Beranda blog Halaman 114

Surah Yunus Ayat 57-58: Bergembira atas Kelahiran Nabi Muhammad Saw

0
Kelahiran Nabi Muhammad
Kelahiran Nabi Muhammad

Bulan Rabiul Awwal atau Bulan Maulid adalah waktu ketika seluruh umat Muslim di Dunia memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Menurut catatan Ibn Ishaq dalam al-Sirah al-Nabawiyah kelahiran Nabi Muhammad saw ditandai dengan peristiwa penyerangan Kakbah oleh pasukan bergajah sehingga tahun kelahirannya disebut dengan ‘Am al-Fil (Tahun Gajah). Ibn Ishaq tidak menjelaskan secara detail hari dan tanggal kelahiran Nabi saw.

Mengenai hari lahir Nabi saw adalah hari Senin, para ulama sepakat karena ditemukan sebuah riwayat hadis dalam Sahih Muslim. Ketika Nabi saw ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, Nabi saw bersabda, “Hari tersebut (Senin) adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

Kemudian terkait dengan tanggal kelahiran Nabi saw, para ulama berbeda pendapat. Al-Mas’udi berpendapat bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw bertepatan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal, karena menghitung bahwa kelahirannya terjadi lima puluh hari setelah kehadiran pasukan bergajah yang diperkirakan terjadi pada tanggal 13 Muharram. Sedangkan Mahmud al-Falaky menetapkan bahwa Nabi Muhammad saw lahir pada hari ke-55 pasca kekalahan tentara bergajah, sehingga diperkirakan lahir pada tanggal 9 Rabiul Awwal.

Baca Juga: Maulid dan Kelahiran Manusia Baru

Riwayat yang paling populer di kalangan umat Islam terkait kelahiran Nabi saw adalah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Di Indonesia sendiri tanggal 12 Rabiul Awwal dijadikan sebagai Hari Libur Nasional untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Pendapat ini disahihkan oleh Izzuddin bin Badruddin al-Kinani melalui kitabnya al-Mukhtashar al-Kabir fi Sirat al-Rasul.   

Untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw umat Muslim melakukan berbagai macam agenda dan kegiatan, meskipun ada sebagian yang menganggap bid’ah. Berbagai kegiatan yang sudah menjadi tradisi umat Muslim adalah bagian dari bentuk rasa cinta dan rasa syukur atas kelahiran Nabi saw yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Meskipun tidak ada perintah untuk merayakan hari kelahiran Nabi saw, akan tetapi Al-Quran memerintahkan manusia untuk bergembira dengan kehadiran Nabi saw sebagai pembawa risalah Al-Quran dan ajaran Islam. Allah Swt dalam surah Yunus ayat 57-58 berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57) قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (58)

“Wahai seluruh manusia, telah datang kepadamu tuntunan dari Tuhanmu, obat bagi penyakit-penyakit yang terdapat dalam dada, hidayat dan rahmat bagi orang-orang mukmin. Sampaikanlah wahai Nabi Muhammad, bahwa itu adalah anugerah Allah dan rahmat-Nya dan karena itu hendaklah mereka bergembira (menyambutnya), itu lebih baik daripada apa yang mereka senantiasa kumpulkan.”

Menurut Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb, bergembira dan bersyukur atas nikmat adalah sebuah keniscayaan. Akan tetapi rasa syukur itu bukan karena adanya nikmat itu sendiri, melainkan karena bersumber dari Allah Swt. Begitulah sikap seorang mukmin yang sepatutnya dalam pandangan al-Razi.

Baca Juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (5): Surah Al-Hajj Ayat 77

Masih menurut al-Razi bahwa yang dimaksud dengan anugerah Allah (fadhlullah) dalam ayat di atas adalah Islam, sedangkan rahmat adalah al-Quran. Sedangkan dalam riwayat lain dari Abu Sa’id al-Khudri dikatakan bahwa yang dimaksud dengan fadhlullah adalah al-Quran, kemudian rahmat adalah Islam.

Terkait ayat di atas, Quraish Shihab berpendapat bahwa sudah sewajarnya umat Islam merayakan kelahiran Nabi saw karena Allah Swt dalam banyak ayat al-Quran menceritakan tokoh-tokoh seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Ismail, Nabi Isa, dan tokoh-tokoh lain, untuk diteladani, diingat, dan dijadikan figur. Maka sudah sewajarnya orang-orang berkumpul untuk mengenang dan menguraikan tentang Nabi Muhammad saw, meneladani dan bergembira atas kehadirannya.

