Beranda blog Halaman 495

Introducing English Semantics: Teori Semantika Al-Quran Ala Charles W. Kreidler

0
introducing english semantics
introducing english semantics

Introducing English Semantics merupakan buku pengantar studi semantika yang komprehensif dan ringan. Sebagaimana gagasan yang tercantum di dalam judul, buku ini menyajikan konsep semantika melalui kekayaan leksikal dan gramatika bahasa Inggris. Charles W. Kreidler (1924-2013) dalam Introducing English Semantics memiliki visi untuk memberikan pemahaman singkat bagi berbagai jenis akademisi; akademisi linguistik maupun umum. Visi tersebut diaplikasikan dalam penulisan prinsip dan metodologi semantika secara ringkas.

Kreidler mengeksplorasi potensi bahasa Inggris untuk mengakumulasi dan mengklaim makna melalui kata, komponen kata, dan kalimat. Ia mengartikulasikan proses tersebut di dalam bukunya dengan linguistik-semantik. Charles W. Kreidler memberikan pengantar singkat mengenai bahasa dan makna bahasa dalam bab “The Study of Meaning”.

Penulis tertarik dengan gagasan Charles W. Kreidler mengenai idiosinkrasi bahasa manusia dalam The Nature of Language. Menurut Charles W. Kreidler, bahasa manusia mengandung sifat independen dan kreatif. Independensi bahasa manusia terlihat pada kapasitasnya untuk mengekspresikan pengalaman dan keinginan pribadi. Manusia pun memiliki kapasitas untuk mengutarakan jenaka, dualitas makna, hingga rencana masa depan melalui sifat kreatif. Kedua hal tersebut berlawanan dengan sifat alami hewan yang terikat pada stimulus atau insting.

Baca juga: Michael Sells, Mengenalkan Aspek Aural dan Skriptural Sebagai Pendekatan Terhadap Al-Qur’an

Sifat alami bahasa manusia adalah konvensional. Manusia biasa memainkan dan menyusun fonema dan huruf menjadi satuan kata yang singular. Charles W. Kreidler menyadari tendensi tersebut sehingga ia menggunakan framework gramatika, fonologi, sintaksis, dan morfologi untuk menggali makna bahasa secara tepat. Di sisi lain, usaha Kreidler untuk memunculkan buku pengantar semantika secara sederhana membuatnya menghindari penggunaan framework yang lebih kompleks.

Menurut hemat penulis, konsep The Nature of Language dari Kreidler akan menjadi argumentasi yang lebih efektif bila dikaitkan dengan kajian kontekstualitas dan sosiologi bahasa. Dalam studi Al-Quran, studi semantika mengandung peran untuk membaca teks ‘otoritatif’ tersebut sebagai diskursus yang humanis. Tanpa pengkajian melalui berbagai cabang ilmu modern seperti semantika dan hermeneutika, Al-Quran takkan menemukan titik temu demokratis dengan masyarakat modern.

Baca juga: Laleh Bakhtiar dan Kontribusinya Dalam Kajian Tafsir

Mengutip Naṣr Ḥāmid Abū Zayd dalam Rethinking the Qur’ān: Towards a Humanistic Hermeneutics, metode tersebut berfungsi untuk memurnikan nilai dan makna Al-Quran dari berbagai manipulasi kekuatan, baik secara politik, budaya, maupun agama. Toshiko Izutsu dalam God and Man in the Qur’an menempatkan kajian semantika Al-Quran sebagai pembahasan pertama di dalam bukunya. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan perspektif baru bagi sarjanawan Muslim saat membaca dialektika keilmuan Timur.

Singkat kata, teori semantika yang Charles W. Kriedler jelaskan memiliki sasaran yang sama dengan ilmu ma’āni Al-Quran yakni memahami makna, pesan, dan kesan Al-Quran. Perbedaan antara semantika dan ma’āni secara garis beras terletak pada kiblat pengetahuan (Barat dan Timur) beserta alat-alat metodologis di dalamnya. Wallahu A’lam.

Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

0
Tiga artikel untuk Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Tiga Artikel Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Quraish Shihab menyebut perjalanan hidup Nabi Muhammad saw. di dunia dengan dua isilah berbeda, yakni maulud dan maulid. Maulud ialah perjalanan hidup Nabi yang menekankan pada sosoknya. Hal ini berdasarkan kosakata maulud sendiri yang menunjukkan makna yang dilahirkan, sehingga berhubungan dengan sosok. Sementara maulid, diartikan dengan informasi-informasi yang berkaitan dengan perjalanan hidup Nabi. Sebagaimana maulid, yang bermakna tempat atau waktu dilahirkannya Nabi, sehingga titik tekan maulid ada pada peristiwa yang melingkupi hidup Nabi Saw.

Dengan demikian, jika kita bicara maulid Nabi, berarti kita mengisahkan segala peristiwa yang bersinggungan dengan kehidupan Nabi. Peristiwa yang melingkupi perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw. berkenaan dengan dakwah Islam menyimpan nilai kasih dan sayang untuk seluruh umat manusia. Kasih itu salah satunya terejawantah dari upaya meretas kekerasan, ketertindasan dan ketidakadilan pada diri perempuan.

Upaya itu kita temui dari berbagai ayat dan hadis yang Nabi telah sampaikan pada kita. Mulai dari perlindung hidup perempuan yang dapat kita lihat dari larangan membunuh bayi perempuan, hingga penyetaraan hak untuk berkarya.

Meretas jejak kekerasan pada perempuan

Dalam perjalanan Nabi berdakwah, ia membawa misi untuk menumpas kekerasan terhadap perempuan yang telah menjadi budaya pada fragmen sejarah masa lalu. Antara lain, membekukan tradisi membunuh bayi perempuan yang telah masyhur di masyarakat Arab Jahiliyyah. Ini termaktub dalam surat An-Nahl ayat 58-59:

وَاِذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمْ بِالْاُنْثٰى ظَلَّ وَجْهُهٗ مُسْوَدًّا وَّهُوَ كَظِيْمٌۚ يَتَوٰرٰى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْۤءِ مَا بُشِّرَ بِهٖۗ اَيُمْسِكُهٗ عَلٰى هُوْنٍ اَمْ يَدُسُّهٗ فِى التُّرَابِۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu. (Q.S. An-Nahl [16]: 58-59)

Mengutip Muhammad al-Ghazali dalam al-Ma’ah fil Islam, sebelum Nabi hadir dengan membawa ajaran Islam, masyarakat dunia menstigmatisasi perempuan dengan berbagai hal buruk, bahkan sampai tidak dianggap sebagai manusia. Di Romawi Kuno, perempuan hanya dijadikan objek pelampiasan hawa nafsu, sama sekali tak memiliki hal. Begitu pun dalam masyarakat Arab Jahiliyyah. Mereka menstigmatisasi perempuan sebagai sumber kefakiran dan kerendahan. Stigma ini kemudian yang melahirkan tradisi membunuh bayi perempuan hidup-hidup sebagaimana yang dinarasikan ayat di atas.

Baca juga: Mengenal Nabi Muhammad saw Lebih Dekat Melalui Al-Quran dan Hadis

Lalu, Nabi datang dan menyampaikan ayat itu pada umatnya, agar sadar tindakan mereka salah. Allah menutup firman-Nya itu dengan penjelasan bahwa yang mereka perbuat itu buruk. Berdasarkan satu riwayat dalam Tafsir al-Baghawi, frasa ala sa’a ma yahkumun di akhir ayat itu ditujukan pada penguburan bayi perempuan hidup-hidup.

Sementara itu, penghapusan kekerasan perempuan yang Nabi sabdakan sendiri antara lain berupa larangan memukul, yang ada pada riwayat Abdullah bin Za’mah dalam Fathul Bari:

عن عبد الله بن زمعة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا يجلد أحدكم امرأته جلد العبد ثم يجامعها في آخر اليوم

“Dari Abdullah bin Zam’ah dari Nabi Saw., bersabda: “janganlah seseorang di antara kamu memukul istrinya layaknya memukul hamba sahaya, (padahal) ia menggaulinya di ujung hari”

Hadis ini disabdakan Nabi dalam konteks menyindir pada laki-laki yang memukul istrinya, yang harusnya dicintai. Dari sindiran ini, tampak bahwa Nabi mengajarkan untuk menjunjung martabat perempuan dengan larangan menginjak harga dirinya melalui praktik anarkistik.

Menumpas ketertindasan dan ketidakadilan

Penumpasan ketidakadilan Nabi sampaikan antara lain tentang perubahan ketentuan waris, yang asalnya hanya hak laki-laki, kemudian juga diberikan pada perempuan. Hal ini tampak pada firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 7:

لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنۡهُ أَوۡ كَثُرَۚ نَصِيبٗا مَّفۡرُوضٗا

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan” (Q.S. An-Nisa [4]: 7)

Mengutip al-Wahidi dalam Asbabun Nuzul, ayat ini merespons Ummu Kujjah yang ditinggal mati suaminya, Aus bin Tsabit. Ia dan tiga putrinya terancam tidak dapat warisan karena waktu itu, perempuan tidak memiliki hak waris. Keponakan mediang suaminya yang bersikeras mengambil harta warisan itu memperparah kondisi Ummu Hujjah, hingga ia beranikan mengadu pada Nabi saw.

Baca juga: Mengapa Nama Nabi Muhammad Saw Sedikit Sekali Tersebut Oleh Al-Quran?

“Pulanglah dulu, sampai aku dapat jawaban dan Allah swt”, jawab Nabi Saw.

Lalu, ayat ini turun untuk menyerukan keadilan laki-laki dan perempuan dalam hak waris, sekaligus memberangus tradisi Jahiliyyah yang menindas perempuan.

