Kajian Alquran di tanah Sunda merupakan bagian dari proses islamisasi di Jawa Barat. Dalam proses penyebaran islam tersebut pastinya bermunculan karya-karya yang berperan sebagai media untuk membantu memberikan pemahaman terkait ajaran Islam, khususnya dalam kajian Alquran. Namun, belum diketahui siapa orang yang pertama kali melakukan penerjemahan atau penafsiran Alquran ke dalam bahasa Sunda.
Meskipun demikian, ditemukan beberapa naskah yang terkait dengan kajian Alquran, walupun tergolong sangat minim. (Rohmana, 2013) Terlepas dari banyak atau tidaknya bukti yang ditemukan, naskah-naskah tersebut merupakan bukti penting yang menunjukan sejarah panjang dalam proses islamisasi melalui kajian Alquran di tanah Sunda.
Dalam terjemahan atau penafsiran Alquran di tanah Sunda terdapat ciri khas tersendiri. Di dalamnya dapat ditemukan penggabungan antara nilai Qur’ani dengan budaya lokal, sehingga makna Alquran bisa diserap dan dipahami oleh masyarakat. Akulturasi tersebut juga merupakan bukti keselarasan antara agama, dan budaya. Contoh penyelarasan antara budaya lokal tersebut dibuktikan oleh Mohammad Emon Hasim dalam karyanya Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun.
Baca Juga: Moh. E. Hasim, Tokoh Mufasir Sunda Aktifis Muhammadiyah
Mohammad Emon Hasim dan Ayat Suci Lenyepaneun
Mohammad Emon Hasim (1916-2009) merupakan mufasir lokal era kontemporer yang lahir di Ciamis. Hasim menempuh pendidikan di lembaga formal, namun sayangnya ia gagal menuntaskan pendidikannya dikarenakan malaise sekitar tahun 1930. Meskipun demikian semangat Hasim tidak padam, ia melakukan pembelajaran informal melalui buku-buku dan mempelajari bahasa Belanda, Inggris, dan Pedagogi. Berkat kegigihannya dalam belajar, Hasim menjalani kehidupannya menjadi guru, sekaligus menjadi pejuang kemerdekaan Indonesia. (Juanda, 2017)
Setelah Pensiun ia belajar agama, dan bahasa Arab, dari sini lahirlah salah satu karya monumentalnya yaitu tafsir Ayat Suci Lenyepaneun. Kitab ini merupakan kitab tafsir yang ditulis lengkap sebanyak 30 jilid dengan menggunakan bahasa Sunda lancaran (sehari-hari) sehingga mudah dipahami oleh masyarakat. (Juanda, 2017)
Menurut Hasim, penyusunan kitab ini dilatar belakangi oleh beberapa hal, diantaranya dorongan untuk menjaga dan melestarikan bahasa Sunda, dorongan belajar agama langsung dari sumbernya, kewajiban menyampaikan ilmu agama, dan rasa ketidakpuasan terhadap karya tafsir yang ada, baik dalam aspek metode, maupun bahasanya. Oleh karena itu ia menyusun kitab ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami demi menjaga kelestarian bahasa Sunda dan menanamkan pemahaman kepada masyarakat. (Juanda, 2017)
Kelebihan kitab tafsir ini terletak pada penggunaan bahasa Sunda lancaran (sehari-hari) sehingga mudah dipahami oleh masyarakat. Selain itu Hasim juga mengontekstualisasikan peristiwa yang terjadi di masyarakat dengan ayat yang relevan, dan menggabungkan budaya lokal dalam penafsirannya seperti undak usuk basa, babasan, dan gambaran alam Sunda. Oleh karena itu kitab ini mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat, baik dari aspek bahasa, maupun aspek metode penyajiannya. (Juanda, 2017)
Baca Juga: Naskah KBN-843 Yapena Bandung sebagai Warisan Islam Lokal: Kajian Tafsir Sunda
Aspek Budaya Sunda dalam Kitab Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun
Dalam tafsir Sunda khusunya Ayat Suci Lenyepaneun dapat ditemukan hal menarik untuk dibahas salah satunya ialah penggunaan aspek kebudayaan dalam terjemahan maupun penafsirannya. Contohnya penggunaan undak usuk basa (tatakrama bahasa), contoh penggunaan aspek ini bisa dilihat pada terjemahan Q.S Thaha [20]: 92-93:
Musa nyarita: “Yeuh Harun, naon nu jadi halangan pikeun hidep basa hidep ngajeueung kasasar lampah? Ku naon teu nurut ka kami? Naha hidep geus ngalawan kana parentah kami?” (Hasim, 1984, Jilid. 16: 248-250).
