Beranda blog Halaman 331

Tafsir Surah Maryam ayat 56-58

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 56-58 mengisahkan tentang Nabi Idris yang menurut sebagian riwayat merupakan nenek Nabi Nuh namun riwayat yang masyhur mengatakan bahwa ia adalah bapak Nabi Nuh. Dijelaskan dalam Tafsir Surah Maryam ayat 56-58 ini bahwa Nabi Idris merupakan Rasul pertama yag diutus Allah sesudah Adam.


Baca Sebelumnya: Kisah Nabi Ismail dalam Tafsir Surah Maryam ayat 54-55


Ayat 56-57

Pada kedua ayat ini Nabi Muhammad diperintahkan supaya menerangkan pula sekelumit berita tentang Nabi Idris. Menurut sementara riwayat mengatakan bahwa Nabi Idris adalah nenek Nabi Nuh a.s. Menurut riwayat yang termasyhur ia adalah nenek bapak Nabi Nuh. Ia adalah orang yang pertama menyelidiki ilmu bintang-bintang dan ilmu hisab, sebagai salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepadanya.

Ia adalah rasul pertama yang diutus Allah sesudah Adam a.s., dan diturunkan kepadanya kitab yang terdiri atas tiga puluh lembar. Ia dianggap pula sebagai orang yang mula-mula menciptakan timbangan dan takaran, pena untuk menulis, pakaian berjahit sebagai ganti pakaian kulit binatang dan senjata untuk berperang.

Allah menerangkan pada ayat ini posisi yang tinggi bagi Nabi Idris karena  ia adalah seorang yang beriman membenarkan kekuasaan dan keesaan Allah dan diangkat-Nya menjadi nabi dan meninggikan derajatnya ke tingkat yang paling tinggi, baik di dunia maupun di akhirat.

Adapun di dunia ialah dengan diterimanya risalah yang dibawanya oleh kaumnya dan keharuman namanya di kalangan umat manusia. Hal ini sama dengan karunia Allah kepada Nabi Muhammad seperti tersebut dalam firman Allah:

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَۗ

“Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.” (asy-Syarh/94: 4)

Di akhirat nanti ia ditempatkan di surga pada tempat yang paling tinggi dan mulia, tempat para nabi dan para shiddiqin seperti tersebut dalam ayat:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisā`/4: 69).;

Ayat 58

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa para nabi dan rasul yang telah disebutkan namanya pada ayat-ayat yang lalu mereka itulah orang-orang yang telah diberi karunia dan nikmat oleh Allah dengan meninggikan derajat mereka dan mengharumkan nama mereka di kalangan umat manusia.

Pada umumnya semua nabi dan rasul mendapat karunia seperti itu semenjak dari Nabi Adam bapak pertama sampai kepada Nabi Nuh bapak kedua, sampai kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya termasuk Ishak, Yakub, Ismail, Musa, Harun, Zakaria, Isa dan semua orang pilihan-Nya, semuanya mempunyai  sifat yang jarang dimiliki oleh orang lain yaitu apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah mereka segera  menjatuhkan diri (tersungkur) untuk sujud dan menangis serta merendahkan diri karena mengingat kebesaran Allah.

Mereka adalah manusia yang penuh takwa, sangat tajam pendengaran dan perasaan mereka bila mendengar nama Allah dan bergetar hati mereka bila dibacakan ayat-ayat-Nya tidak memiliki kata-kata yang akan mereka ucapkan untuk melukiskan apa yang terasa dalam hati sehingga meneteskan air mata di pipi mereka dan tersungkur bersujud kehadirat Allah Yang Mahabesar, Mahakuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Demikianlah sifat yang dimiliki oleh para nabi dan rasul itu dan wajarlah bila Allah memberikan kepada mereka karunia dan nikmat yang besar. Hal ini disebutkan pula dalam firman Allah:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (an-Anfāl/8: 2)

Rasulullah saw, bersabda:

اُتْلُوا الْقُراٰنَ وَابْكُوْا, فَاِنْ لمَ ْتَبْكُوْا فَتَبَاكُوْا (رواه ابن ماجه)

Bacalah Al-Quran dan menangislah, jika kamu tidak bisa menangis, berusahalah  menangis. (Riwayat Ibnu Mājah)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Maryam ayat 59-60


Tafsir Surah Maryam ayat 54-55

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 54-55 ini mengisahkan tentang Nabi Ismail yang merupakan nenek moyang bangsa Arab. Dalam Tafsir Surah Maryam ayat 54-55 dijelaskan bahw Nabi Ismail merupakan orang yang setia, jujur, sabar dan tabah hal ini harus menjadi contoh dan tauladan bagi umat sekarang.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 51-53


Ayat 54

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw supaya menceritakan tentang Ismail nenek moyang bangsa Arab yang diangkat Allah menjadi nabi dan rasul agar dapat menjadi contoh teladan bagi mereka pada sifat-sifatnya, kesetiaan dan kejujurannya ketabahan dan kesabarannya dalam menjalankan perintah Tuhannya dan ketaatan serta kepatuhannya.

Salah satu di antara sifat yang sangat menonjol ialah menepati janji. Menepati janji adalah sifat yang dipunyai oleh setiap rasul dan nabi, tetapi sifat ini pada diri Ismail sangat menonjol sehingga Allah menjadikan sifat ini sebagai keistimewaan Ismail.

Di antara janji-janji yang ditepatinya walaupun janji itu membahayakan jiwanya ialah kesediaannya disembelih sebagai kurban untuk melaksanakan perintah Allah kepada ayahnya Ibrahim yang diterimanya dengan perantaraan ar-ru’yah ash-shadiqah (mimpi yang benar) yang senilai dengan wahyu.

Tatkala Ibrahim membicarakan dengan Ismail tentang perintah Allah untuk menyembelihnya, Ismail dengan tegas menyatakan bahwa dia bersedia disembelih demi untuk mentaati perintah Allah dan dia akan tabah dan sabar menghadapi maut bagaimana pun pedih dan sakitnya. Hal ini tersebut dalam ayat:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ  ١٠٢

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ”Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, ”Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (ash-Shāffāt/37: 102)

Itulah janji Ismail kepada bapaknya Ibrahim. Janji itu benar-benar ditepati oleh Ismail dan dia menyerahkan dirinya kepada bapaknya yang telah siap dengan pisau yang tajam untuk menyembelihnya.

Ibrahim pun walau dengan perasaan sangat iba dan kasihan merebahkan Ismail untuk memudahkan penyembelihan dan pisau pun telah ditujukan ke lehernya. Ketika itu Allah memanggil Ibrahim dan mengganti Ismail dengan seekor biri-biri yang besar dan gemuk. Hal ini diceritakan Allah dalam firman-Nya:

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ   ١٠٣  وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ  ١٠٤  قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ  ١٠٥  اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ  ١٠٦  وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ  ١٠٧

Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pipi(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.”  Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.  Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (ash-Shāffāt/37: 103-107)

Di samping sifat yang menonjol itu Ismail diangkat Allah menjadi nabi dan rasul kepada kabilah Jurhum yang menetap di Mekah bersama ibunya. Sebagai rasul, Ismail ditugaskan Allah menyampaikan risalah yaitu risalah yang pernah disampaikan oleh ayahnya Nabi Ibrahim kepada kabilah Jurhum itu.

Memang sebelum Nabi Muhammad diutus sebagai rasul terdapat di kalangan bangsa Arab orang-orang yang menganut paham tauhid dan besar kemungkinan paham tauhid yang dianut mereka adalah paham yang dibawa dan disampaikan oleh Ismail kepada kaumnya.

Ayat 55

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Ismail selalu menyuruh keluarganya tetap mengerjakan salat dan menunaikan zakat, karena salat dan zakat itu telah disyariatkan semenjak Nabi Ibrahim. Risalah yang disampaikan oleh Nabi Ismail adalah risalah yang dibawa oleh bapaknya Ibrahim.

Meskipun yang diterangkan di sini hanya mengenai keluarganya tetapi perintah itu mencakup seluruh kaumnya karena rasul itu diutus bukan untuk keluarga semata tetapi diutus untuk semua umatnya. Nabi Muhammad sendiri pada mulanya hanya disuruh menyampaikan ajaran Islam kepada keluarganya dan kemudian baru diperintahkan mengajak seluruh manusia mengikuti ajaran yang dibawanya. Hal ini terdapat dalam firman Allah:

وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ ۙ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat,(asy- Syu`arā`/26: 214)

Dan firman-Nya:

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. (Tāhā/20: 132)

Kemudian Allah menerangkan bahwa Ismail itu adalah orang yang diridai Allah karena dia tidak pernah lalai menaati perintah Tuhannya, dan selalu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Maryam ayat 56-58


Rahasia Huruf Jer Lam dan Fii Dalam Penafsiran Golongan Mustahiq Zakat: Surah At-Taubah Ayat 60

0
Rahasia Huruf Jer Lam dan Fii Dalam Penafsiran Golongan Mustahiq Zakat
Rahasia Huruf Jer Lam dan Fii Dalam Penafsiran Golongan Mustahiq Zakat

Bagi umat islam selain puasa ada ibadah lagi yang tidak kalah pentingnya, yaitu zakat. Zakat diwajibkan bagi yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Zakat diberikan kepada orang yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat). Siapa sajakah mereka?

Allah SWT telah menetapkan siapa saja yang berhak untuk menerima zakat dalam Al-Qur’an surah at-Taubah [9] ayat 60, sebagai berikut:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha bijaksana.”

Ayat ini walaupun menggunakan kata shodaqat yang mencakup shodaqah wajib (zakat) dan shodaqoh sunnah, akan tetapi para ulama sepakat bahwa pembahasan ini berkaitan dengan shodaqoh wajib (zakat), bukan shodaqoh sunnah. Jadi orang yang berhak menerima zakat itu hanya terkhusus pada delapan golongan ini saja.

Baca juga: Makna Lafadz Imra’ah dan Zaujah dalam Al-Quran

Lalu, apakah penggunaan zakat itu secara muthlaq diserahkan kepada mustahiq zakat atau ada aturan penggunaannya? Tulisan ini akan mencoba mengulas pertanyaan tadi dengan mengungkapkan rahasia penggunaan huruf jer sebagaimana yang telah diungkap oleh para ulama.

Isyarat Penggunaan Zakat dalam Huruf Jer Lam dan Fii

Pemilihan diksi dalam Al-Qur’an tentu punya maksud dan keindahan yang tersimpan. Melihat ayat di atas, ada hal yang menarik untuk dikupas lebih dalam, yaitu penggunaan huruf lam dan fii. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid (I/455) mengatakan sebagai berikut:

وَيُصْرَفُ مَالُ الزَّكَاةِ إِلَى الْأَصْنَافِ الْأَرْبَعَةِ الْأول حَتَّى يَتَصَرَّفُوْا فِيْهِ كَمَا شَاءُوْا وَفِيْ الْأَرْبَعَةِ الْأَخِيْرَةِ لَا يُصْرَفُ الْمَالُ إِلَيْهِمْ بَلْ يُصْرَفُ إِلَى جِهَاتِ الْحَاجَاتِ الْمُعْتَبَرَةِ فِيْ الصِّفَاتِ الَّتِيْ لِأَجْلِهَا اسْتَحَقُّوْا سَهْمَ الزَّكَاةِ

Zakat ditasarufkan atau diberikan kepada empat kelompok yang pertama, sehingga mereka menggunakan harta zakat tersebut sebagaimana yang mereka inginkan. Adapun empat kelompok yang terakhir, bagian zakat tersebut tidak digunakan sesuai keinginan mereka. Tetapi, digunakan sesuai tujuan kebutuhan yang dianggap dalam sifat yang menjadikan mereka berhak mendapatkan bagian zakat.

Dalam kitab Hasyiyah Al-Bajuri Ala Ibnu Qasim Al-Ghazi (I/282), Syekh Ibrahim Al-Bajuri (w. 1276 H) mengupas dengan sangat indah terhadap ayat ini. Beliau mengatakan dalam ayat yang mulia ini disandarkannya pada empat kelompok yang pertama dengan menggunakan huruf jer lam lil milki dan pada empat kelompok yang terakhir dengan menggunakan huruf jer fii dhorfiyyah, karena mengisyaratkan bagi empat kelompok yang pertama ketika mereka menerima zakat maka status kepemilikannya mutlak.

Baca juga: Berikut ini Ciri Orang-Orang yang Sabar dalam Al-Quran

Syekh Wahbah dalam Tafsir Al-Munir (V/613) juga mengomentari penggunaan huruf jer lam dan fii, beliau mengatakan:

وَالعُدُوْلُ عَنِ اللَّامِ إِلَى فِيْ لِلدَّلَالَةِ عَلَى أَنَّ الْاِسْتِحْقَاقَ لِلْجِهَةِ، لَا لِلرِّقَابِ

Perpindahan dari penggunaan huruf lam ke fii menunjukkan bahwa hak mendapatkan zakat itu adalah untuk tujuannya (jihah), bukan untuk para budak itu sendiri.

Masih menurut Syekh Ibrahim Al-Bajuri, empat kelompok yang terakhir terbatasi penggunaannya sesuai dengan sebab mereka menerima zakatnya. Jika bagian zakatnya digunakan tidak sesuai dengan tujuan atau setelah digunakan masih tersisa, maka bagian zakatnya diminta kembali.

Ibnu Asyur dalam tafsirnya At-Tahrir Wa At-Tanwir (10/236-237) juga mengungkap rahasia penggunaan huruf jer fii dalam ayat tersebut, beliau berkata:

وَلَمْ يُجَرَّ بِاللَّامِ لِئَلَّا يُتَوَهَّمَ أَنَّ الرِّقَابَ تُدْفَعُ إِلَيْهِمْ أَمْوَالُ الصَّدَقَاتِ، وَلَكِنْ تُبْذَلُ تِلْكَ الْأَمْوَالُ فِيْ عِتْقِ الرِّقَابِ بِشِرَاءٍ أَوْ إِعَانَةٍ عَلَى نُجُومِ كِتَابَةٍ، أَوْ فِدَاءِ أَسْرَى مُسْلِمِيْنَ، لِأَنَّ الْأَسْرَى عَبِيْدٌ لِمَنْ أَسَرُوْهُمْ

Tidak dijerkan dengan lam supaya tidak menimbulkan salah paham bahwa diserahkan harta zakat kepada para budak. Tetapi, harta zakat tadi diserahkan untuk memerdekakan budak dengan membelinya atau menolong pelunasan cicilan akad kitabah, atau membebaskan tawanan orang-orang islam, karena para tawanan itu merupakan budak milik tuannya.

Lebih lanjut, Syekh Ibrahim Al-Bajuri menjelaskan adanya pengulangan huruf jer fii dalam lafadz fi sabilillah wabnissabil itu mengisyaratkan bahwa penggunaan bagian zakat dari budak dan ghorim digunakan untuk orang lain, sedangkan kedua kelompok lainnya yaitu sabilillah dan ibnu sabil digunakan untuk dirinya sendiri.

Selain itu Syekh Wahbah dalam tafsirnya tersebut (V/614) juga mengungkap rahasia lain. Beliau berkata:

وَالسِّرُّ فِيْ التَّعْبِيْرِ بِاللَّامِ الْمُفِيْدَةِ لِلْمِلْكِ فِيْ سِتَّةِ أَصْنَافٍ وَهُمْ الْفُقَرَاءُ وَالْمَسَاكِيْنُ وَالْعَامِلُوْنَ عَلَيْهَا، وَالْمُؤَلَّفَةُ قُلُوْبُهُمْ، وَالْغَارِمُوْنَ، وَابْنُ السَّبِيْلِ أَنَّ أَصْحَابَهَا أَشْخَاصٌ يَمْلِكُوْنَ. وَأَمَّا التَّعْبِيْرُ بِفِيْ فِيْ صِنْفَيْنِ وَهُمَا: فِيْ الرِّقَابِ، وَفِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَلِأَنَّ الْمُرَادَ الْجِهَةُ أَو الْأَوْصَافُ وَالْمَصَالِحُ الْعَامَّةُ لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ الْأَشْخَاصَ

Rahasia dalam ungkapan menggunakan huruf lam yang menunjukkan arti milik dalam enam golongan (orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para muallaf, orang-orang yang berhutang dan ibnus sabil) itu karena mereka adalah orang-orang yang mempunyai hak milik. Sedangkan penggunaan huruf fii untuk dua golongan yang lain (yaitu budak dan sabilillah) karena yang dimaksud adalah tujuan (jihah) atau sifat-sifat dan kemaslahatan umum bagi umat islam, dan maksudnya bukan beberapa sosok orang.

Baca juga: Makna Lafadz Imra’ah dan Zaujah dalam Al-Quran

Keindahan bahasa Al-Qur’an memang tidak tertandingi. Pemilihan huruf jer yang digunakan dan pengulangan huruf fii dalam ayat ini juga mempunyai makna tersendiri. Mungkin masih banyak rahasia-rahasia lain yang telah diungkap oleh para mufasir dan perlu untuk kita kaji. Sekian. Wallahu Ta’ala A’lam.

Tafsir Surah Maryam ayat 51-53

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 51-53 mengisahkan tentang Nabi Musa ketika berdakwah kepada kaumnya yang musyrik.  Dalam Tafsir Surah Maryam ayat 51-53 ini juga dijelaskan bahwa Allah mendekatkan Nabi Musa untuk berbicara kepada-Nya dan diantara rahmat Allah kepada Nabi Musa adalah dengan mengangkat Harun menjadi Nabi sebagaimana doanya kepada Allah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 41-50


Ayat 51

Pada Tafsir Surah Maryam ayat 51-53 khususnya ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menerangkan kepada kaum musyrik kisah mengenai Nabi Musa a.s. dan keutamaan sifat-sifatnya agar Nabi sendiri beserta kaumnya dapat mengetahui bagaimana Allah menghargai dan memuliakannya.

Keistimewaan-keistimewaan Nabi Musa a.s. itu di antaranya adalah dia orang yang dipilih Allah dan diikhlaskan-Nya untuk semata-mata menyampaikan dakwah agama tauhid seperti dakwahnya kepada Firaun beserta kaumnya, sebagaimana tersebut pada ayat ini:

قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنِّى اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسٰلٰتِيْ وَبِكَلَامِيْ ۖفَخُذْ مَآ اٰتَيْتُكَ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ

(Allah) berfirman, ”Wahai Musa! Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) engkau dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku, sebab itu berpegangteguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.” (al-Arāf/7: 144)

Allah mengangkatnya sebagai rasul di samping menjadi nabi. Perbedaan antara rasul dan nabi ialah rasul yang mempunyai risalah yang harus disampaikan kepada manusia dan diturunkan kepadanya kitab yang mengandung akidah, hukum-hukum dan sebagainya, sedang nabi adalah orang yang mendapat wahyu dari Allah tentang agama yang benar dan memberitahukan hal itu kepada manusia tetapi tidak mempunyai risalah yang harus disampaikan kepada manusia dan tidak pula diturunkan kitab kepadanya.

Di kalangan Bani Israil banyak nabi yang tugas mereka hanya memelihara dan menyampaikan syariat yang dibawa Nabi Musa yang tersebut dalam kitab Taurat, seperti Yusa`, Ilyas dan lainnya.

Ayat 52

Dalam Tafsir Surah Maryam ayat 51-53 khususnya ayat ini dijelaskan bagaimana Allah memanggil Musa a.s. dan berbicara langsung dengannya di sebelah kanan bukit Tur, yaitu sebuah bukit yang terletak di semenanjung Sinai. Ketika itu Musa sedang menuju ke Mesir dari Madyan untuk menyampaikan dakwahnya kepada Firaun.

Di bukit Tursina itulah Musa diberitahukan oleh Allah bahwa dia telah diangkat menjadi rasul dan menjanjikan kepadanya bahwa dia akan menang dalam menghadapi Firaun yang zalim yang mendakwahkan dirinya sebagai Tuhan. Tuhan juga menjanjikan kepadanya akan menurunkan rahmat kepada keluarga Bani Israil dengan menurunkan kitab Taurat.

Allah menerangkan pula bahwa Dia telah mendekatkan Musa kepada-Nya di waktu berbicara itu dengan arti memuliakannya dan memilihnya sebagai Rasul-Nya seakan-akan Musa di waktu itu dekat kepada Tuhan sebagaimana dekatnya seorang raja di waktu berbicara dengan menterinya. Kita tidak dapat mengetahui bagaimana caranya Tuhan berbicara langsung dengan Musa.

Apakah Musa benar-benar mendengar suara ataukah Musa hanya merasa bahwa dia telah berada di alam rohani yang tinggi seakan-akan mendengar wahyu Ilahi. Kita tidak dapat mengetahui bagaimana kejadian yang sebenarnya, semua itu harus kita serahkan kepada Allah Yang Mahakuasa. Kewajiban kita sebagai orang mukmin hanya mempercayainya, karena hal itu dikisahkan di dalam Al-Qur’an.

Ayat 53

Di antara rahmat Allah kepada Musa ialah Allah telah mengabulkan permintaannya agar Harun saudara seibu diangkat pula menjadi nabi untuk membantunya dalam menyampaikan risalah Tuhannya sebagai tersebut dalam ayat:

وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ ۙ  ٢٩  هٰرُوْنَ اَخِى ۙ  ٣٠  اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ  ٣١  وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ  ٣٢

Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku. (Tāhā/20: 29-30-31-32)

Dan dalam ayat:

وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا فَاَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُّصَدِّقُنِيْٓ  ۖاِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ

Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku.” (al-Qashash/28: 34)

Sebagai karunia dan rahmat dari Allah kepada Musa Allah mem-perkenankan permintaan Musa itu seperti tersebut dalam ayat:

قَالَ قَدْ اُوْتِيْتَ سُؤْلَكَ يٰمُوْسٰى

Dia (Allah) berfirman, ”Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa! (Tāhā/20: 36)

Mengenai permohonan Nabi Musa a.s. untuk Nabi Harun ini sebagian Ulama salaf (terdahulu) di antaranya Ibnu Jarir ath-Tabari mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafaat kepada orang lain lebih besar dari syafaat yang diberikan kepada Harun dengan perantaraan Nabi Musa.” Menurut riwayat Ibnu Abbas, Harun di waktu itu lebih tua dari Musa sekitar 4 tahun.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Maryam ayat 54-55


Tafsir Surah Maryam ayat 41-50

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 41-50 ini mengisahkan tentang Nabi Ibrahim yang dianggap oleh kaum musyrik sebagai bapak bangsa Arab. Dalam Tafsir Surah Maryam ayat 41-50 ini diceritakan bagaimana Nabi Ibrahim berdakwah kepada ayahnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 38-40


Ayat 41

Pada Tafsir Surah Maryam ayat 41-50 ayat-ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasulullah agar ia menerangkan kepada kaum musyrik Mekah kisah Nabi Ibrahim yang mereka anggap sebagai bapak bangsa Arab. Mereka sendiri menganggap diri mereka anak cucunya dan mendakwahkan bahwa mereka adalah pengikutpengikut agamanya. Padahal Nabi Ibrahim adalah seorang mukmin seorang kekasih Allah dan seorang Nabi penyembah Tuhan Yang Maha Esa bukan seorang musyrik penyembah berhala.

Allah memerintahkan kepada Muhammad agar dia menceritakan kepada mereka ketika Nabi Ibrahim melarang kaumnya menyembah berhala dan mengatakan kepada bapaknya sebagai berikut, “Mengapa engkau menyembah berhala-berhala yang tidak dapat mendengar pujian penyembahnya ketika disembah, tidak dapat melihat bagaimana khusyuknya engkau menyembahnya, tidak dapat menolong orang yang menyembahnya dan memberikan manfaat barang sedikit pun dan tidak dapat menolak bahaya bila si penyembah itu meminta tolong kepadanya.”

Dengan kata-kata yang lemah lembut dan dapat diterima akal Nabi Ibrahim menyeru bapaknya kepada tauhid dan meninggalkan penyembahan berhala benda mati yang tidak berdaya. Sedangkan manusia saja yang dapat mendengar dan melihat serta dapat memberikan pertolongan, tidaklah patut disembah, apalagi benda mati yang kita buat sendiri, bila kita hendak merusaknya atau menghancurkannya dia tidak berdaya apa-apa untuk mempertahankan dirinya.

Benda yang demikian halnya yang tidak mungkin memberikan manfaat atau pertolongan kepada manusia, tidaklah patut menjadi sembahan manusia. Hal ini sesuai dengan perumpamaan yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ

“Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.” (al-Hajj/22: 73)

Ayat 43

Selanjutnya Nabi Ibrahim a.s. mengatakan kepada bapaknya bahwa dia telah diberi ilmu oleh Allah yang belum diketahui oleh bapaknya. Dengan ilmu itu Ibrahim dapat memimpin manusia kepada jalan yang lurus dan membebaskannya dari perbuatan yang merendahkan derajatnya seraya membawanya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Meskipun ia adalah anaknya dan jauh lebih muda tetapi Allah telah menurunkan rahmat-Nya kepada Ibrahim dengan memberikan ilmu itu. Ibrahim sangat ingin agar bapaknya mengikutinya, dengan demikian ia dapat membawa ayahnya ke jalan yang lurus.

Ayat 44-45

Wahai bapakku, janganlah engkau mengikuti ajaran setan yang membawamu kepada menyembah berhala, karena setan itu selalu memperdayakan manusia agar ia tersesat dari jalan yang benar. Sesungguhnya setan itu adalah makhluk yang durhaka kepada Tuhannya makhluk yang sangat sombong dan takabur, karena itu Allah melaknatinya dan menjauhkannya dari rahmat-Nya.

Karena setan itu telah dimurkai oleh Allah dia bertekad akan selalu berusaha menyesatkan manusia. Janganlah bapak termasuk golongan orang-orang yang terkena tipu daya setan dan masuk ke dalam perangkapnya. Aku khawatir sekiranya bapak tetap mengikuti ajarannya bapak akan ditimpa kemurkaan Allah seperti kemurkaan yang telah menimpa setan itu dan tentulah bapak akan termasuk golongannya.

Ayat 46

Bapak Nabi Ibrahim menolak ajakan anaknya yang diucapkan dengan nada lemah lembut itu dengan kata-kata yang keras dan tajam yang menampakkan keingkaran dan kemarahan yang amat sangat.

Bapaknya berkata, “Apakah engkau membenci berhala-berhala yang aku sembah, yang aku muliakan dan yang aku agungkan hai Ibrahim? Apakah engkau tidak menyadari kesalahan pengertianmu? Bukankah berhala-berhala yang aku sembah itu sembahan semua kaummu? Bukankah tuhan-tuhan yang aku muliakan itu sembahan nenek moyangmu sejak dahulu kala? Apakah engkau telah gila atau kemasukan setan dengan dakwahmu bahwa engkau telah mendapat ilmu dari Tuhan sesungguhnya? Jika engkau tidak menghentikan seruanmu itu, aku akan melemparimu dengan batu sampai mati, atau pergilah engkau dari sisiku bahkan dari negeri ini dan tidak usah kembali lagi.”

Mendengar bantahan dan jawaban yang amat keras itu hancur luluhlah hati Ibrahim karena dia sangat sayang dan santun kepada bapaknya dan sangat menginginkan agar dia bebas dari kesesatan menyembah berhala dan menerima petunjuk ke jalan yang benar, serta mau beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan Mahakuasa.

Dia ingin agar dengan beriman itu bapaknya akan mendapat karunia dan rahmat dari Tuhannya. Tetapi apa yang akan dilakukan dan dikatakannya, sedang bapaknya sudah kalap dan mengusirnya dari rumah dan kampung halamannya bahkan tidak menginginkan kembalinya seakan-akan dia bukan anaknya lagi.

Ayat 47

Tak ada jawaban dari Ibrahim terhadap bentakan-bentakan bapaknya yang kasar itu kecuali mengucapkan, “selamat sejahtera atasmu.” Aku berdoa agar bapak selalu berada dalam sehat dan afiat.

Aku tidak akan membalas kata-kata yang kasar itu dengan kasar pula karena engkau adalah bapakku yang kucintai. Aku tidak akan melakukan sesuatu pun yang merugikan atau mencelakakan bapak, biarlah aku pergi dari negeri ini meninggalkan bapak, meninggalkan rumah dan kampung halaman.

Aku meminta kepada Tuhan agar bapak diampuni-Nya dan selalu berada dalam naungan rahmat-Nya, mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus yang membawa kepada kebaikan dan kebahagiaan. Memang Nabi Ibrahim a.s. telah mendoakannya sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

وَاغْفِرْ لِاَبِيْٓ اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الضَّاۤلِّيْنَ ۙ

“Dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat,” (Asy-Syu’arā/26: 86)

Nabi Ibrahim a.s. yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan doanya karena biasanya di masa lalu doanya selalu dikabulkannya. Nabi Ibrahim berdoa untuk bapaknya karena dia telah menjanjikan kepadanya akan beriman sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ اِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَآ اِيَّاهُۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗٓ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُۗ اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَاَوَّاهٌ حَلِيْمٌ

Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (at-Taubah/9: 114)

Ayat 48

Selanjutnya Ibrahim berkata kepada bapaknya, “Aku akan pergi meninggalkanmu, meninggalkan kaummu, meninggalkan berhala-berhala yang kamu sembah. Aku akan pergi dari sini agar aku bebas beribadat kepada Tuhanku yang akan menolongku dan melepaskan aku dari bahaya yang menimpaku, karena semua petunjuk dan nasehatku kamu tolak mentah- mentah bahkan mengancamku dengan ancaman yang mengerikan. Aku akan menyembah dan berdoa hanya kepada Tuhanku saja dan sekali-kali aku tidak akan menyembah selain Dia.”

Menurut riwayat, Ibrahim hijrah ke negeri Syam dan di sana dia menikah dengan Siti Sarah. Ia berharap dengan berdoa dan menyembah Tuhan, ia tidak akan menjadi orang yang kecewa seperti ayahnya yang selalu menyembah  dan berdoa kepada berhala-berhala itu, tetapi ternyata berhala-berhala itu tidak dapat berbuat sesuatu apapun apalagi akan melaksanakan apa yang diminta kepadanya.

Ayat 49

Setelah Nabi Ibrahim a.s. meninggalkan negerinya Ur Kildan (Irak) dan menetap di negeri Syam, dikaruniai Tuhan kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Allah mengaruniakan kepadanya anak-anak dan cucu-cucu yang sebahagian dari mereka diangkat Allah menjadi nabi di kalangan Bani Israil.

