Beranda blog Halaman 539

Hikmah Bersuci Dalam Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 6

0
Bersuci
Bersuci

Hikmah bersuci secara tersirat sering disinggung dalam Alquran, seperti dalam ayat yang akan kita bahas ini. Bersuci itu sendiri merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan, karena sebagaimana yang kita tahu, suci (dari hadas dan najis) menjadi syarat sah dari suatu ibadah.

Bersuci identik dengan bersih, tetapi bukan berarti sama. Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan kebersihan, baik itu kebersihan badan, pakaian, makanan, dan segala hal di lingkungan yang berhubungan dengan manusia, demikian juga dalam hal kesucian. Bersih dan suci pada dasarnya tidak jauh berbeda. Kata thaharah (bersuci) secara bahasa memiliki arti an-nazhafah (bersih). Namun, terdapat beberapa hal yang dianggap bersih, tapi ternyata belum suci, berlaku juga sebaliknya. Dalam Islam, untuk melaksanakan ibadah-ibadah tertentu, maka yang harus dilakukan adalah bersuci. Seperti yang tertera dalam Alquran:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kalian dalam keadaan junub, maka hendaklah kalian bersuci (mandi janabah). Dan jika kalia sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka tayammumlah dengan tanah yang baik, sapulah wajahmu dan tangamu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkanmu, tetapi Dia hendak membersihkanmu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu supaya kalian bersyukur.” (QS. Al-Maidah [5]: 6)

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 6: Hukum Wudhu Perempuan yang Memakai Kuteks

Pada ayat di atas, sudah sangat jelas bahwa untuk melaksanakan shalat, seseorang harus dalam keadaan suci, tidak hanya bersih. Sebab, jika hanya bersih, maka orang yang berhadas kecil atau besar cukup membersihkan sisa-sisa kotorannya. Namun Islam memiliki aturan tersendiri agar seseorang tidak hanya berada dalam kondisi bersih tetapi juga suci.

Al-Baihaqi merangkum penjelasan as-Syafi’i dalam tafsirnya Ahkamul Qur’an bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang macam-macam thaharah atau bersuci, yaitu wudu, mandi, tayamum, serta menghilangkan najis. Masing-masing dari cara bersuci tersebut telah ditetapkan aturan dan ketentuannya sesuai dengan porsinya sendiri. Kegiatan bersuci seperti wudu, mandi dan tayamum dilakukan untuk bersuci dari hadas, sedangkan menghilangkan najis tertuju pada pakaian dan tempat. Dengan demikian, seseorang diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah yang mewajibkan adanya thaharah terlebih dahulu.  Nabi saw bersabda,

لاَيَقْبَلُ اللهُ الصَّلاَةَ بِغَيْرِ طَهُوْرٍ

Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim)

As-Syafi’i menerangkan bahwa selain sebagai syarat sahnya suatu ibadah, ada beberapa hikmah yang dapat diambil di balik bersuci. Di antaranya:

Baca Juga: Hikmah Puasa Dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 183

Pertama, menunjukkan fitrah Islam sebagai agama yang suci. Hal ini terbukti dari bagaimana Islam mengatur segala ketentuan yang harus dilakukan seorang muslim saat akan melaksanakan ibadah kepada Allah.

Kedua, menjaga kehormatan dan kewibawaan seorang Islam. Pada dasarnya, manusia itu cenderung menyukai sesuatu yang bersih dan menjauhi hal-hal kotor, serta senang berkumpul dengan orang-orang bersih. Adanya perintah untuk bersuci dalam agama Islam tentu membawa kehormatan dan kewibawaan agama Islam itu sendiri.

Ketiga, menjaga kesehatan. Kebersihan dapat melindungi diri dari kotoran yang di dalamnya terdapat kuman serta bakteri yang mengundang penyakit. Oleh karenanya, perintah bersuci yang menjadi tuntunan agama memberikan hikmah agar orang Islam terhindar dari penyakit. Caranya dengan membersihkan badan, wajah, tangan, dan kaki, sebab anggota-anggota tubuh tersebut merupakan tempat berdiamnya kotoran yang membawa penyakit.

Kemudian yang terakhir, sebagai perantara dalam mempermudah diri untuk mendekat kepada Allah. Islam yang merupakan agama suci tentu pemiliknya adalah Allah yang Maha Suci. Maka, untuk mendekatkan diri kepada-Nya, seorang hamba harus mensucikan diri terlebih dahulu baik secara lahir maupun batin. Allah berfirman,

اِنَ اللهَ يُحِبُّ التَوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ اْلمُتَطَهِّرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Wallahu A’lam.

Belajar Menyembunyikan Nikmat dari Pendengki, Hikmah Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Yaqub

0
menyembunyikan nikmat dari pendengki
menyembunyikan nikmat dari pendengki (muslimobsession.com)

Salah satu hal yang dapat kita ambil hikmahnya dari kisah Nabi Yusuf dan Nabi Yaqub dalam Surat Yusuf adalah senantiasa ada pendengki di sekitar apa yang kita miliki. Inilah yang mendorong Nabi Yaqub menyarankan putranya yang masih kecil; Nabi Yusuf, untuk menyembunyikan nikmat, yaitu mimpi adanya sebelas bintang bersama matahari dan rembulan bersujud padanya yang artinya kelak Nabi Yusuf akan memperoleh kemuliaan di atas saudara-saudaranya.

Sayangnya, mimpi tersebut akhirnya diketahui saudara-saudara Nabi Yusuf. Maka terjadilah kisah pembuangan Yusuf kecil ke sumur, dijual sebagai budak, dirayu istri seorang pejabat, sampai kemudian menjadi menteri di Mesir. Perjalanan Nabi Yusuf meski akhirnya menjadi jalan terbuktinya mimpinya, tapi telah membuktikan bahaya para pendengki.

Komentar Para Ahli Tafsir Tentang Rasa Iri pada Kisah Nabi Yusuf

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya berkata, saat Nabi Yusuf menceritakan mimpinya kepada sang ayah, sang ayah lalu menasihatinya: ““Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu (QS: Yusuf [12] 6). Nasihat ini muncul disebabkan Nabi Ya’qub khawatir, apabila saudara-saudara Yusuf tahu dan kemudian merasa iri, mereka kemudian bisa berbuat jahat pada Yusuf. (Tafsir Ibn Katsir/4/371)

Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan, memang diantara anak-anak Nabi Ya’qub, Yusuf lah yang paling disayang oleh ayahnya. Ini menimbulkan rasa iri dan dengki dari saudara-saudara Yusuf. Nabi Ya’qub sendiri tahu akan keberadaan rasa iri tersebut lewat berbagai tanda-tanda. Hal itulah yang mendorongnya memerintahkan Nabi Yusuf untuk menyembunyikan kabar tentang mimpinya. (Tafsir Mafatihul Ghaib/8/496)

Lalu bagaimana saudara-saudara Yusuf kemudian bisa tahu tentang mimpi tersebut? Tidak ada riwayat yang jelas tentang hal ini. Yang jelas, sebagaimana diungkapkan Imam As-Sya’rawi, sepertinya Nabi Yaqub mengetahui bahwa saudara-saudara Nabi Yusuf bisa mengetahu tafsir dari mimpi itu. Sehingga Yusuf dilarang menceritakan mimpi itu pada saudara-saudaranya. (Tafsir Asy-Sya’rawi/11/6850)

Baca juga: Kisah Teladan Nabi di Bulan Muharram; Nabi Yunus Keluar dari Perut Ikan Paus

Dari berbagai uraian di atas dapat diambil kesimpulan, Nabi Yaqub sebagai sang ayah tahu betul watak anak-anaknya. Dan Nabi Yaqub tahu betul bahaya rasa iri tersebut. Karena itu ia berusaha menjaga diri anaknya; Nabi Yusuf, dari bahaya rasa iri dan dengki tersebut. Dari sini para ahli tafsir kemudian mengambil pemahaman anjuran menyembunyikan kabar tentang nikmat yang hendak didapat.