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 35-37

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 35-37 berbicara mengenai dua hal. Pertama alasan mengapa orang-orang kafir patut menerima siksa. Kedua berbicara mengenai penutup dari surah ini, yaitu dasar-dasar pengambilan keputusan pada hari Kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 32-34


Ayat 35

Pada ayat ini Allah menjelaskan mengapa orang-orang kafir itu harus menerima siksaan dan azab yang mengerikan itu, sebabnya ialah:

  1. Karena waktu mereka hidup di dunia, mereka memperolok-olok ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka melalui Rasul-Nya. Sikap ini dianggap sebagai sikap yang penuh keangkuhan dan kesombongan. Mereka juga ingin mendangkalkan iman yang telah meresap dalam dada kaum Muslimin dengan berbagai macam dalih dan cara.
  2. Mereka telah tertipu oleh kenikmatan hidup di dunia, sehingga mereka melupakan kehidupan akhirat yang menjadi tujuan akhir kehidupan manusia.;Itulah sebabnya ketika Allah menjatuhkan keputusan-Nya, tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk melepaskan diri dari azab dan tidak ada lagi ampunan bagi mereka.

Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50: Hari Kiamat Datang dengan Tiba-Tiba


Ayat 36-37

Kedua ayat ini merupakan ayat penutup Surah al-Jastiyah. Dalam ayat-ayat ini Allah menyebutkan beberapa sifat-Nya yang ada hubungannya dengan dasar-dasar pengambilan keputusan pada hari Kiamat nanti, yaitu:

  1. Dia Maha Terpuji, karena itu bagi-Nyalah segala puji. Ungkapan ini memberikan pengertian bahwa segala nikmat apa pun yang diperoleh manusia selama hidup di dunia berasal dari Allah agar manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah-Nya di bumi, bukan untuk berbuat sewenang-wenang dan memperturutkan hawa nafsu. Jika manusia tidak mensyukuri nikmat itu dan tidak mempergunakan nikmat itu menurut yang semestinya, tentulah orang itu akan mendapat murka dan azab-Nya.
  2. Allah Mahakuasa, Dia menguasai semesta alam. Perkataan ini memberikan pengertian bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi berada dalam kekuasaan-Nya. Dia menguasai dunia dan akhirat.
  3. Dia Mahaagung, karena keagungan dan keangkuhan hanya bagi Allah di langit dan di bumi dan kekuasaan-Nya berada di atas segala kekuasaan.
  4. Dia Mahaperkasa, keputusan-Nya tidak dapat ditolak, tidak dapat diubah oleh siapa pun, dan tidak ada yang dapat menandingi kekuasaan-Nya itu.
  5. Dia Mahabijaksana. Maksudnya: Allah dalam menetapkan perintah-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, selalu disertai aturan, perhitungan, dan berhasil serta pasti, terjadi sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Baca setelahnya: 


 

Kata Aḥmad dan Muḥammad dalam Alquran

0
Kata Aḥmad dan Muḥammad dalam Alquran
Kata Aḥmad dan Muḥammad dalam Alquran

Kita sering mendengar anggapan bahwa nama lain dari Nabi Muhammad saw. adalah Ahmad. Anggapan tersebut didasarkan pada keterangan Q.S. Asshaff [61]:6 sebagai berikut:

وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

(Ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Nabi Muhammad).”  Akan tetapi, ketika utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Salah satu pernyataan yang diucapkan Nabi Isa as. kepada Bani Israil adalah tentang kedatangan seorang utusan Allah yang bernama Ahmad. Menurut Syekh al-Sya’rawi dalam Tafsîr al-Sya’rawî (hlm. 15191-15192), rasul yang dimaksud pada ayat tersebut merupakan Nabi Muhammad saw. yang di dalam Injil disebut sebagai Ahmad, sebagaimana yang disebutkan juga dalam Alquran, meskipun menggunakan kata Muhammad pada Q.S. Âli‘Imrân [3]: 144, Q.S. Alaḥzâb [33]: 40, Q.S. Muḥammad [47]: 2, dan QS. Alfatḥ [48]: 29.

Secara etimologi, kata muḥammad dan aḥmad sama-sama terdiri dari tiga huruf dasar, hâ’, mîm, dan dâl yang bermakna al-ḥamdu atau pujian. Berbeda dengan kata muḥammad, tidak didapati adanya petunjuk turunan kata atau derivasi yang membentuk kata aḥmad.

Baca juga: Makna Dibalik Panggilan Hamba di Cerita Isra Nabi Muhammad dalam Alquran

Uraian bahasa dari Syekh Mutawallî al-Sya’râwî menujukkan bahwa kata aḥmad merupakan bentuk mubâlaghah dari kata ḥâmid yang artinya orang yang memberikan pujian kepada orang lain. Bentuk mubâlaghah pada kata aḥmad menghasilkan makna bahwa aḥmad merupakan sebutan bagi orang yang banyak memuji orang lain. Jika pujian yang diberikan seseorang terbatas, maka disebut dengan ḥâmid, bukan aḥmad.

Adapun kata muḥammad merupakan bentuk derivasi dari kata mahmûd, artinya sesuatu atau seseorang yang dipuji oleh orang lain. Kata muḥammad merupakan bentuk mubâlaghah dari kata maḥmûd, sehingga arti yang dihasilkan tidak hanya sekedar orang yang dipuji, melainkan orang yang  sangat banyak dipuji oleh orang lain.