Selain perihal waris, Nabi juga berupaya menghilangkan praktik pemaksaan pernikahan pada perempuan melaui sabdanya. Mengutip Faqihuddin Abdul Kodir dalam 60 Hadis Hak-hak Perempuan dalam Islam: Teks dan Interpretasi, hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Buraydah dalam Sunan Ibnu Majah dan An-Nasa’i:

عن ابنِ بُريدةَ عن أبيهِ قالَ : جاءت فتاةٌ إلى رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وعلى آلِهِ وسلَّمَ فقالت : إنَّ أبي زوَّجني ابنَ أخيهِ ليرفعَ بي خسيستَه ، قالَ : فجعلَ الأمرَ إليها فقالت : قد أجزتُ ما صنعَ ولَكنِّي أردتُ أن أُعلِمَ النِّساءَ أن ليسَ إلى الآباءِ من الأمرِ شيءٌ

“Dari Ibnu Buraydah dari ayahnya. Sang ayah berkata: “ada seorang perempuan muda datang ke Nabi Saw, dan bercerita: “Ayah saya menikahkan saya dengan anak saudaranya untuk mengangkat derajat melalui saya”, Nabi Saw. memberikan keputusan akhir di tangan sang perempuan. Kemudian perempuan itu berkata: “Ya Rasulullah, saya rela dengan yang dilakukan ayah saya, tetapi saya ingin mengumumkan kepada para perempuan bahwa ayah-ayah tidak memiliki hak untuk urusan ini””

Budaya Arab pra Islam yang benar-benar tidak menyediakan ruang berbicara dan berpendapat bagi perempuan, diganti oleh hadis ini, yang mempertegas kewenangan perempuan untuk menentukan pilihannya. Tidak melulu bertekuk lutut pada apa kata lelaki. Hadis beserta ayat di atas sekaligus dapat kita pahami bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi baik melalui perantara firman-Nya, maupun sabdanya sendiri, sarat akan keadilan dan kesetaraan hak untuk laki-laki dan perempuan.

Defini maulid yang dituturkan Quraish Shihab di atas, mengajak kita untuk tidak memperingati maulid dengan hingar-bingar seremoninya semata. tetapi lebih jauh, dengan merenungi perjalanan Nabi saw. mensyiarkan Islam yang penuh kasih dan sayang untuk semesta. Perjalanan yang begitu beratnya dan tidak sebentar dalam menumpas kekerasan dan ketidakadilan sampai menjadikannya sebagai insan paling mulia. Shallu ‘Alannabiy.

Wallahu A’lam[]

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Setelah berbicara mengenai permisalan keadaan orang munafik, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22 berbicara mengenai segala yang ada di alam raya ini. Mulai dari langit yang dijadikan sebagai atap hingga air hujan yang menumbuhkan pepohonan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 19-21


Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22 ini mempertegas kembali akan kekuasaan Allah swt dengan mengatur alam dengan penuh keteraturan. Keteraturan ini adalah apa yang dalam ilmu pengetahuan modern disebut dengan ekosistem.

Selain itu dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22 dijelaskan mengenai siklus air dan segala macam prosesnya. Selain itu juga dibahas mengenai atmosfer yang menjadi atap bumi agar aman dari ancaman. Semuanya diciptakan Allah swt untuk kenyamanan manusia di bumi.

Ayat 22

Allah swt menerangkan bahwa Dia menciptakan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, menurunkan air hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menjadikan tumbuh-tumbuhan itu berbuah. Semuanya diciptakan Allah untuk manusia, agar manusia memperhatikan proses penciptaan itu, merenungkan, mempelajari dan mengolahnya sehingga bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan sesuai dengan yang telah diturunkan Allah.

Dengan jelas Allah menerangkan dalam ayat ini terutama pada bagian yang mengungkapkan “Dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan.”

Dengan terang Allah menyebutkan bumi, langit dan benda-benda langit, seperti matahari dan bintang-bintang adalah ciptaan Allah yang merupakan satu kesatuan dan semuanya diatur dengan satu kesatuan sistem yang dalam ilmu pengetahuan modern disebut ekosistem. Selama belum dirusak oleh tangan-tangan manusia yang memperturutkan hawa nafsunya, semua berjalan dengan tertib dan teratur.

Laut yang luas yang disinari panas matahari kemudian menyebabkan uap air yang banyak. Uap air ini naik ke atas menjadi awan dan mendung, kemudian disebarkan oleh angin ke seluruh permukaan bumi, sehingga uap air yang banyak sekali ini di atas gunung-gunung menjadi dingin dan kemudian menjadi titik-titik dan menjadi hujan dapat mengairi permukaan bumi yang luas, bukan hanya timbul hujan di atas laut, tetapi juga di darat, karena bantuan angin yang menyebarkannya.

Disebabkan hujan yang turun dari langit itu kemudian bumi menjadi subur, berbagai tanaman buah, sayur, biji-bijian serta ubi dan sebagainya tumbuh dan memberikan banyak manfaat bagi manusia dan semua makhluk di bumi.

Di samping itu, turunnya hujan juga menimbulkan sungai, danau dan sumur terisi air serta memperluas kesuburan bumi. Hutan yang lebat juga membantu menyalurkan air dalam bumi, membantu menyalurkan udara segar, menyejukkan udara yang panas dan memelihara kesuburan bumi.

Manusia dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengetahui kapan banyak turun hujan dan kapan jarang hujan atau bahkan sama sekali tidak ada hujan, berdasarkan letak bintang di langit maupun peredaran angin.

Juga dapat diketahui di mana berkumpulnya ikan-ikan di laut yang banyak sekali jenis dan ragamnya, bahkan ke mana burung-burung pergi pada musim-musim tertentu dapat diketahuinya.

Berikut penjelasan saintis/ilmuan tentang langit sebagai atap: Atap untuk sebuah bangunan terutama diperlukan agar penghuni yang tinggal di dalamnya terhindar dari hujan dan panas matahari. Dalam konteks ayat di atas langit sebagai atap adalah perumpamaan yang ditujukan untuk bumi tempat kita hidup.

Setiap saat, bumi dihujani benda angkasa yang antara lain adalah meteorit. Akan tetapi, sampai saat ini bumi tidak porak-poranda. Hal ini disebabkan bumi diselimuti oleh gas atau udara yang bernama atmosfer.

Sebelum sampai ke bumi, meteorit akan terpecah belah dan hancur saat memasuki atmosfer. Sebelum sampai ke atmosfer sinar yang dipancarkan matahari pun memecahkan meteorit yang ada.

Radiasi sinar matahari inilah yang dapat meledakkan meteorid dalam perjalanannya ke bumi dan kemudian diserap oleh lapisan ozon. Dengan demikian atmosfer dan lapisan ozon merupakan selubung pengaman atau dengan kata lain boleh disebut sebagai atap bagi bumi. Bumi tidak mungkin dihuni oleh makhluk hidup tanpa adanya atap tersebut. Ayat lain yang menyatakan hal yang sama adalah al-Anbiya′/21: 32 yang artinya:

Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan dan lain-lainnya). (al Anbiya′/21: 32)

Tebal atmosfer mencapai 560 kilometer, diukur dari permukaan bumi. Penelitian mengenai atmosfer dimulai dengan menggunakan fenomena alam yang dapat dilihat dari bumi, seperti warna-warna indah saat matahari terbit dan terbenam, dan kilapan cahaya bintang. Dalam tahun-tahun belakangan ini, dengan menggunakan peralatan canggih yang ditaruh dalam satelit di luar angkasa, kita dapat mengerti lebih baik mengenai atmosfer dan fungsinya untuk bumi.

Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa kehidupan di bumi didukung oleh tiga hal, yaitu adanya atmosfer, adanya energi yang datang dari sinar matahari, dan hadirnya medan magnet bumi.

Atmosfer diketahui menyerap sebagian besar energi sinar matahari, mendaur ulang air dan beberapa komponen kimia lainnya, dan bekerjasama dengan muatan listrik dan magnet yang ada untuk menghasilkan cuaca yang nyaman. Atmosfer juga melindungi kehidupan bumi dari ruang angkasa yang hampa udara dan bersuhu rendah.

Atmosfer terdiri atas lapisan-lapisan gas yang berbeda-beda. Empat lapisan dapat dibedakan berdasarkan perbedaan suhu, perbedaan komposisi bahan kimia, pergerakan-pergerakan bahan kimia di dalamnya, dan perbedaan kepadatan udara. Keempat lapisan tersebut adalah Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, dan Thermosfer, atau dapat pula dibagi menjadi tujuh seperti yang dijelaskan pada al-Baqarah/2: 29.

Komposisi gas di atmosfer terutama terdiri atas nitrogen (78%), oksigen (21%) dan argon (1%). Beberapa komponen yang sangat berpengaruh pada iklim dan cuaca juga hadir, meski dalam jumlah yang sangat kecil seperti uap air (0,25%), karbondioksida (0,036%) dan ozone (0,015%)

selanjutnya Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22 juga berbicara perihal angin, awan dan air hujan.

Hubungan angin dan awan yang kemudian menghasilkan hujan dapat dijelaskan dengan melihat pada siklus air. Siklus air berlangsung mulai penguapan air laut yang membubung ke atas menjadi awan lalu turun ke bumi dalam bentuk tetes air hujan, kemudian air yang turun dalam bentuk hujan itu kembali lagi ke laut melalui sungai dan air bawah tanah. Alquran tidak menyebut secara rinci siklus air seperti itu, akan tetapi, banyak ayat yang menjelaskan beberapa bagian dari proses keseluruhannya secara sangat akurat. Antara lain dua ayat di bawah ini.


Baca juga:Tafsir Surat Al-Qalam ayat 1: Islam Menjunjung Tinggi Budaya Literasi


Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka gembira. (ar Rum/30: 48)

Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (an Nur/24: 43)

Kedua ayat di atas menggambarkan tahapan-tahapan pembentukan awan yang menghasilkan hujan, yang dalam gilirannya, merupakan salah satu tahap dalam siklus air. Dengan melihat lebih cermat kedua ayat di atas maka tampak nyata adanya dua fenomena.

Pertama adalah penyebaran awan dan lainnya adalah penyatuan awan. Dua proses yang berlawanan terjadi sehingga awan hujan dapat dibentuk. Dua proses yang disebutkan dalam Alquran ini baru ditemukan oleh ilmu meteorologi modern sekitar 200 tahun yang lalu.

Ada dua tipe awan yang dapat menghasilkan hujan. Keduanya dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuknya, yaitu stratus (tipe berlapis) dan cumulus (tipe menumpuk).

Pada tipe awan yang berlapis, dua tahapan penting yang terjadi adalah tahap awan tipe stratus dan nimbostratus (nimbo artinya hujan). Ayat pertama di atas (ar Rum/30: 48), secara sangat jelas memberikan informasi mengenai formasi awan yang berlapis.

Tipe awan semacam itu hanya akan terbentuk dalam kondisi angin yang bertiup secara bertahap dan secara perlahan menaikan awan ke atas. Selanjutnya, awan tersebut akan berbentuk seperti lapisan-lapisan yang melebar (“Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit…..”).

Apabila kondisinya cocok, (antara lain jika suhu cukup rendah dan kadar air cukup tinggi) maka butir-butir air akan menyatu dan menjadi butiran-butiran air yang lebih besar. Kita dapat melihat proses tersebut sebagai menghitamnya awan.

Dalam terjemahan Quraish Shihab, bagian ini disebutkan sebagai: “……dan menjadikannya bergumpal-gumpal….”. Namun dalam terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris, bagian ini diterjemahkan sebagai: “…. and makes them dark… . Akhirnya, butiran air hujan akan jatuh dari awan: “…..lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya….”.

Tipe awan yang kedua yang dapat menghasilkan hujan adalah tipe awan yang bertumpuk-tumpuk. Awan ini terbagi berdasarkan bentuknya dalam beberapa nama, yaitu cumulus, cumulonimbus dan stratocumulus.

Awan ini ditandai oleh bentuknya yang bergumpal-gumpal dan saling bertumpuk. Cumulus dan cumulonimbus adalah tipe awan yang bergumpal-gumpal, sedangkan stratocumulus tidak bergumpal, sedikit menipis dan melebar. Ayat kedua (an-Nµr/24: 43) menjelaskan pembentukan tipe awan ini.

Awan tipe ini dibentuk oleh angin keras yang mengarah ke atas dan ke bawah (“….bahwa Allah menggerakkan awan…”).  Dalam terjemahan Alquran bahasa Inggris, bagian ayat ini diterjemahkan sebagai:  …drives clouds with force… . Mendorong awan dengan kuat. Ketika gumpalan awan terjadi, mereka menyatu menjadi gumpalan awan raksasa, bertumpuk-tumpuk satu sama lain. Pada titik ini, awan cumulus atau cumulonimbus sudah dapat menghasilkan air hujan.

Kalimat selanjutnya dari ayat ini, nampaknya menggambarkan secara khusus terjadinya cumulonimbus, suatu keadaan awan yang dikenal dengan nama awan badai. Tumpukan gumpalan awan yang menjulang ke atas ini apabila di lihat dari bawah mirip dengan bentuk gunung.

Dengan menjulang tinggi ke angkasa maka butir air yang sudah terbentuk akan membeku menjadi butiran es (“….. .lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung….”), Awan cumulonimbus juga menghasilkan ciptaan Tuhan yang sangat berharga, yaitu halilintar (“…kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”)

Ayat lain yang terkait dengan siklus air yang bertalian dengan tahap lain di luar hujan adalah Surah Gafir/23: 18 yang artinya sebagai berikut:

Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya. (Gafir /23: 18)

Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa air hujan diserap oleh tanah tapi tidak hilang. Artinya air tanah masih dapat dialirkan. Dua ayat di bawah ini juga menggambarkan cara aliran air, yaitu aliran permukaan (ar Ra’d/13: 17) dan aliran air tanah (az Zumar/39: 21) yang artinya demikian:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan. (ar-Ra’d/13 : 17)

Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diatur-Nya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkannya –tanaman tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian dijadikan-Nya hancur, berderai-derai. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi yang mempunyai akal sehat. (az-Zumar/39: 21)

Banyak ayat lainnya dalam Alquran yang membicarakan mengenai siklus air, seperti Gafir /40:13; al Mu′minun /23: 18; al Furqan/25: 48; al-‘Ankabµt/29: 63, dan lainnya. Semua ayat-ayat tersebut menyatakan hal yang bersinggungan dengan berbagai ayat yang diacu di muka. Beberapa ayat lainnya juga berbicara mengenai air, namun dengan konteks yang berbeda, seperti yang dapat dilihat dalam surah al Waqi’ah/56: 68-70 yang artinya:

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin. Mengapa kamu tidak bersyukur? (al Waqi’ah/56: 68-70)

Ayat yang berupa kalimat pertanyaan ini menekankan akan ketidak berdayaan manusia dalam mimpi yang paling tua yaitu mengontrol hujan. Fakta memperlihatkan bahwa hujan buatan tidak akan dapat diadakan apabila awan dengan kondisi tertentu tidak tersedia.

Awan tersebut harus memiliki berbagai partikel dalam kadar tertentu, kadar air yang tinggi yang dibawa angin yang naik ke atas, dan terdapat perkembangan tumpukan awan yang mengarah ke atas. Apabila semua karakter ini terdapat pada awan tersebut, barulah hujan buatan dapat dilaksanakan. Akan tetapi, para ahli meteorologi masih mempertanyakan efektivitas cara ini.


Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia


Ayat yang berkenaan dengan siklus air selanjutnya adalah ayat yang menjelaskan mengenai sungai-sungai besar dan lautan.

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tertembus. (al Furqan/25: 53)

Deskripsi sungai besar, muara sungai besar dan laut diwartakan dalam bentuk rasa airnya oleh ayat di atas. Di muara sungai atau estuari, terjadi penggabungan air tawar dan air asin. Namun cara bercampurnya sangat unik. Air tawar yang ditumpahkan ke laut akan tetap tawar sampai jauh ke tengah laut, sebelum benar-benar bercampur dengan air asin. Percampuran terjadi jauh dari mulut sungai di tengah laut.

Satu ayat lagi terkait (tidak langsung) dengan turunnya hujan adalah at Tur/52: 44 yang artinya:

Dan jika mereka melihat gumpalan-gumpalan awan berjatuhan dari langit, mereka berkata: Itu adalah awan yang bergumpal-gumpal. (at Tur/52: 44)

Ayat ini turun untuk menjawab tantangan dari beberapa orang kafir agar Nabi Muhammad menjatuhkan langit di kepala mereka. Mereka menduga bahwa langit adalah lempengan atau kepingan yang menjadi atap dunia. Allah tidak menjawab tantangan mereka di sini dan menjelaskan bahwa mereka hanya akan menemukan awan. Sesuatu yang tidak akan dapat dimengerti oleh mereka pada saat itu.

Orang-orang beriman hanya diperintahkan Allah untuk menjaga konservasi alam ini, karena banyak orang-orang kafir dan durhaka yang menyalahgunakan ilmu pengetahuan untuk merusak alam.

pada akhirnya kesimpulan dari Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22 ini adalah agar orang yang beriman sebagai khalifatullah fil ard bertugas memelihara lingkungan hidup dan memanfaatkannya untuk mencapai kemanfaatan hidup sehingga kesejahteraan dan kebahagiaan dapat dinikmati dan disyukuri oleh setiap manusia. Karena Allah yang memberikan nikmat-nikmat itu, maka manusia wajib menyembah Allah saja.

Allah memberikan semua nikmat itu agar manusia bertakwa dan melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang hamba Allah.

Tugas-tugas itu dapat dipahami dari firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (az Zariyat/51: 56)

Allah swt menguji manusia dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya, dengan firman-Nya:

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. …( al Mulk/67: 2)

Karena manusia telah mengetahui perintah-perintah itu dan mengetahui tentang keesaan dan kekuasaan Allah, maka Allah memberi peringatan, “Janganlah manusia menjadikan tuhan-tuhan yang lain di samping Allah dan jangan mengatakan bahwa Allah berbilang.”


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 23-25


(Tafsir Kemenag)

Mengapa Nama Nabi Muhammad Saw Sedikit Sekali Tersebut Oleh Al-Qur’an?

0
Nama nabi Muhammad
Nama nabi Muhammad dalam Al-Quran

Dulu, penulis bertanya-tanya, mengapa nama Nabi Muhammad saw sedikit sekali tersebut oleh al-Qur’an? Apalagi jika dibandingkan dengan nama nabi-nabi lain yang disebutkan oleh kitab suci umat Islam ini hingga lebih dari 100 kali.

Nama Nabi Musa as misalnya, al-Qur’an menyebutnya hingga 136 kali. Sementara Nabi Ibrahim as tersebut hingga 69 kali. Kemudian di bawahnya ada Nabi Yusuf as yang tertulis sebanyak 58 kali dalam al-Qur’an. Yang paling sedikit adalah Nabi Idris as, Nabi Zulkifli as, dan Nabi Ilyasa’ as yang hanya tersebut dua kali. Nama Nabi Muhammad saw tersebut lebih banyak dari mereka, yaitu 4 kali, sama dengan penyebutan nama Nabi Ayyub as dan Ilyas as.

Jika patokannya adalah penyebutan nama, maka memang sedikit sekali penyebutan nama Nabi Muhammad dalam al-Qur’an. Namun, jika kita pahami bahwa al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka dari situ diketahui bahwa di setiap ayat yang tertulis dalam mushaf al-Qur’an terdapat sosok Nabi Muhammad saw yang menerimanya dan menyampaikannya kepada para sahabat.

Ayat-ayat al-Qur’an bak “dialog” antara Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Layaknya dua orang yang sedang berbicara, kita tidak akan menemukan satu sama lain menyebut nama asli lawan bicaranya, kecuali untuk tujuan disampaikan kepada orang lain atau pihak ketiga. Yang ada adalah kata ganti “aku” atau “kamu”. Maka di balik dua kata itulah tersimpan nama dua orang yang sedang berbincang.

Demikian halnya al-Qur’an yang tidak banyak menyebut kata “Muhammad” di setiap ayatnya. Karena nama itu telah tersimpan di banyak kata ganti (dhamir) “ka” yang berarti “kamu”. Atau “qul” yang merupakan kata perintah “berkata” yang ditujukan untuk Nabi Muhammad saw. Juga bentuk kata ganti (dhamir) lain, baik yang muttashil (tersambung) atau munfashil (terpisah). Maka betapa banyaknya nama “Muhammad” disebutkan oleh al-Qur’an jika dhamir-dhamir itu ditampakkan kata asalnya.

Baca Juga: Mengenal Nabi Muhammad saw Lebih Dekat Melalui Al-Quran dan Hadis

Dalam banyak konteks, Allah swt memanggil nama Nabi Muhammad saw dengan “ya ayyuhan-Nabiy” atau “ya ayyuhar-Rasul” yang berarti “wahai Nabi” atau “wahai Rasul”. Panggilan seperti ini menunjukkan kedekatan, keakraban, kesayangan, atau bahkan penghormatan dari Allah swt untuk Rasulullah saw.

Seorang anak, jika ingin memanggil ayah atau ibunya, maka ia tidak lantas menyebut nama aslinya secara langsung. Dalam konteks Indonesia, panggilan anak kepada orang tua dengan menyebut nama asli secara langsung justru dapat dinilai tidak sopan. Maka umumnya sang anak akan memanggilnya dengan kata “ayah” atau “ibu” sebagai bentuk penghormatan, kedekatan, atau kesayangan. Demikian halnya orang tua yang memanggil “nak” kepada buah hatinya.

Begitu juga seorang suami jika ingin memanggil istrinya, maka panggilan “sayang” akan lebih romantis dan menunjukkan kedekatan sekaligus kecintaan. Bahkan suami tidak perlu menambahi kata “ku” setelah kata “sayang” untuk menunjukkan kepemilikan. Karena kata “sayang” dalam konteks ini sudah ma’rifat (khusus) tertuju hanya kepada istrinya, sehingga tidak membutuhkan pengkhususan lagi.

Dari sini dapat dimengerti mana kala Allah swt menyebut “ya ayyuhan-Nabiy” atau “ya ayyuhar-Rasul”, karena yang dimaksud dari kata tersebut tidak lain adalah sosok Nabi Muhammad saw, lawan “dialog”-Nya dalam al-Qur’an. Secara psikologi, panggilan semacam ini akan lebih mengena dan menunjukkan kesayangan terhadap lawan bicaranya.

Penyebutan nama “Muhammad” secara langsung dalam al-Qur’an terdapat dalam: 1) Q.S. Alu Imran: 144, yang menyatakan akan kerasulan Muhammad di mana sebelumnya telah ada rasul-rasul yang telah wafat, 2) Q.S. al-Ahzab: 40, yang menyatakan bahwa Muhammad saw adalah rasul terakhir, 3) Q.S. al-Fath: 29, yang juga menegaskan Muhammad saw sebagai rasul (utusan) Allah. Dan 4) Q.S. Muhammad: 2, yang berbicara tentang orang-orang yang beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Ada yang menarik dari Q.S. al-Fath: 29 yang berbunyi:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ …

“Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”

Mengenai ayat ini, penulis teringat dawuh Kiai Sya’roni Ahmadi Kudus yang mengatakan, “jika membaca ayat ini maka berhentilah (waqf) pada kata ‘rasulullah’, jangan di-washal (sambung).” Hal itu dimaksudkan agar kita tidak memasukkan Nabi Muhammad saw sebagai bagian dari orang yang keras kepada orang kafir. Dengan kata lain, posisikan statemen “Muhammad adalah utusan Allah” sebagai satu kalimat tersendiri. Sementara “dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir” menjadi kalimat baru.

Dalam pandangan Kiai Sya’roni, secara umum Nabi Muhammad saw tidak bersikap keras terhadap orang kafir. Memang dalam beberapa ayat perang, misalnya Q.S. al-Tawbah: 73 dan Q.S. al-Tahrim: 9, Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq serta bersikap keras kepada mereka. Akan tetapi, keramahan dan kelemahlembutan beliau mendahului sifat kerasnya. Dan memang beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana termaktub dalam Q.S. al-Anbiya’: 107.

Kiai Sya’roni menyontohkan bahwa pada dasarnya Nabi saw enggan bermusuhan dan berperang melawan mereka, namun para sahabat memintanya sehingga turunlah ayat izin perang (Q.S. al-Hajj: 39). Dari 27 peperangan yang diikuti, beliau hanya pernah membunuh satu orang dari kalangan kafir, yaitu Ubay ibn Khalaf. Ini terjadi ketika Perang Uhud, di mana sebelumnya Ubay memang bertekad ingin membunuh Nabi saw, sehingga demi membela dan mempertahankan diri serta adanya perintah dari Allah swt, Nabi saw pun membunuhnya.

Kelembutan dan keramahan Nabi saw dicontohkan oleh Kiai Sya’roni melalui peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan kota Makkah). Ketika itu para sahabat yang mengikuti Fathu Makkah ini berencana untuk membalas kematian sahabat, saudara ataupun keluarga mereka yang dibunuh oleh orang-orang kafir.

Namun Nabi saw memiliki pemikiran dan sikap berbeda. Sesampainya di Makkah, saat orang-orang kafir ketakutan dan khawatir dibunuh, justru Nabi saw bersikap lemah lembut. Mereka dikumpulkan di Masjidil Haram terlebih dahulu, lalu malah dilepaskan oleh Nabi saw. Sekiranya mau, beliau dapat membunuh mereka atau menjadikan mereka sebagai tawanan. Namun Nabi saw tidak menginginkan pertumpahan darah. Ia menginginkan perdamaian.

Pemahaman Kiai Sya’roni terhadap Q.S. al-Fath: 29 ini sesuai dengan uraian Imam al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb dan Syekh Wahbah Zuhayli dalam Tafsir al-Munir, meskipun keduanya juga tidak menampik adanya penafsiran lain yang memasukkan Nabi Muhammad saw ke dalam golongan orang yang bersikap keras terhadap orang kafir.

Prof. Quraish Shihab termasuk mufasir yang berpandangan demikian. Namun ia memahami kata “keras” dalam ayat ini dengan arti “tegas”, yakni tidak berbasa-basi yang dapat mengorbankan akidah. Bahwa Nabi saw dan para sahabatnya bersikap tegas terhadap orang kafir.

Baik Kiai Sya’roni maupun Prof. Quraish Shihab, meskipun berbeda sudut pandang, keduanya sama-sama ingin menghindarkan sifat “keras” dari pribadi Rasulullah saw. Karena terlampau banyak bukti yang menunjukkan kelembutan beliau terhadap siapapun, orang Islam maupun non-Muslim.

Semoga kita dapat meniru akhlak Nabi Muhammad saw yang kita peringati kelahirannya hari ini. Amiin.

Shallallahu ‘ala Muhammad, Shallallahu ‘ala Muhammad, Shallallahu ‘ala Muhammad, Shallallahu ‘alayhi wa sallam…

Mushaf bu Tien yang Menawan: Cara Soeharto Mengenang Almarhumah Istrinya

0
mushaf Bu Tien
mushaf Bu Tien

Di Indonesia terdapat salah satu mushaf yang dinisbatkan untuk almarhumah ibu negara oleh suaminya yang saat itu menjadi presiden. Ya, Soeharto mempersembahkan sebuah mushaf yang menawan untuk mengenang sosok istrinya Fatimah Siti Hartinah Soeharto. Mushaf ini kemudian dikenal dengan nama Mushaf Bu Tien.

Bu Tien meninggal pada tanggal 28 April 1996. Sementara ide untuk membuat mushaf ini terlaksana pada tahun 1998 awal. Tentu kondisi perpolitikan saat itu sedang tidak kondusif, bahkan sudah masuk pada menit-menit akhir kepemimpinan Soeharto setelah 32 tahun berkuasa. Namun Mushaf ini tetap dikerjakan selama 11 bulan dan bisa selesai peluncurannya saat acara 1000 hari kematian almarhumah, pada tahun 1999.

Catatan mengenai mushaf ini dapat diakses pada booklet yang diluncurkan tahun 1999. Mengenai penamaan mushaf, ternyata terinspirasi mushaf-mushaf yang pernah dibuatkan khusus untuk perempuan di Kairo dan India. Mushaf yang di Kairo itu bernama Mushaf Khwan Barokah yang dibuat pada masa Sultan Sha’ban abad XIV. Sementara mushaf yang di India bernama Mushaf Malika Jahan yang ditulis oleh putri dari kerajaan Oudh abad XVIII.


Baca juga: Mushaf Istiqlal, Masterpiece Kebudayaan Islam di Era Soeharto


Dalam booklet ini juga tercantum alasan pembuatannya. Disebutkan bahwa mushaf Bu Tien dibuat untuk menghormati dan mengingatkan jasa almarhumah sebagai ibu negara sekaligus ibu keluarga. Adapun karkater kuat yang ditampilkan mushaf ini ada lima poin utama. Pertama mushaf ini mudah dibaca, kedua memiliki niali seni tinggi, ketiga menunjukkan ciri kebangsaan, keempat menunjukkan ciri khas yang mengenang almarhumah Bu Tien. Terakhir menunjukkan citra dan aspirasi Bu Tien terhadap agama, bangsa dan tanah air.

Untuk yang terakhir tadi secara khusus memang berkiatan dengan gagasan pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, yang mana di dalamnya juga ada Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal. Selain itu, peranan Bu Tien dalam membangun taman-taman bunga, hingga preservasi pohon langka juga menjadi perhatian tersendiri.  Oleh karena jasa Bu Tien tersebut, maka mushaf dan illuminasinya pun dibuat untuk mewakili apa yang telah dilakukannya.

Dalam pembuatan mushaf yang hanya memakan waktu 11 bulan ini, memang ditangani oleh tim yang professional. Dalam catatan struktur organisasi pelaksanaan mushaf Bu Tien, terdapat beberapa divisi seperti kaligrafi, pewarnaan, Komputer grafik, desain, fotografi, percetakan, hingga bagian pentashihan. Secara keseluruhan mendekati 100 orang yang masuk struktur organisasi tersebut.

Keistimewaan Mushaf Bu Tien

Mushaf dengan nama lengkap Al Qur’an Al Karim: Al Qur’an Mushaf Hjh. Fatimah Siti Hartinah Soeharto ini berukuran 73 cm x 102 cm. Kaligrafi yang digunakan merupakan khat naskhi dan tsuluts, yang mana merujuk pada mushaf standar Indonesia. Pola barisnya terdiri dari 15 baris yang banyak diikuti oleh mushaf Arab Saudi. Jumlah desain iluminasinya mencapai 93 desain dengan kertas bahan Hammer Durex, cat iluminasinya dari akrilik tahan air, dan warna emasnya menganding serbuk serta lembaran emas 24 karat.

Adapun iluminasi dalam mushaf Bu Tien, mengandung makna filosofis berdasarkan kecintaan almarhumah terhadap bunga-bunga yang terdiri dari melati, kenanga, mawar, dan mayang kelapa. Melati mewakili lambang kesederhanaan, kesucian dan keelokan budi. Kenanga sebagai lambang agar mencapai segala keluhuran yang telah dicapai oleh para pendahulu. Mawar sebagai lambang cinta, kasih sayang dan penghormatan. Dan mayang kelapa lambang keberuntungan, kemakmuran dan kesejahteraan.


Baca juga:Empat Presiden Indonesia dan Warisan Mushaf Nusantara


Perihal perpaduan warna, Bu Tien menyukai warna cerah yakni ungu, kuning, dan merah bata yang dapat diartikan sebagai sifat optimistik dan dinamik. Selain itu juga warna-warna yang melambangkan kedalaman, seperti emas, biru, dan hijau. Motif lain juga ditampilkan seperti batik-batik khas Indonesia yang mana berkaitan dengan sifat-sifat manusia. Pola dari Solo dan Yogyakarta seperti Sido Asih, Sido Mukti, Sido Mulyo, Sido Luhur dan pola lainnnya menghiasi mushaf ini.

Adapun motif iluminasi setiap juznya merupakan ekspresi ragam hias yang mewakili dari berbagai provinsi Indonesia. Inilah yang kemudian disebut sebagai sumbangsih Soeharto dalam seni mushaf Indonesia, terlebih setelah sukses membuat mushaf Istiqlal pada tahun 1995. Tak dapat dipungkiri,  di akhir kepemimpinan Soeharto memang memberikan perhatian lebih untuk seni yang luhur ini.

Wallahu a’lam bi al-shawab[]

Mengenal Nabi Muhammad saw Lebih Dekat Melalui Al-Quran dan Hadis

0
mengenal Nabi Muhammad
mengenal Nabi Muhammad

Nabi Muhammad adalah manusia yang paling sempurna akhlak dan fisiknya, keluarga dan nasabnya, ilmu dan hikmahnya, sifat dan syafaatnya. Tiada satu pun kekurangan yang ada pada diri Nabi. Para sahabat mengagumi Nabi dengan menyatakan “Nabi diciptakan dengan penciptaan yang sempurna, seakan-akan Nabi diciptakan sesuai dengan yang ia inginkan. Untuk itu sangat terhormat jika kita dapat mengenal Nabi Muhammad lebih dekat, baik melalui Al-Quran maupun hadis.

Dengan harapan, perkenalan ini menjadikan kita lebih mencintai Rasulullah lebih dalam dan meneladaninya dalam kehidupan kita.

Ada beberapa ciri fisik Nabi diperkenalkan dalam Al-Quran, misal di surat An-Najm ayat 17. Di situ dijelaskan tentang sifat kedua mata Nabi.

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى

‘Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya.’

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Nabi Muhammad Saw Adalah Suri Tauladan Bagi Manusia

Mengenal Nabi Muhammad dari nasabnya

Nabi dilahirkan dari nasab yang mulia dan terhormat. Ketika zina menjadi tradisi yang mengakar bangsa Arab saat itu, Nabi dilahirkan dari keluarga yang tidak pernah berzina. Dari Nabi Adam hingga ibunya, Siti Aminah tidak ada satupun garis nasab Nabi yang melahirkan putra mereka dengan berzina, semuanya memiliki keturunan melalui jalur pernikahan yang sah.

Garis nasab Nabi adalah nasab terbaik di antara nasab yang ada saat itu. Dari Ibnu ‘Abbas berkata, Nabi saw bersabda: “aku tidak dilahirkan dari hasil zinanya jahiliyah, seluruh nasabku tidak dilahirkan kecuali dengan nikah yang berdasarkan Islam.”

Nabi adalah keturunan Bani Hasyim, kabilah yang paling mulia dan utama pada masa itu. Berdasarkan Hadis dari Aisyah ra. yang bersumber dari Nabi, Jibril berkata: setelah aku mengelilingi barat dan timur aku tidak menemukan seseorang pun yang keutamaannya melebihi Nabi Muhammad saw, dan aku tidak melihat kabilah yang lebih utama dari Bani Hasyim. Nasab Nabi Muhamamd adalah nasab yang paling terhormat dan kehormatannya bersifat abadi, dari waktu ke waktu tidak dapat ditandingi.

Selain dilahirkan dari garis keturunan yang mulia, Nabi juga diciptakan dengan sangat sempurna. Seluruh anggota tubuhnya menunjukkan kesempurnaan, diciptakan dengan sangat proporsional tidak terlalu tinggi juga tidak pendek, tidak gemuk dan juga tidak kurus. Semuanya indah, barang siapa yang telah melihatnya dalam mimpi sekalipun tidak akan dapat melupakan kesempurnaan Nabi. Sebagaimana syair indah yang didendangkan Imam Al-Bushiri untuk Nabi:

فهو الذى تمّ معناه و صو رته                        ثم اصطفاه حبيبا بارئ النسم

منزه عن شريك في محا سنه                        فجوهر الحسن فيه غير منقسم

Syair ini secara implisit menyatakan bahwa Nabi memiliki kesempurnaan dalam badan dan keindahan wajahnya dan kesemuanya juga ditambah dengan kesempurnaan Iman Nabi. Aisyah ra. berkata: Wajah Rasulullah selalu bercahaya seakan cahaya rembulan yang terus menyala dikegelapan malam.

Jabir bin Samrah menceritakan bahwa ia melihat wajah Nabi di bawah sinar rembulan yang terang, namun wajah Nabi lebih indah dan bersinar dibanding sinar rembulan di malam purnama. Kesempurnaan wajah Nabi juga diikuti dengan pancaran aura kenabian yang dapat membuat hati yang memandangnya menjadi sangat tenang, khusyu’ dan tawadlu’.

Baca Juga: Ikutilah Nabi Muhammad Saw Niscaya Allah Mencintai Dirimu

Mengenal Nabi Muhammad dari sifat fisiknya

Dalam kitab shahih disebutkan, Sesungguhnya Rasulullah ketika melihat dikegelapan malam seperti melihat di siang hari yang terang, dan ketika melihat dari belakang seperti melihat dari depan.

Apabila Nabi menoleh, maka kedua matanya juga akan ikut menoleh, pandangan matanya sangat menyejukkan dan Nabi banyak melihat ke bawah dibanding ke atas (langit). Dahi Nabi juga sangat proporsional tidak terlalu luas namun juga tidak tampak sempit, kedua alisnya panjang namun tidak bersambung antara keduanya, sehingga tampak sempurna.

Hidung Nabi juga tinggi dari atas, yaitu tengah antara kedua mata. Namun ketinggiannya juga tidak berlebih. Hidungnya luas namun tidak tampak besar dibawahnya. Nabi juga memiliki mulut yang selalu harum. Giginya bersih rapi, tidak saling menumpuk dan tampak putih bersih, karena Nabi selalu bersiwak setiap akan melaksanakan shalat, setelah makan, akan tidur dan bangun tidur.

Wajah Nabi, selain memiliki bentuk yang sempurna, juga mengeluarkan dua keagungan; yaitu aura kemuliaan dan keagungan, serta cahaya yang bersinar terang. ‘Amr bin ‘Ash berkata; Jika aku melihat Nabi, Aku tidak sanggup menahan mataku yang dipenuhi dengan aura keagungannya.

Dan karena keagungan aura kenabian yang terpancar dari dalam diri Nabi, ketika para sahabat duduk bersama beliau, mereka sangat bergetar hatinya dengan getaran yang sangat hebat. Ibnu Abbas berkata; ketika Nabi berkata bagaikan mengeluarkan cahaya dari kedua bibirnya.

Nabi diciptakan dengan sangat sempurna, dan beliau pun menjaganya dengan sangat sempurna. Nabi menjaga seluruh anggota tubuhnya, pakaiannya, lingkungannya, rumah dan masjidnya. Nabi juga selalu membersihkannya sendiri.  Selain itu, Nabi memiliki suara yang sangat mulia, Indah dan menenangkan.

Anas ra. menyatakan: Allah tidak mengutus Nabi kecuali memiliki wajah yang tampan dan suara yang Indah, Dan Nabi kalian (yaitu Muhammad) memiliki suara dan wajah yang paling indah dibanding sebelumnya. Al-Barra’ bin ‘Azib berkata; Rasulullah membaca surat al-Tin dalam sholat Isya’, dan aku tidak pernah mendengar suara seindah beliau.

