Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Al-Qashash Ayat 56: Memahami Hikmah, Ragam dan Proses Hidayah

Tafsir Surat Al-Qashash Ayat 56: Memahami Hikmah, Ragam dan Proses Hidayah

Al-Qur’an dan Nabi Muhammad adalah wujud kasih sayang Allah Swt kepada umat manusia. Keduanya adalah anugerah besar, agar manusia dapat memperoleh hidayah. Melalui keduanya Allah ingin membawa manusia dari kegelapan hidup menuju hidup yang penuh cahaya petunjuk.

Pertanyaan kemudian apakah kehadiran Al-Qur’an dan Nabi Muhammad dapat menjamin seluruh manusia mendapat hidayah dan beriman? Jika tidak ada jaminan, lalu bagaimana proses hidayah tersebut, dan adakah syarat untuk mendapat petunjuk? Pertanyaan inilah yang akan mengawali tulisan sederhana ini.

Untuk memahami tema hidayah, banyak ayat-ayat yang menjelaskannya. Namun, tulisan ini hanya memfokuskan pada surat Al-Qashash ayat 56. Dengan alasan, bahwa ayat ini lebih relevan dengan pembahasan dan berkaitan dengan fenomena dakwah Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad dan Hidayah

Surat Al-Qashash ayat 56 menjadi menarik dikaji, karena ayat ini menjelaskan bahwa ada sejenis petunjuk yang tidak dapat dilakukan oleh Nabi sekalipun. Kemudian, Allah memberi isyarat bahwa hidayah jenis ini hanya dalam gengaman tangan-Nya.

Baca Juga: Makna Kata Hidayah dalam Al-Quran dan Macamnya Menurut Al-Maraghi

Untuk itu, mari kita perhatikan redaksi dan terjemahan ayatnya berikut ini:

إِنَّكَ لا تَهْدي مَنْ أَحْبَبْتَ وَ لكِنَّ اللهَ يَهْدي مَنْ يَشاءُ وَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدين

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad. Melihat ayat sebelumnya, dijelaskan bahwa mereka dari masyarakat Mekkah enggan untuk menerima hidayah. Betapapun, mereka memiliki hubungan dekat, bahkan kekerabatan dengan Nabi. Fenomena inilah yang membuat hati Nabi bersedih.

Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Surat Al-Qashash ayat 56 ini berkaitan dengan keindahan pribadi Nabi. Dengan kondisi masyarakat yang enggan beriman, Nabi berusaha dengan semaksimal mungkin (harīshan) untuk menjadikan mereka beriman. Akan tetapi, hidayah yang menjadikan mereka menerima dan beriman hanya dating dari Allah semata. (Tafsir Asy-Sya’rawi, jil. 17, hal. 10963)

Melalui ayat ini, dapat kita lihat betapa bersemangatnya Nabi dalam proses dakwah. Bahkan disebutkan dalam ayat lain, seakan-akan Nabi ingin membinasakan dirinya karena melihat mereka yang tidak beriman. Dengan kata lain, Nabi rela melakukan apapun yang bahkan mencelakakan dirinya demi umatnya beriman. Dalam surat Al-Kahfi ayat 6:

فَلَعَلَّكَ باخِعٌ نَفْسَكَ عَلى‏ آثارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهذَا الْحَديثِ أَسَفاً

Artinya: “Sepertinya kamu akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, apabila mereka tidak beriman kepada keterangan (Al-Qur’an) ini.

Dua Ragam Hidayah Keagamaan

Berkaitan dengan Surat Al-Qashash ayat 56, Quraish Shihab menjelaskan dua ragam hidayah keagamaan. Menurutnya, ada hidayah yang bersifat irsyadī dan taufīqī. Hidayah yang pertama adalah petunjuk yang disampaikan kepada orang lain atau dengan memberi contoh penerapannya. Nah, hidayah model ini bisa diperankan oleh Allah dan manusia.

Sebagai contoh dalam surat Asy-Syurā ayat 52:

وَ إِنَّكَ لَتَهْدي إِلى‏ صِراطٍ مُسْتَقيمٍ

Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Sementara hidayah yang kedua; hidayah taufīqī, berbeda dengan hidayah yang pertama. Hidayah model ini adalah petunjuk keagamaan serta pemberian kemampuan untuk melaksanakan isi petunjuk. Nah, hidayah ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah semata. (Tafsir Al-Misbah, jil. 10, hal. 371)

Dalam ayat ini, model hidayah yang dsebutkan adalah hidayah yang taufīqī. Oleh karena itu, Nabi tidak memiliki peran dalam hal ini. Betapapun terhadap orang yang Nabi cintai sekalipun. Artinya, Sekelas Nabi pun hanya bisa menunjukkan jalan petunjuk, perkara diterima atau ditolak, itu kembali kepada pihak yang terkait.

Beberapa Hikmah Penting

Melalui rangkaian ayat dan penafsirannya, ada beberapa hikmah penting yang dapat kita ambil berkaitan dengan hidayah. Pertama, menjadi pendakwah tidak boleh dengan paksaan. Artinya, tugas pendakwah adalah menyampaikan kebenaran dan mencontohkan keteladanan. Adapun, dakwah kita diterima atau tidak itu tidak berada di kendali pendakwah.

Baca Juga: Baca Ayat Ini Sebagai Doa Agar Orang Mendapatkan Hidayah Islam

Kedua, hidayah bukan berkaitan dengan kekerabatan dan kecintaan. Melainkan hidayah berkaitan dengan hati dan pikiran. Jika hati dan pikiran sudah terbuka, maka Allah akan memudahkan seseorang untuk menjemput hidayah tersebut.

Ketiga, proses hidayah harus terjadi dua arah. Maksudnya, selain keaktifan pemberi hidayah, perlu juga ada kesiapan yang menerima hidayah. Karena, jika hanya pemberi hidayah yang aktif tanpa kesiapan penerima, maka hidayah tidak akan terjadi, begitu pula sebaliknya.

Alhasil, semoga melalui tulisan sederhana ini kita dapat memahami konsep dan proses hidayah. Dengan begitu, kita dapat menjadi pemberi dan penerima hidayah yang bijak. Kemudian, semoga Allah senantiasa menambah hidayah kepada kita, dan kita selalu mempunyai kesiapan untuk menerimanya. Wallahu’alam bishawab.

Ahmed Zaranggi Ar Ridho
Mahasiswa pascasarjana IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di @azzaranggi atau twitter @ar_zaranggi
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Surah Muhammad

Tafsir Surah Muhammad Ayat 22-25

0
Tafsir Surah Muhammad Ayat 22-25 berbicara tentang orang munafik yang menutup diri dari kebenaran dan enggan merenungi kandungan dari al-Qur’an. Maka, sikap mereka yang...