Beranda blog Halaman 347

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 7-9

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 7-9 mengisahkan tentang ibu Musa yang cemas akan kelahiran Musa, Allah pun menurunkan ilham kepadanya untuk melemparkan Musa kecil ke sungai Nil. Dalam Tafsir Surah Al-Qasas ayat 7-9 ini diceritakan lebih detai kisah Nabi Musa yang dihanyutkan ke sungai Nil hingga akhirnya diangkat menjadi anak oleh istri Fir’aun.

Selengkapnya Baca Tafsir Surah Al-Qasas ayat 7-9 di bawah ini…


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 5-6


Ayat 7

Ayat ini menggambarkan situasi yang sangat mencemaskan ibu Musa yang akan melahirkan anaknya. Ia tahu bahwa anak itu akan direnggut dari pangkuannya dan akan dibunuh tanpa rasa iba dan belas kasihan. Walaupun kelahiran Musa dapat disembunyikan, tetapi lama-kelamaan pasti akan diketahui oleh mata-mata Fir’aun yang banyak bertebaran di pelosok negeri, sehingga nasib bayinya akan sama dengan nasib bayi-bayi Bani Israil lainnya.

Setelah melahirkan Musa, ibunya selalu merasa gelisah dan khawatir memikirkan nasib anaknya yang telah dikandungnya dengan susah payah selama sembilan bulan yang menjadi tumpuan harapan setelah bayi itu besar. Oleh karena itu, ia selalu memohon kepada Allah agar anaknya diselamatkan dari bahaya maut yang selalu mengancamnya.

Dalam keadaan gelisah dan cemas itu, Allah mengilhamkan kepada ibu Musa bahwa dia tidak perlu khawatir dan cemas. Hendaklah dia tetap menyusui dan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Bila dia merasa takut karena ada tanda-tanda bahwa anaknya itu akan diketahui oleh Fir’aun, maka hendaklah ia melemparkan anak itu ke sungai Nil. Ibu Musa diperintahkan Allah untuk tidak merasa ragu dan khawatir, karena Dia akan menjaga dan mengembalikan Musa ke pangkuannya. Kelak anak itu akan menjadi rasul Allah yang akan menyampaikan dakwah kepada Fir’aun.

Baca Juga: Kisah Nabi Musa dan Doa-Doa yang Dipanjatkannya dalam Surat al-Qashash

Ayat 8

Pada ayat ini dijelaskan bagaimana ibu Musa melaksanakan ilham yang diterimanya karena ia yakin apa yang dijanjikan Allah kepadanya pasti terjadi. Setelah bayi Musa dibungkus badannya dan dimasukkan ke dalam peti, Musa dihanyutkan ke sungai Nil dan arus sungai membawanya ke arah istana Fir’aun yang dibangun di tepi sungai itu.

Salah seorang keluarga Fir’aun melihat peti itu terapung-apung dibawa arus sungai dan segera mengambil dan membawanya kepada istri Fir’aun. Setelah dibuka, ia sangat terkejut ketika melihat bahwa isi peti itu adalah seorang bayi. Saat itu juga timbul kasih sayang istri Fir’aun kepada bayi itu.

Dengan cepat dibawanya bayi itu kepada Fir’aun. Tanpa ragu-ragu Fir’aun memerintahkan supaya bayi itu dibunuh karena takut kalau ia keturunan Bani Israil. Akan tetapi, istri Fir’aun membujuknya agar tidak membunuh bayi itu, dan mengangkatnya sebagai anak dengan harapan kelak anak itu akan berjasa kepada Fir’aun dan kerajaannya. Akhirnya Fir’aun mengizinkan anak itu diasuh dan dipelihara oleh istrinya, tanpa menyadari bahwa Allah menghendaki kejadian ini.

Allah menghendaki apabila anak itu dewasa nanti, ia akan menjadi musuh Fir’aun yang paling besar dan akan menumbangkan kekuasaannya, bukan menjadi anak yang akan berjasa dan berbakti kepadanya. Demikianlah Allah menakdirkan keruntuhan kekuasaan Fir’aun, sebagai balasan atas kesombongan, kezaliman, dan kekejamannya terhadap Bani Israil. Sesungguhnya Fir’aun, Haman, dan tentaranya telah berbuat kesalahan besar dengan melakukan kekejaman itu. Sudah sewajarnya Allah menghancurkan kekuasaan Fir’aun itu dengan perantaraan seorang keturunan Bani Israil yang dihinakannya.

Ayat 9

Pada ayat ini, Allah menjelaskan jawaban istri Fir’aun untuk mempertahankan bayi itu agar tidak dibunuh, karena Fir’aun khawatir kalau bayi itu anak seorang Bani Israil yang dikhawatirkan akan menghancurkan kekuasaannya. Istri Fir’aun yang telah telanjur menyayangi anak itu karena tertarik melihat parasnya yang rupawan mengatakan, “Janganlah engkau bunuh anak ini karena saya amat sayang dan tertarik kepadanya. Biarkanlah saya mengasuh dan mendidiknya.

Dia akan menjadi penghibur hatiku dan hatimu di kala susah. Siapa tahu di kemudian hari dia akan berjasa kepada kita. Atau alangkah baiknya kalau dia kita ambil menjadi anak angkat kita, karena sampai sekarang kita belum dikaruniai seorang anak pun.” Karena kegigihan istri Fir’aun dan alasan-alasan logis yang dikemukakannya, akhirnya Fir’aun membiarkan anak itu hidup dan diasuh sendiri oleh istrinya.

Demikianlah takdir Allah. Dia telah menjadikan istri Fir’aun menyayangi anak itu dan menjadikan hati Fir’aun lunak karena rayuan istrinya sehingga anak itu tidak jadi dibunuh. Padahal, anak itulah kelak yang akan menentang Fir’aun dan akan menjadi musuhnya yang utama tanpa dia sadari sedikit pun.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 10-12


Berikut Ini Adalah Cara Meraih Kebahagiaan Menurut Al-Quran

0
Meraih Kebahagiaan
Cara Meraih Kebahagiaan

Artikel ini akan menjelaskan tentang cara meraih kebahagiaan menurut al-Quran berdasarkan pada frasa la’allakum tuflihun (supaya kalian berbahagia). Dengan petunjuk meraih kebahagiaan ini, bisa dikatakan bahwa al-Quran adalah kitab kebahagiaan. Allah Swt berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ …

“…dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung (bahagia).”

(Q.S. Al-Baqarah: 189)

Dalam sejumlah ayat, Al-Qur’an memberikan tuntunan tentang cara meraih kebahagiaan. Bahkan, kalau dikaji lebih jauh, tujuan akhir setiap perintah Allah Swt. adalah: “supaya kalian berbahagia/beruntung” (la’allakum tuflihuna).

Baca Juga: Surah Al-Anam Ayat 153, Menyusuri Jalan Menuju Kebahagiaan

Dalam Al-Qur’an, kalimat la’allakum tuflihuna yang berarti ‘supaya kalian berbahagia’ disebut sebanyak 11 kali, yaitu pada: Q.S. Al-Baqarah: 189, Q.S. Ali Imran: 130, 200, Q.S. Al-Maidah: 35, 90, 100, Q.S. Al-A’raf: 69, Q.S. Al-Anfal: 45, Q.S. Al-Hajj: 77, Q.S. An-Nur: 31, dan Q.S. Al-Jumu’ah: 10.

Dari penelusuran tentang ayat-ayat tersebut, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa semua perintah Allah dimaksudkan agar kita hidup bahagia. Ya, hidup bahagia yang sesungguhnya, tidak hanya di dunia saja, tetapi juga di akhirat kelak.

Jika kita telusuri lebih lanjut ayat-ayat yang berbicara tentang kebahagiaan di atas, maka akan kita dapati sejumlah langkah yang harus kita tempuh untuk dapat mencapai kebahagiaan.

Secara garis besar, dari hasil bacaan serta kajian penulis terhadap sejumlah ayat tersebut, kata kunci agar kita meraih kebahagiaan dunia-akhirat adalah: takwa. Takwa biasa dimaknai dengan kepatuhan dan ketaatan menjalankan segala perintah dan seruan Allah, serta kesabaran dan ketabahan dalam menghindari dan menjauhi segala larangan-Nya.

Adapun penjabaran dari makna takwa pada rangkaian ayat-ayat tersebut antara lain sebagai berikut:

Pertama, sabar. Sabar secara bahasa adalah menahan atau mengendalikan diri. Adapun secara syari’at, sabar adalah mengendalikan diri dalam tiga kondisi: pertama, sabar dalam taat kepada Allah Swt; kedua, sabar dalam menahan diri terhadap perkara yang diharamkan; ketiga, sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah Swt.

Kedua, syukur. Secara bahasa, kata syukur berarti menyingkap (al-kasyfu) atau membuka, lawan kata menutup (al-kufru). Ar-Raghib al-Asfahani dalam Mu’jam Mufradat Alfadz al-Qur’an menjelaskan bahwa makna syukur adalah ‘gambaran di dalam benak tentang kenikmatan dan menampakkannya ke permukaan’.

Syukur dalam pengertiannya yang lebih luas adalah mengakui dan meyakini bahwa segala nikmat itu berasal dari Allah Swt., yang kadar serta ketentuan nikmat itu sesuai dengan kehendak Allah. Dengan memahami konsep ini, maka setiap orang akan menerima sepenuh hati nikmat yang Allah berikan kepadanya. Syukur atas nikmat adalah salah satu cara efektif untuk bisa merasakan kebahagiaan hidup.

Ketiga, banyak menyebut dan mengingat Allah (zikir). “…Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung (berbahagia)…” (Q.S. Al-Anfal: 45). Salah satu bukti rasa cinta seseorang yang akan menimbulkan perasaan bahagia adalah seringnya menyebut dan mengingat nama yang dicintainya. Dengan terus menerus menyebut nama yang dicintainya, maka seseorang akan merasakan kebahagiaan.

Demikian halnya, jika seorang hamba benar-benar mencintai Tuhannya, maka dia akan terus-menerus mengingat dan menyebut nama Tuhannya. Karena hal ini akan menimbulkan perasaan bahagia tak terhingga. “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Q.S. Ar-Ra’d: 28)

Keempat, menjauhi prasangka. Di antara penyebab kegelisahan hati, ketidaktenangan jiwa, serta keresahan batin adalah munculnya prasangka (negatif) atau buruk sangka. Seseorang yang selalu berprasangka negatif terhadap orang lain, juga berprasangka buruk terhadap Allah tidak akan pernah merasakan ketenangan batin serta jauh dari perasaan bahagia. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (Q.S. Al-Hujurat: 12).

Kelima, berserah diri hanya kepada Allah (tawakkal). Secara bahasa tawakal berarti: bersandar, berserah diri, mewakilkan. Adapun secara istilah, tawakal biasa dimaknai dengan penyerahan sesuatu kepada Allah atau menggantungkan urusan diri kepada Allah setelah sebelumnya berikhtiar maksimal.

Menurut Imam Al-Ghazali, tawakal adalah: “menyandarkan diri kepada Allah Swt., dalam menghadapi setiap kepentingan, bersandar keapada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati ketika ditimpa bencanan, dengan jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.” Orang yang bertawakal akan menyerahkan dan mengembalikan masalah yang dihadapinya kepada Allah setelah benar-benar berikhtiar. Ia berserah diri karena memang semua usaha sudah dilakukan secara maksimal. Apa pun hasil akhir dari ikhtiar yang telah dilakukannya, akan diterimanya dengan sikap tawakal.

Baca Juga: Tafsir Surat Hud Ayat 3: Raih Kebahagiaan dengan Beristighfar

Beberapa langkah yang diajarkan Al-Qur’an tersebut, juga langkah-langkah lain yang terdapat dalam sejumlah ayat lainnya, akan menuntun kita menapaki tangga demi tangga menuju kebahagiaan hakiki, yaitu kebahagiaan abadi, yang dimulai sejak hidup di dunia ini hingga sampai ke akhirat nanti.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab kebahagiaan.

Mengenal Mushaf al-Qur’an Blawong Gogodalem (part 2)

0
Mushaf al-Qur’an Blawong Gogodalem
Mushaf al-Qur’an Blawong Gogodalem

Pada tulisan part 1 berjudul Mengenal Qur’an Blawong Gogodalem part 1, penulis telah mengulas latar belakang Mushaf Blawong: nisbat kepemilikan dan arti dari penamaannya. Penulis juga telah menjelaskan bahwa ada empat mushaf yang kini masih tersisa dan tersimpan di Masjid At-Taqwa Kauman, Gogodalem. Pada part 2 ini penulis akan memberikan deskripsi singkat seluruh mushaf yang ada.

Baca juga: Mengenal Green Deen: Persepektif Keberislaman yang Ramah Lingkungan dan Berbasis Nilai-Nilai Qur’ani

Deskripsi Naskah Mushaf Blawong

Naskah BRI 82 berukuran 33 cm x 20,2 cm, dengan bidang teksnya berukuran 23,2 cm x 12,4 cm. Rata-rata setiap juznya terdiri antara 23 hingga 24 halaman, dan setiap halamannya terdiri dari 15 baris. Naskah ini adalah naskah yang paling komplit diantara empat naskah yang ada. Meskipun secara tampilan fisiknya, ada naskah lain yang lebih bagus. Sampul naskahnya terbuat dari kulit dengan kondisi cuil-cuil di beberapa bagian.

Alas naskahnya berupa kertas Eropa dengan watermark ‘CONCORDIA RESEARVAP CRESCUNT’ dan countermark ‘V D L’. Tidak terdapat shadow disepanjang garis-garis vertikal kertas (chain line). Tidak terdapat kolofon pada naskah mushaf ini. Iluminasinya berada pada bagian awal Al-Qur’an yakni pada QS. Al-Fatihah dan awal QS. Al-Baqarah, pada bagian tengah yakni awal QS. Al-Kahfi, dan pada bagian akhir yakni pada QS. An-Nas dan QS. Al-Fatihah.

Naskah BRI 83 adalah naskah yang cukup menarik, karena naskah ini penulis dapatkan pada kunjungan terakhir di Gogodalem. Naskah ini berukuran 32,6 cm x 19,4 cm dengan bidang teks berukuran 22,8 cm x 13,7 cm. Setiap halamannya terdiri dari 15 baris. Keadaan naskah ini hampir sama seperti naskah sebelumnya, keropos pada bagian tepi kertas disetiap halamannya.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Tiba Ramadhan, Ini Hukum yang Belum Bayar Utang Puasa

Naskah ini adalah naskah dengan jumlah kehilangan halaman terbanyak. Ia dimulai dari QS. Al-Kahfi ayat 110 hingga QS. Al-Kautsar. Dan ditambah satu halaman lagi terpisah berisi QS. Al-Fatihah dengan catatan kepemilikan naskah di halaman balikannya. Tertulis disana, “Ing kang gadhahi mushaf // Haj Muhammad Seman”. Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa dengan watermark ‘CONCORDIA RESEARVAP CRESCUNT’ dan countermark ‘E D G & Z’.

Naskah BRI 84
Naskah BRI 84

Naskah BRI 84 berukuran 32,8 cm x 20,4 cm dengan bidang teks 22,4 cm x 12,6 cm. Setiap halaman terdiri dari 15 baris. Keadaan mushaf ini juga tidak lengkap sebagaimana sebelumnya. Namun demikian, jika dibanding BRI 83 dan 85, naskah terbilang lebih komplit, dimulai dari QS. Al-Baqarah ayat 128 hingga QS. An-Nazi‘at ayat 26. Naskah ini juga terbilang lengkap dari sisi penggunaan tanda baca, bahkan jika dibanding naskah yang paling utuh, BRI 82.

Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa dengan watermark ‘PRO PATRIA’ dan countermark ‘DV LENHUYSEN ZOON’. Terdapat iluminasi di bagian tengah naskah, yakni pada awal QS. Al-Kahfi, dengan model dan dominasi warna merah yang cukup berbeda dibanding naskah BRI 82.

Baca juga: Semarak Ramadhan: Resepsi Khatmil Qur’an Santri dan Alumni Putri Congaban

Naskah BRI 85 berukuran 32,8 cm x 20,3 cm dengan bidang teks 21,7 cm x 13,6 cm. Jumlah baris di setiap halamannya adalah 15. Mushaf ini juga tidak lengkap sebagaimana sebelumnya, dimulai dari QS. An-Nisa’ ayat 36 sampai QS. Al-Hadid ayat 20. Secara umum kondisi naskah ini mengalami kerusakan yang cukup parah. Banyak halamannya yang terpotong secara diagonal vertikal dan terlepas dari jilidan naskah serta akhirnya menghilang.

