Beranda blog Halaman 344

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 37 (Part 2)

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 37 (Part 2) menlanjutkan tafsir sebelumnya, dikisahkan bagaimana tempat yang awalnya tandus akan menjadi tempat yang mulia dikemudian hari, didatangi oleh orang-orang dari berbagai tempat di dunia.   Tujuan mereka antara lain adalah melakukan peribadatan di Ka’bah, tempat yang sakral di tanah tandus, yang kemudian dikenal dengan tanah Haram.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 37 (Part 1)


Ayat 37

Lalu ia pun berdoa sebagaimana terdapat dalam ayat itu, “Wahai Tuhanku, aku telah menempatkan sebagian keturunanku, yaitu istri dan anakku Ismail, yang akan melanjutkan keturunanku, di lembah padang pasir yang tandus lagi gersang, di dekat tempat akan didirikan Ka’bah, rumah-Mu nanti, yang dihormati, yang Engkau akan melarang manusia mencemarkan kehormatannya.

Dan yang akan Engkau jadikan daerah sekitarnya sebagai daerah haram, yaitu dilarang di tanah itu berperang dan menumpahkan darah.”

Doa Ibrahim dan istrinya Hajar itu dikabulkan Tuhan. Waktu itu juga, terpancarlah air dari tanah bekas pukulan kaki anaknya Ismail yang sedang menangis.

Di saat itu pula, timbullah pada diri Hajar rasa syukur kepada Allah atas rahmat-Nya yang tiada terhingga, dan timbullah dalam hatinya harapan akan kelangsungan hidupnya dan putranya lalu diminumkannya air itu kepada putranya Ismail.

Karena khawatir air itu habis dan lenyap kembali ke dalam pasir, maka ia mengumpulkan air itu dengan tangannya, seraya berkata, “Zam! Zam! (Berkumpullah! Berkumpullah!)” Dan terkumpullah air itu, tidak kering-kering sampai sekarang dan bernama Telaga Zamzam.

Dengan adanya Telaga Zamzam di tempat itu, banyaklah orang yang lewat meminta air ke sana. Tatkala Bani Jurhum melihat adanya sumber air di tempat itu, maka mereka minta izin kepada Hajar tinggal bersama di sana, dan Hajar pun mengabulkan permintaan itu.

Sejak itu, mulailah kehidupan di daerah yang tandus itu, semakin hari semakin banyak pendatang yang menetap. Akhirnya timbullah negeri dan kebudayaan, sehingga daerah tersebut menjadi tempat jalan lintas perdagangan antara barat dan timur.

Setelah Ismail dewasa, ia menikah dengan salah seorang wanita Bani Jurhum, pendatang baru itu, yang kemudian menurunkan keturunan yang merupakan cikal-bakal penghuni negeri itu. Keturunan itu berkembang biak, mendiami negeri Mekah dan sekitarnya.

Dari keturunan Ismail inilah nanti, lahir Nabi Muhammad di kemudian hari, sebagai nabi dan rasul Allah yang penghabisan.

Dalam ayat di atas, selanjutnya diterangkan bahwa Ibrahim a.s. berdoa kepada Tuhan agar memelihara keturunannya yang ada di Mekah, menjadi-kan mereka sebagai orang-orang taat mengerjakan salat, menghambakan dan menundukkan dirinya kepada Tuhan.

Ia juga meminta agar Tuhan menjadi-kan hati manusia cenderung, cinta, dan kasih kepada keturunannya itu, diberi rezeki, dan didatangkan bahan makanan dan buah-buahan ke negeri yang tandus itu, karena di negeri itu tidak mungkin hidup tumbuh-tumbuhan yang diperlukan sebagai bahan makanan.


Baca Juga : Inilah 8 Manfaat Buah Zaitun, Buah yang Disebut dalam Al-Quran


Doa Nabi Ibrahim dikabulkan Allah swt. Terbukti sejak dahulu hingga sekarang banyak manusia yang mengunjungi Baitullah untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah, serta melihat bekas peninggalan-peninggalan dan perjuangan Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya.

Demikian pula banyak didatangkan ke bumi yang tandus itu pelbagai macam barang keperluan yang diperlukan penghuni negeri itu, seperti bahan makanan, buah-buahan, dan barang pakaian sampai barang mewah.

Penganugerahan karunia yang berlipat ganda itu ditegaskan dalam firman Allah swt:

وَقَالُوْٓا اِنْ نَّتَّبِعِ الْهُدٰى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ اَرْضِنَاۗ اَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَّهُمْ حَرَمًا اٰمِنًا يُّجْبٰٓى اِلَيْهِ ثَمَرٰتُ كُلِّ شَيْءٍ رِّزْقًا مِّنْ لَّدُنَّا وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan mereka berkata, ”Jika kami mengikuti petunjuk bersama engkau, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” (Allah berfirman) Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (al-Qashash/28: 57).

Allah swt menganugerahkan rezeki dan kekayaan yang banyak kepada penduduk dan negeri Arab itu agar mereka mensyukuri nikmat Allah dengan menjaga Baitullah, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menghentikan larangan-larangan-Nya.

Dari ayat ini, dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang diperoleh selama hidup di dunia ini, adalah untuk keperluan beribadah kepada Tuhan.

Dengan hasil yang diperoleh itu, dapat disempurnakan pelaksanaan perintah-perintah Allah dan penghentian larangan-Nya, bukan semata-mata untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 38-39


Tafsir Surah Ibrahim Ayat 38-39

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 38-39 berbicara tentang doa lain yang dipanjatkan oleh Ibrahim, yakni kelapangan riziki. Dengan rizki yang lapang, mudah kiranya mereka dalam berdakwah dan mengembangkan agama Allah swt. Adab dan cara Ibrahim dalam tiap-tiap doanya menunjukkan bahwa, berdoa seharusnya tidak terburu-buru, memaksa, atau bahkan bercanda dalam doa-nya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 37 (Part 2)


Dalam Tafsir Surah Ibrahim Ayat 38-39 juga dikisahkan bagaimana Allah mengabulkan doa dan harapan Ibrahim untuk mendapatkan anak dari rahim istri pertamanya, Sarah. Maka lahirlah Ishaq saudara baru bagi Ismail, yang keduanya merupakan nabi penerus lisan dan dakwah ayahnya.

Ayat 38

Selanjutnya Nabi Ibrahim berdoa, “Wahai Tuhan kami, sesungguh-nya Engkau mengetahui segala yang tersimpan dalam hati kami termasuk di dalamnya segala yang tersirat dan tergores dalam hati kami.

Engkau mengetahui pula segala yang kami ucapkan dan nyatakan termasuk di dalamnya doa-doa yang telah kami panjatkan kepada Engkau. Tidak ada sesuatupun yang tidak Engkau ketahui segala yang ada di bumi maupun di langit, karena semua itu hanya Engkaulah yang menciptakan, memiliki, dan mengaturnya, perkenankanlah doa kami, Ya Tuhan kami.”

Ayat ini mengajarkan kepada kaum Muslimin cara-cara berdoa yang baik sesuai dengan ketentuan agama, yaitu berdoa dengan hati yang bersih, penuh keyakinan akan kebesaran dan kekuasaan Allah, dan isi doa itu melukiskan keinginan untuk menyempurnakan penghambaan diri kepada Tuhan, bukan untuk mencapai sesuatu cita-cita untuk kepentingan dan kesenangan diri dan merugikan orang lain.

Doa yang dimohonkan Nabi Ibrahim itu ditujukan agar Tuhan menjadikannya dan anak cucunya hamba Allah yang taat, dan agar anak cucunya itu diberi rezeki, sehingga dengan rezeki itu mereka dapat menyempurnakan penghambaan dirinya kepada Allah.

Dengan rezeki itu pula, mereka dapat membela dan mengembangkan agama Allah serta menjadi pelayan dan khadam Ka’bah, rumah Allah.


Baca Juga : Tafsir Kebangsaan, Kiai Cholil Nafis: Dalam Konteks Dakwah, Sangat Diperlukan


Ayat 39

Ibrahim a.s. memanjatkan puja kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, yang telah menganugerahkan kepadanya dua orang putra yang terbaik, di saat-saat ia dan istrinya telah lanjut usia, tidak mungkin mempunyai putra lagi, bahkan istrinya Sarah telah putus asa dan merasa dirinya tidak mungkin lagi mempunyai anak.

Waktu itulah ia dianugerahi putra yang bernama Ishak dan sebelumnya ia telah dianugerahi putra dari istrinya Hajar.

Sekalipun Sarah telah sangat tua dan tidak mungkin lagi melahirkan anak, tetapi keinginan mempunyai putra selalu menjadi idamannya, lebih-lebih setelah mendengar Ismail telah bertambah dewasa, selalu dikunjungi oleh suaminya Ibrahim, ke tempat ia dibesarkan di Mekah yang sangat jauh jaraknya dari Palestina.

Timbul rasa iri hatinya kepada Hajar, bekas pembantunya, apalagi setelah dinikahi Ibrahim atas izinnya pula. Ditambah pemikiran Sarah, kenapa pembantunya dikaruniai Allah swt seorang putra, sedangkan dia sendiri belum juga lagi dianugerahi. Rasa iri itu semakin lama semakin besar.

Dalam keadaan demikianlah, malaikat datang kepada dua orang suami istri yang telah lanjut usia itu, menyampaikan perintah Allah untuk memberitahukan berita gembira bahwa mereka akan dianugerahi Allah seorang putra yang bernama Ishak, seorang anak laki-laki yang akan diangkat menjadi nabi dan rasul di kemudian hari.

Berita itu diterima oleh Ibrahim, terutama Sarah, dengan rasa heran dan tidak percaya, tetapi penuh harapan. Ia hampir tidak percaya berita itu karena umurnya telah terlalu tua untuk mengandung dan melahirkan anak.

Menurut kelaziman, wanita yang seumur dia mustahil melahirkan anak. Sekalipun demikian, ia juga mempunyai harapan karena berita itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa yang disampaikan oleh malaikat pesuruh-Nya. Ia yakin dan percaya bahwa Tuhan kuasa menciptakan yang dikehendaki-Nya, semua mudah bagi Tuhan.

 Penyampaian berita oleh malaikat kepada Ibrahim dan Sarah bahwa mereka akan mempunyai putra, dilukiskan dalam firman Allah swt:

وَامْرَاَتُهٗ قَاۤىِٕمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنٰهَا بِاِسْحٰقَۙ وَمِنْ وَّرَاۤءِ اِسْحٰقَ يَعْقُوْبَ  ٧١  قَالَتْ يٰوَيْلَتٰىٓ ءَاَلِدُ وَاَنَا۠ عَجُوْزٌ وَّهٰذَا بَعْلِيْ شَيْخًا ۗاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيْبٌ  ٧٢  قَالُوْٓا اَتَعْجَبِيْنَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ رَحْمَتُ اللّٰهِ وَبَرَكٰتُهٗ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الْبَيْتِۗ اِنَّهُ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ  ٧٣

Dan istrinya berdiri lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak dan setelah Ishak (akan lahir) Yakub. Dia (istrinya) berkata, ”Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.” Mereka (para malaikat) berkata, ”Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Pengasih.” (Hud/11: 71-73)

Dan firman Allah swt:

قَالُوْا لَا تَوْجَلْ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمٍ عَلِيْمٍ   ٥٣  قَالَ اَبَشَّرْتُمُوْنِيْ عَلٰٓى اَنْ مَّسَّنِيَ الْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُوْنَ   ٥٤  قَالُوْا بَشَّرْنٰكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْقٰنِطِيْنَ   ٥٥  قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖٓ اِلَّا الضَّاۤلُّوْنَ   ٥٦

(Mereka) berkata, ”Janganlah engkau merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang pandai (Ishak).” Dia (Ibrahim) berkata, ”Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, lalu (dengan cara) bagaimana kamu memberi (kabar gembira) tersebut?” (Mereka) menjawab, ”Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa.” Dia (Ibrahim) berkata, ”Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.” (al-Hijr/15: 53-56).

Ibrahim memanjatkan puji dan syukur kepada Allah, yang Maha Pemurah atas anugerah-Nya yang lain, yaitu mengabulkan doa-doanya, seperti menjadikan tanah Mekah dan sekitarnya sebagai tanah haram, menjadikan dia dan sebagian keturunannya orang yang saleh bahkan mengangkat dua orang putranya, Ismail dan Ishak, menjadi nabi dan rasul.

Apa yang dirasakan Ibrahim a.s. waktu memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan ini dapat dimaklumi, betapa bahagianya ia dan keluarganya setelah berusaha dengan keras, mengalami cobaan-cobaan yang sangat berat, mendapat halangan dan rintangan dari bapak dan kaumnya.

Kemudian pada saat umurnya dan istrinya semakin tua, ia melihat semua hasil usahanya itu, hampir semua yang pernah dimohonkannya kepada Tuhan dahulu, dikabulkan.

Bahkan cita-citanya memperoleh keturunan, yang semula dirasakannya tidak akan mungkin terwujud, kemudian atas kehendak Tuhan Yang Maha Pemurah, akhirnya terkabul juga, sehingga lahirlah putra yang kedua, yaitu Ishak.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 40-42


Tafsir Surah Ibrahim Ayat 37 (Part 1)

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 37 (Part 1) masih menceritakan kisah Ibrahim, terutama ketika ia bersama istrinya. Diketahui bahwa Ibrahim memiliki dua istri, Hajar dan Sarah, keduanya tinggal terpisah, sehingga Ibrahim sering melakukan perjalanan jauh untuk menemui istri-istrinya tersebut.

Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 35-36

Dikisahkan pula dalam Tafsir Surah Ibrahim Ayat 37 (Part 1) ini bahwa Ibrahim dikaruniai seoang anak bernama Ismail, hasil pernikahannya dengan Hajar. Hajar dan anaknya kemudian dibawa merantau untuk menuju suatu tempat. Dan meninggalkan Hajar dan Ismail ditempat tersebut. Sebab peristiwa inilah Allah menunjukkan kasih sayangnya dengan memberikan hadiah pada keduanya,yakni air zam-zam.

Ayat 37

Ayat ini menerangkan saat Ibrahim a.s. akan kembali ke Palestina menemui istrinya Sarah, meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Ismail yang masih kecil di Mekah, di tengah-tengah padang pasir yang tandus, tanpa ditemani oleh seorang manusia pun dan tanpa bekal untuk keluarganya yang ditinggalkan.

Waktu itulah ia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, mohon agar keluarganya itu dilindungi dan diselamatkan dari segala bahaya dan bencana yang mungkin akan menimpanya.

Ibrahim a.s. adalah nabi dan rasul yang diutus menyeru raja Namrud, raja Babilonia dan rakyatnya, agar mereka mengikuti agama Allah. Setelah menerima siksaan, halangan, dan ancaman dari raja Namrud dan pengikut-pengikutnya, Ibrahim meninggalkan Babilonia dan akhirnya menetap di Palestina, bersama istrinya Sarah dan pembantu istrinya seorang wanita yang bernama Hajar.

Karena Sarah wanita yang mandul, maka Ibrahim a.s. tidak mempunyai seorang putra pun, sedang umurnya telah menginjak masa tua. Sekalipun demikian keinginannya untuk mempunyai seorang putra tetap merupakan cita-cita yang selalu diidam-idamkannya.

Oleh karena itu, dinikahinya pembantu istrinya bernama Hajar itu setelah mendapat izin dan persetujuan dari Sarah. Dari pernikahan itu, lahirlah seorang putra yang bernama Ismail dan dengan kelahiran itu pula, terkabullah cita-cita Ibrahim yang diingininya selama ini.

Kesayangan Ibrahim kepada putranya Ismail dan bertambah cintanya kepada Hajar menimbulkan rasa cemas dan iri hati pada diri Sarah.

Cemas karena khawatir akan berkurang cinta Ibrahim kepadanya, dan iri hati karena ia sendiri tidak dapat memenuhi keinginan Ibrahim untuk memperoleh seorang putra sebagai penerus hidupnya, sedang pembantunya Hajar dapat memenuhi keinginan suaminya.

Sarah menyampaikan perasaan hatinya itu kepada suaminya Ibrahim, dan meminta dengan sangat agar Ibrahim membawa dan menjauhkan Hajar dan putranya Ismail darinya.

Dengan demikian, ia tidak lagi melihat kebahagiaan Hajar dan semakin bertambah dewasanya Ismail. Ibrahim dapat merasakan betapa dalam cintanya kepada Sarah. Ia pun khawatir kalau-kalau Sarah sedih jika permintaan itu tidak dikabulkan. Oleh karena itu, Ibrahim pun mengabulkan permintaan Sarah.

Maka dibawanya Hajar dan putranya, Ismail yang masih kecil, berjalan mengikuti untanya tanpa mengetahui tujuannya, dalam keadaan iba dan terharu mengingat nasib yang akan dialami oleh istrinya dan putranya nanti.

Dalam keadaan yang demikian, tanpa disadarinya, sampailah ia ke daerah yang asing baginya, suatu daerah yang terletak di antara bukit-bukit batu yang gersang, yang sekarang bernama kota Mekah.


Baca Juga : Ibrah Kisah Nabi Adam Memakan Buah dan Bencana dari Kerusakan Alam


Pada waktu itu, Mekah merupakan daerah dataran rendah padang pasir yang belum didiami oleh seorang manusia pun. Tidak ditemukan suatu sumber air. Menurut hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari bahwa di tempat itu terdapat sebatang pohon kayu, dan di bawah pohon itulah Ibrahim dan keluarganya berteduh dan melepaskan lelah dari perjalanan yang jauh dari Palestina sampai ke Mekah sekarang ini.

Setelah beberapa hari Ibrahim menemani Hajar dan putranya di tempat itu, ia pun teringat kepada istrinya Sarah yang ditinggalkannya di Palestina. Ingin kembali ke Palestina, ia tak sampai hati pula meninggalkan Hajar dan putranya.

Dalam keadaan demikian, ia pun memutuskan akan kembali ke Palestina dan meminta persetujuan dari Hajar. Di waktu ia meminta persetujuan dan kerelaan hati Hajar, maka Hajar bertanya kepada Ibrahim, “Apakah Allah yang memerintahkan kepadamu agar aku ditempatkan di daerah sunyi lagi tandus ini?” Ibrahim menjawab, “Benar.” Hajar menjawab, “Jika demikian, Dia (Allah) tidak menyia-nyiakan kita.”

Maka berangkatlah Ibrahim ke Palestina, menemui istrinya Sarah dan meninggalkan istri dan putranya Ismail yang masih kecil di tempat itu, di tengah-tengah panas matahari membakar padang pasir, tanpa rumah tempat berteduh, dan perbekalan yang cukup, kecuali sekendi air untuk pelepas haus.

Ketika Hajar dan putranya sampai kepada suatu tempat, yang waktu itu semua perbekalan dan air minum telah habis, putranya Ismail menangis kehausan, sedang air susunya tidak mengalir lagi.

Ia bermaksud mencari air, dan ditidurkannya putranya di bawah pohon tempat ia berteduh. Ia pun pergi ke mana saja yang dianggapnya ada air, namun ia tidak menemukannya setetes pun. sehingga, tanpa disadarinya ia telah berlari-lari kecil pulang balik tujuh kali antara bukit Safa dan bukit Marwah, tetapi ia belum juga memperoleh air barang setetes pun.

Maka dengan rasa sedih dan putus asa, ia kembali ke tempat putranya yang ditinggalkan. Waktu itu Ismail sedang menangis kehausan sambil memukul-mukulkan kakinya ke tanah. Hajar pun berdoa menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

Dalam keadaan yang demikian, Ibrahim yang sedang melanjutkan perjalanannya ke Palestina, ingat akan istri dan putranya yang ditinggalkan dan nasib yang mungkin sedang dideritanya, karena diperkirakan makanan dan air yang ia tinggalkan telah habis.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 37 (Part 2)


Lima Referensi Awal Pembelajaran Tajwid di Bumi Nusantara

0
Pembelajaran Tajwid
Referensi Awal Pembelajaran Tajwid

Sebagaimana dijelaskan pada artikel, Sejarah Lembaga Tahfiz Al-Qur’an di Indonesia, pembelajaran Al-Qur’an di Nusantara hadir beriringan dengan kedatangan Islam pada abad ke 12 M. Sejak itu, pembelajaran Al-Qur’an – termasuk pembelajaran tajwid – mulai berkembang sedikit demi sedikit hingga menjadi seperti yang disaksikan saat ini.

Pada mulanya, pembelajaran tajwid hanyalah upaya individual di mana seorang murid belajar kepada guru berkenaan cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar. Saat itu, tidak ada kurikulum khusus atau lembaga tertentu yang menaungi kegiatan pembelajaran tajwid dan Al-Qur’an. Kegiatan ini biasanya terpusat di Masjid atau surah, tempat ibadah umat Islam.

Pelembagaan pembelajaran Al-Qur’an atau pendidikan Islam baru dilakukan pada abad ke 15 M, tepatnya pada padepokan Ampel di bawah bimbingan Syekh Ahmad Rahmatillah atau lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Setelah itu bermunculan berbagai pesantren yang menjadi pusat pendidikan Islam (Lihat Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia).

Baca Juga: Hukum Lam Sukun dalam Ilmu Tajwid

Kendati pada masa awal Islam di Nusantara belum ada instansi dan kurikulum khusus – seperti kurikulum modern – terkait pembelajaran tajwid, namun mayoritas guru atau ulama saat itu menggunakan kitab tertentu sebagai bahan acuan dalam pembelajaran mereka. Literatur-literatur inilah yang menjadi referensi utama pembelajaran tajwid di Nusantara.

Menurut para peneliti – sebagaimana diungkapkan Wawan Djunaedi dalam Sejarah Qira’at Al-Qur’an di Indonesia – terdapat beberapa literatur yang dijadikan sebagai acuan utama dalam pembelajaran tajwid di Nusantara pada masa awal kedatangan Islam. Mayoritas kitab ini berasal dari karangan ulama asal timur tengah, di antaranya:

  1. Hidayat al-Mustafi fi ‘Ilm al-Tajwid

Kitab Hidayat al-Mustafi fi ‘Ilm al-Tajwid merupakan karya Muhammad al-Mahmud al-Najar atau yang lebih masyhur dengan sebutan Abu Rimah. Kitab ini ditulis dengan tujuan agar dapat dijadikan sebagai buku pedoman pembelajaran tajwid bagi anak-anak atau bisa dikatakan sebagai buku pengantar ilmu tajwid bagi pemula (muqaddimah fi ilm al-tajwid).

Kitab ini terdiri dari tiga bagian, yakni: pertama, mukadimah yang berisi tentang latar belakang penyusunan kitab; kedua, pembahasan yang berisi tentang hukum dan penjelasan – kurang lebih sebanyak 15 pasal – seperti bacaan ta’awwudz, basmalah, nun sakinah, tanwin, mim taysdid, nun tasydid, alif lama qamariah dan alif lam syamsiah; ketiga, penutup yang berisi penjelasan tentang tradisi ulama mengkhatamkan Al-Qur’an.

  1. Fathu al-Rahman fi Tajwid al-Qur’an

Kitab kedua yang dijadikan referensi utama pembelajaran tajwid di Nusantara awal adalah Fathu al-Rahman fi Tajwid al-Qur’an. Kitab ini ditulis oleh Sa’ad bin Nabhan dan pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh KH. Ahmad Shiddiq, Ra’is Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tahun 1984-1991), untuk diterbitkan di Surabaya.

Sama seperti kitab Hidayat al-Mustafi fi ‘Ilm al-Tajwid, kitab Fathu al-Rahman fi Tajwid al-Qur’an juga terdiri dari tiga bagian, yakni: pertama, mukadimah yang terdiri dari salam dan kata pengantar; kedua, pembahasan yang terdiri dari 15 pasal terkait hukum bacaan tajwid seperti izhar, ikhfa, iqlab, mim sakinah, idgam bigunnah dan idgam bi ghairi gunnah; ketiga, penutup.

Kalau kita memperhatikan dan menelaah secara saksama kitab kitab Fathu al-Rahman fi Tajwid al-Qur’an – meskipun tidak ada keterangan eksplisit mengenai qiraat apa yang digunakan di dalamnya – maka dapat disimpulkan bahwa kitab ini disusun berdasarkan mazhab qiraat Imam ‘Ashim riwayat Hafs yang lumrah digunakan di Indonesia.

  1. Hidayah al-Sibyan fi Tajwid al-Qur’an

Kitab Hidayah al-Sibyan fi Tajwid al-Qur’an disusun oleh Sa’ad bin Nabhan, pengarang kitab Hidayat al-Mustafi fi ‘Ilm al-Tajwid. Kitab ini berisi tentang 39 bait syair mengenai tajwid yang terbagi kepada tiga bagian, yakni 1) mukadimah, 2) pembahasan yang terdiri 6 bab, yakni tanwin dan nun sakinah, mim dan nun tashdiq, mim sakinah dan idgham, lam ta’rif, dan lam fi’il, tafkhim dan qalqalah, dan mad, 3) serta penutup.

  1. Tuhfah al-Atfal

Kitab Tuhfah al-Atfal disusun oleh Sulaiman bin Husain bin Muhammad al-Jamzury asal Mesir atau yang lebih dikenal sebagai Alfandi. Menurut Ali Mursyid dalam Tajwid di Nusantara: Kajian Sejarah, Tokoh dan Literatur, kitab ini ditujukan untuk pembelajaran tajwid bagi anak-anak sebagaimana judulnya. Bisa dikatakan isinya yang terdiri dari syair cukup sederhana dan mudah dipahami.

Baca Juga: 10 Pertanyaan Dasar Seputar Ilmu Tajwid yang Harus Kamu Tahu

  1. Matan al-Jazariyah

Kitab Matan al-Jazariyah ditulis oleh Abu al-Khair Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-jazari dalam bentuk nazham yang berjumlah 107 syair. Ibnu al-jazari membagi kitabnya ke dalam tiga bagian, yakni: 1) pendahuluan, 2) pembahasan yang terdiri dari makhraj al-huruf, sifat huruf, huruf lam, idgham mutamasilain dan mutajanisain, nun sakinah dan tanwin, macam-macam madd, waqaf  dan ibtida, maqtu’ dan mausul, serta 3) penutup.

