Beranda blog Halaman 537

Dalil dan Aturan Tayamum, Tafsir Surat An-Nisa Ayat 43

0
dalil tayamum
dalil tayamum

Dalam Islam kita mengenal istilah tayamum. Tayamum adalah alternatif bersuci selain wudu dan mandi wajib. Tayamum dijadikan sebagai syarat boleh melaksanakan ibadah. Dasar tayamum ini dapat kita temukan dalam Alquran, surat An-Nisa’ ayat 43.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. an-Nisa’ [4]: 43)

Tayamum adalah satu di antara beberapa cara yang ditawarkan oleh Alquran untuk bersuci dari hadas. Sebagaimana diketahui bahwa keadaan suci menjadi syarat wajib dan sah bagi suatu ibadah, maka wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui tayamum.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan tayamum secara bahasa memiliki arti bertujuan. Seperti perkataan orang Arab, “tayammamakallahu bi hifzhihi” artinya semoga Allah berkenan memelihara dirimu yakni bertujuan untuk melindungimu. Adapun dalam istilah fiqih, tayamum adalah cara bersuci pengganti wudu dan mandi untuk menghilangkan hadas kecil dan besar tanpa menggunakan air sebab dalam keadaan mendesak.

Baca Juga: Hikmah Bersuci Dalam Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 6

Kapan boleh bertayamum?

Berdasarkan surat an-Nisa’ ayat 43 di atas, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan seseorang boleh melakukan tayamum. Pertama, saat berada dalam kondisi sakit. Kedua, ketika sulit mendapatkan air atau ketersediaan air yang ada tidak cukup.

Imam Al-Ghazali dalam dalam Ihya’-nya juga menjelaskan lebih rinci tentang faktor yang memperbolehkan tayamum,

مَنْ تَعَذذَّرَ عَلَيْهِ اسْتِعْمَالُ الْمَاءِ لِفَقْدِهِ بَعْدَ الطَّلَبِ اَوْ بِمَانِعٍ لَهُ عَنِ الْوُصُوْلِ اِلَيْهِ مِنْ سَبُعٍ اَوْ حَابِسٍ اَوْ كَانَ الْمَاءُ الْحَاضِرَ يَحْتَاجُ اِلَيْهِ لِعَطَشِهِ اَوْ لِعَطَشِ رَفِيْقِهِ اَوْ كَانَ مِلْكًا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَبِعْهُ اِلاَّ بِأَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِ الْمِثْلِ اَوْ كَانَ بِهِ جَرَاحَةٌ اَوْ مَرَضٌ وَخَافَ مِنِ اسْتِعْمَالِهِ فَسَادَ الْعَضْوِ اَوْ شِدَّةَ الضَّنَا فَيَنْبَغِيْ اَنْ يَصْبِرَ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ وَقْتُ الْفَرِيْضَةِ

Artinya: “Siapa saja yang keesulitan menggunakan air, baik karena ketiadaannya setelah berusaha mencari, atau karena ada yang menghalangi, seperti takut binatang buas, karena dipenjara, air yang ada hanya cukup untuk minumnya atau kawannya, air yang menjadi milik orang lain dan tidak dijual kecuali dengan harga yang lebih mahal dari harga normal, atau karena luka, karena penyakit yang bisa menyebabkan rusaknya anggota tubuh atau makin menambah rasa sakit jika terkena air, maka hendaknya ia bersabar sampai masuk waktu fardu.”

Dalam kitab-kitab fiqih yang berafiliasi pada mazhab Syafi’iyah, penjelasan mengenai faktor-faktor ini bahkan diperluas. Seperti dalam kitab al-Fiqhul Manhaji ‘alal Madzahib al-Imam as-Syafi’i dijelaskan, termasuk faktor diperbolehkannya tayamum adalah cuaca yang sangat dingin. Jika seseorang menggunakan air lalu kedinginan, sementara tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan sebagai penghangat tubuh, maka diperbolehkan tayamum. Hal ini pernah dilakukan oleh salah seorang sahabat yang bernama ‘Amr bin ‘Ash yang bertayamum dari junubnya karena kedinginan. Rasulullah saw yang mendengar hal tersebut kemudian mendiamkannya. Namun, penulis kitab tersebut melanjutkan bahwa untuk kondisi yang disebutkan terakhir ini seseorang tersebut diharuskan mengqadha shalatnya.

Masih dari ayat yang sama, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tayamum tidak hanya berlaku sebagai pengganti wudu melainkan berlaku pula sebagai pengganti mandi wajib. Hal ini sebagaimana penafsiran sebagian ulama terhadap lafal la mastumun nisa’ yang mengandung makna berhubungan badan.

Baca Juga: Apa Saja Amalan Sunnah 10 Muharram? Berikut Penjelasannya, Esensi Sujud dan Fungsi Masjid Yang Sebenarnya

Dengan apa kita bertayamum?

Adapun media yang digunakan untuk tayamum adalah tanah yang baik/suci. Sebagaimana Nabi bersabda,

فُضِّلْنَا عَلَى النَّاسِ بِثَلاَثٍ: جُعِلَتْ صُفُوْفُنَا كَصُفُوْفُ الْمَلاَئِكَةِ، وَجُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا، وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُوْرًا اِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ

“Kita diberi keutamaan di atas semua orang (umat) karena tiga hal, yaitu barisan kita dijadikan seperti barisan para malaikat, bumi dijadikan bagi kita semua sebagai tempat sujud (shalat), dan tanah dijadikan bagi kita suci lagi menyucikan jika kita tidak menemukan air.” (HR. Muslim)

Melanjutkan penjelasan Ibnu Katsir, kata ‘sha’idan’ memiliki versi berbeda di antara ulama. Imam Malik mengatakan yang dimaksud dengan kata tersebut adalah segala sesuatu yang muncul di permukaan bumi. Hal ini mencakup debu, pasir, pepohonan, bebatuan, dan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan Imam Abu Hanifah mengartikannya sebagai sesuatu yang sejenis debu, seperti pasir, granit, dan kapur. Sementara Imam Syafi’i dan Imam Ahmad sepakat bahwa maksud dari tanah (sha’idan) hanya berlaku untuk debu, tidak pada yang lain. Pendapat ini berangkat dari firman Allah surat Al-Kahfi ayat 40 yang memahami sha’idan juga dengan debu atau tanah yang licin.

Wallahu A’lam.

Ngaji Gus Baha’: Cara Agar Tidak Mudah Kecewa dengan Orang

0
agar tidak mudah kecewa
agar tidak mudah kecewa

Menjaga emosi agar tidak mudah kecewa tentu memiliki trik khusus. Salah satunya seperti yang disampaikan Kyai Ahmad Bahauddin Nursalim, dalam pengajiannya bersama santri Gayeng. Tokoh yang biasa disapa Gus Baha’ ini menjelaskan Tafsir surat An-Nur ayat 22-26 tentang cara agar tidak mudah kecewa dengan orang. Ayat tersebut mengisahkan perasaan Abu Bakar As-Shiddiq ketika mengetahui anaknya yang bernama Aisyah difitnah berzina. Berikut firman Allah surat An-Nur ayat 22:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”


Baca juga: Kisah Dua Anak Nabi Adam: Kedengkian Qabil Terhadap Habil Yang Membawa Petaka


Tafsir Surat An-Nur Ayat 22-26

Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsir Al Quranul ‘Adzim, bahwa Ayat ini diturunkan berkenaan dengan sahabat Abu Bakar As-Siddiq saat ia bersumpah tidak akan memberikan sedekah lagi kepada Mistah bin Asasah. Hal ini terjadi setelah Mistah menuduh zina terhadap putrinya, ‘Aisyah.

Setelah Allah menurunkan wahyu yang membersihkan diri Aisyah, sehingga hati Aisyah lega. Di samping itu, Allah menerima tobat orang yang membicarakan berita bohong itu dari kalangan mukmin serta menghukum sebagian mereka yang berhak menerimanya.