Pentingnya Menjaga Diri dari Para Pendngki

Saran Nabi Yaqub kepada Nabi Yusuf untuk menyembunyikan mimpinya tersebut, adalah upaya menghindari rasa iri dari orang lain. Melindungi diri dari rasa rasa iri orang lain dengan cara menyembunyikan nikmat yang dimiliki, adalah satu ajaran Islam. Ibn Katsir menyatakan, sebaiknya menyembunyikan suatu nikmat yang sedang akan didapat sampai nikmat tersebut benar-benar didapatkan. (Tafsir Ibn Katsir/4/371)

Baca juga: Inilah Alasan Kenapa Kisah Al Quran adalah Kisah Terbaik

Ibn Katsir dan beberapa ahli tafsir juga mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibn Abbas serta Mu’adz ibn Jabal:

اِسْتَعِيْنُوْا عَلَى قَضَاءِ الْحَوَائِجِ بِكِتْمَانِهَا، فَإِنَّ كُلَّ ذِيْ نِعْمَةٍ مَحْسُوْدٌ

Berusahalah memperoleh kebutuhanmu dengan cara menyembunyikannya. Sesungguhnya setiap nikmat memiliki pendengkinya tersendiri (H.R. At Thabrani dan At-Tirmidzi)

Imam al-Munawi berkomentar, hadis ini mendorong kita agar dalam memperoleh apa yang kita cita-citakan, entah itu memperoleh sesuatu yang bermanfaat atau terhindar dari suatu bahaya, kita menyertainya dengan menyembunyikan hal itu dari telinga orang lain. Hal ini bermanfaat antara lain: 1) Menjaga hati dari bergantung kepada selain Allah; 2) Menjaga diri dari bahaya yang ditimbulkan orang yang iri; 3) Menjaga orang lain agar tidak bersikap iri dan dengki.

Namun, bukankah ada anjuran untuk menceritakan suatu nikmat sebagai rasa syukur kepada Allah (tahaddus bin nikmah)? Ya, benar, tapi hal itu berlaku saat nikmat tersebut sudah didapat bukan hendak didapat sebagaimana kisah Nabi Yusuf yang masih hendak memperoleh kemuliaan. Selain itu, dalam menceritakan suatu nikmat sebagai rasa syukur, juga disyaratkan aman dari rasa iri orang lain. (Faidul Qadir/1491)

Baca juga: Nasihat-Nasihat Luqman al-Hakim Kepada Anaknya dalam Al Quran

Imam Ibn Hajar berkomentar, tentang anjuran saat mengalami mimpi yang indah untuk menceritakan kepada orang lain, bahwa orang lain yang dimaksud adalah orang yang memiliki kecendrungan menyukai kita. Bukan yang sebaliknya. Sehingga apabila orang lain itu orang berpotensi besar merasa iri dan dengki serta membahayakan kita, maka justru jangan sampai ia tahu tentang mimpi indah tersebut. (Fathul Bari/19/454)

Kesimpulannya, dari Kisah Nabi Yaqub dan Nabi Yusuf dalam Surah Yusuf, kita bisa belajar banyak hal diantaranya adalah bahaya rasa iri dan sebisa mungkin mengatasi menjaga diri dari bahaya rasa iri dan dengki salah satunya dengan menyembunyikan hal-hal yang bisa menimbulkan rasa iri dan dengki. Selain itu, apabila kita terlanjur masuk dalam bahaya rasa iri sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf, maka jalan terbaik adalah bersabar. Kesabaran akan berbuah kebahagiaan.

Kisah Nabi Sulaiman Dalam Al-Quran: Kepribadiannya Sebelum Menjadi Raja

0
Kisah Nabi Sulaiman
Kisah Nabi Sulaiman credit: almuheet.net

Kisah nabi Sulaiman adalah salah satu kisah dalam al-Quran yang menarik untuk dikaji, karena di dalamnya terdapat nilai-nilai kesucian jiwa, keluhuran akhlak, kemantapan iman, kecerdasan dan pengabdian kepada agama Allah Swt. Selain itu, Kisah nabi Sulaiman dianggap menarik karena ia memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki manusia lain.

Nabi Sulaiman adalah putra dari nabi Daud yang paling bungsu dari sebelas bersaudara. Ia lahir dari seorang perempuan saleh dan taqwa yang bernama Tasyayu’ bint Sura. Dikisahkan bahwa ibunya senantiasa mendorong nabi Sulaiman untuk tekun beribadah. Ia dijuluki dengan sebutan Sulaiman al-Hakim karena kebijaksanaanya. Sedangkan dalam perjanjian lama, nabi Sulaiman sering disebut sebagai Saloma dan dikenal sebagai seorang raja.

Al-Quran banyak menyebutkan nama Sulaiman as, tepatnya sebanyak 17 kali yang tersebar dalam 7 surah, yaitu: QS. al-Baqarah [2]: 2 kali, QS. al-Nisa [4] 1 kali, al-An’am [6] 1 kali, al-Anbiya [21] 3 kali, al-Naml [27] 7 kali, Saba’ [34] 1 kali dan Shad [38] 2 kali. Sebagian besar ayat tersebut bercerita tentang sifat-sifat dan keutamaan yang Allah berikan kepada nabi Sulaiman (al-Mu’jam al-mufahras li Alfazh al-Qur’an: 357-358).

Diantara kisah nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an yang masyhur di masyarakat adalah kisah tentang nabi Sulaiman dan pasukannya ketika melewati sekelompok semut (QS. An-Naml [27]: 18) serta kisahnya dengan ratu Balqis seorang ratu negeri Saba yang menyembah matahari (QS. An-Naml [27]: 38-39). Dua kisah tersebut mengisahkan bagaimana kehebatan nabi Sulaiman dan pasukannya berkat karunia Allah.

Kisah-kisah nabi Sulaiman di atas, sebenarnya membawa nilai dan tujuan pendidikan Islam yang harus dipahami pembaca Al-Qur’an. Menurut Athiyah al-Abrasyi, tujuan pendidikan Islam ada dua, yaitu: Pertama, tujuan yang berorientasi akhirat, yakni membentuk hamba yang beriman dan bertaqwa. Kedua, tujuan yang berorientasi dunia, yakni membentuk manusia yang mampu menghadapi segala macam rintangan hidup dan bermanfaat bagi orang lain (al-Tarbiyah wa al-Falsafatuha: 286).

Baca Juga: Inilah Alasan Kenapa Kisah Al Quran adalah Kisah Terbaik

Kepribadian Nabi Sulaiman Sebelum Menjadi Raja

            Sejak kecil nabi Sulaiman dikenal saleh dan taat beribadah, sehingga kehadirannya di tengah keluarga dianggap sebagai karunia Allah terutama bagi nabi Daud as (ayah). Sifatnya ini tidak lepas dari hasil pendidikan yang diberikan oleh ibunda nabi Sulaiman, yakni Tasyayu’ bint Sura dan juga atas izin Allah Swt. Ketaatan dan ketakwaan tersebut Allah sebutkan dalam firman-Nya yang berbunyi;

وَوَهَبْنَا لِدَاوٗدَ سُلَيْمٰنَۗ نِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌۗ ٣٠

Dan kepada Dawud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” ((QS. Shad [38]: 30)

Kata awwab pada ayat di atas bermakna al-ruju’u yakni kembali. Oleh sebab itu M. Quraish Shihab menafsirkan bahwa ayat ini merupakan informasi tentang karunia Allah kepada Nabi Daud as berupa seorang anak yang mulia bernama Sulaiman as. Ia merupakan sebaik-baik hamba Allah pada masanya, karena ia selalu taat kepada Allah dan senantiasa mengembalikan segala persoalan kepada-Nya. Nabi Sulaiman as meyakini bahwa segala sesuatu yang direncanakan manusia tidak akan terlaksana tanpa bantuan Allah (Tafsir al-Misbah [12]: 139).

