Berbeda dengan pemahaman mainstream global modern tentang sistem dan produksi pangan, dalam perspektif Al-Qur’an, hal tersebut tidak dipahami semata sebagai persoalan ekonomi, teknis pertanian, atau pemenuhan kebutuhan biologis manusia, melainkan bagian dari struktur kosmik yang memperlihatkan relasi antara Tuhan, manusia, dan alam.
Oleh karena itu, ayat-ayat tentang pangan hampir selalu dihubungkan dengan tanda-tanda ketuhanan (āyāt kawniyyāt), nikmat Ilahi (imtinān), keseimbangan ekologis (mīzān), dan kemungkinan kebangkitan kembali (ba‘ts) yang oleh Al-Qur’an, rasionalitas akal sudah sepatutnya menerimanya.
Salah satu contoh paling jelas nampak dalam QS. ‘Abasa [80]: 24-32. Ini dimulai dari dorongan “fal-yanẓur al-insān ilā ṭa‘āmih” yang berarti, “Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya”. Ayat ini pun tidak sekadar mendorong manusia untuk melihat makanan dalam pengertian empiris-indrawi, melainkan sebagai refleksi mendalam terhadap seluruh proses ekologis yang memungkinkan pangan hadir di hadapan manusia.
Dan ayat setelahnya langsung menguraikan rangkaian proses kosmik: turunnya hujan secara melimpah, terbelahnya tanah dengan sebaik-baiknya belahan, tumbuhnya biji-bijian, anggur, sayur-mayur, zaitun, kurma, kebun-kebun yang rindang, buah-buahan, hingga rerumputan, “untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu”.
Struktur ayat ini menunjukkan bahwa pangan lahir melalui jaringan kehidupan yang saling berkaitan dan bekerja dalam hukum penciptaan Allah. Penunjukan Allah atas diri-Nya dengan bentuk plural pun mengisyaratkan, bukan saja Allah yang secara hakikat melimpahkan sekian kenikmatan tersebut, tetapi juga terhubung dengan keteraturan kosmik dan tentunya peran manusia sebagai khalīfah atau pemakmurnya.
Lantas, sistem pangan dalam Al-Qur’an harus dipahami bukan sekadar sebagai produk konsumsi, tetapi manifestasi keteraturan kosmik yang menopang kehidupan manusia dan makhluk lain secara bersamaan. Pangan bukan sekadar objek konsumsi, melainkan bukti ketergantungan manusia kepada sunnatullah yang sedemikian kompleksnya. Andaikan sistem tersebut tidak ditundukkan Allah, manusia tidak akan mampu bertahan hidup.
Pangan adalah sesuatu yang paling melekat pada kehidupan manusia, paling dekat dengannya, dan paling dibutuhkannya. Atau dalam konstruksi hierarchy of needs-nya Abraham Maslow, ia adalah “basic needs”.
Dengan itu, Sayyid Quṭb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān pun menghendaki agar manusia memperhatikan perkara yang mudah, mendasar, hadir setiap saat, dan terus berulang ini. Mekanisme tersebut begitu menakjubkan, namun tampak sederhana. Dan karena anggapan kesederhanaan itu, manusia pun lupa akan keajaiban yang terkandung di dalamnya. Padahal ia adalah mukjizat sebagaimana mukjizat penciptaan dan pertumbuhan manusia itu sendiri. Setiap tahap dari tahapan-tahapannya berada dalam genggaman kekuasaan yang juga menciptakan manusia.
Baca juga: Keunikan Ayat–Ayat ‘Kauniyah’ dalam Alquran
Pencurahan Air
اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ
“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah.” (QS. ‘Abasa [80]:25).
Bagi manusia sederhana, ayat ini menunjuk pada hujan yang turun dari langit, sebuah realitas yang disaksikan setiap hari dan sepenuhnya berada di luar kuasa manusia. Namun, seiring berkembangnya pengetahuan, makna ayat ini dapat dipahami dalam cakupan yang lebih luas. Air bukan sekadar hujan yang turun berulang, melainkan bagian dari sejarah kosmik bumi itu sendiri. Sejumlah hipotesis ilmiah modern bahkan menyatakan bahwa samudera pada mulanya terbentuk di atmosfer bumi purba, lalu tercurah ke bumi dalam proses pendinginan yang sangat panjang.
