Beranda blog Halaman 315

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 26

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 26 berbicara mengenai rizki yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada hambanya. Ada sebagian hambanya yang diberi lebih banyak dari pada yang lain. Hal itu terjadi tergantung bagaimana usaha seseorang tersebut.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 25


Ayat 26

Allah melapangkan dan memudahkan rezeki bagi sebagian hamba yang dikehendaki-Nya, sehingga mereka memperoleh rezeki yang lebih dari keperluan sehari-hari. Mereka adalah orang-orang yang rajin dan terampil dalam mencari harta, dan melakukan bermacam-macam usaha. Selain itu, mereka hemat dan cermat serta pandai mengelola dan mempergunakan harta bendanya itu.

Sebaliknya, Allah juga membatasi rezeki bagi sebagian hamba-Nya, sehingga rezeki yang mereka peroleh tidak lebih dari apa yang diperlukan sehari-hari. Mereka biasanya adalah orang-orang pemalas dan tidak terampil dalam mencari harta, atau tidak pandai mengelola dan mempergunakan harta tersebut.

Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki hamba-Nya berdasarkan hikmah serta pengetahuan-Nya tentang masing-masing hamba itu. Kedua hal tersebut tidak ada hubungannya dengan kadar keimanan dan kekafiran hamba-Nya. Oleh karena itu, ada kalanya Allah menganugerahkan rezeki yang banyak kepada hamba-Nya yang kafir.

Sebaliknya, kadang-kadang Allah menyempitkan rezeki bagi hamba yang beriman untuk menambah pahala yang kelak akan mereka peroleh di akhirat. Maka kekayaan dan kemiskinan adalah dua hal yang dapat terjadi pada orang-orang beriman maupun yang kafir, yang saleh ataupun yang fasik.

Ayat ini selanjutnya menceritakan bahwa kaum musyrik Mekah yang suka memungkiri janji Allah, sangat bergembira dengan banyaknya harta benda yang mereka miliki, dan kehidupan duniawi yang berlimpah-ruah, dan mereka mengira bahwa harta benda tersebut merupakan nikmat dan keberuntungan terbesar.

Oleh sebab itu, pada akhir ayat ini Allah menunjukkan kekeliruan mereka, dan menegaskan bahwa kenikmatan hidup duniawi ini hanyalah merupakan kenikmatan yang kecil, pendek waktunya, serta mudah dan cepat hilang, dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat yang besar nilainya dan sepanjang masa.

Dengan demikian, tidaklah pada tempatnya bila mereka bangga dengan kenikmatan di dunia yang mereka rasakan itu.


Baca juga: Penjelasan tentang Kebaikan di Akhirat dalam Surah al-Baqarah Ayat 201


Dalam hubungan ini, riwayat yang disampaikan oleh Imam at-Tirmi©³ dari Ibnu Mas‘µd menyebutkan sebagai berikut:

نَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيْرٍ وَقَدْ اَثَّرَ فِى جَنْبِهِ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً، فَقَالَ مَا لِى وَلِلدُّنْيَا مَا اَنَا فِى الدُّنْيَا اِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا.

(رواه الترمذي عن ابن مسعود)

Pernah Rasulullah tidur di atas sehelai tikar kemudian beliau bangun dari tidurnya, dan kelihatan bekas tikar itu pada lambungnya, lalu kami berkata, “Ya Rasulullah seandainya kami ambilkan tempat tidur untukmu?” Rasulullah bersabda, “Apalah artinya dunia ini bagiku. Aku hidup di dunia ini hanya laksana seorang pengendara yang berteduh sejenak di bawah pohon, kemudian ia berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu.” (Riwayat at-Tirmizi dari Ibnu Mas’ud)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 27-30


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 25

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 25 berbicara mengenai perjanjian antara Allah dan manusia. Salah satu di antara perjanjiannya adalah wajib mengesakan Allah, beriman kepada Rasul-Nya serta wahyu yang diturunkan dari-Nya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 23-24


Ayat 25

Ada beberapa perjanjian antara Allah dan manusia, di antaranya adalah manusia wajib mengakui kemahaesaan Allah serta kodrat dan iradat-Nya, beriman kepada para nabi-Nya dan wahyu yang diturunkan-Nya, dan sebagainya. Allah swt telah memberikan bukti-bukti dan dalil-dalil yang nyata atas semua itu. Akan tetapi, pada kenyataannya ada di antara manusia yang telah merusak perjanjian tersebut, dalam arti:

  1. Mereka tidak memperhatikan janji-janji tersebut, sehingga mereka tidak dapat melaksanakan kewajiban yang merupakan akibat yang timbul dari perjanjian itu. Misalnya, bila mereka benar-benar berpegang teguh kepada tauhid, mereka tentunya tidak akan beribadah kepada selain Allah. Allah memberikan bukti-bukti yang nyata tentang kemahaesaan-Nya. Akan tetapi, mereka tidak memperhatikan sehingga mereka tetap menentang landasan tauhid tersebut. Mereka senantiasa menganut kepercayaan syirik, mempercayai dan menyembah selain Allah.
  2. Pada mulanya mereka memperhatikan janji-janji yang telah mereka ikrarkan dan dalil-dalil yang telah diberikan. Mereka telah mengakui dan meyakini kebenarannya, tetapi kemudian mereka menyangkal kebenaran itu, dan tidak lagi bersedia mengamalkannya.

Orang yang suka memungkiri dan menyalahi janji yang telah diikrarkan dinamakan “munafik”. Dalam hubungan ini Rasulullah saw telah bersabda:

;عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اٰيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَ إِذَا ائْتُمِنَ خَانَ.

(رواه مسلم و الترمذي و النسائى);

Abi Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga macam: apabila ia berkata, ia selalu bohong, apabila ia berjanji selalu ingkar, dan apabila ia dipercayai berkhianat.” (Riwayat Muslim, at-Tirmizi dan an-Nasa’i)

Dalam menafsirkan ayat 25 ini, Abu al-Aliyah, seorang mufasir, me-nyebutkan bahwa ada enam macam sifat orang-orang munafik yang mereka tampakkan jika mereka merasa memiliki posisi yang kuat dalam satu masyarakat, yaitu:

  1. Apabila berbicara, mereka berbohong.
  2. Apabila berjanji, mereka ingkar.
  3. Apabila diberi kepercayaan, mereka berkhianat.
  4. Suka mengingkari janji Allah yang telah mereka ikrarkan sebelumnya.
  5. Suka memutuskan silaturrahim yang diperintahkan Allah untuk di-hubungkan dan dipelihara seperti hubungan dengan para Nabi-Nya yang telah datang membawa kebenaran. Mereka hanya beriman kepada sebagian dari para nabi tersebut, dan kafir terhadap sebagian yang lainnya.

Mereka juga memutuskan silaturrahim antara sesama manusia terutama dengan orang-orang mukmin, tetapi mereka tetap menjaga hubungan dan memberikan bantuan kepada orang-orang kafir. Di antara contohnya adalah mereka menghalang-halangi setiap usaha yang menuju kepada pembinaan kehidupan yang harmonis dan penuh kasih sayang. Mereka tidak sudi melihat terwujudnya persatuan dan kesatuan antara orang-orang mukmin, seperti yang dianjurkan Rasulullah:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

(رواه البخاري ومسلم و الترمذي عن أبي موسى الأشعري)

Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain haruslah seperti suatu bangunan, bagian yang satu menguatkan bagian yang lain. (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmizi dari Abu Mµsa al-Asy’ari)

Dan Sabda Rasulullah saw:

اَلْمُؤْمِنُ كَالْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعٰى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ.

