BerandaKhazanah Al-QuranNaskah KBN-843 Yapena Bandung sebagai Warisan Islam Lokal: Kajian Tafsir Sunda

Naskah KBN-843 Yapena Bandung sebagai Warisan Islam Lokal: Kajian Tafsir Sunda

Kajian manuskrip Nusantara memperlihatkan bahwa teks keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai media transmisi ilmu, tetapi juga sebagai representasi budaya lokal. Naskah KBN-843 menjadi contoh penting hubungan antara Islam, bahasa Sunda, dan tradisi masyarakat Priangan.

Naskah KBN-843 memuat tafsir QS. al-Fātiḥah sekaligus jampe adus yang hidup dalam tradisi masyarakat Sunda. Kehadiran dua unsur tersebut menunjukkan bahwa praktik keberagamaan masyarakat lokal tidak terpisah dari kebudayaan yang berkembang di sekitarnya.

Tulisan ini berargumen bahwa materialitas Naskah KBN-843 mencerminkan negosiasi antara tradisi Islam, budaya Sunda, dan perubahan sosial kolonial abad ke-19. Manuskrip tersebut menjadi bukti bahwa tafsir Nusantara berkembang secara kontekstual dan adaptif.

Materialitas Naskah KBN-843

Gambar 1. Kondisi Naskah KBN-843 fol. 2r yang mengalami korosi pada pinggir kertas.

Naskah KBN-843 tersimpan di École Française d’Extrême-Orient dan telah didigitalisasi melalui proyek DreamSEA. Manuskrip ini terdiri atas 14 halaman dengan ukuran 16,5 × 11 cm dan area teks sekitar 14 × 8,5 cm.

Kertas yang digunakan merupakan kertas Eropa bertanda “Superfin 1897”. Penggunaan bahan impor tersebut menunjukkan adanya pengaruh perdagangan kolonial terhadap produksi manuskrip Islam di wilayah Nusantara, khususnya di Jawa Barat.

Secara fisik, kondisi naskah mengalami perubahan warna menjadi kecokelatan akibat usia dan kelembapan. Beberapa bagian memperlihatkan bercak hitam serta korosi pada pinggir halaman, tetapi teks utama masih dapat dibaca dengan cukup jelas.

Baca juga: Analisis Marginalia Naskah Al-Qur’an A54c Banten

Tulisan dalam naskah menggunakan tinta biru yang kini tampak menghitam akibat degradasi pigmen. Penjilidan memakai staples berkarat menunjukkan adanya upaya preservasi sederhana yang kemungkinan dilakukan setelah proses penyalinan selesai.

Penggunaan aksara Arab Pegon memperlihatkan identitas intelektual Islam lokal masyarakat Sunda. Aksara tersebut menjadi media penting dalam penyebaran ilmu agama karena lebih mudah dipahami oleh masyarakat yang tidak menguasai bahasa Arab secara formal.

Tradisi Tafsir Sunda

Gambar 3. Kalimat pendahuluan dalam KBN-843 fol. 7r.

Pada bagian awal naskah terdapat pupuh Asmarandana yang berbunyi; “Bismillah ieu kitab nu ditulis tafsir patihah nu nyata asal nurod jawa keneh diganti ku basa Sunda.” (Bismillah ini kitab yang ditulis asalnya berbahasa Jawa diganti ke bahasa Sunda). Kalimat ini menunjukkan adanya proses alih bahasa dari Jawa ke Sunda.

Alih bahasa tersebut bukan sekadar penerjemahan literal, tetapi bentuk adaptasi budaya agar ajaran Al-Qur’an lebih dekat dengan masyarakat lokal. Bahasa Sunda dipilih sebagai sarana dakwah yang efektif dalam menyampaikan pesan keagamaan.

Keberadaan pupuh dalam naskah memperlihatkan hubungan erat antara sastra Sunda dan penyebaran Islam. Bentuk puisi tradisional digunakan agar isi tafsir mudah dihafal, dipahami, dan diwariskan secara lisan kepada masyarakat luas.

Analisis Tafsir QS. al-Fātiḥah dan Jampe Adus

Penafsiran QS. al-Fātiḥah dalam KBN-843 memiliki kecenderungan sufistik. Penafsir tidak hanya menjelaskan makna literal ayat, tetapi juga menghadirkan pemahaman metafisis tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Pada penafsiran Bismillāh al-Raḥmān al-Raḥīm, ditemukan ungkapan “Pangucap kaula gusti.” Frasa tersebut menunjukkan konsep kedekatan spiritual antara hamba dan Tuhan yang lazim ditemukan dalam tradisi tasawuf Nusantara.

Corak sufistik tersebut menunjukkan bahwa tafsir Sunda berkembang melalui tradisi keagamaan rakyat (popular sufism). Penafsiran dibangun melalui simbol, pengalaman rohani, dan praktik budaya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Mempertanyakan Klaim Tertua Naskah Jalalain Museum MAD

Bagian kedua naskah memuat jampe adus, yaitu doa atau mantra yang dibaca ketika mandi. Dalam tradisi Sunda, mandi tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas fisik, tetapi juga proses penyucian spiritual dan batiniah.

Dalam perspektif modern, mantra sering dianggap bertentangan dengan praktik agama formal. Namun, dalam konteks sejarah lokal, jampe berfungsi sebagai media spiritual yang memperkuat hubungan manusia dengan nilai kesucian dan perlindungan Ilahi.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa manuskrip Nusantara tidak dapat dibaca secara tekstual semata. Naskah juga menjadi ruang pertemuan antara agama, budaya, dan praktik sosial masyarakat yang berkembang pada masanya.

Komparasi dengan Tafsir Ahmad Sanusi

Jika dibandingkan dengan tafsir karya Ahmad Sanusi, KBN-843 memiliki corak yang lebih simbolik dan mistis. Ahmad Sanusi cenderung menggunakan metode bi al-ra’yi dengan penjelasan yang lebih sistematis dan pedagogis.

Tafsir Rauḍat al-‘Irfān karya Ahmad Sanusi menekankan pemahaman praktis dan hukum Islam bagi masyarakat Sunda. Sebaliknya, KBN-843 lebih menonjolkan dimensi spiritual dan pengalaman batin dalam memahami ayat Al-Qur’an.

Baca juga: K.H Ahmad Sanusi: Sang Mufasir Asal Bumi Pasundan

Perbedaan tersebut menunjukkan keragaman epistemologi tafsir Sunda. Tradisi tafsir di Jawa Barat tidak berkembang secara tunggal, tetapi melalui berbagai pendekatan yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya masing-masing.

Kesimpulan

Naskah KBN-843 merupakan bukti penting perkembangan tafsir lokal di tanah Sunda. Materialitas manuskrip memperlihatkan hubungan erat antara Islam, budaya lokal, dan perubahan sosial yang terjadi pada abad ke-19.

Penggunaan bahasa Sunda, aksara Pegon, pupuh Asmarandana, dan jampe adus menunjukkan bahwa tafsir Nusantara berkembang secara kontekstual. Tradisi tersebut menjadi bentuk adaptasi ajaran Islam terhadap budaya masyarakat lokal.

Kajian terhadap manuskrip seperti KBN-843 penting dilakukan untuk memahami sejarah intelektual Islam Indonesia. Manuskrip lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi sumber pengetahuan yang merekam identitas budaya dan spiritual masyarakat Nusantara.

Vrety Nurianda
Vrety Nurianda
Mahasiswi Universitas Islam Darussalam Ciamis
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU