Beranda blog Halaman 412

Melacak Jejak Para Kontributor Pengembang Ilmu Isytiqaq

0
Para kontributor Ilmu Isytiqaq
Para kontributor Ilmu Isytiqaq

Dalam memahami suatu term asing, umumnya, pelacakan dimulai dari sisi etimologis. Salah satu potret tersebut ialah upaya Ulama klasik yang mencoba mencari makna Al-Quran yang secara garis besar terbagi dalam dua fase: 1) Al-Quran sebagai Musytaq (mengikuti konsep Isytiqaq), 2) Al-Quran sebagai Isim ‘Alam, sebagaimana dalam penelitian Fadhli Lukman dalam buku Menyingkap Jati Diri Al-Qur`an: Sejarah Perjuangan Identitas Melalui Teori Asma’ al-Qur`an. Melihat potret tersebut, posisi Ilmu Isytiqaq bisa jadi mendapat peran sentral dalam mengungkap makna etimologis suatu term, terutama dalam pelacakan sisi derivasinya. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, kita kenali terlebih dahulu para kontributor pengembang Ilmu Istiqaq.

Tiga peletak pertama Ilmu Isytiqaq

Menurut Muḥammad Ṣadīq Ḥasan Khān, dalam al-‘Ilm al-Khaffāq min ‘Ilm al-Isytiqāq, disebutkan bahwa pembahasan mengenai Isytiqâq sampai pada paruh abad keempat hijriyah tidak keluar dari kata yang bersesuaian dalam lafaz dan makna bersamaan dengan runtutan huruf. Pembahasan ini yang nanti dinamakan dengan Isytiqâq Shaghîr atau Ashghâr.

Ada tiga tokoh yang tersebut sebagai peletak pertama ilmu isytiqâq dalam pertumbuhannya: 1) Abȗ Sa’îd Abd al-Mâlik ibn Quraîb al-Asma’î (wafat sekitar 215 H.) dengan kitabnya, Isytiqâq al-Asmâ’, 2) Abū ‘Alī Muḥammad ibn al-Mustanir, yang juga dikenal dengan Qutrūb (w. 206 H.), dan 3) Abū al-Ḥasan Sa’īd ibn Mus’ada al-Balkhi al-Baṣrī, atau disebut juga dengan al-Akhfasy Al-Awsaṭ (w. 216 H.).

Hanya saja, seiring berkembangnya zaman banyak tangan-tangan yang merusak dan menghilangkan tulisan-tulisan mereka hingga hilanglah warisan bangsa Arab yang sangat ahli dalam bidang bahasa Arab.

Para kontributor pengembang Isytiqaq Saghīr

Kemudian pada abad ketiga Hijriyyah muncullah Abȗ Bakar Muhammad ibn al-Hasan ibn Duraid (w. 321 H) dengan karyanya, al-Isytiqâq, yang menjelaskan nama-nama populer di kalangan Arab karena di dalam nama tersebut terdapat suatu makna. Ibn Duraid juga mengarang sebuah kamus yang bernama Jamharah al-Lughah. Kemudian diikuti oleh Abȗ al-Husain Ahmad ibn Fâris (w. 395 H) dengan kitabnya, al-Maqâyîs, yang menjelaskan tentang tiap-tiap kosa kata yang ada berdasarkan materi yang satu (susunan hurufnya).

Para kontributor pengembang Isytiqāq Kabīr

Setelah paruh akhir abad keempat Hijriyah pembahasan mengenai isytiqâq mulai dibahas dari sudut pertukaran lafal yang satu, dan dapat difahami bahwa dari hal itu ada keterkaitan arti dari satu lafal yang diputar dan dibalik lafalnya yang dikenal dengan Isytiqâq Kabîr. Tokoh yang pertama mempunyai ide mengenai isytiqâq ini adalah Utsmân ibn al-Jinnî (w. 392 H.).

Pada waktu itu, juga sudah ada yang menulis kamus bergenre Isytiqāq Kabīr berdasarkan kosa kata yang dimulai dengan huruf ’ain dan sebanyak 15 jilid. Kitab ini dikenal dengan nama Tahdzîb al-Lughah yang dikarang oleh Abū Mansūr Muḥammad ibn Aḥmad al-Azharī (282-370 H.).

Baca juga: Peran Ilmu Isytiqaq dalam Kajian Al-Qur’an

Setelah paruh akhir abad keempat hijriyah, ibn al-Jinnî (w. 392 H.) muncul dengan menggagas teori baru yang disebut sebagai Isytiqâq Kabîr dalam kitabnya, al-Khaāi.

Menurutnya, kata-kata dalam bahasa Arab yang berasal dari tiga huruf yang sama meskipun urutan hurufnya berbeda memiliki makna umum yang sama. Misalnya kata-kata berikut ini : جبر  – جرب بجرربجبرج  – رجب mempunyai makna umum yang sama yakni القوة والشدة  (al-quwwah wa al-syiddah: kekuatan dan kekerasan).

Dari sinilah isytiqâq mulai terbagi menjadi dua jenis; Saghir dan Kabir. Jenis yang pertama dikaji dalam ilmu sharaf, misalnya isim fâil atau pun isim maf’ȗl yang diambil dari masdarnya, seperti قائل  (qâ’il) danمقول  (maqȗl) dari kata قول  (qawl). Yang kedua (Isytiqâq Kabîr) dikaji dalam fiqh lughah.

Baca juga: Mengenal Konsep “Akar-Pola” Ilmu Istiqaq dalam Memahami Makna Bahasa Al-Qur’an

Isytiqâq Kabîr disebut juga dengan derivasi tengah, yaitu pembentukan kata turunan dengan mengubah susunan huruf-huruf konsonan. Ibn Jinnî termasuk salah seorang pendukung awal terhadap metode ini. Asumsi yang mendasari prinsip ini adalah bahwa bunyi mempunyai hubungan yang erat dengan makna tanpa memandang letak suatu huruf.

Literatur-literatur Ilmu Isytiqaq

Dalam perkembangannya, sampai saat ini sudah banyak literatur-literatur yang membahas mengenai keilmuan ini. Selain kitab-kitab yang disebutkan sebelumnya, penulis menemukan berbagai literatur mengenai isytiqâq diantaranya, al-Isytiqâq karya Abȗ ‘Abbâs al-Mubarrad (w. 275 H.), al-Isytiqâq karya Abȗ Ishâq al-Zujjâj (w. 311 H.), al-Isytiqâq karya Abȗ Bakr ibn al-Sirrâj (w. 316 H.), Isytiqâq Asmâ` Allah Ta’âlâ karya Abȗ al-Qâsim Abd al-Rahmân al-Zujjâjî (w. 337 H.), al-Sahabi fî Fiqh al-Lughah karya Ibn Fâris (w. 395 H), al-Muzhîr fî ‘Ulȗm al-Lughah karya Jalâl al-Dîn al-Suyȗtî (w. 911 H), Nuzhah al-Ahdâq karya Muhammad ibn ‘Alî al-Syaukânî (w. 1255 H.), dan sebagainya.

Kemudian kajian ini dikaji oleh para ahli bahasa kontemporer, seperti Emin Badî’ Ya’qȗb dalam Fiqh al-Lughah (1983 M.) dan ‘Abdullah Amîn dalam al-Isytiqâq (2000 M.). Mereka mengembangkan isytiqâq menjadi empat macam selain kedua jenis sebelumnya (Isytiqâq Saghîr, asghar, ‘âm atau sarfî, dan Isytiqâq Kabîr), yakni  Isytiqâq Akbâr dan Isytiqâq Kubbâr atau al-Naht.

Perdebatan dalam eksistensi Isytiqāq Kabīr

Kemunculan Ilmu Isytiqaq tidak hadir begitu saja tanpa adanya unsur perdebatan. Salah satu yang menjadi wacana dalam perdebatan ialah eksistensi Isytiqâq kabir yang digagas oleh Ibn Jinnī untuk menunjukkan bahwa ia menjadi salah satu ciri khas Bahasa Arab.

Namun demikian, ada beberapa yang tidak setuju dengan gagasan Ibn Jinnī ini di antaranya ialah Jalāluddin al-Suyȗtî, yang adalah salah satu kontributor Ilmu Isytiqaq. Menurutnya, teori ibn Jinnî ini tidak dapat dijadikan pegangan, sebab selain kosa kata yang disebutkan oleh ibn Jinnî, yang mempunyai persamaan hanya sedikit sekali, dan memberikan kesan pemaksaan arti dan gegabah.

Baca juga: 4 Macam Bacaan Mad Badal dalam Ilmu Tajwid dan Contohnya

Tidak sedikit juga yang mendukung gagasan Ibn Jinnī ini, termasuk dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, M. Suryadinata, yang pada tahun 2008 menulis disertasi berjudul “Pertukaran Huruf dalam Kosa Kata Al-Qur`an: Studi Analisis Teori Isytiqāq Taqlīb terhadap Pemahaman Al-Qur`an”, yang dipromotori oleh Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A., Prof. Dr. H. D. Hidayat, M.A., Prof. Dr. Suwito, M.A., Prof. Dr. Salman Harun, Prof. Dr. Moh. Matsna, M.A. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al Infithar Ayat 10-19

0
tafsir surah al infithar
Tafsiralquran.id

Pembahasan yang lalu telah berbicara mengenai anugerah Allah kepada manusia, Tafsir Surah Al Infithar Ayat 10-19 ini berbicara mengenai peringatan terhadap orang-orang yang tidak percaya adanya hari kebangkitan.


Baca juga: Tafsir Surah Al Infithar Ayat 7-9


Orang-orang yang dimaksud dalam Tafsir Surah Al Infitar Ayat 10-19 ini adalah orang-orang kafir yang lalai dan ingkar terhadap hari kebangkitan. Ayat ini dimaksudkan agar mereka insaf dari perilaku tersebut.

Ayat 10-12

Ayat-ayat ini memberi peringatan kepada orang-orang kafir yang tidak mempercayai hari kebangkitan agar mereka tidak terus-menerus lalai dan ingkar serta tidak bersiap-siap menyediakan bekal untuk menghadapi hari perhitungan karena menyangka tidak ada yang mengawasi tingkah laku dan perbuatan mereka.

Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa ada malaikat-malaikat yang diberi tugas mengawasi dan mencatat semua perbuatan manusia, baik yang buruk maupun yang baik, dan yang dilakukan dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Malaikat yang mulia ini mencatat semua amal manusia. Dalam Alquran, para malaikat itu disebut Raqib dan ‘Atid. Allah berfirman:

اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ   ١٧  مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ   ١٨

(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (Qaf/50: 17-18)

Para malaikat mengetahui apa yang dilakukan manusia dan mencatatnya. Tidak ada informasi dalam Alquran bagaimana para malaikat itu mencatatnya, namun kita percaya Allah punya sistem dan cara yang melampaui kemampuan manusia dalam pencatatan data tersebut.

Ayat 13-14

Ayat ini menjelaskan hasil atau akibat dari pencatatan amal manusia, yaitu adanya pahala dan surga bagi orang-orang yang berbuat kebajikan, dan azab bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan dosa. Surga adalah balasan bagi orang-orang bertakwa dan beramal saleh. Allah berfirman:

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ  ٤٠  فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ  ٤١

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya). (an-Nazi’at/79: 40-41)

Sedangkan orang-orang yang durhaka diazab Allah dalam api neraka. Allah berfirman:

فَاَمَّا مَنْ طَغٰىۖ  ٣٧  وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۙ  ٣٨  فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ  ٣٩

Maka adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. (an-Nazi’at/79: 37-39)

Ayat 15-16

Allah menjelaskan sekali lagi bahwa orang-orang yang durhaka itu akan dimasukkan ke dalam neraka pada hari kiamat kelak. Itulah tempat kembali yang paling buruk. Allah berfirman:

وَلِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ  ٦

Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya akan mendapat azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (al-Mulk/67: 6)

Mereka kekal di dalam neraka selama-lamanya. Mereka tidak punya kemampuan untuk mengeluarkan diri mereka dari tempat itu karena tidak ada lagi penolong yang dapat membantu mereka. Allah berfirman:

يُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّخْرُجُوْا مِنَ النَّارِ وَمَا هُمْ بِخَارِجِيْنَ مِنْهَا ۖوَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ  ٣٧

Mereka ingin keluar dari neraka, tetapi tidak akan dapat keluar dari sana. Dan mereka mendapat azab yang kekal. (al-Ma’idah/5: 37)


Baca juga: Ayat-Ayat Jihad dalam Al-Quran: Klasifikasi dan Kontekstualisasinya Di Era Kekinian


Ayat 17-19

Dalam ayat 17 dan 18, Allah bertanya kepada Nabi dan kaumnya apakah mereka tahu apa hari pembalasan itu? Pertanyaan ini bukan meminta jawaban, tetapi celaan bagi orang-orang yang tidak mau percaya pada hari pembalasan ini. Apakah semua informasi dan tanda yang dipaparkan Alquran belum cukup untuk membuat mereka percaya?

Allah kemudian menjelaskan dalam ayat 19 bahwa di hari perhitungan tidak ada manusia yang bisa menolong orang lain. Orang tua tidak bisa menolong anaknya dan begitu juga sebaliknya.

Suami tidak bisa menolong istrinya, dan teman atau sahabat tidak bisa menolong temannya. Semua sibuk dengan diri masing-masing. Segala urusan pada hari itu berada di tangan Allah. Yang bisa menolong manusia hanyalah amalnya. Firman Allah:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ    ٣٩  وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ  ٤٠

Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). (an-Najm/53: 39-40)

Dan firman-Nya lagi:

وَلَمْ تَكُنْ لَّهٗ فِئَةٌ يَّنْصُرُوْنَهٗ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًاۗ    ٤٣

Dan tidak ada (lagi) baginya segolongan pun yang dapat menolongnya selain Allah; dan dia pun tidak akan dapat membela dirinya. (al-Kahf/18: 43)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Mutaffifin Ayat 1-3


(Tafsir Kemenag)

Tiga Makna Taqwa Yang Digali Imam al-Ghazali Dari Al-Qur’an

0
Tiga Makna Taqwa Yang Digali Imam al-Ghazali Dari Al-Qur’an
Tiga Makna Taqwa Yang Digali Imam al-Ghazali Dari Al-Qur’an

Setiap hari Jum’at sang khatib akan senantiasa meminta kita serta jama’ah jum’at lain, untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah. Taqwa tersebut diwujudkan dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah, serta menjahui larangan-larangan-Nya. Namun jarang ada yang menerangkan secara langsung makna sebenarnya dari taqwa. Lalu apa sebenarnya makna takwa? Berikut penjelasan Imam Al-Ghazali mengenai makna taqwa menurut Al-Qur’an.

Tiga Makna Taqwa Menurut Al-Qur’an

Imam Al-Ghazali di dalam kitab Minhajul ‘Abidin menerangkan panjang lebar mengenai makna serta berbagai hal terkait prilaku taqwa. Salah satu yang ia jelaskan adalah makna taqwa menurut Al-Qur’an. Menurut Imam Al-Ghazali, Al-Qur’an menggunakan kata taqwa untuk tiga makna (Minhajul Abidin Beserta Syarah Sirajuth Thalibin/1/344).

Pertama, taqwa yang bermakna takut serta tunduk. Makna ini dapat ditemukan di dalam firman Allah yang berbunyi:

وَاٰمِنُوْا بِمَآ اَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُوْنُوْٓا اَوَّلَ كَافِرٍۢ بِهٖ ۖ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۖوَّاِيَّايَ فَاتَّقُوْنِ ٤١

Berimanlah kamu kepada apa (Al-Qur’an) yang telah Aku turunkan sebagai pembenar bagi apa yang ada pada kamu (Taurat) dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga murah dan bertakwalah hanya kepada-Ku (QS. Al-Baqarah [2]41).

Imam Ibn Katsir di dalam tafsirnya menyatakan, perintah untuk bertaqwa di ayat di atas bertujuan memberikan ancaman kepada kaum Bani Israil yang gemar menyembunyikan kebenaran, memperlihatkan kebalikannya, serta menyalahi perintah rasul. Perintah bertaqwa di ayat di atas adalah perintah untuk takut kepada Allah sehingga menjahui larangan Allah yang disebutkan sebelumnya (Tafsir Ibn Katsir/1/244).

Baca juga: Tafsir Surah Al-An’am Ayat 159: Benang Merah Fanatisme Agama Dulu dan Kini

Taqwa dengan makna yang sama disebutkan di dalam firman Allah yang berbunyi:

وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ࣖ ٢٨١

Waspadalah terhadap suatu hari (kiamat) yang padanya kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian, setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya dan mereka tidak dizalimi (QS. Al-Baqarah [2] 281).

Kedua, taqwa yang bermakna mentaati dan beribadah. Makna ini terdapat di dalam firman Allah yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (QS. Ali ‘Imran [3] 102).

Ibn Abbas di dalam tafsirnya yang berjudul Tanwirul Miqbas menyatakan, makna taqwa dalam ayat di atas adalah “taatilah Allah dengan sebenar-benarnya taat”. Imam Mujahid menyatakan, makna dari sebenar-benarnya taqwa adalah mentaati Allah dan tidak mendurhakainya, mengingat Allah serta tidak melalaikan-Nya, serta bersyukur pada Allah dan tidak mengkufuri-Nya (Sirajuth Thalibin/1/346).

Ketiga, taqwa yang bermakna membersihkan hati dari berbagai dosa. Taqwa dengan makna ini dapat ditemukan dalam firman Allah yang berbunyi:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَخْشَ اللّٰهَ وَيَتَّقْهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ ٥٢

Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (QS. An-Nur [24] 52).

Baca juga: Mengenal Sosok Muhammad Irsyad, Mufasir Modernis Asal Madura

Imam Al-Ghazali menyatakan, di dalam ayat di atas, perintah untuk takut pada Allah serta taat kepada-Nya sudah disebutkan sebelum perintah bertaqwa. Maka taqwa disini bermakna selain dari takut serta taat. Kemudian Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa makna taqwa di dalam ayat ini adalah membersihkan hati dari berbagai dosa.

Makna taqwa yang pertama dan kedua yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali mungkin pemaknaan kata taqwa yang sudah tidak asing lagi. Namun untuk pemaknaan yang ketiga, mungkin adalah makna yang masih dirasa asing. Namun melihat dasar ayat yang dipakai Imam Al-Ghazali untuk menguatkan pendapatnya, pendapat Imam Al-Ghazali tersebut cukup penting untuk dikaji. Wallahu a’lam bisshowab.

Tafsir Surah Al Infithar Ayat 7-9

0
tafsir surah al infithar
Tafsiralquran.id

Artikel sebelumnya telah membahas tentang hari kiamat dan kebangkitan manusia dari kubur. Adapun dalam Tafsir Surah Al Infithar Ayat 7-9 ini berbicara mengenai anugerah Allah kepada manusia.


Baca sebelumnya:  Tafsir Surah Al Infithar Ayat 1-6


Anugerah yang dibicarakan dalam Tafsir Surah Al Infithar Ayat 7-9 ini adalah kesempurnaan pencipataan manusia dibanding dengan makhluk lain. Salah satunya adalah bisa berdiri tegak serta semua anggota tubuh bekerja secara harmonis.

Dalam Tafsir Surah Al Infithar Ayat 7-9 ini juga membahas tentang perbedaan-perbedaan jenis manusia. Baik perbedaan kulit maupun perbedaan tingginya. Pada bagian akhir membahas mengenai tindakan buruk manusia dengan berprilaku jahat ketika di dunia.

Ayat 7

Allah kembali mengingatkan manusia atas segala kemurahan-Nya, dengan menyebutkan penciptaan-Nya pada diri manusia. Allah telah menjadikan tubuh manusia seimbang, berdiri tegak dengan gagahnya, tidak seperti binatang berkaki empat atau melata.

Allah juga menciptakan semua anggota tubuh manusia bekerja dengan teratur, harmonis, dan seimbang. Allah mengatakan bahwa penciptaan manusia adalah sebaik-baik penciptaan makhluk. Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ  ٤

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (at-T³n/95: 4)

Ayat 8

Pada ayat ini, Allah menyebutkan bahwa penciptaan manusia sesuai dengan kehendaknya. Ada manusia yang berkulit putih, kuning, hitam, kuning langsat, dan lain-lain. Ada manusia yang berambut lurus, keriting, berwarna hitam, pirang, coklat, dan sebagainya.

Ada juga manusia yang berpostur tubuh tinggi, langsing, tinggi besar, pendek kecil, dan sebagainya. Namun demikian, yang layak diingat bahwa meskipun manusia memiliki sifat dan bentuk yang secara prinsip sama, tapi tetap ada yang berbeda antara yang satu dengan yang lain.

بَلٰى قَادِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ   ٤

(Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna. (al-Qiyamah/75: 4)

Tinjauan ilmiah ayat- 7-8: Allah telah menjadikan susunan tubuh manusia seimbang. Bila kita melihat morfologi (bentuk tubuh fisik manusia) dari depan, akan jelas tampak sekali keseimbangan itu.

Morfologi manusia tampak simetris dan seimbang apabila kita tarik garis tengah dari kepala, -melalui titik tengahnya-, sampai ke bawah, akan tampak keseimbangan susunan fisik tubuh manusia itu.

Belahan kiri dan kanan seolah merupakan bayangan cermin satu dengan yang lainnya. Masing-masing belahan mempunyai satu mata, satu telinga, satu lubang hidung, satu kuping, satu tangan, dan satu kaki, yang satu belahan dengan belahan yang lainnya, merupakan bayangan cermin yang simetris seimbang.

Allah telah menganugerahkan sistem syaraf pada manusia, yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan dan kesetimbangan tubuh manusia, serta kemampuan manusia untuk berorientasi pada ruang 3 dimensi.

Sistem syaraf yang mengatur keseimbangan manusia itu berada di dalam Sistem Syaraf Perifer (SSP) manusia. Dalam SSP terdapat sistem syaraf yang mengatur keseimbangan tubuh manusia, yaitu yang dikenal dengan syaraf ke-VIII, atau disebut pula Vestibulocochlear nerve (syaraf “siput-telinga” depan).

Syaraf ke-VIII ini mempunyai fungsi bagi adanya balance (keseimbangan), equillibrium (kesetimbangan), serta orientation in three-dimensional space (orientasi dalam ruang tiga dimensi), (Nerves and Nervous Systems dalam The New Encyclopaedia Britannica, Vol. 24, Macropaedia, 2005, p. 817).

Dalam mekanisme faali (fisiologik) manusia, Allah juga telah melengkapi manusia dengan dua sistem syaraf, di mana antara yang satu sama lain saling menyeimbangkan.

Di dalam SSP tersebut terdapat pula Susunan Syaraf Otonom yang terdiri dari Sistem Syaraf Simpati (Sympathetic Nervous System, SNS) dan Sistem Syaraf Parasimpati (Parasympathetic Nervous System, PNS), yang kedua sistem saraf itu bekerja antagonistik, namun saling menyeimbangkan satu sama lainnya.


Baca juga: Tafsir Ilmi: Sejarah Kemunculan, Metodologi, dan Kritik Terhadapnya


Fungsi SNS adalah merespon kondisi stress yang dihadapi manusia, dengan mengeluarkan hormon (neurotransmitter), adreanaline (epinephrine), dan noradrenaline (norepinephrine).

Dengan adanya kedua hormon ini, maka tekanan darah naik, denyut jantung bertambah cepat (tachy-cardia), pembuluh darah otot-tulang melebar (skeletal muscle vasodilatation), pembuluh darah pada perut-usus menyempit (gastrointestinal vasoconstriction), pupil mata melebar (puppillary dilatation), paru-paru melebar (broncheal dilatation).

Sedangkan fungsi PSN adalah sebaliknya dari SNS tadi. PNS akan mengeluarkan hormon (neurotransmitter): acetylcholine. Adanya hormon ini akan menyebabkan: tekanan darah menurun, denyut jantung menjadi lambat (brady-cardia), pupil-mata menyempit.

Kedua sistem syaraf ini: SNS dan PNS saling bekerja komplemeter, bagi berjalannya proses-proses fisiologik (faali) manusia, untuk menjaga kelangsungan hidupnya. (Nerves and Nervous Systems dalam The New Encyclopaedia Britannica, Vol. 24, Macropaedia, 2005, p. 818-820).

Keseimbangan juga terdapat dalam struktur otak manusia. Dalam otak manusia terdapat dua pasang belahan atau sisi otak, yang satu sama lain merupakan bentuk bayangan cerminnya.

Belahan Otak Dominan (dominant hemisphere), sering disebut ‘belahan otak kiri, digunakan untuk merekam atau menyimpan hal-hal yang berkaitan dengan: bahasa, matematika, dan fungsi-fungsi analitik dan keterampilan.

Sedang Belahan Otak Non-dominan (non-dominant hemisphere), sering disebut ‘belahan otak kanan, digunakan untuk merekam atau menyimpan hal-hal yang berkaitan dengan konsep-konsep spasial sederhana (simple spasial consept), musik, pengenalan rupa, dan emosi.

Kedua belahan otak ini saling seimbang dan melengkapi, dan kedua belahan otak ini dihubungkan oleh banyak syaraf proyeksi melalui corpus collosum. (Nerves and Nervous Systems dalam The New Encyclopaedia Britannica, Vol. 24, Macropaedia, 2005, p. 805).

Ayat 9

berbuat hal-hal yang dilarang Allah. Perbuatan mereka tidak berhenti pada kejahatan ini saja, tetapi mereka bahkan mendustakan hari pembalasan, dimana amal baik dan buruk manusia akan dibalas di akhirat kelak.

Tidak percaya kepada hari pembalasan menyebabkan orang tidak perlu bertanggung jawab, sehingga boleh berbuat sekehendak hatinya.

Tidak percaya pada hari perhitungan bertentangan dengan tujuan penciptaan manusia (lihat Surah al-Baqarah/2: 30 dan az-Zariyat/51/: 56) sehingga Allah mempertanyakan kepada manusia apa sebenarnya pemahaman mereka terhadap penciptaan diri mereka. Firman Allah:

اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ  ١١٥

Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (al-Mu’minµn/23: 115)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Infithar Ayat 10-19


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Al Infithar Ayat 1-6

0
tafsir surah al infithar
Tafsiralquran.id

Tafsir Surah Al Infithar Ayat 1-6 berisi tentang keadaan hari kiamat. Pada hari kiamat itu ekosistem alam telah rusak. Gambarannya diungkapkan dalam ayat satu sampai tiga. Salah satunya adalah kacaunya sistem bintang-gemintang.


Baca juga: Tafsir Surah At Takwir Ayat 19-29


Dalam  Tafsir Surah Al Infithar Ayat 1-6 ini juga bebicara tentang manusia yang dibangkitkan dari kubur-kuburnya untuk mempertanggung jawabkan perilakunya semasa hidup di dunia, terlebih ketika mereka berbuat keburukan.

Ayat 1-3

Ayat-ayat ini menjelaskan kekacauan yang terjadi menjelang hari Kiamat dan kehancuran alam semesta. Gejala kehancuran alam digambarkan dengan keadaan langit yang terbelah sehingga formasi alam semesta berubah menjadi kacau. Bintang-bintang jatuh berserakan, tidak lagi pada posisinya.

Padahal Allah menginformasikan bahwa matahari memiliki posisi tertentu yang menjadi pusat rotasinya, dan begitu juga dengan bulan. Firman Allah:

فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثٰرِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتٰىۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ  ٥٠

Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (ar-Rµm/30: 50)

Fenomena lainnya adalah lautan meluap menenggelamkan semua daratan. Air tawar bercampur dengan air asin, tidak ada lagi daratan yang bisa dihuni oleh makhluk hidup apalagi air laut yang meluap menjadi panas. Sungguh bumi telah berubah, bukan lagi bumi yang biasa dikenal oleh manusia.

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَرْضُ غَيْرَ الْاَرْضِ وَالسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ   ٤٨

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (Ibrahim/14: 48)

Untuk telaah ilmiah Surah al-Infitar/82:1-3, lihat pula telaah ilmiah Surah al-Haqqah/69: 13-16; al-Ma’arij/70: 8, dan at-Takwir/81: 1-3.

Ketika terjadi proses ke arah Big Crunch itu, yaitu proses pemadatan atau penyusutan alam semesta, maka semua materi pecah kembali menjadi materi-materi fundamental seperti quark, elektron dan sebagainya, gaya-gaya seperti gaya gravitasi, elektromagnetik, nuklir kuat dan nuklir lemah mulai menyatu kembali.

Langit antariksa mulai lemah karena tidak ada topangan gaya gravitasi, dan mulai menyusut/mengerut dan retak/terbelah. Saat itulah benda-benda langit, termasuk bintang-bintang yang mulai kehilangan gaya-gaya gravitasinya, bertubrukan antar sesamanya.

Inilah gambaran bintang-bintang jatuh berserakan, karena kehilangan gaya-gaya gravitasinya, dan karena terurai kembali atau meluruh menjadi materi-materi fundamentalnya.

Menurut Bashiruddin, ketika matahari telah mencapai evolusi membengkak dan berwarna merah (red star) (lihat telaah ilmiah Surah at-Takwir/81: 1-3), maka suhu bumi akan meninggi, sampai air laut mencapai titik didihnya.

Panasnya bumi oleh radiasi matahari merah ini, sangat mungkin akan mencairkan gunung-gunung es di Artik (Kutub Utara) dan benua es Antartika (Kutub Selatan), sehingga samudera akan meluap secara dahsyat, menenggelamkan banyak pulau. Air laut ini kemudian akan mendidih dan menguap dan lenyap dari bumi.

Bumi menjadi tidak layak huni. Paul Davies mengatakan bahwa ketika alam semesta telah memadat sampai seper-seratus (1/100) dari luasnya yang sekarang ini, maka efek tekanannya akan mengakibatkan suhu yang meninggi sampai mencapai titik didih benda cair; dan bumi menjadi tempat yang tidak layak-huni lagi.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Waqiah Ayat 1-6: Hari Kiamat itu Pasti, Inilah Visualisasinya


Ayat 4

Dan apabila kuburan-kuburan terbongkar sehingga keluarlah mayat-mayat yang berada di dalamnya setelah dibangkitkan dan dihidupkan kembali untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di dunia di hadapan Allah Sang Pencipta. Hal ini ditegaskan kembali dalam firman Allah yang lain:

 اَفَلَا يَعْلَمُ اِذَا بُعْثِرَ مَا فِى الْقُبُوْرِۙ  ٩

Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan. (al-‘Adiyat/100: 9)

Ayat 5

Manusia dibebani tanggung jawab untuk beramal di dunia, namun ada di antara mereka yang lalai dan tidak menjalankan kewajibannya, bahkan ada yang melakukan perbuatan yang dilarang.

Dalam ayat ini, Allah bersumpah demi kuburan-kuburan yang dibongkar dan mayat-mayat yang ada di dalamnya keluar, dibangkitkan, dan dihidupkan kembali untuk diadili dan dihisab amalnya selama hidup di dunia.

Pada hari kiamat itu, manusia mengetahui amal-amalnya, yang baik maupun yang buruk, yang dikerjakan maupun yang dilalaikan. Mereka mengetahui yang demikian itu dari kitab yang diserahkan kepada mereka, sebagaimana firman Allah:

وَكُلَّ اِنْسَانٍ اَلْزَمْنٰهُ طٰۤىِٕرَهٗ فِيْ عُنُقِهٖۗ وَنُخْرِجُ لَهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ كِتٰبًا يَّلْقٰىهُ مَنْشُوْرًا  ١٣  اِقْرَأْ كِتَابَكَۗ  كَفٰى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًاۗ  ١٤

Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (al-Isra’/17: 13-14)

Ayat ini mendorong manusia untuk selalu menaati Allah, beramal saleh, dan meninggalkan semua perbuatan maksiat yang akan merugikan mereka di akhirat kelak.

Ayat 6

Dalam ayat ini, Allah mencela manusia-manusia yang kafir, teperdaya, dan berani berbuat hal-hal yang dilarang Allah. Padahal, Allah Maha Pemurah dengan berbagai karunia yang dianugerahkannya kepada manusia, seperti rezeki yang banyak, keturunan yang baik dan saleh, kesehatan tubuh, dan lain-lain.

Seharusnya mereka bersyukur sebagai balasan atas kemurahan Allah, bukan berbuat sebaliknya. Peringatan Allah untuk tidak teperdaya oleh apa pun sehingga tidak terdorong untuk berlaku sombong kepada-Nya disebutkan kembali dalam firman-Nya:

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ

Maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah. (Luqman/31: 33)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Infithar Ayat 7-9


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Sosok Muhammad Irsyad, Mufasir Modernis Asal Madura

0
Muhammad Irsyad
Muhammad Irsyad

Salah satu tokoh tafsir yang keberadaannya tidak banyak diketahui orang—terutama oleh para pemerhati tafsir Nusantara—dan sejarahnya nyaris ditelan zaman adalah Muhammad Irsyad. Sosok yang memiliki etos tinggi terhadap ilmu pengetahuan ini lahir di kampung Lebak, desa Pangeranan, Bangkalan Madura, tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1934 M.

Irsyad dianugerahi talenta cukup komplit dan kecerdasan di atas rata-rata. Ia dikenal sebagai seorang seniman pencipta lagu, budayawan, penulis naskah cerita, guru bahasa Ingris, dan ahli kemiliteran di bidang pemeliharan dan penyimpanan peluru kendali. Yang terakhir ini merupakan hasil penimbaan ilmunya selama kurang lebih satu tahun di Yugoslavia. Dalam beberapa kesempatan, terkadang Irsyad diminta menjadi sutradara untuk sebuah pertunjukan kesenian. Produktifitas karangan lagu-lagu madura dan bahasa lainnya yang ia hasilkan berjumlah sekitar 190-an. Beberapa lagu yang cukup populer bagi para penikmat lagu-lagu Madura seperti Pangesto, Bā’-ambā’ān, Ti’-tuti’, Sataon Apesa, dan Tapangghi Pole.

Baca juga: Jejak Manuskrip Al-Qur’an Nusantara dan Problem Penulisan Rasm Imla’i

Torehan prestasi Irsyad dalam dunia perlombaan kesenian pun patut diacungi jempol. Irsyad pernah memenangkan lomba cipta lagu Mars Ganefo (Jawa Timur) dan Juara III sayembara penulisan naskah musik diatonis tahun 1978-1979 yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Kesenian Dep. P&K Jakarta dengan judul lagu Tanah Pujaan.

Karya lagu yang lain diciptakan seperti lagu hiburan dalam acara pameran lagu-lagu di RRI Studio Surabaya tahun 1960, lagu Mars Siswa Bidan Bangkalan, lagu Mars SKP Bangkalan, dan lagu-lagu berbahasa Yugoslavia seperti Nije Poslednja Noc (bukan malam terakhir).

Irsyad juga pernah menjuarai ajang lomba cipta lagu anak-anak tingkat Nasional tahun 1987-1988 dengan judul lagu “Bersih Lingkungan”. Tokoh yang menguasai enam bahasa (Arab, Ingris, Yugoslavia, Jerman, Perancis dan Belanda) ini tutup usia bertepatan dengan bulan Februari 1994 dan dimakamkan di pemakaman Mlajah, Bangkalan. Masyarakat setempat merasa kehilangan sosok guru dan panutan, juga inspirator ulung yang santun ini. Murid-muridnya pun turut merasakan duka yang mendalam atas kepergian sang guru tercinta.

Baca juga: Mufasir Indonesia: Hasbi Ash-Shiddieqy, Pelopor Khazanah Kitab Tafsir Kontemporer di Indonesia

Mufasir berpemikiran modern

Muhammad Irsyad memang sosok modernis yang sangat menghargai kekuatan akal. Akal, menurutnya, adalah suatu daya yang hanya dimiliki oleb manusia dan inilah pembeda antara manusia dan mahkluk lainnya. Akal merupakan tonggak kehidupan manusia dan merupakan dasar bagikelanjutan wujudnya. Tidaklah mengherankan jika Irsyad selalu menegaskan bahwa Al-Quran telah berbicara tentang pentingnya akal jauh sebelum hari. Di dalam diri seorang Irsyad menonjol pemikiran yang sangat rasional bahkan berwawasan modern. Ini dapat dilihat ketika ia berhujjah bahwa Al-Quran tidaklah bertentangan dengan akal ataupun ilmu pengetahuan.

Menurut catatan penulis dalam Tafsir Alquran Bahasa Madura: Mengenal Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bhāsa Madhurā) Karya Muhammad Irsyad, sekitar tahun 1985-an, Irsyad menulis sebuah tafsir tematik surah Yasin. Tafsir yang ia namai dengan Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bhāsa Madhurā) rampung pada tahun 1988. Mengingat penekanan Irsyad pada sisi keilmiahan Al-Quran begitu kuat, maka menjadi wajar jika pola dan corak tafsirnya lebih ke arah tafsir saintifik. Jiwa Irsyad seolah-oleh telah dikuasai oleh paradigma ilmu pengetahuan. Karena itu, melalui tafsir ini, Irsyad berusaha menampilkan aspek keilmuan Al-Quran. Tujuannya adalah dalam rangka konsentrasi pada segi petunjuk Al-Quran tentang ilmu pengetahuan.

Dalam Tapsèr Sorat Yaa-siin (Bhāsa Madhurā), ketika memberikan kata pengantar, terlihat jelas apa yang selama ini menjadi kegelisahan Irsyad. Perhatian Irsyad yang begitu besar terhadap sisi keilmiahan Al-Quran tampaknya dilandasi oleh keyakinan bahwa kelemahan dan kemunduran umat Islam—khususnya Indonesia—serta hilangnya semangat keilmuan mereka adalah karena mereka berpaling dari petunjuk Al-Quran. Padahal, Al-Quran tidak saja menyeru manusia untuk mengembangkan potensi pengetahuannya, tetapi bahkan juga di dalamnya dimuat banyak sekali informasi-informasi seputar sains dan teknologi.

Baca juga: Mengenal Muhammad Abduh Pabbajah, Mufasir Nusantara Asal Sulawesi

Untuk kembali memperoleh semangat keilmuan dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara Barat, menurut pandangan Irsyad, jalan yang harus ditempuh adalah dengan kembali pada petunjuk Al-Quran dan berpegang teguh padanya. Tanpa berpedoman pada Al-Quran, umat Islam Indonesia tidak akan memperoleh kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kegelisahan-kegelisahan Muhammad Irsyad—seperti keberadaan Al-Quran yang hanya dijadikan bacaan semata, disakralkan dalam fanatisme buta, hingga pesan-pesan keilmiahannya diabaikan—adalah sebuah sikap prihatin melihat keterpurukan Indonesia. Lebih-lebih soal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya yang jauh bila dibandingkan negara-negara lain. Maka, dengan segala keterbatasannya, ia pun memberanikan diri untuk ikut menyumbangkan gagasan dan pemikirannya. Dengan harapan, gagasan dan pemikiran yang ia tuangkan dalam tafsirnya mampu membangunkan kesadaran masyarakat perihal kondisi buruk yang sedang dialami bersama. Itulah sebabnya, Muhammad Irsyad berkeinginan begitu mendalam, melalui tafsirnya ini, Al-Quran—sekurang-kurangnya surah Yasin—tidak hanya dijadikan sebagai bacaan saja, melainkan juga dipahami maksud dan kandungannya. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al-An’am Ayat 159: Benang Merah Fanatisme Agama Dulu dan Kini

0

Fanatisme agama adalah sebuah bentuk sikap kukuh dan kekakuan seorang terhadap kepercayaannya dengan sangat berlebihan tanpa penghayatan. Sikap-sikap tersebut pada ujungnya melahirkan fenomena takfiri yang marak terjadi sekarang, bukan hanya kepada lintas kepercayaan, namun juga sesama saudara seiman yang berbeda madzhab atau aliran. Jelas, hal tersebut menodai prinsip luhur agama yang hanif dan rahmatan lil ‘alamin. Fanatisme agama yang terjadi saat ini bukanlah suatu yang baru. Fanatisme agama hari ini ternyata memiliki benang merah dengan keadaan zaman dulu sebagaimana yang terekam dalam Surah Al-An’am ayat 159.

Tafsir Surah Al-An’am ayat 159

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”

Asbabun nuzul ayat tersebut dirujuk dari hadis riwayat Ibnu Abbas yang ditakhrij oleh At-Tirmidzi yaitu berkenaan dengan kerasulan Nabi Muhammad. Pada waktu Nabi Muhammad diangkat menjadi seorang rasul dan dibekali hujjah kalam Allah, umat yahudi dan nasrani berpecah belah dalam agama mereka. Lalu ayat ini turun sebagai petunjuk dari Allah bahwa Rasulullah tak usah mengurusi mereka, karena Allah sendiri nantinya yang akan menentukan nasib mereka kelak.

Baca juga: Ayat-Ayat Jihad dalam Al-Quran: Klasifikasi dan Kontekstualisasinya Di Era Kekinian

Mengenai makna innaladzina diinahum ada perbedaan tafsiran di antara mufassir periode klasik, pertengahan, hingga kontemporer. Mufassir klasik Jarir At-Thabari dalam Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an mengartikannya sebagai umat yahudi dan nasrani kala itu, dan juga umat Islam yang mengikuti Al-Quran tanpa mengetahui hukumnya.

Di periode pertengahan ada mufassir Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsrinya Mafatih al-Ghayb yang memaknai lafadz tersebut uumat yahudi dan nasrani yang saling mengafirkan. Selain itu ayat ini juga ditujukan kepada umat Islam menjauhi fanatisme agama dan tidak terpecah belah.

Ahmad Mustafa Al-Maraghi seorang mufassir kontemporer dalam Tafsir Al-Maraghi juga memberikan pandangan yang sama dengan pendapat Ar-Razi yang terakhir. Menurut Al-Maraghi, turunnya ayat ini adalah sebuah bentuk perintah Allah kepada umat Islam agar bersatu mengikuti Rasul dan kitab sucinya Al-Qur’an, dan tidak terpecah belah.

Baca juga: Ayat-Ayat Wasathiyah: Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 143 Menurut Hasbi al-Shiddiqie

Fanatisme agama dalam konteks Surah Al-An’am ayat 159

Sebelum lebih lanjut membahas fanatisme agama, akan lebih baik jika menyepakati definisi tersebut, baik secara baku mufrodat Arab, maupun istilah yang digunakan dalam surah Al-An’am ayat 159. Dalam kamus Arab versi Almaany, kata fanatik diistilahkan pada beberapa kata yaitu pada lafadz mutahammis, mas’uur, dan ta’asshub. Namun, Al-Qur’an tidak menggunakan kata-kata tersebut untuk merujuk makna fanatik sebagaimana dalam surah Al-An’am 159 yang justru menggunakan lafazd syiya’an.

Lafadz syiya’an merupakan bentuk lain dari lafadz syi’ah yang berarti pengikut. Pada surah Al-Al-An’am ayat 159, Tafsir Kemenag memaknai kata syiya’an dengan berkelompok atau bergolong-golong, karena setiap anggotanya akan saling menguatkan. Orang-orang yang berkelompok-kelompok cenderung mengikuti kelompoknya dan di sinilah lafadz syiya’an atau syi’ah tersebut bisa selaras dengan makna fanatik. Tentu definisi istilah tersebut hanya pada berfungsi di kisaran ulumul qur’an, dan tidak bisa digunakan dalam ranah madzhab atau teologi aliran seperti Suni dan Syiah.

Baca juga: Tinjauan Tafsir terhadap Jihad, Perang dan Teror dalam Al-Quran

Pada penafsiran surah Al-An’am ayat 159 di atas, bisa digambarkan keadaan dan masalah sosial yang terjadi pada waktu ayat ini diturunkan. Kondisi umat beragama pada waktu itu, dalam artian para ahlul kitab yahudi dan nasrani sebagaimana diungkapkan At-Thabari, Ar-Razi, dan Al-Maraghi adalah berpecah belah ketika Rasulullah diutus menjadi rasul. Mereka saling menyalahkan satu sama lain, yahudi mengafirkan nasrani begitu pula sebaliknya nasrani mengafirkan yahudi.

Surah Al-An’am ayat 159 merekam hiruk pikuk klaim takfiri para ahlul kitab tersebut dengan menyebutkan lafadz syiya’an untuk sikap fanatik mereka yang berlebihan pada golongan. Melalui surah ini, Allah ingin memberi pesan kepada Rasulullah agar tidak perlu mengurusi mereka, dan menegaskan kepada umat islam agar tidak mengikuti sikap fanatisme beragama mereka.

Fanatisme agama hari ini, suatu benang merah

At-Thabari, Ar-Razi, dan Al-Maraghi memiliki satu buah pemaknaan yang sepadan tentang khitab surah Al-An’am ayat 159 selain ditujukan kepada ahlul kitab, yahudi dan nasrani. Dalam penafsiran mereka, khitab lain yang dituju oleh ayat tersebut adalah umat Islam yang melakukan bid’ah, dan yang tidak mengamalkan ajaran Islam dengan benar.

Kata ‘bid’ah’ tentu tidak bisa dimaknai secara leksikal. Kata tersebut mengalami pergeseran dan perkembangan makna, bahkan dalam perkembangannya mengalami kategorisasi akibat pergerakan konteks zaman. Sedangkan yang dimaksud ahlul bid’ah oleh para mufassir di atas cenderung merujuk kepada fanatisme beragama yang dilakukan oleh ahlul kitab maupun oleh umat Islam sendiri.

Penafsiran Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adhim terhadap surah Al-An’am ayat 159 tersebut selaras dengan pandangan demikian, karena menurutnya secara lahiriyah ayat ini bersifat umum. Ayat ini berlaku bagi setiap orang yang fanatik terhadap agama yaitu pada firqah-firqah dan golongan mereka sendiri tanpa mengindahkan saudara yang lain, mengikuti hawa nafsu dan kesesatan egoisme, maka Allah membebaskan Rasulullah dari tanggung jawab terhadap mereka.

Baca juga: Makna Kebebasan Beragama dan Toleransi dalam Al-Quran

Dari sini kita bisa menarik sebuah benang merah, sebuah keterkaitan sikap yang sama yang terjadi pada umat dahulu maupun umat Islam sendiri hingga hari ini, yaitu fanatisme beragama. Akibat sikap tersebut, jangankan penganut antar kepercayaan, perbedaan aliran dan madzhab seagamapun disalahkan dan dikafirkan oleh mereka sang empunya sikap ini. Umat Islam perlu menyegarkan pemikiran kembali salah satunya dengan mengingat pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah, “mereka yang bukan saudara seiman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”.

Perbedaan sebenarnya memanglah sunatullah yang terjadi pada setiap kepercayaan. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah memaparkan bahwa sepanjang perbedaan itu tujuannya sama, didasari kaidah kebebasan disiplin ilmu, dan hanya metode dan cara panjdang yang berbeda maka itu tidak jadi persoalan. Sedangkan surah Al-An’am ayat 159 tersebut menyudut pada fanatisme kelompok yang membawa perpecahan. Umat Islam hari ini telah mengalami polarisasi luar biasa akibat fanatisme kelompok maupun kepercayaan. Maka dari itu pesan ayat tersebut adalah larangan bagi umat Islam untuk bersikap fanatik berlebihan hingga menyalahkan dan mengafirkan yang lain sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

Wallahu a’lam.

Tafsir Surah At Takwir Ayat 19-29

0
tafsir surah at takwir
Tafsiralquran.id

Tafsir Surah At Takwir Ayat 19-29 kali ini akan berbicara mengenai maksud pengemukaan sumpah. Sumpah ini telah disinggung dalam pembahasan sebelumnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah At Takwir Ayat 10-18


Maksud sumpah yang disampaikan dalam Tafsir Surah At Takwir Ayat 19-29 ini adalah bahwa apa yang beritahukan oleh Nabi Muhammad saw adalah kebenaran yang hak. Hal itu perlu ditegaskan karena sebagaian orang kafir menuduh Nabi sebagai orang yang gila.

Ayat 19-21

Dalam ayat-ayat ini, Allah menjelaskan objek sumpah yang disebutkan dalam ayat 15-18 di atas, yaitu sesungguhnya apa yang diberitahukan oleh Muhammad saw tentang peristiwa-peristiwa hari Kiamat bukanlah kata-kata seorang dukun atau isapan jempol.

Akan tetapi, benar-benar wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril dari Tuhannya. Allah telah menyifati utusan yang membawa Alquran tersebut, yaitu Malaikat Jibril, dengan lima macam sifat yang mengandung keutamaan:

  1. Yang mulia pada sisi Tuhannya karena Allah memberikan padanya sesuatu yang paling berharga yaitu hidayah, dan memerintahkannya untuk menyampaikan hidayah itu kepada para nabi-Nya diteruskan kepada para hamba-Nya.
  2. Yang mempunyai kekuatan dalam memelihara Alquran jauh dari sifat pelupa atau keliru.
  3. Yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy.
  4. Yang ditaati di kalangan malaikat karena kewenangannya.
  5. Yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu karena terpelihara dari sifat-sifat khianat dan penyelewengan.

Ayat 22

Dalam ayat ini, Allah menyifati Nabi Muhammad dengan mengatakan bahwa Muhammad itu bukanlah orang gila, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang kafir Mekah.

Kalimat “sahibukum” (temanmu) dalam ayat ini merupakan alasan untuk menerangkan kedustaan mereka. Sebab, setiap orang akan mengenal tabiat temannya yang sehari-hari bergaul dengannya.

Orang-orang Quraisy itu selalu bergaul dengan Nabi Muhammad semenjak beliau masih kecil dan mengetahui kejujuran beliau. Oleh karena itu, mereka memberikan julukan kehormatan kepadanya dengan kata-kata “al-Am³n” sebelum beliau menjadi nabi.

Beliau tidak pernah berdusta, menyalahi janji, atau berkhianat, sehingga apa-apa yang dituduhkan kepada Nabi Muhammad itu tentang sifat gila, tukang sihir, atau pendusta adalah bohong semata.

Ayat 23

Nabi Muhammad pernah melihat Jibril dalam bentuk yang asli dua kali dalam hidupnya. Pertama, ketika beliau berada di Gua Hira sebelum turunnya Surah al-Muddassir, dan kedua, ketika beliau mi’raj ke langit ketujuh. Firman Allah

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ  ١٣  عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى   ١٤

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. (an-Najm/53: 13-14)

Ayat 24

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang bakhil dalam menyampaikan seluruh wahyu yang disampaikan malaikat Jibril kepadanya. Di samping itu, beliau adalah seorang yang sangat dipercaya karena tidak pernah mengubah wahyu walaupun satu huruf dengan ucapannya sendiri.


Baca juga: Surah Al-Baqarah Ayat 129: 3 Harapan Nabi Ibrahim Untuk Figur Nabi Muhammad saw


Ayat 25

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa Alquran bukanlah perkataan setan yang terkutuk, dan bukanlah perkataan yang diletakkan oleh setan di atas lidah Muhammad ketika mengganggu akalnya seperti yang dituduhkan oleh orang Quraisy.

Muhammad sudah terkenal sejak kecilnya dengan pikiran yang sehat dan tidak pernah berbuat khianat. Oleh karena itu, apa yang diterangkan oleh Muhammad tentang berita akhirat, surga, dan neraka bukanlah perkataan setan.

Ayat 26

Kemudian Allah menerangkan bahwa orang-orang Quraisy itu telah sesat, jauh dari jalan kebenaran, dan tidak mengetahui jalan kebijaksanaan, sehingga Allah bertanya kepada mereka, “Maka ke manakah kamu akan pergi?”

Maksudnya ialah sesudah diterangkan bahwa Alquran itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya terdapat pelajaran dan petunjuk yang membimbing manusia ke jalan yang lurus, ditanyakan kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang akan kamu tempuh lagi?”

Ayat 27-28

Kemudian Allah menyatakan bahwa Alquran itu tiada lain hanya peringatan bagi semesta alam, bagi mereka yang mempunyai hati cenderung kepada kebaikan. Namun demikian, tidak semua manusia dapat mengambil manfaat dari Alquran ini.

Yang mengambil manfaat ialah siapa yang mau menempuh jalan yang lurus. Adapun orang yang menyimpang dari jalan itu, maka ia tidak dapat mengambil manfaat dari peringatan Alquran.

Ayat 29

Dalam ayat ini, Allah mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak sendiri untuk berbuat sesuatu yang dikehendakinya bilamana tidak sesuai dengan kehendak Allah.


Baca setelahnya:  Tafsir Surah Al Infithar Ayat 1-6


(Tafsir Kemenag)

Esensi Qalam dan Anjuran Menulis Dalam Al-Quran

0
qalam dan anjuran menulis dalam Al-Quran
qalam dan anjuran menulis dalam Al-Quran

Selain perintah untuk membaca, dalam surah Al-Alaq juga terdapat anjuran menulis, tepatnya di ayat 4-5. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Allah diantara semua makhluk ciptaan-Nya. Sebab, manusia diberi anugerah oleh Allah berupa indera yang dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan. Dari pengetahuan inilah manusia dapat mengelola bumi, menundukkan makhluk lain untuk dimanfaatkan bagi kelangsungan hidupnya, membuat suatu perubahan diatas dunia, hingga mampu mengenal Tuhan yang menciptakan dirinya.

Ilmu pengetahuan manusia boleh jadi didapatkan dari hasil  pembelajaran mereka sendiri. Namun perlu untuk diketahui bahwa dalam pembelajaran itu, terdapat kontribusi Allah Swt, zat yang maha mengetahui segala sesuatu, yang mengajari manusia dengan perantaraan qalam. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an,

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ , عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

(Dzat) yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan qalam, mengajar manusia apa yang belum diketahui(nya) (QS. Al-Alaq: 4-5)

Baca Juga: Tadabbur Atas Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5: Wahyu Pertama Perintah Membaca

Qalam dan pena

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan, kata (القلم) al-qalam terambil dari kata kerja (قلم) qalama yang berarti memotong ujung sesuatu. Beliau mencontohkan pengertian ini seperti memotong ujung kuku yang disebut (تقليم) taqlim, tombak yang dipotong ujungnya sehingga meruncing dinamai (مقاليم)  maqālīm, anak panah yang runcing ujungnya dan bisa digunakan untuk mengundi, dinamai pula qalam, seperti dalam QS. Al-Imran [3]:44.

Maka, alat yang digunakan untuk menulis dinamai dengan qalam karena pada mulanya alat tersebut dibuat dari suatu bahan yang dipotong dan di peruncing ujungnya. Quraish shihab melanjutkan bahwa kata qalam disini dapat berarti hasil dari penggunaan alat tersebut, yakni tulisan. Ini karena bahasa sering kali menggunakan kata yang berarti “alat” atau “penyebab” untuk menunjukkan “akibat” atau “hasil” dari penyebab atau penggunaan alat tersebut. Misalnya, jika seseorang berkata, “saya khawatir hujan”, maka yang dimaksud dengan kata “hujan” adalah basah atau sakit, hujan adalah penyebab semata.

Makna di atas dikuatkan oleh firman Allah dalam QS. Al-Qalam ayat 1, yakni firman-Nya: Nun, demi Qalam dan apa yang mereka tulis. Apalagi disebutkan dalam sekian banyak riwayat bahwa surah al-Qalam turun setelah akhir ayat kelima surah al-‘Alaq. Ini berarti dari segi masa turunnya kedua kata qalam tersebut berkaitan erat, bahkan bersambung walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikian.

Dalam Tafsir Salman juga di jelaskan, qalam diartikan sebagai “pena” dan hasilnya berupa “tulisan” bila manusia yang mempergunakannya. Akan tetapi, apakah qalam Allah sama dengan qalam manusia? Tentu saja tidak. Maksud qalam dalam ayat ini adalah Allah mengajarkan manusia dengan berbagai media. Namun saat itu media yang dipahami manusia hanyalah qalam dalam makna “pena”. Allah bisa saja mengajarkan manusia secara langsung sehingga manusia mengerti, namun menurut ayat ini tidaklah demikian keadaannya.

Dijelaskan pula bahwa rangkaian kata ‘allama bi al-qalami dapat diartikan dengan dua cara. Pertama, dia itu tulisan yang bisa menjadikan mengerti tentang segala yang gaib. Kedua, bahwa yang dimaksud ialah mengajarkan manusia menulis dengan qalam. Dua kata ini saling berdekatan, dan yang dimaksud keduanya adalah keutamaan dan anjuran menulis. Sama seperti penjelasan dalam tafsir kemenag, dimana mengajar yang dimaksud pada ayat diatas bermakna memberikan kemampuan terhadap manusia untuk menggunakan alat tulis.

Baca Juga: Tafsir Surat Al ‘Alaq Ayat 1-7

Anjuran menulis dalam Al-Quran

Berkaitan dengan makna tersebut, Hamka menafsirkan, terlebih dahulu Allah Ta’ala mengajar manusia menggunakan qalam. Setelah ia pandai mempergunakan qalam  itu, Allah lalu memberikan pengetahuan yang banyak kepadanya, sebagaimana firman Allah pada ayat selanjutnya; mengajar manusia apa yang belum diketahui(nya), sehingga ia dapat mencatat ilmu yang baru didapatnya dengan qalam yang telah ada di tangannya.

Berangkat dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa secara tidak langsung manusia dianjurkan untuk menulis sebagai sarana dalam memperoleh pengetahuan. Al-Qurtubi pun dalam tafsirnya mengatakan bahwa pada ayat ini Allah mengingatkan kepada manusia akan fadhilah ilmu menulis dan anjuran menulis, karena di dalam ilmu penulisan terdapat hikmah dan manfaat yang sangat besar, yang tidak dapat dihasilkan kecuali melalui penulisan. Ilmu-ilmu pun tidak dapat diterbitkan kecuali dengan penulisan, begitu pula dengan hukum-hukum yang mengikat manusia agar selalu berjalan di jalur yang benar.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda,

قَيِّدُوْا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ

Ikatlah ilmu dengan tulisan (HR. At-Thabrani dan Hakim dari Abdullah bin Amr)

Dalam redaksi yang lain,

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَ الْكِتَابَةُ قَيْدُهُ , قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْجِبَالِ الْوَاثِقَةِ

Ilmu pengetahuan adalah laksana binatang buruan dan penulisan adalah tali pengikat buruan itu. Oleh sebab itu, ikatlah buruanmu dengan tali yang teguh.

Karenanya, Wahbah Zulhaili dalam Tafsir Al-Munir mengatakan bahwa seandainya tidak ada tulisan, pastilah ilmu-ilmu itu akan punah, agama tidak akan berbekas, kehidupan tidak akan baik, dan aturan tidak akan stabil. Pemahaman inilah yang mengilhami para ulama terdahulu sehingga karya mereka yang berupa tulisan-tulisan masih dapat kita nikmati sampai sekarang ini. Penulis teringat pada perkataan Pramoedya Ananta Toer, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.

Singkatnya, Semoga pembahasan ini dapat menginspirasi para pembaca untuk berkarya dalam bentuk tulisan, yang jika dibaca akan mendatangkan manfaat bagi orang lain, dan akan mendatangkan pahala yang terus mengalir hingga di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal Alamin

Ragam Pemaknaan Ayat-Ayat tentang Bidadari Surga

0
Bidadari Surga
Bidadari Surga

Mukjizat bahasa Al-Qur’an yang bersifat multi interpetatif atau berpeluang menimbukan perbedaan penafsiran, hal tersebut nyatanya tak terkecuali pada ayat-ayat eskatologis. Konsep pemaknaan bidadari surga misalnya yang memiliki ragam penafsiran atau bahkan telah terjadi reinterpretasi (pemaknaan ulang).

