Beranda blog Halaman 343

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 45-48

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Adapun Tafsir Surah Ibrahim Ayat 45-48 adalah penjelasan kepada orang-orang beriman bahwa kaum yang zalim pernah mendengar kisah kaum yang serupa dengan mereka seperti ‘Ad dan Tsamud, yang telah jelas azab untuk kaum tersebut, akan tetapi mereka tidak mengambil pelajaran darinya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 43-44


Dijelasan pula dalam Tafsir Surah Ibrahim Ayat 45-48 bahwa Allah sekali-kali tidaklah ingkar dengan janji yang telah ia sampaikan, dan akan memberikan porsi yang adil untuk menghakimi setiap perbuatan yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.

Ayat 45

Ayat ini mengingatkan Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman bahwa orang-orang yang zalim tersebut pernah tinggal di negeri orang-orang yang pernah menganiaya diri mereka sendiri dan berbuat kebinasaan di muka bumi, seperti yang pernah dilakukan kaum ‘Ad dan Tsamud.

Telah jelas azab yang ditimpakan Allah kepada mereka dan bekas-bekasnya terdapat di negeri-negeri itu berdasarkan kisah yang tersebut dalam Al-Qur’an.

Demikian pula Allah swt telah memberikan perumpamaan-perumpamaan bagi kaum Muslimin tentang akibat yang akan dialami oleh orang-orang yang zalim itu di dunia dan di akhirat kelak.

Seandainya kaum Muslimin melakukan tindakan dan perbuatan seperti yang telah dilakukan orang-orang yang zalim itu, pasti mereka akan ditimpa azab pula, seperti azab yang telah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim dahulu. Karena itu, hendaknya kaum Muslimin mengambil pelajaran dari kisah-kisah dan peristiwa orang-orang dahulu itu.

Ayat 46

Allah swt menerangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang kafir Mekah telah membuat rencana jahat untuk mematahkan perjuangan kaum Muslimin. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa setiap rencana jahat mereka pasti diketahui Allah, tidak ada yang tersembunyi bagi Allah sedikit pun.

Allah menggagalkan setiap usaha mereka, sehingga cita-cita dan tujuan mereka itu tidak akan tercapai. Sebenarnya usaha mereka itu sangat besar, sehingga jika rencana itu digunakan untuk menghancur-leburkan gunung yang sangat kokoh pun akan terlaksana.

Tetapi segala rencana mereka betapapun besarnya tidak akan dapat mengalahkan mukjizat Allah, tidak dapat menghapuskan ayat-ayat-Nya, dan tidak mampu menghambat perkembangan agama Islam di muka bumi.

Ayat ini mengisyaratkan kemenangan kaum Muslimin dan kehancuran orang-orang musyrik Mekah dalam waktu yang dekat. Ayat ini berlaku juga bagi kaum Muslimin pada masa kini, asal saja mereka meningkatkan daya dan usaha mereka, selalu sabar dan tabah menghadapi berbagai penderitaan dan cobaan yang ditimpakan oleh rencana jahat orang-orang kafir.


Baca Juga : Tafsir Surat Al-Fath Ayat 1-3: Kunci Kemenangan Ada pada Perdamaian


Ayat 47

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt tidak akan memungkiri janji-Nya, betapapun besarnya rencana jahat orang-orang kafir itu, janganlah dikira bahwa Allah akan menyalahi janji yang telah dibuat-Nya dengan para rasul.

Janji itu ialah: Allah pasti menolong rasul-rasul-Nya dan orang-orang yang beriman besertanya, sehingga mereka memperoleh kemenangan. Demikian pula Allah tidak akan menyalahi janji-Nya untuk mengazab orang kafir di akhirat nanti, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya yang terdahulu:

اِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيْهِ الْاَبْصَارُۙ

Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (Ibrahim/14: 42).

Pada akhir ayat ini, Allah swt menegaskan bahwa Dia Mahaperkasa dan Mahakeras siksa-Nya. Tidak seorangpun yang sanggup menghindarkan diri dari tuntutan-Nya. Dia pasti membalas dan menyiksa orang-orang yang menghalang-halangi rasul-rasul-Nya.

Ayat 48

Ayat ini menerangkan bahwa waktu pembalasan dan pelaksanaan siksa itu ialah pada hari yang bumi ditukar dengan bumi lain, pada saat Allah menghancurkan langit dan segala yang ada di dalamnya dan menukarnya dengan langit yang lain.

Pada waktu itu bumi, bulan, dan segala bintang akan berbenturan, sehingga pecah hancur seperti debu dan beterbangan seperti awan, kemudian terjadilah bumi dan langit yang lain.

Berkata Ibnu ‘Abbas, “Bumi yang lain itu tidak lain adalah bumi yang telah berubah sifatnya dari bumi yang sekarang ini, seperti telah berpindah gunungnya, dan tidak mengalir airnya, dan mati lautnya, tidak berombak dan tidak pula tenang.”

Dari ayat dan riwayat Ibnu ‘Abbas di atas dapat dipahami bahwa nanti pada hari kiamat seluruh semesta ini akan hancur lebur.

Masing-masing berbenturan dengan yang lain, sehingga pecah bertaburan dan beterbangan di angkasa beberapa waktu lamanya, kemudian membentuk seperti bentuk bumi dan langit, tetapi ia bukan bumi dan langit yang sekarang ini.

Keadaan manusia pada saat itu dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam hadis ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هٰذِهِ الْأٰيَةِ. قَالَتْ، قُلْتُ أَيْنَ النَّاسُ يَوْمَئِذٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: عَلَى الصِّراَطِ (رواه مسلم)

Dari ‘Aisyah ia berkata, “Saya adalah manusia yang pertama kali menanyakan hal ini kepada Rasulullah saw tentang ayat ini.” ‘Aisyah berkata, “Saya menanyakan, “Dimana manusia ketika itu ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Di atas shirath (jalan lurus).” (Riwayat Muslim)

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 49-52


 

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 43-44

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 43-44 menggambarkan secara gamlang kondisi orang-orang zalim kelak dihadapan Allah swt. Diceritakan bahwa kondisi mereka kalang kabut pada hari kebangkitan, mereka bergegas memenuhi panggilan Allah dengan perasaan yang gelisah.

Dikisahkan pula dalam Tafsir Surah Ibrahim Ayat 43-44 bahwa ketika kondisi mereka yang sulit itu, mereka dihadapkan pada Allah Tuhan semesta Alam, ketika hendak menerima azab sebagai balasan atas amal mereka, mereka pun berkilah kepada Allah agar dapat diberi kesempatan beramal baik lagi dan mereka berjanji untuk beriman dan tidak berlaku zalim.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 40-42


Namun, jawaban Allah dalam Tafsir Surah Ibrahim Ayat 43-44 sangat jelas dan memupus harapan mereka, bahwa tidak ada kesempatan lagi untuk mereka. Bukankah selagi di dunia peringatan itu sudah disampaikan oleh para Rasul, namun karena hati mereka yang kaku bagaikan batu, mereka selalu mengingkari peringatan-peringatan itu.

Ayat 43

Pada ayat ini, Allah swt menerangkan keadaan orang-orang yang zalim selama hidup di dunia, yaitu keadaan mereka dibangkitkan dari kubur, kemudian menuju Padang Mahsyar, mereka datang bergegas memenuhi panggilan penyeru yang menyeru mereka dengan penuh kehinaan.

Keadaan mereka seperti orang yang akan menjalani hukuman gantung. Mereka berjalan menuju ke depan dengan tidak berpaling ke kanan dan ke kiri, pelupuk mata mereka tidak bergerak dan mata mereka tidak berkedip sedikit pun.

Hati mereka waktu itu dalam keadaan kosong dan hampa, tidak memikirkan sesuatupun kecuali rasa takut menghadapi azab mengerikan yang segera akan menimpa mereka.

Pada ayat lain, Allah swt melukiskan keadaan orang-orang kafir yang dibangkitkan dari kubur, yaitu:

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ ۘ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ اِلٰى شَيْءٍ نُّكُرٍۙ    ٦  خُشَّعًا اَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ كَاَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنْتَشِرٌۙ    ٧  مُّهْطِعِيْنَ اِلَى الدَّاعِۗ يَقُوْلُ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا يَوْمٌ عَسِرٌ   ٨

Maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka pada hari (ketika) penyeru (malaikat) mengajak (mereka) kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan), pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan, dengan patuh mereka segera datang kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, ”Ini adalah hari yang sulit.” (al-Qamar/54: 6-8)

Dan firman Allah swt:

يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ  ٤٣  خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ  ۗذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ   ٤٤

(Yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), pandangan mereka tertunduk ke bawah diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka. (al-Ma’arij/70: 43-44).

Ayat 44

Pada ayat ini, Allah swt memerintahkan agar memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan orang-orang musyrik Mekah, yaitu tentang keluhan dan rintihan yang keluar dari mulut mereka ketika azab menimpa mereka di akhirat nanti sambil memohon, “Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kesempatan yang lain lagi, walaupun beberapa saat saja untuk menaati seruan-Mu dan mengikuti ajaran rasul-Mu dengan mengembalikan kami ke dunia.

Jika kesempatan itu benar-benar diberikan kepada kami pasti kami akan mengikuti perintah-Mu dan menghentikan larangan-Mu, kami benar-benar akan memurnikan ketaatan kepada-Mu saja, kami tidak akan menyekutukan-Mu lagi wahai Tuhan kami.”

Permohonan mereka dijawab Allah swt dengan firman-Nya:

وَاَقْسَمُوْا بِاللّٰهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْۙ  لَا يَبْعَثُ اللّٰهُ مَنْ يَّمُوْتُۗ بَلٰى وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh, ”Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.” Tidak demikian (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (an-Nahl/16: 38)

 Menurut riwayat al-Baihaqi dari Muhammad bin Ka’ab Al-Qurasyi, ia berkata, “Penghuni neraka berdoa kepada Allah lima kali. Empat kali dijawab Allah sedang doa yang kelima dijawab Allah dengan perintah agar mereka tidak berkata lagi dan agar tetap mendekam di dalam neraka.”

 Doa-doa itu tersebut dalam firman Allah sebagai berikut :

قَالُوْا رَبَّنَآ اَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَاَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ اِلٰى خُرُوْجٍ مِّنْ سَبِيْلٍ

Mereka menjawab, ”Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” (Gāfir/40: 11).

Permintaan ini dijawab Allah swt dengan firman-Nya:

ذٰلِكُمْ بِاَنَّهٗٓ اِذَا دُعِيَ اللّٰهُ وَحْدَهٗ كَفَرْتُمْۚ وَاِنْ يُّشْرَكْ بِهٖ تُؤْمِنُوْا ۗفَالْحُكْمُ لِلّٰهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيْرِ

Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu mengingkari apabila diseru untuk menyembah Allah saja. Dan jika Allah dipersekutukan, kamu percaya. Maka keputusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Mahatinggi, Mahabesar. (Gāfir/40:12); Doa penghuni neraka yang kedua ialah sebagaimana firman Allah swt:

وَلَوْ تَرٰىٓ اِذِ الْمُجْرِمُوْنَ نَاكِسُوْا رُءُوْسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۗ رَبَّنَآ اَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا اِنَّا مُوْقِنُوْنَ

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), ”Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (As-Sajdah/32:12)

Permintaan mereka ini dijawab Allah swt dalam firman-Nya:

فَذُوْقُوْا بِمَا نَسِيْتُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَاۚ اِنَّا نَسِيْنٰكُمْ وَذُوْقُوْا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Maka rasakanlah olehmu (azab ini) disebabkan kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat), sesungguhnya Kami pun melalaikan kamu dan rasakanlah azab yang kekal, atas apa yang telah kamu kerjakan.” (as-Sajdah/32: 14).


Baca Juga : Zainab al-Ghazali: Mufassir Perempuan Pertama Abad ke-20


Doa penghuni neraka kali yang ketiga ialah sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt:

فَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رَبَّنَآ اَخِّرْنَآ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۙ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَۗ

…maka orang yang zalim berkata, ”Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan (kembali ke dunia) walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….” (Ibrahim/14: 44).

Permintaan mereka ini dijawab oleh Allah swt dalam firman-Nya:

اَوَلَمْ تَكُوْنُوْٓا اَقْسَمْتُمْ مِّنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِّنْ زَوَالٍ

(Kepada mereka dikatakan), ”Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa? (Ibrah³m/14: 44).

Doa penghuni neraka kali yang keempat ialah sebagaimana firman Allah swt:

وَهُمْ يَصْطَرِخُوْنَ فِيْهَاۚ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُۗ

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, ”Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.” (Fathir/35: 37).

Allah swt menjawab permintaan mereka dalam firman-Nya:

 اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ

Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun. (Fathir/35: 37).

Dan penghuni neraka berdoa sebagai yang tersebut dalam firman-Nya:

رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْهَا فَاِنْ عُدْنَا فَاِنَّا ظٰلِمُوْنَ

Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya (kembalikanlah kami ke dunia), jika kami masih juga kembali (kepada kekafiran), sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.” (al-Mu’minun/23: 107).

Akhirnya Allah swt menjawab dengan tegas:

قَالَ اخْسَـُٔوْا فِيْهَا وَلَا تُكَلِّمُوْنِ

Dia (Allah) berfirman, ”Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (al-Mu’minun/23: 108).

Setelah jawaban Allah swt yang kelima, maka mulut penghuni neraka terbungkam, tidak ada lagi doa, selain dari jeritan yang keluar dari mulut mereka, karena sangat berat azab neraka yang menimpa mereka.

(Tafsir Kemenag)

Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 45-47

 

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 40-42

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 40-42 diawali dengan penjelasan doa-doa Ibrahim yang lain kepada Allah. Yakni ia meminta kepada Allah agar dirinya dan keturunannya senantiasa menegakkan sholat dan senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, sebab segala amal perbuatan hamba akan dipertanggung jawabkan kelak di yaumul hisab.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 38-39


Usai mengisahkan doa-doa Nabi Ibrahim dalam beberapa ayat sebelumnya, maka Tafsir Surah Ibrahim Ayat 40-42 dan selanjutnya adalah penegasan Allah, betapa Dia tidak pernah lengah mengawasi perbuatan orang yang zalim dan durhaka. Tidak ada satupun yang luput dari-Nya, dan mereka akan menerima balasan sesuai perbuatan yang mereka lakukan.

Ayat 40

Pada ayat ini dilukiskan lagi pernyataan syukur Ibrahim pada Allah atas segala rahmat-Nya. Ia bertambah tunduk dan patuh kepada Allah, dan berdoa agar Allah menjadikan keturunannya selalu mengerjakan salat, tidak pernah lalai mengerjakannya sedikit pun, sempurna rukun-rukun dan syarat-syaratnya, dan sempurna pula hendaknya mengerjakan sunah-sunahnya dengan penuh ketundukan dan kekhusyukan.

Ibrahim a.s. berdoa agar keturunannya selalu mengerjakan salat, karena salat itu adalah pembeda antara mukmin dan kafir dan merupakan pokok ibadah yang diperintahkan Allah.

Orang yang selalu mengerjakan salat, akan mudah baginya mengerjakan ibadah-ibadah lain dan amal-amal saleh. Salat dapat mensucikan jiwa dan raga karena salat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah swt:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

…dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-‘Ankabut/29: 45)

Ibrahim a.s. memohon kepada Allah swt agar menerima ibadah-ibadahnya. Keinginan beribadah kepada Tuhan ini lebih diutamakannya dari keinginan mengikuti kehendak bapaknya, sebagaimana firman Allah swt:

وَاَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَاَدْعُوْا رَبِّيْۖ عَسٰٓى اَلَّآ اَكُوْنَ بِدُعَاۤءِ رَبِّيْ شَقِيًّا

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku.” (Maryam/19: 48).

Yang dimaksud dengan doa dalam ayat ini adalah ibadah. Rasulullah saw menyatakan bahwa doa itu adalah ibadah. Kemudian beliau membaca firman Allah swt:

اِنَّ الَّذِيْنَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهٖ وَيُسَبِّحُوْنَهٗ وَلَهٗ يَسْجُدُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang ada di sisi Tuhanmu tidak merasa enggan untuk menyembah Allah dan mereka menyucikan-Nya dan hanya kepada-Nya mereka bersujud. (al-A’raf/7: 206).


Baca Juga : Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’


Ayat 41

Ibrahim a.s. berdoa agar Allah mengampuni segala kesalahannya, kesalahan ibu-bapaknya, dan kesalahan orang-orang yang beriman pada hari dimana Allah menghimpun mereka untuk dihisab segala amal dan perbuatannya yang telah dikerjakan semasa hidup di dunia dahulu.

Diriwayatkan dari al-Hasan bahwa ibu Ibrahim adalah seorang yang beriman kepada Allah, sedang bapaknya adalah orang yang kafir.

Ia memohonkan ampun bagi bapaknya itu karena ia pernah berjanji akan memohon ampun bagi bapaknya.

Akan tetapi, tatkala ternyata bapaknya tetap dalam kekafirannya dan menjadi musuh Allah, maka ia berlepas diri darinya, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ اِلَّا عَنْ مَّوْعِدَةٍ وَّعَدَهَآ اِيَّاهُۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗٓ اَنَّهٗ عَدُوٌّ لِّلّٰهِ تَبَرَّاَ مِنْهُۗ اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ لَاَوَّاهٌ حَلِيْمٌ

Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (at-Taubah/9: 114)

Ayat 42

Disebutkan dalam sejarah bahwa orang musyrik Mekah selalu menghalang-halangi dan menentang Nabi Muhammad dan para sahabat dalam melaksanakan dakwah sebagaimana yang telah diperintahkan Tuhan kepada mereka.

Semakin hari halangan dan rintangan itu semakin bertambah, bahkan sampai kepada penganiayaan dan pemboikotan.

Banyak para sahabat yang dianiaya. Mereka tidak mau mengadakan hubungan jual-beli, hubungan persaudaraan dan hubungan tolong-menolong dengan kaum Muslimin.

Demikian beratnya siksaan dan penganiayaan itu hampir-hampir para sahabat Nabi berputus asa. Sementara itu orang-orang musyrik kelihatannya seakan-akan diberi hati oleh Allah dengan memberikan kekuasaan dan kekayaan harta. Tindakan mereka semakin hari semakin membabi buta.

Dalam keadaan yang demikian, Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw dengan ayat yang menyatakan, “Wahai Muhammad, janganlah kamu menyangka Allah swt lengah dan tidak memperhatikan tindakan dan perbuatan orang-orang musyrik Mekah yang zalim itu.

Tindakan dan perbuatan mereka itu adalah tindakan dan perbuatan yang menganiaya diri mereka sendiri. Allah pasti mencatat segala perbuatan mereka. Tidak ada satupun yang luput dari catatannya. Semua tindakan dan perbuatan mereka itu akan diberi balasan yang setimpal. Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka yang menyala-nyala di akhirat nanti.”

Dengan turunnya ayat ini, hati Nabi dan para sahabat menjadi tenteram. Semangat juang mereka bertambah. Mereka meningkatkan usaha mengembangkan agama Allah. Semakin berat tekanan dan penganiayaan yang dilakukan kaum musyrikin, semakin bertambah pula usaha mereka menyiarkan agama Islam, karena mereka percaya bahwa Allah pasti akan menepati janji-Nya.

Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw, tetapi yang dimaksud ialah seluruh umat Nabi Muhammad, termasuk umatnya yang hidup pada masa kini. Oleh karena itu, kaum Muslimin tidak perlu terpengaruh oleh kehidupan orang-orang yang zalim yang penuh kemewahan dan kesenangan, seakan-akan mereka umat yang disenangi Allah.

Semuanya itu hanyalah merupakan cobaan Tuhan dan sifatnya sementara, sampai kepada waktu yang ditentukan, yaitu hari yang penuh dengan huru-hara dan kesengsaraan, di suatu hari dimana mata manusia membelalak ketakutan menghadapi balasan yang akan diberikan Allah.

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 43-44


 

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 72-74

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 72-74 mengulas tentang kekuasaan Allah yang telah menciptakan siang dan malam serta fungsinya, yakni siang digunakan untuk  mencari rezeki dan malam digunakan untuk istirahat dan melepaskan lelah. Sehingga Tafsir Surah Al-Qasas ayat 72-74 dibawah ini mengajak kita untuk terus mensyukuri nikmat dan rahmat yang telah Allah berikan.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 68-71


Ayat 72

Kandungan ayat ini kebalikan dari ayat sebelumnya. Pada ayat ini, Allah menyuruh Rasul-Nya menanyakan kepada orang-orang musyrik, andaikata Allah menjadikan siang itu terus menerus sepanjang masa sampai di hari Kiamat tanpa ada malam silih berganti dengannya, apakah ada tuhan selain dari Allah yang mampu mendatangkan malam? Apakah mereka tidak memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang sempurna? Seakan-akan mereka tidak punya pikiran.

Sekiranya mereka memperhatikan dengan baik, tentu mereka akan mengambil kesimpulan bahwa tidak ada yang layak disembah kecuali Tuhan yang telah memberikan karunia dan nikmat yang tak terhingga banyaknya dan kuasa menjadikan siang dan malam itu silih berganti untuk terciptanya suatu keseimbangan.

Siang dijadikan terang untuk mencari rezeki dengan segala kemampuan yang ada. Kemudian siang itu lenyap digantikan oleh malam yang suasananya cocok digunakan untuk melepaskan dan menghilangkan kelelahan agar tenaga dan pikiran kembali pulih guna mencari rezeki pada keesokan harinya. Firman Allah:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَادَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَادَ شُكُوْرًا

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.(al-Furqan/25: 62)

Menurut kajian ilmiah, sinar matahari dalam ilmu pengetahuan fisika  merupakan pancaran gelombang energi yang dihasilkan dari reaksi nuklir fusi dan fisi yang terjadi di permukaan matahari secara berkesinambungan. Ketika sinar ini dipancarkan secara terus menerus dan dalam waktu cukup lama akan menimbulkan panas

Apa yang akan terjadi sekiranya siang terus menerus sampai hari Kiamat? Sudah pasti keadaan udara dan hawa dari detik ke detik, dari menit ke menit dan dari jam ke jam akan menjadi semakin panas. Dalam waktu 100 jam saja udara bisa mencapai temperatur di atas titik didih 100ºC.

Karenanya, lautan, danau, sungai, dan sebagainya akan mendidih dan menggelegak. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi sekiranya seluruh sungai, danau, dan samudera mendidih airnya? Begitu juga darah yang mengalir di dalam tubuh kita juga turut mendidih. Dalam keadaan demikian, tidak ada satu pun makhluk yang dapat hidup. Semuanya akan mati dan musnah menjadi debu-debu yang beterbangan.

Allah juga menjadikan malam sebagai waktu istirahat bagi manusia. Semuanya itu bertujuan agar manusia dapat membayangkan betapa hebatnya kekuasaan Allah dan juga perlindungan yang diberikan-Nya untuk kehidupan setiap makhluk ciptaan-Nya khususnya manusia yang dikaruniai akal pikiran yang sempurna.


Baca Juga: Menilik Konsep Energi dan Klasifikasinya dalam Al-Quran


Ayat 73

Pergantian siang dan malam dengan fungsinya masing-masing, yaitu siang digunakan untuk berusaha mencari rezeki dan malam digunakan untuk istirahat dan melepaskan lelah, sehingga pulih kembali tenaga yang telah dipergunakan pada siang harinya, adalah merupakan rahmat besar dari Allah yang tak ternilai harganya dan wajib disyukuri.

Nikmat yang tak disyukuri akan hilang lenyap dicabut dan ditarik kembali oleh Allah. Sebaliknya nikmat yang disyukuri dengan memanfaatkannya sebaik-baiknya sesuai dengan perintah Allah, akan bertambah terus. Firman Allah:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim/14: 7)

Ayat 74

Ayat ini menerangkan bahwa di hari Kiamat Allah akan memanggil orang-orang musyrik dan berkata kepada mereka, “Di mana sekutu-sekutu-Ku yang kalian anggap sebagai sekutu-Ku di dunia? Dapatkah mereka itu melepaskan kalian dari keadaan yang menghimpit sekarang ini.”

Sengaja orang musyrik dipanggil pada waktu itu untuk mengikrarkan suatu kesaksian atas penyembahan mereka selain dari Allah. Ini juga bertujuan supaya mereka mengetahui bahwa memper-sekutukan Allah itu adalah sebab paling utama atas kemurkaan-Nya, sebagaimana mengesakan-Nya adalah sebab utama atas rida-Nya.

(Tafsir Kemenag)

Menyambut Malam 27 Ramadhan dan Tafsir Isyari Ibnu Abbas Ra Tentang Lailatul Qadr

0
27 Ramadhan
27 Ramadhan (tradisi pitulikuran) dan Tafsir Ibnu Abbas tentang Lailatul Qadr

Di kalangan masyarakat muslim Jawa terdapat tradisi “pitulikuran” atau menyambut malam 27 Ramadhan dengan mengadakan doa bersama, makan “ambengan” bersama, mendirikan salat malam atau sekedar menyalakan lampu sepanjang malam. Tradisi ini selain diniatkan untuk menjaring lailatul qadr juga sebagai persiapan menyambut hari raya Idul Fitri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa lailatul qadr menjadi momen yang paling dinanti oleh umat Islam. Terdapat keagungan dan keistimewaan yang melingkupi malam tersebut, seperti derajatnya yang lebih baik dari seribu bulan. Sehingga menjadi wajar manakala masyarakat muslim di Indonesia kemudian menantikannya untuk meraih keberkahannya.

Mengenai kapan malam al-qadr terjadi setiap tahunnya, hadis yang popular di sekitar kita selama ini adalah riwayat al-Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah saw bersabda, “carilah lailatul qadr pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari bulan Ramadhan.” Dari sini, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam tersebut terjadi pada salah satu malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.

Meski demikian, terdapat beberapa pendapat berbeda mengenai terjadinya malam al-qadr setiap tahunnya. Dalam pandangan mazhab Maliki, lailatul qadr terjadi pada suatu malam dalam rentang waktu setahun, baik di bulan Ramadhan atau di luar bulan tersebut. Sementara menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, malam tersebut terjadi pada satu malam di bulan Ramadhan, entah di awal, tengah, atau akhir.

Memang, tidak ada satupun ayat ataupun hadis yang menyebut secara pasti kapan terjadinya lailatul qadr, akan tetapi beberapa ulama memberikan rumus atau prediksi mengenai hal tersebut. Al-Ghazali misalnya, menurutnya jika awal Ramadhan dimulai hari Ahad, maka lailatul qadr akan jatuh pada malam 29.

Adapun jika awal Ramadhan jatuh pada hari Senin, maka malam mulia tersebut jatuh pada malam 21. Keterangan selengkapnya mengenai pendapat ini dapat dirujuk di banyak kitab, seperti I’anatut Thalibin. Bahkan pendapat al-Ghazali ini diamini oleh Abu Hasan Syadzili yang menyebut bahwa sejak ia remaja, lailatul qadr tidak pernah meleset dari rumus al-Ghazali.

Lalu, tradisi “pitulikuran” yang diyakini oleh sebagian masyarakat muslim Jawa sebagai terjadinya lailatul qadr ini bersumber dari pendapat siapa?

Dalam pandangan Kiai Sya’roni Ahmadi, keyakinan terjadinya lailatul qadr pada malam 27 Ramadhan setiap tahunnya ini jika dirunut maka akan sampai pada pendapat Ibnu Abbas Ra berdasarkan penafsiran isyari-nya. Tafsir isyari dipahami sebagai pemahaman al-Qur’an yang diperoleh dari makna yang tersirat atau makna yang diisyaratkan.

Baca Juga: Kisah Kiai Sya’roni Membolehkan Penulisan Al-Quran dengan Aksara Latin dan Braille

Sebagaimana diketahui bahwa lailatul qadr disinggung secara khusus oleh al-Qur’an dalam Q.S. al-Qadr [97]. Surah ini terdiri dari lima ayat pendek yang secara khusus membahas keutamaan dan apa yang terjadi saat lailatul qadr tiba. Lalu di mana letak isyarat yang mengarahkan kepada pemahaman bahwa lailatul qadr jatuh pada malam 27 Ramadhan?

Menafsiri Q.S. al-Qadr [97], pandangan Ibnu Abbas Ra tertuju pada kata ganti “hiya” yang terdapat pada ayat terakhir. Ia melihat sesuatu yang beda dari kata tersebut. Sejak ayat pertama, Allah swt memakai kata dzahir “lailatul qadr”. Hal yang sama juga terdapat pada ayat kedua dan ketiga. Namun mengapa pada ayat terakhir Allah swt memakai kata ganti “hiya” yang merujuk pada kata “lailatul qadr”? Mengapa Allah swt tidak memakai kata jelas “lailatul qadr” saja pada ayat tersebut? Atau jika memakai kata ganti (dhamir) “hiya”, mengapa tidak dimulai sejak ayat kedua?

Dalam pandangan Ibnu Abbas Ra, di situlah letak isyaratnya. Ada rahasia jumlah huruf dari penggunaan kata “lailatul qadr” ataupun hitungan kata dari Q.S. al-Qadr [97] secara keseluruhan.

Pertama, dari segi huruf, kata (ليلة القدر) terdiri dari sembilan huruf, yaitu lam, ya’, lam, ta’, alif, lam, qaf, dal, dan ra’. Oleh karena kata tersebut diulang sebanyak tiga kali, maka jumlah keseluruhan dari kata itu adalah 27 huruf. Dari sini, maka disimpulkan bahwa lailatul qadr jatuh pada tanggal 27 Ramadhan.

Kedua, dari segi kata, dipahami bahwa jika dihitung secara tajwidi, maka dalam Q.S. al-Qadr [97] terdapat 30 kata. Hitungan tajwidi dipahami sebagai cara menghitung kata dalam al-Qur’an dengan patokan boleh-tidaknya diputus atau waqf (berhenti). Sebagai contoh, kata أنزلناه dihitung sebagai satu kata menurut hitungan tajwidi, sebab ia tidak boleh diputus hanya sampai أنزلنا.

Baca Juga: Surah al-Qadr Ayat 1, Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr Menurut Fakhruddin Ar-Razi

Dengan patokan hitungan tajwidi, diperoleh hasil bahwa Q.S. al-Qadr [97] terdiri dari 30 kata dengan rincian ayat (1) sebanyak 5 kata; (2) sebanyak 6 kata; (3) sebanyak 6 kata; (4) sebanyak 8 kata; dan (5) sebanyak 5 kata. Dari 30 kata tersebut terdapat kata “هي / hiya” yang berarti “ia”. Kata itu jatuh pada hitungan ke-27 dan merupakan kata ganti (dhamir) yang rujuknya kembali ke kata “lailatul qadr”. Dari sini disimpulkan bahwa lailatul qadr jatuh pada malam 27 Ramadhan. Penjelasan tentang tafsir isyari Ibnu Abbas Ra ini dapat dibaca dalam kitab Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalayn.

Dengan demikian, tradisi pitulikuran yang diyakini oleh sebagian masyarakat muslim Jawa sebagai malam terjadinya lailatul qadr memiliki dasar yang bahkan bersumber dari seorang sahabat bernama Ibnu Abbas Ra. Di sisi lain, malam 27 Ramadhan ini juga tercakup dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim di atas.

Dengan demikian, keyakinan terkait datangnya lailatul qadr pada malam 27 Ramadhan ini didukung oleh dua dasar: 1) dalil hadis tentang perintah mencari lailatul qadr pada salah malam ganjil 10 hari terakhir Ramadhan, dan 2) dalil tentang terjadinya malam tersebut pada malam 27 Ramadan yang bersumber dari Ibnu Abbas Ra. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 63-67

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 63-67 menjelaskan bahwa orang yang telah menyesatkan orang lain maka dipastikan dia akan mendapat kemurkaan dan ancaman dari Allah. Selain itu ditegaskan kembali dalam Tafsir Surah Al-Qasas ayat 63-67 bahwa perbuatan perbuatan menyekutukan Allah sangatlah dimurkai oleh Allah. 


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 58-62


Ayat 63

Ayat ini menerangkan jawaban para penyesat dan pengajak kepada kekafiran yang berusaha melepaskan diri dari tanggung jawabnya menyesatkan orang lain. Mereka telah dipastikan mendapat kemurkaan dan yang telah mendapat ancaman dari Allah dengan firman-Nya:

لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

Pasti akan Aku penuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama. (as-Sajdah/32: 13)

Para pengajak kepada kekafiran itu akhirnya masuk ke dalam neraka. Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, mereka itulah yang telah kami sesatkan sebagaimana kami juga sesat. Kami sekadar mengajak mereka lalu mereka mengikuti ajakan kami yang menyesatkan itu dengan kemauan sendiri. Tidak ada paksaan sama sekali dari kami.”

Ketika mereka diajak untuk beriman kepada Allah, mereka tidak menghiraukannya sama sekali padahal ajakan itu adalah ajakan yang sebenarnya. Peristiwa semacam ini sama dengan peristiwa yang akan terjadi di akhirat yaitu dialog antara setan dengan manusia yang telah disesatkannya, sebagaimana firman Allah:

وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَآ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri.

Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim/14: 22)

Pembelaan diri setan dengan mengatakan bahwa orang yang sesat itu mematuhi ajakannya dengan kemauan mereka sendiri, bukan tekanan darinya karena ia tidak punya kekuasaan atas manusia, dikuatkan oleh firman Allah kepada Iblis:

اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌ اِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغٰوِيْنَ

Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak kuasa atas hamba-hamba-Ku, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang yang sesat. (al-Hijr/15: 42)

Pemimpin-pemimpin yang menyesatkan itu menyatakan tidak bertanggung jawab kepada Allah atas perbuatan pengikut-pengikutnya, dengan alasan bahwa mereka tidak menyembah kepada-Nya tetapi kepada berhala-berhala. Kejadian seperti ini disebutkan dalam ayat yang lain yaitu firman Allah:

اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus. (al-Baqarah/2: 166)

Ayat 64

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 63-67 pada ayat ini diterangkan bahwa mereka yang menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan dan sembahan-sembahan lain di dunia, disuruh memanggil tuhan-tuhan mereka yang dijadikan sekutu Allah untuk menolak azab yang menimpa mereka. Ketika mereka memanggilnya, berhala-berhala itu tentu tidak bisa menjawab karena tidak berdaya sedikit pun.

Hal ini dilakukan hanya untuk memperlihatkan kebodohan mereka yang disaksikan oleh segenap penghuni akhirat. Mereka yang memanggil dan yang dipanggil yakin bahwa mereka akan diseret ke neraka karena dosa-dosa mereka, dan mereka sudah tidak dapat mengelak dan lari ke tempat lain, sebagaimana firman Allah:

وَرَاَ الْمُجْرِمُوْنَ النَّارَ فَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ مُّوَاقِعُوْهَا وَلَمْ يَجِدُوْا عَنْهَا مَصْرِفًا

Dan orang yang berdosa melihat neraka, lalu mereka menduga bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak menemukan tempat berpaling darinya. (al-Kahf/18: 53)

Setelah menyaksikan azab yang akan menimpa mereka, ketika itu mereka menyesal seandainya dahulu ketika masih hidup di dunia mereka menerima petunjuk dan beriman kepada Allah. Akan tetapi, pengandaian itu hanya merupakan angan-angan yang tidak mungkin terlaksana.

Ayat 65-66

Sesudah dinyatakan kepada mereka bahwa tindakan mereka mempersekutukan Allah adalah sesat, maka sebagai cercaan atas perbuatannya, itu pada ayat ini ditanyakan kepada mereka tentang bagaimana cara mereka menyambut seruan para rasul untuk membersihkan diri dari penyembahan berhala, dan mengajak berakidah tauhid, mengesakan Allah. Mereka diam seribu bahasa, tidak dapat mengemukakan sedikit pun alasan sebagai jawaban dari pernyataan yang dilontarkan.

Mereka bingung tidak tahu apa yang mesti dikatakan. Oleh karena itu, mereka saling bertanya, seperti orang yang sedang meng-hadapi kesulitan. Mereka tertunduk karena malu dan menyesal. Apabila para rasul tidak dapat menjawab pertanyaan yang dimajukan kepadanya tentang jawaban dan sambutan kaumnya mengenai seruannya kepada mereka, tentu orang-orang yang sesat dan menyesatkan di dunia yang tidak mengindahkan seruan nabi-nabi lebih cemas lagi. Firman Allah:

يَوْمَ يَجْمَعُ اللّٰهُ الرُّسُلَ فَيَقُوْلُ مَاذَٓا اُجِبْتُمْ ۗ قَالُوْا لَا عِلْمَ لَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ

(Ingatlah) pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)mu?” Mereka (para rasul) menjawab, “Kami tidak tahu (tentang itu). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” (al-Ma’idah/5: 109)

Ayat 67

Betapapun banyaknya dosa seseorang, termasuk menyekutukan Allah yang merupakan dosa yang paling besar, bila ia tobat dan kembali kepada kebenaran, serta beribadah kepada-Nya, membenarkan nabi-Nya, mengerjakan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya, tentu ia termasuk orang-orang yang beruntung dan berbahagia di akhirat.

Kejahatannya diganti oleh Allah dengan kebajikan. Ia mendapat karunia dan masuk ke surga yang penuh nikmat. Ia tinggal di dalamnya kekal untuk selama-lamanya, sebagaimana firman Allah :

وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ  ٦٨  يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ  ٦٩  اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا   ٧٠

Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat, (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (al-Furqan/25: 68-70)

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 68-71


 

Tafsir Ahkam: Adakah Tafsir Ayat Tentang Disyariatkanya Zakat Fitrah?

0
Adakah Tafsir Ayat Tentang Disyariatkanya Zakat Fitrah?
Adakah Tafsir Ayat Tentang Disyariatkanya Zakat Fitrah?

Zakat adalah salah satu syariat penting dalam Islam. Zakat disebut sebagai lima pilar penting (rukun) tegaknya agama. Disyariatkannya zakat termaktub cukup lengkap di dalam hadis Nabi. Mulai dari disayariatkannya zakat fitrah, zakat emas serta perak, zakat hewan ternak, zakat hasil panen, sampai zakat barang dagangan.

Disyariatkannya zakat juga terdapat di dalam Al-Qur’an. Di antaranya ada pada surat Al-Baqarah ayat 43. Namun tahukah anda bahwa ulama’ bersilang pendapat mengenai keberadaan disyariatkannya zakat fitrah secara khusus di dalam Al-Qur’an. Atau bisa dibilang zakat fitrah tidaklah pernah disinggung di dalam Al-Qur’an. Berikut penjelasan ulama’.

Baca juga: Memaknai Kandungan al-Quran dan Perintah Iqra’

Sumber Hukum Zakat Fitrah

Imam Al-Mawardi di dalam kitab Al-Hawi Al-Kabir menyatakan, ulama’ berbeda pendapat mengenai dasar disyariatkannya zakat fitrah secara khusus. Pendapat pertama menyatakan bahwa zakat fitrah disyariatkan secara khusus lewat hadis Nabi. Hal ini mengisyaratkan bahwa pendapat ini meyakini bahwa zakat fitrah tidak disinggung secara khusus di dalam Al-Qur’an. Imam Al-Mawardi kemudian memaparkan beberapa hadis yang dijadikan acuan oleh pendapat ini.

Pendapat kedua menyatakan, zakat fitrah disyariatkan dan disinggung secara khusus oleh Al-Qur’an. Hadis Nabi hanyalah sebagai penjelas atas ayat tentang zakat fitrah saja. Ulama’ yang menyakini pendapat kedua ini juga bersilang pendapat mengenai mana ayat yang menurut mereka menyinggung zakat fitrah. Perbedaan mereka ada di antara dua ayat. Antara firman Allah berbunyi (Al-Hawi Al-Kabir/3/749):

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ ١٤ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ ١٥

Sungguh, beruntung orang yang menyucikan diri. Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat (QS. Al-A’la [87] :14-15).

Dan firman Allah:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ ٥

Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar) (QS. Al-Bayyinah [98] :5).

Baca juga: Al-Wujuh dan Al-Nazhair Kata Shalat pada Al-Qur’an

Komentar Kitab Tafsir Tentang Kedua Ayat Di Atas

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya memberikan keterangan yang sedikit berbeda dengan Al-Mawardi. Ia menyatakan bahwa tidak ada nash tentang zakat fitrah di dalam Al-Qur’an, kecuali pada dua tempat. Yaitu pada ayat yang ditakwil Imam Malik; yakni pada Surat Al-Baqarah ayat 43 dan pada Surat Al-A’la ayat 14.

