Beranda blog Halaman 348

Tafsir Surah Luqman ayat 33-34

0
Tafsir Surah Luqman
Tafsir Surah Luqman

Tafsir Surah Luqman ayat 33-34 mengulas perintah Allah kepada manusia untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang karena manusia tidak dapat selamat dari malapetaka yang akan terjadi akibat larangan yang diperbuatnya. Selanjutnya baca Tafsir Surah Luqman ayat 33-34.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Luqman ayat 30-31


Ayat 33

Tafsir Surah Luqman ayat 33-34 khususnya pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada manusia untuk me-laksanakan perintah-perintah dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang. Tuhan yang telah menciptakan manusia dan menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya untuk kepentingannya. Manusia hendaklah takut pada hari dimana terjadi malapetaka yang dahsyat, tidak seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya dari malapetaka itu.

Pada waktu itu, seorang ayah tidak kuasa menolong anaknya, demikian pula seorang anak tidak dapat menolong bapaknya, karena segala urusan waktu itu berada di tangan Allah. Tiap-tiap orang bertanggung jawab terhadap segala perbuatan yang telah dilakukannya. Mereka memikul dosanya masing-masing. Hanya perbuatan baik yang telah dilakukannya selama hidup di dunia yang dapat menolong manusia dari malapetaka itu.

Allah memperingatkan bahwa janji-Nya membangkitkan manusia dari kubur adalah sesuatu yang benar-benar akan terjadi dan suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan sedikit pun. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali manusia tertipu oleh kesenangan hidup di dunia dan segala kenikmatan yang ada padanya, sehingga mereka berusaha dan menghabiskan seluruh waktu yang ada untuk memperoleh dan menikmati kesenangan-kesenangan duniawi.

Akibatnya, tidak ada waktu lagi untuk beribadah kepada Allah, serta mengerjakan kebajikan dan amal saleh. Padahal kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang kekal dan lebih baik.

Demikian pula Allah memperingatkan manusia akan tipu daya setan, yang selalu mencari-cari kesempatan untuk memperdaya manusia. Setan itu menjadikan kehidupan dunia itu indah dalam pandangan matanya, sehingga mereka lupa kepada tugas yang dipikulkan Allah kepada mereka sebagai khalifatullah fil ardh (makhluk yang diberi-Nya tugas memakmurkan bumi).


Baca Juga: Argumentasi Kekuasaan dan KeEsaan Allah Swt: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 164


Ayat 34

Pada ayat ini, Allah menerangkan lima perkara gaib yang hanya Dia yang mengetahuinya, yaitu:

  1. Hanya Allah yang mengetahui kapan datangnya Hari Kiamat. Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui meskipun itu malaikat, padahal malaikat adalah makhluk yang paling dekat dengan-Nya. Hal ini juga tidak diketahui oleh para nabi yang diutus.

لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ

Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (al-A’raf/7: 187)

  1. Hanya Allah yang menurunkan hujan. Dia yang menetapkan kapan, dimana, dan berapa banyak kadar air yang akan dicurahkan-Nya. Ketetapan ini tidak seorang pun yang dapat mengetahuinya.
  2. Hanya Allah yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang ada dalam kandungan seorang perempuan, apakah cacat atau sempurna, dan kapan ia akan dilahirkan.
  3. Hanya Dia pula yang mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakan oleh seseorang esok harinya. Sekalipun manusia dapat merencanakan apa yang akan dikerjakannya itu, namun semuanya itu hanyalah bersifat rencana saja. Jika Allah menghendaki, pekerjaan itu akan terlaksana. Akan tetapi, jika Ia tidak menghendaki, tidak sukar bagi-Nya untuk menghalangi terlaksananya.
  4. Seseorang tidak mengetahui di mana ia akan meninggal dunia nanti. Apakah di daratan, di lautan, ataupun di udara. Apakah di negeri ini, atau di negeri yang lain. Hanya Allah saja yang dapat mengetahuinya dengan pasti.

Diriwayatkan dari Ibnu Mundzir dari ‘Ikrimah bahwa seorang laki-laki bernama al-Warits bin Amr bin Haritsah datang kepada Nabi saw, ia bertanya, “Ya Muhammad, kapan akan datang hari Kiamat? Bumi kita telah kering, kapan akan menjadi subur? Sesungguhnya aku meninggalkan istriku dalam keadaan hamil, kapan ia akan melahirkan? Aku mengetahui apa yang aku kerjakan sekarang, maka apakah yang akan aku kerjakan esok harinya? Aku mengetahui tempat aku dilahirkan, maka di tempat manakah aku akan meninggal? Sebagai jawabannya, turunlah ayat ini.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda:

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ: اِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى اْلاَرْحَامِ وَمَاتَدْرِيْ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدَا وَمَاتَدْرِيْ نَفْسٌ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُ اِنَّ الله َعَلِيْمٌ خَبِيْرٌ (رواه البخاري و مسلم عن ابن عمر)

Kunci masalah yang gaib itu ada lima, “Sesungguhnya hanya pada Allah sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat. Dialah yang menurunkan hujan, Dia mengetahui apa yang dalam rahim, seseorang tidak mengetahui apa yang akan dikerjakannya esok harinya, dan ia juga tidak mengetahui di bumi mana ia akan meninggal dunia. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar.

(Tafsir Kemenag)


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 1


Mengenal Green Deen: Persepektif Keberislaman yang Ramah Lingkungan dan Berbasis Nilai-Nilai Qur’ani

0
Green Deen
Green Deen

Green Deen merupakan salah satu tawaran perspektif keberislaman yang memperlihatkan relasi antara keimanan dan keberpihakan pada lingkungan. Tawaran ini dipelopori oleh Ibrahim Abdul Matin dalam karyanya yang berjudul Green Deen: What Islam Teaches About Protecting the Planet.

Green Deen lahir berkat ragam pengalaman dan kegelisahan akademik yang dialami oleh Matin. Sebagai seorang akademisi muslim di satu sisi dan environmentalists di sisi lain, ia perlahan menemukan bahwa banyak sekali tradisi dan nilai-nilai keislaman yang mengajarkan manusia untuk berlaku baik kepada lingkungan.

Melalui Green Deen, Abdul Matin juga ingin membuktikan bahwa spiritualitas dan sains dapat berjalan bergandengan. Sains dapat menjadi alat untuk lebih mengenal ciptaan Tuhan—atau dalam al-Qur’an disebut ayat—yang dengannya manusia akan semakin mengenal Tuhannya dan masuk dalam golongan ulul albab yang didefinisikan dalam Q.S. Ali Imran 191:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Enam Prinsip Fundamental Green Deen

Ibrahim Abdul Matin merumuskan enam prinsip fundamental dalam Islam yang menjadi akar bagi perspektif green deen yang ia tawarkan. Keenam prinsip tersebut ialah 1) tauhid; 2) ayat; 3) khalifah; 4) amana; 5) adl; 6) mizan. Keseluruhan prinsip ini mengandung penafsirannya atas beberapa ayat al-Qur’an tertentu yang layak untuk dikaji dalam wacana Tafsir Ekologi.

Pertama, dalam menyoal tauhid, Matin mengungkapkan bahwa Green Deen berarti mengakui bahwa segala sesuatu datang dari Allah. Ia mengutip Q.S. al-Hadid: 3:

هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Lalu kemudian ia menerangkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini merupakan hasil emanasi dari sumber yang sama. Matin menguraikan bahwa kecanggihan teknologi saat ini memberikan kemampuan pada manusia untuk melihat partikel penyusun atom (proton, neutron, elektron) yang terlihat bagaikan kilatan cahaya.

Begitupun jika memandang objek terjauh yang dapat dilihat yakni Quasar, maka objek itu juga akan terlihat seperti halnya partikel atom—bagai kilatan cahaya. Maka menurutnya, fenomena tersebut merupakan ekspresi keesaan Allah di mana pada tingkatan elemental, spiritual dan scientific, segala sesuatu mengandung hal yang sama yakni cahaya.

Penjelasan Abdul Matin ini mengingatkan penulis pada filsafat emanasi al-Farabi dan Ibn Sina dengan gaya Peripatetiknya (hikmah masya’iyah). Lalu juga Imam al-Ghazali dengan filsafat iluminasinya yang saat ini sedang ramai dikaji melalui karyanya Misykat al-Anwar. Kedua aliran tersebut berbeda namun tetap mengusung nur atau cahaya sebagai salah satu wacana utama yang dibicarakan perihal tauhid.

Kedua, ayat atau tanda yang dimaksud dalam prinsip kedua ialah baik ayat qauliyah maupun kauniyah (tanda-tanda kealaman). Menurut Matin baik ayat yang berupa firman Allah dalam al-Qur’an maupun ciptaan yang ada seluruh alam semesta ini memiliki fungsi yang sama yakni sebagai tanda akan adanya sang Pencipta, Allah Swt.

Maknanya pembacaan umat Islam terhadap al-Qur’an semestinya menjadi pengantar bagi sebuah perjalanan eksitensial. Perjalanan yang membawa manusia kepada penghayatan bahwa dalam setiap aspek penciptaan terdapat pesan ketuhanan di baliknya.

Ketiga dan keempat, khalifah atau steward of God dan amanah (trust) merupakan dua prinsip fundamental yang mengantarkan pada hakikat penciptaan manusia. Manusia diciptakan dari tanah/ bumi di mana di dalamnya telah ditanamkan fitrah (the essence of God), kemudian dianugerahi akal dan rasionalitas yang dengan kesemua materi itu manusia diamanahi sebagai wakil Tuhan di Bumi.

Hakikat penciptaan ini apabila dihayati akan mengantarkan pada pemahaman yang mendalam akan Q.S. al-Baqarah: 30. Di mana manusia berasal dari tanah/ Bumi lalu dijadikan sebagai khalifah di Bumi, maka sudah merupakan kewajiban manusia untuk menjaganya sebagai unsur terpenting atas keberadaanya serta mengelolanya dengan baik dan menjaga kesinambungannya dalam rangka menjalankan amanahnya sebagai khalifah.

Kelima dan keenam, adl (justice) dan mizan (balance) merupakan dua pilar terakhir yang sekaligus melengkapi cara pandangan Green Deen ini. Adil atau keadilan dan seimbang atau keseimbangan merupakan dua hal yang saling berkelindan. Matin menguraikan bahwa segala sesuatu yang merupakan kreasi Tuhan tentu tercipta dengan aspek keseimbangan yang sempurna.

Sebagaimana diuraikan dengan indah dalam Q.S. al-Rahman: 3-10:

خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِ

Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya). Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu, dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya).

Menurut Matin ayat ini begitu jelas mempresentasikan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini (ayat kauniyah) telah diciptakan dengan mizan. Maka dalam ayat tersebut manusia memiliki tugas untuk menjaganya dengan adl. Artinya jika dimensi adl ini hilang dari manusia, maka berpotensi merusak keseimbangan alam. Matin pun mengutip Q.S. al-Rum: 41 demi menegaskan pemahaman ini.

Ia lalu menguraikan bahwa sistem ekonomi yang diusung manusia menjadi salah satu penyebabnya. Kapitalisme dan konsumerisme yang akut telah menjangkit begitu lama dan menyebabkan alam hanya dipandang sebagai “objek eksploitatif” demi meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Dalam kasus tersebut, Matin mencetuskan cara pandang yang adil terhadap alam/ bumi khususnya yakni melihatnya sebagai masjid—tempat beribadah (sebagaimana termaktub dalam Hadis). Artinya ia ingin jika manusia memandang bumi dengan melibatkan sisi spiritualitasnya yakni dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral.

Implikasinya, bumi akan lebih dihormati dan tidak diperlakukan dengan sembarangan—sebagaimana umat Islam memperlakukan al-Qur’an sebagai kitab suci yang sakral. Menurutnya, merefleksikan makna mizan dan adl merupakan bentuk ibadah kepada Allah, dan ia pun mengutip Q.S. al-Rum: 30—seolah ingin menunjukkan bahwa Green Deen ialah representasi atas al-din al-qayyim:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia atas (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Selain memberikan wacana segar bagi kancah akademik, cara pandang keagamaan yang inovatif dan solutif semacam ini harus didiseminasikan secara masif ke ruang-ruang sosial umum. Umat perlu tahu jika agama bukan hanya sekedar persoalan halal dan haram, melainkan ruh atau spirit dalam segala aspek kehidupan. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Luqman ayat 26-28

0
Tafsir Surah Luqman
Tafsir Surah Luqman

Tafsir Surah Luqman ayat 26-28 dijelaskan bahwa Allah memiliki langit dan bumi dan tak ada yang lain kecuali Allah lah sang pencipta. Di akhir Tafsir Surah Luqman ayat 26-28 Allah menegaskan bahwa Allah Maha Melihat dan Mendengar apa yang hambanya perbuat. Selengkapnya kekuasaan Allah dalam Tafsir Luqman ayat 26-28 di bawah ini…


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Luqman ayat 22-25


Ayat 26

Hanya Allah yang memiliki langit dan bumi beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya, tidak ada yang lain karena Dialah yang menciptakannya. Dialah yang mengatur, menjaga, memelihara, dan menentukan akhir kejadiannya. Dia berbuat menurut apa yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, pantaslah ia dipuji dan disanjung, serta pantas pula dipanjatkan syukur kepada-Nya. Dia tidak memerlukan sesuatu apa pun dari makhluk-Nya.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa menurut agama Islam, harta ini adalah milik Allah. Manusia hanya dipinjamkan dan diperbolehkan untuk memanfaatkannya, sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama. Oleh karena itu, Allah bisa saja mengambil secara paksa seluruh milik manusia. Namun demikian, karena Allah tahu bahwa manusia mempunyai sifat kikir, maka Ia tidak melakukan hal itu.

Allah hanya mengambil sebagian dari harta yang wajib dizakati. Dalam hal ini, waliyyul-amri (pemerintah) berhak mengambil, kalau perlu secara paksa, harta zakat yang ada pada kaum Muslimin, untuk disalurkan pada jalan Allah.

Ayat 27

Diriwayatkan bahwa tatkala Rasulullah masih berada di Mekah turunlah ayat:

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (al- Isra’/17: 85)

Tatkala berhijrah ke Medinah, Rasulullah datang kepada rahib-rahib Yahudi. Mereka berkata, “Ya Muhammad, telah sampai kepada kami bahwa engkau berkata, ‘dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’. Apakah kami yang kamu maksudkan dengan perkataan itu, atau kaummu?”

Rasulullah menjawab, “Semuanya yang aku maksudkan.” Mereka berkata, “Bukankah telah engkau baca dalam kitab yang diturunkan kepadamu bahwa kepada kami telah diturunkan Taurat dan di dalamnya terdapat ilmu tentang segala sesuatu.”

Rasulullah berkata, “Ilmu dalam Taurat itu sedikit, jika dibandingkan dengan ilmu Allah, dan sesungguhnya Allah menurunkan kepadaku sesuatu, yang jika kamu amalkan, niscaya akan memberi manfaat kepadamu.” Mereka berkata, “Ya Muhammad, kenapa kamu mengatakan demikian, sedang engkau me-ngatakan, ‘dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberikan kebajikan yang banyak’.

Bagaimana mungkin berkumpul pada sesuatu, ilmu yang sedikit dan kebaikan yang banyak?” Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai jawaban.

Ayat ini menerangkan tentang keluasan ilmu Allah. Hal ini diibaratkan bahwa seandainya seluruh pohon-pohon yang di muka bumi dijadikan pena untuk mencatat ilmu Allah itu, dan seluruh air laut dijadikan tintanya, kemudian ditambah dengan tujuh kali sebanyak itu, maka kalimat Allah itu belum juga habis tertulis. Dalam ayat lain, Allah berfirman:

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (al- Kahf/18: 109)

Arti ”kalimat Allah” dalam ayat ini banyak sekali, termasuk di dalamnya kekuasaan Allah, hakikat segala sesuatu, ketentuan dan perkataan Allah, ilmu dan segala macam ciptaan-Nya. Di samping itu, juga termasuk ke dalamnya penciptaan langit dan bumi dengan segala macam yang ada di dalamnya, sejak dari yang besar sampai kepada yang halus, sejak dari binatang yang paling besar sampai kepada ribuan bakteri yang paling halus.

Tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam, binatang-binatang yang ada di cakrawala dengan segala aturan-aturan dan banyak lagi yang lain yang tidak terhitung jumlahnya, semuanya termasuk dalam kalimat Allah.

Pada ayat ini ditegaskan bahwa Allah Maha Keras tuntutan-Nya. Segala kehendak dan keputusan-Nya pasti terlaksana dan Dia Maha Bijaksana dalam segala tindakan-Nya.

Ayat 28

Ayat ini menerangkan bahwa menjadikan segala sesuatu merupakan hal yang mudah bagi Allah. Apakah menjadikan sesuatu yang besar, kecil, ruwet, atau menjadikan sesuatu dalam jumlah yang sedikit, semuanya sama saja bagi Allah. Begitu pula membangkitkan manusia dari dalam kuburnya di hari Kiamat adalah mudah bagi Allah.