Lantas, Khitab Allah beralih kepada sahabat Abu Bakar As-Siddiq yang memerintahkan kepadanya agar berbelas kasih kepada kerabatnya, yaitu Mistah bin Asasah. Mistah bin Asasah adalah anak dari bibi Abu Bakar, yang berarti sepupunya. Mistah adalah orang yang miskin, tidak berharta kecuali apa yang ia terima dari uluran bantuan Abu Bakar.

Mistah termasuk salah seorang dari kaum Muhajirin yang berjihad di jalan Allah. Tetapi, ia terpeleset dan melakukan suatu kesalahan. Kemudian Allah menerima tobatnya, dan telah menjalani had (hukuman) yang harus diterimanya akibat kesalahannya itu. Kemudian Abu Bakar kembali memberikan sedekah kepada Mistah seperti biasanya. Ia juga memaafkan tuduhannya atas ‘Aisyah.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 261: Keutamaan Sedekah


Agar Tidak Mudah Kecewa dengan Orang

Menurut Gus Baha’ tafsir surat an-Nur ayat 22-26 sungguh ayat yang luar biasa, dan patut untuk diteladani. Ayat ini mengisahkan ‘Aisyah yang kena tuduhan zina yang disebut dengan haditsul ifki (berita bohong/hoaks).


Baca juga: Cara Menangkal Hoax Menurut Pandangan Alquran


Gus Baha menceritakan kisah tersebut dari sudut pandang seorang bapak, yaitu Abu Bakar as- Shidiq. Ketika mengetahui anaknya dituduh zina, ia merasa dendam kepada orang-orang yang telah mefitnah Aisyah. Bahkan, saudara sepupu Abu Bakar yang bernama Mistah bin Asasah, juga ikut mefitnah Aisyah.

Karena sepupunya ini turut mefitnah Aisyah, Abu bakar bersumpah tidak mau lagi bersedakah padanya. Fenomena ini sangat wajar ketika seorang bapak merasa dendam pada orang yang telah mefitnah anaknya. Namun Allah merespons melalui surat An-Nur di atas, bahwa sikap Abu Bakar ini kurang tepat.

Allah menuntun Abu Bakar untuk legawa dan tetap bersedekah kepada siapa saja yang membutuhkan. Dengan legawa, seseorang bisa mengendalikan emosinya, sehingga kemarahannya tidak mencegah perbuatan baik yang lain.  

“Ayat ini adalah wujud keteladanan, bahwa jangan sampai jika kita merasa sakit dengan orang, langsung besumpah yang tidak bagus. Karena Allah juga tidak menyukai pada orang yang bersumpah yang tidak bagus”, tegas Gus Baha’.

Menurut Gus Baha’, dalam ayat tersebut, Allah memerintakah bersedekah bagi siapapun yang memiliki harta lebih, tak peduli mau atau tidak. Syariatnya Allah itu tidak bisa dikalahkan dengan rasa kecewa dengan orang. Jadi, kejadian semenyakitkan apapun, kita tetap harus jaga emosi.

Jika merasa kecewa, rasakanlah apa yang Allah berikan selama ini. Allah memberi rejeki tak terhingga, akan tetapi tetap belum banyak yang menyembah Allah, apalagi bersyukur kepada Allah. Dalam kisah ‘Aisyah ini kita melihat, bahwa terhadap istri seorang Nabi pun, masih ada manusia yang tidak suka. Apalagi manusia-mausia biasa. Karena itu, biasakan diri untuk jaga emosi jika merasa kecewa dengan orang. Wallahu a’lam.

 

 

Viral Aksi Meludahi Al Quran, Ini Cara Pilih Sikap menurut Al Quran!

0
Bersikap menurut Alquran
Bersikap menurut Alquran

Aksi peludahan Alquran di Norwegia beberapa hari lalu menuai respon negatif dari berbagai lini masyarakat. Bahkan, sederet pihak mengecamnya dengan keras. Dilansir dari detik.com (1/9), Kemenlu Turki mendesak pemerintah Norwegia untuk segera menindak tegas aksi penistaan agama yang dilakukan oleh anggota Stop Islamisation of Norwegia (SIAN) tersebut.

Kejadian ini bukan kali pertama di Norwegia. Dilansir dari kumparan.com (26/11), di penghujung tahun lalu, penistaan agama juga dilakukan oleh organisasi ini dengan membakar Alquran. Setelah diusut, tindakan tersebut dilatarbelakangi oleh kebencian terhadap Islam (Islamophobia), yang kemudian menginspirasi mereka untuk membuat komunitas anti Islam (SIAN).

Melihat peristiwa tersebut, sebagai muslim harusnya punya cara tepat meresponnya, di satu sisi mempertimbangkan prinsip toleransi yang tekandung dalam Alquran, dan di lain sisi tidak terlalu lengah, agar tidak menyebabkan Islam melemah.

Baca Juga: 3 Model Interaksi Manusia dengan Al Quran Menurut Farid Esack

Tafsir ayat tentang penistaan agama

Dalam Alquran, penistaan agama diistilahkan dengan istihza’ dan dengan berbagai derivasinya (menghina, merendahkan, menistakan). Penistaan juga disebut sukhriyyah, yang relatif sama maknanya dengan istihza’. Allah berfirman dalam QS. Az-Zukhruf [43]: 6-7:

 ()وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِن نَّبِىٍّ فِى ٱلْأَوَّلِينَ
وَمَا يَأْتِيهِم مِّن نَّبِىٍّ إِلَّا كَانُوا۟ بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ

“Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Tidak ada satu orang nabi pun datang kepada mereka melainkan mereka selalu mengolok-olok”

Mengutip dari al-Ghazali, Al-Alusi dalam Ruhul Ma’ani mendefinikan istihza’ dengan:

وذكر حجة الإسلام الغزالي أن الإستهزاء: الإستحقار والإستهانة والتنبيه على العيوب والنقائص على وجه يضحك منه وقد يكون ذلك بالمحاكه في الفعل والقول والإشارة والإيماء

“Hujjatul Islam Al-Ghazali menyebutkan bahwa istihza’ ialah penghinaan, merendahkan, mengungkap aib dan kekurangan orang dengan cara menertawakannya. Hal tersebut biasanya diungkapkan dengan meniru perilaku, perkataan, atau isyarat”

Dalam Tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhayli, ayat ini turun untuk menghibur Nabi setelah cacian bertubi-tubi yang diterimanya dari kafir Quraisy. Melalui ayat ini, Allah juga membesarkan hati Nabi, bahwa utusan-utusan terdahulu juga mendapat penghinaan seperti yang ia alami saat itu.

Di antara penistaan yang dilontarkan Kafir Quraisy kepada Nabi ialah menghinakan salat saat Nabi mengajaknya (surat Al-Maidah ayat 58) dan menuduhnya gila (Surat Ad-Dukhan ayat 14)

Sementara itu, bentuk penistaan agama yang berkaitan dengan Alquran antara lain saat Kafir Quraisy mencemarkan Alquran dengan menganggapnya buatan Nabi (Surat Yunus ayat 38). Selain itu sikap antipati dan memperolok Al Quran juga dilakukan oleh pamannya sendiri.

Abu Jahal menistakan surat Al-Muddatsir ayat 30 “‘alayha tis’ata ‘asyara” (di atasnya (neraka) terdapat 19 (malaikat penjaga).

Ia berujar, “kalau hanya 19 malaikat yang menjaga, saya siap menghadapinya sendirian).

Baca Juga: Cara Menangkal Hoax Menurut Pandangan AlquranTafsir Surat al-Fath 29: Benarkah Harus Bersikap Keras kepada Non-Muslim?

Cara pilih sikap harus tahu penyebabnya dulu

Tindakan penistaan pasti memiliki penyebab yang melatarinya. penyebab ini bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk merespon tindakan tersebut. Apakah harus dibalas dengan keras dan tegas, atau lebih bijak meresponnya dengan ramah.

Alquran setidaknya memberikan 2 indikasi utama tentang penyebab ini.

Pertama, penistaan timbul karena rasa gumede (sombong) yang menjadi akibat dari budaya hedonisme . Misalnya dapat kita cermati dalam firman Allah, QS. Al-Jatsiyah [45]: 8-9:

يَسْمَعُ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
وَإِذَا عَلِمَ مِنْ ءَايَٰتِنَا شَيْـًٔا ٱتَّخَذَهَا هُزُوًا ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri, seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka, berilah kabar gembira kepadanya dengan azab yang pedih. Bila dia mengetahui sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.”

Az-Zuhayli menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan Nadr bin Harits yang menyogok orang-orang non-Arab agar masyarakat tidak lagi mau mendengarkan Alquran. Memang pada waktu itu, banyak orang bisa menjangkau pembacaan Alquran, tak terlepas para kafir Quraisy. Sayangnya, sebanyak apa pun mereka mendengarkan Alquran, tidak ada satu ayat pun yang menggugah hati mereka untuk mempercayainya.

Penyebab pertama ini juga ditemukan dalam dalam QS. Al-Jatsiyah [45]: 35:

ذَٰلِكُم بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذْتُمْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا ۚ فَٱلْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan cacian dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia. Maka, pada hari ini, mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat”

Kedua, ketidaktahuan. Tindakan penistaan juga bisa timbul lantaran seorang penista tidak tahu yang sebenarnya. Bisa jadi karena informasi yang ia terima salah, atau sama sekali belum menerima informasi tersebut. Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah [5]: 104:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُوا۟ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَلَا يَهْتَدُونَ

“dan apabila dikatakan kepada mereka “marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul”. Mereka menjawab, “cukup bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya)”. Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak tahu apa pun dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”

2 sikap terhadap penistaan agama

Penistaan yang timbul karena kesombongan serta berdampak besar harus disikapi dengan tegas, karena mereka melakukan itu bukan atas dasar tidak tahu. Mereka sengaja menghina agama karena ingin menghancurkannya.

Salah satu sikap tegas bisa dengan mengecam aksi penistaan yang tidak bisa ditolerir lagi. Sikap ini pernah Nabi lakukan seusai hijrah ke Madinah. Waktu itu, ia mengecam orang yang berpura-pura masuk Islam lantaran ingin meneror dan menghancurkan Islam. Nabi menjulukinya munafik dan mengancamnya akan masuk neraka. Sikap tegas yang dilakukan Nabi ini berada dalam konteks turunnya surat An-Nisa’ ayat 140.

Sementara itu, bila penistaan timbul karena ketidaktahuan atau informasi yang salah (hoax), maka lebih baik melakukan klarifikasi kebenaran sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat [49]: 6. Tentunya, pengungkapan fakta dan informasi yang sebenarnya harus dilakukan dengan cara yang ramah serta kooperatif. Hal ini tak lain sebagai ikhtiar menjaga pilar Islam sebagai agama yang toleran dan cinta kedamaian.

Tetapi, dalam kasus di Norwegia, sebaiknya kita menunjukkan sikap kritis. Pasalnya, kasus itu dimotori oleh komunitas yang jelas anti Islam, dan ini bukan pertama kalinya. Ditambah lagi, pelakunya pernah didakwa atas kasus ujaran kebencian. Beberapa fakta ini menunjukkan penistaan agama atas dasar kebencian sangat kentara sehingga melewati batas toleransi. Selain itu, untuk menghindari melemahnya agama Islam. Wallahu A’lam

Inilah Tiga Keutamaan Surat Al Baqarah

0
keutamaan surat al baqarah
keutamaan surat al baqarah

Dikisahkan bahwa penamaan al-Baqarah (sapi betina) dalam surat ini erat kaitannya dengan masyarakat Bani Israil. Sebagaimana dituturkan oleh Quraish Shihab bahwa asbabun nuzul surah ini ialah bermula dari terbunuhnya seseornag namun tidak diketahui pelakunya. Sontak, masyarakat Bani Israil saling tuding menuding tentang siapa pelakunya.

Lantas, mereka menghadap Nabi Musa, meminta agar beliau berdoa kepada Allah swt dan menunjukkan siapa pelakunya. Maka Allah swt memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi. Dari sinilah penamaan al-Baqarah (sapi betina) menjadi nama surah dalam Al Quran Sehubungan dengan keutamaan yang akan kita dapatkan ketika membaca surat al Baqarah, di bawah ini terdapat 3 uraian tentang keutamaannya, antara lain;

Menjadikan diri terlihat awet muda

Beberapa ayat ada yang diyakini ketika membacanya akan menjadikan wajah cantik atau tampan. Seperti surah Yusuf terkenal di kalangan masyarakat dibaca pada saat ibu mengandung dengan harapan anaknya akan lahir setampan nabi Yusuf. Namun ternyata surat Al Baqarah juga bisa diamalkan untuk tujuan seperti itu. Hal ini seperti yang disampaikan dalam sebuah hadits,

قَالَ الحميدي : ثَنَا سُفْيَان قَالَ: ثَنَا مَنْصُوْر عَنْ إبْرَاهِيْم عَنْ عَبْدُ الرَّحْمن بْنُ يَزِيْدُ عَنْ عَلْقَمَة عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْد أَنَّ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِيْ لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ. قَالَ عَبْدُ الرَّحْمن بْنُ يَزِيدُ : ثُمَّ لَقِيْتُ أَبَا مَسْعُوْدِ فِيْ الطَّوَافِ فَسَأَلْتُهُ عَنْهُ فَحَدَّثَنِيْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِيْ لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ.

“ Berkata Humaidi: menceritakan kepada kami Sufyăn: menceritakan kepada kami Mansur dari Ibrahim dari ‘Abdurrahman bin Yazid dari ‘Alqamah dari Abi Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : “barangsiapa yang membaca dengan dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah pada malam hari, maka dia akan terlihat muda”. Berkata Abdurrahman bin Yazid: kemudian aku berjumpa dengan ‘Abă Mas’ud pada saat sedang melaksanakan Thowaf, maka aku bertanya kepadanya mengenai hal itu, maka dia menyampaikan kepadaku, “sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan terlihat muda” (Diriwayatkan dari al-Humaidi, no. 215/1)

Baca juga: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 222: Tuntunan Al-Quran Memperlakukan Perempuan Haid

Mengeluarkan setan dari dalam rumah

Bagi rumah yang tidak berpenghuni ataupun diyakini ada makhluk gaib di dalamnya, bisa dibacakan surat al-Baqarah. Insya Allah dengan keutamaan surat al-Baqarah, orang yang tinggal di rumah itu akan terbebas dari segala bentuk kejanggalan yang mendatangkan mudharat. Seperti yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik,

قَالَ الفَرْيَابِي: حَدَّثَنِيْ إِسْحَاق بنُ سَيَارَ ثَنَا اِبْنُ وَهَبْ أَخْبَرَنِيْ عَمْرُوْ بْنُ الْحَارِثْ وَاِبْنُ لُهَيْعَة عَنْ يَزِيْدُ بْنُ أَبِيْ حَبِيْب عَنْ سُنَان بْنُ سَعِدٌ عَنْ أَنَسٍ بْنُ مَالِكِ عَنِ رَّسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وِسِلَّمَ قَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لِيَخْرُجُ مِنْ البَيْتِ إِذَا سَمِعُ سُوْرَةَ الْبَقَرَةُ تُقْرَأُ فِيْهِ

“Berkata Faryăbî: menceritakan kepadaku Ishaq bin Sayăra, menceritakan kepadaku Ibnu Wahab, mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Hărits dan Ibnu Luhay’ah, dari Yazîd bin Abi Habîb dari sunan bin Sa’id, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “sesungguhnya syetan akan keluar dari rumah bilamana mendengar surah Al-Baqarah yang engkau bacakan di dalamnya” (Ditakhrij oleh Faryăbî dalam kitabnya Fadhă’il;185)

Juga dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah,

قَالَ مُسْلِمٌ : حَدَّثَنَا قُتَيْبَة بْنُ سَعِيْدٌ حَدَّثَنَا يَعْقُوْب وَهُوَ اِبْنُ عَبْدُ الرَّحْمنِ الْقَارِي عَنْ سَهِيْل عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا تَجْعَلُ بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرْ إِنَّ الشَّيْطَانَ يُنْفِرُ مِنْ البَيْتِ الَّذِيْ تَقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَة البَقَرَة: وَفِيْ لَفْظِ : (يفر) وَفِيْ رِوَايَةِ : (( وَإِنَّ الْبَيْتِ الَّذِيْ تَقْرَأُ فِيْهِ الْبَقَرَةِ لَا يَدْخُلُهُ الشَّيْطَان))

“Berkata Muslim: menceritakan kepadaku Qutaiybah bin Sa’id, menceritakan kepadaku Ya’qub dan dialah Ibnu ‘Abdurrahman al-Qărî, dari Sahîl, dari bapaknya, dari Abi Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw, bersabda: Jangan jadikan rumahmu kuburan. Sehungguhnya Syaitan akan menghindar dari rumah yang dibacakan didalamnya surah Al-Baqarah: dan dalam lafadznya “(Setan)Melarikan diri”. Dan dalam riwayat lain: “dan sesungguhnya rumah yang dibacakan surah Al-Baqarah didalamnya tidak akan dimasuki oleh syaitan”” (HR. Muslim, no.64/6)

Baca juga: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 222: Benarkah Makna Haid itu Kotoran?

Mengabulkan permohonan doa

Jika selama ini kita merasa doa kita belum dikabulkan, cobalah merutinkan bacaan surat al-Baqarah. Di dalam surat al Baqarah terdapat ‘ismu allah al-a’zham’ (Nama-nama Allah yang Agung) yang ketika kita berdoa dengan menggunakan nama-nama itu, maka doa tersebut akan dikabulkan. Seperti penjelasan Rasulullah saw dalam sebuah hadits,

قَالَ الفَرْيابِيْ : حَدَّثَنَا هِشَام بْنُ عُمَارحَدَّثَنَا الوَلِيْد بْنُ مُسْلِم أَنَّا عَبْدُ اللهِ بْنُ العلَاءِ بْنُ زَبِرأَنَّهُ سَمِعُ الْقَاسِم أَبَا عَبْدُ الرَّحْمنِ يُحْدَثُ عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ يَرْفَعُهُ قَالَ : اِسْمُ اللهِ الأَعْظَمِ الَّذِيْ إِذَا دَعَي بِهِ أَجَابَ فِيْ سُوَرِ ثَّلَاثَةِ فِيْ الْبَقَرَةِ وَ الْعِمْرَانِ وَ طه – يَعْنِيْ الْحي الْقَيُّوْمُ –

“Berkata Faryăbî: menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Umar, menceritakan kepada kami Walîd bin Muslim, sesungguhnya ‘Abdullah bin ‘Ulă’ bin Zabir mendengar al-Qasim Abă ‘Abdurrahman menceritakan, dari Abi ‘Umamah menyampaikan : Nama-nama Allah yang agung, yang ketika berdo’a dengannya akan dikabulkan, terdapat dalam tiga surah; dalam surah al-Baqarah, dan surah al-Imran, dan Surah Taha-yakni al-hayy al-qayyŭm”( ditakhrij oleh Faryăbî, no.185)

Itulah tiga keutamaan yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis mendapatkan banyak informasi dari hadits-hadits yang menyangkut keutamaan surat al-Baqarah, dan ternyata hikmah yang paling cenderung  pada surat al-Baqarah ini adalah untuk menjauhkan diri dari godaan dan gangguan setan, salah satu alasannya adalah karena di dalamnya terdapat ayat kursi. Semoga tiga keutamaan ini menjadi bahan awal para pembaca untuk menemukan keutamaan lain dari surat al-Baqarah.

Kisah Dua Anak Nabi Adam: Kedengkian Qabil Terhadap Habil Yang Membawa Petaka

0
Dua Anak Nabi Adam
Dua Anak Nabi Adam credit: sotor. com

Qabil dan Habil adalah dua anak nabi Adam yang diceritakan oleh Al-Qur’an. Cerita keduanya merupakan kelanjutan dari episode kisah perjalanan nabi Adam dan keturunannya di dunia. Di dalam kisah tersebut terdapat pesan-pesan ilahi yang memuat banyak hikmah, pelajaran dan peringatan bagi seluruh manusia setelah mereka, terkhusus pembaca al-Qur’an al-Karim.

Diceritakan bahwa setelah nabi Adam bisa bertemu kembali dengan Hawa di Jabal Rahmah pasca diturunkan ke dunia (bumi), keduanya melangsungkan kehidupan berumah tangga. Kemudian nabi Adam dianugerahi 4 orang anak, yakni Qabil, Iklima, Layutsa dan Habil. Qabil dan Iklima dilahirkan secara beriringan (kembar), begitu pula Layutsa dan Habil.

Anak-anak nabi Adam tumbuh sebagaimana anak-anak biasanya. Mereka bermain, belajar, berinteraksi dan beribadah di bahwa bimbingan nabi Adam dan Hawa. Meskipun anak-anak Adam as memiliki privilage yang sama, perbedaan sikap dan sifat di antara mereka tidaklah bisa dihindari. Karena ini berkaitan dengan cara masing-masing anak merespon peristiwa atau realitas yang terjadi di sekitar mereka.

Ketika dua anak Nabi Adam ini menjelang usia dewasa, Ayahandanya memberikan dua tanggung jawa kepada keduanya. Qabil diserahi tanggung jawab untuk mengurus ladang pertanian, sedangkan Habil diberi amanah untuk mengurus peternakan domba. Dari kedua pekerjaan tersebut, terlihat bahwa Habil lebih rajin dan telaten dibandingkan Qabil yang suka bermalas-malasan.

Kemudian Allah mewahyuan kepada nabi Adam untuk mengawinkan Habis dengan Iqlima dan Layutsa dengan Qabil. Ini bertujuan untuk meneruskan keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi. Mendengar perintah Allah itu, Qabil menolak dan berkata, “Aku tidak akan kawin kecuali dengan Iqlima, karena ia dilahirkan bersamaku dalam satu kandungan. Aku lebih mencintainya daripada saudari sekandung Habil.”

Nabi Adam kemudian menegur Qabil, “Wahai anakku, janganlah engkau menentang Allah Swt dalam urusan yang telah diperintah oleh-Nya kepadaku.” Qabil tetap bersikeras dan mengatakan, “Kalau demikian, aku tidak akan membiarkan saudara laki-lakiku mengambil Iqlima bagaimanapun keadaannya.” Dikisahkan bahwa Qabil melakukan ini karena Iqlima jauh lebih cantik dibandingkan Layutsa.

Baca Juga: Inilah Alasan Kenapa Kisah Al Quran adalah Kisah Terbaik

Agar permasalahan tersebut selesai, dua anak nabi Adam ini kemudian diperintahkan untuk berkurban kepada Allah. Siapa yang kurbannya diterima, maka ia berhak mendapatkan Iqlima. Mendengar itu, Qabil dan Habil setuju. Mereka berdua pergi menuju Makkah sambil membawa kurban. Habil mengurbankan domba yang paling bagus, sedangkan Qabil mengurbankan buah-buahan yang paling jelek.

Api pun turun menyambar kurban Habil dan membiarkan kurban Qabil. Qabil tidak menerima hal itu, karena ia akan kehilangan Iqlima. Ia berkata dengan sangat marah, ”Sungguh aku akan membunuhmu, sehingga engkau tidak dapat menikah dengan saudara perempuanku.” Habil lantas menjawab, “Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.” Pembicaraan selesai dan keduanya pulang ke rumah.

Abu Ja’far al-Baqir menyebutkan: Adam merasa gembira dengan kurban kedua anaknya tersebut dan merasa senang dengan diterimanya kurban Habil, walaupun kurban Qabil tidak diterima. Mengetahui respon ayahnya, Qabil dengan hati yang dengki lantas berkata, “Allah menerima kurban Habil sebab engkau berdoa untuknya dan tidak berdoa untukku.” Ia masih tidak rela melepaskan Iqlima dan berencana untuk membunuh Habil.