Al-Marāgī menyatakan, kesalehan dan ketakwaan nabi Sulaiman dipertegas melalui kebiasaannya melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Nabi Sulaiman bahkan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermunajat kepada Allah Swt. Karena ia yakin bahwa untuk mendapatkan pertolongan dan petunjuk Allah Swt, seseorang harus mendekatkan diri kepada-Nya terlebih dahulu (Tafsir Al-Marāgī [23]: 118).

Selain hamba yang taat dan takwa, nabi Sulaiman juga seorang yang cerdas dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Sifatnya ini tidak lepas dari upaya nabi Daud yang menginginkan agar anaknya tumbuh menjadi seorang raja yang cerdas dan bijaksana. Dari sekian banyak anak nabi Daus as, hanya nabi Sulaiman yang mampu memenuhi impiannya.

Selama bertahun-tahun, nabi Daud telah menantikan seorang penerus yang cocok bagi kerajaannya. Namun ia tidak kunjung menemukan pengganti yang mampu mengampu tanggung jawab tersebut. Siang dan malam nabi Daud as berdoa kepada Allah agar diberikan keturunan yang mulia. Doa-doa tersebut kemudian Allah jawab dengan menghadirkan seorang anak yang bernama Sulaiman.

Baca Juga: Kisah Romantis Khaulah bint Tsa’labah Dibalik Ayat-Ayat Zihar

Salah satu bukti kecerdasan nabi Sulaiman adalah keputusan bijaknya mengenai sengketa antara pemilik kebun dan kabing. Kisah ini tertuang dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79 yang bermakna:

 “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.”

Berkenaan dengan ayat di atas, dikisahkan bahwa suatu ketika dua orang laki-laki (pemilik kebun dan kambing) mengadukan permasalahan mereka kepada nabi Daud terkait tanaman yang dimakan kambing. Beliau berkata, “pergilah dan seluruh kambing itu milikmu (pemilik kebun).” Lantas pemilik kambing kembali dengan keadaan hati yang sedih karena telah kehilangan kambingnya.

Ketika berada di tengah perjalanan, si pemilik kambing bertemu nabi Sulaiman. Ia lantas mengadukan permasalahannya. Mendengar hal tersebut, nabi Sulaiman menghadap nabi Daud dan berkata, “ayahanda sesungguhnya keputusan mengenai perkara ini tidaklah seperti yang engkau putuskan.” Nabi Daud menjawab, “lalu bagaimana keputusan yang seharusnya ku ambil wahai anakku.”

Nabi Sulaiman berkata, “serahkan kambing itu kepada pemilik tanaman, agar ia dapat memanfaatkan susu, anak-anak dan bulunya. Kemudian serahkan ladang itu kepada pemilik kambing, agar ia merawatnya seperti sedia kala. Setelah itu masing-masing dapat mengambil hak mereka kembali.” Mendengar keputusan nabi Sulaiman, nabi Daud tersenyum dan berkata, “aku menyetujui keputusan tersebut.” Wallahu a’lam.

Tiga Tabi’in Utama Jebolan Madrasah Tafsir Ibn Abbas: (1) Said Ibn Jubair

0
Madrasah Tafsir Ibn Abbas
Madrasah Tafsir Ibn Abbas credit: mosoah.com

Madrasah tafsir Ibn Abbas (Mekkah) menjadi salah satu dari tiga madrasah keilmuan yang populer di era Tabi’in. Dengan dipimpin langsung oleh Ibn Abbas sebagai pengajar utamanya, madrasah ini kemudian dikenal sebagai salah satu institusi keilmuan yang berhasil melahirkan generasi-generasi dengan level keilmuan yang tak kalah dengan para pendahulunya. Luar biasa bukan? Maka pada edisi tulisan kali ini kita akan memperkenalkan dan mengulas secara singkat tiga tabi’in utama jebolan madrasah tafsir Ibn Abbas.

Ketiga orang Tabi’in yang merupakan murid langsung dari Ibn Abbas dan akan diulas secara singkat dalam format edisional ialah Said ibn Jubair, Mujahid, dan Ikrimah. Secara umum—sebelum mengulas satu persatu—ketiga Tabi’in ini memiliki perbedaan dalam riwayat yang mereka sampaikan dari gurunya. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan ulama dalam menilai ke-tsiqah-an mereka. Maka menarik untuk mengenal dan mengulas masing-masing dari mereka satu persatu.

Baca Juga: Siapa Saja Mufasir EraSahabat? Edisi Ibn Abbas

Said dan Sepenggal Kisah Menarik

Nama lengkapnya ialah Muhammad Said ibn Jubair ibn Hisyam. Ia memiliki beberapa nama lain diantaranya Abu Abdillah dan Ibn Ummi al-Dahma’. Ia merupakan orang Habasyah asli. Ciri fisiknya digambarkan memiliki kulit yang gelap dan jambul rambut yang putih. Ia merupakan seorang Tabi’in yang gigih dalam menimba ilmu. Dikatakan bahwa ia mendengar seluruh petuah para pembesar Sahabat, menjadi murid sekaligus rawi dari gurunya Ibn Abbas, kemudian Ibn Mas’ud serta sahabat lainnya.

Said ibn Jubair merupakan salah satu Tabi’in utama yang menguasai berbagai keilmuan baik Tafsir, Hadis, maupun Fiqh. Ia juga meriwayatkan qira’at Ibn Abbas, tafsirnya serta menjadi periwayatnya (Ibn Abbas) dengan riwayat paling banyak. Said ibn Jubair juga meriwayatkan qira’at yang tsabit (terkualifikasi) dari Sahabat lainnya.

Dalam sebuah riwayat yang dibawa oleh Ismail ibn Abdil Malik dikatakan bahwa Said ibn Jubair pernah menjadi imam sholat malam di bulan Ramadhan dan ia selalu membaca al-Qur’an dengan qira’at yang berbeda di setiap malamnya. Malam pertama ia membaca dengan qira’at Ibn Mas’ud, selanjutnya qira’at dengan qira’at Zaid ibn Tsabit dan begitu seterusnya.

Maka tidak heran jika Said ibn Jubair dapat memiliki keluasan ilmu tentang makna redaksi ayat serta rahasia yang ada di baliknya. Namun, meskipun memiliki kapasitas dan level keilmuan yang mumpuni, Said enggan menafsirkan al-Qur’an dengan pandangan pribadinya. Dalam sebuah riwayat yang dibawa oleh Ibn Khulkan dikatakan bahwa Said diminta seseorang untuk menuliskannya tafsir, namun Said langsung marah ketika itu dan mengatakan, “mati sengsara lebih baik untukku dari pada itu”.

