Beranda blog Halaman 538

Keutamaan Shalat Tahajud, Tafsir Surat Al-Isra Ayat 79

0
shalat tahajud
shalat tahajud

Keutamaan shalat tahajud tersebar di beberapa ayat dalam Alquran. Selain itu juga banyak hadis yang mendukungnya. Bahasan keutamaan shalat tahajud kali ini berangkat dari surat Al-Isra ayat 79. Penjelasan lebih detail akan kita dapati pula dalam tafsirnya.  

Shalat tahajud adalah salah satu shalat sunah yang sangat dianjurkan. Dalam bahasa Arab, tahajud memiliki arti shalat malam, sebab pelaksanaannya terjadi di malam hari tepatnya sepertiga malam hingga waktu menjelang subuh. Terkadang, shalat tahajud disebut juga sebagai qiyamul lail (menghidupkan malam) dan ini dibenarkan. Namun, untuk maksud qiyamul lail sendiri cakupannya lebih umum, sebab ibadah yang dilakukan tidak hanya berupa shalat melainkan juga bisa dengan berzikir, membaca Alquran, atau muthalaah. Shalat tahajud dipercaya menjadi salah satu amalan yang bisa membawa orang yang melaksanakannya mencapai impian yang dimaksud. Telah difirmankan oleh Allah swt,

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

“Dan pada sebagian malam, maka kerjakanlah shalat tahajud sebagai sutu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra [17]: 79)

Keutamaan Shalat Tahajud

Beberapa keutamaan shalat tahajud dapat kita peroleh dari beberapa penjelasan berikut:

  1. Shalat paling utama setelah shalat fardu

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَاَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلَاةُ الَّليْلِ

“Sebaik-baiknya puasa setelah puasa ramadhan adalah puasa bulan Allah –Muharram- dan sebaik-baiknya shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Saat mengomentari hadis ini, an-Nawawi dalam Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi berpendapat bahwa hadis ini menjadi dalil tentang keutamaan shalat sunah di malam hari. Shalat sunah yang dikerjakan di malam hari lebih utama dari shalat sunah di siang hari. Sedang shalat tahajud adalah shalat yang dilakukan di malam hari. Bahkan, sebagian ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat malam lebih baik daripada shalat sunah rawatib.

Dalam tafsirnya, Imam al-Qurtubi mengatakan tahajud adalah bangun setelah tidur (di malam hari), kemudian menjadi nama shalat karena seseorang bangun untuk mendirikan shalat. Maka, tahajud berarti shalat yang dilakukan usai tidur. Demikian juga pengertian yang dijelaskan oleh mayoritas ulama fiqih.

Waktu untuk melakukan shalat tahajud adalah mulai dari sepertiga malam hingga menjelang subuh, namun yang lebih utama adalah di akhir malam. Ini berdasar pada riwayat Aisyah. Saat ia ditanya perihal shalat malam yang dilakukan oleh Nabi saw, ia menjawab:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam, lalu beliau bangun di akhir malam. Kemudian beliau melaksanakan shalat, lalu beliau kembali lagi ke tempat tidurnya. Jika terdengar suara muadzin, barulah beliau bangun kembali. Jika memiliki hajat, beliau mandi. Dan jika tidak, beliau berwudhu lalu segera keluar (ke masjid).” (HR. Al-Bukhari)

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 261: Keutamaan Sedekah

  1. Shalat tahajud adalah ciri-ciri dari orang yang bertakwa dan calon penghuni surga

Dalam Alquran, Allah menyifati shalat tahajud sebagai ciri dari orang yang bertaqwa dan calon penghuni surga, seperti yang terdapat dalam surat Adz-Dzariyat. Berikut terjemahannya:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohon ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 15-18)

Dengan kata lain, sedikit tidur di waktu malam, karena sibuk dengan ibadah, seperti shalat tahajud.

Baca Juga: Inilah Tiga Amalan Utama dalam Menyambut Tahun Baru Islam

  1. Shalat tahajud adalah kebiasaan orang-orang salih, dapat menghapus kesalahan dan dosa, mencegah penyakit

Keutamaan yang ketiga ini bisa kita temui dari keterangan yang disampaikan oleh Nabi saw dalam hadisnya,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنْ الْإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنْ الْجَسَدِ

“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail karena hal tersebut merupakan kebiasaan orang-orang salih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat dengan Allah. Shalat malam dapat menghapus kesalahan dan dosa serta mencegah penyakit dari tubuh.” (HR. At-Tirmidzi)

Baca Juga: Doa Al-Quran: Doa Taubat Nasuha

  1. Shalat tahajud dapat mendatangkan kemuliaan dan kewibawaan

Tidak mengherankan jika Rasulullah saw menjadikan orang-orang salih sebagai teladan yang patut dijadikan teladan bagi umatnya sebagaimana hadis sebelumnya. Sebab, orang salih senantiasa mendekatkan diri kepada Allah sehingga ia mendapat kemuliaan serta kewibawaan. Maka, dengan melaksanakan shalat tahajud yang merupakan kebiasaan orang salih, seseorang akan mendapatkan hal yang sama. Ini relevan dengan sabda Nabi,

“Dan ketahuilah, bahwa kemuliaan dan kewibawaan seorang mukmin itu ada pada shalat malamnya.” (HR. Al-Hakim)

Setidaknya, jika seseorang tidak mampu menjadi seperti orang salih, maka teladanilah apa yang ada pada mereka. Seperti bunyi syair:

فَتَشَبَّهُوْا اِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا مِثْلَهُمْ # اِنَّ التَّشَابُهَ بِالرٍّجَالِ فَلَاحٌ

“jika kau tidak mampu menjadi seperti orang-orang salih, maka setidaknya tirulah mereka. Sebab, meniru orang-orang salih adalah suatu keberuntungan.”

Wallahu A’lam

Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis Dalam Al-Quran

0
Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis
Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

Pada artikel kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Quran: Kepribadiannya sebelum menjadi raja lalu telah dijelaskan seputar kepribadian Nabi Sulaiman yang saleh, taat, cerdas, dan berwibawa. Setelah menjadi raja Nabi sulaiman tetap dikenal sebagai yang saleh dan berwibawa. Dalam al-Quran terdapat cerita menarik soal perjumpaan Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut episode tersebut.

Selain sifat-sifat yang melekat seperti disebutkan di atas, al-Quran juga menceritakanbahwa Nabi Sulaiman mampu memahami bahasa binatang dan menundukkan bangsa Jin. Karena kewibawaan dan kelebihannya tersebut, nabi Sulaiman sangat disegani dan dipatuhi oleh penduduk dan bala tentara kerajaannya.

Diceritakan suatu ketika nabi Sulaiman mengadakan rapat besar-besaran dan mengundang seluruh anggota tentaranya yang terdiri dari manusia, jin dan binatang. Semua divisi tentara hadir kecuali burung hud-hud. Hal ini membuat nabi Sulaiman jengkel karena pada saat itu burung hud-hud seharusnya melaporkan hasil pekerjaannya, yaitu mencari sumber mata air baru. Nabi Sulaiman kemudian mempertanyakan keberadaan hud-hud namun tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Setelah beberapa saat, barulah burung hud-hud dengan kecepatan terbang maksimal dan dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia berkata, “mohon ampun baginda raja, hamba baru saja melakukan perjalanan yang sangat jauh dan hamba menemukan sebuah negeri yang sangat subur dan damai. Namun pemimpin negeri itu adalah ratu yang menyembah matahari sebagai Tuhannya.”

Baca Juga: Kisah 70 Sahabat Nabi dan Dzikir Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil

Mendengar cerita hud-hud nabi Sulaiman tidak langsung mempercayainya, karena ia khawatir hal itu hanya dijadikan hud-hud sebagai alasan keterlambatan. Kemudian untuk membuktikan ceritanya, hud-hud diminta untuk mengirimkan sebuah surat kepada ratu negeri tersebut. Diriwayatkan, negeri ini adalah negeri Saba yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Balqis.

Kemudian hud-hud berangkat ke negeri Saba untuk menyampaikan surat nabi Sulaiman. Ketika sampai di Istana ratu Balqis, hud-hud masuk melewati ventilasi udara dan langsung menuju kamar ratu. Lalu ia menjatuhkan surat tepat di atas kepala ratu Balqis yang sedang beristirahat (tidur) di ruangannya. Karena merasakan sesuatu jatuh mengenai kepalanya, ratu Balqis terbangun dan terkejut ternyata itu adalah sebuah surat.

Dalam surat tersebut nabi Sulaiman mengajak ratu Balqis agar tidak berlaku sombong di muka bumi dan berserah diri kepada Allah Swt. Potongan isi surat itu termaktub dalam QS. An-Naml: 30-31 yang bermakna, “Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

Selesai membaca surat dari nabi Sulaiman, ratu Balqis kemudian mengumpulkan penasihat-penasihat kerajaan untuk meminta wejangan bagaimana menanggapi ajakan nabi Sulaiman tersebut. Setelah mempertimbangkan kekuatan pasukan Sulaiman as dan karena tidak ingin berperang, ratu Balqis dan jajarannya berinisiatif untuk memberikan hadiah untuk menyenangkan nabi Sulaiman. Namun, semua hadiah beliau tolak mentah-mentah.

Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis kembali berunding dengan para pembesar dan mengambil keputusan bahwa mereka akan langsung menghadap raja Sulaiman. Dalam perjalanannya, ratu Balqis akan diiringi oleh pembesar kerajaan dan dikawal oleh pasukan secukupnya. Keputusan ini kemudian disampaikan kepada nabi Sulaiman melalui surat.

Ketika mengetahui kedatangan ratu Balqis, Sulaiman lalu berinisiatif untuk memberi kejutan dengan membawa tahta ratu Balqis ke kerajaannya. Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri? Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.” (QS. An-Naml [27]: 38)

Kemudian, salah seorang dari tentara manusia nabi Sulaiman menanggapi tawaran Ifrit di atas dengan menyatakan bahwa ia akan membawakan singgasana tersebut lebih cepat. Ini diceritakan dalam QS. An-Naml [27]: 40 yang bermakna, “Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip…..” Berkat izin Allah, singgasana itu dapat dipindahkan dengan cepat tanpa kerusakan apapun.

Setibanya ratu Balqis di kerajaan nabi Sulaiman, ia terkagum-kagum akan kemegahan dan keindahan istana nabi Sulaiman as. Kekaguman Ratu Balqis terutama atas keajaiban perpindahan singgasana miliknya ke kerajaan Sulaiman tersebut. Nabi Sulaiman lantas membawa ratu Balqis untuk mengelilingi istana. Di sela-sela tur mereka, ratu Balqis diajak untuk masuk agama Islam dan ia menerimanya dengan sepenuh hati.

Ratu Balqis lantas mengucapkan “syahadat” di depan nabi Sulaiman dengan penuh keyakinan. Mulai hari itu ia resmi menjadi pemeluk agama Islam dan menjadi bagian dari kerajaan nabi Sulaiman. Dikisahkan bahwa setelah itu nabi Sulaiman dan ratu Balqis menikah. Inilah titik awal bersatunya dua kerajaan besar, yakni kerajaan Saba dan kerajaan Sulaiman. Wallahu a’lam.

Doa Al-Quran: Doa Taubat Nasuha

0
taubat nasuha
taubat nasuha

Bagi orang yang ingin bertaubat nasuha, ada begitu banyak pintu terbuka. Tidak ada kata putus asa dan terlambat untuk bertaubat. Dalam Islam, putus asa itu sendiri merupakan sikap yang perlu dihindari bahkan dilarang. Penting diingat, ada sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: 

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ، كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي

Tatkala Allah swt memutuskan sesuatu kepada makhluk, tertulis di sisi-Nya di atas ‘Arasy, Firman Allah swt: “Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku” (H.R Muttafaq Alaih).

Dalam kitab Dalil al-Falihin li Tharq Riyad al-Shalihin, Syekh As-Shiddiqi menjelaskan bahwa rahmat dan murka Allah swt. kembali kepada kehendak-Nya (iradah). Kehendak Allah swt adalah memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan menghukum mereka yang bermaksiat. Rahmat-Nya mendahului atau melingkupi murka-Nya menandakan betapa besar kasih sayang Allah swt kepada para hamba-Nya.

Baca Juga: Doa Al Quran: Doa untuk Keteguhan Hati

Selain itu, dalam Alquran diajarkan sebuah doa bagi orang yang ingin taubat nasuha. Dalam QS. At-Tahrim [66]: 8 Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ   

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sugai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka bekata, ‘Ya Tuhan kami, sempurnaknalah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Menurut Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Quran al-‘Adzim, menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga hal yang perlu digaris bawahi bagi orang yang ingin taubat nasuha. Pertama, bertaubat dengan menyesali sepenuh hati atas apa yang telah diperbuat. Kedua, memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi dosa yang sama.

Baca Juga: Istighfar Seperti Apa yang Dimaksud Dalam Dua Ayat Ini? Tafsir Surat An-Nisa Ayat 110 dan 64

Kemudian doa yang terdapat dalam akhir QS. At-Tahrim ayat 8 di atas dapat dijadikan doa yang terus dibaca setiap setelah shalat fardu dan shalat-shalat sunnah yang lain. Berikut penulis kutipkan kembali doanya:

رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Ya Tuhan kami, sempurnaknalah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Kisah 70 Sahabat Nabi dan Dzikir Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil

0
hasbunallah wa ni'mal wakil
hasbunallah wa ni'mal wakil

Kalimat hasbunallah atau biasa juga dilanjutkan dengan wa ni’mal wakil yang memiliki arti “cukuplah bagi kami Allah sebagai penolong. Dia adalah sebaik-baiknya pelindung”. Kalimat ini tercantum dalam beberapa ayat Al Quran dan hadis Nabi. Salah satunya tertuang dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 172-173. Ayat itu bercerita tentang kisah dzikir  hasbunallah wa ni’mal wakil yang dibaca 70 sahabat Nabi. Ayat tersebut berbunyi:

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar”

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”. Maka perkataan itu menambah keimanan mereka. Dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”


Baca juga: Inilah Tiga Keutamaan Surat Al Fatihah


Kisah 70 Sahabat Nabi Membaca Dzikir Hasbunallah Wa Nikmal Wakil

Ungkapan ayat di atas menceritakan tentang peristiwa perang Uhud yang terjadi pada Bulan Syawal 3 H. Moenawar Chalil yang berjudul Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW Jilid 3, menjelaskan terdapat 70 sahabat yang berpartisipasi dalam Perang Uhud. Salah satu diantaranya ialah paman Nabi Muhammad SAW yang bernama Hamzah Ibn Abd Muthalib.

Hamzah telah gugur di peperangan ini. Nabi pun mengalami luka parah karena serangan lemparan potongan besi oleh Utbah Bin Abi Waqqash. Dalam sebuah riwayat dikatakan, salah satu gigi Nabi bagian depan pun patah.

Kemudian, Nabi dan para sahabat pulang ke Madinah. Hingga di suatu daerah bernama Hamra’al Asad, Nabi menerima kabar bahwa kaum musyrik Mekkah sedang bersiap diri untuk menyerang kaum muslim. Sementara waktu itu, kaum muslim sedang dirundung sedih dan letih akibat perang.

Kemudian, Nabi memerintahkan kembali semua anggota perang Uhud untuk kembali berperang. Saat itu, mereka mengucapkan kalimat yang terdapat dalam surat Ali-Imran ayat 173. Hasbunallah wa ni’mal wakil.


