Hari Raya Idul Adha hampir selalu menghadirkan kembali satu fragmen besar dalam sejarah spiritual umat manusia: kisah Nabi Ibrāhīm as. dan putranya yang diperintahkan untuk disembelih. Kisah ini bukan sekedar narasi pengorbanan, melainkan refleksi mendalam tentang tauhid yang membentuk imajinasi keagamaan umat Islam sepanjang sejarah. Ia dibaca di mimbar-mimbar, diajarkan di madrasah-madrasah, dihidupkan dalam ritual kurban, dan menjadi simbol puncak kepatuhan manusia kepada Tuhan.
Namun, apakah inti kisah itu hanya terletak pada kepatuhan dan penyembelihan? Ataukah Al-Qur’an justru sedang mengarahkan manusia kepada sesuatu yang lebih dalam: pendidikan spiritual, dialog kasih antara ayah dan anak, serta transformasi makna pengorbanan?
Pertanyaan semacam ini menjadi menarik ketika qiṣṣah al-żabīḥ dibaca melalui tafsir modern, seperti al-Taḥrīr wa al-Tanwīr karya Muḥammad al-Tāhir b. ‘Āsyūr dan Tafsīr al-Munīr karya Wahbah al-Zuḥailī. Keduanya sama-sama hidup di era modern, tetapi menghadirkan penekanan yang berbeda. Ibn ‘Āsyūr cenderung menonjolkan dimensi psikologis dan kebahasaan Al-Qur’an, sedangkan al-Zuḥailī lebih memberi perhatian pada aspek historis, teologis, dan fikih kehidupan. Membaca keduanya secara bersamaan membuat pesan spiritual kisah ini terasa lebih kaya dan relevan untuk kehidupan modern.
Baca Juga: Ujian Nabi Ibrahim; Antara Ketaatan kepada Allah dan Kasih Sayang terhadap Keluarga
Kabar Gembira tentang Kelahiran Seorang Anak yang Ḥalīm
Kisah tersebut dimulai dengan kabar gembira kepada Ibrāhīm:
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat santun.”
Bagi Ibn ‘Āsyūr, susunan ayat ini sangat penting. Huruf fā’ pada “fa-basysyar-nā-hū” menunjukkan hubungan langsung dengan doa Ibrāhīm sebelumnya yang memohon keturunan saleh. Anak itu dipahami sebagai jawaban atas harapan panjang Ibrāhīm untuk memiliki penerus dari darah dagingnya sendiri.
Menurut Ibn ‘Āsyūr, anak yang dimaksud adalah Ismail. Ia membedakan secara tegas antara penyifatan Ismā‘īl sebagai “ghulām ḥalīm” dan penyifatan Isḥāq sebagai “ghulām ‘alīm” pada ayat lain. Perbedaan sifat itu bukan sekedar variasi retoris, melainkan penanda identitas yang berbeda. Kata “ḥalīm” sendiri mendapat perhatian khusus. Menurut Ibn ‘Āsyūr, ia bukan sekedar berarti “penyabar” atau “penyantun”, melainkan mencakup kedewasaan jiwa, keluasan akal, kelembutan, dan kemuliaan akhlak. Sejak awal, Al-Qur’an seolah sedang mempersiapkan pembaca bahwa anak ini memiliki kesiapan spiritual untuk menghadapi ujian yang luar biasa berat.
Al-Zuḥailī juga menguatkan pendapat bahwa Ismā‘īl adalah al-żabīḥ. Ia menyebut susunan ayat Al-Qur’an sendiri mendukung kesimpulan itu: mula-mula disebut “ghulām ḥalīm”, lalu kisah penyembelihan, dan setelah semuanya selesai barulah datang kabar gembira tentang Ishāq dalam QS. al-Ṣāffāt [37]: 112. Ia juga menyinggung kemungkinan adanya pengaruh Isrā’īliyyāt dalam sebagian riwayat yang menyebut Ishāq sebagai anak yang hendak disembelih.
Namun, terlepas dari perdebatan identitas tersebut, inti kisah ini sebenarnya bukan terletak pada siapa yang disembelih, melainkan bagaimana Al-Qur’an membangun makna pengorbanan itu sendiri.
Ujian yang Begitu Dahsyat melalui Perintah yang Lembut
Kisah kemudian bergerak ke fase yang sangat emosional:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ
“Ketika anak itu sampai pada usia mampu bekerja bersamanya..”
Ayat ini bukan sekedar penanda usia remaja. Menurut Ibn ‘Āsyūr, ungkapan itu menunjukkan fase ketika hubungan emosional ayah dan anak mencapai kedalaman yang sangat kuat. Ismā‘īl bukan lagi bayi yang baru lahir, melainkan sahabat perjalanan ayahnya, teman bekerja, dan tumpuan harapan masa depan.
Di titik itulah ujian dimulai. Ibrāhīm diperintahkan mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya. Bukan sesuatu yang jauh dari dirinya, tetapi justru pusat harapan hidupnya sendiri.
Ketika Ibrāhīm berkata:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu.”
Menurut Ibn ‘Āsyūr, mimpi para nabi adalah wahyu yang wajib dilaksanakan. Namun, ia melihat adanya kelembutan Ilahi dalam cara penyampaian perintah itu. Allah tidak memerintah secara langsung dalam keadaan sadar, melainkan melalui mimpi. Hal tersebut dipahami sebagai bentuk pemuliaan bagi Ibrāhīm. Perintah yang begitu berat disampaikan dengan cara yang lebih memberi ruang kontemplasi dan ketenangan jiwa.