Baca Juga: Tafsir Al-Qalam 2-4: Pujian Allah terhadap Budi Pekerti Mulia Rasulullah

Mengenal Nabi Muhammad, manusia yang sempurna

Nabi memiliki hati yang paling baik, sangat lapang, takwa, bersih, lembut dan penyayang. Hati Nabi selalu terjaga sekalipun Nabi tidur. Hati Nabi selalu menghadap Allah swt. dan tidak  pernah lalai sedikitpun dari-Nya. Pernah ketika Nabi akan mendirikan shalat malam, Aishah bertanya; ya Rasulullah tidur atau tidakkah engkau sebelum sholat witir? Rasulullah menjawab; “ wahai Aisyah, ketika kedua mataku tiidur hatiku tetap terjaga.

kesempurnaan Nabi tidak akan pernah habis dikisahkan, namun hakikatnya kesempurnaan Nabi adalah untuk menunjukkan kemaha Agungan dan Sempurnaan Dzat yang menciptakan. Mencintai Nabi dapat mengantarkan kita dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala, mentaati Nabi juga mengantarkan kita mentaati-Nya. Semoga kita adalah umat yang selalu mendapat syafaat Nabi di dunia dan di akhirat, berjumpa dengan Nabi setiap mata kita terpejam dan meneladaninya setiap kita terbangun. Aamiin.

*)Tulisan ini disarikan dari kitab Insan al-Kamil karya Syaikh Muhammad Alwi Al Maliki

Tafsir Surat Al An’am Ayat 91-92

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Setelah pada ayat yang lalu Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengikuti jejak nabi-terdahulu, dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 91-92 ini Nabi Muhammad saw diperintah untuk menjelaskan  tentang Nabi Isa as kepada orang Yahudi yang ingkar.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 89-90


Orang-orang yang ingkar dalam penjelasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 91-92 ini adalah orang-orang Yahudi. Mereka mengaku beriman kepada Taurat namun tidak mengamalkannya dengan sepenuh hati.

Lebih lanjut dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 91-92 ini ditegaskan bahwa seharunya orang-orang Yahudi yang mengaku percaya Taurat juga percaya pada Alquran. Karena kitab ini merupakan penyempurna bagi kitab-kitab sebelumnya.

Ayat 91

Allah menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi telah menyimpang dari agama tauhid dan tidak mengikuti ajaran agama mereka dan telah mengkhianatinya. Gejala-gejala itu nampak pada sikap mereka. Mereka tidak menghormati keagungan Allah dengan penghormatan yang seharusnya diberikan.

Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menurunkan kitab kepada seorang manusia pun. Perkataan mereka adalah bukti dari keingkaran mereka kepada Alquran. Hal ini berarti mereka tidak mengakui bahwa Allah berkuasa memberikan hidayah kepada manusia selain mereka, untuk kemaslahatan manusia sesuai dengan kehendak-Nya.

Keingkaran mereka terhadap Alquran itu bukanlah timbul dari pikiran yang jernih, dan bukan pula mereka peroleh keterangannya dari kitab-kitab yang diturunkan sebelum Alquran akan tetapi keingkaran mereka itu adalah keingkaran yang tidak pada tempatnya.

Oleh sebab itu, Allah memerintahkan kepada Muhammad agar menerangkan kepada kaumnya yang ingkar itu, agar mereka ingat bahwa Allah telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa. Dengan kitab itu Nabi Musa membawa kaumnya kepada agama tauhid dan terhindar dari kemusyrikan.

Allah mengungkapkan kejahatan yang dilakukan oleh Bani Israil yang telah menyimpang dari kitab Taurat dan Injil. Mereka menyampaikan kitab-kitab itu tidak seutuhnya, ada bagian-bagian yang disampaikan dan ada bagian yang disembunyikan, sehingga timbullah perbedaan paham di kalangan mereka.

Sebabnya tidak lain karena mereka dipengaruhi oleh pemimpin yang menyuruh mereka memperturutkan hawa nafsu, bahkan dalam hal menyelesaikan persengketaan, mereka menampakkan hukum-hukum yang terdapat dalam Taurat itu apabila hukum itu sesuai dengan keinginan mereka.

Tetapi apabila hukum itu bertentangan dengan kehendaknya, hukum itu ditinggalkan. Di antara ketetapan hukum yang mereka sembunyikan itu ialah hukum rajam, dan berita tentang kedatangan Nabi Muhammad.

Tujuan dari diungkapkannya kembali kejahatan nenek moyang mereka adalah untuk mengetuk hati mereka, agar mereka dapat menilai kenyataan yang sebenarnya dan mengakui kebenaran Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Allah menyerukan kepada orang-orang musyrik agar menerima ajaran wahyu yang disampaikan Allah kepada Muhammad. Kitab itu mengandung ajaran yang membukakan tabir rahasia, yang tidak diketahui oleh mereka sendiri dan oleh nenek moyang mereka.

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa pernyataan mereka yang menyebutkan Allah tidak menurunkan kitab kepada manusia, adalah tidak benar, dan menyuruhnya menanyakan kepada mereka, siapakah yang menurunkan Taurat kepada Musa. Pernyataan yang tegas ini merupakan tantangan bagi perkataan mereka.

Pada akhir ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya bahwa setelah mereka mendapat keterangan-keterangan yang telah terbukti kebenarannya itu, tetapi mereka masih tetap tidak mau menyadari dan tidak mau percaya juga akan kebenaran Alquran, agar membiarkan mereka dalam kesesatan ditelan arus kebatilan dan kekafiran.


Baca juga: Aplikasi Pendekatan Tafsir Maqashidi Atas Surat al-Mujadilah: Perlawanan Perempuan Terhadap Diskriminasi


Ayat 92

Allah menjelaskan bahwa Alquran adalah kitab yang mulia, diturunkan kepada Nabi Muhammad penutup para rasul, kitab itu turun dari Allah seperti halnya Taurat yang diturunkan kepada Musa, hanya saja Alquran mempunyai nilai-nilai yang lebih sempurna karena Alquran berlaku abadi untuk sepanjang masa.

Alquran, di samping sebagai petunjuk, juga sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dalam urusan tauhid, melenyapkan kemusyrikan dan mengandung ajaran-ajaran dasar hukum syara’ yang abadi yang tidak berubah-ubah sepanjang masa.

Alquran juga sebagai pegangan bagi Rasulullah untuk memperingatkan umatnya, baik yang berada di Mekah atau di sekitar kota Mekah, ialah orang-orang yang berada di seluruh penjuru dunia. Dimaksud dengan orang-orang yang berada di sekitar kota Mekah, dan orang-orang yang berada di seluruh penjuru dunia, sesuai dengan pemahaman bahasa yang ditegaskan oleh Allah:

وَاُوْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْقُرْاٰنُ لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ

Alquran ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Alquran kepadanya). (al-An’am/6: 19);Juga firman Allah:

قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا

Katakanlah (Muhammad), ”Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua…” (al-A’raf/7: 158);Sabda Nabi:

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

(رواه البخاري ومسلم عن جابر بن عبد الله)

“Semua nabi itu diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdullah)

Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang percaya akan terjadinya hari Kiamat dan kehidupan di akhirat, sudah pasti mereka percaya kepada Alquran, karena orang-orang yang percaya kepada kehidupan akhirat itu percaya pula akan akibat yang diterima pada hari itu.

Itulah sebabnya mereka selalu mencari petunjuk-petunjuk yang dapat menyelamatkan diri mereka di akhirat kelak. Petunjuk-petunjuk itu terdapat dalam Alquran, maka mereka tentu akan mempercayai Alquran, percaya kepada Rasulullah yang menerima kitab, taat kepada perintah Allah, serta melaksanakan salat pada waktunya secara terus menerus.

Disebutkan salat dalam ayat ini, karena salat adalah tiang agama, dan pokok dari semua ibadah. Orang yang melaksanakan salat dengan sebaik-baiknya adalah pertanda bahwa orang itu suka melaksanakan ibadah lainnya, serta dapat mengendalikan hawa nafsunya untuk tidak melakukan larangan-larangan Allah.

Dalam ayat ini terdapat sindiran yang tegas yaitu adanya keingkaran penduduk Mekah dan manusia-manusia yang mempunyai sikap seperti mereka kepada Alquran; dan menjelaskan bahwa mereka tidak mau menerima agama Islam serta kerasulan Muhammad karena mereka tidak percaya kepada kehidupan akhirat. Mereka merasa bahwa kehidupan hanya terjadi di dunia saja.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 59: Bentuk Dukungan Rasulullah Terhadap Pemimpin dan Ulama

0
Dukungan Rasulullah kepada pemimpin dan ulama
Dukungan Rasulullah kepada pemimpin dan ulama

Bentuk dukungan Rasulullah terhadap pemimpin dan ulama tertera dalam Al-Quran. Dukungan ini adalah bentuk dukungan positif terhadap kontrol sosial, demi suksesnya tugas-tugas yang mereka emban. Maka, Surat An-Nisa’ ayat 59 turun, untuk memberi isyarat berbagai lembaga yang hendaknya diwujudkan umat Islam dalam rangka menangani urusan mereka, baik itu adalah pemimpin legislatif, yudikatif, atau eksekutif.

Selain sebagai bentuk dukungan Rasulullah terhadap ulama dan pemimpin Islam, ayat ini juga dipahami untuk menekankan perlunya mengembalikan  segala urusan  kepada Allah dan RasulNya, khususnya jika muncul perbedaan pendapat dalam ulama atau pemimpin, maka kembalikanlah pada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnah).  Berikut Surat An-Nisa’ ayat 59:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Ra-sul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.

Baca juga: Siapa yang Disebut Ulama? Simak Penafsiran Surat Fathir Ayat 28

Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 59

Menurut penafsiran Sayyid Qutub  pada kitab Tafsir fi Dzilalil qur’an Jilid II, Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 59, Allah SWT menjelaskan Syarat Iman dan batasan Islam. Dalam waktu yang sama dijelaskan pulalah kaidah Nidzam Asasi (Peraturan Pokok) bagi kaum muslimin, kaidah hukum dan sumber kekuasaan. Semuanya diawali dan diakhiri dengan menerimanya dari Allah saja, dan kembali kepadaNya saja mengenai hal-hal yang tidak ada nashnya.

Seperti urusan-urusan parsial yang terjadi dalam kehidupan manusia sepanjang perjalanan dan dalam generasi yang berbeda-beda pemikiran dan pemahaman dalam menanggapinya. Untuk itu semua, diperlukanlah timbangan yang mantab agar menjadi tempat kembalinya akal, pikiran, dan pemahaman mereka.

Allah wajib ditaati diantara hak prerogatif uluhiyah ialah dalam menetapkan Syariat. Maka. Syariat Allah wajib dilaksanakan. Orang-orang yang beriman wajib taat pula kepada Rasulullah karena tugasnya adalah mengemban Risalah dari Allah, karena itu menaati Rasulullah berarti menaati Allah. Dan Allah telah mengutus Rasul untuk membawa Syariat dan menjelaskannya kepada manusia di dalam Sunnahnya. Sunnah dan keputusan beliau dalam hal ini adalah bagian dari Syariat Allah yang wajib dilaksanakan. Iman itu ada atau tidaknya tergantung pada ketaatan dan pelaksanaan syariat ini.

Baca juga: Rambu-Rambu Ketaatan Terhadap Pemimpin: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 59

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa selain taat kepada Allah SWT, RasulNya, dan juga ulil amri.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ

Hal ini membuktikan bahwa Allah pun mendukung ulil amri berhak untuk di taati. Akan tetapi konteks pemaknaan ulil amri ini menyebabkan adanya perbedaan pendapat dari kalangan mufassir. Menurut Sayiid Qutub , Ulil amri ialah seseorang yang ada di kalangan orang mukmin sendiri, yang telah memenuhi syarat iman dan batasan Islam yang dijelaskan dalam ayat itu, serta taat kepada Allah dan Rasul, dan juga yang mengesakan Allah SWT sebagai pemilik kedaulatan hukum dan hak membuat syariat bagi seluruh manusia, maka dia bisa datang dari kalangan ulama.

Sedangkan menurut Quraish Shihab, ulil amri ialah tidak harus orang yang mampu memimpin lembaga atau instasi, akan tetapi bisa jadi dia adalah perorangan yang memiliki tujuh syarat ulil amri. Tujuh tersebut ialah, muslim, laki-laki, merdeka, berakal, baligh, adil, dan berkemampuan (ahlul kifaah wa al qudrah). Maka, ulil amri ini bisa dia adalah seorang polisi yang mengemban tugas mengatur lalu lintas, dengan begitu polisi perlu juga untuk di taati.

Dukungan Rasulullah untuk Menaati Ulil Amri

Turunnya Surat an-Nisa ayat 59, sungguh membuktikan bahwa Allah dan Rasul juga memberikan dukugan terhadap ulil amri (orang yang taat kepada Allah dan RasulNya). Karena pada ayat tersebut tertulis bahwa taatilah Allah SWT , RasulNya, serta ulil amri diantara kalian. Maka, Allah juga mengizinkan untuk taat pada orang yang memiliki sifat Ulil amri, meski dia bukan seorang Rasul sekalipun. Lantas seperti apa jelasnya ulil amri?

Setelah memahami penafsiran ayat di atas, bahwa pada penafsiran Quraish Shihab dan Sayyid Qutub juga memiliki persamaan. Yakni sama-sama mengatakan bahwa Ulil amri adalah seorang yang mempunyai kewenangan untuk memimpin diri sendiri atau lembaga.

Selain itu juga memiliki jiwa keislaman yang kuat, baik itu maksudnya ialah bertaqwa terhadap Allah dan RasulNya. Maka, di sini bisa seorang ulama, khalifah atau pemimpin yang memiliki instansi, bisa pula perorangan yang mampu ditaati atau dipatuhi perintahnya. Karena taat pada ulil amri merupakan pengembangan taat kepada Allah SWT dan Rasul.

Baca juga: Inilah 4 Karakter Kepemimpinan Transformatif Menurut Al Quran

Dengan demikian, artinya Islam menjadikan setiap orang sebagai pemegang amanat terhadap Syariat Allah dan RasulNya, baik itu untuk imannya sendiri dan agamanya. Sehingga Al-Quran pun menyebutkan untuk taat kepada orang yang mengedepankan ketaatan kepada Allah dan rasulNya, maka ia berhak untuk di taati. Islam tidak menjadikan manusia sebagai binatang dalam komunitasnya, yang digertak dahulu dari sana sini baru mau mendengar dan mematuhi. Boleh orang muslim mendengar orang yang ia sukai, asalkan orang tersebut tidak memerintah untuk berbuat maksiat. Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al An’am Ayat 89-90

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 89-90 ini menyambung pembahasan yang lalu tentang keutaman yang dimiliki oleh keturunan Nabi Ibrahim as serta kerabatnya. Lebih jelas lagi ditegaskan bahwa Nabi Ibrahim as beserta keturunan dan kerabatnya mendapatkan hidayah sebagai pedoman hidup untuk memimpin dan membimbing kaumnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 84-88


Bentuk-bentuk keutamannya pun dijelaskan dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 89-90 ini. Ada yang diberi kitab seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Daud. Ada yang diberi hikmah dan kenabian dan lain-lain.

Pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 89-90 ditutup dengan perintah Allah swt kepada Nabi Muhammad saw agar mengikuti jejak nabi-nabi terdahulu dan juga ditegaskan bahwa Nabi Muhammad diutus kepada seluruh alam.

Ayat 89

Allah menegaskan sekali lagi, bahwa nabi-nabi yang berjumlah 18 orang itu akan mendapat hidayah Allah yang dijadikan sebagai pedoman dalam memimpin kaumnya masing-masing.

Di antara mereka ada yang diberi Kitab yang memuat pedoman-pedoman hidup di dalam memimpin kaumnya ke jalan yang benar serta kemampuan dalam memutuskan perkara-perkara yang terjadi di antara kaumnya, seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Daud, yang diterangkan Allah dalam firman-Nya:

رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ

(Ibrahim berdoa), ”Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (asy-Syu’ara′/26: 83);Firman Allah:

فَوَهَبَ لِيْ رَبِّيْ حُكْمًا وَّجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ

… kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang di antara rasul-rasul. (asy-Syu’ara′/26:21);Firman Allah:

يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ

“Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil…” (Sad/38: 26)

Di antara mereka ada pula yang diberi hikmah dan kenabian untuk menuntun manusia, yaitu mereka yang diutus sezaman dengan Nabi Musa atau sesudahnya, sebelum kedatangan Nabi Isa seperti Harun, Zakaria dan Yahya as.

Juga di antara mereka ada yang diberi hikmah di kala masih kecil seperti Yahya, firman Allah:

يٰيَحْيٰى خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍ ۗوَاٰتَيْنٰهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

”Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak .” (Maryam/19: 12)

Lebih jelasnya, penyebutan nama para nabi dalam konteks Nabi Ibrahim adalah karena beberapa hal sebagaimana uraian di bawah ini:

Para nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat yang lalu, di samping kedudukannya sebagai nabi, juga diberi keistimewaan yang berbeda-beda. Mereka dapat dikelompokkan dalam tiga golongan:

Kelompok yang pertama, yang disebut adalah putra Ibrahim yang tidak berpisah dengannya, yaitu Ishak, lalu cucunya yaitu Ya’kub, karena Ya’kub merupakan ayah dari anak cucu pembawa ajaran ilahi.

Kemudian Nabi Nuh disisipkan dengan tujuan untuk mengingatkan bahwa betapapun tingginya derajat seseorang, ia tidak boleh melupakan leluhurnya. Apalagi Nabi Nuh adalah kakek kesepuluh Nabi Ibrahim yang paling mulia, karena beliaulah manusia pertama yang melarang penyembahan berhala.

Pada ayat 84 disebut nama Nabi Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Nabi Daud dan Sulaiman disebut pertama karena keduanya membangun rumah ibadah (Masjidil Aqsa), seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah.

Penyebutan Nabi Ayyub dan Yusuf secara berurut karena keduanya, walaupun bukan penguasa, tetapi mempunyai pengaruh dan sangat dekat dengan penguasa. Keduanya digabungkan karena memiliki kesamaan, yaitu masing-masing ditinggal oleh keluarga, walau akhirnya keduanya dapat bertemu kembali.

Nabi Musa dan Harun disebut sesudah Yusuf karena Nabi Musa yang dibantu Nabi Harun berhasil menundukkan penguasa pada masanya serta dapat mensejahterakan kaumnya.

Setelah menyebut nabi-nabi yang menjadi raja, lalu penguasa bukan raja, dan nabi yang menundukkan penguasa, maka selanjutnya disebut nabi-nabi yang dikalahkan penguasa. Urutan pertama adalah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, karena keduanya dibunuh penguasa pada masanya.

Kemudian disebut Nabi Isa dan Nabi Ilyas, karena keduanya akan dibunuh, tetapi berhasil diselamatkan Allah. Akhirnya disebut nama nabi-nabi yang berhubungan dengan kekuasaan, yaitu Ismail, Ilyasa, Yunus dan Lut.

Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa tiap-tiap nabi yang diberi Kitab tentu diberi pula hikmah atau kearifan sebagai senjata untuk memutuskan perkara di samping diberi nubuwah. Akan tetapi tidak semua Nabi diberi kekuasaan memutus perkara dan diberi Kitab.

Allah menegaskan bahwa apabila orang-orang musyrik penduduk Mekah dan orang-orang yang mempunyai sifat yang sama, mengingkari Kitab, hikmah dan kenabian yang diberikan kepada para nabi, maka Allah akan menyerahkan derajat kemuliaan yang dijanjikan itu kepada umat lain yang tidak mengingkari apa yang disampaikan oleh nabi itu.

Dimaksudkan dengan orang-orang yang mengingkari keutamaan para nabi ialah orang kafir penduduk Mekah, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang tidak mengingkari ialah penduduk Madinah.


Baca juga: Mushaf Istiqlal, Masterpiece Kebudayaan Islam di Era Soeharto


Ayat 90

Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad dan pengikutnya, bahwa Nabi Ibrahim dan keturunan-keturunannya mendapat keutamaan, petunjuk Allah ke jalan yang lurus. Allah juga memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar mengikuti jejak mereka, memegang agama tauhid, berakhlak mulia dan melakukan perbuatan yang diridai Allah, serta menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang utama, yaitu sabar dalam menjalankan tugasnya dan tabah menghadapi tipu daya serta tantangan kaumnya.

Firman Allah:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ

Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu.  (Hµd/11: 120);Firman Allah:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُوْذُوْا حَتّٰٓى اَتٰىهُمْ نَصْرُنَا ۚ

Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. (al-An’am/6: 34)

Syariat yang berlaku bagi nabi-nabi sebelum kedatangan Nabi Muhammad, adalah juga merupakan syariat bagi umat Islam, selama belum dicabut, diubah ataupun diganti dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

Sedangkan yang abadi dan mempunyai kesamaan adalah dasar-dasar agama tauhid yang tidak berubah sepanjang zaman, sedangkan syariat-syariat dari masing-masing nabi itu dapat berubah-ubah sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan, dan menurut kehendak Allah.

Nabi Muhammad mempunyai derajat yang tertinggi di antara para nabi dan rasul, karena beliau di samping diberi kenabian juga diberi mukjizat yang abadi yaitu Alquran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan karena syariatnya berlaku terus sampai akhir zaman.

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad bahwa dia dalam menyampaikan wahyu dan menegakkan kebenaran, jangan mengharapkan sedikit pun upah dari umatnya sebagaimana juga nabi-nabi terdahulu.

Nabi Muhammad sebagaimana halnya nabi-nabi yang lain tidak mengharapkan imbalan dalam berdakwah. Namun, Nabi Muhammad mengharapkan kasih sayang dalam kekeluargaan, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰى

”Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (asy-Syµra/42: 23)

Pada akhir ayat ini Allah memberikan penegasan bahwa Alquran diturunkan untuk seluruh umat manusia. Ayat ini memberikan isyarat bahwa Nabi Muhammad tidak diutus untuk orang Mekah atau Medinah saja, tetapi diutus untuk seluruh umat manusia di seluruh dunia untuk membimbing mereka ke jalan yang benar dan bebas dari kesesatan.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 91-92


(Tafsir Kemenag)

Bertindak Bijak pada Perilaku Seks Menyimpang, Jangan Benci Pelakunya!

0
Bijak pada Perilaku Seks
Bijak pada Perilaku Seks

Homoseksual atau gay yang sempat menjadi tren dibanjiri reaksi negatif dari sebagian kalangan Muslim. Mungkin homosekstual ini bisa dibenarkan sepanjang ia dimaknai sebagai kecenderungan seksual saja (sex orientation). Karena memang orientasi seks bersifat kodrati, alami, peran perasaan kasih sayang yang tidak bisa dipaksa atau direka. Tetapi orientasi seks yang demikian akan berubah menjadi hal terlarang bila diwujudkan dalam perilaku seks menyimpang. Praktik inilah yang disebut sexual behavior (perilaku seksual) yang menyalahi fitrah manusia. Kendati pun demikian, kita tetap harus bijak pada perilaku seks menyimpang.

Kemudian masalah ini, kita tidak boleh semena-mena mencela pelakunya. “Dimensi Insaniyyah-nya harus kita hormati!”, jelas Abdul Mustaqim, guru besar ilmu al-Quran dan tafsir UIN Sunan Kalijaga dalam Serial Diskusi Tafsir tafsiralquran.id seri 3 (24/10).

Dalam Al-Quran, perilaku seks menyimpang identik dengan kebiasaan kaum Nabi Luth, yang antara lain digambarkan dalam Surat Al-A’raf ayat 80-81, As-Syu’ara ayat 165, dan Al-Ankabut ayat 29. Seluruh ayat itu menunjukkan perilaku seks menyimpang, karena dilakukan pada sesama jenis.


Baca juga: Aplikasi Pendekatan Tafsir Maqashidi Atas Surat al-Mujadilah: Perlawanan Perempuan Terhadap Diskriminasi


Untuk menjawab alasan munculnya larangan perilaku seks sesama jenis, Abdul Mustaqim menjelaskan dengan detil beserta bagaimana cara mengambil sikap bijak tatkala dihadapkan dengan pelaku seks menyimpang ini.

Manusia Diciptakan Berpasang-Pasangan

Berdasarkan teori maqashid, perilaku seks meyimpang ini tidak sejalan misalnya dari analisis linguistik. Hal ini dapat dicermati dari firman Allah dalam Surat An-Nisa’ ayat 1:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Redaksi rijalan dan nisa’ menunjukkan bahwa Allah mengembangbiakkan manusia ke dalam jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dan selanjutnya, diksi azwaj menunjukkan makna pasangan. Maka dapat kita pahami, Allah mencipta laki-laki dan perempuan untuk menjadi pasangan.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Hukuman Zina dan Alasan Perempuan Disebutkan Lebih DuluJ


Pasangan Itu Bersifat Biner

Secara semantik, kata azwaj selalu menunjukkan binary opposition. Binary oposisition dalam kacamata semantik linguistik -sebagaimana Ferdinand de Saussure-, bermakna sistem yang membagi sesuatu menjadi dua hal yang saling berhubungan. Seperti terang dan gelap, pagi dan malam, dan lain sebagainya.

“Kalau kemudian orang berpikir bahwa keberpasangan bisa sejenis itu secara semantik ndak kena, bahasa Al-Quran menggunakan azwaj, keberpasangan selalu menunjukkan oposisi biner”, tegas Abdul Mustaqim.

Maka, sejalan dengan analisis semantik tersebut, azwaj yang notabene bermakna pasangan, pada konteks ayat itu, menunjukkan bahwa perempuan, pasangannya laki-laki. Pun laki-laki, pasangannya selalu perempuan. Kesimpulan itu berdasarkan pelacakan yang dilakukan Abdul Mustaqim dalam Al-Quran, diksi azwaj selalu menunjukkan pasangan yang bersifat biner. Semisal dalam konteks lain ada siang dengan malam, barat dengan timur.

Rasa suka pada sesama jenis yang dilanjut dengan perilaku seks menyimpang sudah pasti dilarang karena menyalahi ketentuan binary opposition di atas, atau dalam sudut pandang maqashid, menyalahi fitrah manusia, yang tercipta berpasang-pasangan.


Baca juga; Mushaf Istiqlal, Masterpiece Kebudayaan Islam di Era Soeharto


Larangan ini juga diisyaratkan dari kisah kaum Nabi Luth. Abdul Mustaqim memperkuat larangan seks sesama jenis ini dengan maqashid dari kisah Kaum Luth. Yakni, kaum yang mendapat azab dahsyat berupa hujan batu sebab perilaku seks sesama jenis. Azab dahsyat inilah yang menunjukkan tahdid (ancaman) kepada umat selanjutnya agar tidak meniru.

Homoseksual Menghalangi Maqashid Hifdzul Nasl (menjaga keturunan)

Konsep pernikahan di dalam Al-Quran antara lain untuk menjaga keturunan (hidzun Nasl). Yang berarti, min haytsul wujud (dari segi produktivitasnya) bisa menjamin eksistensi generasi yang akan datang. Hifdzun nasl yang menjadi salah satu maqashid dalam pernikahan tidak bisa dicapai bila pernikahan dilakukan oleh sesama jenis, karena tidak akan bisa menghasilkan anak biologis.

Karena itu, populasi manusia bisa terjamin bila pernikahan dilakukan dengan lawan jenis. Sehingga, hubungan seks hanya bisa dilakukan melalui peraturan yang legal, yang tak lain pernikahan antara laki-laki dan perempuan.

Tetap Hormati Pelaku Seks Menyimpang

Meski melakukan perbuatan terlarang, pelaku seks menyimpang tersebut juga tetap kita hormati. Tidak boleh kita mengintimidasi dan menghakiminya. Abdul Mustaqim membedakan antara dimensi insaniyyah-nya dengan perilakunya. “sebagai manusia, tetap harus kita hormati dimensi insaniyyahnya. Yang kemudian tidak sependapat adalah perilakunya”, tegas Abdul Mustaqim.

Dengan tetap menghormati pelaku, Hak Asasi Manusia (HAM) bisa terjaga, serta bisa melestarikan toleransi (as-samahah), yang menjadi salah satu maqshad Al-Quran. Begitulah sikap bijak menyikapi perbedaan yang menurut kita tidak sesuai dengan rambu agama. Dengan menjunjung toleransi lewat penghormatan atas dasar kemanusiaan.

Lalu, bagaimana dengan pelaku atau orang yang memiliki kecenderungan seks menyimpang? Abdul Mustaqim mengatakan, ia harus berusaha untuk merubah haluan ke jalan yang semestinya. Karena,–menyitir Ahli Psikologi-, kecenderungan itu masih ada potensi untuk dirubah. Di lain sisi, Abdul Mustaqim juga menggaris bawahi, bahwa perilaku seks menyimpang tidak akan bisa hilang tanpa ada usaha, Sebagaimana firman Allah ‘innallaaha la yughayyiru maa bi qawmin hatta yughayyiruu ma bi anfusihim’ (Allah tidak merubahah nasib kaum sampai mereka merubahnya sendiri”. (Al-Quran, 13:11)


Baca juga: Aplikasi Tafsir Maqashidi, Ulya Fikriyati: Beda Maqashidus Syariah dan Maqashidul Qur’an


Abdul Mustaqim adalah Guru Besar Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang konsen pada kajian Tafsir Maqashidi dan moderasi Islam. Dalam pengukuhan Guru Besar tahun lalu (10/19), Pak Mustaqim menyampaikan Orasi Ilmiahnya bertajuk Argumentasi Keniscayaan Tafsir Maqashidi sebagai Basis Mederasi Islam. Ia aktif dalam berbagai forum diskusi ilmiah baik skala nasional mau pun internasional. Produktivitasnya dalam dunia akademik juga ia buktikan dalam puluhan karya. Di antara karya itu, yang bersinggungan dengan Tafsir Maqashid ialah; at-Tafsir al-Maqashidi (al-Qadayal Mu’asyirah fi Daw’il Quran wassunnah Nabawiyyah), Epistemologi Tafsir Kontemporer, dan Homoseksual dalam Perspektif Al-Qur’an:  Pendekatan Tafsir Kontekstual Al-Maqāṣidī.  Wallahu a’lam[]