Beranda blog Halaman 112

Tafsir Surah Ad-Jatsiyah Ayat 5 (I)

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Ad-Jatsiyah Ayat 5 (I) berbicara mengenai siklus antara siang dan malam. Dari siklus tersebut ada sebagian negara memiliki masa waktu yang hampir sama antara siang dan malam. Namun sebagain negara tidak memiliki masa waktu yang sama atara siang dan malam.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Jatsiyah Ayat 4


Ayat 5 (I)

Pada ayat ini, Allah mengingatkan manusia akan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya yang terdapat pada pergantian siang dan malam baik dari segi panjang dan pendeknya.

Dari segi pergantian, orang dapat menyaksikan sejak matahari terbit di kaki langit sebelah timur hingga terbenam di kaki langit sebelah barat. Di siang hari, orang tidak menyaksikan apa pun di langit, terkecuali matahari yang bersinar dengan terangnya. Pada waktu itu, kebanyakan manusia bekerja dan berusaha mencari nafkah, memenuhi kebutuhan hidupnya.

Matahari bergerak meninggalkan ufuk sebelah timur makin lama makin meninggi. Kemudian ia terlihat di meridian. Sesudah itu, makin menurun menuju ufuk langit sebelah barat. Akhirnya ia tenggelam di ufuk sebelah barat.

Sejak itu, hari berangsur-angsur gelap, kadang-kadang terlihat awan kemerah-merahan, lalu mulailah bermunculan binatang-binatang satu demi satu, dari bintang yang paling terang cahayanya sampai kepada bintang yang bercahaya redup.

Setelah gelap menyelubungi permukaan bumi seluruhnya, bertambah jelaslah nampak bintang-bintang bertaburan di angkasa raya, berbagai macam rasi dan aneka warna cahayanya.

Pada penghujung malam, mulailah kelihatan fajar menyingsing di ufuk timur, sebagai tanda tidak lama lagi matahari akan terbit kembali. Sejak itulah, cahaya bintang mulai redup kembali karena cahayanya mulai dikalahkan oleh cahaya matahari.

Begitulah seterusnya orang dapat menyaksikan keadaan itu berulang-ulang. Suasana yang seperti itu terjadi di negeri-negeri yang berada di daerah khatulistiwa, sedangkan belahan bumi bagian selatan dan utara akan mengalami keadaan siang lebih panjang atau lebih pendek dari malam, sesuai dengan lintang dan deklinasi matahari.

Dari segi panjang pendeknya malam dan siang, orang yang berada di khatulistiwa selamanya akan menyaksikan panjang pendeknya siang malam yang hampir sama. Daerah yang berada di selatan khatulistiwa akan mengalami siang lebih panjang apabila matahari berada di sebelah selatan, tetapi akan mengalami siang yang lebih pendek apabila matahari berada di sebelah utara khatulistiwa.


Baca juga: Simbolisasi Kekayaan dalam Surah Alkahfi ayat 34


Demikian pula orang yang berada di sebelah utara khatulistiwa akan mengalami siang yang lebih panjang apabila matahari berada di sebelah selatan. Makin jauh suatu tempat baik ke utara maupun selatan khatulistiwa, makin jauh pula perbedaan panjang pendek waktu antara malam dan siang.

Bagi orang yang berada di kutub utara dan kutub selatan, dalam satu tahun ada masa malam yang terus menerus dan ada pula masa siang yang terus menerus. Pada masa siang terus menerus matahari selalu berada di atas cakrawala, selalu kelihatan tidak pernah masuk ke bawah kaki langit, sedangkan pada masa malam terus menerus, matahari selalu berada di bawah kaki langit, tidak pernah kelihatan dan tidak pernah melewati kaki langit ke atas.

Dengan memperhatikan pergantian siang dan malam, dan panjang pendeknya yang selalu berubah-ubah sepanjang tahun, akan terlihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, serta akan nampak adanya hukum-hukum yang mengaturnya dengan sangat rapi, tidak pernah menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 5 (II)


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 4

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 4 berbicara mengenai tanda lain dari kekuasaan Allah SWT, yaiitu bagaimana proses terciptanya manusia yang berawal dari berbagai zat dalam tanah hingga menjadi manusia dan kembali ke tanah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 3


Ayat 4

Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya pada kejadian manusia sendiri dan pada penciptaan binatang yang beraneka ragam jenis dan bentuknya.

Manusia diciptakan Allah dari unsur-unsur yang terdapat di dalam tanah. Berbagai zat yang terdiri dari karbohidrat, protein, zat lemak, zat gula, berbagai macam garam, berbagai macam vitamin, zat besi, dan sebagainya terkumpul dalam tubuh manusia, melalui makanan dan minuman yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Tumbuh-tumbuhan dan hewan itu semua berasal dari tanah. Allah berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ اِذَآ اَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُوْنَ  ٢٠

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. (ar-Rum/30: 20)

Sebagian dari zat yang dimakan manusia itu ada yang menjadi spermatozoa pada diri laki-laki dan ovum pada diri perempuan. Sperma dan ovum itu bertemu, pada saat terjadinya senggama antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian terjadilah pembuahan. Benih itu makin lama makin besar.

Empat puluh hari kemudian, terbentuklah jaringan-jaringan yang dipenuhi pembuluh-pembuluh darah. Empat puluh hari kemudian, terlihatlah calon janin yang berbentuk seperti darah yang mengental. Kemudian setelah empat puluh hari berikutnya terbentuklah janin yang melekat pada dinding rahim.

Pada saat itulah, mulai terlihat tanda-tanda kehidupan dan jantung bayi itu mulai berdenyut. Denyut jantung bayi itu telah dapat didengar apabila orang menempelkan telinganya ke bagian perut ibu yang sedang mengandung.

Sejak terjadinya pembuahan dalam kandungan ibu sampai kepada terlihatnya tanda-tanda kehidupan, diperlukan waktu empat bulan. Lima bulan sepuluh hari setelah itu, lahirlah janin dari kandungan.

Sejak itulah bayi itu bernapas dengan paru-parunya yang telah mulai bekerja, dan sejak itu pula ia berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungannya kepada orang tuanya, terutama kepada ibunya.


Baca juga: Na’ilah Hashim Sabri, Perempuan Pertama Penulis Lengkap Tafsir Alquran


Dia telah diberi akal, perasaan dan kemampuan bekerja sehingga dengan kemampuan yang diberikan itu, ia telah dapat melaksanakan tugas hidupnya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Akhirnya ia menjadi tua dan meninggal dunia.

Penciptaan manusia, Allah jelaskan dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُوْنُوْا شُيُوْخًا ۚوَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوْٓا اَجَلًا مُّسَمًّى وَّلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ  ٦٧

Dialah yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu dari segumpal darah, kemudian kamu dilahirkan sebagai seorang anak, kemudian dibiarkan kamu sampai dewasa, lalu menjadi tua. Tetapi di antara kamu ada yang dimatikan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) agar kamu sampai kepada kurun waktu yang ditentukan, agar kamu mengerti. (Gafir/40: 67)

Dengan memperhatikan proses penciptaan manusia, bagaimana sulit dan ruwetnya hukum-hukum yang berlaku dalam penciptaan itu, orang yang sadar akan mengakui kekuasaan dan keagungan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Allah menunjukkan juga tanda-tanda kekuasaan dan keagungan-Nya yang terdapat pada kejadian dan kehidupan binatang melata yang beraneka ragam, jenis, macamnya, dan cara-cara kehidupannya.

Dengan memperhatikan bentuknya, orang dapat membedakan binatang. Ada binatang yang beruas tulang belakang yang dalam Ilmu Hayat disebut “vertebrata”, ada yang tidak beruas tulang belakang (invertebrata).

Binatang yang beruas tulang belakang dibagi atas beberapa bagian seperti mamalia (binatang menyusui), jenis burung (aves), jenis binatang melata (reptilia), jenis binatang yang hidup di darat dan di air (amphibia), jenis ikan (pisces).

Binatang yang tidak beruas tulang belakang dibeda-bedakan lagi menjadi beberapa bagian seperti binatang berkutu (insektifora), binatang lunak (mollusca), hingga binatang yang bersel satu (protozoa).

Tiap-tiap jenis dan macam binatang itu mempunyai hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan sendiri-sendiri yang disusun dengan rapi seperti cara hidup, makanannya, cara berkembang biak, cara mempertahankan hidup, sampai kepada keagungan dan faidahnya.

Dan hal-hal yang diterangkan itu akan menjadi iktibar dan pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir dan ingin mengetahui betapa Maha Tingginya Ilmu penciptanya; dengan demikian, akan memperkuat iman di hatinya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Jatsiyah Ayat 5 (I)


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 3

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 3 berbicara mengenai salah satu contoh dari ke-Mahaperkasaan dank e-Mahabijaksanaan Allah SWT, yakni dapat dilihat dari kejadian-kejadian yang ada di langit dan bumi berserta isinya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 1-2


Ayat 3

Ayat ini menerangkan bahwa sebagai bukti Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, dapat dilihat pada kejadian langit, bumi, pada diri manusia dan pada binatang yang beraneka ragam macamnya.

Ditegaskan bahwa di langit dan di bumi, banyak sekali terdapat tanda-tanda kekuasaan dan keperkasaan Allah. Orang yang berpikiran sederhana, pasti akan berkesimpulan bahwa di balik kejadian langit dan bumi beserta semua yang ada di antaranya, tentu ada zat yang Maha Pencipta lagi Mahakuasa. Apalagi orang yang tinggi ilmunya, tentu lebih dapat memahaminya lagi.

Penciptaan langit, bumi dan isinya yang sangat menakjubkan sebagai tanda keagungan dan kekuasaan Allah bagi orang beriman, dan menunjukkan Allah-lah yang berhak disembah bukan selain Dia.


Baca juga: Mengenal Rashad Khalifa, Pelopor Teori Keajaiban Angka 19 dalam Al-Qur’an


Dalam ayat ini disebutkan orang yang beriman bukan yang lainnya, karena merekalah yang dapat mengambil manfaat bahwa pencipta langit dan bumi adalah Allah, maka mereka tidak menyembah kecuali kepada-Nya.

Pada akhir ayat ini, Allah menjelaskan bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di langit dan di bumi itu menjadi tanda dan bukti wujud dan kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman.

Dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di langit dan di bumi itu, orang yang berjiwa bersih, berpikiran sehat yang ingin mencari kebenaran dan tidak dipengaruhi oleh godaan setan tentulah akan menjadi orang yang menerima kenyataan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad saw itu benar-benar wahyu dari Allah yang harus dilaksanakan oleh setiap manusia yang ingin hidup bahagia di dunia dan di akhirat.

