Beranda blog Halaman 113

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 49

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 49 berbicara mengenai balasan bagi orang-orang yang congkak ketika di dunia. Salah satu contohnya adalah kehinaan yang dialami oleh Abu Jahal.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 47-48


Ayat 49

Dalam suatu riwayat diterangkan sebab turunnya ayat ini. Al-Amawy meriwayatkan dalam kitabnya “Al-Magaazi” bahwa ‘Ikrimah mengatakan, Rasulullah saw pernah menemui Abu Jahal dan mengatakan kepadanya, “Celakalah kamu”. Umpatan ini diulangi beliau tiga kali.

Kemudian Abu Jahal menarik tangannya dari tangan Rasulullah saw dan berkata, “Apa yang engkau ancamkan kepadaku. Engkau dan Tuhanmu tidak akan mampu melakukan tindakan apa pun terhadap aku. Sebenarnya, jika engkau mengetahui, akulah orang yang paling perkasa dan paling mulia di lembah (Mekah) ini.

Engkau telah mengetahui bahwa akulah yang paling perkasa di antara penduduk negeri Bata’ atas kaumnya.  Kemudian Abu Jahal mati dalam Perang Badar dalam keadaan hina. Maka turunlah ayat ini seakan-akan menyindir perkataan Abu Jahal yang juga merupakan perkataan orang-orang Kafir Mekah pada waktu itu.

Pada ayat ini Allah menggambarkan hardikan dan cemoohan yang diucapkan malaikat Zabaniyah kepada penghuni-penghuni neraka. Para malaikat mengatakan kepada mereka itu.

“Rasakanlah hai orang yang mengaku perkasa dan mulia ini, rasakanlah olehmu pembalasan dari dosa yang telah kamu kerjakan selama hidup di dunia; seakan-akan kamulah yang menentukan segala sesuatu, tidak ada orang yang lebih berkuasa dari kamu.”


Baca juga: Membangun Resiliensi Diri dengan Sabar dan Salat


Mereka berpendapat bahwa kesenangan duniawi itu adalah kesenangan yang sebenarnya. Karena itu mereka gunakan seluruh hidup dan kehidupan mereka untuk mendapatkan kesenangan itu. Mereka hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau tahu bahwa sebenarnya hidup mereka bergantung pada manusia yang lain.

Bahkan mereka berpendapat bahwa semua yang mereka peroleh itu adalah semata-mata hasil jerih payah mereka sendiri, mereka lupa bahwa semuanya itu adalah berasal dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tindakan mereka menunjukkan bahwa mereka merasa dirinya berkuasa lagi perkasa.

Tetapi apa yang mereka alami pada hari pembalasan adalah kebalikan dari apa yang mereka duga sebelumnya. Mereka merasakan siksaan yang pedih dan derita yang maha berat. Mereka merasa tidak ada nilai harga dirinya di hadapan para malaikat yang sedang menyiksa mereka. Mereka menyesali diri mereka tiada putus-putusnya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 50-55


(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 47-48

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 47-48 berbicara mengenai gambaran kerasnya siksa neraka. salah satunya adalah direnggut dan diseret-seret lalu dilemparkan ke tengah api yang berkobar-kobar.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 43-46


Ayat 47-48

Kemudian Allah menerangkan apa yang harus dilakukan malaikat kepada penghuni neraka itu. Allah memerintahkan kepada malaikat Zabaniyah merenggut dan menyeret penghuni-penghuni neraka itu dan melemparkannya ke tengah-tengah nyala api yang sedang berkobar-kobar sehingga mereka hangus terbakar.

Ungkapan ini merupakan gambaran bagi manusia, bagaimana berat dan kerasnya siksa yang akan dialami penduduk neraka nanti.


Baca juga: Mengenal Kuliner Neraka dalam Al-Quran, dari Buah Zaqqum hingga Shadid


Setelah malaikat Zabaniyah itu mencampakkan penghuni-penghuni neraka ke tengah-tengah api yang menyala-nyala itu, maka ia pun menyiram mereka dengan cairan panas yang mendidih. Siksaan seperti itu adalah siksaan yang paling berat yang akan mereka rasakan dan terasa lebih merata ke seluruh badan mereka.

Dalam ayat yang lain diterangkan pula siksaan yang seperti itu, Allah berfirman:

۞ هٰذَانِ خَصْمٰنِ اخْتَصَمُوْا فِيْ رَبِّهِمْ  فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّنْ نَّارٍۗ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوْسِهِمُ الْحَمِيْمُ ۚ  ١٩  يُصْهَرُ بِهٖ مَا فِيْ بُطُوْنِهِمْ وَالْجُلُوْدُ ۗ  ٢٠  وَلَهُمْ مَّقَامِعُ مِنْ حَدِيْدٍ   ٢١

Maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api (neraka) untuk mereka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih. Dengan (air mendidih) itu akan dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka. Dan (azab) untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. (al-Hajj/22: 19-21)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 49


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 43-46

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 43-46 berbicara mengenai salah satu gambaran bagaimana siksaan penghuni neraka. salah satunya digambarkan dengan keadaann pohon zaqqum.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 41-42


Ayat 43-46

Allah menggambarkan bagaimana siksaan yang disediakan bagi orang-orang kafir penghuni neraka. Dalam ayat yang lain, digambarkan keadaan pohon zaqqum itu yaitu mayangnya saja menakutkan orang yang melihatnya, Allah berfirman:

طَلْعُهَا كَاَنَّهٗ رُءُوْسُ الشَّيٰطِيْنِ  ٦٥  فَاِنَّهُمْ لَاٰكِلُوْنَ مِنْهَا فَمَالِـُٔوْنَ مِنْهَا الْبُطُوْنَۗ   ٦٦

Mayangnya seperti kepala-kepala setan. Maka sungguh, mereka benar-benar memakan sebagian darinya (buah pohon itu), dan mereka memenuhi perutnya dengan buahnya (zaqqµm). (as-Saffat/37: 65-66)

Betapa nyeri dan perihnya perut orang yang memakan buah zaqqum itu digambarkan seperti rasa yang dirasakan seseorang yang meminum kotoran minyak yang sedang mendidih, panasnya diumpamakan seperti panas air yang sedang mendidih yang dapat melumatkan dan menghancurkan perut orang yang meminumnya.


Baca juga: Mengenal Kuliner Neraka dalam Al-Quran, dari Buah Zaqqum hingga Shadid


Sesudah memakan buah zaqqµm itu orang-orang kafir akan dipaksa lagi meminum-minuman air yang sangat panas. Allah berfirman:

ثُمَّ اِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْبًا مِّنْ حَمِيْمٍۚ   ٦٧

Kemudian sungguh, setelah makan (buah zaqqum) mereka mendapat minuman yang dicampur dengan air yang sangat panas. (as-Saffat/37: 67)

Demikianlah perasaan orang kafir pada saat mereka makan dan pada saat mereka minum.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 47-48


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 41-42

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 41-42 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai peristiwa yang akan terjadi ketika hari kiamat. Salah satunya terputusnya hubungan anatara satu dengan yang lain. Kedua mengenai umat selamat di hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 39-40


Ayat 41

Pada hari itu, terputuslah hubungan antara orang seorang dengan yang lain, bahkan tidak ada lagi hubungan anak dengan bapaknya, hubungan anggota keluarga dengan anggota keluarga lainnya, apalagi hubungan teman dengan teman.

Yang dapat menolong dan menentukan nasib manusia hanyalah amal perbuatannya sendiri yang telah dikerjakannya selama hidup di dunia. Barang siapa yang banyak menanam amal kebaikan, tentu akan mendapat hasil yang berlimpah dari amal kebaikannya itu.

Sebaliknya, barang siapa yang mengikuti keinginan hawa nafsunya, tentulah akan mendapat azab neraka. Tidak ada suatu pun yang dapat mengurangi azab mereka walaupun itu anak kandung, kerabat, atau handai taulan. Allah berfirman:

فَاِذَا نُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَلَآ اَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ وَّلَا يَتَسَاۤءَلُوْنَ  ١٠١

Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga diantara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya. (al-Mu’minun/23: 101)

Dan firman Allah:

وَلَا يَسْـَٔلُ حَمِيْمٌ حَمِيْمًاۚ   ١٠  يُبَصَّرُوْنَهُمْ

Dan tidak ada seorang teman karib pun menanyakan temannya, sedang mereka saling melihat. (al-Ma’arij/70: 10-11)

Pada bagian akhir ayat ini, Allah menandaskan bahwa orang kafir Mekah yang tetap hidup bergelimang dalam kemusyrikan dan kesesatan, pada hari pembalasan nanti mereka tidak dapat pertolongan dari siapa pun juga.


Baca juga: Tiga Kondisi Kaget Manusia pada Hari Kiamat


Ayat 42

Allah menyebutkan hamba-hamba-Nya yang tidak akan mengalami azab yang mengerikan yaitu orang-orang yang mendapat limpahan rahmat-Nya, mereka adalah orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat-Nya, menaati semua perintah dan menghindari semua larangan-Nya.

Mereka itu tidak memerlukan pembela dan penolong untuk menyelamatkan diri mereka dari siksaan Allah, karena amal salehnya telah cukup menjadi jaminan bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang tidak layak mendapat siksaan neraka.

Kemudian Allah menyatakan bahwa Dia adalah Mahaperkasa terhadap segala musuh-musuh-Nya, tidak ada sesuatu pun yang dapat melawan-Nya. Dia juga Maha Penyayang terhadap penegak agama-Nya dan para hamba-Nya yang selalu tunduk serta patuh kepada-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 43-46


(Tafsir Kemenag)

Praktik Toleransi Antar Umat Beragama dalam Surah Yunus: 99-100

0
Praktik Toleransi
Praktik Toleransi

Sekitar bulan Juli lalu, Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI) telah melakukan kunjungan ke Gereja Katedral. Kunjungan tersebut termasuk dalam studi banding (studi lapangan) dari mata kuliah interfaith study (pembelajaran lintas agama) yang diampu oleh Farid F. Saenong. Kunjungan dalam rangka belajar atau menjalin hubungan baik antara Islam dan Kristen Katolik tersebut merupakan wujud nyata dalam praktik toleransi agama.

Penyelenggara PKU-MI merasa sangat perlu untuk menjadikan interfaith study sebagai mata kuliah keulamaan. Mahasiswa PKU-MI memiliki peran sebagai pelopor dan role model untuk menyuarakan praktik toleransi antar umat beragama. Adanya interfaith study sekaligus terjun ke lapangan (tempat ibadah umat beragama lain), memiliki tujuan untuk menepis stigma adanya ketidak harmonisan antar umat beragama. Seperti kasus yang terjadi berulang kali, adanya teror bom di tempat ibadah. Tidak jarang, yang menjadi sorotan adalah umat muslim sebagai pelaku dibalik kejahatan kemanusiaan tersebut.

Kunjungan yang dilakukan oleh PKU-MI ke Gereja Katedral menjadi wajah Islam ramah. Islam sejatinya menjunjung tinggi kemanusiaan. Seperti potret kunjungan PKU-MI yang disambut dengan hangat oleh pihak Gereja Katedral. Pertemuan tersebut tidak hanya silaturahmi saja, akan tetapi PKU-MI sendiri dapat mengetahui sejarah dan juga nilai-nilai yang diamalkan oleh penganut Kristen Katolik.

PKU-MI merealisasikan terobosan mata kuliah tersebut tentu memiliki landasan sekaligus tujuan. Landasan sekaligus tujuan tersebut menggambarkan nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Sebagai kader ulama, PKU-MI berupaya mencerminkan Al-Qur’an yang tidak sekedar kemutlakan teks namun juga kesesuaian konteks. Tafsir Al-Qur’an akan mengungkap indahnya Islam dalam membincangkan keragaman keberagamaan. Para mufasir telah mencurahkan keilmuannya untuk membantu masyarakat dalam memahami konteks beserta teks yang ada di Al-Qur’an. (Dialog Lintas Agama: Refleksi Aksiologis Antar Tafsir Toleransi Muhammad Asad)

Salah satu ayat Al-Qur’an yang membahas sikap toleransi adalah Q.S Yunus [109]: 99-100.

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

“Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau (Nabi Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?”

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ

“Tidak seorang pun akan beriman, kecuali dengan izin Allah dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak mau mengerti.”

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari dalam Tafsir At-Thabari menjelaskan Q.S Yunus [109]: 99-100. Kata كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ,  جَمِيْعًاۗ sebagai penguat dari كُلُّهُمْ. Sebagaimana artinya, sama-sama “semua, setiap”. Ketika Allah berkehendak umat muslim beriman, maka semua tanpa terkecuali akan beriman. Namun, jika Allah tidak berkehendak, maka tidak akan ada keimanan sedikitpun pada diri umat manusia. Lalu dikuatkan, ayat setelahnya. Jika tanpa seizin Allah, sampai kapanpun tidak akan beriman seseorang tersebut. Tafsir Thabari (jilid 13, halaman 758-761)

Jelas bahwa segala sesuatu yang terjadi atas manusia adalah kehendak Allah. Sekalipun seorang umat itu berbeda pandangan dan keyakinan, adalah atas kehendak Allah. Perlu diingat, bahwa selain Allah itu Maha Berkehendak, Allah Maha Pemberi Kasih Sayang. Kasih sayang Allah bukan untuk golongan tertentu saja, namun Kasih Sayang Allah adalah untuk seluruh makhluk.