Pada suatu hari, Habil tidak pulang dari menggembala. Maka nabi Adam mengutus Qabil untuk mencari tahu kenapa ia tidak pulang. Setelah bertemu Habil, Qabil kembali mengancam Habil dengan berkata, “Seandainya engkau mengambil Iqlima, pasti aku akan membunuhmu. Aku tidak akan memberikan saudara perempuanku yang cantik kepadamu dan aku tidak akan menikahi saudara perempuanmu yang jelek itu.”

Mendengar ancaman saudaranya, Habil menjawab, “Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Maidah: 28) Habil menunjukkan rasa takut kepada Allah dan keengganan melawan tindakan buruk saudaranya, sekalipun dirinya jauh lebih kuat dibandingkan Qabil.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Pada saat itu, Iblis mencoba memanas-manasi Qabil dan membisikkan rencana-rencana jahat yang seharusnya ia lakukan. Akibat bisikan tersebut, emosi Qabil memuncak dan ia mengambil sebongkah batu lancip lalu memukulkannya ke kepala Habil hingga ia tewas terbunuh. Menurut sebagian ahli kitab, peristiwa ini terjadi di gunung Qasiyyun, selatan kota Damaskus.

Setelah Qabil membunuh Habil, ia kebingungan mau dibawa ke mana dan mau diapakan mayat saudaranya tersebut. Sebagian ulama tafsir menyebutkan bahwa Qabil membawa mayat Habil di pundaknya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Al-Suddy mengatakan bahwa Qabil selalu membawa mayat Habil kemanapun ia pergi, hingga Allah mengirim dua ekor gagak yang mencontohkan cara mengubur mayat. Firman Allah Swt:

“Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal.” (QS. Al-Maidah [5]: 31)

Akibat dari tindakan pembunuhan tersebut, Qabil diberikan balasan setimpal, yakni menanggung dosa yang amat besar. Firman Allah Swt, “Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5]: 29)

Ahli sejarah mengatakan bahwa nabi Adam sangat sedih ketika mengetahui kematian Habil. Ibnu Abbas juga mengatakan hal senada: “Setelah Adam as merasa yakin anaknya terbunuh, ia menangis beserta istrinya Hawa. Tahun itu menjadi tahun musibah bagi anak-anak mereka.” Dikisahkan, nabi Adam bahkan melantunkan syair kesedihan (syair Arab), namun pendapat ini lemah karena Adam termasuk orang yang berbahasa Suryani. Wallahu a’lam.

Ibn Jarir At-Thabari: Sang Bapak Tafsir

0
Ibn Jarir At-Thabari
Tafsir Ibn Jarir At-Thabari

Para pengkaji al-Qur’an dan Tafsir wajib mengenal Ibn Jarir At-Thabari Sang Bapak Tafsir. Dijuluki sebagai bapak tafsir sebab ia memiliki sebuah karya tafsir fenomenal yang sampai saat ini masih menjadi rujukan yang wajib dipelajari oleh para pengkaji al-Qur’an dan Tafsir.

Penasaran bukan siapa sebenarnya Ibn Jarir At-Thabari dan apa karya fenomenal yang menyebabkannya dijuluki bapak Tafsir? Tulisan ini akan mengulas biografi serta karya fenomenalnya. Meskipun tidak komprehensif, namun tulisan ini penulis dedikasikan kepada para pengkaji al-Qur’an dan Tafsir untuk lebih mengenal Ibn Jarir.

Mengenal Ibn Jarir At-Thabari

Nama lengkapnya Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Katsir ibn Ghalib At-Thabari. Ia juga dipanggil dengan sebutan (kunyah) Abu Ja’far. Perlu dicatat bahwa mengetahui kunyah Ibn Jarir sangat penting untuk tidak terkecoh dalam membaca tafsirnya. Ibn Jarir ialah seorang ulama yang berasal dari Amol, Thabaristan (sebelah selatan laut Kaspia) dan lahir di sana pada tahun 224 Hijriyah.

Abu Ja’far mulai mengembara mencari ilmu saat usinya baru menginjak 12 tahun. Ia melintasi berbagai daerah demi memenuhi rasa hausnya akan ilmu. Mulai dari Mesir, Syam serta Irak telah ia jelajahi. Pada akhirnya ia menetap di Baghdad hingga akhirnya wafat di tahun 310 Hijriyah.

Selama hidupnya, Ibn Jarir dikenal sebagai salah seorang cendekiawan yang pendapatnya atau fatwanya selalu dirujuk. Ia merupakan seorang ulama yang dikatakan menguasai seluruh keilmuan yang tidak tertandingi di masanya. Seorang penghafal al-Qur’an dan Hadis yang lengkap dengan pengetahuan akan makna dan kandungan fiqhnya serta cabang-cabang keilmuan yang ada di dalamnya.

Sebagai bukti atas keluasan ilmunya, Ibn Jarir memiliki banyak sekali karya-karya ilmiah yang sampai saat ini menjadi rujukan para pengkaji Islamic Studies. Dua dari karya-karyanya yang fenomenal antara lain Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (Tafsir), Tarikh al-Umam wa al-Mulk (Sejarah). Adapun ia juga menulis dalam bidang-bidang lainnya yang tidak diketahui judulnya yaitu dalam bidang Qira’at, Asbabun Nuzul, Perbandingan Madzhab, Rijalul Hadis, Hukum Syari’at/ Fiqh.

Baca Juga: Belajar Sabab Nuzul dalam Menafsirkan Al Quran Sangat Penting!

Hanya dua karya fenomenalnya yang sampai pada kita dan lainnya tidak ditemukan rekam jejaknya. Itulah yang menyebabkan banyak dari karya Ibn Jarir tidak diketahui judulnya. Meskipun begitu dua karya fenomenalnya yang sampai pada kita sudah cukup untuk membuatnya dijuluki sebagai bapak Tafsir serta bapak Sejarah. Sebab dua kitab itu dinilai sebagai karya yang memiliki muatan ilmiah yang tinggi sehingga sangat pantas dijadikan sebagai rujukan utama.

Ibn Khulkan mengakui bahwa Ibn Jarir adalah seorang Imam Mujtahid (Mujtahid Mutlak) yang tidak bertaqlid pada siapapun, maka Ibn Ishaq asy-Syairazi pun menempatkannya pada kategori faqih-mujtahid. Dengan kedudukannya yang tinggi, banyak yang mengatakan bahwa Ibn Jarir telah merintis madzhabnya sendiri dan pengikutnya disebut “Jaririyah”.

Sebelum merintis jalan ijtihadnya sendiri, Ibn Jarir diketahui bermadzhab Syafi’i. Dalam kitab Al-Thabaqat al-Kubra yang dikarang oleh Imam al-Subki dikatakan bahwa Ibn Jarir adalah seorang yang bermadzhab Syafi’i dan ia juga berfatwa di bawah naungan madzhab Syafi’i selama 10 tahun di Baghdad. Hal tersebut juga senada dengan komentar as-Suyuthi dalam Thabaqat al-Mufassirin.

Dari sisi penilaian akan kualitas riwayatnya serta pribadinya, Ibn Hajar dalam kitabnya Lisan al-Mizan memberikan penilaian bahwa Ibn Jarir adalah seorang yang tsiqah (kredible). Ia juga membantah pendapat yang mengatakan bahwa Ibn Jarir adalah ulama yang memiliki keterkaitan dengan Syi’ah dan menegaskan bahwa dalam menilai seorang ulama dibutuhkan kehati-hatian.

Metode Ibn Jarir dalam Tafsirnya

Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an merupakan kitab tafsir 30 Juz yang terdiri dari beberapa volume atau jilid. Dahulu kitab ini nyaris tidak bisa kita dapati hari ini, sebelum akhirnya ditemukan versi lengkapnya di era Amir Hamud ibn Amir Abdur Rasyid dan kemudian segera disalin dan dicetak.