Baca juga: Islam Melarang Berperang di Bulan Haram


Beragam Makna Kalimat Hasbunallallah

Menurut Prof. Quraish Shihab dalam bukunya Kosakata Keagamaan, kalimat dzikir tersebut memang berpotensi untuk melawan rasa takut dan diberikan rasa kecukupan. Yang dimaksud ialah Allah akan memberi apa yang hambanya butuhkan. Selain itu, makna dari hasbunallah ini mengajak manusia untuk bersabar agar ia mampu mempersiapkannya dengan baik dan semoga diberikan kemuliaan yang hakiki.

Shihab meneruskan kembali dalam bukunya bahwa kata hasb ini ternyata menguasai banyak makna. Ada tiga makna diantaranya yaitu:

  1. Hitungan. Hal ini selaras dengan Surat ar-Rahman ayat 5, yang melahirkan makna “kemuliaan”. Shihab mengungkap bahwa kemuliaan seseorang itu diperhitungkan dari

kedudukan orangtuanya atau para leluhur.

  1. Kecukupan. Makna kedua ini selaras dengan kalimat hasbunallah wa ni’mal wakil dalam arti Allah akan memberi apa yang aku butuhkan atau yang terbaik atas setiap situasi yang dihadapi. Sekaligus akan bermakna dengan yang kami hadapi. Kami akan menerima dengan sabar dan akan menjadi bekal untuk kami siapkan untukmakemudian hari dan mengaharap agar kemuliaan selalu bersama kami.”

Keutamaan Membaca hasbunallah

Imam Abu Daud dalam kitabnya Syarh Sunan Ibn Daud menjelaskan tentang keutamaan membaca dzikir hasbunallah disaat kesulitan yang sulit dipatahkan. Hadis tersebut berbunyi:

قال أبو داود رحمه الله تعالى: حَدَّثَنَا عَبدُ الوَهَّابِ بنُ نَجدَةٍ، وموسى بن مروانَ الرَقِي قَالَا َثنَا بَقِيَّة بن الوَلِيدِ عن بَحِير بن سعدٍ عن خالدٍ بن مَعدانَ عن سيفٍ عن عوفٍ بن مالكٍ أنه حَدَثَهُم أَنّ النبي صلى الله عليه وسلم قَضَى بَينَ رَجُلَينِ فَقَالَ المقضي عليه لمِا أَدبَرَ: حَسبِيَ الله ونِعمَ الوَكِيلُ، فَقَالَ النبي صلى الله عليه وسلم: إنَّ الله يَلُومُ عَلى العَجْزِ، ولَكِن عَليكَ بِالكَيْسِ، فَإذا غَلَبَكَ أَمرٌ فَقُل: حَسبِيَ الله ونِعمَ الوَكِيلُ

“Diriwayatkan dari ‘Auf Bin Malik bahwa Nabi Muhammad Saw telah menghakimi dua orang pihak, dan orang terdakwa pun mundur lalu mengucapkan Hasbiyallah Wa Ni’ma al-Wakil. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mengecam seseorang yang lemah atau enggan dalam membela diri. Pandailah saat menghadapi situasi. Namun, jika engkau sudah tidak mampu, maka ucapkanlah hasbiyallah wa ni’mal wakil” (HR. Abu Daud)

Imam Abu Daud melanjutkan:

أَمَّا أَن يَقُولَ: حَسبِيَ الله ونِعمَ الوَكِيل مَعَ العَجزِ ومَعَ عَدَمِ الأَخذِ بِالأَسبَابِ، فَإنَّ الكَيسَ هُوَ خِلَافُ ذَلِكَ، وَالكَيسُ هُوَ أَنَّ الإنسَانَ يَأخُذُ بِالأَسبَابِ، وَإذَا فَاتَهُ الشَّيءُ الذِي أَرَادَهُ، فَإِنَّهُ يَقُولُ: حَسبِيَ الله ونِعمَ الوَكِيل، وهَذا مِثلُ مَا جَاءَ فِي الحَدِيثِ الذِي رواه مُسلِمٌ فِي صَحيحِهِ عَن أَبِي هُرَيرَةَ أَنَّ النَّبِّي صلى الله عليه وسلم قال: (المُؤمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللِه مِنَ المُؤمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلِّ خَيرٍ، احرِصْ عَلى مَا يَنفَعُكَ، واستَعِنْ بِالله ولا َتَعجَزْ) يعني: استَعِنْ بِالله عز وجل مَعَ أَخذِكَ بِالأَسبَابِ، وَلَا تَقْصِرْ

“Kalimat hasbiyallah wa ni’mal wakil lebih baik dilantunkan saat kondisi sulit dan tidak ada upaya untuk mewujudkan yang ia inginkan. Sesungguhnya orang yang pandai itu sebaliknya, ia mampu mewujudkan apa yang ia inginkan. Maka, ketika ia kehilangan sesuatu yang diinginkannya ia berkata” hasbiyallah wa ni’mal wakil”. Hadis ini sama dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya yang mengutip dari Abu Hurairah:” Mukmin yang kuat itu lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada orang yang lemah. Lakukanlah apa yang bermanfaat bagimu. Memohonlah kepada Allah dan jangan lemah! Mintalah pertolongannya untuk mewujudkan apa yang kau inginkan. Jangan kau remehkan!.”

Dari dua hadis tersebut tampak bahwa membaca hasbiyallah (atau hasbunallah dalam bentuk jamak) wa ni’mal wakil lebih diutamakan ketika dalam kondisi sulit. ini menunjukkan, dzikir ini sebagai simbol berserah diri bagi seorang hamba kepada Allah, yang sedang berada pada titik nadir kehidupannya.


Baca juga: Tiga Keutamaan Membaca Surah Al-Waqiah


Wallahu A’lam

Inilah Tiga Keutamaan Surat Al Fatihah

0
keutamaan surat al fatihah
keutamaan surat al fatihah

Keutamaan surat Al Fatihah tak terhingga banyaknya. Adakalanya digunakan sebagai pengobatan, pengusir kegundahan, meminta petunjuk dan pertolongan, penjagaan diri dan sebagainya. Al Fatihah berasal dari kata fataha, yaftahu, fathan, yang berarti pembukaan juga dapat pula berarti Kemenangan. Diartikan sebagai pembukaan karena surah al Fatihah terletak pada bagian awal dari surah-surah yang lain dalam susunan mushaf Al Quran. Diartikan sebagai kemenangan karena berdasarkan pengertian yang terdapat dalam firman Allah swt yang berbunyi,

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ

Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. (Q.S. al-Fath [48]: 1)

Surat Al-Fatihah juga memiliki nama lain, seperti yang dijelaskan oleh Hasbie as Shiddiqie dalam tTafsir Al-Qur’anul Majid, ada beberapa nama lain dari surat Al-Fatihah, yaitu ummul kitab, ummul qur’an, sab’ul matsani, al-asas, fatihatul kitab, al-Kanz (pembendaharaan), al-wafiyah (yang amat sempurna), al-kafiyah (yang amat mencukupi), al-hamd (pujian), al-syukru (ucapan terimakasih), al-du’a (seruan dan permohonan), al-salat (sembahyang dan do’a), al-syafiyah (penyembuh), dan al-syifa’ (penawar).

Baca juga: Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6-7: Kepada Siapa Nikmat Itu Diberikan?

