Beranda blog Halaman 89

Tafsir Surah Alnur [24]: 35; Allah Adalah “Cahaya di Atas Cahaya”

0
Tafsir Surah Alnur [24]: 35; Cahaya Sebagai Esensi Ilahi
Tafsir Surah Alnur [24]: 35; Allah Adalah “Cahaya di Atas Cahaya”

Artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai pengertian “nur” atau cahaya menurut para mufasir. Cahaya bagi mereka adalah esensi Ilahi atau perwujudan Allah Ta’ala. Sebagaimana Nabi Ibrahim as. saat mencari Tuhan, ia melihat matahari dan menganggapnya sebagai Tuhan. Tapi, setelah matahari itu terbenam, Nabi Ibrahim as. menolak keyakinannya sendiri sebab, Tuhan tidak akan pernah tenggelam atau redup cahayanya.

Namun, penting dicatat bahwa meskipun para mufasir menyebut “nur” sebagai penyifatan Allah, akan tetapi, selamanya zat Allah tidak sama dengan cahaya itu sendiri. Sebagai peringatan, Abdul Qadir Syaibah mengatakan bahwa tidak dapat diserupakannya Allah dengan apapun adalah suatu keniscayaan. Cahaya, dalam sains, adalah yang dilihat mata, sinar yang ditangkap mata. Ini juga berkaitan dengan kata مَثَلُ نُورِهِ setelahnya.

Baca Juga: Tafsir Surah Alnur [24]: 35; Cahaya Sebagai Esensi Ilahi (Bagian 1)

Pendapat Mufasir

 مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ (Cahaya Petunjuk)

Kata “matsal” bukan berarti Allah menyerupai sesuatu, tapi hal itu hanya sebuah perumpamaan dari perwujudan kekudusan-Nya. Pada dhamir (kata ganti) “ha’” dalam kata di atas, Ibnu Abbas berpendapat bahwa dhamir itu kembali kepada Allah. Maksudnya, Allah adalah petunjuk bagi orang mukmin. Di sisi lain, Ubay bin Ka’ab berpendapat bahwa dhamir itu kembali kepada orang mukmin. Maksudnya, seperti cahaya orang mukmin yang dalam hatinya seperti lubang tembus yang di dalamnya pelita besar. (Abdul Qadir, Tafsir Ayat al-Ahkam, 271)

Sedangkan kata “مِشْكَاةٍ” dan “مِصْبَاحٌ” di atas ada beberapa perbedaan dalam mengartikannya, sebagaimana berikut: pertama, Abi Bakar Jabir al-Jazairi; misykat adalah lubang kecil di dinding (tempat lampu). Kedua, al-Zamakhsyari; lubang kecil di dinding sebagai tempat lampu yang besar dan luas dan benderang cahayanya.

Ketiga, Abdul Qadir Syaibah; misykat dalam bahasa arab berarti lubang kecil tanpa jendela di dinding, dalam perihal ratapan (rasa sakit) berarti doa seorang yang mengharap susu dan air. Keempat, Imam Jalalain; Misykat adalah lubang atau cerobong kecil pada sebuah lampu. Kelima, al-Maraghi; adalah sebuah tanda kebesaran Allah yang telah menciptakan gemintang (yang cahayanya) bertebaran di angkasa raya. Tanda yang menjadi petunjuk akan kekuasaan Allah Swt.

Perbedaan penafsiran di atas sebenarnya tidak menafikan tujuan ayat, yaitu petunjuk dan pertolongan Allah bagi mereka yang beriman. Petunjuk tersebut diibaratkan dengan obor, misalnya, yang dibawa oleh seseorang pejalan kaki di malam hari. Cahaya dari obor tersebut menjadi petunjuk atau penerang terhadap jalan yang ada di depannya.

Dalam ayat tersebut, lampu yang dimaksud diumpakan dengan seindah mungkin;  الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌ, artinya, Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara. Ayat ini adalah ungkapan bahwa betapa agungnya cahaya Tuhan itu. Lampu yang ibarat mutiara dan mutiara yang diibaratkan gemintang di angkasa. Sebuah pemilihan kata yang tepat, begitu menyentak kalbu. Dalam hal ini, para mufasir juga menunjukkan perbedaan penafsiran mereka dalam tafsirnya, di antaranya yakni Abi Bakar Jabir, yang berpendapat bahwa lampu dalam zujaj itu adalah bak mutiara di lautan dan zujaj itu perwujudan bintang, maka cahanya keduanya (lampu dan zujaj) menyatu bagai permata yang jernih dan murni.

Kemudian, al-Zamakhsyari dan al-Maraghi berpendapat, cahaya yang berada dalam sebuah lampu yang bersih dan berwarna hijau. Adapun lampu itu sinarnya seperti bintang zahrah. Dan, Imam Jalalain berpendapat bahwa pada kata “دُرِّيٌّ”, jika dal dibaca kasrah atau dlammah maknanya adalah menolak kegelapan. Jika dal di-dhammah-kan dan ra di-tasydid maka dinisbatkan kepada mutiara.

Baca Juga: Misykat Al-Anwar: Tafsir Ayat Cahaya dalam Perspektif Al-Ghazali

يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ (Pelita Berbahan Bakar Zaitun)

Zaitun adalah sebuah pohon yang sangat bermanfaat bagi kehidupan, baik kayu, daun, buah minyak yang dikandungnya bahkan sampai abunya pun bisa berguna. ((Abdul Qadir, Tafsir Ayat al-Ahkam, 272)

Pohon ini diberkati oleh 70 Nabi, di antaranya Nabi Ibrahim dan Muhammad Saw. Karena minyaknya yang dapat menyembuhkan penyakit basir. Pohon zaitun tumbuh di tempat yang baik, yaitu di tanah lapang dengan cahaya matahari yang menyinarinya sepanjang hari. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. (Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin, al-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain al-Muyassar)

Hal itu disebabkan karena letaknya yang tidak di daerah timur, yang tertutup dari matahari saat terbenam. Dan juga tidak terletak di daerah barat, yang tertutup dari matahari yang baru terbit. Letaknya berada di tengah-tengah, dimungkinkan berada di atas gunung di padang luas. Jadi, tak akan ada gunung yang menghalangi matahari. Atau, bisa jadi di tengah kebun yang luas dengan sinar matahari yang bagus, menyinarinya sepanjang hari. Dengan cahaya matahari yang sempurna, jelas itu sangat berpengaruh besar bagi kualitas pohon zaitun. Minyak yang dihasilkannya pun, bersih dan murni, bahkan tidak dinyalakan dengan api pun, ia sudah sudah berkilau karena kejernihannya.

“Cahaya di Atas Cahaya”

Nur ala nur” secara harfiyah bermakna “cahaya di atas cahaya”. Namun, al-Jazairi menafsirkannya dengan cahaya yang pertama dari api dan cahaya yang kedua dari minyak zaitun. Jika dirunut dari awal, mulai misbah, zujajah, kaukab, hingga zaitun, maka dapat diketahui bahwa tingkatan dari berbagai cahaya itu berbeda, namun menyatu dalam cahaya yang sinarnya tak berhingga. (Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Aysar al-Tafasir Li Kalam al-‘Aliy al-Kabir, 572)

Baca Juga: Tafsir Surat An-Nur Ayat 35: Allah Sang Maha Cahaya

Abdul Qadir mengatakannya sebagai perumpamaan akan kemurnian syariat Islam, dengan mengutip hadis Nabi Saw. yang berbunyi, “Aku tinggalkan kalian pada titik tengah yang putih bersih, saat malam seakan tak jauh beda dengan siang”. Imam Jalalain menafsirkan berbeda dengan mengatakan bahwa “nur ala nur” adalah cahaya/petunjuk dari Allah kepada hamba-Nya yang beriman.

Terakhir, secara keseluruhan ayat Alnur [24]: 35 dapat diambil kesimpulan, bahwa di dalamnya terdapat penjelasan luas mengenai bagaiman manusia dapat memperbaiki kehidupan, hukum, norma dan etikanya. Dengan ayat ini pula, menjadi jelas bahwa Allah adalah cahaya bagi semesta. Dalam artian, Dia adalah petunjuk bagi hamba yang bersungguh-sungguh dalam ibadah, takwa dan iman. Pun, dengan ayat ini, Allah ingin menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya dan keluasan sifat-sifat-Nya.

Wallahu a’lam.

Karya-Karya Tafsir Bercorak Sosial di Era Modern

0
Karya-Karya Tafsir Bercorak Sosial di Era Modern
Karya-Karya Tafsir Bercorak Sosial di Era Modern.

Dalam sebuah kajian, ada yang mengatakan bahwa para peneliti tafsir modern itu tidak mampu menghasilkan karya tafsir secara utuh. Memang harus diakui, beberapa mufasir modern tidak selesai dalam menafsirkan Alquran. Bahkan, Abduh sebagai bapak tafsir modern pun tidak selesai dalam menyampaikan pelajaran tafsir di Masjid Al-Azhar yang kemudian ditulis oleh Rashid Ridla menjadi Tafsir Al-Manar.

Abduh hanya menyampaikan pelajaran tafsir tersebut sampai surah An-Nisa: 126. Selanjutnya, Tafsir al-Manar dilengkapi oleh Rashid Ridla sampai surah Yusuf. Namun demikian, pengaruh Tafsir Al-Manar terhadap perkembangan tafsir modern sangatlah kuat.

Muhammad Husein al-Dhahabi menyebut Abduh sebagai bapak tafsir modern. Abdul Mustaqim menjadikan Abduh sebagai titik awal permulaan munculnya tafsir modern-kontemporer. Kebaruan tafsir yang ditawarkan oleh Abduh adalah corak sosial yang tidak dimunculkan oleh tafsir pada era sebelumnya. Corak sosial ini lahir dari paradigma “Al-Ihtida’ bi Al-Qur’an” atau “Alquran itu kitab hidayah” yang sering diulang-ulang dalam Tafsir Al-Manar.

Baca juga: Alquran dan Problem Sosial Kemanusiaan Perspektif Cendekiawan Muslim Kontemporer

Deskripsi paradigma ini dapat dilihat dari apa yang disebut oleh Abduh dengan istilah Al-Maqshid Al-A’la (tujuan tertinggi dari sebuah penafsiran). Dia berpendapat bahwa tujuan penafsiran itu untuk memunculkan pemahaman terhadap sebuah ajaran yang menunjuki manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Inilah inti dari corak sosial yang ditawarkan Abduh. Corak ini disebut oleh al-Dhahabi dengan istilah al-adab al-ijtima’i, dan disebut oleh Fadel Abbas dengan istilah al-aql al-ijtimā’i.

Cara pandang ini berkembang sehingga memunculkan beragam karya tafsir bercorak sosial dengan berbagai pola yang berbeda. Ada karya tafsir yang ditulis dengan urutan mushafi, nuzuli, atau mawdhu’i. Ada karya yang ditulis oleh individu atau lembaga. Ada juga karya tafsir dari kalangan Arab, begitu pula dari kalangan Indonesia. Di bawah ini, kami menampilkan beberapa contoh karya tafsir modern bercorak sosial dengan sedikit memberikan deskripsi terhadap karya tersebut.

Beberapa contoh tafsir era modern bercorak sosial

Contoh pertama adalah Tafsir Al-Marāghi karya Ahmad ibn Mustafa Al-Maraghi dan Tafsīr Al-Qur’ān Al-Karīm karya Mahmud Shaltut. Kedua karya tafsir ini ditulis berdasarkan urutan mushafi. Mufasir mengelompokkan beberapa ayat kemudian diijtihadi untuk menentukan tema kelompok ayat tersebut. Tiap tema kelompok ayat biasanya dihubungkan dengan tema kelompok ayat sesudah atau sebelumnya. Hal ini menegaskan bahwa setiap ayat memiliki munāsabah antara yang satu dengan yang lainnya.

Contoh kedua adalah Nahwa Al-Tafsīr Al-Mawḍū‘ī karya Muhammad Al-Ghazali dan Ilā Al-Qur’ān Al-Karīm karya Mahmud Shaltut. Kedua karya tafsir ini merupakan karya tafsir mawḍū’i li al-sūrah. Urutannya tetap urutan mushafi seperti pada contoh pertama. Mufasir fokus pada tema pokok dari surah yang ditafsirkan. Tema pokok tersebut mengandung tema-tema turunan pada setiap kelompok ayat dalam surah tersebut. Deskripsi ini menunjukkan bahwa karya tafsir ini lebih ringkas dibandingkan karya sebelumnya.

Contoh selanjutnya adalah Fahm Al-Qur’ān Al-Hakīm karya Muhammad Abid Al-Jabiri dan Al-Tafsir Al-Hadīth: Tartīb Al-Suwar Hasba Al-Nuzūl karangan Muhammad Izzah Darwazzah. Karya tafsir ini unik dibandingkan karya-karya tafsir sebelumnya. Penulisannya didasarkan pada urutan nuzūlī. Penafsiran dengan urutan nuzūlī erat dengan penggunaan pendekatan historis dalam pemahaman ayat-ayatnya. Pemahaman ini juga tidak mungkin lepas dari pengetahuan terhadap sirah Nabi Muhammad saw.

Baca juga: Uraian Singkat Beberapa Mufasir Indonesia Modern dari A. Hassan hingga Quraish Shihab

Contoh keempat adalah Al-Tafsīr Al-Mawḍū‘ī karya tim dari Universitas Madinah Internasional (MEDIU), Al-Tafsīr Al-Mawḍū‘ī li Suwar Al-Qur’ān Al-Karīm karya Mustafa Muslim bersama Tim Universitas Sarjah, dan Al-Tafsīr Al-Mawḍū‘ī lī Al-Qur’ān Al-Karīm karya Hasan Hanafi. Jika karya-karya tafsir sebelumnya menggunakan urutan mushafī dan nuzūlī, pembahasan karya tafsir ini menggunakan urutan mawḍū’i. Mufasir mengurutkan tema-tema berdasarkan ijtihad mereka, mana yang layak dituliskan di awal dan mana yang dituliskan pada bagian-bagian selanjutnya.

Karya tafsir seperti ini memiliki keunggulan rinci dalam membahas sebuah tema, sehingga dapat mengarahkan pada pemahaman yang holistik terkait tema tersebut. Kekurangannya adalah pembahasan tema tersebut akan sangat subjektif jika data ayat-ayat, hadis-hadis, dan aqwal (pernyataan-pernyataan) ulama yang dibutuhkan tidak komprehensif.

Contoh kelima adalah Tafsir Al-Qur’an Tematik yang disusun oleh Tim Departemen Agama RI, Wawasan Alquran Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat yang ditulis oleh M. Quraish Shihab, serta Ensiklopedia Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci karya Muhammad Dawam Rahardjo. Contoh ini serupa dengan contoh keempat, namun berbeda dalam penulisnya. Apabila contoh keempat ditulis oleh orang-orang Arab, maka contoh-contoh tafsir ini ditulis oleh orang atau lembaga yang berada di Indonesia.

Baca juga: Tafsir Alquran Bersifat Multivokal, Ini Tiga Alasannya

Selanjutnya, terdapat contoh keenam yaitu Tafsir Al-Tanwir yang disusun oleh Tim Persyarikatan Muhammadiyah. Contoh ini memiliki kesamaan dengan contoh pertama yang menggunakan pola tahlīlī-mawdū’ī. Akan tetapi, perbedaannya terletak pada asal penulisnya, yaitu para mufasir yang berasal dari lembaga Persyarikatan Muhammadiyah di Indonesia.

Demikian berbagai macam contoh tafsir pada era modern. Kami menguraikan sedikit deskripsi dari contoh-contoh di atas. Karya-karya di atas adalah contoh tafsir modern bercorak sosial di luar karya-karya tafsir bercorak ilmī, maẓhabī dan ilhādi yang juga muncul di era modern sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Husein al-Dhahabi. Semoga bisa menambah wawasan dan pengetahuan pembaca terhadap berbagai macam karya tafsir di era ini.

Sejarah Perkembangan Makki-Madani di Masa Awal Islam

0
Perkembangan makki-madani di masa awal Islam
Perkembangan makki-madani di masa awal Islam

Penurunan Alquran secara berangsur-angsur selama lebih dari  22 tahun, memicu timbulnya disiplin ilmu tertentu yang secara khusus menguraikan sesuatu di balik peristiwa panjang tersebut, seperti ilmu asbâb al-nuzûl, makki-madani, nâsikh-mansûkh, dan yang lainnya. Dalam hal ini, ilmu makki dan madani menjadi landasan pengetahuan dalam memahami ilmu lain, seperti ilmu nâsikh-mansûkh. Bahkan, dalam sistematika penulisan kitab al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, al-Suyûthi menempatkan ilmu makki dan madani di awal pembahasan kitabnya.

Di era sekarang, eksistensi makkimadani sebagai salah satu bagian ulûm al-Qur’ân bukannya sepi dari kajian, bahkan semakin ramai. Pemikir-pemikir kontemporer, misalnya Nashr Hamid Abu Zaid dan Theodor Noeldeke untuk menyebut beberapa di antaranya, mengkritik lalu merekonstruksi konsep-konsep makki dan madani dari ulama-ulama klasik sebelumnya.

Kajian makkimadani akan lebih mudah dipahami secara komprehensif jika kita mundur sedikit ke belakang untuk melihat bagaimana sejarah dan posisi makki dan madani di masa awal Islam, masa ketika Rasulullah saw. dan para sahabat hidup.

Baca juga: Sababun Nuzul Mikro dan Makro: Pengertian dan Aplikasinya

Menurut al-Baqilânî (950-1013 M), diskursus mengenai makki dan madani belum ada di era Rasulullah saw. Argumentasi ini terbukti dengan tidak ditemukannya satu riwayat pun yang disandarkan kepada Rasulullah saw. yang berhubungan dengan makki dan madani. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa kemunculan konsep makki dan madani ini tidak beriringan dengan turunnya Alquran.