Seluruh pengkaji al-Qur’an baik dari Timur maupun Barat bersepakat akan tingginya level kitab ini. al-Suyuthi berpendapat bahwa karya Ibn Jarir ini merupakan karya tafsir yang paling agung dan memuat berbagai penjelasan keilmuan yang begitu luas. Al-Nawawi berpendapat bahwa tidak ada yang mampu menyaingi karya Ibn Jarir ini.

Cendekiawan Barat seperti Noldeke mengatakan bahwa jika seorang pengkaji tafsir telah membaca karya Ibn Jarir maka ia tidak membutuhkan karya-karya tafsir muta’akhir. Beberapa pendapat para cendekiawan itu membuktikan level dari karya Ibn Jarir ini sehingga tidak heran jika ia dijuluki sebagai bapak Tafsir.

Adapun dalam penulisan tafsirnya, Ibn Jarir memiliki beberapa metode yang penting untuk diketahui. Namun sebelumnya ada beberapa ciri khas dari tafsir Ibn Jarir ini yang akan disebutkan. Pertama, memiliki kalimat pembuka sebelum masuk ke penafsiran. Kalimat pembuka tersebut berbunyi seperti ini, “al-qaul fi ta’wil qauluhu ta’ala”. Kedua, mengutip seluruh riwayat penafsiran yang ada dari Sahabat maupun Tabi’in. Ketiga, tidak meringkas riwayat yang didapat dan melakukan tarjih atasnya. Keempat, menyajikan penjelasan I’rab namun tidak pada semua penafsiran. Kelima, memberikan hasil istinbat hukum dan pilihan yang dipilihnya.

Adapun secara lebih luas ada beberapa pokok metode penulisan tafsir Ibn Jarir At-Thabari yaitu: 1) mengingkari penafsiran yang hanya bersandarkan praduga tanpa adanya telaah ilmiah yang memadai (al-tafsir bi mujarrad al-ra’y); 2) memperhatikan kelengkapan dan keshahihan sanad dalam kutipannya terhadap perkataan Sahabat maupun Tabi’in; 3) menggunakan hasil ijmak umat Islam pada masalah fiqhiyah; 4) menjelaskan sisi qira’at baik asal dan kualitasnya serta melakukan analisa makna; 5) mengambil riwayat Israiliyyat dan menyertakan rantai riwayatnya dengan lengkap; 6) tidak menafsirkan redaksi yang tidak begitu penting untuk ditafsirkan secara mendalam; 7) menggunakan istilah-istilah yang lazim diketahui dalam percakapan bahasa Arab untuk mencari variasi makna; 8) menunjukan perbedaan madzhab bahasa (al-madzahib al-nahwiyah) dalam menjelaskan suatu redaksi; 9) merujuk pada sya’ir jahiliyah; 10) menampilkan diskusi di antara madzhab fiqh; 11) memasukkan diskusi madzhab kalam.

Jika ingin mendapatkan ulasan yang lebih detail mengenai Ibn Jarir At-Thabari Sang Bapak Tafsir, para pembaca bisa merujuk langsung pada kitab Al-Tafsir wa Al-Mufassirun yang dikarang oleh Adz-Dzahabi. Di sana pembaca akan mendapati contoh dari masing-masing metode yang tidak bisa dituliskan dalam tulisan ini sebab keterbatasan teknis. Wallahu a’lam.

Living Quran; Melihat Kembali Relasi Al Quran dengan Pembacanya

0
living quran
living quran

Living Quran adalah sebuah diskursus dalam studi Alquran yang mulai banyak diminati akademisi tafsir dewasa ini karena menawarkan perspektif baru dalam melihat relasi Alquran dengan pembacanya.

Studi Alquran yang selama ini terpaku pada studi berbasis teks, kini diperluas pada aspek fenomena di lapangan. Ini terkait bagaimana teks Alquran dipahami, diresepsi dan dipraktikkan oleh masyarakat, sehingga Alquran secara tidak langsung seakan-akan ‘hidup’ di tengah-tengah mereka.

Dari sini muncul istilah living quran, di mana resepsi atas Alquran melahirkan berbagai fenomena praktik, tradisi dan ritual di masyarakat. Dengan kata lain, suatu bentuk pemahaman Alquran yang berada pada level praksis di lapangan. 

Tentunya dalam kajian ini, berbagai fenomena tersebut tidak untuk dikritisi kesesuaiannya dengan ajaran Alquran atau tidak, melainkan dipandang sebagai keragaman fenomena sosial keagamaan.

Baca Juga: 3 Model Interaksi Manusia dengan Al Quran Menurut Farid Esack

Living Quran sebagai penelitian sosial

Sebagai sebuah kajian sosial, kajian living quran menggunakan analisis dan pendekatan ilmu sosial pula, tidak lagi hanya mengandalkan perangkat ulumul quran yang telah dirumuskan para ulama tafsir.

Buku Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis merupakan karya yang pertama kali mengenalkan istilah living quran sebagai sebuah diskursus baru dalam ranah kajian Al Quran sekaligus sebagai sebuah metodologi penelitian.

Buku tersebut menawarkan beberapa metode riset, di antaranya penelitian kualitatif, pendekatan sosiologi dan fenomenologi. Tentunya ini bukanlah ketentuan baku, karena sebagai sesuatu yang baru, model kajian ini masih belum matang dan pakem.

Salah satu contoh penelitian living quran ialah disertasi Ahmad Rafiq yang berjudul, The Reception of the Qur’an in Indonesia: A Case Study of the Place of the Qur’an in a Non-Arabic Speaking Community. Karya ilmiah ini ia tulis pada tahun 2014 di The Temple University, USA.

Rafiq meneliti bagaimana masyarakat Banjar yang notabene bukan penutur bahasa Arab berinteraksi dengan Alquran. Alquran menempati peran sentral di kalangan warga Banjar dan mengisi banyak aspek kehidupan mereka sejak masih dalam kandungan ibu hingga detik-detik terakhir menjelang ajal menjemput.

Berbagai bentuk upacara dan praktik terkait dengan Alquran tersebut menurut Rafiq merupakan wujud dari tafa’ul (optimisme) warga Banjar dengan firman Allah SWT yang diyakini keberkahannya.

Baca Juga: Keutamaan Surat Yasin Dalam Tradisi Masyarakat Muslim IndonesiaHikmah Membaca Surat Maryam bagi Ibu Hamil

Resepsi Al Quran di Indonesia

Kajian living qur’an sangat cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki struktur sosio-kultural masyarakat yang khas. Melalui kajian ini, kita dapat mengenalkan kekayaan budaya lokal kepada orang luar. Menarik melihat berbagai keunikan resepsi Alquran di bumi Nusantara, hasil dari asimilasi antarbudaya.

Berkaitan dengan hal ini, Ahmad Rafiq membagi resepsi Alquran menjadi tiga macam varian.

Pertama, resepsi eksegesis yang berkaitan dengan interpretasi terhadap makna teks Alquran. Misalnya kitab-kitab tafsir karya ulama Nusantara, baik dalam bahasa Arab, bahasa Indonesia maupun bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Madura, Sunda, Melayu dan Bugis.

Kedua, resepsi estetis yang berupa interaksi pembaca yang menekankan pada aspek estetika Alquran atau mendekati Alquran dengan cara yang estetis. Di antaranya adalah fenomena Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ)  dan penerjemahan Alquran secara puitis oleh H.B. Jassin. 

Ketiga, resepsi fungsional, di mana Alquran diresepsi berdasarkan fungsi Alquran itu sendiri sebagai sesuatu yang dipraktikkan dan diamalkan pembaca baik melalui lisan maupun tulisan. Contohnya pembacaan ayat-ayat Alquran dalam praktik ruqyah dan terapi murottal Alquran yang diperdengarkan kepada pasien di rumah sakit.

Tafsir Tarbawi: Membudayakan Mauidzah Hasanah dalam Pendidikan Islam

0
Membudayakan mauidzah hasanah
Membudayakan mauidzah hasanah

Mauidzah hasanah  didefinisikan dengan pengajaran yang baik melalui penyampaian tutur kata dan perilaku yang lembut, sejuk dan mendamaikan. Baik tidaknya cara menyampaikan materi memang penting bagi pemahaman siswa. Karena itulah pendidik harus membudayakan mauidzah hasanah dalam proses belajar mengajar.