Sebaliknya, jiwa seseorang yang dikotori oleh noda-noda kemaksiatan, pikiran yang telah dibelenggu oleh kepercayaan syirik telah tergoda oleh tipu daya setan, maka bagaimana pun jelas dan cerahnya tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, mereka tidak akan dapat merasakan dan menghayatinya. Karena itu, mereka tetap bergelimang dalam kekafiran dan kemaksiatan.

Tanda-tanda kekuasaan Allah tersebar baik di langit maupun di bumi. Sebagai contoh adalah berkaitan dengan benda-benda langit seperti terurai pada Surah al-An’am/6: 96-97.

فَالِقُ الْاِصْبَاحِۚ وَجَعَلَ الَّيْلَ سَكَنًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ   ٩٦  وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ النُّجُوْمَ لِتَهْتَدُوْا بِهَا فِيْ ظُلُمٰتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ   ٩٧

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Kami telah menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.

Menurut kajian saintis, manusia sejak awal peradaban telah mengunakan benda-benda di langit seperti matahari dan bumi sebagai perhitungan penanggalan.

Penanggalan berbasis pada gerak dan posisi matahari di langit bumi, atau yang dikenal dengan Solar Calendar, telah dilakukan oleh peradaban Barat (berasal dari Romawi dan Yunani), India; sedang peradaban Yahudi, Arab, Cina, juga India menggunakan Lunar Calendar, yaitu perhitungan berbasiskan kepada gerak dan posisi bulan di langit bumi.

Dalam bahasa astronomi, Solar Calendar berbasiskan pada lintasan-orbit bumi terhadap posisi matahari, sedang Lunar Calendar berbasis pada lintasan-orbit bulan terhadap posisi bumi dan matahari. Demikian halnya bintang-bintang di langit sebagai yang digunakan sebagai indikator navigasi.

Dalam bahasa ilmiah, indikator navigasi yang menggunakan atau berbasiskan posisi bintang-bintang di langit ini disebut stellar navigation. Stellar navigation juga telah digunakan oleh para pengembara darat untuk menentukan arah perjalanannya.

Dalam dunia modern sekarang ini, ternyata stellar navigation juga telah digunakan oleh pesawat antariksa, seperti jenis pesawat Ulang-alik (Space Shuttle): Columbia, Challenger, dan Enterprise.

Demikan halnya tanda-tanda kekuasaan Allah yang dapat dijumpai di bumi. Salah satunya adalah seperti disebut dalam Surah asy-Syura/42: 32 di atas, di mana gunung-gunung yang menurut awam tetap ditempatnya, ternyata mengapung dan bergerak.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Jatsiyah Ayat 4


Polemik dan Contoh Tafsir Nabi

0
Polemik dan Contoh Tafsir Nabi
Polemik dan Contoh Tafsir Nabi

Nabi Muhammad saw. adalah manusia yang menerima wahyu Tuhan, yang kemudian beliau sampaikan kepada umatnya (Muhammad, Tafsir Nabi, 2001: 15). Sebagaimana yang tertuang dalam QS. Al-Maidah [5]: 67,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Tentunya, beliau sebagai penerima wahyu (audiens pertama), turut menafsirkan Alquran. Sebab, kita telah pahami bersama, bahwa apa yang ada dalam Alquran, tidak semuanya adalah ayat muhkam (jelas, yang tidak memerlukan penafsiran). Ada sebagian ayat yang muskil. Lantas, yang menjadi sebuah persoalan adalah apakah Nabi menafsirkan Alquran, dan berapa banyak ayat yang ditafsirkan oleh Nabi saw.?

Terdapat tiga argumen mengenai apakah Nabi Muhammad saw. menafsirkan sedikit atau seluruh Alquran. Imam al-Zahabi dalam kitab al-Tafsir wa al-Mufassirun menyebutkan, ada dua kelompok yang memiliki argumen berbeda mengenai jumlah ayat yang ditafsirkan oleh Nabi saw..

Pertama, kelompok yang memahami bahwa Nabi saw. menafsirkan sedikit dari Alquran. Salah satu tokoh yang berargumen demikian adalah al-Khaubi dan al-Suyuthi (al-Zahabi, Tafsir wa al-Mufasirun, 2010; Abdurrahim Muhammad, Tafsir Nabi, 2001). Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menafsirkan seluruh ayat dalam Alquran.

Baca juga: Tafsir Surah Annasr: Pembebasan Kota Makkah dan Isyarat Wafatnya Nabi

Nabi saw. hanya menafsirkan sedikit dari Alquran. Hal ini dipahami dari beberapa argumen berikut: Pertama, dilandasi dengan hadis yang datang dari Aisyah r.a., yang mengatakan bahwa Nabi saw. hanya menafsirkan sedikit dari Alquran, yakni atas apa yang beliau peroleh dari malaikat Jibril a.s.. Kedua, mustahil bagi Nabi saw. untuk menafsirkan seluruh ayat Alquran, kecuali sedikit saja (al-Zahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, 2010: 45; Muhammad, Tafsir Nabi, 2001: 21). Demikian ini dimaksudkan agar manusia memiliki kesempatan untuk mengkaji, merenungkan, dan bahkan ber-istinbath atas ayat-ayat Alquran. Bahkan, kelompok ini berpendapat mengenai tidak adanya nas atau teks yang menyatakan bahwa Allah memerintahkan Rasulullah untuk menjelaskan seluruh makna dalam Alquran. Kedua, doa Nabi saw. untuk Ibnu Abbas—Ya Allah, jadikanlah dia orang yang paham masalah agama dan ajarilah ia takwil (H.R. Ahmad, No. 2879) (Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad Bin Hanbal, 2013)—tentu saja tidak berguna, sebab harusnya seluruh sahabat tidak akan mendapati ikhtilaf (perbedaan) dalam hal penafsiran Alquran.

Argumen dari kelompok yang memahami bahwa Rasulullah telah menafsirkan seluruh ayat dalam Alquran. Salah satu tokoh yang berpendapat demikian adalah Ibn Taimiyah. Dia menyatakan bahwa Rasulullah telah menjelaskan seluruh makna dalam Alquran kepada para sahabat, sebagaimana beliau menerangkan pengertian lafaznya. Beliau juga mengutip Surah Annahl ayat 44 tentang perintah menerangkan apa yang telah diturunkan kepada beliau.

Baca juga: Genealogi Kajian Tafsir di Kawasan Yaman: Masa Nabi dan Sahabat (1)

Dari kedua pendapat di atas, Imam al-Zahabi dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun memilih jalan tengah. Pada pendapat pertama yang memahami Nabi saw. menafsirkan sedikit dari Alquran adalah kurang tepat. Imam al-Zahabi berkomentar bahwa hadis dari Aisyah riwayat Bazzar tidaklah sah. Hadis tersebut bahkan dinilai munkar ghorib, serta menurut al-Thabari hadis tersebut tidak dikenal dikalangan Ahli hadis. Argumen kedua yang juga tidak dapat diterima, bahwa Nabi tidak diperintahkan menerangkan semua ayat, karena dalam Surah Annahl ayat 44 Allah memerintahkan Nabi saw., untuk menerangkan apa yang telah diturunkan kepada beliau.

Argumen dari kelompok kedua, yang menyatakan bahwa Nabi menafsirkan seluruh makna dari setiap lafaz dalam Alquran juga dinilai kurang tepat. Imam al-Zahabi memahami, bahwa apa yang diterangkan oleh Nabi adalah menjelaskan yang muskil. Hal ini juga dapat dibuktikan dengan merujuk kitab induk hadis, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ al-Tirmidzi, dan Sunan al-Darimi, bahwa Nabi telah menafsirkan ayat-ayat Alquran yang jumlahnya tidak dapat dikatakan sedikit, walaupun tidak seluruh ayat beliau tafsirkan.

Sebagaimana kita ketahui, tidak semua hal diuraikan dengan rinci dalam tafsir Nabi. Ada beberapa penafsiran sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sahabat mengenai ayat tertentu (misal ayat-ayat yang terdapat kata-kata muskil). Misal adalah firman Allah dalam Surah Albaqarah ayat 187,

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ

 “Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.”

Sebelum ayat “min al-fajri” (yaitu malam), beberapa orang memahami ayat secara literal. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad, bahwa salah seorang lelaki ketika hendak berpuasa, mereka akan mengikat benang putih dan benang hitam di kedua kakinya. Lantas ia akan terus makan sampai benang itu tanpak olehnya. Sebagaimana hadis berikut,

“Ketika turun ayat (“Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam”) dan belum diturunkan ayat lanjutannya yaitu (min al-fajr), ada diantara orang-orang apabila hendak puasa seseorang yang mengikat seutas benang putih dan benang hitam pada kakinya yang dia senantiasa meneruskan makannya hingga jelas terlihat perbedaan benang-benang itu. Maka Allah Ta’ala kemudian menurunkan ayat lanjutannya (“minal fajr”). Dari situ mereka mengetahui bahwa yang dimaksud (dengan benang hitam dan putih) adalah malam dan siang”. (HR. Bukhari no. 1917)

Begitu juga ketika Abu ‘Adi ibn Hatim bertanya mengenai kata al-Khaithan (benang putih dan hitam), maka Nabi saw., menjawab, bahwa benang itu masing-masing bermakna siang—yakni benang putih (khayţ al-abyaḍ)—dan malam—yakni benang hitam (khayţ al-aswad).

Baca juga: Tafsir Tabiin: Ragam Kekhasan Kajian Madrasah Tafsir Madinah

Prof. Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menguarikan bahwa maksud dari benang putih adalah gambaran dari cerahnya siang (terang) (khayţ al-abyaḍ)—beliau menggambarkan, bahwa benang putih itu minirp atau serupa dengan pancaran cahaya fajr shodiq yang baru muncul. Kilatan itu menyerupai benang yang menyebar atau membentang—begitupun benang hitam (khayţ al-aswad) (al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, 2013).

Ibn al-Asqalaini menyebutkan, bahwa al-Karmani menjelaskan, mengenai bagaimana penafsiran umat kala itu. Para sahabat memahami ayat secara literal saja, menuruti zahir ayat. Oleh sebab itu, mereka hanya makan satu kali, yakni pada waktu berbuka. Kemudian ketika mereka telah tertidur—adapun yang datang dari Ibn Jarir, waktu berhenti makan adalah setelah shalat Isya’—maka mereka akan berpuasa—yakni menahan makan, minum, serta keinginan bercampur dengan pasangan—sampai waktu berbuka keesokan harinya (al-Asqalani 2002).

Nabi Muhammad telah menafsirkan Alquran, walaupun tidak selurunya. Hal ini juga apa yang diuraikan oleh Abdullah Syahatah, bahwa Nabi saw. telah menerangkan banyak makna dari lafaz Alquran, tetapi beliau tidaklah menjelaskan seluruh makna dalam Alquran. hal ini dapat dilihat dalam kitab-kitab hadis (Muhammad, Tafsir Nabi, 2001).

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 1-2

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 1-2 berbicara mengenai kekuasaan dank e-Mahaperkasaan Allah SWT atas segala makhluknya. Namun selain ke-Mahaperkasaan itu juga terdapat sisi ke-Mahabijaksaan Allah SWT. Ia telah mengatur segalanya dengan begitu runtut dan teratur.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 59


Ayat 1-2

Ayat pertama terdiri dari huruf-huruf hijaiah, sebagaimana terdapat pada permulaan beberapa Surah Al-Qur’an. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud huruf-huruf itu. Selanjutnya dipersilahkan menelaah masalah ini pada “Al-Qur’an dan Tafsirnya” jilid I yaitu tafsir ayat pertama Surah al-Baqarah.”

Pada ayat berikutnya, Allah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana menjelaskan bahwa kitab Al-Qur’an yang sempurna itu diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw.

Disebutkan sifat Allah “Mahaperkasa” dalam ayat ini agar tergambar dalam pikiran orang yang membaca atau mendengarnya, bahwa yang menurunkan kitab Al-Qur’an itu ialah Zat yang mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas, tidak dapat ditandingi dan tidak dapat dibantah kehendak-Nya.

Keinginan dan kehendak-Nya pasti terlaksana sesuai dengan rencana-Nya, tidak ada kekuasaan lain yang mampu menghalang-halangi dan mengubahnya.

Demikian pula ditonjolkan sifat “Mahabijaksana” dalam ayat ini agar dipahami, bahwa dalam melaksanakan kehendak dan kekuasaan-Nya itu, Dia melaksanakan keadilan yang merata pada setiap makhluk-Nya.


Baca juga: Simbolisasi Kekayaan dalam Surah Alkahfi ayat 34


Dia bertindak, menciptakan dan melaksanakan sesuatu sesuai dengan guna dan faidahnya. Kebijaksanaan ini dapat disaksikan pada seluruh tindakan dan semua makhluk yang diciptakan-Nya, dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat yang paling sempurna.

Pada tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, dan susunan serta ketentuan-ketentuan yang berlaku pada tata surya, orang dapat mengetahui bahwa pada tiap-tiap makhluk ada hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang tidak dapat dilanggar; semuanya harus tunduk dan patuh baik secara sukarela maupun terpaksa.

Tidak satu makhluk pun yang melanggar dan menyalahi hukum dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah baginya, kecuali akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran.

Apabila orang mau menggunakan pikirannya yang jernih dan sehat tentu akan mengakui kekuasaan dan kebijaksanaan Allah terhadap semua makhluk-Nya. Dan apabila ia telah yakin akan hal itu, tentu ia akan menerima dan mengamalkan Al-Qur’an sebagai wahyu dan petunjuk Allah.

 Hal ini juga berarti bahwa diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw dalam bahasa Arab, disampaikan untuk pertama kalinya kepada orang-orang Quraisy, kemudian baru tersebar ke seluruh penjuru dunia, ada hikmahnya sesuai dengan guna dan faedahnya.

Hikmah, guna dan faidahnya itu diketahui manusia dengan perantaraan Al-Qur’an sendiri. Ada yang diketahui berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dipunyai oleh seseorang, dan ada yang belum diketahui oleh manusia, karena Yang Mahatahu hanyalah Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 3


Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 59

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 59 berbicara mengenai penyesalan yang akan dirasakan oleh orang-orang musyrik kelak. Sebaliknya orang-orang mukmin kelak akan senang dan bahagia karena mendapat anugerah dari Allah Swt.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 57-58


Ayat 59

Itulah sebabnya Allah membiarkan orang-orang musyrik Mekah sesat dalam kesyirikannya, membiarkan mereka menunggu ketentuan Allah pada saat yang telah ditentukan, dan mereka pasti akan menyaksikan sendiri siapakah yang benar nanti, mereka yang selalu menyekutukan Tuhan dan berbuat dosa ataukah orang-orang yang beriman yang mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad.

Seandainya mereka mau mengakui kebenaran Al-Qur’an, tentulah mereka akan yakin bahwa kemenangan itu pasti diperoleh oleh orang-orang yang mengikuti agama tauhid yang berjuang dan beramal untuk mencari keridaan Allah. Allah berfirman:

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ   ٥١  يَوْمَ لَا يَنْفَعُ الظّٰلِمِيْنَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ   ٥٢

Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat), (yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk. (Gafir/40: 51-52)

Selama menunggu ketentuan dari Allah itu, terdapat perbedaan sikap dan keyakinan antara para pengikut rasul dengan orang-orang musyrik Mekah. Para pengikut rasul menunggu janji kemenangan dari Allah dengan bersabar dan tawakal.

Mereka yakin bahwa Allah pasti menepati janji-Nya yaitu memenangkan Islam dan kaum Muslimin di dunia dan melimpahkan kenikmatan serta kebahagiaan abadi di akhirat.


