada perdebatan dikalangan ulama terkait penciptaan keduanya, dan pertanyaan apakah benar Adam adalah manusia pertama? Dan siapakah yang lebih dahulu diciptakan antara jin dan setan? Berikut penjelasannya.

Ayat 25

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt akan mengumpulkan semua manusia di akhirat nanti, baik yang terdahulu, sekarang, maupun akan datang. Semua mereka akan ditimbang amal perbuatannya, tidak ada satupun yang tidak ditimbang, karena tidak satupun dari perbuatan itu yang luput dari pengetahuan Allah.

Kemudian Dia memberikan pahala dan pembalasan kepada manusia sesuai dengan perbuatan yang telah mereka lakukan. Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui segala sesuatu.


Baca Juga: Keistimewaan Ka’bah dalam Al-Quran dan Pahala Memandangnya


Ayat 26

Ayat ini menerangkan bahwa setelah menyempurnakan bentuk ciptaan-Nya, Allah lalu meniupkan roh kepadanya. Menurut para saintis, kata Hama’ (lumpur hitam) pada ayat ini mengisyaratkan akan terlibatnya molekul air (H2O) dalam proses terbentuknya molekul-molekul pendukung proses kehidupan.

Seperti diketahui “air” adalah media bagi terjadinya suatu proses reaksi kimiawi/biokimiawi untuk membentuk suatu molekul baru. Kata “yang diberi bentuk”, mengisyaratkan bahwa reaksi biokimiawi yang terjadi dalam media berair itu, telah menjadikan unsur-unsur, yang semula ‘hanya’ atom-atom menjadi suatu molekul organik, yang susunan dan bentuknya tertentu, seperti asam amino atau nukleotida.

Pada ayat yang lain, Allah swt menerangkan kejadian manusia itu:

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ   ١٤  وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ    ١٥

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap. (ar-Rahman/55: 14-15).

Secara ilmiah, tembikar adalah semacam porcelain, yang dalam proses reaksi kimiawi dapat digunakan sebagai katalis untuk terjadinya proses polimerisasi.

Kata “tanah kering seperti tembikar” mungkin mengisyaratkan terjadinya proses polimerasasi atau reaksi perpanjangan rantai molekul dari asam-asam amino menjadi protein atau dari nukleotida menjadi polinukleotida, termasuk molekul Desoxyribonucleic Acid (DNA), suatu materi penyusun struktur gena makhluk hidup.

Dan firman Allah swt:

اِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ طِيْنٍ  ٧١  فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ  ٧٢

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ”Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.” (Hud/38: 71-72).

Yang dimaksud dengan insan (manusia) dalam ayat ini, ialah Adam a.s. yang merupakan bapak seluruh manusia. Sebagian ahli tafsir berpendapat Adam yang disebut dalam ayat ini bukanlah manusia pertama, karena sebelum itu Allah swt telah menciptakan beribu-ribu Adam.

Tetapi Nabi Adam adalah nabi pertama yang diberi tugas untuk berdakwah kepada manusia agar mengikuti jalan yang benar.

Dalam hadis Nabi diterangkan proses penciptaan Adam itu. Nabi Muhammad saw bersabda:

اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ اٰدَمَ مِنْ قَبْضَةِ مَنْ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاَرْضِ فَجَاءَ بَنُوْ اٰدَمَ عَلَى قَدْرِ اْلاَرْضِ فَجَاءَ مِنْهُمُ اْلاَحْمَرُ وَاْلاَسْوَدُ وَبَيْنَ ذٰلِكَ وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالطَّيِّبُ وَالْخَبِيْثُ. (رواه أحمد و مسلم عن عائشة)

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakan Adam dari kepalan tanah yang diambil dari segala macam tanah, maka lahirlah anak Adam menurut kadar tanah itu. Di antara mereka ada yang merah, ada yang hitam, dan ada di antara kedua warna itu. Ada yang mudah, ada yang sukar, ada yang baik, dan ada yang buruk. (Riwayat A¥mad dan Muslim dari Aisyah)

Ayat 27

Allah swt menerangkan bahwa Dia telah menciptakan jin dari api yang sangat panas sebelum menciptakan Adam.

Tentang hakikat api ini, hanyalah Allah yang mengetahui. Sesuai dengan hadis di atas bahwa tabiat manusia itu berbeda-beda menurut keadaan tanah yang membentuk dirinya, maka hal ini dapat dijadikan dalil bahwa tabiat jin itu sesuai dengan tabiat asal kejadiannya.

Sebagaimana api bersifat panas, maka tabiat jin pun demikian pula. Api dengan tiba-tiba dapat menggejolak menjadi besar, kemudian tiba-tiba menjadi susut dan kecil.

Demikian pula jin, suka tergesa-gesa, cepat menjadi marah, suka mempermainkan dan menyakiti manusia, kadang-kadang tunduk dan patuh kepada Allah, tetapi serta merta membangkang dan mendurhakai Allah.

Manusia bersifat sesuai dengan sifat asal kejadiannya, seperti bersifat sabar, suka menumbuhkan, mengembangkan, memelihara dan mencari sesuatu yang baik, suka mengindahkan perintah, mempunyai sifat suka tunduk dan patuh, walaupun kadang-kadang ia durhaka kepada Allah karena tunduk dan mengikuti hawa nafsunya.

Dalam hadis qudsi disebutkan asal kejadian malaikat, jin dan manusia berdasarkan riwayat Aisyah:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: خَلَقْتُ الْمَلاَئِكَةَ مِنْ نُوْرٍ وَخَلَقْتُ الْجَآنَّ مِنْ مَارِجٍ مِنَ النَّارِ وَخُلِقَ اٰدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ. (رواه أحمد و مسلم عن عائشة)

Allah swt berfirman, “Aku telah menciptakan malaikat dari cahaya, dan Aku telah menciptakan jin dari nyala api dan telah diciptakan Adam sebagaimana yang telah diterangkan kepadamu.” (Riwayat Ahmad dan Muslim dari Aisyah)

Jin termasuk makhluk Allah. Sebagaimana makhluk Allah yang lain, maka jin itu ada yang taat kepada Allah dan ada pula yang durhaka, sebagaimana firman Allah swt:

وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ  كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ

Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh dan ada (pula) kebalikannya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (al-Jinn/72: 11).

Jin itu diberi beban dan tanggung jawab oleh Allah, sebagaimana manusia diberi beban dan tanggung jawab, ia berkembang dan berketurunan. Hanya saja manusia tidak dapat melihatnya, sedang ia dapat melihat manusia.

Karena itu, jin ada yang tunduk patuh kepada Allah, dan ada pula yang durhaka seperti Iblis. Allah swt berfirman:

وَّاَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَمِنَّا الْقَاسِطُوْنَۗ فَمَنْ اَسْلَمَ فَاُولٰۤىِٕكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

Dan di antara kami ada yang Islam dan ada yang menyimpang dari kebenaran. Siapa yang Islam, maka mereka itu telah memilih jalan yang lurus. (al-Jinn/72: 14).

Menurut Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud dengan jin (jin) dalam ayat ini ialah bapak dari segala jin, sebagaimana Adam adalah bapak dari segala manusia. Sedang Iblis adalah bapak dari segala setan. Jin-jin itu juga makan, minum, hidup, dan mati seperti manusia.

Allah swt berfirman:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْاٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (al-A’raf/7: 27);

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 28-33


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 23-24

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Usai menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan bumi. Tafsir Surah al-Hijr Ayat 23-24 kemudian menerangkan tentang kekuasaan Allah yang lain yakni menghidup dan mematikan apa saja yang ada di bumi, termasuk manusia. Dan Allah pula-lah yang mewarisi apa yang ditinggalkan oleh manusia. Lebih jauh, Allah mengetahui dan mengatur kejadian yang akan datang dan yang telah lampau.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 2)


Ayat 23

Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dialah yang menghidupkan manusia jika Ia menghendaki, dan Dia pula yang mematikannya jika Dia menghendaki.

Selanjutnya, sebagaimana dijelaskan Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya, jika semua yang hidup ini telah mati, maka di saat itu hanya Allah sajalah yang hidup, karena hanya Dia sajalah yang kekal. Kemudian Allah membangkitkan manusia kembali untuk ditimbang dan dihitung amal perbuatannya, sebagaimana firman Allah swt:

لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ ۗرَبُّكُمْ وَرَبُّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ

Tidak ada tuhan selain Dia, Dia yang menghidupkan dan mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu dahulu. (ad-Dukhan/44: 8)

Ayat 23 ini diakhiri dengan ungkapan wa nahnul-waritsun (dan Kami pulalah yang mewarisi). Al-Qāsimi dalam tafsirnya Mahasin at-Ta’wil menjelaskan bahwa Kami (pulalah) yang mewarisi, maksudnya ialah Kamilah yang masih ada dan menerima atau memiliki semua yang telah ditinggalkan manusia yang telah mati. Istilah  waris ini juga digunakan Nabi dalam doanya:

وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا (رواه الترمذي عن ابن عمر)

Dan jadikanlah dia pewaris dari kita. (Riwayat at-Tirmizi dari Ibnu Umar)


Baca Juga: Mengenal Kitab Asas al-Ta’wil: Kitab Tafsir Yang Disusun Berdasarkan Teologi al-Sab’iyah


Ayat 24

Dalam suatu riwayat yang disampaikan oleh at-Tirmizi dan al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas diterangkan bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan wanita cantik yang salat mengikuti Nabi saw.