(رواه البخاري ومسلم عن النعمان بن بشير)

Orang-orang mukmin itu adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggotanya menderita sakit, maka anggota-anggota yang lain pun rela pula menderita karena tidak tidur dan merasa demam karenanya. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir)

Oleh sebab itu, umat Islam haruslah hati-hati dalam menjaga kesatuan dan persatuan antara mereka, jangan dimasuki hasutan dan usaha-usaha kaum munafik untuk memecah belah persatuan itu.


Baca juga: Mengenal Kajian Resepsi-Living Qur’an Ahmad Rafiq


  1. Mereka suka berbuat kerusakan di bumi, baik berupa kezaliman yang mereka lakukan terhadap diri sendiri maupun kezaliman yang mereka lakukan terhadap hak milik orang lain dengan jalan yang tidak sah, ataupun dengan menimbulkan fitnah dan bencana dalam masyarakat Muslimin, dan mengobarkan permusuhan dan peperangan terhadap mereka.

Pada akhir ayat ini, Allah menetapkan hukuman yang layak untuk ditimpakan kepada orang munafik mengingat jahatnya kelakuan dan perbuatan-perbuatan mereka. Hukuman tersebut ialah berupa laknat Allah, yaitu menjauhkan mereka dari rahmat-Nya, sehingga mereka tersingkir dari kebaikan dunia dan akhirat. Mereka akan menemui kesudahan yang sangat buruk, yaitu azab neraka Jahanam, sebagai balasan dari kejahatan dan dosa-dosa yang telah mereka perbuat.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 26


(Tafsir Kemenag)

Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Melalui Matahari dalam Al-Quran

0
Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Melalui Matahari
Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Melalui Matahari

Salah satu fungsi umum matahari adalah sebagai sumber energi yang paling besar di dunia. Berbicara tetang matahari, ada sebuah kisah Nabi Ibrahim a.s. tatkala mencari Tuhannya melalui pengalaman empiris, sehingga ia berhasil menemukan Tuhan yang sebenarnya, yaitu Allah swt selaku pencipta langit dan bumi (inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathara samawati wal ardh). Kisah ini begitu menarik karena ada peran Matahari dalam proses pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Kisah ini juga diabadikan dalam firman-Nya Q.S. al-An’am [6]: 78,

فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (Q.S. al-An’am [6]: 78)

Baca juga: Kajian Semantik Makna Kata Khauf dalam Al-Quran

Energi Matahari dalam Tafsir

Ayat di atas menceritakan prosesi pencarian jati diri Nabi Ibrahim dengan sangat gamblang. Sebenarnya ayat ini saling terkait dengan beberapa ayat sebelumnya, persisnya dari ayat 74-79. Namun pada kesempatan ini, penulis mengulas ayat di atas sebagai core pembahasan. Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkannya dengan tatkala Nabi Ibrahim melihat matahari terbit, tepatnya al-Tabari menggunakan term thali’ah (طالعة), artinya meriset, meneliti, mengkaji dan mengamati.

Jadi Nabi Ibrahim meriset betul apakah benar bahwa Tuhan itu besar? Al-Tabari mengisahkannya dengan haadza akbar min al-kawakib wal qamari (ini adalah bintang terbesar). Akan tetapi, ternyata ia berkesimpulan bagaimana mungkin ia disebut sebagai Tuhan karena ia dapat tenggelam dan terbit. Lalu, Nabi Ibrahim menyucikan pengetahuan dan pemahamannya tentang Tuhan sebagai berikut,

أي من عبادة الآلهة والأصنام ودعائه إلهاً مع الله تعالى

“(Aku berlepas diri) dari segala sesembahan berhala dan kembali kepada Allah ta’ala”.

Ayat ini juga mengkabarkan kepada kita sebagaimana perkataan al-Tabari,

وهذا خبر من الله تعالى ذكره عن خليله إبراهيم عليه السلام، أنه لما تبين له الحقّ وعرفه، شهد شهادة الحقّ، وأظهر خلاف قومه أهل الباطل وأهل الشرك بالله، ولم يأخذه في الله لومة لائم، ولم يستوحش من قيل الحقّ والثبات عليه، مع خلاف جميع قومه لقوله وإنكارهم إياه عليه

“Dan ini merupakan khabar dari Allah swt atas kisah pencarian kekasih-Nya, Nabi Ibrahim a.s. Bahwa tatkala telah tampak kebenaran baginya, dia telah menyaksikan dengan kesaksian yang haq, dan menampakkkan perselisihan, kebatilan dan kesyirikan umatnya. Dan dia tidak mempersalahkan orang yang mencela di hadapan Allah, ia tidak takut kepada celaan. Dia juga tidak merasa kesepian dari orang yang diberitahu kebenaran, ia merasa tabah atas-Nya sekalipun diterjang perbedaan dan pengingkaran dari umatnya”.

Baca juga: Surah Al-Maidah [5] Ayat 5: Hukum Hewan Sembelihan non-muslim, halalkah?

Sedangkan al-Raz dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkan ayat di atas bahwa sebenarnya Nabi Ibrahim telah mengantongi keyakinan yang mantap akan Allah swt sebagai Tuhan. Hal ini teruntai dalam argumentasi al-Razi,

الحجة الثانية: أن إبراهيم عليه السلام كان قد عرف ربه قبل هذه الواقعة بالدليل. والدليل على صحة ما ذكرناه أنه تعالى أخبر عنه أنه قال قبل هذه الواقعة لأبيه آزر:{ أَتَتَّخِذُ أَصْنَاماً ءالِهَةً إِنّى أراك وقومك في ظلال مبين } [الأنعام: 74]

“Argumen kedua: bahwa Ibrahim as, telah mengenal Tuhannya sebelum kejadian ini dengan mengantongi bukti empirik. Adapun bukti yang sahih sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya, “Pantaskah engkau (ayah Nabi Ibrahim) menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku telah melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata (Q.S. al-An’am [6]: 74)”

Lebih jauh, al-Razi menafsirkan proses pencarian jati diri Nabi Ibrahim ini bahwa Nabi Ibrahim mencari “agama” dan kebenaran atas dirinya dan keberadaan Tuhannya (kana yathlubu ad-din wal ma’rifati li nafsihi) dan ia berhasil menemukannya sehingga semakin mantaplah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah.

Sedikit berbeda, al-Qurtubi, misalnya ia lebih menafsiri ayat di atas dengan corak kebahasaan. Redaksi al-syamsa bazighatan oleh al-Qurtubi ditafsiri dengan ru’yatul ‘ain (penglihatan dengan indera mata). Jadi Nabi Ibrahim saat itu mengamati proses terbit tenggelamnya matahari menggunakan indera mata (hissi). Kemudian redaksi haadza rabbi (ini Tuhanku) bermakna ini adalah Tuhanku yang tinggi (haadza thali’u rabbi) sebagaimana diwartakan al-Kisa’i dan al-Akhfash. Dalam pendapat yang lain dikatakan, ini adalah cahaya (haadza dhau’).

Penafsiran dengan nuansa sufistik juga disampaikan al-Qusyairi. Dalam Lathaif al-Isyarat-nya, al-Qusyairi menuturkan,

ويقال قوله – عند شهود الكواكب والشمس والقمر – { هَـٰذَا رَبِّي } إنه كان يلاحظ الآثار والأغيار بالله، ثم كان يرى الأشياء لله ومن الله، ثم طالع الأغيار محواً في الله. أفردتُ قصدي لله، وطهَّرت عقدي عن غير الله، وحفظت عهدي في الله لله، وخلصت وجدي بالله، فإني لله وبالله، بل محو في الله والله الله

“Dijelaskan bahwa tatkala Nabi Ibrahim menyaksikan bintang-bintang, matahari dan bulan lalu mengatakan (ini Tuhanku), maka sesungguhnya ia telah melihat bekas (atsar) dan segala sesuatu yang lain mellaui Allah. Ia melihat sesuatu karena Allah, dari Allah. Kemudian Nabi Ibrahim memurnikan niat dan menghadapkan wajahnya, seraya berkata, “Aku berniat dan bermaksud untuk Allah, aku sucikan akidahku dari sesuatu selain Allah, aku jaga keyakinanku dan komitmenku hanya untuk Allah, dan aku ikhlas karena Allah, maka ketika itu keyakinan dan keimanan Nabi Ibrahim telah dipenuhi Allah Allah dan Allah”.