M. Quraish Shihab menafsirkan Q.S Yunus [109]: 99-100 dalam Tafsir Al-Mishbah. Di dalam ayat tersebut, menunjukkan adanya kuasa Allah yang menunjukkan adanya toleransi atau menghargai sebuah perbedaan, lebih tepatnya atas ‘pemaksaan atas suatu kehendak’.

Diceritakan kaum Nabi Yunus yang membangkang dan tidak mau beriman kepada Allah. Sehingga Allah mengingatkan dan mengancam kaum tersebut. Sehingga kaum Yunus bisa berada di jalan yang benar dan mengaku beriman. Disini perlu diketahui, bahwa berimannya seseorang bukan karena kuasa seseorang tersebut. Melainkan yang menghantarkan adalah tetap Allah Swt (Tafsir Al-Mishbah, Jilid 5, halaman 512-514).

Maka jika demikian, apakah engkau Muhammad, engkau hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang mukmin yang benar-benar mantap imannya? Nabi Muhammad berkeinginan jika umat Nabi Yunus pada saat itu bisa semua beriman kepada Allah dan mempercayai ajaran yang Muhammad bawa. Akan tetapi Allah menegur Nabi Muhammad.

Tafsir Al-Misbah menguatkan dari Tafsir At-Thabari tentang sikap terbuka. Allah sebagai pencipta, tidak sama sekali memaksa setiap umat untuk beriman pada-Nya. Di tafsir tersebut menunjukkan kasih sayang Allah yang meliputi semua makhluk. Allah bisa saja berkehendak mereka beriman atau sebaliknya. Keterkaitan antara teks Q.S Yunus [109]: 99-100 dan konteks yang dicontohkan dalam PKU-MI adalah kewajiban bagi siapa saja untuk tidak memaksa dalam keimanan. Allah tidak memaksa setiap hamba beriman pada-Nya. Bagaimana jika itu terjadi antar manusia?

Setiap pribadi tidaklah memiliki porsi memberi ancaman atau menghukumi/menghakimi sesama. Karena demikian merupakan perogratif Allah. Lantas bagaimana sikap setiap muslim atau manusia dalam mengisi keragaman keberagamaan? Menjunjung nilai toleransi beragama tidak sekadar wacana atau ungkapan.

Pemahaman sekaligus praktik toleransi berlandaskan tafsir kontekstual-lah yang akan menghapus pemahaman sempit tentang agama (tertentu) yang seakan-akan menjadi akar perpecahan antar umat beragama. Aksi nyata PKU-MI dengan pihak Gereja Katedral melalui dialog secara langsung dan menjalin kerjasama dalam bingkai pendidikan dapat menjadi jejak awal untuk kemunculan aksi-aksi toleransi selanjutnya. Aamiin.

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 39-40

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 39-40 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai hikmah penciptaan langit dan bumi bagi manusia. Kedua berbicara mengenai peristiwa yang terjadi pada hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 38


Ayat 39

Kemudian Allah menegaskan bahwa langit dan bumi serta isinya tidak diciptakan, kecuali (sebagai makhluk) tunduk kepada ketentuan-ketentuan yang benar dari Allah. Semuanya wajib tunduk kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku dan yang telah ditetapkan.

Jika salah satu makhluk Tuhan menyimpang atau tidak melaksanakan ketentuan-ketentuan itu, maka ia akan merasakan akibat dari penyimpangan itu. Seperti pohon pisang yang termasuk tanaman yang tumbuh di tempat yang cukup air.

Jika tumbuh di tanah kering atau padang pasir, ia akan mati. Demikian pula halnya dengan ikan; ia ditetapkan hidup dalam air. Jika ia meloncat ke darat, ia pun akan mati. Demikian hukum Allah yang berlaku bagi seluruh makhluk-Nya.

Dari keterangan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa penciptanya adalah zat yang Maha Esa lagi Mahakuasa dan Mahabijaksana, karena itu segala makhluk ciptaan-Nya wajib tunduk dan patuh kepada hukum-hukum-Nya itu baik secara sadar maupun terpaksa.

Karena semua makhluk itu diciptakan berdasarkan iradah-Nya, maka berdasarkan iradah-Nya pulalah makhluk itu kembali kepada-Nya nanti. Yang demikian itu terjadi karena ke Mahaagungan dan ke Mahaperkasaan-Nya.

Makhluk Allah yang beraneka ragam dan tidak terhitung banyaknya itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang dapat dijadikan bahan pemikiran bagi orang yang ingin mencari kebenaran. Dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya itu, orang dapat mengenal dan mengetahui betapa agung dan betapa luas ilmu penciptanya.

Kemudian Allah menyayangkan sikap orang-orang musyrik yang tidak mau memahami tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang ada di alam ini. Sikap mereka nampak di waktu mereka mendustakan kenabian Muhammad saw dan mengingkari hari kebangkitan.

Sikap itu timbul karena kesombongan dan ketakaburan yang ada pada diri mereka sehingga menutupi kejernihan pikiran mereka. Akibatnya, mereka bertambah jauh dari rahmat Allah dan semakin tenggelam dalam lembah kedurhakaan.


Baca juga: Membangun Resiliensi Diri dengan Sabar dan Salat


Ayat 40

Pada ayat ini Allah menjelaskan peristiwa yang terjadi pada hari perhitungan dengan menegaskan bahwa hari itu adalah hari yang telah ditetapkan Allah untuk memberikan keputusan kepada semua makhluk tentang balasan perbuatan yang telah dilakukannya yang baik atau yang buruk.

Pada hari keputusan itu, orang-orang musyrik takut dan tercengang melihat kenyataan bahwa dugaan mereka sewaktu hidup di dunia dahulu adalah dugaan yang tidak mengandung kebenaran sedikit pun. Mereka dahulu mengingkari adanya hari perhitungan itu, tetapi kenyataannya benar-benar terjadi.

Pada hari itu, semua makhluk dihalau ke padang mahsyar dan dikumpulkan untuk menerima keputusan yang adil dari Allah. Pada waktu itu, terbukti pula bahwa berhala-berhala yang mereka sembah dan mohonkan pertolongannya semasa hidup di dunia tidak dapat memberinya manfaat dan pertolongan kepada mereka, bahkan berhala-berhala itu dimasukkan ke dalam neraka bersama-sama mereka. Anak-anak serta keluarga yang mereka bangga-banggakan dahulu di dunia tidak ada gunanya lagi dan tidak dapat menolong mereka menghindarkan diri dari azab Allah.

Allah berfirman:

لَنْ تَنْفَعَكُمْ اَرْحَامُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ ۛيَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۛيَفْصِلُ بَيْنَكُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ   ٣

Kaum kerabatmu dan anak-anakmu tidak akan bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (al-Mumtahanah/60: 3)

Dan firman-Nya:

اِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيْقَاتًاۙ  ١٧

Sungguh, hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan. (an-Naba’/78: 17)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dhukan Ayat 41-42


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 38

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 38 berbicara mengenai perintah untuk merenungi segala hal yang ada di bumi. Salah satu contoh adalah adanya burung, ulat, cacing, dan bakteri. Semua itu memiliki fungsi masing-masing.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dhukan Ayat 36-37


Ayat 38

Allah menjelaskan bahwa langit dan bumi beserta segala isinya tidaklah diciptakan dengan sia-sia atau secara kebetulan tanpa maksud dan tujuan, tetapi semuanya itu diciptakan sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.

Apabila diperhatikan dengan seksama setiap kehidupan yang ada di bumi dan segala kejadian di langit tentulah akan diketahui baik makhluk yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa dari berbagai macam tingkatan, dari tingkat terendah sampai dengan tingkat yang tertinggi, masing-masing faidahnya, ada ketentuan-ketentuan yang berlaku baginya, dan ada pula waktu yang ditentukan untuk kehidupannya.

Sebagai contoh seekor burung, ia ditetaskan dari sebuah telur yang berasal dari induknya. Setelah dierami dalam waktu tertentu, keluar anak burung yang kecil tanpa bulu dari telur itu. Dari hari ke hari burung itu diberi makan oleh induknya, sehingga anak burung itu tumbuh secara berangsur-angsur, badannya menjadi besar dan ditumbuhi bulu, sayapnya bertambah kuat.

Kemudian diajar oleh induknya terbang, ia terbang dari dahan ke dahan, dibimbing induknya mencari makanan dan minuman. Setelah dewasa mulailah ia melaksanakan tugas hidupnya, mencari pasangan untuk mengembangkan keturunan. Bila telah sampai ajalnya, ia pun mati seperti burung-burung yang lain.