Baca Juga: Kisah Rencana Penyembelihan Nabi Ismail dan Asal-Usul Ibadah Kurban
Dialog Spiritual antara Ibrāhīm dan Ismā‘īl
Kemudian, yang nampak paling menarik dari kisah ini justru terletak pada dialog antara ayah dan anak. Ibrāhīm tidak memaksakan kehendaknya secara sepihak. Ia berkata:
فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
“Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Bagi Ibn ‘Āsyūr, pertanyaan itu bukan tanda keraguan terhadap wahyu, melainkan bentuk penghormatan kepada Ismā‘īl sebagai subjek spiritual. Ibrāhīm tidak menjadikan anaknya objek pasif dari kehendak religius sang ayah. Ia justru mengajak Ismā‘īl masuk ke dalam kesadaran tauhid yang sama.
Di sini, Al-Qur’an pun memperlihatkan model pendidikan keluarga yang dialogis, bahkan dalam situasi paling ekstrem sekalipun. Agama tidak dihadirkan melalui otoritarianisme, tetapi melalui komunikasi dan kesadaran bersama.
Lantas, respons Ismā‘īl pun menjadi salah satu jawaban indah dalam Al-Qur’an:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Menariknya, Ismā‘īl tidak berkata “ażbiḥ-nī”/“sembelihlah aku”, melainkan “if‘al mā tu’mar”/“lakukan apa yang diperintahkan kepadamu”. Fokusnya bukan pada dirinya sendiri, tetapi pada kepatuhan kepada Tuhan. Bahkan, menurut Ibn ‘Āsyūr, ungkapan itu sekaligus menghibur sang ayah: bahwa Ibrāhīm tidak sedang mengikuti keinginan pribadi, melainkan menjalankan amanah Ilahi.
Lalu, Ismā‘īl juga menambahkan:
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Dalam pembacaan al-Zuḥailī, ungkapan “insyā Allāh” menunjukkan bahwa kesabaran bukan sekedar kekuatan mental manusia, melainkan pertolongan Tuhan. Bahkan dalam kepasrahan, manusia tetap menyadari keterbatasannya di hadapan Allah.
Baik Ibn ‘Āsyūr maupun al-Zuḥailī, keduanya pun sepakat bahwa tujuan utama perintah tersebut bukanlah penyembelihan literal. Ibn ‘Āsyūr menyebutnya sebagai “amr ibtilā’”, yakni perintah ujian, bukan legislasi syariat. Jika tujuan utamanya memang penyembelihan, tentu perintah itu tidak akan dibatalkan sebelum terlaksana.
Dari al-Żabīh menuju Simbol Spiritual
Oleh karena itu, inti kisah ini bukan tentang darah, melainkan pembuktian ketulusan tauhid. Allah ingin memperlihatkan bahwa Ibrāhīm mampu melepaskan bahkan sesuatu yang paling dicintainya demi Tuhan. Dan ketika ketulusan itu telah terbukti, penyembelihan tidak lagi diperlukan.
Maka Al-Qur’an berkata:
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Kami menebusnya dengan seekor sembelihan yang besar.”
Di sinilah kurban menemukan makna simboliknya. Yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging, melainkan ketakwaan manusia. Penyembelihan hewan hanyalah simbol lahiriah dari kesediaan batin untuk melepaskan ego, ambisi, dan keterikatan duniawi.
Oleh karena itu, Idul Adha sejatinya bukan perayaan darah dan daging, melainkan perayaan ketundukan spiritual. Kisah Ibrāhīm juga memperlihatkan bahwa kepatuhan religius tidak identik dengan kekerasan. Tuhan pada akhirnya tidak menghendaki darah manusia. Sebaliknya, Al-Qur’an justru menghadirkan humanisasi ritual keagamaan: dari pengorbanan manusia menuju simbolisasi spiritual melalui hewan kurban.
Pesan ini pun sangat relevan hari ini. Di tengah masyarakat yang semakin materialistik, kisah Ibrāhīm mengingatkan bahwa manusia tidak boleh diperbudak oleh apa pun yang dicintainya: harta, jabatan, anak, bahkan masa depan. Semua itu tidak boleh menggeser posisi Tuhan dalam hati manusia.
Menariknya lagi, Al-Qur’an juga menutup kisah ini dengan penegasan penting:
وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ
“Sebagian keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada pula yang terang-terangan menzalimi dirinya sendiri.”
Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan nasab tidak otomatis menjamin kemuliaan spiritual. Bahkan, keturunan Ibrāhīm sekalipun tidak akan mulia bila tidak meneladani iman dan ketakwaannya. Di sinilah Al-Qur’an meruntuhkan aristokrasi spiritual berbasis garis keturunan. Kemuliaan tidak diwariskan oleh darah, tetapi dibangun oleh iman dan amal.
Baca Juga: Menyembelih Ego dan Sifat Kepemilikan di Hari Raya Kurban
Penutup: Apa “Ismā‘īl” yang Paling Sulit Kita Lepaskan dalam Hidup Ini?
Pada akhirnya, qiṣṣah al-żabīḥ bukan sekedar cerita penyembelihan. Ia adalah kisah tentang cinta dan pelepasan, dialog dan kepatuhan, ujian dan kelembutan Tuhan. Mungkin karena itu pula Al-Qur’an tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa Ibrāhīm menyembelih putranya. Yang dipuji justru kesediaannya untuk melakukannya.
Sebab, inti pengorbanan dalam Al-Qur’an bukan terletak pada darah yang mengalir, melainkan pada hati yang rela tunduk sepenuhnya kepada Tuhan. Maka pertanyaan terpenting bagi manusia hari ini bukan lagi: “Siapa al-żabīḥ itu?” melainkan: “Apa Ismā‘īl yang paling sulit kita lepaskan dalam hidup ini?” Apakah ia berupa harta yang terlalu kita genggam erat, tahta yang sampai membuat lupa akhirat, atau bahkan sifat “kehewanan” yang masih melekat kuat.