Sedangkan menurut Quraish Shihab, beberapa nama lain dari surat al Fatihah yang dikenal pada masa Rasulullah yaitu al-Fatihah, Ummul Kitab atau Ummul Qur’an, dan as-Sab’ al-matsani. Adapun terkait dengan keutamaan surah Al-Fatihah, Imam muslim dalam shahih-nya dan An-Nasa’i dalam Sunan-nya menceritakan,

“Diceritakan dari Abu al-Ahwash Salam bin Salim, dari Ammar bin Ruzaiq, dari Abdullah bin Isa bin Abdurrahman bin Abu Layla, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia bercerita, “ketika kami bersama Rasulullah Saw, dan didekat beliau ada malaikat Jibril a.s, tiba-tiba ia mendengar suara dari atas. Jibril memandang ke langit dan berkata, ‘pintu langit dibuka, pintu ini belum pernah dibuka sama sekali.’ Satu malaikat kemudia turun melalui pintu langit tersebut dan kemudian mendekati Rasulullah Saw, lalu berkata, ‘Selamat, berbahagialah atas dua cahaya yang telah diberikan kepadamu, (dimana cahaya ini adalah) anugerah yang belum pernah diberikan kepada nabi sebelum engkau, itulah Fatihah al-kitab dan akhir dari surah Al-Baqarah. Tidak ada satu pun huruf yang engkau baca dari keduanya, melainkan akan diberikan (pahalanya) kepadamu.” (Ibnu Katsir, dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim)

Dengan mengutip hadits diatas, maka dalam tulisan ini kita berfokus kepada pembahasan keutamaan yang terkandung dalam surat al Fatihah. Ada tiga keutamaan yang perlu kita ketahui dalam surah Al-Fatihah, antara lain;

Merupakan surat yang paling utama dalam Al Quran

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abi Sa’id Al-Mu’alla beliau berkata,

“Aku sedang melaksanakan sholat (dimasjid), lalu Rasulullah Saw lewat, maka beliau memanggilku dan AKu tidak mendatangi beliau hingga shalat selesai, setelah itu aku mendatangi beliau, maka Rasulullah Saw berkata “ apa yang menahanmu sehingga kau tidak mendatangiku? Aku menjawab “ (Ya Rasulullah) saya sedang melaksanakan shalat”, maka beliau berkata “bukankah Allah Swt telah berfirman “wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasulnya, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu..”(QS. Al-Anfal:24) kemudian beliau berkata kepadaku , ketahuilah bahwa aku akan mengajarkan kepada kalian surah yang paling mulia di dalam Al-Qur’an sebelum keluar dari masjid, setelah itu beliau pergi. Ketika Rasulullah hendak keluar dari masjid, maka Abi Sa’id Al-Mu’alla mengingatkan beliau (dengan lafadz): kemudian aku mengisyaratkan dengan tanganku ketika beliau hendak keluar, aku berkata “bukankah baginda berkata akan mengajarkan surah yang paling mulia dalam Al-Qur’an ?” beliau bersabda “ Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, adalah tujuh yang berulang-ulang dan Al-Qur’an yang mulia ada di dalamnya”

Baca juga: Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 6: Hukum Wudhu Perempuan yang Memakai Kuteks

Menjadi suatu syarat sahnya shalat

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,

“Berkata Muhammad bin ishaq bin Khuzaimah: telah menceritakan Mu’al bin Hisyam al-Yaskura, telah menceritakan Ismail bin Ulyah dari Muhammad bin Ishaq, telah menceritakan kepadaku Makhŭl dari Mahmud bin al-Rabi’a dan dia menetap di iliya’ (suatu daerah antara madinah dan baitul maqdis), dari ‘Ubădah bin Shamit berkata “Rasulullah Saw sholat bersama kami pada sholat subuh, maka beliau mengeraskan bacaan sholatnya. Setelah berpaling, beliau berkata “sesungguhnya aku ingin menunjukkan kepada kalian, yang kalian baca pada saat berada dibelakang imam. Aku berkata “ katakanlah kepada kami wahai Rasulullah” beliau bersabda “ maka tak ada bacaan selain ummul kitab, karena sesungguhnya tidak sah sholat bagi seseorang yang tidak membacanya” (HR. Ahmad. No 5/316)

Dalam riwayat lain diceritakan,

“menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah ar-Raqăsyi, menceritakan kepada kami Yazid bin Zari’a, menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, menceritakan kepada kami Yahya bin Abbăd, dari ayahnya, dari ‘Aisyah r.a berkata “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Setiap sholat yang tidak dibaca dengannya (Al-Fatihah al-kitab) maka sholatnya kurang (tidak sempurna ( HR. Bukhari dalam kitabnya Jaz’ul qiră’ati)

Dapat digunakan untuk mengobati penyakit

Sayyid Muhammad Sa’ad Ibnu Alawi al-Idrus dalam kitab Fadha’il Suwar wa Ayat Qur’aniyyah, menjelaskan bahwasanya Abdul Malik Abu Umair mengatakan,

surah pembuka dalam Al-Qur’an adalah obat untuk segala sesuatu, surah itu adalah surah Al-Fatihah”

Ibnu Qayyim juga mengatakan bahwa Fatihatul Kitab, as-Sab’ul matsani, Ummul Qur’an, merupakan ruqyah yang sempurna, obat yang bermanfaat, penjaga kekuatan, menghilangkan kesedihan, gundah, gelisah, ketakutan, serta kunci kekayaan dan kemenangan bagi orang yang mengetahui rahasia yang terkandung di dalamnya.”

Baca juga: Covid-19 dan Kisah Ketakutan Kepada Selain Allah dalam Al Quran

Kesimpulannya, surah al-Fatihah sungguh merupakan surah yang di dalamnya memuat banyak keutamaan. Tiga bagian diatas hanyalah bagian paling urgen dalam keterangan kitab-kitab hadits pada umumnya. Bagi pembaca yang ingin mengetahui keutamaan lainnya, dapat mencarinya dalam pembahasan yang merujuk pada nama-nama lain dari surat al Fatihah.

Namun penulis merangkum dan mencukupkannya pada tiga keutamaan diatas agar mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca. Demikian, semoga kita senantiasa diberikan keberkahan oleh Allah swt, ketika membaca surat al Fatihah.

Pentingnya Kurikulum Pendidikan Anti Korupsi, Tafsir Surat Al-Hajj Ayat 38

0
kurikulum anti korupsi
kurikulum anti korupsi (faktualnews.co)

Kejahatan kerah putih itulah sebutan bagi pelaku korupsi. Marwah pendidikan Islam yang seharusnya mencetak outcomes yang bersih, jujur, mumpuni dan berintegritas, harus ternodai oleh ulah sekelompok “oknum” manusia di atas. Pendidikan Islam perlu memasukkan kurikulum khusus pendidikan antikorupsi.

Tujuan mengadakan pendidikan anti korupsi ialah menyumbat diseminasi tumbuhnya benih-benih pelaku korupsi supaya negeri kita terbebas dari cengkraman korupsi yang sudah berurat akar di negeri ini mulai dari hulu hingga hilir.

Pentingnya memasukkan kurikulum pendidikan anti korupsi secara tersirat termaklumatkan dalam firman-Nya Q.S. al-Hajj [22]: 38, 

اِنَّ اللّٰهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُوْرٍ ࣖ

Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat dan kufur nikmat. (Q.S. al-Hajj [22]: 38)

Tafsir Surah al-Hajj Ayat 38

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah swt membela hamba-hamba-Nya yang bertawakkal dan bertobat kepada-Nya dari perilaku kejahatan dan tipu daya muslihat orang-orang yang durhaka. Allah swt juga menegaskan memelihara, menjaga dan menolong mereka, seperti yang disebutkan dalam ayat lain Q.S. al-Zumar [39]: 36.

Sebaliknya, Allah swt tidak menyukai (membenci) hamba-Nya yang bersifat khianat. Korupsi pun termasuk bagian dari bentuk pengkhianatan kepada Allah swt dan sesama. Sebab ia disumpah berjanji mematuhi apa yang diucapkannya, tetapi ia berkhianat. Sifat lain yang tidak disukai-Nya adalah hamba-Nya tidak mau mengakui bahwa segala nikmat datangnya dari Allah swt.