Satu hal yang perlu diketahui, mayoritas kitab atau referensi pembelajaran tajwid di Nusantara di atas ditulis berdasarkan mazhab qiraat Imam ‘Ashim riwayat Hafs yang lumrah digunakan di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa referensi inilah – selain mushaf yang dibawa oleh pedagang muslim asal Gujarat India – yang menjadi faktor utama tersebarnya qiraat ‘Ashim. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 35-36

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 35-36 mengulas tentang kisah nabi Ibrahim saat berdoa kepada Tuhannya. Kisah ini disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada bangsa Arab agar menjadi pelajaran untuk mereka, tentang adab berdoa dan tips supaya mendapat keturunan yang saleh. Sebagaimana doa yang dipanjatkan oleh Ibrahim agar dikaruniai keturunan yang saleh yang senantiasa taat kepada Tuhannya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 33-34


Diceritakan pula dalam Tafsir Surah Ibrahim Ayat 35-36 ini, bahwa bangsa Arab sangat menghormati tanah haram, bahkan jika ada suatu problem yang terjadi di tanah tersebut, mereka akan menyelesaikannya dengan baik atau bahkan melupakannya (memaklumi). Sebaliknya, jika masalahnya terjadi diluar tanah Arab, maka darah bisa menjadi jaminan perselisihan tersebut.

Dan doa Ibrahim yang dibahas dalam Tafsir Surah Ibrahim Ayat 35-36 memberi pesan bahwa siapa saja yang mengakui keturunan Ibrahim hendaklah mengikuti ajaran yang dibawa Ibrahim, yakni; beribadah, berbuat kebajikan, dll. Terutama dalam aspek hubungan sosial, beretika menjadi urgensi pondasinya.

Ayat 35-36

Pada ayat-ayat ini, Allah swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menyampaikan kepada umatnya kisah di waktu Nabi Ibrahim berdoa kepada Tuhannya, agar doa itu menjadi iktibar dan pelajaran bagi orang Arab waktu itu, karena Ibrahim a.s. itu adalah cikal-bakal dan asal keturunan mereka.

Doa itu ialah: Ya Tuhan kami, jadikanlah negeri Mekah ini, negeri yang aman, tenteram, dan sentosa, serta terpelihara dari peperangan dan serangan musuh. Doa Nabi Ibrahim ini dikabulkan Tuhan, dan Dia telah menjadikan negeri Mekah dan sekitarnya, menjadi tanah dan tempat yang aman bagi orang-orang yang berada di sana.

Di negeri itu dilarang menumpahkan darah, menganiaya orang, membunuh binatang, dan menebang tumbuh-tumbuhan yang berada di sana.

Allah berfirman:

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا اٰمِنًا وَّيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْۗ اَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَةِ اللّٰهِ يَكْفُرُوْنَ

Tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia di sekitarnya saling merampok. Mengapa (setelah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil dan ingkar kepada nikmat Allah? (al-‘Ankabut/29: 67).

Orang-orang Arab dan orang-orang yang berdiam di sekitar Jazirah Arab, sejak dahulu hingga sekarang tetap memandang suci dan menghormati tanah haram itu.

Bangsa Arab dahulu adalah bangsa yang terkenal sebagai bangsa yang merasa terhina seandainya mereka tidak dapat menuntut bela atas pembunuhan atau penganiayaan yang dilakukan oleh seseorang atau suatu kabilah terhadap anggota kabilahnya.

Penuntutan bela itu merupakan suatu kewajiban suci untuk membela kehormatan kabilahnya yang telah ternoda itu. Oleh karena itu, mereka akan mengadakan penuntutan bela pada setiap kesempatan yang mungkin mereka lakukan.

Kecuali jika mereka bertemu di tanah haram, mereka tidak akan melakukan penuntutan bela. Mereka menunggu di luar tanah haram. Setelah musuhnya itu keluar dari tanah haram, barulah mereka melakukan pembalasan dendam itu.

Demikian pula tanah haram itu dihormati dan terpelihara dari maksud jahat orang-orang yang hendak menghancurkan Ka’bah dan mengotorinya. Sebagaimana yang pernah dilakukan dan dialami oleh Abrahah, gubernur Ethiopia dan tentaranya.

Abrahah yang beragama Nasrani itu dapat menak-lukkan Yaman yang beragama Yahudi. Ia bermaksud mengembangkan agama Nasrani di Yaman dan menciptakan Yaman menjadi pusat agama Nasrani di Jazirah Arab.

Ia mengetahui pula bahwa orang-orang di Jazirah Arab sangat menghormati Ka’bah. Karena itu ia ingin memalingkan perhatian orang dari menghormati dan mengunjungi Ka’bah kepada menghormati dan mengunjungi suatu tempat atau bangunan yang ada di Yaman.

Untuk memenuhi keinginannya itu, dibuatlah sebuah gereja besar dan megah di Yaman, namun penduduk Jazirah Arab tidak tertarik minatnya untuk mengunjungi, apalagi menghormati bangunan tersebut.

Karena itu timbullah amarah Abrahah, maka disiapkannya pasukan tentara yang mengendarai gajah untuk menyerbu Mekah dan menghancurkan Ka’bah. Sekalipun ia dan tentaranya tidak mendapat perlawanan sedikit pun dari orang Mekah waktu itu, tetapi Allah swt menghancurkan Abrahah dengan tentaranya sampai mereka cerai berai.

Peristiwa kehancuran Abrahah dan bala tentaranya sewaktu menyerang Mekah ini, dilukiskan Allah swt dalam firman-Nya:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحٰبِ الْفِيْلِۗ  ١  اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍۙ  ٢  وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَۙ  ٣  تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍۙ  ٤  فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ   ٥

Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (al-Fil/105: 1-5).

Pada hadis-hadis Rasulullah saw, banyak diterangkan tentang penetapan tanah Mekah sebagai tanah haram. Bahkan pada hadis yang diriwayatkan al-Bukhari ditegaskan bahwa tanah Mekah telah ditetapkan Allah sebagai tanah haram sejak Allah menciptakan langit dan bumi:

عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ عَامَ الْفَتْحِ فَقَالَ يَااَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ اللهَ حَرَّمَ مَكَّةَ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَاْلأَرْضَ. فَهِيَ حَرَامٌ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ يُعْضَدُ شَجَرُهَا وَلاَ يُنَفَّرُ صَيْدُهَا وَلاَ يَأْخُذُ حَوْطَتَهَا اِلاَّ مُنْشِدٌ. (رواه البخاري)

Dari Shafiyah binti Syaibah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw berkhotbah pada hari penaklukan Mekah, beliau berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menjadikan Mekah sebagai tanah haram pada hari penciptaan langit dan bumi, maka Dia mengharamkannya sampai hari kiamat, tidak boleh dipotong tumbuh-tumbuhannya, tidak boleh diburu binatangnya dan tidak boleh mengambil barang temuannya kecuali orang yang akan mengumumkan.” (Riwayat al-Bukhari).

Nabi Muhammad saw pernah berdoa kepada Allah swt agar Madinah dijadikan juga sebagai tanah haram. Doa itu diucapkan Rasulullah pada waktu kaum Muslimin menghadap beliau pada permulaan musim buah-buahan, untuk menghadiahkan buah-buahan itu kepada beliau. Tatkala beliau memegang buah-buahan yang diberikan itu, beliau berdoa:

اَللّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ عَبْدُكَ وَخَلِيْلُكَ وَنَبِّيُكَ وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِّيُكَ وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوْكَ لِلْمَدِيْنَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ.

Wahai Tuhan, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu, dan nabi-Mu. Demikian pula aku adalah hamba dan nabi-Mu. Sesungguhnya Ibrahim telah berdoa kepada-Mu untuk Mekah, dan sesungguhnya aku berdoa pula untuk Madinah seperti ia mendoakan kepada-Mu untuk Mekah dan semisalnya (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Ibrahim juga berdoa agar ia dan keturunannya dihindarkan Allah swt dari perbuatan menyembah berhala, karena perbuatan itu menyesatkan manusia dari jalan yang benar ke jalan yang salah.


Baca Juga : Kisah Al-Quran: Biografi Nabi Ibrahim dan Perjalanan Dakwahnya


Selanjutnya, Ibrahim menerangkan bahwa siapapun di antara anak cucunya itu yang mengikutinya, yaitu beriman kepada Allah dengan sepenuh hati, memurnikan ketaatan dan ketundukan hanya kepada Allah semata, itulah orang-orang yang mengikuti agamanya.

Sebaliknya siapa pun di antara anak cucunya itu yang tidak mengikuti agamanya, dan tidak mengikuti petunjuk Allah yang telah disampaikannya, maka Allah Maha Pengampun Mahakekal rahmat-Nya, Maha Penerima Tobat dengan menuntun manusia ke jalan yang benar.