Konten atau isi pelajaran jika tidak ditopang dengan penyampaian yang baik; penuturan pendidik yang meneduhkan, maka pesan materi pelajaran tidak membekas dalam kalbu siswa. Justru yang ada, mereka enggan menerimanya.

Sayangnya, institusi pendidikan kita masih ditemui beberapa pendidik yang arogan, gemar menghujat, memaki, tidak sabar dan menihilkan potensi peserta didik. Karenanya Allah swt dalam firman-Nya QS. An-Nahl [16]: 125, mengingatkan kita untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl [16]: 125)


Baca juga: Rambu Berdebat dalam Al Quran dan Hadis


Tafsir Surah An-Nahl Ayat 125

Pada pembahasan ini akan concern pada metode selanjutnya yaitu mauidzah hasanah. Redaksi mauidzah hasanah dapat diartikan dengan nasehat, wejangan, pitutur, pengajaran dan pendidikan yang baik. Para mufassir berbeda-beda dalam menjelaskan kata mauidzah. As-Suyuthi misalnya dalam Tafsir Jalalain mendefinisikan mauidzah dengan muwa’adzah aw al-qaulur rafiq (perkataan yang lembut). Sedangkan Ibnu Katsir menafsiri mauidzah hasanah sebagai peringatan kepada manusia, mencegah dan menjauhi larangan sehingga diharapkan mereka akan mengingat Allah swt.

Adapun At-Thabari menyebutnya dengan al-‘ibrul jamilah (perumpamaan yang indah) yang bersumber dari Al Quran sebagai argumentasi dalam proses penyampaian. Sementara, Muhammad ‘Ali As-Shabuni dalam Shafwatut Tafasir memaknainya dengan luthfin wa layyinin (perkataan yang halus, ramah lagi lembut).

Di sisi lain, Al-Baghawi dalam Tafsir Al-Baghawi  menafsirkannya dengan ad-du’a ilallah bi targhib wa tarhib (mengajak kepada jalan Allah dengan motivasi dan ancaman).

Penafsiran senada juga disampaikan oleh Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wat Tanwir. Mauidzah hasanah dimaknainya dengan perkataan yang mendamaikan jiwa manusia sebab dilakukan dengan cara-cara yang baik. Mauidzah hasanah juga dapat diartikan peringatan yang baik yang mampu menyentuh akal dan hati.

Definisi yang lain mengatakan mauidzah hasanah diartikan dengan memberi petunjuk yang membawa spirit kepada kebenaran. Selain itu, menunjukkan bahaya dari perbuatan buruk, yang mengesankan bagi pendengarnya. Tidak ada metode yang paling baik kecuali yang disampaikan dengan ahsan (yang lebih baik).


Baca juga:Tafsir Tarbawi; Mengulik Metode Tanya-Jawab Ala Rasulullah Saw.


Membudayakan Mauidzah Hasanah

Sudah jamak kita pahami bahwa materi yang bagus harus dikemas dengan baik dan semenarik mungkin. Begitu juga dalam konteks pendidikan, materi pelajaran yang baik harus dikemas dengan penuturan yang lembut pula. Dan yang penting pula, harus diiringi dengan perilaku baik.

Melalui metode mauidzah hasanah, pendidik dapat membimbing dan mengarahkan siswa pada hal-hal positif melalui penanaman nilai-nilai agama dan norma yang berlaku . Inilah yang menjadi salah satu lantaran mereka memiliki pengetahuan untuk memilah dan memilih mana yang baik serta mengaplikasikannya dalam kehidupan.


Baca juga: Tafsir Tarbawi: Story Telling, Metode Pendidikan Islam Paling Ampuh


Pendidikan Islam tidak hanya mengaksentuasikan transfer of knowledge (ilmu pengetahuan), melainkan transfer of value (nilai). Sehingga, pendidikan Islam mempunyai distingsi pada aspek nilai kejujuran, kebaikan, kesopanan, integritas, tanggungjawab, dan kepemimpinan. Pendek kata mencetak peserta didik yang berakhlakul karimah.

Karena itulah, tujuan yang mulia itu harus dibarengi dengan metode penyampaian yang baik pula (mauidzah hasanah). Melalui prinsip mauidzah hasanah diharapkan dapat memberikan sumbangsih pendidikan yang ramah terhadapan siswa, dan kita sebagai manusia pada umumnya. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Hud Ayat 3: Raih Kebahagiaan dengan Beristighfar

0
kebahagiaan dengan beristighfar
kebahagiaan dengan beristighfar

Diantara kunci kebahagiaan hidup adalah dengan beristighfar (memohon ampun) serta bertaubat kepada Allah swt. Sudah menjadi fitrah, bahwa manusia tidak dapat mengelak dari melakukan dosa dan kesalahan sepanjang hidupnya. Namun demikian, sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah yang beristighfar dan taubat. Peluang ampunan ini merupakan anugerah rahmat yang terbesar bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Allah swt memberi janji kebahagiaan bagi siapapun yang beristighfar. Disebutkan dalam firman-Nya,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Huud [11]: 3)

Baca juga: Tafsir Surah An Nahl Ayat 97: Tips Meraih Hidup Bahagia

Alquran ketika menyebutkan perintah beristighfar selalu beriringan dengan perintah taubat. Menurut az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, bahwa cara mendapatkan ampunan dari Allah hanyalah dengan bertaubat. Istighfar adalah memohon ampunan, dan taubat adalah penyesalan akan kesalahan masa lalu, melepas ikatan-ikatan (jaringan) kemaksiatan dalam segala bentuk, serta tekad yang tulus tidak mengulangi kembali perbuatan-perbuatan dosa di masa yang akan datang. Berbeda dengan pendapat al-Farra’, bahwa makna istighfar dan taubat adalah sama. (Al-Baghawi, juz 12, hlm. 438)

Kedua pendapat di atas tidak saling bertentangan. Karena esensi dari istighfar dan taubat adalah pengakuan diri sebagai hamba dan beribadah semata-mata karena-Nya. Keduanya sama-sama merupakan perintah dan kewajiaban bagi seseorang untuk memohon ampunan dari kesyirikan dan dosa-dosa, begitu juga bertaubat dengan kembali taat dan beribadah kepada-Nya. (Az-Zuhaili, juz 12, hlm. 14)

Baca juga: Belajar Menyembunyikan Nikmat dari Pendengki, Hikmah Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Yaqub

Ketika menafsiri ayat di atas, az-Zuhaili menyebutkan juga dalam tafsirnya tentang  agungnya keutamaan beristighfar dan bertaubat.

إن ثمرة الاستغفار والتوبة أمر عظيم واسع شامل الدنيا والآخرة، ففي الدنيا تمتيع إلى نهاية العمر المقدر بالمنافع من سعة الرزق ورغد العيش، وعدم الاستئصال بالعذاب كما فعل بمن أهلك من الأمم السابقة وفي الآخرة إيتاء كل ذي عمل من الأعمال الصالحة جزاء عمله

“Sesunguhnya buah dari istighfar dan taubat adalah suatu karunia yang agung, meliputi kebaikan dunia dan akhirat. Di dunia seseorang akan mendapatkan kebahagiaan sampai akhir hayatnya, berupa lapangnya rizki, hidup yang indah, dan aman dari adzab sebagaimana yang telah membinasakan umat-umat terdahulu. Dan di akhirat dia akan diberi balasan-balasan dari amal shaleh yang telah dikerjakan.”

Secara aplikatif, sebenarnya kebiasaan beristighfar sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw, padahal beliau insan yang terjaga dari maksiat. Tercatat dalam sebuat riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan diriwayat Imam Bukhari beliau beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali.

Pelajaran yang dapat diambil dari perilaku Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan. Tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali. Tidak hanya ketika merasa melakukan kesalahan, karena semakin seseorang dekat dengan Allah, maka akan selalu merasa belum memenuhi hak-hak-Nya. Melalui istighfar pula, kebahagiaan juga akan diraih.