Penafsiran serupa dituturkan oleh ‘Ali al-Shabuny dalam Shafwah at-Tafasir, ia memaknai redaksi innallah yudafi’u ‘an alladzina amanu dengan Allah swt akan dan sedang menolong orang-orang mukmin dan membela mereka dari kejahatan kaum musyrikin.

Adapun pada redaksi berikutnya, innallah la yuhibbu kulla khawwanin kafur, sesungguhnya Allah swt membenci setiap bentuk pengkhianatan dan mereka yang tidak tahu berterima kasih atas nikmat yang dianugerahkan oleh-Nya.

Di lain itu, Ibnu Asyur dalam at-Tahrir wa at-Tanwir memberikan analisis semantik bahwa ayat ini merupakan isti’naf bayani (sebagai jawaban dan berisi penjelasan lebih lanjut) dari firman Allah surat al-Hajj ayat 25, innalladzina kafaru wayashuddu ‘an sabilillah (Sungguh orang-orang kafir dan yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah).

Ibnu Asyur juga mempertegas penafsirannya bahwa Allah swt sangat tidak menyukai ornag kafir lagi pengkhianat. Sebab kata khawwan merujuk pada khianat, ingkar janji. Maka siapapun orang yang berkhianat dan ingkar janji ia bisa dikategorikan sebagai orang yang khawwanin kafur (khianat lagi kufur nikmat), tidak hanya koruptor, melainkan berlaku bagi siapa saja yang terindikasi melakukan hal tersebut.


Baca Juga: Inilah 4 Karakter Kepemimpinan Transformatif Menurut Al Quran


Pentingnya Kurikulum Pendidikan Anti Korupsi

Islam sebagai agama paripurna secara tegas dan jelas memberikan panduan tentang hakikat dan tujuan pendidikan. Mengoptimalkan potensi fitrah manusia dan mencetak  kader bangsa yang mumpuni, berakhlak dan berdaya saing sehingga menjadi the best outcomes (hasil terbaik).

Korupsi telah menggerus nilai moral kita sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Mengguritanya korupsi mulai tingkat hulu hingga hilir semakin menambah beban panjang dan menghambat kemajuan peradaban Indonesia.

Data indeks persepsi korupsi atau corruption perception index (CPI) menamplikan Indonesia berada di posisi 85 dari 180 negara dengan skor 40. Ya, masih cukup tinggi dan belum menunjukkan penuruan yang signifikan budaya korupsi ini.

Karenanya, untuk menyumbat diseminasi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) ini perlu adanya kurikulum khusus pendidikan anti korupsi. Meski penanaman karakter pada peserta didik seperti jujur, tanggungjawab dan sebagainya sudah dilakukan, akan tetapi mereka harus diberi pemahaman melalui materi khusus tentang kurikulum pendidikan antikorupsi yang selanjutnya dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahun 2018, telah disepakati dan diteken nota kesepahaman (MoU) oleh empat kementerian meliputi kemendagri, kemristekdikti, kemdikbud dan kemenag bahwa pendidikan anti korupsi harus masuk pada kurikulum di tahun ajaran baru 2019 pada semua jenjang pendidikan.


Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman Dalam Al-Quran: Kepribadiannya Sebelum Menjadi Raja


Kurikulum pendidikan antikorupsi ini diinputkan ke dalam mata kuliah dasar (MKD) umum, di mana salah satu isi kebijakannya adalah menyusun dan mendistribusikan pendidikan karakter dan budaya antikorupsi di kurikulum setiap jenjang pendidikan.

Oleh karena itu, pendidikan Islam mempunyai tanggungjawab moral untuk menyukseskan goal (tujuan) pendidikan antikorupsi ini, mesti tanpa embel-embel “korupsi”, sebenarnya pendidikan Islam sudah maju dan sudah menerapkan pendidikan antikorupsi ini jauh sebelum dirumuskannya oleh pemerintah.

Pendidikan tersebut telah terejawantahkan dalam program pendidikan yang secara konsepsional disisipkan pada mata pelajaran dalam bentuk perluasan tema yang ada dalam kurikulum menggunakan pendekatan kontekstual, yakni model pembelajaran antikorupsi integratif-inklusif dalam pendidikan agama Islam.

Akhiran, mari kita sambut kurikulum ini dengan tangan terbuka dan bergandengan tangan, semoga perilaku KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) dan kawan-kawannya segera terenyahkan dari muka bumi Indonesia tercinta. Aamiin.

Ketika Al-Quran Menceritakan Proses Nuzulul Quran

0
perbedaan pendapat nasikh mansukh
perbedaan pendapat nasikh mansukh

Sebenarnya bagaimana proses Al-Qur’an diwahyukan atau dikenal dengan istilah Nuzulul Quran? Kapan al-Quran pertama kali turun? Pertanyaan inilah yang sering terlintas di benak para penikmat sejarah Al-Qur’an ketika membaca QS.  Al-Qadr [97]: 1, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” Padahal sejarah Islam mencatat bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan kurang lebih 13 tahun sebelum hijrah.

Peristiwa pewahyuan al-Qur’an di atas dikenal masyarakat muslim sebagai malam nuzulul Quran. Biasanya mereka melakukan berbagai macam peringatan untuk mengenang sejarah peristiwa turunnya al-Qur’an yang juga merupakan peresmian Muhammad Saw diangkat oleh Allah sebagai nabi dan rasul untuk menyebarkan ajaran Islam dan ihsan.

Kemudian, mungkin juga terlintas dalam pikiran para penikmat sejarah Al-Qur’an berbagai pertanyaan lain. Misalnya, lantas bagaimana menjelaskan perbedaan QS. Al-Qadr [97]: 1 dengan realitas sejarah yang terjadi? Apakah catatan sejarah salah atau malam lailatul qadar yang dimaksud dalam QS. Al-Qadr [97]: 1 terjadi pada tanggal 17 Ramadhan?

Baca Juga: Sejarah Pencetakan al-Quran dari Italia hingga Indonesia

Berbagai pertanyaan tersebut sebenarnya bisa ditemukan dalam Al-Qur’an. Bahkan Al-Qur’an sendiri dalam banyak ayat menyebutkan bagaimana proses dirinya turun ke dunia, hanya saja diperlukan pembacaan kritis dan sistematis agar bisa menangkap pesan yang telah dijelaskan Al-Qur’an. Pesan itu juga dapat ditemukan melalui catatan-catatan ulama tafsir.

Ketika berbicara mengenai proses nuzulul Quran, Al-Qur’an biasanya menggunakan 2 istilah bahasa, yakni anzala dan nazzala. Keduanya sama-sama berasal dari kata n-z-l yang bermakna turun namun memiliki perbedaan spesifik. Secara singkat, anzala dapat dimaknai dengan turun secara keseluruhan dalam satu jumlah sekaligus. Sedangkan nazzala bermakna turun berangsur-angsur atau berulang-ulang.

Kedua istilah anzala dan nazzala di atas adalah kata kunci yang harus dicermati untuk mengetahui rahasia proses nuzulul Quran yang telah diceritakan Al-Qur’an. Dengan mengetahui perbedaan keduanya, seseorang akan bisa memahami bahwa tidak ada pertentangan antara QS.  Al-Qadr [97]: 1 dan catatan sejarah pewahyuan Al-Qur’an, karena keduanya memang berada pada konteks ayat yang berbeda.

ٍَQS. Al-Qadr [97]: 1 berbicara mengenai proses nuzulul qur’an secara sekaligus, yakni dari lauh al-mafuzh ke Baitul Izzah (langit dunia). Sedangkan peristiwa sejarah diturunkannya Al-Qur’an di goa Hira, merupakan kronologi dari ayat yang lain, yaitu; QS. ‘Alaq [96]: 1-5. Pembahasan rinci mengenai kedua tahapan nuzulul qur’an tersebut akan dijelaskan pada pembahasan berikut.