Oleh karena itu, sebagian sahabat yang ingin salat mengikuti Nabi saw maju ke saf pertama agar tidak dapat melihat wanita itu. Mereka khawatir dengan melihat muka wanita itu salat menjadi batal.

Sedang sebagian sahabat yang lain mundur ke bagian belakang dengan harapan dapat melihat muka wanita itu di waktu rukuk melalui ketiak mereka. Maka turun ayat ini mencela perbuatan sahabat itu.

Allah swt mengetahui maksud para sahabat yang maju ke saf pertama dan maksud para sahabat yang mundur ke saf belakang.

Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat Nabi sebagai manusia ada yang sangat baik, sangat memelihara salat mereka supaya tidak melihat wanita cantik karena khawatir dapat membatalkan salat.

Akan tetapi, ada yang justru ingin melihat wanita cantik itu. Hal ini adalah wajar dan bersifat manusiawi, serta belum sampai pada perbuatan dosa yang melanggar agama.

Sekalipun ayat ini diturunkan dengan peristiwa di atas, tetapi meliputi juga pengetahuan Allah swt terhadap segala yang tersirat dan tergores di dalam hati seseorang.

Berdasarkan sabab nuzul ini, maka Ibnu ‘Abbas mengartikan al-mustaqdimun wal-musta’khirun sebagai keutamaan salat pada saf terdepan dibandingkan dengan salat pada saf paling belakang.

Sebagian ulama mengartikannya dengan pengetahuan terhadap manusia yang diciptakan lebih dulu, manusia sekarang, dan manusia yang diciptakan belakangan.

Arti lain dari al-mustaqdimun wal-musta’khirun adalah Allah mengetahui masa lampau dan masa mendatang manusia. Ada pula ulama yang mengartikan al-mustaqdimun sebagai orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan al-musta’khirun dengan arti sebaliknya.

Pada ayat ini, Allah swt menegaskan bahwa Dialah yang Mahakuasa mengetahui semua yang terdahulu beserta peristiwa yang telah terjadi dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Dia mengetahui apa yang ada sekarang ini, dan mengetahui apa yang terjadi pada masa yang akan datang, tidak satu pun kejadian yang tidak diketahui-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 25-27


Resepsi Al-Qur’an Masyarakat Gogodalem: Khataman Rabu Pon

0
Resepsi Al-Qur’an Masyarakat Gogodalem: Khataman Rabu Pon
Khataman Rabu Pon Masyarakat Gogodalem

Resepsi (penerimaan) simbolis terhadap sebuah karya sastra pada dasarnya terjadi secara dinamis. Karena manusia sebagai pelaku resepsi juga diciptakan secara beragam, kendati tumbuh dan besar dalam kultur yang sama. Buah dari kedinamisan ini yang boleh jadi menyebabkan adanya perkembangan dalam bentuk resepsi, pemunculan model baru misalnya. Apa yang hendak penulis ulas ini barangkali dapat menjadi contoh perkembangan resepsi sebagaimana dimaksud. Resepsi Al-Qur’an sebagai seperangkat simbol-simbol.

Namun demikian, perlu dicatat sebelumnya bahwa ketika penulis mengatakan ‘resepsi terhadap Al-Qur’an’, bukan berarti penulis mengklaim Al-Qur’an sebagai sebuah ‘karya sastra’. Tetapi lebih kepada penjelasan kemungkinan adanya resepsi Al-Qur’an dikarenakan wujudnya yang menyastra.

Selapanan Malam Rabu Pon

Jika term tradisi hanya boleh disematkan kepada sesuatu yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang, sebagaimana KBBI menyebutkan, praktek ini mungkin belum boleh disebut sebagai tradisi. Namun jika menilik tradisi sebelumnya dan prediksi akan mentradisinya praktek ini, boleh lah kita sebut praktek ini sebagai tradisi.

Termasuk bagi masyarakat Gogodalem, tradisi ini memang terbilang cukup baru mengingat perjalanannya yang baru berusia 8 lapan (hingga tulisan ini dibuat). Lapan atau selapan sendiri adalah hitungan kalender Jawa berjumlah 35 hari. Diambil dari hasil perkalian jumlah hari yang ada 7 dengan jumlah pasaran yang ada 5. Namun demikian, akar dari tradisi ini sesungguhnya cukup kuat, yakni tradisi khataman mushaf Blawong yang diselenggarakan setiap tanggal 19 Sya‘ban, sehari sebelum haul awliya’ Gogodalem diadakan.

Karena ‘mengakar’ dari tradisi sebelumnya yang serupa, maka agenda utamanya juga tidak jauh berbeda, yakni khataman mushaf Blawong. Bedanya, tradisi baru ini diadakan selapan sekali, setiap malam Rabu Pon, dengan jumlah yang dibaca dari mushaf Blawong hanya satu juz setiap selapan-nya. Oleh karenanya tradisi ini sering disebut dengan selapanan malam Rabu Pon.

Baca juga: Mengenal Mushaf Al-Qur’an Blawong Gogodalem yang Dianggap Mistis (Part 1)

Memang ada baiknya jika sebelum mengulas tradisi ini, terlebih dahulu penulis mengulas tradisi khataman 19 Sya‘ban, supaya tidak terjadi jumping. Namun karena waktu penyelenggaraannya yang hanya setahun sekali, penulis belum berkesempatan mengikutinya secara langsung untuk kemudian mengamati dan menjelaskan detail ritualnya.

Ritual Tradisi

Rangkaian selapanan malam Rabu Pon ini dimulai usai dilakukannya salat Isya’ di Masjid At-Taqwa. Jamaah dan beberapa ‘tamu’ dari wilayah lain yang berminat mengikuti akan berkumpul bersama-sama di serambi masjid. Mereka duduk bersama membentuk lingkaran dengan jamaah perempuan menempati bagian selatan dan laki-laki di bagian utara. Terkadang ruang yang dipakai bahkan sampai pada teras luar masjid karena saking banyaknya peserta.

Usai menunggu Pak Kiai dan kehadiran peserta juga dianggap telah mencukupi, acara kemudian dimulai oleh seorang MC, membacakan susunan acara yang akan berlangsung.

Acaranya sendiri sebenarnya sangat fleksibel. Seperti kesempatan yang penulis ikuti saat itu, acara yang diselenggarakan sekaligus diperuntukkan peringatan Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad Saw. Sehingga acara yang umumnya hanya terdiri dari khataman, tahlil dan doa, kini ditambah dengan mau‘idzoh hasanah.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, selapanan malam Rabu Pon ini merupakan versi mini dari khataman 19 Sya‘ban, karena itu, jumlah yang dibaca dari mushaf Blawong juga hanya satu juz secara berurutan setiap selapan-nya. Kebetulan yang penulis ikuti saat itu sampai pada juz ke-8.

Adalah KH. Saifuddin yang mendapat kehormatan membaca mushaf Blawong. Kiai Saifuddin memang sudah menjadi ‘pembaca tetap’ pada setiap acara yang berkaitan dengan pembacaan mushaf Blawong, seperti pada khataman 19 Sya‘ban dan selapanan malam Rabu Pon. Beliau sendiri adalah pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Muta‘allimin yang juga dzuriyah awliya’ Gogodalem.

Sementara sisa juz yang tidak dibaca dari mushaf Blawong dibaca dengan Al-Qur’an juz-juzan yang dibagi secara sukarela kepada sejumlah volunteer yang hadir, seperti khataman lainnya. Mereka yang tidak kebagian jatah akan membaca surat Yasin, memperbanyak bacaan surat Al-Ikhlas atau zikir-zikir lain seperti sholawat. Dan ketika semua bacaan telah selesai, Kiai Saifuddin selaku imam ritual akan memberikan komando untuk bersama-sama membaca serangkaian bacaan tahlil dan menutup ritual dengan doa khatam Al-Qur’an.

Baca juga: Mengenal Kajian Resepsi-Living Qur’an Ahmad Rafiq

Bentuk Resepsi Masyarakat

Penulis mengamati bahwa selapanan malam Rabu Pon ini merupakan bentuk resepsi Al-Qur’an oleh masyarakat secara umum dan mushaf Blawong secara khusus. Masyarakat percaya bahwa pembacaan terhadapnya merupakan salah satu media ber-tawasul, menyelesaikan masalah-masalah yang masyarakat tengah hadapi, seperti Covid-19 atau spesifik pada masalah yang melanda wilayah pertanian Gogodalem, yakni hama tikus dan lain sebagainya.

Selain tawasul, tradisi khataman juga dipahami sebagai wujud tabarukan bacaan Al-Qur’an secara umum dan mushaf Blawong secara khusus. Hal ini dapat dilihat pada perilaku warga yang membawa air minum dalam botol-botol untuk ditaruh di depan pembaca mushaf Blawong.

Juga menjadi ajang bersedekah. Terlihat bagaimana masyarakat membawa jamuan masing-masing untuk dinikmati bersama-sama. Menurut penuturan Kiai Ahsin, acara selapanan yang digabung dengan Isra’ Mi‘raj ini terbilang acara besar sehingga jamuannya juga berupa makan besar, nasi tumpeng. Tetapi jika murni acara khataman biasanya hanya dicukupkan dengan snack atau makanan ringan.

Sepanjang perjalanan acara, penulis menyaksikan bagaimana acara ini mampu membangun kedekatan interaksi antar elemen masyarakat. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, kiai dan masyarakat awam, pejabat atau warga sipil, kesemuanya bersatu padu nyengkuyung berlangsungnya acara yang menjadi warisan leluhur Gogodalem.

*****

Terlihat bagaimana sebuah ritual tradisi khataman memiliki muatan nilai-nilai yang sangat kompleks. Tak hanya resepsi terhadap mushaf Al-Qur’an Blawong dan awliya’ yang mendiami Gogodalem. Lebih dari itu, syarat akan rasa persaudaraan dan persatuan. Bagaimana kesemuanya itu diramu dalam sebuah ritual seremonial berbentuk resepsi Al-Qur’an. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Penulis mengajak kepada seluruh pembaca mengunjungi Desa Gogodalem dan mengikuti secara langsung setiap acara yang diselenggarakan disana, entah itu selapanan malam Rabu Pon, mujahadah Ahad Pahing, khataman 19 Sya‘ban atau haul awliya’ Gogodalem, atau sekadar berziarah di makam Sentono, makam para wali Gogodalem.

Baca juga: Tradisi Wirid Yasin di Gogodalem, Semarang

Sa’id Hawwa: Penulis Kitab al-Asas fi al-Tafsir yang Bercorak Sufistik

0
Sa'id Hawwa
Sa'id Hawwa

Sa’id Hawwa merupakan seorang pemikir muslim kontemporer asal Syria atau Suriah. Ia adalah pemikir, mufasir, ahli fikih, dan aktivis terkemuka Ikhawanul Muslimin. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai sufi yang concern terhadap persoalan jiwa manusia. Karena kompetensinya tersebut, Hawwa dianggap sebagai salah satu tokoh muslim berpengaruh abad 20 (Awakening Islam: The Politics of Religious Dissent in Contemporary Saudi Arabia).

Nasab lengkapnya adalah Sa’id bin Muhammad Dib bin Mahmud Hawwa al-Nu’aimiy dan memiliki nama panggilan Abu Muhammad. Ia dilahirkan di Kota Hamah, Syria pada tahun 1935. Menurut otobiografi Hawwa yakni Hadzihi Tajribati wa Hazdzihi Syahadati, keluarga ayahnya adalah keturunan dari suku al-Na`im, yang silsilahnya bersambung kepada Nabi Muhammad, sedangkan keluarga ibunya berasal dari marga al-Muwali.

Masa kecil Sa’id Hawwa cukup sulit dan memilukan, karena pada usia dua tahun ibunya sudah meninggal dunia. Di sisi lain, Ayahnya yang berjuang melawan penjajah Prancis diasingkan secara paksa akibat perseteruan politik. Alhasil, Sa’id Hawwa kecil tumbuh besar di bawah asuhan sang nenek hingga ayahnya kembali ke Hamah (Sa’id Hawwa: The Making of a Radical Muslim Thinker in Modern Syria).

Bisa dikatakan bahwa masa muda Sa’id Hawwa dikelilingi ketidakstabilan situasi politik dan berbagai keterbatasan lainnya. Namun itu semua tidak membuatnya berputus asa dan terkebelakang. Sejak kecil Hawwa gemar menuntut ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama. Karena itulah, ia tumbuh menjadi sosok yang mulia dan berpengetahuan.

Semasa muda, Sa’id Hawwa berguru dengan beberapa ulama besar Syria, di antaranya: Syekh Muhammad al-Hamid, Syekh Muhammad al-Hasyimi, Syekh Abdul Wahab Dabas, Syekh Ahmad al-Murad, dan Syekh Muhammad Ali Murad. Di antara nama-nama tersebut, Syekh Muhammad al-Hamid adalah guru yang paling berpengaruh bagi Hawwa, terutama berkenaan dengan pemikiran tasawufnya.

Baca Juga: Biografi Mahmud Syaltut: Tokoh Perintis Penerapan Tafsir Tematis

Pada tahun 1955, Sa’id Hawwa mendaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Islam Universitas Damaskus. Di sana ia mendapatkan bimbingan beberapa guru seperti Mustafa al-Siba’i. Pada saat bersamaan, Hawwa juga melanjutkan pendidikan tasawuf di bawah bimbingan sejumlah syekh di Damaskus, yang paling terkenal di antaranya adalah Abdul Karim al-Rifa’i dari Masjid Zaid bin Tsabit.

Setelah lulus pada tahun 1961, Sa’id Hawaa lalu menjabat sebagai guru sekolah yang bertanggung jawab atas pembelajaran agama di sebuah kota provinsi al-Hasaka dan kemudian di Kota Salamiyah, berdekatan dengan kota Hamah. Kedekatan kedua kota ini memungkinkan Hawwa untuk tetap aktif dalam gerakan politik di sana dan memainkan peran penting pada kelompok Ikhwanul Muslimin.

Karena meningkatnya ketegangan antara rezim Ba’thist dan Ikhwanul Muslimin di Suriah, Sa’id Hawwa menghabiskan periode antara 1966 dan 1971 di Arab Saudi, di mana ia menulis karya-karya besar pertamanya, termasuk salah satu kitab yang menjadi karya masyhurnya, yakni Jund Allāh Tsaqāfatan wa Akhlāqan (Prajurit Tuhan, Secara Budaya dan Moral).

Sa’id Hawwa baru kembali ke Syria atau Suriah pasca tahun 1971 di mana Detente mengambil Alih kekuasaan. Pada saat itu, Hawwa kembali aktif dalam pergerakan politik dan menggalang para ulama Suriah untuk menentang konstitusi permanen yang diusul Asad. Sebagai akibatnya, ia dipenjarakan di Mezzeh, Damaskus selama lima tahun. Selama ditahan, Hawwa menyelesaikan beberapa karya, termasuk al-Asas fi al-Tafsir.

Selain al-Asas fi al-Tafsir, sepanjang hidupnya Sa’id Hawwa juga menuliskan banyak karya, di antaranya: Allah Jalla Jalaluhu, al-Rasul Shalla Allah alaihi wa al-sallam, al-Islam, al-Asas fi al-Sunnah, al-Asas fi Qawa’id al-Ma’rifah wa Dawabith al-Fahm li al-Nushush, Jaulat fi Fiqhain al_kabir wa al-Akbar, Tarbiyatuna al-Ruhiyah, al-Mustakhlash fi Tazkiya al-Anfus, Mudzakarat fi Manazil al-Shiddiqin wa al-Rabbaniyin, dan fi Afaq al-Ta’lim.

Para sarjana kontemporer berbeda pendapat mengenai orientasi intelektual Sa’id Hawwa. Emmanuel Sivan dalam Radical Islam: Medieval Theology and Modern Politics menyebut Hawwa sebagai “Murid” Sayyid Quthb yang mendukung revolusi Islam. Hal senada disampaikan oleh Stephane Lacroix dalam Awakening Islam: The Politics of Religious Dissent in Contemporary Saudi Arabia. Menurutnya, Hawwa adalah “Convinced Qutbist” atau pengikut setia Quthb.

Di sisi lain, Itzchak Weismann dalam tulisannya Sa’id Hawwa: The Making of a Radical Muslim Thinker in Modern Syria menyebut Hawwa bukanlah pengikut setia pemikiran Quthb, karena ia menolak banyak ide-ide Quthb meskipun pada satu-dua aspek keduanya serupa. Weismann menambahkan, “seluruh kegiatan politik Hawwa di Suriah bertujuan untuk mengekang pengaruh Mawan hadid, orang yang telah membawa pemikiran Quthb ke Suriah.”

Sedangkan Michael Cook menyebutkan dalam The Koran: A Very Short Introduction, Sa’id Hawwa sebenarnya tidak sepenuhnya sama dengan Quthb. Di sana ia menyoroti perbedaan keduanya, terutama pandangan tafsir. Cook menyimpulkan bahwa Hawwa mengambil posisi yang lebih tradisonalis atau literalis dan tidak lebih moderat daripada Quthb. Selain itu, ia juga melemparkan beberapa kritik terhadap penafsiran Hawwa yang dianggapnya radikal.

Sekilas Tentang Kitab Al-Asas Fi Al-Tafsir

Kitab tafsir Sa’id Hawwa berjudul al-Asas fi al-Tafsir. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka maknanya adalah dasar dalam penafsiran. Dinamakan demikian, karena kitab ini sangat memperhatikan hal-hal mendasar dalam penafsiran Al-Qur’an seperti hubungan antar ayat yang memiliki kesesuaian atau biasa disebut munasabah.

