Ketika mendengar kata “umat”, sontak, mungkin yang terlintas dalam benak kita akan lebih diakrabkan dengan konotasi manusia: umat Islam, umat Nabi Musa, umat Nabi Muhammad, dan lain sebagainya. Namun, Al-Qur’an menggunakan istilah yang sama untuk menyebut komunitas hewan.
Lebih jauh, Al-Qur’an bahkan menyandingkan komunitas itu dengan umat manusia—“umam(un) amṡālu-kum”. Dengan eksistensi mereka pula, manusia didorong untuk turut belajar atau mengambil inspirasi demi terwujudnya peradaban atau inovasi dalam keberlangsungan hidup kita. Termasuk pada saat yang bersamaan turut mengambil sekian manfaat material dari mereka—sebagaimana yang telah kita lakukan selama ini. Fakta ini mengantarkan kita kepada sikap untuk tidak semena-mena dalam memandang dan berinteraksi dengan sekian jenis dan spesies hewan.
Hewan juga Bertasbih Kepada Allah
Lebih dari sekadar hidup dalam hamparan alam raya—yakni dalam sistem yang ditetapkan Allah, hewan-hewan juga digambarkan Al-Qur’an sebagai makhluk yang senantiasa bertasbih kepada-Nya. Allah berfirman dalam QS. al-Isrā’ [17]: 44:
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
Menurut al-Biqā‘ī, ayat ini menegaskan bahwa seluruh alam semesta merupakan saksi yang senantiasa menunjukkan kesempurnaan dan keesaan Allah. Setiap makhluk, tak terkecuali hewan, melalui keberadaan, keteraturan, dan sifat-sifatnya, menjadi bentuk tasbih yang mengarah kepada Sang Pencipta.
al-Sya‘rāwī melangkah lebih jauh lagi. Baginya, tasbih makhluk bukan sekadar “lisān al-ḥāl” (bahasa keadaan), melainkan juga tasbih yang hakiki dalam bahasa yang sesuai dengan masing-masing makhluk—“lisān al-maqāl”. Hanya saja manusia tidak dapat memahaminya.
Baca juga: Ngaji Gus Baha’: Bisakah Manusia Berdialog dengan Hewan dan Tanah?
Pandangan ini diperkuat oleh kisah Nabi Sulaiman as. yang memahami bahasa burung dan semut, serta Nabi Daud as. yang bertasbih bersama gunung-gunung. Oleh karena itu, ketidakmampuan manusia memahami tasbih makhluk tidak berarti tasbih tersebut tidak ada, melainkan menunjukkan keterbatasan manusia dalam menangkap bentuk komunikasi dan penghambaan mereka kepada Allah.
Hal senada ditegaskan dalam QS. al-Nūr [24]: 41, yang bahkan menyebut secara eksplisit salah satu jenis hewan yang menjadi bukti akan kemahakuasaan Allah.
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُسَبِّحُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالطَّيْرُ صٰۤفّٰتٍۗ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهٗ وَتَسْبِيْحَهٗۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِمَا يَفْعَلُوْنَ
“Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) tahu bahwa sesungguhnya kepada Allahlah apa yang di langit dan di bumi dan burung-burung yang merentangkan sayapnya senantiasa bertasbih. Masing-masing sungguh telah mengetahui doa dan tasbihnya. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan.”
Ayat tersebut, menurut al-Sya‘rāwī, juga berkaitan erat dengan ayat di atas tadi. Ia sama-sama menegaskan bahwa seluruh alam semesta berada dalam keadaan tunduk dan bertasbih kepada Allah sebagai bukti keesaan, kekuasaan, dan pemeliharaan-Nya atas segala sesuatu. Dan, lagi-lagi, ia menegaskan, bahwa tasbih bukan sekadar pengakuan simbolis semata—melalui keberadaan makhluk, melainkan penyucian yang hakiki terhadap Allah yang telah tetap sebelum adanya makhluk yang menyucikan-Nya.
Baca juga: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 66: Keajaiban Penciptaan Susu pada Hewan Ternak
Digunakannya ungkapan “alam tara” sendiri juga mengisyaratkan pengajaran Allah bahwa berita yang datang dari-Nya lebih terpercaya dibanding penglihatan mata. Mata dapat keliru karena penyakit atau keterbatasannya, sementara berita Allah tidak mungkin salah. Hal ini juga serupa dengan penggunaan “alam tara” pada QS. al-Fīl [105]: 1.
Sementara itu, penyebutan burung secara khusus juga menunjukkan kekuasaan Allah yang menahan mereka tetap terbang meskipun tunduk pada gravitasi. Burung disebut secara khusus sebagai contoh makhluk yang mudah diperhatikan oleh manusia. Dan, seluruh makhluk sungguh telah mengetahui “doa dan tasbihnya” serta menjalankan ketentuan yang ditetapkan Allah tanpa menyimpang.
Hanya manusia yang diberi kebebasan memilih sehingga berpotensi menyimpang dari keteraturan kosmis tersebut. Oleh karena itu, manusia dipanggil untuk ikut serta secara sadar dalam harmoni tasbih alam semesta dengan menaati petunjuk Allah.
Umat Selaiknya Manusia
Sebagaimana yang telah disinggung di atas, QS. al-An‘ām [6]: 38 secara eksplisit menyebut eksistensi hewan sebagai “umam(un) amṡālu-kum”. Allah mengajak manusia melihat alam semesta dengan cara pandang yang berbeda: bahwa makhluk-makhluk selain manusia bukan sekadar objek yang dapat dimanfaatkan, melainkan komunitas kehidupan yang berada dalam pengaturan dan pemeliharaan-Nya.
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ
“Tidak ada seekor hewan pun (yang berada) di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan.”
Menurut al-Ṭāhir b. ‘Āsyūr, yang dimaksud dengan “umat-umat (juga) seperti kamu” memang bukanlah bahwa hewan setara dengan manusia dalam segala hal. Keserupaan itu terletak pada kenyataan bahwa mereka juga merupakan makhluk hidup yang memiliki sistem kehidupan masing-masing.
Yakni, Allah menciptakan setiap jenis makhluk dengan karakteristik yang khas, memberi mereka petunjuk untuk mempertahankan hidup, menentukan rezeki mereka, serta menetapkan umur dan ajal mereka. Dengan kata lain, sebagaimana manusia hidup dalam tatanan yang telah ditentukan Allah, demikian pula hewan dan burung.
Baca juga: Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Penyebutan Binatang dalam Al-Quran
Oleh karena itu, menurut al-Sya‘rāwī, alam hewan sesungguhnya merupakan salah satu tanda kebesaran Allah yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Semut dengan organisasi koloninya, lebah dengan sistem sosialnya yang rumit, burung-burung yang mampu bermigrasi ribuan kilometer, atau ikan-ikan yang hidup dalam keseimbangan ekosistem laut. Semuanya menunjukkan adanya petunjuk dan pengaturan Ilahi yang melampaui kemampuan mereka sendiri. Tidak mengherankan jika Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk memperhatikan makhluk-makhluk tersebut sebagai ayat-ayat yang menunjukkan kekuasaan Allah.
Oleh karena itu, penyebutan hewan sebagai “umat-umat (juga) seperti kamu” tidak hanya mengandung pesan ekologis, tetapi juga pesan teologis dan etis. Mereka hidup di bawah pemeliharaan Allah, memperoleh rezeki dan petunjuk dari-Nya, serta menjalankan tugas penciptaannya dengan penuh kepatuhan.
Bahkan, menurut sebagian hadis, hewan-hewan pun akan dihimpunkan untuk ditegakkan keadilan di antara mereka sebelum akhirnya menjadi tanah. Dengan demikian, manusia tidak memiliki alasan untuk memandang rendah makhluk lain. Sebaliknya, kesadaran bahwa mereka adalah sesama “umat” semestinya melahirkan sikap hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab dalam berinteraksi dengan mereka.