Hal ini berarti bahwa siapapun yang mengakui sebagai pengikut Nabi Ibrahim a.s., tentulah ia menganut agama yang berdasarkan tauhid, mengakui bahwa Tuhan itu Esa tidak beranak, tidak dilahirkan atau diciptakan, dan tidak berserikat dengan sesuatupun, sebagaimana pengakuan penganut-penganut agama yang menyatakan bahwa asal agama mereka ialah agama Nabi Ibrahim.

Mustahil jika suatu agama menyatakan sebagai pengikut ajaran Ibrahim padahal mereka mempersekutukan Allah, dan tidak memurnikan ketaatan dan ketundukan kepada Allah semata.

Doa Nabi Ibrahim ini tidak seluruhnya dikabulkan Allah karena banyak pula anak cucunya yang durhaka kepada Allah, di samping banyak pula yang beriman, bahkan ada pula yang diangkat menjadi nabi dan rasul.

Pada ayat yang lalu Allah swt menerangkan bahwa setelah Nabi Ibrahim diangkat menjadi nabi dan rasul, ia pun berdoa pula agar anak cucunya di kemudian hari diangkat pula menjadi nabi dan rasul.

Tetapi Allah swt menjawab bahwa tidak seluruh doa Nabi Ibrahim itu dikabulkan Tuhan, karena orang-orang yang zalim, walaupun anak seorang nabi dan rasul, mustahil diangkat menjadi nabi dan rasul, seperti bapak dan kakeknya.

Allah swt berfirman:

وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, ”Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, ”Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, ”(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (al-Baqarah/2: 124).

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kaum Muslimin dilarang mengangkat orang-orang zalim sebagai pemimpin-pemimpin yang akan mengurus urusan mereka. Yang akan diangkat menjadi pemimpin itu hendaklah orang-orang yang masih berjiwa bersih, suka mengerjakan amal-amal yang saleh, melaksanakan perintah-perintah Allah, dan menghentikan larangan-larangan-Nya.

(Tafsir Kemenag)

Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 37

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 48-54

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 48-54 ini menerangkan bahwa ketika Nabi Muhammad diutus kepada kaum Quraisy mereka justru menantang dan memperlihatkan kesesatan. Dalam Tafsir Surah Al-Qasas ayat 48-54 ini beliau justru meragukan Nabi Muhammad karena tidak seperti Nabi Musa yang dapat menurunkan mukjizat. Selengkapnya Tafsir Surah Al-Qasas ayat 48-54.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 41-47


Ayat 48

Ayat ini menerangkan bahwa ketika Muhammad diutus kepada kaum Quraisy yang belum pernah didatangi oleh seorang rasul yang dibekali kitab suci Al-Qur’an, mereka menyombongkan diri, menentang, dan memperlihatkan kesesatan.

Mereka berkata, “Mengapa ia tidak memiliki mukjizat sebagaimana halnya Nabi Musa yang diberi mukjizat, seperti tongkat menjadi ular, lautan terbelah dengan pukulan tongkatnya, tangannya menjadi putih, dinaungi oleh awan, dan lain-lain. Firman Allah:

فَلَعَلَّكَ تَارِكٌۢ بَعْضَ مَا يُوْحٰىٓ اِلَيْكَ وَضَاۤىِٕقٌۢ بِهٖ صَدْرُكَ اَنْ يَّقُوْلُوْا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْهِ كَنْزٌ اَوْ جَاۤءَ مَعَهٗ مَلَكٌ  ۗاِنَّمَآ اَنْتَ نَذِيْرٌ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ

Maka boleh jadi engkau (Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan dadamu sempit karenanya, karena mereka akan mengatakan, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya harta (kekayaan) atau datang bersamanya malaikat?” Sungguh, engkau hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah pemelihara segala sesuatu. (Hud/11: 12)

Ucapan kaum Quraisy itu dijawab bahwa orang-orang yang durhaka dan sombong pada masa Nabi Musa telah ingkar kepada mukjizat yang diberikan kepada Musa dahulu. Bahkan mereka menuduh Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang saling membantu.

Apakah orang-orang kafir Mekah akan mengikuti apa yang telah diperbuat kaum Nabi Musa? Apakah mereka akan mengingkari apa yang didatangkan Muhammad, dan mengatakan bahwa Musa dan Muhammad adalah ahli sihir? Apakah mereka juga tidak akan mempercayai risalah dan mukjizat keduanya?

Mengenai tuduhan bahwa keduanya adalah ahli sihir pada ayat ini, Said bin Jubair, Mujahid, dan Ibnu Zaid berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “keduanya adalah ahli sihir” ialah Musa dan Harun. Ini adalah ucapan orang-orang Yahudi pada permulaan kerasulan. Sedangkan Ibnu ‘Abbas dan al-Hasan al-Ba¡ri berpendapat bahwa yang dimaksud dengan keduanya adalah ahli sihir yaitu Musa dan Muhammad saw, dan ini adalah ucapan orang-orang musyrikin bangsa Arab.

Ayat 49

Allah menyuruh Muhammad menantang orang-orang kafir Mekah yang mengatakan bahwa Musa dan Muhammad adalah ahli sihir, dan Taurat dan Al-Qur’an adalah sihir belaka, untuk mendatangkan sebuah kitab dari sisi Allah yang lebih memberi petunjuk dan lebih mendatangkan kemaslahatan daripada kedua kitab itu. Nabi menegaskan kepada mereka bahwa dia bersedia meninggalkan Al-Qur’an apabila mereka itu benar dalam pengakuan mereka, dan benar-benar dapat mendatangkan kitab yang dimaksud.

Ayat 50

Ayat ini menerangkan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an secara bertahap, sebagian demi sebagian sesuai dengan kebijaksanaan yang telah digariskan-Nya, agar mudah dibaca, diingat, dipahami, dan bisa memantapkan hati dan menguatkan iman. Ini merupakan jawaban atas permintaan orang-orang kafir yang menghendaki Al-Qur’an itu diturunkan sekaligus. Firman Allah:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا

Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). (al-Furqan/25: 32)

Ayat 52

Ayat ini menerangkan bahwa Ahli Kitab yang percaya kepada Taurat dan Injil, dan bertemu dengan masa kenabian Muhammad saw, juga percaya kepada Al-Qur’an. Mereka menemukan dalam kitab suci mereka berita yang menggembirakan tentang Al-Qur’an dan kecocokan sifat-sifat Al-Qur’an dengan sifat-sifat yang dijelaskan di dalam kitab mereka. Hal ini dijelaskan pula di dalam ayat yang lain:

وَاِنَّ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَمَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِمْ خٰشِعِيْنَ لِلّٰهِ ۙ

Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu, dan yang diturunkan kepada mereka, karena mereka berendah hati kepada Allah. (²li ‘Imran/3: 199)

Dan firman-Nya:

اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ

Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya. (al-Baqarah/2: 121)

Ayat 53

Ayat ini menerangkan bahwa apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka mengakui bahwa Al-Qur’an itu benar-benar dari Allah. Bahkan, mereka telah membenarkannya sebelum diturunkan karena mereka telah menemukan sifat-sifat Muhammad dan sifat-sifat Al-Qur’an dalam kitab suci mereka.

Kepercayaan Ahli Kitab kepada Al-Qur’an sudah sejak dulu karena nenek moyang mereka membaca uraian tentang sifat-sifat Al-Qur’an dalam kitab suci mereka. Kebiasaan ini berlaku turun-temurun sampai ke anak cucunya jauh sebelum Al-Qur’an itu diturunkan.

Ayat 54

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang percaya kepada Al-Qur’an sesudah mereka percaya kepada kitab-kitab suci sebelumnya, akan diberikan pahala dua kali lipat. Pahala atas kepercayaan mereka kepada kitab-kitab suci mereka, dan pahala atas kepercayaan mereka kepada Al-Qur’an.

Diperlukan kesabaran dan ketabahan untuk mempertahankan kepercayaan mereka. Fitnah dan cobaan yang harus dihadapi tentu sangat berat, bahkan mereka mendapat perlakuan yang tidak wajar karena mereka mengikuti Muhammad dan menganut agamanya.

Ada tiga macam orang yang mendapat pahala dua kali lipat sebagaimana dijelaskan di dalam sabda Nabi Muhammad:

ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ أَمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم فَاَمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ اَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَّاهَا فَأَحْسَنَ غَذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا ثُمَّ اعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ اَجْرَانِ.

(رواه البخاري عن ابى موسى الأشعري)

Tiga golongan orang yang diberi pahala, masing-masing dua kali lipat. Seorang Ahli Kitab yang percaya kepada nabinya, kemudian ia mendapati masa (Muhammad saw) maka ia beriman pula kepadanya dan mengikutinya serta membenarkannya maka baginya dua pahala. Hamba sahaya yang menunaikan hak Allah ‘Azza wa Jalla dan hak tuannya, maka baginya dua pahala. Dan seorang yang mempunyai hamba sahaya perempuan lalu ia memberi makan, dan memberinya pendidikan yang baik, kemudian ia memerdekakannya lalu menikahinya, maka baginya dua pahala.” (Riwayat al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy’ari).