Al-Asas fi Al-Tafsir
Al-Asas fi Al-Tafsir karya Sa’id Hawwa

Kitab al-Asas fi al-Tafsir ditulis Sa’ide Hawwa ketika berada dalam penjara Mezzeh. Damaskus, setelah menentang pemerintahan keluarga Asad di Suriah. Kitab ini ditulis dengan beberapa tujuan, yakni: Sa’id Hawwa ingin mengembangkan lebih luas konsep munasabah; anti-tesis terhadap pemahaman baru terhadap teks Al-Qur’an; melawan syubhat dan pertentangan terhadap Al-Qur’an; dan ingin mendekatkan muslim kembali dengan Al-Qur’an.

Kitab al-Asas fi al-Tafsir merupakan karya monumental Sa’id Hawwa yang terdiri dari sebelas jilid tebal. Hal ini mencerminkan komitmennya yang bertujuan untuk mengali hubungan  ayat dan surah Al-Qur’an. Bahkan dalam pengantarnya, Hawwa menulis satu sub-bab khusus berjudul al-Wahdah al-Qur’aniyyah yang berisi tentang prinsip kesatuan ayat dan surah Al-Qur’an.

Secara umum, kitab al-Asas fi al-Tafsir memiliki empat tujuan esensial sebagaimana disampaikan Sa’id Hawwa dalam mukadimah-nya, yaitu: menjelaskan aspek akidah atau (ushuluddin), fikih, ruhiyyah dan sulukiyyah. Dua aspek terakhir merupakan pemaparan tentang kajian tasawuf dan perilaku sufi dalam menempuh jalan tasawuf. Maka tak heran, tafsir ini sangat bernuansa sufistik.

Sama seperti kitab tafsir yang tebal pada umumnya, kitab Kitab al-Asas fi al-Tafsir menggunakan metode tahlili dan berdasarkan tartib mushafi. Namun dengan catatan, metode tahlili-nya tersebut berorientasi pada kesatuan ayat dan surah Al-Qur’an. Sebagai contoh, ketika hendak menafsirkan sebuah surah, Hawaa selalu memberikan pendahuluan yang berisi tentang munasabah surah tersebut dengan surah lainnya.

Secara spesifik, metode penafsiran Sa’ide Hawwa dapat dapat diringkas dalam empat langkah, yakni: pertama, menampilkan beberapa ayat sesuai kelompok munasabah-nya. Ayat-ayat Surah panjang biasanya tergabung pada satu maqta dengan beberapa faqrah. Sedangkan ayat-ayat surah pendek – biasanya surah madaniyah) hanya terbagi kepada satu maqta atau faqrah saja.

Ketika menafsirkan surah Al-Qur’an, Sa’ide Hawwa biasanya terlebih dahulu menjelaskan profil surah tersebut, mulai dari nama surah, tema surah, klasifikasi surah, hubungan dengan surah lain atau kandungan surah secara global. Selain itu, Hawwa biasanya juga menjelaskan riwayat-riwayat yang menerangkan tentang asbab al-nuzul surah.

Kedua, menafsirkan ayat. Pada tahap ini, Sa’id Hawwa menjelaskan makna setiap ayat yang sudah dikelompokkan secara harfiah dan global berdasarkan teks ayat, tinjauan kebahasaan dan uslub. Dalam hal ini Hawwa sering menggunakan rujukan kitab tafsir seperti al-nasafi, Ibnu Katsir, Sayyid Quthb dan al-Alusi. Bisa dikatakan bahwa penafsiran Hawwa tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu pendek seperti Tafsir Jalalain.

Baca Juga: Mohamed Talbi: Penggagas Hermeneutika Historis Humanistik

Ketiga, menjelaskan hubungan susunan ayat (Munasabah). Pada tahap ini, Sa’id Hawwa melakukan kajian terhadap struktur ayat dalam surah. Ia biasanya akan menerangkan tentang hubungan antar faqrah atau maqta dan ayat-ayat lain yang berkaitan. Uraian tentang ini dikemukakan dengan istilah fi al-siyaq. Bisa dikatakan bahwa tahap inilah yang menjadi sumbangsih utama Hawwa.

Keempat, menjelaskan hikmah ayat. Bagian ini dikenal dengan istilah fawaid. Poin ini merupakan upaya penafsiran yang lebih luas dan komprehensif Sa’id Hawwa sebagai seorang mufasir sekaligus sufi berdasarkan konteks ayat. Namun, terkadang pada bagian ini juga terdapat poin tambahan dari penjelasan Hawwa sebelumnya seperti aspek munasabah dan asbab al-nuzul.

Terlepas dari latar belakang dan orientasi keilmuan Sa’ide Hawwa yang dianggap radikal dan konservatif, pemikiran-pemikirannya telah memberi banyak sumbangsih dalam kajian keislaman, terutama di bidang tafsir tentang kesatuan Al-Qur’an dan bidang tasawuf berkenaan tazkiyat al-nafs. Tokoh berpengaruh ini wafat pada tahun 1980 di Amman akibat komplikasi penyakit. Wallahu a’lam.

Berikut Tips Beristikamah dari Tafsir Ayat tentang Istikamah

0
tips beristikamah
tips beristikamah

Salah satu ayat Al-Quran yang memerintah senantiasa beristikamah di jalan Allah yaitu QS. Fushshilat [41]: 6:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya (istikamah) dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.

Ad beberapa hal penting yang disampaikan oleh Allah di dalam ayat di atas, yaitu:

  1. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyatakan bahwa dirinya adalah manusia biasa, seperti umatnya. Yang membedakan beliau dengan umatnya hanya satu, yaitu beliau diberi wahyu oleh Allah Swt.
  2. Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyatakan bahwa Tuhannya adalah Allah Swt, Tuhan umatnya juga adalah Allah Swt., dan Tuhan seluruh umat manusia adalah Allah Swt. Karena, Dialah yang pantas disembah.
  3. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk memerintahkan kepada seluruh umatnya agar menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa itu, dan tetap senantiasa berada di jalan-Nya, jalan yang lurus. Jika umat melakukan yang demikian, maka mereka menjadi manusia yang beruntung.
  4. Allah menyatakan di dalam ayat ini bahwa kecelakaan yang sangat besar bagi manusia yang menyekutukan Allah dan tidak berada di jalan-Nya.

Baca Juga: Apa Saja Jaminan Allah dalam Al-Quran untuk Mereka yang Istikamah?

Sikap istikamah dari seseorang, bisa jadi tinggi pada saat tertentu, boleh jadi berada pada tingkat menengah pada saat tertentu, dan pada saat yang lain bisa rendah. Menjaga sikap istikamah agar tetap stabil pada tingkat yang sangat tinggi memang berat. Untuk menstabilkan sikap istikamah itu, perlu ada upaya-upaya yang dilakukan oleh setiap orang. Berikut tips beristikamah sekaligus hal-hal yang melemahkannya.

Penyebab rendahnya istikamah

Istikamah seseorang bisa menjadi meningkat, dan bisa juga menjadi lemah atau rendah. Hal-hal yang menyebabkan rendahnya istikamah di dalam diri seseorang ialah:

  1. Rendahnya kadar keimanan kepada Allah. Kadar iman yang rendah dapat menjadikan istikamah itu menjadi rendah. Sebaliknya, kadar iman yang kuat akan mendorong istikamah itu menjadi kuat. Ini berarti bahwa pada saat tertentu istikamah bisa menjadi kuat dan pada saat yang lain istikamah menjadi rendah.
  2. Rendahnya komitmen untuk menerima semua anugerah Allah, baik anugerah yang baik dalam bentuk nikmat maupun anugerah yang tidak menyenangkan dalam bentuk ujian dan cobaan Allah. Komitmen untuk menerima semua anugerah Allah akan menyebabkan kadar istikamah seseorang menjadi kuat. Karena itu, terima dengan tulus dan ikhlas apa ayang telah dianugerahkan Allah kepadamu.
  3. Kurangnya pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan. Pengetahuan yang banyak tentang kedua hal itu, akan mendorong seseorang untuk lebih meningkatkan sikap istikamahnya. Karena itu, kita harus belajar terus tentang kebaikan dan keburukan. Kebaikan yang ada dalam pengetahuan kita harus kita amalkan. Keburukan yang ada di dalam pengetahuan harus kita hindari.
  4. Tidak bergaul dengan orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang memiliki sifat istikamah. Bergaullah dengan para ulama dan orang-orang yang memiliki sifat istikamah, agar kita dapat meneladani mereka.
  5. Tergoda oleh kenikmatan sesaat yang bersifat duniawi, sehingga melalaikan kenikmatan akhirat yang hakiki dan kekal abadi. Hati-hatilah dengan kenikmatan yang  diperoleh. Semua kenikmatan akan memudahkan seseorang untuk melupakan Pemberi nikmat. Kenikmatan yang hakiki, yaitu kenikmatan di alam akhirat harus kita perhatikan dengan melakukan amal yang terbaik.
  6. Mudah terpengaruh oleh keadaan, tanpa mempertimbangkan keuntungan yang lebih bermanfaat bagi dirinya. Jangan mudah terpengaruh oleh keadaan yang ada di sekeliling kita. Orang yang mudah terpengaruh oleh keadaan akan menyebabkan rendahnya tingkat istikamahnya.