Membangkitkan seluruh manusia bagi Allah tidak ubahnya seperti membangkitkan seorang saja. Tidak ada sesuatu pun yang sukar bagi-Nya. Jika Allah berkehendak terjadinya sesuatu, cukuplah Dia mengucapkan, “Kun” (jadilah), maka jadilah yang dikehendaki-Nya itu. Allah berfirman:

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. (Yasin/36: 82)

Dan firman Allah:

وَمَآ اَمْرُنَآ اِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ ۢبِالْبَصَرِ

Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan seperti kejapan mata. (al-Qamar/54: 50)

Pada akhir ayat ini, Allah menyatakan bahwa Dia mendengar segala perkataan hamba-Nya dan Maha Melihat segala perbuatan mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Luqman ayat 29-32


Tafsir Surah Luqman ayat 22-25

0
Tafsir Surah Luqman
Tafsir Surah Luqman

Secara umum Tafsir Surah Luqman ayat 22-25 berupa ayat yang menghibur Rasulullah dalam menghadapi perilaku orang-orang yang menyekutukan Allah. Sehingga dijelaskan pada ayat 22 dalam Tafsir Surah Luqman ayat 22-25 terkait perilaku “ihsan”. Selengkapnya baca Tafsir Surah Luqman ayat 22-25 di bawah ini…


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yusuf ayat 20-21


Ayat 22

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang menyembah Allah, tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya, ikhlas dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan meninggalkan semua perbuatan maksiat dan mungkar, berarti telah berpegang pada buhul tali yang kukuh.

Maksud perkataan “ihsan” dalam ayat ini ialah beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh, sehingga merasakan seolah-olah ber-hadapan langsung dengan-Nya, sebagaimana yang diterangkan oleh hadis, bahwa Nabi saw ditanya Jibril:

اَخْبِرْنِى عَنِ اْلاِحْسَانِ قَالَ: اَنْ تَعْبُدَ الله َكَاَنَّكَ تَرَاهُ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاِنَّهُ يَرَاكَ. (رواه مسلم عن عمر)

Terangkanlah kepadaku tentang ihsan, Nabi saw menjawab, “Bahwa engkau menyembah Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat engkau.” (Riwayat Muslim dari ‘Umar)

Allah mengibaratkan orang yang melakukan “ihsan” yang benar-benar beriman kepada-Nya, taat melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menghentikan larangan-larangan-Nya adalah sebagai pendaki gunung, yang menggunakan tali yang dibundelkan pada tempat berpegang. Ia tidak usah khawatir karena ia menggunakan tali dengan buhul-buhul yang kuat dan kukuh tempat berpegang. Tidak ada kekhawatiran sedikit pun dalam hatinya akan jatuh.

Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa semua makhluk kembali kepada Allah saja. Oleh karena itu, hanya Dialah yang memberikan penghargaan yang baik kepada orang yang bertawakal dengan memberikan pembalasan yang baik pula.

Ayat 23

Ayat ini merupakan hiburan kepada Nabi saw dan para sahabat yang merasa sedih oleh sikap dan tingkah laku orang-orang musyrik kepada mereka. Seakan-akan Allah mengatakan, “Hai Nabi, janganlah engkau bersedih hati lantaran kekafiran mereka. Sebab, tugasmu hanya menyampaikan agama-Ku kepada mereka, bukan untuk menjadikan mereka beriman. Mereka semua akan kembali kepada-Ku pada hari Kiamat, lalu dikabarkan kepada mereka segala yang pernah mereka perbuat selama hidup di dunia. Aku akan mengadakan penilaian yang adil terhadapnya karena Aku mengetahui semua yang terkandung di dalam hati mereka.”

Ayat 24

Ayat ini menerangkan kepada orang-orang kafir bahwa mereka hanya diberi kesenangan hidup yang sebentar dan bersifat sementara. Selama waktu yang sedikit itu, mereka dapat mempergunakan nikmat-nikmat yang disediakan Allah dan mengecap kesenangan hidup. Akan tetapi, kesenangan sementara itu tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan kesenangan ukhrawi. Kesenangan sementara itu akan hilang, seakan-akan tidak pernah mereka alami, di saat mereka menemui azab yang pedih di alam neraka nanti. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah yang lain:

قُلْ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ    ٦٩  مَتَاعٌ فِى الدُّنْيَا ثُمَّ اِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيْقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيْدَ بِمَا كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ ࣖ   ٧٠

Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.” (Bagi mereka) kesenangan (sesaat) ketika di dunia, selanjutnya kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka azab yang berat, karena kekafiran mereka. (Yunus/10: 69-70)

Ayat 25

Ayat ini menyatakan kebodohan dan kefanatikan orang-orang musyrik terhadap agama nenek moyang mereka. Bukti kebodohan mereka itu dinyatakan Allah, “Dan jika engkau tanyakan kepada orang-orang musyrik itu, hai Muhammad, tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka akan menjawab bahwa yang menciptakan keduanya itu dan apa yang terdapat di dalamnya adalah Allah.”

Pengakuan mereka ini adalah pengakuan yang benar, dan mereka akan terpaksa menjawab demikian, karena memang sudah amat jelas bahwa yang menjadikan alam ini adalah Allah. Berdasarkan pengakuan itu seharusnya mereka menyembah dan menghambakan diri kepada Allah saja, karena Dialah Tuhan yang berhak disembah. Akan tetapi, perbuatan dan sikap mereka itu berlawanan dengan pengakuan mereka karena mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat.

Kemudian Allah mengajarkan kepada Rasul-Nya bahwa di kala orang-orang musyrik itu menjawab demikian, maka ucapkanlah, “Segala puji bagi Allah.” Karena dengan jawaban semacam itu, mereka telah mengakui kesalahan mereka menyembah apa yang sepatutnya tidak disembah.

Allah memperingatkan pula bahwa jika mereka melakukan perbuatan yang berlawanan dengan pengakuan mereka sendiri, maka hal itu disebabkan karena kebanyakan dari orang-orang musyrik itu tidak mengetahui siapa yang berhak mendapat pujian dan ungkapan syukur manusia. Pada pengakuan kaum musyrik itu terdapat suatu kenyataan bahwa walaupun mereka mendustakan Nabi Muhammad, tetapi karena mereka percaya bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan, maka pada hakikatnya mereka mengakui kerasulan.

Menurut logika dan pikiran, Allah telah menciptakan alam ini, termasuk manusia, tentu Ia tidak akan melepaskannya begitu saja. Tuhan tentu mengirim rasul-rasul untuk memberi taufik dan hidayah-Nya kepada manusia.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Luqman ayat 26-28

Tafsir Surah Luqman ayat 20-21

0
Tafsir Surah Luqman
Tafsir Surah Luqman

Tafsir Surah Luqman ayat 20-21 ini mengulas bahwa kekuasaan Allah swt terdapat dalam alam yang luas ini seperti bersinarnya matahari dan tumbuhnya tumbuh-tumbuhan yang menjadi bahan makan manusia. Selengkapnya baca Tafsir Luqman ayat 20-21 di bawah ini…


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Luqman ayat 18-19


Ayat 20

Tafsir Surah Luqman ayat 20-21 khususnya pada ayat 21, Ayat ini mengingatkan manusia dengan menanyakan apakah mereka tidak memperhatikan tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah di alam yang luas ini? Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah-lah yang menundukkan untuk mereka semua yang ada di alam ini, sehingga mereka dapat mengambil manfaat daripadanya. Dialah yang menjadikan matahari bersinar, sehingga siang menjadi terang benderang. Sinar matahari itu dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang akan menjadi bahan makanan bagi manusia.

Bulan dan bintang dijadikan-Nya bercahaya, yang dapat menerangi malam yang gelap dan menjadi petunjuk bagi kapal yang mengarungi lautan. Diturunkannya hujan yang membasahi bumi dan menyuburkan tumbuh-tumbuhan, dan airnya untuk minuman manusia dan binatang, dan sebagian air itu disimpan dalam tanah sebagai persiapan musim kemarau. Dia menjadikan aneka ragam barang tambang, gas alam, dan sebagainya, yang semuanya itu dapat diambil manfaatnya oleh manusia. Tidaklah ada yang sanggup menghitung nikmat Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا النِّعْمَةُ الظَّاهِرَةُ؟ قَالَ: مَا حَسُنَ مِنْ خُلُقِهِ، وَالْبَاطِنَةُ مَا هَدَاهُ لِلْإِسْلاَمِ. (رواه البيهقي)

Dari Ibnu ‘Abbas r.a., “Saya bertanya kepada Nabi saw, ‘Hai Rasulullah, apa makna nikmat lahiriah?’ Beliau menjawab, ‘Budi baik seseorang. Dan nikmat batiniah adalah dia diberi hidayah beragama Islam.” (Riwayat al-Baihaqi)

Ada orang yang berpendapat bahwa az-Zahirah ialah kesehatan dan budi pekerti yang luhur, dan al-bathinah ialah pengetahuan dan akal pikiran. Ada pula yang mengartikan azh-Zhahirah dengan semua nikmat Allah yang tampak, seperti harta kekayaan, kemegahan, kecantikan, dan ketaatan, sedang al-bathinah ialah pengetahuan tentang Allah, keyakinan yang baik, pengetahuan tentang hakikat hidup yang sebenarnya, dan sebagainya.