Sebagai Pasukan Allah
Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya memperkenalkan hewan sebagai makhluk yang hidup dalam keteraturan. Dalam beberapa kisah, mereka bahkan tampil sebagai bagian dari “pasukan Allah” yang menjalankan kehendak-Nya di muka bumi.
Hal ini terlihat jelas dalam kisah Fir‘aun dan kaumnya. Ketika Nabi Musa as. datang membawa berbagai mukjizat, mereka menolaknya dengan penuh kesombongan. Bahkan mereka berkata:
“Mereka (kaum Fir‘aun) berkata (kepada Musa), ‘Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami dengannya, kami tidak akan beriman kepadamu’.” (QS. al-A‘rāf [7]: 132).
Sebagai jawaban atas pembangkangan tersebut, di ayat selanjutnya, Allah mengirimkan berbagai bencana yang disebut sebagai “āyāt mufaṣṣalāt” (tanda-tanda/bukti-bukti yang jelas dan terperinci):
“Maka, Kami kirimkan kepada mereka (siksa berupa) banjir besar, belalang, kutu, katak, dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas dan terperinci. Akan tetapi, mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum pendurhaka.”
Baca juga: Tafsir Surah Al Araf Ayat 179: Makhluk yang Lebih Sesat dari Binatang Ternak
Yang menarik, Allah tidak menggunakan pasukan besar yang menakutkan. Sebaliknya, makhluk-makhluk yang sering dianggap remeh itu justru menjadi sarana untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya. Belalang menghancurkan hasil pertanian, kutu mengganggu kehidupan mereka, katak memenuhi rumah dan makanan mereka, sementara air yang menjadi sumber kehidupan berubah menjadi darah.
Semua itu menunjukkan bahwa tidak ada makhluk yang kecil di hadapan Allah. Seekor belalang, katak, atau serangga sekalipun dapat menjadi instrumen yang mengguncang sebuah peradaban ketika Allah menghendakinya.
Kisah ini sekaligus meruntuhkan kesombongan manusia. Fir‘aun yang memiliki kerajaan besar ternyata tidak berdaya menghadapi makhluk-makhluk kecil yang diciptakan Allah. Dari sini tampak bahwa kekuasaan Allah tidak bergantung pada besarnya sarana yang digunakan. Seluruh alam semesta adalah milik-Nya dan siap menjalankan perintah-Nya kapan saja.
Dampak Ekologis yang Belum Terasa
Pada akhirnya, Al-Qur’an mengajak manusia memandang hewan tidak semata sebagai sumber manfaat atau bagian dari ekosistem, melainkan sebagai sesama makhluk Allah yang memiliki tempat dalam tatanan penciptaan-Nya.
Kesadaran teologis ini sudah sepatutnya melahirkan konsekuensi ekologis: menjaga, merawat, dan tidak menzalimi makhluk hidup merupakan bagian dari tanggung jawab kekhalifahan manusia. Sebab, semakin dalam seseorang mengenali kedudukan makhluk-makhluk lain di hadapan Allah, semakin besar pula penghormatan dan kasih sayangnya terhadap alam yang menjadi rumah bersama seluruh ciptaan-Nya.
Dibanding hal-hal materialis-konkret lainnya—seperti fenomena melemahnya rupiah, dan diikuti demo besar-besaran, mungkin, sikap apatis kita terhadap kelestarian hewan yang tampak remeh tidak atau belum terlalu terasa konsekuensinya. Namun, jika kita telah memahami pesan tersiratnya, bisa jadi perhatian kita lebih besar melampauinya.
![Tafsir Q.S. Al-Hujurat [49]: 11 Tentang Batas Etis Kebebasan Berekspresi di Ruang Digital Tafsir Q.S. Al-Hujurat [49]: 11 Tentang Batas Etis Kebebasan Berekspresi di Ruang Digital](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-22-at-10.29.15-218x150.png)