Baca juga: Kedudukan Nabi saw dan Wahyu Al-Quran Menurut Malek Bennabi

Keberadaan Matahari Sebagai Proses Pencarian Tuhan

Secara eksplisit, ayat di atas menunjukkan betapa sentralnya matahari sehingga Allah swt menjadikannya sebagai “pelajaran” bagi Nabi Ibrahim a.s atas prosesi pencarian kediriannya. Matahari ternyata tidak hanya mengilhami ilmu sains, namun juga ilmu agama. Posisi matahari telah menegaskan peran akal untuk mencerna dan mengolah informasi sedemikian rupa guna kepentingan ilmu pengetahuan di satu sisi dan keimanan (teologi) pada sisi yang lain.

Al-Ghazali menjelaskan hadirnya matahari telah mengilhami akal sehingga sumber cahaya, katanya adalah akal. Baginya, matahari hanya sebagai pemantik. Justru karena akal lah manusia dapat memproses energi yang ditimbulkan bulatan panas dan menghasilkan satu kemanfaatan bagi kehidupannya sehari-hari.

Muhammad Mahdi al-Asafi dalam kitabnya, al-Hawa fi Hadits ahl al-Bait, menandaskan bahwa akal mempunyai tiga peran dalam kehidupan manusia – belajar dari kisah Nabi Ibrahim di atas – yaitu (1) mengenal Allah adalah pangkal dan entry point tugas akal, (2) ketaatan mutal kepada segala perintah Allah sehinga ia kenal dengan rububiyah Allah dan menghasilkan satu ketaatan, dan (3) taqwa kepada Allah. Ketiga fungsi ini dijalankan dengan baik oleh Nabi Ibrahim sehingga ending-nya ia bertakwa kepada Allah dan semakin mantap kokoh keimanannya.

Dengan demikian, ayat di atas menjadi ibrah (hikmah) bagi kita semua ternyata semua ciptaan Allah tak terkecuali matahari dalam pembahasan ini mampu menjadi sumber ilmu agama yang mampu menguatkan dan memperkokoh keimanan kita kepada Allah. Semoga kita mampu memetik hikmah dari segala ciptaan-Nya. Wallahu A’lam.

 

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 23-24

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 23-24 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai orang-orang yang juga mendapatkan pengampunan akibat dari prilaku para Ulul Albab. Kedua berbicara mengenai salah satu nikmat ketika berada di surga.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 20-22


Ayat 23

Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak bukan hanya semata-mata yang memiliki sifat tersebut, melainkan juga orang-orang saleh di antara ibu-ibu dan nenek moyang mereka, demikian pula istri dan keturunan mereka yang terdekat.

Mereka ini pun akan turut pula merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan itu, selama mereka tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan mereka kehilangan hak untuk memperoleh rahmat Allah, misalnya karena kekafiran dan kemusyrikan kepada Allah. Ayat ini memberikan isyarat bahwa pada hari tersebut tidak berlaku hubungan kekeluargaan sedikit pun kecuali amal saleh masing-masing. Firman Allah:

فَاِذَا نُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَلَآ اَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ وَّلَا يَتَسَاۤءَلُوْنَ 

Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya. (al-Mu’minµn/23: 101);Dalam hubungan ini, Rasulullah saw pernah bersabda kepada putrinya Fatimah az-Zahra sebagai berikut:

;يَا فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ: سَلِيْنِىْ مِنْ مَالِىْ مَا شِئْتِ لاَ أُغْنِىْ عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا.

(رواه الترمذى عن أبي هريرة)

“Wahai Fatimah putri Muhammad! Mintalah dari hartaku apa yang kau inginkan karena aku sedikit pun tidak akan dapat menolongmu dari azab Allah.” (Riwayat at-Tirmizi dari Abu Hurairah)

Dalam Al-Qur’an,  Allah telah menegaskan pula sebagai berikut:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ    ٨٨  اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ   ٨٩ 

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (asy-Syu’ara’/26: 88-89)

Orang-orang yang menggunakan akalnya seperti yang tersebut di atas akan ditempatkan Allah kelak dalam surga-Nya. Mereka di sana duduk berhadap-hadapan di atas balai-balai yang indah disertai orang-orang yang mereka cintai, yaitu nenek moyang, kaum keluarga, dan anak-anak mereka, serta orang-orang yang patut masuk surga dari kalangan orang-orang yang saleh, agar hati mereka menjadi senang dan bahagia.

Hal itu merupakan rahmat dan kebaikan Allah swt kepada mereka. Selain itu para malaikat datang kepada mereka dari segala penjuru untuk memberikan ucapan selamat atas keberuntungan yang telah mereka peroleh, yaitu masuk surga. Mereka tinggal dalam rumah yang diliputi kesejahteraan, berdekatan dengan para nabi dan rasul serta orang-orang yang mengakui kebenaran agama Allah.


Baca juga: Matahari Sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam Menurut Al-Quran


Ayat 24

Dalam ayat ini, disebutkan bahwa para malaikat mendatangi penghuni surga sambil mengucapkan salam, “Semoga kamu aman dari segala hal yang tidak diinginkan dan ditakuti, yang telah merusak orang-orang selain kamu. Keberuntungan ini kamu peroleh berkat kesabaran dan penderitaan yang kamu alami selama menjalani kehidupan di dunia.”

Ibnu Jarir at-Tabari dan Ibnu Abi Hātim dari Umāmah meriwayatkan bahwa Nabi saw semasa hidupnya sering datang ke makam para syuhada pada setiap permulaan tahun. Di sana beliau membaca ayat tersebut. Hal semacam itu dilakukan pula oleh Abu Bakar, Umar, dan Usman r.a.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 25


(Tafsir Kemenag)

Kajian Semantik Makna Kata Khauf dalam Al-Quran

0
makna kata khauf dalam Al-Quran
makna kata khauf dalam Al-Quran

Tulisan kali ini akan membahas makna khauf dalam al-Quran dengan menggunakan pendekatan semantik. Dalam semantik al-Quran, terdapat tiga periode waktu semantik historis kosakata yakni pra-quranik, masa quranik, dan pasca-quranik.

Semantik sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang arti atau makna tanda pada suatu bahasa. Pendekatan semantik juga digunakan dalam memahami al-Quran, yakni disebut dengan semantik al-Quran. Istilah tersebut menjadi populer setelah diperkenalkan oleh Thosihiko Izutsu dalam bukunya yang berjudul “God  and  Man  in  the  Koran: Semantics of the Koranic Weltanschauung”.

Dalam buku tersebut, Izutsu menjelaskan semantik al-Quran sebagai kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci yang terdapat di dalam al-Quran dengan menggunakan bahasa al-Quran agar diketahui weltanschauung al-Quran, yaitu visi-misi qurani tentang alam semesta.

