Beranda blog Halaman 346

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 19-21

0
Tafsir Surah Ibrahim
Tafsir Surah Ibrahim

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 19-21 menjelaskan bahwa Allah swt tidak hanya menguasai langit dan bumi, namun segala macam pernak-pernik bumi dan langit juga berada dalam kekuasaan Allah. Maka tidak sukar bagi Allah untuk melakukan apapun termasuk membinasakan hamba-hamba-Nya yang ingkar lalu menggantikannya dengan makhluk lain yang lebih baik.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ibrahim Ayat 14-18


Tafsir Surah Ibrahim Ayat 19-21 juga menegaskan bahwa Allah tidak hanya menguasai segala yang ada di langit dan bumi, namun juga menguasai jiwa-jiwa manusia. Dan setelah mereka mati, mereka akan mempertangggugjawabkan amal mereka dihadapan Allah swt.

Ayat 19

Dalam ayat ini, Allah swt menyebutkan bahwa Dialah yang menciptakan planet bumi ini dengan langitnya (atmosfernya) dengan hak. Maksudnya, Allah menciptakan semuanya itu bukanlah dengan percuma melainkan penuh pengetahuan dan hikmah.

Secara ilmiah bumi kita dan atmosfernya, mengandung substansi atau materi yang mendukung adanya proses kehidupan. Atmosfer bumi 70% terdiri gas nitrogen (N2), yang bersifat inert (tak berbahaya bagi makhluk hidup), namun sangat dibutuhkan untuk timbulnya suatu proses kehidupan, apalagi oleh dunia flora (tanaman).

Sedang 20% dari atmosfer kita adalah gas oksigen (O2), yang sangat dibutuhkan dalam kelangsungan kehidupan semua makhluk hidup, karena oksigen akan memberikan energi untuk berlangsungnya proses metabolisme semua makhluk untuk kelangsungan hidupnya; melalui suatu proses yang kita kenal dengan respirasi (pernafasan).

Bumi kita sendiri 70% berisi air (H2O), suatu zat (molekul kimia) yang sangat diperlukan sebagai media berlangsungnya proses-proses reaksi metabolisme untuk suatu kehidupan. Jarak bumi dengan matahari cukup moderat, yaitu 92,9 juta Mil atau sekitar 139,35 juta Km; sehingga sinar matahari mampu mengkatalisis (membantu) berlangsungnya proses kehidupan.

Baik pada manusia (proses pembentukan vitamin D pada kulit), hewan, atau tumbuhan (asimilasi). Suhu bumi pada garis equator juga sangat moderat, rata-rata hanya 28-350C.

Bayangkan dengan planet-planet lain yang masih dalam berada dalam tata surya, seperti planet Mars, yang atmosfernya mayoritas berisi gas metana (CH4) yang mematikan, jarak dari matahari sekitar 141,6 juta Mil atau 212,40 juta Km; suhu permukaan planet Mars (pada equator) 0-10oC; jadi lebih dingin dibanding Bumi.

Atau Planet Venus dengan atmosfer yang sangat tebal dan jaraknya dengan matahari 67,2 juta Mil atau 100,80 juta Km, namun suhu planet tersebut cukup dingin karena adanya selimut atmosfer yang tebal. Suhu permukaan Venus pada equator diperkirakan -32oC.

Sedangkan planet Jupiter dan Saturnus yang masing-masing jaraknya dari matahari adalah 483,4 juta Mil (725,10 juta Km) dan 886,3 juta Mil(1329,45 juta Km) mempunyai suhu rata-rata permukaan planet pada equator -143oC. Atmosfer Jupiter dan Saturnus didominasi oleh gas ammoniak (NH3).

Jika Allah menghendaki, bumi dapat diubah dengan mudah menjadi kondisi seperti planet-planet itu, dan maka matilah semua makhluk bumi ini.

Oleh sebab itu, manusia yang telah dijadikan Allah sebagai khalifah-Nya di bumi ini hendaklah memanfaatkan semua itu dengan cara yang baik dan untuk tujuan yang baik pula, sesuai dengan peraturan dan ketentuan-Nya.

Akan tetapi, jika manusia itu menyimpang dari peraturan dan ketentuan Allah, maka Dia tidak akan membiarkan mereka berbuat kezaliman.

Maka pada akhir ayat ini, Allah swt menegaskan kepada rasul-Nya bahwa jika Dia menghendaki maka Dia akan membinasakan umatnya dan akan mengganti mereka dengan makhluk yang baru.

Penegasan ini adalah untuk mengingatkan rasul dan umatnya yang taat dan beriman kepada Allah, betapa besar dosa orang-orang kafir itu, karena dengan kekafiran tersebut mereka tidak mengakui kekuasaan Allah sebagai pencipta, dan pemelihara makhluk-Nya.

Apabila manusia memikirkan kekuasaan Allah dan rahmat-Nya terhadap manusia, niscaya mereka akan sampai kepada keyakinan bahwa hanya Allah sajalah yang berhak untuk disembah dan dipuji serta ditakuti azab dan siksa-Nya.

Ayat 20

Dalam ayat ini, Allah menegaskan pula bahwa memusnahkan semua itu tidaklah sukar bagi-Nya, karena Dialah pencipta dan penguasanya. Tidak ada sesuatupun yang kuasa menghalangi, apabila Dia menghendaki untuk menimpakan siksa kepada hamba-Nya.


Baca Juga : Tafsir Surat Yasin Ayat 33-35: Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Swt di Muka Bumi


Ayat 21

Dalam ayat ini, Allah swt menggambarkan keadaan yang akan terjadi kelak di Padang Mahsyar, di mana manusia dikumpulkan setelah mereka dibangkitkan dari kubur, untuk memperhitungkan amal kebajikan dan perbuatan jahat yang dilakukan masing-masing orang ketika di dunia.

Disebutkan dalam ayat ini, bahwa semua manusia akan berkumpul menghadap Allah di Padang Mahsyar, untuk dihisab dan mendengarkan keputusan Allah tentang nasib mereka selanjutnya.

Dan setelah selesai dihisab, dan orang yang berdosa telah ditetapkan akan disiksa dalam neraka, timbullah kesadaran dan penyesalan dari kaum yang lemah iman yang telah teperdaya oleh bujukan orang-orang yang sombong di dunia ini yang memperlakukan diri mereka sebagai tuhan, dan kaum yang lemah iman sebagai hamba.

Ketika itu, mereka yang lemah iman berkata kepada orang-orang sombong yang pernah menjadi ikutan mereka selagi di dunia, “Kami pernah menjadi pengikut-pengikut kamu ketika di dunia. Sekarang, dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab dan siksaan Allah, walaupun hanya sedikit saja?”

Selanjutnya, dalam ayat ini disebutkan jawaban orang-orang yang sombong itu atas pernyataan tersebut, “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, tentulah kami dapat pula memberi petunjuk kepada kamu.

Sekarang keadaan kita sama, harus memilih antara mengeluh dan menyesali perbuatan kita, atau bersabar menerima nasib yang telah ditetapkan Allah kepada kita. Kita sekali-kali tidak mendapatkan tempat untuk melarikan diri dari azab dan siksa-Nya.”

 Ayat ini menggambarkan dengan jelas, betapa besarnya kesalahan yang telah dilakukan kedua golongan itu.

Golongan pertama, yaitu mereka yang lemah iman, telah membiarkan diri mereka menjadi permainan kaum yang sombong di dunia ini, dan telah menghambakan diri kepada mereka, dan di akhirat ternyata yang mereka agungkan itu tak mampu membela diri mereka sendiri dari azab Allah, apalagi membela orang-orang lain yang telah mereka perhamba di dunia ini.

Sedang golongan kedua, telah melakukan penipuan kepada kaum lemah di dunia ini dan berlagak sebagai tuhan. Di akhirat mereka dituntut pula oleh para pengikutnya untuk membela dan menghindarkan mereka dari azab Allah, akan tetapi mereka tidak berdaya apa-apa, berhadapan dengan kekuasaan dan kebesaran Allah swt.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 22-25


 

Perintah Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka

0
Menjaga diri dan keluarga dari api neraka
Menjaga diri dan keluarga dari api neraka

Mempunyai keluarga bahagia merupakan dambaan semua orang. Selama masih di dunia, mereka berkesempatan menjadi orang tua yang menyayangi dan mengasihi anak-anaknya tanpa henti. Termasuk di antaranya, memiliki keturunan yang baik, berbakti dan selalu mendoakan orang tuanya sehingga mereka menjadi anak yang saleh dan salehah. Namun, di balik taraf kebahagiaan yang mereka dapat, ada kewajiban dan tanggung jawab yang harus diemban, yakni menjaga diri dan keluarga agar senantiasa dalam kondisi taat dan bertakwa. Semua itu agar terhindar dari kejamnya api neraka. Tugas tersebut telah dijelaskan dalam al-Qur’an surah At-Tahrim [66] ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim [66]: 6)

Ayat tersebut memperlihatkan gambaran api neraka yang sangat mengerikan, dijaga oleh beberapa malaikat “killer” dan galak, tugasnya tidak lain adalah patuh kepada semua perintah Allah, tidak sedikitpun mereka durhaka dari titah-Nya. Sedangkan manusia dan bebatuan menjadi bahan bakar neraka yang membara. Barang siapa yang dapat mengamalkan perintah al-Qur’an dalam ayat tersebut maka mereka termasuk orang-orang yang beriman.

