Beranda blog Halaman 115

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23 berbicara mengenai dua hal. Pertama akan dibahas mengenai sebab turunnya ayat ini. kedua berbicara mengenai orang kafir yang tengah tenggelam dalam perbuatan jahat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 22


Ayat 23

Muqatil mengatakan bahwa ayat ini turun berhubungan dengan peristiwa percakapan Abµ Jahal dengan al-Walid bin al-Mugirah.

Pada suatu malam Abu Jahal tawaf di Baitullah bersama Walid. Kedua orang itu membicarakan keadaan Nabi Muhammad. Abu Jahal berkata, “Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa Muhammad itu adalah orang yang benar. ”Al-Walid berkata kepadanya, “Biarkan saja, apa pedulimu dan apa alasan pendapatmu itu?” Abu Jahal menjawab, “Hai Abu Abdisy Syams, kita telah menamainya orang yang benar, jujur, dan terpercaya dimasa mudanya, tetapi sesudah ia dewasa dan sempurna akalnya, kita menamakannya pendusta lagi pengkhianat. Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa dia itu adalah benar.” Al-Walid berkata, “Apakah gerangan yang menghalangimu untuk membenarkan dan mempercayai seruannya?” Abu Jahal menjawab, “Nanti gadis-gadis Quraisy akan menggunjingkan bahwa aku pengikut anak yatim Abu Talib, padahal aku dari suku yang paling tinggi. Demi Al-Lata dan Al-‘Uzza, saya tidak akan menjadi pengikutnya selama-lamanya.” Kemudian turunlah ayat ini.

Selanjutnya, pada ayat ini Allah menerangkan keadaan orang-orang kafir Mekah yang sedang tenggelam dalam perbuatan jahat. Semua yang mereka lakukan itu disebabkan oleh dorongan hawa nafsunya karena telah tergoda oleh tipu daya setan.

Tidak ada lagi nilai-nilai kebenaran yang mendasari tingkah laku dan perbuatan mereka. Apa yang baik menurut hawa nafsu mereka itulah yang mereka perbuat. Seakan-akan mereka menganggap hawa nafsu mereka itu sebagai tuhan yang harus mereka ikuti perintahnya.

Mereka telah lupa bahwa kehadiran mereka di dunia yang fana ini ada maksud dan tujuannya. Ada misi yang harus mereka bawa yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi. Mereka telah menyia-nyiakan kedudukan yang diberikan Allah kepada mereka sebagai makhluk Tuhan yang paling baik bentuknya dan mempunyai kemampuan yang paling baik pula.

Mereka tidak menyadari bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada Allah kelak dan bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan dengan balasan yang setimpal. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ  ٧  وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ  ٨

Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (az-Zalzalah/99: 7-8)

Sebenarnya hawa nafsu yang ada pada diri manusia itu merupakan anugerah yang tidak ternilai harganya yang diberikan Allah kepada manusia. Di samping Allah memberikan akal dan agama kepada manusia agar dengan keduanya manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya.

Jika seseorang mengendalikan hawa nafsunya sesuai dengan pertimbangan akal yang sehat dan tidak bertentangan dengan tuntunan agama, maka orang yang demikian itu telah berbuat sesuai dengan fitrahnya.

Tetapi apabila seseorang memperturutkan hawa nafsunya tanpa pertimbangan akal yang sehat dan tidak lagi berpedoman kepada tuntutan agama, maka orang itu telah diperbudak oleh hawa nafsunya. Hal itu berarti bahwa ia telah berbuat menyimpang dari fitrahnya dan terjerumus dalam kesesatan.


Baca juga: Ayat-Ayat Konflik yang Dipahami Keliru dan Kemunculan Kafirphobia di Kalangan Umat


Berdasarkan keterangan di atas, maka dalam mengikuti hawa nafsunya, manusia terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama ialah kelompok yang dapat mengendalikan hawa nafsunya; mereka itulah orang yang bertakwa. Sedangkan kelompok kedua ialah orang yang dikuasai hawa nafsunya. Mereka itulah orang-orang yang berdosa dan selalu bergelimang dalam lumpur kejahatan.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Setiap kali Allah menyebut hawa nafsu dalam Al-Qur’an, setiap kali itu pula Dia mencelanya.” Allah berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ  ١٧٦

Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (al-A’raf/7: 176)

Pada ayat lain :

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. (Sad/38: 26)

Dalam ayat ini, Allah memuji orang-orang yang dapat menguasai hawa nafsunya dan menjanjikan baginya tempat kembali yang penuh kenikmatan. Allah berfirman:

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ  ٤٠  فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ  ٤١

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya). (an-Nazi’at/79: 40-41)

Banyak hadis-hadis Nabi saw yang mencela orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin ‘As bahwa Nabi saw bersabda:

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِماَ جِئْتُ بِهِ. (رواه الخطيب البغدادي)

Tidak beriman seseorang dari antara kamu sehingga hawa nafsunya itu tunduk kepada apa yang saya bawa (petunjuk). (Riwayat al-Khatib al-Bagdadi);

Syaddad bin Aus meriwayatkan hadis dari Nabi saw :

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، الْعَاجِزُ مَنْ اَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ. (رواه الترمذي وابن ماجه)

Orang yang cerdik ialah orang yang menguasai hawa nafsunya dan berbuat untuk kepentingan masa sesudah mati. Tetapi orang yang zalim ialah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan mengharap-harap sesuatu yang mustahil dari Allah. (Riwayat at-Tirmizi dan Ibn Majah)

Orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya biasanya kehilangan kontrol dirinya. Itulah sebabnya ia terjerumus dalam kesesatan karena ia tidak mau memperhatikan petunjuk yang diberikan kepadanya, dan akibat perbuatan jahat yang telah dilakukannya karena memperturutkan hawa nafsu.

Keadaan orang yang memperturutkan hawa nafsunya itu diibaratkan seperti orang yang terkunci mati hatinya sehingga tidak mampu lagi menilai mana yang baik mana yang buruk, dan seperti orang yang telinganya tersumbat sehingga tidak mampu lagi memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di langit dan di bumi, dan seperti orang yang matanya tertutup tidak dapat melihat dan mengetahui kebenaran adanya Allah Yang Maha Pencipta segala sesuatu.

Selanjutnya, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar tidak membenarkan sikap orang-orang kafir Mekah dengan mengatakan bahwa tidak ada kekuasaan yang akan memberikan petunjuk selain Allah setelah mereka tersesat dari jalan yang lurus.

Pada akhir ayat ini, Allah mengingatkan mereka mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari alam semesta, kejadian pada diri mereka sendiri, dan azab yang menimpa umat-umat terdahulu sebagai bukti bahwa Allah Mahakuasa lagi berhak disembah.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-25


Ulasan Mengenai Perbedaan Fakir dan Miskin dalam Al-Qur’an

0
Fakir dan Miskin
Fakir dan Miskin

Dalam Surah Al-Taubah [9]: 60 disebutkan bahwa di antara orang yang berhak menerima zakat adalah orang fakir dan orang miskin. Dalam bahasa Indonesia, kata fakir dan miskin seringkali dimaknai sama, bahkan dalam penggunaan sehari-hari, dua kata tersebut digabungkan menjadi “fakir miskin”.

Pada dasarnya baik fakir maupun miskin merupakan kata serapan dari Bahasa Arab, namun dalam perkembangan penggunaannya di Indonesia dua kata tersebut dimaknai sama. Artikel ini akan mengulas secara singkat makna asal dari kata fakir dan miskin sekaligus menemukan perbedaan keduanya.

Fakir merupakan hasil serapan dari bahasa Arab, yaitu “faqîr” yang merupakan  isim musyabbahah dari kata faqura (Mu’jam al-Mu’âshirah). Kata faqîr digunakan dalam empat tempat, sebagaimana yang diuraikan oleh al-Râghib al-Ashfahânî dalam Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân (hlm. 641-642) sebagai berikut:

1. Fakir untuk menyatakan bahwa manusia memiliki hajat untuk memenuhi kebutuhannya. Ini berlaku untuk manusia dan makhluk lainnya selama mereka berada di dunia ini, sebagaimana yang diisyaratkan dalam QS. Fâthir [35]: 15 dan al-Anbiyâ’ [21]: 8.

2. Fakir bermakna kekurangan harta, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 273, QS. Al-Taubah [9]: 60, dan QS. Al-Nûr [24]: 32.

Baca Juga: Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

3. Fakir jiwa, yaitu kerakusan yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya “kâda al-faqr an yakûna kufran”, artinya “kefakiran dekat dengan kekufuran”.

4. Fakir di sisi Allah sebagaimana dimaksud dalam firman-Nya QS. Al-Qashash [28]: 24.

Sementara itu, al-Râghib al-Ashfahânî memaknai miskin adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa. (Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, hlm. 417).

Buya Hamka mengilustrasikan orang fakir adalah orang yang keperluan hidupnya sebesar 100 rupiah, namun dia hanya mampu mendapatkan penghasilan kurang dari setengah biaya kebutuhannya hidup. Adapun orang miskin adalah orang yang pendapatannya tidak memenuhi biaya kebutuhannya, namun sudah melebihi dari setengahnya. Dapat disimpulkan bahwa menurut Buya Hamka orang fakir dan miskin sama-sama orang yang belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, namun orang yang miskin tidak separah orang fakir.

Untuk memperkuat argumentasi ini, Buya Hamka menjadikan QS. Al-Kahfi [18]: 79 sebagai contoh bahwa orang miskin memiliki aset, meskipun tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Ketika Nabi Khidir as. ditanya oleh Nabi Musa as. tentang alasan melubangi perahu, Nabi Khidir menjawab bahwa perahu itu milik orang-orang miskin yang berusaha di lautan, sedangkan raja di negeri itu suka merampok perahu orang yang menurutnya bagus. QS. Al-Kahfi [18]: 79 menjadi petunjuk bahwa si pemilik perahu yang berusaha sebagai nelayan adalah orang miskin.

Baca Juga: Larangan Menimbun Barang dalam Surah Hud Ayat 85

Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan lebih rinci perbedaan definisi miskin dan fakir menurut ulama. Menurut Imam al-Syâfi’i orang fakir adalah orang yang mempunyai harta dan mata pencaharian yang tidak mencukupi dan tidak meminta-minta, sedangkan orang miskin adalah orang yang mempunyai harta atau mata pencaharian tetapi tidak mencukupi kebutuhan sehingga meminta-minta merendahkan harga diri. Sebaliknya, menurut Imam Abû Hanîfah, miskin ialah apa yang dikatakan fakir menurut pengertian Imam al-Syâfi’i, dan yang dikatakan miskin menurut Imam al-Syâfi’i adalah fakir menurut Imam Abû Hanîfah.

Berdasarkan ulasan singkat di atas, dapat disimpulkan secara singkat bahwa fakir dan miskin merupakan dua kata yang maknanya tidak sama. Meskipun terdapat perbedaan pendapat dalam memaknai kata tersebut, namun semua pendapat tersebut bersepakat bahwa fakir dan miskin merupakan sebutan bagi orang yang tidak kekurangan dan belum mampu mencukupi kebutuhannya.

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 22

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 22 berbicara mengenai tujuan penciptaan langit dan bumi. Selain itu tujuan diciptakannya langit dan bumi bergantung pada kehendak Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 19-21


Ayat 22

Allah menjelaskan bahwa langit dan bumi diciptakan dengan benar, dan memiliki tujuan penciptaan sesuai dengan kehendaknya. Tidak ada satu benda pun diadakan Tuhan tanpa mempunyai tujuan. Tujuan kehadiran satu ciptaan adalah untuk dimanfaatkan oleh ciptaan yang lain, dalam rangka mencapai tujuan ciptaan yang lain itu.

Apabila suatu kegiatan tidak memiliki tujuan, maka yang terjadi adalah laib, permainan. Kata sebaliknya batil, kebalikan kata Haq banyak digunakan untuk menjelaskan hal yang sama, sebagaimana ayat di bawah:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۗذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِۗ  ٢٧

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Sad/38: 27)

Seperti yang kita saksikan, sifat fisis bumi, seperti massa, struktur, suhu, dan seterusnya begitu tepat bagi kehidupan. Namun, sifat-sifat itu saja tidak cukup untuk memungkinkan adanya kehidupan di bumi, faktor penting lain adalah susunan atmosfer (lihat Surah Ibrahim/14:19 dan Surah al-Jatsiyah/45: 3).

Tidak ada satu pun kekuatan lain yang dapat mengubah kehendak Allah. Ketentuan yang demikian berlaku bagi seluruh ciptaan-Nya sesuai dengan keadilan dan sunah-Nya. Di antara keadilan Allah ialah memberikan balasan yang setimpal kepada para hamba-Nya atas amal dan perbuatannya pada hari pembalasan.

Barang siapa yang melakukan perbuatan yang baik akan menerima ganjarannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya, demikian pula barang siapa yang melakukan perbuatan jahat akan menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan jahatnya itu.

Mengapa dikatakan bahwa pemberian balasan yang setimpal itu sesuai dengan keadilan Allah. Karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya, dilengkapi dengan kecenderungan dan kemampuan untuk berbuat baik dan berbuat jahat. Kedua-duanya atau salah satu daripada kedua potensi itu dapat berkembang pada diri seseorang. Perkembangannya itu banyak ditentukan oleh keadaan, lingkungan, dan waktu.

Di samping itu, Allah menganugerahi manusia akal pikiran. Dengan akal pikirannya itu manusia mempunyai kesanggupan-kesanggupan untuk menilai rangsangan-rangsangan yang mempengaruhi tindakan dan perilakunya.


Baca juga: Identitas dan Kisah Penduduk Rass dalam Alquran


Sebelum seseorang menentukan sikap untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak melakukannya, maka dalam dirinya terjadi gejolak dalam mempertimbangkan dan menetapkan suatu pilihan, sikap mana atau tindakan mana yang akan diambilnya dari kedua tindakan itu.

Pada saat-saat yang demikian itu, manusia diberi kemerdekaan memilih antara yang baik dan yang buruk. Dalam pergolakan yang demikian, maka jiwa manusia mendapat tekanan-tekanan yang disebut tekanan-tekanan kejiwaan.

Apabila ia memilih dan memutuskan melakukan suatu kebaikan, maka perbuatan itu terjadi berdasarkan pilihannya sendiri. Bila ia memilih keputusan melakukan keburukan, maka itu pun terjadi karena pilihannya sendiri pula.

Saat-saat yang seperti itu adalah saat-saat yang menentukan apakah ia sengaja melakukan suatu perbuatan atau ia tidak sengaja melakukannya. Dan juga membedakan antara perbuatan yang dilakukan; apakah perbuatan itu dilakukan dengan sadar atau tidak. Itulah sebabnya dikatakan bahwa balasan Allah terhadap hamba-Nya sesuai dengan amal dan perbuatannya, itulah gambaran keadilan Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23


 

Tafsir Tarbawi: Dua Kunci Memunculkan Keberkahan Ilmu untuk Pelajar

0
Ilmu Pengetahuan
Keberkahan Ilmu Pengetahuan

Kunci untuk memunculkan keberkahan ilmu bagi pelajar adalah beramal shalih dan tidak menyekutukan Allah swt. Kedua hal ini penting mengingat betapa banyak para pelajar setelah menimba ilmu cukup lama, akan tetapi tidak berkah atau tidak manfaat ilmunya. Bisa jadi, ada yang salah dalam menempuh proses mencari ilmu sehingga tidak muncul keberkahannya.

Karena itu, keberkahan ilmu sangatlah penting bagi pelajar karena dengan modal tersebut akan menjadikan kita semakin dekat kepada Allah swt sebagaimana hadits nabi saw, “barang siapa yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya, maka ia akan semakin jauh dari-Nya”. Dengan melandaskan Q.S. al-Kahfi [18]: 110, artikel ini mengulas dua kunci untuk memunculkan keberkahan ilmu bagi pelajar. Simak selengkapnya di bawah ini.

Amal Shalih

Kunci keberkahan ilmu yang pertama adalah beramal shalih sebagaimana yang Allah sampaikan dalam firman-Nya,

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا…..

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya (Q.S. al-Kahfi [18]: 110).

Baca Juga: Menghormati Guru Adalah Bagian dari Jihad

Merujuk pada ayat di atas, barang siapa yang bertakwa dan memiliki rasa khauf (takut) kepada Allah, memperhatikan betul perbuatan maksiatnya dan berharap pahala atas ketaatannya, maka hendaknya ia menjadikan amal shalih sebagai perantara untuk meraih ridha-Nya. Kata al-Tabari, tidak cukup hanya beramal shalih, melainkan harus dilandasi dengan keikhlasan (fal yukhlis lahul ‘ibadah). Di samping itu, dalam tafsir Mafatih al-Ghaib, Ar-Razi mengatakan:

مَنْ حَصَلَ لَهُ رَجَاءٌ لِقَاءِ اللهِ فَلْيَشْتَغِلُ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ

“Barang siapa yang menginginkan keberhasilan dapat berjumpa dengan Allah, maka sibukkanlah dirimu dengan amal shalih”.

Dalam konteks pelajar, bentuk amal shalih dapat diwujudkan dengan giat belajar, tirakat (riyadhah), melawan rasa malas, bersedekah dalam makna; memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, tekun beribadah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam itu yang nantinya ketika selesai nyantri atau bersekolah atau berkuliah, akan memunculkan keberkahan ilmunya dengan sendirinya.

Tidak Menyekutukan Allah Swt

Kunci yang kedua adalah tidak menyekutukan Allah swt sebagaimana Ia tegaskan dalam firman-Nya di bawah ini,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ

Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya. (Q.S. al-Kahfi [18]: 110)

Konteks ini ayat ini berkaitan dengan sahabat Jundub bin Zuhair al-Amiri yang agak ke-PD-an dengan amalnya sendiri sebagaimana dijelaskan oleh Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib dan Syekh Nawawi Banten dalam Tafsir Marah Labid. Sahabat Jundub lalu bilang pada Rasulullah,

إِنِّيْ أَعْمَلُ الْعَمَلَ للهَ تَعَالَى فَإِذَا اِطَّلَعَ عَلَيْهِ أَحَدٌ سَرَّنِيْ

“Aku akan beramal karena Allah. Karena itu, jika Allah melihat amalku, maka itu akan membuatku bahagia.” Lalu Nabi menjawab,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مَا شورك فيه

“Allah itu tidak akan menerima amalan yang di dalamnya terdapat unsur menyekutukanku” (HR Thabrani). Artinya, sahabat Jundub masih merasa ingin dianggap bahwa Allah melihat amalnya. Namun di lain kesempatan Nabi juga bilang padanya,

لَكَ أَجْرَانِ أَجْرُ السِّرِّ وَأَجْرُ الْعَلَانِيَةِ

“Kamu mendapatkan dua pahala, yaitu pahala menyembunyikan amal dan memperlihatkannya” (HR Ibnu Majah).

Baca Juga: Tiga Lingkungan Belajar yang Harus Diperhatikan Oleh Pelajar

Dalam hal ini, tidak semua amalan yang disembunyikan tidak baik dan baik juga, dan sebaliknya amalan yang ditampakkan tidak sepenuhnya buruk juga. Artinya, jikalau amalan itu memang sengaja kita tampakkan dengan tujuan agar orang lain berpotensi meniru apa yang kita lakukan, itu sah-sah saja.

Menurut al-Razi, yang dimaksud dengan musyrik atau menyekutukan Allah adalah seseorang menjadikan sekutu sebagai mitra bagi apapun yang diperbuatnya, apakah mencari ilmu, beribadah maupun bekerja. Karena itu, lanjut al-Razi, bagi pelajar hendaknya tidak menjadikan selain Allah Swt sebagai mitra bagi apapapun pekerjaannya. Sekutu yang dimaksud dapat berupa materialisme, tujuan keduniaan, harta, tahta, reputasi, pangkat, jabatan, wanita, dan semacamnya karena hal tersebut dilarang oleh agama sebab dapat mengotori rasa keikhlasan kita kepada Allah Swt. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 19-21

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 19-21 berbicara mengenai tiga hal. Pertama meyinggung kembali apa yang telah dibahas pada ayat 17-18. Kedua mengenai al-Qur’an sebagai pedoman manusia. Ketiga mengenai persangkaan orang kafir.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 17-18


Ayat 19

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik tidak mengetahui syariat Allah dan tidak mengakui keesaan-Nya. Karenanya mereka tidak akan dapat menolak atau menghindari azab Allah yang ditimpakan kepada mereka di akhirat.

Kemudian diterangkan bahwa orang-orang musyrik itu saling menolong antara yang satu dengan yang lain dalam melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Ditegaskan bahwa tipu muslihat mereka dijalankan dengan bersekongkol untuk merintangi dan merusak agama Islam dan memecah belah kaum Muslimin.

Hal seperti ini dapat mereka lakukan selama hidup di dunia saja, sedangkan di akhirat nanti hal itu tidak dapat mereka lakukan. Pada hari itu, seseorang tidak dapat menolong orang lain dan tidak dapat menanggung dosa orang lain; tiap-tiap orang bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri-sendiri.

Pada akhir ayat, Allah menegaskan bahwa Dia pelindung orang yang bertakwa. Takwa yang mereka lakukan untuk mencari keridaan Allah itu dibalas oleh-Nya dengan pahala yang berlipat ganda di akhirat.


Baca juga: Mengenal Tafsir Tematik Karya Imam As-Sa’di


Ayat 20

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Al-Qur’an itu adalah pedoman hidup bagi manusia, petunjuk dan rahmat yang dikaruniakan kepada hamba-Nya yang meyakininya.

Al-Qur’an disebut pedoman karena di dalamnya terdapat dalil-dalil dan keterangan-keterangan agama yang sangat mereka perlukan untuk kesejahteraan manusia di dunia dan kebahagiaan mereka di akhirat.

Petunjuk dan rahmat Allah itu hanya akan dapat dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar yakin dan percaya kepada Allah dan Rasul-Nya dalam melaksanakan isi Al-Qur’an.

Ayat 20

Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menanyakan kepada orang-orang kafir Mekah tentang persengketaan mereka dengan maksud menyangkal dugaan mereka. Mereka menduga bahwa Allah akan memperlakukan dan akan memberikan balasan yang sama kepada mereka seperti yang diberikan kepada orang-orang yang beriman.

Apakah Allah akan mempersamakan orang yang beriman kepada-Nya tetapi tidak melaksanakan syariat-Nya dengan orang yang beriman yang melakukan syariat-Nya. Jawabannya, tentu tidak, sekali-kali tidak, sebagaimana firman Allah:

لَا يَسْتَوِيْٓ اَصْحٰبُ النَّارِ وَاَصْحٰبُ الْجَنَّةِۗ  اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ   ٢٠

Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (al-Hasyr/59: 20)

Dalam ayat-ayat lain, diterangkan bahwa tidaklah sama orang-orang yang beriman yang melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya dengan orang-orang fasik, yaitu orang yang beriman dan mengakui adanya perintah-perintah dan adanya larangan Allah, tetapi tidak melaksanakannya, Allah berfirman:

اَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًاۗ  لَا يَسْتَوٗنَ  ١٨

Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama. (as-Sajdah/32: 18)

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa semua dugaan dan sangkaan orang-orang kafir itu adalah dugaan dan sangkaan yang tidak benar dan mustahil terjadi. Karena itu, hendaklah kaum Muslimin waspada terhadap sangkaan itu sehingga tidak terpengaruh olehnya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 22


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 17-18

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 17-18 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai keutamaan yang dianugerahkan kepada Bani Israil. Kedua berbicara mengenai perintah kepada Rasulullah SAW agar tidak terpengaruh oleh orang-orang kafir.

Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 15-16


Ayat 17

Pada ayat ini, dijelaskan keutamaan yang keenam yang pernah diberikan Allah kepada Bani Israil yaitu bahwa Allah telah memberikan kepada mereka kemampuan memahami dalil-dalil dan keterangan-keterangan tentang agama. Keterangan itu adakalanya berupa hukum, peringatan, dan ada pula yang berupa mukjizat.

Semua dipahami dan dilaksanakan dengan baik sehingga kehidupan mereka menjadi baik, tidak terjadi perselisihan sesama mereka dan ikatan masyarakat mereka menjadi baik pula, karena itu banyak usaha besar yang dapat mereka lakukan waktu itu.

Sebenarnya ketentuan seperti di atas tidak saja berlaku bagi Bani Israil, tetapi juga berlaku bagi semua bangsa yang mau melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-Nya serta tunduk, patuh dan berserah diri kepada-Nya.

Jika demikian, maka kebahagiaan yang diperoleh tidak saja berupa kebahagiaan dunia, tetapi juga kebahagiaan akhirat. Seakan-akan dengan ayat ini Allah mengingatkan manusia agar mencontoh kehidupan Bani Israil pada zaman dahulu itu.

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan sebab-sebab terjadinya perselisihan di kalangan Bani Israil yang datang kemudian. Nabi-nabi mereka dahulu pernah menerangkan bahwa akan datang Nabi penutup nanti, yang diutus kepada semua manusia. Nabi itu termasuk keturunan Ibrahim dari anaknya Ismail.

Setelah Nabi yang dimaksud itu datang dan memberikan keterangan sesuai dengan keterangan yang disampaikan nabi-nabi mereka dahulu, mereka pun mengingkarinya, dan tidak mempercayainya.

Kedengkian itu timbul karena Nabi yang diutus itu bukan dari keturunan Ishak, dan mereka menganggap bahwa keturunan Ishak lebih mulia dari keturunan Ismail walaupun keduanya adalah saudara seayah (Nabi Ibrahim). Karena itu, tidak pantas nabi dan rasul terakhir diangkat dari keturunannya. Allah berfirman:

وَمَا تَفَرَّقُوْٓا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ

Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah kecuali setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. (asy-Syura/42: 14)

Mengenai masalah yang mereka persengketakan itu, Allah akan memberikan keputusan-Nya pada hari Kiamat dan akan menjelaskan alasan yang sebenarnya yang menyebabkan terjadinya perselisihan di antara mereka.

Pada saat itu, nampak dengan jelas hasad dan kedengkian mereka, yang menjurus kepada fanatik golongan sehingga nikmat yang semula harus disyukuri, malah menjadikan mereka sombong dan takabur.


Baca juga: Mengenal Secangkir Tafsir Juz Terakhir Karya Salman Harun


Ayat 18

Kemudian Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar jangan terpengaruh oleh sikap orang-orang Quraisy karena Allah telah menetapkan urusan syariat yang harus dijadikan pegangan dalam menetapkan urusan agama dengan perantara wahyu. Maka peraturan yang termuat dalam wahyu itulah yang harus diikuti, tidak boleh mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahuinya.

Syariat yang dibawa oleh para rasul terdahulu dan syariat yang dibawa Nabi Muhammad pada asas dan hakikatnya sama, sama-sama berasaskan tauhid, membimbing manusia ke jalan yang benar, mewujudkan kemaslahatan dalam masyarakat, menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat mungkar.

Jika terdapat perbedaan, maka perbedaan itu bukan masalah pokok, hanya dalam pelaksanaan ibadah dan cara-caranya. Hal itu disesuaikan dengan keadaan, tempat dan waktu.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 19-21


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 15-16

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 15-16 berbiacara mengenai dua hal. Pertama mengenai balasan yang akan diperoleh oleh setiap individu tergantung amal perbuatannya. Kedua mengenai anugerah yang telah diberikan kepada Bani Israil.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 14


Ayat 15

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa tiap-tiap orang akan mendapat balasan masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Maka barang siapa di antara hamba-Nya menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh keikhlasan dan kesadaran, maka hasilnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Ia akan memperoleh tempat kembali yang penuh kenikmatan.

Sebaliknya barang siapa yang mengingkari perintah-perintah-Nya dan tidak menghentikan larangan-larangan-Nya, maka akibat buruk sebagai balasan perbuatannya itu akan menimpa dirinya sendiri. Ia akan mendapat tempat kembali yang buruk, hina, dan azab yang sangat berat di dalam neraka.

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa hanya kepada Allah dikembalikan semua makhluk, tidak kepada yang lain. Semuanya akan dikumpulkan di padang Mahsyar untuk menerima keputusan yang adil dari Allah.

Di antara mereka ada yang berseri-seri wajahnya kegirangan karena ia akan bertemu dengan Allah yang selalu diharapkan selama hidup di dunia. Mereka yakin bahwa Allah mengasihi hamba-Nya yang tabah, sabar dan selalu tunduk dan patuh kepada-Nya.

Sebaliknya, ada pula orang yang muram mukanya karena hatinya penuh ketakutan dan penyesalan. Mereka takut menemui Allah karena akan menerima kemurkaan-Nya serta akan merasakan siksaan yang sangat pedih di dalam neraka.


Baca juga: Kriteria-kriteria Tafsir Kontekstual Menurut Ali Mustafa Yaqub


Ayat 16

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Bani Israil telah diberi Kitab Taurat, kemampuan memahami agama, kenabian, rezeki yang berlimpah dan keutamaan yang melebihi bangsa-bangsa lain pada masanya itu.

Anugerah yang diberikan Allah kepada Bani Israil pada waktu itu adalah seimbang dengan sikap dan usaha Bani Israil menegakkan agama Allah. Karena itu, keutamaan yang diberikan itu juga merupakan keutamaan dunia dan akhirat. Dalam ayat yang ini disebutkan enam macam anugerah yang telah diberikan kepada mereka, yaitu:

Pertama : Kitab Taurat

Kitab ini diturunkan kepada Nabi Musa. Di dalamnya terdapat petunjuk, pelajaran dan ketentuan-ketentuan yang dapat membimbing Bani Israil ke jalan yang benar. Kitab ini khusus diturunkan Allah untuk Bani Israil.

Kedua : Kemampuan memahami agama Allah.

Dengan kemampuan ini, Musa, Harun beserta pemimpin kaumnya dapat menjelaskan persengketaan yang terjadi di antara kaumnya dan dengan kemampuan ini pula dapat diterangkan agama Allah kepada Bani Israil dengan baik.

Ketiga : Kenabian

Banyak di antara para rasul dan para nabi yang diutus Allah diangkat dari Bani Israil; ada di antara mereka sebagai Nabi saja seperti Nabi Khidir, ada pula sebagai nabi dan rasul seperti Musa, Harun, Ayyub, dan lain-lain, dan ada pula nabi dan rasul yang diangkat dari kalangan mereka di samping bertugas sebagai nabi dan rasul, juga sebagai kepala negara seperti Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Dengan demikian, terhimpunlah kekuasaan dunia dan agama pada mereka.

Keempat: Rezeki yang berlimpah-limpah

Bani Israil telah dianugerahi Allah masa kejayaan dan keemasan pada masa-masa pemerintahan Nabi Daud dan pada masa pemerintahan putranya Sulaiman.

Banyak kisah yang menceritakan keagungan dan kejayaan Bani Israil pada masa kedua pemerintahan anak dan bapak itu.

Kekuasaan dan kebijaksanaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman diterangkan dalam Al-Qur’an. Apa yang pernah dicapai Bani Israil pada waktu itu tidak didapatkan oleh bangsa lain yang sezaman dengannya.

Kelima: Keutamaan mereka yang melebihi bangsa-bangsa lain pada zamannya yaitu pada zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.

Keenam: Allah telah memberikan kepada mereka hukum-hukum dan ajaran-ajaran yang diperkuat dengan mukjizat-mukjizat. Hal ini yang mendorong mereka untuk bersatu dan mereka tidak berselisih melainkan hanya perselisihan yang ringan yang tidak membawa kemudaratan.

Akan tetapi tatkala datang ilmu kepada mereka, mereka berselisih sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah tersebut di atas. Perselisihan di antara mereka itu timbul setelah datang hujjah (argumen) yang nyata karena perebutan soal pimpinan dan kedengkian di antara mereka.

Sehubungan dengan keutamaan yang diperoleh Bani Israil ini, Ibnu ‘Abbas pernah berkata, “Tidak ada seorang pun di antara orang-orang di dunia ini yang dicintai Allah melebihi mereka itu.”

Allah telah menampakkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang dapat dilihat, didengar, dan dipahami mereka. Mereka pun mengikuti segala petunjuk Allah. Demikian keadaan Bani Israil pada zaman itu.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat  17-18


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 14

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 14 berbicara mengenai perintah untuk lapang dada dalam menghadapi sikap-sikap orang-orang musyrik. Selain itu juga disampaikan sebab nuzul dari ayat 14 ini.


Baca setbelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 13


Ayat 14

Al-Wahidi dan Al-Qusyairi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini turun berhubungan dengan persoalan yang terjadi antara ‘Umar bin Khattab dan Abdullah bin Ubay dalam peperangan Bani Mustalik.

Mereka singgah di sebuah sumur yang disebut Al-Muraisi’, kemudian Abdullah mengutus seorang anak muda mengambil air, tetapi pemuda itu lama sekali kembali, Abdullah bin Ubay bertanya kepada pemuda itu mengapa begitu lama ia baru kembali.

Pemuda itu menjawab bahwa Umar duduk di pinggir sumur. Ia tidak membiarkan seorang pun mengambil air sebelum ia mengisi girbai (tempat air dari kulit) Nabi Muhammad saw, girbai Abu Bakar, dan girbai bekas budak Umar, lalu Abdullah bin Ubay berkata, “Kami dan mereka tidak ubahnya seperti perumpamaan: Gemukkan anjingmu, maka ia akan memakan engkau.”

Kemudian kata-kata Abdullah itu sampai kepada Umar. Beliau menjadi marah, lalu menghunus pedangnya untuk membunuh Abdullah bin Ubay, maka turunlah ayat ini yang melunakkan hati Umar.

Selanjutnya Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw dan para pengikutnya agar berlapang dada dalam menghadapi sikap kaum musyrikin dan memaafkan tindakan mereka yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah. Mereka adalah orang yang menentang Allah dan tidak takut kepada ancaman-Nya.

Dari ayat ini dipahami nilai budi pekerti yang tinggi yang diajarkan agama Islam kepada penganutnya yaitu berlapang dada dan memaafkan orang-orang yang pernah bertindak tidak baik terhadap dirinya atau berusaha menghancurkan agamanya.

Memaafkan kesalahan keluarga, teman sejawat, tetangga dan kenalan dapat dengan mudah dilakukan seseorang, tetapi berlapang dada dan memaafkan perbuatan orang yang selalu ingin merusak diri dan agamanya pada setiap kesempatan memerlukan kebesaran jiwa.

Ayat ini mengajarkan dan mendidik kaum Muslimin agar dapat berlapang dada, suka memaafkan, dan berjiwa besar dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidupnya.


Baca juga: Na’ilah Hashim Sabri, Perempuan Pertama Penulis Lengkap Tafsir Alquran


Pada akhir ayat ini Allah menerangkan mengapa Rasulullah saw dan pengikut-pengikutnya harus berlapang dada dan memaafkan tindakan orang Quraisy yang memperolok-olok ayat-ayat Allah itu. Sebabnya ialah karena Allah yang akan memberikan pembalasan yang setimpal kepada mereka sesuai dengan perbuatannya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 15-16


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 13

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 13 berbicara mengenai anugerah Allah SWT berupa penundukan semua makhluk ciptaannya untuk manusia. Selain itu juga dijelaskan mengenai fenomena alam yang berkaitan dengan anugerah tersebut.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 11-12


Ayat 13

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menundukkan semua makhluk ciptaan-Nya yang ada di langit dan di bumi agar manusia dapat menggunakan dan memanfaatkannya untuk kepentingan mereka dalam melaksanakan tugas sebagai khalifah Allah di bumi.

Hal ini berarti bahwa manusia wajib berusaha mencari manfaat dan kegunaan ciptaan Allah bagi mereka. Kunci dari semuanya adalah kemauan berusaha dan keinginan mengetahui sebagian pengetahuan Allah.

Hal ini telah dimulai oleh manusia sejak zaman dahulu sampai sekarang sehingga semakin lama umur bumi ini didiami manusia, semakin banyak pula ilmu Allah yang diketahui manusia dan manfaat alam semesta. Semua ini untuk kepentingan hidup dan kehidupan manusia. Namun, baru sebagian kecil saja dari ilmu Allah yang telah diketahui manusia.

Ciptaan Allah yang ada di langit seperti matahari, bulan, bintang-bintang, awan, angin, air hujan, dan ciptaan-Nya yang ada di bumi seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, lautan dan sebagiannya semua diciptakan-Nya di samping sebagai rahmat dan karunia-Nya kepada manusia juga mengandung tanda-tanda kekuasaan dan keagungan-Nya, yang menunjukkan bahwa penciptanya adalah Zat Yang Maha Esa.

Tidak ada Tuhan yang lain selain Dia, yang selalu menjaga makhluk-Nya dan tidak layak dipersekutukan dengan sesuatu pun. Kesimpulan seperti ini hanya akan diperoleh oleh hamba Allah yang melakukan pengamatan dengan cermat, menggunakan pikiran yang sehat dan mau mencari kebenaran.

Apabila seseorang mau memperhatikan alam semesta, mau memperhatikan hubungan kesatuan satu jenis makhluk dengan makhluk yang lain, tentulah ia akan sampai kepada kesimpulan bahwa masing-masing kesatuan itu ada kaitannya antara yang satu dengan yang lain, tidak dapat lepas atau berdiri sendiri.

Terlihat dalam proses terjadinya hujan, erat hubungannya dengan adanya laut, adanya gunung-gunung, adanya panas yang dipancarkan matahari, adanya angin dan sebagainya. Demikian pula perkisaran arah angin ditentukan oleh banyak hal, seperti adanya awan, gunung dan panas matahari.