Sekalipun terdapat perbedaan tentang arti azh-Zhahirah dan al-bathinah itu, namun dapat diambil kesimpulan bahwa keduanya merupakan nikmat-nikmat yang dilimpahkan Allah kepada manusia dan dapat dirasakannya.

Pada akhir ayat ini, Allah memperingatkan bahwa sekalipun Ia telah melimpahkan nikmat yang tidak terhingga kepada manusia, namun masih banyak manusia yang membantah dan mengingkari nikmat-nikmat itu, seperti Nadhar bin Harits, Ubay bin Khalaf, dan lain-lain. Mereka membantah bukti yang dikemukakan Al-Qur’an dan seruan Nabi dengan tidak berdasarkan pada ilmu pengetahuan, hujah yang benar, dan wahyu dan kitab yang diturunkan Allah.

Ayat 21

Ayat ini menerangkan bahwa orang kafir seperti yang disebutkan ayat di atas tidak dapat diharapkan lagi untuk beriman karena mereka sangat ingkar dan pikiran mereka telah ditutupi oleh taklid buta kepada nenek moyang mereka. Oleh karena itu, mereka tidak lagi menghiraukan dalil-dalil yang dikemukakan.

Sifat dan sikap mereka digambarkan Allah dalam ayat ini dengan mengatakan, “Apabila dikatakan kepada orang-orang yang membantah keesaan Allah itu, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, mereka menjawab, ‘Kami mengikuti apa yang telah diajarkan kepada kami oleh bapak-bapak kami, dan mereka telah mengajarkan agama yang benar dan ketentuan-ketentuan yang baik bagi kami.”

Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa orang-orang musyrik itu tetap mengikuti agama nenek moyang mereka, walaupun orang-orang tua mereka itu tidak berpengetahuan dan tidak pernah mendapat petunjuk. Hal itu menunjukkan bahwa dalam hal kepercayaan, mereka tidak lagi menggunakan akal pikiran, tetapi telah diperbudak oleh hawa nafsu. Hawa nafsu yang demikian itu diembuskan dan ditanamkan oleh setan ke dalam hati orang-orang kafir, sehingga mereka tidak akan dapat melihat kebenaran. Akibat dari tindakan itu, mereka akan terjerumus ke dalam azab neraka Jahanam di akhirat nanti.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Luqman ayat 22-25


Tiga Fungsi Pokok Al-Quran [2]: Makna Bayyinah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185

0
Makna Bayyinah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185
Makna Bayyinah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185

Fungsi pokok Al-Quran yang kedua ialah bayyinah. Makna Bayyinah ialah bukti atau penjelas dari petunjuk itu sendiri. Sebagai penjelas, Al-Quran telah memuat penjelasan yang komplit dan komprehensif termasuk yang menyangkut aspek hukum, halal-haram, dan haq-bathil. Al-Quran juga telah banyak memberikan bukti konkrit kebenaran petunjuknya baik melalui ayat-ayat qauli maupun kauni.

Karena itu, pada pembahasan kali ini akan mengulas makna bayyinah dalam Al-Quran, dan bagaimana penafsiran ulama terhadapnya.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (Q.S. al-Baqarah [2]: 185)

Baca juga: Surah al-Qadr Ayat 1, Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr Menurut Fakhruddin Ar-Razi

Makna Bayyinah

Para ulama memaknai kata bayyinatin minal huda secara beragam dalam ayat ini. Penafsiran pertama disampaikan al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasyaf dan al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib bahwa bayyinat adalah ayat-ayat (keterangan) yang jelas dan darinya mampu menunjukkan kepada kebenaran serta membedakan mana yang haq dan bathil (ayatin wadhihatin maksyufatin mima yahdli ilal haq).

Tidak jauh berbeda, al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirinya dengan,

وَبَـيِّناتٍ فإنه يعنـي: وواضحات من الهدى، يعنـي من البـيان الدالّ علـى حدود الله وفرائضه وحلاله وحرامه

“Penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu ialah menunjukkan kepada hukum-hukum Allah baik terkait kewajiban kepadaNya, maupun segala hal yang dihalalkan dan diharamkan-Nya”.

Lebih jauh, Ibn Katsir juga hampir sama dengan penafsiran al-Tabari, yakni

دلائل وحججاً بينة واضحة جلية لمن فهمها وتدبرها دالة على صحة ما جاء به من الهدى المنافي للضلال، والرشد المخالف للغي، ومفرقاً بين الحق والباطل، والحلال والحرام

“Bukti dan argumen, bukti yang jelas dan terang benderang bagi mereka yang memahami dan mentadabburinya, menunjukkan kesahihan apa yang dibawa oleh Al-Quran tentang tuntunan yang menafikan kesesatan, petunjuk (rasional) yang memunggungi kesesatan, pembeda antara yang benar dan batil, yang halal dan yang haram”.

Sedangkan al-Baidhawi menafsirkan kata bayyinatin minal huda, yakni turunnya Al-Quran bermakna bahwa ia diperuntukkan kepada manusia dengan segenap kemukjizatannya dan berisi keterangan-keterangan yang jelas, lagi terang benderang yang dapat memandu manusia menuju jalan kebenaran. Adapun Ibn Atiyyah dalam al-Muharrar al-Wajiz lebih mengkhususkan makna bayyinatin merujuk pada persoalan halal-haram.

Lebih dari itu, al-Khazin dalam Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil menjelaskan bahwa kata bayyinatin minal huda mengandung dua pemaknaan, yaitu di satu sisi Al-Quran berfungsi sebagai petunjuk dan penjelas bagi ayat-ayatnya sendiri, pada sisi yang lain ia berfungsi sebagai penjelasan antara perkara yang halal dan haram, haq dan bathil.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Tiba Ramadhan, Ini Hukum yang Belum Bayar Utang Puasa

Tidak hanya itu, bayyinatin minal huda, demikian kata Ismail Haqqi dalam Ruh al-Bayan dan al-Syaukani dalam Fath al-Qadir bermakna sebagai keterangan yang jelas, terang benderang di mana dari keterangan itu mampu memandu manusia kepada kebenaran dan membedakan antara yang haq dan bathil.

Selanjutnya, corak penafsiran sufistik disampaikan oleh Ibn ‘Ajibah dalam al-Bahr al-Madid, ia menafsirkan bayyinatin minal huda adalah

وبينات أي: حججاً واضحة تهدي إلى تحقق الإيمان، وإلى تحقق الفرق بين الحق والباطل، وهو ما سوى الله، فيتحقق مقام الإحسان

“Bayyinat adalah dalil-dalil yang jelas yang mengarah pada keteguhan iman, memastikan perbedaan antara yang haq dan batil. Tidak lain semua ini bagi Allah bertujuan agar seorang hamba mampu mencapai derajat ihsan”.

Begitu pula Ibn ‘Arabi dalam tafsirnya, ia menafsirkan bayyinatin minal huda dengan

وبينات من الهُدى ودلائل متصلة من الجمع والفرق، أي: العلم التفصيلي المسمّى بالعقل الفرقاني – فمن حضر منكم في ذلك الوقت، أي: بلغ مقام شهود الذات

“Petunjuk yang bersambung (muttashilah) dari al-jam’u (Al-Quran) dan syariat Allah swt sehingga ia mampu membedakan. Makna membedakan (al-farqu) di sini ialah ilmu yang terperinci (tafshili), yaitu akal sehingga seorang manusia dapat mencapai derajat menyaksikat dzat-Nya (syuhud al-dzat).

Al-Quran sebagai Penjelas

Selain berfungsi sebagai hudan (petunjuk), Al-Quran menjelaskan dirinya sebagai bayyinah yaitu penjelas atas petunjuk-petunjuk itu. Penjelas itu, jika merujuk penafsiran ulama di atas, adakalanya ia bersifat hukum, tasawwuf dan keimanan.

Pertama, Al-Quran sebagai penjelas dari hukum. Maksudnya Al-Quran di sini juga berbicara persoalan syariat Islam yang berkaitan dengan hukum, seperti persoalan halal dan haram baik mulai dari makanan hingga perbuatan. Ini semua yang kemudian dikaji oleh para ulama hingga memunculkan produk ijtihad yang bernama “fiqih”.