Apa yang dikatakan oleh al-Baqilânî kemudian direspons oleh al-Zarqanî. Ia menyatakan bahwa ketiadaan riwayat mengenai makki dan madani karena pada saat itu Sahabat ra. sudah merasa cukup dengan apa yang mereka saksikan, baik mengenai waktu ataupun tempat penurunan ayat Alquran. Pada saat itu memang tidak ada pembicaraan tentang makki dan madani di antara kedua belah pihak, baik Sahabat ra. maupun Nabi saw. Para Sahabat tidak merasa perlu menanyakan mengenai hal tersebut karena sudah merasa cukup dengan apa yang merasa saksikan, sedangkan Nabi saw. sendiri pun juga tidak menyampaikannya.

Baca juga: Ketika Al-Quran Menceritakan Proses Nuzulul Quran

Jika konsep makki dan madani tidak ada di zaman Rasulullah saw., lalu sejak kapan timbul istilah, konsep, dan diskursus makki dan madani?

Berdasarkan keterangan dari kitab Thabaqât karya Ibn Sa’d yang dikutip oleh al-Suyûthi, ditemukan sebuah riwayat yang bisa diklaim sebagai permulaan yang berpengaruh kuat terhadap timbulnya terminologi makki dan madani. Riwayat tersebut merupakan dialog antara Ibn Abbâs yang menanyakan kepada Ubay bin Ka’ab mengenai jumlah surah yang turun di Madinah (sa’altu Ubay bin Ka’ab ‘ammâ nazala min al-Qur’ân bi al-Madînah?) Ubay bin Ka’ab kemudian menjawab jumlahnya sebanyak 27 surat, dan sisanya diturunkan di Makkah (nazala bihâ sab’un wa ‘isyrûna suratan, wa sâ’iruhâ bi Makkah).

Menurut pemahaman penulis, barangkali bermula dari situlah timbul bibit-bibit diskursus mengenai makki dan madani. Dialog tersebut memperlihatkan sudah mulai terjadi perkembangan penggunaan istilah Mekkah dan Madinah. Semula dua kata tersebut digunakan hanya untuk menyebut nama dua kota yang menjadi pusat dakwah umat Islam, lalu penggunaannya berkembang untuk menyatakan tempat turunnya suatu ayat.

Bertolak dari itu, makki dan madani kemudian berkembang dari masa ke masa hingga membentuk tiga pendapat  mengenai definisi dan konsepnya:

  1. Berdasarkan tempat penurunan ayat (makân al-nuzûl)

Makki adalah ayat atau surat yang turun di Mekah, sedangkan Madani adalah ayat atau surat yang diturunkan di Madinah. Ayat turun di sekitar kota Mekah, seperti Minâ, ‘Arafah, dan Hudaibiyah, masih termasuk dalam ruang lingkup ayat-ayat Makkiyah. Begitu pun dengan daerah Uhud, Badr, dan Sal’ yang masih termasuk wilayah ayat-ayat Madaniyah karena letak kota-kota tersebut tidak jauh dari Madinah.

Definisi ini masih terbilang problematik sebab masih menyisakan pertanyaan bagi sebagian pihak, bagaimana dengan ayat yang turun di Baitul Maqdis?

Menjawab persoalan itu, sebagian ulama kemudian memunculkan satu kategori baru, yakni ayat yang tidak termasuk dalam kelompok makki dan madani. Bahkan ada juga yang menggenapkannya menjadi empat kategori, yaitu makki, madani, sebagian makki sebagian madani, dan bukan keduanya.

  1. Berdasarkan waktu (zamân al-nuzûl)

Berbeda dengan definisi yang pertama yang menekankan waktu penurunan ayat, definisi ini menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik tolak perbedaan makki dan madani. Ayat atau surat yang diturunkan ketika Rasulullah saw. belum berhijrah dikategorikan sebagai makki. Sebaliknya, ayat yang diturunkan sesudah hijrah dianggap sebagai ayat madani. Pendapat ini dinilai oleh al-Suyûthi dan al-Zarkasyî sebagai pendapat yang paling masyhur. Dalam prioritas penempatannya, al-Suyûthi meletakkan pendapat ini sebagai pendapat yang pertama.

  1. Berdasarkan khitab ayat (khithâb al-nuzûl)

Makki adalah ayat yang ditujukan kepada penduduk Mekah. Jika ditujukan kepada penduduk Madinah, maka dikelompokkan dalam ayat-ayat madani. Definisi ini bertolak dari pemahaman Ibn Mas’ud bahwa khitab yang digunakan untuk masyarakat Mekah adalah yâ ayuuha al-nâs karena mayoritas penduduknya belum beriman. Adapun ayat yang menggunakan redaksi yâ ayuuha alladzîna âmanû merupakan ayat-ayat Madaniyah karena penduduk Madinah sudah banyak yang beriman.

Pendapat ini dikritik oleh sebagian pihak karena redaksi ayat yang menjadi patokan tidak konsisten dengan ayat-ayat Alquran. Tidak sedikit ditemukan ayat yang keluar dari patokan redaksi tersebut seperti QS. Albaqarah [2]: 21 dan 168 yang menggunakan redaksi ya ayuuha al-nâs padahal ayat tersebut merupakan Madaniyah.

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, yang pasti saat ini tidak ditemukan penjelasan secara kronologis terkait kemunculan ketiga pendapat di atas. Namun, melihat dari pertanyaan dan jawaban dari dialog Ibn ‘Abbâs dan Ubay bin Ka’ab yang mengarah kepada tempat, maka tak menutup kemungkinan bahwa dari situ juga timbul definisi Makki dan Madani berdasarkan tempat. Sehingga bisa dikatakan bahwa pendapat yang pertama kali timbul adalah makki dan madani berdasarkan tempat turunnya ayat (makân al-nuzûl).

Dialek Alquran Kedaerahan dalam Perspektif Linguistik

0
Dialek Alquran Kedaerahan dalam Perspektif Linguistik
Dialek Alquran Kedaerahan dalam Perspektif Linguistik.

Pak Ahmad Fathoni dalam bukunya, Metode Maisura, menulis satu bab yang menarik berjudul Pengaruh Dialek Ke-Daerahan di dalam Pengucapan Huruf Hijaiyyah. Dalam bab tersebut, Pak Fathoni memberikan hasil analisisnya terhadap pengucapan huruf hijaiah menggunakan lahjah atau dialek kedaerahan yang dinilainya kurang tepat.

Analisis dilakukan dengan membandingkan shifat (sifat) dan makhraj (tempat keluar) huruf antara dialek kedaerahan dengan teori pengucapan yang seharusnya. Turut disertakan pula di dalamnya contoh dialek beberapa daerah yang berpotensi mengalami kesalahan pengucapan, seperti huruf zay (ز) yang diucapkan dengan j (ج) pada kata zakat (jakat) dan huruf cha’ (ح) yang diucapkan dengan h (هـ) atau k (ك) dalam kata alchamdulillah.

Baca juga: Menelisik Pengertian, Sejarah dan Macam-Macam Qira’at

Meski demikian, hasil analisis yang diberikan Pak Fathoni agaknya belum menyertakan penjelasan tentang sebab yang mendasari munculnya “kesalahan” dialek kedaerahan tersebut. Padahal mengetahui penyebab masalah tersebut cukup penting untuk mengetahui pangkal masalah yang ada. Penulis sendiri melihat adanya kemungkinan mengetahui penyebab masalah tersebut dengan menggunakan pendekatan dan perspektif linguistik atau kebahasaan.

Kemungkinan ini penulis dasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, kajian mengenai dialek secara umum merupakan bagian dari kajian linguistik. Dialek yang didefinisikan sebagai variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai, sesuai dengan penjelasan Mahmud Fahmiy Hijaziy dalam Al-Lughah al-‘Arabiyyah ‘Abr al-Qurun. Beliau mengartikan bahasa sebagai sekumpulan sistem suara yang digunakan dalam kelompok penutur tertentu.

Baca juga: Metode Pembelajaran Alquran pada Zaman Rasulullah

Kedua, Alquran, bagaimana pun kesuciannya di mata seorang muslim, merupakan kitab yang diturunkan menggunakan bahasa Arab sebagai medianya. Ini berarti bahwa kajian terhadap Alquran mau tidak mau juga dilakukan dengan turut menyertakan pendekatan linguistik di dalamnya. Ketiga, bahkan dalam ilmu Alquran sekali pun pendekatan linguistik ini digunakan manakala membicarakan konsep sab‘ah ahruf (tujuh huruf).

Berdasarkan pada asumsi inilah penulis melakukan analisis terhadap masalah dialek kedaerahan dalam kekeliruan pengucapan huruf hijaiah. Hasilnya, didapati adanya perbedaan bahasa asal yang digunakan oleh penutur bahasa. Dalam konteks masalah dialek ini adalah bahasa Arab dan bahasa-bahasa dalam dialek kedaerahan.