Baca juga: Ketentuan Kategorisasi Mushaf Kuno


Karena itu, mereka tidak pernah gentar dan takut, mati dan hidup bagi mereka sama saja karena semua yang ada pada mereka, jiwa maupun raga, harta dan nyawa mereka telah mereka serahkan kepada Allah. Sebaliknya, orang-orang musyrik menunggu dengan perasaan khawatir dan takut.

Mereka sangat khawatir akan dihancurkan oleh kaum Muslimin. Setiap mereka melihat perkembangan, kemajuan, dan kemenangan kaum Muslimin atas mereka, semakin bertambah pula kekhawatiran pada diri mereka.

Mereka sangat takut akan pembalasan dendam kaum Muslimin kepada mereka. Karena itu mereka berusaha sekuat tenaga dan mencurahkan segala yang ada pada mereka untuk mengatasi kemajuan dan kemenangan kaum Muslimin.

Hal ini terlihat pada usaha-usaha mereka itu sebagaimana yang telah mereka usahakan di Perang Ahzab, perjanjian Hudaibiyah dan sebagainya. Sebenarnya dalam hati mereka terbayang kebenaran sesungguhnya, namun karena kesombongan dan keangkuhan, mereka tetap menjauhkan diri dari kebenaran Al-Qur’an.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 1-2


 (Tafsir Kemenag)

Tafsir Ahkam: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub

0
Hukum Tidur dalam Keadaan Junub
Hukum Tidur dalam Keadaan Junub

Menurut keyakinan sebagian muslim, keadaan junub adalah keadaan tidak karena bersetubuh atau keluar air mani. Dalam kondisi ini, seseorang dianjurkan untuk segera bersuci dengan mandi besar. Namun ternyata ada beberapa kasus yang berbeda, yaitu ketika seseorang yang junub kemudian dia tidak langsung bersuci malah dia cenderung sengaja membiarkan dirinya berlama-lama dalam keadaan junub tersebut dan dia bahkan melakukan aktivitas lain meski memang tidak mensyaratkan suci dari hadas besar dalam pelaksanaannya, seperti tidur, makan, minum atau lainnya. Bagaimana hukum tidur dalam keadaan junub, juga makan dan minum dalam keadaan junub?

Kasus ini menjadi sangat berkaitan dengan tafsir dari penggalan ayat Alquran tentang junub meski memang tidak langsung mengambil penjelasan dari beberapa kitab tafsir secara langsung. Berikut terjemahan dari penggalan ayat tersebut “…..Dan jangan kamu dekati mereka (untuk melakukan hubungan intim) hingga mereka suci (habis masa haid). Apabila mereka benar-benar suci (setelah mandi wajib), campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu” (Q.S. Albaqarah [2]: 222).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Larangan Berjalan dan Berdiam Diri di Masjid Bagi Orang yang Junub

Tidur dalam keadaan junub

Para ulama menetapkan bahwa tidur dalam keadaan junub hukumnya adalah boleh. Hal ini berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan dari Aisyah:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ

Rasulullah salallahu alaihi wasallam tatkala hendak tidur dalam keadaan junub, maka sebelum tidur beliau berwudu sebagaimana wudu yang dikerjakan saat hendak salat (H.R. Bukhari dan Muslim).

Berdasar hadis ini dan beberapa hadis lain yang senada, para ulama sepakat bahwa tidur dalam keadaan junub hukumnya adalah boleh. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban berwudu bagi orang yang hendak tidur dalam keadaan junub. Mayoritas ulama menyatakan hukum berwudu sebelum tidur adalah sunah saja dan tidak wajib. Sebagian kecil ulama menyatakan bahwa wudu sebelum tidur dalam keadaan junub hukumnya adalah wajib (Syarah Muslim Li an-Nawawi/1/499).

Perbedaan pendapat ini disebabkan dalam sebagian redaksi hadis, anjuran berwudu memakai kata perintah yang mengindikasikan hukum wajib di dalamnya. Namun mayoritas ulama menepis kemungkinan hukum wajib tersebut. Dengan dasar adanya sebagian hadis yang memakai redaksi yang menunjukkan bahwa wudu adalah suatu pilihan yang boleh tidak dilakukan. Maka untuk menghindari pertentangan antara hadis-hadis tersebut, hukum yang diambil adalah sunah (Subul as- Salam/1/291).

Meski menurut mayoritas ulama hukum berwudu sebelum tidur adalah sunah, tapi mereka juga menyatakan hukum makruh meninggalkan wudu tersebut. Imam al-Nawawi menyatakan bahwa kesimpulan ini didukung hadis yang diriwayatkan dari Ali bahwa Nabi bersabda:

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ وَلاَ جُنُبٌ وَلاَ كَلْبٌ

Malaikat enggan memasuki rumah yang didalamnya ada gambar, orang junub, serta anjing (HR. Abu Dawud dan al-Nasa’i).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Ketahuilah, Apa Makna Junub Di dalam Al-Qur’an

Sebagian ulama memahami bahwa maksud dari orang junub tersebut adalah orang yang mengalami keadaan junub dan tidak segera melakukan mandi besar. Ada juga yang memahami bahwa orang junub yang dimaksud adalah orang yang memiliki kebiasaan menunda-nunda mandi besar saat mengalami junub.

Imam al-Nawawi juga menyatakan bahwa hukum sunah berwudu tersebut juga berlaku bagi perempuan yang haid atau nifas, yang sudah selesai haid atau nifasnya. Selain itu, kesunahan berwudu juga belaku saat orang junub hendak makan, minum, atau berhubungan intim untuk kedua kalinya (al-Majmu’/2/157).

Imam al-Munawi menuturkan beberapa keterangan ulama mengenai hikmah di balik anjuran wudu tersebut. Ada yang menyatakan bahwa wudu tersebut akan meringankan hadas yang ditanggung orang yang junub. Menurut sebagian ulama, wudu tersebut dapat menghilangkan hadas kecil dari orang yang junub tersebut. Ada yang menyatakan hikmah dari wudu adalah membuat diri menjadi semangat untuk mandi atau mengembalikan stamina saat hendak berhubungan intim untuk kedua kalinya. Ada menyatakan, wudu tersebut akan mengusir setan yang mengganggu keberkahan makan, minum dan selainnya (Faidul Qadir/5/120).

Kesimpulan

Dari berbagai keterangan di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa tidur, makan atau minum dalam keadaan junub hukumnya boleh. Namun sebisa mungkin berwudu sebelum melakukan itu semua.

Hal ini menunjukkan perhatian Islam pada kesucian diri saat hendak melakukan segala sesuatu. Kesucian tersebut tidak hanya mencakup lahiriyah yang berarti menjaga kebersihan dari hal kotor yang kasat mata, tapi juga batin yang mencakup suci dari hadas kecil maupun besar yang tak kasat mata. Namun perlu dicatat bahwa kegiatan yang dilakukan dalam masa waktu menunda itu adalah aktivitas wajib seperti salat dan lainnya. Jika sudah meyangkut kegiatan atau ibadah wajib, maka beda lagi permasalahan dan pembahasannya. Wallah a’lam.

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 57-58

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 57-58 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai anugerah penghuni surga. Kedua mengenai alasan turunnya al-Qur’an menggunakan bahasa Arab.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 56


Ayat 57

Segala nikmat yang diterima penghuni surga itu adalah karunia Allah yang diberikan sebagai tanda bahwa Dia meridai perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan selama hidup di dunia, dan sebagai bukti bahwa mereka mengikuti petunjuk wahyu yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, taat kepada perintah-perintah yang harus mereka lakukan dan menjauhkan semua larangan yang harus mereka hentikan.

Yang demikian itu mereka terima sebagai hasil jerih payah yang telah mereka lakukan dan imbalan dari keimanan mereka. Hasil yang mereka peroleh itu adalah hasil yang tiada bandingnya jika dibandingkan dengan hasil yang pernah dicapai seseorang selama hidup di dunia, menikmati hasil cucuran keringat sendiri yang merupakan suatu kenikmatan tersendiri pula.

Baca juga: Cara Jamuan Disuguhkan untuk Ahli Surga dalam Surah Al-Insan Ayat 5

Ayat 58

Allah menjelaskan petunjuk dan peringatan yang telah disampaikan kepada orang-orang musyrik Mekah yang disampaikan oleh Rasul-Nya, Muhammad saw, berupa wahyu-Nya yang diturunkan dengan bahasa yang sudah mereka pahami yaitu bahasa mereka sendiri, bahasa Arab.

Hal itu dimaksudkan agar kaum musyrik Mekah dapat dengan mudah mengambil petunjuk dan pelajaran dari pokok-pokok agama Islam, tamsil ibarat dan kisah-kisah umat yang dahulu yang terdapat di dalam Al-Qur’an wahyu yang telah diturunkan itu.

Dengan membaca Al-Qur’an mereka akan merenungkan ayat-ayat yang menyuruh agar manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah yang terdapat dalam kejadian langit dan bumi beserta apa yang ada antara keduanya, demikian pula bukti-bukti adanya hari kebangkitan.

Dengan bimbingan dan peringatan itu, diharapkan mereka mau bertobat, kembali ke jalan yang benar, mau mengakui dan mencari kebenaran yang hakiki dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan nenek moyang mereka yang telah nyata kesesatannya.

Akan tetapi lantaran kebekuan hati mereka karena kesombongan dan keangkuhan mereka, maka petunjuk dan kebenaran yang dikemukakan Al-Qur’an kepada mereka tidak dapat mereka terima, sehingga mereka tetap dalam kegelapan dan kesesatan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dhukan Ayat 59


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 56

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 56 berbicara mengenai salah satu kenikmatan yang akan diperoleh ketika di surga. Salah satunya adalah keabadian yang kekal dan tidak pernah tua.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 50-55


Ayat 56

Dalam ayat ini Allah menerangkan kenikmatan lain yang dianugerahkan-Nya di dalam surga, yaitu mereka tidak akan merasakan mati seperti yang mereka rasakan di dunia. Mereka akan hidup kekal di surga.

Hal ini berarti bahwa penghuni surga itu tetap dalam keadaan sehat wal afiat jasmani dan rohani dan mereka telah naik ke suatu martabat yang tidak dianugerahkan Allah kepada makhluk yang lain, kecuali malaikat yaitu hidup kekal penuh kebahagiaan.