Naskah BRI 85
Naskah BRI 85

Kertas yang digunakan adalah kertas Eropa dengan watermark ‘CONCORDIA RESEARVAP CRESCUNT’ dan countermark ‘E D G & Z’. Di bagian tengah naskah, terdapat semacam ruang-ruang kosong dengan bentuk geometri pada awal QS. Al-Kahfi yang diduga akan difungsikan sebagai iluminasi.

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 5-6

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 5-6 mengulas tentang Fir’aun yang menindas Bani Israil. Hal ini disebabkan Fir’aun bermimpi bahwa kekuasaannya akan dihancurkan oleh salah seorang bayi dari Bani Israil. Oleh sebab itu dalam Tafsir Surah Al-Qasas ayat 5-6 ini dijelaskan pula bahwa salah satu balasan Allah sebab perbuatan tercelanya adalah dengan  membebaskan Bani Israil dari cengkeraman Fir’aun dan menjadikan mereka pemuka di dunia.

Selengkapnya Baca Tafsir Surah Al Qasas ayat 5-6 di bawah ini….


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 1-4


Ayat 5-6

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Dia akan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada Bani Israil yang tertindas dan lemah itu dengan memberikan kepada mereka kekuatan dan kekuasaan duniawi dan agama. Maka berkat perjuangan Bani Israil, berdirilah satu kerajaan yang besar dan kuat di negeri Syam dan akhirnya mereka mempunyai kekuasaan yang besar di Mesir yang dahulunya pernah menindas dan memperbudak mereka. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

وَاَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُسْتَضْعَفُوْنَ مَشَارِقَ الْاَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنٰى عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۙ بِمَا صَبَرُوْاۗ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهٗ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ  ;

Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi. Dan telah sempurnalah firman Tuhanmu yang baik itu (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun. (al-A’raf/7: 137)

Baca Juga: Kisah Bani Israil Pasca Kehancuran Firaun dan Bala Tentaranya dalam Al-Quran

Demikianlah, bila Allah menghendaki sesuatu, pasti terlaksana. Bagaimana pun kuatnya Fir’aun dengan tentara dan kekayaannya serta bagaimana pun lemahnya Bani Israil sampai tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun bahkan selalu ditindas, dianiaya, dan dimusuhi, tetapi karena Allah hendak memuliakan mereka, ada saja jalan dan kesempatan bagi mereka untuk bangkit dan bergerak. Berkat keuletan dan kesabaran, mereka berhasil menguasai negeri Mesir yang pernah memperbudak mereka.

Allah memperlihatkan kepada Fir’aun apa yang selalu ditakutinya, juga oleh Haman (menterinya) dan tentaranya, yaitu keruntuhan kerajaan mereka dengan lahirnya seorang bayi, yaitu Musa. Bayi ini luput dari pengawasan Fir’aun, bahkan diasuh dan dididik di istananya, serta dimanjakan dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang.

Padahal, bayi itulah nanti, di waktu besarnya, yang akan menumbangkan ke-kuasaannya, menghancurkan tentaranya dan menaklukkan negaranya. Bagaimana pedihnya luka di hati Fir’aun ketika melihat anak yang disayangi dan dimanjakan, menantang dan melawan kekuasaannya.

Kesombongan, takabur, dan keangkuhan Fir’aun memang tak ada gunanya ketika berhadapan dengan kekuasaan dan keperkasaan Allah. Semua tindakannya dibalas dengan tindakan yang setimpal. Di antara tindakan yang dilakukan oleh Fir’aun yang melampaui batas adalah:

  1. Menganggap dirinya berkuasa mutlak sehingga ia bersikap takabur dan sombong bahkan mendakwakan dirinya sebagai tuhan.
  2. Untuk menjamin kelanggengan kekuasaannya, dia memecah belah bangsanya, memusnahkan golongan yang menentangnya, membunuh semua bayi laki-laki Bani Israil, dan membiarkan anak-anak perempuan mereka hidup untuk dipekerjakan dan dijadikan sebagai gundik dan dayang-dayang kerajaan.
  3. Berlaku sewenang-wenang dan berbuat kerusakan di muka bumi.

 Tindakan Fir’aun itu dibalas oleh Allah dengan beberapa tindakan pula, yaitu:

  1. Allah membebaskan Bani Israil dari cengkeraman Fir’aun dan kaumnya dan menjadikan mereka pemuka dan pemimpin di dunia.
  2. Allah mewariskan kepada mereka negeri Syam dengan menjadikan mereka berkuasa di sana dan memberikan tempat di muka bumi.
  3. Allah memperlihatkan kepada Fir’aun, Haman, dan tentaranya bagaimana keruntuhan kekuasaan mereka. ;Demikianlah Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya. Suatu hal yang rasanya tidak mungkin, bisa terjadi yaitu tumbangnya suatu kekuasaan besar oleh orang-orang yang lemah, tertindas dan teraniaya. Sungguh Allah telah memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, membuat dan mencabut kekuasaan dari siapa yang dikehendaki-Nya sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

قُلِ اللهم مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala suatu. (Ali ‘Imran/3: 26)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 7-9

Kisah Kiai Sya’roni Membolehkan Penulisan Al-Quran dengan Aksara Latin dan Braille

0
Kiai Sya'roni
Kiai Sya'roni

Kiai Sya’roni Ahmadi merupakan ulama yang allamah, yakni menguasai banyak keilmuan, khususnya dalam ilmu-ilmu keislaman. Memang beliau lebih tersohor dalam bidang tafsir atau ilmu al-Qur’an, lantaran pengajian tafsirnya di Masjid Menara Kudus yang diminati ribuan jama’ah. Tetapi hal itu tidak menutup kedalaman ilmunya dalam bidang yang lain.

Meskipun hanya belajar dan menjadi santri kalong dari beberapa ulama lokal Kudus, hal itu tidak mengurangi ghirah belajar Kiai Sya’roni untuk menyerap banyak ilmu. Kepada Kiai Raden Asnawi, Kiai Arwani Amin, dan Kiai Turaichan Adjhuri, banyak keilmuan beliau dinisbatkan. Kepada Kiai Arwani misalnya. Selain hafalan al-Qur’an, Kiai Sya’roni juga belajar banyak kitab kuning, dari ilmu alat hingga kitab Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, kepada ulama al-Qur’an yang tersohor itu. Bahkan beliau juga belajar Qirā’āt tujuh darinya.

Selain dari beberapa karyanya, bukti kealiman Kiai Sya’roni dapat dilihat dari sepak terjangnya sebagai ulama serta jabatannya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Sejak usia muda, beliau telah aktif dalam berdakwah dan mengisi di banyak forum. Kiprahnya diperhitungkan oleh banyak kalangan. Bahkan, di usianya yang belum genap tiga puluh tahun, Presiden Soekarno telah mendaulatnya sebagai pembaca al-Qur’an dalam peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Kepresidenan.

Baca Juga: Surah al-Qadr Ayat 1, Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr Menurut Fakhruddin Ar-Razi

Di kalangan NU, Kiai Sya’roni juga aktif di forum Bahtsul Masa’il. Ini menunjukkan bahwa literasi kitab kuning beliau tidak dapat diragukan. Bahkan kiprahnya dalam forum ini diperhitungkan hingga level nasional. Meskipun hanya belajar dari ulama lokal dengan segala keterbatasannya, hal tidak menghalanginya untuk dapat mengakses literatur-literatur pesantren yang demikian banyak.

Ada satu kisah menarik dari forum Bahtsul Masa’il yang pernah diikuti oleh Kiai Sya’roni. Betapa beliau dalam forum tersebut menjadi peserta aktif yang diperhitungkan. Sebagaimana jamak diketahui, bahwa setiap kali NU menyelenggarakan Muktamar, maka di sana akan ada forum Bahtsul Masa’il untuk menjawab problem kemasyarakatan yang aktual.

Di sela-sela pengajian tafsirnya, Kiai Sya’roni berkisah bahwa pada tahun 1979 beliau menjadi peserta Bahtsul Masa’il pada Muktamar NU ke-26 di Semarang. Di antara tema yang dibahas adalah mengenai hukum menulis al-Qur’an dengan huruf latin dan braille.

Ketika itu, dari 49 ulama yang menjadi delegasi, semuanya menjawab “haram”, kecuali satu orang, yaitu beliau sendiri, Kiai Sya’roni Ahmadi yang berpendapat “boleh”.

Kiai Sya’roni tidak lantas ciut nyali meskipun berhadapan dengan 48 ulama yang berbeda pendapat dengannya. Baginya, berbeda pendapat dalam Bahtsul Masa’il adalah hal biasa. Bukan masalah sedikit-banyaknya orang yang sependapat atau berbeda pandangan dengannya, tetapi sejauh mana pendapat itu dapat diuji dan memiliki argumentasi yang kuat.

Maka ketika itu, Kiai Sya’roni bak seorang pemain yang pilih tanding. Dengan jam terbang yang tinggi, beliau bagaikan seorang striker yang sedang menggocek bola sendirian dan harus berhadapan dengan banyak pemain lawan. Jika ingin bolanya melesat ke gawang lawan, maka ia harus mempertahankannya dengan kuat.

Pendapat yang diyakini Kiai Sya’roni ketika itu tentu sudah melalui telaah yang mendalam, sehingga patut dipertahankan. Maka tiba saatnya masing-masing delegasi yang berbeda pendapat untuk menyampaikan argumentasinya.

“Kalau menulis al-Qur’an dengan tulisan latin atau braille diperbolehkan, kami khawatir nanti akan ada orang membaca ‘walad dlollin’.”

Demikian argumentasi yang diajukan oleh musyawir (peserta Musyawarah) yang mengharamkan menulis al-Qur’an dengan tulisan latin dan braille. Lebih lanjut pendapat ini disandarkan pada ucapan Imam Ibnu Hajar al-Haytami yang dinukil oleh Sayyid Bakri Syatha dalam I’anatut Thalibin bahwa menulis al-Qur’an dengan huruf selain hijaiyah itu diharamkan.

Pendapat al-Haytami ini dapat dirujuk dalam kitab Fatawi Fiqhiyah Kubra. Dalam kitab tersebut beliau ditanya perihal menulis al-Qur’an dengan ajamiyyah (bahasa selain Arab), apakah hal itu tersmasuk perkara haram? Menjawab pertanyaan tersebut, al-Haytami pun mengutip pendapat al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ tentang keharamannya.

Setelah pemaparan dari pihak yang mengharamkan usai, kini tiba saatnya Kiai Sya’roni menyampaikan argumentasinya. Kiai Sya’roni berkata:

“Kami sangat heran atas argumentasi yang diajukan pak Kiai tadi. Masalahnya bukan soal membaca, tetapi ini masalah menulis. Sekalipun al-Qur’an ditulis dengan Bahasa Arab, kalau membacanya salah ya dianggap salah. Seperti orang yang membaca ‘Hama ‘Asaqa,’ itu salah baca, bukan salah tulis. Mestinya dibaca ‘hamim ‘ayn- sin-qaf’.”

Dengan kata lain, Kiai Sya’roni ingin mendudukkan persoalan bahwa menulis dan membaca al-Qur’an itu perkara yang berbeda. Kekhawatiran akan adanya kesalahan baca seperti ‘walad dlollin’ itu urusan membaca al-Qur’an. Dalam pandangan beliau, tulisan al-Qur’an boleh latin atau braille, tetapi membacanya harus sesuai makhraj dan tajwid dalam Bahasa Arab.

Pendapat Kiai Sya’roni ini dinukil dari kitab al-Bujayrami ‘ala al-Khathib. Di sana disebutkan bahwa menulis al-Qur’an dengan huruf selain Arab diperbolehkan, tetapi membacanya dengan bahasa selain Arab dalam artian tanpa makhraj dan tajwid, maka hal itu dilarang.

Baca Juga: Ketika Al-Quran Menceritakan Proses Nuzulul Quran

Berangkat dari perbedaan pendapat antara 48 ulama yang mengharamkan dan Kiai Sya’roni yang membolehkan, maka diputuskan bahwa hukum menulis al-Qur’an dengan tulisan latin dan barille adalah khilaf atau diperselisihkan: antara boleh dan tidak.

Terlepas dari itu, Kiai Sya’roni melihat bahwa dengan adanya al-Qur’an yang ditulis latin dan braille, hal itu memudahkan bagi mereka yang memiliki keterbatasan dalam membaca tulisan Arab untuk belajar membaca al-Qur’an. Dan realitanya, sekarang ini al-Qur’an dengan tulisan latin dan braille telah menjamur di mana-mana.

Semoga Allah senantiasa merahmati guru kita, Kiai Sya’roni Ahmadi. Amiiin.

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 1-4

0
Tafsir Surah Al Qashash
Tafsir Surah Al Qashash

Tafsir Surah Al-Qasas ayat 1-4 khususnya pada ayat 1-2 Allah menegaskan bawah ayat-ayat yag diturunkan kepada Rasulullah ini merupakan Al-Qur’an yang jelas dan mudah dipahami. Kemudian Tafsir Surah Al-Qasas ayat 1-4 Allah menceritakan kepada Nabi Muhammad kisah nabi Musa dan Fir’aun agar menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Selengkapnya baca Tafsir Surah Al-Qasas ayat 1-4 di bawah ini….


Baca Juga: Kisah Qarun Dalam Al-Quran: Orang Paling Kaya Pada Zaman Nabi Musa


Ayat 1

Tha Siin Miim, lihat tafsir mengenai huruf-huruf hijaiyah pada awal Surah al-Baqarah.

Ayat 2

Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah ayat-ayat dari Al-Qur’an yang jelas dan mudah dipahami. Ayat-ayat itu memberikan keterangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama dan mengungkap kisah umat-umat terdahulu yang kebenaran beritanya tidak diketahui oleh manusia di masa itu. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan buatan Muhammad saw sebagaimana dituduhkan oleh orang-orang musyrik, karena Muhammad adalah seorang ummi yang tidak tahu menulis dan membaca.

Beliau juga tidak pernah belajar kepada orang-orang pandai apalagi kepada pendeta-pendeta Ahli Kitab. Dari mana Nabi Muhammad dapat mengetahui kisah umat-umat yang hidup berabad-abad yang lalu kalau tidak dari wahyu yang telah diturunkan Allah kepadanya. Oleh karena itu, tidak dapat diragukan lagi bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hukum-hukum dan hal-hal yang berhubungan dengan agama serta kisah-kisah mengenai umat-umat dahulu kala, adalah benar-benar wahyu dari Allah.

Ayat 3

Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah membacakan kepada Nabi Muhammad dengan perantaraan Jibril ayat-ayat yang berhubungan dengan kisah Nabi Musa dan Fir’aun untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Dengan memperhatikan kisah itu, di mana mereka mengetahui bahwa nasib orang-orang yang durhaka mendapat azab dan orang-orang mukmin terbebas dari penindasan orang-orang zalim, mereka bertambah yakin bahwa Al-Qur’an memang wahyu yang diturunkan Allah kepada Muhammad saw.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa kisah Nabi Musa diceritakan khusus bagi kaum mukminin saja, padahal Al-Qur’an diturunkan untuk semua umat manusia baik yang beriman maupun yang kafir. Tujuannya adalah untuk menjelaskan bahwa hanya orang-orang beriman yang dapat mengambil manfaat dari pemaparan kisah-kisah umat terdahulu karena mereka mempunyai pikiran yang jernih dan hati yang suci, serta tidak dipengaruhi oleh hal-hal yang mengotori jiwa dan akal.

Adapun orang-orang kafir dan tetap dalam kekafiran tidak akan mungkin mendapat manfaat daripadanya, karena mereka telah jauh terperosok ke dalam kemusyrikan. Hati mereka telah dikuasai oleh perasaan dengki, sombong, dan takabur, serta suka memperturutkan hawa nafsu, sehingga sulit bagi mereka menerima kebenaran yang bertentangan dengan keinginan dan kemauan mereka. Bagaimana pun jelasnya ayat-ayat dan bukti-bukti yang dikemukakan, mereka akan tetap mengingkari dan menolaknya dengan berbagai alasan yang dicari-cari seperti mengatakan bahwa Muhammad saw sudah gila atau mukjizat yang diturunkan kepadanya hanya sihir belaka.

Ayat 4

Pada ayat ini, Allah menerangkan kisah Fir’aun yang berkuasa mutlak di negeri Mesir. Tidak ada satu kekuasaan pun yang lebih tinggi dari kekuasaannya. Apa saja yang disukai dan dikehendakinya harus terlaksana. Semua rakyat tunduk dan patuh di bawah perintahnya sampai dia mengangkat dirinya menjadi tuhan.

Dengan kekuasaan mutlak itu, ia dapat melakukan kezaliman dan penganiayaan dengan sewenang-wenang. Pemerintahannya bukan berdasar keadilan dan akhlak yang mulia, tetapi berdasarkan kemauan dan keinginan semata. Politik yang dijalankannya adalah memecah belah kaumnya menjadi beberapa golongan. Kemudian ia menanamkan benih pertentangan dan permusuhan pada golongan-golongan itu agar dia tetap berkuasa terhadap mereka.

Gerakan apa pun yang dirasakan menentang kekuasaannya harus dibasmi dan dikikis habis. Kalau ada berita atau isu yang mengatakan bahwa seseorang atau satu golongan berusaha untuk menumbangkan kekuasaannya atau mungkin menjadi sebab bagi kejatuhannya, pasti orang atau golongan itu dimusnahkannya.

Golongan yang dianggap setia dan selalu menunjang dan mengokohkan singgasananya akan dimuliakan. Mereka juga diberi berbagai macam fasilitas dan keistimewaan agar menjadi kuat dan jaya. Fir’aun telah menindas Bani Israil karena dianggap golongan yang berbahaya, bila dibiarkan pasti akan menggerogoti pemerintahannya.

Dia memperlakukan golongan ini dengan sewenang-wenang, direndahkan dan dihinakan, serta dianggap sebagai golongan budak yang tidak mempunyai hak apa-apa. Golongan ini bahkan dipaksa membangun piramida dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar dan berat lainnya. Apalagi setelah ia mendengar dari tukang-tukang tenungnya bahwa yang akan merobohkan kekuasaannya ialah Bani Israil. Semenjak itu Fir’aun bertekad bulat untuk membasmi golongan ini.

Selain memperlemah dan memperbudak Bani Isra’il, Fir’aun juga memutuskan setiap anak laki-laki yang lahir di kalangan Bani Israil harus dibunuh, tanpa belas kasihan. Ia tidak mempedulikan ratap tangis ibu yang kehilangan anak yang dikandungnya dengan susah payah selama sembilan bulan dan menjadi tumpuan harapannya.

Dengan tindakan ini, Fir’aun menyangka bahwa Bani Israil akan punah dengan sendirinya karena tidak ada lagi keturunan anak laki-laki yang akan lahir dan berkembang. Adapun anak-anak perempuan dibiarkan hidup karena selain dianggap lemah dan tak mampu melawan, mereka juga digunakan sebagai pemuas nafsu. Oleh karena itu, Allah mencap Fir’aun sebagai orang yang berbuat kebinasaan di muka bumi.

Sebenarnya banyak cara lain yang tidak bertentangan dengan peri kemanusiaan yang dapat dilakukan Fir’aun untuk menghalangi terjadinya apa yang ditakutkannya itu. Akan tetapi, karena hatinya sudah keras membatu dan pikirannya sudah gelap, tidak ada lagi jalan yang tampak olehnya kecuali membasmi semua anak laki-laki Bani Israil. Fir’aun lalu menyebarkan mata-mata ke seluruh pelosok negeri Mesir untuk menyelidiki semua perempuan. Bila ada di antara mereka yang hamil, langsung dicatat dan ditunggu masa melahirkannya. Bila yang dilahirkan anak perempuan akan dibiarkan saja, tetapi kalau yang dilahirkan anak laki-laki langsung diambil untuk dibunuh.

Apakah dengan tindakan itu Fir’aun dapat mempertahankan ke-kuasaannya? Pasti tidak! Karena di balik kekuasaannya itu, ada kekuasaan yang jauh lebih perkasa yaitu kekuasaan Allah yang tak dapat dikalahkan oleh siapa pun. Dialah Maha Pencipta, Mahakuasa, dan Mahaperkasa.

Diriwayatkan oleh as-Suddi bahwa Fir’aun bermimpi melihat api datang ke negerinya dari Baitul Makdis. Api itu membakar rumah-rumah kaum Fir’aun dan membiarkan rumah-rumah Bani Israil. Fir’aun bertanya kepada orang-orang cerdik-pandai dan tukang-tukang tenung. Mereka menjawab bahwa takwil mimpi itu ialah akan lahir seorang anak laki-laki (dari Bani Israil) yang akan meruntuhkan kekuasaannya di Mesir. Takwil inilah yang mendorong Fir’aun melakukan tindakan kejam dan ganas itu.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Qasas ayat 5-6


Semarak Ramadhan: Resepsi Khatmil Qur’an Santri dan Alumni Putri Congaban

0
Khatmil Qur’an Santri dan Alumni Putri Congaban
Khatmil Qur’an Santri dan Alumni Putri Congaban

Selain di hari-hari biasa, interaksi santri dan alumni putri pesantren Congaban dengan kitab sucinya terjalin saat momen-momen tertentu, seperti bulan Ramadan. Di bulan syahr al-Qur’an ini, intensitas mereka selama berinteraksi dengan Al-Quran semakin meningkat. Melalui satu program yang cukup unik, ‘Khatmil Qur’an One Day One Juz’ (selanjutnya disebut ODOJ), mereka bersama-sama menghidupkan Al-Quran sembari meraup keberkahan bulan suci Ramadan. Tulisan ringan ini akan mencoba memotret bagaimana para santri dan alumni putri Congaban memaknai kehadiran performa Al-Quran di tengah-tengah mereka selama pelaksanaan khatmil Qur’an ODOJ.

Baca juga: Mengenal Green Deen: Persepektif Keberislaman yang Ramah Lingkungan dan Berbasis Nilai-Nilai Qur’ani

One Day One Juz (ODOJ)

Kemeriahan bulan Ramadan memang identik dengan Al-Quran. Ikatan Keluarga Besar Santri dan Alumni (IKMI) Muda Putri Pondok Pesantren Congaban tak mau ketinggalan dan turut menyemarakkan kehadiran bulan Ramadan. Program khatmil Qur’an ODOJ adalah salah satu program spesial dalam menyambut bulan Ramadan untuk merangkul para santri dan alumni bersama-sama menghidupkan Al-Quran melalui tadarus dan khataman berjemaah.

Rutinan khatmil Qur’an di kalangan santri dan alumni putri Congaban dibuat dengan sistem one day one juz (satu hari satu juz). Program ini menyediakan tujuh kelompok/grub; enam kelompok/grub inti dan satu kelompok/grub badal (pengganti) untuk menggantikan para anggota yang sedang absen karena berhalangan (haid, sakit, bepergian dan lain-lain). Masing-masing kelompok/grub menampung sebanyak 30 orang. Mekanisme program ini mewajibkan setiap anggota membaca 1 juz secara urut di rumah masing-masing.

Usai rampung, mereka akan mengkonfirmasi kepada koordinator grub/kelompok. Di luar itu, mereka diperkenankan bahkan dianjurkan untuk kembali melanjutkan membaca Al-Quran dan mengkhatamkannya secara pribadi. Dalam satu bulan, setiap anggota bisa menghatamkan 30 juz/1 kali khatam. Kalau dihitung secara keseluruhan dari 6 kelompok/grub, maka dalam sehari bisa khatam sebanyak 6 kali, dan satu bulan sebanyak 180 kali khatam.

Baca juga: Tiga Fungsi Pokok Al-Quran [2]: Makna Bayyinah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185

Program khatmil Qur’an ODOJ dimulai sejak malam pertama bulan Ramadan, dilaksanakan ba’da shalat tarawih dan berlangsung sekitar satu jam lebih. Setelah semua kelompok/grub selesai mengkhatamkan seluruhnya, Ibu Nyai Huzaimah yang memandu jalannya program ini akan menutupnya dengan doa khatmil Qur’an. Melansir keterangan Muzaiyanah selaku admin pelaksana program khatmil Qur’an ODOJ, rutinitas khataman ini berawal dari keinginan untuk meneruskan pesan al-Maghfurlah Kiai Ilyas Khotib, “Jadikanlah Al-Quran sebagai wiridan.” Harapannya adalah menjaga keistiqamahan santri (yang sedang liburan Ramadan dan alumni yang sudah lulus) dalam membaca Al-Quran selama mereka berada di rumah (Wawancara 24/04/2021).

 Silaturahmi, Pahala, Berkah dan Pribadi Istiqamah

Setiap umat Islam memiliki resepsi yang berbeda-beda ketika mereka berinteraksi dengan Al-Quran. Ragam resepsi terhadap Al-Quran akan mengikuti cakrawala harapan (horizon of expectation) yang terpatri dalam benak setiap pembacanya. Kadar ‘harapan’ di sini sangat erat kaitannya dengan latar belakang pendidikan, pengalaman, dan juga perjalanan hidup (lihat Mahtubah, Resepsi Masyarakat Madura terhadap QS. Al-Ikhlas dalam Tradisi Kompolan Sabellesen).

Begitu pula dengan para anggota program khatmil Qur’an ODOJ. Mereka pun memiliki resepsi (pemaknaan) yang beragam. Benang merah atau titik temu dari semua ragam resepsi itu bisa kita petakan menjadi tiga katagori besar; 1) menjaga keistiqamahan, 2) memanen pahala dan berkah membaca Al-Quran, dan 3) sebagai media silaturahmi. Pemaknaan ini hampir merata di kalangan anggota yang di antaranya disampaikan oleh Nyai Jumila, Samratul Farhanah, Ayu Sekarni, Wasilatul Fadilah, Nur Rahmah, Baynah Tsanai, Dewi Latifatul Aini, Muzayyanah, Toyyibah, dan Elivia Rahmawati.

Pertama, sebagai media silaturahim. Resepsi fungsional Al-Quran dalam praktiknya juga memiliki simbol-simbol tersendiri. Secara filosofis, pembacaan Al-Quran dalam khatmil Qur’an dimaknai salah satunya sebagai media silaturahmi. Dengan demikian, tradisi khatmil Qur’an yang melibatkan kehadiran Al-Quran tidak saja sebagai ajang memperbanyak pahala, tetapi juga sebagai wadah menciptakan harmonisasi sosial (lihat Fathurrasyid, Tipologi Ideologi Resepsi Al-Quran di Kalangan Masyarakat Sumenep Madura).

Baca juga: Surah al-Qadr Ayat 1, Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr Menurut Fakhruddin Ar-Razi

Dalam garis besarnya, seluruh anggota khatmil Qur’an ODOJ sepakat memaknai kehadiran Al-Quran di tengah-tengah mereka sebagai media mempererat silaturahmi. “Menurut saya, pembacaan Al-Quran melalui program ODOJ ini sangat banyak manfaatnya. Selain kita bisa istiqamah membaca dan mengkhatamkan Al-Quran setiap hari, kita juga bisa bersilaturahmi, baik dengan guru atau teman-teman senior dan junior. Seakan-akan tidak ada dinding pemisah di antara kita.” Tutur Nyai Jumila, alumni yang sekarang mengampu salah satu pesantren di Sampang (Wawancara 25/04/2021).

Kedua, memanen pahala dan keberkahan Al-Quran. Masyarakat muslim memaknai Al-Quran sebagai kalamullah yang agung. Membacanya termasuk perbuatan mulia yang akan diganjar dengan pahala dan berkah melimpah (lihat Atabik, The Living Qur’an: Potret Budaya Tahfiz Al-Qur’an di Nusantara). Resepsi prakmatik ini juga tampak pada para anggota khatmil Qur’an ODOJ. Seperti yang dituturkan oleh Nur Rahmah misalnya, “Dengan membaca Al-Quran melalui program khatmil Qur’an ini, kita sama-sama bisa meraup pahala dan berkah berjemaah, khususnya dibulan suci Ramadan.” (Wawancara 25/04/2021).

Senada dengan Nur Rahmah, Toyyibah juga mengatakan hal yang sama, “Kita bisa berlomba-lomba dalam ibadah. Sama-sama berebut barokahnya Al-Quran.” (Wawancara 25/04/2021). Tidak jauh berbeda dengan apa yang dituturkan oleh Sumrotul Farhanah, “Harapan saya di bulan Ramadan ini bisa memperbaiki diri dalam membaca Al-Quran dan mendapat pahala yang sesuai.” (Wawancara 25/04/2021).

Ketiga, menjaga keistiqamahan. Secara psikologis, berinteraksi dengan Al-Quran dan mengkhatamkannya dengan rutin akan mampu memberikan efek positif terhadap kedisiplinan seseorang. Di sinilah para anggota khatmil Qur’an ODOJ terlihat memaknai kehadiran Al-Quran setidaknya sebagai al-syifa’ (obat) untuk membunuh rasa malas, sehingga membentuk pribadi yang istiqamah. “Alhamdulillah, jadi punya dorongan lebih kuat untuk bisa membaca Al-Quran setiap hari. Karena di hari-hari biasa suka agak males. Dari situ, saya akhirnya menjadi terbiasa sehabis salat pasti baca Al-Quran. Sesibuk apapun, saya tergerak untuk meluangkan waktu membaca Al-Quran.” Ungkap Bainah Tsanai (Wawancara 25/04/2021).

Wasilatul Fadilah menambahkan, “Kita yang mulanya kesulitan istiqamah membaca Al-Quran karena malas. Namun melalui rutinitas seperti khatmil Qur’an ini, keistiqomahan kita bisa tertunaikan.” (Wawancara 25/04/2021). Begitu pula dengan Dewi Latifatul Aini dan Ayu Sekarni yang sama-sama menyimpulkan, bahwa membaca Al-Quran lebih-lebih secara berjamaah telah mengajarkan arti penting sebuah kedisiplinan dan keistiqamahan. Sebelumnya mungkin belum tentu bisa membaca Al-Quran satu juz setiap hari (Wawancara 25/04/2021).

Baca juga: Tafsir Ahkam: Tiba Ramadhan, Ini Hukum yang Belum Bayar Utang Puasa

Berkepribadian istiqamah inilah yang paling diharapkan oleh Ibu Nyai Huzaimah Ilyas, pengasuh pondok pesantren putri Congaban dalam prakata sambutannya. Istiqamah adalah wasilah memperolah maghfirah dan berkah. “Anak-anakku semuanya yang dirahmati Allah Swt. Mudah-mudahan semuanya bisa semangat aktif istiqamah membaca Al-Quran seperti acara khatmil Quran ini, sehingga kita sekalian mendapat maghfirah dan berkah dari Allah Swt,” pungkasnya.

Wallahu a’lam []

Pesan Gus Ghofur Maimoen: Bersikap Moderat itu Tidak Mempersulit Diri Sendiri

0
Gus Ghofur (Tawazun)
KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen atau akrab dikenal Gus Ghofur

Dalam rangka mensyukuri milad pertamanya, tafsiralquran.id menyelenggarakan webinar yang bertajuk, “Menyemai Nilai-nilai Kemanusiaan dalam Tafsir di Ruang Digital” pada Kamis (29/04/2021) atau bertepatan pada momentum Nuzulul Quran, 17 Ramadhan 1432 H. Salah satu pemateri yang diundang adalah Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, M.A, atau kerap disapa Gus Ghofur yang juga Pengaruh Pondok Pesantren Al-Anwar 3, Sarang, Rembang.

Dalam webinar syukuran milad taqu ini, Gus Ghofur secara khusus berbicara tentang “Tafsir Moderat”. Ia merincikan tentang tema yang dibawakannya itu adalah bagaimana aspek moderat dalam Al-Quran dan signifikansinya di era kekinian. Dalam paparannya, beliau menuturkan, “Islam itu sebenarnya adalah moderat itu sendiri. Sebenarnya tidak ada Islam radikal, Islam moderat, Islam sekuler, dan sejenisnya, tetapi yang genuine adalah moderat,” tutur putra kelima KH. Maimoen Zubair.

Beliau juga menyitir Q.S. al-Baqarah [2]: 143,

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Q.S. al-Baqarah [2]: 143)

Menafsiri ayat di atas, Gus Ghofur menyampaikan bahwa bersikap tidak moderat itu menyalahi ajaran agama. Ayat di atas adalah buktinya, “wa kadzalika ja’alankum ummatan wasatha”. Selain itu, ia juga berujar bahwa istilah moderat sekarang juga menjadi rebutan oleh semua kalangan umat Islam. “Karena memang jati diri atau DNA umat Islam adalah moderat itu sendiri,” sambung Rais Syuriah PBNU.

Beliau juga mengutip sabda Nabi saw bahwa Nabi saw melarang berikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menjalankan agama,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّيْنِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ

“Wahai manusia, jauhilah berlebih-lebihan dalam agama karena sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah berlebih-lebihan dalam agama.” (HR Ibnu Majah).

Merujuk hadits di atas, bahwa orang dahulu binasa alias rusak karena berlebih-lebihan dalam menjalankan agama. Ia merasa bahwa dirinya lah yang paling suci, paling dekat kepada Allah swt sehingga mudah mencap kafir, haram, setan dan sebagainya. Padahal sematan tersebut adalah hak prerogatif Tuhan. Orang ngapling tanah orang lain saja kita tidak boleh, apalagi mengapling tanah Tuhan.

Lebih dari itu, Gus Ghofur juga kembali menyinggung larangan ghuluw ini dengan menyitir sabda Nabi saw,

هَلَكَ المُتنَطِّعُوْنَ قَالَهَا ثَلَاثًا

“Kehancuran bagi mereka yang melampaui batas”, diulang sebanyak 3 kali”. (H.R. Imam Muslim Juz 13 dalam bab halaka al-mutanatth’un No. 4823, hal. 154; diriwayatkan juga H.R. Imam Abu Dawud Juz 12, No. 3992, hal. 212; H.R. Imam Ahmad bin Hanbal, Juz 1, No. 3655, hal. 386).

Istilah al-mutanatthi’un sendiri adalah orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam menjelaskan dan mengamalkan ajaran agama. Adapun yang dimaksud “kehancuran bagi mereka” adalah di akhirat. Hadits ini merupakan warning bagi umat Islam agar tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan ajaran agama. Bersikaplah tawassuth (moderat), adil dan tawazun (berimbang).

Dalam konteks ini, Gus Ghofur memaknai hadits ini dengan, “janganlah mempersulit diri sendiri, apalagi dalam urusan sosial-kemasyarakatan, apalagi persoalan negara. Mereka yang mempersulit orang lain, tidak bersosial sesungguhnya mempersulit diri sendiri”. Tukas doktor lulusan Universitas al-Azhar, Mesir

Lebih jauh, ia juga menegaskan bahwa bersikap moderat di satu sisi merupakan antipati dari mereka yang “hobby” mempersulit diri dalam memahami ajaran Islam, Al-Quran dan hadits Nabi. Namun pada sisi yang lain adalah kebalikan daripada mempermudah segala hal. Kata Nabi saw, “yassiru wala tu’assiru basyiru wala tunafiru” (permudahlah jangan mempersulit orang lain, gembirakanlah jangan membuatnya lari atau berpaling).

Dalam firman Allah swt dikatakan, “yuridullaha bikumul yusra wala yuridu bikumul ‘usra” (Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu). (Q.S. al-Baqarah [2]: 185). Wallahu A’lam.

Tiga Fungsi Pokok Al-Quran [3]: Makna Al-Furqan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185

0
Makna Al-Furqan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185
Makna Al-Furqan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185

Salah satu fungsi pokok Al-Quran ialah al-furqan. Secara literal, makna al-furqan adalah membedakan, memisahkan. Al-Quran sebagai al-furqan secara gamblang telah memberikan panduan kepada manusia agar mampu membedakan perkara yang haq dan bathil, halal dan haram, mana yang bersifat petunjuk dan menjerumuskan. Semuanya telah jelas dalam Al-Quran. Nah, pada pembahasan kali ini, kita akan mengulas makna al-furqan yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (Q.S. al-Baqarah [2]: 185)

Baca juga: Mengenal Green Deen: Persepektif Keberislaman yang Ramah Lingkungan dan Berbasis Nilai-Nilai Qur’ani

Makna al-Furqan

Sebelum melangkah lebih jauh penafsiran kata al-furqan dalam ayat di atas ada baiknya diulas terlebih dahulu makna al-furqan. Kata al-furqan secara semantik berasal dari kata faraqa-yafriqu-farqan, artinya al-fashl (memisahkan, membedakan). Sedangkan dalam Kamus al-Munawwir, kata al-furqan berarti memisahkan antara perkara yang haq dan bathil.

Adapun Ibrahim al-Abyari dalam al-Mausu’ah al-Quraniyyah al-Muyassarah, kata al-furqan bermakna memisahkan antara sesuatu. Al-furqan, demikian dalam kamus al-Muhith, juga mempunyai banyak arti di antaranya kitab al-Quran, pertolongan (al-nasr), bukti (hujjah), menampakkan yang benar (al-sihr), anak laki-laki (al-sibyan), kitab taurat dan membelah laut (infiraq al-bahr). Jika ditilik secara mendalam, kata al-furqan sendiri disebut tujuh kali dalam Al-Quran, yaitu Q.S. al-Baqarah [2]: 53 dan 185, Q.S. Ali Imran [3]: 4, Q.S. al-Anbiya’ [21]: 48, Q.S. al-Furqan [25]: 1, Q.S. al-Anfal [8]: 29 dan 41.

Nah, kata al-furqan pada ayat di atas tidak jauh berbeda dengan makna al-furqan menurut kamus di atas. Di antaranya al-Qurtuby, ia menafsirkan kata al-furqan dengan segala sesuatu yang membedakan antara perkara haq dan bathil (ma faraqa baina al-haq wa al-bathil).

Sedangkan al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan al-furqan dengan menggunakan redaksi al-fashl (memisahkan), yaitu memisahkan antara yang haq dan bathil (al-fashl baina al-haq wa al-bathil). Demikian pula al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, ia menggunakan redaksi al-fariq, yakni meninggalkan sesuatu antara yang haq dan bathil alias perkara syubhat.

Begitupun al-Syaukani, al-Suyuthi, al-Baghawy, Ibn ‘Atiyyah, al-furqan menurutnya ialah sesuatu yang membedakan antara haq dan bathil. Namun, al-Mawardi dalam al-Nukat wa al-‘Uyun menambahi makna al-furqan dengan perbedaan antara yang halal dan haram.

Baca juga: Tiga Fungsi Pokok Al-Quran [2]: Makna Bayyinah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185

Penafsiran selanjutnya disampaikan oleh Ibn al-Jauzi dengan mengutip penafsiran Muqatil bin Sulaiman, dalam Zad al-Masir fi Ilmi al-Tafsir, ia memaknai al-furqan dengan sesuatu yang keluar dari agama, yaitu syubhat dan kesesatan (al-mukhriju fi al-din min al-syubhat wa al-dhalalah). Dalam artian, seorang manusia hendaknya tidak melakukan perkara syubhat alias gak jelas, dan perkara yang sesat dan menyesatkan.

Al-Quran sebagai Pembeda: Kontekstualisasi bagi Muslim Kontemporer

Sebagai al-furqan (pembeda), Al-Quran jelas dan sangat gamblang memisahkan segala sesuatu yang haq dan bathil, halal dan haram, baik dan buruk, benar dan salah, petunjuk dan kesesatan. Sesuatu yang benar tentu tidak dapat dicampuri dengan yang salah, demikian pula sesuatu yang halal tidak dapat bercampur dengan yang haram. Semuanya telah jelas. Inilah konsep al-furqan dalam Al-Quran, sebuah konsep peradaban yang sangat maju sepanjang zaman.

Makan, tak heran jika al-Qurtuby menuturkan bahwa Al-Quran sebagai al-furqan karena dua aspek yaitu pertama, karena membedakan antara kebenaran dan kebatilan, mukmin dan kafir, tauhid dan jahiliyah. Kedua, di dalamnya terangkum penjelasan-penjelasan (bayyinat) syariat Islam seperti halal dan haram, makanan yang sehat bergizi (thayyibat) dan sebaliknya.

Makna al-furqan juga mengisyaratkan betapa sempurnanya Al-Quran sebagai hudan (petunjuk). Ibarat lampu lalu lintas, Al-Quran itu komplit, kapan manusia untuk waspada (lampu kuning), kapan manusia harus melaksanakan syariat (lampu hijau), dan kapan pula manusia harus mengerti berhenti atau mengerem (lampu merah). Panduan ini jelas dan tidak remang-remang.

Baca juga: Peran Sayyidah Khadijah Saat Nabi Menerima Wahyu Pertama di Bulan Ramadan

Selain itu, isyarat kedua Al-Quran sebagai al-furqan bermakna menyempurnakan ajaran agama sebelumnya. Dalam hadits Nabi saw, “Tidakkah Aku diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia”. Menarik kiranya kalimat menyempurnakan yang dilukiskan dalam kata li utammima (untuk menyempurnakan), bukan li nuskhah (untuk menghapus atau menggantikan). Sungguh sebuah redaksi yang menunjukkan ketinggian ajaran Islam.

Pada momentum ramadhan kali ini, meski masih diselimuti wabah pandemi Covid-19, umat Islam harus tampil beda. Artinya, umat Islam harus menjadi umat yang lebih patuh untuk menaati protokol kesehatan dan tidak mudik misalnya demi menekan penyebaran virus, umat Islam harus tampil beda dengan semakin produktif di tengah pandemi, misalnya menghasilkan karya tulis (buku, dan sejenisnya), dan beda-beda positif lainnya. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Luqman ayat 29-32

0
Tafsir Surah Luqman
Tafsir Surah Luqman

Tafsir Surah Luqman ayat 29-32 ini Allah memerintahkan manusia untuk memperhatikan dan memikirkan kekuasaan-Nya. Namun tetap ada orang-orang yang mengingkari Allah dan Allah menegaskan bahwa yang mengingkari ayat-ayat-Nya serta mempersekutukan ialah orang-orang yang hidupnya penuh dengan tipu daya dan kebusukan. Selengkapnya baca Tafsir Surah Luqman ayat 29-32 di bawah ini….