Selain kesabaran dan ketabahan, mereka juga mempunyai beberapa sifat yang menjadikan mereka dekat kepada Allah, antara lain:

  1. Mereka menolak kejahatan dengan kebaikan. Apa yang mereka dengar yang menyakitkan hati, berupa cacian dan sebagainya, tidak dibalas tetapi disambut dengan tenang bahkan dimaafkan.
  2. Mereka menginfakkan rezeki yang diberikan Allah ke jalan yang benar. Mereka memperoleh rezeki juga dengan halal dan baik. Mereka mengeluarkan zakat, belanja rumah tangga, bederma untuk pembangunan masjid, madrasah, pengajian, pembinaan dan pemeliharaan anak yatim, dan lain sebagainya. Dalam firman-Nya:

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰه

Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah. (al-Baqarah/2: 195)

Dan firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik. (al-Baqarah/2: 267)

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 55-58


 

Pesan Gus Ghofur Maimoen (3); Yang Lebih Penting dari Moderat adalah Tawazun (Keberimbangan)

0
Gus Ghofur (Tawazun)
KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen atau akrab dikenal Gus Ghofur

Pesan ketiga yang dilayangkan Gus Ghofur Maimoen adalah yang lebih penting dari moderat adalah keberimbangan (tawazun). Dalam penuturannya, “ada sisi lain dari mafhumul wasatiyyah yaitu al-tawazun (keberimbangan atau balancing)”. Sebab kata beliau, “jika kita harus saklek (harus benar-benar) berpikir wasatiyah (moderat) itu tidak mungkin, mustahil, padahal hidup itu tidak bisa tengah-tengah”. Tegas doktor lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Lalu beliau mencontohkan misalnya antara kepentingan dunia dan akhirat, apakah harus sama persis 50 persen-50 persen. Ataukah mendahulukan kepentingan akhiratnya ketimbang dunianya, ataukah sebaliknya. Jadi menurut beliau, keberimbangan itu menjadi kata kunci (key word) dalam wasatiyah.

Dari sini, penulis menyitir Q.S. al-Isra [17]: 35 sebagai dasar sikap tawazun,

وَاَوْفُوا الْكَيْلَ اِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوْا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيْمِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. al-Isra’ [17]: 35)

Baca Juga: Pesan Gus Ghofur Maimoen: Bersikap Moderat itu Tidak Mempersulit Diri Sendiri

Penafsiran ini penulis fokuskan pada redaksi wazinu bil qistasil mustaqim. Mengutip Syekh Muhammad Ali al-Shabuni dalam Shafwah al-Tafasir, beliau menafsirinya dengan

أي زنوا بالميزان العدل السوي بلا احتيال ولا خديعة

“Timbanglah suatu hal dengan timbangan yang adil, bukan dengan penipuan dan kemunafikan”.

Hampir senada dengan al-Shabuni, al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menuturkan demikian,

وقَضَى أو زنوا أيضاً إذا وزنتـم لهم بـالـميزان الـمستقـيـم، وهو العدل الذي لا اعوجاج فـيه، ولا دَغَل، ولا خديعة

“Jika engkau menimbang, hendaklah menimbang dengan timbangan yang lurus, yaitu adil, tidak terkandung unsur penipuan, tipu daya muslihat, dan kemunafikan”.

Tidak jauh berbeda, penafsiran lain juga disampaikan al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib bahwa untuk dapat menimbang dengan takaran pas diperlukan sikap istiqamah dan i’tidal. Keduanya ini tidak dapat dipisahkan.

Tawazun menjadi Kata Kunci

Kembali ke Gus Ghofur, “yang namanya adil dan moderat itu tidak harus sama persis, yang terpenting adalah balancing atau tawazun (keberimbangan). Agama kita mengajarkan untuk berpikir seimbang, meski dalam tataran aplikasi para umat Islam tidak 100 persen.” Ujar Ketua STAI Al-Anwar, Rembang.

Lebih jauh, beliau menuturkan, “tidak ada satu orang pun, kelompok pun yang mungkin bisa menafsirkan Al-Quran 100 persen berada di tengah (moderat). Misalnya saja kegiatan tahlilan, antara kepentingan mayyit dengan kepentingan ahli waris itu bobotnya lebih mengarah kepada si mayyit atau yang ditinggalkan (ahli waris). Sebab ada yang tahlilan itu karena harus menjamu yang diundang sehingga membutuhkan biaya, maka hutang sana-sini. Itu sebenarnya Nahdlatul Ulama sudah berada di tengah atau di pinggir”.

Tentu, penulis melihat ini bukanlah suatu sindiran, namun sebagai renungan dan mengingat orientasi daripada kegiatan keagaman itu sendiri, tahlilan misalnya. Kembali beliau mencontohkan tentang Nahdlatul Ulama, misalnya apakah pendidikan di NU sudah berpikir tentang akhirat atau duniawi. Begitu pula ormas keagamaan lain, apakah juga sama. Begitupun kelompok pembela wanita (feminis), pembela HAM, dan semacamnya apakah juga sudah memosisikan berada di tengah?”. Sambung Pengasuh PP. Al-Anwar 3, Sarang Rembang.

Beliau kembali melampirkan beberapa contoh, seperti orang yang selalu mengritik Ikhwanul Muslimin (IM), dan organisasi sejenisnya, apakah sudah bersikap moderat dalam mengritik dan objektif. Termasuk juga persoalan pilkada, pilpres lima tahunan apakah sudah bersikap moderat dalam persoalan dukung-mendukung, tanpa tendensi apapun. “Tentu ini hal yang sulit, karena kita dipengaruhi banyak hal”. Ucap Gus Ghofur.

Beliau juga menambahkan, ketika kita berhubungan sosial dengan orang-orang Arab, apakah sudah benar-benar mencintainya secara moderat atau justru berlebih-lebihan?. Termasuk salah satu ciri orang moderat misalnya, kata beliau, “kalau berfatwa kepada orang lain itu gampang, sedangkan untuk dirinya berat gak apa-apa lah. Tapi juga ada orang yang berfatwa itu sulitnya minta ampun, sementara terhadap dirinya memudahkan. Misalnya persoalan vaksin haram, padahal ia tidak tau betapa sulitnya menjalahi hidup di tengah pandemi”.

Baca Juga: Pesan Gus Ghofur Maimoen (2): Bersikap Moderat itu Memerlukan Introspeksi Diri

Gus Ghofur juga mengontekstualisasikan beberapa persoalan, misalnya ciri orang moderat adalah ia tahu mana batasan agama yang boleh berubah (furu’) dan yang tidak (ushul). Contohnya, “status orang non muslim di negara muslim itu kan dicap ahl dzimmah, ahlul harbi, dan sejenisnya apakah yang seperti ini tidak boleh berubah. Termasuk juga, apakah perempuan harus selalu dikekang di rumah dan tidak boleh keluar, apakah yang seperti ini juga tidak boleh dirubah?”.

Maka, kata Gus Ghofur, aspek moderatisme dan tawazun dalam memahami Al-Quran menjadi ciri besar sehingga kehadiran Al-Quran benar-benar rahmatan lil ‘alamin. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 41-47

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 41-47 disebutkan bahwa Fir’aun dan kaumnya yang durhaka adalah pemimpin  yang akan membawa manusia ke neraka. Pada ayat 43 Tafsir Surah Al-Qasas ayat 41-47 ini dijelaskan pula bahwa kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa.

Selengkapnya Tafsir Surah Al-Qasas ayat 41-47….


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 35-40


Ayat 41-42

Ayat ini memberi julukan kepada Fir’aun dan kaumnya yang durhaka bahwa mereka adalah pemimpin-pemimpin yang membawa manusia ke neraka karena mereka telah menyesatkan manusia dan memaksa setiap orang untuk kafir terhadap Tuhannya. Mereka merasa bebas melakukan kezaliman sekehendak hatinya, tanpa ada rasa keadilan dan rasa kasih sayang.

Sebenarnya mereka ini telah melakukan dua kesalahan, kesalahan bagi diri mereka sendiri dan kesalahan menyesatkan orang lain. Maka pantaslah bila mereka menerima siksaan yang berlipat ganda, siksaan terhadap kesesatan sendiri dan siksaan karena menyesatkan orang lain. Oleh karena itu, tidak akan ada penolong bagi mereka di akhirat nanti dan tidak ada yang akan membebaskan dari siksa Allah.

Ayat 43

Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menurunkan kepada Musa kitab Taurat sebagai rahmat baginya dan bagi kaumnya, yang telah lama tertindas dan teraniaya di bawah kekuasaan Fir’aun. Di dalamnya terdapat hikmah dan hukum yang membimbing manusia menuju ke-bahagiaan dunia dan akhirat. Di sini tampak perbedaan yang besar dan nyata dalam perlakuan Allah terhadap pemimpin-pemimpin dan kaum yang durhaka, sombong dan takabur dengan perlakuannya terhadap pemimpin yang saleh dan ikhlas serta taat kepada-Nya.