Dalam terjemah tersebut dapat dilihat penggunaan kata “hidep” yang termasuk ke dalam ragam bahasa hormat (halus) yang digunakan nabi Musa saat menegur kakaknya yaitu nabi Harun karena melihat Bani Israil yang melakukan kemusyrikan saat ditinggal oleh nabi Musa padahal sudah dititipkan kepada kakaknya. Pemilihan bahasa yang digunakan oleh Hasim mencerminkan penggunaan tatakrama dalam penafsirannya.
Selain penggunaan tatakrama bahasa aspek kebudayaan lain yang terdapat dalam kitab ini adalah penggunaan babasan (ungkapan tradisonal sunda), contoh dalam kitab ini dapat dilihat dalam potongan tafsir Q.S Al Baqarah [2]: 10:
Gedé hulu siga jojodog unggah ka salu jeung kadedemes kawas nu kokoro manggih mulud puasa manggih lebaran. (Hasim, 1984, Jilid. 1: 36-37).
Ungkapan tersebut berarti rakus karena merasa mumpung mendapat rejeki/makanan sebagai perumpamaan perilaku orang miskin ketika datangnya bulan Mulud atau perilaku orang Islam selepas puasa saat hari lebaran. Dalam penafsirannya Hasim menjelaskan sifat tertentu melalui ungkapan yang mewakili sifat tersebut, ini membuktikan kekayaan budaya Sunda yang diinterpretasikan melalui penafsiran ayat.
Dalam kitab ini juga dapat ditemukan gambaran alam Sunda sebagai bentuk akulturasi budaya dengan nilai al Qur’an, contoh penggunaan aspek ini dapat dilihat dalam penafsiran Q.S Al Baqarah [2]: 231:
Isuk isuk liwat jam tujuh ngadaweung ngabangbang areuy di hareupeun pasanggrahan dina mumunggang gunung, diuk dina korsi kebon bari moyan nginum kopi nu masih ngebul, rarat-reret, ngaler-ngidul, plung-plong tetenjoan teu kahalangan ku aling-aling ma’lum da aya di tengah-tengah kebon enteh. Di kajauhan remeng-remeng puncak gunung semu kulawu, ka handapna masih dikarimbunan ku halimun siga nu keur candukul diharundum sarung. (Hasim, 1984, Jilid. 2: 303).
Baca Juga: Mengenal Tafsir Nurul Bajan: Kitab Tafsir Berbahasa Sunda Karya Muhammad Romli
Hasim melalui penafsirannya memperlihatkan keindahan alam tanah Sunda yang ia rasakan selama hidup di Ciamis dan Bandung. Ia menyebutkan keindahan alam berupa pegunungan, perkebunan, dalam penafsirannya sebagai sarana menghubungkan pesan Alquran dengan keindahan alam yang ia rasakan, sekaligus menjadikan bahan renungan untuk para pembaca akan keindahan dan kekuasaan Tuhan.
Demikianlah Hasim menyajikan kitab tafsir Ayat Suci Lenyepaneun dengan tujuan menyebarkan agama, sekaligus melestarikan bahasa dan budaya Sunda. Selain itu, penggunaan bahasa dan budaya yang Hasim sajikan menjadi kelebihan tersendiri bagi kitab ini sehingga mudah diterima, dan dipahami oleh masyarakat Sunda.



![Semangat di Awal, Hilang di Tengah Jalan; Tadabbur Istiqamah dalam Q.S. Fussilat [41]: 30 Semangat di Awal, Hilang di Tengah Jalan ; Tadabbur Istiqomah dalam Q.S. Fussilat [41]: 30](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/06/Istiqamah-218x150.jpg)








