Beranda blog Halaman 494

Tafsir Surat Al An’am Ayat 96

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 96 berbicara mengenai perpurataran waktu antara siang dan malam. Dua kejadian tersebut memiliki kegunaan masing-masing. Waktu siang dijadikan sebagai waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan malam dijadikan sebagai waktu untuk istirahat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95


Allah swt dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 96 memerintahkan manusia untuk memikirkan kedua hal tersebut. Khususnya bagi orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah. Sebagaiman telah disinggung pada pembahasan lalu.

Lebih lanjut Tafsir Surat Al An’am Ayat 96 berbicara mengenai fenomena siang dan malam dari sudut pandang sains modern. Disertai pula penjelasan mengenai sistem kalender yang berlaku sampai saat ini.

Ayat 96

Allah menyuruh manusia agar memperhatikan perputaran waktu yang disebabkan oleh peredaran benda-benda langit yang berlaku menurut hukum sebab dan akibat. Allah mengajak manusia memperhatikan alam terbuka yang dapat dilihat sehari-hari. Allah menyingsingkan cahaya pagi yang menghapus kegelapan malam. Cahaya itu tampak di ufuk langit bagian timur sesudah terbitnya matahari sehingga dunia tampak bercahaya terang.

Keadaan ini mereka alami di saat-saat mereka melakukan segala macam kegiatan untuk keperluan hidup mereka. Sebagai kebalikan dari suasana tersebut, Allah mengajak manusia untuk memperhatikan keadaan malam yang gelap. Allah menciptakan malam untuk beristirahat setelah mereka penat karena bekerja di siang hari.

Keadaan ini digambarkan sebagai suasana ketenangan. Suasana yang silih berganti antara siang dan malam seperti keadaan yang mempunyai persamaan dengan perputaran hidup, agar mereka mempunyai pandangan hidup yang lebih luas.

Uraian ilmiahnya sebagai berikut:

Kata husbānā (perhitungan) dalam ayat ini dimaksudkan sebagai perhitungan kalender (penanggalan). Dalam sejarah peradaban manusia, telah terbukti bahwa matahari dan bulan digunakan untuk perhitungan penanggalan.

Penanggalan berbasis pada gerak dan posisi matahari di langit bumi, atau yang dikenal dengan Solar Calendar, telah dilakukan oleh peradaban Barat (berasal dari Romawi dan Yunani), India; sedang peradaban Yahudi, Arab, Cina, juga India menggunakan Lunar Calendar, yaitu perhitungan berbasiskan kepada gerak dan posisi bulan di langit bumi.

Dalam bahasa astronomi, Solar Calendar berbasiskan pada lintasan-orbit bumi terhadap posisi matahari, sedang Lunar Calendar berbasis pada lintasan-orbit bulan terhadap posisi bumi dan matahari.

Dalam dunia astronomi-astrofisika, bulan juga digunakan dalam perhitungan penentuan kestabilan dinamika rotasi (rotational dynamic stability) bumi. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan bulan sangat diperlukan agar precession (perkitaran) bumi pada sumbunya stabil.


Baca juga: Tafsir At-Taubah 128; Potret Cinta Nabi Muhammad Saw pada Umatnya


Bulan memberikan kestabilan dalam dimensi waktu 10-100 tahun, sedang Venus dan Mars memberikan kestabilan dalam dimensi waktu 100-500 tahun. Sedang planet Yupiter dan Saturnus, juga ikut memberikan rotational dynamic stability terhadap bumi kita ini, juga bertindak sebagai shield (perisai) bagi bumi terhadap hamburan meteor yang akan membentur bumi.

Allah menyebutkan sebab-sebab yang mengubah suasana siang menjadi malam yaitu matahari yang beredar menurut waktu-waktu yang telah ditentukan. Sebagai bandingannya disebutkan, bahwa bulan tampak cemerlang di waktu malam. Baik matahari maupun bulan beredar di angkasa raya menurut garis edarnya secara teratur dan tertentu.

Allah menyebutkan matahari dan bulan karena kedua benda langit itulah yang paling menonjol di antara benda-benda langit yang lain, yang secara umum manusia dapat memahami secara mudah kapan matahari dan bulan itu terbit dan kapan benda langit itu terbenam, dengan maksud agar manusia dapat memahami bahwa tiap-tiap kehidupan didahului oleh tiada dan akan kembali kepada tiada pula.

Mengenai manfaat peredaran matahari dan bulan ini Allah menjelaskan selanjutnya dengan firman-Nya:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu).  (Yµnus/10: 5)

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan tiga macam nikmat-Nya yang dapat dinikmati secara langsung oleh manusia yaitu nikmat yang diperoleh mereka tanpa usaha; nikmat cahaya pagi, nikmat ketenangan malam dan nikmat sinar matahari dan bulan agar manusia secara menyeluruh dapat memahami rahmat Allah yang menyeluruh bagi semua makhluk-Nya.

Pada akhir ayat Allah menegaskan bahwa penciptaan yang sangat tinggi nilainya itu, adalah ketentuan Allah sesuai dengan keluasan ilmu-Nya, kebesaran kekuasaan dan ketinggian hikmah-Nya.

Allah berfirman:

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (al-Qamar/54: 49)


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 97-98


(Tafsir Kemenang)

Tafsir At-Taubah 128: Potret Cinta Nabi Muhammad Saw pada Umatnya

0
Cinta Nabi Muhammad kepada umatnya
Cinta Nabi Muhammad kepada umatnya

Di momen bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw seperti saat ini, umat Islam perlu meningkatkan kecintaanya pada Beliau. Salah satunya dengan mengingat-ingat bagaimana besarnya kadar cinta Beliau kepada kita, umatnya. Dalam At-Taubah: 128 dinarasikan sebagian potret cinta Nabi Muhammad Saw pada umatnya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Ayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang rasul dari kalangannya sendiri dan beliau memperlakukan mereka (umatnya) dengan empat sifat mulia. Yaitu bahwa beliau merasa berat atas penderitaan mereka, sangat menginginkan keselamatan mereka, amat mengasihi serta menyayangi mereka.

Al-Biqa’i menafsirkan kata “min anfusikum” dengan merujuk pada ungkapan “nafsah wahidah” di awal surat An-Nisa. Maknanya, bahwa Nabimu sama sepertimu yang merupakan anak cucu Nabi Adam dan Siti Hawa as.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Sementara Nawawi al-Bantani dalam Marah Labid cenderung menafsirkannya spesifik orang Arab suku Quraisy, sebab konteksnya kala itu Al-Quran sedang menyapa mereka.

Namun apabila kata tersebut dibaca “min anfasikum” (fa’-nya difathah) sebagaimana qiraat Fatimah dan Aisyah ra, maka ia bermakna Rasul yang paling mulia dan paling utama dari kalian. Ini selaras dengan HR. Hakim no. 6996 bahwa Nabi Muhammad Saw ialah sosok pilihan yang terbaik di antara seluruh manusia yang ada.

Empat sifat Nabi

Nabi yang diutus dan sebagai yang terbaik dari kalangannya tersebut sangat mencintai umatnya. Ia merasa berat atas penderitaan umatnya. Ia tidak tega melihat mereka tertimpa musibah atau kesulitan di dunia maupun terkena azab di akhirat. Oleh karena itu Nabi menyeru pada pemuka agama untuk tidak memberatkan umat:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari” (HR. Bukhari no. 67).

Sebaliknya, Nabi sangat menginginkan kemanfaatan, kemudahan dan keselamatan bagi umatnya. Makna ini diungkapkan dengan diksi harish yang biasanya digunakan untuk menunjukkan kegigihan dan keinginan kuat seseorang meraih sesuatu.

Dalam konteks agama, Nabi berusaha semaksimal mungkin supaya umatnya mendapatkan hidayah. Dalam kitab Nurul Yaqin misalnya, dikisahkan bagaimana semangat Nabi berdakwah ke kota Ta’if. Meski mendapatkan perlakuan amat buruk dari penduduk Ta’if selama sebulan lamanya di sana, Beliau tidak sudi mereka diazab karenanya, bahkan mendoakan baik keturunan mereka.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Nabi Muhammad Saw Adalah Suri Tauladan Bagi Manusia

Di bagian akhir At-Taubah: 128 diterangkan pula bahwa Nabi Muhammad Saw amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Dua sifat tersebut (rauf dan rahim) juga merupakan di antara sifat Allah yang terangkum dalam al-Asmaul Husna.