Jika yang dimaksud dengan kata aḥmad pada Q.S. Asshaff [61]: 6 adalah Nabi Muhammad saw., maka berdasarkan kandungan makna kata aḥmad dan muhammad,  Rasulullah saw. menghimpun dua hal, yaitu orang yang banyak mendapat pujian dari Allah Swt. (muḥammad), dan orang yang memuji Allah Swt. (aḥmad).

Bagi Ibn ‘Âsyûr, sebagaimana yang dikutip oleh M. Quraish Shihab, pemaknaan kata aḥmad sebagai nama lain dari Nabi Muhammad saw. tidak sesuai dengan realitas yang ada bahwa Nabi Muhammad saw. tidak pernah diberi nama Aḥmad, baik sebelum maupun sesudah kenabian. Menurutnya, penggalan ayat “ismuhû Aḥmad” hendaknya dipahami secara menyeluruh, tidak hanya terfokus pada kata ahmad dan mengabaikan kata ismuhû. Dalam hal ini, Ibn ‘Asyûr memaknai ahmad sebagai sesuatu yang terpuji. Namun penggalan ayat “ismuhû Aḥmad”, bisa dipahami dalam tiga makna, tergantung dari pemahaman terhadap kata “ismuhu” pada kalimat tersebut.

Baca juga: Irhash Kenabian Muhammad, Bukti Allah Merayakan Maulid Nabi

Penggalan ayat tersebut dapat dipahami melalui tiga pemaknaan. Pertama, Kata ismu dalam arti al-musamma, yakni “sosok yang dinamai”. Nabi yang dimaksud pada ayat tersebut adalah sosok yang lebih terpuji dalam hal kepribadian, risalah, dan syariat daripada Nabi Isa as. Kedua, ismu dalam arti “kemasyhuran dan kebajikan”,  yakni popularitas Nabi tersebut pada masanya dan sesudah masanya dalam hal kebajikan. Ketiga, Pemaknaan ketiga ini berkaitan dengan kata muhammad yang berarti sesuatu banyak sekali dipuji, sehingga karena sering dan banyaknya beliau dipuji, maka beliau adalah Aḥmad yakni yang paling terpuji (Tafsir al-Mishbah, jilid 14, hlm. 200-201).

Demikianlah uraian mengenai pemaknaan dari kata Aḥmad dalam Q.S. Asshaff [61]: 6. Dari perbedaan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa Aḥmad tidak hanya sekedar nama lain dari Nabi Muhammad saw., akan tetapi juga secara simbolis sebagai bentuk pujian kepada beliau.

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 32-34

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 32-34 berbicara mengenai dua hal yang saling berkelindan. Pertama mengenai penyesalan orang-orang kafir di akhirat. Kedua mengenai ketakutan mereka pada waktu pengadilan hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 29-31


Ayat 32

Pada ayat ini, Allah menjelaskan penyesalan orang-orang yang mengingkari terjadinya hari kebangkitan. Sewaktu masih di dunia, apabila disampaikan kepada mereka berita tentang terjadinya hari kebangkitan, mereka beranggapan bahwa berita hari kebangkitan itu adalah berita yang aneh dan mustahil.

Bagi mereka mustahil membangkitkan orang yang telah mati yang tulang-tulangnya telah berserakan dan seluruh tubuhnya telah hancur menjadi tanah.

Tetapi nanti setelah mereka menghadapi kenyataan dan berhadapan dengan siksa yang sangat mengerikan, barulah mereka menyesali sikap dan perbuatan mereka dahulu yang semata-mata didasarkan atas dugaan dan prasangka belaka, tidak berdasarkan ilmu pengetahuan dan kepercayaan kepada Allah Yang Maha Penguasa Semesta Alam.

Ayat 33

Kemudian Allah menjelaskan keadaan kaum musyrikin ketika kejahatan mereka telah terungkap dengan jelas. Mereka tergagap menghadapi tanggung jawab yang begitu besar. Mereka merasa takut melihat dosa mereka yang bertumpuk-tumpuk yang harus mereka tebus dengan siksaan neraka yang sangat mereka takuti.

Mereka menyadari pula saat itu bahwa tidak ada seorang pun yang dapat membela mereka; kekuasaan mereka selama di dunia, harta benda yang melimpah ruah, anak cucu mereka, teman bersekongkol, dan sebagainya semuanya tidak ada artinya pada waktu itu. Satu-satunya pilihan yang dapat mereka ambil waktu itu hanyalah menunggu keputusan dan pasrah untuk menerima azab Allah.


Baca juga: Tiga Kondisi Kaget Manusia pada Hari Kiamat


Ayat 34

Pada ayat ini, Allah menjelaskan cemoohan, penghinaan dan azab yang mereka tanggungkan pada hari Kiamat itu. Pada hari itu, Allah tidak akan menghiraukan jerit dan tangis mereka, ratapan dan penyesalan mereka karena semua yang mereka alami itu benar-benar sebagai pembalasan yang seimbang dengan perbuatan mereka di dunia dahulu.

Di dunia mereka menganiaya dan memfitnah orang yang tidak bersalah, menghalalkan yang haram untuk kepentingan pribadi dan kelompok mereka; Allah akan memberikan balasan yang setimpal dengan amal mereka semua di akhirat nanti.