Jika diperhatikan, seakan-akan burung-burung itu membawa misi dalam kehidupan. Ditakdirkan Allah bahwa makanan burung itu adalah serangga, serangga itu makan dan merusak tanam-tanaman yang ditanam oleh manusia. Seolah-olah burung itu membantu usaha dan kehidupan manusia. Burung dengan suara dan kicauannya yang merdu menyenangkan dan menyejukkan hati orang yang mendengarnya.

Bakteri, semacam binatang yang halus dan kecil, dan juga cacing seakan-akan tidak ada gunanya sama sekali. Jika diperhatikan maka bakteri dan cacing itu memakan sampah dan kotoran, baik yang berasal dari manusia maupun yang berasal dari makhluk yang lain.


Baca juga: Hukum Wudu dan Mandi Wajib saat Masih Haid atau Nifas


Jika bakteri dan cacing itu tidak ada, maka sampah dan kotoran akan menumpuk karena tidak akan membusuk sehingga terjadilah polusi yang membahayakan kehidupan manusia.

Semakin dalam direnungkan dan diperhatikan alam dan kejadiannya ini, semakin dalam diketahui hikmah, guna dan tujuan penciptaannya; semakin terasa pula kasih sayang dan tujuan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Hanya kebanyakan manusia tidak tahu diri dan merasa dirinya yang paling kuasa dan yang paling mampu. Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ  ١١٥

Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. (al-Mu’minµn/23: 115)

Dan firman-Nya:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۗذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِۗ  ٢٧

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Sad/38: 27)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 39-40


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 36-37

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 36-37 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai ejekan kepada Nabi Muhammad atas kerasulannya. Kedua berbicara mengenai salah satu kaum yang diazab oleh Allah Swt.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 33-35


Ayat 36

Allah menerangkan tantangan orang musyrik Mekah kepada Rasulullah. Seandainya yang dikatakan rasul itu benar, yaitu adanya hari kebangkitan hendaklah dia mengemukakan bukti kebenaran dan hendaklah dia menghidupkan kembali nenek moyang mereka yang telah mati dahulu.

Menurut mereka, seandainya Rasulullah saw dapat membangkitkan (dari kubur) menghidupkan kembali nenek moyang mereka tentu hal ini dapat menjadi bukti adanya hari kebangkitan itu.

Maka Allah menjelaskan bahwa Dia kuasa mengumpulkan sesuatu yang berserakan, mulai dari benda padat, benda cair, dan udara, dari atom yang paling kecil sampai kepada molekul-molekul, semua dikumpulkan menjadi satu sehingga terbentuk seorang manusia.

Tahukah manusia dari mana asal makanan yang dimakannya, pakaian yang dipakainya, alat rumah tangga yang mereka gunakan, dan sebagainya. Semua datang dari penjuru dunia yang berjauhan, kemudian dikumpulkan Tuhan pada suatu tempat untuk memenuhi keperluan dan keinginan seorang manusia.

Jika hal yang demikian itu dapat dilakukan Allah, tentu mengumpulkan kembali tulang yang berserakan, daging yang telah hancur luluh menjadi tanah, dan rekaman perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan seseorang lebih mudah dilakukan-Nya, mengulang membuat sesuatu yang pernah ada jauh lebih mudah dari membuatnya pada pertama kalinya.

Dari keterangan demikian, dapat disimpulkan bahwa hari kebangkitan itu pasti terjadi. Hanya saja waktunya belum diketahui dan hanya Allah saja yang mengetahuinya. Yang jelas, hari kebangkitan itu akan terjadi setelah seluruh jagad raya mengalami kehancuran total termasuk semua isinya.

Itulah sebabnya Allah tidak melayani tantangan orang-orang musyrik, karena tidak berguna menjawabnya. Tantangan itu dikemukakan mereka hanyalah untuk menutupi isi dan keinginan hati mereka. Dikabulkan atau tidak permintaan mereka itu, mereka tidak juga akan beriman.


Baca juga: Na’ilah Hashim Sabri, Perempuan Pertama Penulis Lengkap Tafsir Alquran


Ayat 37

Kemudian Allah mengingatkan mereka pada kaum yang telah ditimpa malapetaka dan azab Allah, karena mereka durhaka dan tidak mengindahkan seruan para rasul yang diutus kepada mereka.

Hendaklah mereka menjaga diri mereka, jangan sampai Allah mengazab mereka seperti yang telah dialami kaum yang terdahulu itu, Allah menyatakan bahwa keadaan mereka tidaklah lebih baik dari kaum Tubba’.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُوْلُ لاَ تَسُبُّوا تُبَّعاً فَاِنَّهُ قَدْ كَانَ اَسْلَمَ. (رواه أحمد)

Sahl bin Sa’d berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: Janganlah kalian mencela Tubba’ karena dia sudah masuk Islam. (Riwayat Ahmad)

Tubba’ adalah sebutan bagi raja-raja Himyar di Yaman. Kaumnya disebut kaum Tubba’. Mereka berbuat dosa yang melampaui batas sehingga negeri mereka dihancurkan Allah. Namun sebagian kaumnya masih hidup mengembara ke negeri-negeri sekitarnya.

Pada mulanya mereka adalah kaum yang mempunyai kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi serta mempunyai balatentara yang cukup kuat. Kalau dibandingkan dengan orang Tubba, orang-orang kafir Mekah jauh ketinggalan dari orang Tubba.

Allah menyatakan bahwa orang-orang kafir Mekah itu tidak lebih baik keadaannya dari kaum ‘Ad dan Tsamud. Kedua kaum ini juga dibinasakan Allah karena kesombongan dan pengingkaran mereka terhadap adanya hari kebangkitan.

Pada akhir ayat ini, Allah menandaskan bahwa pada umat-umat terdahulu itu telah berlaku sunatullah. Mereka semua dibinasakan karena mereka telah tenggelam dalam lumpur kemaksiatan.

Kejadian itu seharusnya menjadi pelajaran bagi orang-orang kafir Mekah seandainya mereka mau mengambil pelajaran. Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan sunah-Nya ini. Allah berfirman:

سُنَّةَ اللّٰهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۚوَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا   ٦٢ 

Sebagai sunatullah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (al-Ahzab/33: 62)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 38


(Tafsir Kemenag)

 

Larangan Menimbun Barang dalam Surah Hud Ayat 85

0
Menimbun barang
Larangan Menimbun barang

Menimbun barang komoditas yang diperlukan masyarakat adalah tindakan kriminal. Perbuatan menimbun barang komoditas dapat merusak tatanan ekonomi dan menyulitkan masyarakat. Kegiatan menimbun komoditas dilakukan biasanya terkait dengan rencana kenaikan harga seperti minyak goreng atau bensin. 

Menimbun barang komoditas kebutuhan pokok termasuk perbuatan curang dalam transaksi jual beli. Islam melarang adanya kecurangan jual beli tersebut. Selain itu, Islam juga melarang perbuatan memakan hak orang lain dengan cara yang batil sebagaimana yang dilakukan tengkulak curang yang sengaja menimbun barang kebutuhan pokok masyarakat dan memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi.

Baca Juga: Ayat Pertama Tentang Idah dan Konteks Awal Turunnya

Terkait fenomena ini, Al-Quran dalam Surah Hud ayat 85 mencatat tentang pengikut Nabi Hud yang melakukan kecurangan dalam berbisnis Allah Swt berfirman: 

 وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ   

“Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.”

Menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, pada ujung ayat telah dijelaskan bahwa orang-orang mencurangkan takaran dan timbangan adalah orang yang merusak di muka bumi. Mereka merusak ekonomi dan kerusakan ekonomi berpangkal dari jiwa yang rusak, maka seluruh hubungan masyarakat akan menjadi rusak, kepercayaan di antara satu dengan yang lain akan habis dan satu dosa akan diikuti oleh dosa yang lain. Inilah yang dinamai di zaman sekarang dengan “masyarakat yang korup”.

Masyarakat yang korup, masyarakat yang ditegakkan di atas kecurangan menimbulkan kekayaan dan mencari keuntungan pribadi karena mementingkan diri sendiri. Karena perbuatan ini, orang yang miskin dan teraniaya akan mengeluh dan mendendam. Hal inilah yang diisyaratkan “kerusakan di muka bumi” pada ujung ayat, yang disebut Nabi Syu’aib dalam ukuran masyarakat zaman kuno yang berurat pada pertanian, dan peternakan, yang dapat kita kiaskan kepada masyarakat modern sekarang ini.