Nuzulul Quran Secara Sekaligus

Sebelum disampaikan kepada nabi Muhammad Saw, Al-Qur’an telah melalui dua proses nuzul, yakni dari Allah Swt ke lauh al-mafuzh dan dari lauh al-mafuzh ke Baitul Izzah (langit dunia). Proses ini dilakukan langsung oleh malaikat Jibril as atas izin Allah Swt. Al-Qur’an yang berada di lauh al-mahfuzh diketahui telah ada jauh sebelum nuzul-nya, bahkan jauh sebelum penciptaan nabi Adam as di surga.

Di dalam Al-Qur’an kata lauh al-mafuzh disebutkan sebanyak satu kali, yakni pada QS. Al-Buruj ayat 22. Dikisahkan bahwa lauh al-mafuzh adalah tempat di mana Allah mencatatkan “takdir” kehidupan alam semesta. Selain itu, semua perkara yang berkaitan dengan kehidupan umat manusia juga tercatat di dalamnya secara akurat. Meskipun demikian, tidak diketahui bagaimana bentuk catatan tersebut.

Pada tahapan pertama nuzulul qur’an, yakni dari Allah Swt ke lauh al-mafuzh, eksistensi Al-Qur’an masih dalam bentuk “bahasa transendental” yang tidak memiliki huruf, suara, dan kata.  Tidak ada manusia yang mampu memahami bahasa tersebut kecuali atas izin Allah. Di lauh al-mafuzh, Al-Qur’an tersimpan dan terjaga dengan sempurna tanpa kecacatan.

Selanjutnya Al-Qur’an dibawa oleh malaikat Jibril as dari lauh al-mafuzh ke Baitul Izzah (langit dunia) dalam bentuk yang utuh dan komplet. Pada tahap ini, bentuk Al-Qur’an sudah bertransformasi ke dalam bahasa yang mampu “dirasa” manusia. Menurut mayoritas ulama Muslim, pada tahap ini Al-Qur’an diturunkan kepada Jibril dalam bentuk kata dan maknanya. Dengan demikian, Al-Qur’an yang selama ini dibaca umat Islam 100 persen sama dengan Al-Qur’an yang dibawa Jibril as.

Peristiwa nuzulul Qur’an secara sekaligus ini dikisahkan dalam Al-Qur’an pada QS.  Al-Qadr [97]: 1 yang berbunyi:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.”

Nuzulul Qur’an Secara Berangsur-angsur

            Setelah diturunkan ke langit dunia, Al-Qur’an kemudian disampaikan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur kurang lebih selama 23 tahun. Proses ini dimulai pada tanggal 17 Ramadan tahun 13 SH di goa Hira, tempat di mana biasanya nabi Muhammad Saw melakukan uzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merenungi kehidupan masyarakat Arab yang sudah jauh dari ajaran-Nya.

Proses nuzulul qur’an secara berangsur-angsur bertujuan agar Al-Qur’an dapat dipahami dengan baik dan mudah serta dapat menjawab berbagai persoalan sosial kemasyarakatan yang terjadi pada masa nabi Muhammad. Dialektika ini kemudian diistilahkan oleh Nashr Hamid sebagai “al-Qur’an muntaj wa muntij tsaqafi” (Naqd al-Khiṭṭāb: 51), yakni Al-Qur’an merespon budaya dan realitas yang ada kemudian menumbuhkan budaya dan realitas baru.

Secara umum, pada tahap ini Al-Qur’an disampaikan melalui tiga cara, yaitu: Pertama, malaikat Jibril langsung memasukkan wahyu ke dalam hati nabi Muhammad Saw. Dalam hal ini beliau sama sekali tidak melihat wujud apapun, ia hanya merasa ayat Al-Qur’an sudah berada di dalam hatinya sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Syu’ara [26]: 193-194 “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan.”

Baca Juga: Kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Quran: Kepribadiannya Sebelum Menjadi Raja

Kedua, malaikat Jibril menampakkan dirinya kepada Rasulullah, baik dalam wujud aslinya maupun dalam bentuk manusia. Kemudian Jibril menyampaikan ayat Al-Qur’an sebagaimana yang diceritakan dalam kronologi pewahyuan QS. ‘Alaq [96]: 1-5. Ketiga, Wahyu datang secara tiba-tiba seperti gemerincing lonceng. Dikisahkan bahwa cara ini adalah proses paling berat yang dirasakan Baginda Nabi Saw. Terkadang kening beliau berkeringat meskipun sedang musim dingin dan terkadang beliau terpaksa berhenti lalu turun dari unta karena merasa berat ketika wahyu datang. Wallahu a’lam.

Penjelasan Tentang Nama Al-Quran: al-Quran, al-Furqan, dan al-Tanzil

0
Nama al-Quran
Nama al-Quran

Mengetahui dan memahami nama al-Quran adalah salah satu cara untuk mendalami al-Quran. Pada serial kali ini akan diuraikan beberapa nama yang diperkenalkan al-Quran di dalam  ayat-ayatnya. Tulisan pertama akan mengulas tiga nama Al-Quran: al-Qur’an, Al-Furqan, dan At-Tanzil.

Nama al-Quran pertama adalah al-Qur’an sendiri. Nama al-Quran dikenal sebagai sebuah kitab yang mengandung firman-firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Kalau ada orang yang menyebutkan kata Al-Qur’an, maka yang dimaksud adalah kitab suci Al-Qur’an itu. Bacalah Al-Quran, yang dimaksud adalah bacalah firman-firman Allah yang terdapat di dalam Al-Quran.

Apapun nama yang disandarkan kepada Al-Quran, tetapi yang jelas bahwa Al-Quran, menurut Ali As-Shabuni, adalah kalamullah (firman-firman Allah) yang melemahkan, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dengan perantaraan Jibril a.s., yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, membacanya adalah ibadah, yang dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas.

Dari definisi Al-Quran dapat dikatakan bahwa pertama, al-Quran adalah firman-firman Allah, bukan ucapan-ucapan selain Allah, seperti ucapan manusia atau ucapan malaikat. Kedua, al-Quran adalah sebuah mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad, yang membungkam kemampuan manusia, orang-orang Arab, sehingga tidak mampu menciptakan kalimat-kalimat yang dapat menandingi Al-Quran.

Baca Juga: Inilah Makna Kata al-Quran

Ketiga, Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tidak diturunkan kepada orang lain, selain Nabi Muhammad. Keempat, Al-Qur’an itu seluruhnya dibawa turun dari Allah oleh Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad saw, mulai ayat yang pertama turun hingga ayat yang terakhir. Tidak satu ayat pun yang diturunkan tanpa dibawa turun oleh malaikat.

Kelima, al-Qur’an itu disampaikan kepada ummat-umat Islam sesudahnya oleh sejumlah banyak orang yang sangat dipercaya, yang tidak tidak diragukan lalu kejujurannya, dan integritasnya. Keenam, Membaca ayat-ayat Al-Qur’an merupakan suatu ibadah kepada Allah swt.

Rasulullah menyatakan: “Siapa yang membaca satu huruf, maka diberi satu pahala, yang setara dengan 10 kebajikan. Oleh sebab itu, Al-Qur’an harus dibaca agar kita mendapatkan pahala darinya. Ketujuh, al-Qur’an itu terdiri atas 114 surat, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah sebagai surat pertama dan surat terakhir, yaitu surat al-Nas.

Nama al-Quran kerdua adalah al-Furqan (الفرقان). Kata ini berasal dari kata kerja faraqa (فَرَقَ) – yafruqu ( يفرق) yang berarti “memisahkan, membedakan.” Apa sebenarnya makna yang terkandung dari nama itu? Mari kita lihat penjelasannya sebagai berikut.