Baca Juga: Empat Makna Kata Khasyah dalam Al-Quran menurut Mufasir

Makna kata khauf masa pra-Quranik, Quranik dan pasca-Quranik

  1. Pra-Quranik

Pada periode ini, ditemukan beberapa syair yang memuat kata khauf. Syair-syair jahiliyah sendiri di masa ini, merupakan muara dalam memahami arti sebuah kosakata. Salah satunya adalah syair karya Abi al-Faraj al-Asfahani dalam kitabnya yang berjudul Al-Aghani. Bunyi syair tersebut yakni: “Akan  tetapi  jika  hidup  dengan  hati  yang  takut,  maka  hidup  bagiku tidak bahagia  matipun  tidak  dekat.  Aku  belajar  bahwasanya  sebab-sebabnya  ridho adalah  takut  meninggalkan,  dan  cintaku  mengajarkan  padanya  bagaimana  dia melumpuhkan.”

Dari penggalan syair tersebut, dapat diketahui makna kata khauf yang dimaksud adalah takut atas sesuatu yang menjadi penyebab tidak bahagia dan takut akan kehilangan sesuatu berharga yang dimilikinya.

  1. Masa Quranik

Pada periode ini, makna kata khauf disesuaikan dengan konteksnya, yakni tempat diturunkannya ayat-ayat tentang khauf. Kata khauf dalam ayat Makkiyah cenderung menunjukkan rasa takut atas sesuatu yang dapat membuat orang merasa tidak bahagia, seperti yang terdapat dalam QS. Ghafir: 30,

وَقَالَ الَّذِىۡۤ اٰمَنَ يٰقَوۡمِ اِنِّىۡۤ اَخَافُ عَلَيۡكُمۡ مِّثۡلَ يَوۡمِ الۡاَحۡزَابِۙ

Artinya: “Dan orang  yang beriman itu berkata, “Wahai kaum-ku!  Sesungguhnya  aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti hari kehancuran golongan yang bersekutu.”

Khauf pada ayat di atas menunjukkan rasa takut Nabi Nuh terhadap kaumnya yang akan ditenggelamkan dengan air bah oleh Allah sebab mengingkari ajaran Allah dan enggan bertaubat.

Sementara itu, pada ayat Madaniyah, khauf memiliki makna takut akan siksaan Allah Swt apabila mengingkari ajaran-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 38,

قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya : “Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Pada ayat ini makna khauf ditujukan pada rasa takut apabila tidak mengikuti petunjuk Allah. Sebaliknya, bagi seluruh keturunan Adam yang senantiasa patuh pada perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya, maka akan terhindar dari rasa khauf (takut) karena tersesat ataupun siksaan bagi mereka yang mengingkari-Nya.

  1. Pasca-Quranik

Pada periode ini terjadi perkembangan pemikiran oleh umat Islam yang kemudian lahir disiplin kajian filsafat, tasawuf, dan teologi. Sehingga, pada periode ini kata khauf -pun mengalami perkembangan makna. Kata khauf pada periode ini termasuk ke dalam bagian tasawuf. Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, mendefinisikan khauf yakni rasa sakit dalam hati akan takut terjadinya sesuatu yang tidak disukai. Selain itu, ia juga membagi khauf menjadi beberapa derajat (qasir,mufrith, dan mu’tadil) dan tingkatan (al-awam, al-khasah, dan al-khasah al-khasah).

Baca Juga: 12 Golongan yang Terhindar dari Keresahan Hati: Telaah Makna Khauf dalam Al-Quran (1)

Tafsir dan makna kata khauf  dalam Al-Quran

Adapun pengertian khauf secara bahasa berasal dari kata khafa-yakhafu-khaufan  (خَافَ-يَخَافُ-خَوْفًا)yang berarti takut. Menurut Al-Asfahani dalam kitabnya Mu’jam Mufradat Alfaz al-Quran, kata khauf berarti ketakutan akan suatu hal atau takut karena lemahnya seseorang itu. Selain digunakan dalam urusan ukhrawiyah, khauf juga dapat digunakan dalam hal duniawiyah.

Di dalam al-Quran, setidaknya terdapat 3 makna kata khauf, yakni taqwa (QS. An-Nisa: 9), berkurang (QS. An-Nahl: 47), dan al-‘ilmu (QS. Al-Baqarah: 182).

  1. Taqwa

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

(QS. An-Nisa: 9) Artinya:“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan taqwa sebagai rasa takut atas adzab Allah sebab melanggar apa yang telah diperitahkan dan dilarang oleh-Nya. Selain itu, dalam Ensiklopedia Al-Quran: Kajian Kosakata, M. Quraish Shihab juga menerangkan taqwa sebagai cara agar terhindar dari adzab Allah dengan mengikuti pentujuk-Nya dan menjauhi larangan-Nya seperti melaksanakan sholat lima waktu, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu.

  1. Berkurang

أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

(QS. An-Nahl: 47) Artinya: “Atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Menurut M. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah, kata takhawwuf berarti berkekurangan, misalnya diberikannya kemarau panjang, berlanjut dengan paceklik, wabah penyakit, terjadinya bencana alam, hingga rasa aman pun hilang dari mereka.  Begitu pula dengan Sayyidina Umar juga menyetujui makna takhawwuf ini, yang pada saat itu disampaikan oleh seorang tokoh kabilah Hudzail. Intinya, ayat ini berbicara tentahg adzab yang diberikan Allah dengan berkekurangan secara terus menerus hingga binasa.

  1. Al-’ilmu

فَمَنْ خَافَ مِن مُّوصٍ جَنَفًا أَوْ إِثْمًا فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

(QS. Al-Baqarah: 182) Artinya: “(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kata fala itsma  (فَلَآ إِثْمَ) dan khafa (خَافَ) makna sebenarnya adalah takut. Akan tetapi, terdapat beberapa ulama yang mengartikannya sebagai mengetahui. Mengacu pada Tafsir Al-Muyassar, ayat di atas menjelaskan rasa takut seseorang karena mengetahui pemberi wasiatnya akan melakukan penyimpangan dan ketidakadilan.

Baca Juga: Tafsir Surat Yunus Ayat 62: Tak Ada Rasa Takut dan Sedih bagi Wali Allah

Namun, ketakutan tersebut dapat teratasi dengan cara menasihati sang pembuat wasiat serta mendamaikan orang-orang yang bersengketa atas wasiat tersebut. Dengan usaha memperbaiki kekeliruan tersebut, maka orang itu akan mendapat pahala dan tidak ada dosa baginya.

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa kajian semantik al-Quran memiliki tiga periode waktu semantik historis kosakata yakni pra quranik, quranik, dan pasca quranik. Pada ketiga periode tersebut, maksud dari sebuah kata pun berbeda, misalnya pembahasan kata khauf pada tulisan ini.

Selain itu, dalam kajian semantik al-Quran, perlunya digali makna dasar dan makna relasional dari sebuah kata yang dimaksud, misalnya kata khauf  berasal dari kata khafa-yakhafu-khaufan (خَافَ-يَخَافُ-خَوْفًا) yang berarti takut, dan makna relasionalnya adalah taqwa, berkurang, dan al-‘ilmu.

Wallahu a’lam

Kedudukan Nabi saw dan Wahyu Al-Quran Menurut Malek Bennabi

0
Malek Bennabi
Malek Bennabi

Nabi Muhammad saw adalah sosok sentral untuk memahami fenomena pewahyuan. Kedudukannya ketika menerima wahyu beriringan dengan tahap penyampaian kepada masyarakat Arab. Fenomena penerimaan dan penyampaian wahyu ini diulas dengan unik berbasis analisis psikologis oleh Malek Bennabi dalam karyanya Le Phenomine Coranique.

Kajian mengenai kedudukan Nabi Muhammad saw pada masa pewahyuan diurai oleh Malek Bennabi dengan menganalisis kondisi Nabi ketika menerima wahyu pertama dan redaksi ayat Al-Qur’an. Memang, beberapa ulama atau sarjana sebelumnya telah menyinggung keadaan Nabi Muhammad saw, tetapi pembacaan berbasis psikologis ini menjadikan kajian Malek Bennabi penting diungkap.