Pengaruh dialek bahasa Jawa terhadap bacaan Alquran

Perbedaan dua bahasa ini dapat dilihat setidaknya dari huruf-huruf yang digunakan oleh keduanya. Bahasa Arab memiliki setidaknya 28 huruf, merujuk pada salah satu pendapat. Jumlah tersebut berbeda dengan huruf-huruf dalam bahasa Jawa, misalnya, yang hanya memiliki 20 huruf dasar (bahasa aksara hanacaraka atau carakan). Pemilihan bahasa Jawa sebagai contoh dikarenakan ia merupakan bahasa penulis sehingga dianggap dapat memberikan hasil analisis yang lebih mendalam.

Perbedaan jumlah huruf tersebut pada praktiknya memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam proses pengucapan. Dalam bahasa Jawa, sebagaimana disebutkan sebelumnya, tidak dijumpai misalnya huruf tsa’ (ث), cha’ (ح), dzal (ذ), zay (ز), shad (ص), dladl (ض), ‘ain (ع), dan qaf (ق), sehingga ketika penutur bahasa Jawa mengucapkan huruf-huruf tersebut akan mengalami kesulitan dan tak jarang melakukan kesalahan karena tidak mendapati hal yang sama dalam bahasa tuturnya.

Baca juga: Dialektika Alquran dan Budaya dalam Kerangka Pikir Ingrid Mattson

Pola perilaku yang kemudian lazim dijumpai oleh masyarakat penutur ini adalah asosiasi bunyi atau suara. Huruf yang tidak dijumpai dalam bahasa tuturnya akan diucapkan mengikuti tautan bunyi atau suara yang terekam dalam ingatan mereka. Dalam hal ini, isi tautan ingatan tersebut adalah bahasa Jawa sebagai bahasa tutur asli.

Contoh dari perilaku ini, sebagaimana juga telah disebutkan Pak Fathoni, adalah bacaan huruf ‘ain (ع) yang diucapkan dengan suara ngain. Pengucapan ini pernah penulis jumpai sendiri di wilayah Rawa Pening dan Wonosobo, di mana nga menjadi huruf yang cukup sering digunakan dalam lalu lintas bahasa tutur kedua wilayah tersebut.

Oleh karenanya, dengan mengetahui penyebab dari masalah kesenjangan dialek yang ada, proses pembelajaran qiraah Alquran atau secara spesifik pada aspek sifat dan tempat keluar huruf dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan dan perspektif linguistik dengan cara menginventarisasi sifat dan tempat keluar huruf mana yang tidak dijumpai dalam bahasa tutur, untuk kemudian melakukan riyadlah al-lisan (olahraga lidah) sehingga sesuai dengan pengucapan yang benar. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Tafsir Surah Alnur [24]: 35; Cahaya Sebagai Esensi Ilahi (Bagian 1)

0
Tafsir Surah Alnur [24]: 35; Cahaya Sebagai Esensi Ilahi
Tafsir Surah Alnur [24]: 35; Allah Adalah “Cahaya di Atas Cahaya”

Dalam penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan dunia, baik barat maupun timur, telah terjadi perdebatan tentang hal ihwal alam semesta. Pertanyaan bagaimana asal muasal dunia ini ada? Apakah bumi mengorbit pada matahari atau sebaliknya? Dan seterusnya. Perdebatan itu kemudian sampai pada pembahasan tentang asal mula “cahaya”, bagaimana hakikat cahaya itu. Dan pada ratusan tahun setelahnya, di masa kejayaan Islam, muncullah ilmuwan besar Islam bernama al-Ghazali.

Dalam bukunya, Misykat al-Anwar, al-Ghazali membahas secara detail mengenai cahaya, tingkatan-tingkatannya, dan sebagainya. Hakikatnya sebenarnya bertumpu pada yang Haq, yakni Allah Swt. Dia adalah hakikat cahaya. Dari pada itu, Alquran juga membahas tentang “nur. Maka dalam artikel ini, dipaparkan beberapa pendapat mufasir terkait penafsiran surah Alnur [24]: 35.

Baca Juga: Tafsir Surah An-Nur Ayat 35 (1)

Ayat

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Pendapat Mufasir

 اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ

Secara bacaan atau qira’at, menurut para ulama, kata “نُورُ” dengan “نَوَّرَ” menggunakan tasydid. Dalam kaidah nahwu, kata itu berbentuk  fi’il madhi yang bermakna lampau (telah terjadi). Jadi, Allah menciptakan cahaya seperti pada matahari, bulan, bintang dan lainnya sebagai penerang semesta. Sebagaimana juga cahaya dalam konteksnya adalah petunjuk Allah kepada jalan yang lurus (shirat al-mustaqim) dengan Alquran, Rasul dan agama-Nya. (Abdul Qadir, Tafsir Ayat al-Ahkam, 271)

Baca Juga: Tafsir Surah An-Nur Ayat 35 (2)

Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, yang dikenal dengan Imam Jalalain, menafsirkan beberapa kata penting dalam ayat tersebut. Pertama, dijelaskan bahwa kata “nur” itu adalah perwujudan dari matahari dan bulan sebagai penerang bagi langit dan bumi; pada siang dan malam hari. Kedua, dikatakan juga bahwa “nur” itu adalah penyifatan dari Allah, Zat yang mempunyai cahaya itu sendiri. Namun, sifat kecahayaan Allah diumpamakan kepada yang riil, yang tampak oleh mata. (Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain al-Muyassar, 354)

Langit dan bumi adalah bukti kekuasaan-Nya yang nyata, seperti yang tampak pada surah Albaqarah [2]: 257 yang artinya “Allah adalah Tuhan bagi mereka yang iman, Ia keluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang”. Sebagai cahaya itu sendiri, Allah akan menerangi siapa yang iman dan bertakwa. Mereka akan dilindungi dari sesatnya kegelapan (al-bathil) menuju kebenaran yang terang (al-haq).

“Nur” Juga Bermakna Cahaya Hidayah

Lalu, mengapa kata “nur” dinisbatkan pada langit dan bumi? Setidaknya az-Zamakhsyari menyebutkan ada dua alasan: Pertama, karena keduanya adalah simbol kemulyaan dan keagungan. Kedua, karena penduduknya (objek cahaya) mendapat sinar dari cahaya itu, ini seperti yang ada dalam keterangan Tafsir al-Kasysyaf. (az-Zamakhsyari, Tafsir al-Kasysyaf, 731)

Hal itu juga sependapat dengan al-Maraghi dalam tafsirnya, namun lebih lanjut beliau menambahkan bahwa cahaya atau hidayah (petunjuk) itu berupa tanda-tanda yang ditampakkan dalam semesta alam dan Alquran yang diturunkan kepada utusan-Nya, yakni Nabi Muhammad Saw. (Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, 107)

Baca Juga: Wujud Peran Cahaya Allah dalam Penafsiran Surah An-Nur Ayat 35

Secara sederhana, cahaya bisa diartikan sebagai makna sebenarnya atau sebagai hidayah Allah Ta’ala. Keduanya sama-sama benar jika merujuk pada matahari, misalnya. Setiap detik, matahari tiada henti untuk mengalirkan manfaatnya kepada bumi. Dan Allah menciptakannya memang untuk kemaslahatan makhluk ciptaannya; manusia, hewan, tumbuhan dll. Maka untuk mensyukuri segala nikmat yang diperoleh dari matahari, seharusnya semakin meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Ta’ala, sebagai Zat yang mencipta.

Wallahu a’lam.

Preposisi Ba’ dalam Ayat-Ayat tentang Penghuni Surga

0
makna preposisi ba' dalam ayat tentang penghuni surga
makna preposisi ba' dalam ayat tentang penghuni surga

Salah satu mukjizat Alquran yaitu keindahan bahasa dan sastranya. Selain itu, Alquran, dari segala sisinya sarat dengan kandungan ilmu yang tidak akan habis dibahas. Jangankan surah, ayat, bahkan pada satu huruf saja sering kali bisa melahirkan kajian dan ilmu yang luas dan mendalam.

Dalam ayat-ayat tentang penghuni surga, preposisi ba’ menjadi sorotan dan objek kajian para ulama. Ayat-ayat tersebut antara lain terdapat dalam surah an-Nahl ayat 32:

الَّذِيْنَ تَتَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ طَيِّبِيْنَ ۙيَقُوْلُوْنَ سَلٰمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.”

Juga terdapat dalam surah az-Zukhruf ayat 72:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِيْٓ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan.”

Serta masih banyak ayat-ayat yang setema, yang oleh ditemukan bahwa preposisi ba’ dalam lafaz bima kuntum ta’malun memiliki rahasia dan makna yang mendalam.