Bidadari surga yang secara arus mainsteam tafsir diartikan sebagai sosok perempuan cantik yang disediakan hanya untuk mukmin laki-laki, kini mulai didiskusikan kembali dalam ranah tafsir Al-Qur’an. Berikut ragam pemaknaan ayat-ayat tentang bidadari surga dari klasik hingga kontemporer.

Ayat-ayat tentang bidadari dalam Al-Qur’an

Lafad yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukkan pendamping di surga -bidadari- sangat beragam. Lafad-lafad tersebut di antaranya hūr’īn, qāsirātu tarf, kawāiba atrāba, khairātun hisān, lu’lu al-maknūn, abkāra, baidū maknūn, ‘uruban atrāba, dan azwājun muthaharatun. Lafad tersebut tersebar dalam beberapa surat di antaranya Q.S Shad : 52, al-Waqiah : 22, as-Shaffat : 48-49, ad-Dukhan : 54, at-Thur: 20, an-Naba : 33, al-Baqarah : 25, ali-Imran : 15, an-Nisa : 57, dan ar-Rahman : 56.

Tetapi mari kita lihat perbedaanya dari lafad hūr’īn yang mewakili lafad yang diturunkan di Makkah, dan lafad  azwājun muthaharatun yang mewakili lafad yang digunakan di Madinah. Lafad hūr’īn dalam Q.S al-Waqiah [56] : 23

وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ

“Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah”

Lafad azwājun muthaharatun salah satunya dalam Q.S al-Baqarah [2] : 25 :

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا  قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا ۗ وَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, ‘Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu’. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.

Pendapat Mufasir Klasik

At-Thabari memaknai lafad hūr’īn dengan perempuan yang memiliki mata putih bersih, kulit bersih dan memiliki bola mata lebar yang sangat indah. Terdapat dalam kitab at-Thabari, riwayat Mujahid bahwa nanti orang-orang yang masuk surga dinikahkan dengan bidadari yang bermata putih, tulang betisnya terlihat di balik busana yang dikenakan. Bahkan, orang bisa melihat wajahnya dari balik jantung karena kulitnya yang bersih dan tipis (Jami’ al-Bayan, Juz 22, 51).

Baca Juga: Imam At-Thabari, Sang Maestro Tafsir Al-Quran Pertama Dalam Islam

Sementara itu, lafad azdwājun muthaharatun ditafsirkan at-Thabari dengan sosok perempuan yang memiliki kesucian dari segala kotoran yang ada pada kaum perempuan di dunia. Kotoran tersebut seperti haid, nifas, air besar-kecil, dan segala sesuatu yang tidak disukai termasuk jenis noda dan dosa.

Demikian pula penafsiram al-Qurthubi terhadap hur-in dan azwajun muthaharatun sama dengan at-Thabari, dengan penambahan hadis-hadis seperti hadis dari Abu Hurairah : “Mahar untuk menikahi bidadari adalah beberapa genggam kurma dan beberapa helai roti” juga riwayat Abu Qirshafah: “Mengeluarkan sampah dari dalam masjid adalah mahar untuk menikahi bidadari,” (Jami’ Ahkam Al-Qur’an, Juz 15, 396).

Pendapat Mufasir Modern Kontemporer

Pada masa modern-kontemporer, di samping ayat tentang bidadari ditafsirkan apa adanya sesuai lafadnya, namun beberapa tafsir seperti tafsir Al-Misbah memberikan keterangan lebih lanjut mengenai pemaknaan bidadari surga. Menurut Quraish Shihab lafad Hūr’īn berasal dari lafad Haurā yang bisa dimaknai sebagai sesuatu yang feminim atau maskulin. Lebih lanjut Quraish Shihab menyatakan bahwa bidadari surga merupakan iming-iming yang mempunyai hakikat berbeda sesuai harapan kesenangan setiap orang.

Demikian pula dengan mufassir Sayyid Qutb ketika menafsirkan ayat-ayat tentang bidadari, ia tidak tenggelam pada penambahan pendapat pribadi atau konstruksi patriarki. Sayyid Qutb lebih fokus pada pembahasan hakikat kesenagan surga secara keseluruhan. Sayyid Qutb berpendapat bahwa ungkapan ‘Terdapat bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan dengan baik’ adalah kiasan dari makna psikologis dan spiritual. (Fi Zilalil Qur’an, 139).

Menurut Quraish Shihab azwājun muthaharatun adalah pasangan yang berulang kali disucikan dari segala jenis kotoran. Pengertiannya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki pasangannya masing-masing. Penyucian dalam lafad tersebut bukan hanya dari haid, melainkan mencakup segala yang mengotori jasmani dan jiwa seperti dengki, cemburu, bohong, khianat dan sebagainya.

Selain itu, dewasa ini muncul pemahaman bahwa kepercayaan terhadap gambaran bidadari surga yang disuguhkan oleh mufasir klasik memperlihatkan konstruksi penafsiran yang terkesan diskriminatif terhadap perempuan dalam perspektif gender. Menurut aktifis gender beberapa tafsir panjang lebar membicarakan sifat dan  karakteristik kecantikan bidadari tanpa memperhatikan konteks ayat saat diturunkan.

Seiring dengan perkembangan zaman, kesadaran kesetaraan laki-laki dan perempuan lebih disuarakkan, kajian Ulumul Qur’an juga metode menafsirakan Al-Qur’an mengalami perkembangan. Oleh sebab itu penafsiran bidadari pun mengalami perkembangan. Beberapa pemikir atau pengkaji Al-Qur’an mulai memperhatikan aspek-aspek baru dalam memahami ayat Al-Qur’an khusunya di sini terhadap konsep bidadari. Secara maudhu’i kini ayat-ayat tentang bidadari dimaknai ulang.

Amina Wadud dalam bukunya Quran and Women, 97 memahami ayat tentang bidadari dengan menggunakan bahasa ‘teman pendamping di surga’. Amina menarik kesimpulan bahwa terdapat tiga tingkatam ketika Al-Qur’an berbicara tentang teman pendamping di surga.

Baca Juga: Amina Wadud dan Hermeunitika Tauhid dalam Tafsir Berkeadilan Gender

Pertama, penggunaan istilah hūr’īn mencerminkan tingkat pemikiran komunitas Makkah yang mementingkan harta juga perempuan. Kedua, penggambaran pendamping di surga pada periode Madinah dengan memakai istilah zawj, melambangkan masyarakat Madinah  yang mulai memahami Islam. Ketiga, Al-Qur’an telah melampaui dua tingkat sebelumnya dan berbicara tentang kenikmatan yang jauh lebih penting daripada keduanya, yaitu kedekatan dengan Allah swt.

Selain Amina, Tokoh Indonesia Faqihuddin Abdul Kodir dengan teori kesalingan (Qira’ah Mubadalah, 311-324) menggunakan lafad azwājun muthaharatun (pasangan suci) dan ayat-ayat kesetaraan balasan amal perbuatan manusia sebagai bukti adanya bidadara untuk muslim perempuan.

Selaras dengan Faqihuddin, Nur Rofiah pegiat ngaji KGI (Keadilan Gender Islam) mengatakan dalam bukunnya Nalar Kritis Muslimah bahwa, bahasa manusia bersifat simbolik termasuk bahasa manusia yang digunakan  dalam Al-Qur’an. Bidadari surga yang digambarkan dengan lafad-lafad yang dipinjam Al-Qur’an adalah simbol kenikmatan surga. Sedangkan penggambaran kenikmatan surga tidak berhenti pada bidadari, melainkan akhir penjelasan surga bersifat spiritual yaitu bertemu dengan Allah.

Menurut Rofiah, Al-Qur’an menggambarkan surga yang bersifat materiil hanyalah perumpamaan, karena Al-Qur’an (saat ayat bidadari diturunkan) sedang berbicara kepada masyarakat yang belum mempunyai kesadaran spiritual yang memadai.

Demikian ragam pemaknaan bidadari surga dari tafsir klasik hingga modern kontemporer. Hal tersebut menunjukkan kepada kita proses usaha manusia untuk memahami kalam ilahi, ilmu Allah yang tiada batas. Sebenarnya masih banyak diskusi tentang hal ini, namun penulis ingin menyajikannya dalam suguhan yang singkat, setidaknya sebagai pemantik diskusi selanjutnya. Wallahu’alam.