Jika Allah bersikap tidak mengacuhkan mereka karena sikap angkuh dan sombong yang telah mereka lakukan, serta sikap yang tidak berperikemanusiaan yang telah mereka lakukan. Maka sikap yang demikian itu adalah balasan yang wajar sesuai dengan keadilan-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 35-37


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 29-31

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 29-31 berbicara mengenai salah satu kondisi pada hari kiamat. Kondisi tersebut ialah mengenai catatan amal perbuatan manusia di mana di dalamnya tertulis seluruh kegiatan manusia selama di dunia.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 28


Ayat 29

Allah menyatakan firman-Nya kepada seluruh umat manusia bahwa kitab-kitab yang memuat catatan amal perbuatan itu adalah kitab yang benar, tidak ada suatu pun kesalahan terdapat di dalamnya, dibuat atas dasar perintah Allah Yang Mahakuasa, yang menjadi dasar pertimbangan untuk menentukan keputusan bagi umat manusia.

Allah juga menyatakan bahwa pada saat orang itu hidup di dunia, telah dikerahkan para pencatat amal perbuatan, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk. Catatan itu tidak mungkin salah karena dibuat dengan ketelitian yang tinggi sebagai alat bukti yang tidak dapat diragukan kebenarannya.


Baca juga: Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran


Ayat 30

Kemudian Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beriman dan yang melakukan amal saleh. Mereka itu akan mendapat balasan yang setimpal dengan amal perbuatannya. Mereka itu termasuk hamba Allah yang memperoleh limpahan rahmat-Nya.

Yang dimaksud dengan rahmat Allah dalam ayat ini adalah surga. Hal ini sesuai dengan maksud hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

قَالَ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِى أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِى. (رواه البخاري ومسلم)

Sesungguhnya Allah berkata kepada surga, “Engkau adalah rahmat-Ku. Dengan kamu Aku melimpahkan Kasih sayang-Ku kepada orang-orang yang Aku kehendaki.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Pada bagian akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa surga itu merupakan kebahagiaan yang akan dicapai oleh orang-orang yang beriman karena nikmatnya yang berlimpah-limpah yang akan dirasakan penghuninya.

Ayat 31

Pada ayat ini Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang mengingkari keesaan-Nya. Mereka itu selalu menerima cemoohan dan penghinaan karena kepada mereka telah didatangkan utusan Allah yang telah membacakan ayat-ayat-Nya, tetapi mereka bersikap sombong dan keras kepala.

Karena itu mereka akan merasakan siksa Allah yang menghinakan disebabkan oleh perbuatan dosa yang telah mereka kerjakan. Pada saat itulah, mereka tergagap karena melihat kenyataan yang dahulu mereka dustakan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 32-34


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 28

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 28 berbicara mengenai kondisi pada waktu hari kiamat. Di sini akan disebutkan beberapa kondisi tersebut.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 26-27


Ayat 28

Pada ayat ini, Allah menjelaskan keadaan manusia pada hari penentuan keputusan itu dan kedahsyatan huru-hara pada saat menunggu detik-detik yang menentukan, yaitu:

  1. Pada hari itu, manusia berlutut dan bersimpuh di hadapan Tuhan penguasa seluruh alam untuk menerima perhitungan amal perbuatan mereka dan menerima keputusan akhir yang akan ditetapkan atas mereka.
  2. Pada hari itu, mereka dipanggil melihat catatan mereka yang dibuat oleh para malaikat. Kemudian mereka memeriksa apakah ada di antara perbuatan mereka yang belum tercatat atau ada yang tercatat, tetapi tidak sesuai dengan yang telah mereka kerjakan.

Apabila perbuatan mereka yang tercatat itu sesuai dengan yang diperintahkan oleh agama yang dibawa rasul mereka, maka mereka akan memperoleh kebahagiaan dan keberuntungan, sedangkan apabila tidak sesuai dengan perintah dan banyak melanggar larangan agama mereka, maka mereka akan memperoleh kecelakaan dan azab di neraka. Allah berfirman:

وَاَشْرَقَتِ الْاَرْضُ بِنُوْرِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتٰبُ وَجِايْۤءَ بِالنَّبِيّٖنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ  ٦٩

 Dan bumi (padang Mahsyar) menjadi terang benderang dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan buku-buku (perhitungan perbuatan mereka) diberikan (kepada masing-masing), nabi-nabi dan saksi-saksi pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil, sedang mereka tidak dirugikan. (az-Zumar/39: 69)


 Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50: Hari Kiamat Datang dengan Tiba-Tiba


 Pada ayat lain Allah berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًاۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا ࣖ   ٤٩

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun. (al-Kahf/18: 49)

Pada saat itu, manusia mendapat panggilan. Kepada mereka diberitahukan bahwa pada hari itulah mereka akan menerima balasan dari amal perbuatan mereka masing-masing dengan balasan yang setimpal.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 29-31


Maulid dan Kelahiran Manusia Baru

0
Maulid Nabi dan Kelahiran Manusia Baru
Maulid Nabi dan Kelahiran Manusia Baru

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan rasul) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Ali Imran: 164).

Pemikiran dan gagasan besar tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dalam sebuah “iklim” dengan segala muatannya, berangkat dari aneka harapan dan kondisi yang melingkupinya, berbekal multi strategi dan mengacu pada sejumlah target sasaran yang jelas. Pada saatnya, semua itu mendorong lahirnya tatanan baru yang diyakini penggagasnya sebagai tatanan yang lebih baik; lebih bermartabat dibanding tatanan lama yang dinilai sarat dengan keburukan dan kesesatan.

Gerakan perubahan yang didengungkan Muhammad tidak mengidealkan perubahan total mencakup semua bentuk dan format lama. Gerakan yang dipelopori Muhammad tidak menuntut dirinya menjadi seseorang yang benar-benar baru dengan nilai dan tatanan makna yang sepenuhnya baru. Perannya memang besar, tapi ia tidak bergerak di dunianya sendiri, tidak berpikir dalam kerangka pengalaman pribadinya sendiri. Muhammad adalah seorang Rasul, utusan Tuhan yang bergerak; berpikir dan bertindak, dalam kerangka risalah yang diembannya. Kendati demikian, ia bukan orang asing bagi kaumnya. Seperti kata ayat di atas, Muhammad berasal dari golongan mereka sendiri. Apa yang dirasakan (dipedulikan) Muhammad tidak asing bagi mereka; apa yang dipikirkan Muhammad berangkat dari realitas yang akrab dengan mereka.

Muhammad berasal dari “jantung” masyarakat di mana ia tinggal di dalamnya. Tuhan mengutusnya kepada mereka untuk menyampaikan ayat-ayat-Nya, kiranya mata mereka terbuka melihat keagungan-Nya; hati mereka terbuka menerima hidayah-Nya. Tuhan menugaskannya melakukan penyucian jiwa mereka dari akhlak tercela, perilaku buruk, pemikiran dan kebiasaan yang jelek. Tuhan menyuruhnya mengajarkan kepada mereka Kitab Allah yang terkandung di dalamnya segenap risalah dan “bertemu” di dalamnya ajaran semua rasul.

Kepada mereka Muhammad juga mengajarkan hikmah-kebijaksanaan yang menghubungkan gerak hidup mereka dengan lingkup kosmik (semesta) yang berjalan mengikuti sunnah-Nya yang lurus dan konstan. Seorang Muslim tidak cukup hanya fasih berteori di aras pemikiran sambil melafalkan ayat-ayat Kitab Suci. Ia harus terus melangkah di jalan kesempurnaan dengan menautkan pemikiran teoritisnya dan dalil-dalil yang dihafalnya dengan realitas di mana ia hidup di dalamnya. Itulah antara lain makna hikmah yang Tuhan meminta Muhammad untuk mengajarkannya pada mereka. Hikmah yang mengajarkan keseimbangan antara pemikiran (teori) dan kenyataan (tempat menerapkan teori).

Muhammad datang untuk itu semua (tilawah, tazkiyah, dan ta’lim) dalam rangka membebaskan mereka dari kubangan kesesatan yang nyata, baik di tingkat pemikiran maupun ranah perbuatan. Semua itu oleh ayat disebut sebagai karunia Allah atas mereka. Jalan hidup yang lurus, pola pikir yang bening, orientasi hidup yang jelas lagi benar; semua ini merupakan sebenar-benarnya kebaikan di mana mereka harus hidup di dalamnya. Dalam segala keadaan, kebaikan itu harus tetap terawat agar hidup tetap berlimpahkan kedamaian dan kasih-sayang.

———-

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung” (al-A’raf: 157).

Yang menjadi fokus dari ayat di atas adalah penggalan ini: “…yang menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” Seperti terlihat dan cukup mudah dipahami, Allah menjadikan amar ma’ruf, nahi munkar, penghalalan segala yang baik, pengharaman segala yang buruk, serta membebaskan beban dan belenggu; Allah menjadikan semua ini dalam “satu paket”, satu-sama-lain saling terkait.

“Ma’ruf” mencakup segala hal yang dapat diterima akal sehat dan fitrah lurus, sedang “munkar” kebalikannya. “Segala yang baik” di ayat ini adalah makanan sebagaimana disebut dalam al-Baqarah: 168 dan al-Ma`idah: 4. Bukan amal-perbuatan, sebab amal-perbuatan terkelompokkan dalam ma’ruf dan munkar. Makanan tidak masuk dalam kelompok ma’ruf dan munkar. Bukan wilayah akal untuk membedakan makanan; mana yang dapat dimakan, mana yang tidak. Adat-kebiasaan manusia yang menentukan. Kemudian Islam datang memberi ketegasan; halal semua makanan yang baik, haram semua makanan yang buruk.

Yang dimaksud “membebaskan beban” adalah menghapus syariat terdahulu yang dirasa berat. Syariat dalam kitab Taurat mengandung banyak hukum yang dinilai berat, seperti hukuman mati atas sejumlah dosa, pengharaman atas banyak jenis makanan yang baik-baik, pengharaman atas perkara-perkara yang “biasa-biasa saja”. Puncak beratnya syariat dalam Taurat adalah tidak adanya taubat dari dosa yang pernah diperbuat. Pelaku dosa tidak mempunyai kesempatan bertaubat. Beratnya syariat Taurat ini diisyaratkan dalam al-Baqarah: 286.

“Belenggu”, yang dimaksud adalah beban berat dan tak tertanggungkan seperti kehinaan yang ditanggung kaum Yahudi pasca kehancuran Bait al-Muqadas dan lenyapnya kerajaan Yahudza. Cukup mudah dipahami menunjuk “kehinaan” sebagai “belengggu”, karena belenggu memang antara lain menyimbolkan kehinaan, pun kehinaan biasa membelenggu yang bersangkutan.

———-

Tentang Ali Imran: 164 di atas, saya olah dari tafsir Min Wahy al-Qur`an sedang tentang al-A’raf: 157 saya saripatikan dari tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir. Dari tafsir Min Wahy al-Qur`an, kita dapat mengambil pelajaran bahwa seorang pembaharu, pelopor pergerakan dan perubahan, seorang revolusioner, tidak harus seorang Super Man. Justru dia harus human being. Dia seorang pemikir-aktivis yang cermat memetakan masalah, fasih mengartikulasikan pemikiran dan gagasan, serta memiliki visi yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dari sebuah pemikiran. Semua itu dia ramu dari realitas yang dia lihat dan rasakan, dari persoalan-persoalan riil yang ia hadapi, bukan hasil renungan hampa tanpa dukungan fakta dan realita. Penggalan “dari golongan mereka sendiri…” dari Ali Imran: 164, saya rasa menegaskan hal itu.

Sedangkan terhadap tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir saya menambahkan bahwa “beban” dan “belenggu” yang coba dienyahkan Muhammad dari pundak umat bukan hanya berupa beban syariat dan belenggu kehinaan seperti yang pernah dirasakan umat Yahudi. Lebih dari itu, bahkan yang terpenting, adalah penderitaan, penindasan, ketidakadilan, kebodohan, dan hal-hal serupa itu. Al-Anbiya`: 107 yang menggariskan risalah Muhammad sebagai risalah rahmat, saya pikir mengacu, antara lain, pada apa yang saya tambahkan tersebut. Yakni Muhammad adalah Sang Pembebas. Risalah rahmat yang diusungnya setara maknanya dengan risalah pembebasan.

Karena kita tidak terbiasa secara khusus memperingati hari pengangkatan Muhammad menjadi Nabi, maka tidak keliru kiranya jika saya mengaitkan hari kelahirannya (maulid) yang selalu kita peringati dengan kelahiran manusia baru. Dengan kata lain, maulid Nabi menandai kelahiran manusia baru.

Shallu ‘ala al-Nabi

Kisah Inspiratif Perempuan yang Berbahasa Alquran

0
Kisah Inspiratif Perempuan yang Berbahasa Alquran
Kisah Inspiratif Perempuan yang Berbahasa Alquran

Orang-orang meresepsi Alquran dengan caranya masing-masing. Beberapa resepsi Alquran menarik diketahui karena unik dan jarang ditemukan. Salah satunya kisah seorang perempuan Arab yang menggunakan ayat-ayat Alquran untuk berkomunikasi dalam kesehariannya. Dia tidak berbicara kecuali dengan bahasa Alquran.

Kisah ini tertuang dalam kitab Hilyah al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’ (10/182) karya Abu Nu’am dan dapat ditemukan pula dalam kitab Syarah ‘Uqud al-Lujain (hal. 23). Kisah ini bersumber dari riwayat Abdullah bin Daud al-Wasiti. Pendapat lain mengatakan sumbernya adalah pengalaman pribadi Abdullah bin al-Mubarak.

Diceritakan suatu ketika Abdullah bin Daud al-Wasiti sedang wukuf di Arafah yang merupakan bagian dari manasik haji. Di sana dia bertemu dengan seorang perempuan yang tiba-tiba membaca Q.S. Ala’raf: 186 di hadapannya:

“Siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk.”

Al-Wasiti menyadari perempuan itu sedang memberi petunjuk kalau dia sedang tersesat. Dia lantas bertanya, “Wahai perempuan, kamu dari mana?”

Si perempuan menjawab, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa” (Q.S. Alisra: 1).

Mendengarnya, al-Wasiti tahu bahwa perempuan itu berasal dari Baitul Maqdis. Dia lalu menanyai maksud perjalanannya, “Lantas apa yang membuatmu melakukan perjalanan ini?”

“Kewajiban manusia terhadap Allah, berhaji (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (Q.S. Ali Imran: 97), jawab si perempuan yang mengisyaratkan dia sedang melaksanakan ibadah haji.

“Apakah kamu punya suami?” telisik al-Wasiti.

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (Q.S. Alisra: 36), tegas si perempuan.

Al-Wasiti lalu menawarkan si perempuan tunggangan, “Maukah kamu menaiki untaku?”

“Apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya” (Q.S. Albaqarah: 197), kata si perempuan mengindikasikan kalau dia menerima niat baik al-Wasiti.

Tatkala hendak akan menaiki unta, perempuan itu membaca ayat Alquran lainnya, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya” (Q.S. Annur: 30).

Mendengar ayat tersebut, al-Wasiti seketika memalingkan pandangannya seraya menanyakan nama si perempuan, “Siapakah namamu?”

Perempuan itu menjawab, “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Alquran” (Q.S. Maryam: 16).

“Apakah kamu punya anak?” lanjut al-Wasiti.

“Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub” (Q.S. Albaqarah: 132), jawabnya. “Berarti dia punya beberapa anak,” batin al-Wasiti. “Lantas siapa nama mereka?” telisik lagi al-Wasiti.

Perempuan itu menjawab, “Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung; Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya; Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi” (Q.S. Annisa: 164, Annisa: 125, dan Sad: 26). Itu berarti ibu ini memiliki tiga orang anak. Masing-masing dia namai Musa, Ibrahim, dan Daud.

Al-Wasiti kemudian berniat mempertemukan sang ibu dengan anaknya dengan bertanya, “Kalau begitu di manakah aku bisa mendapati mereka berada?”

“(Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk” (Q.S. Annahl: 17), jawabnya. Al-Wasiti menyimpulkan mereka adalah rombongan pengendara unta.

Al-Wasiti lanjut bertanya, “Wahai Maryam, apakah kamu tidak makan sesuatu?” Dijawab oleh Maryam, “Sesungguhnya aku telah nazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah” (Q.S. Maryam: 26).

Baca juga: Mengenal Terma-Terma Perempuan dalam Al-Quran

Al-Wasiti dan Maryam melanjutkan perjalanan sampai kemudian bertemu dengan rombongan anak-anak Maryam itu. Mereka pun menangis terharu sesaat setelah melihat ibunya kembali. Maryam berkata kepada mereka, “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota” (Q.S. Alkahf: 19).

Al-Wasiti menanyakan mereka perihal sang ibu. Mereka menerangkan, “Ibu kami telah tersesat sejak tiga hari lalu. Beliau sendiri telah bernazar untuk tidak berbicara kecuali dengan Alquran karena khawatir lisannya akan tergelincir.”

Selang beberapa waktu al-Wasiti melihat anak-anak Maryam itu kembali menangis. Setelah diselidiki, rupanya perempuan itu sedang mengalami sakratulmaut. Al-Wasiti lalu buru-buru masuk menjumpainya dan menanyakan keadaannya. Dia menjawab, “Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya” (Q.S. Qaf: 19). Maryam pun kemudian menemui ajalnya.

Pada malam harinya al-Wasiti bermimpi melihat Maryam. “Di manakah kamu berada sekarang?” tanya al-Wasiti. Dijawab oleh Maryam, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa” (Q.S. Alqamar: 54-55).

Baca juga: Perempuan dalam Al-Quran: Antara Pernyataan Allah Sendiri dan Kutipan atas Ucapan Orang Lain

Demikianlah kisah Maryam, seorang perempuan yang tidak pernah berbicara-menurut suatu riwayat selama 40 tahun terakhir dari masa haidupnya-kecuali menggunakan ayat-ayat Alquran. Dia menempatkan Alquran sebagai “bahasa” Tuhan yang kedudukannya di atas bahasa manusia sehingga dia merasa lebih aman dan maslahat baginya untuk hanya berkomunikasi dengan Alquran.

Dari kisah Maryam dapat diambil pelajaran tentang pentingnya memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari lisan. Sebab, lisan sangat mudah tergelincir yang akhirnya menjadi penyebab seseorang binasa. Kisah Maryam juga mengajarkan akan perlunya untuk selalu berusaha dekat dengan Alquran dalam keseharian. Tidak harus seperti Maryam, tetapi bisa dengan cara membiasakan diri mengaji, memahami, dan mengamalkan Alquran sesuai kadar kemampuan masing-masing. Semoga kita bisa meneladaninya.

Baca juga: Al-Mar’ah fil Islam: Antologi Kesetaraan Perempuan dalam Al-Quran, Hadis, dan Sejarah Nabi

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 26-27

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 26-27 berbicara mengenai kuasa Allah SWT untuk menghidupkan serta mematikan manusia. Setelah sebelumnya dibahas mengenai keingkaran orang-orang terhadap hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-25


Ayat 26

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menjelaskan kepada orang-orang musyrik Mekah, bahwa Allah-lah yang berkuasa menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya.

Dahulu mereka belum ada dan merupakan benda mati, sesudah itu atas kuasa Allah mereka dijadikan makhluk hidup di dunia untuk jangka waktu yang ditentukan. Apabila telah sampai waktu yang ditentukan itu, mereka pun dimatikan.

Kemudian mereka dibangkitkan kembali pada hari Kiamat untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.

Allah menegaskan bahwa terjadinya hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang pasti, tidak ada keraguan sedikit pun. Jika Allah kuasa menghidupkan dan mematikan, tentu Dia kuasa pula menghidupkan dan menghimpun kembali bagian-bagian tubuh mereka yang telah hancur berserakan menjadi tanah.

