Beranda blog Halaman 328

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 41-44

0
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 41-44 ini disebutkan perumpaan orang-orang yang menyembah berhala bagaikan laba-laba yang selalu berlindung pada sarangnya. Mereka tak akan dapat melarikan diri dari balasan Allah terhadap apa yang telah mereka perbuat selama masa hidupnya yang di dalam Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 41-44 dijelaskan mereka sangat bergantung kepada sembahan mereka yang tak dapat berbuat apa-apa, yakni berhala.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 36-40


Ayat 41

Kaum penyembah berhala yang memandang selain Allah sebagai penolong mereka dan selalu mengharapkan darinya pertolongan dan penolak bahaya, adalah bagaikan laba-laba yang berlindung pada sarangnya yang begitu lemah, sehingga tak kuat menahan tiupan angin, dan melindunginya dari dingin dan panas. Sarang tersebut tak dapat memenuhi kebutuhan utamanya apabila sedang diperlukan.

Demikianlah halnya orang-orang kafir (musyrik). Mereka tak sanggup menyelamatkan diri bila Allah mendatangkan siksa-Nya. Pelindung mereka (selain dari Allah) tidak akan dapat memberikan pertolongan. Bahkan, diri mereka sendiri tidak dapat mengelakkan mereka dari azab Allah.

Ringkasnya, orang musyrik penyembah berhala itu tak ubahnya bagaikan laba-laba yang membuat sarang, sangat rapuh dan lemah. Sarang laba-laba itu adalah ibarat dari suatu bangunan rumah yang sangat rapuh. Demikian pula agama yang sangat lemah adalah agama yang menyembah berhala.

Ayat 42

Allah Maha Mengetahui tentang apa yang mereka minta kepada berhala, patung, jin, bahkan manusia. Semuanya tak akan mungkin memberikan manfaat atau mendatangkan kecelakaan kepada seseorang bilamana Allah tidak menghendaki. Begitu lemahnya apa yang mereka sembah sehingga sama halnya dengan laba-laba yang hanya sanggup membuat rumah yang sangat rapuh sekali.

Allah berkuasa menurunkan siksa kepada siapa yang kafir. Oleh karena itu, orang-orang musyrik hendaklah merasa takut kepada Allah, dan segera beriman kepada-Nya sebelum datang siksaan-Nya, seperti yang pernah dikirimkan-Nya kepada orang-orang dahulu kala. Bila siksaan Allah datang, tidak seorang pun di antara para penolong mereka itu (berhala-berhala) yang dapat menyelamatkan mereka.

Allah selalu perkasa untuk menghancurkan barang siapa yang sepatutnya dibinasakan, dan Maha Bijaksana untuk mengundurkan siksa tersebut bagi orang yang diharapkan ada perubahan ke arah kebaikan dan dengan teguh melaksanakan kebaikan itu.

Ayat 43

Demikianlah Allah mengumpamakan sesuatu perumpamaan bagi manusia. Hanya orang berakal yang dapat memikirkan perumpamaan tersebut. Allah sengaja mengambil laba-laba sebagai perumpamaan, karena itu barangkali yang mudah mereka pahami.

Selain dari itu, juga dimaksudkan untuk menerangkan segala keraguan mereka selama ini. Orang yang selalu menggunakan hati dan pikirannya dan ahli-ahli ilmu pengetahuan pasti dapat memahami perumpamaan tersebut dan akan semakin banyak mengetahui rahasia-rahasia Allah yang terkandung dalam ayat-ayat-Nya. Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah pernah berkata:

العَالِمُ مَنْ عَقَلَ عَنِ اللهِ تَعَالَى وَعَمِلَ بِطَاعَتِهِ وَاجْتَنَبَ سُخْطَه (رواه الهيثمى)

“Orang yang berilmu itu ialah orang yang menjaga hal-hal yang dari Allah, dan beramal dalam rangka taat kepada-Nya serta menjauhi segala kemarahan-Nya.” (Riwayat al-Haitsami);

Ayat 44

Dalil tentang kebesaran dan keagungan Allah itu terlihat pada ciptaan langit dan bumi. Bagi orang yang beriman dan menggunakan akal pikirannya, semua ciptaan Allah itu mengandung hikmah, dan tidak dijadikan percuma begitu saja.

Dengan demikian kejadian langit dan bumi, memungkinkan manusia untuk menambah dan memperluas cakrawala pengetahuannya. Di samping itu, pengenalan mereka akan lebih intensif kepada Penciptanya, yakni Allah.

Menurut kajian ilmiah, dalam menciptakan segala sesuatunya, Allah tidak pernah bermain-main. Dia melakukannya dengan “benar”, dengan haq (antara lain juga dapat dilihat pada Surah Ibrahim/14: 19).

Kata haq mengindikasikan sesuatu yang langgeng, mantap, sehingga tidak akan berubah. Dapat dilihat bahwa kehadiran semua benda yang ada di alam semesta ini mempunyai tujuan. Tidak ada satu benda pun diadakan Tuhan tanpa mempunyai tujuan.

Planet bumi ini dengan langitnya (atmosfer), telah diciptakan Allah dengan haq.  Kata haq ini mengandung arti “dengan benar, dengan tepat”. Bagaimanakah kebenaran dan ketepatan ciptaan-Nya, dapat dilihat dari uraian berikut.

Atmosfer bumi terutama terdiri atas gas Nitrogen (N2– sebesar 70%) yang tidak bersifat racun terhadap manusia. Gas ini sangat penting dalam proses pertumbuhan makhluk hidup, terutama tumbuhan.  Sedangkan 20% lainnya diisi oleh gas Oksigen (O2) yang memberikan energi untuk proses metabolisme semua makhluk, melalui proses pernafasan (respirasi).

Jarak antara matahari dan bumi adalah sekitar 139 juta km.  Jarak ini dianggap tepat karena pada jarak ini sinar matahari dapat berfungsi membantu berlangsungnya proses kehidupan. Apabila jaraknya berubah, apakah menjauh atau mendekat, maka efek sinar yang jatuh di bumi akan sangat fatal bagi makhluk hidup. Suhu bumi pada garis equator juga dianggap sangat moderat, yaitu rata-rata antara 28-350C.

Dalam uraian di atas telah digambarkan bahwa Allah menciptakan bumi bukan dengan main-main. Semuanya begitu tepat untuk mulainya kehidupan di bumi ini. Bagaimana kenyamanan bumi dibandingkan dengan beberapa planet lain yang ada dalam tata surya yang sama dapat kita lihat pada uraian di bawah ini.

Dalam perbandingan yang dilakukan, terutama pada jarak antara matahari dan masing-masing planet, tampak akan efek jarak dengan masing-masing planet.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 45


 

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 36-40

0
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 36-40 mengisahkan Nabi Syuaib yang diutus Allah di negeri Madyan agar beribadah kepada Allah dan meninggalkan perbuatan tercela seperti mengurangi takaran, mencuri dan lain sebagainya. Namun dijelaskan dalam Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 36-40 bahwa penduduk Madyan pun durhaka dan tidak menerima nasihat Nabi Syuaib.

Kemudian pada ayat 38 dalam Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 36-40 ini dikisahkan pula durhakanya kaum Nabi Hud, dilanjutkan pada ayat 39 kisah Nabi Musa dan Fir’aun. Semuanya itu pada ayat 40 Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 36-40 ini akan diberi balasan oleh Allah sebab kedurhakaan mereka.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 28-35, Kisah Kaum Nabi Luth


Ayat 36

Allah mengutus Nabi Syuaib kepada kaum yang berdiam di negeri Madyan, supaya mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Esa dengan ikhlas. Ibadah tersebut akan bermanfaat untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dalam ayat ini dikatakan “harapkanlah (pahala) hari akhir”, berarti hendaklah kamu merasa takut dengan kedatangan hari itu dan persiapkanlah dirimu dengan amal saleh sebanyak-banyaknya guna menghadapinya.

Di samping seruan untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, dan memperbanyak amal untuk perbekalan di kampung akhirat, Syuaib juga menganjurkan supaya meninggalkan segala perbuatan yang bersifat merusak dan membinasakan. Jangan saling merugikan antara sesama manusia, seperti mengurangi takaran dan timbangan, dan merampok kafilah yang sedang lalu.

Kemudian mereka juga diperintahkan untuk memperbanyak tobat kepada Tuhan sambil mengembalikan diri kepada-Nya dengan jalan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ayat 37

Akan tetapi, sebagaimana halnya kaum Nabi Lut, umat Nabi Syuaib pun durhaka dan tidak mau menerima nasihat Nabi Syuaib. Mereka malah mendustakannya. Oleh karena itu, berlakulah sunah Allah. Ketika mereka dengan terang-terangan mengingkari Syuaib setelah diberi peringatan berulang-ulang, maka tibalah waktunya Allah mengazab mereka.

Bumi tempat kediaman mereka diguncang oleh gempa yang menggetarkan dan menghancurkan tanah kediaman mereka. Mereka  mati jungkir balik dan ditelan bumi, tanpa bergerak lagi. Cerita lebih lengkap tentang Nabi Syuaib telah disebutkan pula oleh Tuhan dalam ayat-ayat lain, yaitu pada Surah Al-A‘raf/7: 88-93, Hud/11: 87-94, dan asy-Syu‘ara’/26: 176-190.

Ayat 38

Ayat ini menyebutkan mereka durhaka kepada Nabi Hud dan tidak mau meninggalkan sesembahan nenek moyang mereka itu disebabkan bujukan setan. Di samping menyembah selain dari Allah Yang Maha Esa, mereka juga senang mengganggu kafilah yang sedang lewat membawa barang dagangannya. Padahal, mereka mempunyai cukup kemampuan untuk berpikir dan menilai betapa buruknya perbuatan mereka itu.

Mereka sering menyangsikan dan menunggu-nunggu kedatangan azab Tuhan yang dijanjikan itu, tetapi mereka tidak pernah memikirkannya. Mereka tidak pernah memikirkan dan merenungkan azab yang bakal menimpa. Mereka asyik dengan pekerjaannya sampai lengah untuk memperhatikan sesuatu yang menunjukkan keesaan Allah.

Ayat 39

Musa telah menjelaskan kepada Karun, Fir‘aun, dan Haman tanda-tanda kebesaran ayat Allah sebagai dasar untuk memperkuat risalah yang dibawanya. Namun demikian, mereka bersikap angkuh atau takabur dan tidak mau beriman.

Kecongkakan Fir‘aun sungguh telah melampaui batas. Ia menganggap dirinya sebagai tuhan yang harus disembah. Oleh karena itu, mereka semua tidak terlepas dari azab Allah dalam berbagai siksaan.

Ayat 40

Allah membinasakan umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul dengan menurunkan bermacam-macam azab, di antaranya:

  • Angin yang sangat kencang dan membawa batu, yang didatangkan kepada kaum ‘Ad. Mereka menantang Nabi Hud, “Siapakah gerangan yang lebih kuat dan berkuasa lagi dari kami?” Kesombongan mereka dibalas Tuhan dengan mendatangkan angin, sehingga mereka mati bergelimpangan. Allah berfirman dalam ayat lain yang menjelaskan tentang siksaan itu, yakni:

وَاَمَّا عَادٌ فَاُهْلِكُوْا بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍۙ  ٦  سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّامٍۙ حُسُوْمًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰىۙ  كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍۚ  ٧  فَهَلْ تَرٰى لَهُمْ مِّنْۢ بَاقِيَةٍ   ٨

 Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).Maka adakah kamu melihat seorang pun yang masih tersisa di antara mereka? (al-Haqqah/69: 6-8)

  • Suara mengguntur yang memecahkan anak telinga. Siksaan ini diturunkan kepada kaum Samud. Mereka masih membangkang, tidak mau beriman kepada Nabi Saleh. Tiba-tiba mereka dipingsankan lalu mati oleh kejutan suara yang mengguntur yang dahsyat sekali. Allah menjelaskan lagi:

فَاَمَّا ثَمُوْدُ فَاُهْلِكُوْا بِالطَّاغِيَةِ

Maka adapun kaum Samud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang sangat keras. (al-Haqqah/69: 5)

  • Ditelan bumi, inilah kisah buat Karun, seorang hartawan. Pada mulanya, ia adalah seorang yang beriman dan patuh kepada Musa. Kemudian setelah kaya, ia menjadi sombong dan durhaka. Ia berbuat kemungkaran melampaui batas. Lebih dari itu, ia tidak mau menyerahkan zakat sebagai kewajiban harta kekayaan bagi orang kaya. Karena kecongkakan ini, Allah menyiksanya. Tanah sekitar Karun berpijak berguncang, runtuh, dan secara berangsur menelan tubuh Karun sampai lenyap sama sekali dari permukaan bumi.

Firman Allah :

فَخَسَفْنَا بِهٖ وَبِدَارِهِ الْاَرْضَ ۗفَمَا كَانَ لَهٗ مِنْ فِئَةٍ يَّنْصُرُوْنَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖوَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِيْنَ

Maka Kami benamkan dia (Karun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri. (al-Qashash/28: 81)

  • Ditenggelamkan ke dalam air. Inilah siksaan buat umat Nabi Nuh bersama seluruh hartanya. Selain umat Nabi Nuh, Fir‘aun, Haman beserta bala tentaranya juga tenggelam dalam Laut Merah sebagai balasan atas kesombongan dan siksaan yang mereka lakukan terhadap Musa dan pengikutnya.

Firman Allah tentang Nuh dalam Surah al-Anbiya’/21: 76-77:

وَنُوْحًا اِذْ نَادٰى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَنَجَّيْنٰهُ وَاَهْلَهٗ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيْمِ ۚ  ٧٦  وَنَصَرْنٰهُ مِنَ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمَ سَوْءٍ فَاَغْرَقْنٰهُمْ اَجْمَعِيْنَ   ٧٧ 

Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu, ketika dia berdoa. Kami perkenankan (doa)nya, lalu Kami selamatkan dia bersama pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami menolongnya dari orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya. (al-Anbiya’/21: 76-77)

Firman Allah tentang Fir‘aun dalam Surah al-Qashash/28: 39-40:

وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُوْدُهٗ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ اِلَيْنَا لَا يُرْجَعُوْنَ ٣٩ فَاَخَذْنٰهُ وَجُنُوْدَهٗ فَنَبَذْنٰهُمْ فِى الْيَمِّ ۚفَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظّٰلِمِيْنَ   ٤٠

Dan dia (Fir’aun) dan bala tentaranya berlaku sombong, di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami siksa dia (Fir‘aun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zalim.

Semua itu adalah balasan yang setimpal atas kesalahan yang mereka lakukan, bukan kezaliman dari Allah. Dia tidak akan menyiksa seseorang kecuali yang mengerjakan perbuatan tercela. Mengazab seseorang tanpa ada kesalahan tidak sesuai dengan sunah Allah yang berlaku.

Mereka yang tersebut dalam ayat-ayat yang lalu disiksa karena dosa dan kekafiran mereka terhadap Allah. Di samping itu, juga karena mereka menyembah berhala dan mengingkari nikmat yang diberikan kepadanya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 41-45


 

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 28-35

0
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 28-35 mengisahkan tentang Nabi Luth yang diutus ke negeri Sodom. Lut menikahi seorang putri dari kaum tersebut sehingga ia mempunyai hubungan besan dengan mereka. Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 28-35 ini mengisahkan perbuatan kaum negeri Sodom yang sangat tercela yakni mereka menyukai sesama laki-laki. Hingga akhirnya dalam Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 28-35 ini Allah menurunkan azab bagi mereka.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 26-27


Ayat 28

Allah menyuruh Nabi Muhammad menceritakan kisah Nabi Lut. Beliau diutus ke suatu kaum yang berdiam di negeri Sodom. Lut sendiri berdiam di negeri itu. Salah seorang dari putri kaum itu dikawininya, sehingga Lut punya hubungan besan dengan mereka. Dengan tegas Lut mengatakan kepada kaumnya bahwa apa yang mereka kerjakan selama ini dipandang sebagai perbuatan yang disebut fahisyah (perbuatan jahat dan tercela).

Istilah sodomi yang populer saat ini berasal dari nama kota di mana kaum Lut melakukan perbuatan tercela itu. Apa yang mereka kerjakan belum pernah diperbuat oleh umat-umat sebelumnya seperti dijelaskan dalam ayat berikutnya tentang jenis perbuatan apa yang mereka kerjakan itu.

Ayat 29

Kaum Lut senang melampiaskan syahwatnya kepada sesama pria. Kebiasaan ini jelas bertentangan dengan tujuan kebutuhan biologis manusia biasa. Nafsu seksual yang normal justru merangsang pria untuk melampiaskan nafsu syahwatnya kepada wanita.

Perbuatan ini sangat dicela Lut dan ia menasihati kaumnya agar perbuatan terkutuk tersebut ditinggalkan. Penduduk kota Sodom juga senang melakukan perampokan dan pembunuhan di jalan yang dilalui oleh kafilah yang membawa barang dagangan. Barang-barang mereka dirampas, kemudian pemiliknya dibunuh.

Di samping itu, perkataan dan perbuatan mereka di tempat-tempat perkumpulan sangat menjijikkan, merusak sendi-sendi akhlak dan moral yang mulia dan pikiran yang sehat. Rasulullah bersabda:

عَنْ أُمِّ هَانِى رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ قَوْلَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى (وَتَأْتُوْنَ فِى نَادِيْكُمُ الْمُنْكَرَ) مَا كَانَ ذَلِكَ الْمُنْكَرَ الَّذِى كَانُوْ يَأْتُوْنَهُ؟ قَالَ كَانُوْا يَسْخُرُوْنْ بِأَهْلِ الطَّرِيْقِ وَيَخْذِفُوْنَهُمْ. (رواه الحاكم)

Diriwayatkan dari Ummu Hani binti Abu Thalib, yang bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, apa pendapatmu tentang arti ayat “Kamu mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu” (al-‘Ankabut/29: 29), kemungkaran apa yang mereka lakukan itu?” Beliau menjelaskan bahwa mereka senang mengejek orang yang lewat di jalan dan menghinanya. (Riwayat al-Hakim)

Lut tidak tinggal diam melihat kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam masyarakat kaumnya. Ia berusaha mencegahnya dengan memberikan nasihat dan pengajaran yang berharga. Akan tetapi, semua itu mereka pandang remeh dan tidak pernah mereka gubris.

Ketika Lut mengancam kaumnya bahwa Allah akan menurunkan azab kalau mereka tidak juga mau mengubah kelakuannya yang keji itu, mereka malah menantang. Kalau benar Tuhan itu akan mendatangkan siksaan-Nya, mereka menantang agar Lut mohon kepada Tuhan supaya diturunkan siksaan yang dijanjikan itu sekarang juga.

“Kami akan membuktikan sampai dimana kebenaran ucapanmu, hai Lut,” tegas mereka pula. Karena kebencian yang mendalam, mereka mengusir Lut dari negeri mereka. Sebab tak ada gunanya orang-orang suci seperti beliau tinggal bersama mereka. Allah menjelaskan:

وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهٖٓ اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا اَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ قَرْيَتِكُمْۚ اِنَّهُمْ اُنَاسٌ يَّتَطَهَّرُوْنَ

Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka (Lut dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.” (al-A‘raf/7: 82)

Umat Lut menantang supaya didatangkan azab. Nabi Lut akhirnya mohon agar Allah menolongnya.

Ayat di atas menggambarkan betapa keras sikap kekafiran dan keras kepala mereka, sampai-sampai mereka tega mengusir rasul utusan Tuhan itu dari negerinya sendiri.

Ayat 30

Lut kemudian sampai pada kesimpulan bahwa kaumnya tidak mungkin lagi menerima seruannya. Ia tidak berharap lagi bahwa kaumnya akan mendapatkan petunjuk dari Allah. Di saat itu, Lut berdoa kepada Allah agar membantunya menghadapi dan memberantas perbuatan-perbuatan jahat dan busuk yang sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakatnya, serta menjadi kebudayaan yang turun temurun.

Mereka menganggap ancaman-ancaman Lut sebagai gertak sambal belaka. Oleh karena itu, Allah sungguh-sungguh mengabulkan doa Lut. Allah lalu mengirimkan kepada mereka hujan batu dari langit sehingga mereka binasa semua. Ini diakibatkan kefasikan dan kekufuran mereka.


Baca Juga: Kisah perilaku Homoseksual Kaum Nabi Luth


Ayat 31

Pada ayat ini, Allah menerangkan tentang kedatangan malaikat yang menemui Nabi Ibrahim. Mereka memberi kabar gembira bahwa Allah akan mengaruniakan kepadanya seorang anak bernama Ishak. Kelak putra itu akan diangkat menjadi nabi dan rasul menggantikan tugas dan jabatan Ibrahim. Kemudian diberitahukan kepadanya bahwa negeri Sodom akan dihancurkan untuk menghukum kaum yang mendustakan Lut dan berbuat zalim.

Ayat 32

Ibrahim merasa khawatir dan cemas akan nasib Lut, karena Lut mungkin akan turut hancur bersama mereka. Oleh karena itu, ia mengingatkan hal ini kepada mereka yang ditugaskan Allah itu. Ibrahim berkata, “Hai malaikat, di sana ada seorang utusan Allah bernama Lut. Dia bukan termasuk orang yang aniaya kepada dirinya, bahkan ia seorang rasul yang beriman dan taat kepada-Nya.”

Malaikat itu menjawab, “Ya kami sudah memakluminya, dan Lut bukan termasuk dalam golongan orang yang jahat itu. Akan tetapi, istrinya termasuk orang yang tetap akan disiksa, karena turut membenarkan kaum Lut atas kekafiran, kezaliman, dan perbuatan-perbuatan keji mereka.

Ayat 33-34

Ketika malaikat datang menemui Lut dan menyampaikan maksud kedatangannya, Lut menjadi panik dan sesak napas. Sebab, ia khawatir orang-orang Sodom itu akan mengganggunya kelak bila mengetahui ada tamu yang mulia itu. Oleh karena itu, kedatangan malaikat itu sengaja dirahasiakannya. Lut tidak sanggup menolak kedatangan mereka.

Setelah melihat ketakutan dan kecemasan Lut atas kedatangan kaumnya, para malaikat itu menenteramkannya  dengan berkata, “Hai Lut hendaklah engkau tenang, jangan gusar. Engkau tak usah khawatir akan keselamatan kami dan apa yang dilakukan oleh kaummu terhadap kami. Sebab perbuatan jahat mereka telah sampai ke puncaknya dan nasihat sudah cukup banyak engkau sampaikan kepada mereka.”

Untuk menenteramkan perasaan Lut, malaikat itu berkata pula, “Kami akan menyelamatkan engkau dari siksaan yang akan diturunkan kepada kaummu dalam waktu dekat ini, demikian pula para pengikutmu yang beriman dan setia. Tak dapat tidak, pastilah mereka itu akan mengalami siksaan berat. Dan istrimu termasuk golongan orang-orang yang akan dihukum”.

Istri Lut mengetahui ada tamu lelaki menginap di rumahnya, maka dengan serta-merta ia memberitahukan hal itu kepada rekan-rekannya. Oleh karena itu, tersiarlah berita dengan cepat bahwa di rumah Lut ada tamu tak dikenal. Dengan segera timbullah niat jahat dalam hati mereka untuk mengganggu tamu itu. Mereka lalu berunding dan bermufakat untuk membuat suatu rencana supaya bisa melaksanakan niat tersebut. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa istri Lut termasuk orang yang berserikat dalam rencana busuk itu.

Keterangan malaikat di atas menenangkan perasaan Lut dari ketakutan. Kepada beliau diingatkan lagi, “Kami para malaikat pasti akan mendatangkan siksaan kepada mereka dengan tangan kami sendiri, akibat kefasikan yang sudah berurat berakar dalam diri mereka.”

Pendapat yang masyhur menyebutkan, mula-mula terjadi guncangan keras, dan tanah tempat kediaman manusia yang durhaka itu menjadi jungkir balik. Setelah diserang hujan batu dan gempa bumi yang dahsyat, negeri itu  menjadi hancur berantakan dan rata dengan bumi. Akhirnya negeri Sodom, bekas kediaman umat Nabi Lut, menjadi lautan mati (al-Bahrul Mayit).

Ayat 35

Kemudian dijelaskan bahwa di samping untuk menghukum kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh kaum Lut, azab dan bala itu diturunkan juga diharapkan menjadi peringatan bagi generasi yang hidup sesudahnya, yaitu orang-orang yang menggunakan akal dan ingin mendapatkan pelajaran dari apa yang telah terjadi.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 36-40


Pesan untuk Suami-Istri dalam Berumah Tangga pada Surah Al- Baqarah ayat 233

0
suami-istri dalam berumah tangga pada surah Al-Baqarah ayat 233
suami-istri dalam berumah tangga pada surah Al-Baqarah ayat 233

Permasalahan rumah tangga tidak dapat terhindarkan oleh siapapun dan pasangan manapun. Ia merupakan bumbu dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Dua pribadi yang berbeda kemudian hidup menyatu tentu tidak mudah. Kali ini akan diulas sedikit pesan untuk suami-istri dalam berumah tangga khusunya yang tersirat dalam surah Al-Baqarah ayat 233

Setiap pasangan akan mempunyai masalahnya masing-masing dalam kehidupan rumah tangganya, bahkan setingkat Nabi juga pernah mengalaminya. Misal Nabi Zakariya as. yang membutuhkan waktu puluhan tahun dalam menanti keturunan, rumah tangga Nabi Muhammad Saw dan Siti ‘Aisyah ra juga tertimpa isu perselingkuhan, dan lainnya.

Pada Q.S Al-Baqarah ayat 233 disebutkan

وَالْوَالِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۗ وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَاۤرَّ وَالِدَةٌ ۢبِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُوْدٌ لَّهٗ بِوَلَدِهٖ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذٰلِكَ ۚ فَاِنْ اَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗوَاِنْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْٓا اَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّآ اٰتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ – ٢٣٣

Artinya: “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S al-Baqarah[2]: 233)

Baca Juga: Tafsir Surah An Nisa Ayat 34: Peran Suami Istri dari Pemutlakan hingga Fleksibilitas Kewajiban

Berdasarkan terjemah, ayat tersebut membahas tentang kewajiban seorang ibu untuk menyusui anaknya dan juga kewajiban seorang ayah untuk menafkahi keluarganya juga tentang diperbolehkannya menyerahkan pengasuhan anak kepada orang lain karena suatu sebab. Namun tidak hanya sebatas tekstual saja, para mufassir berusaha menjelaskan makna mendalam terkait ayat tersebut.

Buya Hamka menjelaskan dalam Tafsir al-Azhar, bahwa pada potongan ayat “Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya….” Maksudnya adalah nafkah, pakaian dan kebutuhan lainnya pada istri hendaklah disesuaikan dengan kemampuan suami tetapi juga memperhatikan kepantasan.

Sang istri hendaklah tidak memaksakan di luar kemampuan suaminya begitu pula dengan sang suami tidak memaksakan di luar kemampuan istrinya untuk pengasuhan anaknya. Jika tidak dapat memenuhi pengasuhan dua tahun misalnya, maka jangan dipaksakan.

Potongan ayat “Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya…” yang dimaksud ayat tersebut adalah ketika terjadi perceraian, suami memutus atau mencabut hubungan anak dengan ibunya. Padahal hal tersebut adalah sangat menyusahkan hati sang ibu.

Begitu pula sebaliknya, jika sang ayah rindu dengan anaknya, maka sang ibu hendaknya tidak menghalang-halanginya untuk bertemu dengan anaknya. Atau contoh lain disini adalah memaksakan suami di luar kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan.

Menurut Hamka, kedua potongan ayat di atas sangat penting bagi pendidikan seorang anak. Karena banyak contoh kasus bahwa seorang anak membenci ayah atau ibu kandungnya sendiri karena didikan salah satunya yang suka membicarakan kejelekan pasangannya di depan anaknya, meskipun keduanya telah bercerai. Jadi seakan-akan dendam orangtuanya dilampiaskan kepada anaknya.

Dalam Tafsir al-Mishbah, Quraish Shihab menyebutkan bahwa ayat tersebut memiliki makna lebih dalam dengan melihat kata musyawarah antara suami-istri mengenai penyapihan anaknya. Jadi maksudnya, sangat penting bermusyawarah antara suami-istri termasuk dalam perihal urusan rumah tangganya secara keseluruhan, bukan hanya tentang penyapihan anaknya sebagaimana tertuang pada ayat di atas.

Baca Juga: Tafsir Surat Ali Imran 31: Cara Mempererat Hubungan Suami-Istri

suami-Istri dalam berumah tangga perhatikan beberapa hal berikut

Berdasarkan pemaparan oleh kedua mufasir nusantara di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam menjaga kehidupan berumah tangga hendaklah suami-istri memperhatikan hal-hal berikut ini:

  1. Suami-istri saling memahami kemampuan satu sama lain. Sehingga tidak adanya paksaan antara keduanya yang di luar batas kemampuan;
  2. Suami-istri hendaklah mengetahui hak-hak dan kewajiban masing-masing atau saling mengingatkan. Contohnya kewajiban suami untuk memberi nafkah dan kewajiban istri yang menyusui anaknya dan sebagainya. Sehingga masing-masing merasa memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi;
  3. Suami-istri hendaklah memperhatikan pendidikan karakter terhadap anaknya, terutama dalam hal menjaga sikap juga ucapan di depan anaknya;
  4. Suami-istri hendaklah bersikap terbuka satu sama lain;
  5. Suami-istri hendaklah saling bermusyawarah dalam mengahadapi segala urusan rumah tangganya agar tidak merasa dirugikan salah satunya;
  6. Suami-istri hendaklah menjaga ketakwaan kepada Allah Swt. Berdasarkan ayat di atas yaitu dengan menjaga amanah dari Allah Swt berupa keturunannya dengan bertanggung jawab atas pendidikan, pengasuhan dan pembelaan terhadapnya.

Masih banyak hal yang perlu diperhatikan pasangan suami-istri dalam berumah tangga, hal di atas hanyalah sebagiannya saja. Oleh karena itu, sangat penting kehadiran pasangan yang satu visi-misi satu sama lain, agar merasa nyaman, sehati dan saling menguatkan sehingga nantinya tidak merasa terlalu terbebani dalam melaksanakan tugas-tugas rumah tangganya. Wallahhu a’lam.

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 26-27

0
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 26-27 dikisahkan setelah melihat mukjizat Nabi Ibrahim yang tidak terbakar api Lut bin Haran segera menyatakan keimanannya dengan gembira Nabi Ibrahim menyambutnya serta berucap akan menjadikan negeri Syam sebagai tempatnya berhijrah. Hingga selanjutnya dalam Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 26-27 ini Lut lah yang menjadi orang pertama menemani Nabi Ibrahim berhijrah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 21-25


Ayat 26

Pada ayat ini disebutkan seorang hamba Allah yang bernama Lut yaitu Lut bin Haran. Beliau anak saudara Nabi Ibrahim. Setelah menyaksikan kehebatan mukjizat Allah atas Nabi Ibrahim (tidak hangus dimakan api), ia segera menyatakan keimanannya. Ibrahim menyambut gembira pengikut pertamanya itu dengan ucapan, “Aku akan menjadikan negeri Syam sebagai kampung tempat aku berhijrah.”

Menurut keterangan ahli sejarah, kampung yang dijadikan Ibrahim tempat berhijrah tersebut adalah dalam wilayah Kufah yaitu Kutsa sampai ke negeri Syam. Lut semakin kuat keimanannya dengan memperoleh hidayah dari Allah, meskipun hidup dalam suasana masyarakat yang porak-poranda, membuang waktu, dan melakukan pekerjaan yang tiada bermanfaat.

Jika Ibrahim diam tanpa menjalankan tugas dakwah, maka hal itu adalah tanda tidak setuju atas perbuatan mungkar yang dilakukan kaumnya. Ibrahim berkata dalam hatinya, jika ia tinggal tetap di negerinya, berarti ia membuang waktu dengan percuma. Atas pertimbangan inilah Ibrahim hijrah ke negeri Syam.

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa di antara kaum Muslimin (pada masa Rasulullah saw) yang pertama hijrah dengan keluarganya adalah sahabat Utsman bin ‘Affan:

عَنْ اَنَسِ ِابْنِ مَالِك رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ عُثْمَانُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ مُهَاجِراً اِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ وَمَعَهُ رُقيَّةُ بِنْتُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحْتَبَسَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبْرُهُمْ وَكَانَ يَخْرُجُ يَتَوَكَّفُ عَنْهُمُ الْخَبْرَ فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ فَأَخْبَرَتْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّ عُثْمَانَ أَوَّلُ مَنْ هَاجَرَ اِلَى اللهِ بِأَهْلِهِ بَعْدَ لُوْطٍ. (رواه الطبرانى)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Utsman bersama istrinya Ruqayah binti Rasulullah berhijrah ke negeri Habsyah. Kemudian  Rasulullah tertahan tidak mendapat berita tentang keadaan mereka di Habsyah, padahal beliau mengharapkan berita mereka. Kemudian ada seorang wanita yang menyampaikan kabar tentang ‘Utsman dan putri beliau kepada Nabi, Rasulullah kemudian bersabda, ‘Utsman adalah orang pertama yang hijrah dengan keluarganya kepada Allah sesudah Nabi Lut’.” (Riwayat ath-Thabrani)

Berdasarkan hadis di atas, jelaslah bahwa Lut adalah orang pertama yang terpaksa melakukan hijrah bersama Ibrahim demi menyelamatkan agamanya. Alasan Ibrahim melakukan hijrah itu adalah karena Allah sajalah yang berkuasa untuk memberikan pertolongan kepadanya.

Allah yang mencegah niat seseorang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Dia Maha Bijaksana dalam mengatur urusan makhluk-Nya, dan segala apa yang mereka usahakan. Sebab lain adalah karena negeri Ibrahim sudah tidak kondusif untuk menjaga iman pengikutnya.

Ayat 27

Pada ayat ini, Allah menceritakan beberapa nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada Ibrahim di dunia dan akhirat sebagai imbalan dari keikhlasan beliau dalam beramal. Nikmat karunia tersebut adalah antara lain:

  • Ibrahim dikaruniai putra bernama Ishak. Ishak kelak dikaruniai putra yang bernama Yakub. Keduanya diangkat menjadi nabi, firman Allah:

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۙوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا

Maka ketika dia (Ibrahim) sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak dan Yakub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi. (Maryam/19: 49)

Pada ayat lain diterangkan pula:

 وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ نَافِلَةً ۗوَكُلًّا جَعَلْنَا صٰلِحِيْنَ

Dan Kami menganugerahkan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Yakub, sebagai suatu anugerah. Dan masing-masing Kami jadikan orang yang saleh. (al-Anbiya’/21: 72)

  • Ketinggian derajat Ibrahim, Ishak, dan Yakub pernah pula ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

إِنَّ الْكَرِيْمَ ابْنَ الْكَرِيْمِ ابْنِ الْكَرِيْمِ ابْنِ الْكَرِيْمِ يُوْسُفُ بْنُ يَعْقُوْبَ بْنِ اِسْحَاقَ بْنِ اِبْرَاهِيْمَ. (رواه البخاري و مسلم عن أبي هريرة)

Sesungguhnya orang yang dikatakan mulia adalah anak dari orang mulia, anak dari orang yang mulia, anak dari orang yang mulia, yaitu Yusuf bin Yakub bin Ishak bin Ibrahim. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

  • Dari garis keturunan anak cucu Ibrahim, lahir orang-orang yang mendapat derajat nubuwwah (kenabian) dengan memperoleh wahyu. Dari anak beliau Ishak lahir Yakub, Yusuf, dan Isa dan dari Ismail lahir Nabi Muhammad.

  • Dianugerahkan kepada Ibrahim pahala di dunia. Para ahli tafsir menerangkan makna “pahala di dunia” di sini ialah keturunan yang banyak mengubah keyakinan pengikutnya dari bangsa yang sesat menjadi bangsa yang memperoleh hidayah. Dari kalangan keturunannya, banyak yang memperoleh derajat kenabian. Nama Ibrahim disebut dalam ucapan selamat ketika mengerjakan salat, dan namanya terkenal sebagai “bapak para nabi”, di mana sebelumnya dia seorang laki-laki yang tidak begitu banyak dikenal. Ini ditegaskan Allah dalam ayat yang berbunyi:

قَالُوْا مَنْ فَعَلَ هٰذَا بِاٰلِهَتِنَآ اِنَّهٗ لَمِنَ الظّٰلِمِيْنَ ٥٩ قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗٓ اِبْرٰهِيْمُ ۗ  ٦٠

Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim.” Mereka (yang lain) berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” (al-Anbiya’/21: 59-60)

Nabi Ibrahim adalah satu-satunya nabi yang memperoleh gelar “Khalilullah” (kekasih Allah).

  • Pada hari Kiamat, Ibrahim dimasukkan dalam barisan orang-orang saleh. Maksudnya disempurnakan untuknya pahala kebaikan dan ketakwaan. Juga disempurnakan pahalanya dengan memberikan bermacam-macam kelebihan. Lebih dari itu, ia memperoleh kemenangan dengan mencapai beberapa derajat yang tinggi di sisi Tuhan semesta alam.

Ringkasnya Allah telah menganugerahkan kepada Ibrahim berbagai macam kebahagiaan dunia dan akhirat.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 28-35


Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 21-25

0
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 21-25 menerangkan tentang azab bagi orang-orang yang tidak mau beriman, azab Allah tidak hanya di akhirat tapi juga di dunia. Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 21-25 juga menjelaskan bahwa bagi orang beriman akan diturunkan rahmat.

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 21-25 juga menceritakan tentang Nabi Ibrahim yang selamat dari api yang membakarnya, semua itu sebab rahmat dari Allah untuk menunjukkan kekuasaannya bagi orang-orang yang tidak beriman maupun yang beriman.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 16-20


Ayat 21

Setelah menerangkan tentang adanya hari Kebangkitan, Allah kemudian menerangkan bahwa Dia akan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya di antara orang-orang yang tidak mau beriman dan orang beriman yang mengerjakan dosa. Azab tersebut tidak hanya terbatas di akhirat saja, tetapi juga di dunia.

Sebaliknya Allah akan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki dengan nikmat dan keutamaan-Nya. Allah yang menetapkan sesuatu menurut apa yang diinginkan-Nya. Allah tidak bertanggung jawab kepada manusia, tapi manusia yang wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah.

Akhir ayat ini menyebutkan bahwa semua manusia akan dikembalikan kepada Allah. Oleh sebab itu, jangan ada di antara manusia yang mengira akan luput dari perhitungan amalannya di hadapan Allah. Allah yang akan memperhitungkan amal perbuatan setiap manusia dan Dia pula yang menentukan pahala atau azab sebagai imbalannya.

Ayat 22

Tidak ada yang mengalahkan dan menandingi kekuasaan Allah. Allah berkuasa atas sekalian hamba-Nya. Semua makhluk membutuhkan-Nya. Andaikata seseorang pergi mencari tempat pelarian ke langit yang tinggi, atau bersembunyi dalam perut ikan di laut, ia takkan dapat melepaskan diri dari genggaman kekuasaan Allah.

Oleh karena itu, tidak seorang pun di antara manusia yang dapat mencari seorang penolong yang akan melepaskannya dari azab dan siksaan Allah, baik di langit maupun di bumi.

Ayat 23

Setelah menjelaskan tiga masalah pokok dalam Islam yang  merupakan sebagian dari rukun iman, maka Allah mengancam orang kafir yang tidak mau membenarkan keterangan-keterangan-Nya di atas bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah, sehingga mereka berputus asa.

Karena mengingkari keesaan Allah, mendustakan para rasul yang diutus kepada mereka, serta tidak percaya akan adanya hari Kebangkitan, berarti mereka tidak takut akan ancaman azab Allah dan tidak mengharapkan balasan yang baik dari sisi Nya. Oleh karena itu, wajar jika mereka diancam dengan azab yang pedih, di dunia maupun akhirat.


Baca Juga: Surah Al-Baqarah Ayat 124, Ujian Allah Swt Kepada Nabi Ibrahim As


Ayat 24

Karena Ibrahim tetap saja dengan gigih mengajak kaumnya menyembah Allah dengan mengesakan dan bertakwa kepada-Nya, mereka kemudian marah dan berteriak, “Bunuh saja Ibrahim atau campakkan dia ke dalam api.”

Maka dibangunlah sebuah rumah tempat pembakaran dan api dinyalakan. Tidak lama kemudian, Ibrahim dengan disaksikan oleh semua orang-orang kafir dilemparkan ke dalam api yang berkobar-kobar itu. Akan tetapi, Allah berbuat menurut kehendak-Nya. Ibrahim selamat, dan tidak satu pun anggota tubuhnya yang hangus terbakar. Api diperintahkan menjadi dingin dan memberi keselamatan bagi Ibrahim. Allah berfirman:

قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (al-Anbiya’/21: 69)

Nabi Ibrahim selamat dari amukan api yang begitu dahsyat dan mengerikan. Ini adalah suatu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah bagi orang yang beriman. Peristiwa tersebut merupakan salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepada Ibrahim.

Ayat 25

Setelah selamat, Ibrahim mendatangi kaumnya lagi dengan sikap mengecam dan mencela tuhan-tuhan yang mereka sembah. “Sebenarnya kamu menyembah berhala-berhala itu tidak lain adalah untuk memelihara kasih sayang antara sesamamu. Kamu merasa mesra dan semakin akrab karena menyembah kepadanya.

Padahal tidak ada sedikit pun alasan yang dapat membenarkan penyembahan itu,” kata Ibrahim memberi pengajaran kepada kaumnya. Sebaliknya di hari Kiamat kelak hubungan kasih sayang itu akan berubah menjadi suasana saling tuduh menuduh dan saling membenci, bahkan saling mengutuk, baik antara sesama teman akrab, maupun antara yang mengikuti (rakyat) dengan yang diikuti (pemimpin).

Hanya satu yang tidak mungkin lagi mereka harapkan yakni pertolongan dari Allah. Hal tersebut tidak akan terjadi pada orang-orang yang beriman dan bertakwa.

Allah berfirman:

اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ ۗ ࣖ

Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa. (az-Zukhruf/43: 67)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 26-27


Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 16-20

0
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 16-20 mengisahkan tentang Nabi Ibrahim. Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menceritakan kisah Nabi Ibrahim kepada umatnya agar umatnya dapat meneladani sikap Nabi Ibrahim yang mampu berpikir dan menganalisa sesuatu dengan objektif. Dijelaskan dalam Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 16-20 bahwa Nabi Ibrahim sangat mencela perbuatan kaumnya yang menyembah dan menyerahkan diri kepada sebuah patung.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 12-15


Ayat 16

Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar menceritakan kepada umatnya kisah Nabi Ibrahim. Setelah dewasa, sempurna pertumbuhan akalnya, sanggup untuk berpikir dan menganalisa sesuatu dengan objektif, dan telah memungkinkan untuk mencapai derajat kenabian yang sempurna, maka Ibrahim mulai mencurahkan perhatiannya menyeru manusia untuk menerima kebenaran yang dibawanya.

Ia mengajak mereka untuk mengesakan Allah dalam ibadah dan membersihkan diri dari segala bentuk kemusyrikan. Ia juga menyerukan agar mereka ikhlas mengabdi kepada Allah baik ketika seorang diri atau di hadapan orang banyak, serta menjauhi murka Allah dengan melaksanakan segala tugas dan kewajiban yang diperintahkan-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya.

Semuanya itu merupakan perintah Allah yang harus disampaikan oleh Ibrahim kepada kaumnya. Apa yang disampaikan itu adalah yang terbaik andaikata mereka memiliki sedikit ilmu pengetahuan. Dengan ilmu itu mereka dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan bagaimana mencari atau memperoleh kemanfaatan sebanyak-banyaknya untuk dunia dan akhirat. Kemudian Ibrahim menunjukkan kepada mereka tentang kesengsaraan yang menimpa orang yang mencari tuhan selain Allah.

Ayat 17

Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa sesembahan selain Dia sudah jelas merupakan hasil ciptaan tangan manusia sendiri, tetapi mereka berdusta dengan menganggapnya tuhan yang sebenarnya. Mereka menganggap hasil ciptaan mereka yang berbentuk patung dan berhala itu sanggup memberi manfaat atau keuntungan kepada mereka.

Ibrahim mencela dan mengecam anggapan mereka karena patung-patung itu sedikit pun tidak sanggup memberi rezeki kepada mereka. Rezeki itu adalah wewenang mutlak yang hanya dimiliki oleh Allah. Oleh karena itu, dianjurkan kepada mereka supaya memohon rezeki dan penghasilan hanya kepada Allah, kemudian mensyukuri jika yang diminta itu telah dikabulkan-Nya.

Hanya Allah yang mendatangkan rezeki bagi manusia serta semua kenikmatan hamba-Nya. Manusia dianjurkan untuk mencari keridaan-Nya dengan jalan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ayat ini ditutup dengan lafal “kepada-Nyalah kamu dikembalikan” artinya manusia harus bersiap-siap menemui Allah dengan beribadah dan bersyukur. Setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatannya dan semua kenikmatan yang mereka terima.

Ayat 18

Ibrahim kembali memperingatkan kaumnya bahwa jika mereka membenarkan apa yang telah disampaikan kepada mereka, pasti mereka akan bahagia. Sebaliknya, mereka akan mendapat mudarat dan kesengsaraan jika tetap mendustakan seruan nabi seperti yang dialami orang-orang sebelum mereka yang mendustakan para utusan Tuhan.

Di antaranya seperti yang telah dialami umat Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Saleh. Mereka semua telah disiksa Allah akibat kedurhakaan mereka. Di sisi lain, Allah telah menyelamatkan orang-orang yang beriman beserta para rasul-Nya.

Ayat ini diakhiri dengan penegasan bahwa tugas dan misi rasul adalah menyampaikan kebenaran yang nyata kepada umat manusia. Andaikata mereka itu mau membenarkan atau menolaknya, maka itu tidak membawa akibat apa-apa terhadap diri rasul.

Tidak ada wewenang yang diberikan Allah kepada setiap rasul untuk memaksa manusia mempercayai seruan dakwahnya. Apakah mereka mau membenarkannya atau tetap mendustakannya adalah di luar tanggung jawabnya.


Baca Juga: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 68-69: Fakta Menarik di Balik Pembakaran Nabi Ibrahim


Ayat 19

Sebagian ulama memandang ayat ini ditujukan kepada penduduk Mekah yang tidak mau beriman kepada Rasulullah. Tetapi jumhur mufasir berpendapat bahwa ayat ini masih merupakan rangkaian dari peringatan Nabi Ibrahim kepada kaumnya.

Di sini Allah menegaskan bilamana orang-orang kafir tetap tidak juga percaya kepada Allah Yang Maha Esa seperti apa yang disampaikan oleh para rasul-Nya, maka mereka diajak untuk melihat dan memikirkan tentang proses kejadian diri mereka sendiri sejak dari permulaan sampai akhir. Allah menciptakan manusia mulai dari proses di rahim ibu selama enam atau sembilan bulan, atau lebih.

Setelah lahir, manusia dilengkapi dengan kemampuan pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran. Untuk menjamin kehidupannya, Allah memudahkan sumber-sumber rezeki guna menunjang kelestarian hidupnya. Apabila telah datang takdir, Allah mewafatkannya melalui malaikat yang ditugaskan. Bagi Allah membangkitkan manusia adalah mudah seperti mudahnya menciptakan mereka. Allah menegaskan dalam ayat lain:

وَهُوَ الَّذِيْ يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ وَهُوَ اَهْوَنُ عَلَيْهِۗ وَلَهُ الْمَثَلُ الْاَعْلٰى فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ

Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (ar-Rum/30: 27)

Tegasnya ayat ini memperingatkan bahwa manusia seharusnya dapat memahami betapa mudahnya bagi Allah menciptakan manusia. Akan tetapi, mengapa mereka tidak mempercayai akan adanya hari Kebangkitan padahal itu justru lebih mudah bagi Allah?

Ayat 20

Bilamana manusia masih belum juga memahami apa maksud ayat di atas Allah, menganjurkan supaya mereka berjalan mengunjungi tempat-tempat lain seraya memperhatikan dan memikirkan betapa Allah kuasa menciptakan makhluk-Nya.

Manusia juga diperintahkan untuk memperhatikan susunan langit dan bumi, serta jutaan bintang yang gemerlapan. Sebagian ada yang tetap pada posisinya, tetapi berputar pada garis orbitnya. Demikian juga gunung-gunung dan daratan luas yang diciptakan Allah sebagai tempat hidup.

Beraneka ragam tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, sungai dan lautan yang terbentang luas. Semuanya bila direnungkan akan menyadarkan seseorang betapa Maha Kuasanya Allah Pencipta semua itu.

Maka patutkah kita tidak percaya bahwa untuk menghidupkan dan mematikan diri manusia yang lemah itu adalah suatu hal yang sangat mudah bagi Allah? Begitu pula untuk membangkitkan kembali dalam menempuh kehidupan kedua (hari akhirat) juga masalah yang tidak sukar bagi Allah. Pada ayat lain Allah menjelaskan lagi:

سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Fushshilat/41: 53)

Begitu juga kita jumpai ayat yang berbunyi:

ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍۘ  لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۖفَاَنّٰى تُؤْفَكُوْنَ

Demikianlah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tidak ada tuhan selain Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan? (al-Mu’min/40: 62)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 21-25


Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 12-15

0
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67
Tafsir Surah Al-'Ankabut 66-67

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 12-15 diturunkan untuk peringatan kepada orang kafir Quraisy yang senantiasa membujuk kaumnya yang beriman agar kembali ke jalan nenek moyangnya. Selain itu Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 12-15 ini menjadi pembuka kisah Nabi yang diawali dari Nabi Nuh.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 9-11


Ayat 12

Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 12-15 khususnya pada ayat 12 ini Menurut Mujahid, ayat ini diturunkan untuk mengungkapkan usaha-usaha orang Quraisy membujuk kaumnya yang telah beriman dengan mengatakan, “Kami dan kamu tidak akan dibangkitkan kembali. Oleh karena itu, ikutilah langkah-langkah kami. Andaikata kamu berdosa lantaran pekerjaan ini, kamilah yang memikul dosa itu.”

Berkaitan dengan hal ini, Allah memperingatkan orang-orang beriman bahwa orang-orang kafir itu berdusta. Sebab pada hari Kiamat, tidak ada seorang pun diperkenankan memikul dosa orang lain. Allah menegaskan:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗوَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۗ

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu, tidak akan dipikulkan sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. (Fathir/35: 18)

Dan firman Allah:

يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ

Sedang mereka saling melihat. Pada hari itu, orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab dengan anak-anaknya. (al-Ma‘arij/70: 11)

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan kembali bahwa mereka itu adalah orang-orang yang bohong. Imam az-Zamakhsyari menafsirkan bahwa di antara mereka yang mengajak rekan-rekannya berbuat dosa itu terdapat juga orang-orang yang mengaku beragama Islam. Mereka menjanjikan untuk menanggung siksaannya sehingga orang-orang bodoh dan lemah imannya tergoda dengan bujukan dan rayuan halus itu.

Ayat 13

Terhadap ajakan dan bujukan orang-orang kafir itu, Allah menegaskan bahwa tidak ada gunanya bagi diri mereka rayuan-rayuan tersebut. Bujukan tersebut disampaikan dalam usaha mengajak orang lain kepada kekafiran dan kesesatan yang harus mereka tanggung dosanya dan orang yang melakukan karena bujukannya.

Namun orang yang melakukannya sendiri tidak akan berkurang dosanya sekalipun yang mengajaknya lebih dahulu dilipatgandakan siksaannya. Pada ayat ini ditegaskan kembali:

لِيَحْمِلُوْٓا اَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙوَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَزِرُوْنَ ࣖ   ;

(Ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu. (an-Nahl/16: 25)

Dalam sebuah hadis  yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنِ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا (رواه مسلم عن ابى هريرة)

Siapa yang mengajak seseorang kepada petunjuk (Tuhan), ia akan memperoleh pahala sebanyak yang diperoleh oleh orang yang mengamalkan petunjuk itu tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya (sampai Kiamat), dan siapa yang mendorong seseorang kepada kesesatan, baginya dosa sebanyak dosa orang yang mengikuti kesesatan itu (sampai hari Kiamat) tanpa dikurangi sedikit pun dosanya. (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah).

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa di hari kemudian kelak mereka akan dimintai pertanggungjawabannya tentang kebohongan yang mereka perbuat di dunia. Kepadanya ditanyakan pertanyaan-pertanyaan dengan nada menghina tentang orang-orang yang telah mereka tipu dengan kebohongannya, sehingga mereka menjadi tersesat.


Baca Juga: Kisah Nabi Nuh As dan Keingkaran Kaumnya Dalam Al-Quran


Ayat 14

Kisah para nabi itu dimulai dengan menceritakan riwayat perjuangan Nabi Nuh. Beliau adalah bapak para nabi. Ia berdakwah menyeru kaumnya supaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan mempercayai kerasulannya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Namun demikian, ia tidak pernah merasa bosan mengajak mereka, baik siang maupun malam.

Kadang-kadang dengan suara yang lemah lembut, tetapi sering juga dengan suara keras menyampaikan ancaman Allah terhadap kekafiran mereka. Akan tetapi usaha beliau tidak kunjung berhasil. Hanya segelintir saja di antara mereka yang mau beriman. Selebihnya menolak dan mendustakan beliau.

Oleh karena itu, Allah menyiksa mereka. Dikirimlah siksaan yang disebut “Topan Nabi Nuh”, yakni berupa banjir yang menenggelamkan mereka semua. Tidak seorang pun yang selamat dari siksaan Allah itu kecuali orang yang beriman yang ikut dalam bahtera Nuh.

Al-Hakim meriwayatkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: بَعَثَ اللهُ نُوْحًا َوهُوَ ابْنُ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً وَلَبِثَ  فِى قَوْمِهِ اَلْفَ سَنَةٍ إِلاَّ خَمْسِيْنَ عَامًا يَدْعُوهُمْ اِلَى اللهِ وَعَاشَ بَعْدَ الطَّوْفَانِ سِتِّيْنَ سَنَةً حَتَّى كَثُرَ النَّاسُ وَفَشَوْا (رواه الحاكم)

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata, “Allah mengutus Nabi Nuh ketika usia 40 tahun dan berdakwah pada kaumnya selama 950 tahun menyeru mereka untuk mengikuti agama Allah dan Nabi Nuh hidup setelah banjir (topan) selama 60 tahun, sehingga jumlah manusia menjadi banyak dan tersebar. (Riwayat al-Hakim);

Ayat 15

Allah menyelamatkan Nuh dan para pengikutnya dengan sebuah perahu yang telah dibuatnya. Adanya bahtera Nabi Nuh menjadi contoh dan pengajaran bagi orang sesudahnya, karena ia terdampar masih dalam keadaan utuh di sebuah bukit yang bernama Bukit Judi.

Perahu Nabi Nuh sampai beberapa lama masih dapat disaksikan oleh orang yang berkunjung ke sana dalam keadaan utuh. Hal ini menyadarkan orang kepada nikmat Allah yang diturunkan-Nya kepada orang beriman dengan menyelamatkan mereka dari bahaya banjir. Hal demikian dinyatakan dalam ayat lain yang berbunyi:

اِنَّا لَمَّا طَغَا الْمَاۤءُ حَمَلْنٰكُمْ فِى الْجَارِيَةِۙ  ١١  لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَّتَعِيَهَآ اُذُنٌ وَّاعِيَةٌ   ١٢

Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung), Kami membawa (nenek moyang) kamu ke dalam kapal. Agar Kami jadikan (peristiwa itu) sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (al-Haqqah/69: 11-12)

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas ialah bahwa para rasul sesudah Nuh tidak perlu merasa sedih karena keingkaran kaumnya menerima kebenaran wahyu yang dibawanya. Siksaan dan halangan dari kaum kafir dan musyrik yang tidak senang kepada Islam merupakan peringatan bagi orang yang beriman bahwa sekalipun orang-orang musyrik itu menyiksa dan menyakiti mereka di dunia, namun pada akhirnya semuanya akan kembali juga kepada Tuhan.

Orang-orang musyrik itu kembali dengan menemui malapetaka dan kesengsaraan dalam neraka yang menyala-nyala, sedang orang beriman dan sabar dalam menghadapi penderitaan itu kembali ke tempat yang mulia dengan penuh pertolongan Allah.

Demikianlah pelajaran dari kisah Nabi Nuh. Orang kafir yang selama ini menyakiti Nuh dan kaumnya pada akhirnya ditenggelamkan Tuhan dengan banjir, tetapi orang beriman bersama Nuh selamat, berlayar di atas kapal.

Kesabaran Nuh berdakwah dalam masa yang lama itu hendaknya dijadikan pelajaran bagi setiap juru dakwah. Bahkan, seharusnya kita yang lebih besar memiliki rasa kesabaran dari Nuh, sebab umur dan usia kita berdakwah tidaklah sepanjang usia Nabi Nuh.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-‘Ankabut ayat 16-20


Konsep Sunnah Muttaba‘ah dalam Al-Qur’an: Riwayat, Ilmu Qira’ah dan Tajwid

0
Konsep Sunnah Muttaba‘ah dalam Al-Qur’an
Konsep Sunnah Muttaba‘ah dalam Al-Qur’an

Pada salah satu tulisan yang berjudul Menjawab Kritik Ignaz Goldziher atas Relasi Qira’ah dan Rasm, penulis sempat menyinggung istilah sunnah muttaba‘ah dalam akar tradisi qira’ah Al-Qur’an. Istilah ini merujuk dari counter ‘Abd al-Fattah Isma‘il Syalabiy dalam Rasm al-Mushaf al-‘Utsmaniy terhadap kritik historis Ignaz Goldziher atas ketidakserasian dan ketidakseragaman Al-Qur’an dalam narasi-narasinya.

Berkaitan dengan istilah sunnah muttaba‘ah ini, sudahkah pembaca mengetahui dan memahaminya? Jika belum, mari kita kaji bersama-sama.

Selain pada ulasan Syalabiy dalam Rasm al-Mushaf al-‘Utsmaniy, pembaca akan banyak menjumpai istilah sunnah muttaba‘ah atau redaksi lain yang semakna ketika menelaah misalnya, Munjid al-Muqri’in karya Ibn al-Jazariy, Al-Itqan karya Al-Suyuthiy, Manahil al-‘Irfan karya Al-Zarqaniy, atau karya ilmu Al-Qur’an lain seperti Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an karya Manna‘ Khalil al-Qaththan. Oleh para ulama dan pakar Al-Qur’an, redaksi-redaksi semacam ini pada dasarnya dimaksudkan untuk menjelaskan arti penting sebuah riwayat dalam bacaan Al-Qur’an.

Baca juga: Misykat Al-Anwar: Tafsir Ayat Cahaya dalam Perspektif Al-Ghazali

Kisah Terjadinya Konsep Sunnah Muttaba’ah

Kemudian untuk konsep sunnah muttaba‘ah sendiri dapat ditelusuri dari cerita-cerita penisbatan bacaan Al-Qur’an para sahabat dan tabi‘in. Seperti diantaranya riwayat Mas‘ud bin Yazid al-Kindiy,

كَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ يُقْرِئُ رَجُلًا فَقَرَأَ الرَّجُلُ: {إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ} مُرْسَلَةً فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: مَا هَكَذَا أَقْرَأَنِيهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: كَيْفَ أَقْرَأَكَهَا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ فَقَالَ: أَقْرَأَنِيهَا: {إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ} فَمَدَّ

“Ibn Mas‘ud pernah membacakan (mengajarkan Al-Qur’an) kepada seseorang, kemudian seseorang tadi membaca “Inama al-shadaqat li al-fuqara’ wa al-masakin” dengan bacaan irsal pada kata “al-fuqara”. Ibn Mas‘ud lantas menegurnya, “Tidak demikian Rasulullah Saw. membacakannya untukku.” Seseorang tadi kemudian bertanya, “Lalu seperti apa?” Ibn Mas‘ud menjawab, “Rasulullah Saw. membacakannya untukku dengan madd”

Atas riwayat Al-Kindiy ini, Muhsin Salim dalam Pengembangan Pembelajaran Ilmu Tajwid di Lembaga Pendidikan Islam Indonesia (Evaluasi dan Gagasan) mengungkapkan bahwa baik bacaan irsal atau madd pada kata li al-fuqara’, sebenarnya tidak memberikan pengaruh pada perbedaan arti. Namun sekali lagi, karena qira’ah adalah bagian dari sunnah muttaba‘ah, maka seorang murid harus mengikuti cara yang diajarkan oleh gurunya.

Mengapa riwayat menjadi sangat penting dalam qira’ah? Karena dalam qira’ah, siapa saja dituntut untuk sedapat mungkin menghadirkan kualitas bacaan yang sama sebagaimana Rasulullah Saw. dulu melakukannya.

Baca juga: Penjelasan Mufasir Terkait Sujud Kepada Selain Allah dalam Al-Quran

Istilah menghadirkan kembali qira’ah Rasulullah Saw. sejatinya adalah sebuah esensi dari aktifitas pembacaan Al-Qur’an. Sehingga dalam beberapa warning yang diberikan para ulama dan pakar, manakala seseorang tidak mampu memenuhi kualifikasi ini, ia tergolong mendustakan Rasulullah Saw. dan neraka adalah tempat baginya. Berikut Hadis riwayat dari Imam Bukhori:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta terhadapku maka hendaklah ia persiapkan tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari)

Namun demikian, para ulama dan pakar Al-Qur’an memahami bahwa berpegang pada riwayat semata mungkin dirasa sulit bagi beberapa kalangan. Apalagi mereka yang bukan Arabic native speaker. Maka kemudian, esensi dari qira’ah Rasulullah Saw. ini diejawantahkan dalam beberapa disiplin ilmu yang kemudian dikenal dengan ilmu qira’ah dan ilmu tajwid. Dan karena keduanya mampu merepresentasikan kembali kualitas qira’ah Rasulullah, maka mempelajari dan mengaplikasikan keduanya adalah wajib.

Pengejawantahan konsep sunnah muttaba‘ah ini juga menjelaskan tentang kedekatan hubungan yang dimiliki antara ilmu qira’ah dan tajwid. Untuk perbedaan qira’iah dan tajwid sudah tertulis pada tulisan Zainal Abidin dalam judul Qiraat dan Tajwid Apakah Kita Perlu Belajar Semuanya?, tulisan tersebut dijelaskan bahwa qira’ah fokus pada pengucapan lafaz, kalimat dan dialek. Sementara tajwid lebih kepada kesesuaian huruf-huruf Al-Qur’an dengan makhraj dan sifah-nya, untuk perbedaan-perbedaan lainnya sudah disebutkan pada tulisan tersebut.

Baca juga: Surah an-Nisa [4] Ayat 31: Perintah Menjauhi Dosa Besar

Sehingga, tidak mudah untuk benar-benar memberikan Al-Qur’an hak-haknya sebagaimana mestinya. Tetapi bukan tidak mungkin untuk melakukannya. Jika demikian, lantas langkah apa yang harus ditempuh selain menguasai disiplin ilmu qira’ah dan tajwid? InsyaAllah akan diulas dalam part selanjutnya. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Usamah Al-Azhari: Peringatan Keras Memahami Al-Quran Tanpa Ilmu

0
Usamah Al-Azhari_peringatan keras memahami Al-Quran tanpa ilmu
Usamah Al-Azhari_peringatan keras memahami Al-Quran tanpa ilmu

Etika sangat dibutuhkan dalam segala hal, termasuk ketika berinteraksi dengan Al-Quran, dalam menaruh, membaca dan memahami firman-firman Allah di dalamnya. Munculnya fenomena ekstremisme di tengah masyarakat sebabnya adalah dangkalnya pemahaman kelompok tertentu terhadap teks-teks agama, bahkan memahami Al-Quran tanpa ilmu. Hal ini sangat tercela, dan telah mendapat peringatan keras bagi pelakunya sebagaimana dijelaskan Usamah Al-Azhari dalam kitabnya yang berjudul Al-Fam al-Munir.

Al-Quran al-Karim mempunyai kemuliaan dan kehormatan yang tinggi. Ia merupakan wahyu  Allah swt yang di dalamnya tedapat hidayah bagi hamba-hamba-Nya dan pentujuk bagi makhluk-Nya. Allah menurunkannya dengan bahasa Arab yang jelas, dan yang dapat memahaminya hanyalah orang yang mengerti bahasa Arab dan menguasai cabang-cabang keilmuannya.

Baca Juga: Memahami Konsep Sakralitas Al-Quran dan Berbagai Sikap Terhadapnya

Memahami Al-Quran Tanpa Ilmu Menyalahi Etika Belajar Al-Quran

Al-Quran diturunkan untuk menjadi pedoman manusia dalam  kebaikan, kemuliaan, serta mengajak untuk berakhlak luhur dan jalan yang lurus. Allah swt. telah memerintahkan kepada kita agar beretika dalam memahami Al-Quran dan isthinbat hukum di dalamnya. Disebutkan di dalam (QS. an-Nisa’ 4: 83):

وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِلٰٓى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْۢبِطُوْنَه مِنْهُمْ

Artinya: “… (padahal) apabila mereka menyerahkan kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tntulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)”.

Sebagaimana dijelaskan Usamah Al-Azhari, pada ayat tersebut Allah swt menjadikan pemahaman terhadap Al-Quran, penafsiran, analisa dan istinbath hukum-hukum yang terkandung di dalamnya terikat oleh metode yang berlaku dan beberapa bidang keilmuan tertentu. Yang mana demikian merupakan tugas dan tanggungjawab para ulama yang sudah mempunyai kapabilitas keilmuan.

Maka bagi siapapun yang tidak berilmu tidaklah pantas  berbicara tentang kandungan Al-Quran. Rasulullah saw. telah bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

عن ابن عَبَّاسٍ، رضى الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “‏مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ‏”‏‏.‏

“barang siapa yang berbicara tentang Al-Quran tanpa ilmu, maka hendaknya bersiaplah menyediakan tempat di Neraka”. (HR. At-Tirmidzi).

Baca Juga: Dosen di Korea pun Bertafsir, Kyai Mustain: Ada Dua Model Orang Menafsirkan Al-Quran

Secara hukum, Imam An-Nawawi yang mendapat julukan sebagai Muharrir Madzhab syafi’i  dalam kitabnya At-Tibyan fiy Adabi Hamalatil Qur’an (190)  menegaskan haramnya menafsiri Al-Quran tanpa ilmu. Dasar hukum ini diambil dari konsensus  para ulama (Ijma’).

Memahami kandungan makna-makna di dalam Al-Quran merupakan pekerjaan yang memerlukan kejelian dan mempunyai posisi yang sangat terhormat, karena seseorang yang sibuk memahami kandungan Al-Quran berarti ia sedang meneliti apa yang menjadi kehendak Allah dari firman-firmanNya. Sehingga dalam memahaminya dibutuhkan ilmu-ilmu alat yang jeli-detail sebagai media untuk dapat membantu memahaminya.

Termasuk rumpun ilmu pengetahuan terpenting dalam hal ini adalah Ilm Ushul  Fiqh, Ulum al-Balaghah, Ilm Ushul Tafsir dan ilmu-ilmu penting lainya seperti yang diulas Prof. Hasan Hasan Hitou dalam karya Usul Fiqhnya. (Al-Wajiz, Hasan Hitou, 346). As-Suyuthi dalam Al-Itqan-nya pun menjelaskan hal ini.

Az-Zarqani dalam Manahil Al-Irfan juga menyetujui hal ini, namun ia tampak lebih ‘manusiawi’ dengan menambah catatan bahwa menafsirkan dan memahami Al-Quran itu dilakukan sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing seseorang. Namun tetap diingat, memahami Al-Quran tanpa ilmu sangat berbeda dengan memahami Al-Quran –dengan ilmu- sesuai kadar keilmuannya.

Maka dari itu, dahulu para ulama begitu mengagungkan pembicaraan tentang Al-Quran dan penafsirannya. Sehingga Ubaidillah bin Umar pun berkata: “sungguh kami menjumpai para ahli fiqih Madinah dan mereka betul-betul menganggap pembahasan tentang penafsiran Al-Quran adalah suatu perkara yang besar”.  (Jamiul Bayan, At-Thabari 1/79).

Baca Juga: Simak Ini untuk Belajar Memaklumi Perbedaan Tafsir Al-Quran!

Menurut Usamah Al-Azhari, sikap terbaik bagi kita terhadap Al-Quran adalah berusaha semaksimal mungkin untuk memuliakannya, termasuk dengan menjelaskan makna-makna luhur yang terkandung di dalamnya. Sehingga Al-Quran dapat menjadi pedoman hidup bagi siapapun dan orang-orang dapat terhindar dari penafsiran Al-Quran yang bersifat instan dan menyesatkan. Yakni sebagaimana kelompok-kelompok radikal yang menafsiri Al-Quran hanya demi untuk menopang pemikiran dan memenuhi hawa nafsu mereka belaka.

Hasilnya bisa ditebak, produk mereka yang memahami Al-Quran tanpa ilmu adalah pemahaman-pemahaman yang aneh dan sesat. Al-Quran yang membawa misi kasih sayang bagi seluruh semesta akan terasa kebalikannya, yaitu menebarkan permusuhan, pertikaian bahkan pembunuhan. Alasan inilah yang dikawatirkan oleh para ulama.

Wallahu A’lam