Baca Juga: Surah Albaqarah ayat 238: Keterkaitan Salat dan Kerumahtanggaan

Kasus penimbunan barang kebutuhan pokok yang kerap terjadi saat ini termasuk perbuatan curang dalam transaksi jual beli atau dunia perdagangan dan Islam telah melarang adanya kecurangan jual beli tersebut. Selain itu, Islam juga melarang perbuatan memakan hak orang lain dengan cara yang bathil sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pedagang curang, yakni sengaja menimbun barang kebutuhan pokok masyarakat dan memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi.

Oleh karena itu, sebagaimana penafsiran Hamka, kita sebagai masyarakat harus menjauhi perbuatan tersebut karena hal ini tentunya dapat merusak tatanan ekonomi di tengah masyarakat. Adapun kerusakan ekonomi berpangkal dari jiwa yang rusak, maka seluruh hubungan masyarakat akan menjadi rusak, kepercayaan di antara satu dengan yang lain akan habis dan satu dosa akan diikuti oleh dosa yang lain.

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 33-35

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan
Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 33-35 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kenikmatan yang diberikan kepada Bani Israil. Kedua berbicara mengenai keingkaran orang-orang kafir terhadap hari kiamat.
Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 32 (II)
Ayat 33 Allah telah menganugerahkan kepada Bani Israil berbagai kenikmatan yang menunjukkan kemuliaan mereka di sisi Allah yang bisa menjadi pelajaran bagi orang yang memperhatikannya. Allah menyelamatkan mereka dari musuh mereka, menaungi mereka dengan awan di atas mereka, menurunkan kepada mereka manna dan salwa dan kenikmatan-kenikmatan lainnya. Al-Hasan dan Qatadah mengatakan, yang dimaksud dengan kata-kata: “Al-Bala’ul Mubin” ialah nikmat yang nyata seperti firman Allah:

 ;وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَاۤءً حَسَنًا

Dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. (al-Anfal/8: 17) Dan firman-Nya:

وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. (al-Anbiya’/21: 35)
Baca juga: Mengenal Ibnu Ajibah: Waliyullah Penulis Tafsir al-Baḥr al-Madīd
Ayat 34-35 Allah menjelaskan bahwa orang-orang kafir Mekah tidak mempercayai adanya hari kebangkitan karena menurut keyakinan mereka mustahil orang yang sudah mati itu dapat hidup kembali. Kepercayaan yang demikian itu timbul karena pikiran mereka telah dilumuri oleh noda-noda kemusyrikan; semakin lama noda itu semakin menebal sehingga menutupi seluruh hati dan pikiran mereka. Maka timbullah rasa sombong (takabur) dalam hati mereka disertai dengan keingkaran tanpa alasan. Mereka berpendapat apa yang dipandang benar oleh nenek moyang mereka adalah benar pula menurut mereka meskipun keyakinan nenek moyang mereka itu semata-mata berdasarkan dugaan yang tidak ada dasar kebenarannya. Keadaan mereka seperti orang yang terlanjur melontarkan kata-kata, kemudian kata-kata itu dibelanya mati-matian tanpa memperhatikan apakah yang dikatakannya itu benar atau salah. Mereka tidak lagi menggunakan pikiran yang sehat dalam menilai perkataan itu akan tetapi semata-mata menuruti hawa nafsu mereka. Sikap dan keyakinan mereka itu tercetus dalam perkataan mereka. “Kematian itu hanya sekali yaitu kematian di dunia ini saja, tidak dua kali, dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan kembali.” Dengan perkataan itu, berarti mereka telah menolak keterangan wahyu yang mengatakan bahwa mati itu dua kali. Allah berfirman:

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ  ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ   ٢٨

Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (al-Baqarah/2: 28) Ayat ini menerangkan bahwa manusia itu sebelum hidup di dunia adalah makhluk yang mati, lalu mereka dilahirkan sebagai makhluk hidup. Setelah itu, mereka menemui ajalnya dan mengalami kematian yang kedua. Kemudian pada hari Kiamat mereka akan dibangkitkan kembali dari kubur, dan hidup untuk kedua kalinya. Dalam ayat ini, diterangkan bahwa orang-orang musyrik mengakui satu kali kehidupan dan satu kali kematian, tidak mempercayai adanya kehidupan sesudah mati. Keingkaran mereka terhadap hari kebangkitan itu tidak beralasan karena pikiran mereka tidak sampai kepada ketentuan itu. Jika Allah kuasa menciptakan semua kehidupan ini, tentu Dia kuasa pula mengembalikan kehidupan itu sesudah kematian dan menghisab semua amal perbuatan.
Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 36-37
(Tafsir Kemenag)