Baca juga: Hikmah Membaca Istigfar Menurut Imam al-Ghazaly

Dalam konteks ini, Ibnu katsir menafsirkan surat Hud ayat 52 dengan menukil hadits Rasulullah saw,

من لزم الاستغفار جعل الله له من كل هم فرجا ومن كل ضيق مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب

“Barangsiapa yang mampu mulazamah atau kontinyu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka”. (HR. Ibnu Majah)

Wallahu A’lam.

Inilah 4 Keutamaan Membaca Al Quran dalam Pandangan Hadis

0
perbedaan pendapat nasikh mansukh
perbedaan pendapat nasikh mansukh

Keutamaan membaca al Quran yaitu mampu mendapatkan pahala, akan tetapi ternyata juga menyimpan banyak keutamaan yang masih jarang diketahui banyak orang. Syeikh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam Riyadus Shalihin menampilkan keutamaan membaca al Quran dalam pandangan hadis. Ia mengumpulkan beberapa hadis yang menjelaskan tentang keutamaan membaca al quran.

Berikut 4 Keutamaan Membaca Al Quran dalam Pandangan Hadis: 

Mendapatkan Syafaat di Hari kiamat
Keutamaan ini seperti yang disabdakan Rasulullah SAW pada riwayat Imam Muslim pada kitab Shahih Muslim karangan Imam Muslim:

عن أبي أُمَامَةَ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ  اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ رواه مسلم

“Diriwayatkan dari Umamah ra., ia berkata: “Saya mendengan Rasulullah SAW bersabda: “bacalah Al Quran! Sungguh itu akan menjadi syafaat bagi yang membacanya kelak di hari kiamat” (HR. Imam Muslim)

Hadis di atas menjadi dalil keutamaan membaca Al Quran. Bahwa ia akan menolong pembacanya untuk dapat selamat di hari kiamat. Muhammad bin ‘Allan Ash-Shadiqi menerangkan dalam Dalilul Falihin bahwa yang dimaksud perintah membaca Al Quran ialah membacanya dengan rajin dan menjadikannya sebagai pedoman, serta mengamalkan isinya (mematuhi perintahNya dan menjauhi laranganNya).


Baca juga: Inilah Tiga Keutamaan Surat Al Fatihah


Menjadi Umat Terbaik
Keutamaan ini tertera dalam Hadis riwayat Utsman bin ‘Affan:


خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ رواه البخاري

“Golongan terbaik dari kalian ialah orang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya” 


Yang dimaksud dalam hadis ini ialah para pembaca Al Quran yang mempelajari dan mendalami maknanya. Selain itu, ia juga mengamalkannya dengan meneladani nilai moral, hukum, dan hikmah, serta menyampaikannya kepada sesama manusia.

Keutamaan belajar dan mengajar Al Quran juga dikuatkan sebuah hadis muttafaqun ‘alaih (yang ditakhrij Imam Bukhari dan Muslim):


مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَقَدِ اسْتَدْرَجَ النُّبُوَّةَ بَيْنَ جَنْبَيْهِ ، غَيْرَ أَنَّهُ لا يُوحَى إِلَيْهِ


“Barangsiapa membaca Al Quran, maka keluarlah nuansa kenabian dari dua sisinya. Hanya saja, tidak melalui pewahyuan”

Hadis tersebut dapat dipahami bahwa seorang yang telah mempelajari bacaan maupun makna Al Quran, serta mengamalkan isi kandungannya, secara tidak langsung ia menyambung estafet dakwah Nabi. Karena, ia telah menerapkan nilai-nilai Qurani untuk dirinya dan menyampaikannya kepada yang lain. Orang yang mampu belajar sekaligus mengamalkannya inilah yang turut menjadi pewaris Nabi, sebagaimana alim ulama.

Bermanfaat untuk Diri Sendiri dan Sesama

Keutamaan ini bersumber dari hadis riwayat Abu Musa Al-Asy’ari, pada kitab Shahih Muslim karangan Imam Muslim:

مَثَلُ المؤمن الذي يقرأ القرآن مثل الأُتْرُجَّة؛ ريحُها طيِّب وطعمُها طيِّب، ومَثَل المؤمن الذي لا يقرأ القرآنَ مثَل التمرة؛ لا ريحَ وطعمُها حُلو، ومثل المنافق الذي يقرأ القرآن مثل الرَّيحانة؛ ريحُها طيِّب وطعمُها مُرٌّ، ومثل المنافق الذي لا يقرأ القرآن كمثل الحنظلة؛ ليس لها ريحٌ وطعمُها مُرٌّ. متفق عليه

“Mukmin yang membaca Al Quran ialah bak buah jeruk; baunya harum rasanya pun manis. Perumpamaan mukmin yang tidak membaca Al Quran ibarat buah kurma; tidak berbau tapi manis rasanya. Sedangkan, orang munafik yang membaca Al Quran seperti bunga kantil; baunya harum tapi rasanya pahit. Dan, orang munafik yang tidak membaca Al Quran ibarat daun bratawali; bau dan rasanya pahit” (HR. Bukhari dan Muslim)


Ash-Shadiqi mengartikan perumpaan pertama dengan kebermanfaatan mukmin yang membaca Al Quran dari dua sisi. Bermanfaat untuk dirinya sendiri karena kepercayaannya pada ajaran Islam dan untuk orang lain yang mendengarkannya membaca Al Quran karena dengan mendengar secara saksama, akan mendatangkan rahmatNya. Sebagaimana dalam firman Allah surat Al-A’raf ayat 204.

Sementara perumpamaan kedua, ia maknai dengan kebermanfaatan mukmin yang tidak membaca Al Quran hanya untuk dirinya sendiri berupa keimananan. Orang lain tidak memperoleh manfaat darinya, karena ia tidak menyampaikan isi Al Quran. Ibarat kurma, yang sendirinya manis, tetapi orang lain tidak dapat mencium bau manis itu.

Perumpamaan ketiga menunjukkan bahwa orang munafik ketika membaca Al Quran, bisa saja bermanfaat untuk yang mendengarnya. Tetapi, bagi dirinya sendiri tidak, karena tidak ada iman di hatinya. Sedangkan dalam perumpamaan keempat, adalah sama sekali tidak ada hal baik yang dihasilkan oleh seorang munafik yang tidak membaca Al Quran.


Baca juga: Keutamaan Shalat Tahajud, Tafsir Surat Al-Isra Ayat 79


Ladang Pahala
Keutamaan ini bersumber dari hadis Nabi riwayat Ibnu Mas’ud, pada kitab Jami’ al-Kabir karangan Sunan at-Tirmidzi

مَن قرأ حرفًا من كتاب الله فله به حسنة، والحسنة بعشر أمثالها، لا أقول الم حرف بل ألف حرف ولام حرف وميم حرف رواه الترمذي

“Barangsiapa membaca satu huruf saja dari Al Quran, maka ia mendapat satu pahala yang bernilai 10 kali lipat. Saya tidak menghitung alif laam miim menjadi satu huruf. Tetapi, alif satu huruf sendiri, lam satu huruf sendiri, dan mim satu huruf sendiri” (HR Turmudzi)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa membaca satu huruf pun dari Al Quran sudah bernilai ibadah, dan Allah akan melipat pahala ibadah itu sepuluh kali. Hadis ini diperkuat dengan firman Allah dalam Surat al-A’raf ayat 160:


مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰٓ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُون


“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”

Ibnu Kathir dalam Tafsir Al Quranul Adzim menjelaskan perbuatan baik dalam bentuk apapun akan diganjar Allah 10 kali lipat atau 700 kali, atau bahkan tak terhingga. Ini sebagai bukti atas kasih sayang Allah pada hambanya.

Berbagai keutamaan di atas semoga dapat memacu semangat kita untuk membaca Al Quran, memahami isinya, dan menjadikannya pedoman hidup. Sehingga Al Quran bisa menuntun kita sampai pada tujuan kita kelak. Wallahu a’lam.