Kedua, Al-Quran sebagai penjelas dari tasawwuf. Bagi ulama sufistik, seorang murid (istilah manusia dalam tasawuf) untuk dapat mencapai maqam ihsan harus memperhatikan aspek syariat Islam. Artinya ia juga harus memperhatikan syariat-syariat yang bersifat hukum misalnya, ia juga harus bersuci (thaharah) sebelum melakukan shalat, memperhatikan kesucian dan kebersihan, memperhatikan halal-haram. Bagaimana mungkin ia dapat mencapai derajat ma’rifat dan mukasyafah lantas mengabaikan syariat itu sendiri.

Baca juga: Ramadhan sebagai Bulan Pewahyuan Al-Qur’an Perspektif Ibnu Ishaq

Ketiga, Al-Quran sebagai penjelas bermakna memperteguh keimanan. Kehadiran Al-Quran tidak lain adalah mengokohkan fitrah manusia untuk bertahuid kepada-Nya. Dalam artian, pada hakikatnya manusia pasti membutuhkan suatu daya yang mampu membimbingnya menuju jalan yang benar dan menenangkan jiwanya. Itu semua hanya didapat melalui jalan keimanan. Dan Al-Quran adalah solusi dari semua itu.

Oleh karenanya, umat Islam hendaknya senantiasa berpedoman kepada Al-Quran guna membimbingnya menuju kebenaran dan menentramkan jiwanya sehingga ia selalu dalam naungan ridha Allah swt. Wallahu A’lam.

Surah al-Qadr Ayat 1, Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr Menurut Fakhruddin Ar-Razi

0
Nuzulul Qur'an
Nuzulul Qur'an

Fenomena Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr di bulan suci Ramadhan serta Q.S. al-Qadr merupakan satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Q.S. al-Qadr merupakan bentuk informatif atas fenomena Lailatul Qadr dan Nuzulul Qur’an. Berdasarkan hal tersebut, maka akan sangat menarik jika Q.S. al-Qadr dikaji melalui uraian filosofis Fakhruddin al-Razi dalam karya agungnya Mafatih al-Ghaib.

Seperti biasa sebelum masuk pada bagian inti artikel ini, mari disimak dulu ayat beserta terjemahnya:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.

Al-Razi terkenal dengan gaya pembahasannya yang begitu luas. Bagi orang yang sudah terbiasa membaca Mafatih al-Ghaib akan mendapati bahwa dalam membahas suatu diskursus tertentu, ia kerapkali membawanya pada penafsiran yang bercabang-cabang. Style penafsiran semacam itu juga akan didapati pada penafsirannya terhadap Q.S. al-Qadr kali ini.

Baca Juga: Surah Al-Qadr [97] Ayat 3: Lailatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan

Maka tidak mengherankan jika dalam penafsiran ayat pertama Q.S. al-Qadr ini ada tujuh cabang permasalahan yang dibahas. Oleh karena itu, untuk memudahkan pembaca, dari ketujuh poin pembahasan tersebut akan dibahas tema-tema menarik yang patut dipahami.

Fungsi Dhamir “Hu” Sebagai Pengganti al-Qur’an

Sebagai seorang mufassir yang terkenal akan gaya penafsirannya yang filosofis, al-Razi begitu detail termasuk dalam memperhatikan sisi kebahasaan. Pada poin pembahasan pertama ini, ia mencoba mengungkap fungsi di balik penggunaan dhamir “hu” sebagai pengganti al-Qur’an.

Ada tiga jawaban yang diberikan al-Razi atas persoalan ini. Pertama, menyandarkan turunnya al-Qur’an secara khusus pada malam Lailatul Qadr tidak pada malam yang lain. Kedua, menunjukkan bahwa al-Qur’an memang tidak butuh disebutkan secara jelas sebab sudah masyhur siapa atau apa yang menjadi marja’ dari dhamir yang digunakan. Ketiga, mengangungkan waktu pada saat al-Qur’an diturunkan (Lailatul Qadr).

Fungsi Dhamir Mutakallim ma’a al-Ghair yang Marja’nya Allah

Tentu bagi pembaca yang sudah pernah belajar Nahwu tingkat lanjut akan mengetahui bahwa lafadzاِنَّآ  dalam ayat tidak akan merusak ke-Esa-an Allah. Sebab penggunaan dhamir mutakallim ma’a al-ghair tersebut oleh Allah bukan sebagai penanda jama’ atau lebih dari satu.

Melainkan sebagai bentuk pengagungan/ menunjukkan kebesaran (ta’dzhim) oleh Allah untuk diri-Nya sendiri. Pendapat ini juga ditegaskan oleh al-Razi berikut ini:

إِنَّا مَحْمُولٌ عَلَى التَّعْظِيمِ لَا عَلَى الْجَمْعِ

Lafadz “innaa” dibawa pada makna ta’dzhim bukan pada makna jama’.

Makna di Balik Turunnya al-Qur’an pada Malam Lailatul Qadr

Untuk menjelaskan diskursus ini, al-Razi mengutip beberapa pendapat Ulama sebelumnya sebagai argumentasinya. Pendapat pertama datang dari al-Sya’bi yang dalam hematnya mengatakan bahwa permulaan turunnya al-Qur’an di malam Lailatul Qadr disebabkan oleh waktu diutusnya Muhammad pertama kali sebagai Nabi ialah di bulan Ramadhan.

Mungkin maksud al-Sya’bi, jika Muhammad tidak diutus sebagai Nabi pada bulan Ramadhan, mungkin saja jika al-Qur’an tidak diturunkan di malam Lailatul Qadr. Pendapat al-Sya’bi ini mungkin bisa dikatakan sebagai pendapat yang logis dan realistis.

Pendapat selanjutnya dinukil dari Ibn Abbas yang menyatakan bahwa al-Qur’an diturunkan secara utuh ke langit dunia pada malam Lailatul Qadr dan kemudian diturunkan secara berangsur-angsur ke Bumi. Maksud dari penukilan riwayat ini oleh al-Razi, menurut hemat penulis, ialah untuk menjawab sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik, “jika al-Qur’an pada malam Lailatul Qadr baru sampai di langit dunia, mengapa makhluk bumi merayakannya?”

Menjawab pertanyaan ini, Fakhruddin menguraikan jawaban yang begitu menarik dan sangat logis, sebagaimana berikut ini:

 وَهَذَا لِأَنَّ السَّمَاءَ كَالْمُشْتَرِكِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْمَلَائِكَةِ، فَهِيَ لَهُمْ مَسْكَنٌ وَلَنَا سَقْفٌ وَزِينَةٌ، كَمَا قَالَ: وَجَعَلْنَا السَّماءَ سَقْفاً [الأنبياء: 32] فإنزاله القرآن هناك كإنزاله هاهنا

Dan hal ini disebabkan oleh langit yang merupakan perekat antara kita (manusia) dan malaikat. Langit bagi mereka adalah tempat tinggal dan bagi kita ialah atap (Q.S. al-Anbiya’: 32) dan perhiasan. Maka turunnya al-Qur’an di sana (langit dunia) layaknya turunnya al-Qur’an di sini (bumi).

Argumentasi yang begitu indah oleh al-Razi ini kemudian ditutup dengan uraian bahwa makna فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ialah fi fadhilati lailatil qadr wa bayani syarfiha (kemuliaan malam Lailatul Qadr). Maknanya al-Qur’an itu diturunkan di malam yang penuh kemuliaan, maka tiada sesuatu yang turun di malam yang mulia kecuali hal yang mulia.

Mengapa Allah Sembunyikan Waktu Lailatul Qadr?

Dalam menjawab persoalan ini, al-Razi memiliki jawaban yang sangat menarik. Ia menguraikan bahwa tujuan Allah menyembunyikan malam Lailatul Qadr ialah sebagaimana Allah menyembunyikan walinya di antara manusia hingga akhirnya manusia saling menghormati dan memuliakan, lalu menyembunyikan kapan diijabahnya doa agar manusia senantiasa bersungguh-sungguh dalam setiap doanya.

Begitupun dengan merahasiakan maksud shalatul wustha agar manusia senantiasa menjaga setiap shalatnya. Jadi tujuan Allah menyembunyikan/ merahasiakan kapan waktu pasti terjadinya malam Lailatul Qadr ialah agar manusia atau umat Islam khususnya senantiasa memuliakan setiap malam di bulan Ramadhan dan tidak memilih-milih malam yang akan dimuliakan.