Tulisan ini akan memaparkan kajian Malek Bennabi tersebut. Hal ini untuk mengimbangi wacana yang tersebar tentang keraguan Al-Qur’an sebagai Kalamullah. Penulis menilai bahwa kajian Malek Bennabi akan memberi pemahaman baru terkait kedudukan Nabi Muhammad SAW dan otentisitas Al-Qur’an. Ini penting, karena yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah Kalam Tuhan.

Sekilas tentang Malek Bennabi dan Bukunya

Malek Bennabi dilahirkan pada 28 Januari 1905 di Constantine, Aljazair. Ia termasuk sarjana Islam yang kuliah di Perancis pada 1930 dan pada tahun 1954-1962 melanjutkan perjalanan intelektualnya di Mesir.

Baca Juga: Mengenal Abdullah Yusuf Ali dan Tafsir The Holy Qur’an

Malek Bennabi merupakan sarjana Islam yang banyak membela kajian Islam dan banyak mengkritik kajian orientalis, yang dilakukannya sebelum Edward Said. Ia wafat pada 31 Oktober 1973 di Aljir, Aljazair.

Buku Le Phenomine Coranique adalah buku pertamanya yang banyak berpengaruh di kalangan umat Islam. Buku yang kita terima saat ini merupakan hasil tulisan beliau, yang terbit pada 1946, karena sebelumnya hancur akibat serangan udara, pada masa-masa Perang Dunia II.

Buku ini diterjemahkan ke versi bahasa Arab dengan judul Al-Zhahirah Al-Qur’an, dan juga diterjemahkan dalam versi bahasa Indonesia dengan judul Fenomena Al-Qur’an. Buku Le Phenomine Coranique ini membahas tentang landasan metodologis dan filosofis sekaligus, yang kelak banyak mempengaruhi kajian-kajian selanjutnya.

Nabi Muhammad SAW ketika Menerima Wahyu

Dalam bukunya, Malek Bennabi terlebih dahulu mengungkap narasi penerimaan wahyu pertama, tepatnya ketika Nabi Muhammad SAW telah beberapa kali bertahannus setiap Ramadhan di gua Hira. Sebagaimana umum diinformasikan dari berbagai riwayat yang sahih bahwa Nabi Muhammad SAW didatangi oleh Malaikat Jibril lalu mengatakan “bacalah!”.

Saat itu Muhammad saw hanya menjawab “Aku tidak dapat membaca”. Keadaan ini terulang sebanyak tiga kali, hingga Nabi saw merasa kesusahan. Malaikat Jibril kemudian memerintahkan kembali yang kemudian dibacakanlah surah Al-‘Alaq: 1-5 sebagai wahyu Pertama. Turunnya wahyu ini menjadi penanda Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul.

Dalam konteks ini, Malek Bennabi menilai bahwa dialog Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad saw di atas unik, terlebih karena itu terjadi sebagai pembuka era baru –era kenabian Muhammad. Malek Bennabi mengatakan bahwa dialog tersebut merupakan dialog satu-satunya yang historis positif antara Nabi dan Malaikat. Di sini, muncul persoalan “Apakah ini kejadian berupa halusinasi dan kekacauan pikiran?”

Malek Bennabi mengatakan bahwa disebut sebagai halusinasi dan kekacauan pikiran ketika kejadian tersebut dalam awal atau akhir tidur. Kekacauan yang terjadi di awal tidur disebut sebagai Haypnogogic, yakni “keadaan antara tidur dan sadar”. Dan Kekacauan yang terjadi di akhir tidur atau tersadar dari tidur disebut Hypnopompic, yakni “keadaan antara tidur dan sadar”.

Dari sini, Malek Bennabi dengan berdasar pada ilmu psikologi medis mengatakan bahwa keadaan Haypnogogic atau Hypnopompic tidak mengenai orang-orang yang normal (fisik dan psikologinya), sebagaimana yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW di atas. Terlebih lagi kejadian Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril tersebut berulang sebanyak tiga kali. Sehingga, kejadian tersebut benar-benar (secara ilmiah –psikologi) terjadi dan nyata.

Nabi Muhammad saw ketika Menyampaikan Wahyu

Sejak awal dialog dalam pewahyuan di atas memerankan Nabi Muhammad SAW sebagai orang kedua tunggal atau orang yang diajak bicara. Penempatan ini mengindikasikan bahwa Nabi saw bersifat pasif dan hanya menyampaikan wahyu dari Tuhan yang berbicara dengan menggunakan kata ganti pertama (Aku, Kami). Nabi Muhammad saw di sini disebut ummi dalam pengertian tidak dapat baca-tulis.

Malek Bennabi pertama-tama mengajukan pertanyaan bahwa apakah wahyu dari Tuhan kepada Nabi saw dapat berpadu secara psikologis dalam satu pribadi, yaitu pribadi Nabi saw? Malek Bennabi menjawabnya secara panjang yang kira-kira dapat diringkas dengan jawaban bahwa ke-ummi-an Nabi saw menjadi keadaan penting dan logis berpadunya wahyu dalam diri pribadinya.

Sehingga, ketika Tuhan berbicara dalam bentuk wahyu kepadanya, maka cara terbaik bagi Nabi Muhammad saw sebagai orang yang ummi adalah berdiam. Di sini, Malek Bennabi mengatakan bahwa berdiamnya Nabi Muhammad saw menunjukkan kesadaran definitif selama fenomena pewahyuan. Nabi saw tidak akan menjawab, mengoreksi, apalagi menolak apa yang diwahyukan kepadanya.

Baca Juga: Biografi Mahmud Syaltut: Tokoh Perintis Penerapan Tafsir Tematis

Sikap Pasif Nabi Muhammad saw ini diperkuat oleh adanya ayat Al-Qur’an yang secara sepintas lalu mengandung kesan yang aneh, yang karenanya menarik diperhatikan, yakni QS. Yusuf: 22. Malek Bennabi mengatakan bahwa ‘menyimpang’nya dari kaidah bahasa yang lazim ditemui di kalangan bangsa Arab inilah yang menjadikan wahyu (QS. Yusuf:22) tersebut benar-benar dari Allah SWT, bukan dari Nabi Muhammad saw. Sekiranya itu dari Nabi Muhammad SAW, maka ia segera memperbaikinya.

Sampai di sini, peran Nabi Muhammad SAW ketika menerima dan menyampaikan wahyu, dalam argumentasi psikologis Malek Bennabi, dapat dikatakan pasif. Wahyu yang disampaikan benar-benar diterima sepenuhnya oleh Nabi Muhammad SAW, dan disampaikannya apa adanya kepada masyarakat Arab saat itu. Sehingga, Al-Qur’an benar-benar otentik dari Allah SWT. [] Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 20-22

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 20-22 membicarakan tentang bagaiamana Allah menyifati orang-orang yang beriman yang disebut juga dengan Ulul Albab. Para Ulul Albab secara zahir dan batin mengimani apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 18-19


Dalam Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 20-22 dipaparkan delapan macam sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang berpredikat Ulul Albab. Tiga sifat pertama berkaitan dengan Allah SWT, yakni memenuhi janji Allah, memelihara perintah Allah serta takut kepada Allah.

Sedangkan lima sifat lainnya yang dipaparkan dalam Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 20-22 ini berkaitan dengan dirinya sendiri seperti memelihara diri dari siksa akhirat.

Ayat 20, 21, 22

Allah swt menyifati ulul albab dari kalangan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah suatu kebenaran yang berlaku, sebagai berikut:

  1. Sifat pertama: bahwa orang-orang tersebut senantiasa memenuhi janji Allah, dan tidak mau mengingkari perjanjian itu. Yang dimaksud dengan “janji Allah” di sini ialah janji-janji yang telah mereka ikrarkan atas diri mereka, baik mengenai hubungan mereka dengan Allah, maupun hubungan mereka dengan orang lain. Fitrah mereka yang suci, dan hati mereka yang murni mengakui adanya perjanjian itu dan wahyu Allah pun mengharuskan adanya perjanjian tersebut.

Mereka tidak mau mengingkari atau pun memungkiri perjanjian yang telah mereka kukuhkan, karena mereka sangat menjauhi sifat-sifat kemunafikan.

Betapa pentingnya sifat memenuhi janji ini, oleh Qatadah telah disebutkan bahwa dalam Al-Qur’an, Allah swt telah menyebutnya sebanyak lebih dua puluh kali.

  1. Sifat kedua: mereka memelihara semua perintah Allah dan tidak melanggarnya, baik hak-hak Allah maupun hak-hak hamba-Nya, termasuk memelihara silaturrahim.

Hubungan antara sesama manusia ialah menjalin hubungan tolong-menolong, menjalin cinta dan kasih-sayang, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

;عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَنْ اَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

(رواه الشيخان)

Dari Abi Hurairah r.a. bahwasanya ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa senang dilapangkan rezekinya dan selalu disebut-sebut kebaikannya, maka hendaklah pelihara hubungan silaturrahim.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

; Dan hadis Nabi saw:

;عَن ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْبِرَّ وَالصِّلََةَ لَيُخَفِّفَانِ سُوْءَ الْحِسَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ اْلايَةَ.

(رواه الخطيب وابن عساكر)

Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, “Bersabda Rasulullah saw, “Sesungguh-nya kebajikan dan menghubungkan silaturrahim itu, kedua-duanya benar-benar meringankan hisab yang buruk di hari kiamat.” Kemudian Rasulullah saw membaca ayat ini.” (Riwayat al-Khatib dan Ibnu ‘Asakir)

  1. Sifat ketiga: mereka benar-benar takut kepada Allah swt. Sifat takut kepada Allah adalah perasaan takut yang dilandasi dengan rasa hormat yang mendorong orang untuk taat kepada-Nya. Sifat ini dimiliki oleh para ulama, dan ciri dari orang-orang “muqarrabin”. Dalam hubungan ini Allah swt telah berfirman:

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. (Fatir/35: 28)

  1. Sifat keempat: mereka senantiasa takut kepada hisab yang sifatnya merugikan mereka pada hari kiamat, yaitu hasil yang buruk dari amalan mereka di hari kiamat, karena banyaknya kejahatan yang dilakukannya selagi hidup di dunia ini. Oleh sebab itu, mereka senantiasa mawas diri, sebelum dihisab amalannya di akhirat kelak.

Mereka selalu membandingkan antara amal-amal mereka yang baik dengan yang buruk, selalu berusaha agar amal yang baik lebih banyak dari perbuatan yang buruk, agar neraca kebajikan mereka di akhirat kelak lebih berat daripada neraca keburukan. Dalam hal ini, Allah telah berfirman:

فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهٗۙ ٦فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ ٧وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗۙ  ٨  فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ  ۗ  ٩

Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (al-Qari’ah/101: 6 – 9)

  1. Sifat kelima: mereka senantiasa sabar dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan, demi mengharapkan rida Allah. Sabar dalam hal ini berarti menahan diri terhadap segala hal yang tidak disenanginya, baik dengan cara melakukan ketaatan dan menunaikan segala kewajiban yang telah ditetapkan agama maupun dengan jalan menjauhi hal-hal yang dilarang agama.

Bisa juga berarti bersikap rela menerima segala ketentuan Allah yang telah berlaku berupa musibah dan lain sebagainya.

Kesabaran yang diminta dari setiap orang yang berakal dan beriman ialah kesabaran yang dilakukan semata-mata karena mengharapkan keridaan Allah dan ganjaran-Nya, bukan kesabaran yang dibuat-buat karena ingin dipuji dan disebut-sebut. Itulah kesabaran yang sejati, yang menjadi sifat bagi orang-orang yang berakal dan beriman.


Baca juga: Keindahan Bahasa Al-Qur’an dan Kemunculan Metode Tafsir Sastrawi


  1. Sifat keenam: mereka senantiasa mendirikan salat. Arti “mendirikan salat” ialah menunaikan dengan cara yang sebaik-baiknya, dengan menyempurnakan rukun dan syaratnya, disertai rasa khusyuk dan tawaduk menghadapkan wajah dan hati kepada Allah semata, tidak dibarengi dengan ria, serta memelihara waktu yang telah ditetapkan untuknya.

Hal ini hanya dapat dilakukan bila pada saat-saat melakukan salat, kita merasa sedang berdiri sendiri di hadapan Allah swt, Pencipta dan Penguasa semesta alam. Dengan demikian, maka tak ada sesuatu pun yang dipikirkan pada saat itu, kecuali semata-mata bermunajah kepada Allah.

  1. Sifat ketujuh: mereka senantiasa menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan, baik infak wajib seperti terhadap istri, anak, dan karib kerabat maupun infak sunah seperti terhadap fakir miskin. Kenyataan dapat memberikan pengertian kepada kita tentang rahasia yang tersimpan di dalamnya.

Al-Qur’an berulang kali menganjurkan kepada orang-orang mukmin untuk menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah diperolehnya kepada yang memerlukan pertolongan, dan untuk menyokong kepentingan umum. Jika mereka mau melakukannya, niscaya kemiskinan dan kemelaratan dapat dilenyapkan dari kehidupan masyarakat.

  1. Sifat kedelapan: mereka senantiasa menolak kejahatan dengan kebajikan, karena kebajikan itu dapat menolak kejahatan. Kenyataan menunjukkan bahwa apabila seseorang dapat bergaul dengan orang lain dengan akrab dan kasih sayang serta menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, ia tidak akan dimusuhi atau dibenci oleh masyarakatnya.

Apabila ia mendapat musibah, maka orang yang pernah mendapat pertolongannya akan segera pula mengulurkan pertolongan kepadanya. Sebaliknya orang yang suka menyakiti orang lain, atau enggan memberikan bantuan dan pertolongan adalah orang yang egois dan tidak menggunakan akalnya.

Sikap dan perbuatannya itu hanyalah mempersempit ruang lingkup kehidupannya sendiri, serta menimbulkan kebencian dan kedengkian orang lain terhadap dirinya.

Berbuat kebaikan untuk menghindari kejahatan, atau sedapat mungkin membalas perbuatan jahat orang lain dengan berbuat kebajikan atau dengan diam adalah tanda orang yang mau menggunakan akalnya dan bijaksana. Firman Allah:

وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“… dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salam.” (al-Furqan/25: 63)

Dari sini dapat dipahami, betapa tingginya nilai ajaran agama Islam dalam membina hubungan baik antara sesama manusia guna menciptakan kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.

Pada akhir ayat ini, Allah swt menegaskan bahwa orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut pasti akan memperoleh tempat kediaman terakhir yang baik, yaitu surga Jannatun Naim di akhirat kelak di samping kebahagiaan, ketenangan, dan kesejahteraan di dunia ini.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 23-24


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 18-19

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 18-19 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai balasan yang baik bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya secara penuh. Kedua berbicara mengenai perbedaan antara orang yang mengerti akan kebenaran dan yang tidak.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 17


Ayat 18

Bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, mengikuti semua perintah-Nya, dan membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah kepada rasul-Nya, disediakan pembalasan yang baik, yang bersih dari segala penderitaan dan kesusahan dan kekal selama-lamanya. Sesuai dengan firman Allah:

لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوا الْحُسْنٰى وَزِيَادَةٌ  ۗ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). (Yµnus/10: 26);Dan firman-Nya:

وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ وَسَنَقُوْلُ لَهٗ مِنْ اَمْرِنَا يُسْرًا  

Adapun orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka dia mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah. (al-Kahf/18: 88)

Bagi mereka yang tidak memenuhi seruan Allah, tidak menaati-Nya, tidak mengikuti perintah-Nya dan tidak mencegah diri dari larangan-Nya, ada bermacam-macam perlakuan dan azab, di antaranya:

  1. Ketika menghadapi azab yang sangat pedih, niscaya mereka melepaskan seluruh kekayaan itu untuk menebus dirinya dari azab Allah. Sebab yang paling dicintai oleh setiap orang adalah dirinya sendiri. Apabila dirinya terancam bahaya, maka seluruh kekayaannya akan dijadikan sandera atau tebusan, demi untuk keselamatan dirinya.
  2. Mereka akan diperiksa secara rinci dan diteliti semua amal perbuatannya sampai sekecil-kecilnya. Tersebut dalam sebuah hadis: Barang siapa yang dihisab secara rinci pasti kena azab.
  3. Tempat kediaman mereka ialah Jahanam, dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman dan tempat kembali.

Baca juga: Membaca Ayat-Ayat Antropomorfisme: Tafsir Tajsim Muqatil Ibn Sulaiman


Ayat 19

Pada ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa tidak sama orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepada Muhammad adalah sesuatu yang nyata benarnya dan datang dari Allah dibandingkan dengan orang buta yang tidak memahami dan mempercayainya. Firman Allah:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًاۗ

Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan benar dan adil. (al-An’am/6: 115)

Menurut Ibnu ‘Abbas, ayat ini turun berkaitan dengan dua orang, yang seorang mukmin dan yang lainnya kafir, yaitu Hamzah dan Abu Jahal. Apakah (Hamzah) yang percaya dan mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw itu benar, tanpa keraguan lagi, sama dengan (Abu Jahal) yang buta hatinya, dan sama sekali tidak mendapat petunjuk kepada kebaikan? Tentu tidak sama. Hanya orang-orang yang sehat pikirannya saja yang dapat menyadari hal seperti ini, dan yang dapat mengambil manfaat dari perumpamaan-perumpamaan yang dikemukakan Allah swt dalam kitab suci-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 20-22


(Tafsir Kemenag)

Sekolah Hadis El-Bukhari Institute Membuka Pendaftaran Member Baru Periode Juli – Desember 2021

0
Sekolah Hadis
Sekolah Hadis

Setelah kurang lebih lima tahun berjalan, Sekolah Hadis El-Bukhari Institute telah berhasil membantu ratusan peserta dalam memahami kajian hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. Mulai dari kelas Ilmu Hadis Dasar yang membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan unsur-unsur hadis dan pembagian-pembagiannya, Ilmu Takhrij dan kajian sanad yang mengkaji kaedah-kaedah dalam menemukan hadis serta menganalisis kualitasnya, hingga kajian metode memahami hadis (atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ilmu Matan Hadis) yang bertujuan untuk menuntun seseorang dalam mengamalkan hadis sesuai dengan konteks situasi dan kondisi kenapa sebuah hadis itu disampaikan oleh Nabi Saw kepada umatnya.

Ketika seorang muslim mendengar atau membaca sebuah hadis, dia tidak diperkenankan untuk langsung mengamalkannya sebelum mengkajinya secara mendalam melalui ketiga ilmu yang disebutkan di atas atau menanyakannya kepada mereka yang menguasai ketiga ilmu tersebut. Hal itu disebabkan karena hadis mempunyai beragam pemaknaan dan sudut pandang yang tidak mungkin hanya bisa dipahami lewat terjemahan semata ataupun interpretasi dangkal yang tidak didasari oleh ilmu yang memadai. Akibat dari interpretasi yang dangkal tersebut sangat banyak kita temui saat ini oknum-oknum yang menyalahgunakan hadis untuk hal-hal negatif yang justru bertentangan dengan semangat hadis itu sendiri.

Sebagai contoh misalnya, ada oknum yang menggunakan hadis untuk memerangi kelompok lain yang mereka anggap berbeda secara akidah dengan mereka. Selain itu ada juga oknum yang dengan pemahaman tesktualnya menyesatkan dan bahkan mengafirkan saudaranya sesama muslim lantaran berbeda secara muamalah sehari-hari dengan mereka. Dan bahkan ada juga sebagian oknum yang dengan beraninya menggunakan hadis untuk tujuan-tujuan politis dalam rangka mendukung atau menolak seorang tokoh yang mereka jagokan untuk memimpin pemerintahan. Kasus-kasus tersebut cukup menjadi bukti kuat bahwa kajian hadis perlu untuk dibumikan dan disebarluaskan kepada semua masyarakat agar kesucian hadis tetap terjaga.

Untuk itu Sekolah Hadis El-Bukhari Institute hadir kembali dan membuka peluang untuk semua masyarakat muslim Indonesia yang ingin mendalami kajian Hadis secara menyeluruh untuk ikut bergabung sebagai member program. Adapun fasilitas yang akan didapatkan di antaranya adalah berhak mengikuti ketiga cabang ilmu hadis yang sudah kami jelaskan di atas sampai tuntas sekaligus mengikuti kajian kitab-kitab Hadis, Ilmu Hadis, dan Fikih secara komprehensif bersama dengan asatidz El-Bukhari Institute. Selain itu, member juga akan mendapatkan buku panduan dan kitab-kitab kajian yang akan dikirimkan secara langsung ke alamat peserta plus kesempatan untuk mengakses kajian hadis digital secara gratis selama satu tahun melalui platform Hadispedia.

Untuk pendaftaran dan informasi detail lainnya bisa ditemukan dengan mengklik tautan berikut http://bit.ly/SekolahHadisEl-Bukhari atau mengikuti semua akun media sosial kami di IG dengan nama akun @hadispedia, Facebook dengan nama akun Hadis Pedia, Twitter dengan nama akun hadispedia, dan website resmi kami www.hadispedia.id. Mari bersama kita kembangkan kajian hadis menjadi kajian yang lebih hidup, inklusif, dan inovatif agar mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi oase dalam segala tindak-tanduk kehidupan kita.!

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 17

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 17 berbicara mengenai perumpamaan terjadinya proses keimanan antar manusia satu dengan yang lainnya. Perumpamaan yang dikemukaan diambil dari proses terjadinya hujan beserta aliran-alirannya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 16


Lebih lanjut Air dari proses hujan yang dijelaskna dalam Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 17 ini mengaliri lembah lalu sedikit demi sedikit menggerus bebatuan lalu kemudian membentuk aliran sungai sehingga terbentuk sungai besar dan kecil.

Selain memaknai Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 17 dari sisi teologinya, di sini dijelaskan pula dari sisi ekologinya.

Ayat 17

Allah menurunkan air hujan dari langit yang mengandung awan, lalu mengalirkan air hujan itu ke berbagai lembah yang lebar dan yang sempit sesuai dengan ukurannya. Kajian saintis menjelaskan bahwa lembah-lembah umumnya terbentuk oleh gerusan air.

Air pertama-tama menggerus bagian-bagian batuan yang paling lunak dan kemudian membentuk aliran sungai. Alur aliran sungai ini lambat laun membesar membentuk lembah-lembah sungai. Ukuran lembah-lembah sungai umumnya selain dipengaruhi oleh besarnya aliran air yang juga ditentukan oleh besarnya curah hujan, kekerasan batuan dan umur batuan.