Tatkala menjelaskan tafsir Surat Al-Baqarah ayat 43, Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa ulama’ berbeda pendapat mengenai maksud zakat yang disinggung pada ayat tersebut. Pendapat pertama menyatakan bahwa zakat yang dimaksud adalah zakat yang difardhukan secara umum. Hal ini didasari sebab redaksi zakat tersebut berderetan dengan salat. Pendapat kedua menyatakan bahwa zakat tersebut adalah zakat fitrah. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Malik yang diriwayatkan Ibn Qasim. Dari dua pendapat tersebut, Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa pendapat pertama adalah pendapat mayoritas ulama’ (Tafsir Al-Qurthubi/1/343).

Dari sini dapat dilihat bahwa ulama’ menyebutkan ayat tentang zakat yang berbeda-beda, terkait yang ditakwilkan Imam Malik sebagai zakat fitrah. Menurut Imam Al-Mawardi ayat tersebut adalah Surat Al-Bayyinah ayat 5 dan menurut Imam Al-Qurthubi ayat tersebut adalah Surat Al-Baqarah ayat 43. Imam Ar-Razi juga menyebutkan ayat yang berbeda; yaitu Surat Al-Muzzammil ayat 20 (Tafsir Mafatihul Ghaib/16/126).

Berbeda dengan ayat yang ditakwil Imam Malik sebagai zakat fitrah yang kitab tafsir sendiri berbeda-beda dalam menyebutkan bunyi ayat tersebut, kitab tafsir sama menjelaskan tatkala mengulas Surat Al-A’la ayat 14, bahwa sebagian pendapat menyatakan bahwa maksud zakat di ayat tersebut adalah zakat fitrah. Al-Jashshash misalnya menyatakan, menurut sebagaian ulama’ ayat tersebut menjadi dasar hukum kesunnahan menyerahkan zakat sebelum Salat I’d. Karena di ayat tersebut diterangkan bahwa zakat sebelum salat (Ahkamul Qur’an/5/372).

Baca juga: Lima Referensi Awal Pembelajaran Tajwid di Bumi Nusantara

Dari berbagai uraian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa zakat fitrah yang biasa ditunaikan pada bulan Ramadhan, masih diperselisihkan keberadaannya secara khusus di dalam Al-Qur’an. Sebagian menyatakan bahwa zakat fitrah disyariatkan lewat hadis Nabi. Dan Al-Qur’an hanya menyinggung zakat fitrah secara umum saja. Wallahu a’lam bish showab.

Memaknai Kandungan al-Quran dan Perintah Iqra’

0
Kandungan al-Quran
Memaknai Kandungan al-Quran dan Perintah Iqra

Layaknya ujung jarum dicelupkan ke dalam samudera kemudian diangkat, seperti itulah perumpamaan pengetahuan manusia terhadap isi kandungan al-Quran. Ilmu manusia hanyalah tetesan yang jatuh dari ujung jarum sedangkan Kalam Allah (Al-Quran) adalah samudera. Perumpamaan itu dapat kita baca dalam al-Kahfi [28]: 109 berikut

قُل لَّوْ كَانَ ٱلْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّى لَنَفِدَ ٱلْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِۦ مَدَدًا

“Katakanlah; andai lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh niscaya habislah lautan sebelum kalimat-kalimat Tuhanku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan (lautan) sebanyak itu pula.”

Baca Juga: Inilah Lima Fadilah Membaca Al-Qur’an Menurut Hadis-Hadis Sahih

Lalu siapakah yang di antara manusia yang paling mengetahui kandungan al-Quran beserta penafsirannya? Siapa lagi kalau bukan seseorang yang kepadanya al-Quran diturunkan. Adalah hikmah terdalam Rasulullah saw. tidak menafsirkan al-Quran ayat per ayat, akan tetapi semua tafsiran al-Quran telah tertuang pada tindak-tanduk beliau saw.

“Akhlak beliau saw. adalah al-Quran,” begitulah jawab Aisyah r.a. kala ditanya seperti apa akhlak Rasul (H.R. Muslim). Maka bisa disimpulkan bahwa semua perilaku hidup Rasulullah saw. adalah sebenar-benar tafsir terhadap kandungan al-Quran.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْأَخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah saw. itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (datangnya) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (al-Ahzab [33]: 21)

Bahkan apa yang ditafsirkan Rasulullah saw. melalui hadits-hadits beliau, tidak lebih banyak, dari apa yang tidak beliau tuturkan secara langsung. Apabila pada diri Rasulullah saw. telah dihiasi dengan al-Quran, maka suluk beliau merupakan sebuah tafsir atas al-Quran.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ 3 إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ 4

“Dia (Muhammad) tidak pernah bertutur menuruti hawa nafsunya, melainkan apa yang telah diwahyukan.” Al-Najm [53]: 3-4. Dengan kata lain. Semua perilaku Rasulullah adalah representasi pesan al-Quran, baik ucapan, diam maupun gerak beliau saw.

Sebagai uswah, maka perilaku beliau saw. ditiru oleh para sahabat. Mereka meniru segala yang dilakukan Rasulullah semampu mereka. Mereka juga tidak berusaha untuk menafsirkan al-Quran, baik perkalimat maupun per ayat. Akan tetapi mereka berusaha keras untuk istifadah mencari petunjuk dalam al-Quran dan berusaha agar al-Quran menjadi akhlak mereka, semampunya.

Mereka menjadikan al-Quran sebagai imam dan tongkat penunjuk jalan hidup yang terjal. Mereka tidak pernah melakukan studi teoritis terhadap kandungan al-Quran, melainkan mereka menjadikan al-Quran sebagai petunjuk hidup, bahkan sebagian mereka tidak menghafalkan satu ayat pun, sebelum ia mengamalkan ayat tersebut.

Iqra’! Bacalah!

Dr. Abdul Halim Mahmud menjelaskan dalam al-Quran fi Syahr al-Quran, bahwa Q.S. Al-Alaq 1-5, wahyu pertama yang diturukan Allah kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantara Jibril adalah ayat yang mengandung makna yang sangat kaya.

Diriwayatkan dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, pada suatu ketika, datanglah malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw yang sedang ber-tahannuts di gua Hira. Jibril merengkuh Nabi sambil mengatakan: “Iqra’, bacalah!”

Maa ana bi qaari-in, aku tidak bisa membaca.”

“Bacalah!” kata Jibril mengulanginya lagi. Nabi Muhammad mengulangi jawaban yang sama. Lalu Jibril menarik dan mendekap Nabi Muhammad saw. cukup kuat sampai menyulitkan beliau bernafas. Jibril melepaskan Nabi dan mengulangi perintahnya lagi dan dijawab dengan jawaban yang sama. Kejadian itu berulang hingga tiga kali. Pada kali ke empat, Nabi Muhammad Saw. kemudian mengucapkan kalimat suci itu (al-Alaq [96]: 1-5).

Riwayat di atas dilanjutkan oleh Dr. Abdul Halim, usai Jibril menghilang, Nabi Muhammad saw. bergegas pulang dengan tubuh yang menggigil. Keringat mengucur dari sekujur tubuhnya. Sesampainya di rumah beliau segera menemui Khadijah. Kata Nabi, “Selimuti aku, selimuti aku..” Lalu Khadijah segera menyelimuti Nabi Muhammad dan menenangkannya hingga hilanglah rasa takut pada diri Nabi.

“Aku takut,” tutur Nabi kepada Khadijah. Dengan welas asih Khadijah berkata, “Tidak, Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu. Engkaulah yang akan menyambung tali persaudaraan, memikul derita orang lain, bekerja untuk mereka yang tak punya, menjamu tamu, dan menolong orang-orang yang tertindas karena kebenaran.”

Kemudian Khadijah menemui putra pamannya, Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza. Ia adalah seorang pemuka Nasrani, fasih berbahasa Ibrani hingga menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Ibrani atas kehendak Allah. “Duh, putra paman, dengarkan sepupumu ini.” Lalu Rasulullah menceritakan semua kejadian yang beliau alami.

Waraqah adalah seorang Nasrani yang tahu betul tanda-tanda nabi akhir zaman, dan sosok itulah yang ia tunggu-tunggu. “Muhammad, itulah Namus yang pernah diturunkan Allah kepada Musa. Duhai, andaikan aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.” Nabi bertanya, “Akankah mereka mengusirku?” Waraqah menjawab, “Benar. Tak ada seorang pun yang diberi wahyu sepertimu kecuali ia dimusuhi orang. Andai aku menemui hari itu, aku akan menolongmu sekuat-kuatnya.” Tak lama berselang setelah itu, Waraqah meninggal dunia.