Riwayat itu menjadi sepenggal kisah yang menarik. Jika ditelaah mungkin yang dimaksud tafsir yang dibenci oleh Said adalah penafsiran spontan tanpa adanya telaah mendalam yang melibatkan berbagai perangkat keilmuan. Sebab dalam riwayat lainnya tatkala Ibn Abbas ditanya berbagai permasalahan oleh masyarakat Kufah, ia pun mempercayakannya pada Said ibn Jubair. Tentu pertanyaan dari masyarakat bisa saja pertanyaan yang membutuhkan ijtihad, maka jika Said tidak menggunakan ra’y atau logika berpikirnya maka bagaimana ia akan menjawabnya?

Para ulama Jarh wa Ta’dhil menilainya sebagai sebagai seorang yang memiliki hujjah yang tsiqah (kredibel) serta pantas dijuluki Imam umat Islam. Said ibn Jubair pun gugur di tangan seorang penguasa zalim bernama al-Hajjaj di tahun 95 Hijriah sebagai seorang syahid. Kala itu umurnya telah menginjak usia 49 tahun. Kematiannya pun menjadi tangisan bagi alam, Amr ibn Maimun meriwayatkan sebuah ungkapan yang bersumber dari ayahnya, “sungguh telah wafat Said ibn Jubair dan tidaklah satu pun benda yang nampak di bumi ini kecuali membutuhkan ilmunya”.

Pernikahan; Tujuan dan Hukumnya, Tafsir Surat An-Nahl Ayat 72

0
pernikahan
pernikahan

Pernikahan merupakan ikatan yang sangat agung dan mulia dari relasi laki-laki dan perempuan. Ikatan yang mempertemukan dua individu yang berbeda karakter dalam sebuah rumah ini membawa banyak tanggung jawab besar nan mulia, utamanya dalam hal agama. Oleh karena itu, Alquran, hadis dan bacaan keagamaan lainnya tidak luput untuk mengatur urusan pernikahan.

Laki-laki dan perempuan diciptakan memiliki fitrah yang saling membutuhkan satu sama lain. Mereka perlu mempertahankan kelangsungan jenisnya dan mencapai tujuan hidup di dunia. Laki-laki tentu memiliki karakter yang berbeda dengan perempuan, lalu dengan perbedaan tersebut keduanya ditakdirkan bersama untuk saling mengisi. Allah swt berfirman,

وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً وَّرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِۗ اَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَتِ اللّٰهِ هُمْ يَكْفُرُوْنَۙ

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat?” (QS. An-Nahl [16]: 72)

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa diantara nikmat-nikmat Allah adalah menjadikan bagi laki-laki seorang istri yang berasal dari jenisnya sendiri. Sendainya Allah menjadikan bagi mereka istri-istri dari jenis lain, tentu tidak akan ada kerukunan dan kasih sayang diantara mereka.

Menarik untuk ditampilkan di sini yaitu penafsiran Hamka tentang relasi antara laki-laki dan perempuan yang ia sampaikan dalam bukunya, Kedudukan Perempuan Dalam Islam.

‘Diri manusia itu pada hakikatnya satu, kemudian dibagi dua; satu menjadi bagian laki-laki dan yang satu lagi menjadi bagian perempuan, sehingga meskipun terdiri dari dua corak yang berbeda, hakikat jenisnya tetap satu, yaitu manusia. Oleh karena asalnya satu kemudian dibelah dua, terasalah bahwasanya yang satu tetap memerlukan yang lain. Hidup belumlah lengkap kalau keduanya belum dipertemukan kembali. Ketika disatukan lagi, maka lahirlah manusia-manusia yang lainnya.

Baca Juga: Tafsir Surah An Nisa Ayat 34: Peran Suami Istri dari Pemutlakan hingga Fleksibilitas Kewajiban

Melahirkan manusia-manusia berikutnya, menjaga kelangsungan hidup anak-cucunya seperti yang disebutkan dalam keterangan di atas akan terjdi jika ada kerjasama yang baik antara laki-laki dan perempuan. Kerja sama yang baik itu salah satunya bisa diwujudkan dalam relasi yang bernama pernikahan.

Pernikahan merupakan sebuah ritual pengikat janji yang dilaksanakan dalam rangka meresmikan hubungan sepasang manusia secara norma agama, hukum dan sosial. Mengapa harus norma? Tentu saja agar menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk hidup yang lain. Sebab jika dilihat dari segi bahasa dalam literatur fiqih, nikah memiliki arti ad-dhammu (mengumpulkan; menyatukan) dan al-wath’u (hubungan biologis). Sehingga, nikah tanpa adanya norma-norma di atas akan menimbulkan konsekuensi serta dampak negatif bagi pelakunya.

Adapun maqashid (tujuan) pernikahan sendiri telah banyak dijelaskan melalui al-Qur’an dan sunah. Rasulullah bersabda,

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki biaya, maka menikahlah karena hal itu mampu menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa dengan menikah seseorang bisa selamat dari hal-hal yang berhubungan dengan al-farji  (kemaluan) yang bisa merusak agama. Oleh karenanya, dalam hadis yang lain dikatakan bahwa seseorang yang menikah itu telah menyelamatkan separuh agamanya. Di ayat yang lain juga disampaikan bahwa tujuan menikah adalah agar mendatangkan ketenangan dan ketentraman dalam kehidupan. (QS. Ar-Rum [30]: 21.

Baca Juga: Walimatul Urs, Kesunnahan dan Etika Menghadirinya

Terkait hadis di atas, Syekh Taqiyuddin ad-Dimasyqi dalam Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar mengklasifikasi seseorang berdasarkan kebutuhannya terhadap pernikahan.

Pertama, taiqun ilan nikah yakni orang yang membutuhkan pernikahan. Orang yang membutuhkan pernikahan, bisa jadi memiliki kesiapan secara finansial dan bisa juga tidak. Jika kebutuhannya disertai kesiapan dalam segi finansial, maka dianjurkan menikah menurut ulama madzhab Syafi’i seperti Imam Nawawi. Sedangkan menurut Imam Ahmad, hukumnya menjadi wajib karena khawatir terjerumus dalam zina. Adapun jika kebutuhannya tidak disertai dengan kesiapan, maka Nabi dengan jelas memberi solusi agar ia memperbanyak puasa untuk meredam syahwatnya. Sebab, dengan menahan lapar dan haus seseorang bisa menjadi tenang dan seimbang sehingga syahwatnya tidak menguasai kendali diri.

Kedua, ghairu taiq ilan nikah yang berarti tidak membutuhkan pernikahan dengan alasan-alasan tertentu, misal karena masih sangat sibuk dengan kegiatannya, bisa jadi juga karena punya trauma dan semacamnya. Maka untuk kategori ini, sekalipun seseorang itu memiliki kesiapan dalam hal finansial, hukum menikah baginya  adalah makruh. Terlebih lagi jika orang tersebut tidak membutuhkan pernikahan ditambah dengan tidak memiliki kesiapan, maka sudah jelas makruhnya.

Terkait hukum nikah, Syekh As-Shabuni menambahkan penjelasan dari madzhab Maliki, Hanafi dan Hanbali. Menurut mereka menikah itu sunnah. Meskipun demikian, As-Shabuni dalam tafsirnya melanjutkan bahwa perbedaan hukum tersebut melihat pada tradisi dan kebiasaan masyarakat, tidak paten. Kembali lagi, jika seseorang benar-benar dikawatirkan akan terjerumus pada perkara haram seperti zina, maka pernikahan itu hukumnya wajib, tidak bisa diganngu gugat.

Wallahu A’lam.