Dalam hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan Muslim digambarkan keadaan penghuni-penghuni surga itu, yaitu:

عَنْ أََبى هُرَيْرَةَ وَاَبُوْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُنَادِيْ مُنَادٍ ِﺇنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلاَ تَسْقَمُوْا أَبَداً وَﺇنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلاَ تَمُوْتُوا أَبَداً وَﺇنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلاَ تَهْرَمُوْا أَبَداً وَاِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوْا فَلاَ تَبْتَئِسُوْ أَبَدًا. (رواه مسلم)

“Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Abu Sa’id bahwasanya Rasulullah saw bersabda, seorang penyeru menyerukan, “Sesungguhnya kamu akan selalu sehat, karena itu kamu tidak akan menderita sakit selama-lamanya; sesungguhnya kamu akan tetap hidup dan tidak akan mati selama-lamanya, dan sesungguhnya kamu akan tetap muda dan tidak akan pernah mengalami ketuaan selama-lamanya dan sesungguhnya kamu akan merasa nikmat dan tidak akan menderita selama-lamanya.” (Riwayat Muslim)


Baca juga: Stefan Wild dan Luxenberg dalam Memaknai Bidadari Surga dalam Al-Quran


Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa para penghuni surga itu terpelihara dari siksa neraka.

Terpelihara dari siksa itu termasuk salah satu dari kenikmatan yang sangat berharga, karena apabila seseorang terlepas dari suatu bahaya atau melihat orang lain menderita sedangkan ia sendiri terlepas dari bahaya dan penderitaan itu, maka ia akan merasakan suatu nikmat dan merasa bahwa ia tidak pernah berbuat suatu kejahatan sehingga ia tidak mengalami penderitaan


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 57-58


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 50-55

0
tafsir surah ad-dukhan
tafsir surah ad-dukhan

Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 50-55 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai keingkaran orang-orang kafir terhadap siksa akhirat. Kedua berbicara mengenai kenikmatan akhirat yang diperoleh orang-orang mukmin.


Baca sebelumnya:  Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 49


Ayat 50

Allah menerangkan bahwa orang-orang kafir semasa hidup di dunia tidak yakin bahwa mereka benar-benar akan diazab di akhirat nanti, mereka ragu terhadap berita itu. Keragu-raguan ini tergambar dalam perkataan dan tindakan mereka. Mereka membantah adanya hari kebangkitan dan adanya hari pembalasan.

Mereka mengingkari kebenaran Al-Qur’an, bahkan mereka mengatakan Al-Qur’an itu buatan Muhammad saw dan Muhammad itu bukan utusan Allah, melainkan seorang tukang tenung dan tukang sihir.

Akan tetapi setelah mereka dibangkitkan kembali dan digiring ke padang mahsyar untuk ditimbang perbuatan-perbuatan mereka dan dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala, barulah mereka sadar akan akibat kesombongan serta sikap keras kepala mereka selama hidup di dunia.

Timbullah penyesalan yang tidak putus-putusnya pada diri mereka walaupun mereka mengetahui, bahwa penyesalan pada waktu itu tidak ada gunanya lagi. Allah berfirman:

يَوْمَ يُدَعُّوْنَ اِلٰى نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّاۗ  ١٣  هٰذِهِ النَّارُ الَّتِيْ كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُوْنَ   ١٤

Pada hari (ketika) itu mereka didorong ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), “Inilah neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (at-Tµr/52: 13-14)


Baca juga: Tafsir Surat al-Mulk Ayat 25-27: Balasan Bagi yang Ingkar Terhadap Ancaman Allah


Ayat 51-55

Sebagai perbandingan antara pahala yang diperoleh orang-orang yang beriman dengan azab yang diterima oleh orang-orang kafir, maka dalam ayat-ayat berikut digambarkan kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh oleh orang-orang yang beriman.

Kenikmatan dan kebahagiaan yang mereka peroleh antara lain ialah:

1.Mereka mendapat tempat kembali yang baik di sisi Tuhan mereka. Di tempat itu mereka aman dari segala macam gangguan baik berupa gangguan keamanan diri mereka maupun dari gangguan keamanan jiwa mereka. Mereka berada dalam perlindungan Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat menggoyahkan perlindungan Allah.

Tidak ada kata-kata yang menyakitkan hati, tidak ada sikap orang lain yang dapat mengguncangkan perasaan, semuanya enak didengar, indah dilihat, menyejukkan hati dan menentramkan perasaan, tempatnya yang indah, udaranya yang nyaman, mata air yang jernih memancarkan air yang mengasyikkan orang yang tinggal di dalamnya.

  1. Di dalam surga itu, orang-orang yang beriman diberi pakaian yang terbuat dari sutera, baik sutera yang halus lagi lembut, memuaskan hati orang yang memakainya, maupun sutera tebal yang beraneka warna dan menghangatkan badan.
  2. Mereka duduk berbincang-bincang, berhadap-hadapan di tempat-tempat duduk yang menyenangkan. Dari wajah-wajah mereka, yang terpancar hanyalah rasa kebahagiaan yang tiada taranya dan rasa kepuasan terhadap pahala yang diberikan Allah kepada mereka.
  3. Mereka dianugerahi teman hidup yang mendampingi mereka, berupa jodoh atau pasangan yang serasi dan sesuai dengan keinginan mereka. Jodoh mereka itu tidak ada cacat celanya dan belum pernah hatinya tertambat kepada orang lain.
  4. Mereka disuguhi buah-buahan yang beraneka ragam macamnya dan makanan yang enak, tidak habis-habisnya dan tidak pernah membosankan.

Demikian kesenangan dan kebahagiaan yang akan diperoleh ahli surga nanti. Sebenarnya kebahagiaan dan kesenangan itu tidak dapat dibayangkan manusia karena tidak ada bandingannya dalam kehidupan ini.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ad-Dukhan Ayat 56


(Tafsir Kemenag)