Iqra’, Spirit Literasi al-Quran

Iqra’ adalah satu kata berjuta makna. Bukan hanya dari lafalnya saja makna-makna itu datang, akan tetapi juga datang dari apa yang diisyaratkan kata itu sendiri.

Dr. Abdul Halim menyebutkan bahwa redaksi iqra’ memberi isyarat kepada manusia untuk membaca—yang merupakan wasitah terpenting untuk mencapai pengetahuan—realitas di dalam segala hal, baik pernak-pernik kehidupan, fenomena alam, hal terkecil yang luput dari jangkauan akal hingga penciptaan alam semesta.

Dalam lima ayat pertama yang Allah turunkan, ada dua kata iqra’ di dalamnya. Sedangkan kata al-‘ilm disebutkan tiga kali dalam bentuk kata kerja (alladzi ‘allama bil qalam. ‘allamal-insaana ma lam ya’lam). Lalu disebutkan kata al-qalam. Setelah lima ayat tersebut, Allah kemudian menurunkan ayat yang dimulai dengan huruf Nun, dan mengawali sumpahNya di dalam al-Quran dengan kata al-qalam yang berarti pena, artinya aktivitas membaca tak bisa lepas dari menulis (Al-Qalam [68] 1-2).

Rasulullah juga telah diperintah untuk memohon kepada Allah supaya ditambahkan ilmu. “Dan katakanlah (wahai, Muhammad) “Rabb, tambahkanlah ilmu kepadaku,” (Thaha [20]: 114). Doa ini merupakan ajaran Rasulullah saw. terindah dalam tarbiah.

Ia bersumber dari insan kamil sekaligus utusan Allah yang paling sempurna,yang menjelaskan kepada umat bahwasanya manusia, setinggi apapun derajat dan kedudukannya, tetap akan berkurang pengetahuannya. Rasulullah saw.—makhluk yang paling sempurna—saja mengharap kepada Allah agar ditambah kan ilmu, apalagi masing-masing dari umatnya?

Bukanlah syak bahwa iman merupakan suatu hal tertinggi dalam kehidupan manusia. Dan untuk mencapai ketetapan iman, maka seseorang harus memiliki ilmu dan selalu menambahnya. Sangat jelas bahwa yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama (Fathir [35]: 35).

Baca Juga: Membaca Ummatan Wasatan Sebagai Pesan Moderasi dalam Al-Quran

Tidak ada di antara anak turun Adam yang sampai pada inti keimanan kecuali orang yang memiliki ilmu. Lihatlah bagaimana Allah menyertakan mereka yang berilmu bersama para malaikat dalam penyaksian ke-esa-an Allah. “Allah menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah). Para Malaikat dan orang yang berilmu (juga menyaksikan yang demikian itu)..” (Ali Imran [3]: 18). Inilah tinjauan al-Quran terhadap ilmu yang menjadi titik awal Islam sejak kata iqra’.

Lebih jauh, surah Al-‘Alaq mengisyaratkan bahwa yang utama dalam praktik membaca bukan soal objek, akan tetapi cara dan tujuan: bismi rabbika, yaitu membaca dengan dan untuk kebenaran. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 59-62

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 59-62 menerangkan bahwa Allah tidak pernah membinasakan suatu kota kecuali terlebih dulu mengutus seorang rasul untuk menyampaikan ayat-ayat Allah. Dijelaskan pula bahwa pembinasaan besar-besaran seperti sebelum umatnya Nabi Muhammad tidak akan terjadi lagi dalam Tafsir Surah Al-Qasas ayat 59-62. Selengkapnya Tafsir Surah Al-Qasas ayat 59-62 di bawah ini…


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 55-58


Ayat 59

Ayat ini menerangkan bahwa sesuai dengan sunah-Nya, Allah tidak pernah membinasakan suatu kota, kecuali terlebih dahulu mengutus seorang rasul ke kota itu untuk membacakan kepada penduduknya ayat-ayat Allah yang berisi kebenaran. Rasul itu ditugaskan untuk menyeru dan memberi peringatan kepada mereka supaya mereka itu beriman kepada Allah, namun mereka tidak mengindahkannya. Firman Allah:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al-Isra’/17: 15)

Sesudah Allah mengutus rasul untuk membimbing penduduk kota itu ke jalan yang lurus, memberi petunjuk kepada kebenaran, tetapi mereka tetap melakukan kezaliman dan mendustakan rasul, mengingkari ayat-ayat-Nya, maka Dia akan membinasakan kota itu beserta penduduknya.

Pembinasaan umat secara besar-besaran sebagaimana terjadi pada umat-umat terdahulu tidak terjadi pada umat Nabi Muhammad. Beliau adalah nabi terakhir yang diutus bagi seluruh alam, sehingga pembinasaan total sudah tidak terjadi lagi. Yang ada hanyalah pembinasaan parsial atau lokal seperti bencana penyakit, bencana alam, gempa bumi, gelombang tsunami, dan sebagainya.

Pengutusan Muhammad saw sebagai nabi terakhir berarti Allah tidak akan mengutus nabi atau rasul setelah beliau. Sedangkan tugas–tugas dakwah dan tanggung jawab memberi peringatan kepada umat terletak di pundak para ulama.

Ayat 60

Ayat ini menerangkan bahwa apa yang diberikan Allah bagi manusia baik berupa harta benda maupun keturunan hanya merupakan kesenangan duniawi. Kehidupan dunia dengan segala perhiasannya belum tentu menjamin keselamatan dan kebahagiaan mereka. Sebaliknya, pahala yang ada di sisi Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat adalah lebih baik, karena yang demikian itu kekal dan abadi. Berbeda dengan kesenangan duniawi yang dipujanya karena waktunya terbatas sekali, dan sesudah itu habis dan punah. Firman Allah:

وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّلْاَبْرَارِ

Dan apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (Ali ‘Imran/3: 198)

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَاقٍ

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. (an-Nahl/16: 96)

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Dan kehidupan dunia ini hanya senda-gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (al-’Ankabut/29:64)

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ   ١٦  وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ   ١٧

Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (al-A’la/87: 16-17)

Ayat ini ditutup dengan pertanyaan yang bernada ejekan sekaligus peringatan dari Allah. Mengapa mereka tidak mau menggunakan akalnya, dan berpikir secara mendalam sehingga mereka mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak. Apakah menurut mereka kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya yang fana dan bisa dinikmati dalam waktu yang sangat singkat lebih baik daripada kehidupan akhirat yang kekal dan abadi itu.

Ayat 61

Ayat ini dimulai dengan pertanyaan untuk meyakinkan agar orang-orang kafir itu dengan penuh kesadaran berpikir dan membandingkan tentang mana yang lebih baik. Apakah orang-orang yang dijanjikan Allah apabila mereka taat dan menuruti perintah dan menjauhi larangan-Nya akan dikaruniai nikmat di akhirat yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati seseorang dan mereka benar-benar memperolehnya di akhirat.

Mana yang lebih baik antara orang yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan dengan orang yang memilih kesenangan duniawi tetapi tidak menaati perintah Allah dan mengerjakan larangan-larangan-Nya. Menurut akal yang sehat, tentu golongan pertama lebih baik dari golongan kedua. Ayat ini menunjukkan bahwa orang kafir diberi kesenangan duniawi, tetapi di akhirat dimasukkan ke dalam neraka. Firman Allah:

اِنَّهَا سَاۤءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا

Sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (al-Furqan/25: 66)

Sedang orang mukmin yang sabar dan tabah menghadapi berbagai cobaan dunia, karena yakin akan janji Allah, di akhirat nanti mereka dimasukkan ke dalam surga. Firman Allah:

اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ يَوْمَىِٕذٍ خَيْرٌ مُّسْتَقَرًّا وَّاَحْسَنُ مَقِيْلًا

Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. (al-Furqan/25: 24)

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَۗ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۗ  اُكُلُهَا دَاۤىِٕمٌ وَّظِلُّهَاۗ

Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang yang bertakwa (ialah seperti taman), mengalir di bawahnya sungai-sungai; senantiasa berbuah dan teduh. (ar-Ra’d/13: 35)

Ayat 62

Pada ayat ini, Allah memerintahkan Nabi saw untuk memperingatkan kaumnya tentang hari ketika Allah memanggil orang-orang yang menyesatkan dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Allah akan berkata kepada mereka, “Mana sekutu-sekutu-Ku?