Kapal yang berlayar di laut memerlukan hembusan angin atau bahan bakar seperti batubara atau minyak. Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang semakin banyak pula ia mengetahui hubungan antara satu makhluk dengan makhluk-makhluk yang lain. Bulan tidak dapat melepaskan lintasannya dari bumi, seolah-olah tertawan oleh bumi, demikian pula bumi dan planet-planet yang lain menjadi tawanan matahari.


Baca juga: Merencanakan Generasi Terbaik dengan Membatasi Kelahiran Anak


Planet-planet itu selalu mengitari matahari pada garis edarnya masing-masing. Selanjutnya matahari dan planet-planet yang mengikuti tidak dapat melepaskan diri dari kesatuan yang lebih besar, yaitu Galaksi Bimasakti. Akhirnya Galaksi Bimasakti bersama-sama galaksi-galaksi yang lain terikat pula kepada tata susunan tertentu pula. Maka dengan pemikiran dan penelitian orang akan sampai kepada kesimpulan bahwa penciptanya tentulah Zat Yang Maha Esa lagi Mahakuasa.

Ayat di atas sebagaimana banyak ayat senada memperlihatkan bagaimana Allah menundukkan langit dan bumi untuk manusia. Seperti diketahui alam memiliki sifat-sifat fisis yang semuanya merupakan ketetapan Allah, Sunatullah, dan merupakan manifestasi ketertundukan alam. Sebagai contoh, bumi memiliki sifat-sifat fisis seperti kelistrikan, kemagnetan, elastisitas dan kerapatan massa.

Dari sifat-sifat fisis tersebut manusia, khususnya para ahli geologi, dapat mempelajari bumi bahkan sampai jauh menembus bumi. Dengan memanfaatkan sifat elastisitas bumi, manusia bisa menangkap gelombang-gelombang gempa yang menjalar dalam perut bumi dan mengetahui karakter fisis lapisan bumi yang dilaluinya.

Dengan gelombang gempa ini manusia dapat mengetahui lapisan-lapisan bumi dari atas hingga inti bumi yang berada sekitar 6000 km di bawah kita. Pada penggunaan praktis, pencarian minyak bumi menggunakan sifat elsatisitas bumi ini yakni dengan mengirim gelombang yang sumbernya berasal ‘gempa buatan’, yang di masa lalu menggunakan dinamit.

Di bagian dalam bumi terdapat inti bumi, yang bagian luarnya bersifat cair. Inti inilah yang menyebabkan bumi memiliki medan magnet kuat yang berperan penting dalam menjaga kelangsungan kehidupan. Menyebar jauh di atas permukaan, medan magnet ini melindungi bumi dari radiasi yang merusak dan berasal dari angkasa luar.

Radiasi dari bintang selain matahari tidak dapat melewati perisai ini, yang disebut dengan nama Sabuk Van Allen. Perisai ini merentang hingga sekitar 18.000 km dari bumi, melindungi bola ini dari energi mematikan. Dalam aspek praktis, dengan mengetahui sifat kemagnetan ini pula para ahli-ahli kebumian mengembangkan metode-metode eksplorasi baik mineral maupun minyak bumi.

Pernyataan mengenai penciptaan yang dilakukan bukan untuk main-main, banyak di kemukakan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Pernyataan inilah yang menjamin bahwa bumi layak huni. Bumi dimudahkan Allah untuk dihuni umat manusia.

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ   ١٥

Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi.             (al-Mulk/67: 15)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 14


Siratan Pesan Azyumardi Azra untuk Kebangkitan Islam Asia Tenggara

0
Azyumardi Azra
Azyumardi Azra

Minggu (18/9), Indonesia kehilangan salah satu tokoh intelektual muslim berpengaruh, Azyumardi Azra, cendekiawan Islam berkaliber internasional. Sang sejarawan tersohor ini menghabiskan sebagian besar umurnya untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan dan memajukan pendidikan Islam di Indonesia. Jasa Prof. Azra-begitu sapaan akrabnya-antara lain memesatkan Perguruan Tinggi Keislaman Negeri (PTKIN) dengan gagasan-gagasannya. Melansir kompas.com, Menag Yaqut pun juga menegaskan demikian dalam pidato duka cita.

Selama hidup, semangat Prof. Azra untuk memajukan keilmuan Islam tak pernah habis. Di hembus napas terakhir pun, beliau sedang dalam perjalanan konferensi ilmiah di Kajang, Malaysia. Pada kesempatan itu, beliau sedianya hendak menyampaikan makalah bertajuk Nusantara untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan Peran Umat Muslim Asia Tenggara.”

Baca juga: Yusuf al-Qaradhawi: Pengkaji Alquran dan Maestro Kajian Islam Kontemporer

Dalam tulisan tersebut, Prof. Azra memberi pesan kepada intelektual muslim Asia Tenggara untuk bersiap menyongsong kebangkitan Islam. Di sisi lain, juga mengusulkan strategi bagaimana Islam dapat mewujudkannya. Kebangkitan yang sebelumnya bagi tokoh pembaru ini masih setahap formalitas; antusiasme terhadap Islam yang masih sekadar cenderung pada aspek ritual. (Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia tenggara, xvii).

Dekadensi Barat dan celah untuk Timur

Berbagai karya tokoh Barat yang diulas dalam makalah tersebut, yang memberikan sinyal bahwa peradaban Barat mengalami dekadensi sejak abad 20, menjadi angin segar bagi dunia Timur untuk mengambil alih kekuasaan. Meski wacana itu sarat pro-kontra, dan hari ini pun Amerika masih menunjukkan kedikdayaannya, posisi China sebagai wakil dunia Timur sedikit demi sedikit melemahkan Barat.

Azra menyebutkan kebangkitan China pada bidang sains, teknologi, dan lebih-lebih ekonomi adalah sangat signifikan dan mampu menekan hegemoni Amerika. Bahkan, dalam beberapa aspek seperti ekonomi dan devisa, Amerika menunjukkan ketergantungan terhadap negeri ini. Kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi kaum muslim Timur khususnya Asia Tenggara untuk mengupayakan kebangkitan.

Asia Tenggara digadang sebagai aktor dalam menyukseskan kebangkitan Islam berdasarkan usulan pemerintahan negara muslim di Asia Barat dan Selatan. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi salah satu lantaran mengapa mayoritas negara muslim di Asia menaruh harapan besar kepada Asia Tenggara. Di sisi lain, juga atas pertimbangan bahwa negara dengan populasi muslim mayoritas di wilayah tersebut–yakni Indonesia dan Malaysia-menganut sistem demokrasi, yang cenderung non-blok. Karena itulah, diharapkan dua negara ini mampu berpartisipasi aktif untuk membangkitkan peradaban Islam antara lain dengan memoderasi konflik Timur Tengah.