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Luqman ayat 26-28


Ayat 29

Tafsir Surah Luqman ayat 29-32 dalam ayat ini, Allah menyuruh manusia memperhatikan dan memikirkan kekuasaan-Nya. Dia memasukkan malam kepada siang, dan memasukkan siang kepada malam. Maksudnya ialah bahwa Allah mengambil sebagian dari waktu malam, lalu ditambahkannya kepada waktu siang, maka terjadilah perpanjangan waktu siang itu, sebaliknya malam menjadi pendek, akan tetapi sehari semalam tetap 24 jam.

Hal ini terjadi pada musim panas. Sementara itu, Allah juga mengambil sebagian dari waktu siang, lalu dimasukkan-Nya kepada waktu malam, maka menjadi panjanglah waktu malam itu, dan sebaliknya waktu siang menjadi pendek. Hal ini terjadi di musim dingin.

Kejadian seperti di atas amat jelas kelihatannya dan dialami oleh penduduk negeri-negeri yang terletak di daerah-daerah yang mempunyai empat macam musim dalam setahun, yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi, yaitu daerah Sedang Utara dan Sedang Selatan.

Adapun di negeri-negeri yang berada di daerah khatulistiwa, maka dalam setahun hanya ada dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Sedang pada saat-saat malam lebih panjang dari siang, atau siang lebih panjang dari malam, perbedaan itu tidak terasa karena perbedaan panjang pendeknya malam atau siang itu tidak seberapa.

Terjadinya empat macam musim dalam setahun, dan terjadinya siang lebih panjang dari malam itu atau sebaliknya di daerah Sedang Utara dan Sedang Selatan, adalah karena Allah memiringkan letak bumi di garis lintang 22 ½ derajat, sebagaimana yang dikenal dalam Ilmu Falak. Semua itu mengandung hikmah-hikmah yang sangat besar.

Allah juga menundukkan matahari dan bulan untuk kepentingan manusia. Sinar matahari merupakan lampu yang menerangi manusia di siang hari, sehingga mereka dapat bekerja dan berusaha. Sinar matahari juga menyuburkan tumbuh-tumbuhan, menimbulkan angin dan awan, serta berbagai kegunaan lainnya. Demikian pula bulan dan cahayanya serta berlainan bentuknya, amat banyak kegunaannya bagi manusia, tetapi sebagian kecil saja dari kegunaan itu yang diketahuinya.

Bulan dan matahari beredar di garis orbitnya masing-masing, sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan Allah, sampai kepada waktu yang telah ditentukan-Nya. Apabila waktu yang telah ditentukan itu datang, maka langit dan bumi akan digulung, sebagaimana firman Allah:

يَوْمَ نَطْوِى السَّمَاۤءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِۗ

(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. (al-Anbiya’/21: 104)

Pada akhir ayat ini dinyatakan bahwa Allah mengetahui segala perbuatan yang telah dikerjakan hamba-Nya, apakah itu perbuatan baik ataupun perbuatan buruk. Tidak ada yang luput dari pengetahuan-Nya. Allah akan memberinya pembalasan yang adil.

Ayat 30

Ayat ini menerangkan bahwa tujuan Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada manusia adalah untuk menjadi dalil dan bukti yang kuat bagi mereka bahwa manusia wajib beribadah kepada-Nya dan hanyalah Dia yang berhak disembah. Menyembah atau beribadah kepada selain Allah adalah tindakan yang batil karena semua yang selain Dia adalah fana, tidak kekal. Dia Mahakaya dan tidak memerlukan yang lain, sedangkan semua makhluk sangat tergantung kepada nikmat-Nya.

Akhirnya ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Tinggi, mengatasi segala sesuatu, Mahabesar, dan menguasai segala sesuatu. Semua tunduk dan patuh kepada-Nya.

Ayat 31

Pada ayat ini, Allah memerintahkan agar manusia melihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya yang ada di bumi dengan mengatakan, “Apakah tidak engkau perhatikan, hai Muhammad, bahtera yang berlayar di lautan yang menghubungkan negeri-negeri yang berjauhan letaknya.” Dengan adanya hubungan itu, penduduk suatu negeri akan mengenal penduduk negeri lain.

Keperluan dan kebutuhan rakyat yang tidak ada di negerinya dapat diambil dan diangkut oleh kapal-kapal dari negeri-negeri yang lain, seperti bahan makanan, pakaian, obat-obatan, perhiasan, mesin-mesin, dan sebagainya. Dengan adanya kapal-kapal itu, seakan-akan hubungan antara bangsa-bangsa dan negara-negara dewasa ini semakin dekat.

Kapal dibuat pertama kali oleh Nabi Nuh sesuai dengan perintah Allah dalam misi penyelamatan manusia beriman ditambah dengan sejumlah pasangan hewan (lebih lanjut baca Surah Hud/11: 40).

Namun demikian, dengan kemampuan berpikir manusia, maka teknologi kapal berkembang. Kapal tidak saja dibuat dari bahan kayu saja bahkan sudah berkembang dengan menggunakan logam. Walaupun akhir-akhir ini dengan berkembangnya teknologi bahan, manusia telah mampu “meramu” dari bahan yang tersedia menjadi bahan yang lebih ringan, kompak, mudah dibentuk, kuat, tahan cuaca, dan tahan benturan.

Besi yang mestinya tenggelam, karena massa jenis logam jauh lebih besar di atas massa jenis air, tetapi dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), yakni dengan menerapkan hukum Archimides (fisika),  maka besi tadi dapat mengapung di permukaan air.  Hakikatnya hukum fisika itu adalah ketetapan Allah. Ketetapan Allah yang dapat dirasakan manfaatnya  dalam kehidupan manusia. Itulah  nikmat Allah yang sesungguhnya.

Semua yang diterangkan Allah itu adalah bukti-bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya yang nyata bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi segala macam cobaan dan kesukaran, serta bagi orang-orang yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya. Tanda orang bersyukur kepada Allah itu ialah dengan menyatakan ungkapan syukur dalam bentuk perkataan atau perbuatan ketika menerima nikmat itu.

Asy-Sya’bi berkata, “Sabar itu adalah sebagian dari iman, syukur itu adalah sebagian iman, dan yakin adalah iman seluruhnya. Tidakkah engkau perhatikan firman Allah yang terdapat pada akhir ayat ini dan firman-Nya: “wa fi al-ardhi ayatun li al-muqinin” (dan pada bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin) dan sabda Rasulullah saw:

اَلاِيْمَانِ نِصْفَانِ نِصْفٌ فِى الصَّبْرِ وَنِصْفٌ فِى الشُّكْرِ. (رواه البيهقى عن أنس)

Iman itu ada dua bagian, yaitu sebagian dalam sabar dan sebagian dalam syukur. (Riwayat al-Baihaqi dari Anas)

Ayat 32

Ayat ini menerangkan sifat-sifat orang-orang musyrik dengan melukiskan mereka, “Apabila orang-orang musyrik penyembah patung dan pemuja dewa itu berlayar ke tengah lautan, tiba-tiba datang gelombang besar dan menghempaskan bahtera mereka ke kiri dan ke kanan, dan merasa bahwa mereka tidak akan selamat, bahkan akan mati ditelan gelombang, maka di saat itulah mereka kembali kepada fitrahnya, dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan setulus-tulusnya.

Pada saat serupa itu mereka berkeyakinan bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat menyelamatkan mereka kecuali Allah semata, seperti yang pernah dilakukan Fir’aun di saat-saat ia akan tenggelam di laut.

Setelah Allah menerima doa dan menyelamatkan mereka dari amukan gelombang itu, maka di antara mereka hanya sebagian saja yang tetap mengakui keesaan Allah, adapun yang lainnya kembali menyekutukan Tuhan.

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa yang mengingkari ayat-ayat-Nya itu dan kembali mempersekutukan Tuhan ialah orang-orang yang dalam hidupnya penuh dengan tipu daya dan kebusukan, serta mengingkari nikmat Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Luqman ayat 33-34