(Artikel adalah pemenang juara 1 essai dalam kegiatan “Semarak IAT 2026” yang diselenggarakan oleh HMJ IAT UIN Walisongo Semarang)
Pendahuluan
Pondok pesantren tahfidz Al-Qur’an di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sebagai pilar pendidikan keagamaan berbasis karakter. Berdasarkan data Education Management Information System (EMIS) Kementerian Agama per 28 September 2025, Jawa Barat tercatat memiliki 12.977 pondok pesantren, disusul Jawa Timur dengan 7.347 pesantren, dan Banten sebanyak 6.776 pesantren (Kemenag Labura, 2025). Maraknya lembaga tahfidz ini mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur’an.
Namun, keberhasilan menghafal selama di pesantren tidak menjamin keberlangsungan hafalan pasca menjadi alumni. Nabilah (2022) menemukan bahwa alumni Pesantren Darul Al-Qur’an Mulia mengalami kesulitan signifikan dalam mempertahankan hafalan setelah keluar dari pesantren, akibat hilangnya fasilitas, teman muraja’ah, serta bimbingan ustaz/ustazah yang sebelumnya tersedia. Kondisi serupa turut ditemukan pada problematika manajemen waktu dan konsistensi muraja’ah santri tahfidz (Ummah et al., 2025), yang menegaskan bahwa tantangan mempertahankan hafalan bersifat lintas lembaga.
Persoalan ini menjadi lebih kompleks bagi kelompok disabilitas, khususnya sahabat tuli. Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 4,9 juta penyandang disabilitas tuli di Indonesia, dengan 4,5 juta di antaranya beragama Islam dan berkewajiban mempelajari Al-Qur’an (Kompas, 2025). Meski Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 Pasal 14 huruf c menjamin hak keagamaan yang mudah diakses bagi difabel, ketersediaan media belajar seperti mushaf Al-Qur’an isyarat masih sangat terbatas dan berharga tinggi (Kompas, 2025). Ditambah lagi, perbedaan sistem isyarat yang digunakan pengajar dan siswa tuli, seperti BISINDO dan SIBI, kerap menimbulkan miskomunikasi dalam pembelajaran Al-Qur’an (Hala et al., 2025).
Berdasarkan kesenjangan tersebut, penulis menggagas “ReciteAura” sebuah platform digital berbasis computer vision dan avatar BISINDO yang dirancang untuk mendampingi proses muroja’ah, tidak hanya bagi penghafal pada umumnya, tetapi juga secara inklusif bagi sahabat tuli.
Pembahasan

Gambar 1. Logo ReciteAura (Sumber: Desain Pribadi)
Berangkat dari kesenjangan tersebut, penulis menggagas ReciteAura, sebuah platform digital berbasis computer vision dan avatar bahasa isyarat Indonesia (BISINDO) yang dirancang untuk mendampingi proses muroja’ah secara mandiri, interaktif, dan inklusif. Nama ReciteAura merupakan gabungan dari kata Recite yang bermakna membaca atau menghafal Al-Qur’an, dan Aura yang merepresentasikan unsur visual sebagai medium utama pembelajaran bagi pengguna tuli. Lebih dari sekadar aplikasi pengingat hafalan, ReciteAura diposisikan sebagai pendamping virtual yang menghadirkan pengalaman setoran hafalan layaknya berhadapan langsung dengan seorang ustaz atau ustazah.
Sasaran utama ReciteAura adalah seluruh penghafal Al-Qur’an, baik masyarakat pada umumnya maupun penyandang disabilitas tuli, sebagai wujud aktualisasi anjuran Rasulullah ﷺ untuk senantiasa menjaga hafalan, sebagaimana sabdanya: “Jagalah (hafalan) Al-Qur’an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an itu lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya” (HR. Bukhari nomor 5031 dan Muslim nomor 789).
Gagasan ini muncul setelah penulis menelaah dua platform muroja’ah yang telah lebih dahulu berkembang, yakni The Hafiz dan Tarteel. Aplikasi The Hafiz dikembangkan dengan metode Extreme Programming dan menyediakan
fitur audio murotal serta uji hafalan berbasis tulisan maupun suara, dengan capaian Mean Opinion Score sebesar 4,56 dari 27 responden (Aditia et al., 2023). Meski demikian, aplikasi tersebut masih belum mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas, serta baru berfungsi sebagai alat uji hafalan otomatis tanpa kehadiran figur pembimbing yang responsif; peneliti bahkan menyarankan pengembangan lanjutan berupa kecerdasan buatan yang dapat menyesuaikan soal dengan titik lemah hafalan pengguna, yang berarti fitur tersebut belum tersedia (Aditia et al., 2023).
Sementara itu, Tarteel: aplikasi berbasis Artificial Intelligence yang mendeteksi kesalahan bacaan secara real-time terbukti menarik minat awal santri, namun tidak mampu meningkatkan motivasi muroja’ah secara signifikan karena santri tetap merasa lebih nyaman menyetorkan hafalan langsung kepada guru dibandingkan kepada sistem (Azzahra & Lestari, 2025). Keterbatasan lain dari Tarteel meliputi minimnya interaksi manusiawi, umpan balik yang belum menyeluruh, serta ketiadaan fitur yang mengakomodasi pengguna tuli (Aziz & Parmono, 2025, dalam Azzahra & Lestari, 2025).
