Menggeser Polemik Kurban: Dari Debat Identitas ke Kesalehan Struktural

0
30
Menggeser Polemik Kurban: Dari Debat Identitas ke Kesalehan Struktural
Menggeser Polemik Kurban: Dari Debat Identitas ke Kesalehan Struktural

Kisah kurban dan keteladanan Nabi Ibrahim AS adalah narasi tahunan yang karib di telinga kita. Setiap Idul Adha tiba, para dai bergegas menggaungkan pesan tentang ‘kesalehan sosial’, sebuah imbauan luhur untuk mengetuk kepekaan berbagi daging kurban. Namun, di balik rutinitas ritual dan khotbah tersebut, tradisi pemikiran kita sering kali mengalami penyempitan.

Alih-alih mendalami substansi gerakan sosial dalam kurban, energi intelektual umat justru kerap tersedot ke dalam ruang perdebatan tekstual yang sekadar mengulang-ulang memori masa lalu. Dalam tradisi tafsir Al-Qur’an misalnya, mulai dari Jami’ al-Bayan karya Imam al-Thabari hingga al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Imam al-Qurthubi, para ulama menghabiskan banyak energi untuk memperdebatkan siapa anak yang dikurbankan: Ishaq atau Ismail? Uniknya, pangkal silang pendapat ini kerap bermuara pada satu tokoh yang sama yakni Ibnu Abbas, yang dalam satu riwayat menyebut Ishaq dan di riwayat lain menunjuk Ismail.

Azhari Andi dan Moch. Taufiq Ridho dalam sebuah studi akademis, bahkan melacak bahwa diskursus Ishaq-Ismail ini tidak hanya hidup dalam rahim Islam, melainkan juga maujud dalam tradisi Yahudi dan Kristiani. Perdebatan ini terus awet hingga kini, Sebagian besarnya karena kegemaran para cendikiawan masa lalu dan masa kini yang cenderung terpaku pada pemikiran tekstual-formalistik.

Baca juga: Dialog dan Simbol Spiritual: Qiṣṣah al-Żabīḥ Ibrāhīm dan Ismā‘īl

Hikmah di Balik yang Samar

Jika kita bersetia pada teks Kitab Suci, khususnya Al-Qur’an Surah al-Shaffat ayat 101-111, identitas sosok yang dikurbankan sebenarnya tidak pernah disebut secara eksplisit (sharih). Di titik ini, terdapat konsep al-mubham (sesuatu yang samar) yang perlu dipahami. Jalaluddin al-Suyuthi dalam al-Itqan fi Ulum al-Qur’an menyebut bahwa kesamaran pada suatu ayat sengaja dihadirkan agar pembaca berfokus pada substansi hikmah, bukan pada detail-detail yang dapat mengaburkan substansi hikmah itu sendiri.

Lebih jauh penyematan nama anak secara definitif juga bisa mendistorsi syariat kurban itu sendiri. Jika subjek manusia diletakkan secara permanen, alur teks berpotensi mengarahkan pada tafsir primordial untuk mengurbankan ‘manusia’, alih-alih hewan sembelihan yang memang dijadikan syariat untuk seterusnya.

Apabila kita menilik beberapa ayat sebelumnya (ayat 83-100), fokus utama kisah ini adalah figur Nabi Ibrahim AS dan gerakannya dalam mendekomposisi diskursus pada zamannya. Menyebut nama sang anak justru berisiko mengaburkan fokus pembaca. Cerita ini bukan tentang keistimewaan personal anak tersebut, melainkan tentang ketundukan mutlak seorang hamba. Oleh karenanya di ayat 111 Nabi Ibrahim disebut, ditegaskan sebagai representasi hamba yang beriman.

Baca juga: Menjelang Idul Adha, Inilah 6 Perbedaan Kurban dan Akikah

Kalkulasi Profetik Masa Lalu

Al-Qur’an tidak hanya memotret masa lalu, tetapi juga memproyeksikannya sebagai panduan masa depan. Ketika kisah Nabi Ibrahim AS diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, narasi tersebut menjadi lensa profetik untuk membaca tantangan pada zamannya.

Korelasi terkait kurban tampak nyata pada Surah al-Kautsar. Para mufasir mencatat bahwa surah ini turun sebagai penawar hati ketika kaum kafir mengejek Nabi Muhammad SAW sebagai abtar (orang yang terputus dari rahmat Tuhan) karena wafatnya putra-putra beliau. Sebaliknya, Al-Qur’an menarasikan bahwa Nabi diberikan nikmat kebaikan yang melimpah, dengan memerintahkan salat dan berkurban, yang berujung pada kepastian para pembenci beliau yang akan terputus dari kasih-Nya.

Perintah untuk berkurban mengembalikan memori tentang Ibrahim AS, bahwa kemenangan dan janji Allah SWT telah dekat. Kalkulasi profetik ini mewujud dalam kebijakan Rasulullah SAW dua tahun sebelum Penaklukan Makkah, tepatnya saat Perjanjian Hudaibiyah. Kala itu umat Muslim dilarang masuk ke Makkah unutk berumrah. Nabi Muhammad SAW memilih mengambil langkah kurban, satu hal yang tidak pernah terpikirkan dalam hitung-hitungan akal politik.

Langkah ini sempat dipertanyakan oleh Umar bin Khattab RA yang merasa umat Muslim sudah cukup kuat bahkan secara militer untuk melakukan konfrontasi. Abu Bakar al-Shiddiq menyadarkannya dengan bilang, “Ingat beliau itu Nabi.” Seorang dengan pandangan profetik yang mampu melampaui masanya berdasarkan wahyu Allah.

Benar saja, konsesi damai dan ritual kurban di Hudaibiyah itu menjadi strategi ampuh dibandingkan dengan senjata, kemenangan tanpa pertumpahan darah nyata terjadi pada Fathu Makkah. Kurban bukan sekadar ritual menyembelih, melainkan kalkulasi teo-matematis: kalkulasi moral jangka panjang yang melampaui batas rasionalitas untung rugi sesaat.

Baca juga: Dasar Hukum dan Syarat-Syarat Penyembelihan Hewan Kurban

Reorientasi Kesalehan Masa Kini

Perdebatan menjadi musabab energi kolektif kita habis terkuras untuk bersikap reaktif terhadap isu-isu keagamaan yang bersifat permukaan. Kita gemar berdebat tanpa manfaat, terjebak pada simbol-simbol sektarian, hingga tercucuk hidung mengikuti dan melegitimasi syahwat politik jangka pendek.

Sifat reaktif ini membuat kita abai pada isu-isu signifikan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Di sinilah redifinisi kesalehan sosial menemukan urgensinya. Kesalehan sosial tidak boleh lagi diredusir sebatas kesalehan normatif, seperti membagi daging kurban setahun sekali atau sekadar berbuat baik dalam skala domestik untuk kelompoknya.

Kesalehan sosial yang meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW harus bertransformasi menjadi kesalehan struktural: sebuah gerakan dekonstruksi terhadap degradasi moral yang sedang masif terjadi. Di tengah gelapnya budaya korupsi, nepotisme, dan mentalitas ‘Asal Bapak Senangyang merusak tatanan berbangsa dan bernegara, manifestasi kurban yang sejati adalah menyembelih ego kelompok demi transparansi, akuntabilitas, dan independensi untuk kebaikan negeri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini