Beranda blog Halaman 411

Tafsir Surat Al A’raf ayat 101-102

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Sebagaimana logam yang ketika panas diukir sehingga setelah kering ukirannya itu tak akan dapat dirubah kembali begitulah perumpamaan hati orang-orang kafir dalam Tafsir Surat Al A’raf ayat 101-102.

selain itu Tafsir Surat Al A’raf ayat 101-102 ini juga ditegaskan bahwa umat terdahulu itu merupakan orang yang tidak suka menepati janji dan juga fasik. Sedangkan sejatinya janji tersebut ialah fitrah asli yang diberikan Allah kepada setiap manusia untuk kembali menghadap Allah ketika dalam masa sulitnya.

Sehingga dari tafsir Surat Al A’raf ayat 101-102 dapat disimpulkan bahwa tidak semua umat terdahulu merupakan orang yang fasik. Karena ada sebagian dari mereka ketika datang utusan Allah kepadanya maka mereka pun memenuhi fitrahnya sebagai seorang manusia yang membutuhkan Allah. 


Baca Tafsir Sebelumnya: Tafsir Surat Al A’raf ayat 97-100


Ayat 101

Dalam ayat ini Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad bahwa Allah menceritakan kepadanya sebagian dari berita-berita mengenai negeri-negeri yang telah dibinasakan-Nya karena tingkah laku penduduknya yang ingkar dan suka berbuat kemaksiatan. Dengan mengetahui kisah tersebut maka Nabi Muhammad tidak akan merasa sedih melihat tingkah laku, keingkaran dan kesombongan umatnya, karena apa yang dialaminya itu telah dialami oleh pada rasul terdahulu. Pola tingkah laku orang-orang kafir dan musyrik itu  sama sepanjang masa, dan Sunnatullah yang berlaku atas mereka juga tidak berubah.

Peristiwa yang menimpa negeri-negeri yang disebutkan itu terjadi pada masa silam, berabad-abad sebelum lahirnya Nabi Muhammad, sehingga baik beliau maupun umatnya tidak mengetahui peristiwa tersebut. Maka Allah mengungkapkan kembali peristiwa-peristiwa tersebut kepada Nabi Muhammad melalui Al-Qur’an agar dapat menjadi pelajaran bagi umatnya.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa para rasul telah diutus kepada umat-umat yang terdahulu, membawa keterangan-keterangan dan bukti-bukti yang nyata tentang kemahaesaan Allah namun mereka tidak juga mau beriman kepada Allah dan agama-Nya. Mereka tetap ingkar, dan senantiasa dalam kemusyrikan serta melakukan berbagai kemaksiatan.

Sebagian dari mereka mengetahui akan kebenaran yang dibawa oleh para rasul tersebut, namun mereka tetap ingkar. Keingkaran itu memang telah menjadi watak dan tabiat mereka, sedang sebagiannya lagi ingkar karena semata-mata taklid kepada apa yang mereka warisi dari nenek-moyang mereka, tanpa dipikirkan dan diteliti lebih dahulu.

Dalam ayat lain yang senada dengan ayat ini, Allah berfirman:

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْۢ بَعْدِهٖ رُسُلًا اِلٰى قَوْمِهِمْ فَجَاۤءُوْهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَمَا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْا بِمَا كَذَّبُوْا بِهٖ مِنْ قَبْلُ ۗ كَذٰلِكَ نَطْبَعُ عَلٰى قُلُوْبِ الْمُعْتَدِيْنَ

Kemudian setelah (Nuh), Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan yang jelas, tetapi mereka tidak mau beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci hati orang-orang yaang melampaui batas. (Yunus/10: 74)

Firman Allah selanjutnya menerangkan bahwa Allah mencap hati orang-orang kafir. Kata-kata “mencap” mengingatkan kita pada pembuatan mata uang dan bahan-bahan lainnya dari logam. Barang tersebut dibentuk dan diukir ketika logam sedang dipanaskan, kemudian setelah logam itu dingin dan membeku, tidak bisa lagi dibentuk dan diukir.

Demikianlah perumpamaan hati nurani orang-orang kafir, sudah membeku dan tertutup mati, sehingga mereka tidak bisa lagi menerima pelajaran dan nasihat apa pun yang dikemukakan kepada mereka. Mereka tidak mau menerima agama yang dibawa para rasul, yang menyeru kepada akidah tauhid dan menyembah Allah semata-mata, betapa pun jelasnya keterangan dan bukti-bukti serta alasan dan dalil-dalil yang diberikan kepada mereka.

Ayat 102

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah mendapati kebanyakan umat-umat terdahulu tidak suka menepati janji, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

Mengenai “janji” yang dimaksud dalam ayat ini, ada beberapa penafsiran para ulama. Di antaranya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan janji tersebut ialah fitrah asli yang diberikan Allah kepada setiap insan, yaitu kecenderungan yang mendorong manusia untuk kembali kepada Tuhannya pada waktu ia menghadapi kesulitan; atau bersyukur kepada-Nya pada waktu terhindar dari kesulitan atau memperoleh kesenangan hidup.

Akan tetapi mereka tetap dalam keingkaran dan kemaksiatan. Sebaliknya, kenikmatan dan kelapangan hidup tidak pula mendorong mereka untuk bersyukur kepada Allah, bahkan mereka tidak mengakui nikmat tersebut sebagai karunia dan rahmat daripada-Nya.

Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “janji” dalam ayat tersebut ialah sifat yang asli atau fitrah yang diberikan Allah kepada setiap manusia, yaitu kecenderungan kepada kepercayaan tauhid, iman kepada kemahaesaan-Nya dan hanya menyembah kepada-Nya, serta tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun juga. Akan tetapi kenyataannya, mereka telah meninggalkan fitrah, dan melemparkan kepercayaan tauhid, bahkan mempersekutukan Allah, tanpa menghiraukan seruan-seruan para rasul serta keterangan-keterangan dan bukti-bukti yang dikemukakan.

Mereka hanya menuruti kehendak hawa nafsu, serta bisikan setan belaka, bertentangan dengan fitrahnya yang suci. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda:

َيقُوْلُ اللهُ ِانِّى خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ فَجَاءَتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ َوحَرَّمْتُ عَلَيْهِمْ مَا اَحْلَلْتُ لَهُمْ (رواه مسلم)

Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku beragama tauhid; kemudian datanglah setan lalu memalingkan mereka dari agama semula, serta mengharamkan kepada mereka apa-apa yang telah dihalalkan bagi mereka”. (Riwayat Muslim);

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullaah saw bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْيُنَصِّرَانِهِ اَوْيُمَجِّسَانِهِ (رواه البخارى ومسلم)

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian ibu-bapaknyalah yang menjadikan ia seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian jelas apabila manusia telah menyimpang dari kepercayaan tauhid, maka hal itu adalah disebabkan pengaruh dari luar, bukan fitrah yang dibawa dari kandungan ibunya, yang dikaruniakan Allah pada setiap insan.

Adapun sifat fasik yang disebut dalam ayat ini ialah seseorang melakukan berbagai maksiat secara berulang-ulang, tanpa menghiraukan nasihat dan ajaran agama serta hukum dan ancamannya.

Perlu diperhatikan bahwa firman Allah dalam ayat ini mengatakan bahwa kebanyakan mereka itu fasik. Ini memberi pengertian bahwa umat-umat yang terdahulu itu tidak semuanya fasik dan meninggalkan kepercayaan tauhid yang merupakan fitrah suci yang dikaruniakan Allah kepada setiap hamba-Nya.

Bahkan sebagian dari mereka tetap dalam fitrah sucinya, sehingga kedatangan para rasul yang membawa agama tauhid segera mereka sambut dengan baik, dan mereka senantiasa menjauhkan diri dari segala macam kemaksiatan dan kemusyrikan. Mereka inilah yang senantiasa mendampingi para rasul dalam menghadapi ancaman dan gangguan dari orang-orang kafir, dan mereka pulalah yang selalu diselamatkan Allah bersama Rasul-Nya dari azab dan malapetaka yang ditimpakan kepada kaum yang fasik itu.

(Tafsir Kemenag)


Baca Juga: Surat Ar-Rum [30] Ayat 30: Mengesakan Allah SWT adalah Fitrah Manusia


 

5 Keutamaan Surah Ad-Dukhan Menurut Riwayat Hadis dan Tafsir

0
Surah Ad-Dukhan
Surah Ad-Dukhan

Al-Qur’an mencatat Surah Ad-Dukhan merupakan surat urutan ke 44 yang berisi 59 ayat dan tergolong surat Makkiyah. Surah yang mempunyai arti asap ini berisi tentang ancaman kaum musyrikin di masa lalu dengan tanah yang tandus membuat mereka kelaparan. Sehingga seakan-akan seperti ruang terbuka dan terlihat asap keluar.

Dukhan (Asap) Sebagai Tanda Kiamat Besar

Kata Dukhan yang bermakna asap itu ada dalam nyata bukan khayalan semata. Telah tertuang dalam QS. Ad-Dukhon [44]: 10

فَٱرۡتَقِبۡ يَوۡمَ تَأۡتِي ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٖ مُّبِينٖ

Artinya: “Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas.”

Telah dijelaskan oleh Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya mengenai ayat tersebut, bahwa Ad-Dukhan diklasifikasikan menjadi 3 bagian; Pertama, Ad-Dukhan adalah salah satu tanda hari kiamat yang belum terjadi, pendapat demikian sejalan dengan Ali, Ibnu Abbas, Ibnu ‘Amr, Abu Hurairah, Zaid bin Ali, Al-Hasan, dan Ibnu Abi Mulaikah.

Baca Juga: Inilah Empat Keutamaan Surat Al Ikhlas

Kedua, Ad-Dukhan adalah khayalan yang menimpa kaum Quraisy ketika mereka mengalami kelaparan ekstrim atas do’a Rasulullah. Sehingga orang-orang ketika itu seperti melihat dukhon (asap) di antara langit dan bumi, pendapat Ibnu Mas’ud.

Ketiga, Ad-Dukhan adalah debu yang mengepul di hari Fathu Mekkah, sehingga menutupi langit, sejalan dengan pendapat Abdurrahman Al-A’raj. Dan keterangan ini pun dilanjutkan dalam ayat berikutnya QS. Ad-Dukhon [44]: 11 sebagaimana keterangan dari Ibnu Katsir,

Kabut itu meliputi manusia.” Maksudnya, meliputi dari keseluruhan mereka dan menimpa manusia pada umumnya. Jika seandainya yang dimaksud  dukhan itu hanyalah asap khayalan yang menimpa kaum musyrikin, maka tentu tidak akan disebut dengan meliputi manusia. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid 7, hlm. 249-250)

Dibalik Keutamaan Surah Ad-Dukhan

Beberapa ulama’ menerangkan perihal keutamaan dan keistimewaan yang terdapat dalam Surah Ad-Dukhon dimana tercantum dari berbagai hadits yang memuatnya, diantaranya sebagai berikut,

Pertama, dinikahkan dengan bidadari surga yang bagus matanya bagi yang membaca Surah Ad-Dukhon, sebagaimana dalam hadits. Dari Abi Rafi’, ia berkata, “Siapa yang membaca Surah Ad-Dukhan pada malam jum’at, maka pada waktu subuh ia telah diampuni segala dosanya, dan dinikahkan dengan salah satu bidadari-bidadari yang bermata indah.” (HR. Ad-Daraimi)

Kedua, tujuh puluh ribu malaikat memintakan ampunan bagi yang membaca Surah Ad-Dukhan. Sebagaimana hadits Nabi menerangkan, dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang membaca Hamim Ad-Dukhon di malam hari, maka di pagi harinya tujuh puluh ribu malaikat memintakan ampun untuknya.” (HR. At-Tirmidzi)

Ketiga, dibangunkan rumah di surga. Dari Abu Umamah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Siapa yang membaca Hamim Ad-Dukhan di malam jum’at atau di hari jum’at, maka Allah akan membangunkannya rumah di surga.” (HR. At-Thabrani)

Keempat, membaca Surah Ad-Dukhan dapat membawa seseorang terlihat semakin bercahaya dan penuh wibawa. Kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi lebih dihormati dan disegani oleh setiap kalangan sekitarnya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

“Tergolong orang-orang yang hebat dalam membaca Surah Ad-Dukhan akan selalu ditemani para malaikat pencatat yang paling dimuliakan dan taat kepada Allah SWT, dan adapaun orang yang terbata-bata membaca Surah Ad-Dukhon lalu bersusah payah untuk mempelajarinya maka dia akan mendapatkan dua kali pahala” (HR. Bukhari).

Baca Juga: Keutamaan Surat Yasin Dalam Tradisi Masyarakat Muslim Indonesia

Kelima, malam yang dimaksud dalam firman Allah SWT. Seperti halnya Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirannya berkaitan dengan QS. Ad-Dukhan [44]: 3-4 bahwa ahli tafsir berbeda pendapat tentang malam ini. Sebagian berkata malam yang dimaksud itu adalah Lailatul Qodar. Qatadah berkata bahwa itu adalah Lailatul Qadar. Sedangkan ulama’ lainnya berpendapat bahwa malam itu adalah malam Nisfhu Sya’ban. Lalu at-Thabari berkata, “ Yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar, karena Allah ta’ala mengabarkan bahwa Lailatul Qadar seperti demikian.” (Tafsir Ath-Thabari Juz 11, hlm. 221)

Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, perlu ditelaah dan diterapkan dalam kehidpuan, sebagiamana melihat sisi Surah Ad-Dukhan yang mana berisi sebagai peringatan maupun jika diterapkan dalam kehidupan akan mendapatkan keberkahan dari setiap huruf yang dapat dibaca dan direnungkan. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al-Anbiya’ Ayat 7, Mengapa Menuntut Ilmu Setara dengan Jihad?

0
Tafsir Surat Al-Anbiya’ Ayat 7, Jihad Menuntut Ilmu
Tafsir Surat Al-Anbiya’ Ayat 7, Jihad Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu dan mempelajarinya adalah seutama-utamanya jihad. Inilah jihad terbesar dari sekian bentuk term jihad yang ada. Dalam Ta’lim Muta’alim dijelaskan, “satu orang yang berilmu lagi wara’ itu lebih ditakuti syaitan ketimbang seribu orang ahli ibadah tanpa dilandasi ilmu” (fa inna faqihan wa hidan mutawarri’an asyaddu ala syaithani min alfi ‘abidi). Jihad menuntut ilmu sangat penting sampai-sampai Allah swt melukiskannya dalam firman-Nya surat al-Anbiya’ ayat 7:

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui. (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 7)

Tafsir Surat Al-Anbiya Ayat 7

Pada penafsiran ayat ini, saya akan memfokuskan pada redaksi kedua yaitu fas-alu ahl al-dzikri in kuntum la ta’lamun, terutama kalimat ahl al-dzikri.

Al-Tabary dalam Jami’ul Bayan menafsirkan ayat tersebut dengan menukil riwayat berikut, “diceritakan Basyar, Yazid, Sa’id dari Qatadah, berkata: “fas-alu ahla dzikri in kuntum la ta’lamun” makna ahl dzikri di sini adalah ahl kitab taurat dan injil” sebagaimana perkataan Abu Ja’far, “Aku telah melihatnya berkata, “mereka mengabarkan bahwa para rasul adalah orang laki-laki yang memakan makanan dan berjalan di pasar.” Dikatakan ahl dzikir yaitu Ahl al-Quran”.

Baca juga: Jejak Manuskrip Al-Qur’an Nusantara dan Problem Penulisan Rasm Imla’i

Senada dengan al-Tabary, Al-Qurtuby juga menafsirkannya demikian. Bahwa ahl dzikri yaitu mereka para ahl taurat dan injil yang beriman kepada Nabi saw. Ibn Zaid berkata, “makna al-dzikri adalah mereka para ahl al-Quran. Jabir al-Ja’fy mengatakan ayat ini turun dimaksudkan kepada ahl dzikr yaitu ahl al-Quran.

Masih tentang al-Qurtuby, ia menampilkan satu fenomena sosial yaitu para ulama seringkali berbeda pendapat dalam fatwanya. Namun, jumhur ulama sepakat bahwa bagi mereka yang tidak memiliki kapasitas untuk menggali hukum atau katakanlah orang awam, sebaiknya mengikuti pendapat (taklid) kepada ulama dan tidak memperbolehkan membuat fatwa sendiri tanpa dilandasi pengetahuan yang mendalam, termasuk juga tentang kehalalan dan keharaman sesuatu.

Lebih dari itu, penafsiran bercorak sufistik juga disumbangkan Al-Qusyairi yakni khitab (obyek yang dimaksud atau tujuan) ayat ini ditujukan kepada seluruh umat, tidak terbatas kaum tertentu. Ahl dzikri dalam konteks ini adalah ulama yang beriman kepada Nabi Muhammad saw. Selain itu, mereka yang paham betul seluk-beluk keilmuan baik agama maupun sains atau boleh dibilang pakar di bidang keilmuannya.

Baca juga: Alam Semesta Juga Menyatakan Patuh Pada Allah: Tafsir Surat Fushilat Ayat 11

Agak berlainan dengan yang lain, bahwa ahl dzikri yaitu mereka para ahli Al-Quran plus ulama khash lagi ma’rifat. Merekalah termasuk ahl dzikri yang disebut dalam ayat ini, demikian penuturan Ismail Haqqi dalam Ruh al-Bayan. Tak mau kalah, al-Razi dalam Tafsir al-Kabir-nya memaknai ahl dzikri yaitu mereka ahl al-kitab yang mengetahui kerasulan Rasul saw.

Jihad Menuntut Ilmu

Mempelajari dan menuntut ilmu merupakan bagian dari jihad. Bahkan bentuk jihad ini mendapat legitimasi dari Al-Quran dan al-Hadits.

من خرج في طلب العلم فهو في سبيل الله هوحتى يرجع

“Barang siapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (H.R. Tirmidzi).

Hadits di atas bermakna bagi mereka yang tengah menuntut ilmu, maka status whatsapp-nya on the way surga alias dalam naungan ridha-Nya. Sungguh begitu berartinya jihad dengan ilmu. Di Al-Quran juga terdapat isyarat bahwa kesungguhan dalam melaksanakan kebaikan, termasuk menuntut ilmu termasuk bagian dari jihad sebagaimana dilukiskan oleh-Nya dalam Q.S. al-‘Ankabut [29]: 69, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan-Ku) benar-benar dan pasti akan aku tunjukkan kepada mereka jalan-jalan-Ku”.

Tidak hanya itu, Al-Ghazali melukiskan bahwa jihad atau perjuangan membela agama tanpa didasari ilmu sehingga dilakukan cara-cara yang salah justru mendatangkan kerusakan yang sangat besar bagi agama Islam,

وضرر الشرع ممن ينصره لا بطريقه أكثر من ضرره ممن يطعن فيه بطريقه وهو كما قيل عدووعاقل خير من صديق جاهل

“Bahaya bagi agama yang ditimbulkan dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara yang salah lebih besar dibandingkan bahaya yang datang dari pencela agama yang menggunakan cara-cara benar. Ini seperti yang dikatakan, “Musuh yang berakal lebih baik ketimbang teman yang bodoh”.

Ibnu Qayyim al-Jauzi dalam Zad al-Ma’ad justru menempatkan jihad menuntut ilmu sebagai tingkatan pertama jihad melawan hawa nafsu. Bahkan mayoritas ulama, bepergian untuk menuntut ilmu lebih utama ketimbang memanggul senjata atau terlibat peperangan, sebagaimana diturukan Syekh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim,

ليعلم أن سفر العلم لا يخلوا عن التعب لأن طلب العلم أمر عظيم وهو أفضل من الغزاوة عند أكثر العلماء والأجر على قدر التعب والنصب

“ketahuilah bahwa nyantri (menuntut ilmu) tidak terlepas dari kesulitan, sebab menuntut ilmu merupakan perkara yang agung, ia lebih utama daripada berperang menurut mayoritas ulama, di mana pahala sebanding dengan tingkatan kesulitan dan ketekunan”.

Baca juga: Tafsir Surah At-Taubah Ayat 36: Menanam Amalan di Bulan Rajab

Karenanya, sangat tidak elok apabila sebagian golongan menganggap menuntut ilmu bukanlah bagian dari jihad, kata sahabat Abu Darda’ mereka itu termasuk golongan yang kurang akal dan pikirannya,

من رأى أن الغدو إلى طلب العلم ليس بجهاد فقد نقص في رأيه وعقله

“Barang siapa yang meyakini bahwa berangkat pagi untuk menuntut ilmu bukanlah bagian dari jihad, berarti akal dan pikirannya kurang”.

Dengan demikian, jihad menuntut ilmu menempati posisi yang sangat sentral dalam nomenklatur peradaban. Di era disrupsi dan pandemi, ilmu amatlah dibutuhkan, ilmu keagamaan dalam menyikapi Covid-19, ilmu kesehatan tentang vaksin misalnya, ilmu sains terkait mitigasi bencana, menjaga alam dan menemukan peradaban baru, semua itu sangat penting dalam menjaga keseimbangan dan menopang kehidupan manusia. Wallahu A’lam.

Jejak Manuskrip Al-Qur’an Nusantara dan Problem Penulisan Rasm Imla’i

0
Jejak Manuskrip Al-Qur’an Nusantara dan Problem Penulisan Rasm Imla’i
Jejak Manuskrip Al-Qur’an Nusantara dan Problem Penulisan Rasm Imla’i

Manuskrip Al-Qur’an Nusantara memiliki karakter yang khas, salah satunya dari sisi rasm yang digunakan. Mayoritas manuskrip Al-Qur’an itu ditulis dengan rasm imla’i, bukan rasm usmani. Penerapan rasm ini bisa kita telusuri dari naskah mushaf kuno Nusantara yang tertua dan kini disimpan di Belanda. Mushaf dengan kode MS 96 D 16 dan bertahun 1606 itu ditulis dengan rasm imla’i yang mengedepankan kaidah bahasa Arab, dari pada mengikuti penulisan era Utsman bin Affan.

Perihal penulisan rasm imla’i, mudah sekali kita menilai bahwa mushaf itu tidaklah sempurna. Hal ini didasari pada persepsi bahwa rasm usmani bersifat tawqifi yakni berdasarkan petunjuk Allah dan Rasulullah. Maka, jika tidak ditulis dengan rasm usmani, otomatis mushaf itu dianggap menyalahi ketentuan. Hal ini juga yang kita temui sekarang, nyaris semua mushaf Al-Qur’an yang kita gunakan  bertuliskan bil rasmi al-utsmani (dengan rasm utsmani). Dari persepsi ini kita perlu menggali lagi pendapat para ulama, bagaimana jika mushaf ditulis bukan dengan rasm usmani?

Pertanyaan ini memiliki tiga pendapat, ada yang membolehkan, ada yang melarang, dan ada yang menggunakan keduanya. Ini yang akan kita ulas beserta alasan-alasan yang menyertainya.

Boleh Menggunakan Rasm Imla’i

Pendapat pertama membolehkan penulisan Al-Qur’an dengan rasm imla’i. Hal ini bertujuan agar pembaca Al-Qur’an tidak salah membaca, karena penulisan dengan kaidah bahasa Arab sesuai dengan cara bacanya. Misalnya kata Al-sholaata, rasm imla’i ditulis الصلاة , sementara rasm usmani ditulis الصلوة . Dengan penulisan yang sesuai bacaan itu, penulisan rasm imla’i tidak membingungkan orang awam. Adapun salah satu ulama yang membolehkan penulisan dengan rasm imla’I adalah Syekh Izuddin bin Abd as-Salam dan Ibn Khaldun.

Baca juga: Alam Semesta Juga Menyatakan Patuh Pada Allah: Tafsir Surat Fushilat Ayat 11

Para ulama yang berpendapat ini juga memiliki alasan terkait dalil yang digunakan. Mengutip Kiai Ahsin Sakho Muhammad dalam Membumikan Ulumul Qur’an”, bahwa tidak ada dalil sharih dari Nabi tentang keharusan penulisan rasm tertentu. Pendapat ini dikuatkan oleh Abu Bakar al-Baqillani yang mengatakan, “Siapa saja yang mengharuskan cara penulisan Al-Qur’an rasm tertentu, dia harus mengemukakan dalilnya. Tidak ada dalil baik dari Al-Qur’an maupun hadis, bahkan ijma’ sahabat untuk itu”.

Harus Ditulis dengan Rasm Usmani

Pendapat kedua mengharuskan penulisan mushaf Al-Qur’an dengan rasm usmani. Seperti yang di awal paparkan, pendapat ini kuat akan persepsi tawqifi. Di antara ulama-ulama yang mengikuti pendapat ini adalah jumhur ulama salaf, dan imam empat (Hambali, Malik, Syafi’i, Hanafi). Mereka menyebut bahwa penulisan mushaf Al-Qur’an harus sesuai dengan al-katbah ula atau tulisan pertama. Kemudian mereka meyakini syarat diterimanya bacaan (qiraat) adalah dengan penulisan rasm usmani.

Mengenai syarat qiraat ini, Kiai Ahsin mengutip ungkapan Ibn Al-Jazari dalam kitab Thayyibat an-Nasyr. “Setiap bacaan (qiraat quraniyah) yang memenuhi tiga rukun, yaitu sesuai dengan kaidah nahwu, sesuai dengan rasm usmani walau mirip, dan sanadnya sahih serta masyhur di kalangan ulama qiraat. Maka bacaan itu dinamakan Al-Qur’an,” tulisnya.

Selain itu, ulama yang berpendapat mushaf harus ditulis dengan rasm usmani berkeinginan untu menjaga keutuhan dan keaslian Al-Qur’an.

Baca juga: Tafsir Surah At-Taubah Ayat 36: Menanam Amalan di Bulan Rajab

Menggunakan Rasm Usmani dan Rasm Imla’i

Pendapat ketiga adalah sikap ulama yang ingin mengakomodir keduanya. Kiai Ahsin cenderung memilih ini. Menurutnya, dalam penulisan mushaf Al-Qur’an harus ditulis dengan rasm usmani. Sementara untuk selain mushaf Al-Qur’an, misalnya kitab, buku pembelajaran atau yang lainnya boleh menuliskan ayat Al-Qur’an dengan rasm imla’i.

Pendapat ini memiliki alasan bahwa untuk menjaga keaslian Al-Qur’an, maka mushaf yang dibaca masyarakat harus ditulis dengan rasm usmani. Selain itu, karena tidak ada dalil yang mengharuskan penulisan rasm usmani, maka penulisan ayat Al-Qur’an di kitab-kitab, atau buku pelajaran lebih cocok ditulis dengan rasm imla’i, karena lebih mudah.

Baca juga: Annabel Gallop, Pakar Mushaf Kuno Nusantara dari Inggris

Dari keragaman pendapat ini, kita kembali pada jejak manuskrip Al-Qur’an Nusantara. Kenyataannya, banyak sekali mushaf kuno yang ditulis dengan rasm imla’i. Masa silam memang belum menggunakan mesin cetak dan mengharuskan penyalinan satu per satu, maka sangat logis jika penulisan rasm yang digunakan adalah rasm imla’i.

Kondisi berbeda setelah Indonesia merdeka. Mushaf kenegaraan pertama yang dibuat di masa Soekarno sudah mulai menggunakan rasm usmani. Saat itu memang mushaf Mesir dengan rasm usmani sudah dicetak dan disebarluaskan di negara-negara muslim lainnya. Lanjut pada tahun 1984 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an telah menetapkan tiga mushaf Standar. Salah satu mushaf inilah yang kemudian menjadi acuan penulisan dengan rasm usmani di Indonesia.

Uraian di atas menunjukkan dialektika ulama tentang penulisan mushaf Al-Qur’an. Adanya pendapat yang beragam menunjukkan semua keputusan memiliki dasar, alasan dan tujuan. Bukan atas dasar kebencian.

Wallahu a’lam[]

Alam Semesta Juga Menyatakan Patuh Pada Allah: Tafsir Surat Fushilat Ayat 11

0
Tafsir Surat Fushilat Ayat 11
Tafsir Surat Fushilat Ayat 11

Tidak hanya manusia yang tunduk kepada Allah SWT, akan tetapi, alam semesta juga tunduk kepada Allah. Ketundukan alam semesta ini bisa dirasakan, bahkan dilihat kasap mata manusia ketika Allah melakukan sesuatu untuk hambaNya yang sedang membangun kemaslahatan dunia. Karena dengan begitu terjalin hubungan persahabatan antara manusia dengan alam semesta. Suka atau tidak, manusia itu harus bersahabat dengan alam karena alam raya adalah tempat manusia hidup untuk menjalankan apa yang diperintahkan Allah. Dalam konteks ini kita bisa meraba kembali kisah pembakaran Nabi Ibrahim yang tertera pada Surat al-Anbiya’ Ayat 68-69. Dan bukti bahwa Allah meminta alam untuk patuh kepadaNya adalah pada surat fushilat Ayat 11, berikut ayatnya:

ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِىَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ٱئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَآ أَتَيْنَا طَآئِعِينَ

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (surat Fushilat Ayat 11).

Pada tafsir al-Misbah karya Prof. Quraish Shihab, menuliskan penafsiran ayat di atas adalah, ketika itu kekuasaan Allah tertuju kepada penciptaan langit yang pada saat itu berujud asap, dan langit itu pun tercipta. Penciptaan langit dan bumi menurut kehendak-Nya itu adalah mudah, yaitu seperti orang yang mengatakan kepada sesuatu, “Datanglah, suka atau tidak suka!” Sesuatu itu pun kemudian menurut.”

Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 60-61: Perintah Menaati Allah dan Mendurhakai Setan

Atas kehendak Allah kemudian terbentuklah langit sebagaimana yang sesuai dengan kehendak Allah, hal ini membuktikan bahwa alam semesta berupa langitpun patuh kepada Allah. Dan masih ada bukti kekuasaan Allah lainnya tentang kepatuhan alam semesta kepada Allah SWT. Yakni ketika pada peristiwa pembakaran nabi Ibrahim as, api menyala-nyala, namun Nabi Ibrahim tetap terselamatkan.

Tidak Ada Keraguan, Bahwa Alam Semesta Memang Patuh Kepada Allah

Ayat yang menceritakan tentang peristiwa tragis pembakaran Nabi Ibrahim as,  sungguh benar adanya, dari kisah tersebut kita bisa mengambil benang merahnya bahwa api yang termasuk golongan alam, mampu bersahabat dengan manusia. Sehingga Nabi Ibrahim yang dibakar hidup selama seminggu tidak merasakan panasnya api yang membara. Semua ini terjadi atas kehendak Allah, yang mana api patuh dengan perintah Allah, untuk memberikan perlindungan kepada Nabi Ibrahim.

Berikut kisah pembakaran Nabi Ibrahim yang tertera pada surat al-Anbiya’ ayat 68-69:

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (68) قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69)

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”

Kitab Taisirul Karimir Rahmani fi Tafsiri Kalamil Manan atau Tafsir As Sa’di karangan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menceritakan, ketika itu, orang-orang mengumpulkan kayu bakar yang banyak sekali, sampai-sampai ada seorang wanita yang sakit, lalu ia bernazar bahwa jika ia sembuh dari penyakitnya, ia akan membawakan kayu bakar itu buat membakar Nabi Ibrahim.

Baca juga: Apakah Sebenarnya Makna Jihad Menurut al-Quran? Begini Penjelasannya.

Kayu-kayu bakar itu kemudian dikumpulkan di tanah yang legok dan mereka menyalakannya dengan api sehingga terjadilah api yang sangat besar yang belum pernah ada api sebesar itu. Nyala api itu mengeluarkan percikan-percikan yang sangat besar, dan nyalanya sangat tinggi. Ibrahim dimasukkan ke dalam sebuah alat pelontar batu besar atas saran seorang Badui dari kalangan penduduk negeri Persia berbangsa Kurdi. Menurut Syu’aib Al-Jiba’i, nama lelaki itu adalah Haizan; maka Allah membenamkannya ke dalam bumi, dan ia tenggelam terus ke dalam bumi sampai hari kiamat.

Setelah mereka melemparkan Nabi Ibrahim ke dalam nyala api itu, Nabi Ibrahim pun merasa gentar dan tak henti-hentinya mengucapkan dzikir:

 حسبي الله ونعم الوكيل

(hasbunallah wa nikmal wakiil)

Pada Tafsir Jalalain karya Syeckh Jalaluddin As-suyuti dan Jalaluddin Mahalli menuliskan, bahwa setelah Nabi Ibrahim dilemparkan pada api yang membara, Allah berfirman demikian:

(Kami berfirman, “Hai api! Menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”) maka api itu tidak membakarnya selain pada tali-tali pengikatnya saja dan lenyaplah panas api itu, yang tinggal hanyalah cahayanya saja, hal ini berkat perintah Allah, ‘Salaaman’ yakni menjadi keselamatan bagi Ibrahim, akhirnya Nabi Ibrahim selamat dari kematian karena api itu dingin.

Baca juga: Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 28: Manfaat Ibadah Haji dalam Segi Sosial dan Ekonomi

Jadi seluruh benda alam semesta ini tunduk kepada Allah, patuh kepada kekuasaanNya, berjalan menurut kehendak dan perintahNya. Tidak satu pun makhluk yang mengingkariNya. Semua menjalankan tugas dan perannya masing-masing.

Jadi seluruh makhluk, baik yang berbicara maupun yang tidak, yang hidup maupun yang mati, semuanya tunduk kepada perintah Allah. Semuanya menyucikan Allah dari segala kekurangan dan kelemahan, baik secara keadaan maupun ucapan. Apalagi kita sebagai manusia yang diberikan keistimewaan oleh Allah berupa akal, maka ada baiknya kita bisa merenungkan atas segala fitrahNya, mensyukuri atas segala nikmat Allah, dan tentunya berusaha menjalani perintah Allah tanpa melibatkan keterpaksaan. Wallahu a’lam []

Tafsir Surat Al A’raf ayat 97-100

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Allah senantiasa mengingatkan manusia untuk tidak mengikari ajaran yang dibawa oleh para Nabi. Untuk itu Allah mengisahkan pula dalam Tafsir Surat Al A’raf ayat 97-100 ini terkait orang-orang yang ingkar dan tidak menggunakan akalnya. Dalam Tafsir Surat Al A’raf ayat 97-100 ini disebutkan orang-orang yang ingkar tersebut disebabkan oleh kenikmatan hidup sehingga lupa kepada Allah.

Peringatan ini tidak hanya ditujukan kepada kaum kafir saja akan tetapi berlaku juga untuk orang mukmin agar tidak terlena sebab sejatinya sifat orang beriman adalah pemaaf, pengasih dan juga ingat akan adzab Allah. Tak lupa dalam Tafsir Surat Al A’raf ayat 97-100, khususnya pada ayat 98 Allah juga mencela perbuatan orang-orang yang lalai.


Baca Tafsir Sebelumnya: Tafsir Surat Al A’raf ayat 95-96


Ayat 97

Dalam ayat ini Allah memberi peringatan kepada orang-orang yang ingkar, dalam bentuk suatu pertanyaan, “Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman ketika siksaan Kami kepada mereka datang di malam hari pada waktu mereka tidur?” Maksudnya ialah bahwa azab Allah itu ditimpakan kepada mereka yang telah mendapatkan seruan para rasul tetapi mereka ingkar dan tidak menggunakan akalnya.

Sebab seandainya mereka itu mau berpikir dan mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang telah dialami oleh umat-umat yang terdahulu, akibat tenggelam dalam kenikmatan hidup sehingga mereka lupa kepada Allah yang memberikan nikmat, niscaya mereka akan merasa cemas tentang kemungkinan datangnya azab Allah kepada mereka. Kecemasan semacam itu, tentu akan mendorong mereka segera memperbaiki tingkah-laku, antara lain dengan menjauhkan diri dari segala macam kemusyrikan dan kemaksiatan, akan tetapi kenyataannya tidak demikian.

Mereka bahkan merasa aman dan tidak mempunyai kekhawatiran sedikitpun akan datangnya siksa Allah kepada mereka. Hal ini tampak dari tingkah-laku mereka, yang terus tenggelam dalam kenikmatan, serta tetap dalam kemusyrikan dan bermacam-macam kemaksiatan kepada Allah.

Ayat 98

Dalam ayat ini, sekali lagi Allah mencela tingkah-laku orang-orang yang ingkar, yaitu mereka tampak tidak mempunyai kekhawatiran tentang kemungkinan datangnya azab Allah ketika mereka dalam keadaan lalai.

Dengan firman ini Allah memperingatkan mereka bahwa azab-Nya mungkin saja menimpa mereka ketika mereka sedang lalai baik pada waktu tidur pagi hari, maupun pada waktu mereka asyik berfoya-foya, sehingga mereka tidak akan sempat lagi mempersiapkan diri untuk keselamatan mereka. Oleh sebab itu, sebaiknya mereka insaf dan waspada terhadap azab Allah, apalagi mereka telah mendengar seruan rasul dan nasihat-nasihat yang diberikan kepada mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ayat 99

Dalam ayat ini sekali lagi Allah mengulangi celaan-Nya terhadap tingkah-laku orang-orang kafir, “Apakah mereka aman terhadap azab Allah yang tidak terduga-duga?” Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang seperti merekalah yang akan merugi.

Dengan firman-Nya ini Allah menegaskan bahwa orang yang berakal sehat dan memegang teguh fitrah yang dikaruniakan-Nya kepada manusia serta memperhatikan peristiwa dan kejadian sejarah serta memperhatikan ayat-ayat Allah, tentu tidak akan merasa aman dari kedatangan azab-Nya.

Akan tetapi mereka yang ingkar ini benar-benar telah kehilangan akal  sehat serta fitrah yang dikaruniakan Allah kepada mereka dan tidak pula mau memperhatikan peristiwa-peristiwa sejarah serta ayat-ayat Allah, sehingga mereka betul-betul telah menjadi orang yang merugi. Mereka sudah kehilangan kekhawatiran terhadap datangnya azab Allah padahal mereka senantiasa berbuat kemaksiatan dan kemusyrikan.

Bagi orang yang beriman, sikap yang tepat ialah yakin tentang sifat pemaaf dan pengasih yang ada pada Allah, namun demikian ia harus senantiasa takut kepada azab-Nya yang mungkin datang menimpa dirinya tanpa diduga sebelumnya, sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Oleh sebab itu, mereka senantiasa berhati-hati dan menghindarkan diri dari hal-hal yang akan menyebabkan datangnya azab tersebut pada dirinya.

Dalam Al-Qur’an orang-orang kafir biasa disebut “orang-orang merugi?” Maka orang-orang yang kehilangan rasa kekhawatiran terhadap azab Allah, sama halnya dengan orang-orang yang berputus-asa terhadap ampunan dan rahmat Allah, kedua sifat tersebut adalah termasuk sifat-sifat orang kafir, yang disebut juga orang-orang yang merugi.

Ayat 100

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa umat yang mewarisi suatu negeri setelah lenyapnya penduduk negeri itu karena ditimpa siksaan Allah akibat keingkaran mereka kepada-Nya, memahami dan meyakini bahwa Allah kuasa untuk menimpakan azab tersebut kepada mereka karena dosa-dosa mereka apabila dikehendaki-Nya. Juga Allah kuasa untuk mengunci mati hati nurani mereka, sehingga mereka tak dapat lagi menerima pelajaran dan nasihat agama dan tidak mau beriman.

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian terdahulu, Allah telah mengutus beberapa orang rasul kepada umat mereka sebelum diutusnya Nabi Syu’aib kepada umatnya. Umat-umat terdahulu telah ditimpa azab Allah karena dosa-dosa dan keingkaran mereka kepada Allah. Azab yang menimpa mereka adalah sedemikian hebatnya, memusnahkan mereka sedemikian rupa, sehingga mereka seolah-olah tidak pernah hidup di muka bumi ini.

Setelah mereka itu lenyap, Allah mendatangkan umat yang baru untuk menghuni negeri tersebut. Umat yang baru ini mengetahui sejarah umat terdahulu itu, karena buku-buku dan kitab-kitab suci mereka menyebutkan hal itu. Mereka mengetahui apa yang dialami umat tersebut, yaitu azab yang dahsyat. Dan mereka tahu hal-hal yang menyebabkan didatangkannya azab tersebut kepada mereka, yaitu lantaran dosa-dosa dari keingkaran mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Seharusnya mereka dapat mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah,  dapat memahami bahwa Allah kuasa untuk menimpakan azab yang serupa itu kepada diri mereka bila mereka berbuat dosa dan kemaksiatan seperti umat yang terdahulu itu.

Ayat tersebut tidak hanya merupakan peringatan bagi orang-orang kafir, melainkan juga bagi orang-orang muslim. Setelah mengetahui sebab-sebab ditimpakan azab kepada umat para Rasul yang terdahulu  dan setelah mengetahui sunnatullah mengenai umat-umat yang berdosa, maka seharusnya kita menjauhkan diri dari kesalahan-kesalahan serupa itu, agar kita tidak ditimpa azab Allah yang akan menyebabkan kita kehilangan segala-galanya.


Baca Juga: Benarkah Musibah adalah Adzab dari Allah? Gus Baha: Bukan Hak Kita Menjudge!


Tafsir Surah At-Taubah Ayat 36: Menanam Amalan di Bulan Rajab

0
Amaliah Bulan Rajab
Amaliah Bulan Rajab

Hari ini kita telah memasuki Bulan Rajab, salah satu bulan dalam penanggalan Hijriyah. Bulan ini termasuk salah satu bulan mulia yang disebut Asyhurul Hurum, di samping tiga bulan berturut-turut Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram. Penyebutan Rajab sebagai bulan mulia ini disiratkan Allah dalam surah At-Taubah ayat 36, dan diperjelas penyebutannya oleh Rasulullah. Dalam melewati masa-masa di bulan mulia ini, kita sebagai umat Islam dianjurkan untuk mulai mengerjakan hal-hal baik dan sunnah, dan menghindari kemaksiatan. Anjuran-anjuran tersebut dimaksudkan dalam rangka menanam amaliah saat bulan Rajab untuk kemudian menuai hasilnya di bulan-bulan yang akan datang.

Baca juga: Meneladani Akhlak Nabi Muhammad saw di Akhir Bulan Maulid

Tafsir Surah at-Taubah ayat 36

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Dalam menafsirkan ayat tersebut Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim merujuk sebuah hadis yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, yang kala itu disabdakan saat Rasulullah sedang menunaikan haji wada’ terakhir “Ingatlah, sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas dua belas bulan, empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan haram (suci); tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram; yang lainnya ialah Rajab Mudar, yang terletak di antara bulan Jumada (Jumadil Akhir) dan Sya’ban”. Ibnu Katsir juga mengutip sebuah hadis riwayat Ibnu Umar yang sama persis hadis tersebut, namun secara redaksi, bulan pertama yang diucapkan Rasulullah adalah bulan Bulan Rajab.

Baca juga: Inilah Amalan Agar Mudah Bangun Untuk Ibadah Shalat Malam

Secara sederhana, keterangan di atas bisa kita ambil informasi penting bahwa dalam 12 yang biasa kita lewati, ada 4 bulan yang Allah muliakan (Asyhurul Hurum). 3 bulan yang berkesinambungan disebutkan berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian satu bulan lagi disebutkan secara terpisah yaitu Rajab. Karena kedudukannya yang mulia, pada bulan-bulan tersebut menurut Wahbah Zuhayli dalam Tafsir Al-Wajiz umat Islam dilarang melakukan perbuatan aniaya.

Rajab, bulan mulia dan bulan istighfar

Sebagaimana penafsiran surah At-Taubah ayat 36, salah satu bulan mulia atau yang disebut Asyhurul Hurum adalah Rajab. Ibnu Katsir menyampaikan bahwa pada Rajab, meninggalkan maksiat atau melakukan kebaikan-kebaikan akan mendapat pahala yang lebih dibanding bulan yang lain. Pendapat yang sepadan juga diungkapkan oleh Zuhayli bahwa memuliakan bulan Rajab adalah dengan tidak melakukan aniaya, seperti maksiat pada diri sendiri dan orang lain. Oleh karena alasan-alasan tersebut, bulan ini juga disebut-sebut oleh umat Islam sebagai bulan taubat atau syahr al-istighfar.

Mengenai kaitan Rajab dan bulan taubat, Syaikh Ali Sulthan al-Qari mengutip sebuah hadis riwayat Ibnu Abbas dalam kitab anggitannya Al-Adab fi Rajab tentang keutamaan istighfar yang dibaca di bulan Rajab dan Sya’ban sebanyak tujuh kali, maka dengannya Allah mengutus malaikat untuk membakar buku catatn amal buruknya. Adapun redaksi istighfar riwayat Ibnu Abbas tersebut sebagai berikut:

استغفر اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاتُوْبُ إِلَيْهِ، تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا وَلَا قُوَّةً وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوْرًا

“Saya memohon ampun kepada Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, yang Maha Hidup, yang Maha Berdiri Sendiri, dan saya bertaubat kepada-Nya dengan taubat hamba yang dzalim yang tidak memiliki pada dirinya sendiri manfaat, mudarat, kekuatan, kehidupan dan kematian.”

Istighfar dalam redaksi lain tentu juga diperbolehkan, termasuk juga pada bulan Rajab sebagaimana terdapat pada kitab Kanzun Najah wa Surur karangan Syaikh Abdul Hamid Muhammad al-Quds. Bacaan istighfar yang paling dianjurkan sepanjang Rajab menurut Syaikh Abdul Hamid adalah sayyidul istighfar yang dibaca setidaknya tiga kali di pagi dan sore hari.

Baca juga: Pentingnya Niat dan Keimanan dalam Mewujudkan Kebermaknaan Suatu Amalan

Menanam amalan di Bulan Rajab, memanen di Bulan Ramadhan

Penandaan Rajab sebagai bulan mulia dan dan bulan taubat jika ditelisik lebih jauh memiliki alasan yang cukup logis. Dalam menjalankan roda aktivitas kehidupannya, manusia tidak pernah terlepas dari yang namanya lupa, maksiat, dan kesalahan. Adanya ketentuan waktu oleh Allah, daur yang terus berulang, dan penandaan bulan taubat dimaksudkan agar manusia tidak berputus asa dari ampunan dan rahmat Allah.

Atas alasan tersebutlah mengapa Rajab dijadikan bulan mulia, manusia diwanti-wanti oleh Allah agar bersiap untuk membersihkan diri dan meraih rahmat pada waktu-waktu selanjutnya, sebagaimana yang pesan Syaikh Abdul Hamid dalam Kanzun Najah wa Surur “Rajab adalah bulan istighfar, Sya’ban adalah bulan shalawat, dan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an”. Mengenai pendapat tersebut, Dzun Nun al-Misri dalam Al-Ghunyah Li Tholib Thoriq al-Haq juga menyampaikan argumentasi senada “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan untuk menyirami, dan bulan Ramadhan adalah bulan untuk memetik hasilnya”.

Menanam di Bulan Rajab sebagaimana yang dimaksud Dzun Nun al-Misri adalah menabur benih kebiasaan dan amalan. Penanaman kebiasaan dan amalan ini selaras dengan pemaknaan Rajab sebagai bulan taubat, karena tidak mungkin kita menanam jika ladang jiwa kita masih kotor dan amalan pasti tidak sempurna. Bentuk-bentuk penanaman kebiasaan ini bisa kita lakukan dengan memulainya dengan membersihkan diri, beristighfar, bersuci, melunasi hutang, mengqadha puasa, lalu kemudian mulai membiasakan amalan sunnah seperti shalat dan puasa sebagaimana yang dianjurkan.

Baca juga: Ikhwanus Shafa dan Tafsir Isyari tentang Tingkat Spiritualitas Manusia

Bulan Sya’ban adalah saat menyiram, di mana ketika Sya’ban kita bisa menyiram kebiasaan dan amaliah yang telah kita tanam pada Bulan rajab kemarin. Menurut Dzun Nun al-Misri, orang yang telah terbiasa melakukan amaliah sunnah di Bulan ini, ia akan semakin semangat di Bulan Sya’ban, dan makin giat di Bulan Ramadhan. Dan saat Ramadhan tiba, ia bisa memetik kebiasaan baik yang telah ia tanam di saat Rajab dan sirami ketika Sya’ban. Rahmat dan pahala besar yang diberikan Allah di bulan Ramadhan akan mudah saja dilakukan bagi orang-orang yang terbiasa pada 2 bulan sebelum ini.

Keterkaitan dan kesinambungan ketiga bulan tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh ulama di atas sejatinya memang memiliki alasan yang cukup logis, karena Rasulullah sendiri juga antusias dengan tiga bulan berturut-turut ini, di mana ketika masuk awal Rajab beliau berdoa:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami di Bulan Rajab dan Bulan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” (HR Ahmad, Thabrani, Baihaqi).

Wallahu a’lam.

Mengulas The Message of the Qur’an, Sebuah Karya Terjemah Sekaligus Tafsir

0
The Message of The Qur'an
The Message of The Qur'an

The Message of the Qur’an karya Muhammad Asad selain merupakan kitab Tafsir, juga dianggap sebagai kitab terjemah al-Qur’an. Hal ini didasari oleh adanya terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang disajikan di dalamnya.

Berkat terjemahan yang dihadirkan oleh Asad, karya The Message of the Qur’an dinilai sebagai kitab terjemah al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris terbaik hingga saat ini. Penilaian tersebut tidaklah berlebihan, sebab dalam penerjemahannya, Asad tidak hanya mencari padanan kata namun berupaya untuk mempertahankan makna.

Maka menarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai  ciri khas serta metodologi yang diterapkan oleh Asad dalam menyusun terjemah serta tafsir dalam karyanya. Oleh karena itu, tulisan kali ini akan mengulas dua hal penting yakni metodologi terjemah dan tafsir dalam The Message of the Qur’an.

Metodologi Terjemah

Muhammad Asad, sebagai seorang cendekiawan yang menguasai beberapa bahasa Semitik, mengetahui bahwa al-Qur’an adalah sebuah kitab yang kompleks. Baginya, dalam konteks penerjemahan al-Qur’an tidak bisa disamakan dengan penerjemahan karya sastra seperti karya Shakespeare maupun Plato.

Karya-karya sastra karangan manusia dapat dinikmati dengan rasa yang sama apabila diterjemahkan ke dalam bahasa di luar bahasa aslinya, namun menurutnya itu jelas tidak berlaku bagi al-Qur’an. Sebab al-Qur’an memiliki berbagai keunikan mulai dari pemilihan kosa kata, ritme, keseimbangan bunyi akhir suku kata serta konstruksi sintaksis kalimat yang hanya bisa dinikmati keindahannya dalam bahasa al-Qur’an itu sendiri. Maka baginya, al-Qur’an adalah kitab yang untranslateable (sulit untuk diterjemahkan), sehingga mustahil menikmatinya jika hanya diterjemahkan secara harfiyah (Tarjamah Harfiyah).

Baca Juga: Uraian Lengkap Soal Terjemah Al-Quran dan Perbedaannya dengan Tafsir

Maka Asad, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, berupaya untuk melakukan transfer makna dan tidak hanya sekedar mencari padanan kata. Salah satu contohnya dapat ditemui di penerjemahannya terhadap term al-Kitab dan al-ghaib dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 2 dan 3.

Dalam penerjemahannya, Asad mengalihbahasakan al-Kitab dengan Divine Writ (Kalam Ilahi). Muhammad Chirzin menjelaskan bahwa alih bahasa Asad telah tepat, sebab jika dimaknai sebagai the book, maka tidak mungkin bisa dibayangkan bentuknya pada masa pewahyuan al-Qur’an sebab saat itu al-Qur’an belum terbukukan dan masih berupa hafalan (lisan) dan tulisan dalam lembaran-lembaran.

Selanjutnya pada term al-ghaib, Asad menerjemahkannya dengan that which is beyond the reach of human perception (hal-hal yang berada di luar persepsi atau nalar manusia). Berbeda dengan beberapa penerjemah yang mengalihbahasakannya dengan unseen, invisible, maupun hidden. Sebab al-Qur’an menggunakan kata al-ghaib untuk menunjukkan hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh nalar manusia maupun dibantah oleh Sains.

Dalam tataran metodologi ini, sangat pantas apabila The Message of the Qur’an disebut sebagai karya Tarjamah Tafsiriyah, selain juga disebut karya Tafsir karena memuat Tafsir di dalamnya, dan juga tidak mengherankan apabila dinilai sebagai karya Tarjamah Tafsiriyah berbahasa Inggris terbaik yang sampai saat ini masih sangat laris dijadikan rujukan dan perhatian dalam penelitian.

Metodologi Tafsir

The Message of the Qur’an menerapkan metode tafsir tahlili dalam sistematika tafsirnya. Artinya, pembahasan penafsiran dimulai dari awal surah hingga akhir surah berdasarkan susunan mushaf Utsmani (tartib mushafi).

Ada tiga bentuk penyajian penafsiran dalam The Message of the Qur’an, yaitu 1) aplikasi footnote; 2) ulasan umum mengenai surah yang akan ditafsirkan; 3) aplikasi Appendix atau lampiran.

Mari kita ulas ketiga bentuk tersebut satu persatu. Pertama, aplikasi footnote merupakan salah satu bentuk penyajian uraian pembahasan yang berkembang dewasa ini. Footnote ini diletakkan di bawah nash al-Qur’an/ayat dan terjemah.

Kedua, ulasan umum mengenai surah yang akan ditafsirkan. Ulasan umum ini disajikan sebelum nash al-Qur’an dan terjemah serta penafsiran. Di dalamnya terdapat ulasan tentang alasan penamaan surat, nama-nama lain dari surat tersebut (jika memilikinya), kategorisasi surat berdasarkan tempat turunnya (makiyyah atau madaniyah), tema-tema yang dikandung oleh surat tersebut secara ringkas, serta penyebutan beberapa ayat yang dianggap “menarik” dalam surat tersebut.

Ketiga, aplikasi Appendix atau lampiran. Dalam tafsirnya, Apendiks atau lampiran yang disajikan Asad cenderung memuat pembahasan hal-hal ghaib ataupun sirrul Qur’an sepeti halnya Symbolism And Allegory In The Qur’an, Al-Muqatta’at, On The Term And Concept Of Jinn. Menurut Muhammad Chirzin, bentuk penyajian ini mungkin ditujukan secara khusus pada masyarakat Barat yang tidak terbiasa pada hal-hal yang sifatnya abstrak dan tidak empiris.

Mengenai sumber penafsiran The Message of the Qur’an, Asad mengambil rujukan baik dari al-Quran sendiri (berupa munasabah atau cross reference), pendapat para mufassir baik klasik ataupun modern, Hadis nabi dan syarh-nya, kamus-kamus, kitab fikih, buku-buku sejarah, ensiklopedia, temuan-temuan ilmiah dari berbagai cabang ilmu pengetahuan, Bibel (kajian intertekstualitas), dan pemikirannya sendiri (ijtihad).

Baca Juga: Melihat Fungsi Interpretasi Jorge J E Gracia sebagai Teori Penafsiran Al-Quran

Sebagai ahli bahasa, Asad tetap menjadikan uraian aspek al-i’jaz al-balaghy (kebahasaan) al-Qur’an sebagai fokus tumpuan penafsirannya. Hal ini juga didukung oleh keinginannya untuk menjaga ketersampaian makna dalam al-Qur’an tetap terjaga.

Dalam kajiannya atas tafsir The Message of the Qur’an, Chirzin menyimpulkan bahwa berdasarkan pertimbangan metodologi, sumber serta perhatian pada aspek kebahasaan dan fokus pada penyampaian makna, tafsir The Message of the Qur’an dapat dikategorikan sebagai tafsir dengan corak Adabi al-Ijtima’i. Alasan kuat lain yang mendasari argumen ini ialah pernyataan Asad sendiri yang mengakui bahwa dirinya terpengaruh pada pemikiran tafsir Muhammad Abduh dengan Al-Manar-nya. Di mana Abduh sendiri merupakan pionir dari kehadiran corak tafsir Adabi al-Ijtima’i.

Sedikit ulasan atas The Message of the Qur’an setidaknya ingin memantik kajian-kajian lanjutan terhadapnya. Apalagi banyak hal-hal menarik yang mungkin bisa dieksplorasi lebih dalam sepeti kajian intertekstualitasnya maupun penggunaannya akan temuan-temuan ilmiah dalam menafsirkan ayat-ayat kauniah. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al A’raf ayat 95-96

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Setelah bercerita tentang kaum Madyan dalam Tafsir Surat Al A’raf ayat 95-96 ini mengingatkan kembali bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang mendustai para Nabi, namun ketika orang tersebut bertobat dan memohon ampunan kepada Allah maka Allah akan memaafkan dan akan membalas dengan nikmat yang tak terkira. Akan tetapi dalam Tafsir Surat Al A’raf ayat 95-96, khususnya di ayat 96 ini disinggung Nabi-nabi terdahulu yang didustakan oleh kaumnya selain Nabi Syuaib.

Dalam Tafsir Surat Al A’raf ayat 95-96, khususnya dalam ayat 95 menerangkan bahwa siapa saja yang berusaha memperbaiki diri dan berdoa kepada Allah maka Allah akan memberi nikmat dan kelapangan hidup.


Baca Tafsir Sebelumnya: Tafsir Surat Al A’raf ayat 92-94


Ayat 95

Ayat ini menerangkan bahwa setelah mereka ditimpa kesusahan dan kesulitan hidup, dan mereka berusaha memperbaiki dan berdoa  kepada Allah, maka Allah memberikan kepada mereka nikmat dan kelapangan hidup sehingga mereka memperoleh kemakmuran dan harta benda yang cukup. Kemakmuran dan kecukupan harta benda ini memungkinkan mereka mengembangkan keturunan. Harta benda yang cukup dan keturunan yang banyak, adalah merupakan puncak kenikmatan bagi manusia.

Orang-orang yang beriman, jika memperoleh nikmat dari Allah, baik berupa harta benda maupun keturunan, tentu akan bertambah keimanan dan rasa syukurnya, dan akan melakukan kebajikan lebih banyak lagi. Akan tetapi orang-orang yang lemah iman, bila memperoleh kemakmuran dan kenikmatan yang banyak, ia lupa kepada Allah Yang memberikan nikmat tersebut, dan timbullah rasa sombong dan angkuhnya.

Mereka berkata: “Nenek moyang kami dahulu juga pernah merasakan kenikmatan dan kesusahan, demikian pula kami. Kesusahan yang pernah kami alami, dan kebahagiaan yang kami rasakan sekarang adalah sama saja dengan apa yang pernah dialami nenek moyang kami. Kesusahan yang menimpa kami bukanlah akibat dari dosa-dosa yang telah kami perbuat, dan kebahagiaan yang kami peroleh bukanlah hasil dari kebajikan yang kami lakukan. Pengakuan dan sikap ini jelas merupakan kezaliman yang bisa terjadi sepanjang masa.

Demikianlah, kekayaan dan kebahagiaan telah membuat mereka lupa kepada hubungan antara sebab-akibat, serta menyebabkan mereka lupa kepada kekuasaan, keadilan dan kasih sayang Allah. Hal ini disebabkan karena mereka tidak memahami Sunnah Allah yang berlaku di alam ini; mereka tidak memahami faktor-faktor yang menimbulkan kebahagiaan dan kesengsaraannya di bumi ini. Padahal Allah telah memberikan bimbingan dengan firman-Nya:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (ar-Ra’d/13: 11)

Oleh karena itu, keingkaran dan kesombongan mereka, timbul setelah memperoleh kemakmuran. Allah menimpakan kepada mereka azab yang datang secara tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadari akan datangnya azab tersebut. Mereka tidak memenuhi Sunnatullah yang berlaku dalam urusan masyarakat, dan akal mereka tidak mampu memikirkan hal itu. Lagi pula mereka tidak mau mengikuti petunjuk dan nasihat serta peringatan rasul kepada mereka. Dalam hubungan ini Allah telah berfirman:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. (al-An‘am/6: 44);

Sifat orang kafir adalah bila mereka memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan, mereka sombong dan takabur, tidak mensyukuri nikmat Allah. Sebaliknya bila mereka ditimpa musibah, mereka berputus asa dan berkeluh kesah, tidak memikirkan sebab-sebab yang ada pada diri mereka yang menimbulkan musibah itu. Firman Allah :

فَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَاۖ  ثُمَّ اِذَا خَوَّلْنٰهُ نِعْمَةً مِّنَّاۙ قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ ۗبَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Maka apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (az-Zumar/39: 49);

Kesenangan yang diperoleh sesudah kesusahan yang kemudian disusul dengan azab yang menyengsarakan, tidak hanya dialami oleh kaum Nabi Syu’aib, bahkan umat nabi-nabi sebelumnya, yakni umat Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Tsaleh. Nabi Hud telah memperingatkan kepada umatnya, yaitu kaum ‘Ad, sebagai berikut:

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّزَادَكُمْ فِى الْخَلْقِ بَصْۣطَةً ۚفَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung.”(al-A’raf/7: 69);

Selanjutnya Nabi Tsaleh telah memperingatkan pula kepada kaumnya, kaum Tsamud hal semacam itu:

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ عَادٍ وَّبَوَّاَكُمْ فِى الْاَرْضِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْ سُهُوْلِهَا قُصُوْرًا وَّتَنْحِتُوْنَ الْجِبَالَ بُيُوْتًا ۚفَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ  ;

“Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad, dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar kamu dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi”. (al-A‘raf/7: 74)

Generasi yang hidup sekarang ini hendaklah betul-betul menyadari, agar  jangan mengalami nasib merana seperti yang dialami umat-umat terdahulu, karena keingkaran dan kesombongan mereka kepada Allah. Apabila umat sekarang ini dikarunia Allah nasib yang lebih baik, berupa kestabilan ekonomi dan kehidupan sosial, ilmu pengetahuan dan sebagainya, janganlah mereka lupa diri dan berbuat maksiat di bumi.

Hendaklah semua nikmat yang dilimpahkan Allah disyukuri dan dimanfaatkan menurut cara yang diridai-Nya dan dijauhkan dari segala macam kemaksiatan. Semoga Allah selalu menambah karunia dan nikmat-Nya kepada semua orang yang bersyukur.

Ayat 96

Dalam ayat ini diterangkan bahwa seandainya penduduk kota Mekah dan negeri-negeri yang berada di sekitarnya serta umat manusia seluruhnya, beriman kepada agama yang dibawa oleh nabi dan rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw dan seandainya mereka bertakwa kepada Allah sehingga mereka menjauhkan diri dari segala yang dilarangnya, seperti kemusyrikan dan berbuat kerusakan di bumi, niscaya Allah akan melimpahkan kepada mereka kebaikan yang banyak, baik dari langit maupun dari bumi.

Nikmat yang datang dari langit, misalnya hujan yang menyirami dan menyuburkan bumi, sehingga tumbuhlah tanam-tanaman dan berkembang-biaklah hewan ternak yang kesemuanya sangat diperlukan oleh manusia. Di samping itu, mereka akan memperoleh ilmu pengetahuan yang banyak, serta kemampuan untuk memahami Sunnatullah yang berlaku di alam ini, sehingga mereka mampu menghubungkan antara sebab dan akibat. Dengan demikian mereka akan dapat membina kehidupan yang baik, serta menghindarkan malapetaka yang biasa menimpa umat yang ingkar kepada Alllah dan tidak mensyukuri nikmat dan karunia-Nya.

Apabila penduduk Mekah dan sekitarnya tidak beriman, mendustakan Rasul dan menolak agama yang dibawanya, kemusyrikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan, maka Allah menimpakan siksa kepada mereka, walaupun siksa itu tidak sama dengan siksa yang telah ditimpakan kepada umat yang dahulu yang bersifat memusnahkan. Kepastian azab tersebut adalah sesuai dengan Sunnatullah yang telah ditetapkannya dan tak dapat diubah oleh siapa pun juga, selain Allah.


Baca Juga: Benarkah Musibah adalah Adzab dari Allah? Gus Baha: Bukan Hak Kita Menjudge!


Menelisik Pengertian, Sejarah dan Macam-Macam Qira’at

0
Pengertian, Sejarah dan Macam-Macam Qira'at
Pengertian, Sejarah dan Macam-Macam Qira'at

Dalam kajian ulumul Qur’an, ada salah satu konsep dan cabang ilmu yang perlu dibahas agar makna al-Quran bisa dipahami dengan tepat dan benar adalah ilmu Qira’at. Oleh karena itu dengan artikel sederhana ini penulis mencoba membahas mengenai pengertian, sejarah Qira’at, kualifikasi standar Qira’at dan macam-macam qira’at.

Pengertian Qira’at

Secara etimologis qira’at merupakan bentuk jama’ dari qiraah dan juga merupakan masdar dari qara-a yaqra-u qiraatan, menurut ar-Raghib dalam kitabnya Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an yang berarti dham al-huruf wa al-kalimat ba’dhihaa ila ba’dhin fi at-tartil (mengabungkan antara huruf dan kalimat satu sama lain dalam bacaan).

Dalam KBBI qiraah berarti bacaan atau membaca. Sedangkan secara terminologis  yang dimaksud qiraah adalah cara membaca al-Qur’an oleh seoranng imam ahli qiraah berbeda dengan cara baca imam yang lain. az-Zarqani dalam kitabnya Manahil al-Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an mendefinisikan qiraah sebagai berikut :

مذهب يدهب إليه إمام من أئمة القراء مخالفا به غيره في النطق بالقرالكريم مع اتفاق الروايات والطرق عنه سواء أكنت هذه المخالفة في النطق الحروف أم في نطق هيئاتها

“suatu cara membaca al-Qur’an al-Karim dari seoramg  Imam ahli qiraah yang berbeda dalam cara membaca dengan cara membaca imam yang lainnya, sekalipun riwayat dan jalur periwatannya sama, baik perbedaan itu dalam pengucapan hurf ataupun bentuknya.”

Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 60-61: Perintah Menaati Allah dan Mendurhakai Setan

Ash-Shabuni menambahkan dalam definisinya tentang qiraah dengan menyebutkan bahwa cara baca al-Qur’an itu harus mempunyai sanad yang sampai Rasulullah SAW.

مذهب من مذاهب النطق في القران يذهب به إمام من الأئمة القراء مذهبا يخالف غيره في النطق بالقرأن الكريم وهي ثابتة بأسانيد إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Cara membaca al-Qur’an dari seorang Imam ahli qiraah yang berbeda dengan cara membaca Imam yang lainnya berdasarkan sanad yang menyambung sampai kepada Rasulullah Saw.”

Dilihat dari kedua definisi di atas bahwa pengertian qiraah disini tidak sama seperti pengertian qiraah dalam percakapan sehari-hari yang sepadam dengan tilawah yaitu hanya sekedar dalam pengertian membaca atau bacaan. Atau dalam artian membaca al-Qur’an dengan irama atau lagu tertentu. Tapi yang dimaksud qiraah dalam kajian ulumul Qur’an adalah satu cara membaca al-Qur’an dengan madzhab yang dipilih oleh ahli qira’at dengan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW.

Baca juga: Apakah Sebenarnya Makna Jihad Menurut al-Quran? Begini Penjelasannya.

Sejarah singkat Qira’at

Meluasnya wilayah Islam dan menyebarnya para sahabat dan tabi’in mengajarkan al-Qur’an di berbagai kota menyebabkan timbulnya berbagai qira’at. Perbedaan pembacaan antara satu qira’at dengan lainnya bertambah besar pula sehingga sebagian riwayatnya tidak bisa lagi dipertanggungjawabkan.

Sehingga para ulama menulis qiraah-qiraah ini dan sebagaiannya menjadi masyhur, sehingga lahirlah istillah qiraah tujuh, qiraah sepuluh, dan qiraah empat belas. Adapun imam dan ahli qiraah yang di percaya dan diikuti kebanyakan orang.

As-Suyuthi dalam kitaabnya al-Itqan Fi Ulum al-Qur’an, menjelaskan bahwa imam dan ahli qiraah itu tersebar kesemua penjuru pusat Islam, Mereka antara lain adalah

  • Di madinah : Abu ja’far yazid ibn al-Qa’qa’, Syaibah ibn Nafshah, dan Nafi’ ibn adirrahman.
  • Di makkah : Abdulllah ibn Katsir dan Humaid ibn Qais al-A;raj
  • Di kuffah : Yahya ibn watsab, ‘Ashim ibn abi an-Nujud
  • Di bashrah : Abdullah ibn abi Ishaq, ‘Isa ibn ‘aru
  • Di syam : Abdullah ibn ‘Amir, Athiyyah ibn qais al-Kilabi

Dan jibril membaca al-Qur’an kepada Nabi tidak hanya dalam satu logat atau lahjah saja yaitu logat Quraisy, akan tetapi juga dalam beberapa lahjah. Sebagaimana yang terlihat dalam kisah perbedaan bacaan antara Umar ibn Khathab dan Hisyam ibn Hakim.

Baca juga: Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 28: Manfaat Ibadah Haji dalam Segi Sosial dan Ekonomi

Diriwayatkan    bahwa    ‘Umar    ibn    Khathâb    berkata:    Aku    mendengar Hisyâm ibn Hâkim membaca Surat Al-Furqân di masa hidup  Rasulullah  SAW.  Aku  perhatikan  bacaannya.  Tiba-tiba  ia  membacanya dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan Rasulullah  kepadaku,  sehingga  hampir  saja  aku  melabraknya  di  saat  ia  shalat,  tetapi  aku  berusaha  sabar  menunggunya  sampai  salam.

Begitu  salam  aku  tarik  sorbannya  dan  bertanya:  “Siapakah  yang  membacakan  (mengajarkan  bacaan)  surat  itu  kepadamu?”  Ia menjawab: “Rasulullah yang membacakannya kepadaku”. Lalu aku katakan kepadanya: “Dusta kau. Demi Allah, Rasulullah telah membacakan  juga  kepadaku  surat  yang  aku  dengar  tadi  engkau  membacanya (tapi tidak seperti bacaanmu).”

Kemudian aku bawa dia  menghadap  Rasulullah  dan  aku  ceritakan  kepadanya  bahwa  aku telah mendengar orang ini membaca Surat Al-Furqân dengan huruf-huruf yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan Surat Al-Furqân kepadaku. Maka Rasulullah  berkata:  “Lepaskanlah  dia  wahai  ‘Umar.  Bacalah  Surat  tadi, wahai Hisyâm.” Hisyâm pun kemudian membacanya dengan bacaan  seperti  kudengar  tadi.  Maka  kata  Rasulullah:  “Begitulah  surat  itu  diturunkan.”  Ia  berkata  lagi:  “Bacalah  wahai  ‘Umar.”  Lalu   aku   membacanya   dengan   bacaan   sebagaimana   diajarkan   Rasulullah kepadaku. Maka kata Rasulullah SAW: “Begitulah surat itu  diturunkan.”  Dan  katanya  lagi:  “Sesungguhnya  Qur’an  itu  diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah  bagimu  di  antaranya”  (H.R.  Bukhâri  dan  Muslim  teksnya  dari Bukhâri

Kualifikasi Standar Qira’at.

Dengan adanya penyelewengan dalam qiraah. Maka para ulama membuat sejumlah syarat qiraat yang baku dan dapat diterima. Untuk membedakan antara qiraah yang benar dan yang salah, apara ulama telah menetapkan tiga syarat bagi qiraah yang benar.

Pertama, sesuai dengan bahasa Arab meskipun melalui salah satu cara atau segi (Nahwu). Kedua, sesuai dengan salah satu msuhaf-mushaf ‘Utsmani sekalipun secara potensial. Ketiga, keshahihan sanadnya dari periwayatan imam tujuh dan sepuluh, maupun dari imam-imam qiraah lainnya.

Setiap qira’at yang tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat diatas di anggap qiraah yang tidak benar dan ditolak dan biasanya disebut dengan qiraah yang lemah sekalipun qiraah itu diriwayatkan oleh Imam tujuh. Ketika suatu qira’at yang sesuai dengan syarat diatas maka dianggap benar dan tidak tertolak, meskipun bukan dari golongan Imam tujuh.

Baca juga: Kajian Semantik Kata Membaca dan Konteksnya dalam Al-Quran

Macam-Macam Qira’at

Menurut Manna al-Qaththan dalam kitabnya Mabahits Fi ‘Ulum al-Qur’an, qiraah dilihat segi kualitas sanadnya, qirâât dapat dibagi menjadi qiraat mutawatirah,  masyhurah,  ahad,  syadzah,  maudhu’ah  dan  mudrajah. Sedangkan dari segi kuantias qiraat nya dapat dibagi menjadi qiraat sab’ah,  ‘asyarah  dan  arba’ata  ‘asyarah.  Di  bawah  ini  akan  diuraikan  secara ringkas macam-macam qiraat tersebut.

Qira’at mutawatirah adalah qiraat yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi pada setiao tingkata sanad yang mustahil untuk berdusta. Qira’at Masyhurah adalah sanadnya shahih tetapi tidak sampai derajat mutawatir. Qira’at Ahad adalah qiraat yang menyalahi msuhaf Ustmani dan kaidah bahasa arab. Qira’at Syadzah adalah  yang sanadnya tidak shahih. Qira’at Maudhu’ah adalah yang riwayatnya palsu. Sedangkan Qira’at Mudrajah adalah qiraah yang di tambahkan kedalam qiraah sebagai bentuk penafsiran. Wallahu a’lam []