Allah mengaruniakan kepadanya Ishak, dan Ishak ini pun mendapat anak bernama Yakub yang menggantikan kedudukannya sebagai Nabi. Adapun anak pertamanya Ismail yang ditinggalkannya di sekitar Ka`bah diangkat pula menjadi Nabi yang telah meninggikan dan menyemarakkan syiar agama di sana.

Demikianlah balasan Tuhan kepada Nabi Ibrahim yang bersedia meninggalkan bapaknya, kaumnya dan tanah airnya demi untuk keselamatan akidahnya dan menyebarkan agama tauhid yang diperintahkan Allah kepadanya.

Allah tidak mengabaikan dan tidak menyia-nyiakan bahkan mengganti kesedihan meninggalkan keluarga dan tanah airnya dengan kebahagiaan keluarga dan bertanah air yang baru dan menerima ajaran dan petunjuknya serta memberikan kepadanya anak cucu yang baik-baik yang sebahagiannya menjadi penegak agama Allah bahkan banyak pula yang menjadi nabi.

Ayat 50

Pada Tafsir Surah Maryam ayat 41-50 khususnya ayat ini Allah menerangkan bahwa hampir semua anak-anak Nabi Ibrahim dan cucu-cucunya diangkat-Nya menjadi nabi dan dilimpahkan kepada mereka rahmat dan karunia-Nya serta memberkahi hidup mereka dengan kesenangan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Mereka semuanya meninggalkan nama yang baik dan mengharumkan serta meninggikan nama Nabi Ibrahim sehingga diakui kemuliaan dan ketinggiannya oleh semua pihak baik dari kalangan umat Yahudi umat Nasrani maupun kaum musyrik sendiri. Ini adalah fakta yang nyata bagi terkabulnya doa Nabi Ibrahim seperti tersebut pada ayat:

وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ

Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. (asy-Syu`arā`/26: 84)

Wajarlah bila Allah mengangkat derajat dan menamakan dia “Khalilullāh” (kesayangan-Nya) seperti tersebut dalam ayat:

وَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا

Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya). (an-Nisā`/4: 125)

Dan menjadikan bekas telapak kakinya di waktu membangun Ka`bah tempat yang diberkahi, dan disunatkan salat di sana seperti tersebut dalam ayat:

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim  itu tempat salat.” (al-Baqarah/2: 125)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Maryam ayat 51-53


Makna Lafadz Imra’ah dan Zaujah dalam Al-Quran

0
makna lafadz imra'ah dan zaujah
makna lafadz imra'ah dan zaujah

Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa makna istri terkadang menggunakan lafadz imra’ah maupun zaujah. Apakah lafadz imra’ah dan zaujah itu berbeda? Bagaimana perbedaan di antara keduanya? Mari kita analisis perbedaan kedua lafadz tersebut.

Pertama, imra’ah. Dalam kitab Lisan al-Arab karya Ibnu Mandzur, kata imra’ah diartikan perempuan, yang menunjukkan perempuan dewasa. Selain itu, dalam Al-Qur’an ada yang menggunakan imra’ah bermakna istri yang tidak seideologi dan tidak ada kecocokan dalam pemikiran, seperti istri Nabi Nuh, Nabi Luth, dan Fir’aun. Sebagaimana pemaknaan imra’ah dalam QS. At-Tahrim [66]: 10

 …..ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth...

Pada QS. At-Tahrim [66]: 10 makna istri tidak menggunakan lafadz zaujah, tetapi menggunakan lafadz imra’ah. Di dalam kitab Tafsir Muyassar dijelaskan bahwa Allah memberikan perumpamaan bagi orang-orang kafir kepada Allah dan Rasulnya, seperti istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth.

Baca Juga: Mengenal Terma-Terma Perempuan dalam Al-Quran

Kedua istri tersebut adalah dua istri bagi hamba yang saleh (istri nabi). Tetapi, mereka mengkhianati suaminya dengan menghalang-halangi dari jalan Allah dan malah istri Nabi Nuh dan Luth menolong orang-orang kafir dari golongan mereka. Sehingga kedudukan mereka sebagai istri nabi tidak ada manfaatnya dan mereka akan dimasukkan ke dalam neraka bersama orang-orang kafir dan fasik.

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa Nabi Nuh dan Nabi Luth berbeda keimanan dengan istrinya. Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth tidak beriman kepada Allah SWT.. Sedangkan Nabi Nuh dan Nabi Luth beriman kepada Allah SWT..

Selain itu, firman Allah SWT. dalam QS. Al-Qasas [28]: 9

وَقَالَتِ امْرَاَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّيْ وَلَكَۗ

“Dan istri Fir’aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu…”

Dalam QS. Al-Qasas [28]: 9, pemaknaan istri juga menggunakan lafadz imra’ah. Dalam kitab Ma’alim al-Tanzil karya Al-Baghawi diceritakan bahwa Ketika Fir’aun dikalahkan Nabi Musa, istrinya itu beriman dan ketika Fir’aun mengetahui istrinya beriman, maka kedua tangan dan kaki istrinya dipasak dengan 4 pasak dan dijemur di bawah terik panas matahari.

Baca Juga: Kriteria Perempuan Salihah dalam Surah At-Tahrim Ayat 11-12

Tapi, kenapa dalam pemaknaan istri pada Nabi Zakaria dan istrinya menggunakan lafadz imra’ah? Kenapa tidak menggunakan zaujah? Yang notabene antara Nabi Zakaria dan istrinya telah sama-sama beriman, sepemikiran, dan seideologi. Mengapa demikian?

Sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. Maryam [19]: 5

وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا

“…padahal istriku (istri Nabi Zakaria) seorang yang mandul…”

Dalam Tafsir Al-Misbah karya Prof. Quraish Shihab bahwa Nabi Zakaria sangat khawatir terhadap kerabatnya yang tidak dapat menangani urusan agama dengan baik, setelah nantinya Nabi Zakaria meninggal dunia.  Kemudian Nabi Zakaria berdoa seraya berharap kepada Allah SWT., mengadu dengan-Nya supaya dianugerahi keturunan. Setelah itu, Allah mengabulkan harapan dan dianugerahi seorang anak yaitu Nabi Yahya.

Dengan demikian, mengapa istri Nabi Zakaria menggunakan lafadz imra’ah padahal keduanya sama-sama beriman kepada Allah SWT. adalah karena adanya masalah kemandulan (belum mempunyai keturunan/ dianugerahi anak oleh Allah SWT.).

Setelah Allah mengabulkan permintaan Nabi Zakaria, maka pemaknaan istri dalam tidak lagi menggunakan lafadz imra’ah, tetapi menggunakan lafadz zaujah. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 90

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۖوَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ

“Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung)…”

Dari beberapa ayat di atas, kita dapat mengetahui bahwa penggunaan lafadz imra’ah dalam Al-Qur’an dimaknai sebagai istri yang tidak sepemikiran, seiman, dan seidelogi. Selain itu, imra’ah dimaknai sebagai istri yang mandul (tidak memiliki keturunan) meskipun memiliki kecocokan dalam agama maupun seiman.

Baca Juga: Inilah Beberapa Perempuan yang Disinggung dalam Al-Quran

Kedua, zaujah. Menurut Raghib Al-Ishfahani dengan karyanya, Mufradat fi Gharib Al-Qur’an penggunaan lafadz zaujah bermakna dua hal yang sama-sama berpasangan, misalnya pria dan wanita. Sehingga penggunaan lafadz zaujah dalam Al-Qur’an diartikan sebagai perempuan yang menjadi istri (pasangan hidup) dan memiliki ideologi, keimanan, dan pemikiran yang sama.

Selain itu, timbul adanya rasa cinta kasih dan keharmonisan di dalam hubungannya dan istri tersebut dapat memberikan keturunan (anak), seperti istri Nabi Muhammad saw.. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. Al-Ahzab [33]: 59

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin…”

Selain itu, terdapat juga pada firman Allah SWT. dalam QS. Al-Baqarah [2]: 35

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

“Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga…”

Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa Allah memberikan kehormatan yang dianugerahkan kepada Adam, sesudah memerintahkan kepada para malaikat bersujud kepadanya, lalu mereka bersujud kecuali iblis. Allah mempersilahkan Adam dan istrinya untuk bertempat tinggal di surga dan boleh makan apa saja dengan leluasa sesuai yang dia kehendaki. Sehingga pada ayat ini, dalam Al-Qur’an menggunakan lafadz zaujah. Karena Nabi Adam dan istrinya termasuk sebagai orang yang sama-sama beriman dan memiliki kecocokan dalam pemikiran.

Wallahu a’lam bishowab.

Tafsir Surah Maryam ayat 38-40

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 38-40 ditujukan kepada Nabi Muhammad untuk menceritakan bagaimana nasib orang-orang kafir pada hari akhir nanti. Tafsir Surah Maryam ayat 38-40 juga menjelaskan bahwa di hari kiamat kelak orang-orang yang tidak mengimani Allah dan Rasulnya akan menyesal dan penyesalan mereka akan menjadi sia-sia. Pada akhir Tafsir Surah Maryam ayat 38-40 ini Allah menghibur Nabi Muhammad.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 34-37


Ayat 38

Pada hari kiamat nanti orang-orang kafir itu karena memikirkan nasib mereka yang malang telinganya menjadi sangat peka dan penglihatannya sangat tajam apa saja yang terjadi segera menjadi perhatian mereka. Maka Allah lalu berfirman, “Alangkah pekanya telinga mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka di kala mereka menghadap Kami.

Padahal mereka di dunia seakan-akan tuli tidak dapat mendengarkan petunjuk yang di bawa Nabi, dan seakan-akan buta tidak dapat melihat kebenaran dan mukjizat yang diberikan kepada para rasul. Mereka tidak melihat atau merasakan kekuasaan Allah yang tampak dengan nyata di alam semesta.”

Seandainya mereka semasa di dunia mempergunakan pendengaran dan penglihatan seperti keadaan mereka di akhirat itu tentulah mereka tidak akan tetap dalam kekafiran, mereka akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi tidak ada gunanya lagi telinga yang peka dan mata yang tajam pada waktu itu, karena nasib mereka sudah ditentukan dan pastilah mereka masuk neraka.

Mereka pada waktu itu merasa sangat menyesal dan berangan-angan agar mereka dapat dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki kesalahan dan kedurhakaan mereka, tetapi apa hendak dikata nasi telah menjadi bubur. Angan-angan kosong itu tidak akan terkabul karena mereka akan dibelenggu, dirantai, dan dimasukkan ke neraka sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُۙ  ٣٠  ثُمَّ الْجَحِيْمَ صَلُّوْهُۙ  ٣١  ثُمَّ فِيْ سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوْهُۗ  ٣٢  اِنَّهٗ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ الْعَظِيْمِۙ  ٣٣

(Allah berfirman), “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.” Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.  Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dialah orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar.  (al-Hāqqah/69: 30-33)

Demikianlah nasib mereka di akhirat nanti karena mereka adalah orang-orang yang benar-benar telah sesat dari jalan yang lurus.

Ayat 39

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar dia memberi peringatan kepada manusia khususnya kaum musyrik Mekah tentang hari Kiamat mereka mati dalam keadaan kafir, orang-orang kafir akan menyesali diri mereka karena tidak mau beriman dan selalu berusaha menegakkan yang batil semasa hidup di dunia.

Para mukmin dibawa ke surga dan orang-orang kafir digiring ke neraka. Kepada kedua golongan ini diberitahukan bahwa masing-masing mereka tidak akan keluar selama-lamanya dari tempat yang telah disediakan bagi mereka, dan mereka tidak akan mengalami kematian selama-lamanya.

Diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Abu Sa`id, Rasulullah saw bersabda, “Pada waktu itu dibawalah “kematian” berbentuk seekor biri-biri yang bagus rupanya, lalu datang orang yang menyerukan, Hai penghuni surga! Lalu mereka tertegun memperhatikan. Maka penyeru itu bertanya, “Tahukah kamu apa ini?” Mereka menjawab, Ya, itu adalah “Kematian.” Semua mereka melihatnya.

Kemudian penyeru yang lain berseru pula. Hai penghuni neraka! Tahukah kamu apakah ini? Mereka menjawab, ya! Itu adalah “kematian.” Mereka melihatnya pula. Maka “kematian” yang berbentuk biri-biri itu di-sembelihkan di antara surga dan neraka, lalu penyeru itu berkata, “Hai penghuni surga kamu kekal di dalam surga dan kamu tidak akan mengalami kematian lagi. Hai penghuni neraka, kamu kekal di dalam neraka dan tidak akan mengalami kematian lagi.” Kemudian Rasulullah membacakan ayat ini. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim)

Ketika itu sadarlah orang-orang kafir akan keteledoran mereka dan mereka menyesal mengapa mereka di dunia dahulu mengingkari hari ke-bangkitan, mengapa mereka tidak mau memikirkan ajakan dan petunjuk ke jalan yang benar, tetapi sesalan itu tidak berguna lagi.

Ayat 40

Pada ayat ini Allah menghibur Nabi Muhammad, meminta Nabi untuk tidak bersedih hati karena kaum musyrik tidak mau beriman dan selalu mendustakannya. Karena mereka kelak akan kembali kepada Allah dan akan dibalas kekafiran mereka dengan balasan yang setimpal karena Kamilah Yang Mahakuasa. Kamilah yang mewarisi bumi dan segala isinya pada hari Kiamat nanti.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Maryam ayat 41-50


 

Berikut ini Ciri Orang-Orang yang Sabar dalam Al-Quran

0
Ciri orang-orang yang sabar
Ciri orang-orang yang sabar dalam al-Quran

Sebenarnya sangat sulit bagi siapapun untuk menentukan ciri orang-orang yang sabar. Hal ini disebabkan karena sifat sabar dan kesabaran itu sendiri bersifat abstrak dan ada di dalam diri seseorang. Yang dapat mengetahui ciri-ciri sabar itu adalah yang bersangkutan sendiri, karena dialah mengalami sifat itu. Meskipun sulit, tetapi Allah swt. telah mununjukkan ciri-ciri orang yang sabar itu di dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Salah satu ciri orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang selalu mengembalikan semua urusannya hanya kepada Allah. Hal ini disebutkan di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 155-157.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali). Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Baca Juga: Tafsir Surah Yusuf Ayat 19-20: Kesabaran Nabi Yusuf Saat Jadi Korban Human Trafficking

Tiga ayat di atas menerangkan Allah Swt pasti menguji manusia dengan berbagai macam ujian dan cobaan. Di antara ujian-ujian Allah itu adalah:

  1. Allah menguji manusia dengan sedikit rasa takut, yang menyebabkan mereka tidak merasa tenang, misalnya karena terjadi gempa dan bencana.
  2. Allah menguji manusia dengan kelaparan yang disebabkan oleh karena manusia mengalami kekurangan pangan. Sumber-seumber makanan dikurangi oleh Allah. Hasil pertanian dan perkebunan dikurangi oleh Allah.
  3. Allah menguji manusia dengan kekurangan harta yang disebabkan oleh karena kebakaran, misalnya, karena banjir yang melanda mereka, atau karena gempa yang menimpa mereka.
  4. Allah menguji manusia dengan kekurangan jiwa, yang disebabkan oleh karena kematian, baik secara normal maupun karena kejadian-kejadian yang menimpa manusia, seperti kematian dalam kecelakaan mobil, dalam kecelakaan kereta, dan dalam kecelakaan pesawat udara.
  5. Allah menguji manusia dengan kekurangan buah-buahan. Tanaman-tanaman dan pertanian mereka gagal panen, karena disebabkan oleh hama penyakit menimpa pertanian, karena musim kering yang berkepanjangan, atau karena sebaba-sebab yang lain yang menyebabkan kegagalan dalam pertanian buah-buahan.