Belajar Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan dari Kisah Negeri Saba’

0
mensyukuri nikmat kemerdekaan
mensyukuri nikmat kemerdekaan

Bulan Agustus merupakan bulan kegembiraan bagi seluruh anak bangsa Indonesia karena pada bulan ini berhasil meraih kemerdekaan. Kini negeri ini memasuki usia ke 75 tahun, menandakan sudah sejauh itu Indonesia mampu mepertahankan kemerdekaan. Karenanya, kita harus mensyukuri nikmat kemerdekaan itu. Salah satu cara dapat kita lakukan dengan belajar dari kisah negeri Saba’.


Baca juga: Napak Tilas Kemerdekaan Islam Pada Peristiwa Fathu Makkah


Tentang kisah itu, Allah berfirman dalam QS. Saba’ ayat 15-16:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ

فَاَعْرَضُوْا فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ اُكُلٍ خَمْطٍ وَّاَثْلٍ وَّشَيْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيْلٍ. ذٰلِكَ جَزَيْنٰهُمْ بِمَا كَفَرُوْاۗ وَهَلْ نُجٰزِيْٓ اِلَّا الْكَفُوْرَ.

“Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan). Di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar. Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir” (QS. Saba`: 15-16)

Nikmat untuk Negeri Saba’

Menurut Imam Abu Ja’far at-Tabari ayat di atas menjelaskan surat Saba` ayat 15 mengenai keadaan negeri Saba`. Negeri itu diberi kenikmatan berupa posisi teritorial diantara dua gunung dan di dalamnya terdapat dua kebun yang luas juga besar.

Negeri yang berada di Yaman ini memiliki salah satu sarana untuk menghidupi masyarakat berupa bendungan Ma’rib. Kaum dari Ratu Balqis ini hidup makmur dan tentram dengan segala fasilitas yang dimiliki. Lalu Allah Swt. menyeru kepada mereka untuk mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan-Nya. Sehingga negeri tersebut termasuk Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur.


Baca jugaTafsir Surat An-Nisa Ayat 66: Indonesia Adalah Rumah Kita Bersama


Ada pun maksud dari kalimat tersebut adalah negeri yang dikaruniai Allah Swt. berupa tanah yang subur dan hijau. Kemudian masyarakat yang ada dalam negeri tersebut menggunakan dan mengolah fasilitas yang ada di dalamnya dengan baik dan tidak melakukan kejahatan yakni eksploitasi alam.

Balasan untuk Kaum Saba’ yang Membangkang

Ayat 16 menjelaskan bahwa kaum tersebut pasca wafatnya Ratu Balqis, mulai berpaling dari Allah Swt. Maksudnya, rakyat pun mulai tidak peduli kembali dengan fasilitas berupa perkebunan dan negeri yang aman damai. Sesama anak negeri saling berseteru memperebutkan kekuasaan untuk kepentingan kelompoknya.

Karena keberpalingannya itu, Allah Swt. memberikan balasan berupa bencana banjir besar yang menjadi akibat dari jebolnya bendungan Ma’rib. Seketika, Negeri Saba’ porak poranda.

Perkebunan yang tadinya ditumbuhi buah-buahan segar berubah menjadi pekarangan yang berisi pepohonan yang berbuah pahit. Pepohonan yang rindang berubah menjadi pohon yang tandus juga lahan pun berubah menjadi lahan yang gersang.


Baca jugaTafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6-7: Kepada Siapa Nikmat Itu Diberikan?


Kemudian pada ayat selanjutnya Allah Swt. Menjelaskan mengenai balasan-Nya terhadap orang-orang kafir. Maksudnya adalah orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah termasuk melupakan nikmat Allah berupa negeri yang aman menjadi negeri yang kacau. Negeri yang subur berubah menjadi negeri yang gersang. Parahnya lagi, kedamaian yang ada pada negeri tersebut hilang karena adanya konflik antar kepentigan diantara warga negeri Saba`. (Muhammad ibn Jarir at-Tabari, Jami’ul Bayan ‘An Ta`wilil Ayil Qur`an, Juz 6, hal. 215-217)

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Berdasarkan penjelasan Imam at-Tabari dapat dipahami bahwasanya kisah negeri Saba` dapat dijadikan ibrah bagi bangsa Indonesia terutama dalam hal mensyukuri kemerdekaan. Negeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi merupakan salah satu bentuk nikmat Allah.

Apabila melihat pada pembukaan undang-undang dasar, maka kemerdekaan Indonesia merupakan bentuk dari Rahmat Allah Swt. bagi seluruh hamba-Nya yang bermukim di negeri ini. Mungkin pertanyaan mendasar pasca kemerdekaan adalah “Bagaimana mensyukuri nikmat kemerdekaan?”. Tentu banyak jawaban dari kita semua selaku anak bangsa. Namun salah satu jawaban yang penting adalah menjaga keamanan dan ketertiban negeri.

Salah satu bentuk syukur nikmat kemerdekaan bagi bangsa Indonesia adalah menjaga dan merawat kebhinekaan dan sumber daya alam negeri. Ada pun yang pertama yakni merawat kebhinekaan merupakan langkah utama dalam syukur nikmat Allah. Dengan jalan menyadari bahwa bangsa ini terdiri dari berbagai macam warna baik suku, bangsa dan ras. Tentu untuk melakukan hal tersebut perlu perlu saling mengenal antara satu dengan yang lain sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 13.


Baca juga: Kebhinnekaan dalam Al-Quran


Lalu yang kedua adalah merawat sumber daya alam baik di darat, laut maupun udara. Hal ini diperlukan agar manusia tidak mengeksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan individu maupun kelompok tertentu. Jika melanggar, maka yang terjadi adalah kehancuran dan kerusakan sebagaimana yang terdapat dalam surat ar-Rum ayat 41.

Dengan demikian, mari sebagai anak bangsa kita bersatu padu merawat dan menjaga segala yang ada di negeri ini. Semoga dengan usia 75 tahun, tanah air yang kita cintai semakin maju dan berkembang. Wallahu a’lam.

Anugerah Terbesar itu Menjadi Manusia

0
anugerah menjadi manusia
anugerah menjadi manusia

Keberuntungan terbesar bagi manusia adalah ia menjadi manusia, bukan yang lain. Manusia itu merupakan makhluk paling sempurna sehingga digambarkan dalam Al Quran sebagai ahsani taqwim (bentuk yang sebaik-baiknya). Terkadang manusia merasa bosan hidup hanya karena ada beberapa permasalahan yang tidak sanggup dia hadapi. Padahal hidup itu merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri oleh setiap manusia.

Ada Alasan mengapa Allah swt menciptakan kita sebagai manusia dan memberikan kita kesempatan untuk hidup di dunia ini. Oleh karena itu, mari kita renungkan sejenak, apa anugerah terciptanya makhluk yang bernama manusia?

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 30)

Kata Khalifah pada ayat di atas berkenaan dengan peristiwa penciptaan manusia pertama, yakni Nabi Adam a.s. Dalam KBBI, “manusia” diartikan sebagai makhluk yang berakal, berbudi, dan berperasaan. Sementara dalam bahasa Arab, kata “manusia” sepadan dengan kata nas, basyar, insan, dan masih banyak lagi persamaan-persamaan lainnya.

Akan tetapi walaupun memiliki persamaan, tiga kata tersebut ternyata memiliki kecenderungan arti masing-masing seperti nas yang lebih merujuk kepada makna manusia sebagai makhluk sosial. Insan lebih merujuk kepada manusia dengan seluruh totalitas jiwa dan raganya. Sedangkan basyar lebih merujuk kepada makna manusia sebagai makhluk biologis.