Strategi kebangkitan Islam

Fakta memang menunjukkan bahwa mayoritas muslim di Asia termasuk bagian dari negara dunia ketiga. Kenyataan tersebut bersesuaian dengan pernyataan Azra bahwa kebangkitan Islam hari ini masih sebatas euforia. Masyarakat muslim butuh merancang strategi agar cita-cita tersebut tidak lebur di permukaan. Beliau menandaskan beberapa aspek yang mesti digarap demi kebangkitan itu terwujud. Aspek tersebut meliputi peningkatan kualitas pendidikan, penguatan sistem politik, pengembangan masyarakat madani dan beradab, serta penguatan ekonomi.

Dalam aspek pendidikan, Azra menekankan peningkatan mutu pendidikan. Untuk memperbaiki ilmu pengetahuan dalam rangka menyukseskan kebangkitan Islam, muslim Indonesia dan Malaysia tidak cukup hanya fokus pada pemerataan pendidikan, melainkan harus pula menyediakan sistem pendidikan yang berkualitas. Lebih-lebih dalam taraf sekolah tinggi. Dua motor penggerak peradaban Islam ini diharapkan mampu mewujudkan universitas berbasis riset, bukan sekadar pengajaran saja.

Orientasi riset yang disarankan Azra sejalan dengan prinsip pendidikan dalam Islam. Islam menuntun untuk membangun kepakaran (Q.S. Attaubah ayat 122); menganalisis peristiwa dengan data yang akurat dan otoritatif–tidak menerima mentah-mentah-(Q.S. Ala’raf ayat 179 & Q.S. Alhujurat ayat 6); berpikir kritis dan filosofis (Q.S. Albaqarah ayat 70 & Q.S. Alan’am ayat 75-81), dan lain-lain.

Baca juga: Urgensi Rasionalitas dalam Pendidikan Islam

Politik sebagai bagian vital dalam pembangunan peradaban juga harus diperhatikan. Baik Indonesia maupun Malaysia sama-sama mesti memperkuat sistem demokrasi. Kendati telah diterapkan sejak lama, dalam praktiknya sistem ini masih belum diterapkan dengan baik oleh seluruh elemen masyarakat dua negara tersebut, baik dari lembaga pemerintah maupun non-pemerintah.

Mewujudkan masyarakat madani atau masyarakat kewargaan (civil society) adalah pesan Azra yang tak kalah urgen. Komponen ini meniscayakan sistem politik demokrasi yang sehat. Dalam perspektif Islam, civil society dapat dibangun berdasarkan nilai universal Qurani seperti egaliterianisme, toleransi, pluralisme, keadilan, dan musyawarah sebagaimana yang diajarkan dan dipraktikkan Nabi saat membangun Madinah (prototipe civil society dalam Islam, yang kemudian dikenalkan oleh Naquib al-Attas dengan istilah al-mujtama’ al-madani atau masyarakat madani) (Ahmad Suaedy, Akar-akar Civil Society dalam Islam, 56-57).

Keterbukaan dan kesetaraan individual maupun kolektif juga semestinya dibarengi dengan etika sosial yang baik. Mengamati dekadensi moral yang terus meningkat sebagai imbas dinamika zaman 5.0, Azra juga berpesan untuk membangun masyarakat yang tak hanya demokratis, tetapi juga beradab. “Hanya dengan keadaban publik yang kuat, negara Indonesia dapat maju, berharkat, dan berperadaban,” tegas Azra dalam halaman 21.

Pembangunan masyarakat beradab jika dihadapkan dengan era digital seperti sekarang ini juga mesti diterapkan di dunia maya. Artinya, prinsip seperti menghormati perbedaan, berperilaku sopan, serta bijak dalam berkomentar seharusnya juga diterapkan di ruang digital. Dengan begitu, nilai Islami yang sejatinya selaras dengan prinsip kemanusiaan tersebut akan benar-benar diterapkan oleh masyarakat Muslim. Selanjutnya, diharapkan Islam lekas dikenal sebagai negara yang beradab dan berperikemanusiaan. (penjelasan ini antara lain dapat ditinjau dalam tafsir Q.S. Alhujurat ayat 11 & 13 tentang larangan untuk memantik konflik dengan mengolok-olok dan sebagainya, kesadaraan terhadap pluralitas manusia, serta tuntunan untuk toleransi, dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, jilid 26).

Baca juga: Etika Bermedia Sosial dalam Pandangan Alquran

Poin terakhir yang tak kalah krusial ialah penguatan ekonomi. Tanpa ekonomi yang stabil, mustahil suatu bangsa dapat makmur dan sejahtera. Jika demikian, impian membangkitkan peradaban pun tidak dapat tercapai. Berdasarkan data worldpopulationreview.com, negara berpenduduk mayoritas muslim masih menduduki posisi rentan di sektor ekonomi.

Indonesia dan Malaysia diharapkan mampu mengupayakan penguatan ekonomi secara maksimal, terlebih dua negara ini juga masih setaraf negara berkembang. Dalam ikhtiar di bidang ekonomi, Azra juga berpesan untuk bijak dalam mengembangkan sektor ekonomi; tidak eksploitatif terhadap sumber daya alam.

Dengan membumikan prinsip Islam sebagai agama pembawa rahmat untuk semesta alam, mengembangkan perekonomian dapat diwujudkan antara lain dengan pemanfaatan sumber energi terbarukan sebagai lahan industri. Elemen ini seperti yang diisyaratkan dalam Q.S. Annahl ayat 10-14, tentang pemanfaatan sumber energi air, tenaga surya, bumi, dan bahari.

Sekarang waktu bagi kita untuk berupaya mewujudkan pesan-pesan tersebut secara optimal. Cukup kiranya kita mencari dalil sebagai pembenaran terhadap langkah yang mesti ditempuh untuk membangkitkan peradaban Islam atau untuk mendefinisikan kebangkitan Islam itu sendiri, yang seringkali justru berujung pada pemahaman yang problematik dan memicu langkah menyimpang. Pesan sang mahaguru sudah cukup dikatakan Islami karena terbukti memang selaras dengan prinsip-prinsip Islam yang disampaikan Nabi. Saatnya kita meneruskan ikhtiar beliau agar kebangkitan bagi Islam tidak hanya menjadi utopia. Wallahu a’lam []