Mengenai hal ini, Sayyid Quṭb, mengutip ilmuwan modern, menguraikan, bahwa pada fase awal pembentukannya, bumi diperkirakan memiliki suhu yang sangat tinggi sehingga unsur-unsur kimia belum dapat menyatu. Ketika suhu mulai menurun secara bertahap, oksigen dan hidrogen akhirnya bergabung membentuk air. Dalam jumlah yang sangat besar, air itu mula-mula berada di atmosfer sebelum kemudian tercurah ke bumi melalui proses pendinginan yang panjang dan dahsyat. Fenomena tersebut memicu banjir besar, pelapukan, dan penghancuran kerak bumi yang pada akhirnya menjadi dasar terbentuknya lingkungan bumi sebagaimana dikenal manusia sekarang.
Bagi Quṭb, teori ilmiah ini dapat memperluas cakrawala pemahaman kita terhadap ayat dan sejarah pencurahan air. Terlepas dari benar-salahnya, namun Al-Qur’an senantiasa relevan bagi seluruh manusia di setiap lingkungan dan setiap generasi.
Seluruh rantai kehidupan, termasuk pangan manusia, bermula dari air. Tidak seorang pun menciptakan air atau mengatur proses turunnya. Manusia hanya menerima dan memanfaatkannya.
Baca juga: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 32: Fungsi Saqfan untuk Melindungi Bumi
Pembelahan Bumi
Setelah pencurahan air, Al-Qur’an menggambarkan tahap berikutnya:
ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ
“Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. ‘Abasa [80]:26).
Bumi yang terbelah dan siap menumbuhkan kehidupan. Air meresap ke dalam tanah, lalu dari permukaannya muncul tunas-tunas kecil yang lembut, menembus lapisan bumi yang keras dan berat. Proses yang nampak biasa ini sesungguhnya menyimpan keajaiban: kehidupan tumbuh dari tanah mati melalui kekuatan yang tidak dimiliki manusia.
Dalam cakrawala pengetahuan yang lebih luas, lanjut Quṭb, “pembelahan bumi” juga dapat dipahami sebagai proses panjang pembentukan tanah subur. Air, banjir besar, dan berbagai faktor atmosfer secara perlahan menghancurkan batuan kerak bumi hingga terbentuk lapisan tanah yang layak ditanami. Dengan demikian, pembelahan tanah hadir sebagai kelanjutan logis dari pencurahan air, sekaligus penanda bahwa kehidupan berlangsung melalui keteraturan kosmik yang dikehendaki Sang Pencipta.
Lantas, menurut Quṭb, apa pun yang sebenarnya terjadi—dalam cakrawala pengetahuan modern itu—dan apa pun yang dimaksud oleh kedua ayat sebelumnya, maka tahap ketiga dalam kisah ini adalah tumbuhnya tumbuh-tumbuhan dengan segala jenis dan ragamnya, yang disebutkan di sini jenis-jenis yang paling dekat dengan kehidupan para audiens yang diajak bicara oleh Al-Qur’an, dan paling umum sebagai makanan manusia dan hewan.
Baca juga: Menjaga Laut dan Mutiara; Tadabbur Ekologis Q.S. Arrahmān: 22
Keanekaragaman Hayati dan Fungsi Biologisnya
Ayat-ayat selanjutnya pun menyebutkan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang masih mengajak manusia untuk memikirkan apa yang disiapkan untuk “matā‘ān la-kum wa li-an‘āmi-kum” atau “(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu” itu.
Kajian Rawda Abdel Moneim Al-Amin yang berjudul “Food Consumption from Islamic Perspective: Evidence from Qur’an and Sunnah”, juga telah menunjukkan hal tersebut. Dan berikut beberapa di antaranya yang disebut dalam ayat-ayat yang dibahas di sini.