Baca Juga: Sabar dan Tekad Kuat, Kunci Sukses Menjadi Pemimpin

Tips beristikamah

Sementara itu, agar seseorang senantiasa memiliki sifat istikamah, maka ia harus melakukan berbagai hal, di antara tips beristikamah sebagai berikut:

  1. Tingkatkan iman dengan senantiasa berzikir kepada Allah. Sebab, zikir akan meningkatkan iman. Orang yang kurang berzikir kepada Allah, imannya menurun. Orang yang tidak pernah berzikir, dapat dipastikan imannya berada pada titik nadir, yang sangat rendah.
  2. Tingkatkan ilmu dengan senantiasa mencari dan menuntutnya. Ilmu yang bertambah akan membuat wawasan seseorang menjadi bertambah luas dan dalam. Ilmulah yang mengantarkan seseorang dapat memahami, mendalami, dan menghayati sesuatu. Orang yang rendah ilmunya, pemahaman, penghayatan, dan pendalamannya menjadi berkurang.
  3. Tingkatkan amal dengan melaksanakan berbagai perintah Allah, baik yang wajib maupun yang sunat. Amalan yang wajib membuat kita bertambah cinta kepada Allah, dan amal yang sunat akan membuat kita dicintai oleh Allah. Bertambah banyak dan istikamah seseorang melakukan amal wajib, maka cinta kepada Allah bertambah kuat. Bertambah banyak seseorang melaksanakan amal sunat, maka cinta Allah pun akan bertambah kepadanya. Seseorang meningkatkan amal sesuai dengan pengetahuan dan kemampuannya.
  4. Perbanyak berzikir kepada Allah, dengan melaksanakan berbagai macam amal saleh, baik amal badaniah, seperti salat, amal batiniyah (nafsiyah) seperti puasa, amal lisaniah, mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, dan amal qalbiah, dengan zikir sirri. Berzikir membuat hatimu menjadi tenang dan tidak gampang berbalik.
  5. Perbanyak amal saleh karena amal saleh merupakan obat penyubur bagi hati untuk istikamah. Amal saleh itu akan melahirkan kebaikan bagi diri sendiri, kebaikan bagi orang lain, dan kebaikan bagi Tuhannya. Kesalihan yang dilakukan seseorang akan menjadikan hatinya menjadi stabil, tidak mudah terombang-ambing.
  6. Jangan mudah terpancing dengan godaan yang hanya bersifat duniawi, bersifat sesaat. Pancingan yang mengarah kepada keduniaan begitu banyak, datang dari segala sisi, dari atas, dari depan, belakang, dari arah kanan juga arah kiri. Pancingan itu datang dari berbagai pihak, dari hawa nafsu kita  sendiri, dari orang lain yang ada di sekitar kita, dari barang-barang yang menyilaukan kita, dan dari setan yang senantiasa menggoda.
  7. Kuatkan komitmen bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan dunia kekal abadi. Ingatlah bahwa hidup di dunia ini hanya sesaat dan sebentar. Gunakan kesempatan sesaat itu beramal untuk akhirat. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal dan abadi, tidak ada ujungnya. Kebahagiaan akhirnya akan dapat diraih, jika kita melakukan kebaikan-kebaikan ketika masih berada di dunia ini.
  8. Bergaullah dengan orang yang berilmu dan yang memiliki sifat istikamah. Bersama dengan orang-orang yang berilmu, akan menyebabkan seseorang dapat menimba ilmunya, dan dengan cara ini ia mendapat keberkatan. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat istikamah akan membuat seseorang mendapat keteladanan darinya. Keteladanan yang baik hanya didapat dari orang-orang yang baik.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 18:  Intropeksi Diri, Manajemen Waktu, dan Tabungan Kebaikan dalam Al Quran

Iman yang kuat akan menguatkan istikamahmu. Iman yang rendah akan menurunkan istikamahmu. Perkuatlah imanmu dengan banyak berzikir. Kekuatan iman, ilmu, amal dan dzikirmu memperkuat istikamahmu. Kelemahan iman, ilmu, amal dan zikirmu melemahkan istikamahmu.

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 2)

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Setelah sebelumnya dijelaskan tentang manfaat hujan yang berperan dalam siklus terjadinya hujan. Maka, dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 2) dijelaskan tentang peran lain dari hujan, yakni tentang fenomena botanik yang dikenal dengan penyerbukan atau persarian yang terjadi pada tumbuhan dan buah-buahan.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 1)


Selai itu, Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 2) juga menjelaskan peran lain dari hujan yaitu sebagai pembersih debu pada tumbuhan, sehingga tumbuhan tersebut dapat bernafas dengan baik dan tumbuh besar, dan bisa memberikan manfaat bagi mahluk lain, hingga manfaat itupun bisa manusia rasakan.

Ayat 22 (Part 2)

  1. Allah swt mengembuskan angin yang menerbangkan tepung sari dari beragam bunga. Maka hinggaplah tepung sari jantan pada putik bunga, sehingga terjadilah perkawinan yang memunculkan bakal buah, dan buah-buahan menjadi masak terasa yang lezat dan nikmat bagi manusia serta bijinya dapat tumbuh dan berbuah pula di tempat lain.

Menurut kajiian ilmiah, ayat diatas nampaknya memberikan isyarat tentang proses fenomena botanik yang dikenal dengan penyerbukkan atau persarian. Pada tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae) maka penyerbuk-an atau persarian adalah peristiwa jatuhnya serbuk sari (pollen) pada liang bakal biji (microphyl) yang berhubungan langsung dengan bakal-biji.

Sedangkan pada jenis tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae), maka penyerbukan atau persarian adalah peristiwa jatuhnya serbuk sari (pollen) dari benang sari (stamen) ke kepala putik (stigma). Penyerbukan kemudian diikuti dengan pembuahan atau fertilisasi. Inilah proses perkawinan di dunia botani (tumbuh-tumbuhan).

Penyerbukan memerlukan perantara atau vektor. Berdasarkan perantara atau vektor, maka proses penyerbukan dikelompokkan menjadi penyerbukan oleh angin, air, atau hewan/ serangga. Kalimat dalam ayat diatas yang berbunyi “Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan”, mengisyarat-kan peristiwa penyerbukan dengan perantaraan angin, yang dalam bahasa ilmiah dikenal sebagai anemophily atau anemogamy.

  1. Hembusan angin dapat membersihkan kotoran debu yang hinggap pada batang dan daun tumbuh-tumbuhan, sehingga tumbuh-tumbuhan itu mudah bernafas dan menjadi besar, serta daunnya mudah menyerap sinar matahari yang menambah kekokohan dan kesuburannya.

Hal ini memberikan pelajaran bagaimana manusia membuat perkawinan buatan pada berbagai macam pohon bunga dan buah-buahan. Dengan cara itu dapat dihasilkan bunga dengan buah yang banyak.

Bahkan dengan perkawinan silang antar beberapa jenis buah, dapat dihasilkan bunga yang lebih indah dan lebih banyak warna, serta buah yang lebih lezat atau lebih besar ukurannya.

Dari perkawinan buatan pada tumbuh-tumbuhan, manusia kemudian dapat mengembangkan perkawinan buatan pada beberapa binatang ternak seperti sapi, kambing, kuda, dan lain-lain.


Baca Juga : Inilah Empat Manfaat Hujan dalam Al Quran


Perkawinan buatan ini menghasilkan ternak yang lebih besar dan banyak dagingnya, serta lebih tahan terhadap penyakit. Demikian jika manusia mau belajar dari petunjuk-petunjuk Allah dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Nikmat Allah swt yang lain yang berhubungan dengan air yang diturunkan-Nya dari langit sebagaimana tersebut dalam ayat ini ialah: Allah menurunkan hujan dari langit, kemudian air itu dijadikan bagi manusia sebagai minuman yang dapat melepaskan dahaga, sebagaimana firman Allah swt:

اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ ٦٨ءَاَنْتُمْ اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ   ٦٩  لَوْ نَشَاۤءُ جَعَلْنٰهُ اُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ   ٧٠

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur? (al-Waqi’ah/56: 68-70).

Dan firman Allah swt:

وَهُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۚ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً طَهُوْرًا ۙ ٤٨ لِّنُحْيِ َۧ بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا وَّنُسْقِيَهٗ مِمَّا خَلَقْنَآ اَنْعَامًا وَّاَنَاسِيَّ كَثِيْرًا   ٤٩

Dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih, agar (dengan air itu) Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus), dan Kami memberi minum kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan, (berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak. (al-Furqan/25: 48-49).

