Beranda Tafsir Tematik Quraish Shihab: Ada Isyarat Kedamaian Pada Ayat-Ayat Perang

Quraish Shihab: Ada Isyarat Kedamaian Pada Ayat-Ayat Perang

Dewasa ini, ada sekelompok orang yang menyalahpahami ayat-ayat perang atau ayat-ayat qital dalam Al-Qur’an sebagai dalil untuk melancarkan serangan dan memulai peperangan terhadap non-muslim sekalipun mereka berada pada situasi damai. Mereka beranggapan bahwa langkah tersebut harus dilakukan hingga semua manusia masuk ke dalam agama Islam.

Pemahaman demikian tidaklah benar dan bertentangan dengan ajaran Islam sendiri. Berkenaan dengan hal ini, Muhammad Quraish Shihab dalam sebuah kajian tafsir online di Wamimma Tv mencoba menerangkan konteks ayat-ayat qital atau ayat-ayat perang: bahwa dibalik ayat tersebut ada isyarat kedamaian yang ingin disampaikan oleh Al-Qur’an kepada umat Islam.

Menurut beliau, “Hal pertama yang harus digarisbawahi adalah kitab suci Al-Qur’an mengandung petunjuk bagi kehidupan manusia, baik kehidupan dunia maupun akhirat. Dalam konteks kehidupan dunia, ada tuntunan tentang bagaimana hidup secara komunal, bermuamalah dan sebagainya. Semua tuntunan tersebut mengarah pada mewujudkan perdamaian bagi individu dan masyarakat.”

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 39-40: Membaca Pesan Perdamaian di Balik Ayat-Ayat Perang

Dengan demikian, garis besar ajaran Al-Qur’an adalah kedamaian. Dalam konteks mewujudkan kedamaian tersebut, Al-Qur’an beberapa kali menyebutkan tentang ayat-ayat qital atau ayat-ayat perang. Namun, patut diketahui bahwa peperangan yang dibicarakan itu bukanlah tujuan utama Al-Qur’an, tetapi hanya sebagai sarana mewujudkan kedamaian.

Karena alasan inilah – menurut Quraish Shihab – ayat-ayat perang tidak sepantasnya dihadap-hadapkan dengan ayat-ayat damai (jangan menganggap keduanya berkontradiksi). Ayat-ayat perang dan ayat-ayat damai memiliki konteks tersendiri yang harus dibaca secara utuh. Kendati demikian, keduanya sama-sama membangun ajaran Islam yang damai dan mendamaikan.

Beliau juga secara tegas menolak paham yang menyatakan ayat-ayat damai yang turun terlebih dahulu dibatalkan oleh ayat-ayat perang yang turun belakangan. Menurutnya, pandangan ini seakan-akan membedakan antara Islam Mekah dan Islam Madinah (dualisme Islam). Padahal yang sebenarnya tidak demikian, keduanya turun bergantian dalam rangka mewujudkan prinsip dasar Islam, yakni kedamaian, bukan peperangan.

Ketika membaca sejarah pewahyuan ayat-ayat perang, kita akan menemukan bahwa meskipun ayat tersebut berbicara mengenai peperangan, namun pada saat yang sama ia juga mengandung isyarat tentang kedamaian. Kemudian, pada 15 tahun pertama kenabian, ayat-ayat perang tidak pernah muncul. Ini baru diwahyukan pada tahun kedua Hijriah di mana situasi memaksa umat Islam untuk mempertahankan kedamaian melalui perang (Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul).

Kalaupun umat Islam diperintahkan berperang, itu tidak terjadi tanpa alasan atau hanya karena ingin berperang. Perang dalam ajaran Islam adalah dalam rangka mewujudkan keadilan dan kedamaian serta melawan kezaliman. Dalam perang pun ada aturan-aturan yang berlaku sebagaimana disebutkan Al-Qur’an dalam surah al-Baqarah [2] ayat 190 yang berbunyi:

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ ١٩٠

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 190).

Menurut para ulama – sebagaimana disampaikan oleh Quraish Shihab dalam suatu kesempatan – surah al-Baqarah [2] ayat 190 adalah ayat perang yang paling menggambarkan tentang konteks peperangan dalam Islam. Melalui ayat ini, seseorang akan mengetahui bahwa umat Islam dibolehkan berperang dalam rangka mempertahankan diri, agama dan negara serta mewujudkan kedamaian.

Surah al-Baqarah [2] ayat 190 adalah ayat pertama yang memerintahkan dalam Islam. Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa perang haruslah dilakukan di jalan Allah swt, jangan berperang bukan pada jalan-Nya. Jalan ini antara lain membela agama, membela nilai kebenaran, membela tanah air. Artinya, Islam tidak membenarkan adanya perang yang disebabkan oleh kepentingan individu maupun golongan, karena ini dapat mencederai nilai-nilai kedamaian.

Perang dalam Islam hanya terjadi apabila ada orang yang memerangi umat Islam dan mengganggu kedamaian. Dari sini kita memahami bahwa non-muslim yang menginginkan kedamaian tidak boleh diganggu dan disakiti apalagi diperangi. Ibnu Arabi bahkan pernah menyebutkan – ketika menafsirkan kata an tuqsitu pada surah al-Mumtahanah ayat 8 – tidak mengapa seandainya muslim memberikan harta kepada non-muslim yang menginginkan kedamaian.

Menurut Quraish Shihab, dalam perang pun ada aturan yang berlaku, yakni tidak boleh berlebih-lebihan sebagaimana disebutkan dalam surah al-Baqarah [2] ayat 190. Jangan berlebihan di sini maksudnya jangan membunuh anak-anak, orang tua,  dan wanita; jangan menghancurkan tempat ibadah umat lain, jangan membumi hanguskan kota, fasilitas dan tindakan-tindakan destruktif lainnya.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Hajj Ayat 39: Perang itu Diizinkan Bukan Diperintahkan

Al-Sa’adi dalam menyampaikan pandangan serupa dalam kitabnya, Taisir al-Karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan. Menurutnya, perang hanya terjadi apabila ada kelompok yang mencoba untuk memerangi kedamaian umat Islam dan mengganggu stabilitas negara. Dalam perang pun umat Islam dilarang berbuat kerusakan seperti membunuh orang yang tidak bersalah, merusak alam dan hal-hal yang bersifat merusak.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa asas ajaran Islam adalah perdamaian dan kedamaian (al-salam), perang pun terjadi dalam konteks mempertahankan dan mewujudkan perdamaian (bersifat defensif, bukan ofensif apalagi agresi). Quraish Shihab juga menegaskan, “Perang untuk mengislamkan orang itu tidak pernah ada (dalam ajaran Islam). Perang itu untuk membela agama, membela kepercayaan demi meraih kedamaian.” Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...