Baca juga: Kriteria Perempuan Salihah dalam Surah At-Tahrim Ayat 11-12

Al-Mahalli dalam tafsirnya menjelaskan maksud “qū anfusakum wa ahlīkum” adalah menjaga diri dan keluarga agar senantiasa dalam kondisi taat kepada Allah swt. Kata “wa qụduhan-nāsu wal-ḥijāratu” bermakna bahan bakar neraka adalah manusia yang kafir dan bebatuan termasuk berhala-berhala sesembahan mereka. Maksudnya api neraka dapat membara dengan hal-hal tersebut, lain halnya dengan api dunia yang dapat membara dengan kayu dan lainnya.

Lanjut Al-Mahalli, menafsiri kata “’alaihā malā`ikatun” dengan arti sembilan belas malaikat penjaga neraka termaktub dalam ayat “’alaihā tis’ata ‘asyar” yang dijelaskan dalam surah Al-Muddassir [74] ayat 30. (Tafsir Al-Jalalain/1/752)

Kewajiban memperbaiki diri dan keluarga, menurut Al-Qurthubi, terbagi menjadi tiga klasifikasi, di antaranya:

  1. Diri sendiri

Wajib bagi seseorang agar memperbaiki dirinya agar senantiasa dalam kondisi taat, sebagaimana seorang pemimpin yang berbuat baik kepada rakyatnya. Dalam hadis sahih, Nabi saw berkata,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ)، قَالَ: وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ: (وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ)

Setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan ditanyai perihal kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanyai perihal kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan ditanyai perihal kepemimpinannya. Setiap perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai perihal kepemimpinannya. Setiap pembantu adalah pemimpin dalam menjaga harta majikannya dan akan ditanyai perihal kepemimpinannya. Setiap laki-laki juga pemimpin pada harta orangtuanya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. (HR. Al-Bukhari) (Sahih Al-Bukhari/4/5)

Baca juga: Tafsir Surah Al-Isra Ayat 72: Balasan di Akhirat bagi Orang yang Buta Hatinya

  1. Anak-anak

Al-Hasan menyatakan ayat tersebut bermakna “Perintahkan dan laranglah mereka”. Sebagian ulama mengatakan anak-anak termasuk yang harus dijaga karena mereka merupakan bagian dari keluarga. Ajari mereka membedakan mana perkara yang halal dan haram, menjauhkan mereka dari kemaksiatan dan perbuatan dosa dan sebagainya.

Nabi saw bersabda, “Di antara hak seorang anak atas orang tuanya adalah memberi nama baik, mengajari baca tulis, dan menikahkan mereka saat sudah balig”. (Al-Birr wa Ash-Shilah li Al-Husain ibn Harab/1/81)

Nabi saw bersabda, “Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama selain pendidikan yang baik”. (HR. Ahmad) (Musnad Al-Imam Ahmad/27/274)

Diriwayatkan dari Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi saw yang bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (Al-Musnad Al-Maudlu’i Al-Jami’ lil Al-Kutub Al-‘Asyrah/10/261)

Baca juga: Mengenal Kuliner Neraka dalam Al-Quran, dari Buah Zaqqum hingga Shadid

Selain perintah agar melaksanakan salat, juga wajib mengabarkan kepada anak-anak bahwa telah masuk waktu salat, termasuk juga mengingatkan waktu sahur dan waktu berbuka telah tiba. Keduanya itu dilakukan berdasarkan dengan melihat hilal.

  1. Istri

Diriwayatkan oleh Muslim, dari ‘Aisyah, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw saat telah melakukan salat witir, maka beliau berseru: “Witirlah wahai ‘Aisyah!“. (HR. Muslim) (Sahih Al-Muslim/1/511). Dalam hadis lain yang dikeluarkan Ibnu Majah, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ، فَإِنْ أَبَتْ رَشَّ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى، فَإِنْ أَبَى رَشَّتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ)

 “Semoga Allah menurunkan rahmat kepada seorang laki-laki yang bangun malam hari kemudian shalat, lalu membangunkan istrinya. Apabila istrinya menolak bangun, ia akan memercikkan air ke wajah istrinya. Semoga Allah juga menurunkan rahmat kepada seorang perempuan yang bangun malam hari kemudian shalat, lalu membangunkan suaminya. Jika suaminya menolak bangun, ia akan memercikkan air ke wajah suaminya.” (HR. Ibnu Majah) (Sunan Ibni Majah/1/424)

Senada dengan perkataan Nabi saw yang lain, “… Bangunkanlah mereka yang ada di dalam kamar”, hadis ini dikeluarkan oleh Malik dalam kitabnya. (Al-Muwatta/5/1340)

Hadis tersebut berdasarkan firman Allah surah Al-Maidah [5] ayat 2, “Wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa …” yang berarti saling menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.

Baca juga: Tafsir Q.S. Ali Imran [3]: 145: Menyoal Kematian dan Ragam Motif di Balik Amal

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa Al-Qusyairi menyebutkan, bahwa sahabat Umar bertanya kepada Nabi saw saat ayat ini turun, “Ya Rasulallah, kami akan menjaga diri kami, tetapi bagaimana cara kami menghindarinya (api neraka)?”, lalu Nabi saw menjawab, “Laranglah mereka dari perbuatan yang telah dilarang oleh Allah dan perintahkan mereka untuk melakukan perbuatan yang telah diperintahkan Allah”,

Lanjut Al-Qurthubi, mengutip pernyataan Muqatil yang berkata, “Semua hal tersebut diperuntukkan untuk diri sendiri, anak-anak, keluarga, budak laki-laki dan budak perempuan”. Sedangkan menurut Al-Kiya, “Wajib bagi kita untuk mengajari ilmu agama dan hal-hal yang baik kepada anak-anak dan keluarga kita, termasuk mengajari mereka berakhlak yang baik”. (Tafsir Al-Qurthubi/18/194-196)

Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 23-28

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 23-28 mengisahkan perjalanan Nabi Musa ke kota Madyan dan pertemuannya dengan dua gadis yang menahan tali kambingnya untuk mengambil air di sebuah sumber mata air Kota Madyan.

Dalam Tafsir Surah Al-Qasas ayat 23-28 juga diriwayatkan bahwa Nabi Musa akhirnya menikahi perempuan tersebut.

Selengkapnya baca Tafsir Surah Al-Qasas 23-28….


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ayat 23-28

Pada ayat ini dijelaskan bahwa pada akhirnya sampailah Musa ke sebuah sumber mata air di kota Madyan. Dilihatnya di sana orang-orang sedang ramai berdesak-desakan mengambil air dan memberi minum binatang ternak mereka. Di tempat yang agak rendah, tampak olehnya dua orang gadis memegang dan menahan tali kambingnya yang selalu hendak maju ke arah orang-orang yang mengambil air karena sudah sangat haus.

Melihat hal itu, timbullah rasa kasihan dalam hati Musa, lalu ia dekati kedua gadis itu hendak menanyakan mengapa tidak ikut bersama orang banyak mengambil air dan memberi minum kambing mereka. Keduanya menjawab, “Kami tidak dapat mengambil air kecuali orang-orang itu semuanya telah selesai mengambilnya, karena kami tidak kuat berebut dan berdesak-desakan dengan orang banyak.

Bapak kami sudah sangat tua, sehingga tidak sanggup datang ke mari untuk mengambil air. Itulah sebabnya kami terpaksa menunggu orang-orang itu pergi dan kami hanya dapat mengambil air, jika ada sisa-sisa air yang ditinggalkan mereka.”

Ayat 24

Dengan cepat Musa mengambil air untuk kedua gadis itu agar memberi minum kambing mereka. Karena kelelahan, ia berlindung di bawah sebatang pohon sambil merasakan lapar dan haus karena sudah beberapa hari tidak makan kecuali daun-daunan. Musa berdoa kepada Allah karena ia sangat membutuhkan rahmat dan kasih sayang-Nya, untuk melenyapkan penderitaan yang dialaminya.

Ayat 25

Pada ayat ini dijelaskan bagaimana akhir penderitaan yang dialami Musa dengan dikabulkan doanya oleh Allah. Tak disangka-sangka, datanglah salah seorang dari kedua gadis itu dengan agak malu-malu dan berkata kepada Musa bahwa ayahnya mengundang Musa datang ke rumahnya untuk sekadar membalas budi baik Musa yang telah menolong mereka mengambil air minum dan memberi minum binatang ternak mereka.

Musa dapat memahami bahwa kedua gadis itu berasal dari keluarga orang baik-baik, karena melihat sikapnya yang sopan dan di waktu datang kepadanya dan mendengar bahwa yang mengundang datang ke rumahnya itu bukan dia sendiri melainkan ayahnya. Kalau gadis itu sendiri yang mengundang, mungkin timbul kesan yang tidak baik terhadapnya.

Para mufasir berbeda pendapat tentang ayah gadis itu apakah dia Nabi Syuaib atau bukan. Sebagian ulama berpendapat bahwa ayah kedua gadis itu adalah seorang pemuka agama yang saleh dan telah berusia lanjut. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ayah wanita itu adalah Nabi Syuaib tidak bisa diterima karena Nabi Syuaib hidup jauh sebelum Nabi Musa.

Akhirnya berangkatlah Musa bersama gadis itu ke rumah orang tua mereka. Setelah sampai, Musa menceritakan kepada orang tua gadis itu riwayat hidupnya bersama Fir’aun, bagaimana kesombongan dan penghinaannya terhadap Bani Israil, sampai kepada keputusan dan perintah untuk membunuhnya, sehingga ia lari dari Mesir karena takut dibunuh. Orang tua itu mendengarkan cerita Musa dengan penuh perhatian.

Setelah Musa selesai bercerita, orang tua itu berkata kepadanya, “Engkau tidak perlu merasa takut dan khawatir karena engkau telah lepas dari kekuasaan orang-orang zalim itu. Mereka tidak akan dapat menangkapmu, karena engkau telah berada di luar batas kerajaan mereka.” Dengan demikian, hati Musa merasa tenteram karena ia sudah mendapat perlindungan di rumah seorang pemuka agama yang besar pengaruhnya di kawasan tersebut.

Ayat 26

Rupanya orang tua itu tidak mempunyai anak laki-laki dan tidak pula mempunyai pembantu. Oleh sebab itu, yang mengurus semua urusan keluarga itu hanyalah kedua putrinya saja, sampai keduanya terpaksa menggembala kambing mereka, di samping mengurus rumah tangga. Terpikir oleh salah seorang putri itu untuk meminta tolong kepada Musa yang tampaknya amat baik sikap dan budi pekertinya dan kuat tenaganya menjadi pembantu di rumah ini.

Putri itu mengusulkan kepada bapaknya agar mengangkat Musa sebagai pembantu mereka untuk menggembala kambing, mengambil air, dan sebagainya karena dia seorang yang jujur, dapat dipercaya, dan kuat tenaganya. Usul itu berkenan di hati bapaknya, bahkan bukan hanya ingin mengangkatnya sebagai pembantu, malah ia hendak mengawinkan salah satu putrinya dengan Musa.

Ayat 27

Dengan segera orang tua itu mengajak Musa berbincang. Dengan terus terang dia mengatakan keinginannya untuk mengawinkan Musa dengan salah seorang putrinya. Sebagai mahar perkawinan ini, Musa harus bekerja menggembalakan kambing selama delapan tahun, kalau Musa menyanggupi  bekerja sepuluh tahun maka itu lebih baik.

Ini adalah tawaran yang amat simpatik dan amat melegakan hati Musa, sebagai seorang pelarian yang ingin menghindarkan diri dari maut, seorang yang belum yakin akan masa depannya, apakah ia akan terlunta-lunta di negeri orang, karena tidak tentu arah yang akan ditujunya. Apalagi yang lebih berharga dan lebih membahagiakan dari tawaran itu? Tanpa ragu-ragu Musa telah menetapkan dalam hatinya untuk menerima tawaran tersebut.

Para ulama mengambil dalil dengan ayat ini bahwa seorang bapak boleh meminta seorang laki-laki untuk menjadi suami putrinya. Hal ini banyak terjadi di masa Rasulullah saw, bahkan ada di antara wanita yang menawarkan dirinya supaya dikawini oleh Rasulullah saw atau supaya beliau mengawinkan mereka dengan siapa yang diinginkannya.

Umar pernah menawarkan anaknya Haf¡ah (yang sudah janda) kepada Abu Bakar tetapi Abu Bakar hanya diam. Kemudian ditawarkan kepada ‘U£man, tetapi ‘U£man meminta maaf karena keberatan. Hal ini diberitahukan Abu Bakar kepada Nabi. Beliau pun menenteramkan hatinya dengan mengatakan, “Semoga Allah akan memberikan kepada Haf¡ah orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan ‘Utsman.” Kemudian Haf¡ah dikawini oleh Rasulullah.

Ayat 28

Musa menerima tawaran itu dan berjanji kepada orang tua kedua gadis itu bahwa dia akan memenuhi syarat-syarat yang disepakati dan akan memenuhi salah satu dari dua masa yang ditawarkan, yaitu delapan atau sepuluh tahun. Sesudah itu tidak ada kewajiban lagi yang harus dibebankan kepadanya. Musa juga menyatakan bahwa Allah yang menjadi saksi atas kebenaran apa yang telah diikrarkan bersama.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 29-34


Tafsir Surah Al-Qasas ayat 18-22

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 18-22 mengisahkan Nabi Musa dan seorang laki-laki dari kaum Bani Israil yang berkelahi dengan orang Mesir. Selain itu Tafsir Surah Al-Qasas ayat 18-22 menjelaskan pula bagaimana bingungnya Musa sebab pukulannya kapan hari justru membunuh.

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 18-22 menceritakan bagaimana rencana Fir’aun dan pembesarnya untuk membunuh Musa yang oleh Allah swt Musa mendapat pertolongan hingga selamat dari kejaran Fir’aun. Selengkapnya baca Tafsir Surah Al-Qasas ayat 18-22…


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 13-17


Ayat 18-19

Pengampunan Allah telah menjadikan hatinya lega dan lapang, tetapi bagaimana dengan penduduk asli Mesir di mana ia hidup di kalangan mereka? Apakah mereka akan membiarkan saja bila pembunuhan itu mereka ketahui?

Inilah yang sangat mengganggu ketenteraman hati Musa dan selalu menjadi beban pikirannya. Oleh sebab itu, dengan sembunyi-sembunyi  Musa mencari informasi apakah perbuatannya itu telah diketahui orang, dan bila mereka telah mengetahuinya, bagaimana sikap mereka? Tindakan apakah yang akan mereka ambil terhadapnya?

Ketika ia menyusuri kota itu, kelihatan olehnya orang yang ditolong dahulu dan berteriak lagi minta tolong agar ia membantunya sekali lagi melawan orang Mesir yang lain. Rupanya orang yang ditolongnya dahulu itu kembali terlibat dalam perkelahian dengan orang Mesir lainnya.

Mungkin orang itu meminta kepadanya supaya ia membunuh orang Mesir itu sebagaimana ia telah membunuh dahulu. Tergambarlah dalam otaknya bagaimana ia telah dosa dengan pembunuhan itu, tetapi Tuhan dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, telah mengampuni kesalahannya. Apakah ia akan berbuat kesalahan lagi, apalagi ia telah berjanji dengan Tuhannya bahwa dia tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu.

Oleh sebab itu, Musa berkata kepada orang Israil itu bahwa ia adalah orang yang sesat. Akan tetapi, tergambar pula dalam pikirannya bagaimana nasib kaumnya yang terhina dan selalu dianiaya oleh orang-orang Mesir, maka bangkit pulalah rasa amarahnya dan hampir saja ia menyerang orang Mesir itu. Namun sebelum ia menyerang, orang Mesir itu membentaknya dengan mengatakan apakah ia hendak membunuhnya seperti ia membunuh kawannya kemarin?

Rupanya orang itu sudah mengenali wajah Musa karena orang-orang di kota ramai membicarakan pembunuhan itu dan pelakunya.

Kemudian orang Mesir itu membentaknya dan mengatakan, “Sesungguhnya engkau telah bertindak sewenang-wenang di muka bumi. Engkau bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat baik.” Dengan bentakan itu, Musa sadar dan ingat akan janjinya bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi sehingga dia tidak jadi memukul orang itu.

Menurut pendapat sebagian mufasir yang mengucapkan kata-kata tersebut kepada Musa bukanlah orang Mesir tetapi orang Israil yang telah ditolongnya, karena Musa menuduhnya sebagai orang yang sesat dan hendak memukulnya.

Baca Juga: Meski di Bawah Pimpinan Firaun, Allah Tak Perintahkan Nabi Musa Untuk Berontak

Ayat 20

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa seorang laki-laki dari kaum Fir’aun, yang bersimpati kepada Musa, ikut menghadiri musyawarah yang diadakan Fir’aun bersama pembesar-pembesarnya. Dalam musyawarah diputuskan bahwa Musa harus dibunuh. Orang laki-laki yang ikut musyawarah tersebut datang menjumpai Musa untuk memberitahukan kepadanya rencana jahat itu, karena ia sangat bersimpati dan hormat kepadanya.

Ia minta supaya Musa segera meninggalkan Mesir. Kalau tidak, mungkin ia akan tertangkap dan dibunuh karena mereka sedang menyiapkan tentara rahasia untuk mengepung dan menangkapnya. Ia menyatakan kepada Musa semua yang dibicarakannya itu adalah benar dan ia menasihati Musa agar lari dengan segera. Nasihat itu benar-benar timbul dari hatinya yang ikhlas demi keselamatan Musa sendiri.

Ayat 21

Mendengar nasihat yang dikemukakan oleh orang itu dan melihat sikapnya yang menampakkan kejujuran dan keikhlasan, dengan segera Musa berangkat dalam keadaan selalu waspada, karena di belakangnya beberapa orang tentara Fir’aun telah siap-siap untuk mengepung dan menangkapnya.

Alangkah beratnya tekanan yang diderita Musa. Walaupun demikian, ia tetap berusaha menyelamatkan dirinya dan berdoa kepada Allah, “Hai Tuhanku Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bebaskanlah aku dari cengkeraman kaum Fir’aun yang aniaya. Allah mengabulkan doanya dan menunjukkannya jalan menuju Madyan.

Menurut riwayat, Fir’aun memerintahkan kepada tentaranya supaya mengejar Musa sampai ke jalan-jalan kecil dan melarang mereka melalui jalan raya karena ia yakin bahwa Musa tidak mungkin akan menempuh jalan itu.

Ayat 22

Setelah Musa mengetahui bahwa jalan yang ditempuhnya itu adalah jalan yang biasa dilalui orang menuju ke Madyan, ia yakin bahwa ia tidak akan tersesat menempuh padang pasir yang luas itu. Apalagi ia telah berdoa kepada Tuhannya agar selalu ditunjuki ke jalan yang lurus. Akan tetapi, walaupun jalan yang ditempuhnya itu adalah jalan raya yang biasa dilalui orang, namun jarak yang harus ditempuhnya sangat jauh sekali, sedangkan dia tidak membawa bekal karena ia tergesa-gesa meninggalkan kota Mesir.

Diriwayatkan bahwa Musa berjalan selama delapan hari delapan malam, tanpa makanan dan dengan kaki telanjang. Tak ada yang bisa dimakan kecuali daun-daun kayu. Namun demikian, hatinya tetap tabah dan semangatnya tetap membaja karena ia luput dari kejaran Fir’aun.

Dia telah selamat dari jebakan Fir’aun di waktu kecilnya, padahal banyak bayi laki-laki dari Bani Israil mati dibunuh, dan sekarang ia telah bebas dari kejaran Fir’aun di waktu ia sudah dewasa. Semua itu adalah karena rahmat dan lindungan Allah. Oleh karena itu, ia yakin dalam perjalanan yang jauh dan sulit itu, ia akan tetap berada dalam lindungan-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 23-28


Al-Qur’an Terjemah Bahasa Bali Pertama: Cakepan Suci Al-Qur’an Salinan Ring Basa Bali

0
Al-Qur’an Terjemah Bahasa Bali Pertama
Al-Qur’an Terjemah Bahasa Bali Pertama

Bali sudah tak diragukan lagi oleh keragaman masyarakat dan budayanya. Wilayah yang berjulukan “Pulau Seribu Pura” ini tentu tak pernah habis menarik perhatian khalayak. Walapun sebagai minoritas, muslim di Bali memiliki posisi yang strategis. Hal ini ditandai dengan adanya Al-Qur’an terjemah bahasa Bali yang masih jarang disentuh para akademisi.

Berbicara tentang khazanah keislaman, Al-Qur’an tentu menjadi hal yang tak pernah bisa dipisahkan oleh penganutnya. Al-Qur’an menjadi pedoman kehidupan sekaligus sumber utama umat muslim. Namun di sini timbul pertanyaan, “apakah setiap orang dapat memahami makna Al-Qur’an yang berbahasa Arab?” Jawabannya sudah tentu tidak.

Baca juga: Tafsir Surah Al-Isra Ayat 72: Balasan di Akhirat bagi Orang yang Buta Hatinya

Masyarakat Indonesia, khususnya Bali, terkendala dalam memahami bahasa Arab, apalagi bahasa Al-Qur’an. Oleh karena itu, H. Ahmad Iwan Darmawan alias I Wayan Rupa Mengwi mengambil peluang ini sebagai langkah untuk membumikan Al-Qur’an di “Pulau Dewata”.

Menurut Islah Gusmian, dalam Khazanah Tafsir Indonesia: dari Hermeneutika hingga Ideologi, sejarah penafsiran maupun penerjemahan Al-Qur’an di Nusantara sudah dilakukan oleh para ulama sekitar empat abad yang lalu.

Kita mengenal Tafsir Tarjuman Mustafid karya Abd Rauf Singkel, kemudian Tafsir Faid Ar-Rahman karya Muhammad Soleh Ibn Umar Al-Samarani atau Mbah Soleh Darat, dan masih banyak karya ulama Nusantara lainnya. Semua tafsir tersebut tentu ditujukan untuk memudahkan masyarakat memahami Al-Qur’an dan sebagian besar menggunakan istilah lokal untuk memudahkan penyampaian maknanya.

Berbeda dengan Bali, sekalipun Islam sudah eksis sejak abad ke 15, keberadaan Al-Qur’an terjemah Bahasa Bali sangat jarang diketahui oleh masyarakat. Namun pada tahun 2017, Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama RI 2014-2019) meluncurkan Al-Quran Terjemah Bahasa Bali. Dari info yang penulis temukan, KH. Mustafa Al-Amin (salah satu tim penerjemah Al-Qur’an Terjemah Bahasa Bali) menyatakan bahwa karya ini merupakan Al-Quran Terjemah Bahasa Bali pertama yang pernah ada.

Baca juga: Tafsir Surah Abasa Ayat 1-10: Kesamaan dalam Islam Menurut Wahbah Al-Zuhaili

Namun penulis menemukan fakta menarik bahwa Cakepan Suci Al-Qur’an Salinan Ring Basa Bali merupakan Al-Qur’an terjemah bahasa Bali yang lebih awal dari yang diinisiasi oleh Kementrian Agama. Terbukti karya I Wayan Rupa Mengwi ini sudah 28 tahun lebih tua, tepatnya pada tahun 1989. Hanya saja, Al-Qur’an karya H. Ahmad Iwan Darmawan ini masih asing di telinga masyarakat.

Profil H. Ahmad Iwan Darmawan (I Wayan Rupa Mengwi)

Iwan Darmawan lahir di Denpasar pada 26 Desember 1937 dari pasangan I Made Rengkung dan I Nyoman Regug. Ia hanya memiliki adik bernama I Made Pasek. Iwan Darmawan hidup di lingkungan beragama Hindu. Beliau memeluk Islam pada tahun 1961 dan berbaiat sebagai anggota Jamaah Ahmadiyah Indonesia.

Semasa kecil, Ia tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren ataupun dalam bidang Al-Qur’an dan tafsir. Iwan Darmawan dididik untuk memiliki rasa penasaran yang besar oleh ayahnya dengan selalu mengajaknya belajar dan mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat guna memperdalam keilmuannya. Iwan Darmawan merupakan lulusan dari sekolah farmasi yang bertugas menjadi mubaligh di Lombok kala itu.

Baca juga: Berikut Ini Adalah Cara Meraih Kebahagiaan Menurut Al-Quran

Karya-karya beliau antara lain; Cakepan Suci Al-Qur’an Salinan Ring Basa Bali, Kutipan-kutipan Saking Al-Qur’an Suci Ring Bahasa Bali, Singkatan Isi Surah-surah Kitab Suci Al-Qur’an, dan beberapa kitab lainnya. Tiga karya beliau yang penulis sebut berkaitan dengan Al-Qur’an. Hanya saja, sekali lagi, karya-karya beliau tidak dikenal luas oleh masyarakat.

Ket. Foto H. Ahmad Iwan Darmawan alias I Wayan Rupa Mengwi bersama istri
Ket. Foto H. Ahmad Iwan Darmawan alias I Wayan Rupa Mengwi bersama istri

Cakepan Suci Al-Qur’an Salinan Ring Basa Bali

Iwan Darmawan menyusun Al-Qur’an terjemah ini dalam rangka memperingati satu abad Jamaah Ahmadiyah Internasional pada tahun 1989.  Karya ini diterbitkan oleh Islam International Publications Limited Islamabad, Sheephatch Lane, Tilford, England dan dicetak oleh Percetakan YWD, Jakarta. Adapun yang di tangan penulis ini merupakan edisi kelima tahun 2007.

Baca juga: Tiga Fungsi Pokok Al-Quran [3]: Makna Al-Furqan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185

Kitab yang terdiri dari 305 halaman ini berisi 7 juz Al-Qur’an yang mencakup 5 surah yaitu: Al-Fatihah, Al-Baqoroh, Ali Imron, An Nisa, dan Al-Maidah. Sampulnya berwarna hijau gelap dan hanya terdapat tulisan judul dan pengarang. Adapun kertas yang digunakan ialah HVS dan isinya ditulis menggunakan mesin ketik. Sistematika penulisannya dengan meletakkan ayat al-Qur’an di bagian kanan dan terjemahnya dalam bahasa Bali di bagian kiri kertas.

Ket. Foto salah satu halaman dari Cakepan Suci Al-Qur’an Salinan Ring Basa Bali.
Ket. Foto salah satu halaman dari Cakepan Suci Al-Qur’an Salinan Ring Basa Bali.

Refrensi yang digunakan oleh Iwan Darmawan yaitu Al-Qur’an Terjemah dan Tafsir Singkat karya Jamaah Ahmadiyah Indonesia. Dalam prosesnya, Iwan Darmawan tidak menggunakan metode yang rumit. Ia hanya melihat keterkaitan makna yang terdapat dalam refrensi berbahasa Indonesia kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Bali.

Ket. Foto cover Al-Qur’an Terjemah dan Tafsir SIngkat Jamaah Ahmadiyah Indonesia.
Ket. Foto cover Al-Qur’an Terjemah dan Tafsir SIngkat Jamaah Ahmadiyah Indonesia.

Validitas kesesuaian terjemah yang dilakukan oleh Iwan Darmawan ini perlu dikaji lebih jauh dan tentu memerlukan riset yang mendalam. Jika ditilik dari ranah akademis, Al-Qur’an ini tentu tidak memenuhi kriteria, baik dari pengarangnya maupun kontennya. Namun di sisi lain, sebagai wilayah yang mayoritas beragama Hindu, Al-Qur’an ini menjadi penanda bahwa muslim di Bali turut andil menyumbangkan khazanah Al-Qur’an di Nusantara. Wallahu a’lam.

Inilah Lima Fadilah Membaca Al-Qur’an Menurut Hadis-Hadis Sahih

0
Fadilah membaca Al-Qur’an
Fadilah membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an adalah salah satu ibadah yang dianjurkan dalam ajaran Islam. Sebab, ketika seseorang membaca Al-Qur’an, berarti ia sedang memahami sumber ajaran Islam dan pada saat yang bersamaan ia seakan-akan berkomunikasi dengan Allah swt. Di samping itu, fadilah membaca Al-Qur’an ada banyak seperti mendapatkan syafaat, pahala dan keberkahan.

Membaca Al-Qur’an adalah rutinitas harian nabi Muhammad saw. Imam al-Tirmidzi dalam kitabnya asy-Syamail al-Muhammadiyyah menuturkan bahwa nabi saw senantiasa membaca Al-Qur’an pada berbagai kesempatan, baik dalam ibadah mahdah maupun dalam keadaan santai. Tidak hanya itu, perilaku beliau sehari-hari juga mencerminkan Al-Qur’an yang dibacanya.

Hal serupa diriwayatkan oleh Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin. Ia menyebutkan berbagai kebiasaan nabi Muhammad saw ketika membaca Al-Qur’an; salah satunya adalah beliau selalu membaca Al-Qur’an dengan jelas dan terang kata demi kata, kalimat per kalimat dan ayat demiki ayat sesuai tajwid, tidak ada satu pun huruf yang terdengar samar atau tidak jelas.

Baca Juga: Hukum Membaca Surat-Surat Al-Qur’an Tanpa Berurutan

Kebiasaan nabi saw membaca Al-Qur’an tersebut kemudian diikuti oleh para sahabat dan generasi setelahnya. Bahkan disebutkan dalam Siyar A’lam Nubala (4/209), para budak muslim di masa nabi saw yang notabene memiliki kegiatan padat dan berat senantiasa berusaha membaca Al-Qur’an setiap hari dan sebanyak mungkin. Suatu semangat yang patut untuk kita – manusia merdeka – tiru.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan hal yang sama dalam al-Thabaqat al-Kabir (7/113). Disebutkan bahwa para budak – salah satunya Abu al-‘Aliyah ar-Rayahi – sering mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam. Kebiasaan ini mereka lakukan dengan semangat dan giat, namun pada saat yang sama hal itu memberi beban yang ukup berat bagi tubuh, karena pada siang hari mereka harus bekerja seharian.

Ketika nabi Muhammad saw mendengar hal ini, beliau lalu menyarankan mereka untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu sepekan, bukan semalam. Saran ini beliau sampaikan agar mereka bisa mengistirahatkan tubuh yang lelah setelah seharian bekerja dan agar membaca Al-Qur’an tidak menjadi suatu kegiatan yang terasa berat (menyusahkan) sehingga tidak dilakukan secara maksimal.

Kegigihan para sahabat di atas adalah sikap yang patut diteladani oleh muslim Abad ini. Sesibuk apa pun seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, hendaknya ia meluangkan waktunya – barang – sejenak untuk membaca Al-Qur’an dengan khusyuk dan khudu’. Imam an-Nawawi dalam al-Tibyan mengatakan, “Sepantasnya seseorang menjaga rutinitas dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.”

Lima Fadilah Membaca Al-Qur’an Menurut Hadis

Selain merupakan sunah nabi dan kebiasaan ulama terdahulu, membaca Al-Qur’an juga memiliki keutamaan tertentu. Fadilah membaca Al-Qur’an ini dapat didapatkan oleh siapa saja yang dengan tulus melafalkan kalam Ilahi. Melalui ketulusan dan kehadiran hati, ia akan mampu menikmati bacaan Al-Qur’an seakan-akan sedang berdialog dengan Allah swt.

Fadilah membaca Al-Qur’an banyak disebutkan dalam hadis nabi Muhammad saw untuk memotivasi umat Islam untuk men-tadabburi Kalamullah, di antaranya:

  1. Termasuk dalam golongan manusia terbaik

Fadilah membaca Al-Qur’an yang pertama adalah membuat pelakunya termasuk ke dalam golongan manusia terbaik. Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dari Utsman bin Affan yang berbunyi:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

  1. Mendapatkan karunia tiada taranya

Fadilah membaca Al-Qur’an yang kedua adalah membuat pelakunya mendapatkan karunia tiada taranya. Nabi Muhammad saw bahkan menyebutkan bahwa seseorang tidak sepantasnya cemburu kepada orang lain kecuali terhadap dua golongan dan salah satunya adalah ahli Al-Qur’an yang mengamalkannya. Ini menunjukkan begitu besar karunia yang mereka dapatkan.

Dari Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak diperbolehkan hasad (iri hati) kecuali terhadap dua orang: Orang yang dikaruniai Allah (kemampuan membaca/menghafal Al-Quran). Lalu ia membacanya malam dan siang hari, dan orang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menginfakannya pada malam dan siang hari.” (Hr. Bukhari, Tarmidzi, dan Nasa’i)

Menurut Imam Nawawi, hadis ini berbicara mengenai kebolehan merasa iri terhadap orang yang dikaruniai Al-Qur’an dan mengamalkannya serta pemilik harta yang menyedekahkan hartanya di jalan Allah swt. Pemahaman serupa disampaikan oleh sebagian ulama, bahwa hadis ini berisi tentang hukum iri terhadap dua golongan tersebut.

Terlepas dari pandangan di atas, sebenarnya tujuan utama hadis riwayat Ibnu Umar ini bukanlah soal hukum iri, melainkan penegasan terhadap ketinggian karunia yang didapatkan oleh dua golongan tersebut. Hadis ini seakan berkata, “iri itu tidak diperbolehkan sama sekali karena tidak ada manfaatnya. Kalaupun boleh, maka irilah kepada dua golongan, yakni ahli Al-Qur’an dan ahli sedekah, karena mereka mendapatkan kemuliaan tertinggi.”

  1. Mendapatkan syafaat

Fadilah membaca Al-Qur’an yang ketiga adalah membuat pelakunya mendapat syafaat di akhirat kelak. Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat muslim dari Abu Umamah al-Bahili ra yang berbunyi:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya” (HR. Muslim).

Fadilah membaca Al-Qur’an ini diperkuat oleh hadis nabi Muhammad saw yang menyatakan bahwa kelak (di hari kiamat) Al-Qur’an akan datang memohon secara langsung kepada Tuhannya agar menganugerahkan kepada pembacanya sebuah mahkota kemuliaan. Kemuliaan ini tidak dapatkan oleh seseorang kecuali bagi yang gemar dan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Beliau bersabda:

Kelak di hari kiamat Al-Qur’an akan datang, seraya memohon kepada Tuhannya: ‘Wahai Tuhan, pakaikanlah kepadanya (pembaca Al-Qur’an)!’ Kemudian ia dipakaikan mahkota kemuliaan. Kemudian ia memohon kembali, ‘Wahai Tuhan, tambahkanlah!’ Kemudian dipakaikan pakaian kemuliaan. Kemudian ia memohon lagi, ‘ Wahai Tuhan, ridailah dia!’ Kemudian Allah pun meridainya. Maka ia berkata: bacalah dan naiklah. Sebab setiap satu ayat akan dilipatkan satu kebaikan.” (HR. Tirmidiz).

  1. Mendapatkan ganjaran pahala berlipat ganda

Fadilah membaca Al-Qur’an yang keempat adalah mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Sebab, setiap huruf bacaan huruf Al-Qur’an akan bernilai satu kebaikan. Artinya, hanya dengan membaca al-fatihah yang terdiri dari 139 huruf, seseorang akan mendapatkan 139 kebaikan pula. Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ra yang berbunyi:

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.

Artinya: “Abdullah bin ra berkata: Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf’.” (HR. Tirmidzi).

  1. Dikumpulkan bersama para malaikat

Fadilah membaca Al-Qur’an yang kelima adalah membuat pelakunya dikumpulkan bersama para malaikat. Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra yang berbunyi:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ (متفق عليه).

Artinya: “Orang yang pandai membaca Al-Qur`an, dia bersama para malaikat yang mulia dan patuh. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur`an dengan terbata-bata dan berat melafalkannya, maka dia mendapat dua pahala.” (Muttafaqun Alaih).

Berdasarkan penjelasan di atas, membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia. Ibadah ini memiliki keutamaan yang dapat menghantarkan pelakunya mendapatkan kemuliaan tertinggi. Sebagai catatan, membaca Al-Qur’an hendaknya dilakukan dengan khusuk dan khudu’. Kemudian, apa yang dikejar bukanlah kuantitas, melainkan kualitas dan konsistensi bacaan. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 13-17

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Sesuai dengan janji Allah dalam Tafsir Surah Al-Qasas ayat 13-17 Musa dikembalikan kepada ibunya sehingga ia pun tidak bersedih hati lagi. Dikisahkan pula dalam Tafsir Surah Al-Qasas ayat 13-17 ini bahwa Allah mengaruniakan Musa ilmu serta hikmah.

Khusus pada ayat 15-17 Tafsir Surah Al-Qasas ayat 13-17 dikisahkan Musa pergi ke Mesir dan disana terjadi suatu hal yang luar keinginannya. Selengkapnya baca Tafsir Surah Al-Qasas ayat 13-17 di bawah ini…

Ayat 13

Ayat ini menerangkan bahwa janji Allah kepada ibu Musa telah terlaksana yaitu mengembalikan Musa kepadanya supaya hatinya menjadi tenteram dan tidak lagi merasa sedih. Demikian pula Allah telah menepati janji-Nya untuk mengangkat Musa menjadi rasul, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Siapa yang mengira bahwa seorang anak yang telah diincar maut karena dia anak dari Bani Israil kemudian disayangi dan diasuh dalam istana dengan penuh rasa cinta dan kasih dengan harapan dia akan berjasa bila dia dewasa. Akan tetapi, ternyata anak itu akan menjadi rasul dan menentang kekuasaan Fir’aun, bahkan meruntuhkan kerajaan itu sendiri.

Ayat 14

Pada ayat-ayat ini diterangkan bahwa setelah dewasa, Allah mengaruniakan kepada Musa ilmu dan hikmah karena ketaatan dan kepatuhannya kepada Tuhan serta kesabarannya menghadapi berbagai cobaan. Sudah sewajarnyalah bila Musa mengetahui dari ibunya bagaimana ia sampai dapat tinggal di istana keluarga raja Fir’aun, padahal ia hanya anak orang biasa dari Bani Israil yang selalu dihina dan diperhamba oleh Fir’aun dan kaumnya.

Hal ini akan menimbulkan simpati Musa kepada Bani Israil walaupun Fir’aun telah berjasa mendidik dan mengasuhnya semenjak kecil sampai menjadi seorang laki-laki dewasa yang sehat wal afiat, baik fisik maupun mentalnya.

Rasa simpati kepada kerabat dan kaumnya adalah naluri yang tidak dapat dipisahkan dari jiwa seseorang, apalagi dari diri Musa yang setiap hari melihat Bani Israil ditindas dan dianiaya oleh orang-orang Qibthi penduduk negeri Mesir. Akan tetapi, berkat kesabaran yang dimilikinya, sebagai karunia Allah, ia dapat menahan hatinya sampai Allah memberikan jalan baginya untuk mengangkat kaumnya dari lembah kehinaan dan penderitaan.

Karena kesabaran, kebaikan budi dan tingkah laku, serta kepatuhannya menjalankan ajaran agama, Musa dikaruniai Allah ilmu dan hikmah sebagai persiapan untuk diangkat menjadi rasul. Ia diutus untuk menyampaikan risalah Allah kepada kaumnya dan Fir’aun yang sangat sombong, takabur, dan mengangkat dirinya sebagai tuhan.

Ayat 15

Pada suatu hari, Musa menyelinap masuk ke kota tanpa diketahui orang banyak, ketika orang-orang sedang tidur siang hari sesudah waktu Zuhur. Di sana ia melihat dua orang sedang berkelahi, yang seorang dari kaum Bani Israil dan seorang lagi dari penduduk asli negeri Mesir yang dianggapnya sebagai musuh karena selalu menghina dan menganggap rendah golongan Bani Israil. Orang yang berasal dari Bani Israil berteriak meminta tolong untuk melepaskan diri dari kekejaman lawannya.

Didorong rasa fanatik kepada kaumnya, dengan cepat Musa memburu orang Mesir itu. Karena amarah dan tanpa memikirkan akibat perbuatannya, Musa memukul orang Mesir itu dengan sekuat tenaga. Akibat pukulan itu, orang Mesir itu roboh seketika dan mati. Sebenarnya Musa tidak  berniat sama sekali hendak membunuhnya, tetapi ternyata orang itu mati hanya dengan sekali pukulan saja.

Musa amat menyesal atas ketelanjurannya dan menganggap tindakannya itu salah, tindakan yang tergopoh-gopoh. Dia berkata kepada dirinya sendiri bahwa perbuatannya adalah perbuatan setan yang selalu memperdayakan manusia agar melakukan kezaliman dan maksiat. Sesungguhnya ia telah terperosok masuk perangkap setan yang menjadi musuh manusia dan selalu berusaha untuk menyesatkannya.

Ayat 16-17

Pada ayat ini dijelaskan bahwa di saat menyadari kesalahannya, Musa memohon ampun kepada Tuhan, seraya berkata, “Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dengan melakukan pembunuhan terhadap orang yang tidak boleh dibunuh. Maka ampunilah dosaku dan janganlah Engkau siksa aku karena perbuatan yang tidak kusengaja itu.”

Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, mengampuni kesalahan Musa. Dengan pengampunan itu, hati Musa menjadi tenteram dan bebas dari kebimbangan dan kesusahan memikirkan nasibnya karena melakukan perbuatan dosa. Sesungguhnya pengampunan itu adalah rahmat dan karunia Allah. Di antara karunia Allah kepada Musa disebutkan dalam firman-Nya:

وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنٰكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنّٰكَ فُتُوْنًا

Dan engkau pernah membunuh seseorang, lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar) dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat). (Thaha/20: 40)

Musa berjanji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi dan tidak akan menjadi penolong bagi orang yang melakukan kesalahan. Apalagi pertolongan itu akan menyebabkan penganiayaan atau pembunuhan dan mencelakakan diri sendiri.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 18-22


Tafsir Surah Al-Isra Ayat 72: Balasan di Akhirat bagi Orang yang Buta Hatinya

0
Balasan bagi orang yang buta hati
Balasan bagi orang yang buta hati

Manusia diciptakan tak lain hanyalah untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah. Darmabakti yang harus dilakukan yaitu dengan melaksanakan semua perintah Allah (imtitsalul awamir) dan menjauhi segala larangan-Nya (ijtinabun nawahi). Semua itu harus dilakukan demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat (sa’adatuddarain) karena yang demikian merupakan tanda-tanda bagi yang beriman. Namun kenyataannya, tidak semua manusia bisa melanggengkan diri dalam kebaikan. Ada yang suka maksiat bahkan fasik. Di antara mereka yang keadaannya buruk kelak di akhirat ialah orang-orang yang buta hatinya. Dalam surah Al-Isra’ [17] ayat 72 Allah berfirman:

وَمَنْ كَانَ فِى هَٰذِهِۦٓ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلْأَخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيْلًا

Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar). (QS. Al-Isra’ [17]:72)

Ayat di atas menjelaskan bahwa seorang hamba selama di dunia tidak menjaga hatinya dengan benar, maka di akhirat nanti ia dalam keadaan yang sama semasa hidup di dunia, bahkan menyimpang dari jalan yang lurus.

Dalam tafsirnya, As-Suyuthi menafsirkan kata “هٰذِهِ” berarti dunia. Kata “أَعْمَىٰ” yang pertama berarti tidak dapat melihat kebenaran. Kata “أَعْمَىٰ” yang kedua berarti tidak dapat melihat jalan keselamatan dan tidak dapat membaca al-Qur’an. Sedangkan kata “وَأَضَلُّ سَبِيْلًا” ini turun bersamaan dengan orang-orang Bani Tsaqif yang meminta kepada Nabi agar tanah tempat tinggal mereka dijadikan tanah suci dan mereka mengajukan permintaan itu kepada Nabi dengan cara mendesak. (Tafsir al-Jalalain/1/374)

Baca juga: Surah al-Isra’ [17] Ayat 7: Hakikat Perbuatan Baik Bagi Manusia

Asy-Syaukani dalam tafsirnya menafsiri “أَعْمَىٰ” yang pertama berarti orang-orang yang di dunia dinamai si buta hati, yakni tidak mempunyai mata hati. Beliau menambahkan, An-Naisaburi berkata, “Tidak ada perselisihan bahwa yang dimaksud “أَعْمَىٰ” di sini adalah buta hati”. Sedangkan kata “أَعْمَىٰ” yang kedua berarti buta mata. (Fath al-Qadir/3/293)

Selanjutnya Al-Mawardi mengemukakan ada empat pandangan terkait ayat di atas:

  1. Barang siapa selama di dunia buta dari melaksanakan ketaatan, maka di akhirat akan buta dari mendapat pahala.
  2. Barang siapa selama di dunia tidak mau mengambil pelajaran, maka di akhirat tidak dapat mendapat ampunan.
  3. Barang siapa selama di dunia tidak dapat melihat kebenaran, maka di akhirat tidak dapat melihat surga.
  4. Barang siapa tidak bisa merenungi urusan dunia, maka tidak akan bisa merenungi urusan akhirat. (An-Nukat wa Al-‘Uyun/3/258-259)

Lebih lengkap, Ar-Razi menjelaskan dalam tafsirnya, maksud ayat “وَمَنْ كانَ فِي هذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ” bukanlah buta penglihatan, melainkan buta hati. Adapun ayat “فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ” ada dua pendapat;

Pendapat pertama mengartikan sebagai buta hati. Hal ini diambil dari beberapa atsar:

1). Riwayat Ikrimah, bahwa ada rombongan dari Yaman yang mendatangi Ibnu Abbas, lalu seorang laki-laki di antara mereka bertanya mengenai ayat tersebut. Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Bacalah ayat sebelumnya (Al-Isra [17]: 66-70)”, “Barang siapa di dunia hatinya tidak dapat melihat semua kenikmatan padahal sebenarnya hatinya dapat memandang dan melihat, maka hatinya juga tidak akan bisa memandang dan melihat urusan akhirat serta tersesat dari jalan yang benar”.

Baca juga: Tafsir Surah Abasa Ayat 1-10: Kesamaan dalam Islam Menurut Wahbah Al-Zuhaili

2). Riwayat Abu Rauq dari Adl-Dlahhak dari Ibnu Abbas yang berkata, “Barang siapa yang hatinya tidak dapat melihat kekuasaan Allah dalam penciptaan langit, bumi, laut, gunung, manusia dan binatang, maka dalam urusan akhirat hatinya buta serta tersesat dari jalan yang benar dan sangat jauh dari mengetahuinya”.

Dua atsar di atas mengartikan orang yang di dunia hatinya tidak dapat mengetahui semua kenikmatan dan tanda-tandanya maka gambaran mereka di akhirat adalah buta hatinya dan tidak dapat mengetahui ahwal akhirat. Sedangkan kata “أَعْمَىٰ” menurut dua keterangan di bawah ini berarti buta hati di dunia.

3). Riwayat Al-Hasan yang berkata, “Barang siapa di dunia tersesat dan kafir maka di akhirat hatinya buta dan tersesat dari jalan yang benar. Karena selama di dunia, taubat masih bisa diterima sedangkan di akhirat taubat tidak dapat diterima. Di dunia masih ada cara untuk terhindar dari pintu-pintu petaka sedangkan di akhirat tidak dapat menemukan cara untuk menghindarinya sama sekali”.

4). Kata “أَعْمَىٰ” yang kedua tidak mungkin tidak mengetahui Allah di akhirat, karena seluruh penduduk akhirat pasti akan mengetahui Allah. Maka maksud “أَعْمَىٰ” adalah tidak dapat melihat jalan menuju surga, yakni barang siapa di dunia buta hatinya dalam mengetahui Allah maka di akhirat ia tidak dapat menemukan jalan menuju surga.

Baca juga: Menyeimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat, Perhatikan Semangat Doa Al-Quran Berikut!

5). Orang-orang yang buta hatinya di dunia dilihat dari keserakahan mereka tatkala mereka bersorak melihat kelezatan dan kesenangan duniawi. Semakin besar kecintaan mereka terhadap dunia maka di akhirat semakin besar pula penyesalannya dari semua yang telah mereka lakukan selama di dunia. Tidak ada satupun dari cahaya-cahaya Allah yang menerangi mereka, mereka berada dalam kegelapan yang gulita penuh penyesalan. Demikianlah maksud dari “أَعْمَىٰ” yang kedua.

Pendapat kedua mengartikan sebagai buta mata dan penglihatan.

Barang siapa selama di dunia hatinya buta maka mereka dibangkitkan di akhirat nanti dalam keadaan buta mata dan penglihatannya. Berdasarkan firman Allah dalam surah Thaha [20] ayat 124-126:

 …وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى )١٢٤  (قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا )١٢٥ (قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى )١٢٦(

(124) … dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta; (125) Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”; (126) Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.” (QS. Thaha [20]: 124-126)

Dan surah Al-Isra’ [17] ayat 97 yang berbunyi:

وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَلٰى وُجُوْهِهِمْ عُمْيًا وَّبُكْمًا وَّصُمًّاۗ

Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. (QS. Al-Isra’ [17]: 97)

(Mafatih al-Ghaib/21/377-378)

Demikian pendapat para mufasir mengenai tafsir surah Al-Isra’ [17] ayat 72. Hendaknya kita semua teliti dan sadar terhadap apa yang telah kita lakukan selama masih hidup di dunia sebagai pelajaran dan menjadikannya untuk bekal masa depan di akhirat. Tentu dalam rangka pemurnian hati (tazkiyah an-nafs) supaya mata hati senantiasa terbuka dan dapat menadaburi seluruh ciptaan dan nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Semoga kita dikumpulkan bersama orang-orang yang selamat dan berada di jalur yang benar. Amin.

Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Abasa Ayat 1-10: Kesamaan dalam Islam Menurut Wahbah Al-Zuhaili

0
Tafsir Surah Abasa ayat 1-10
Tafsir Surah Abasa ayat 1-10

Problematika kesamaan setiap insan dalam Islam terkadang kurang diperhatikan, sehingga mereka tidak mendapatkan hak-haknya sebagai manusia. Padahal ‘kesamaan’ dalam Islam, khususnya al-Quran, sangat diprioritaskan dan diperhatikan sebagai semangat lahirnya agama Islam. Surah Abasa ayat 1-10 mengandung informasi adanya kesamaan dalam Islam. Oleh karena itu, menarik untuk memperdalami tafsir Surah Abasa ayat 1-10 menurut Wahbah Al-Zuhaili dan bagaimana persamaan dalam Islam.

Wahbah Al-Zuhaili dikenal sebagai mufasir abad modern dan memiliki gaya penafsiran yang khas. Walaupun memberikan perhatian lebih dalam masalah fiqih, dalam karya agungnya alTafsīr al-Munīr Fī al-‘Aqīdah wa al-Syarī’ah wa al-Mahaj kita dapat menemukan mulai dari tematik, kajian kebahasaan, balgah, hingga asbab nuzul (jika ada). Mode penafsiran demikian juga dapat didapati pada penafsirannya terhadap Q.S ‘Abasa [80]: 1-10.

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ  ١ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ  ٢ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ  ٣ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ  ٤ أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ  ٥ فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ  ٦ وَمَا عَلَيۡكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ  ٧ وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسۡعَىٰ  ٨ وَهُوَ يَخۡشَىٰ  ٩ فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ  ١٠

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling (1) Karena telah datang seorang buta kepadanya (2) Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) (3) Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? (4) Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (5) Maka kamu melayaninya (6) Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman) (7) Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), (8) Sedang ia takut kepada (Allah), (9) Maka kamu mengabaikannya. (10)”

Baca juga: Mengenal Green Deen: Persepektif Keberislaman yang Ramah Lingkungan dan Berbasis Nilai-Nilai Qur’ani

Asbab Nuzul Surah Abasa Ayat 1

Hadis yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut ialah hadis yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dan Imam Hakim, dari ‘Aisyah. (Tafsīr al-Munīr Fī al-‘Aqīdah wa al-Syarī’ah wa al-Mahaj, 30, 60)

Ketika Nabi sedang disibukkan dengan urusan beliau, yakni sedang  mengislamkan tokoh pembesar Quraisy dan dalam status sosialnya jauh melebihi yang lain; kemudian datanglah seseorang yaitu yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Namun, status sosial itu bukanlah menjadi ukuran derajat manusia dihadapan Allah, bahkan Abdullah bin Ummi Maktum memiliki derajat lebih tinggi dari pada para pembesar Quraisy.

Kendati demikian, Abdullah bin Ummi Maktum memiliki kekurangan dalam fisiknya, yaitu matanya tidak bisa melihat sehingga ia tidak dapat melihat dengan mata lahiriyah, tetapi Allah memberikan anugrah yang luar bisa kepadanya, berupa mata batin yang sangat peka dan hati yang bersih sekaligus cerdas.

Kekurangan fisik itulah yang menjadi sebab bahwa ia tidak mengetahui kesibukan Nabi saw; padahal kedatangannya kepada Nabi bukan tanpa tujuan, melainkan untuk belajar satu ilmu dan hikmah supaya ia mendapatkan manfaat dari Nabi. Namun, permintaannya tidak diindahkan oleh Nabi, bahkan beliau berpaling darinya dengan wajah masam. Kemudian, Allah menegur Nabi melalui wahyu-Nya, yaitu Q.S ‘Abasa ayat 1-10, sekaligus di dalamnya terkandung hikmah yang luas.

Baca juga: Tiga Fungsi Pokok Al-Quran [2]: Makna Bayyinah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185

Kajian Balagah Surah Abasa Ayat 1-10

Di dalam ayat ke 1-2 dhamir (kata ganti) yang digunakan ialah gaib (kata ganti orang ketiga) kemudian pada ayat berikutnya (ayat 3) dhamir yang digunakan ialah mukhatab (kata ganti orang kedua), hal demikian telah terjadi gaya bahasa iltifat, yaitu perpindahan semua kata ganti karena tuntutan dan memiliki tujuan dan pertimbangan khusus.

Tujuan digunakannya iltifat dalam ayat 1-3, yaitu; pertama, sebagai tambahan (penekanan) mengingkari (terhadap kejadin tersebut), kedua, tambahan dalam menegur; ketiga, peringatan kepada Nabi SAW untuk menolong orang karena keadaan butanya.

Wahbah Al-Zuhaili mengilustrasikan fenomena iltifat tersebut dengan orang yang mengeluh kehadirannya tidak dianggap oleh orang lain padahal ia hadir jelas dihadapan mereka, kemudian ia menghadap (menghampiri) mereka (yang menggap tidak hadir) dengan mengarahkan wajahnya kepada mereka, sebagai peringatan bahwa ia hadir.

Penggunaan lafaz ٱلۡأَعۡمَىٰ bukan العَمَى dalam ayat tesebut sebagai pengingkaran juga. Karena jikalau menggunakan lafaz yang kedua, maka hal demikian mengharuskan adanya simpati dan belas kasih bagi orang yang mempunyai akhlak. Jadi, lafaz yang kesatu digunakan sebagai mencela dan menegur karena adanya suatu pristiwa, dan yang kedua digunakan ketika tujuannya untuk kasih sayang dan menunjukkan rasa simpati.

Di dalam lafaz يَذَّكَّرُ dan  والذِّكْرى terjadi gaya bahasa jinās isytiqāq. Ayat 1 sampai 3 digunakan gaya bahasan saja’ murasha’. Kemudian Allah juga menggunakan thibaq, yaitu yang terdapat pada تَصَدَّىٰ   dan تَلَهَّى.

Baca juga: Surah al-Qadr Ayat 1, Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr Menurut Fakhruddin Ar-Razi

Nilai-Nilai Yang Terkandung dalam Surah Abasa ayat 1-10

Pertama, teguran kepada Nabi SAW karena berpaling dan tidak memerhatikan ‘Abdullah bin Ummi Maktum, sehingga hati orang-orang fakir (miskin) merasakan sakit. Padahal orang mukmin yang fakir lebih baik dari pada mukmin yang kaya.

Kedua, dalam ayat tersebut mempunyai hikmah bahwa kekhawatiran Nabi terhadap tokoh-tokoh Quraisy tidak masuk Islam menjadi sebab beliau ditegur dan turunnya ayat tersebut. Dan ‘Abdullah bin Ummi Maktum menginginkan supaya Nabi mengajarkannya. Dua pristiwa tersebut memiliki dua diskursus yaitu ‘khawatiran’ dan ‘sesuatu yang lebih penting’. Adanya teguran tersebut mengindikasikan bahwa hal yang penting harus didahulukan dari pada kekhawatiran.

Ketiga, ‘Abdullah Ummi Maktum beralasan ia bukanlah seorang ‘alim, sedangkan Nabi pada saat itu sibuk mengislamkan tokoh-tokoh Quraisy, dan berharap mereka masuk Islam. Karena yakin ketika pembesar Quraisy masuk Islam akan memengaruhi kepada yang lain.

Keempat, Ayat ini sebagai dalil wajib adanya persamaan dalam Islam, baik orang tersebut mempunyai kekurangan atau dalam hal menyampaikan dakwah, bukan memprioritaskan keadaan sosial, yang kaya atau fakir.

Bahkan ketika orang tersebut meminta petunjuk dan mempunyai hati bersih, walaupun status sosialnya rendah, maka bagi para pendakwah diwajibkan memprioritaskan orang tersebut. Karena pada hakikatnya Islam memberikan perhatian lebih kepada mereka yang lemah.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Tiba Ramadhan, Ini Hukum yang Belum Bayar Utang Puasa

Kelima, tidak sah seseorang menyibukkan dan memberikan perhatian lebih untuk mengislamkan seseorang, namun pada waktu yang sama merugikan dengan berpaling dari orang Islam, karena ia disibukan dakwah kepada orang bukan Islam.

Lima nilai di atas sebagaimana yang diungkapkan oleh Wahbah Al-Zuhaili, namun apabila dianalisis secara mendalam terkait turunnya surat tersebut maka persamaan dalam Islam harus mencakup dalam semua bidang, hak-hak mereka harus diperhatikan, apalagi mereka dari orang lemah. Disamping itu, tertuang akhlak menerima tamu tidak boleh menampilkan wajah masam dan berpaling.

Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 10-12

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 10-12 mengulas kekhawatiran ibu Musa setelah melemparkan Musa ke sungai Nil walaupun tindakan yang dilakukannya berdasarkan ilham Allah. Karena kekhawatiran sang ibu kakak Musa pun pergi mengikuti peti yang berisi Musa tersebut.

Selengkapnya Baca Tafsir Surah Al-Qasas ayat 10-12 di bawah ini:


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 7-9


Ayat 10

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 10-12 khususnya pada ayat ini, Allah menerangkan bagaimana keadaan ibu Musa setelah ia melemparkan anaknya ke sungai Nil untuk melaksanakan ilham yang diterimanya dari Allah. Walaupun tindakan yang dilakukannya berdasarkan ilham dari Allah dengan janji bahwa anaknya akan dikembalikan kepadanya, namun ia tetap gelisah dan tidak pernah merasa tenteram memikirkan nasib anaknya yang telah dihanyutkan ke sungai Nil.

Berbagai macam pertanyaan terlintas dalam pikiran ibu Musa. Kadang-kadang dia menyesali dirinya telah melakukan perbuatan itu. Bagaimanakah cara menemukan anaknya kembali? Apakah dia akan berteriak-teriak dan mengakui bahwa dia telah melemparkan anaknya ke sungai, kemudian minta tolong kepada khalayak ramai untuk mencarinya?

Benar-benar hati dan pikirannya telah kosong. Dia telah kehilangan akal dan kesadaran sehingga tak dapat berpikir lagi. Akan tetapi, Allah menguatkan hatinya dan menenteramkan pikirannya sehingga sadar dan percaya bahwa Allah telah menjanjikan akan mengembalikan anaknya ke pangkuannya dan kelak akan mengangkatnya menjadi rasul.

Ayat 11-12

Walaupun ibu Musa telah melaksanakan apa yang diilhamkan Allah kepadanya, namun hatinya belum tenteram. Oleh sebab itu, ia menyuruh anak perempuannya (kakak Musa) mencari-cari berita tentang Musa. Lalu kakak Musa pergi mengikuti peti yang berisi Musa. Akhirnya dia melihat dari kejauhan peti itu telah memasuki kawasan Fir’aun dan diselamatkan keluarganya. Meskipun peristiwa ini disaksikan orang banyak, tetapi mereka tidak menyadari kehadiran Musa di antara mereka.

Di istana orang-orang sibuk mencari siapa yang cocok menyusukan anak itu, karena ia menolak setiap wanita yang hendak menyusukannya. Setelah saudara Musa mengetahui hal ini, dia pun memberanikan diri tampil ke muka dan mengatakan bahwa ia mengetahui seorang wanita yang sehat dan banyak air susunya. Mungkin anak itu mau disusukan oleh wanita tersebut. Wanita itu dari keluarga baik-baik dan anak itu pasti akan dijaga dengan penuh perhatian dan penuh rasa kasih sayang.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa setelah saudara Musa mengucapkan kata-kata itu, lalu ibu Musa dibawa ke istana, mereka memandang kepadanya dengan rasa curiga dan mengemukakan pertanyaan, “Dari mana engkau tahu bahwa wanita itu akan menjaganya dengan baik dan akan menumpahkan kasih sayang terhadapnya?” Saudara Musa menjawab, “Tentu saja ia akan berbuat demikian karena mengharapkan kesenangan hati raja Fir’aun dan mengharapkan pemberian yang banyak darinya.” Dengan jawaban ini hilanglah kecurigaan mereka.

Musa kemudian dibawa kembali ke rumah ibunya. Sesampainya di rumah, ibunya meletakkan Musa di pangkuannya untuk disusukan. Dengan segera mulut Musa menangkap puting susu ibunya. Mereka yang hadir sangat gembira melihat hal itu dan dikirimlah utusan permaisuri raja untuk memberitakan hal itu. Permaisuri memanggil ibu Musa dan memberinya hadiah dan pemberian yang banyak serta meminta kepadanya supaya ia bersedia tinggal di istana untuk merawat dan mengasuh Musa.

Ibu Musa menolak tawaran itu dengan halus dan mengatakan kepada permaisuri bahwa dia mempunyai suami dan anak-anak dan tidak sampai hati meninggalkan mereka. Dia memohon agar permaisuri mengizinkannya membawa Musa ke rumahnya. Permaisuri tidak merasa keberatan atas usul itu dan mengizinkan Musa dibawa ke rumah ibunya. Permaisuri memberinya perongkosan yang cukup. Di samping itu, permaisuri juga memberinya hadiah berupa uang, pakaian, dan lain sebagainya. Akhirnya kembalilah ibu Musa ke rumah membawa anak kandungnya dengan hati yang senang dan gembira.

Allah telah menghilangkan semua kegelisahan dan kekhawatiran ibu Musa dan menggantinya dengan ketenteraman, kemuliaan, dan rezeki yang melimpah dan mengembalikan Musa untuk tinggal bersama ibunya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 13-17