Al-Qur’an dinamai juga Al-Furqan karena Al-Qur’an adalah kitab yang membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah, antara yang halal dan yang haram, antara yang diperintahkan dan yang dilarang, antara yang dibolehkan dan yang tidak dibolehkan, dan antara yang ma’ruf dan yang munkar.

Kata al-Furqan diabadikan juga di dalam Al-Qur’an, tidak hanya sebagai nama dari suatu surat di dalam Al-Qur’an, yaitu surat yang ke-25, tetapi juga diabadikan di dalam ayat pertama dari surat al-Furqan itu, yaitu ayat ke-1, yang menyatakan:

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,

Pesan-pesan yang disampaikan oleh Allah di ayat-ayat Al-Qur’an dapat dibagi atas dua bahagian, yaitu bahagian yang berisi perintah-perintah, dan bahagian yang bersisi larangan-larangan. Semua hal yang diperintahkan oleh Allah untuk dilakukan adalah hal-hal yang baik, semua larangan yang dilarang oleh Allah untuk ditinggalkan merupakan hal-hal yang buruk.

Dari sisi lain ayat-ayat Al-Qur’an itu adalah petunjuk-petunjuk yang mengantar manusia ke jalan benar, dan petunjuk-petunjuk yang menjauhkan manusia dari kesesatan. Jalan yang benar adalah jalan kebaikan yang harus diikuti manusia, jalan yang buruk adalah jalan yang dijauhi oleh manusia.

Nama al-Quran ketiga adalah At-Tanzil (التنزيل). Allah sendiri yang memberi nama Al-Qur’an dengan nama Al-Tanzil. Hal ini antara lain disebutkan di dalam QS. Al-Syu’ara’ [26]: 192-193:

وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, 193. dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril).

Kata al-tanzil itu secara bahasa adalah bentuk dasar dari kata “nazzala” (نزل) – yunazzilu (ينزل) yang berarti “menurunkan berkali-kali.” Penamaan Al-Qur’an dengan Al-Tanzil bukanlah hal yang kebetulan. Penamaan seperti ini dikaitkan dengan persoalan diturunkannya Al-Qur’an dari Allah, yang dibawa turun oleh Jibril, hingga kepada Nabi Muhammad saw.

Baca Juga: Belajar Sabab Nuzul dalam Menafsirkan Al Quran Sangat Penting!

Al-Qur’an mulai diturunkan oleh Allah pada malam lailatul qadar. Al-Qur’an diturunkan melalui dua tahap. Tahap pertama Allah menurunkan Al-Qur’an sekaligus, dari langit ke tujuh ke langit dunia sekaligus. Lalu dari langit dunia kepada Nabi Muhammad Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, dimulai dengan turunnya 5 ayat dari surat al-Alaq, hingga ayat yang terakhir turun, yaitu ayat 281 Surat Al-Baqarah [2], yaitu turun 7 malam sebelum Rasulullah wafat.

Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan selama 13 tahun di sebelaum Rasulullah berhijrah, dan 10 tahun lamanya diturunkan setelah Nabi berhijar. Ayat yang diturunkan sebelum hijarlah yang kemudian disebut ayat0ayat Makkiyah, dan ayat-ayat yang diturunkan di Madinah disebut Madaniyah. Ini berarti bahwa Al-Qur’an itu dinamai Al-Tanzil karena Al-Qur’an diturunkan secara bertahap dalam waktu yang lama, yaitu 23 tahun. Wallahu A’lam.

Tafsir Tarbawi: Story Telling, Metode Pendidikan Islam Paling Ampuh

0
story telling
story telling

Salah satu metode dalam pendidikan Islam yang banyak digunakan oleh guru-guru kita dahulu dan pendakwah Islam seperti Walisongo adalah story telling atau metode cerita. Strory telling terbukti efektif dalam memudahkan pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan. Metode pendidikan yang ampuh inilah yang ternyata sudah lebih dulu Allah swt contohkan dalam Al Quran Surat Hud ayat 120:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman (QS. Hud [11]: 120)


Baca jugaTafsir Tarbawi: Pentingnya Metode Perumpamaan dalam Pendidikan Islam


Tafsir Surah Hud Ayat 120

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt telah menceritakan kisah rasul-rasul terdahulu bersama umatnya. Semisal peristiwa ingkarnya pengikut nabi, permusuhan di antara mereka, keluhan nabi atas ketidaktaataan dan ketidakpatuhan terhadap ajarannya, dan lain sebagainya.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa segala cerita yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. seperti cerita para rasul terdahulu beserta umatnya, bagaimana peristiwa pedebatan Nabi dan umatnya, serta ketabahan dan keikhlasan para nabi. Semua itu tak lain bertujuan untuk memantapkan dan meneguhkan hati Nabi SAW. Pada konteks inilah, kisah rasul terdahulu menjadi suri tauladan bagi Nabi SAW.

Hal senada juga tertera dalam tafsir Jami’ul Bayan fi Tafsiril Al Qur’an. Dalam tafsirnya itu, at-Thabari menuturkan semua yang diceritakan Allah SWT kepada Nabi bertujuan untuk memantapkan hatinya. Karena itu, Nabi tidak perlu gundah tatkala kaumnya mendustakan ajaran yang ia bawa. Jangan pula berkecil hati sehingga Nabi meninggalkan sebagian yang telah Allah turunkan kepadanya.

Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib merinci manfaat kisah tersebut di antaranya, pertama, memantapkan hati Nabi untuk sabar dan tak gentar menyampaikan risalah. Karena memang setiap penyemaian benih kebaikan, selalu diusik oleh semak belukar yang Selalu berusaha menggerogotinya.

Cerita itu pula seakan memperlihatkan bahwa Nabi SAW tidak sendirian merasakan kepedihan, sebab rasul terdahulu juga mengalami tantangan berat.

Kedua, dalam surah tersebut telah datang kepada Rasul SAW yaitu suatu kebenaran, mauidzah (nasihat). Selain itu, terdapat peringatan yang amat berharga bagi orang yang dapat mengambil pelajaran darinya

Semua cerita tersebut bertujuan untuk meneguhkan hati Rasulullah bahwa memang tidak mudah menjalankan dan mengemban risalah-Nya.

Di samping itu, kisah-kisah tersebut juga menanamkan nilai-nilai kebenaran. Di antara nilai itu ialah prinsip ketauhidan dan ketakwaan atau amar ma’ruf nahi munkar. Kesemuanya itu merupakan pengajaran dan peringatan yang bermanfaat bagi orang-orang yang mempercayai bahwa diazabnya umat terdahulu dikarenakan mereka telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri dan berbuat kerusakan di muka bumi.


Baca juga: Inilah Alasan Kenapa Kisah Al Quran adalah Kisah Terbaik

Story Telling, Metode Pendidikan Islam Paling Ampuh

Story telling atau metode cerita yang ditegaskan dalam ayat di atas menunjukkan bahwa metode cerita sangat efektif bagi pengajaran peserta didik. Di mana saat itu Rasul SAW berposisi sebagai peserta didik yang diajar langsung oleh Allah SWT.

Dalam konteks pendidikan Islam, seorang pendidik dapat menggunakan metode cerita. Terkhusus, cerita masa lampau atau sejarah yang berkaitan dengan pelajaran dan tema yang sedang diajarkannya. Hal ini karena cerita itu akan mudah diterima oleh murid dan membekas di hati mereka. Sehingga, mereka semakin mudah memahami pelajaran.

Selain itu, Kita tahu bahwa seseorang mulai usia anak-anak hingga dewasa sangat suka sekali dengan cerita-cerita. Terutama jika cerita itu berasal dari pengalaman hidup sehari-hari dan sedang kita alami. Tentu akan sangat membekas dalam hati dan kita dapat mengambil ibrah (pelajaran) dari cerita tersebut.