Salah satu bentuk kasih sayang Nabi pada umatnya ialah pemberian syafaatul uzma kelak di yaumul hisab (hari perhitungan). Dalam tafsirnya, Ibn Katsir mengutip hadis riwayat Ahmad yang menggambarkan hal tersebut.

ألا وإني آخذ بحجزكم أن تهافتوا في النار كتهافت الفراش أو الذباب

“Ketahuilah, sesungguhnya aku memegang pinggang kalian agar tidak terjatuh seperti terjatuhnya kupu-kupu atau lalat.” (HR. Ahmad no. 3521)

Wahyu yang terakhir turun dan terakhir ditulis

Ayat 128 dari surat At-Taubah ini istimewa tidak hanya karena menarasikan besarnya cinta Nabi Muhammad pada umatnya, ia dan ayat setelahnya juga tercatat secara khusus dalam sejarah Al-Quran, dua ayat terakhir tersebut disebut-sebut sebagai bagian terakhir yang dimasukkan ke dalam mushaf.

Diceritakan pada masa kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq ra, atas usulan Umar ra, diinisiasi pengumpulan Al-Quran dalam satu mushaf setelah sebelumnya ayat-ayat-ayat Al-Quran terpisah-pisah di berbagai tempat.

Zaid bin Sabit yang mengetuai proyek tersebut mensyaratkan hapalan dan tulisan untuk suatu ayat ditulis. Namun tidak ditemukan bukti tulisan untuk dua ayat terakhir surah At-Taubah tersebut kecuali dari Khuzaimah yang datang di saat-saat terakhir penulisan.

Baca Juga: Pengumpulan Al-Quran dan Kisah Diskusi Alot Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit

Selain itu, As-Suyuti dalam al-Itqan menyebutkan banyak pendapat mengenai ayat yang terakhir diturunkan. Salah satunya dua ayat terakhir dari surat at-Taubah. Ini berdasarkan riwayat dalam beberapa kitab hadis seperti al-Mustadrak dan Zawaidul Musnad.

Berdasarkan pendapat ini bisa jadi hal tersebut pulalah yang menjadikan Zaid dan Tim Penyusun Mushaf sukar menemukan bukti tulisan untuk dua ayat tersebut sebagaimana yang diceritakan di atas.

Demikianlah kiranya sebagian potret cinta Nabi Muhammad Saw pada kita semua, umatnya. Semoga kita diberikan kemampuan meneladani budi pekerti beliau dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat serta termasuk yang menerima syafaatnya kelak. Amin ya rabbal ’alamin. Allahumma Shalli wa sallim alaih

Kategorisasi Makharij al-Huruf Menurut As-Syathibi

0
Makharij al-Huruf Asy-Syathibi
Makharij al-Huruf Asy-Syathibi

Setelah mengetahui pengertian dasar Makharij al-Huruf, saat ini kita akan membahas tentang pembagiannya. Sebagaimana telah dijelaskan tentang riwayat yang masyhur dalam ilmu Tajwid di Indonesia sebelumnya. Sehingga pada artikel ini akan terlebih dahulu mengacu kepada pendapat ِAs-Syathibi.

Pembagian Makharij al-Huruf menurut As-Syathibi

Secara garis besar, as-Syathibi mengkategorikan Makharij al-Huruf dalam empat bagian. Keempat bagian ini kemudian dispesifikasi menjadi empat belas tempat keluarnya huruf. Berikut adalah spesifikasi tersebut berdasarkan pemaparan ad-Dani dalam at-Tahdid fi al-Itqon wa at-Tajwid yang menggunakan thariq syathibiyyah.

  • al-Halq (Tenggorokan)

Pada bagian anggota tubuh ini, as-Syathibi membaginya dalam tiga tempat dengan tujuh huruf di dalamnya.

  1. Tenggorokan atas: ء (Hamzah), ا (Alif), ه(Ha).
  2. Tenggorokan tengah, ع(‘Ain) dan ح(Cha)
  3. Tenggorokan bawah: غ (Ghain) dan خ (Kh)
  • al-Lisan (Lidah)

Terdapat sepuluh Makharij al-Huruf pada bagian lidah. Di dalamnya mengandung empat belas huruf.

  1. Lidah bagian atas yang bersentuhan dengan langit-langit mulut, menghasilkan bunyi huruf ق (Qof)
  2. Lidah bagian atas yang bersentuhan dengan langit-langit mulut, namun sedikit di bawah makhraj huruf qaf, menghasilkan bunyi huruf ك (Kaf)
  3. Lidah bagian tengah yang bersentuhan dengan langit-langit mulut bagian tengah. Pada makhraj ini terdapat tiga huruf, yaitu huruf ج (Jim), ش (Syin), dan ي (Ya’)
  4. Bagian antara ujung lidah dan bagian dalam gigi seri atas, tepatnya agak menyentuh langit-langit muulut bagian atas merupakan makhraj dari huruf ط (Tha’) dan ت (Ta) dan د (Dal)
  5. Persentuhan antara ujung lidah dengan sebagian sisi tengah gigi seri atas merupakan makhraj dari huruf ظ (Dho), ذ (Dzal) dan ث (Tsa)
  6. Persentuhan antara ujung lidah dengan gigi seri atas merupakan makhraj dari huruf ص (Shad) dan ز (Zai) dan س (Sin)
  7. Ujung lidah bersentuhan dengan bagian atas langit-langit mulut dan sedikit pada gigi seri atas, dan juga disambungkan dengan pangkal hidung apabila pada posisi diidghamkan, merupakan makhraj huruf ن (Nun)
  8. Satu bagian dengan huruf Nun, namun lebih jelas dan cepat inhiraf(pergerakann)nya, yakni huruf ر (Ra’)
  9. Bagian awal sisi lidah disentuhkan dengan gigi geraham, boleh kiri atau kanan merupakan makhraj dari huruf ض (Dhod)
  10. Bagian sisi lidah bawah isentuhkan dengan langit-langit mulut bagian atas menghasilkan huruf ل (Lam)

Baca Juga: Pengertian Makharijul Huruf dalam Ilmu Tajwid dan Pembagiannya Menurut Ulama

  • As-Syafatain (Dua bibir)
  1. Bibir bagian dalam yang disentuhkan pada ujung-ujung gigi seri atas akan menghasilkan makhraj huruf ف (Fa’).
  2. Gerakan antara dua mulut a merupakan makhraj huruf و (Wawu), م (Mim), ب (Ba’).
  • At-Tanwin

Maksud dari Tanwin dalam hal ini terletak pada pangkal hidung. Makhraj ini khusus untuk نۡ (Nun sukun) yang didahului huruf yang ringan dibaca oleh bibir.

Contoh pada huruf yang digarisbawahi di Surat al-Kahfi ayat 34

أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالࣰا وَأَعَزُّ نَفَرࣰا

Contoh pada Surat at-Taubah ayat 43

عَفَا ٱللَّهُ عَنكَ

Makharij al-Huruf penting untuk diketahui dan dipelajari. Sebab merupakan salah satu faktor utama seseorang membaca al-Qur’an dengan benar. Walaupun lisan kita tidak sefasih Rasulullah SAW, namun tidak ada salahnya untuk mempelajari dan mempraktekkannya. Wallahu a’lam

Muhammad Ali Ash-Shabuni, Begawan Tafsir Ayat Ahkam Asal Aleppo, Suriah

0
ali ash-shabuni
muhammad ali ash-shabuni

Muhammad Ali Ash-Shabuni adalah mufasir kontemporer yang concern pada bidang syari’ah. Beliau termasuk kategori ulama mufasir yang produktif terutama di bidang Tafsir Al-Quran sebagaimana yang disampaikan Muhammad Ali Iyazi dalam al-Mufassirun wa Hayatuhum wa Manhajuhum.

Ali Ash-Shabuni merupakan seorang profesor di bidang Syari’ah dan Dirasah Islamiyah (Islamic Studies) di Universitas King Abdul Aziz, Makkah Al-Mukarramah. Magnum opus-nya berupa Shafwah at-Tafasir dan Rawa’i al-Bayan menjadi bukti kepakarannya di bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir.

Profil, Perjalanan Intelektual, dan Karir Muhammad Ali Ash-Shabuni

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Jamil al-Shabuni. Beliau lahir di kota Helb, Syiria pada tahun 1928 M. Ash-Shabuni lahir dan besar di tengah-tengah keluarga terpelajar. Ayahnya, Syaikh Jamil merupakan salah seorang ulama senior di Aleppo, Damaskus, Suriah. Ia mengenyam pendidikan pertamanya dari bimbingan sang ayah. Ia belajar bahasa Arab, ilmu waris, dan ilmu-ilmu agama.

Sejak usia kanak-kanak, Ash-Shabuni sudah memperlihatkan talenta, bakat dan kecerdasannya dalam menyerap berbagai ilmu agama. Tak pelak, Ash-Shabuni sudah hafal Al-Quran di usia yang masih belia. Maka, tak heran kemampuannya menjadi buah bibir (pujian) di banyak ulama. Ash-Shabuni juga berguru pada ulama terkemuka di Aleppo, seperti Syekh Muhammad Najib Sirajuddin, Syekh Ahmad al-Shama, Syekh Muhammad Said al-Idibi, Syekh Muhammad Raghib al-Tabbakh, dan Syekh Muhammad Najib Khayatah.

Baca juga: Wahbah az-Zuhaili: Mufasir Kontemporer yang Mendapat Julukan Imam Suyuthi Kedua

Setelah menuntaskan rihlah ilmiahnya di Suriah, Ash-Shabuni melanjutkan pendidikannya di Unievrsitas Al-Azhar, Mesir hingga ia mendapatkan gelar Lc (gelar S1) pada tahun 1371 H/ 1952 M. Setelah itu, pendidikan S2-nya ditempuh di universitas yang sama sampai meraih gelar Magister dengan tesis tentang perundang-undangan dalam Islam pada tahun 1952 M.

Dalam bidang spesialisasi hukum syari’, Ia menjadi utusan dari Kementerian Wakaf, Suriah untuk menyelesaikan Al-Dirasah Al-‘Ulya (sekolah pascasarjana). Saat ini Ash-Shabuni bermukim di Makkah dan tercatat sebagai dosen tafsir dan ulumul Quran di Fakultas Syariah dan Dirasah Islamiyah, Universitas Malik bin Abdul Aziz, Makkah.

Menurut penilaian Syekh Abdullah al-Hayyat selaku khatib Masjidil Haram dan mustasyar Kementerian Ta’limiyyah Arab Saudi, Ali Ash-Shabuni adalah seorang ulama yang memiliki disiplin ilmu yang beragam. Salah satu cirinya ialah intensitas waktunya banyak dipergunakan untuk bidang ilmu pengetahuan, seperti menulis dan menelurkan buah pemikiran yang bermanfaat dan memberi pencerahan kepada umat, serta dihasilkan dari penelitian yang cukup lama dan mendalam.

Lebih dari itu, Muhammad Al-Ghazali ketua jurusan dakwah dan ushuluddin fakultas Syariah Makkah menegaskan bahwa as-Shabuni dalam menafsirkan Al-Quran mencantumkan pendapat para ulama baik salaf maupun khalaf, kemudian meringkasnya dalam segi sosial dan bahasa sehingga pembaca bisa melihat pendapat antara tafsir bil manqul dan bil ma’qul dan mengambil manfaat dari pendapat keduanya.

Tatkala menuangkan gagasannya, Ali Ash-Shabuni tidak tergesa-gesa apalagi mengejar syahwat kuantitas karya tulis semata, melainkan menekankan bobot ilmiah, kedalaman analisis, serta mengetengahkan kualitas karya ilmiah yang dihasilkan agar mampu mendekati kesempurnaan dan memprioritaskan validasi serta tingkat kebenaran.

Baca juga: Mutawalli As-Sya’rawi: Mufasir Kontemporer dari Mesir

Karya-karya

Karya-karya Ash-Shabuni telah mendunia dan menjadi rujukan bagi pelajar muslim yang hendak mempelajari Ilmu Al-Quran dan tafsir tak terkecuali pesantren di Indonesia. Ali Ash-Shabuni termasuk penulis yang produktif. Ia banyak menghasilkan karya-karya terutama karya dalam bidang Al-Quran dan tafsir. Berikut karyanya,

  1. Shafwah At-Tafasir
  2. Rawa’i Al-Bayan Fi Tafsir Ayat Al-Ahkam min Al-Quran
  3. At-Tibyan Fi Ulum Al-Quran
  4. Tafsir al-Wadih al-Muyassar
  5. Qubs min al-Quran al-Karim: Dirasah Tahliliyah Muwassa’ah bi Alidaf wa Maqasid al-Suwar al-Karimah
  6. Min Kunuz al-Sunnah: Dirasat Adabiyyah wa Lughawiyyah min Hadits Syarif
  7. Al-Zawaj al-Islami al-Mubakkir Sa’adah wa Hasanah
  8. Mukhtasar Tafsir Ibn Katsir
  9. Mukhtasar Tafsir At-Thabari Jami’ Al-Bayan
  10. An-Nubuwwah Wal Anbiya’
  11. Al-Mawarits Fi Al-Syari’ah Al-Islamiyyah ‘Ala Dhu’i Al-Kitab Wa Al-Sunnah
  12. Tanwiru Al-Adzhan Min Tafsir Ruh Al-Bayan

Karya-karyanya di atas banyak menjadi rujukan di berbagai dunia. Di samping sibuk mengajar, Ash-Shabuni tercatat aktif dalam organisasi Liga Muslim Dunia. Ia menjabat sebagai penasihat pada Dewan Riset Kajian Ilmiah mengenai Al-Quran dan Sunnah.

Berkat kiprahnya dalam duna pendidikan Islam, pada tahun 2007 dalam sebuah acara bertajuk Dubai Internaitional Quran Award, Ash-Shabuni dinobatkan sebagai personality of the Muslim World. Penobatan beliau menambah daftar panjang ulama kelas dunia, di antaranya Syekh Yusuf al-Qaradhawi. Wallahu A’lam.

Sejarah Baru! KH Sya’roni Ahmadi, Gus Mus dan Sembilan Kaligrafer akan Tulis Ulang Mushaf Menara Kudus

0
Tulis Ulang Mushaf Menara Kudus
Tulis Ulang Mushaf Menara Kudus/ beta news

Sejarah baru dalam khazanah mushaf Al Qur’an Nusantara telah dimulai. Yayasan Masjid dan Makam Menara Kudus yang dipimpin Em. Najib Hasan akan menulis ulang Mushaf Menara Kudus yang familiar disebut Qur’an Pojok. Rabu (28/10) kemarin, penulisan ayat pertama diawali oleh KH. Sya’roni secara seremonial dalam rangkaian acara “Mbabar Mushaf Menara”.

Dalam sejarahnya, Mushaf Menara Kudus merupakan mushaf Al Qur’an yang dicetak dengan menggunakan sistem pojok. Sistem ini mengakhiri setiap sudut lembarannya dengan akhiran ayat dan berjumlah 15 baris pada setiap lembarnya. Mushaf Menara ini biasa digunakan oleh para santri penghafal Al Qur’an, dan merupakan hasil reproduksi dari mushaf penerbit Usman Bik Turki milik KH M Arwani Amin. Adapun master mushaf ini dulu ditulis oleh kaligrafer berkebangsaan Turki yang bernama Mustafa Nazif dan diterbitkan Jumadil Ula 1370 H.

Alkisah, sebelum Mushaf Menara dicetak, terlebih dahulu diperiksa dan diteliti oleh tiga ulama’ ahli Qur’an Kudus. Mereka yaitu K.H. Muhammad Arwani Amin (wafat tahun 1994), K.H. Hisyam Hayat (wafat tahun 1986), dan K.H. M. Sya’roni Ahmadi. Selain itu, pencetakan mushaf ini juga terlebih dahulu mendapat tanda tashih dari Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI pada tanggal 16 Mei 1974.

Seiring berjalannya waktu, mushaf Menara menjadi kebanggan tersendiri oleh warga Kudus. Ratusan ribu bahkan jutaan eksemplar telah beredar seantero Nusantara. Karena berulang kali dicetak, dan mushaf master yang orisinil sempat kebakaran pada tahun 2000-an awal, maka kualitas cetakan bisa dibilang semakin memudar.


Baca juga: Mushaf Istiqlal, Masterpiece Kebudayaan Islam di Era Soeharto


Selain itu, dari tiga tokoh ahli Al Qur’an yang berjasa meneliti mushaf Menara tempo dulu, dua di antaranya telah wafat. Saat ini yang masih sugeng (hidup dalam bahasa Jawa halus) hanyalah KH. M. Sya’roni. Atas pertimbangan inilah kemudian Yayasan Masjid dan Makam Menara Kudus berinisiatif untuk menuliskan kembali mushaf Menara.

Wajah Baru Mushaf Menara

Penulisan Mushaf Menara ini telah dimulai dengan lafadz basmalah yang digores langsung oleh KH Sya’roni Ahmadi. Sebagaimana yang dilansir oleh Jawa Pos radar Kudus, goresan awal ini ditulis menggunakan tinta Jepang. Setelah goresan itu, nantinya akan dilanjutkan oleh sembilan kaligrafer hingga selesai 30 juz. Sembilan kaligrafer yaitu Huda Purnawadi, Kholis Fuad, Miftahul Huda, Ahmad Jamal, Sittu Attiyah, Ahmad Muslim, Ahmad Turmudzi El Faiz, Rizki Aria, dan Darmawan Saputra. Kaligrafer-kaligrafer yang mendapat tugas menulis ini pun sangat berkompeten dan merupakan kaligarfer berprestasi baik tingkat Nasional maupun Internasional.

Rabu kemarin, penulisan Mbabar Mushaf Menara ini dilakukan di bawah bangunan Menara Kudus secara langsung. Hal ini untuk menunjukkan bahwa corak yang akan digunakan untuk mengisi illuminasi merupakan ornament khas Kudus.


Baca juga: Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’


Ketua Panitia Mbabar Mushaf Menara Abdul Jalil menyebut, iluminasi cover luar akan bergambar Menara Kudus. Kemudian bingkai surat Al-Fatihah ada gambar gerbang Arya Penangsang. Sementara iluminasi motifnya berbentuk rumah adat Kudus. Selain itu, iluminasi juga mengakomodir khazanah sumber daya alam seperti cengkeh, tembakau, parijoto, dan jambu bol. Buah dan rempah-rempah ini diyakini telah memberi kontribusi terhadap peradaban Kudus.

 Mushaf ini pun ditulis di atas kertas berukuran 105 x 76 cm. Rencananya, mushaf ini dilaunching pada 9 Rajab 1442 H Saat perayaan ta’sis Masjid Al-Aqsha Kudus. Menariknya, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) juga akan dilibatkan dalam penulisan mushaf ini, terlebih pada lafadz Walyatalattaf dalam surat Al-Kahfi.

 ”Awalannya ditulis langsung Mbah KH. Sya’roni. Nanti bagian tengah ditulis langsung KH. Musthofa Bisri. Dan paling akhir ditulis ketua YM3SK Em. Najib Hasan,” ungkap Abdul Jalil.

Dari segi gaya penulisannya, ternyata mushaf Menara ini nanti menggunakan khat gaya Turki. Lebih spesifiknya mengikuti karya agung Hafiz Usman, salah satu pesohor kaligrafi dari Turki yang wafat tahun 1698 M. Sementara rasm-nya juga akan merujuk dari hasil penelitian tiga ulama Kudus yang tadi disebutkan.


Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan


Dalam proses pengerjaannya, setiap kaligrafer ditargetkan untuk menyelesaikan satu halaman per harinya. Seusai menulis, halaman tersebut langsung discan dan dikirim ke Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an Kemenag untuk ditashih. Dengan cara seperti itu, diharapkan bisa selesai tepat waktu. Tentu ini semua merupakan inisiatif luar biasa.

Kita perlu mendukung upaya pelestarian budaya seperti ini, semoga itikad baik penulisan mushaf Menara ini bisa berjalan dengan baik. Amin.

Wallahu a’lam[]

 

Hassan Hanafi dan Paradigma Tafsir Pembebasan; Sebuah Refleksi Metodologis

0
hassan hanafi
hassan hanafi (islamlib.com)

Hassan Hanafi adalah seorang filsuf, sastrawan, dan mufasir Al-Quran berkebangsaan Mesir yang lahir pada tahun 1935. Metode tafsir tematik yang ia gagas telah lama dikenal oleh sarjana tafsir di Indonesia. Hassan Hanafi menyebut metode tafsir tematiknya, selain sebagai al-tafsīr al-maudhū’ī yang selaras dengan pengertian tekstualnya, juga dengan sebutan al-tafsir al-ushūlī yang menjunjung asas al-manhaj al-mujtamā’ fī al-tafsīr.

Yudian Wahyudi Asmin dalam The Slogan “Back to the Qur’an and the Sunna”: A Comparative Study of the Responses of Hasan Hanafi, Muhammad ’Abid Al-Jabiri and Nurcholish Madjid bahwa asas tersebut menempatkan kepentingan-kepentingan pembaca Al-Quran sebagai core value dari teks dengan menafsirkan ayat berlandaskan kepentingan umum (mashālih al-‘ibād).

Berbeda dengan kritik Lien Iffah Naf’atu Fina (2012) yang menyebut bahwa Hanafi terkesan lupa menggiring konteks penurunan wahyu dalam metode tafsirnya dan hanya berfokus pada tujuan penafsiran yang bersifat pragmatis, Yudian Wahyudi Asmin menyebut bahwa metode tafsir tematik Hanafi memang dirancang agar terpisah dari dialektika mengenai pewahyuan. Menurut Hanafi dalam Wahyudi, tafsir tematik membahas tentang “apa” sedangkan teori pewahyuan hanya membahas tentang “bagaimana”.

Mengenai tafsir tematik yang ia usung, Hanafi dalam Method of Thematical Interpretation of the Qur’an’, in The Quʼran as Text mensyaratkan lima premis bagi seorang penafsir yang berakar dari kerangka pemikiran fenomenologi Husserlian. Kelima premis ini menjadi pondasi filosofis-faktual dan memegang peran-peran kunci bahwa tafsir sebagai pernyataan realitas, deklarasi historis, pengakuan batasan-batasan personal, penegasan atas pluralisme, dan penjunjung transparansi.

Kelima premis tersebut, antara lain:

Pertama, wahyu diletakkan ke berbagai lokus tematik—tanpa diafirmasi atau dinegasi—dan diperjelas posisinya dalam teori tafsir dan hermeneutika. Hassan Hanafi menyebut bahwa Al-Quran tidak sekedar berbicara tentang dogma, ibadah praktis, maupun informasi faktual. Hanafi mengutuk para penafsir lintas masa karena gagal memahami konsep sejarah dalam Al-Quran.

Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Bertolak belakang dari pemikiran mayoritas penafsir, ia menyebut bahwa Al-Quran tidak berbicara tentang peristiwa-peristiwa secara materiil yang menyertakan konteks ruang dan waktu secara deskriptif, melainkan teks tersebut memantik aksi yang bersumber dari korespondensi Al-Quran dengan pengalaman manusia. Konsekuensinya, Hanafi pun menentang tradisi israiliyyat untuk diadopsi sebagai sumber penulisan sejarah dalam Al-Quran.

Kedua, Al-Quran diposisikan sebagai teks yang dapat ditafsirkan dan dijadikan sumber hukum, karya sastra, teks filosofis, maupun dokumen sejarah. Ia tidak harus memiliki kategori khusus ataupun dilekatkan dengan sifat sakral dan mistik. Hanafi menyebut problem seputar tafsir bias dari konflik kepentingan sehingga ia memandang setiap pendekatan sastra dan sejarah dalam penafsiran Al-Quran klasik sebagai produk yang bersifat tautologis dan involutif.

Ketiga, model tafsir tematik tidak mengenal produk penafsiran yang “sesat” atau pemahaman yang “benar” dan “salah”. Derivasi dalam dialektika penafsiran Al-Quran didasarkan pada perbedaan pendekatan dalam memahami teks yang dapat disinyalir dari perbedaan motif maupun kepentingan, dimana keseluruhan perbedaan tersebut bersifat fenomenologis.

Keempat, tafsir bersifat plural. Teks hanyalah medium bagi kepentingan dan hasrat manusia yang kemudian diisi dengan pengaruh ruang dan waktu. Konsep “Islam kiri” Hanafi menggiring metode penafsiran dari pendekatan historis menuju fenomenologis. Paradigma tersebut memposisikan Al-Quran sebagai sumber utama untuk mengelaborasi peran dan posisi manusia di dunia serta memaparkan hubungan antarmanusia dalam konteks bermasyarakat dan bernegara.

Kelima, konflik tafsir secara esensial merupakan konflik sosio-politik dan bukan bagian dari konflik teoritis. Teori pada dasarnya hanya problem epistemologi semata sedangkan tafsir adalah bentuk komitmen kontekstual dan senjata ideologis penafsir. Tafsir digunakan untuk mempertahankan atau mengkritisi status quo antar kelompok.

Baca juga: Pendekatan Maqashid dalam Penafsiran Al-Quran, Prof. Mustaqim: Tafsir itu Tidak Hanya On Paper

Premis kelima ini menegaskan bahwa model tafsir Hassan Hanafi berorientasi pada pendekatan hermeneutika subjektivis. Komitmen terhadap kepentingan penafsir sangat ditonjolkan. Dalam kondisi tertentu, seorang penafsir dituntut merumuskan serangkaian gerakan pragmatis dan revolusioner sebagai sarana untuk mereduksi jarak antara realitas dengan idealitas dalam penafsiran.

Selain kelima premis di atas, Hassan Hanafi turut mensyaratkan delapan aturan yang perlu direngkuh seorang penafsir dalam proses penafsiran, antara lain; (1) komitmen sosio-politik; (2) mencari sesuatu; (3) merangkum sinopsis dari kumpulan ayat dalam satu tema; (4) mengklasifikasi bentuk-bentuk linguistik; (5) membangun struktur; (6) menganalisa fakta historis dan kontekstual; (7) membandingkan antara das sein dan dan sollen; (8) mendeskripsikan model-model aksi.

Bila dilihat dari serangkaian premis dan aturan yang Hanafi munculkan, dapat disimpulkan bahwa ia memiliki orientasi subjektivisme dan relativisme dalam tafsir tematik.

Hanafi dalam berpegang teguh pada pemikiran bahwa penafsir merupakan figur yang memiliki keberpihakan ̶ berbeda dengan Rasul yang bertugas menyampaikan wahyu secara verbatim ̶ seorang penafsir dituntut untuk menjadi agen perubahan sosial. Dalam Al-Turast wa al-Tajdid: Mawqifuna min al-Turats al-Qadim, ia memaparkan bahwa penafsiran adalah kegiatan produksi dan dialektika antara pra-pemahaman penafsir dengan teks, bukan kegiatan transmisi makna, sebab sulit melacak makna awal yang objektif dari penurunan wahyu (murād Allah) yang bersifat transendental.

Di satu sisi, Hanafi berpendapat bahwa kalaupun makna objektif tersebut akhirnya mampu dilacak oleh seorang penafsir, ia tetap memerlukan upaya kontekstualisasi dan reproduksi makna sehingga nilai di dalamnya dapat diaplikasikan oleh pembaca modern. Sedangkan sisi lain, Hanafi menegaskan bahwa penafsir yang mengklaim dirinya berorientasi objektif akan kehilangan konteks dan relevansi bila tidak mengikatkan ideologi penafsiran dengan dimensi eksistensialnya.

Dua pernyataan tersebut mengindikasikan semangat besar Hanafi untuk memunculkan produk tafsir yang praktis dan mudah diakses bagi umat Islam. Terlepas dari idealisme tersebut, penulis menemukan setidaknya tiga kelemahan dari tawaran metodologi tafsir tematik Hassan Hanafi dengan model signifikansi fenomenal tersebut, antara lain;

Pertama, relativisme tafsir tematik berpotensi memunculkan bias serta menyulitkan masyarakat dalam menentukan paradigma global yang bersumber dari Al-Quran sebab kitab suci tersebut telah diposisikan hanya sebagai objek atau subjek pengetahuan ̶ bergantung dari posisi penafsir ̶ dan tidak diamati secara paralel.

Kedua, penafsiran Hanafi seringkali abai dengan konteks sosio-historis penurunan wahyu kepada Nabi (asbāb al-nuzūl) dengan menganggap konteks ini tidak relevan dengan konflik dan problem kontemporer. Pemahaman tersebut dapat menghapus struktur transendental nash lewat upaya desakralisasi teks Al-Quran yang berimplikasi pada permasalahan akidah bagi kalangan Muslim awam.

Ketiga, pemunculan tafsir dengan merangkum sinopsis ayat secara tematik berpotensi untuk mencerabut teks dari konteks tutur suratnya. Alasan ini didasarkan pada pernyataan Hanafi mengenai perlunya meninggalkan konsep tafsir tahlili yang berimplikasi pada reduksi pemahaman mengenai peran penting koherensi dan sintegritas antar ayat dan surat (munāsabah) dalam teks Al-Quran. Wallahu A’lam.

Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’

0
Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (1): Surah Yunus Ayat 58
Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (1): Surah Yunus Ayat 58

Bulan Maulid (Rabiul Awal) ini merupakan momen yang pas untuk kembali mengeja dan mengaji keteladanan Nabi Muhammad saw. Salah satu dari banyak teladan akhlak Nabi Muhammad saw yang akan diulas di sini adalah penghormatan Nabi yang luar biasa terhadap ibundanya dan kaum ibu.

‘Saya adalah anak dari seorang perempuan Quraisy yang (juga) makan daging dendeng”, potongan hadis Nabi yang dijadikan quote oleh Bint Syathi’ di halaman awal bukunya, Umm an-Nabi ini menjadi petunjuk yang valid bahwa Nabi Muhammad saw, manusia berakhlak mulia ini sangat menghormati dan memuliakan ibunya. Bahkan, di tempat yang mempunyai tradisi berbangga-banggaan dengan nama sang ayah, Nabi Muhammad saw malah dengan sangat bangga menyebutkan identitas ibundanya di belakang namanya. Faktor ini yang menjadikan teladan Nabi Muhammad ini menjadi sangat istimewa.

Betapa agung dan luhur budi pekerti Nabi Muhammad saw. Pujian ini disampaikan oleh Allah dalam ayatNya, surat Al-Qalam ayat 4.

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Satu dari banyak rekaman sejarah tentang keluhuran akhlak Nabi Muhammad saw adalah episode penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya. Sebagaimana diketahui, Sayyidah Aminah, ibunda Nabi Muhammad saw wafat ketika anak semata wayangnya berumur enam tahun, kebersamaan yang sangat singkat antara ibu dan anak.

Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Umat Islam Harus Mengenal Rasulullah SAW

Meskipun demikian, hal itu tidak mengurangi penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya, bahkan keagungan sikap yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad ketika memuliakan ibundanya tersebut menjadi pedoman dan teladan bagi umat manusia seluruhnya dalam menghormati ibunya. Hal ini juga tidak lepas dari sikap Nabi Muhammad saw yang juga sangat menghormati kaum ibu. Ini faktor kedua yang menjadikan teladan akhlak Nabi Muhammad tersebut menjadi sangat revolusioner.

Beberapa riwayat penghormatan Nabi Muhammad saw kepada ibundanya

  1. Quarish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad menukil beberapa riwayat tentang penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya. Misal riwayat hadis tentang prioritas utama berbakti kepada kedua orang tua daripada kewajiban lainnya,

لَوْ كُتْتُ أَدْرَكْتُ وَالِدِي أَوْ أَحَدُهُمَا وَأَنَا فِي صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَقَدْ قَرَأْتُ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ تُنَادِي: يَا مُحَمَّدُ، لَأَجَبْتُهَا لَبَّيْك.رواه البيهقي

Seandainya aku mendapati kedua orang tuaku atau salah seorang dari mereka memanggilku “Wahai Muhammad,” sedang saat itu aku dalam keadaan shalat isya dan telah membaca al-Fatihah, niscaya pasti aku menjawab “Keperkenankan panggilanmu.” (HR. al-Baihaqi)

Hadis ini menurut Quraish Shihab menggambarkan keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad. Sampai-sampai, hadis ini digambarkan memenuhi panggilan kedua orang tua akan lebih didahulukan daripada kewajibannya kepada Allah. Begitulah teladan akhlak Nabi Muhammad saw.

Satu lagi riwayat tentang penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya yaitu ketika Nabi selalu mampir berziarah ke kuburan sang ibunda setiap melewati lokasi kuburan beliau. Dikisahkan pula bahwa Nabi sampai menangis, hingga para sahabat (yang bersamanya) juga ikut menangis. Ketika ditanya sebab tangisannya, Nabi menjawab, ‘Aku disentuh oleh rahmat ibuku, maka aku menangis.’ 

Baca juga: Mengenal Nabi Muhammad saw Lebih Dekat Melalui Al-Quran dan Hadis

Selain menginformasikan kisah tangisan Nabi ketika ziarah ke makam ibunya, riwayat di atas juga mengajarkan kepada kita semua, umat Nabi Muhammad saw bahwa bakti anak kepada ibundanya tidak berhenti ketika ibu meninggal dunia. Bakti itu bisa terus dilanjutkan antara lain dengan mendoakan ibu, melanjutkan dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang dicontohkan dan diajarkan ibu, senantiasa menyambung silaturahim dengan saudara ibu, teman-teman ibu, menghormati para ibu, dan lainnya.

Teladan Akhlak Nabi Muhammad saw kepada kaum ibu

Sikap hormat luar biasa kepada kaum ibu yang juga diberikan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dapat kita lihat dari beberapa riwayat dan penjelasan berikut:

Surat Luqman ayat 14

Ayat ini mendeskripsikan keadaan seorang ibu ketika hamil, melahirkan dan menyusui. Dalam kondisi ini ia lemah dalam segala hal, mual, muntah, pusing, badan terasa sakit semua, makan tidak enak, tidur apalagi, bolak-balik ke kamar mandi, cepat merasa lelah, menjadi lebih sensitif dan masih banyak yang lainnya. Ketika melahirkan pun harus berjuang antara hidup dan mati.

Berlanjut setelah melahirkan ada yang Namanya baby blues sindrom, yaitu gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Kondisi ini menyebabkan ibu mudah sedih, lelah, lekas marah, menangis tanpa alasan yang jelas, mudah gelisah, dan sulit untuk berkonsentrasi. Lantas, masihkah kita kekurangan alasan untuk berbakti kepada ibu?

Meyinggung apa yang sering disampaikan oleh bu Nur Rofiah (founder Ngaji Keadilan Gender Islam), ayat di atas itu merupakan reformasi yang dilakukan Al-Quran yang dibawa oleh Nabi Muhammad dalam rangka mengakui eksistensi seorang ibu di tengah tradisi yang abai dan lupa kepada kaum perempuan dan kaum ibu. Bahkan di akhir ayat dikatakan bahwa orang yang tidak menghormati kedua orang tuanya, termasuk ibu dianggap tidak bersyukur kepada Allah.

Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Hadis Abu Hurairah tentang keutamaan berbakti kepada ibu

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakan orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Rasul menjawab “ibumu”. Dia bertanya lagi “kemudian siapa?” Rasul menjawab “ibumu.” Dia bertanya lagi “kemudian siapa?” Jawaban Rasul tetap sama “ibumu” (HR. Al-Bukhari)

Tidak ada yang tahu pasti kenapa Nabi Muhammad saw mengatakan demikian, memberi nilai ibu tiga kali lebih utama daripada ayah. Alasan untuk merasionalisasi ucapan Nabi itu coba disampaikan oleh beberapa pensyarah hadis, misal ibnu Battal. Dalam kitabnya, Syarh Shahih Al-Bukhari ia memberi alasan bahwa ibu mengalami tiga kesluitan dan kesusah payahan yang tidak dialami oleh ayah, yaitu hamil, melahirkan dan menyusui. Keterangan ini juga dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy dalam Fathul Bari.

Masih banyak hadis-hadis lain terkait keutamaan ibu, misal riwayat tentang keutamaan menjaga atau menemani ibu daripada pergi berperang, riwayat tentang surga di telapak kaki ibu dan yang lainnya.

Apresiasi yang sangat tinggi bagi sahabat yang berbakti kepada ibu dan berlaku pula sebaliknya

Sebagai ‘ibarat dalam hal ini yaitu dua nama sahabat yang terkenal, yaitu Uwais Al-Qarani dan ‘Alqamah. Uwais Al-Qarani dalam Musnad Ahmad dan Shahih Muslim diberi predikat khair at-tabiin (sebaik-baiknya tabiin) karena baktinya kepada ibunya. Sebaliknya Alqamah, dalam Al-Kabair-nya adz-Dzahabi, ia dikisahkan mengalami kesulitan ketika sakaratul maut karena murka sang ibunda, sebelum akhirnya sang ibu meridlai dan memaafkannya, dan ‘Alqamah pun bisa meninggal dengan tenang.

Semoga kita semua bisa mengambil teladan akhlak luhur Nabi Muhammad saw. Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad wa ‘Ala Ummi Muhammad. Teruntuk ibu kita semua, al-Fatihah.

Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada pembahasan sebelumnya dijelaskan mengenai sikap orang Yahudi yang tidak konsisten dalam menerima kitab Allah swt, yaitu menerima Taurat namun menolak Alquran. Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95 ini merupakan penjelasan mengenai pelegitimasian sikap mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 91-92


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95 ini juga dipaparkan mengenai orang-orang dari kalangan Yahudi yang mengaku-ngaku mendapatkan wahyu Allah swt. Salah duanya adalah Musailamah al-Kazzab di Yamamah dan Aswad al-Insi di Yaman.

Selanjutnya Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95 berbicara mengenai nasib orang-orang zalim pada hari kiamat. Mereka datang kepada Allah swt tanpa embel-embel apapun yang dulu mereka bangga-banggakan ketika di dunia.

Ayat 93

Allah menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwa tidak ada orang yang lebih zalim dari orang-orang Yahudi yang mengingkari kebenaran Alquran yang diturunkan kepada Muhammad.

Perkataan mereka telah mengkhianati ajaran agama tauhid. Begitu juga perkataan mereka yang mengaku menerima wahyu dari Allah, seperti Musailamah al-Kazzab di Yamamah, al-Aswad al- Ansi di Yaman, Tulaihah al-Asadi dari Bani Asad, dan orang-orang yang mengaku dirinya mampu membuat kitab seperti Alquran.

Firman Allah ini mengandung sindiran halus bagi para pendeta Yahudi yang dipuja-puja oleh pengikut-pengikutnya karena mereka itu mengaku mendapat wahyu dari Allah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan segala sesuatu yang sukar dipahami dari Taurat.

Menurut kenyataan, mereka inilah yang selalu memusuhi Muhammad. Alquran juga mengandung sindiran kepada sastrawan-sastrawan Arab yang merasa mampu menyusun kitab-kitab yang dapat menyamai Alquran seperti firman Allah:

لَوْ نَشَاۤءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هٰذَا

… jika kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini. (al-Anfal)/8: 31)

Allah menyebutkan ancaman dan siksaan yang akan diterima oleh orang-orang yang zalim itu, dikala mereka menghembuskan nafas yang terakhir, sebagai imbalan kejahatan dan dosa yang mereka lakukan.

Alangkah dahsyatnya seandainya Nabi Muhammad dan kaum Muslimin melihat penderitaan yang diderita oleh orang-orang yang jahat itu pada waktu mereka menghadapi sakaratul maut, yaitu penderitaan yang akan mereka alami menjelang kematian, tidak terlukiskan kedahsyatannya. Pada waktu itu malaikat maut mengulurkan tangannya untuk merenggut nyawa mereka yang bergelimang dengan dosa, dengan renggutan yang keras.

Allah menggambarkan saat-saat yang dahsyat itu dengan nada mencela mereka. Malaikat seakan-akan berkata, “Kalau memang kamu merasa mampu, lepaskanlah nyawamu dari badanmu agar terhindar dari renggutan ini.” Perintah ini tidak akan dapat mereka lakukan, karena masalah ini di luar kemampuan mereka.

Pada saat itu mereka tidak dapat menghindarkan diri dari siksa yang pedih dan menghinakan, karena mereka telah berani memutarbalikkan kebenaran, berkata dusta, dan sikap mereka yang congkak dan sombong terhadap ayat-ayat Allah, seperti perkataan mereka bahwa mereka mampu menurunkan kitab seperti Alquran.

Dalam ayat ini terdapat bandingan yang jelas antara ketidakmampuan mereka untuk membuat kitab semacam Alquran dengan ketidakmampuan mereka menghindarkan diri dari malaikat maut. Maksudnya agar mereka dapat menyadari bahwa apa yang mereka katakan itu sebenarnya hanya dusta belaka, sedang Alquran adalah datang dari Allah kepada Muhammad, yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun juga.

Ayat 94

Allah menjelaskan nasib orang-orang zalim di hari Kiamat. Mereka datang menghadap Allah sendiri-sendiri dengan tidak membawa harta benda, anak dan pangkat, terlepas dari kebanggaan, dukungan dan kedudukan duniawi.

Berhala-berhala yang dikira dapat memberikan syafa’at, tidak ada gunanya sama sekali. Keadaan mereka seperti diciptakan pada pertama kalinya, pada waktu mereka berada dalam kandungan ibu, seperti dijelaskan dalam hadis:

أَيُّهَا النَّاسُ: إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ إِلَى اللهِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيْدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِيْنَ

(رواه البخاري ومسلم عن ابن عبّاس)

“Wahai manusia, sebenarnya kamu akan dikumpulkan kehadirat Allah di padang Mahsyar dalam keadaan tidak bersepatu, tidak berpakaian dan tidak berkhitan sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama kali, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati, bahwa kami benar-benar akan melaksanakannya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

Mereka meninggalkan di dunia apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, yang menjadi kebanggaan mereka, yaitu harta benda, anak, istri dan kedudukan yang menyebabkan mereka congkak dan tidak mau beriman kepada Rasul-rasul. Semuanya tidak dapat menolong mereka dari siksa Allah di akhirat.

Allah menjelaskan bahwa Dia tidak akan mempedulikan apa saja yang mereka anggap dapat memberi syafa’at; baik itu berupa berhala-berhala yang mereka persekutukan dengan Allah atau pendeta-pendeta yang mereka anggap sebagai perantara yang dapat menghubungkan doa mereka kepada Allah.

Tegasnya pada hari itu tidak dipedulikan syafa’at dan tebusan, masing-masing orang bertanggung jawab terhadap amalnya sendiri-sendiri. Pada hari itu masing-masing manusia terpisah dari segala sesuatu yang biasanya menjadi kebanggaan mereka di dunia.

Harapan mereka telah pupus karena apa yang mereka sangka tidak pernah tiba. Syafa’at dan tebusan yang mereka duga akan dapat menolong mereka, sedikit pun tidak memenuhi harapan mereka.


Baca juga: Hari Sumpah Pemuda: Ini 3 Artikel Refleksi Peringatan Sumpah Pemuda dalam Al-Quran dan Tafsir


Ayat 95

yaitu Allah. Allah mengembang biakkan segala macam tumbuh-tumbuhan dari benih-benih kehidupan, baik yang berbentuk butiran-butiran ataupun biji-bijian.

Diwujudkan demikian adalah dengan maksud agar mudah dipahami oleh manusia, sesuai dengan pengetahuan mereka secara umum; termasuk pula segala jenis kehidupan yang oleh ilmu pengetahuan digolongkan pada tumbuh-tumbuhan yang berkembang biak dengan spora atau dengan pembelahan sel yang hanya dapat diketahui oleh orang-orang tertentu.

Kesemuanya itu berkembang biak menurut hukum sebab dan akibat yang telah ditentukan oleh Allah.

Uraian ilmiah tentang ayat ini adalah sebagai berikut:  mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, merupakan siklus kehidupan (life cycle) dari semua makhluk hidup atau living organisms (sering hanya ditulis organisms), utamanya dari jenis makhluk tingkat tinggi, seperti manusia, hewan ataupun tumbuhan.

Jika berbicara tentang tanaman/tumbuhan, maka kalimat mengeluarkan yang hidup dari yang mati, mengisyaratkan bahwa tanaman (yang hidup itu) keluar dari biji-biji yang ditanam. Biji-biji ini dapat dianggap sesuatu yang mati. Sebab jika tidak menemukan kondisi yang sesuai, ia tetap merupakan benda mati.

Sedangkan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, mengisyaratkan bahwa biji-biji (yang mati itu) keluar atau dihasilkan oleh tanaman (yang hidup). Siklus kehidupan organisma merupakan proses metabolisme yang terjadi pada semua makhluk hidup; dan dikendalikan oleh sistem gen yang kompleks. Inilah yang merupakan kekuasaan atau ayat Allah.

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa yang menciptakan segala-galanya mempunyai sifat yang Mahasempurna yang mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas dan mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi, yaitu Allah. Dengan demikian, hanya Allah yang seharusnya disembah, dan tidak boleh disekutukan dengan yang lain.

Allah mencela orang-orang musyrik, mengapa mereka menyimpang dari ibadah yang benar yaitu menyimpang dari agama tauhid menuju penyembahan tuhan selain Allah, padahal kalau mereka mau memperhatikan kejadian alam semesta ini, niscaya mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka itu adalah perbuatan yang tidak benar.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 96


(Tafsir Kemenag)

Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5: Allah Swt mengangkat Muhammad Saw Menjadi Rasul

0
Allah Swt mengangkat Muhammad Saw menjadi rasul
Allah Swt mengangkat Muhammad Saw menjadi Rasul

Sebelum Allah Swt mengangkat Muhammad Saw menjadi rasul, beliau dikenal sebagai sosok yang terpuji, benar, jujur, amanah, sabar, pemalu, dan rendah hati. Bahkan bangsa Arab Mekah menjuluki beliau dengan sebutan “Al-Amin”, yakni orang yang dapat dipercaya. Hampir tidak ada orang Quraisy yang tidak mengetahui kemuliaan dirinya.

Selain terkenal karena kemuliaan sifatnya, Nabi Muhammad Saw juga dikenal sebagai seorang yang cerdas dan bijaksana. Hal ini dapat dilihat dari peristiwa pengembalian Hajar Aswad pada tahun 25 SH, yakni saat beliau berumur 35 tahun. Pada waktu itu, kaum Quraisy berselisih paham tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya pasca renovasi Ka’bah akibat banjir.

Setelah melakukan perdebatan – yang hampir menumpahkan darah – kaum Quraisy sepakat bahwa yang berhak meletakkan Hajar Aswad adalah orang pertama yang memasuki Masjid Al-Haram dan ternyata orang tersebut adalah nabi Muhammad Saw. Mengetahui hal ini, kaum Quraisy menerimanya dengan ikhlas, karena Muhammad Saw terkenal sebagai orang mulia diantara mereka.

Namun mencenangkan, apa yang mereka lihat bukanlah kejadian nabi Muhammad Saw memindahkan Hajar Aswad secara langsung ke tempatnya, tetapi beliau meminta para pemuka kaum Quraisy untuk memegang setiap ujung sebuah selendang. Kemudian beliau meletakkan Hajar Aswad di atas selendang tersebut dan para pemuka kaum Quraisy mengangkatnya secara bersama-sama. Barulah nabi Muhammad Saw meletakkan Hajar Aswad ke tempat semestinya.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Tiga Artikel Refleksi Peringatan Kelahiran Baginda Rasulullah

Jauh sebelum Allah Swt mengangkat Muhammad Saw menjadi rasul, Beliau memiliki kebiasaan ber-khalwat, yakni menyendiri untuk meresapi hakikat kehidupan dan memikirkan persoalan kehidupan manusia. Nabi Muhammad melakukan hal ini akibat berbagai kegundahan, kegelisahan, dan kecemasan atas realitas sosial masyarakat Mekah kala itu yang sudah melampaui batas.

Ketika memasuki usia 40 tahun, nabi Muhammad Saw semakin memupuk kegemaran mengasingkan diri (uzlah) dan menyendiri (ikhtila) di gua Hira. Tak jarang beliau berada di sana selama berhari-hari bahkan berpuluh-puluh malam. Jikalaupun beliau kembali ke rumah, biasanya hanya untuk sekedar menyambangi istri beliau, yakni Khadijah ra dan mengambil bekal baru untuk ber-uzlah kembali.

Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5: Bukti Pengangkatan Muhammad Saw Sebagai Rasul

Nabi Muhammad Saw senantiasa melakukan ritual tersebut – uzlah dan ikhtila – hingga turun kepadanya wahyu pertama Al-Qur’an, yakni Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5. Menurut mayoritas ulama, ayat ini merupakan bukti peresmian bahwa Allah Swt mengangkat Muhammad Saw menjadi rasul melalui perantara malaikat Jibril as yang membawa wahyu tersebut.

Meskipun demikian, menurut Imam al-Syaukani dalam Fath al-Qadir nabi Muhammad Saw telah menjadi nabi sebelum Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5, yakni melalui mimpi (al-rukyah al-shadiqah). Sedangkan Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5 adalah peresmian beliau sebagai rasul. Pendapat ini diperkuat oleh pandangan imam al-Baihaqi yang mengatakan bahwa Muhammad Saw telah diangkat menjadi nabi pada bulan Rabiul Awal atau 6 bulan sebelum peristiwa gua Hira.

Dengan demikian, sebelum turunnya Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5 telah ada komunikasi ilahi kepada nabi Muhammad Saw. Menurut Ibnu Hajar al-‘Ashqalani wahyu atau komunikasi ilahi lewat mimpi-mimpi ini berfungsi sebagai persiapan mental bagi beliau dalam menerima wahyu-wahyu berikutnya, yakni melalui perantara malaikat Jibril yang datang dalam keadaan terjaga (sadar).