Mana malaikat, jin, dan berhala-berhala yang kamu anggap sekutu-sekutu-Ku di dunia? Dapatkah semuanya itu melepaskan dari azab yang menimpamu?” Tentu tidak. Hal ini dikemukakan sekedar penghinaan kepada mereka. Sejalan dengan ayat ini Allah berfirman:

وَلَقَدْ جِئْتُمُوْنَا فُرَادٰى كَمَا خَلَقْنٰكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّتَرَكْتُمْ مَّا خَوَّلْنٰكُمْ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِكُمْۚ وَمَا نَرٰى مَعَكُمْ شُفَعَاۤءَكُمُ الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ اَنَّهُمْ فِيْكُمْ شُرَكٰۤؤُا ۗ لَقَدْ تَّقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَّا كُنْتُمْ تَزْعُمُوْنَ

Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia). Kami tidak melihat pemberi syafaat (pertolongan) besertamu yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (bagi Allah). Sungguh, telah terputuslah (semua pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu sangka (sebagai sekutu Allah). (al-An’am/6: 94)

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 63-67


Tafsir Surah Al-Qasas ayat 55-58

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 55-58 meneruskan tafsiran sebelumnya yang menerangkan tentang tiga sifat orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah, yakni mereka tidak mendengarkan perkataan yang tidak baik. Ditegaskan pula dalam Tafsir Surah Al-Qasas ayat 55-58 ini bahwa Allah mengutus Rasulullah untuk menyampaikan risalah Islam. Selengkapnya dalam Tafsir Surah Al-Qasas ayat 55-58…


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 48-54


Ayat 55

Ayat ini menerangkan tentang sifat yang ketiga dari orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah yaitu apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, baik mengenai urusan dunia maupun akhirat, seperti cacian, cemoohan, dan sebagainya, mereka berpaling dan tidak melayaninya. Apabila mereka diperlakukan kasar atau disakiti dengan kata-kata atau perbuatan, mereka tidak membalasnya dengan tindakan serupa.

Akan tetapi, mereka menghadapinya dengan tenang dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami, kamu tidak akan diberi pahala dan tidak pula diganjar karenanya. Bagimu amal-amalmu, kami tidak akan menuntut sedikit pun dari perbuatan itu, dan tidak akan berusaha membalasnya. Kedamaian atasmu, kami tidak ingin berbuat sebagaimana kamu berbuat.” Firman Allah:

وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya. (al-Furqan/25: 72)

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishak bahwa telah berkunjung kepada Rasulullah di Mekah dua puluh orang lebih dari kaum Na¡ara Habasyah setelah mendengar berita tentang beliau. Mereka menemui Nabi di dalam masjid, kemudian mereka duduk bersama-sama. Di sekeliling Ka’bah pada waktu itu tokoh-tokoh kaum Quraisy sedang duduk berkumpul.

Rasulullah kemudian menyeru kaum Nashara Habasyah untuk beriman kepada Allah dan membacakan kepada mereka Al-Qur’an. Setelah mereka mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, mereka menangis tersedu-sedu dan dengan spontan beriman kepada Allah serta percaya kepada beliau dan membenarkannya. Mereka mengetahui bahwa sifat-sifat yang mereka saksikan pada diri Rasulullah sama dengan sifat-sifat yang telah diterangkan di dalam kitab suci mereka.

Ketika meninggalkan Nabi Muhammad, mereka dicegat oleh Abu Jahal bin Hisyam dan beberapa orang Quraisy dan mereka mengatakan, “Semoga Allah menggagalkan niatmu, kalian diutus oleh teman-teman kalian hanya untuk mengetahui sifat-sifat pribadi Muhammad lalu memberitahukan kepada mereka.

Akan tetapi, kenyataannya kalian sudah terpengaruh lalu meninggalkan agama kalian dan membenarkan apa yang dikatakan Muhammad. Kami tidak melihat ada rombongan yang lebih bodoh dari kalian.” Mendengar kata-kata pedas dan tajam dari Abu Jahal bin Hisyam, mereka menjawab, “Selamat tinggal buat kamu, kami tidak akan membalas dan berbuat jahat kepadamu. Bagi kami amal-amal kami, dan bagimu amal-amalmu.”

Ayat 56

Ayat ini menerangkan bahwa Muhammad tidak dapat menjadikan kaumnya untuk taat dan menganut agama yang dibawanya, sekalipun ia berusaha sekuat tenaga. Ia hanya berkewajiban menyampaikan dan hanya Allah yang akan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dia yang mempunyai kebijaksanaan yang mendalam dan alasan yang cukup. Hal tersebut ditegaskan pula pada ayat lain di dalam Al-Qur’an.

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 272) ;

Dan firman-Nya:

وَمَآ اَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ

Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya. (Yusuf/12:103)

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia lebih mengetahui siapa orang-orang yang bersedia dan pantas menerima hidayah itu. Di antara mereka ialah orang-orang Ahli Kitab yang pernah dikisahkan peristiwanya pada ayat-ayat yang lalu. Sebaliknya orang-orang yang tidak bersedia menerima hidayah seperti beberapa kerabat Nabi, maka hidayah tidak akan diberikan kepada mereka.

Ayat 57

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan al-Haris bin Utsman bin ‘Abd Manaf ketika ia dan beberapa orang Quraisy lainnya mendatangi Nabi saw dan mereka berkata kepada Nabi, ”Kami telah mengetahui bahwa apa yang engkau katakan itu benar. Akan tetapi, yang menghalangi kami mengikuti agamamu ialah orang-orang Arab yang akan memusuhi dan mengusir kami dari negeri kami, dan kami tidak mempunyai kesanggupan sedikit pun untuk melawan mereka.”

Ayat ini menerangkan bahwa sebagian orang musyrik Mekah mengemukakan alasan yang tidak dapat diterima oleh pikiran yang sehat. Mereka berkata, “Jika kami mengikuti petunjuk yang diberikan Muhammad kepada kami, dan agama yang diturunkan kepadanya, kami khawatir akan diusir dari negeri kami.

Orang-orang musyrik serta tokoh-tokoh bangsa Arab juga akan memusuhi kami dengan kekerasan sedang kami tidak mampu melawan mereka.” Dengan peringatan ini tampak bahwa mereka lebih takut kepada makhluk daripada Tuhan yang menciptakan mereka. Mereka tidak pernah membayangkan azab yang akan ditimpakan kepada mereka.

Mereka lupa bahwa mereka berada di daerah Haram yang sangat dihormati sejak dahulu kala, aman dan mendapat aneka macam rezeki dan buah-buahan. Apakah mereka mengira akan tetap aman dan sejahtera di daerah Haram yang aman itu kalau mereka tetap dalam kekafiran dan kemusyrikan. Tidak sedikit di antara mereka yang tidak mengetahui dan menyadari nikmat dan azab Allah yang akan diberikan kepada setiap orang sesuai dengan amal baik dan buruk mereka.

Mereka seharusnya mengetahui bahwa rezeki yang berlimpah itu datang dari Allah. Oleh karena itu, Dialah yang patut ditakuti dan ditaati bukan manusia, makhluk yang lemah dan serba kekurangan.

Ayat 58

Banyak penduduk negeri yang semula hidup bersenang-senang dengan kekayaan berlimpah ruah, tetapi karena mereka selalu membuat kerusakan dan tidak mensyukuri nikmat Allah, maka Allah menghancurkan negeri mereka dan hanya sedikit saja rumah-rumah mereka yang tersisa. Padahal Allah tidak akan menghancurkan suatu negeri selama penduduk negeri itu berbuat kebaikan, firman Allah:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ

Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (Hud/11: 117)

Setelah kaum itu hancur, maka tempat tinggal mereka menjadi gersang dan tidak dimakmurkan lagi, hingga negeri itu kembali kepada pemiliknya yang hakiki, yaitu Allah. Firman Allah:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَىِٕنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَاقَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat. (an-Nahl/16: 112)

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 59-62