Baca juga: Meneladani Kisah Ashabul Kahfi dalam Al Quran


Pertanyaannya kemudian, mengapa harus metode cerita?

Sebagaimana penjelasan ayat tersebut, Allah ingin membumikan ajaran-Nya kepada makhluk-Nya. Salah satunya, melalui perantara metode cerita yang dapat dipahami oleh mereka. Karena pengetahuan ilahiyah tidak terlepas dari sesuatu yang menerima dan hal yang harus diterima. Artinya, jika hati harus siap untuk menerima pengetahuan ilahiyah, sehingga bisa memperoleh manfaat dengan mendengarkan cerita itu. Dan hal yang harus diterima ialah kebenaran, nasihat, dan peringatan yang terkandung dalam ayat tersebut.

Karena cerita itu penting, maka tak heran bila guru kita seperti Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Kiai Bahauddin Nursalim (Gus Baha’) juga sering menggunakan metode ini. Kedua tokoh ini dalam menyampaikan ceramahnya selalu sarat akan cerita-cerita yang bermakna, humoris dan konstruktif. Pendengarnya pun tidak merasa digurui. Malah mereka merasa rileks, tertawa bahagia sehingga menyebabkan mereka mampu meresapi dan merefleksikan makna cerita tersebut ke dalam dirinya sendiri. Wallahu A’lam.

Aboebakar Atjeh: Sang ‘Bidan’ di Balik Lahirnya Al Quran Pusaka Republik Indonesia

0
Aboebakar_Atjeh (wikipedia.org)

Aboebakar Atjeh dikenal sebagai cendekiawan cum politikus muslim yang produktif setelah kemerdekaan Indonesia. Puluhan karya-karyanya banyak membahas tentang sejarah, tasawuf dan studi keagamaan lainnya. Tentu sebelum tulisan ini, sudah banyak sekali tulisan yang membahasnya.

Dalam jejak digital saja, dapat diketahui bahwa nama Aboebakar Atjeh masuk dalam buku Seratus Tokoh Islam yang Paling Berpengaruh di Indonesia karangan Shalahuddin Hamid dan Iskandar Ahza. Selebihnya, tokoh ini lebih didiskusikan berdasarkan karyanya yang menjadi ‘pembabad alas’ dalam kontkes khazanah kajian Islam di Indonesia.

Dalam tulisan ini sosok yang mendapat julukan Ensiklopedi Berjalan akan dilihat dalam konteks lahirnya mushaf Al Quran Pusaka Republik Indonesia mushaf kenegaraan pertama. Di berbagai tulisan tentang Aboebakar Atjeh, termasuk buku Seratus Tokoh Islam yang Paling Berpengaruh di Indonesia memang menyebut bahwa ia memelopori gagasan penulisan Al Quran Pusaka bersama KH Masjkur selaku Menteri Agama pada tahun 1947-1949 dan tahun 1953-1955. Namun banyak yang tidak menyebut bahwa penulisan mushaf yang monumental ini memiliki makna perjuangan yang luar biasa.

Buku yang berjudul Al-Mashaf Risalah Bangsal Penglaksanaan Qur’an Pusaka Republik Indonesia gubahan Aboebakar Atjeh tahun 1952 merupakan bukti autentik untuk melihat sejarah ini. Peran Aboebakar Atjeh dalam membidani lahirnya mushaf ini sangat kentara, karena ia mencatat runtutan kegiatan dari mulai munculnya gagasan hingga pembentukan Yayasan.

Ia menceritakan bahwa gagasan penulisan Mushaf Pusaka muncul pada masa revolusi Yogyakarta. Memang saat itu Belanda melakukan serangan agresi militer pertama dari 21 Juli 1947. kemudian juga agresi militer kedua pada 19 Desember 1948, pun Indonesia belum mendapatkan pengakuan kemerdekaannya oleh Belanda sebelum tanggal 27 Desember 1949.

Dalam buku tersebut tertera ungkapan yang cukup menjelaskan awal mula gagasan penulisan mushaf ini, berikut urainnya:

Pada waktu memperingati hari nuzululquran pada tahun yang ke IV, timbullah keinginan dalam hati saya hendak mengadakan sesuatu yang merupakan sejarah.  Yakni, hendak membuat suatu manuskrip (tulisan tangan) dari Alquranulkarim. Kalau Republik menang dalam perjuangannya dapat menjadi syiar dan penghargaan kepada seluruh kaum muslimin yang turut menyumbangkan tenaganya. Dan jikalau terjadi sebaliknya (naudzubillahi min zalik) maka mashaf yang ditulis itu menjadi saksi bahwa umat islam Liilai kalimatillah sudah pernah mengangkat senjata hendak mempertahankan diri dari pada kezaliman. (Aboebakar,1952:5)


Baca juga: Tersimpan di Perpustakaan Rotterdam Belanda, Inilah Mushaf Al Quran Tertua dari Nusantara


Sebelum acara itu, Aboebakar Atjeh berusaha meyakinkan beberapa tokoh untuk mendukung proyek monumental ini. Namun mayoritas justru menyarankan agar diurungkan niat tersebut. Hingga akhirnya bertemu dengan beberapa tokoh seperti KH. Sradj Dahlan, Ghafar Ismail, H. Syamsir dan Hasandin (mertua presiden Soekarno) yang mana ide ini pun diterima.

Kemudian ide ini didengar oleh KH Masjkur dan mendapatkan respon bagus. Apalagi mushafnya berukuran 2 x 1 meter, dan termasuk mushaf terbesar. Lalu pada malam Nuzulul Qur’an tepatnya pada 23 Juli 1948 H / 17 Ramadhan 1367 M. Diadakanlah upacara menulis huruf yang pertama Al-Quran pusaka, yaitu menggoreskan basmalah. Soekarno menuliskan huruf ba’ di awal basmalah, sedangkan Moh. Hatta menuliskan mim di akhir basmalah.

Ternyata sehabis acara itu, penulisan sempat berhenti karena problem pendanaan dan hal lain yang belum siap.  Ditambah lagi H. Sjamsir yang semula bersedia mendanai justru mengalami kebangkrutan. Titik terang kembali muncul saat Salim Fachry yang kemudian menjadi penulis mushaf ini bertemu dengan KH. Masjkur di Kongres Muslim Indonesia (KMI) Yogyakarta tahun 1949.


Baca juga: Melihat Respon Adz-Dzahabi atas Perdebatan Tafsir Nabi


Dukungan ini berlanjut pada tahun 1950 saat KH. Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama. Saat itu didirikanlah sebuah Yayasan Bangsal Penglaksanaan Qur’an Pusaka Republik Indonesia. Sayangnya di tengah perjalanan, NU berpisah dari Masyumi yang berpotensi untuk memecah belah tim penulisan mushaf karena kader NU dan Masyumi ada di sana.  Beruntungnya, hal itu tidak terjadi dan mushaf diresmikan tahun 1960 saat peringatan Nuzulul Qur’an.

Layaknya bidan, Aboebakar Atjeh berhasil membantu lahirnya mushaf Pusaka. Soekarno pun mengucapkan terima kasih padanya:

Insyaallah saudara-saudara, akan saya simpan dan pelihara Qur’an Pusaka ini dengan sebaik-baiknya dan disinilah tempatnya pula saya mengucapkan saluut kehormatan dan terima kasih kepada semua saudara-saudara yang telah membanting tulang, bekerja keras untuk membuat Al-Qur’ān Pusaka ini, terutama sekali kepada H. Aboebakar Atjeh.(Pidato Soekarno, 15 Maret 1960, dari ANRI, kode arsip nst.1317/60).  Wallahu a’lam bi-al shawab