Lantas apa keberuntungan diciptakannya manusia?  Di dalam Al Quran akan kita temukan banyak redaksi ayat yang menjelaskan hal tersebut, antara lain;

Pertama. manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Seperti dalam firman-Nya

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ ۖ

“ Sungguh, kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tin:4)

Muhammad Mahmud Hijazi dalam kitab Tafsir Al-Wadhih (Jilid 3) menjelaskan bahwa ahsani taqwim adalah Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang dapat berdiri tegap dengan kepala lurus kedepan, kemampuan makan dengan tangan, memiliki akal dan pemikiran yang dengannya manusia dapat memanfaatkan alam, serta memiliki kekuasaan untuk menundukkan makhluk yang lain seperti hewan dan tumbuhan.

Baca juga: Dari Manakah Tumbuhnya Cinta Manusia Kepada Sesama ?

Dalam Tafsir Al-Maraghi manusia diciptakan dengan ukuran tubuh yang memadai, memakan dengan menggunakan tangan, tidak seperti makhluk lain yang mengambil makanan dengan mulutnya. Diistimewakan karena akalnya sehingga bisa berfikir dan menimba ilmu yang dengannya manusia bisa berkuasa atas semua makhluk.

Kedua, manusia mendapat gelar Ahsan al-taqwîm dianugerahi aql (pikiran) seperti dijelaskan dalam Al Quran

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (Q.S. al-Hajj [22]: 46)

Dari kutipan ayat diatas, kita bisa menemukan kata aql. Kata ini terkadang digunakan Al-Qur’an sebagai padanan terhadap kata qalb, sehingga aql bukan hanya bermakna pikiran (rasio) tetapi juga mengandung makna hati yang berfungsi untuk merasa.

Baca juga: Nabi Adam dalam Al-Quran: Manusia Pertama dan Tugasnya di Dunia

Ketiga, manusia kemudian dimuliakan dalam penciptaannya. Allah swt berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (Q.S. al-Isra [17]: 70)

Manusia adalah makhluk yang dimuliakan. Bahkan lebih mulia daripada malaikat. Hal itu terbukti setelah Allah menciptakan Manusia pertama, Allah memerintahkan kepada malaikat untuk memberi hormat sebagai tanda memuliakannya. Peristiwa ini diabadikan oleh Allah swt dalam firman-Nya,

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Q.S. al-Hijr [15]: 29)

Keempat, manusia dikarunia agama yang hanif (lurus)

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S. ar-Rum [30]: 30)

Baca juga: Potret Romantisme Islam dan Kristen dalam Al Quran

Agama akan menjadi pedoman dalam kehidupan manusia. Dengan memiliki agama seseorang akan selalu berada pada jalan lurus serta kebenaran yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain. Dan tentunya agama yang lurus seperti yang dimaksudkan ayat diatas adalah agama islam. Sebagimana firman Allah swt,

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. (Q.S. al-Maidah [5]: 3)

Kelima, diberikan sarana pengetahuan berupa pendengaran, penglihatan, dan hati sehingga memperoleh pengetahuan, meskipun ia dilahirkan dalam kondisi tidak berpengetahuan. Seperti dalam firman Allah

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (Q.S. an-Nahl [16]: 78)

Itulah beberapa anugerah yang dapat kita pelajari dari penciptaan manusia. Pemaparan yang telah disebutkan di atas hanyalah secuil dari apa yang bisa penulis sampaikan untuk kita renungi bersama. Sehingga kita bisa mensyukuri bahwa menjadi manusia adalah anugerah yang dikaruniakan Allah kepada kita. Selagi diberikan kesempatan untuk hidup, maka manfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Bukti Kekuasaan Allah Dalam Kisah Uzair Yang Wafat Selama 100 Tahun

0
Kisah Uzair
Kisah Uzair credit: qpedia.org

Kisah Uzair dalam al-Qur’an adalah salah satu kisah dari banyak kisah Al-Qur’an yang menunjukkan bukti kekuasaan Allah Swt. Kisah tersebut diceritakan Allah agar para pembaca al-Qur’an dapat mengambil pelajaran di dalamnya.  Dengan demikian, mereka dapat mengimani Allah dengan sepenuh hati karena Dia adalah Tuhan yang Maha Kuasa.

Ketika mendengar nama Uzair. Sebagian orang Islam mungkin akan mempertanyakan siapa dia? Apa keistemewaan dirinya sehingga diceritakan oleh Al-Qur’an? Pertanyaan-pertanyaan tersebut lumrah ditanyakan, karena ia tidak banyak diceritakan maupun dikisahkan oleh ahli sejarah. Terlebih lagi, Al-Qur’an hanya menceritakan beberapa penggal kisah tentangnya

Ulama berbeda pendapat mengenai status Uzair. Sebagian ulama menyebutkan dia hanya manusia biasa, bukan nabi atau rasul. Karena tidak ada catatan yang membuktikan ia adalah seorang utusan Allah. Sebagian lain meyakini bahwa Uzair adalah seorang nabi. Pendapat ini didasarkan kepada hadis nabi yang menyatakan bahwa jumlah nabi ada 124 ribu.

Lantas siapakah Uzair yang kisah wafat 100 tahunnya diceritakan Al-Qur’an? Quraish Shihab menyebutkan dalam Tafsir al-Misbah ([5]: 576) bahwa Uzair adalah salah seorang ulama Yahudi. Ia termasuk tawanan yang dibebaskan oleh Kursy raja Persia dan diperbolehkan kembali ke Yerusalem pada tahun 451 SM. Uzair adalah orang yang berhasil mengumpulkan kembali kitab suci Yahudi setelah sebelumnya menghilang.

Setelah mampu mengumpulkan kembali kitab suci Yahudi, Uzair memiliki posisi yang penting di kalangan orang-orang Yahudi. Bahkan sebagian mereka menyebutnya sebagai “anak Allah.” Tindakan ini sebenarnya merupakan bentuk perumpamaan kedekatan Uzair dengan Allah, namun disalahpahami oleh orang-orang Yahudi sebagai hakikat yang sesungguhnya. Alhasil, mereka tersesat karena menganggap Uzair benar-benar anak Tuhan.

Kisah Uzair dianggap “anak Allah” oleh orang Yahudi termaktub dalam QS. at-Taubah [9]: 30 yang berbunyi:

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ ٣٠

Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. at-Taubah [9]: 30)

Terlepas dari perdebatan siapakah Uzair, kisahnya di dalam Al-Qur’an memiliki tujuan khusus. Menurut Khalafullah, sebuah kisah dalam Al-Qur’an seringkali tidak disebutkan secara spesifik latar belakang sosio-historisnnya,karena tujuan utama dari kisah tersebut adalah aspek psikologis, yaitu peringatan dan pelajaran. Dalam konteks kisah Uzair, yang dituju adalah pelajaran tentang kekuasaan Allah (Al-Qur’an Bukan Kitab Sejarah: 102-103).

Uzair Diwafatkan Allah Selama 100 Tahun

Diriwayatkan, pada suatu hari Uzair sedang melewati sebuah perkampungan yang telah porak-poranda. Perkampungan tersebut merupakan sebuah negeri yang hancur karena peperangan. Sebagian penduduknya mati terbunuh dan sebagian lainnya telah pergi ke negeri seberang untuk meneruskan kehidupan. Alhasil kampung itu terlihat sepi sekali dan tidak berpenghuni.

Ketika Uzair memasuki bangunan-bangunan yang ada di dalam perkampungan, Hatinya bertanya-tanya, “bagaimana cara Allah menghidupkan (memakmurkan) kembali kampung ini setelah kematiannya?” Pertanyaan tersebut muncul sebab Uzair melihat keadaan kampung yang sangat porak-poranda. Siapa sangka, pertanyaan itu dijawab oleh Allah dengan cara mewafatkannya selama 100 tahun agar ia dapat melihat jawaban atas pertanyaannya.