Baca Juga: Cara Agar Berkumpul Bersama Keluarga di Surga

Makna Ba’ dalam Ayat

Berdasarkan hasil kajian para ulama, ayat-ayat Alquran yang menunjukkan perkataan Allah kepada penghuni surga dengan penghuni neraka tidak sama. Ini terlihat dari ada dan tidak adanya preposisi ba’ dalam ayat.

Kepada penghuni surga, Allah menggunakan preposisi ba’ dalam ayat-ayat tentang penghuni surga sebagaimana contoh ayat yang telah disebutkan sebelumnya. Di antara ulama yang membahas hal ini adalah Ibnu ‘Asyur. Beliau berkomentar tentang surah ath-Thalaq ayat 16, ayat Alquran tentang perkataan Allah kepada penghuni neraka,

اِصْلَوْهَا فَاصْبِرُوْٓا اَوْ لَا تَصْبِرُوْاۚ سَوَاۤءٌ عَلَيْكُمْۗ اِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Masuklah ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.”

Lafaz ma pada ayat di atas tidak dibarengi dengan preposisi ba’. Hal ini menunjukan bahwa balasan di neraka setimpal dengan perbuatan kejahatan seseorang. Berbeda dengan ayat setelahnya yang terdapat dalam surah ath-Thalaq ayat 19 yang membahas perkataan Allah kepada penghuni surga,

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤـًٔا ۢبِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۙ

“(Dikatakan kepada mereka), makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.”

Bahwa penggunaan huruf ba’ dalam kalimat bima kuntum ta’malun menunjukan bahwa amalan seseorang di dunia tidak akan sebanding dengan balasan surga yang Allah berikan. Oleh karena itulah, menurut Ibnu ‘Asyur, tidak digunakannya preposisi ba’ dalam surah ath-Thalaq ayat 16 menunjukan bahwa balasan di neraka disesuaikan dengan kadar perbuatan zalim seseorang di dunia. Artinya, Allah tidak menambah siksanNya, berbeda dengan balasan Allah kepada penghuni surga.

Inilah di antara bukti bahwa masuk surga itu adalah karunia dan rahmat Allah. Tentang surga yang tidak sebanding dengan amal perbuatan manusia, misalnya terdapat hadis Rasulullah saw berikut, “dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim). Pengerjaan salat dua rakaat yang dalam hitungan menit lalu mendapat ganjaran yang lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Jelaslah di sini bahwa ganjaran surga tidak ada bandingannya dengan amalan seseorang. Berbeda dengan balasan penghuni neraka yang disesuaikan dengan perbuatannya, tidak ada tambahan.

Baca Juga: Bidadari Surga dan Esensi Ganjaran Ukhrawi

Perbandingan Preposisi Ba’ dalam Ayat dan Hadis tentang Masuk Surga

Tentang masuk surga dengan rahmat dan karunia Allah, terdapat dalam sebuah hadis yang banyak pula dikaji para ulama. Ada banyak redaksi hadis yang menyinggung pembahasan ini. Diantaranya terdapat sebuah hadis dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:

قَارِبُوا وسَدِّدُوا، واعلَمُوا أَنَّه لَن يَنجُو أَحَد مِنكُم بِعَمَلِهِ» قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: «ولاَ أَنَا إِلاَّ أَن يَتَغَمَدَنِي الله بِرَحمَة مِنْه وَفَضل

“Biasakanlah kalian dalam mendekatkan diri kepada Allah dan berpegang teguhlah kepada keyakinan kalian. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian yang selamat karena amalnya.” Mereka bertanya: “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan rahmat dan karunia padaku.” (HR. muslim no. 5041).

Hadis di atas hendaknya tidak dimaknai tekstual, yang seakan-akan amalan tidak memiliki nilai apa-apa. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyimpulkan tiga penafsiran mengenai hadis di atas: diperolehnya petunjuk untuk melakukan hal yang baik menunjukan bentuk dari rahmat Allah; seseorang yang sudah taat, berhak mendapatkan rahmat Allah; dan sebab masuk surga adalah murni karena rahmat Allah, sedangkan amal perbuatan manusia untuk menentukan kadar tingkatan surga.

Banyak para ulama yang mengkompromikan hadis di atas dengan ayat-ayat masuk surga (khususnya yang terdapat kalimat bima kuntum ta’malun) dengan mengkaji makna huruf ba’. Dalam kalimat bima kuntum ta’malun, ba’ yang digunakan adalah ba’ as-sabab, sedangkan ba’ dalam hadis la yadkhulu al jannata ahadun bi’amalihi, ba’ yang digunakan adalah ba’ al-‘iwadh. (Majmu’ al-Fatawa, 1/217).

Yang dimaksud ba’ as-sabab bermakna sebab, bahwa Allah memasukan seseorang ke dalam surga disebabkan amalnya. Sedangkan yang dimaksud ba’ al-‘iwadh bermakna balasan, bahwa seseorang tidak akan masuk surga dengan amal, maksudnya amal tidak bisa membayar surga. Surga Allah terlalu sempurna, misalnya sepert balasan dua rakaat fajar.

Kesimpulannya, penggunaan preposisi ba’ dalam ayat-ayat masuk surga menunjukan bahwa balasan amal saleh tidaklah cukup sebagai nilai tukar untuk membayar surga. Artinya, surga tidaklah sebanding dengan amalan saking terlalu sempurnanya balasan surga. Berbeda dengan ayat-ayat penghuni neraka yang tidak menggunakan preposisi ba’ dalam ayat yang menunjukan balasannya setimpal, tidak ada tambahan sebagaimana balasan surga, balasan di neraka lebih kepada prinsip adil dan setakar.

Selain itu, preposisi ba’ dalam ayat masuk surga juga dibandingkan dengan preposisi ba’ dalam hadis tentang masuk surga dengan rahmat Allah. Preposisi ba’ dalam ayat-ayat masuk surga menunjukan ba’ as-sabab, sedangkan dalam hadis menunjukan ba’ al-‘iwadh. Keduanya tidak bertentangan dan bisa dikompromikan, bahwa masuk surga adalah disebabkan rahmat Allah, dan sebab paling banyak untuk meraih rahmat Allah adalah amal saleh. Besar kecilnya rahmat Allah tergantung kualitas dan kuantitas amal saleh seseorang.

Wallah a’lam

Cara Melejitkan Kualitas Puasa: Tafsir Surah Ali Imran Ayat 200

0
sabar sebagai cara melejitkan kualitas puasa
sabar sebagai cara melejitkan kualitas puasa

Ibadah puasa pada intinya adalah perbuatan menahan diri dari melakukan sesuatu yang merusak. Seorang yang berpuasa dididik untuk mengendalikan diri secara fisik, moral dan spiritual. Secara fisik, seseorang dikondisikan untuk tidak makan, minum, dan berhubungan intim. Secara moral, seseorang dicegah untuk tidak mengganggu, menghina, dan menyalahkan orang lain. Sementara secara spiritual, jiwa seseorang ditempa untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah.

Seseorang yang berpuasa melakukan dua hal dalam waktu bersamaan. Di satu sisi menahan untuk melakukan perbuatan yang destruktif, di sisi lain meneguhkan amalan yang konstruktif. Ibadah puasa yang dipraktikkan secara lengkap dan tepat akan membawa pelakunya menjadi orang yang bertakwa.

Untuk melejitkan kualitas puasa di bulan Ramadan, surah Ali Imran ayat 200 berisi informasi tentang cara mencapai hal tersebut.

Surah Ali Imran Ayat 200

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Sekilas, ayat ini mengandung seruan kepada orang beriman untuk mengamalkan empat hal: iṣbirū, ṣābirū, rābiṭū dan ittaqū agar tufliḥūn. Lalu, apa relasi antara kandungan ayat ini dengan ibadah puasa?

Baca Juga: Empat Aspek Penting dalam Tadabur Ayat tentang Puasa Ramadan

Puasa dan Kesabaran

Jika puasa (ṣaum) bermakna menahan (al-imsāk), maka makna sabar (ṣabr) yang tersusun dari shad, ba’ dan ra’ berkisar pada tiga hal: menahan, ketinggian sesuatu dan sejenis batu. Quraish Shihab menjelaskan dari makna pertama lahir makna bertahan/konsisten, dari makna kedua lahir kata ṣubr yang berarti puncak sesuatu, dan dari makna ketiga muncul kata ṣubrah yang berarti batu yang kukuh lagi kasar, atau potongan besi. (Al-Misbah, Jil. 2, h. 322)

Seseorang yang bersabar berarti dia berhasil menahan dirinya dengan bantuan kekukuhan jiwa dan mental baja untuk mencapai ketinggian yang diharapkan. Pun demikian dengan seseorang yang berpuasa, dia akan menahan dirinya atas sesuatu yang merusak agar mendapat ketakwaan.

Relasi yang saling terpaut antara puasa dan sabar terlihat jelas. Keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mereka yang berpuasa menjalankan sebagian bentuk sabar dan mereka yang bersabar mengamalkan sebagian bentuk puasa. Seseorang yang berpuasa sekaligus bersabar tidak hanya melakukan aktivitas menahan, tetapi dia menjadikan jiwanya kukuh untuk menggapai ketinggian takwa.