Lalu jawaban menarik selanjutnya bahwa al-Razi menjadikan fenomena Lailatul Qadr ini sebagai tafsir atas penggalan akhir Q.S. al-Baqarah: 30 (قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ). Begini ungkapannya secara utuh:

أَنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَمْ يَتَيَقَّنْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، فَإِنَّهُ يَجْتَهِدُ فِي الطَّاعَةِ فِي جميع ليالي رَمَضَانَ، عَلَى رَجَاءِ أَنَّهُ رُبَّمَا كَانَتْ هَذِهِ اللَّيْلَةُ هِيَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، فَيُبَاهِي اللَّهُ تَعَالَى بِهِمْ مَلَائِكَتَهُ، وَيَقُولُ: كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِيهِمْ يُفْسِدُونَ وَيَسْفِكُونَ الدِّمَاءَ فَهَذَا جِدُّهُ وَاجْتِهَادُهُ فِي اللَّيْلَةِ الْمَظْنُونَةِ، فَكَيْفَ لَوْ جَعَلْتُهَا مَعْلُومَةً لَهُ! فَحِينَئِذٍ يَظْهَرُ سِرُّ قَوْلِهِ: إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ [الْبَقَرَةِ: 30]

Terjemah bebas: manusia yang tidak tahu kapan malam Lailatul Qadr akan hadir, justru menjadikannya motivasi untuk berharap dan berusaha meraihnya di setiap malam Ramadhan. Maka atas dasar itulah Allah dapat membanggakan manusia di hadapan para malaikat yang dahulu memperotes keputusan Allah menciptakan manusia. Bahwa manusia yang tidak diberi tahu kapan terjadinya Lailatul Qadr saja usahanya dalam meraihnya bisa seperti apalagi jika diberi tahu! Maka jelas penegasan Allah pada malaikat bahwa hanya Allah-lah yang Maha Tahu dan hakikatnya makhluk tidak mengetahui apapun.

Beberapa poin yang telah dibahas dalam artikel ini setidaknya menjadi suplemen tambahan dalam memaknai kemuliaan al-Qur’an serta waktu saat ia diturunkan. Momentum Nuzulul Qur’an sudah semestinya menjadi alarm bagi umat Islam untuk kembali mengkaji esensi dari kitab sucinya. Sekaligus menjadi motivasi dalam meraih kemuliaan malam di saat al-Qur’an diturunkan ke langit dunia. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Yusuf ayat 108-111

0
Tafsir Surah Yusuf
Tafsir Surah Yusuf

Tafsir Surah Yusuf ayat 108-111 sebagai penutup dari tafsir surah Yusuf Allah swt menerangkan bahwa semua kisah nabi-nabi, terutama Nabi Yusuf a.s. bersama ayah dan saudara-saudaranya, adalah pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat.

Selengkapnya baca Tafsir Surah Yusuf ayat 108-111 di bawah ini….


Baca Juga Sebelumnya: Tafsir Surah Yusuf ayat 102-107


Ayat 108

Pada ayat ini, Allah swt memerintahkan kepada Muhammad saw untuk memberitahu umatnya bahwa dakwah yang dijalankannya, yang bertujuan mengajak manusia mengesakan Allah swt dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, adalah menjadi tugas dan kewajibannya. Rasul memiliki keyakinan bahwa usahanya ini akan berhasil karena apa yang dikemukakan dan dilaksanakannya dilandasi dengan bukti-bukti dan hujjah yang nyata. Yang demikian itu menjadi tugas dan kewajiban bagi orang-orang yang mempercayai dan mengikutinya sehingga segala macam bentuk penghambaan kepada selain Allah bisa musnah dari permukaan bumi ini. Perhatikanlah firman Allah swt yang mengajarkan cara berdakwah kepada Rasul dan umatnya:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. (an-Nahl/16: 125)

Pada potongan ayat berikutnya, Allah mengajarkan Muhammad saw untuk mensucikan-Nya dari tuduhan adanya sekutu dengan mengatakan Mahasuci Allah swt dari sangkaan bahwa Dia mempunyai sekutu dalam kekuasaan-Nya, dan ada yang wajib disembah selain Dia. Langit dan bumi serta segala isinya, bahkan semua yang ada, bertasbih menyucikan Allah dari hal yang demikian itu, firman Allah swt:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia adalah Maha Penyantun, Maha Pengampun. (al-Isra’/17: 44)

Ayat 108 ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Nabi Muhammad saw tidak termasuk orang-orang yang musyrik.

Ayat 109

Pada ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa Dia tidak mengutus rasul-rasul sebelum Muhammad saw kecuali laki-laki, bukan malaikat, dan bukan perempuan, serta menurunkan kepada mereka wahyu. Para rasul berasal dari penduduk negeri itu sendiri, supaya mereka mengikutinya. Ini merupakan jawaban terhadap tuduhan-tuduhan yang dilancarkan oleh orang-orang yang mengingkari kenabian Muhammad saw, yang menghendaki supaya rasul yang diutus itu dari jenis malaikat sebagaimana dikisahkan Allah swt di dalam firman-Nya:

وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَاَنْزَلَ مَلٰۤىِٕكَةً  ۖ

Dan seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus malaikat. (al-Mu’minun/23: 24)

Tidakkah orang-orang musyrik Quraisy yang mendustakan kenabian Muhammad saw dan mengingkari apa yang dibawanya seperti mengesakan Allah, mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya, bepergian di muka bumi dan melihat serta menyaksikan bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan rasul-rasul dahulu. Mereka dibinasakan dan negerinya dihancurkan, seperti yang dialami kaum Nabi Hud, kaum Nabi Saleh, dan lain-lainnya.

Sebaliknya orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-Nya dan takut menyekutukan Allah, tidak berbuat dosa dan maksiat, akan memperoleh kesenangan nanti di negeri akhirat yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan apa yang didapat orang-orang musyrik di dunia ini. Apakah mereka tidak memikirkan perbedaan imbalan dan balasan antara orang-orang yang ingkar dan orang-orang yang percaya. Kesenangan yang didapat di dunia oleh orang-orang yang ingkar itu sangat terbatas. Apabila mereka meninggal dunia berakhirlah kesenangan itu, dan di negeri akhirat kelak mereka mendapat azab yang amat pedih tak henti-hentinya. Dan kesenangan yang diperoleh orang-orang yang beriman, tidak saja di dunia tetapi sampai ke akhirat nanti, karena kesenangan yang diperolehnya itu abadi selamanya.

Ayat 110

Ayat ini menjelaskan sunatullah yang telah berlaku pada umat-umat terdahulu. Allah swt mengutus para rasul-Nya dengan bukti yang nyata dan diperkuat dengan mukjizat. Setelah rasul-rasul itu ditentang, didustakan, dan dimusuhi oleh kaumnya sehingga merasakan tekanan yang amat berat, timbullah perasaan seakan-akan mereka berputus asa karena tidak ada harapan lagi kaumnya akan beriman dan kemenangan yang ditunggu-tunggu belum juga datang, pada saat itulah pertolongan Allah swt datang. Sedangkan orang-orang yang mendustakan para nabi ditimpa azab dengan tiba-tiba, seperti banjir besar yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh, angin ribut yang membinasakan kaum ‘Ad (kaum Nabi Hud), siksaan yang menimpa kaum Tsamud, dan bencana yang melanda negeri kaum Nabi Luth, sebagaimana tercantum dalam firman Allah swt:

Apakah tidak sampai kepada mereka berita (tentang) orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Samud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata; Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. (at-Taubah/9: 70)

Orang-orang Quraisy yang tidak mau insaf dan kembali ke jalan yang benar, sekalipun telah ditunjukkan bukti-bukti yang nyata, akan ditimpakan Allah azab yang pedih. Sedangkan Nabi Muhammad diberi pertolongan berupa berbagai kemenangan yang telah diperolehnya seperti Perang Badar dan pada perang-perang berikutnya. Allah swt menyelamatkan para rasul beserta kaumnya yang beriman kepada-Nya, sedang orang-orang yang ingkar kepada Allah swt dan mendustakan rasul-rasul-Nya dan agama yang dibawanya akan diazab, tidak seorang pun dari mereka yang dapat menolak dan mengelak dari azab Allah itu.

Ayat 111

Sebagai penutup Tafsir Surah Yusuf ayat 108-111 khususnya pada ayat 111 ini, Allah swt menerangkan bahwa semua kisah nabi-nabi, terutama Nabi Yusuf a.s. bersama ayah dan saudara-saudaranya, adalah pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat. Sedang orang-orang yang lalai yang tidak memanfaatkan akal dan pikirannya untuk memahami kenyataan yang ada, maka kisah Nabi tersebut tidak akan bermanfaat baginya. Mereka tidak akan dapat mengambil pelajaran dan peringatan darinya. Seharusnya mereka memperhatikan bahwa yang mampu dan kuasa menyelamatkan Nabi Yusuf a.s. setelah dibuang ke dasar sumur, meng-angkat derajatnya sesudah ia dipenjarakan, menguasai negeri Mesir sesudah dijual dengan harga murah, meninggikan pangkatnya dari saudara-saudara-nya yang ingin membinasakannya, dan mengumpulkan mereka kembali bersama kedua orang tuanya sesudah berpisah sekian lama, tentu sanggup dan kuasa pula memuliakan Muhammad, meninggikan kalimatnya, memenangkan agama yang dibawanya, serta membantu dan menguatkannya dengan tentara, pengikut, dan pendukung setia, sekalipun di dalam menjalani semuanya itu, beliau pernah mengalami kesukaran dan kesulitan.