Kemudian Allah menghidupkan Uzair kembali. Bagian pertama dihidupkan adalah mata agar ia dapat melihat anggota tubuhnya yang lain dibangkitkan. Ketika Uzair terbangun, Allah bertanya kepadanya melalui para malaikat, “berapa lama kamu tinggal di sini?” Uzair menjawab, “satu hari atau setengah hari.” Karena Uzair merasa hanya berdiam sebentar dan karena waktu kebangkitan sama dengan waktu ia diwafatkan, yakni siang hari.

Lalu Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 259)

Setelah melihat kekuasaan Allah itu, Uzair kemudian kembali mengelilingi kampung di mana ia diwafatkan dengan menaiki keledainya. Ia menyaksikan kampung itu sudah banyak diisi oleh manusia dan begitu makmur, berbanding terbalik dengan keadaan sebelumnya. Ketika melewati orang-orang ia sama sekali tidak dikenali dan terasa asing.

Lalu Uzair kembali ke rumahnya dan ia bertemu seorang wanita tua berusia 120 tahun. Wanita tersebut merupakan salah satu tetangga Uzair dahulu dan ia mengenalnya dengan baik. Lantas Uzair bertanya kepadanya, “wahai ibu, apakah itu rumah Uzair?” Wanita tersebut menangis, sebab selama 100 tahun tidak ada seorangpun yang menyebutkan nama tersebut.

Uzair lantas memperkenalkan dirinya dan menceritakan tentang kematiannya selama 100 Tahun. Karena Wanita tersebut buta, ia tidak mengetahui apakah itu benar-benar Uzair. Untuk membuktikan hal tersebut, wanita tua itu kemudian meminta didoakan agar bisa melihat kembali, karena Uzair terkenal sebagai seorang yang mustajab doanya. Uzair berdoa dan dikabulkan oleh Allah. Lantas perempuan tersebut menyebarkan kepada Bani Israil tentang apa yang telah dialami Uzair.

Dari kisah Uzair di atas, setidaknya ada dua pelajaran yang bisa diambil dan dihayati, yakni; Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuas, Dia mampu untu melakukan apapun termasuk menghidupkan kota yang telah mati dan membangkitkan keledai yang jasadnya telah terurai. Selanjutnya, dari rentan waktu 100 tahun dapat dipahami bahwa segala sesuatu di dunia ini memerlukan waktu tertentu untuk berkembang sesuai sunatullah. Wallahu a’lam.

Inilah 4 Karakter Kepemimpinan Transformatif Menurut Al Quran

0
Kepemimpinan Transformatif
Kepemimpinan Transformatif menurut Al Quran (mosoah.com)

Kepemimpinan transformatif didefinisikan sebagai kekuatan untuk menggerakkan dan mempengaruhi orang lain guna mencapai tujuan bersama yang dikehendaki. Pemimpin tidak hanya menjalankan fungsinya sebagai top-down semata, tetapi harus button-up. Dalam arti, ia harus mendengar aspirasi mereka dan mengakomodasinya dengan beberapa pertimbangan. Sederhananya, kepemimpinan transformatif ialah mereka yang mampu bertransformasi secara mindset, perilaku dan hasil.

Kepemimpinan semacam ini telah direalisasikan oleh Rasulullah saw, jauh sebelum istilah kepemimpinan transformatif tercetus. Sebab, kalau kita berbicara tentang hal itu maka pasti merujuk pada baginda Rasulullah saw. Karena kepemimpinan beliau selalu didasarkan pada saripati ajaran Alquran dan al-hadits. Kepemimpinan beliau oleh Allah swt diabadikan dalam firman-Nya di bawah ini,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Q.S. Ali Imran [3]: 159)

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 159

Ayat ini memuat pesan-pesan kepemimpinan transformatif Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw tidak hanya teladan di satu aspek saja, melainkan seluruh kehidupan Rasulullah saw adalah teladan bagi kita. Sunnah rasul saw tidak terbatas satu aspek saja, melainkan banyak. Amat disayangkan jika yang diambil adalah bentuk simbolitas saja, bukan substansinya.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kepemimpinan transformatif Rasulullah tercermin dalam empat aspek berikut ini.


Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Keharusan Bersikap Sabar Bagi Peserta Didik


Berikut 4 Karakter Kepimpinan Transformatif:

Lemah Lembut

Sesuai redaksi fabima rahmatin minallahi linta lahum. Ibnu Katsir dan ‘Ali al-Shabuny menjelaskan bahwa Rasulullah saw dapat bersikap lemah lembut kepada mereka sebab rahmat Allah swt. Huruf ma merupakan silah, orang-orang Arab biasa menghubungkannya dengan isim ma’rifat, sebagaimanan termaktub dalam firman-Nya fabima naqdhihim mitsaqahum (Q.S. al-Nisa [4]: 55).

Rasulullah saw bersabda sembari memegang tangan sahabat Abu Umamah al-Bahili, “Hai Abi Umamah, sesungguhnya termasuk orang-orang mukmin ialah orang yang dapat melunakkan hatinya. “(H.R. Imam Ahmad).

Tidak Kasar baik dalam Ucapan maupun Perbuatan

Karakter tidak kasar, tidak bengis tercermin dari redaksi berikutnya, walau kunta fadzan ghalidzal qalbi lanfaddhu min haulika (sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu). Ibnu Katsir menafsirkan kata al-fadzu dengan keras, namun makna yang dikehendaki ialah keras dan kasar dalam berbicara.

Sedangkan al-Shabuny dalam Shafwah at-Tafasir menandaskan sekiranya engkau (Muhammad) bersikap bengis lagi berhati kasar, kejam dan diktator, mereka tidak hanya sekadar menjauhi, melainkan memisahkan diri dari sekelilingmu.

Dengan kata lain, sekiranya Nabi saw berbicara kasar dan berkeras hati, tidak sabar dalam menghadapi mereka, niscaya mereka bubar dan meninggalkan Nabi saw. Namun, Allah swt menghimpun mereka di sekelilingnya dan membuat hati Nabi saw lemah lembut terhadap mereka sehingga mereka menyukai Nabi saw dan loyal kepadanya.

Dikatakan oleh Abdullah bin Umar, “Sesungguhnya aku telah melihat di dalam kitab-kitab terdahulu mengenai sifat Rasul saw, bahwa beliau dicitrakan tidak keras, tidak kasar, dan tidak bersuara gaduh di pasar-pasar serta tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, melainkan memaafkan dan merelakan.”

Pemaaf dan Demokratis

Meskipun Rasulullah dihina, dicaci, difitnah, dikucilkan, diboikot bahkan dilempari kotoran oleh mereka, beliau tetap memaafkan bahkan al-Baghawy menuturkan Rasulullah tetap memberi syafaat kepadanya jika bertaubat. Selain pemaaf, pribadi Rasulullah saw sangat demokratis.

Wa syawirhum fil amr, Rasulullah saw dalam memutuskan sesuatu selalu mengedepankan musyawarah agar aspirasi mereka terakomodasi dan berkenan untuk melaksanakannya dengan kesadaran diri sendiri tanpa dipaksa.

Sikap demokratis ini tergambar dalam beberapa peristiwa penting misalnya dalam perang Khandaq, apakah berdamai dengan golongan yang bersekutu dengan memberikan sepertiga dari hasil buah-buahan Madinah pada tahun itu. Tawaran itu ditolak oleh dua orang Sa’d, yaitu Sa’d bin Mu’az dan Sa’d bin Ubadah. Akhirnya nabi saw menerima usulan mereka.