Penjelasan peristiwa wahyu pertama dan turunnya Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5 di atas sebagai bukti Allah Swt mengangkat Muhammad Saw sebagai rasul tercatat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa Aisyah ra berkata, “Wahyu yang diterima Rasulullah dimulai dengan suatu mimpi yang benar (al-rukyah al-shadiqah). Dalam mimpi itu beliau menglihat cahaya terang laksana fajar menyingsing di pagi hari….”

Dikisahkan, kemudian beliau pergi untuk melakukan khalwat (uzlah). Beliau melakukan khalwat di gua Hira selama beberapa malam, lalu pulang ke rumah kepada keluarganya (Khadijah) untuk mengambil bekal. Ketika beliau kembali ke gua Hira akhirnya turunlah wahyu Allah Sawt, yakni Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5 yang disampaikan oleh malaikat Jibril dalam bentuk aslinya.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Selepas menerima wahyu tersebut, nabi Muhammad Saw kemudian pulang ke rumah menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid ra, dalam keadaan gemetar dan ketakutan. Khadijah yang melihat keadaan nabi sedemikian rupa – padahal sebelumnya tidak pernah terjadi – kemudian menyelimuti baginda nabi Saw dan mencoba menenangkan beliau.

Setelah itu, barulah nabi Muhammad Saw menceritakan peristiwa apa yang terjadi di gua Hira, bahwa ia telah didatangi seorang malaikat yang membawa wahyu Allah Swt. Mendengar cerita suaminya, Khadijah langsung percaya dan mengimani dirinya, sebab suaminya itu sejak kecil terkenal sebagai seorang pria jujur. Ia yakin bahwa suaminya telah dipilih oleh Allah Swt untuk menjadi rasul bagi umat manusia.

Untuk mengetahui info lebih lanjut mengenai peristiwa ini, Khadijah kemudian mengajak nabi Saw menemui pamanya, Waraqah bin Naufal, seorang yang beragama Nashrani dan pernah menyalin kitab Injil berbahasa Ibrani. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai paman, dengarkan kemenakanmu ingin bercerita sesuatu kepadamu agar engkau memberikan pendapat tentangnya.”

Waraqah menjawab, “Wahai anak saudaraku, apakah gerangan yang telah menimpa dirimu.” Kemudian nabi Muhammad Saw bercerita mengenai hal yang dialaminya. Lalu Waraqah berkata, “Itu adalah malaikat yang pernah turun kepada nabi Musa. Seandainya aku masih hidup dan masih kuat, pastilah aku akan menolongmu, karena engkau akan diusir oleh kaummu nanti.”

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 56: Perintah Bershalawat Kepada Nabi Muhammad Saw

Rasulullah Saw kemudian balik bertanya, “Akankah mereka mengusirku?” “Ya,” jawab Waraqah secara singkat. Ia juga berkata, “Tak seorangpun yang mengalami apa yang engkau alami ini, kecuali dimusuhi oleh orang-orang jahil (bodoh). Dan kalau saja aku ini masih hidup pada saat pengusiranmu itu, pastilah aku akan menolongmu.” Kata-kata tersebut ia ucapkan dengan penuh keyakinan. Namun naas, tak berselang lama setelah peristiwa ini, ia kembali ke hadirat Allah Swt.

Setelah mendengarkan penuturan Waraqah, nabi Muhammad dan Khadijah tersadar bahwa ini akan menjadi suatu peristiwa yang sangat besar dan akan menggoncangkan dunia Arab. Di sisi lain, Nabi Muhammad Saw juga menjadi lebih yakin bahwa Allah Swt telah mengangkat dirinya sebagai rasul bagi seluruh umat manusia dan akan mengemban amanat agung, yakni agama Islam. Wallahu a’lam.

Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Tiga Artikel Refleksi Peringatan Kelahiran Baginda Rasulullah

0
Tiga artikel untuk Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Tiga Artikel Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Kamis (29/10), 12 Rabi’ul Awwal 1442 H, adalah hari peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Pada momen ini kita diajak untuk mengenang kembali sosok pembawa agama paripurna, yang menebar rahmat untuk semesta. Seperti yang Allah firmankan dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 107:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”

Kehadiran Nabi sebagai rahmat semesta tidaklah berlebihan. Sejarah membuktikan, sosoknya amat berpengaruh terhadap peradaban umat Islam, bahkan pengaruhnya itu juga diakui oleh masyarakat non Islam, seperti penduduk Ethiopia yang kala itu dipimpin Raja Najashi.

Ia manusia paling sempurna di segala bidang. Pencipta sistem sosial berkemajuan. Rasul yang menyampaikan risalah penuh kasih. Pemimpin yang dicintai oleh umatnya. Dan, manusia paling luhur pekertinya. 

Di masa krisis ini, tentu perayaan maulid tidak semeriah biasanya. Tetapi, Nabi Saw dan keluhuran pekertinya tetap bisa kita teladani melalui perjalanan dakwah yang telah ia lalui. Untuk itu, kami hadirkan 3 artikel pilihan sebagai refleksi  peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Nabi Muhammad Saw Adalah Suri Tauladan Bagi Manusia

Pada artikel pertama, penulis mengungkap pribadi Nabi yang multi talenta, manusia sempurna. Kegigihannya mendakwahkan Islam yang damai dan penuh rahamat serta perbuatannya yang selalu baik pada semua orang, menjadikannya tokoh berpengaruh. Tidak hanya di kalangan muslim, tetapi juga non Muslim, seperti Michael Hart dan John Lespito.

Keberhasilan dakwahnya, diiringi building personality yang sempurna ini membuat Nabi menjadi sosok teladan baik bagi manusia, muslim pada khususnya. Surat Al-Ahzab ayat 21 ini kemudian mempertegas bahwa Nabi Muhammad Saw adalah suri tauladan yang baik bagi umat Islam. Sekaligus mengecam perilaku munafik, yang di mulut Islam, tapi di hati dan perilaku sama sekali tidak mencerminkan budi perkerti Nabi.

Tafsir Al-Qalam 2-4: Pujian Allah terhadap Budi Pekerti Mulia Rasulullah

Arikel kedua ini menjelaskan akhlak Nabi Saw. sebagai akhlak yang paling mulia. Sampai-sampai, tidak ada satu sahabat pun yang tidak memenuhi pangginan Nabi. Semua selalu menjawab labbayka kupenuhi panggilanmu). Karena hal ini, Allah memuji keluhuran budi pekerti Nabi lewat firmanNya, surat Al-Qalam ayat 4.

Dalam tulisannya ini, penulis juga menerangkan, surat Al-Qalam ini turun untuk menyangkal pelecehan para Kafir Quraish yang berkata bahwa Nabi orang gila. Allah menangkis hal itu dengan firman-Nya, Surat Al-Qalam ayat 2.

Inilah Potret Perayaan Maulid Nabi dalam Al-Quran

Artikel terakhir menyorot bagaimana potret perayaan Nabi dalam Al-Quran, yang dilakukan umat pra Islam. Seperti yang dinarasikan dalam surat as-Shaffat ayat 6.

Pada sumber ajaran pra Islam, yakni Taurat dan Injil wujud, sifat dan kebesaran Nabi Akhiruzzaman. Nabi itu tak lain ialah Nabi Muhammad Saw. Hal ini terbukti dengan pengakuan Rahib Buhaira yang menyatakan tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad yang ia peroleh dari kitab Injil. Dalam Al-Quran, data historis ini termaktub dalam Surat As-Shaffat ayat 6. Memberi kabar gembira akan kelahiran Nabi Muhammad inilah, yang menjadi salah satu potret perayaan maulid dalam Al-Quran.

Selain itu, tulisan ini juga menyajikan informasi lain tentang cara merayakan maulid dalam Al-Quran. Yakni, perintah selawat kepada Baginda Nabi setiap saat dan kesempatan. Bahkan, Allah, Para malaikat pun bershalawat kepada Nabi. Perintah ini berlandaskan firman Allah pada Surat Al-Ahzab ayat 56.

Demikian tiga artikel yang dapat dibuat refleksi dalam momentum peringatan maulid Nabi Muhammad Saw . Sepanjang cara menyemarakkan peringatan diekspresikan pada kegiatan positif, berarti kita telah meneladani pekerti Nabi Saw, Insan paling mulia. 

Wallahu a’lam[]