Kitab suci Al-Qur’an yang membawa kisah-kisah tersebut, bukanlah suatu cerita yang dibuat-buat dan diada-adakan, tetapi adalah wahyu yang diturunkan Allah swt dan mukjizat yang melemahkan tokoh-tokoh sastra ulung ketika ditantang untuk menyusun yang seperti itu. Kisah-kisah itu diberitakan dari nabi yang tidak pernah mempelajari buku-buku dan tidak pernah bergaul dengan ulama-ulama cerdik pandai. Bahkan kitab Suci Al-Qur’an itu membenarkan isi kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya, seperti kitab Taurat, Injil, dan Zabur yang asli tentunya, bukan yang sudah ditambah dengan khurafat dan lain-lain hal yang tidak lagi terjaga kemurniannya. Dalam kitab suci Al-Qur’an diuraikan dengan jelas perintah-perintah Allah, larangan-larangan-Nya, janji-janji dan ancaman-Nya, sifat kesempurnaan yang wajib bagi-Nya dan suci dari sifat-sifat kekurangan dan hal-hal yang lain, sebagaimana firman Allah swt:

مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ

Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab. (al-An’am/6: 38)

Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang mau membacanya dengan penuh kesadaran dan yang mau meneliti dan mendalami isinya.     Al-Qur’an juga akan membimbing mereka ke jalan yang benar dan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Qur’an adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang membenarkan dan mempercayai serta mengamalkan isinya, karena iman itu ialah ucapan yang dibenarkan oleh hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

(Tafsir Kemenag)


Baca Juga: Ingin Curhat? Mari Belajar Curhat dari Nabi Yakub As. dalam Surah Yusuf Ayat 86


Tafsir Surah Luqman ayat 12-13

0
Tafsir Surah Luqman
Tafsir Surah Luqman

Tafsir Surah Luqman ayat 12-13 mengisahkan tentang Lukman seorang seorang hamba yang arif lagi bijaksana dari Habasyah. Dalam Tafsir Surah Luqman ayat 12-13 dijelaskan bahwa Lukman memerintah anaknya untuk menyembah Allah swt dan tidak menyekutukannya. Selengkapnya Tafsir Surah Luqman ayat 12-13 di bawah ini….


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Luqman ayat 7-11


Ayat 12

Ayat ini menerangkan bahwa Allah menganugerahkan kepada Lukman hikmah, yaitu perasaan yang halus, akal pikiran, dan kearifan yang dapat menyampaikannya kepada pengetahuan yang hakiki dan jalan yang benar menuju kebahagiaan abadi. Oleh karena itu, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya nikmat itu. Hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan dan ajaran-ajaran yang disampaikan Lukman itu bukanlah berasal dari wahyu yang diturunkan Allah kepadanya, tetapi semata-mata berdasarkan ilmu dan hikmah yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

Berdasarkan riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Ibnu Abi Dunya, Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu ‘Abbas bahwa Lukman adalah seorang hamba/budak dan tukang kayu dari Habasyah. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa Lukman adalah seorang yang arif, bijak, dan bukan nabi.

Banyak riwayat yang menerangkan asal-usul Lukman ini, dan riwayat-riwayat itu antara yang satu dengan yang lain tidak ada kesesuaian. Said bin Musayyab mengatakan bahwa Lukman berasal dari Sudan, sebelah selatan Mesir. Zamakhsyari dan Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Lukman termasuk keturunan Bani Israil dan salah seorang cucu Azar, ayah Ibrahim. Menurut pendapat ini, Lukman hidup sebelum kedatangan Nabi Daud. Sedang menurut al-Waqidi, ia salah seorang qadhi Bani Israil. Ada pula riwayat yang menerangkan bahwa Lukman hanyalah seorang yang sangat saleh (wali), bukan seorang nabi.

Terlepas dari semua pendapat riwayat di atas, apakah Lukman itu seorang nabi atau bukan, apakah ia orang Sudan atau keturunan Bani Israil, maka yang jelas dan diyakini ialah Lukman adalah seorang hamba Allah yang telah dianugerahi hikmah, mempunyai akidah yang benar, memahami dasar-dasar agama Allah, dan mengetahui akhlak yang mulia. Namanya disebut dalam Al-Qur’an sebagai salah seorang yang selalu menghambakan diri kepada-Nya.

Sebagai tanda bahwa Lukman itu seorang hamba Allah yang selalu taat kepada-Nya, merasakan kebesaran dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini adalah sikapnya yang selalu bersyukur kepada Allah. Ia merasa dirinya sangat tergantung kepada nikmat Allah itu dan merasa dia telah mendapat hikmah dari-Nya.

Menurut riwayat dari Ibnu ‘Umar bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Lukman bukanlah seorang nabi, tetapi ia adalah seorang hamba yang banyak melakukan tafakur, ia mencintai Allah, maka Allah mencintainya pula.”

Pada akhir ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang yang bersyukur kepada Allah, berarti ia bersyukur untuk kepentingan dirinya sendiri. Sebab, Allah akan menganugerahkan kepadanya pahala yang banyak karena syukurnya itu. Allah berfirman:

وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia. (an-Naml/27: 40)

Sufyan bin Uyainah berkata, “Siapa yang melakukan salat lima waktu berarti ia bersyukur kepada Allah, dan orang yang berdoa untuk kedua orang tuanya setiap usai salat, ia telah bersyukur kepada keduanya.”

Orang-orang yang mengingkari nikmat Allah dan tidak bersyukur kepada-Nya berarti ia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri, karena Allah tidak akan memberinya pahala bahkan menyiksanya dengan siksaan yang pedih. Allah sendiri tidak memerlukan syukur hamba-Nya karena syukur hamba-Nya itu tidak akan memberikan keuntungan kepada-Nya sedikit pun, dan tidak pula akan menambah kemuliaan-Nya. Dia Mahakuasa lagi Maha Terpuji.


Baca Juga : Nasihat-Nasihat Luqman al-Hakim Kepada Anaknya dalam Al Quran


Ayat 13

Allah mengingatkan kepada Rasulullah nasihat yang pernah diberikan Lukman kepada putranya ketika ia memberi pelajaran kepadanya. Nasihat itu ialah, “Wahai anakku, janganlah engkau memper-sekutukan sesuatu dengan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kezaliman yang sangat besar.”

Mempersekutukan Allah dikatakan kezaliman karena perbuatan itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu menyamakan sesuatu yang melimpahkan nikmat dan karunia dengan sesuatu yang tidak sanggup memberikan semua itu. Menyamakan Allah sebagai sumber nikmat dan karunia dengan patung-patung yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah perbuatan zalim. Perbuatan itu dianggap sebagai kezaliman yang besar karena yang disamakan dengan makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa itu adalah Allah Pencipta dan Penguasa semesta alam, yang seharusnya semua makhluk mengabdi dan menghambakan diri kepada-Nya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud bahwa tatkala turun ayat:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ 

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk. (al-An’am/6: 82)

timbullah keresahan di antara para sahabat Rasulullah saw. Mereka berpendapat bahwa amat berat menjaga keimanan agar tidak bercampur dengan kezaliman. Mereka lalu berkata kepada Rasulullah saw, “Siapakah di antara kami yang tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman?” Maka Rasulullah menjawab, “Maksudnya bukan demikian, apakah kamu tidak mendengar perkataan Lukman, ‘Hai anakku, jangan kamu menyekutukan sesuatu dengan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang besar.”

Dari ayat ini dipahami bahwa di antara kewajiban ayah kepada anak-anaknya ialah memberi nasihat dan pelajaran, sehingga anak-anaknya dapat menempuh jalan yang benar, dan terhindar dari kesesatan. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ 

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (at-Tahrim/66: 6)

Jika diperhatikan susunan kalimat ayat ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Lukman melarang anaknya menyekutukan Tuhan. Larangan ini adalah sesuatu yang memang patut disampaikan Lukman kepada putranya karena menyekutukan Allah adalah perbuatan dosa yang paling besar.