“ḥabb” (biji-bijian/grains) dengan sekian ragam jenisnya menjadi pilar utama pemenuhan energi tubuh, pembentukan jaringan, serta menjaga stabilitas metabolisme.
Kemudian, “‘inab” (anggur/grape) merupakan buah yang bernilai gizi dan terapeutik, dengan keistimewaan utama berupa kandungan gula yang mudah dicerna. Beberapa jenis anggur juga mengandung vitamin D dan B kompleks. Anggur membantu pembentukan otot, memperkuat tulang, dan mengurangi kerapuhan tulang.
Adapun “qaḍb” (sayur-sayuran/vegetables) memiliki banyak manfaat karena mengandung serat pangan serta vitamin A, C, dan E, yang berfungsi melindungi tubuh dari bahaya oksidasi dan keracunan.
Sementara itu, “zaitūn” (zaitun/olive), menjadi sumber penting vitamin B kompleks. Ia juga mengandung fosfor, sulfur, kalium, klorin, zat besi, mangan, dan tembaga. Ia melindungi penyakit kronis dan tak tersembuhkan, serta racun.
Lalu, “nakhl” (pohon kurma/palm tree), yang disebutkan bukan saja buahnya, tetapi pohonnya sekaligus. Kurma kaya akan gula alami sumber energi instan, serat untuk pencernaan, dan zat besi. Sunnah Nabi juga mengajarkan konsumsi kurma untuk berbuka puasa dan bagi ibu melahirkan. Sementara pohon kurma sendiri, dimanfaatkan oleh masyarakat Arab saat itu. Dari biji kurma dijadikan makanan unta. Dari air dahan pohonnya, dijadikan minum. Dari pelepahnya, dijadikan bahan rumah. Darinya juga dijadikan tikar, tali, dan perlengkapan rumah tangga lainnya.
Sekian banyak “fākihah” (buah-buahan/fruits) juga memiliki masing-masing keistimewaannya termasuk yang telah disebutkan sebelumnya.
Sementara “abb” (rerumputan/grass) menjadi kerangka ekologis-etis tersendiri, yang ditunjukkan dengan kesejajaran manusia dengan hewan-hewan ternaknya. Yakni, bahwa sistem pangan dalam Al-Qur’an tidak bersifat antroposentris secara mutlak. Kehidupan manusia justru bergantung pada keseimbangan relasi dengan makhluk lain, seperti hewan ternak itu, yang menopang kebutuhan pangan, transportasi, pakaian, dan berbagai manfaat sosial-ekonomi lainnya.
Saatnya Saleh Secara Ekologis
Pada akhirnya, sebagaimana pembacaan al-Biqā‘ī (w. 885/1480) dalam Naẓm al-Durar fī Tanāsub al-Suwar terhadap kebertahapan keteraturan kosmik tentang sistem produksi pangan itu, ditandaskannya, hanya mungkin berlangsung karena adanya hukum kosmik yang telah ditetapkan Allah sedemikian kompleks. Manusia hanya menerima dan memanfaatkannya. Hingga biodiversitas pangan sudah seharusnya tidak hanya bernilai biologis, tetapi juga menjadi āyah yang menunjukkan keteraturan penciptaan.
Lantas, kesalehan kita sebagai sang khalīfah juga tidak semata diukur oleh kadar ibadah ritualnya, melainkan juga kadar ibadah ekologisnya, dengan senantiasa merenungi salah satu dari sekian banyak āyāt kawniyyāt-Nya itu. Tidak lain untuk menjaga kelestariannya, sehingga kemudian juga akan memberi sekian banyak manfaat yang akan kembali kepada kita sendiri.

![Semangat di Awal, Hilang di Tengah Jalan; Tadabbur Istiqamah dalam Q.S. Fussilat [41]: 30 Semangat di Awal, Hilang di Tengah Jalan ; Tadabbur Istiqomah dalam Q.S. Fussilat [41]: 30](https://tafsiralquran.id/wp-content/uploads/2026/06/Istiqamah-218x150.jpg)