Kepada golongan pertama, seperti Fir’aun dan kaumnya, diturunkan malapetaka dan siksaan sehingga dia ditenggelamkan bersama tentaranya ke dalam laut. Kepada golongan kedua, seperti Musa, Harun, dan kaumnya, diturunkan Kitab yang akan menjadi petunjuk bagi mereka dalam menempuh kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.

Demikianlah sunatullah yang berlaku semenjak dahulu kala. Berapa banyaknya umat-umat yang terdahulu yang telah dibinasakan-Nya dengan berbagai macam cara seperti yang terjadi pada kaum Nabi Nuh, Nabi Saleh, Nabi Hud, dan lain-lain.

عَنِ أَبِى سَعِيْدٍ الخُدْرِي َمْرفُوْعًا اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ: مَا اََهْلَكَ اللهُ قَوْمًا بِعَذَابٍ ِمنَ السّمَاءِ وَلاَ مِنَ اْلارْضِ بَعْدَ مَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَةُ عَلَى َوجْهِ الاَْرْضِ غَيْرَ أَهْلِ الْقَرْيَةِ الَّذِيْنَ مُسِخُوْا قِرَدَةً بَعْدَ مُوْسَى، ثُمَّ قَرَأَ: ((وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا َاهْلَكنَا الْقُرُوْنَ اْلاُوْلَى بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ)). (رواه الحاكم)

Dari Abu Sa’id al-Khudri bersumber dari Nabi saw, beliau bersabda, “Setelah diturunkannya kitab Taurat di atas bumi Allah tidak lagi membinasakan suatu kaum dengan azab dari langit atau bumi kecuali penduduk negeri yang diubah menjadi kera, mereka adalah orang Bani Israil sepeninggal Nabi Musa, lalu Nabi saw membaca ayat ini (al-Qa¡a¡/28: 43). (Riwayat al-Hakim)

Ayat 44

Ayat ini menerangkan bahwa Muhammad saw tidak pernah berada di sisi sebelah barat Lembah Suci Thuwa, tempat Allah mewahyukan lembaran-lembaran Taurat kepada Musa. Ketika itu, Allah membebankan urusan-urusan kenabian kepadanya. Karena tidak termasuk salah seorang dari rombongan 70 orang yang telah terpilih untuk mendengarkan secara terperinci hal-hal yang diwahyukan Allah kepada Musa, maka Muhammad saw tidak mungkin menerangkan semua itu, kecuali dengan jalan wahyu dari Allah.

Muhammad saw dapat menyampaikan hal-hal gaib yang telah lama terjadi serta tidak disaksikan dan dilihatnya sama sekali, padahal ia adalah seorang ‘ummi tidak dapat membaca dan menulis, berada di tengah-tengah kaum yang ‘ummi  pula, dan tidak mengetahui sedikit pun tentang hal-hal tersebut. Hal itu merupakan bukti nyata bahwa Muhammad benar-benar nabi dan rasul Allah. Semua itu disampaikan dan dikisahkannya melalui perantaraan wahyu dari Allah. Firman Allah:

وَقَالُوْا لَوْلَا يَأْتِيْنَا بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖۗ اَوَلَمْ تَأْتِهِمْ بَيِّنَةُ مَا فِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰى

Dan mereka berkata, “Mengapa dia tidak membawa tanda (bukti) kepada kami dari Tuhannya?” Bukankah telah datang kepada mereka bukti (yang nyata) sebagaimana yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu? (Thaha/20: 133)

Ayat 45

Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menciptakan generasi demi generasi sejak Nabi Musa sampai kepada Nabi Muhammad dalam waktu yang panjang dan merupakan masa kekosongan, sehingga pengetahuan mereka berkurang, akhlak mereka menurun dan telah menjurus kepada kehancuran dan dekadensi moral. Pada waktu itu terasa benar perlunya diutus seorang rasul untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang benar.

Maka diutuslah Nabi Muhammad saw dan dia diberitahu oleh Allah keadaan dan ihwal nabi-nabi terdahulu, begitu juga keadaan dan hal ikhwal Nabi Musa. Allah juga menerangkan pada ayat ini bahwa Muhammad tidak tinggal bersama-sama penduduk Madyan untuk menanyakan dan mempelajari kisah Nabi Musa dari orang-orang yang menyaksikan kisah itu sendiri. Semua itu diketahui oleh Nabi Muhammad dengan perantaraan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Ayat 46

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad tidak berada di dekat Gunung Tur pada waktu Allah menyeru Nabi Musa dan ketika terjadi munajat antara keduanya. Peristiwa itu diketahui oleh Muhammad dengan perantaraan kitab suci Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya sebagai rahmat Allah yang di dalamnya dibentangkan kisah tersebut.

Juga terdapat hal-hal yang mendatangkan maslahat dan kebahagiaan bagi mereka di dunia dan di akhirat, agar Muhammad memberi peringatan kepada kaum Quraisy yang belum pernah memperoleh peringatan sebelumnya. Selain ayat ini sebagai dalil yang jelas atas kerasulan Muhammad saw, juga sebagai dalil atas kemukjizatan Al-Qur’an, karena ia menceritakan peristiwa yang telah terjadi beratus-ratus tahun. Padahal Rasulullah tidak menyaksikan peristiwa tersebut apalagi hadir di tengah-tengah mereka.

Ayat 47

Ayat ini menerangkan bahwa salah satu hikmah pengutusan Muhammad kepada mereka adalah untuk menolak alasan-alasan mereka, ketika kelak mendapat azab yang pedih atas kekafiran mereka terhadap Allah dan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Seandainya Muhammad belum diutus sedangkan azab menimpa mereka, tentu mereka akan mengemukakan alasan dan hujah.

Mereka akan berkata, “Wahai Tuhan kami! Kenapa tidak diutus seorang rasul kepada kami sebelum kemurkaan-Mu menimpa kami, dan azab-Mu diturunkan kepada kami, agar kami dapat mengikuti petunjuk-petunjuk-Mu, mengamalkan ayat-ayat yang ada di dalam kitab-Mu yang diturunkan kepada rasul itu, sehingga kami percaya atas ketuhanan-Mu dan membenarkan rasul yang Engkau utus itu?”

 Oleh sebab itu, jauh sebelum mereka dimurkai dan diazab oleh Allah, Muhammad telah diutus kepada mereka untuk memberi peringatan dan ancaman dengan kemurkaan dan azab yang akan ditimpakan kalau mereka tetap dalam agama nenek moyang mereka, menyembah berhala, mempersekutukan Allah. Dengan demikian, tidak ada jalan bagi mereka untuk mengemukakan alasan-alasan dan hujah. Itulah sunatullah yang berlaku pada tiap-tiap umat. Hal ini ditegaskan dalam ayat lain dalam Al-Qur’an seperti firman Allah:

رُسُلًا مُّبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعْدَ الرُّسُلِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا

Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (an-Nisa’/4: 165)

Dan firman-Nya:

مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al-Isra’/17: 15)

Salah satu hikmat pengutusan para rasul adalah untuk membendung dan menolak alasan yang akan dikemukakan mereka. Hikmah diturunkannya kitab suci Al-Qur’an juga untuk menolak alasan mereka yang akan mengatakan bahwa mereka tidak beriman karena kitab samawi hanya diturunkan kepada dua golongan saja yaitu Yahudi dan Nasrani, sebagaimana firman Allah swt:

اَنْ تَقُوْلُوْٓا اِنَّمَآ اُنْزِلَ الْكِتٰبُ عَلٰى طَاۤىِٕفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَاۖ وَاِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغٰفِلِيْنَۙ

(Kami turunkan Al-Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan, “Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami (Yahudi dan Nasrani) dan sungguh, kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” (al-An’am/6: 156)

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 41-47


 

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 33-34

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Jika sebelumnya telah dibahas tentang perintah Allah, yakni; sholat dan infaq sebagai bentuk kehambaan dan syukur atas nikmat-nikmat-Nya. Maka Tafsir Surah Ibrahim Ayat 33-34 mengulas sebagian dari tanda nikmat Allah, yakni matahari dan bulan yang terus berputar pada porosnya, serta memberikan manfaat bagi manusia; adalah siang untuk beraktivitas, malam untuk beristirahat. Begitu banyak nikmat-nikmat Allah yang tentunya tidak akan bisa dihitung oleh siapapun.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 32


Ayat 33

Demikian pula sebagai nikmat Allah swt kepada manusia ialah Dia telah menaklukkan bagi manusia matahari dan bulan, yaitu menjadikan matahari dan bulan terus menerus berjalan mengelilingi garis edarnya, yang menimbulkan terang dan gelap yang berfaedah bagi hidup dan kehidupan makhluk.