Perjanjian Hudaibiyah misalnya, apakah sebaiknya beliau bersama kaum muslim menyerang orang-orang musyrik. Maka Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya kita datang bukan untuk berperang, melainkan untuk berumrah.” Lalu Nabi saw memperkenankan pendapat Abu Bakar itu.

‘Ali al-Shabuny melukiskan Rasulullah saw itu pribadi demokratis, sangking demokratisnya Ia gemar berdiskusi dan bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam setiap urusan. Bahkan dalam beberapa kitab tafsir dijelaskan bahwa perintah bermusyawarah ini bukan karena Nabi saw membutuhkan pendapat orang lain, akan tetapi lebih untuk menjaga dan menghargai perasaan orang lain agar tetap merasa dihargai dan dihormati, atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah nguwongno uwong atau ngerumangsani (menghargai orang dan memberi tempat kepada orang lain)

Di samping itu, watak tokoh-tokoh Arab memiliki perasaan sangat sensitif, jika tidak dimintai pendapatnya, mereka gampang tersinggung atau baper. Maka mengajak bermusyawarah merupakan keniscayaan untuk menjaga keseimbangan.

Hal ini menunjukkan Rasul saw sangat demokratis dalam memutuskan suatu persoalan, tidak gegabah, tidak mementingkan ego sektoral, sehingga semua sama suka, sama senang dan sama suka rela untuk melaksanakan perintah Rasul saw sebab aspirasi mereka didengar dan menjadi bahan pertimbangan rasul saw.


Baca juga: Parenting Demokratis ala Nabi Ibrahim dalam Surat As-Saffat Ayat 102


Komitmen dan Tawakkal

Fa idza ‘azamta (Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad). Ibnu Katsir menafsiri redaksi ini dengan apabila engkau pasca bermusywarah dengan mereka dalam urusan itu dan telah berkomitmen untuk menjalankannya, hendaklah engkau Muhammad saw bertawakkal kepada Allah swt.

Adapun al-Shabuny memaparkan jika Rasulullah saw sudah menetapkan dalam hatinya, pantang untuk menyerah, dan beliau bertawakkal dan mengembalikannya kepada Allah swt karena apa yang dilaksanakannya tidak lepas dari campur tangan Allah swt.

Dengan demikian, jauh sebelum Stephen Robbins dan Mary Coulter menyatakan bahwa kepemimpinan transformatif itu harus mampu memberikan stimulus dan inspirasif untuk mencapai hasil yang luar biasa, Rasulullah saw sudah mampu melakukan itu.

Bahkan lebih dari sekadar itu, Rasulullah saw adalah sosok pemimpin yang ideal, sempurna dan berintegritas. Beliau mampu mengintegrasi-interkoneksikan antara Iman, Islam dan Ihsan, sehingga sejatinya beliau lah yang harusnya kita idolakan. Wallahu A’lam.

Inilah Telaah Makna Kata Al-Quran

0
kata al-Quran
kata al-Quran

Dari aspek bahasa kata al-Quran (القرآن) yang sudah menjadi nama dari kitab suci kaum muslimin ini adalah kata dasar (masdar) yang menggunakan pola bentuk kata al-fu’lan (الفعلان). Menurut para ulama Al-Quran, kata al-Quran (القرآن) berakar dari dua kata kerja yang berbeda, yang masing-masing mempunyai makna yang berbeda. Dari kata mana saja, kata al-qur’an (القرآن) itu berasal? Mari kita lihat uraian berikut.

Kata al-Quran berakar dari kata kerja qara’a (قَرَأَ) – yaqra’u (يقرأ), yang bartinya “membaca, menelaah, dan mempelajari.” Karena kata قرآن  itu adalah bentuk dasar dari kata kerja qara’a, maka kata ini berarti “bacaan, telahan, pelajaran.” Lalu para ulama menyatakan bahwa bentuk dasar قرآن itu dipahami sebagai kata benda yang menunjukkan makna pasif (isam maf’ul = اسم مفعول), yang bentuknya adalah (المقروء). Jadi yang dimaksud dengan al-Qur’an (القرآن) itu adalah al-maqru’ (المقروء), artinya “sesuatu yang dibaca, sesuatu yang ditelaah, dan sesuatu yang dipelajari.”

Al-Qur’an (القرآن) itu adalah suatu kitab suci yang harus dibaca, yang harus dipelajari, dan yang harus ditelaah. Itulah sebabnya, maka setiap orang yang membaca Al-Qur’an diberikan oleh Allah pahala yang amat besar, sebagaimana Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang mendengarkan al-Quran.

Baca Juga: 3 Cara Tepat Membaca Al Quran

Arti lain dari kata al-Quran (القرآن) itu juga dipahami sebagai kata dasar yang berakar dari kata kerja qarana (قَرَنَ) – yaqrinu (يَقْرِنُ) yang berarti “menyambung, menghubungkan sesuatu dengan sesuatu.” Makna kata ini lebih ditekankan pada hubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain, antara satu surat dengan surat yang lain, sehingga Al-Quran itu diyakini sebagai kitab suci yang ayat yang satu memiliki hubungan atau persambungan dengan ayat yang lain, dan antara satu surat dengan surat yang lain.

Dari makna itu pulalah, maka setiap ayat Al-Qur’an memiliki hubungan atau persambungan antara suatu ayat dengan ayat sesudahnya, antara satu surat dengan surat yang sesudahnya. Persambungan antara ayat dan surat ini oleh ulama Al-Qur’an disebut munasabat (مناسبة).

Dari makna-makna yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa al-Quran adalah sebuah kitab suci, yang ayat-ayat dan surat-surat yang ada di dalamnya saling berhubungan, saling bersambungan, dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya sehingga menjadi sebuah kitab suci yang utuh dan lengkap. Juga Al-Qur’an adalah kitab suci yang ayat-ayat dan surat-surat yang ada di dalamnya harus dibaca, ditelaah, dan dipelajari oleh kaum muslimin, agar terpancar darinya hidayah, cahaya, dan petunjuk Allah.

Pemahaman arti kata Al-Qur’an sebagai “bacaan” bukan tanpa dasar, alasan atau dalil. Allah swt telah menjelaskan hal ini dalam sebuah firmannya di dalam QS. Al-Qiyamah [75]: 17:

إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.

Ada dua kata qur’an (قرآن) yang terdapat di dalam rangkaian ayat di atas, yaitu pada ayat 17 dan ayat 18, yang semuanya menunjukkan arti “bacaan.” Dari sinilah para ulama al-Quran memahami kata qur’an (قرآن) itu sebagai “bacaan,” yang berakar dari kata qara’a (قرأ).

Baca Juga: Tahukah Anda Perbedaan Makna Antara Kata Walid (وَالِدٌ) dan Abu (أَبُوْ) dan Kata Umm (أم) dan Walidah (وَالِدَة)?

Ketiga ayat ini menunjukkan bahwa jaminan Allah yang membuat manusia dapat mengumpulkan ayat-ayat di dadanya (menghafal dan memahaminya), yang membuat manusia dapat mengikuti bacaan-bacannya, dan yang membuat manusia dapat mengikuti penjelasannya.

Kata نا (naa) yang terdapat pada kata-kata عليناdi ayat ke-17, pada kata قرأنا di ayat ke-18, dan kata علينا pada ayat 19, menunjukkan makna “Kami.” Kata jamak seperti ini dipahami oleh ulama Al-Qur’an, sebagai kata tidak hanya menunjukkan kepada Allah, tetapi juga kepada para malaikat, dan juga kepada manusia sebagai ahli al-Quran.Wallahu A’lam.