Dari kedua temuan ini, penulis mengidentifikasi bahwa kekosongan utama pada platform muroja’ah yang ada terletak pada minimnya figur pembimbing yang humanis secara visual serta ketiadaan aksesibilitas bagi sahabat tuli, dua aspek yang justru menjadi inti pengembangan ReciteAura.
ReciteAura menghadirkan sejumlah fitur unggulan yang membedakannya dari platform sejenis. Pertama, Muroja’ah Practice, yaitu fitur setoran hafalan langsung bersama avatar kecerdasan buatan bernama Ustaz Aufa dan Ustazah Ara yang telah diprogram sesuai kaidah tajwid dan makhraj Al-Qur’an, serta mampu mengoreksi kesalahan bacaan pengguna layaknya seorang pengajar. Ustaz Aufa dan Ustazah Ara: nama ini diambil dari ‘aura’ pada aplikasi ‘ReciteAura’ sehingga keduanya memiliki keterkaitan dengan aplikasi ini.
Kedua, fitur Sahabat Tuli, yang memungkinkan pengguna tuli melakukan setoran melalui tampilan menyerupai panggilan video, di mana Ustaz Aufa/Ustazah Ara mengisyaratkan bacaan dalam BISINDO; layar akan berubah merah ketika isyarat pengguna keliru, disertai peragaan isyarat yang benar sebagai koreksi. Ketiga, Al-Qur’an Digital sebagai fitur pendukung agar pengguna dapat membaca Al-Qur’an kapan pun dan di mana pun saat dibutuhkan. Keempat, Streak, akan menyala otomatis apabila pengguna menyelesaikan muroja’ah minimal dua halaman per hari.
Kelima, sistem koin sebagai insentif; streak 30 hari berturut-turut menghasilkan 3.000 koin, lalu dapat dicairkan menjadi e-money setelah terkumpul15.000 koin, guna memotivasi keberlanjutan hafalan. Penulis menyadari bahwa insentif material berpotensi menimbulkan pertanyaan terkait keikhlasan niat dalam menghafal Al-Qur’an. Namun, sistem ini dirancang sebagai penguat kebiasaan di fase awal, sebagaiman prinsip taddaruj (bertahap) dalam pembinaan ibadah.
Keenam, fitur Rating and Report untuk evaluasi berkelanjutan. Ketujuh, Jadwal Sholat sebagai fitur pendukung ibadah harian. Kedelapan, fitur Pro bagi pengguna berlangganan agar dapat mengakses layanan setoran tanpa batasan waktu, sementara pengguna gratis dibatasi 90 menit per-hari. Untuk bisa mendapatkan fitur pro ReciteAura memberi harga Rp 55.000/bulan atau Rp 600.000/tahun.
Dari sisi keamanan dan kenyamanan, ReciteAura menerapkan sistem verifikasi berbasis NIK dan tes suara guna memastikan kesesuaian gender antara pengguna dan pembimbing virtual, pengguna perempuan hanya dapat menyetor kepada Ustazah Ara, dan sebaliknya pengguna laki-laki hanya dapat menyetor kepada Ustaz Aufa, sejalan dengan syari’at dalam interaksi keagamaan. Penggunaan aplikasi diawali dengan pengunduhan melalui PlayStore atau AppStore, dilanjutkan pendaftaran akun menggunakan email, NIK, konfirmasi suara melalui bacaan basmalah, serta verifikasi wajah.
Sistem secara otomatis akan menampilkan avatar pembimbing sesuai gender yang terdeteksi sebelum pengguna memulai sesi muroja’ah. Namun, ReciteAura berkomitmen menerapkan enkripsi end-to-end serta kepatuhan terhadap UU tentang perlindungan data pribadi sehingga tidak menyimpan data dalam bentuk mentah setelah proses pencocokan gender selesai.
Dengan integrasi teknologi computer vision untuk pengenalan isyarat BISINDO dan avatar kecerdasan buatan yang responsif, ReciteAura tidak hanya menjawab persoalan hilangnya pendamping muroja’ah pascapesantren, tetapi juga membuka akses keagamaan yang setara bagi sahabat tuli, sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang hak keagamaan penyandang disabilitas.
Penutup
Hambatan yang biasanya dialami para penghafal Al-Qur’an (termasuk sahabat tuli) setelah menjadi alumni atau ketika liburan pondok adalah kesulitan muraja’ah. Hal ini disebabkan karena tidak adanya partner muraja’ah atau kesulitan dalam manajamen waktu sehingga memerlukan solusi yang komprehensif. Karena penulis belum menemukan aplikasi digital yang memfasilitasi seluruh kebutuhan penghafal Al-Qur’an, maka penulis menggagas sebuah ide untuk menyelesaikan masalah yang telah banyak dirasakan oleh para santri.
Hadirnya aplikasi ReciteAura menjadi solusi responsif berbasis computer vision dan BISINDO avatar. Aplikasi ini secara jelas menawarkan fasilitas muraja’ah bersama Ustaz/ah kecerdasan buatan secara real-time, humanis, dan interaktif yang telah di program sedemikian rupa agar sesuai dengan standar ilmu ilmu Al-Qur’an. Terakhir, untuk terus dapat mengembangkan aplikasi ini, ReciteAura secara terbuka menerima kritik dan saran para pengguna demi kenyamanan bersama melalui fitur Rating & Report. ReciteAura merupakan wujud nyata bahwa generasi muda tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi bisa menjadi inisiator solusi berbasis nilai-nilai Al-Qur’an yang inklusif bagi seluruh lapisan umat, termasuk kelompok penyandang disabilitas tuli.