Dengan tetapnya matahari dan bulan, demikian juga planet-planet yang lain, berjalan mengelilingi garis edarnya, akan terhindarlah terjadinya benturan yang dahsyat antara planet-planet yang ada di cakrawala, sebagaimana firman Allah:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ   ٣٩  لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ  ٤٠

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yasin/36: 39-40).

Keberadaan garis edar yang terus menerus dilalui oleh setiap planet, telah memberi jalan kepada manusia sampai ke bulan, memberi kemungkinan yang besar bagi manusia untuk berusaha mencapai planet-planet yang lain.

Dengan perantara garis edar itu pula, manusia dapat menempatkan satelit-satelit yang dapat digunakan untuk kepentingan umat manusia, seperti untuk mengetahui keadaan cuaca, untuk memperlancar hubungan telekomunikasi dan sebagainya, sehingga hubungan antar negara yang semula dirasakan jauh, maka sekarang dirasakan bertambah dekat.

Allah swt menundukkan pula bagi manusia siang dan malam. Siang dapat digunakan manusia sebagai tempat berusaha, beramal, dan bermasyarakat. Sedangkan malam dapat dijadikan sebagai waktu untuk beristirahat dari kelelahan setelah berusaha di siang hari. Allah berfirman:

وَمِنْ رَّحْمَتِهٖ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوْا فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (al-Qashash/28: 73).

Dalam ayat ini pula Allah menggunakan kata sakhkhara (menunduk-kan), yang mengisyaratkan kita untuk menggunakan akal dalam memanfaat-kan baik matahari, bulan, maupun fenomena malam maupun siang.

Dengan demikian sakhkhara ini mengandung perintah untuk mengembangkan teknologi, kalender berbasis matahari (solar calendar) atau bulan (lunar calendar), dan energi matahari (solar energy).

Juga mengandung perintah untuk menggunakan baik matahari atau bulan untuk keperluan navigasi dalam pelayaran maupun penerbangan, dan sebagainya. Begitu juga meng-gunakan malam dan siang untuk mengetahui atau mengukur biological clock kita. Demikian penjelasan dari sudut  pandang saintis.


Baca Juga : Menelisik Makna Sifat Shamadiyah dan Wahidiyah Allah SWT dalam Surat al-Ikhlas Ayat 1-4


Ayat 34

Sebagai nikmat Allah juga ialah Dia telah menyediakan bagi manusia segala yang diperlukannya, baik diminta atau tidak, karena Allah telah menciptakan langit dan bumi ini untuk manusia.

Dia menyediakan bagi manusia segala sesuatu yang ada, sehingga dapat digunakan dan dimanfaatkan kapan dikehendaki. Kadang-kadang manusia sendiri tidak mengetahui apa yang menjadi keperluan pokoknya, dimana tanpa keperluan itu, ia tidak akan hidup atau dapat mencapai cita-citanya.

Keperluan seperti itu tetap dianugerahkan Allah kepadanya sekalipun tanpa diminta. Ada pula bentuk keperluan manusia yang lain yang tidak mungkin didapat kecuali dengan berusaha dan berdoa, karena itu diperlukan usaha manusia untuk memperolehnya.

 Sangat banyak nikmat Allah swt yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia, sehingga jika ada yang ingin menghitungnya tentu tidak akan sanggup. Oleh karena itu, hendaknya setiap manusia mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah swt dengan jalan menaati segala perintah-Nya dan tidak melakukan hal-hal yang menjadi larangan-Nya.

Mensyukuri nikmat Allah yang wajib dilakukan oleh manusia itu bukanlah sesuatu yang diperlukan oleh Allah swt.

Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatupun dari manusia, tetapi kebanyakan manusia sangat zalim dan mengingkari nikmat yang telah diberikan kepadanya.

(Tafsir Kemenag)

Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 35-36

Al-Wujuh dan Al-Nazhair Kata Shalat pada Alquran

0
Al-Wujuh dan al-Nazhair Kata Shalat
Al-Wujuh dan al-Nazhair Kata Shalat

Al-Wujuh dan al-Nazhair merupakan bagian dari ulumul Qur’an yang berfungsi menjelaskan sebagian lafaz yang telah disebutkan dalam al-Quran, pada suatu tempat dengan makna yang berbeda ketika lafaz itu di sebutkan pada tempat lain. Misalnya, dalam al-qur’an, tidak kurang dari 60 kali kata ‘shalat’ dengan berbagai derivasinya disebutkan. Namun jika diteliti satu per satu, ternyata belum tentu semuanya merujuk pada makna yang sama. Sebagian di antaranya memang bermakna shalat seperti yang kita kenal, akan tetapi lafadz sholat memiliki makna yang beragam.

Nah, pembahasan tentang ini kemudian dituliskan oleh para ulama menjadi sebuah cabang ilmu dalam rumpun ilmu-ilmu al-quran dengan istilah al-wujuh wa al-nazhair.

Baca juga: Perintah Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka

Definisi al-Wujuh dan al-Nazhair

Al-Zarkasyi dalam al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an (1/102) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-wujuh secara istilah adalah,

فالوجوه اللفظ المشترك الذي يستعمل في عدة معان

Maka al-wujuh adalah lafazh musytarak yang digunakan untuk banyak makna”. Atau mudahnya, satu kata yang bisa memiliki beberapa makna. Jadi al-wujuh adalah satu kata yang bisa memiliki makna berbeda pada ayat dan konteks yang berbeda.

Sedangkan al-Nazhair adalah sebaliknya, al-Zarkasyi dalam kitab yang sama menyebutkan,

والنظائر كلألفظ المتواطئة

Adapun al-nazhair adalah seperti lafaz-lafaz yang saling serupa”. Dalam bahasa lain, al-nazhair adalah satu makna dalam Alquran yang disebutkan dengan berbagai lafaz. Diantara contohnya adalah shalat yang dalam Alquran selain diungkapkan dengan lafaz shalat itu sendiri, juga diungkapkan dengan lafaz lain seperti qiyam, dzikr, ruku’, sujud dan lain-lain.

Baca juga: Mengenal Kitab Tafsir Indonesia yang Lahir dari Ruang Akademik

Urgensi Ilmu al-Wujuh wa al-Nazhair

Para Ulama sejak zaman dahulu telah memberikan perhatian lebih terhadap ilmu ini, sebutlah diantaranya Muqatil ibn Sulaiman, kemudian diikuti dengan Ibn al-Jauzi, al-Damaghani, dan Abu al-Hasan ibn Faris. Memperlajari ilmu ini memiliki beberapa urgensi diantaranya,

1). Ilmu ini merupakan salah satu perangkat untuk mentadabburi Alquran dan memahaminya dengan pemahaman yang benar.

2). Menjelaskan mana makna yang tepat pada lafaz-lafaz yang memiliki keragaman makna sesuai dengan konteks ayat.

3). Mengungkapkan salah satu sisi kemukjizatan Alquran, dimana satu kata bisa memiliki hingga 20 makna bahkan lebih.

4). Disatu sisi merupakan salah satu bentuk tafsir maudhu’i, yang kalau merujuk pada teori Mushtafa Muslim dalam Mabahits fi al-Tafsir al-Maudhu’i termasuk kedalam tematik term/kosakata Alquran (al-mushthalah al-Qur’aniy).

Contoh al-Nazhair dalam kata shalat 

Adapun contoh untuk al-nazhair diantaranya adalah kata shalat yang terkadang diungkapkan dengan kosakata lain selain shalat itu sendiri, yaitu.

  1. Zikr

Kata pertama yang terkadang dipakai untuk menunjukkan makna shalat adalah al-dzikr. Dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 239 berbentuk fi’il amr, Allah berfirman,

…فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“…Kemudian apabila kalian telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kalian apa yang tidak kalian ketahui

  1. Qiyam

Kemudian yang kedua adalah al-Qiyam. Juga muncul dalam bentuk fi’il amr dalam Qs. Al-Muzzammil [73]: 2 dimana Allah berfirman,

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا

bangunlah (shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)

  1. Ruku’

Yang ketiga adalah ruku’. Ini terdapat dalam firman Allah Qs. Al-Baqarah [2]: 43,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku

Yakni shalatlah bersama orang-orang yang shalat, ayat ini berisi anjuran untuk menunaikan shalat secara berjama’ah.

  1. al-Qur’an

Yang keempat kata al-Qur’an juga bisa merujuk kepada makna shalat. Ini terdapat pada firman Allah Qs. Al-Isra [17]: 78,

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan

Menurut Ibn Katsir dalam tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (5/102), kata qur’an al-fajr disana berarti shalat al-fajr, yakni shalat subuh. Atau oleh sebaian ulama yang lain dipahami sebagai shalat sunnah fajar.

Baca juga: Prinsip Dasar Penyusunan Tafsir Ilmi

Itulah definisi dan urgensi dari al-wujuh wa al-nazhair, salah satu cabang ilmu dari rumpun ulumul Qur’an, serta pengaplikasian pada kata shalat dalam ayat al-Quran.