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah yang mengatur air hujan kapan diturunkan dan di kawasan mana sesuai dengan kehendak-Nya. Akan tetapi, manusia bertugas mengatur pemakaian dan penyimpanan air di bumi supaya hujan yang merupakan rahmat itu tidak berubah menjadi bencana.

Dengan kehendak-Nya, Allah menganugerahkan air kepada manusia, sehingga mereka dapat minum, mencuci, mengairi sawah dan ladang, dan memberi minum binatang ternak.

Air itu mengairi sungai-sungai, danau-danau, dan lautan yang dapat dilayari manusia dan menjadi salah satu sumber rezeki dan kehidupan yang tidak habis-habisnya. Jika Allah swt menghendaki, disimpan-Nya air itu di dalam tanah atau di perut bumi yang dapat digali dan dipompa oleh manusia yang memerlukannya, terutama pada musim kemarau. Hal ini diterangkan Allah swt dalam firman-Nya yang lain

وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍ فَاَسْكَنّٰهُ فِى الْاَرْضِۖ وَاِنَّا عَلٰى ذَهَابٍۢ بِهٖ لَقٰدِرُوْنَ ۚ

Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya. (al-Mu’minun/23: 18).

Dan firman-Nya:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَلَكَهٗ يَنَابِيْعَ فِى الْاَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهٖ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهٗ حُطَامًا ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ

Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat. (az-Zumar/39: 21)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 23-24


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 1)

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 1) menjelaskan sebagian dari nikmat Allah, yaitu angin. Angin tidak hanya memberikan ruang udara dan berhembus, namun juga berpean dalam proses perkembang-biakan mahluk hidup di bumi. Anginlah yang menggiring awan yang memendam hujan, dan proses terbentuknya hujan, sebagaimana yang dijelaskan dalam kajian ilmiah. Berikut uraiannya.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 20-21


Ayat 22 (Part 1)

Allah menjelaskan sebagian nikmat yang ada dalam perbendaharaan-Nya, yaitu Dia telah mengembuskan angin untuk menyuburkan, mengem-bangkan, dan mengawinkan tumbuh-tumbuhan. Pertumbuhan, perkembang-an, dan perkawinan tumbuh-tumbuhan dengan perantaraan angin itu, maksudnya ialah:

  1. Allah mengembuskan angin yang membawa awan yang mengandung hujan. Semakin lama awan yang diembuskan itu menjadi semakin berat dan hitam, hingga berubah menjadi mendung hitam pekat.

Mengenai proses terbentuknya hujan, berikut penjelasan berdasarkan kajian ilmiah. Untuk menjelaskan terjadinya hujan, maka harus dilihat dalam suatu siklus air yang penuh. Semua air yang menguap, baik yang berasal dari anak sungai, sungai atau laut, membentuk uap air di atmosfer.

Uap ini naik dan akan menjadi dingin saat mencapai atmosfer yang lebih tinggi. Jika terdapat banyak gas di atmosfer maka akan memadat menjadi kelompok gas yang disebut awan. Jika awan tersebut ditiup angin sehingga berkumpul sesamanya, dan naik ke atas sehingga mencapai  bagian yang lebih tinggi lagi di lapisan atmosfer, maka uap air akan berubah menjadi tetes-tetes es.

Debu, atau  apa saja yang ikut menguap kemungkinan akan terperangkap oleh  uap air atau tetes-tetes es. Dengan demikian, volume dan  berat es yang terbentuk itu  akan bertambah.

Ketika awan menjadi lebih dingin karena suhu atmosfer yang lebih rendah, air menjadi padat (es) dan jatuh, awalnya seperti tetes-tetes es  yang sangat  kecil, yang biasanya mencair sebelum mencapai tanah. Dengan demikian, tetes air akan jatuh ke bumi sebagai hujan. Di beberapa pegunungan tinggi atau di bagian dunia  yang dingin, es ini tidak mencair sebelum mencapai tanah, sehingga jatuh  dalam bentuk  salju atau es.


Baca Juga: Mengenal Tujuh Istilah Angin yang Disebutkan dalam Al-Quran


Kemudian dari awan mendung itu turun hujan yang membasahi permukaan bumi, sehingga tanah yang semula kering menjadi subur. Tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman menjadi tumbuh dan berkembang lalu berbunga, berputik, dan berbuah.

Sebagian buahnya hanya dapat dimanfaatkan manusia dan binatang, sedang sebagian yang lain tumbuh dan berkembang lagi untuk melanjutkan keturunan dan mempertahankan jenisnya dari kepunahan.

Sebagian tumbuh-tumbuhan ada yang berkembang dengan menanam bagian batangnya. Dengan siraman air hujan, maka batang yang ditanam ini akan tumbuh dan berkembang.

Secara ilmiah dapat dijelaskan bahwa butiran air hujan mengandung bahan-bahan revitalisasi tersebut biasa dikenal dengan nama “surface tension droplets”. Unsur-unsur ini diperoleh dari lapisan permukaan laut, yang biasa disebut “lapisan mikro” ikut menguap. Pada lapisan luar butir air hujan ditemukan banyak serasah organik yang berasal dari proses pembusukan (dekomposisi) algae renik dan zooplankton.

Beberapa serasah ini mengumpulkan dan menyerap beberapa elemen, seperti fosfor, magnesium dan kalium, yang jarang terdapat dalam air laut. Serasah ini juga mengandung logam berat seperti tembaga, seng, kobalt dan besi.

Tanaman di daratan, dan juga kehidupan di laut sendiri, akan memperoleh sebagian besar garam-garam mineral dan elemen lainnya yang diperlukannya untuk hidupnya bersamaan dengan datangnya air hujan.

Garam-garam yang turun bersama air hujan merupakan suatu miniatur dari pupuk yang biasa digunakan dalam pertanian (unsur-unsur NPK dan sebagainya). Logam berat di udara yang terbawa turun air hujan akan membentuk elemen yang meningkatkan produktivitas pada saat pertumbuhan dan pembuahan tanaman.

Dengan demikian, hujan adalah sumber pupuk yang sangat penting. Para ahli memperkirakan, bahwa dengan pupuk yang dikandung pada butiran hujan saja, dalam waktu 100 tahun, tanah yang miskin hara dapat mengumpulkan semua elemen yang diperlukan untuk tumbuhnya pepohonan.

Hutan juga tumbuh dan memperoleh keperluan hidupnya dari semua bahan kimia yang berasal dari laut. Dengan cara demikian, diperkirakan bahwa setiap tahun,  sekitar 150 juta ton pupuk jatuh ke bumi.

Proses angin meniup awan, hingga menjadi hujan yang membasahi permukaan bumi, menghidupkan tanah yang mati, dijelaskan oleh firman Allah swt:

وَهُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۚ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً طَهُوْرًا ۙ

Dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih. (al-Furqan/25: 48)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 22 (Part 2)


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 20-21

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 20-21 masih berbicara tentang kekuasaan Allah di bumi. Sama halnya dengan di langit, di bumi pun Allah-lah yang menjaga segala ciptaan-Nya. Ia yang memberi rezeki kepada setiap mahluk baik tumbuhan dan hewan, demi membahagiakan manusia supaya bisa memberikan nafkah kepada keluarganya.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 17-19


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 20-21 juga ditegaskan bahwa segala SDA dan SDM yang ada di bumi merupakan ciptaan Allah dan berada dalam kekuasaan-Nya. Keduanya saling terpaut sehingga manusia harus berusaha dan berkerja keras untuk mengolah SDA tersebut.

Selain itu tafsir surah al-Hijr Ayat 20-21 juga mengingatkan manusia sebagai khalifah fi al-Ardh agar selalu berdoa dan bertaubah, meminta ampun kepada-Nya jika terdapat kekeliruan saat menjalani tugas sebagai khalifah. Untuk itu, manusia harus adil, jujur, dan amanah dalam menjalankan tugas tersebut.

Ayat 20

Ayat ini menerangkan anugerah Allah swt yang tidak terhingga kepada manusia, yaitu Dia telah menciptakan bermacam-macam keperluan hidup bagi manusia. Dia telah menciptakan tanah yang subur yang dapat ditanami dengan tanam-tanaman yang berguna dan merupakan kebutuhan pokok baginya.

Dia menciptakan air yang dapat diminum dan menghidupkan tanam-tanaman. Dia juga menciptakan burung yang beterbangan di angkasa yang dapat ditangkap dan dijadikan makanan yang enak dan lezat.

Diciptakan-Nya laut yang di dalamnya hidup bermacam-macam jenis ikan yang dapat dimakan serta mutiara dan barang tambang yang diperlukan oleh manusia dan menjadi sumber mata pencaharian. Laut yang luas dapat dilayari manusia menuju segenap penjuru dunia. Dialah yang menciptakan segala macam sumber kesenangan bagi manusia itu.

Allah swt menciptakan pula binatang-binatang dan makhluk hidup yang lain yang rezekinya dijamin Allah. Allah telah memudahkan pula bagi manusia segala sumber kebutuhan hidup, yang bisa diolah menjadi pakaian, makanan, obat-obatan, dan sebagainya.

