Beranda blog Halaman 492

Mengenal Corak Tafsir Sufistik (1): Definisi, Klasifikasi dan Prasyarat yang Harus Dipenuhi

0
Tafsir sufistik
Tafsir sufistik

Kajian tafsir Al-Quran dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan dan perubahan. Berbagai metode, pendekatan, dan corak tafsir telah dihasilkan oleh para ulama pengkaji Al-Quran. Pada abad pertengahan, sejak terjadi pergeseran metode penafsiran dari tafsir bi al-ma’tsur ke tafsir bi al-ra’yi, mulai muncul berbagai corak penafsiran. Salah satu corak tafsir yang berkembang pada era saat itu adalah corak tafsir sufistik.

Definisi Tafsir Sufistik

Para ulama berbeda pendapat terkait asal kata dari tasawwuf, ada yang berpendapat bahwa ia berasal dari kata al-Shauf yang bermakna kain wol, karena para sufi saat itu dikenal dengan pakainya yang sederhana sehingga berbeda dengan manusia pada umumnya. Terdapat juga pendapat yang mengatakan dari kata al-Shafa’ yang maknanya jernih, karena inti dari tasawuf adalah proses penjernihan hati. Terakhir, ada yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata al-Shuffah yaitu julukan yang dinisbahkan kepada para fakir miskin di masa Sahabat (fuqara’ al-shabah).

Secara definitif, para ulama memaknai tafsir sufistik sebagai kegiatan pentakwilan makna ayat Al-Quran dengan makna yang bukan makna lahirnya, karena ada isyarat khusus yang diketahui oleh para penempuh jalan spiritual (salik) dan tasawuf. Serta adanya kemungkinan kesesuaian dan korelasi antara makna lahiriyah (dhahir al-nash) dengan makna batiniyah (bathin al-nash).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa corak tafsir sufistik ini merupakan corak tafsir yang memalingkan makna lahir ayat ke dalam makna batin ayat dengan menggunakan ajaran tasawuf sebagai bahan dasar dalam proses penafsiran ayat tersebut. Sehingga corak tafsir ini memiliki tujuan untuk mengungkap kandungan rahasia-rahasia ayat Al-Quran yang tersembunyi dibalik makna lahirnya.

Baca Juga: Ragam Corak Tafsir Al-Quran

Klasifikasi Tafsir Sufistik

Kemudian terkait klasifikasinya, dalam kitab al-Tafsir wa al-Mufassirun karya Syaikh Husain al-Dzahabi, beliau menjelaskan bahwa Corak tafsir sufistik ini terbagi dalam menjadi dua bagian yaitu:

  1. Tafsir Sufi Nazhari (Teoretis): madzhab tafsir yang dalam pengungkapan makna ayat Al-Quran menggunakan pendekatan kajian terhadap beberapa teori tasawuf maupun filsafat. Kemudian, dari kajian tersebut kemudian dicari dalil-dalil dari Al-Quran untuk memperkuat teori tersebut. Salah satu tokoh sufi yang mengusung corak tafsir ini adalah Muhyiddin Ibnu Arabi (w. 1240 M) dalam karyanya al-Futuhat al-Makkiyah.

Contoh impelementasi penafsiran sufistik klasifikasi pertama ini dapat dilihat dari interpretasi Ibnu Arabi terhadap Q.S. al-Rahman [55] ayat 19:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ – ١٩

Dia membiarkan dua laut mengalir yang keduanya (kemudian) bertemu

Ibnu Arabi memahami dua lautan tersebut sebagai dua entitas dalam diri manusia yang saling berkebalikan. Yaitu antara lautan raga yang asin dan pahit dengan lautan ruh yang murni, tawar, dan segar. Dimana keduanya saling bertemu dalam wujud manusia.

Kemudian, terkait karakteristiknya, Husain al-Dzahabi menyebutkan empat ciri utama tafsir sufi nazari, yaitu pertama, produk penafsiran corak ini sangat bias dengan ajaran filsafat. Kedua, dalam proses penafsiranya terdapat bias ideologi ajaran wahdah al-wujud. Ketiga, menjelaskan hal-hal yang metafisik (ghaib) dengan uraian yang tampak/jelas. Terakhir, keempat, corak tafsir ini seringkali tidak memperhatikan aspek kebahasaan ayat dan hanya menafsirkan sesuai kehendak hati dan jiwa penafsir.

Baca Juga: Dua Cara Ulama Menafsirkan Al Quran: dengan Riwayat dan Rasio

  1. Tafsir Sufi Isyari/Amali (Praktis): corak tafsir yang dalam pengungkapan makna Al-Quran menggunakan ta’wil berdasarkan pada isyarat-isyarat khusus yang diberikan kepada para sufi, salik, ahli ibadah, dan orang-orang yang dekat dengan Allah. Tafsir sufi isyari ini juga dapat disebut dengan nama tafsir sufi faydi. Salah satu mufasir yang dianggap menggunakan corak tafsir ini adalah al-Naisaburi (w. 728 H) dalam karyanya Gharaib Al-Quran wa Raghaib al-Furqan.

Contoh interpretasi sufistik yang menggunakan klasifikasi kedua ini dapat dilihat dalam proses penafsiran al-Naisaburi terhadap Q.S. al-Baqarah [2] ayat 67:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖٓ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَالَ اَعُوْذُ بِاللّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ – ٦٧

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh

Menurut al-Naisaburi, ayat tersebut mengandung isyarat agar manusia menyembelih nafsu kebinatangan yang terdapat dalam diri mereka. Hal ini bertujuan untuk menjernihkan dan menghidupkan ruh hati (al-qalb al-ruhani). Bahkan, ia menganggap perintah untuk mejernihkan hati tersebut sebagai bentuk jihad yang paling besar (al-jihad al-akbar).

Baca Juga: Mengenal Corak Tafsir Fiqhi dan Kitab-kitabnya

Prasyarat Tafsir Sufistik

Para ulama berbeda pendapat mengenai corak tafsir ini, ada yang menerimanya sekaligus membenarkan penggunaan pengalaman spritualitas dalam menafsirkan Al-Quran. Golongan ini berdalih bahwa penggunaan corak tafsir isyari ini menunjukkan akan kesempurnaan iman dan tingkat kema’rifatan seseorang. Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa corak ini tidak bisa digunakan dalam menafsirkan Al-Quran. Hal ini dikarenakan seringkali corak ini menimbulkan makna yang sangat jauh bahkan seringkali bertentangan dengan makna lahir Al-Quran.

Oleh karena itu, dalam menganggapi perbedaan sikap ulama tentang tafsir isyari (sufi), para ulama memiliki beberapa persyaratan dalam proses penafsiran dengan corak tafsir sufistik. Dalam kitab ‘Ulum Al-Quran al-Karim karya Syaikh Nuruddin ‘Itr, beliau mengemukakan adanya empat persyaratan yang harus dipenuhi sebagai tolok ukur diterima tidaknya penafsiran sufistik tersebut. Diantara beberapa persyaratanya adalah:

  1. Dalam proses penafsiran corak sufistik harus argumentasi dari dalil syari’at yang mendukung hasil penafsiran tersebut. Karena apabila produk tafsir sufistik tersebut tidak memiliki dalil rujukan ataupun memiliki dalil rujukan namun bertentangan, maka para ulama sepakat untuk menolak hasil penafsiran tersebut.
  2. Produk tafsir sufistik harus sesuai dengan kandungan bahasa atau aspek kebahasaan yang digunakan oleh lisan orang-orang Arab.
  3. Produk hasil penafsiran sufistik tidak boleh menyelisihi atau bertentangan dengan syari’at ataupun akal sehat manusia.
  4. Dalam proses penafsiran sufistik, seorang penafsir tersebut harus mengetahui lebih dahulu makna lahir sebuah ayat. Hal ini dikarenakan seorang penafsir tidak akan mencapai makna batin sebuah ayat sebelum memahami makna lahirnya. Oleh karena itu, tidak boleh hanya mengandalkan makna batin hasil penafsiran sufistik tanpa menghiraukan makna lahir ayat.

Bahkan, saking pentingnya poin keempat ini, Syaikh Nuruddin ‘Itr sampai mengilustrasikan orang yang mengklaim dirinya telah mengetahui makna rahasia atau batin ayat Al-Quran sebelum terlebih dahulu mengetahui makna lahir ayat, maka ia seperti orang yang mengklaim telah sampai ke dalam rumah sebelum melewati pintu rumah tersebut. Wallahu A’lam

Amal Banyak Tapi Sering Menyebut Kebaikannya, Bagaimana Menurut Al-Quran?

0
Amal banyak tapi riya'
Amal banyak tapi riya'

Merasa banyak jasa kebaikan yang diberikan kepada orang lain, kemudian mengungkit kebaikannya tersebut di depan orang yang diberi jasa, merupakan perilaku yang sering kita temui. Amal banyak tapi sering menyebut kebaikannya, tanpa disadari itu merupakan perbuatan tipu daya setan kepada manusia.

Orang yang suka menyebut jasa kebaikannya berarti ia khawatir orang lain lupa jasanya itu. Jika tidak diceritakan berulang-ulang, ia merasa kebaikannya terabaikan begitu saja. Berikut surat Al-Baqarah ayat 264 merupakan sebuah ayat yang menceritakan tentang amal sedekah yang sering kali disebutkan kepada orang lain.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Baca juga: Membaca Al-Quran Untuk Pamer, Simak Peringatan Nabi Berikut!

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 264

Dalam Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab, dipaparkan bahwa, orang Mukmin janganlah hilangkan pahala sedekah dengan menyebut-nyebut kebaikan kalian di hadapan orang-orang yang membutuhkan dan dengan menyakiti mereka. Sebab, dengan begitu, -maksudnya dengan seringali menyebut kebaikanmu dihadapan orag banyak- kalian seperti orang-orang yang berinfak dengan motif ketenaran dan ingin dipuji. Sesungguhnya mereka itu tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Prof Quraish Shihab memberikan perumpamaan orang yang berinfak dengan motif riya, seperti batu licin yang di atasnya terdapat tanah. Begitu hujan deras turun menyirami batu itu, hilanglah tanah itu semua. Seperti halnya tanah yang subur dan produktif itu hilang dari batu yang licin karena diterpa hujan deras, begitu pula pahala sedekah akan hilang karena perbuatan riya dan menyakiti. Tidak ada sedikit pun yang dapat diambil manfaatnya. Itulah sifat-sifat kaum kafir, maka hindarilah. Sebab Allah tidak akan menunjuki orang-orang kafir kepada kebaikan.

Ibnu Jarir al-Thabari menjelasakan dalam kitab tafsir Jami’ul Bayan fi Ta’wil ay al-Qur’an bahwa surat al-baqarah ayat 264 membahas tentang untuk tidak menyebut-nyebut pahala kebaikanmu (al-mann) dan menyakiti perasaan yang kau sedekahi ( al-adza). Karena itu berpotensi menghilangkan pahala kebaikan yang sudah kita lakukan.

Baca juga: Haruskah Pamer Hewan Kurban di Medsos? Simak Penjelasannya dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 271

Memberikan Sedekah pada Orang Lain Sebaiknya Seperti Apa?

Tujuan dari sedekah adalah untuk menyucikan harta, membantu sesama serta bekal pahala di akhirat kelak. Dan sedekah juga dapat dilakukan dalam berbagai macam cara. Baik itu bisa dengan memberi pertolongan dengan harta maupun jasa tenaga, bisa dengan melafalkan zikir setiap saat waktu luang, melakukan kebaikan hal yang sepele yakni membuang paku di jalan, merawat orang tua sakit, menafkahi keluarga, dan tentunya masih banyak lagi. Bahkan, menahan diri untuk tidak amarah atau menyakiti orang lain juga termasuk sedekah.

Dalam Islam, dianjurkan untuk tidak menyakiti perasaan orang yang diberi sedekah. Dengan cara apa? Yaitu dengan menyembunyikan amalan sedekahnya tersebut pada pandangan orang banyak. Cukup orang yang bersedekah dan orang yang diberi sedekah. Hal ini dilakukan untuk menghindari sifat riya yang dapat menghapus pahala sedekah.

Akan tetapi jika bersedekah, namun tetap menyebut kesana kemari jasa kebaikannya kepada orang yang disedekahi, hal ini bukanlah malah akan menjaga pahala,justru akan menyakiti perasaan dari orang yang diberi sedekah.

Baca juga: Macam-Macam Bentuk Nafsu Menurut Al-Quran

Sesuai yang dikatakan oleh Imam Tirmidzi pada hadis riwayatnya, bahwa dengan tidak menyebut jasa kebaikannya tiap saat malah akan melahirkan dua kebaikan yaitu pahala sedekah dan pahala menjaga silaturahim. Sebagaiamna Rasulullah bersabda, “Bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah dan kepada kerabat ada dua (kebaikan), yaitu sedekah dan silaturrahim.”

Semoga sedekah yang sedang kita lakukan atau yang sudah kita lakukan terjauhkan oleh sifat penghilang pahala, dan menjadi kebaikan yang berkah untuk orang banyak. Amin. Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 26

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Menyambung atas pembahasan yang lalu, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 26 berbicara mengenai keyakinan orang-orang yang beriman. Salah satunya adalah percaya terhadap hewan yang dijadikan permisalan oleh Allah swt dalam Alquran.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 23-24


Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 26 ini permisalan tersebut adalah seekor nyamuk. Terdapat banyak kerumitan-kerumitan dalam makhluk kecil ini. Mulai dari proses bertelur, bermetamorfosa, hingga akhirnya dapat terbang dengan sempurnya.

Selain itu dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 26 ini juga dijelaskan mengenai teknologi-teknologi yang disematkan dalam seekor nyamuk. Mulai dari tabung pernafasan, cairan penghambat, hingga kemompong. Orang-orang yang ingkar, betapapun mengetahui fakta ini mereka akan tetap menganggap remeh dan tidak akan beriman.

Ayat 26

Sesungguhnya Allah tidak segan untuk membuat contoh dan perumpamaan dalam penjelasan informasinya dengan seekor nyamuk atau bahkan lebih kecil dari itu. Orang-orang yang beriman yakin akan kebenaran dan kebijaksanaan Allah, mereka pasti dapat menerima keterangan ini. tetapi orang kafir dan orang munafik tidak mau memahami tujuan Allah swt membuat perumpamaan di dalam Alquran.

Perumpamaan itu tujuannya memperjelas arti suatu perkataan atau kalimat dengan membandingkan isi atau pengertian perkataan atau kalimat itu dengan sesuatu yang sudah dikenal dan dimengerti.

Dalam ilmu biologi, binatang, tumbuh-tumbuhan dan bahkan organ tubuh manusia banyak dibahas dan semuanya itu perlu diketahui oleh manusia, ada yang bermanfaat dan ada yang berbahaya bagi manusia. Bukan hanya binatang-binatang besar seperti gajah, harimau dan singa yang perlu diketahui, tetapi binatang kecil seperti lalat, nyamuk, dan ulat juga perlu diketahui manfaat dan bahayanya.

Nyamuk misalnya ada yang berbahaya anapheks yang menyebarkan penyakit malaria dan aedes aegypti yang menyebarkan penyakit demam berdarah, tetapi ada nyamuk yang memang tidak berbahaya seperti culex. Nyamuk anapheks hidupnya di air kotor tetapi nyamuk aedes aegypti hidup di air bersih.

Allah sungguh Mahakuasa dan Mahabijaksana. Pada setiap makhluk yang berbahaya telah diciptakan predator yaitu jenis binatang lain yang suka memangsa dan membunuhnya. Terhadap nyamuk misalnya ada beberapa predator seperti katak, cecak, tokek dan lain-lain. Kita tidak boleh membunuh predatornya dan kita sebaiknya mengetahui di mana nyamuk berkembang biak, kita perlu memahami kebijaksanaan dan kekuasaan Allah.

Saat manusia diundang untuk memperhatikan penciptaan atas dirinya, Alquran dalam banyak ayatnya mendorong manusia untuk meneliti alam dan melihat tanda-tanda Tuhan di dalamnya.

Alam semesta, dengan elemen benda-benda hidup dan tidak hidupnya, merupakan tanda-tanda adanya penciptaan. Semua ciptaan itu ada hanya untuk memperlihatkan kekuasaan, pengetahuan dan seni yang dimiliki oleh “pencipta” tersebut, Allah swt. Semua ciptaan memperlihatkan tanda-tanda yang demikian. Termasuk di dalamnya binatang kecil seperti nyamuk, sebagaimana dapat dilihat pada ayat di atas.

Ketika kita mencoba memahami perikehidupan nyamuk, kita akan mengetahui betapa rumit dan kompleksnya sistem yang berjalan. Secara umum kita mengetahui bahwa mahluk ini adalah penghisap darah manusia dan binatang lainnya. Akan tetapi, pengetahuan demikian ini tidak sepenuhnya benar. Karena tidak semua individu nyamuk hidup dari mengisap darah.

Hanya nyamuk betina saja yang memerlukan darah dalam dietnya. Keperluan tentang darah tidak berkaitan dengan kebiasaan makan jenis ini. Kaitan pokoknya adalah dengan perkembangbiakannya. Nyamuk betina memerlukan protein dari darah dalam proses akhir pembentukan telur. Dengan kata lain, nyamuk betina mengisap darah untuk meyakinkan akan berlanjutnya kehidupan jenisnya.

Proses perkembangan nyamuk merupakan salah satu aspek yang mengagumkan. Binatang ini berubah dari larva menjadi nyamuk setelah melalui beberapa fase yang berbeda-beda. Nyamuk betina akan meletakkan telurnya pada daun yang lembab atau dikawasan lembab sekitar genangan air. Sebelum melakukan itu, nyamuk betina akan memeriksa kawasan itu dengan menggunakan organ yang terletak di bagian perutnya. Organ ini mampu mendeteksi kelembaban dan suhu.

Setelah menemukan daerah yang cocok, barulah nyamuk betina itu meletakkan telurnya. Telur dengan panjang kurang dari 1 milimeter, diletakkan dalam kelompok atau satuan. Beberapa jenis nyamuk ada yang merangkaikan sampai dengan 300 telur dalam bentuk rakit, dan diletakkan di atas air tergenang.

Telur yang diletakkan dengan sangat hati-hati itu akan berubah warna. Perubahan warna terjadi hanya beberapa jam setelah diletakkan. Warnanya menjadi hitam. Dengan warna ini, nilai kamuflase telur cukup tinggi dan lepas dari pengamatan pemangsa, seperti burung atau serangga pemangsa lainnya

Setelah menetas, anak nyamuk langsung berenang di dalam air. Masa kehidupan di dalam air dimulai untuk larva nyamuk. Anakan ini akan semakin besar. Kulit yang ada tidak lagi dapat menutupi tubuhnya. Mereka melepaskan kulit atau cangkang ini, dan membetuk cangkang baru. Pergantian kulit atau cangkang ini berjalan dua atau tiga kali pada masa ini.

Dalam kehidupan di air, larva nyamuk memilki organ-organ yang sama sekali berbeda saat sudah menjadi nyamuk. Pada kehidupan di air, mereka memiliki semacam rambut yang tumbuh di sekitar bagian mulut. Dengan gerakan rambut ini, larva dapat mengarahkan jasad renik yang ada di perairan ke bagian mulutnya.


Baca juga: Hassan Hanafi dan Paradigma Tafsir Pembebasan; Sebuah Refleksi Metodologis


Untuk bernapas, mereka menggunakan alat pernafasan yang berbentuk tabung yang terletak di bagian punggungnya. Mereka mengambil oksigen saat mereka pada posisi jungkir balik di permukaan air. Untuk mencegah air masuk ke dalam tabung, larva nyamuk mengeluarkan cairan lengket yang dapat mencegah masuknya air. Tanpa keberadaan alat-alat ini, larva tidak akan dapat bertahan hidup di dalam air.

Pada pergantian kulit terakhir, bentuk larva berubah drastis, menjadi suatu bentuk yang lain sama sekali. Masa ini disebut sebagai masa “pupa”. Mereka sudah siap menjadi nyamuk yang “sebenarnya”. Perubahannya sedemikian rupa sehingga sulit untuk dipercaya bahwa hal ini dilakukan oleh individu dan jenis yang satu. Perubahannya begitu kompleks, sehingga rasanya tidak dapat dilakukan dengan sempurna oleh mahluk itu sendiri.

Pada masa ini, akan tumbuh dua tabung atau pipa pernafasan baru di bagian kepala untuk menggantikan tabung yang ada di bagian punggung. Apabila tidak ada tabung baru di kepala, dengan berubahnya bentuk dan posisi mahluk di air, maka apabila hanya ada tabung di punggung, jelas “pupa” nyamuk akan mati. Hal ini disebabkan karena posisinya yang demikian ini maka air akan masuk ke dalam tabung di punggungnya.

Selama berlangsungnya masa “pupa”, sekitar tiga sampai empat hari, larva nyamuk yang hidup dalam kepompong akan berpuasa. Dalam kepompong ini, bentuk larva berubah menjadi nyamuk dewasa seutuhnya, lengkap dengan sayap, dada, perut, kaki, antena, mata, dan seterusnya. Kemudian kepompong akan terpecah di bagian atas.

Masa ini adalah masa yang sangat rentan bagi nyamuk. Syarat agar nyamuk dapat terbang adalah tidak boleh terkena air. Hanya bagian bawah kaki saja yang akan menyentuh air. Itulah sebabnya, kepompong yang terbuka di bagian atasnya akan dilapisi oleh cairan yang lengket, yang mencegah air masuk ke dalam kepompong. Setengah jam setelah keluar dari kepompong, nyamuk akan melakukan terbang perdananya.

Saat jentik-jentik bermetamorfose menjadi nyamuk, mereka dilengkapi dengan seperangkat sistem yang canggih guna dapat hidup dan meneruskan keturunannya. Nyamuk dilengkapi dengan organ yang dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan suhu, udara, kelembaban dan juga bau. Bahkan, nyamuk mempunyai kemampuan untuk “melihat melalui perubahan suhu” yang menolongnya saat mencari mangsanya, walaupun keadaan sangat gelap.

Teknik nyamuk dalam “mengisap darah” ternyata merupakan seperangkat sistem yang sangat kompleks dan rumit. Untuk mengiris kulit mangsanya, digunakan enam “pisau” pengiris yang bekerja seperti gergaji. Pada saat proses pengirisan berlangsung, nyamuk menyiramkan suatu cairan ke luka yang dibuatnya. Cairan ini membuat bagian tubuh mangsa yang luka tersebut menjadi mati rasa, sekaligus mencegah darah membeku. Dengan demikian, mangsa tidak akan merasa terganggu, di samping proses pengisapan darah berjalan lancar.

Apabila salah satu saja organ tidak bekerja baik, maka nyamuk akan memperoleh kesulitan dalam memperoleh pakannya serta meneruskan dan mempertahankan jenisnya. Dengan rancangan tubuh yang demikian, walaupun “hanya” ada pada nyamuk yang kecil, ini merupakan bukti akan kerja penciptaan. Di dalam Alquran, nyamuk yang kecil ini dijadikan contoh untuk memperlihatkan kekuasaan Allah. Mereka yang beriman mengerti, sedangkan mereka yang kafir menyangkalnya.

Menurut Ibnu ‘Abbas, ayat ini diturunkan berhubungan dengan tuduhan orang Yahudi bahwa perumpamaan yang ada dalam Alquran itu tidak mempunyai nilai yang berarti, karena dalam perumpamaan itu disebut sesuatu yang tidak berarti bahkan termasuk binatang kecil lagi hina, seperti dzubab yang berarti lalat (al Hajj/22:73) dan ankabµt yang berarti laba-laba (al ’Ankabut/29:41).

Tetapi seandainya orang Yahudi itu mengetahui maksud perumpamaan itu, tentu mereka akan menyatakan bahwa perumpamaan-perumpamaan yang ada dalam Alquran merupakan perumpamaan yang tepat dan benar seperti pada al ‘Ankabut/29:41:

مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَاۤءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًاۗ وَاِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ   ٤١

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui.

Pada ayat ini orang musyrik disamakan dengan laba-laba, iman mereka terhadap apa yang mereka sembah disamakan dengan sarang laba-laba yang rapuh yang mereka jadikan sebagai tempat berlindung dari segala bahaya. Padahal sedikit saja kena angin sarang itu akan rusak dan hancur.

Dalam membuat perumpamaan bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang kecil dan besar, hina dan murka, semua adalah makhluk ciptaan Allah. Yang penting ialah perumpamaan itu mencapai tujuannya. Dengan turunnya ayat ini, ternyata tuduhan orang Yahudi itu tidak mempunyai alasan yang kuat.

Adapun orang-orang mukmin hati mereka telah dipenuhi taufik dan hidayah Allah dan mereka mengetahui bahwa perumpamaan-perumpamaan itu adalah dari Allah, tetapi orang-orang kafir mengingkarinya bahkan mereka tercengang mendengar perumpamaan-perumpamaan itu, orang-orang kafir dan munafik itu bertambah sombong dan ingkar karenanya.

Allah menyesatkan orang-orang kafir dan munafik dengan membiarkan mereka memilih jalan kesesatan sesudah diterangkan kepada mereka jalan kebenaran. Oleh karena mereka ingkar dan tidak mau memahami dan memikirkan petunjuk-petunjuk Allah, mereka mengikuti jalan-jalan yang tidak diridai-Nya. Akibatnya mereka ditimpa azab yang pedih, karena kefasikan mereka.

Orang-orang yang tidak menggunakan pikiran dan ilmu pengetahuan terhadap perumpamaan yang diberikan Allah swt, mereka menghadapinya dengan angkuh yang menyebabkan mereka bertambah sesat. Mereka tidak mendapat petunjuk dan menjadi sesat karena kefasikannya. Sebaliknya, orang-orang yang iman di dalam hatinya, mempergunakan akal dan pikirannya, akan mendapat petunjuk dari perumpamaan-perumpamaan itu


Baca setelahnya:


(Tafsir Kemenag)

Masih Relevankah Metode Tafsir Ijmali Era Rasulullah SAW? Berikut Penjelasannya

0
tafsir ijmali
metode tafsir ijmali

Sesuai dengan namanya, metode ijmali (global) merupakan suatu metode penafsiran Al-Quran yang menguraikan kandungan ayat secara umum, singkat, dan ringkas mengenai hukum dan hikmah yang dapat ditarik. Bahasa yang digunakan juga mencakup bahasa-bahasa yang populer, sehingga menjadi mudah untuk dimengerti oleh pembaca.

Penggunaan bahasa yang ringan, membuat penafsiran menjadi mudah dipahami oleh beragam kalangan, baik yang berpengetahuan dalam bahkan berpengetahuan ala kadarnya sekalipun. Quraish Shihab dalam Kaidah tafsirnya mentamsilkan sang mufasir ijmali bagai menyajikan buah segar yang telah dikupas, dibuang bijinya, dan telah di iris-iris pula, sehingga siap untuk segera santap. 

Pada peraktiknya, metode ini diuraikan ayat per ayat, surat per surat sesuai urutannya, sehingga memperlihatkan hubungan makna antara urutan ayat dan tartib mushafi. Metode ini tidak perlu menyinggung asbabun nuzual atau munasabah-nya apalagi makna kosakata bahasa Al-Quran yang indah tiada tanding itu. Tak ayal, jika metode ini dikenal lebih jelas dan lebih mudah menjelaskan pesan ideal Allah dibalik ayat-ayat Nya.

Sekilas, tafsir ini memang hampir sama dengan model tafsir tahlili, perbedaannya adalah praktik penafsiran ijmali makna ayatnya diungkap secara ringkas akan tetapi cukup jelas, sedangkan yang digunakan metode tahlili ialah menguraikan makna ayat secara terperinci dari berbagai tinjauan dan berbagai aspek yang diulas secara luas.

Baca juga: Ragam Corak Tafsir Al-Quran

Metode Ijmali: Tafsir Era Rasulullah dan Relevansi Masa Kini

Saatnya beranjak mengenal realitas sejarah penafsiran ijmali. Konon, tafsir ijmali sudah tumbuh sejak zaman Rasulullah, bahkan merupakan metode pertama yang telah diaktualkan Rasulullah pada para sahabat. benarkah demikian?. Lantas, masih relevankah metode ini digunakan di era sekarang?, mari simak penjelasannya;

Sejatinya, kesadaran akan pentingnya tafsir sudah ada sejak masa Rasulullah. Para pakar sepakat menganggap metode ijmali sebagai metode pertama yang dipraktikkan oleh Rasulullah, tentu, menjadi metode perdana pula yang lahir dalam sejarah perkembangan dunia penafsiran.

Sebagai orang pertama yang memahami kandungan Al-Quran baik secara global ataupun terperinci, Rasulullah memiliki kewajiban untuk menjelaskan Al-Quran kepada para Sahabat. Metode ijmali dipilih Rasulullah karena di era itu bahasa Al-Quran tidak terlalu menjadi penghambat bagi para sahabat, mengapa? Karena Al-Quran diturunkan dengan bahasa mereka, di masa itu para sahabat juga tahu betul hal apa yang melatar belakangi turunnya ayat tesersebut. Terang saja, manakala terdapat kandungan makna yang tidak dimengerti, sahabat langsung mengacu pada Rasulullah untuk menjelaskan maksud umum maupun kata asing Al-Quran yang tidak dipahaminya.

Waba’du, ketika sang al-Mufassir al-Awwal meninggalkan umatnya, dunia penafsiran semakin berkembang, ragam corak penafsiran setelah ijmali banyak terlahir seiring dengan zamannya, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in hingga ulama terus berupaya memahami kandungan Al-Quran dengan menuangkan karya-karya tafsir berdasarkan pola yang meresponsi fenomena pada masanya.

Baca juga: Bagaimana Proses Kemunculan Penafsiran Al-Quran Era Sahabat? Ini Penjelasannya

Kendati demikian, metode ijmali yang praktis dan mudah dipahami rupanya tidak pernah mati, sebagian para mufasir telah merumuskan metode ijmali dalam beberapa karyanya, diantaranya seperti karya Muhammad Farid Wajdi, bertajuk Tafsir Al-Quran al-Azhim, karya Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf, bertajuk Shafwah al-bayan li Ma’any Al-Quran, dan yang tidak asing lagi, Jalal al-Din as-Suyuthi, pengarang kitab tafsir al-Jalalain, yang kitabnya tetap populer hingga saat ini.

Menanggapi relevansi tafsir ijmali dilingkup perkembangan penafsiran era kontemporer, Quraish Shihab dalam kontekstualitas Al-Quran menjelaskan, di tengah peradaban masyarakat maju beserta penemuan-penemuan ilmiah yang telah mapan, menjadikan dasar pertimbangan yang sangat urgen dalam menafsirkan Al-Quran. Menurut beliau, validitas penafsiran dapat diterima, asal penafsiran tersebut memenuhi kaidah-kaidah yang telah disepakati oleh para mufasir.

Abdul Mustaqim menawarkan tiga toeri yang mampu menjadi tolak ukur validitas penafsiran. Pertama, teori koherensi, dalam teori ini penafsiran dikatakan benar apabila konsisten menerapkan metodologi yang dibentuk setiap mufasir. Kedua, teori korespondensi, sebuah penafsiran dikatakan benar bila terdapat kecocokan dan sesuai dengan penemuan fakta ilmiah. Ketiga, teori pragmatisme, sebuah penafsiran dikatakan benar bila secara praktis dapat memberi solusi bagi masalah sosial. Wallahu A’lam.

Ibrah Kisah Nabi Yusuf, Penjara sebagai Sarana Mendekatkan Diri kepada Allah

0
Penjara sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah
Penjara sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah

Bagi kebanyakan orang, tempat seperti penjara adalah tempat yang amat dihindari. Tidak hanya sebab tempat itu mengisolasi diri, tapi juga yang memasukinya pasti dicap sebagai orang buruk. Entah orang itu dalam kenyataannya benar melakukan hal jahat atau tidak.

Namun bagi sebagian orang, terutama yang berpikir keselamatan dirinya dari melakukan hal yang dilarang Allah adalah paling penting daripada mendengar ucapan orang lain, penjara bisa jadi tempat yang paling aman. Aman dari kebebasan yang dapat membuat diri berlaku lalai sehingga melakukan hal jahat. Daripada ia bebas tapi kemungkinan besar melakukan hal buruk, lebih baik ia di penjara.

Salah satu tokoh mulia yang dapat kita jadikan suri tauladan dalam masalah ini adalah Nabi Yusuf. Nabi Yusuf memilih penjara daripada membiarkan dirinya bebas dan dapat dirayu dan diatur Zulaikha dan para wanita di sekitarnya. Padahal Zulaikha adalah sosok yang cantik, kaya dan memiliki pangkat. Lelaki manapun pasti akan tergiur oleh rayuannya. Nabi Yusuf tidak ingin dirinya terlena dan ia memilih dipenjara.

Baca juga: Belajar Menyembunyikan Nikmat dari Pendengki, Hikmah Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Yaqub

Meminta Agar Dipenjara

Di dalam Surat Yusuf, Allah menceritakan. Usai selamat dari percobaan pembunuhan yang dilakukan saudara-saudaranya, Nabi Yusuf mendapat keberuntungan dirawat oleh seorang menteri kerajaan Mesir. Ia dibeli sebagai budak, tapi dirawat bak anak sendiri oleh sang menteri. Sayangnya, itu menjadi ujian baru terhadap hidup Nabi Yusuf. Istri sang menteri justru jatuh hati pada Nabi Yusuf dan hendak mengajaknya berbuat tidak senonoh. Nabi Yusuf lari dari rayuan perempuan yang bernama Zulaikha itu dan lebih memilih dipenjara.

Nabi Yusuf berkata:

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

 فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

“Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (QS: Yusuf [12] 33-34).

Bagaimana bisa Nabi Yusuf lebih memilih penjara? Apakah penjara bukan tempat buruk baginya? Imam Al-Alusi dalam tafsirnya menjelaskan, ungkapan “penjara lebih aku sukai daripada” menunjukkan bahwa bagi Nabi Yusuf penjara tetaplah tempat yang buruk. Namun ia tidak lebih buruk daripada keburukan yang muncul akibat tergoda rayuan Zulaikha. Penjara menyimpan keburukan yang sedikit disertai keselamatan di akhirat. Sedang memenuhi rayuan Zulaikha menyimpan nikmat sesaat serta adzab serta kemarahan Allah yang besar (Ruhul Ma’ani/9/8).

Baca juga: Surat Yusuf Ayat 28 vs Surat An-Nisa Ayat 76, Benarkah Perempuan Lebih Berbahaya Daripada Setan?

Doa meminta dipenjara adalah bentuk kerendah hatian Nabi Yusuf, dalam memasrahkan kemampuan dirinya terhindar dari prilaku dosa, dengan meminta perlindungan kepada Allah dengan cara memasukkan dirinya di penjara. Nabi Yusuf bukannya tidak ingin berusaha menghindari rayuan Zulaikha, dengan meminta Allah agar mentaqdirkan dirinya masuk penjara. Buktinya, Nabi Yusuf lari saat Zulaikha mengajaknya berbuat tidak senonoh. Nabi Yusuf hanya meyakini, meski ia sudah sekuat tenaga berusaha, ia tidak akan bisa untuk tidak bergantung pada pertolongan Allah.

Menghindari Godaan Kecantikan dan Kekayaan

Imam Ibnu Katsir berkomentar, dalam kisah di atas kita bisa melihat bagaimana Nabi Yusuf yang berusia muda serta rupawan, dirayu oleh majikan perempuannya yang cantik, kaya serta berpangkat. Melihat keadaan itu, tindakan Nabi Yusuf menolak rayuan Zulaikha tentu bukanlah hal yang mudah. Terlebih penolakan itu berakibat Nabi Yusuf dipenjara. Oleh karena itu, penolakan Nabi Yusuf menunjukkan keteguhan dirinya untuk mengharap ridha Allah ta’ala (Tafsir Ibnu Katsir/4/387).

Sosok Nabi Yusuf dapat menjadi teladan untuk tidak mudah tergoda rayuan kecantikan dan kekayaan. Kita juga bisa belajar, bahwa untuk menahan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang Allah, kadang kita juga harus mengisolasi diri di tempat yang sebenarnya kita benci. Bukan untuk menyiksa diri. Namun, agar terhindar dari keburukan yang lebih besar.

Baca juga: Mengulik Terjemah dan Ragam Penafsiran Al-Quran: Tafsir Surat Yusuf Ayat 18-20

Nabi Yusuf adalah salah satu contoh dari 8 orang pilihan yang dinyatakan nabi Muhammad sebagai akan memperoleh naungan Allah di hari tidak ada naungan selain naungan Allah. Nabi Muhammad bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairah, bahwa salah satu dari 8 orang pilihan itu adalah “lelaki yang dirayu seorang perempuan rupawan yang memiliki derajad lalu lelaki itu berkata: “Aku takut pada Allah”.

Wallahu a’lam[]

Pembagian Makharijul Huruf Menurut Imam Ibn Al-Jazari

0
Imam Ibn Al-Jazari
Makharij Al-Huruf Menurut Imam Ibn Al-Jazari

Pada dasarnya, tidak terdapat banyak perbedaan diantara pendapat Imam Ibn Al-Jazari dengan as-Syathibi. Hanya terdapat penambahan jenis Makharijul Huruf, jumlah huruf serta istilah penamaannya.

Adapun secara umum, Makharijul Huruf menurut Imam Ibn Al-Jazari dibagi menjadi lima tempat yang di dalamnya lebih dirincikan menjadi tujuh belas tempat. Berikut merupakan spesifikasinya berdasarkan Matn al-Jazariyyah.

  • Al-Jauf (Rongga mulut dan tenggorokan)

Huruf Mad

Pada bagian pertama, terdapat satu makhraj dengan tiga huruf di dalamnya. Berbeda dengan as-Syathibi yang menggabungkan pada makhraj nya masing-masing, Imam Ibn Al-Jazari berpendapat jika terdapat huruf yang keluar dari rongga mulut dan tenggorokan yaitu, Huruf Mad. Dalam hal ini, Huruf Mad adalah

ا (Alif sukun) yang didahului huruf berharakat fathah sebelumnya.

و (Wawu sukun) yang didahului dengan huruf berharakat dhammah sebelumnya.

ي (Ya’ sukun) yang didahului huruf berharakat kasrah sebelumnya.

  • Al-Halq (Tenggorokan)

Imam Ibn Al-Jazari memasukkan enam huruf dalam tiga makhraj di tenggorokan. Jika as-Syathibi memasukkan huruf Alif disini sehingga berjumlah enam huruf, al-Jazari berbeda dengannya. Ia memasukkan alif pada makhraj al-Jauf sehingga hanya enam huruf dalam makhraj tenggorokan. Makhraj-makhraj tersebut adalah:

  1. Bagian pangkal pita suara, merupakan tempat keluarnya huruf ء (Hamzah) dan ه(ha).
  2. Tenggorokan bagian tengah, tempat keluarnya huruf ع (‘Ain) dan ح (ha).
  3. Bagian tenggorokan yang paling dekat dengan rongga mulut, tempatnya huruf غ (Ghain) dan خ (Kha)
  • Al-Lisan (lidah)

Pada anggota tubuh ini, Imam Ibn Al-Jazari membaginya menjadi sebelas makhraj. Menambah satu makhraj dari as-Syathibi, yakni pada huruf jim. Jika as-Syathibi menggabungkannya deengan makhraj huruf syin dan ya’, al-Jazari mengkhususkannya. Adapun sebelas makhraj tersebut ialah:

  1. Pangkal lidah yang bersentuhan dengan langit-langit mulut bagian atas, yakni tempat keluarnya huruf ق (Qof)
  2. Pangkal lidah yang bersentuhan dengan langit-langit mulut bagian atas sedikit di bawah makhraj huruf ق. Merupakan makhraj huruf ك (Kaf)
  3. Lidah bagian tengah bila disentuhkan ke langit-langit mulut, makhraj huruf ج (Jim)
  4. Lidah bagian tengah bila digerakkan keluar langit-langit menghasilkan bunyi huruf ش (Syin) dan ي (Ya)
  5. Sisi lidah bila disentuhkan ke gigi geraaham baik yang kiri, kanan ataupun keduanya menghasilkan huruf ض (Dhad)
  6. Ujung sisi lidah disentuhkan dengan langit-langit di gusi dekat gigi seri atas, yaitu makhraj huruf ل (Lam)
  7. Sisi lidah dibawah tempat keluarnya huruf Lam, terdapat makhraj huruf ن (Nun)
  8. Sisi lidah dibawah tempat keluarnya huruf Nun, terdapat makhraj huruf ر (Ra)
  9. Ujung lidah disentuhkan dengan bagian gigi seri atas alah makhraj huruf ط (Tha), د (Dal), ت (Ta)
  10. Ujung lidah dalam posisi sejajar dan mendekat ke atas gigi seri bagian bawah adalah makhraj huruf ص (Shad), ز (Zay), س (Sin)
  11. Ujung lidah bersentuhan dengan ujung gigi seri atas merupakan makhraj huruf ظ (dhod) ذ (Dzal), ث (Tsa).
  • As-Syafatain (Dua bibir)

Terdapat dua makhraj pada bagian dua bibir dengan empat huruf di dalamnya,

  1. Bibir bagian bawah bersentuhan dengan ujung gigi seri atas, makhraj dari huruf ف (Fa)
  2. Makhraj dari kedua bibir pada huruf و (Wawu), ب (Ba), م (Mim)
  • Al-Khaisyum (Pangkal hidung)

Huruf yang makhrajnya pada pangkal hidung adalah suara dengung dari huruf ghunnah, yakni huruf Mim dan Nun yang bertasydid

Semoga dapat bermanfaat untuk pembaca. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 99

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Setelah pada pembahasan yang lalu berbicara mengenai benda-benda langit agar manusia bisa mengambil pelajaran atasnya, Tafsir Surat Al An’am Ayat 99 masih dalam pembicaraan mengenai benda langit lainnya. Lebih khusus berbicara mengenai hujan yang dapat menumbuhkan berbagai macam tumbuhan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 97-98


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 99 ini disertakan pulan penjelasan mengenai proses fotosintesis segala jenis tumbuhan. Bagaimana sebuah cahaya dikelola sedemikian rupa hingga akhirnya menghasilkan buah-buahan yang bisa dimanfaatkan oleh manusia. Selain itu manfaat lainnya dari adanya tumbuh-tumbuhan ini adalah sebagai penyuplai oksigen bagi manusia agar kelangsungan hidupnya bisa terus-menerus terjaga.

Penjelasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 99 ini sesungguhnya agar manusia bisa mengambil pelajaran atas kekuasaan Allah swt melalui proses alam yang sangat teratur dan rumit itu. Jika manusia benar-benar memikirkan fenomena tersebut pastilah tidak akan menyekutukan Allah swt seperti orang-orang kafir Mekah.

Ayat 99

Allah menjelaskan kejadian hal-hal yang menjadi kebutuhan manusia sehari-hari, agar mereka secara mudah dapat memahami kekuasaan, kebijaksanaan, serta pengetahuan Allah. Allah menjelaskan bahwa Allah-lah yang menurunkan hujan dari langit, yang menyebabkan tumbuhnya berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari berbagai ragam bentuk, macam dan rasa. Seperti firman Allah:

يُّسْقٰى بِمَاۤءٍ وَّاحِدٍۙ وَّنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلٰى بَعْضٍ فِى الْاُكُلِ

… disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. (ar-Ra’d/13: 4)

Disebutkan hujan turun dari langit adalah menurut kebiasaan mereka. “Samā” atau langit digunakan untuk apa saja yang berada di atas; sedang yang dimaksud dengan Samā dalam ayat ini ialah “Sahāb” yang berarti awan seperti ditunjukkan dalam firman Allah:

اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ ٦٨ ءَاَنْتُمْ اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ   ٦٩

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? (al-Waqi’ah/56: 68-69)

Allah menjelaskan bahwa air itu sebagai sebab bagi tumbuhnya segala macam tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam bentuk jenis dan rasanya, agar manusia dapat mengetahui betapa kekuasaan Allah mengatur kehidupan tumbuh-tumbuhan itu.

Manusia yang suka memperhatikan siklus peredaran air akan dapat mengetahui betapa tingginya hukum-hukum Allah. Hukum-Nya berlaku secara tetap dan berlangsung terus tanpa henti-hentinya, sampai tiba saat yang telah ditentukan.

Kemudian disebutkan pula perincian dari tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam itu; di antaranya ialah rerumputan yang tumbuh berumpun-rumpun sehingga kelihatan menghijau.

Tumbuh-tumbuhan jenis ini mengeluarkan buah yang berbentuk butiran-butiran kecil yang terhimpun dalam sebuah tangkai seperti gandum, syair dan padi. Jenis yang lain dari tumbuh-tumbuhan itu ialah pohon palma yang mengeluarkan buah yang terhimpun dalam sebuah tandan yang menjulai rendah sehingga mudah dipetik.

Jenis yang lain lagi dari jenis tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam itu ialah anggur, zaitun, dan delima.

Ketika jenis buah-buahan ini disebutkan secara beruntun, karena masing-masing ada yang mempunyai persamaan dan perbedaan, sifat, bentuk dan rasanya, sehingga ada yang berwarna kehitam-hitaman dan ada pula yang berwarna kehijau-hijauan; ada yang berdaun agak lebar, dan ada pula yang berdaun agak kecil; begitu pula ada yang rasanya manis dan ada yang asam. Dalam hal ini ilmuwan berkata:

Makhluk hidup telah dijelaskan oleh ahli botani, seperti tumbuhan memainkan peranan penting dalam membuat dunia layak untuk dihuni. Di antara perannya, tumbuhan membersihkan udara bagi manusia, menjaga suhu agar relatif konstan, dan menyeimbangkan proporsi gas di atmosfer.  Allah swt menetapkan bahwa manusia dan hewan menerima makanannya dari yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan dalam “pabrik hijau”nya.

Pabrik hijau ini, yang oleh ahli botani disebut dengan kloroplas, mengandung klorofil yang di dalam Alquran disebut sebagai al-khadir (bahan hijau), di mana tumbuhan memanfaatkan energi cahaya matahari dan mengubahnya menjadi energi kimia yang pada akhirnya menghasilkan biji-bijian, buah-buahan dan bagian tumbuhan lainnya.

Sel tumbuhan, tidak seperti sel-sel manusia dan hewan, dapat mengkonversi  energi matahari menjadi energi kimia dan menyimpannya dalam nutrien melalui cara-cara yang sangat spesial.

Proses yang  disebut fotosintesis ini dilakukan tidak oleh sel tetapi oleh kloroplas, organel-organel yang memberi warna hijau pada tumbuhan.  Organel-organel hijau kecil yang hanya dapat diamati dengan mikroskop ini, merupakan satu-satunya laboratorium di muka bumi yang mampu menyimpan energi matahari dalam bahan organik.


Baca juga: ‘Nabiyyil Ummiyyi’, Benarkah Benarti Nabi Tidak Bisa Baca Tulis?


Fotosintesis merupakan sebuah proses kimia, yang dirumuskan sebagai berikut:

6 H2O + 6 CO2 +Cahaya matahari  →  C6 H12 O6 + 6 O2

Artinya, air dan karbon dioksida dengan bantuan energi matahari menghasilkan gula/glukosa dan oksigen.

Menurut ahli astronomi Amerika, George Greenstein, klorofil adalah molekul yang melangsungkan fotosintesis.  Mekanisme fotosintesis dimulai dengan penyerapan cahaya matahari oleh molekul klorofil.  Fotosintesis bervariasi sesuai dengan intensitas dan lamanya sumber cahaya matahari, dan produktivitasnya diukur dari keluaran oksigen yang dihasilkannya.

Produksi yang dibuat oleh tumbuhan direalisasikan melalui proses kimia yang sangat kompleks.  Ribuan pigmen-pigmen klorofil ditemukan pada kloroplas bereaksi terhadap cahaya dalam waktu yang sangat pendek, sekitar seperseribu detik.  Konversi energi matahari menjadi energi kimia atau listrik merupakan terobosan sangat mutakhir.

Sistem fotosintesis yang sangat kompleks merupakan sebuah mekanisme yang secara sengaja dirancang oleh Allah swt.  Suatu ‘pabrik tanpa banding’ yang dilaksanakan dalam unit luasan yang kecil pada daun.

Proses fotosintesis dengan peran klorofil dan kloroplas, merupakan salah satu dari ayat-ayat kauniah, yang menampakkan bahwa seluruh makhluk hidup diciptakan oleh Allah,  Pemelihara seluruh alam. Ayat terkait: al-Hajj/22: 5). Kesemuanya itu adalah untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang menciptakan tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam itu.

Allah memerintahkan kepada manusia agar memperhatikan tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam itu pada saat berbuah bagaimana buah-buahan itu tersembul dari batang atau rantingnya, kemudian merekah sebagai bunga, setelah nampak buahnya, akhirnya menjadi buah yang sempurna (matang).

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa dalam proses kejadian pembuahan itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang sangat teliti pengurusannya serta tinggi ilmu-Nya. Tanda-tanda kekuasaan Allah itu menjadi bukti bagi orang yang beriman.

Dari ayat-ayat ini dapat dipahami bahwa perhatian manusia pada segala macam tumbuh-tumbuhan hanya terbatas pada keadaan lahir sebagai bukti adanya kekuasaan Allah, tidak sampai mengungkap rahasia kekuasaan Allah terhadap penciptaan tumbuh-tumbuhan itu.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 100-103


(Tafsir Kemenag)

Iluminasi Mushaf Al-Bantani; Ekspresi Identitas Keislaman Masyarakat Banten

0
Iluminasi Mushaf Al-Bantani
Iluminasi Mushaf Al-Bantani/ khazanah mushaf al-quran Nusantara

Khazanah mushaf tentu tak bisa dipungkiri perkembangannya. Mushaf-mushaf kontemporer semakin banyak variannya, baik untuk edukasi, komoditas, maupun identitas. Salah satu mushaf yang dibuat untuk menunjukkan identitas keislaman adalah Mushaf Al-Bantani. Mushaf ini menampilkan hasil seni, estetika yang berasal dari legacy peradaban Banten.

Mushaf ini termasuk dalam rentetan mushaf kontemporer indah di Indonesia. Sebelum mushaf ini, terdapat mushaf-mushaf indah yang dipelopori pemerintah maupun swasta serta memiliki corak kearifan lokal. Mushaf-mushaf sebelumnya seperti Mushaf Istiqlal (1995), Mushaf Sundawi (1997), Mushaf Bu Tien (1999), Mushaf Jakarta (2000), Mushaf Kalimantan Barat (2002).

Mushaf Al-Bantani mulai ditulis pada 2 Februari 2008 dan selesai pada 28 Agustus 2010 (18 Ramadan 1431 H) atas prakarsa MUI Provinsi Banten. Versi cetak mushaf ini berukuran 25 x 17,5 cm, dan versi cetak yang ada terjemahnya berukuran 27,5 x 21 cm. Sementara versi tulis tangannya berukuran 50 x 70 cm dengan kertas impor merk “Felind D’ Arches” dari Prancis dan “Qonqueror” dari Inggris. Mushaf ini termasuk mengikuti sistem pojok dan halamannya berjumlah 604 halaman.


Baca juga: ‘Nabiyyil Ummiyyi’, Benarkah Benarti Nabi Tidak Bisa Baca Tulis?


Dalam proses penulisannya, mushaf ini tidak hanya melibatkan kaligrafer yang mumpuni, namun juga illuminator, dan peneliti yang kompeten. Kaligrafernya terdiri dari sepuluh orang yang dikoordinatori oleh Dr H Ahmad Tholabi Kharlie. Sementara desainer iluminasinya dari ahli seni rupa Institut Teknologi Bandung, dan tim peneliti diketuai Prof. Dr. H. A. Tihami, M.A., M.M.

Menariknya, mushaf ini memiliki iluminasi yang menawan tiap juz-nya. Iluminasi ini terinspirasi dari 29 artefak dan 1 manuskrip peninggalan peradaban Banten. Ketiga puluh iluminasi tersebut memiliki varian yang terdiri atas iluminasi dasar dan iluminasi instrumental. Mengutip ungkapan Ali Akbar, Iluminasi dasar sumbernya adalah artefak dan manuskrip Banten, sedangkan iluminasi instrumental merupakan penunjang dari iluminasi dasar sebagai pengembangan dan rekayasa grafis.


Baca juga: Tuntunan Al-Quran dalam Menyikapi Penghinaan Terhadap Nabi SAW


Iluminasi Mushaf Al-Bantani

Analisa mengenai iluminasi mushaf Al-Bantani, secara khusus telah diteliti Sherley Zulianawati tahun 2020 ini.  Penelitian itu berjudul Iluminasi dalam Mushaf Al-Qur’an Al-Bantani dan Relevansinya dalam Perkembangan Mushaf di Indonesia.

Penelitian tersebut menyebut bahwa adanya iluminasi dalam mushaf Al-Bantani tidak hanya bertujuan estetis saja. Namun juga menghadirkan ekspresi identitas keislaman masyarakat Banten. Mereka ingin menunjukkan adanya kepedulian terhadap warisan leluhur. Bahkan usaha untuk menyusun iluminasi ini, terlebih dahulu melakukan penelitian di berbagai lokasi yang dianggap menyimpan koleksi leluhur Banten. Lokasi itu seperti di Jakarta, Perpustakaan Nasional, Banten, meliputi kota Tangerang, Serang, Pandeglang, dan Lebak, serta di Krui, Lampung Barat.


Baca juga: Cara Menangkal Hoaks (Berita Bohong) Menurut Pandangan Al-Quran


Hasil dari penelusuran di lokasi tersebut merupakan iluminasi yang berhasil didesain ulang dari berbagai artefak. Kemudian digambar ulang dan diterapkan menjadi kerangka-kerangka yang berisi tiara (layaknya hiasan kepala yang dipakai ratu), selain itu juga kerangka frame-nya.  Adapun tiara yang mewakili dari 30 warisan leluhur itu sebagai berikut;

  1. Mahkota Sokoguru Masjid Carita
  2. Menara Masjid Pacinan Tinggi
  3. Memolo (kemuncak atap) Masjid Agung Banten
  4. Memolo Menara Masjid Agung Banten
  5. Memolo Masjid Kasunyatan
  6. Gapura Masjid Kasunyatan
  7. Ornamen Mihrab Masjid Kasunyatan
  8. Memolo Menara Masjid Kasunyatan
  9. Gapura Makam Masjid Kasunyatan
  10. Gapura Masjid Kanari
  11. Memolo Masjid Kanari
  12. Ornamen Mihrab Masjid Kanari
  13. Memolo Makam Maulana Yusuf
  14. Gapura Bentar Kaibon
  15. Gapura Paduraksa Kaibon
  16. Memolo Masjid Kaujon
  17. Ornamen Mihrab Masjid Kaujon
  18. Memolo Masjid Tanara
  19. Cungkup Mimbar Masjid Tanara
  20. Memolo Mimbar Masjid Tanara
  21. Memolo Masjid Singarajan
  22. Ornamen Mihrab Masjid Singarajan
  23. Memolo Masjid Caringin
  24. Trawangan Pintu Majsid Caringin
  25. Mahkota Sokoguru Masjid Carita
  26. Ornamen Sokoguru Masjid Carita 1
  27. Ornamen Sokoguru Masjid Carita 2
  28. Ornamen Mihrab Masjid Carita
  29. Arsitektur Srimanganti Surtasowan
  30. Iluminasi manuskrip Al-Qur’an Banten.

Iluminasi dari kearifan lokal tentu mengukuhkan eksistensi dan identitas masyarakat Banten. Tak hanya itu, hadirnya mushaf Al-Bantani juga menunjukkan adanya perhatian khusus oleh masyarakat Banten terhadap keberlangsungan seni mushaf yang agung.  Selain itu, penelitian yang menyertai juga mengindikasikan adanya kemajuan dan integrasi aspek intelektualitas, seni, dan keagamaan yang apik.

Tentu, saat ini banyak juga mushaf kontemporer yang memberikan sentuhan khas iluminasi daerah masing-masing.

Wallahu a’lam[]

‘Nabiyyil Ummiyyi’, Benarkah Benarti Nabi Tidak Bisa Baca Tulis?

0
Nabi tidak bisa baca tulis
Nabi tidak bisa baca tulis

Sudah menjadi pengetahuan umum bagi umat Islam bahwa Muhammad saw merupakan seorang nabi dengan sifat ummi (buta baca dan tulis). Ini artinya Nabi Muhammad saw tidak memiliki kemampuan untuk membaca dan menulis. Sifat ini juga cukup sering disebut dalam Al-Quran dengan redaksi “Nabiyil ummiyi”. Lantas bagaimana maksud lafadz itu? Apakah memang berarti Nabi tidak bisa baca tulis?

Sifat ummi pada umumnya dimengerti dengan konotasi negatif. Tidak adanya kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis menjadikan orang tersebut kurang bisa mengembangkan potensi akal dan pengatahuan yang sudah disediakan. Namun apakah sifat demikian yang juga dilekatkan kepada Nabi Muhammad. Maka akan menarik untuk diulas dari berbagai point of view sehingga kesan buruk tentang  tidak serta merta dikaitkan dengan Rasul saw.

Baca juga: Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5: Allah Swt mengangkat Muhammad Saw Menjadi Rasul

Tafsir al-A’raf ayat 157: pemaknaan lafad ummi

Salah satu ayat yang menyebut “Nabiyil Ummiyi” terdapat dalam surat Al-A’raf ayat 157:

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِىَّ ٱلْأُمِّىَّ ٱلَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَىٰهُمْ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَٱلْأَغْلَٰلَ ٱلَّتِى كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung”

Quraish Shihab menjelaskan lafad ummi yang berakar pada kata umm (ibu). Ini dimaksudkan pada keadaan seorang Ibu di masa Jahiliyah. Kaum wanita pada masa itu masih dirundung kebodohan. Namun, ada juga keterkaitan dengan ummah/umat. Ini merujuk pada kondisi masyarakat quraisy yang buta huruf. Ini diperkuat dengan sabda rasulullah:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ

“dari Ibn Umar, dari Rasulullah aw bersabda: sesungguhnya kami ialah umat yang ummi (buta huruf), tidak bisa menulis dan tidak bisa menghitung”(HR. Bukhari).

Baca juga: Hinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang Diabadikan dalam Al-Quran

Dalam Shafwatut Tafsir, Ali as-Shabuni menerangkan bahwa ayat ini menjadi bukti dan jaminan akan adanya rahmat dari Allah swt bagi orang yang mengikuti Nabi saw yang ummi yakni buta huruf dan tak bisa menulis. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sebelum turunnya Al-Quran, Nabi Muhammad saw sama sekali tak pernah mengenal kegiatan baca tulis sehingga ia dikenal dengan ummi. Ini senada dengan yang dimaksud oleh ar-Raghib al-Asfahani.

Adapun al-Qurthubi dalam tafsirnya memaparkan beragam pendapat, salah satunya ialah pendapat dari al-Nuhas yang mengaitkan lafad ummi dengan kota kelahiran Nabi saw yakni Ummul Quro (Makkah). Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa ummi dimaknai sebagai orang yang sudah dewasa akan tetapi keadaannya masih seperti bayi yang baru dilahirkan, yakni tak bisa baca tulis karena tidak belajar.

Fadilah dari ke-ummi-an Rasul saw

Mengenai ke-ummi-an Nabi Muhammad saw. Al-Qurthubi dan al-Maraghi mengatakan bahwa pertanda itu sudah disebutkan/dikabarkan oleh kitab-kitab terdahulu yakni Taurat dan Injil. Al-Qurthubi menganggap bahwa kondisi Nabi yang demikian merupakan bagian dari skenario dari yang Maha Kuasa.

Ke-ummi-an Nabi Muhammad juga menjadi pembantah atas tuduhan yang mengatakan bahwa risalah yang dibawa Nabi merupaakan dongeng-dongeng dari kitab terdahulu. Al-Maraghi dalam tafsirnya juga mengatakan bahwa karena “buta huruf”-nya, Nabi Muhammad justru memiliki tanda keistimewaan tersendiri. Ke-ummi-an itu tidak menghalanginya untuk berdakwah hingga berhasil merubah kondisi dunia, membentuk peradaban yang luhur yang memanusiakan manusia.

Baca juga: Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’

Memang kondisi bangsa arab pada masa itu merupakan peradaban yang relatif minim pengetahuan dalam bidang menulis dan ini relatif wajar, karena mereka cenderung mengandalkan daya hafal dibanding membaca dan menulis. Bahkan mereka yang bisa menulis dan membaca dianggap sebagai oranag yang lemah daya hafalnya. Namun demikian, al-Qurthubi lagi-lagi menjelaskan bahwa ketidak mampuan Nabi saw untuk membaca dan menulis merupakan bagian dari kemukjizatan sehingga menjadi argumen kuat sebagai pembenar Al-Quran yang merupakan wahyu, bukan karangan Nabi Muhammad saw.

Apakah Rasul saw ummi hingga akhir hayat?

Meskipun ke-ummi-an Nabi saw merupakan rangkaian mukjizat-Nya. Bukan berarti ia selamanya akan seperti itu. Turunnya surat al-Alaq 1-5 menjadi pertanda Rasul mulai belajar membaca.  Al-Maraghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa dalam peristiwa turunnya wahyu pertama, Jibril memerintahkan dengan berulang-ulang, yang itu menunjukan bahwa Nabi memang tidak pernah membaca dalam bentuk apapun. Namun karena dituntun dengan berulang kali, akhirnya Nabi saw mulai terbiasa.

Meskpun demikian, tentang apakah ke-ummi-an Nabi saw hingga akhir hayat, beberapa mufassir memiliki beragam pandagan. Imam al-Suyuthi meskipun juga berpendapat bahwa ummi bermakna tidak bisa membaca dan menulis, ia juga menuqil riwayat dar Abdullah ibn ‘Utbah yakni:

عبد الله بن عتبَة عَن أَبِيه قَالَ: مَا مَاتَ النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم حَتَّى قَرَأَ وَكتب

“dari Abdullah bin Utaibah berkata: tidaklah Rasulullah saw meninggal kecuali beliau telah mampu membaca dan menulis”

Memang benar bila tugas Nabi menyampaikan risalahnya dan salahsatunya ialah dengan cara membacakan wahyu-wahyu yang ia terima dari Jibril. Namun itu tidak serta merta menghilangkan ke-ummi-an Nabi saw. Al-Qurthubi mengatakan bahwa saat Nabi membacakan ayat-ayat yang dimaksud bukan berarti membaca tulisan melainkan dalam bentuk hafalan. Ini juga sependapat dengan as-Shabuni yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad diberi kelebihan dalam menghafal ayat Al-Quran.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa’ Ayat 59: Bentuk Dukungan Rasulullah Terhadap Pemimpin dan Ulama

Adapun dalam hal menulis, Nabi lebih menunjuk para sahabatnya untuk menjadi “sekretaris”. Ini membuktikan bahwa ke-ummi-an Nabi Muhammad sudah ditetapkan hingga akhir hayatnya. Kemampuan tersebut telah dihilangkan sejak awal dan sebagai gantinya ialah daya hafal yang sangat tinggi yang ia miliki. Ini merupakan rangkaian skenario mukjizat yang membuktikan bahwa risalah yang dibawanya ia benar dari Allah. Wallahu a’lam[]

Jangan Pernah Berputus Asa: Tafsir Surat Az-Zumar Ayat 53

0
jangan berputus asa
jangan berputus asa (news.detik.com)

Pada fase tertentu dalam kehidupan, mungkin sebagian orang akan menghadapi berbagai macam masalah ataupun melakukan banyak kesalahan. Kadangkala masalah dan kesalahan tersebut membuat seseorang merasa ingin menyerah dan berputus asa, karena baginya sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan sudah terlambat untuk menyesal.

Merasa berputus asa dan menyesal bagi mereka yang sedang dirundung masalah atau melakukan kesalahan (dosa) adalah sesuatu yang lumrah dan manusiawi. Bahkan menyesal atas perbuatan dosa yang telah dilakukan merupakan tanda melekatnya keimanan di dalam hati seseorang. Jika seseorang melakukan dosa tanpa rasa penyesalan, maka patut dipertanyakan di mana keimanannya.

Meskipun demikian, penyesalan dan rasa berputus asa ada yang berlebihan tidaklah baik. Karena ini – bisa jadi – merupakan bisikan setan yang memerintahkan manusia untuk tenggelam dalam penyesalan dan keputusasaan, sehingga membuat mereka lupa untuk mengharap kepada Allah swt, bahwa rahmat dan karunia-Nya amat luas, jauh lebih luas dari murka dan siksanya.

Dengan demikian, siapapun, kapanpun dan dimanapun, manakala ia mendapatkan masalah hendaknya ia tidak berputus asa dan tenggelam dalam rasa frustrasi. Ia harus yakin bahwa akan ada jalan keluar dari setiap masalah. Di sisi lain, manakala seseorang melakukan kesalahan seperti berbuat dosa, hendaknya ia menyesali perbuatannya tersebut tanpa berlebih-lebihan apalagi sampai berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah swt.

Tafsir QS. Az-Zumar Ayat 53: Jangan Berputus Asa

Berkenaan dengan hamba yang berlumur dosa dan melampaui batas, Allah Swt berfirman kepada mereka agar jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya. Mereka hanya perlu menyesali perbuatan dosa, berjanji tidak mengulanginya dan meminta ampunan kepada-Nya. Hal ini termaktub dalam QS. Az-Zumar ayat 53 yang berbunyi:

 قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (QS. Az-Zumar [39]: 53)

Baca juga: Takwa dan Tawakkallah, Tips Mencari Rezeki Menurut Al-Quran

Menurut Math‘am bin ‘Addiy, ayat ini turun kepada kamu kafir Quraish, terutama pemuka-pemuka mereka yang masuk Islam pasca penaklukan Mekah (fath makkah). Mereka adalah Suhail bin ‘Amr, Hakim bin Hazm, Safwan bin Umayyah, Abu Sufyan dan lain-lain (Tafsir Al-Qur’an/Tafsir al-Sam‘ani [4]: 475).

Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami bisa masuk Islam? Sesungguhnya nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “Barang Siapa yang melakukan perbuatan syirik, berzina atau membunuh, maka dia akan binasa atau celaka.” Dan kami sungguh telah melakukan itu semua, bagaimana keadaan kami?” Kemudian turunlah QS. Az-Zumar Ayat 53.

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan bahwa ayat ini merupakan janji Allah Swt kepada nabi Adam as pasca penurunannya ke dunia. Nabi Adam berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya engkau telah membuat Iblis mampu menguasaiku dan keturunanku, dan aku tidak sanggup membendungnya kecuali atas izin-Mu.”

Allah swt berfirman: “Wahai Adam, sesungguhnya setiap keturunanmu yang lahir akan ditemani oleh malaikat penjaga.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah Swt berfirman: “Pintu taubat akan senantiasa terbuka bagi keturunanmu, pintu itu tidak akan tertutup hingga hari kiamat.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah Swt berfirman: “Setiap kebaikan yang dilakukan keturunanmu akan dibalas sebanyak sepuluh kali lipat, sedangkan keburukan atau kejahatan hanya dibalas setimpal.”

Nabi Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah lagi.”

Allah Swt berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…

Secara umum ayat di atas mengatakan bahwa sebaiknya manusia – yakni hamba-hamba Allah swt yang telah melakukan dosa – tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Jika mereka menyesali semua dosa tersebut dan mau bertaubat secara sungguh-sungguh, maka Allah swt akan mengampuninya. Karena Dia adalah Tuhan Yang Maha Pengampun terhadap dosa-dosa hamba-Nya dan Maha Penyayang kepada mereka.

Kata la taqnuthu pada ayat ini bermakna la tay‘asu, yakni janganlah berputus asa dari rahmat Allah Swt, karena rahmat-Nya jauh lebih luas dan besar daripada murka-Nya. Tidak berputus asa di sini bermakna bahwa seseorang menyesali semua perbuatan dosanya, bertaubat dengan sungguh-sungguh, dan memohon ampunan dan rahmat-Nya.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Hadid Ayat 22-23: Hikmah di Balik Musibah

Berdasarkan ayat di atas, semua dosa manusia dapat diampuni seandainya Allah Swt berkehendak. Namun dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa ketika QS. Az-Zumar Ayat 53 turun, seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan dosa orang yang syirik?” kemudian nabi Saw diam sejenak dan laki-laki itu bertanya lagi, “bagaimana dengan dosa orang yang syirik?” Beliau menjawab, “Kecuali orang yang menyekutukan Allah Swt.”

Jika seseorang menelaah frasa ayat di atas secara cermat, maka ia dapat menemukan bahwa ada isyarat dari Allah Swt agar manusia tidak mencela pendosa. Karena Allah Swt pada konteks ayat ini memanggil mereka dengan panggilan hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sebuah panggilan mesra dan penuh kasih dari-Nya, tanpa penindasan apalagi penghujatan.

Melalui panggilan tersebut, Allah seakan-akan berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas, Aku tahu bahwa kalian telah melakukan berbagai perbuatan dosa, baik disengaja ataupun tidak. Dosa-dosa kalian itu sangat banyak, sehingga kalian merasa kalian tidak pantas untuk menerima ampunan dari-Hu. Namun ketahuilah, hal itu tidaklah benar, ampunan dan karunia-Ku jauh lebih besar dari dosa kalian semua.”

“Oleh karena itu, jangan kalian berputus asa dari ramat-Ku dan teruslah memohon ampun kepada-Ku atas kesalahan-kesalahan kalian. Sesungguhnya Aku akan memaafkan segala dosa-dosa manusia sebanyak dan sebesar apapun sesuai keinginan-Ku. Dan ketahuilah bahwa Aku adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua makhluk di alam semesta.”

Dari QS. Az-Zumar Ayat 53 ini, kita juga belajar tentang psikologi dakwah Islam dalam perspektif Al-Qur’an, yakni mendahulukan cinta dan kasih serta kelembutan di atas segalanya. Pada aspek tertentu, kita memang harus ketat dan tegas. Namun di sisi lain, ketegasan tersebut jangan sampai membuat kita lupa bahwa agama Islam adalah agama yang mengutamakan cinta, kedamaian, dan kesejahteraan. Wallahu A’lam.