Mengulang kembali suatu perbuatan adalah lebih mudah daripada menciptakannya untuk pertama kali. Dan bagi Allah, tidak ada suatu perbuatan pun yang sukar.

Pada akhir ayat ini, Allah menyayangkan mengapa kebanyakan orang-orang musyrik tidak meyakini kebenaran adanya hari kebangkitan dan tetap mengingkarinya dengan alasan bahwa orang yang telah mati, yang tubuhnya telah hancur lebur bersama tanah, tulang-tulangnya telah berserakan tidak mungkin hidup kembali. Allah berfirman:

وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ   ٧

Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (al-Hajj/22: 7)


Baca juga:‘Good Governance’ Perspektif  Alquran 


Ayat 27

Allah menjelaskan bahwa yang memiliki kekuasaan di langit dan di bumi ialah Allah. Tidak ada yang melebihi kekuasaan-Nya yang berlaku sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada penguasa yang lain selain Dia dan tidak ada tuhan-tuhan lain yang pantas disembah selain-Nya.

Kekuasaan-Nya meliputi seluruh alam; alam dunia dan alam akhirat. Allah juga berkuasa pada saat alam dunia berakhir dan mulainya hari akhirat. Pada saat itu manusia akan dibangkitkan dari alam kubur.

Semua manusia akan digiring ke padang mahsyar untuk menghadapi ke pengadilan. Pada saat itu, perbuatan mereka akan diperiksa secara teliti. Tiap-tiap orang akan menerima catatan perbuatannya selama ia hidup di dunia, yang dibuat secara teliti oleh para malaikat pencatat amal.

Pada hari itulah, tampak kemurungan orang-orang kafir yang mendustakan kebenaran ayat-ayat Allah. Kemurungan itu berubah menjadi kesengsaraan dan penderitaan yang amat berat ketika mereka diseret ke neraka Jahanam, disanalah mereka menampakkan penyesalan mereka, tetapi penyesalan itu tidak berguna lagi.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 28


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-25

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-25 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Kedua mengenai respons Allah SWT mengenai tidakan mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23


Ayat 24

Pada ayat ini Allah menjelaskan keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Menurut anggapan mereka kehidupan itu hanya di dunia saja. Di dunia mereka dilahirkan dan di dunia pula mereka dimatikan dan di situlah akhir dari segala sesuatu, dan demikian pula terjadi pada nenek moyang mereka.

Menurut mereka, yang menyebabkan kematian dan kebinasaan segala sesuatu ialah pertukaran masa. Dari pendapat mereka, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka mengingkari terjadinya hari kebangkitan.

Keterangan itu diperkuat oleh adat kebiasaan orang Arab Jahiliyah yaitu apabila mereka ditimpa bencana atau musibah, terlontarlah kata-kata dari mulut mereka, “Aduhai celakalah masa.” Mereka mengumpat-umpat masa karena menurut mereka masa itulah sumber dari segala musibah.

Dalam hadis Qudsi dari Abµ Hurairah, Rasulullah bersabda:

;قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِيْنِي ابْنُ ﺁدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَلاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَإِنِّيْ أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا. (رواه مسلم);

Allah berfirman, “Manusia telah menyakitiku dengan mengatakan wahai masa yang sial. Maka janganlah salah seorang kalian mengatakan masa yang sial karena Akulah (Pencipta dan Pengatur)masa. Aku mengganti malam menjadi siang, dan jika Aku menghendakinya niscaya Aku genggam keduanya.” (Riwayat Muslim)

Kemudian Allah menyayangkan sikap kaum musyrikin Mekah yang tidak didasarkan pada pengetahuan yang benar. Allah menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang hal yang menyangkut masa itu. Pendapat mereka itu hanyalah didasarkan pada sangkaan dan dugaan saja.


Baca juga: Na’ilah Hashim Sabri, Perempuan Pertama Penulis Lengkap Tafsir Alquran


Ayat 25

Pada ayat ini, Allah menerangkan dan menegaskan bahwa pendapat mereka itu benar-benar berdasarkan dugaan dan sangkaan belaka, yang menjurus kepada pengingkaran terjadinya hari kebangkitan.

Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang mengandung keterangan tentang bukti-bukti terjadinya hari kebangkitan, mereka tidak mau memahami keterangan yang dikemukakan itu, dan juga mereka menantang Rasulullah saw agar beliau menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Jika hal itu dapat dilakukan oleh Rasulullah, barulah mereka mau beriman.

Dari sikap mereka yang demikian itu, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka benar-benar telah dikendalikan oleh hawa nafsu mereka, tidak lagi mempergunakan pikiran mereka dengan baik sehingga mereka tidak mau menerima segala kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw, bahwa hari kebangkitan itu akan datang pada saat yang telah ditentukan yaitu setelah semua manusia yang hidup dimatikan dan jagat raya serta segala isinya hancur-lebur. Namun hal ini tidak membuat mereka mengerti dan mengakui.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 26-27