Orang-orang yang bisa bertahan dengan berbagai musibah itu hanyalah orang-orang yang memiliki kesabaran. Itulah sebabnya, Allah Swt di dalam ayat itu, menyatakan bahwa orang-orang yang tidak mengalami kesedihan yang mendalam yang ditimpa musibah itu hanyalah orang-orang yang sabar terhadap ujian dan cobaan.

Di antara ciri kesabaran mereka adalah orang-orang yang menyerahkan dan mengembalikan semuanya hanya kepada Allah. Mereka yang men gembalikan semua itu kepada Allah yang mengucapkan kalimat: “Sesungguhnya kita semua Allah milik Allah, dan semua kita pasti akan kembali kepada Allah.” Mereka itulah yang mendapatkan tiga keberuntungan dari Allah, yaitu keberkahan yang sempurna, rahmat (kasih sayang Allah), dan hidayah dari Allah.

Ciri kedua dari orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya). Hal ini dinyatakan Allah di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 177:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”

Baca Juga: Kisah Kesabaran Nabi Ya’kub : Tafsir Surat Yusuf ayat 18

Ayat di atas menjelaskan ciri-ciri orang-orang yang baik, orang-orang yang benar imannya, dan orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang dipandang baik dalam pandangan Allah adalah:

  1. Orang-orang yang beriman kepada Allah,
  2. Orang-orang yang beriman hari Kemudian,
  3. Orang-orang yang beriman malaikat-malaikat,
  4. Orang-orang yang beriman kitab-kitab yang diturunkan Allah,
  5. Orang-orang yang beriman kepada nabi-nabi
  6. Orang-orang yang suka berbagi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada musafir (yang memerlukan pertolongan) dan kepada orang-orang yang meminta-minta;
  7. Orang-orang yang memerdekakan hamba sahaya,
  8. Orang-orang yang mendirikan shalat,
  9. Orang-orang yang menunaikan zakat;
  10. Orang-orang yang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,
  11. Orang-orang yang orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Maryam ayat 34-37

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 34-37 ini Allah menegaskan bahwa Nabi isa adalah seorang hamba Allah bukanlah keturunannya, karena Allah Maha Kuasa hingga tidak memerlukan keturunan yang akan merawatnya di masa tua sebagaimana halnya manusia. Tafsir Surah Maryam ayat 34-37 ini merupakan penjelasan mendalam dari tafsir surah Maryam ayat 30-33 sebelumnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 27-33


Ayat 34

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Isa adalah seorang hamba Allah yang akan menjadi nabi dan akan diturunkan kepadanya Al-Kitab, yang mempunyai sifat-sifat dan akhlak yang mulia bukan sebagaimana yang dituduhkan oleh kaumnya, bukan anak zina dan bukan pula anak Allah sebagaimana yang diucapkan dan dipercayai oleh kaumnya di belakang hari.

Apa yang diucapkannya sewaktu ia masih bayi dalam gendongan itulah ucapan yang benar dan tak dapat diragukan lagi meskipun kaumnya masih meragukan ucapan-ucapan itu dan menuduhnya sebagai tukang sihir. Dia bukan tukang sihir sebagaimana dikatakan orang Yahudi, bukan putra Allah sebagaimana didakwahkan oleh kaum Nasrani dan bukan pula Tuhan sebagaimana dikatakan golongan yang lain. Dia adalah hamba Allah yang akan diangkat menjadi nabi dan rasul.

Ayat 35

Pada ayat ini Allah menegaskan kembali bahwa Isa itu bukan anak Allah. Tidak wajar dan tidak mungkin Allah mempunyai anak karena Allah tidak memerlukan keturunan seperti manusia yang di masa tuanya sangat membutuhkan pertolongan dan perawatan dan membutuhkan orang yang akan melanjutkan dan memelihara hasil usahanya atau mengharumkan namanya sesudah ia meninggal.

Allah tidak memerlukan semua itu karena Dia Mahakuasa, senantiasa berdiri sendiri tidak membutuhkan bantuan orang lain sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ

Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya). (Āli ‘Imrān/3: 2)

Mahasuci Allah dari segala sifat kekurangan dan dari segala tuduhan yang diucapkan oleh kaum kafir. Apabila Dia hendak menciptakan sesuatu, cukuplah Dia menfirmankan “Kun” (jadilah) maka terciptalah dia.

Baginya tidak sulit untuk menciptakan seorang anak tanpa bapak atau menciptakan manusia tanpa ibu dan bapak seperti menciptakan Adam dan Allah berfirman:

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, ”Jadilah!”  Maka jadilah sesuatu itu.  (Āli ‘Imrān/3: 59)

Allah Yang Maha Sempurna dan demikian besar kekuasaan-Nya tidaklah mungkin membutuhkan seorang anak karena yang demikian itu menunjukkan kepada kelemahan dan sifat-sifat kekurangan.

Ayat 36

Pada ayat ini Allah menerangkan lagi ucapan Isa di waktu dia masih bayi dalam buaian di samping ucapan-ucapannya pada ayat 30-33 Surah ini yaitu, “Bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyembah-Nya.” Isa menegaskan kepada kaumnya bahwa dia hanya hamba Allah seperti mereka juga meskipun dia dilahirkan dengan cara yang luar biasa tanpa bapak.

Hal ini tidak menunjukkan bahwa dia adalah putra Allah, atau dia adalah Tuhan yang patut disembah. Dia hanya manusia biasa diciptakan Allah. Oleh sebab itu dia mengajak kaumnya supaya menyembah Allah Yang menciptakannya dan menciptakan semua makhluk. Yang patut mereka sembah hanyalah Allah Pencipta segala sesuatu.

Selanjutnya Isa menerangkan kepada mereka, bahwa manusia sepatutnya menyembah Allah bukan menyembah setan dan berhala. Inilah jalan yang lurus yang akan membawa mereka pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ini pula jalan yang ditunjukkan oleh nabi-nabi sebelum dia. Barangsiapa yang menempuh jalan itu ia akan berbahagia dan barangsiapa yang menempuh jalan selain itu akan sesat dan celaka.

Ayat 37

Kemudian pada ayat ini Allah menerangkan bahwa kaum Nabi Isa tidak mengindahkan petunjuk-petunjuk yang diberikan kepada mereka. Mereka telah jatuh ke dalam lembah kesesatan dan perselisihan yang hebat. Mereka terpecah-pecah menjadi beberapa golongan;

Golongan “Yakubiyah” yaitu golongan yang mengikuti ajaran seorang pendeta bernama Yakub, yang mengatakan bahwa Isa adalah tuhan yang diturunkan ke bumi tetapi kemudian naik lagi ke langit.

Golongan “Nasturiah” yang mengikuti ajaran seorang pendeta bernama Nastur yang mengatakan bahwa Isa adalah putra Tuhan yang diturunkan ke bumi kemudian diangkat-Nya kembali ke langit. Golongan ini mengatakan bahwa Isa adalah salah satu dari oknum yang tiga yaitu: Bapak, putra dan Ruhulkudus.

Golongan lain mengatakan bahwa Isa adalah salah satu dari Tuhan yang tiga, yaitu: Allah, Isa anak-Nya dan Maryam ibu Isa. Di samping golongan-golongan yang sesat itu, ada pula golongan yang benar dan beriman sesuai dengan ajaran dan petunjuk Isa yang beriman bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, golongan ini bernama “Malakania”.