Baca Juga: Surah Albaqarah Ayat 186: Anjuran Berdoa Ketika Puasa Ramadan

Tiga Ragam Sabar

Puasa yang dibarengi sabar memiliki kualitas yang melejit. Apalagi kesabaran yang dilakukan mencakup 3 ragam sebagaimana dalam QS. Ali Imran [3]: 200. Makārim Asy-Syīrāzī menjelaskan, kesabaran yang pertama (ṣabr) adalah perintah untuk mengendalikan diri sebagai sumber dari kebahagiaan maknawi individu dan masyarakat. Perintah kedua dilanjutkan dengan menguatkan kesabaran (ṣābara); bersabar menghadapi kesabaran orang lain (bab mufā’alah). Kesabaran pertama dilakukan dengan melakukan jihad pengendalian diri dan diikuti dengan menahan kesabaran atas orang lain. (Al-Amṡal, Jil. 3, h. 67)

Berpuasa dengan mengamalkan dua bentuk kesabaran di atas akan menghadirkan bentuk akhlak baik ke dalam diri sendiri dan ke luar kepada orang lain. Menjaga hubungan baik dengan masyarakat dibutuhkan ibadah puasa yang dibarengi (ṣabr) dan (ṣābara). Hasilnya, umat yang berpuasa akan mengendalikan diri dan menjaga relasi dengan sesamanya, baik yang sama-sama berpuasa maupun yang tidak.

Adapun bentuk sabar yang ketiga (rabṭ/ribāṭ) adalah bersabar dalam membela negara. Mutawallī Asy-Sya’rawī menjelaskan kesabaran jenis ini berkaitan dengan kesadaran dan persiapan siaga atas musuh yang akan menyerang. Bentuk persiapan membela negara bisa dengan kekuatan fisik, pemikiran dan situasi sosio-politik yang aman dan damai. (Asy-Sya’rawī, h. 1976)

Umat Muslim yang berpuasa dan menjalakan bentuk sabar yang ketiga dapat melejitkan kualitas puasa dengan menjaga sosio-politik negara. Kerukunan umat beragama yang hadir dengan kedamaian, saling menghargai dan menghormati antarumat di Indonesia dapat dilakukan umat Muslim yang berpuasa dan bersabar. Dengan demikian, satu cara melejitkan puasa ke tingkat yang tinggi adalah dengan mengamalkan tiga level sabar.

Puasa dan Ketakwaan

Surah Ali Imran ayat 200 diakhiri dengan perintah bertakwa. Jika berpuasa diperintahkan untuk meraih ketakwaan, maka di ayat ini perintah sabar dan takwa dihadirkan untuk meraih keberuntungan (falāḥ). Berpuasa yang dibarengi dengan mengamalkan ragam bentuk sabar dapat mendongkrak seseorang meraih ketakwaan dalam tingkat yang tinggi.

Berpuasa perlu dibarengi dengan kesabaran. Kesabaran yang lengkap akan melahirkan pribadi yang menjaga jiwanya, menjaga jiwa-jiwa orang lain disekitarnya, bahkan menjaga kondisi masyarakat dan negara.

Dengan demikian, berpuasa, bersabar dan bertakwa adalah tiga amalan penting yang saling terkait dan fundamental bagi orang-orang beriman. Semoga, perenungan atas pesan ayat ini dapat melejitkan kualitas berpuasa dengan penuh kesabaran yang sempurna.

Tafsir Albaqarah [2]: 269; Terminologi Hikmah dan Cara Meraihnya

0
Terminologi Hikmah dan Cara Meraihnya
Terminologi Hikmah dan Cara Meraihnya

Hikmah adalah pemberian dan anugerah dari Allah Swt. kepada seorang hamba dan kekasih yang Dia kehendaki. Keistimewaan seorang hamba yang mendapat anugerah hikmah, yaitu memiliki kepribadian yang lemah lembut, halus, murah hati serta memiliki sifat solutif yang mampu mengatasi problematika masyarakat.

Selain itu, orang yang mendapat hikmah, berarti ia keluar dari kejahilan menuju cahaya hidayah, muncul sikap bijak, perkataan yang baik, perbuatannya menuju kebenaran, pandangannya cemerlang, kehati-hatian dalam segala hal dan menempatkan segala perkara pada tempatnya.

Hikmah tidak datang begitu saja. Hikmah harus dicari melalui metode kenabian. Seorang hamba harus melewati step by step untuk menuju puncak hikmah, jalan terjang juga harus dilewati untuk menggapai hidayah. Dikatakan bahwa hikmah merupakan pemberian yang “khairan katsira” oleh para ulama diartikan sebaik-baik pemberian bahkan lebih baik dari pada dunia seisinya.

Baca Juga: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 269-270

Terminologi Hikmah

Secara etimologi, hikmah diartikan oleh jumhur ulama sebagai “kebijaksanaan”. Kata itu merujuk pada surah Alnahl [16]: 125 yang menyampaikan metode dakwa secara bijaksana. Namun dalam konteks lain, hikmah juga memiliki arti yang berbeda. Hikmah bisa diartikan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana dalam surah Albaqarah [2]: 269 dan Luqman [31]: 12. Selain itu, hikmah juga bisa bermakna kenabian, ilmu Alquran, kebenaran, sifat wara’ menempatkan sesuatu pada tempatnya dan lain sebagainya. (Said al-Qahthani, Al-Hikmah fi al-Da’wah ila Allah, 26-31).

Adapun secara istilah, hikmah yaitu mengetahui sesuatu yang paling utama dengan ilmu yang terbaik. Sedangkan orang yang teliti, terampil dalam pekerjaannya adalah orang yang bijak atau hakim. (Muhammad ibn Ya’kub, Al-Qamus Al-Muhith, Juz 1, 93).

Sedangkan menurut beberapa mufasir, di antaranya yakni Ibnu Katsir mengatakan hikmah adalah ilmu nafi’ (bermanfaat) yang membawa pemiliknya untuk beramal. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, 696).

Sedangkan Ibnu Jarir At-Thabari mendefinikan hikmah sebagai mengetahui Alquran (ulumul quran), yaitu mengetahui tentang nasikh-mansukh, ayat hukum, sosial dan lain sebagainya. Ibnu Qayyim dalam tafsirnya sependapat dengannya, bahwa hikmah adalah sesuatu yang datang dari Rasulullah Saw. yakni Alquran.

Tafsir Surah Albaqarah [2]: 269

Salah satu ayat yang menyinggung masalah hikmah secara spesifik tercantum dalam Albaqarah [2]: 269 sebagai berikut:

يُؤۡتِى الۡحِكۡمَةَ مَنۡ يَّشَآءُ‌‌ ۚ وَمَنۡ يُّؤۡتَ الۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ اُوۡتِىَ خَيۡرًا كَثِيۡرًا‌ ؕ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ

Dia memberikan hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Barang siapa yang diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.

Dalam Tafsir At-Thabari, Abu Ja’far berkata, “Maksud dari ayat tersebut adalah Allah menghendaki memberi bidikan berupa pelajaran dalam ucapan maupun perbuatan atas orang yang Dia kehendaki. Barang siapa yang diberi pelajaran dengan hal tersebut maka ia benar-benar diberi kebaikan yang lebih banyak”. (Tafsir At-Thabari, Juz 4, 711).

Baca Juga: Makna Kata Hidayah dalam Al-Quran dan Macamnya Menurut Al-Maraghi

Ketika Allah memberi bidikan, maka ilmu yang bermanfaat akan menyertai hamba tersebut. Hal itu senada dengan pendapat Jalaluddin al-Mahali. Perihal pemberian kebaikan yang banyak, Jalaluddin mengatakan, “Ganjaran bagi pemilik hikmah adalah kebahagiaan yang abadi”. (Tafsir Jalalain, 60).

Sekarang yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara memperoleh hikmah? Apakah hikmah datang dengan sendirinya?

Di dunia ini berlaku hukum kausalitas, artinya tidak ada sesuatu yang datang tanpa adanya sebab. Oleh karena itu, para ulama memberikan tips untuk menggapai hikmah sebagai bentuk ikhtiar seorang hamba.

Cara Meraih Hikmah

Secara garis besar, orang yang mendapat hikmah memiliki ilmu yang bermanfaat, sikap yang arif dan murah hati. Ketiga hal tersebut merupakan rukun yang dijadikan dasar hikmah (Said al-Qahthani, al-Hikmah fi al-Da’wah ila Allah, 43).

Kemudian, disusul oleh sikap lemah lembut, ikhlas, takwa, sabar, berkepribadian baik, mengamalkan ilmu, istikamah, berpengalaman, melawan nafsu setan, konsentrasi tinggi, adil, doa, musyawarah, pintar dan ahli dalam berdakwa kepada Allah.