Dalam bidang geomorfologi dikenal besaran kerapatan sungai, yaitu jumlah panjang sungai yang terdapat pada satu luasan daerah dengan satuan km/km2. Besarnya kerapatan sungai umumnya menggambarkan besarnya curah hujan di daerah tersebut.

Arus air itu akan menimbulkan banyak buih di permukaannya yang merupakan gumpalan buih yang ikut bergerak dengan arus air, sehingga bila ada angin kencang yang bertiup, maka buih itu akan segera lenyap dari pandangan mata.

Menurut kajian saintifik, buih adalah zat mengambang di atas air yang mengandung banyak udara. Terjadinya buih merupakan bagian dari proses pemurnian air yang terjadi secara alami dalam pengalirannya (dikenal dengan istilah self purification).

Pemurnian ini terjadi karena adanya pencampuran dengan udara yang melarut ke dalam air terutama oksigen. Dengan adanya oksidasi, pengotor (umumya senyawa organik) yang terlarut di dalam air mengurai dan bagian yang ringan mengapung di atas permukaan air, sedangkan bagian yang berat akan tenggelam dan mengendap.

Inilah perumpamaan yang pertama yang dikemukakan oleh Allah swt tentang kebenaran dan kebatilan serta tentang keimanan dan kekafiran.

Buih juga bisa terbentuk dalam proses pemurnian logam dengan pemanasan. Bijih logam di alam umumnya ditemukan dalam bahan padat yang tidak murni.

Pada proses peleburan, bijih mencair, dan logam-logam yang berat akan tenggelam sedangkan bagian yang kurang bermanfaat atau yang dapat merusak mutu hasil biasanya berupa buih dan akan mengapung ke permukaan bersama udara yang terkandung di dalamnya.

Logam tersebut dibuat untuk perhiasan dan alat-alat keperluan rumah tangga, pertanian, pertukangan, dan perindustrian. Inilah perumpamaan yang kedua.

Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil. Kebenaran dan kebatilan itu bila bercampur, seperti arus air yang bercampur dengan buih, atau seperti logam yang dibakar yang sama-sama juga mengeluarkan buih berupa kotoran karat yang semula melekat pada logam itu, kemudian terpisah karena pengaruh api yang membakarnya.

Maka sebagaimana buih yang berada di atas arus air akan lenyap setelah ada tiupan angin, dan buih yang berada di atas logam yang sedang dibakar akan hilang pula karena api, demikian pula perkara yang batil akan hilang musnah bilamana datang hak dan kebenaran yang jelas.

Buih itu akan hilang tersangkut di pinggir lembah dan pohon atau ditiup angin. Demikian pula kotoran atau karat yang semula melekat pada logam akan habis terbakar.

Yang tinggal hanya yang memberi manfaat saja kepada manusia, yaitu air, yang dapat diminum, digunakan untuk mengairi tanaman yang bermanfaat bagi manusia dan binatang, emas yang digunakan untuk perhiasan, dan logam-logam lainnya untuk alat rumah tangga, pertanian, dan sebagainya.


Baca juga: Tafsir Tarbawi: Pentingnya Pendidikan Ekologi bagi Peserta Didik


Dari kedua perumpamaan itu dapat diambil pengertian bahwa Allah swt telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw kemudian disampaikan ke dalam hati manusia yang masing-masing tidak sama potensi dan persiapannya untuk menerima.

Masing-masing mempunyai keterbatasan dalam hal bacaan, pengertian, hafalan, dan pengamalannya. Ayat Al-Qur’an menjadi unsur kehidupan kerohanian dan kebahagiaan hidup sebagaimana air menjadi sebab hidup semua makhluk.

Di antara tanah yang ditimpa hujan itu ada yang tandus, tidak dapat menumbuhkan tanam-tanaman, hanya sekedar menyimpan air saja, yang dapat dijadikan sumber penampungan air jernih.

Ada pula tanah yang subur yang setelah disiram dengan air hujan dapat menghasilkan bermacam-macam hasil bumi. Itulah air yang bermanfaat bagi manusia dan binatang-binatang.

Di antara logam yang dilebur dalam api seperti emas, perak, tembaga, perunggu, dan timah, ada yang dijadikan alat rumah tangga, pertukangan, perindustrian dan sebagainya. Orang mukmin diumpamakan seperti air dan logam yang bermanfaat bagi manusia dan binatang.

Buih yang semula bercampur kemudian lenyap karena tiupan angin atau habis dibakar oleh api, adalah perumpamaan bagi kekafiran dan kebatilan yang akhirnya hancur bila berhadapan dengan hak dan kebenaran, firman Allah:

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ  ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

Dan katakanlah, ”Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (al-Isra’/17: 81)

Demikianlah Allah membuat perumpamaan yang indah yang dapat menjelaskan kepada manusia apa yang masih dipandang sulit oleh mereka tentang masalah-masalah agamanya, agar jelas perbedaan antara yang hak dan yang batil, antara keimanan dan kekafiran, sehingga mereka dapat menempuh jalan petunjuk kepada kebahagiaan dan menghindari jalan yang dimurkai Allah dan menyesatkan.

Dengan memperhatikan perumpamaan-perumpamaan yang tepat dan baik itu niscaya umat Islam akan menjadi umat terbaik yang dikeluarkan di muka bumi untuk jadi teladan bagi umat yang lain. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari:

;إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا طَائِفَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوْا وَرَعَوْا وَسَقَوْا وَزَرَعُوْا. وَاَصَابَتْ طَائِفَةٌ مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيْعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِيْ دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ اللهُ بِمَا بَعَثَنِى بِهِ وَنَفَعَ النَّاسَ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ. وَمَثَلُ مَنْ لمَ ْيَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلمَ ْيَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ.

Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutus diriku, adalah seperti air hujan yang menimpa bumi. Di antaranya ada sebagian bumi yang menerima air itu, lalu menumbuhkan rumput dan tanam-tanaman. Ada pula tanah yang tandus, hanya menyimpan air saja, lalu Allah memberikan manfaat air itu kepada manusia.

Maka ada yang meminumnya dan mempergunakannya untuk mengairi kebun-kebun tanamannya dan ladang-ladangnya. Ada pula sebagian tanah yang keras, tidak dapat menyimpan dan menyerap air, sehingga tidak menumbuhkan tanaman apa-apa.

Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan Allah memberikan manfaat kepadanya dalam ajaran agama yang Allah mengutusku untuk menyampaikannya kepada manusia, sehingga ia mengetahui dan mengajarkannya (kepada orang lain), dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak memperhatikan dan tidak menerima petunjuk Allah yang mengutusku untuk menyampaikannya. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan pula oleh Imam A¥mad dari Abu Hurairah:

;مَثَلِىْ وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا اَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِى يَقَعْنَ فِى النَّارِ يَقَعْنَ فِيْهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَقْتَحِمْنَ فِيْهَا فَذَلِكَ مَثَلِىْ وَمَثَلُكُمْ اَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، هَلُمَّ عَنِ النَّارِ فَتَغْلِبُوْنِى فَتَقْتَحِمُوْنَ فِيْهَا.

(رواه أحمد والشيخان عن أبى هريرة)

Perumpamaanku denganmu seperti orang menyalakan api, ketika api menerangi tempat sekelilingnya, mulailah kupu-kupu dan serangga yang mendatangi berjatuhan ke dalam api, dan orang itu menghalangi, namun dikalahkan oleh serangga-serangga lalu masuklah serangga-serangga itu ke dalam api. Itulah perumpamaanku denganmu. Aku menghalangimu dari api, jauhilah api itu, namun kamu mengalahkanku dan menerobos masuk ke dalamnya. (Riwayat Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 18-19


(Tafsir Kemenag)