Allah menjadikan pula di bumi anak dan cucu sebagai penghibur dan penerus kehidupan manusia. Sebagian manusia menjadi pelayan atau pembantu, dan sebagian lainnya menjadi tuan atau atasan. Allah juga menciptakan binatang peliharaan dan kesenangan.

Ayat ini merupakan peringatan bagi manusia bahwa anak-anak, pembantu-pembantu, dan binatang ternak dijamin Allah rezekinya.


Baca Juga: Makna Khalifah dan Tugasnya Menurut Para Mufasir


Ayat 21

Ayat ini menerangkan bahwa sumber segala sesuatu yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Semua berasal dari khazanah atau simpanan perbendaharaan Allah, baik yang berupa sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM).

Semua yang ada di atas bumi maupun di dalam perutnya diciptakan Allah untuk manusia. Manusia diberi tugas oleh Allah untuk mengelola, mengambil manfaat, dan memeliharanya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah Hud/11 ayat 61:

هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ

…Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (do’a hamba-Nya). (Hud/11: 61).

Untuk dapat mengambil manfaat yang besar dari sumber daya alam (SDA) yang tersedia, manusia perlu mengembangkan kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia (SDM)-nya dengan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemudian untuk betul-betul dapat menggali sumber daya alam itu perlu modal. Dengan kombinasi atau gabungan antara natural resources, yaitu sumber daya alam, skill  atau keterampilan manusia, serta modal yang cukup, manusia dapat meraih rezeki dari Allah untuk kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya.

Hal ini sesuai dengan sunatullah yaitu orang yang diberi rezeki hanyalah yang berusaha dan bekerja keras mencarinya.

Berusaha dan bekerja keras untuk memperoleh rezeki dari khazanah perbendaharaan Allah ini juga harus disertai tanggung jawab untuk memelihara (konservasi) kekayaan dan sumber daya alam, dan tidak merusak serta menghancurkannya.

Oleh karena itu, pada akhir ayat 61 Surah Hud, Allah mengingatkan manusia supaya selalu mohon ampunan dan bertobat kepada Allah, serta menghentikan perbuatan-perbuatan yang merusak tatanan alam yang telah ditentukan dalam sunatullah. Hal ini dapat diketahui dari pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi.

Manusia yang baik menurut tuntunan agama Islam ialah yang dapat melaksanakan tugas dengan baik dalam ibadah dan khilafah (melaksanakan tugas kepemimpinan dan pengelolaan alam yang baik).

Dia memperoleh rezeki dengan bekerja dan berusaha secara baik dan sungguh-sungguh, bukan merusak dan menjadi beban bagi orang lain.

Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh al-Hakim telah memberi tuntunan, antara lain:

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ يَبْعٍ مَبْرُوْرٍ. (رواه الحاكم)

Dari Rifa’ah bin Rafi’ bahwa Nabi saw ditanya orang, “Usaha manakah yang paling baik?” Rasulullah berkata, “Usaha seseorang yang dikerjakan dengan tangannya dan semua jual beli yang mabrur (jual beli yang bersih tidak ada di dalamnya unsur-unsur tipuan, pemaksaan, dan sebagainya).” (Riwayat al-Hakim).

Menurut hadis ini, rezeki yang baik ialah hasil kerja atau usaha yang baik dari orang itu sendiri (bukan pemberian orang lain), dan hasil dari jual beli yang mabrur. Yang  dimaksud dengan jual beli yang mabrur ialah jual beli yang dilakukan secara wajar, saling rela antara penjual dan pembeli, tanpa paksaan dan tidak ada kebohongan. Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (an-Nisa’/4: 29).

Menikmati rezeki dari usaha dan keringat sendiri atau hasil dari jual beli adalah cara terhormat sebagai manusia muslim, bukan karena pemberian dan belas kasihan orang lain dan bukan pula karena usaha yang dilarang agama, seperti mengambil hak, atau jual beli dengan memaksa atau tipu muslihat.

Allah Mahaadil dan Mahabijaksana dalam memberikan rezeki kepada para hamba-Nya. Maksudnya ialah memberikan dengan ukuran tertentu, sesuai dengan kebutuhan, keadaan, kemampuan, dan usaha orang tersebut. Dengan demikian, dalam pemberian rezeki tersebut tergambar kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya. Allah swt berfirman:

قُلْ لِّمَنْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ  قُلْ لِّلّٰهِ ۗ كَتَبَ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۗ

Katakanlah (Muhammad), ”Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?” Katakanlah, ”Milik Allah.” Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang pada diri-Nya. (al-An’am/6: 12).

Penganugerahan karunia dan nikmat Allah kepada para hamba-Nya itu disebutkan dalam Al-Qur’an dengan perkataan anzala (menurunkan), sebagaimana tersebut dalam firman-Nya yang lain:

وَاَنْزَلَ لَكُمْ مِّنَ الْاَنْعَامِ ثَمٰنِيَةَ اَزْوَاجٍ ۗ

…Dan Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak untukmu… (az-Zumar/39: 6).

Dan firman Allah swt:

وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

…. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia…. (al-Hadid/57: 25).

Sesuatu dikatakan turun apabila ia berpindah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, baik dalam arti yang sebenarnya maupun dalam arti kiasan.

Oleh karenanya, dari ayat ini dapat dipahami bahwa nikmat dan karunia itu berasal dari Allah Yang Mahatinggi lagi Mahakaya, dianugerahkan kepada makhluk yang lebih rendah daripada-Nya. Semua makhluk tergantung seluruh hidup dan kelanjutan kehidupannya kepada nikmat dan karunia Allah.

Dengan demikian, merupakan suatu kewajiban bagi setiap makhluk mensyukuri nikmat dan karunia Allah dengan menghambakan diri kepada-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 22-23


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 17-19

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 17-19 masih menyinggung tentang kekuasaan Allah yang selalu dijaga dan dirawat. Terutama kekuasaan-Nya di langit, yang mendapat penjagaan super ketat oleh para Malaikat untuk menghalau jin dan setan yang berusaha mencuri informasi-informasi yang seharunya tidak boleh diketahui.

Dikisahkan pula dalam tafsir surah al-Hijr Ayat 17-19  bahwa jika mereka mendekati langit dan berniat mencuri informasi, maka mereka akan dikejar oleh panah-panah api yang siap membakar. Sehingga tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui informasi tersebut, kecuali atas kehendak-Nya.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 14-16


Setelah menjelaskan kekuasaan Allah di langit, dalam tafsir surah al-Hijr Ayat 17-19 juga menjelaskan tentang kekuasaan-Nya di bumi. Bahwa bumi yang terdiri dari; gunung, pohon, lautan, daratan, hewan, tumbuhan, serta segala isinya khusus Dia ciptakan untuk manusia. Supaya manusia bisa memanfaatkan fasilitas tersebut demi kemaslahatan bersama.

Ayat 17-18

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt menjaga langit dan isinya dari setan yang terkutuk. Pada ayat yang lain Allah swt berfirman:

وَحِفْظًا مِّنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ مَّارِدٍۚ

Dan (Kami) telah menjaganya dari setiap setan yang durhaka. (ash-Shaffat/37: 7).

Sementara itu ada setan yang tidak mengindahkan larangan-larangan Allah. Ia mencari berita yang mungkin didengarnya dari para malaikat, maka setan-setan yang demikian itu diburu oleh semburan api yang membakar, sehingga ia lari dan tidak sempat mendengar pembicaraan para malaikat itu. Hal ini dijelaskan oleh firman Allah swt:

لَا يَسَّمَّعُوْنَ اِلَى الْمَلَاِ الْاَعْلٰى وَيُقْذَفُوْنَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍۖ

Mereka (setan-setan itu) tidak dapat mendengar (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. (as-Shaffat /37: 8).

Dan firman Allah swt:

وَّاَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاۤءَ فَوَجَدْنٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَّشُهُبًاۖ  ٨  وَّاَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِۗ فَمَنْ يَّسْتَمِعِ الْاٰنَ يَجِدْ لَهٗ شِهَابًا رَّصَدًاۖ  ٩

Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (al-Jinn/72: 8-9).

Seperti yang tersebut di atas bahwa ada beberapa ayat yang menerangkan berbagai usaha setan untuk mendengarkan pembicaraan para malaikat di langit, tetapi sebelum sempat ia mendengarkannya, ia dikejar dan dibakar oleh semburan api yang panas.

Hal ini termasuk perkara yang gaib karena sukar diketahui dan tidak dapat dilihat oleh mata manusia dan tidak dapat pula diketahui hakikatnya, serta bukti-bukti yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan maksud ayat yang sebenarnya.

Karena yang menerangkan hal ini adalah Al-Qur’an dan pikiran manusia belum sampai kepadanya, maka bagi kaum Muslimin wajib mengimaninya, dan percaya bahwa langit dan bumi serta alam semesta ini adalah milik Allah Yang Maha Pencipta.