Said al-Qahthani dalam beberapa literatur termasuk bukunya yang berjudul Menjadi Dai yang Sukses (hal. 63), memberikan resep agar seorang hamba mendapat hikmah dari Allah Swt. Menurutnya, seorang hamba harus melewati step by step untuk mencapai keutamaan yang sangat luar biasa ini.

Pertama, berkepribadian baik.

Seseorang harus memiliki keinginan untuk selalu merubah dirinya menjadi lebih baik di setiap harinya. Ada dua hal yang harus di perbaiki seseorang demi melangkah untuk mendapat hikmah, yakni harus memperbaiki as-suluk (tingkah laku yang memang direncanakan dengan kesadaran seperti berkata jujur, bohong, bakhil dan lain sebagainya), dan memperbaiki al-khuluq (kondisi jiwa yang memunculkan amal perbuatan baik maupun buruk secara refleks).

Kedua, mengamalkan ilmu dengan kejujuran dan keikhlasan

Sudah barang tentu seorang yang bijaksana memiliki ilmu yang bermanfaat. Kemanfaatan ilmu itu menjadi dasar perilaku kesehariannya. Pertama yang harus ditekankan adalah sifat kejujuran dalam segala hal. Kemudian ditopang dengan hati yang ikhlas dalam mengamalkan ilmunya.

Ketiga, istikamah

yakni konsisten dalam mengerjakan kebajikan dan mengamalkan ilmu menjadi tolok ukur dalam mendapatkan hikmah. Memang benar, seorang hamba tidak luput dari kesalahan dan dosa, namun ketika melakukan salah, ia ingat dan segera bertaubat dan mengerjakan kebajikan lagi.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Qashash Ayat 56: Memahami Hikmah, Ragam dan Proses Hidayah

Keempat, pengalaman

Menurut Said al-Qahthani, pengalaman memiliki pengaruh yang sangat besar dalam rangka meraih kemahiran yang profesional. Pengalaman dalam ilmu pengetahuan merupakan uji coba yang sistematis terhadap fenomena riil, yang dimaksudkan untuk menganalisis sesuatu secara mendetail dengan tujuan menyingkap sebuah hasil atau mewujudkan tujuan tertentu atau untuk memperbaiki sesuatu.

Maka orang bijak adalah orang berpengalaman dalam segala sesuatu. Setidaknya ia paham lewat pengalamannya tersebut, sehingga ia berhati-hati dalam melakukan sesuatu dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Demikianlah tips dari Said al-Qahthani sebagai ikhtiar seorang hamba agar mendapat hikmah. Meskipun tidak menutup kemungkinan seorang akan langsung mendapat hikmah lewat pemberian nasehat oleh seorang kiai misalnya, kemudian hatinya tergerak untuk menjadi pribadi yang lebih bijak.

Cara tersebut akan gampang masuk pada seseorang yang mudah menerima kebenaran dan mengakuinya. Sebaliknya, akan susah pada orang yang dikuasai hawa nafsu yang bisa menghalanginya dari kebenaran.

Wallahu a’lam.

Polemik Doa setelah Surah Alfatihah dalam Salat

0
Polemik Doa setelah Surah Alfatihah dalam Salat
Surah Alfatihah

Kecenderungan minat masyarakat muslim saat ini terhadap kajian berbasis hadis semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari berbagai isu yang sering kali dikaitkan dengan hadis. Tujuan yang ingin diperoleh tak lain adalah mendapatkan legitimasi valid yang berasal dari sumber utama, yakni Nabi Muhammad saw.

Buntut dari fenomena ini adalah adanya peminggiran terhadap sumber legitimasi lain, yang mungkin sebelumnya menjadi rujukan utama, fikih misalnya. Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia “dibesarkan” oleh dua tradisi besar, fikih dan tasawuf. Hadis, justru memiliki prosentase paling kecil dalam kontribusinya “membesarkan” Indonesia.

Dalam frame ini, penulis mendapati satu isu menarik berkaitan dengan praktik pembacaan doa yang dilakukan setelah membaca surah Alfatihah dan sebelum melafalkan amin. Doa tersebut memiliki redaksi rabbighfirli. Sebagian muslim ada yang menambahkan dengan wa li walidayya dan atau wa li al-muslimin wa al-muslimat, yang pada prinsipnya merupakan tambahan objek permintaan ampunan (maghfirah).

Baca juga: Serba-serbi Seputar Surah Alfatihah

Praktik yang penulis jumpai cukup menarik karena dilakukan oleh seorang imam salat jahr (dengan bacaan keras) secara jahr pula. Praktik ini penulis jumpai di wilayah Kalibawang, Kabupaten Wonosobo. Belakangan, praktik ini mendapatkan “gugatan” dari beberapa kalangan terkait keabsahan dan landasan yang digunakan.

Bagi beberapa muslim, doa tersebut cukup familier dibaca di luar salat (qira’ah kharij al-shalah), baik dalam bacaan individual maupun acara seremonial. Selain itu juga pada ibadah salat sendirian (munfarid) atau salat lain yang dilakukan secara sirr (pelan). Membaca doa tersebut ketika salat secara jahr mungkin cukup menimbulkan polemik.

Dalam perspektif fikih, penjelasan atas praktik tersebut agaknya cukup jelas sebagaimana disebutkan oleh Syekh Al-Bajuriy dalam kitabnya, Hasyiyah al-Bajuriy,

 (عقب الفاتحة) اى أو بدلها إن تضمن دعاء على المعتمد، والتقييد بالعقيبة يفيد أنه يفوت بالتلفظ بغيره وإن قل ولو سهوا. نعم، يستثنى رب اغفر لي ونحوه لوروده عن النبي صلى الله عليه وسلم.

“(Mengiringi surah Alfatihah) yakni atau penggantinya manakala memuat unsur doa menurut pendapat yang mu‘tamad. Batasan “mengiringi” memberi faedah bahwa kesunahan membaca amin menjadi terlewat jika berucap dengan yang lain kendati sedikit dan lupa. Akan tetapi, dikecualikan darinya mengucapkan doa rabbighfirli dan sejenisnya karena ada riwayat yang warid dari Nabi saw.”

Baca juga: Bacaan Amin dan Keutamaan Membacanya setelah Surah Alfatihah

Dalam naskah yang penulis gunakan, riwayat yang digunakan Syekh Al-Bajuriy tersebut merujuk pada Al-Sunan al-Kubra milik Imam Al-Baihaqiy, tepatnya pada riwayat nomor 2450 yang berbunyi,

وأخبرنا أبو الحسين بن بشران، أنبأ أبو جعفر الرزاز، ثنا أحمد بن عبد الجبار العطاردي، ثنا أبي، عن أبي بكر النهشلي، عن أبي إسحاق، عن أبي عبد الله اليحصبي، عن وائل بن حجر، أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم حين قال: غير المغضوب عليهم ولا الضالين قال: رب اغفر لي آمين.

“Telah menceritakan kepada kami Abu al-Husain bin Bisyran, Abu Ja‘far al-Razzaz bercerita, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin “Abd al-Jabbar al-‘Atharidiy, ayahku telah menceritakan kepadaku dari Abu Bakr al-Nahsyiliy, dari Abu Ishaq, dari Abu “Abdullah al-Yahshubiy, dari Wa’il bin Hujr, ia mendengar dari Rasulullah ketika membaca ayat ke-7 dari surah Alfatihah, beliau berdoa: rabbighfirli amin.” (H.R. Muslim)

Upaya pencarian sederhana yang penulis lakukan melalui aplikasi hadis Al-Mausu‘ah al-Haditsiyyah mendapati bahwa isnad dari riwayat tersebut adalah tidak sahih (isnaduh la yashih). Hal ini dikarenakan keberadaan Abu Bakr al-Nahsyiliy (?) yang dianggap lemah (dla‘if). Namun demikian, Sayyid Abu Bakr Syatha dalam Hasyiyah I‘anah al-Thalibin dan Syekh Syihab al-Din al-Qulyubiy dalam Hasyiyah al-Qulyubiy menyebutkan bahwa riwayat tersebut adalah hasan. Pendapat tersebut bahkan dinukil pula dari Imam Ibn Hajar.

Baca juga: Mengenal Bey Arifin dan Tafsir Samudera Al-Fatihah

Kalau pun riwayat Imam Al-Baihaqiy tersebut benar lemah adanya, melakukan doa tersebut tetap diperbolehkan berdasar pada kebolehan melakukan fadla’il al-a‘mal dari riwayat dla‘if yang memiliki cantolan riwayat yang kuat. Dan dalam konteks ini riwayat tersebut adalah riwayat masyhur mengenai surah Alfatihah, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:  الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي، وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ:  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ.

