Beranda blog Halaman 493

KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, Kedekatan antara Gontor dengan Daarul Qur’an

0
KH. Abdullah Syukri Zakarsyi
KH. Abdullah Syukri Zakarsyi/ pwmu.co

Wafatnya Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH. Abdullah Syukri Zarkasyi pada hari Rabu (21/10/2020) masih menyisahkan duka yang mendalam bagi bangsa Indonesia terlebih keluarga besar Pondok modern darussalam gontor. Pasalnya beliau merupakan guru bangsa, suri tauladan, inspirator serta motivator yang handal sehingga bisa membawa pondok modern khususnya gontor menjadi salah satu institusi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. 

Kyai Abdullah Syukri ini adalah putra pertama dari Kiyai Imam Zarkasyi, yang merupakan salah seorang dari Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Pada tahun 1960, ia menamatkan Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) dan melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN) hingga mendapatkan gelar Sarjana Muda tahun 1965. Kyai Abdullah Syukri adalah ulama besar jebolan Universitas Al-Azhar Kairo, meraih gelar Licence (Lc.) tahun 1976 dan Master of Art (MA) di tahun 1978.

Semasa hidup, pengalaman berorganisasi beliau cukup luas, antara lain menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Ponorogo, Ketua Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren Jawa Timur sejak 1999 – sekarang, Ketua Forum Silaturrahmi Umat Islam Ponorogo sejak 1999 – sekarang, Ketua MP3A Depag (Majlis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama sejak 1999 – sekarang. “(Dan) Dewan Penasehat MUI Pusat,” dikutip dari website resmi Gontor pada Rabu (30/10/2020).


Baca juga: Cara Menangkal Hoaks (Berita Bohong) Menurut Pandangan Al-Quran


Kiprah Kyai Abdullah Syukri Zarkasyi dalam bidang pendidikan tak dapat diragukan lagi, disamping kesibukannya sebagai pimpinan pondok beliau menyempatkan diri untuk menulis berbagai macam topik terkait pendidikan dan manajemen pesantren. Maka tak diragukan lagi jika Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2005 memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada kyai syukri atas dedikasi dan kontribusi beliau dalam bidang pendidikan yang telah menjadikan gontor sebagai salah satu role model yang ideal bagi lembaga pendidikan di Indonesia.

Kedekatan antara Gontor dengan Darul Qur’an

Darul Qur’an merupakan salah satu lembaga tahfidz yang didirikan oleh Ust. Yusuf Mansur pada tahun 2007 walaupun pendiriannya sudah dirintis sejak tahun 2003. Darul Qur’an merupakan Pondok Pesantren yang mengharmonikan antara pendidikan, lifeskill, sosial, dakwah, dan religi, disamping menjadikan hafalan Qur’an menjadi salah satu standar kualifikasi santri Darul Qur’an.


Baca juga: Tuntunan Al-Quran dalam Menyikapi Penghinaan Terhadap Nabi SAW


Tidak disangka bahwa gontor khususnya Kyai Syukri mempunyai peran besar dalam pendirian lembaga tahfidz yang sudah mempunyai banyak cabang di seluruh Indonesia, hal tersebut dapat diketahui dari ucapan bela sungkawa atas wafatnya Kyai Syukri oleh Ust. Yusuf Mansur di akun instagram beliau.

“Kyai Syukri, sosok kyai yang suka kalo anak2 santrinya maju. Suka sekali. “Santri itu harus melebihi kyainya”, tuturnya saat mensupport anak2 didiknya, alumni2 Gontor, mengawali pendirian Daarul Qur’an, di tahun 2007. Motivasi yang luar biasa” tutur Ustadz Yusuf Mansur di akun instagramnya @yusufmansurnew, dikutip Jum’at (30/10/2020).

Selain itu, Ustadz Yusuf Mansur pun menyampaikan duka yang mendalam atas wafatnya Kiai Syukri. Pengakuan beliau bahwa, jika tidak ada Pondok Pesantren Gontor, maka tidak ada pula Pondok Pesantren Daarul Quran. “Bagi DQ (Daarul Quran), kalau nggak ada Gontor, dengan izin Allah, nggak ada DQ,” tegas beliau.


Baca juga: Muhammad Ali Ash-Shabuni, Begawan Tafsir Ayat Ahkam Asal Aleppo, Suriah


Hubungan dan kedekatan antara Gontor dan Daarul Qur’an dapat dilihat juga dari sambutan Ust. Yusuf Mansur dalam acara Silaturrahim Nasional Kyai dan Pimpinan Pesantren Alumni Gontor tahun 2016 dimana Daarul Qur’an menjadi tuan rumah acara tersebut dan menggratiskan hotelnya bagi para peserta silatnas. Beliau menuturkan bahwa Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Tangerang yang didirikannya, juga dipimpin oleh alumnus Gontor yaitu Ahmad Jameel. Jadi, kami juga bagian dari keluarga besar Alumni Gontor. Wallahu a’lam []

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Dakwah Rasulullah itu Menyampaikan Kebenaran dengan Cara yang Benar Pula

0
dakwah Rasulullah yang penuh kasih sayang
dakwah Rasulullah yang penuh kasih sayang

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw seharusnya menjadi sarana bagi kita untuk mengungkap apa yang bisa dicontoh dari dakwah Rasulullah. Karena beliau adalah teladan yang paling baik untuk kita contoh dalam menyikapi kehidupan. Allah Swt berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. ( QS. Al-Ahzab [33]:21)

Ada banyak hal yang bisa kita contoh dari kehidupan Rasulullah, salah satunya adalah bagaimana sikap beliau dalam berdakwah dan menyampaikan kebenaran di tengah-tengah keburukan akhlak umat manusia. Dakwah untuk perubahan yang beliau lakukan di masyarakat jauh dari unsur-unsur kekerasan. Hal ini banyak diungkap dalam sejarah-sejarah Islam.

Dalam suatu riwayat pernah diceritakan, ketika Rasulullah Saw duduk bersama para sahabat, tiba-tiba datang seorang pendeta yang bernama Zaid bin Sa’nah masuk menerobos shaf para sahabat. Sesampainya di depan ia langsung menarik kerah baju Rasulullah dengan keras lantas disusul dengan kata-kata kasar menuntut Rasulullah untuk membayar hutang beliau.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Nabi Muhammad Saw Adalah Suri Tauladan Bagi Manusia

Seketika Umar bin Khattab langsung berdiri menghunus pedang. Melihat sikap Umar yang sudah marah, Rasulullah menegur seraya berkata “bukan dengan perilaku kasar seperti itu aku menyerumu. Aku dan Yahudi ini membutuhkan perilaku lembut. Perintahkan kepadanya agar menagih hutang dengan sopan dan anjurkan kepadaku agar membayar hutang dengan baik.”

Mendengar perkataan Rasulullah tersebut, pendeta Yahudi itu berkata, ‘Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku datang kepadamu bukan untuk menagih hutang. Aku sengaja datang untuk menguji Akhlakmu. Aku telah membaca sifat-sifatmu dalam kitab Taurat. Semua sifat itu telah terbukti, kecuali satu yang belum aku coba, yaitu sikap lembut saat marah. Dan aku baru membuktikannya sekarang. Oleh karena itu, aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Adapun piutang yang ada padamu, aku sedekahkan untuk orang muslim yang miskin”.

Cerita di atas menggambarkan bagaimana kelembutan sikap Nabi ketika menghadapi kekerasan sikap orang Yahudi, sehingga hatinya tersentuh dan mengakui kebenaran Islam. Seperti inilah contoh dakwah Rasulullah yang seharusnya kita terapkan di zaman milenial, yakni menyerukan kebenaran tidak harus dengan menggunakan kata-kata kasar. Bahkan jika kita perhatikan kisah dalam Al-Quran, kepada seorang Fir’aun pun Allah Swt menyeru kepada Nabi Musa dan Nabi Harun a.s untuk menghadapinya dengan kata-kata dan ucapan yang lemah lembut. Allah Swt berfirman,

اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”. (QS. Taha:43-44)

Baca Juga: Hinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang Diabadikan dalam Al-Quran

Sikap ini diajarkan pula oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, seperti dalam firman-Nya

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Al-Imran: 159)

Kedua ayat di atas menerangkan bagaimana sikap seorang pemimpin ketika melihat masyarakatnya melakukan suatu kesalahan. Di sisi lain juga merespon bagaimana seharusnya masyarakat bersikap ketika melihat seorang pemimpin melakukan kesalahan. Itulah dakwah Rasulullah.

Contoh lain yaitu dalam menyuarakan aspirasi atau kritikan kepada pemerintah, misal mahasiswa Indonesia yang dikenal dengan aksi demo. Aksi demonstrasi di Indonesia sering berujung dengan tindakan kekerasan antara aparat keamanan dan mahasiswa saling pukul memukul, bahkan sampai merenggut nyawa.

Padahal, aksi demo sebenarnya dilakukan untuk mengkritik kesalahan yang dibuat dalam aturan pemerintah untuk kemudian dapat dikoreksi demi kemaslahatan masyarakat luas. Namun, karena sikap  kasar, permasalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang baik-baik  menjadi tambah pelik dan menyebabkan pertengkaran antara kedua belah pihak.

Baca Juga: Tuntunan Al-Quran dalam Menyikapi Penghinaan Terhadap Nabi SAW

Oleh karena itu, dari pribadi Rasulullah kita bisa meniru bahwa kesalahan yang diperbuat tidak harus disikapi dengan kekerasan. Sebaliknya, Rasulullah mengajak orang yang melakukan kesalahan  dengan bermusyawarah, dan merundingkan jalan keluar dari masalah itu dengan lemah lembut. Seperti demikian itulah dakwah Rasulullah. Jika sikap seperti ini dapat kita contoh, bukan tidak mungkin kehidupan dalam konteks sosial Indonesia yang sangat beragam dapat hidup berdampingan dengan aman.

Persoalan yang muncul adalah tidak semua orang mampu mencontoh sikap dan dakwah Rasulullah. Kebanyakan dari mereka yang mengaku  menjalankan sunnah beliau, pun masih juga menyampaikan dakwah kebenaran dengan cara yang kasar. Hal ini tentu sudah bertolak belakang dengan bagaimana sikap Rasulullah seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran.

Dan pada kesimpulannya, kita bisa menentukan sendiri cara yang akan ditempuh dalam berdakwah dan menyelesaikan masalah, bersikap keras dan tegang, atau lembut dan tenang. Tentunya sebagai pribadi yang terpelajar, kita tahu mana yang terbaik.

Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 23-25

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Setelah pada pembahasan yang lalu dijelaskan salah satu contoh mengenai ayat-ayat Allah swt, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 23-25 menindak lanjutinya dengan tantangan bahwa jika masih ada keraguan terdahap ayat-ayat Allah swt, maka cobalah buat semisal ayat-ayat Allah swt yang ada dalam Alquran.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22


Tantangan awal yang dikemukakan dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 23-25 adalah membuat satu surat sebagaimana surat-surat dalam Aquran. Namun Allah swt menegaskan bahwa orang-orang yang ingkar tersebut tidak akan mampu membuatnya. Tantangan tersebut hanya merupakan sindiran atas ketidak mampuan mereka.

Setelah itu Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 23-25 berbicara mengenai kabar gembira. Kabar ini hanya diperuntukkan bagi orang-oang yang beriman kepada ayat-ayat Allah swt, yaitu orang-orang mukmin yang beramal dengan dilandasi keimanan. Kerena syarat amal saleh adalah iman.

Ayat 23

Dalam ayat ini Allah swt menyatakan: Jika kamu sekalian masih ragu-ragu tentang kebenaran Alquran dan mendakwakan Alquran buatan Muhammad, cobalah buat satu surah saja semisal (ayat-ayat Alquran itu ).

Kalau benar Muhammad yang membuatnya, niscaya kamu tentu sanggup pula membuatnya karena kamu pasti sanggup melakukan segala perbuatan yang sanggup dibuat oleh manusia. Ajak pulalah berhala-berhala yang kamu sembah dan pembesar-pembesarmu untuk bersama-sama dengan kamu membuatnya, karena kamu mengakui kekuasaan dan kebesaran mereka.

Kemudian Allah menegaskan, jika kamu benar dalam pengakuanmu itu, tentu kamu sanggup membuatnya, tetapi kamu adalah orang-orang pendusta. Alquran itu benar-benar diturunkan dari Allah, karena itu mustahil manusia dapat membuatnya. Ayat ini menunjukkan bahwa Alquran itu adalah mukjizat yang paling besar bagi Muhammad saw.

Ayat 24

Ayat ini menegaskan bahwa semua makhluk Allah tidak akan sanggup membuat tandingan terhadap satu ayat pun dari ayat-ayat Alquran. Karena itu hendaklah manusia memelihara dirinya dari api neraka dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Alquran. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah swt:

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

Katakanlah, ”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Alquran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (al Isra′/17: 88)


Baca juga: Sejarah Baru! KH Sya’roni Ahmadi, Gus Mus dan Sembilan Kaligrafer akan Tulis Ulang Mushaf Menara Kudus


Ayat 25

Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menyampaikan “berita gembira” kepada orang-orang yang beriman. Sifat-sifat berita gembira itu ialah berita yang dapat menimbulkan kegembiraan dalam arti yang sebenarnya bagi orang-orang yang menerima atau mendengar berita itu.

“Berita gembira” hanya ditujukan kepada mereka yang bekerja dan berusaha dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan yang digariskan oleh agama. Karena itulah Allah menyuruh Nabi Muhammad menyampaikan berita gembira itu kepada mereka yang beriman dan berbuat baik.

Iman yang dihargai Allah adalah iman yang hidup, yakni iman yang dibuktikan dengan amal kebajikan. Sebaliknya, Allah tidak menghargai amal apabila tidak berdasarkan iman yang benar.

“Amal” (perbuatan) ialah mewujudkan suatu perbuatan atau pekerjaan, baik berupa perkataan, perbuatan atau pun ikrar hati, tetapi yang biasa dipahami dari perkataan “amal” ialah perbuatan anggota badan. Amal baik mewujudkan perbuatan yang baik seperti yang telah ditentukan oleh agama.

Pada ayat di atas Allah swt menyebut perkataan “beriman” dan “berbuat baik”, karena “berbuat baik” itu adalah hasil daripada “iman”. Pada ayat di atas ini juga disebut balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang beriman, yaitu surga dengan segala kenikmatan yang terdapat di dalamnya.

Surga” menurut bahasa berarti “taman” yang indah dengan tanam-tanaman yang beraneka warna, menarik hati orang yang memandangnya. Yang dimaksud dengan “surga” di sini tempat yang disediakan bagi orang yang beriman di akhirat nanti.

Surga termasuk alam gaib, tidak diketahui hakikatnya oleh manusia, hanya Allah saja yang mengetahuinya. Yang perlu dipercaya adalah bahwa surga merupakan tempat yang penuh kenikmatan jasmani dan rohani yang disediakan bagi orang yang beriman. Bentuk kenikmatan itu tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan duniawi.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 26


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Ibrahim Ayat 1: Al-Quran sebagai penerang dari kegelapan

0
Surat Ibrahim Ayat 1
Surat Ibrahim Ayat 1

Artikel ini akan mengulas tentang penafsiran surat Ibrahim Ayat 1. Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Quran merupakan tuntunan yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Allah Swt berfirman:

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

‎“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu ‎supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya ‎terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan ‎Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Q.S. Ibrahim: 1)‎

Imam Al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, ketika ‎sampai pada surat Ibrahim Ayat 1 tepatnya pada kalimat litukhrija al-nas min al-dzulumat ila al-nur di atas, menjelaskan bahwa di antara fungsi al-Qur’an adalah ‎mengeluarkan seseorang dari gelapnya kekafiran serta sesatnya kebodohan ‎menuju terangnya cahaya keimanan dan ilmu pengetahuan.‎

Al-Qurthubi mengilustrasikan kekafiran dan kebodohan dengan ‎kegelapan dan kesesatan. Sedangkan Iman dan ilmu pengetahuan ‎digambarkan sebagai cahaya yang terang benderang.‎

Baca Juga: Pro Kontra Munasabah Al-Quran dan Cara Menyikapinya

Sungguh tepat perumpamaan yang digambarkan oleh al-Qurthubi. ‎Orang-orang kafir adalah mereka yang menutup diri dari cahaya kebenaran, ‎sehingga mereka tetap berada dalam kegelapan.

Mereka abaikan semua ‎keterangan yang diberikan oleh al-Qur’an. Mereka larut dalam keangkuhan ‎dan kesombongan. Mereka terlelap dalam pelukan nafsu. Mereka tenggelam ‎dalam keyakinan yang menyengsarakan.‎

Al-Qurthubi juga mengilustrasikan kebodohan dengan kesesatan. Ya, ‎orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan adalah orang-orang yang ‎akan tersesat. Mereka tidak mengetahui arah dan tujuan hidup di dunia ini.

‎Mereka berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Mereka melangkah tanpa ‎berpikir. Mereka bertindak tanpa mempertimbangkan resiko yang akan ‎didapatnya. Merekalah orang-orang yang akan tersesat. Jika dibiarkan, maka ‎tidak menutup kemungkinan, mereka pun akan menyesatkan orang lain.‎

Dalam kondisi seperti inilah, seseorang memerlukan petunjuk ‎‎(hidayah) yang akan membimbing, menuntun serta mengantarkannya dari ‎kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, dari kesesatan menuju ‎kebenaran. Dan petunjuk itu adalah al-Qur’an.‎

Al-Qur’an menegaskan dirinya sebagai hudan li al-nas, petunjuk bagi ‎umat manusia. Artinya, bahwa al-Qur’an adalah pedoman hidup yang berisi ‎tuntunan serta ajaran yang akan menuntun setiap manusia menuju jalan ‎yang terang benderang.

Al-Qur’an, sebagaimana dinyatakan dalam surat Ibrahim ayat 1 di atas, akan melepaskan manusia dari kegelapan ‎menuju cahaya, dari kesesatan menuju kebenaran, dari ketidakmenentuan ‎menuju kepastian, dari kesengsaraan menuju kebahagiaan.‎

Baca Juga: Amaliyah Ayat-Ayat Al-Quran Untuk Mengobati Penyakit Demam

Di era modern sekarang ini, ketika seseorang telah mencapai ‎kesuksesan duniawi, tidak jarang ia merasakan kegamangan hidup dan ‎kegersangan jiwa. Hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya antara ‎capaian duniawi yang bersifat materi-jasadi dengan capaian ukhrawi yang ‎bersifat spiritual-rohani. Dari sisi materi mereka tidak kekurangan, bahkan ‎berkelimpahan. Sementara dari sisi ruhani mereka kosong, kering kerontang.‎

Kekosongan ruhani inilah yang pada gilirannya membuat hati mereka ‎galau, batin mereka gelisah, jiwa mereka resah. Mereka pun kemudian mencari ‎alternatif jawaban untuk masalah yang tengah dihadapinya.

Di antara mereka ‎ada yang mendatangi orang-orang ‘pintar’ atau sering disebut dengan ‘guru ‎spiritual’, ‘penasehat spiritual’ untuk menanyakan jawaban atas persoalan ‎yang dihadapinya. Ada juga yang mencari jawaban dengan membaca buku-‎buku motivasi. Bahkan, tidak sedikit yang mengalihkan perhatian atas ‎persoalan yang dihadapinya dengan menghabiskan hari-harinya di tempat-‎tempat hiburan.‎

Padahal, jika mereka mau merenung sejenak, maka akan didapati ‎jawaban atas persoalan yang dihadapinya terletak pada ajaran serta tuntunan ‎agama. Dalam hal ini, al-Qur’an menjadi solusi yang tepat atas setiap ‎persoalan yang tengah dihadapi oleh setiap orang. ‎

Al-Qur’an akan menunjukkan jalan keluar atas setiap persoalan yang ‎dihadapi oleh manusia. Al-Qur’an akan menuntun, membimbing dan ‎mengarahkan manusia untuk keluar dari masalah.

Al-Qur’an menjadi pelita ‎yang akan menerangi jalan orang-orang yang tengah dirundung masalah, ‎ditimpa kesulitan dan dililit persoalan. Dengan menjadikan al-Qur’an sebagai ‎buku panduan kehidupan, maka ungkapan “habis gelap terbitlah terang” akan ‎benar-benar terwujud.‎ Wallahu A’lam.

Cara Menangkal Hoaks (Berita Bohong) Menurut Pandangan Al-Quran

0
Hoaks (berita bohong)
Hoaks (berita bohong)

Hidup di era post-truth seperti sekarang ini berita bisa diakses secepat sentuhan jari. Sejalan dengan itu, kecanggihan alat komunikasi juga berdampak pada objektivitas berita, yang sulit dicari ketika hoaks (berita bohong) banyak bermunculan di media massa. Sebagai imbasnya, kerap timbul kerusuhan yang bahkan nyawa sebagai taruhannya. Untuk menangkal terjadinya hal itu, kroscek berita adalah salah satu tips jitu.

Dalam Al-Quran, upaya kroscek berita diistilahkan dengan tabayyun, sebagaimana dalam QS al-Hujurat [6] berikut ini:

ياآيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين ﴿٦

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu

Ayat tersebut mengandung perintah kepada orang mukmin untuk tidak mempercayai berita sebelum mencari kebenarannya, agar tidak mencelakakan orang lain. Hal ini diperintahkan agar tidak ada sesal di kemudian hari.

Menurut Ali al-Shabuni, tabayyun merupakan sinonim dari tathabbuts, yang berartimencari kejelasan dan kebenaran. Dalam konteks ini diartikan dengan perintah untuk mencari kebenaran suatu berita hingga paham mengenai hal-ihwal berita itu.

Baca Juga: Mengenal Shafwah At-Tafasir Karya Ali Ash-Shabuni

Mencari kebenaran berita dapat dilakukan dengan meninjau sumber berita tersebut, apakah otoritatif atau tidak. Dalam ayat di atas, sumber berita yang wajib ditinjau kebenarannya diistilahkan dengan fasik.

Secara bahasa, fasikmerupakan kata sifat dari fasaqa. Quraish Shihab dalam al-Mishbah menyebutkan, fasik pada mulanya digunakan untuk menyebut buah yang telah busuk, kemudian dikiaskan dengan orang yang membangkang agama karena melakukan dosa besar atau sering melakukan dosa kecil. Dalam Lisanul Arab, kata fasik memiliki makna antara lain keluar dari kebenaran dan mendurhakai perintah Allah.

Seperti dalam QS al-Kahfi [50]:

ففسق عن أمر ربه ﴿٥٠

maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.

Selanjutnnya, fasik dalam konteks ayat itu dapat diartikan dengan segala berita yang sumbernya tidak otoritatif dan substansinya tidak berimbang.

Sementara itu, naba’ ialah kabar yang substansinya penting, memiliki nilai informatif, atau dapat disebut dengan berita. Sebagaimana dalam QS al-Naml [22] dan QS Sad ayat [67]:

وجئتك بسبإ بنبإ يقين

Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ dengan membawa suatu berita yang meyakinkan

قل هو نبأ عظيم ٦٧

Katakanlah, “itu (Alquran) adalah berita besar

Bila melihat kronologi turunnya, ayat 6 surat al-Hujurat ini merespons tindakan menyimpang seorang sahabat bernama Walid bin Uqbah yang diutus Nabi untuk memungut zakat dari Bani Mustaliq.

Dalam Asbabun Nuzul karya al-Wahidi diceritakan bahwa sebelum sempat menemui Bani Mustaliq, Walid berprasangka buruk kepada Bani Mustaliq, yang meruapakan musuh moyangnya. Karena itu, ia memutuskan untuk kembali ke Nabi dan lapor bahwa Bani Mustaliq enggan menyerahkan zakat dan mengancam akan menyerangnya.

Nabi kemudian mengutus pasukan untuk menyergap Bani Mustaliq. Tetapi sebelum utusan ini berangkat, ayat ini turun, memerintahkan untuk menyaring berita bagi kaum muslim, sebelum mereka mengambil sikap.

Walid dalam konteks ini merupakan sumber yang tidak otoritatif karena berita yang ia sampaikan tidak sesuai dengan fakta. Bani Mustaliq pada kenyataannya tidak memiliki maksud negatif kepada Walid. Sehingga, upaya kroscek (tabayyun) dalam kondisi seperti ini adalah hal yang harus dilakukan, karena bila tidak, dapat memicu konflik antar umat Islam.

Melarang penyebaran hoaks (berita bohong) merupakan keniscayaan bagi Islam, karena Fitrah Islam adalah menyerukan kebenaran dan menumpas kebatilan. Kemudian QS al-Hujurat [6] ini turun untuk memberi pedoman bagi kita tentang bagaimana sikap kita ketika dihadapkan dengan berita yang terindikasi mengandung kebohongan.

Sikap itu dapat ditunjukkan dengan meninjau ulang sumber berita dan konten yang disampaikannya. Tanpa ada pedoman ini, manusia akan saling berbuat celaka kepada sesama. Hanya dengan menyebar berita yang tak sesuai, keresahan dan kerusuhan akan menyemai. Maka tak berlebihan, bila Nabi mengkategorikan hoax ini sebagai salah satu dosa besar. Wallahu a’lam []

Mengenal Shafwah At-Tafasir Karya Ali Ash-Shabuni

0
shafwah at-tafasir
shafwah at-tafasir

Di antara kitab tafsir yang masyhur di abad ke-20 adalah Shafwah at-Tafasir karangan Muhammad Ali ash-Shabuni, Ulama asal Aleppo, Syiria. Kitab tafsir tersebut amat familiar di dunia akademik baik internasional maupun nasional karena disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami, ilmiah, rinci, jelas dan mendalam.

Selayang Pandang Shafwah At-Tafasir

Shafwah at-Tafasir merupakan kitab tafsir yang mempunyai judul lengkap “Tafsir li Al-Quran al-Karim: Jam’i bayna al-Ma’tsur wa al-Ma’qul, Mustamid min Awsaq Kutub al-Tafsir.” Kitab ini lahir atas keprihatinan al-Shabuni terhadap kondisi sosio-kultural masyarakat Islam. Beliau memandang perlunya kitab tafsir yang menerangkan tentang Al-Quran secara ringkas dan jelas, serta mudah dipahami oleh umat Islam. Tafsir ini dinamakan Shafwah al-Tafasir sebab tafsir ini meng-collect penjelasan-penjelasan inti dari tafsir-tafsir besar yang terperinci, ringkas, terstruktur, dan jelas.

Latar belakang Penulisan

Shafwah al-Tafasir ditulis selama lima tahun, siang dan malam, Ash-Shabuni menulisnya dengan penuh kehati-hatian dan konsentrasi. Ia tidak menulis satu poin pun sebelum membaca terlebih dahulu karya-karya tafsir yang ditulis oleh mufasir sebelumnya yang merupakan kitab tafsir besar yang terpercaya. Lalu kemudian meneliti dan menganalisisnya secara mendalam untuk memilih mana pendapat yang paling kuat, baru beliau tuangkan dalam kitab tafsirnya.

Shafwah al-Tafasir ditulis ketika Ali Ash-Shabuni mengajar di fakultas Syariah dan Dirasah Islamiyah di Universitas King Abdul Aziz, Makkah pada tahun 1381 H. Di antara motivasi Ash-Shabuni dalam menulis kitab tafsir ini ialah di zaman modern ini, semua orang dituntut untuk melakukan sesuatu yang cepat saji atau instan.

Hal ini membuat umat Muslim menyukai hal-hal yang ringkas, dan jelas dibanding bersusah payah atau berjibaku menelaah kitab tafsir yang berjilid-jilid. Karenanya Ash-Shabuni mencoba menulis tafsir yang cukup jelas, ringkas dan mendalam dengan tidak menanggalkan sisi ilmiahnya.

Di samping itu, sudah menjadi kewajiban ulama atau pemuka agama untuk menjadi jembatan bagi pemahaman umat Muslim terhadap Al-Quran dengan memberikan kemudahan dalam mengkajinya. Selain itu juga, Ash-Shabuni belum menemukan suatu penafsiran yang “sesuai” diinginkannya. Hal tersebutlah yang mendorongnya untuk menulis Shafwah At-Tafasir ini.

Baca juga: Abdul Qadir Mulla Huwaisy: Ahli Hukum Islam Penulis Tafsir Bayani al-Maani

Karakteristik Shafwah At-Tafasir

Ash-Shabuni mengawali tafsir ini dengan dua potongan ayat (Q.S. An-Nahl [16]: 44 dan Q.S. Ali Imran [3]: 187). Eksemplar berikutnya berupa muqaddimah dari penerbit, lalu komentar-komentar para ulama yang terdiri atas 7 komentar mengenai kitab Shafwah At-Tafasir. Di mana seluruh komentar tersebut berupa komentar-komentar yang memuji keunggulan kitab ini.

Selain itu Ash-Shabuni juga memaparkan metode dan pendekatan dalam menulis kitabnya. Shafwah At-Tafasir ini terdiri atas 3 jilid; jilid 1 memuat penafsiran surat Al-Fatihah-Surat Yunus yang terdiri atas 608 halaman, Jilid 2 memuat penafsiran Surat Hud-Surat Fathir terdiri atas 591 halaman, Jilid 3 memuat penafsiran Surat Yasin-Surat An-Nas terdiri atas 638 halaman. Jadi total halaman Shafwah At-Tafasir adalah 1837 halaman.

Sistematika Penulisan

Dalam menyusun Shafwah At-Tafasir, Ash-Shabuni menggunakan metode yang sistematis sebagaimana yang dijelaskan dalam mukaddimahnya. Setidaknya terdapat 7 metode yang digunakan,

  1. Menjelaskan pokok isi, yaitu menjelaskan makna secara global (mujmal) dan menerangkan tujuan (maqashid).
  2. Menjelaskan munasabah (ketersesuaian ayat terdahulu dengan ayat sesudahnya).
  3. Menjelaskan dari aspek kebahasaan (semantik) meliputi derivasi kata Arab, argumen penggunan bahasa Arab , dan seterusnya.
  4. Mengemukakan asbabun nuzul (sebab turunnya ayat).
  5. Menjelaskan ayat dari aspek balaghah-nya (kefasihan dan estetika).
  6. Merumuskan pelajaran dan petunjuk (‘ibrah) yang dapat dipetik dari siyaq ayat tersebut.
  7. Melengkapinya dengan footnote (catatan kaki) dengan merujuk kepada pendapat ulama yang menurutnya paling baik (tarjih).

Selain itu, di setiap jilid tafsirnya ia mencantumkan fihris al-ahadis al-syarifah yang berisi hadits-hadits yang ia kutip disertai dengan nama mukharrij-nya.

Baca juga: Mengenal Tafsir As-Sya’rawi: Tafsir Hasil Kodifikasi Ceramah

Metode dan Corak Penafsiran

Shafwah At-Tafasir menggunakan metode tafsir tahlili, dengan mengintegrasikan tafsir bil ma’tsur dan tafsir bil ra’yi. Hal tersebut terpampang jelas dari judul tafsir ini “Shafwah At-Tafasir; Tafsir li Al-Quran al-Karim Jami’ bayna Al-Ma’tsur wa al-Ma’qul” (pokok-pokok kumpulan tafsir, penjelasan terhadap Al-Quran yang mulia, kumpulan antara al-Ma’tsur dan akal) yang di mana beliau sandarkan kepada kitab-kitab tafsir yang terpercaya, seperti At-Thabari, Al-Kasysyaf, Al-Qurthubi, Al-Alusi, Ibnu Katsir, Al-Bahr al-Muhit, dan. Sedangkan corak penafsirannya adalah adabi ijtima’i.

Kekhasan Shafwah At-Tafasir

Shafwah At-Tafasir memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri dibanding kitab tafsir lainnya, di antaranya adalah disusun secara ringkas namun tidak menanggalkan unsur novelty (kebaruan) dan ilmiahnya sehingga pembaca mampu memahami dan mengkontekstuaisasikan dengan kondisinya saat itu. Penggunaan bahasa yang mudah dipahami juga ditemukan dalam tafsir ini.

Selain itu, tafsir ini sarat akan catatan kaki yang memudahkan pembaca untuk melacak sumber kutipan. Banyak mengungkap i’jaz Al-Quran dengan mengutip dari berbagai pendapat ulama dengan latar belakang mazhab yang berbeda sehingga kitab tafsir ini tidak soliter alias kosmpolit dan memperkaya wawasan pembacanya serta terbiasa dengan model seperti itu.

Demikianlah pengenalan kita terhadap Shafwah At-Tafasir karya Muhammad Ali As-Shabuni. Kitab ini tetap menjadi primadona di kalangan pesantren dan rujukan ulama atau pelajar dunia yang hendak mengkaji Al-Quran dan tafsirnya. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 97-98

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Setelah pembasahan yang lalu berbicara megenai matahari dan bulan, Tafsir Surat Al An’am Ayat 97-98 ini berbicara mengenai bintang-bintang. Selain matahari dan bulan, bintang juga dijadikan sebagai petunjuk waktu dan petunjuk arah. Khususnya di waktu malam.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 96


Adapun yang dimaksud sebagai petunjuk arah dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 97-98 ini adalah fixed stars. Di antaranya adalah bitang Manzie, Aries, Cancer, dan bintang-bintang lainnya. selain itu bintang juga digunakan sebagai penentu posisi kiblat.

Setelah itu Tafsir Surat Al An’am Ayat 97-98 membahas mengenai pencipataan manusia. Allah mengajak manusia, terutama yang ingkar terhadap kebenaran ayat-ayat Allah swt untuk memikirkan benda-benda langit dan asal kejadian mereka sendiri.

Ayat 97

Allah menjelaskan tentang kegunaan benda-benda langit lainnya, yaitu benda-benda langit selain matahari dan bulan, yang terkenal dengan bintang-bintang yang digunakan oleh manusia sebagai penunjuk waktu, musim serta arah di waktu malam.

Bintang dijadikan sebagai penunjuk waktu ialah dengan jalan melihat terbit dan tenggelamnya kelompok-kelompok bintang itu. Sebagai tanda waktu, diambil sebagai pedoman bahwa pada tanggal 21 Maret tiap-tiap tahun matahari bersama-sama tenggelam dengan Aries pada jam 6.00 sore (18.00). Seterusnya tiap-tiap bintang itu tenggelam lebih dahulu dari matahari sekitar 1 derajat atau 4 menit.

Yang dimaksud dengan bintang-bintang penunjuk waktu di sini ialah bintang-bintang tetap (fixed stars), yaitu bintang-bintang yang bersinar sendiri dan mempunyai rasi (konstelasi) yang tetap. Bukan bintang-bintang yang bergerak (planet, as-sayarat) karena bintang-bintang ini selalu berkelana di antara konstelasi-konstelasi bintang yang lain.

Sebagai penunjuk musim, dapat diketahui dari kedudukan matahari di antara bintang-bintang tetap itu (manzie). Untuk mudahnya dapat dilihat pada saat matahari terbenam. Apabila Matahari terbenam bersama-sama dengan rasi Hamal (Aries), berarti saat itu tanggal 21 Maret musim semi sudah mulai tiba, sedangkan apabila matahari terbenam bersama-sama dengan Saratan (Cancer) saat itu tanggal 21 Juni; musim panas telah mulai tiba.

Apabila matahari tenggelam bersama-sama dengan rasi Mizan (Libra), berarti saat itu tanggal 23 September; musim gugur mulai tiba; dan apabila matahari tenggelam bersama-sama rasi Jadyu (Capricornus) berarti saat itu tanggal 22 Desember, musim dingin sudah mulai tiba. Musim-musim ini berlaku bagi negeri-negeri di belahan bumi Utara Khatulistiwa, sedang untuk negeri-negeri di belahan bumi Selatan Khatulistiwa berlaku sebaliknya.

Bintang-bintang sebagai penunjuk arah yang biasa dipergunakan orang ialah bintang-bintang tetap di luar mintaqatul buruj (Zodiac) yaitu bintang salib selatan (as-Salibul Januby Crux) yaitu dengan jalan menarik garis lurus dari gamma cruxis ke alpha cruxis dan memotong ufuk.

Titik perpotongan ialah titik selatan. Bintang biduk atau beruang besar (ad-Dubbul Akbar, Ursa Mayor) yaitu dengan jalan menarik garis lurus dari beta ursaayorise  melalui alpha ursae mayoris dan memotong ufuk. Titik perpotongan itulah utara. Lebih lanjut uraian ilmiah tentang manfaat bintang-bintang adalah sebagai berikut:

Bintang-bintang dijadikan petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut, memiliki makna bahwa bintang-bintang  dapat digunakan sebagai indikator navigasi dalam perjalanan/pengembaraan/pelayaran.

Dalam sejarah peradaban manusia, para pelaut dari bangsa-bangsa Viking, Romawi, Yunani, Arab, Spanyol, Portugis telah menggunakan pengetahuan mereka tentang posisi rasi-bintang sebagai indikator navigasi dalam pelayaran mereka yang jauh.

Rasi Bintang Salib-Selatan (Southern Cross) telah digunakan oleh para pelaut Inggris sebagai indikator navigasinya. Dalam bahasa ilmiah, indikator navigasi yang menggunakan atau berbasis pada posisi bintang-bintang di langit ini disebut stellar navigation. Stellar navigation juga telah digunakan oleh para pengembara darat untuk menentukan arah perjalanannya.

Dalam dunia modern sekarang ini, ternyata stellar navigation juga telah digunakan oleh pesawat antariksa, seperti jenis pesawat Ulang-alik (Space Shuttle): Columbia, Challenger, dan Enterprise.

Kegunaan lain bintang-bintang itu adalah sebagai penunjuk arah kiblat, letak Kota Mekah persis di sebelah selatan Kota Medinah.

Allah menjelaskan kekuasaan-Nya dalam menciptakan langit, bumi serta segala isinya dan segala macam bentuk kehidupan serta tata hukum yang berlaku untuknya secara terperinci. Penjelasan ini dimaksudkan, bahwa dengan meneliti keagungan ciptaan Tuhan tersebut, pikiran manusia menjadi terbuka untuk menerima keyakinan tentang adanya Pencipta langit, bumi serta segala isinya serta kekuasaan yang dimiliki-Nya.

Pada akhir ayat ini Allah menyebutkan bahwa penjelasan yang diberikan secara terpeinci itu ditujukan kepada orang-orang yang mempunyai pikiran yang bersih dan terpelihara dari pengaruh-pengaruh hawa nafsu, yaitu orang-orang yang meneliti benda-benda alam secara murni, terlepas dari tujuan-tujuan tertentu yang menjurus kepada kepentingan pribadi, golongan dan fanatik kebangsaan.

Orang-orang yang meneliti benda-benda alam secara murni itulah yang akan dapat menemukan jawaban rahasia kejadian alam semesta yang menghantarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Shalat Menghadap Ka’bah Atau Menghadap Kiblat?


Ayat 98

Allah mengajak manusia untuk memikirkan kejadian diri mereka sendiri yaitu mereka diciptakan oleh Allah dari diri yang satu. Penjelasan ini memberikan pengertian bahwa semua manusia yang terdiri dari berbagai bangsa dan suku dengan beraneka ragam bentuk dan warna kulitnya, berpangkal dari satu asal yaitu dari Adam dan Hawa. Mereka ini diciptakan oleh Allah dari satu jenis (dari tanah) seperti juga dijelaskan dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (an-Nisa′/4: 1)

Penjelasan ini menjawab rahasia kejadian manusia yang banyak dibahas oleh para ilmuwan, dan sebagai penegasan kepada manusia agar mereka jangan mengagungkan berhala dan bintang-bintang, akan tetapi hendaklah mereka beribadah hanya kepada Pencipta mereka sendiri yaitu Allah Yang Maha Esa dan Mahakuasa, agar mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka.

Salah satunya agar mereka hidup kenal-mengenal dan tolong-menolong di antara sesama manusia karena mereka pada hakekatnya mempunyai martabat yang sama dan berasal dari jenis yang sama pula. Perbedaan kebangsaan, suku, bentuk dan warna kulit janganlah dijadikan sebab untuk permusuhan dan kebencian, akan tetapi hendaklah dijadikan sebab untuk menjalin persaudaraan dan rasa syukur terhadap nikmat Allah Yang Mahakuasa.

Kemudian Allah menjelaskan proses pengembangbiakan manusia, bahwa proses pengembangbiakan itu terjadi atas kuasa Allah pula. Manusia diciptakan dari sperma dan ovum. Sperma berasal dari laki-laki sedangkan ovum dari wanita.

Sperma yang terpancar dari laki-laki membuahi ovum, yang dalam beberapa waktu lamanya berada dalam rahim wanita; sesudah melalui proses tertentu lahirlah seorang bayi. Sejak saat itulah bayi itu hidup di alam dunia sampai ajalnya tiba, lalu kembali ke alam baka.

Penjelasan ini merupakan perluasan dari ayat-ayat yang lalu agar manusia mendapatkan penjelasan secara lebih terperinci, bahwa kekuasaan Allah tidak hanya berlaku pada benda-benda mati akan tetapi juga berlaku bagi makhluk-makhluk yang hidup. Hal ini pun dapat dipahami oleh orang-orang yang suka memahami.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 99


(Tafsir Kemenag)

Tuntunan Al-Quran dalam Menyikapi Penghinaan Terhadap Nabi SAW

0
Penghinaan terhadap Nabi
Tuntunan Al-Quran Menyikapi Penghinaan terhadap Nabi Saw

Dunia tengah diributkan oleh sebuah polemik yang disulut oleh Emmanuel Macron, Presiden Prancis. Ia menyetujui pembuatan karikatur penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW oleh majalah Charlie Hebdo, dengan dalih kebebasan berekspresi. Ditambah, Macron juga menyatakan bahwa Islam adalah ‘agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia’ (22/10).

Sikap dan pernyataan rasis Macron tersebut tentu menyulut kemarahan umat Muslim. Karena pembuatan karikatur Nabi Muhammad adalah suatu hal yang tabu dalam Islam, apalagi disertai framing yang merendahkan.

Quraish Shihab menyebutkan bahwa menggambar Nabi Muhammad adalah sesuatu yang terlarang, meski fisik Nabi sebenarnya bisa dideskripsikan secara terbatas, merujuk sejumlah riwayat para sahabat.

Upaya penghinaan terhadap sosok agung Muhammad SAW tentu bukan terjadi kali ini saja, melainkan sudah berulang-ulang dalam catatan sejarah. Dan hinaan-hinaan itu tidak sedikit pun mengurangi kemuliaannya.

Baca Juga: Hinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang Diabadikan dalam Al-Quran

Dalam sejarah modern, sebut saja kejadian karikatur Jylland Posten Denmark, Megazinet Norwegia, Die Welt Jerman, dan Tabloid Peta Bekasi. Juga buku “Ayat-ayat Setan” dan film “Innocence of Muslims.” William Montgomery Watt, orientalis asal Britania, menyatakan bahwa tidak ada tokoh besar dalam sejarah yang paling banyak difitnah melebihi Nabi Muhammad SAW.

Penghinaan terhadap Nabi Muhammad bahkan sudah terjadi sejak beliau masih hidup di tengah-tengah sahabat. Al-Quran dengan jelas merekam beberapa di antaranya, yaitu Muhammad dituduh sebagai epilepsi, dukun, pembual, pembohong/penipu, penyair gila, sampai dengan tukang sihir. Berbagai hinaan tersebut bisa dilihat dalam berbagai ayat misalnya Surat al-Anbiya’ 21: 5, al-Haqqah 69: 40-41, al-Haqqah 69: 42, al-Zariyat 51: 52, QS al-Hijr 15: 6, dan Surat al-Furqan 25: 6.

Al-Quran mengisyaratkan bahwa penghinaan terhadap Nabi muncul setidaknya karena dua hal, pertama yaitu keangkuhan sebagaimana disebut dalam Surah al-Jasyiah ayat 35:

ذَٰلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ.

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya kalian menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.” (QS al-Jasyiah [45]: 35)

Kedua adalah ketidaktahuan, yang terjadi akibat ketidaksampaian dakwah atau tersampaikannya informasi tentang Nabi secara distorsif, sehingga terjadi kesalahpahaman. Sebagaimana diisyaratkan dalam Surah al-Maidah ayat 104:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ.

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk.” (QS al-Maidah [5]: 104)

Melihat penghinaan seperti di atas tentu saja kita tidak rela, karena itu adalah kemunkaran. Apalagi yang dihina adalah Rasulullah Saw, sosok yang kita cintai melebihi Orangtua, anak, bahkan diri kita sendiri. Pertanyaannya kemudian adalah harus diwujudkan dalam bentuk apa kekecewaan itu? Yang pasti bukan dengan cara kekerasan, apalagi pembunuhan dan teror!

Baca Juga: Tinjauan Tafsir terhadap Jihad, Perang dan Teror dalam Al-Quran

Para ulama telah menegaskan bahwa berbuat kebaikan harus dengan cara yang baik, dan mencegah kemunkaran juga harus dengan cara yang baik. Dalam kalimat bahasa Arab yaitu amar ma’ruf bi al-ma’ruf nahi munkar bi al-ma’ruf. Mencegah kemunkaran tidak boleh dengan memunculkan kemungkaran yang baru, apalagi kemunkaran yang lebih besar.

Allah SWT menyampaikan dalam Surah al-Nisa ayat 140 tentang pentingnya bersikap bijak menghadapi penghinaan:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ.

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Alquran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS al-Nisa [4]: 140)

Begitu juga dalam Surah Fusilat ayat 34:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sampai antara kamu dan dia yang bermusuhan menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fusilat [41]: 34)

Sementara Nabi Muhammad yang harus senantiasa menjadi teladan kita, telah memberikan contoh bagaimana menyikapi penghinanya, seperti tatkala diusir, dikejar dan dilempari batu oleh warga kota Taif, sampai berdarah-darah.

Saat itu malaikat meminta Nabi untuk berdoa kepada Allah supaya memerintahkannya agar menimpakan azab untuk mereka. Kemudian, kita tahu, bahwa sikap manusia paling agung ini, dengan keluhuran akhlaknya, justru menengadahkan tangan ke langit dan berucap dengan kasih sayangnya, “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka belum mengetahui.”

Jika Muhammad Saw yang dengan kegigihan dakwahnya bersikap demikian lalu bagaimana dengan kita? Kita belum menyampaikan apa pun tentang keluhuran agama ini kepada mereka. Kita justru selalu menampilkan citra yang buruk tentang agama ini, sehingga gagal meraih simpati.

Baca Juga: Pesan Cinta Syekh Adnan al-Afyouni: Pertahankan Kesejahteraan Indonesia !

Saya jadi teringat muhasabah Habib Ali al-Jufri, seorang dzuriyah Nabi yang mampu meneladani keluhuran akhlak kakeknya yang introspeksi dan berkata, “Duhai Rasulullah… orang-orang yang belum mengetahui, yang menggambarmu, sejatinya bukan menggambarmu. Tetapi menggambar apa yang mereka lihat pada diri kami, yang belum mampu menampilkan ajaran yang engkau bawa ini (secara benar).” Astaghfirullah…

Dari ulasan di atas kita mengetahui bahwa Alquran memberikan tuntunan dalam menyikapi penghina Nabi, agar kita bersikap bijaksana, tabah, dan membalasnya dengan cara yang baik dan elegan. Nabi sendiri memberikan teladan dalam menghadapi penghinanya dengan mendoakan kebaikan dan gigih menyampaikan Islam yang hakiki, dengan cara merangkul bukan memukul. Wallahu A’lam.

Hinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang Diabadikan dalam Al-Quran

0
Hinaan terhadap Nabi Muhammad dalam Al-Quran
Hinaan terhadap Nabi Muhammad dalam Al-Quran

Dalam menjalankan misi dakwahnya, sudah menjadi ujian tersendiri bagi para nabi untuk menerima segala hinaan dan cemoohan dari kaumnya yang tak mau beriman. Bahkan Nabi Muhammad saw tidak luput dari ujian tersebut. Al-Quran pun telah mengabadikan berbagai peristiwa hinaan terhadap Nabi Muhammad saw.

Dalam catatan sejarah, penyebaran Islam dari masa awal kerasulan Muhammad saw melalui perjalanan yang cukup panjang dan terjal. Di awal masa dakwahnya sudah mendapatkan tekanan, baik secara psikis maupun fisik. Beberapa tekanan fisik seperti pukulan, lemparan batu, pemboikotan hingga percobaan pembunahan sudah pernah dirasakan oleh Nabi Muhammad saw.

Beberapa tuduhan dan hinaan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad yang kemudian direkam dalam Al-Quran antara lain sebagai berikut:

Tuduhan sebagai dukun

Satu tuduhan yang dilayangkan kaum Quraisy ialah menganggap Nabi saw sebagai dukun. Tuduhan itu kemudian dibantah oleh ayat al-Quran dalam surat at-Tur ayat 29-30 yang bunyinya:

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ

“Maka peringatkanlah karena dengan nikmat Tuhanmu (kamu) bukanlah seorang dukun dan bukan pula orang gila”

“Bahkan mereka berkata: “dia oadalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakan menimpanya”

Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Tiga Artikel Refleksi Peringatan Kelahiran Baginda Rasulullah

Ibnu Abbas ra dalam riwayatnya menceritakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan adanya orang-orang Quraisy yang berkumpul di Darun Nadwah untuk meembicarakan Muhammad saw hingga Salah satu dari mereka sampai menyarankan untuk mengikat tubuh Nabi saw dengan tali hingga datang masa ajalnya. Ini juga yang dilakukan mereka kepada para penyihir sebelumnya seperti Zuhair dan Nabighah. Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat tersebut sebagai respon atas peristiwa tersebut. (Imam al-Suyuthi, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, 1:201)

Ibnu Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini membantah tuduhan yang disampaikan oleh para pendusta dan pelaku kedzaliman. Ayat ini seakan-akan berbicara bahwa “engkau bukanlah seorang dukun seperti yang dituduhkan para pembesar Quraisy”(Ibnu Kathir, Tafsir al-Quranul Adzim, 7:436)

Tentang lafad كَاهِنٍ, al-Asfahani menerangkan bahwa kahin atau dukun ialah orang yang menyampaikan kabar dan berita amsa lalu yang tersembunyi kemudian ditambahi dengan persangkaan yang boleh jadi benar, bisa juga salah. (al-Ragib al-Asfahani, al-Mufradat fi Garibil Quran,1:72)

Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Tuduhan sebagai penyair

Tuduhan ini berkaitan dengan risalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw yakni berupa Al-Quran. bagi mereka yang tidak beriman, ayat-ayat Al-Quran tidak lebih dari sekedar syair-syair yang diciptakan Muhammad. Ini setidaknya terekam dalam surat al-Anbiya’ ayat 5. Allah berfirman:

بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ

“Bahkan mereka mengatakan: “(Al-Quran) ialah mimpi-mimpi yang kacau, atau hasil rekayasa (Muhammad), atau bahkan dia hanya seorang penyair, maka coba datangkanlah kepada kita suuatu tanda seperti halnya para rasul yang sudah diutus di masa terdahulu”

Husain at-Thabathaba’i dalam al-Mizan fi Tafsiril Quran menerangkan ayat tersebut dengan menggambarkan peningkatan penolakan terhadap risalah yang dibawa Nabi saw. Pertama, mereka menilai bahwa al-Quran hanyalah kumpulan mimpi yang kacau, yakni tidak bisa terlihat maknanya. Kedua, mereka mulai menuduh Muhammad sebagai penyair dan Al-Quran yang dibawanya tak lain hanya sebuah rekayasa/buatan. Ini juga mengindikasikan bahwa Muhammad sebagai penyair hanya menyampaikan syair berdasar pada imajinasi belaka.

Bantahan terhadap tudahan bahwa Nabi Muhammad saw merupakan penyair ini juga disampaian dalam firman-Nya pada surat Yasin ayat 69:

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ

“Dan tidak kami mengajarkan kepadanya (Muhammad) tentang syair dan itu tidak pantas baginya, sungguh al-Quran itu tidak lain hanyalah sebuah pelajaran dan kitab yang jelas”

Baca juga: Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’

Quraish Shihab menerangkan bahwa Muhammad saw memiliki kedudukan sebagai Rasul yang demikian terhormat sehingga sangat tidak wajar menjadi penyair. Di sisi lain, akhlak bawaan serta budi pekerti yang luhur juga bertentangan dengan para penyair terdahulu. Mereka (para penyair pada masa itu) sering tenggelam dalam minuman keras dan rayuan perempuan (Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah,11:188)

Tuduhan sebagai pembohong

Tuduhan sebagai “tukang bohong” juga pernah dilekatkan kepada Nabi Muhammad. Tuduhan ini mungkin yang sering ia dengar semenjak ia menyampaikan risalah kenabiannya. Salah satu firman-Nya yang menunjukan atas tuduhan orang kafir ialah dalam surat al-Furqan ayat 4 yakni:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا

“Dan orang-orang kafir berkata: “(al-Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan olehnya (Muhammad), dan dibantu oleh orang –orang lain, maka sungguh mereka telah berbuat dzalim dan dusta yang besar”

Mayoritas Mufassir berpendapat bahwa إِفْكٌ bermakna keterbalikan, kebohongan, tipu daya dan sebagainya. Ini bisa diartikan bahwa yang dilakukan Muhammad menurut kaum Kafir ialah kebohongan dan hanyalah pemutarbalikan fakta. Tuduhan ini seakan-akan memperlihatkan kebodohan kaum Quraisy. Padahal Muhammad sendiri sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul sudah dikenal di kalangannya sebagai al-Amin yakni orang yang jujur dan dapat dipercaya.

Tuduhan itu masih ada di masa sekarang

Selain beberapa tuduhan yang sudah disebutkan sebelumnya, masih banyak lagi tuduhan dan hinaan lain yang mengatakan bahwa Muhammad ialah orang gila dan sebagainya.

Adapun di masa sekarang, hinaan dan tuduhan itu masih terus ada. Hal ini diakibatkan karena mereka tidak benar-benar mengenal islam dan Nabi Muhammad saw. Sedangkan informasi yang mereka dapat malah dari mereka yang memusuhi Islam terlebih propaganda yang sudah disebarkan sejak perang salib.

Baca juga: Tafsir At-Taubah 128; Potret Cinta Nabi Muhammad Saw pada Umatnya

Kebencian mereka semakin diperparah dengan gambaran buruk sebagian kaum muslim yang akhir-akhir ini lebih memilih jalur ekstrim hingga menebarkan teror dimana-mana yang justru semakin menampakan kebodohannya.

Memang balasan bagi mereka yang menghina Nabi Muhammad sudah sangat jelas dan dijanjikan oleh Allah swt dengan siksa yang pedih. Namun respon sakit hati dan marah kaum Muslim terhadap para penghina Nabi Muhammad bisa dikatakan sebuah kewajaran.

Adapun Quraish Shihab menganggap bahwa hinaan dan tuduhan itu memang selalu beriringan dengan tugas dakwah para Nabi. Lebih lanjut, Quraish Shiahab memberi solusi dalam menghadapi penghinaan tersebut. Menurutnya berdakwah dengan meningkatkan informasi yang benar tentang ajaran Islam dan Nabi Muhammad saw merupakan cara yang baik untuk dilakukan dalam rangka melawan hinaan tersebut. Dakwah tersebut bisa dalam bentuk lisan, tulisan dan perilaku yang mencerminkan kebaikan. Wallahu a’lam[]

Kenali Ayatul Qurra (Ayat Para Pembaca Al-Quran), Begini Penjelasannya

0
Ayat para pembaca Al-Quran
Ayat para pembaca Al-Quran

Dari sekian banyak Al-Quran dan hadis yang menyebut kemuliaan Al-Quran dan para pembacanya, surat Fathir ayat 29-30 adalah ayat yang dijuluki sebagai Ayatul Qurra’ atau ayat para pembaca Al-Quran. Hal ini kemungkinan tidak lepas dari kandungan ayat ini yang secara jelas dan gamblang menyinggung para pembaca Al-Quran, serta balasan dari ibadah membaca Al-Quran mereka. Dari siapakah julukan itu muncul? Dan bagaimana bunyi serta penjelasan ayat tersebut? simak uraiannya berikut ini:

Asal Usul Julukan Ayatul Qurra’ (Ayat Para Pembaca Al-Quran)

Sebutan Surat Fathir ayat 29-30 sebagai Ayatul Qurra’ (Ayat Para Pembaca Al-Quran) bukanlah sebutan yang dibuat serampangan atau muncul baru-baru saja. Sebutan ini terdokumentasikan dalam beberapa babon kitab tafsir. Diantaranya di dalam Tafsir At-Tahabari karya Ibn Jarir At-Thabari. Ibn Jarir sendiri menyebut julukan ini melalui tiga riwayat yang seluruhnya bermuara pada Imam Mutharrif Ibn ‘Abdullah (Tafsir At-Thabari/10/410).

Baca Juga: Hukum Membaca Al-Quran dengan Ilmu Tajwid dan Objek Pembahasannya

Selain di dalam Tafsir Ath-Thabari, julukan ini juga terdokumentasikan dalam Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Ruhul Ma’ani karya Imam Al-Alusi, Tafsir Ad-Durrul Mantsur karya Imam As-Suyuthi, dan Tafsir Al-Kasysyaf karya Imam Az-Zamakhsyari. Semuanya menyebut bahwa julukan tersebut berasal dari Imam Mutharrif Ibn ‘Abdullah.

Siapakah Mutharrif Ibn ‘Abdullah? Imam Mutharrif bernama lengkap Mutharrif ibn ‘Abdullah ibn Asy-Syikhkhir. Beliau merupakan salah satu tokoh terkemuka dari kalangan tabi’in, dan juga dikenal sebagai sosok yang zuhud dan sosok tsiqah atau terpercaya dalam periwayatan hadis. Beliau lahir kemungkinan di masa Nabi masih hidup dan wafat tahu 87 H. di Bashrah (Al-A’lam Liz Zirikli/7/250).

Baca Juga: Inilah Keutamaan Membaca Al-Quran dengan Tartil

Menjual Hal Yang Tidak Membuat Rugi

Allah berfirman dalam Surat Al-Fathir ayat 29-30

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (٢٩) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. 30. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (QS. Fathir [35] 29-30).

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, tijarah secara bahasa maknanya adalah barter. Dan termasuk mirip dengan barter, adalah tindakan Allah dalam memberi pahala kepada hambanya-Nya sebagai ganti amal soleh yang ia lakukan. Imam Al-Qurthubi menerangkan, penggunakan kata tijarah untuk praktek bagaimana Allah memberi pahala sebagai ganti dari amal soleh, adalah sebuah kiasan. Imam Al-Qurthubi kemudian mengutip beberapa ayat Al-Quran yang menggunakan makna ini. Salah satunya adalah Surat Al-Fathir ayat 29-30 (Tafsir Al-Jami Li Ahkamil Qur’an/5/151).

Baca Juga: Mengaplikasikan Metode Tadabbur Saat Membaca Al-Quran dan Langkah-Langkahnya

Dalam ayat di atas Allah mengumpamakan para pembaca Al-Quran sebagai pelaku jual-beli. Namun tidak seperti jual beli pada umumnya, yang untung dan rugi adalah hal biasa di dalamnya. Istilah merugi tidaklah ada pada kamus hidup para pembaca Al-Quran. Pembaca Al-Quran bagaikan penjual yang menjual sesuatu yang tak pernah membuatnya rugi.

Keterangan ini tidak sedang merendahkan derajat para pembaca Al-Quran yang merupakan pekerjaan mulia kemudian diturunkan pada setingkat orang melakukan jual-beli yang kental berbau duniawi. Keterangan ini hendak mendekatkan Al-Quran kepada manusia, sesuai dengan adat serta kebiasaan manusia yang tak bisa lepas dari transaksi barter atau jual beli. Bahwa apabila manusia menginginkan menjual sesuatu yang tidak membuatnya rugi, maka bacalah Al-Quran. Maka ia akan memperoleh laba di akhirat yang bersifat pasti. Tidak bersifat spekulatif.

Imam Al-Alusi dalam tafsirnya menerangkan, yang dimaksud pembaca Al-Quran dalam ayat di atas tidaklah sekedar orang yang pernah membaca Al-Quran, melainkan orang yang menjadikan membaca Al-Quran sebagai kegiatan sehari-hari sehingga Al-Qurra’ juga menjadi julukan bagi mereka. Ada juga yang menyatakan, maksud dari “membaca” dalam ayat di atas adalah, mengikuti dan mengamalkan kandungan Al-Quran. Imam Al-Alusi juga menjelaskan, menurut pendapat yang unggul, ayat ini tidaklah hanya ditunjukkan pada para sahabat nabi saja. Namun, orang-orang mukmin secara umum (Tafsir Ruhul Ma’ani/16/395).

Wallahu A’lam