Terhadap golongan-golongan yang sesat itu Allah mengancam mereka bahwa mereka akan menyaksikan sendiri bagamana dahsyatnya hari kiamat nanti dan bagaimana pedihnya siksaan yang disediakan untuk mereka. Semua anggota badan mereka akan menjadi saksi atas kekufuran dan keingkaran mereka.

Allah menangguhkan siksaan terhadap mereka sampai hari Kiamat dan tidak menyegerakan siksaan mereka semata-mata karena rahmat dan kasih sayang-Nya sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi saw:

اِنَّ الله َلَيُمْلِى لِلظَّالِمِ حَتىَّ اِذَا اَخَذَهُ لمَ ْيُفْلِتْهُ (رواه البخاري ومسلم عن ابى موسى)

Sesungguhnya Allah menangguhkan penyiksaan bagi orang zalim sehingga apabila Dia menyiksanya, dia tidak akan dapat lepas dari siksaan itu. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abu Musa)

Mengenai sikap kaum Nabi Isa ini Nabi Muhammad saw bersabda:

لاَاَحَدَ اَصْبَرَ عَلَى اَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللهِ، اِنَّهُمْ يَجْعَلُوْنَ لَهُ وَلَدًا وَهُوَ يَرْزُقُهُمْ وَيُعَافِيْهِمْ (رواه البخارى عن عبد الله بن قيس)

Tak ada seorang pun yang tahan, mendengar kata-kata yang menyakitkan kecuali Allah. Mereka mengatakan bahwa Allah mempunyai anak sedang Allah tetap memberi mereka rezeki dan kesehatan. (Riwayat al-Bukhāri dari Abdullah bin Qais)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Maryam ayat 38-40


Tafsir Surah Maryam ayat 27-33

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 27-33 mengisahkan tentang Maryam yang berpuasa dan juga tidak berbicara dengan seorangpun ketika akan melahirkan Nabi Isa. Tafsir Surah Maryam ayat 27-33 ini menjelaskan secara runtut keadaan Maryam saat orang-orang mengetahui bahwa ia hamil. Dijelaskan pula dalam Tafsir Surah Maryam ayat 27-33 ini bagaimana Nabi Isa yang baru saja dilahirkan dapat berbicara memberi penjelasan kepada orang-orang yang mencemooh Maryam.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 12-16


Ayat 27

Setelah Maryam diperintahkan untuk berpuasa pada hari melahirkan putranya dan tidak berbicara dengan seorang pun dan setelah ada jaminan dari Allah bahwa kehormatannya tetap terpelihara; maka Maryam menyerahkan seluruh nasibnya pada ketetapan Allah, Maryam menggendong anaknya dan membawanya kepada kaumnya, hal itu menyebabkan kaumnya mencela perbuatannya seraya berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu perbuatan yang amat mungkar.”

Ayat 28

Kemudian mereka menambah celaan dan cemoohan serta tuduhan kepada Maryam seraya berkata, “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang wanita tuna susila. Bagaimana kamu sampai mendapatkan anak ini.” Maryam dipanggil dengan sebutan “Saudara perempuan Harun”, oleh karena telah menjadi kebiasaan Bani Israil untuk menyebutkan nama-nama para nabi dan orang-orang saleh sebelumnya.

Diriwayatkan oleh al-Mugirah bin Syu`bah yang diutus oleh Rasulullah saw, ke Najran di negeri Yaman di mana terdapat orang-orang Nasrani dan mereka bertanya kepadanya, “Mengapa kamu membaca di dalam Al-Qur’an, “hai saudara perempuan Harun,” padahal Harun dan Musa itu hidupnya lama sekali sebelum lahirnya Isa putra Maryam?” al-Mugirah tidak sempat memberikan jawaban dan ketika beliau pulang ke Medinah dan menghadap Rasulullah beliau mengemukakan pertanyaan itu. Oleh Rasulullah saw dijawab:

اَلاَ أَخْبَرْتَهُمْ اَنَّهُمْ كَانُوْا يُسَمُّوْنَ بِالْاَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ قَبْلَهُمْ. (رواه أحمد)

“Mengapa kamu tidak memberitahu mereka, bahwa kebiasaan mereka (Bani Israil) itu suka menyebut-nyebut nama para nabi dan orang-orang saleh sebelum mereka.” (Riwayat Ahmad)

Ayat 29

Maryam menunjuk kepada putranya supaya berbicara dan menjelaskan tentang keadaannya, karena Maryam sudah bernazar untuk tidak berbicara dengan siapa pun dan sudah merasa yakin bahwa anaknya mengerti isyarat itu. Orang-orang Yahudi bertanya dengan keheranan, “Bagaimana kami akan berbicara dengan seorang bayi yang masih di dalam gendongan?” Mereka menduga bahwa Maryam memperolok-olok mereka.

Ayat 30

Isa a.s. yang masih dalam gendongan ibunya kemudian berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia yang akan memberikan aku kitab suci Injil dan Dia yang akan menjadikan aku seorang Nabi.” Ucapan ini mengandung penjelasan bahwa ibunya adalah seorang wanita yang suci karena seorang Nabi harus dari keturunan orang yang saleh dan suci.

Ayat 31

Selanjutnya Isa kecil mengatakan, Allah akan menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, karena aku memberi manfaat kepada manusia dan memberi petunjuk kepada mereka ke jalan kebahagiaan.

Allah telah memerintahkan aku untuk mendirikan salat karena dalam mendirikan salat itu terkandung perbuatan membersihkan diri dari berbagai macam dosa lahir dan batin, Allah juga memerintahkan aku untuk menunaikan zakat selama aku hidup di dunia. Zakat bertujuan untuk membersihkan harta, jiwa dan memberi bantuan kepada fakir miskin.

Ayat 32

Isa yang masih bayi menjelaskan lebih lanjut, bahwa Allah memerintahkan kepadanya supaya berbakti kepada ibunya, tunduk dan selalu berbuat kebaikan kepadanya. Ucapan ini menunjukkan pula kesucian Maryam, karena apabila tidak demikian maka Nabi Isa tidak akan diperintah untuk berbakti kepada ibunya.

Keterangan selanjutnya Isa mengatakan, “Allah tidak menjadikan aku seorang yang sombong karena aku selalu taat menyembah Allah dan tidak pula menjadikan aku seorang yang celaka karena aku selalu berbuat baik kepada ibuku.”

Ayat 33

Selanjutnya Isa berdoa, Semoga kesejahteraan dan keselamatan dilimpahkan kepadanya pada tiga peristiwa yaitu pada hari ia dilahirkan, pada hari ia wafat dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali pada hari Kiamat. Maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi mudarat kepadanya dalam tiga peristiwa ini yang merupakan peristiwa-peristiwa paling sulit dan kritis bagi setiap hamba Allah yang hidup di dunia.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengingkari bahwa Isa a.s. pernah berbicara ketika masih bayi dan masih dalam gendongan. Mereka mengemukakan bahwa seandainya hal ini betul-betul terjadi tentu beritanya tersebar luas di kalangan masyarakat ramai, karena peristiwa itu merupakan hal yang sangat aneh dan sangat menarik perhatian. Mereka telah mengadakan penyelidikan ke mana-mana dan tidak menjumpai keterangan itu dalam kitab-kitabnya.

Bagi kaum Muslimin peristiwa ini tetap menjadi suatu keyakinan karena tersebut di dalam Al-Qur’an yang pasti kebenarannya karena seandainya Isa a.s., tidak berbicara waktu kecilnya dan membersihkan ibunya dari segala tuduhan yang kotor tentu orang Yahudi akan melaksanakan hukuman rajam kepada Maryam, besar kemungkinan bahwa yang menyaksikan ucapan bayi itu beberapa orang saja yang jumlahnya terbatas sehingga tidak sampai tersebar luas di kalangan mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Maryam ayat 34-37