“Allah berfirman, “Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapatkan sesuatu yang dia minta. Apabila seorang hamba membaca (surah Alfatihah [1]:1), maka Allah berkata, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Apabila hamba tersebut mengucapkan (surah Alfatihah [1]:2), maka Allah berkata, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Apabila hamba tersebut mengucapkan (surah Alfatihah [1]:3), maka Allah berkata, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Apabila hamba tersebut membaca (surah Alfatihah [1]:4), maka Allah berkata, “Hamba-Ku menyerahkan urusannya kepada-Ku.” Apabila hamba tersebut membaca (surah Alfatihah [1]:5), maka Allah berkata, “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku. Dan hamba-Ku mendapatkan sesuatu yang dia minta.” Apabila hamba tersebut membaca (surah Alfatihah [1]:6-7), maka Allah berkata, “Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapatkan sesuatu yang dia minta.” (H.R. Muslim)

Baca juga: Makna-Makna Simbolis dalam Redaksi Surah Alfatihah

Penulis sendiri memandang adanya alternatif “tafsir” dari masalah tersebut. Di antaranya bahwa cara membaca doa tersebut secara jahr terinspirasi oleh riwayat Imam Al-Baihaqiy sendiri. Di riwayat itu, sahabat Wa’il mengetahui doa tersebut dari bacaan jahr Nabi saw.

Selain itu, kalaupun membaca doa tersebut secara jahr dianggap bermasalah, merujuk pada pendapat Imam Al-Nawawiy maksimal hanya mendapat hukum makruh. Dalam Al-Adzkar-nya beliau menyampaikan,

اعلم أن الجهر في مواضعه، والإِسرار في مواضعه سنّة ليس بواجب، فلو جهر موضع الإِسرار، أو أسرّ موضع الجهر، فصلاته صحيحة، ولكنه ارتكب المكروه كراهة تنزيه، ولا يسجد للسهو.

“Ketahuilah bahwa membaca jahr dan israr di tempat-tempat yang ditentukan adalah sunah dan tidak wajib, maka jika seseorang membaca jahr pada tempat israr atau sebaliknya, salatnya tetap dihukumi sah, hanya saja ia telah melakukan kemakruhan tanzih, dan tidak perlu melakukan sujud sahwi.”

Oleh karenanya, membaca doa rabbighfirli mengiringi surah Alfatihah dan sebelum amin adalah boleh dengan berbagai argumentasi dan tafsir yang ada. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Amalan Alquran untuk Penyakit Beser hingga Batu Ginjal

0
Amalan Alquran untuk Penyakit Beser hingga Batu Ginjal
Amalan Alquran untuk penyakit beser hingga batu ginjal.

Di samping jalan medis, membaca ayat Alquran menjadi salah satu solusi bagi masyarakat muslim untuk mengobati berbagai macam penyakit. Alquran sendiri menyebut dirinya sebagai syifa’ (obat), sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Isra (17): 82 yang berbunyi:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

(82) Wa nunazzilu minal Qur’aani maa huwa syifaa’uw wa rohmatul lil mu’miniina wa laa yaziiduzh zhaalimiina illaa khosaaroo.

Artinya: (82) “Dan Kami turunkan dari Alquran sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”

Baca juga: Mengenal Dua Kosakata Sakit dalam Alquran: Marid dan Saqim

Fakhruddin ar-Razi memperjelas makna ayat tersebut dalam tafsirnya, Mafatih al-Ghaib, bahwa di antara sifat Alquran adalah menjadi obat bagi orang beriman. Baik itu penyakit yang bersifat rohani (al-amradh ar-ruhaniyyah) maupun jasmani (al-amradh al-jasmaniyyah). (Mafatih al-Ghaib, juz 21, 35).

Menurutnya, penyakit rohani terbagi menjadi dua jenis; Pertama, al-i’tiqadat al-bathilah, atau kerusakan iktikad dan keyakinan kepada Allah. Kedua, al-akhlaq al-madzmumah, alias akhlak dan perilaku yang tercela. Adapun penyakit jasmani merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus.

Untuk penyakit jasmani, menurut ar-Razi bisa disembuhkan dengan mengambil berkah atau tabarruk dari bacaan ayat-ayat Alquran. Umumnya, masyarakat mengenal praktik ini dengan istilah ruqyah. Melantunkan ayat suci Alquran merupakan pengagungan kepada Allah sehingga akan mendatangkan manfaat yang besar untuk mencegah bermacam penyakit.

Mengobati beser dan batu ginjal dengan Alquran

Salah satu penyakit yang dapat diobati dengan ayat Alquran ialah retensi urine atau susah buang air kecil (BAK) dan batu ginjal. Dalam istilah kedokteran Islam, keduanya diistilahkan menjadi ihtibas al-baul dan hasha al-baul. Penyakit ini menjadi momok khususnya bagi kalangan pria.

Penderita penyakit retensi urine (ihtibas al-baul) selalu merasa ingin BAK, tetapi susah membuangnya. Kalaupun sudah BAK, kandung kemih tidak dapat kosong sepenuhnya sehingga rasanya tidak lega setelah BAK. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti penyumbatan uretra atau kerusakan saraf pengendali fungsi kandung kemih.

Jika sudah kronis, retensi urine dapat menyebabkan keluhan lain berupa nyeri, inkontinensia urine (ingin BAK terus menerus) atau yang dikenal dalam istilah Islam sebagai salis al-baul, hingga berujung kepada tumbuhnya batu ginjal (hasha al-baul).

Baca juga: Kisah Raja Najasyi dan Obat Sakit Kepala dari Terjemah Ayat Alquran

Sedangkan batu ginjal adalah penyakit ketika terbentuknya endapan padat yang berasal dari kandungan kimia dalam urine hingga berbentuk menyerupai batu dan menyebabkan rasa sakit ketika BAK. Ukuran batu ginjal bisa mulai dari sekecil butiran pasir hingga benar-benar sebesar batu kerikil.

Tidak hanya pada ginjal, batu tersebut dapat terbentuk di sepanjang saluran urine. Penyakit ini dapat disebabkan kurangnya asupan cairan atau berlebihan mengonsumsi makanan tinggi purin seperti seafood dan daging.

Kisah Imam al-Ghazali

Dalam kitab Khawash al-Qur’an (hal. 94), Imam al-Ghazali menuliskan cerita tentang seorang penduduk daerah Asbahan (sekarang Isfahan, Iran) yang sembuh dari retensi urine dan batu ginjal berkat khasiat ayat Alquran. Uniknya, orang ini benar-benar menjadikan ayat Alquran sebagai obat yang ia telan. Berbeda dari ar-Razi yang menganjurkannya untuk dibaca.

Yang ia lakukan adalah mengambil sebuah kertas, lalu menuliskan basmalah dan beberapa ayat Alquran di dalamnya. Kemudian kertas tersebut dimasukkan dalam wadah dan dituangi air. Ramuan air itulah yang ia minum sebagai obat penawar.

Adapun ayat-ayat Alquran setelah basmalah yang ia tulis dalam kertas tersebut berasal dari dua surah, yaitu Q.S. al-Waqi’ah (56): 5-6 yang bunyinya:

وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُّنبَثًّا (6)

(5) Wa bussatil jibaalu bassaa, (6) fa kaanat habaaa’am mumbatstsaa.

Artinya: “(5) Dan gunung-gunung hancur luluh seluluh-luluhnya, (6) maka jadilah ia debu yang beterbangan.”

Baca juga: Bentuk-Bentuk Resepsi Masyarakat Terhadap Fungsi Penyembuhan Alquran

Lalu Q.S. al-Haqqah (69): 14 yang berbunyi:

وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً (14)

(14) Wa humilatil ardhu wal jibaalu fadukkataa dakkataw waahidah

Artinya: “(14) Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.”

Setelah meminum air rendaman dari tulisan ayat tersebut, orang tersebut melaporkan bahwa ia langsung sembuh dari penyakit yang dialaminya. BAK-nya menjadi mudah dan lancar, bahkan batu ginjal di tubuhnya hancur serta luruh hilang ketika ia BAK.

Menurut penulis, salah satu penyebab mujarabnya ayat ini dalam mengobati penyakit tersebut adalah karena maknanya yang mengandung banyak rahasia. Ayat-ayat tersebut membicarakan tentang bumi dan gunung yang dihancurleburkan menjadi debu ketika terjadi kiamat lalu beterbangan hingga sirna.

Baca juga: Etika Menjenguk Orang Sakit dalam Islam

Begitu pula dengan kondisi dalam tubuh orang tersebut. Apa yang dikandung ayat-ayat tersebut diharapkan terwujud dalam meluluhlantakkan batu ginjal yang tersimpan dalam tubuhnya dan membawa puing-puingnya hilang bersamaan dengan lancarnya pembuangan urine.

Peran basmalah juga tidak dapat dikesampingkan. Sudah banyak diungkapkan oleh para ulama mengenai keutamaan ayat ini. Tentu basmalah menjadi kunci pembuka terkabulnya permohonan orang tersebut.

Itulah salah satu di antara sekian banyak testimoni kesuksesan pengobatan melalui Alquran. Perkuat keyakinan kepada Alquran serta tetap berkonsultasi ke dokter. Jaga kesehatan dan semoga ini menjadi solusi kesembuhan bagi saudara-saudari seiman di mana pun berada.