Anak adalah generasi penerus dari orang tuanya. Cita-cita yang belum dicapai orang tua selama hidup di dunia diharapkan dapat tercapai oleh anaknya. Demikian pula kepercayaan yang dianut orang tuanya, di samping budi pekerti yang luhur, anak-anak diharapkan mewarisi dan memiliki semua nilai-nilai yang diikuti ayahnya itu di kemudian hari. Lukman telah melakukan tugas yang sangat penting kepada anaknya, dengan menyampaikan agama yang benar dan budi pekerti yang luhur. Cara Lukman menyampaikan pesan itu wajib dicontoh oleh setiap orang tua yang mengaku dirinya muslim.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Luqman ayat 14


 

Pandangan Kaum Sufi Terhadap Al-Qur’an dan Kalamullah Menurut Abu Bakar al-Kalabadzi

0
Abu Bakar al-Kalabadzi
ٍSufi, Kalamullah, dan Abu Bakar al-Kalabadzi

Abu Bakar al-Kalabadzi memiliki nama lengkap Abu Bakar bin Ishaq Muhammad bin Ibrahim bin Ya’qub al-Bukhari al-Kalabadzi. Ia adalah seorang sufi keturunan Persia bermazhab Hanafi-Maturidi. Sebutan al-Kalabadzi diambil dari nama sebuah wilayah di daerah Bukhara (sekarang termasuk negara Uzbekistan), yakni “Gulabad” (The Doctrine Of The Sufis: xi).

Nama berbahasa Persia ini kemudian ditransliterasikan ke bahasa Arab menjadi “Kalabadz” atau di barat lebih dikenal sebagai “Kalabadhi”. Sangat sedikit ditemukan catatan mengenai riwayat hidup al-Kalabadzi, namun ia dipercaya dilahirkan di Bukhara di mana Imam al-Bukhari – sang maestro hadis – dikebumikan (Warisan Agung Tasawuf: Mengenal Karya Besar Para Sufi: 153).

Baca Juga: Mengenal Ibn al-Araby: Mahaguru Tafsir Sufi Nazhari

Hal menarik dari sosok al-Kalabadzi adalah – meskipun ia lebih dikenal sebagai seorang sufi – ia digolongkan oleh Abd al-Hayy al-Lakhnawi sebagai ulama ahli fikih mazhab Hanafi yang termasyhur di bawah Muhammad bin Fadhl. Fakta ini sangat spesial karena pada periode sebelum dan setelahnya ada pergolakan antara ulama fikih dan ahli tasawuf (Mystical Dimensions Of Islam: 42).

Walaupun hanya ada sedikit informasi mengenai kehidupan al-Kalabadzi, para ahli sejarah meyakini bahwa ia kemungkinan besar memiliki hubungan dengan para tokoh sufi generasi awal yang sezaman dengan dirinya atau pernah membaca dan mempelajari karya-karya mereka secara komprehensif, baik melalui guru atau mengkajinya secara mandiri.

Hal ini dapat dibuktikan melalui perkataan Abu Bakar al-Kalabadzi sendiri yang menyebutkan bahwa telah ada sekitar 17 kitab sufi dan 11 tokoh sufi yang menulis tentang ajaran sufi sebelum ia menulis buku al-Ta’arruf Li Madzhabi Ahl al-Taṣawwuf. Dengan demikian, secara nyata dapat disimpulkan bahwa ia telah melakukan studi pustaka.

Selain dikenal sebagai sufi dan ahli fikih, Abu Bakar al-Kalabadzi sebenarnya juga merupakan ahli hadis. Ia menulis sebuah kitab berjudul Bahr al-Fawa’id fi Ma’ani al-Akhbar yang terdiri dari komentar-komentarnya terhadap 222 hadis pilihan. Karya al-Kalabadzi yang masih bisa dinikmati hingga sekarang ini membuktikan kepada kita bahwa ia juga seorang ahli hadis.

Ketokohan Abu Bakar al-Kalabadzi dalam bidang hadis sebenarnya adalah hal yang lumrah, sebab Bukhara merupakan salah satu kota yang menjadi pusat peradaban, perdagangan dan keilmuan Islam pada masa dinasti Samaniyah yang muncul pasca melemahnya dinasti Abbasiyah di Baghdad. Pada masa inilah lahir ilmuan muslim ternama seperti Imam Bukhari (w. 870M).

Semasa hidupnya, al-Kalabadzi telah menuliskan enam buah karya. Namun dari enam buku tersebut, hanya dua buah yang bisa ditemukan hingga saat ini, yaitu: Bahr al-Fawa’id fi Ma’ani al-Akhbar, komentar singkat pada 222 hadis dan al-Ta’arruf Li Madzhabi Ahl al-Taṣawwuf yang berisi tentang pengantar terhadap doktrin-doktrin tasawuf Islam.

Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai kapan Abu Bakar al-Kalabadzi wafat, sebab sangat sedikit ditemukan catatan tentang akhir kehidupannya sehingga sulit untuk dipastikan kebenarannya. Hal ini juga disampaikan oleh Darah Sikuh. Namun menurutnya, al-Kalabadzi diyakini wafat pada hari Jumat tanggal 19 Jumadil Awal tahun 380 H, 384 atau 385.

Jika pendapat Darah Sikuh benar, maka yang paling mungkin adalah Abu Bakar al-Kalabadzi wafat pada tahun 385 H/995 M, karena satu-satunya tahun pada dekade itu yang tanggal 19 Jumadil Awalnya jatuh pada hari Jumat, tidak ada yang cocok selain itu. Pendapat inilah yang dipegangi oleh N. Hanif dalam Biographical Encyclopaedia of Sufis: South Asia.

Pandangan Kaum Sufi Tentang Posisi Al-Qur’an dan Kalamullah

Dalam kitab Ta’arruf Li Madzhabi Ahl al-Taṣawwuf, Abu Bakar al-Kalabadzi membahas dua pasal terkait Al-Qur’an dan Kalamullah. Menurutnya, semua sufi sepakat bahwa Al-Qur’an itu merupakan kata-kata Allah atau Kalamullah yang hakiki dan (Al-Qur’an) bukanlah makhluk hasil ciptaan atau sesuatu yang baharu (hadist).

Al-Qur’an dibaca dengan lisan kita, ditulis dalam buku (mushaf) kita, dihafal dalam hati kita, akan tetapi bukanlah ia bermukim di sana sebagaimana Allah swt. Dia diketahui dalam hati kita, disembah dalam masjid-masjid kita, tetapi Dia tidak berada di sana. Sebab Allah swt Maha Suci dari sikap dan sifat ketergantungan terhadap sesuatu apa pun.

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa Al-Qur’an benar-benar firman Allah (Kalamullah), bukan kalam Muhammad saw maupun bisikan setan sebagaimana dituduhkan oleh Salman Rushdie dalam The Satanic Verses”. Bagi para sufi, posisi Al-Qur’an yang transenden ini mutlak adanya, tanpa bisa diganggu gugat.

Kendati demikian- sebagaimana disampai Abu Bakar al-Kalabadzi – hakikat eksistensi Al-Qur’an bagi kaum sufi tidaklah terletak pada teks, bunyi, maupun hafalan. Al-Qur’an tidak terikat dengan semua instrumen itu sebagaimana Dzat Allah Swt atau bisa dikatakan Al-Qur’an tidak terpisahkan dengan Dzat-Nya. Oleh karena itu, Al-Qur’an bukan benda, unsur atau bagian sesuatu.

Mayoritas sufi berpandangan, Al-Qur’an – sebagai Kalamullah – merupakan sebuah sifat Allah yang kekal ada pada Dzat-Nya, ia tidak menyerupai perkataan makhluk-Nya dari segala bentuk dan segi, tidak bersuara kecuali dari segi ketetapan atau kekuatan. Dengan kata lain, Al-Qur’an pada hakikatnya tidaklah sama dengan sesuatu apa pun.

Kalamullah pada hakikatnya – termasuk Al-Qur’an – bukanlah berupa huruf, bukan berupa suara maupun ucapan. Adanya huruf, suara dan ucapan hanyalah sesuatu yang menunjuk kepada Kalamullah, bukan hakikat yang sesungguhnya. Sebab, huruf, suara dan ucapan mempunyai alat dan anggota yang mendukungnya seperti pena dan lidah. Sedangkan Allah swt tidak membutuhkan itu semua.

Baca Juga: Tafsir Sufistik: Kenali Dua Golongan Yang Mempengaruhi Kendali Manusia

Dalam konteks ini, mushaf yang terdiri dari tulisan dan kertas tidaklah bisa dikatakan sebagai Kalamullah. Ia hanyalah sesuatu yang menunjuk kepada kalamullah yang tidak berhuruf, bersuara, dan berkata. Kalamullah adalah sebuah misteri yang tak bisa ditangkap panca indera manusia. Mereka hanya tahu bahwa Allah swt bersifat kalam.

Agak pelik memang untuk menjelaskan hakikat Al-Qur’an dan teksnya, namun al-Kalabadzi menyebutkan, “Al-Qur’an adalah perkataan Allah (Kalamullah) yang sunyi dari kata, suara dan huruf, ketika ia (kalam) sebelum didatangkan (diturunkan) dan sebelum dibacakan sebagai ayat, maka ia adalah bukan makhluk.” Wallahu a’lam.