Allah swt menjaga dan mengatur semua milik-Nya itu. Bagaimana cara Dia mengatur dan menjaga, sangat sedikit pengetahuan manusia tentang hal itu. Demikian pula bagaimana setan mengintip pembicaraan para malaikat dan bagaimana bentuk semburan api itu memburu setan. Hanya Allahlah Yang Mengetahui.


Baca Juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 33-35: Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Swt di Muka Bumi


Ayat 19

Setelah Allah swt menerangkan tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya di langit, dalam ayat ini Allah menerangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang dapat dilihat, diketahui, dirasakan, dan dipikirkan oleh manusia.

Di antaranya, Allah menciptakan bumi seakan-akan terhampar, sehingga mudah didiami manusia, memungkinkan mereka bercocok tanam di atasnya, dan memudahkan mereka bepergian ke segala penjuru dunia mencari rezeki yang halal dan bersenang-senang.

Allah menciptakan di bumi jurang-jurang yang dalam dan dialiri sungai-sungai yang kecil yang kemudian bersatu menjadi sungai yang besar menuju lautan luas.

Diciptakan-Nya pula gunung-gunung yang menjulang ke langit, dihiasi oleh aneka ragam tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang menghijau, yang menyenangkan hati orang-orang yang memandangnya, sebagaimana firman Allah:

وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَرْضَ وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْهٰرًا ۗوَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ   ٣

Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. (ar-Ra’d/13: 3).

Ayat 19 Surah al-Hijr ini menyiratkan bagaimana proses geologi berjalan puluhan, ratusan bahkan jutaan tahun. Berdasarkan kajian saintis, pada dasarnya proses geologi berupa siklus yang tiada berhenti.

Di dasar lautan, seperti di Lautan Pasifik misalnya, berjalan suatu proses penghamparan material-material magmatik yang keluar dari punggungan tengah samudra secara terus-menerus dan membentuk lempeng samudra [lihat keterangan an-Naml/27: 88 dan at-Thur/52: 6].

Lempengan ini terus bergerak dan menabrak lempengan lainnya.

Sementara itu berjalan pula proses erosi yang bermula dari tempat-tempat yang tinggi dan untuk kemudian material hasil erosi ini  dihamparkan dan diendapkan pada tempat-tempat yang lebih rendah.

Endapan ini kemudian mengalami tekanan akibat pergerakan lempengan-lempengan dan membawa lapisan-lapisan batuan hasil erosi ini tertekuk dan terangkat, sampai membentuk pegunungan. Lihat pula an-Nahl/16: 15 yang terkait dengan ayat ini.

Betapa agungnya Allah yang menciptakan semuanya itu yang dapat dirasakan manfaat dan nikmatnya oleh manusia, tetapi kebanyakan mereka ingkar kepada Sang Penciptanya.

Allah telah menciptakan beraneka ragam tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan, masing-masing mempunyai ukuran dan kadar yang ditentukan. Pohon durian yang batangnya kokoh itu serasi dengan buahnya yang besar dan berduri. Batang padi serasi dan sesuai pula dengan buahnya yang bertangkai dan tanah untuk tempat tumbuhnya.

Demikian pula tumbuh-tumbuhan yang lain diciptakan Allah seimbang, serasi, dan sesuai dengan iklim, keadaan daerah, dan keperluan manusia atau binatang tempat ia tumbuh. Sementara itu, perbedaan daerah dan tanah tempat tumbuh suatu pohon akan menimbulkan perbedaan rasa dan ukuran buahnya.

Unsur gula di dalam tebu berlainan dengan unsur gula dalam air kelapa, berlainan manisnya dengan mangga dan jeruk. Buah salak sewaktu masih berupa putik dikelilingi oleh duri-duri yang tajam, tetapi setelah ia masak, seakan-akan duri-duri itu menguakkan diri, sehingga mudah untuk manusia mengambil buahnya yang rasanya manis.

Putik pepaya pahit rasanya sewaktu masih kecil, sehingga manusia tidak mau mengambil dan memakannya. Semakin besar putiknya itu, semakin berkurang rasa pahitnya, dan semakin dekat pula manusia kepadanya. Setelah masak, buahnya dipetik dan menjadi makanan yang disenangi.

Demikian Allah menciptakan sesuatu dengan ukuran dan kadar yang tertentu, sehingga melihat kesempurnaan ciptaan-Nya itu akan bertambah pula iman di dalam hati orang yang mau berpikir dan bertambah pula keyakinan bahwa Allah adalah Maha Sempurna.

Allah swt berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَ جَنّٰتٍ مَّعْرُوْشٰتٍ وَّغَيْرَ مَعْرُوْشٰتٍ وَّالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ  كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖٓ اِذَآ اَثْمَرَ وَاٰتُوْا حَقَّهٗ يَوْمَ حَصَادِهٖۖ وَلَا تُسْرِفُوْا ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ

Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. (al-An’am/6: 141)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 20-21


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 14-16

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 14-16 diawali dengan ulasan sikap ingkar orang kafir  dalam menerima kebenaran. Bahkan jikapun permintaan mereka terpenuhi – agar bisa melihat tanda-tanda kekuasaan Allah seperti malaikat – tetap saja mereka tidak akan beriman.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 10-13


Dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 14-16 juga dijelaskan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah, diantara yang disebutkan adalah bulan; matahari, bintang, langit, planet-planet, siang, malam, serta perubahan cuaca. Semuanya merupakan tanda dari kekuasaan Allah, hanya saja manusia tidak mau berfikir dan acuh terhadap tanda-tanda yang melimpah tersebut.

Ayat 14-15

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang musyrik Mekah itu adalah orang-orang yang sangat ingkar dan tidak mau menerima kebenaran. Keadaan mereka seperti itu dilukiskan Allah dalam ayat ini. Seandainya Allah membukakan pintu-pintu langit bagi mereka dan menyediakan tangga untuk naik ke langit itu, maka mereka pun akan naik.

Seandainya mereka melihat malaikat-malaikat di langit atau suatu keajaiban yang merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, mereka tidak akan mengakuinya, bahkan mereka mengatakan:

“Mata kami telah dikaburkan sehingga kami tidak melihat dengan jelas suatu tanda yang ada di hadapan kami. Apa yang terlihat oleh kami tidak lain hanyalah khayalan belaka, sebagai hasil sihir Muhammad yang telah menyihir kami, sehingga kami tidak lagi melihat hakikat kebenaran.”

Ayat ini senada dengan firman Allah swt:

وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتٰبًا فِيْ قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوْهُ بِاَيْدِيْهِمْ لَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

Dan sekiranya Kami turunkan kepadamu (Muhammad) tulisan di atas kertas, sehingga mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, niscaya orang-orang kafir itu akan berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (al-An’am/6: 7)


Baca Juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 37: Siang dan Malam Sebagai Tanda Kekuasaan Allah Swt


Ayat 16

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt menciptakan berbagai benda angkasa berupa planet yang tidak terhitung banyaknya, bulan, dan bintang yang kesemuanya menghiasi langit, sehingga menarik hati orang-orang yang memandangnya.

Semua itu menjadi bahan pemikiran bagi orang-orang yang mau berpikir, terutama dalam mencari manfaatnya bagi manusia dan kemanusiaan, sebagaimana firman Allah swt dalam ayat yang lain:

تَبٰرَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِى السَّمَاۤءِ بُرُوْجًا وَّجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَّقَمَرًا مُّنِيْرًا    ٦١  وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَادَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَادَ شُكُوْرًا   ٦٢

Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar. Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur. (al-Furqan/25: 61-62).

Pada ayat yang lain, Allah swt menerangkan pula:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ

Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang. (al-Mulk/67: 5).

Bintang-bintang yang diciptakan Allah itu ada yang tidak bercahaya dan ada pula yang bercahaya, berkelap-kelip di malam hari, sebagaimana firman Allah swt:

فَقَضٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ فِيْ يَوْمَيْنِ وَاَوْحٰى فِيْ كُلِّ سَمَاۤءٍ اَمْرَهَا ۗوَزَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَۖ وَحِفْظًا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ

Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. (Fushshilat/41: 12).

Dan firman Allah swt:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ

Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala. (al-Mulk/67: 5).

Benda-benda angkasa itu merupakan petunjuk bagi para musafir yang berjalan di tengah-tengah padang pasir di malam hari, kapal-kapal yang berlayar di tengah lautan, serta kapal terbang dan kapal ruang angkasa yang terbang menuju tempat tujuannya.

Peredaran matahari, bulan, dan bintang dapat pula dijadikan dasar untuk mengetahui bilangan hari, bilangan tahun, dan perhitungan waktu, sebagaimana firman Allah swt:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus/10: 5).

Suasana malam di saat langit cerah tidak berawan, bintang-bintang bertaburan di angkasa raya dan cahayanya yang hilang-hilang timbul, dan cahaya bulan purnama menimbulkan ketenteraman dalam hati bagi orang-orang yang telah beriman kepada Allah. Semua itu menambah kuat imannya, sehingga tanpa disadari mulutnya mengucapkan kata-kata yang mengagung-kan Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 17-19