Dari Perintah Tauhid hingga Qaulan Kariman: Q.S al-Isra’ [17]: 23

0
64

Dalam Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua sering kali disandingkan dengan menyembah Allah. Hal ini menandakan bahwa sikap anak kepada orang tua menempati posisi yang krusial dalam Islam. Misalnya yang tercantum dalam QS. Al-Isra’ ayat 23.

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًا ۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Ayat ini menjadi ayat yang paling penting dalam pembahasan mengenai orang tua. Dalam ayat tersebut, terdapat tiga hal menarik untuk disoroti. Pertama, hubungan antara perintah ibadah kepada Allah semata dan berbakti kepada orang tua. Kedua, larangan berkata “ah”. Dan yang ketiga, anjuran untuk berkata mulia terhadap keduanya.

Baca Juga: Surat Al-Isra’ [17] Ayat 23: Perintah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Korelasi antara Tauhid dan Kebaktian Orang Tua

Imam Al-Razi dalam magnum opusnya, menyatakan 3 alasan mengapa perintah menyembah Allah diikuti dengan perintah berbakti kepada orang tua. Pertama, karena sebab hakiki penciptaan manusia adalah Allah, sedangkan sebab lahiriahnya adalah orang tua. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan untuk mengagungkan sebab hakiki, lalu diikuti dengan sebab lahiriah.

Kedua, segala sesuatu yang ada hanya memiliki dua kemungkinan, yakni qadim (Allah) dan muhdats (makhluk). Sikap manusia terhadap yang qadim adalah mengagungkan, sedangkan kepada yang muhdats adalah menyayangi, dan manusia yang paling berhak mendapat kasih sayang adalah kedua orang tua.

Ketiga, tidak ada seseorang yang lebih andil dalam memberi nikmat kecuali orang tua. Bersyukur kepada sang pemberi nikmat adalah sebuah kewajiban. Sang pemberi nikmat yang hakiki adalah Allah dan juga terdapat orang-orang yang memberi sebagian nikmatnya kepada orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah”. Berbuat baik kepada orang tua merupakan salah satu bentuk syukur kepada mereka.

Dari seluruh alasan tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa nikmat yang telah diberikan orang tua tak dapat digantikan oleh makhluk lain. Perhatian, penjagaan, dan kasih sayang sejak kecil merupakan contoh nikmat yang diberikan orang tua secara naluriah. Oleh sebab itu, dalam beberapa ayat, orang tua selalu menempati posisi awal setelah perintah menyembah Allah.

Baca Juga: Keteladanan Nabi Ibrahim Menyikapi Sensitivitas Orang Tua

Pengendalian Diri

Mengapa Allah melarang berkata “ah”? Menurut imam Al-Sya’rawi dalam Khawatir haul Al-Qur’an Al-Karim, kata “ah” dalam ayat ini merupakan ucapan spontan yang keluar ketika seseorang berada dalam kondisi kesal. Menariknya, keluarnya kata ini tidak melewati proses berpikir, atau dengan kata lain tidak ada pilihan manusia di dalamnya.

Namun, justru Allah melarang hal ini. Apakah artinya Allah melarang sesuatu yang bukan pada kendali manusia? Tentu saja tidak. Yang ditekankan dalam kalimat ini adalah supaya manusia lebih berhati-hati terhadap setiap perasaan yang terlintas di hati dan ucapan yang muncul, sebab spontanitas lisan merupakan cerminan dari kondisi batin.

Orang yang hatinya mudah tersinggung akan lebih mudah mengucapkan kalimat-kalimat buruk secara spontan. Maka dari itu, dalam hal ini kuncinya terletak pada kemampuan pengendalian diri dan latihan batin seseorang, agar tidak mudah mengucapkan sesuatu tanpa melewati proses berpikir yang matang.

Baca Juga: Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak Perspektif Alquran

Manifestasi Qaulan Kariman

Ayat ini ditutup dengan frasa “qaulan kariman”. Menurut Imam Al-Sya’rawi, frasa tersebut merupakan bentuk kebijaksanaan dan tata krama dalam memperlakukan orang tua, terutama ketika usia senja atau dalam kondisi sakit. Sebab ketika orang tua dalam keadaan susah, sempit, atau membutuhkan pertolongan, di saat itulah sikap sang anak diuji sepenuhnya.

Qaulan kariman bukan hanya dalam bentuk perkataan, tapi juga termanifestasi dalam berbagi situasi seperti kesabaran dalam merawat, ketulusan dalam menjalankan perintah, dan kepekaan terhadap kebutuhan orang tua. Artinya, qaulan kariman bukanlah sesuatu yang dilakukan secara kebetulan, melainkan ia merupakan kesabaran yang terus dijaga, keikhlasan yang terus dirawat, serta hasil dari kecerdasan emosional yang dimiliki oleh anak yang berbakti.

Dalam merawat orang tua, seyogyanya sang anak berkaca pada pola kasih sayang orang tua. Imam Al-Sya’rawi menyebutkan bahwa kasih sayang orang tua semakin besar ketika anak dalam kondisi kesulitan. Oleh karena itu sering ditemukan, orang tua yang lebih menyayangi anak yang fakir daripada anak yang kaya, anak yang sakit lebih diperhatikan daripada saudaranya yang sehat, anak yang merantau lebih dirindukan daripada yang ada di hadapan, dan anak yang masih kecil lebih dicintai daripada yang sudah dewasa. Sebab, kasih sayang sang pendidik selalu selaras dengan kebutuhan orang yang dididik.

Maka dari itu, ketika orang tua semakin bertambah tua, bertambah lemah fisiknya, muncul berbagai penyakit, dan kesulitan lainnya, hendaknya sang anak semakin menguatkan batinnya dan menumbuhkan tekad untuk merawat dengan sepenuh hati, sebagaimana rasa cinta orang tua yang semakin tinggi ketika anaknya menghadapi masa sulit. Semoga kita tergolong sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tua. Waallahu a’lam

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini