Beranda blog Halaman 123

Membedah Terjemah Alquran Kemenag Edisi Penyempurnaan 2019

0
Membedah Terjemah Kemenag Edisi Penyempurnaan 2019
Sampul Al-Qur’an dan Terjemahannya edisi 2019

Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019 merupakan edisi terbaru terjemah Al-Qur’an (selanjutnya disebut terjemahan) yang diterbitkan oleh Kemenag hingga saat ini. Terjemahan ini juga turut disertakan dalam aplikasi Qur’an Kemenag, selain terjemahan tahun 2002. Terjemahan edisi penyempurnaan ini dapat didapatkan secara gratis dengan mengunduhnya pada laman Pustaka Lajnah (pustakalajnah.kemenag.go.id).

Seperti telah dijelaskan dalam pengantarnya, Terjemahan 2019 adalah edisi penyempurnaan dan penyesuaian yang ketiga setelah diterbitkan pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1965. Upaya penyempurnaannya dilakukan dari tahun 2016 hingga 2019 mencakup aspek redaksional, konsistensi, dan substansional.

Sementara dua edisi penyempurnaan sebelumnya adalah penyempurnaan pertama yang dilakukan pada tahun 1989 dan dicetak oleh Mujamma‘ Malik Fahd pada tahun 1990 hingga saat ini; dan edisi penyempurnaan kedua yang dilakukan dalam rentang waktu 1998 hingga 2002 dengan menekankan aspek konsistensi pilihan kata, substansi, dan transliterasi.

Dari segi teks Al-Qur’an, Terjemahan 2019 telah menggunakan teks terbaru yang juga digunakan pada Mushaf Standar Indonesia (MSI) edisi 2019 hingga saat ini. Teks ini ditulis oleh Isep Misbah yang pilihan font-nya kemudian dijadikan font resmi Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) untuk MSI, termasuk pada aplikasi Qur’an Kemenag.

Tata letak teks Al-Qur’an Terjemahan 2019 mengikuti tata letak MSI, yakni ditulis berdasakan halaman dengan frame yang memisahkan antara halaman teks Al-Qur’an dan halaman terjemahan. Terjemahannya sendiri ditulis mengelilingi teks Al-Qur’an menggunakan dua kolom dengan penomoran ayat sesuai teks Al-Qur’an yang ada.

Layout ini cukup berbeda dengan terjemahan edisi 1989, misalnya, yang dicetak oleh Mujamma‘. Teks Al-Qur’an-nya di sini ditulis secara urut satu per satu pada bagian kanan halaman dan diikuti terjemahannya pada bagian kiri halaman.

Tata letak semacam ini memungkinkan pembaca untuk melakukan pembacaan Al-Qur’an “seperti biasa” karena tampilannya yang sama seperti mushaf Al-Qur’an lain, tanpa usaha berlebih dalam membuka halaman dikarenakan penulisan ayatnya yang satu per satu. Dengan kata lain, Terjemahan 2019 dapat difungsikan sebagai mushaf baca dan juga dapat difungsikan sebagai terjemahan.

Baca juga: Menyoal Metode Terjemah Harfiah dalam Penerjemahan Alquran

Meski demikian, ada beberapa hal yang menurut penulis mestinya dapat ditambahkan ke dalam Terjemahan 2019 ini tanpa mengurangi nilai aksentuasi fungsi dari terjemahan yang dimiliki. Di antaranya adalah halaman deskripsi mushaf atau al-ta‘rif bi al-mushhaf.

Halaman yang berisi deskripsi singkat mengenai “biografi” mushaf ini padahal sudah ditambahkan pada MSI edisi 2019 hingga 2021. Namun demikian, dalam naskah terjemahan yang penulis miliki tertanggal 2020 tidak dijumpai adanya deskripsi tersebut. Sementara jika kita bandingkan dengan terjemahan lain,  terbitan Mujamma‘ misalnya, deskripsi itu tetap dicantumkan.

Mengapa deskripsi ini penting? Karena bagi kalangan yang ingin menggunakan edisi ini “murni” sebagai mushaf baca, bukan terjemahan, dia tidak perlu merujuk pada mushaf lain untuk mengetahui cara penggunaan tanda baca, misalnya, atau aspek lain yang terdapat dalam sebuah mushaf Al-Qur’an.

Perbedaan lain yang dapat dijumpai dalam Terjemahan 2019 adalah tidak dicantumkan lagi materi-materi keilmuan yang menunjang pembelajaran dan pemahaman Al-Qur’an, seperti ilmu Al-Qur’an, sejarah Nabi dan relasinya terhadap kehadiran Al-Qur’an, atau pun sejarah penerjemahan. Hal ini mungkin disebabkan banyaknya sumber pengetahuan akan hal itu yang saat ini mudah diakses sehingga dianggap tidak dibutuhkan lagi.

Meski demikian, Terjemahan 2019 unggul dengan mencantumkan Daftar Pustaka yang dijadikan sumber dalam melakukan penerjemahan. Itu berarti bahwa dalam terjemahan yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dengan merujuk pada literatur yang kredibel.

Sementara pada masalah teknis lain, seperti kategorisasi dan distribusi tema pembahasan ayat, Terjemahan 2019 tetap mengikuti pendahulunya. Hanya saja, secara redaksional, judul-judul yang diberikan tentu memiliki perbedaan, terutama menjadi lebih ringkas, sederhana, dan lugas. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Baca juga: Mengenal Proyek Terjemahan Alquran Bahasa Lokal Kemenag

Memahami Surah Ali Imran Ayat 118-120 dalam Konteks Keindonesiaan

0
Ali Imran Ayat 118-120
Memahami Ali Imran Ayat 118-120 dalam Konteks Keindonesiaan

Beberapa waktu yang lalu beredar tangkapan layar halaman Alquran yang memuat Surah Ali Imran ayat 118-120 di grup whatsapp. Dalam tangkapan layar yang saya terima, diberikan coretan yang menyorot terjemah ketiga ayat tersebut. Agar para pembaca memahami konteks dari apa yang ingin dipromosikan oleh si penyebar, berikut ini saya tampilkan Surah Ali Imran ayat 118-120: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضاءُ مِنْ أَفْواهِهِمْ وَما تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآياتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (118) هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتابِ كُلِّهِ وَإِذا لَقُوكُمْ قالُوا آمَنَّا وَإِذا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذاتِ الصُّدُورِ (119) إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِها وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئاً إِنَّ اللَّهَ بِما يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (120)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil menjadi teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan kalian (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya (18). Beginilah kalian. Kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian, dan kalian beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kalian, mereka berkata, “Kami beriman,” dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian. Katakanlah (kepada mereka), “Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati (19). Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati; tetapi jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepada kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan (20).

Apabila pembaca mencermati isi dari ayat dan terjemah Surah Ali Imran Ayat 118-120 di atas, sekilas akan tampak bahwa Alquran melarang untuk berteman baik dengan non-Muslim. Ayat di atas juga sekilas menyiratkan bahwa non-Muslim selalu punya niat jahat untuk membuat kemudaratan bagi umat Muslim. Saya berasumsi kuat bahwa dengan ayat tersebut, penyebar screenshot hendak menyatakan bahwa secara teologis-normatif Alquran melarang umat Muslim untuk berteman dengan non-Muslim.

Baca Juga: Eksklusivitas Islam dalam Alquran dan Kesalahpahaman Tentangnya

Dalam konteks bernegara dan berbangsa saat ini, promosi kebencian atas nama kitab suci tentu saja berdampak serius pada munculnya segregasi di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang multi agama. Benarkah Alquran memerintahkan kita umat Muslim untuk tidak berteman dengan saudara di luar agama Islam? 

Bila kita telusuri dalam kitab-kitab tafsir seperti dalam Jami’ al-Bayan karya Al-Thabari dan Tafsir al-Qur’an al-’Adzim karya Ibn Katsir, ditemukan keterangan bahwa yang dimaksud dengan bithanah (teman kepercayaan) dalam ayat di atas adalah orang-orang munafik. Ayat ini ditujukan kepada sebagian sahabat Rasulullah yang masih menjalin hubungan dekat dengan orang-orang munafik karena ikatan yang sudah terjalin sejak zaman jahiliyah

Meskipun setelah saya lacak dalam kitab-kitab tafsir tidak ditemukan keterangan pasti kapan ayat ini turun secara spesifik, akan tetapi para mufasir sepakat bahwa ayat ini turun di Madinah. Dalam buku sejarah seperti al-Sirah al-Nabawiyah karya Ibn Hisyam dan al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn al-Atsir, kondisi Madinah pada waktu itu masih rentan dari serangan lawan baik di internal (Yahudi dari tiga kabilah: Qainuqa, Nadhir, Quraidhah) maupun eksternal (orang-orang Musyrik Mekah).   

Menurut catatan sejarah, terdapat sebagian orang mukmin yang seringkali membocorkan rahasia kepada orang munafik dengan maksud ingin melindungi mereka atas dasar kedekatan yang sudah terjalin. Padahal rahasia-rahasia ini selalu dibocorkan kepada pihak-pihak lawan yang berdampak pada keamanan orang-orang di Madinah. 

Mengetahui kondisi pada saat ayat turun dan penafsiran atasnya, dapat memperkaya perspektif mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap atas ayat yang apabila dibaca sekilas dapat menimbulkan polemik. Lalu pertanyaan yang muncul berikutnya, mungkinkah Alquran tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini? 

Jawabannya tentu Alquran akan selalu relevan karena sifatnya yang shalih li kulli zaman wa makan. Permasalahannya terletak pada sejauh mana kita mau terus mencari tahu dan memperkaya pengetahuan untuk memahami Alquran. 

Apabila kita telusuri ayat lain, dalam Surah al-Mumtahanah ayat 8-9 Allah Swt befirman: 

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ () إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ   

Allah tidak melarang kalian umat Islam  kepada orang-orang non muslim yang tidak memerangi kalian dalam (persoalan agama) dan tidak mengusir kalian dari rumah kalian  untuk berbuat baik dan adil kepada mereka, sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat keadilan (8). Yang Allah larang ialah untuk berbuat asih kepada mereka (orang-orang non muslim) yang memerangi kalian dalam urusan agama dan  terang-terangan mengusir kalian, orang-orang (muslim) yang berbuat asih dengan mereka adalah merupakan orang-orang dzalim (9).”

Baca Juga: Tafsir Kontekstual Gus Dur Seputar Moderasi Islam

Melalui ayat di atas, Allah Swt memerintahkan umat Muslim agar berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang non-Muslim. Apakah dengan dua ayat yang tampak kontradiktif menjadikan Alquran tidak konsisten? Tentu saja tidak. Masing-masing ayat bisa dipahami sesuai dengan konteksnya. 

Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, dalam konteks Indonesia Surah Al-Mumtahanah ayat 8-9 adalah ayat yang berlaku (muhkamah) secara mutlak dan tidak diganti (mansukh) dengan ayat lain. Artinya, meskipun ada ayat yang memerintahkan untuk tidak berteman, tetapi dalam konteks Indonesia ayat yang wajib diterapkan oleh umat Muslim adalah ayat yang menganjurkan pertemanan dengan non-Muslim. 

Apa yang diungkap oleh Buya Hamka dalam tafsirnya, tentu selaras dengan apa yang telah diperjuangkan para ulama kita ketika ikut mendirikan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka. Upaya-upaya untuk melakukan perpecahan di antara anak bangsa tentu mencederai apa yang telah mereka perjuangkan dengan pikiran, harta, bahkan nyawa. Wallahu A’lam.

Tafsir Tarbawi: Perintah Tirakat dalam Menuntut Ilmu

0
tirakat dalam menuntut ilmu
tirakat dalam menuntut ilmu

Bagi pelajar, tirakat atau riyadhah merupakan suatu keharusan jika ingin ilmunya berkah dan bermanfaaat. Dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya K.H. Hasyim Asy’ari dikatakan bahwa wajib bagi seorang pelajar untuk riyadah atau tirakat dalam menuntut ilmu agar muncul keberkahan dan  manfaat. Tirakat merupakan laku perbuatan menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu dalam bentuk apa pun, baik dalam bentuk puasa, menahan emosi, menahan hawa nafsu dan segala keinginan yang menggebu, tidak melihat hal-hal yang diharamkan dan lain sebagainya.

Baca Juga: Tiga Metode Pendidikan Para Rasul dalam Al Quran

Perintah tirakat dalam menuntut ilmu

Dalam hal ini, Alquran telah memberikan tuntunan tirakat yang harus dilakukan seorang pelajar, di antaranya adalah menyedikitkan tidur dan mendirikan salat malam sebagaimana ditegaskan-Nya dalam Q.S. al-Sajdah [32]: 16,

تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk salat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. al-Sajdah [32]: 16)

Tirakat yang dimaksud dalam artikel ini berfokus pada kata menjauhi tempat tidur (tatajafa junubuhum), berdoa kepada Allah (yad’una rabbahum) dan menginfakkan sebagian rizki di jalan-Nya (mimma razaqnahum).

Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsiri makna lambung mereka jauh dari tempat tidur dengan menyitir adalah mereka istikamah mengerjakan ibadah sunnah antara magrib dan isya’ (كانوا يتنفَّلون فـيـما بـين الـمغرب والعشاء) sebagaimana penafsiran Ibn Mutsanna, Yahya bin Said, dari Abu ‘Urwah, Qatadah dan Anas. Sedikit berbeda dengan Ibn Mutsanna, bahwa yang dimaksud tatajafa junubuhum ialah mereka mendirikan shalat atau berdoa di antara dua waktu ini (antara magrib dan isya) (يصلون ما بـين هاتـين الصلاتـين).

Selain itu, pakar tafsir kenamaan Indonesia, Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menafsiri ayat tersebut bahwa ayat di atas masih merupakan lanjutan uraian tentang ciri-ciri orang-orang mukmin sejati. Ayat ini melukiskan amal perbuatan mereka, sedang ayat sebelumnya, yaitu ayat 15 melukiskan sifat-sifat batin mereka.

Penggalan ayat “menjauh lambung mereka dari tempat tidur mereka” dimaksudkan bahwa orang yang beriman itu tidak banyak tidur. Mereka lebih banyak melakukan hal-hal yang bermanfaat, mereka senantiasa berdoa kepada Allah diiringi dengan rasa takut (khauf) akan siksa-Nya dan penuh harap (thama’an) kepada ridha-Nya.

Baca Juga: Empat Falsafah Pendidikan Islam dalam Q.S. Al’alaq: 1-5

Penggalan ayat ini, menurut Quraish Shihab menggambarkan keadaan kaum mukmin sebagaimana dalam surah yang lain, Q.S. al-Dzariyat [51]: 17-18,

كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). (Q.S. al-Dzariyat [51]: 17-18)

Masih dalam penafsiran Quraish Shihab, pada ayat di atas terlukiskan sekali lagi sifat kejiwaan orang yang beriman, yakni kendati keimanan mereka bertambah dari waktu ke waktu dan sekalipun mereka bangun tengah malam di saat yang lain terlelap tidur, mereka bergegas bangun untuk berdoa, namun itu tidak menjadikan mereka terbuai atau merasa tenang. Mereka selalu takut kepada Allah, namun tetap dibarengi dengan optimisme dan berprasangka baik kepada-Nya.

Jika dibawa pada konteks pelajar, ciri-ciri pada ayat di atas termasuk salah satu tirakat yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asyari, yakni menyedikitkan tidur. Menurut pendiri Nahdlatul Ulama ini, pelajar harus mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan akal pikirannya. Persoalan tidur ini, menurut kiai asal Jombang tersebut tidak boleh melebihi dari delapan jam dalam sehari semalam. Artinya, dari 24 jam sehari, sepertiganya untuk tidur itu sudah cukup.

Inilah yang dikatakan oleh KH. Hasyim Asy’ari bahwa tirakatnya pelajar di antaranya adalah mensucikan hatinya dari tujuan keduniawian, menyedikitkan makan, minum dan tidur, mengekang hawa nafsu dan mendirikan salat malam,

Karena itulah, tidak heran jika Allah swt mengganjar orang yang bersedia tirakat dalam menuntut ilmu dengan ganjaran yang mulia, dan mengangkat levelnya menuju tahapan kemuliaan. Semoga kita semua mampu menirakati proses demi proses dalam menuntut ilmu. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Ar-Rum Ayat 46: Empat Manfaat Angin

0
tafsir surah Ar-Rum ayat 46: manfaat angin
tafsir surah Ar-Rum ayat 46: manfaat angin

Angin merupakan salah satu sumber energi yang memberi segenap manfaat bagi kehidupan manusia. Menurut sebuah penelitian, energi angin merupakan energi terbarukan yang cukup berkembang pemanfaatannya saat ini. Sebab angin adalah salah satu bentuk energi yang tersedia secara melimpah di alam ini (Syahrul, 2011).

Dari sekian banyak manfaat angin, surah Ar-Rum ayat 46 merangkum empat manfaat dan kegunaan angin bagi kehidupan manusia.

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَن يُرۡسِلَ ٱلرِّيَاحَ مُبَشِّرَٰتٖ وَلِيُذِيقَكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَلِتَجۡرِيَ ٱلۡفُلۡكُ بِأَمۡرِهِۦ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahn kamu bersyukur.” (QS. Ar-Rum [36]: 46)

Baca Juga: Mengenal Enam Fungsi Angin dalam Al-Quran Perspektif Tafsir Ilmi

Tafsir surah Ar-Rum ayat 46 tentang manfaat angin

Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa secara balaghah, ayat ini menggunakan bentuk bahasa al-lthnaab, yaitu untuk mengingatkan para hamba atas nikmat-nikmat yang begitu banyak. Sebenarnya, kalimat yang terakhir sudah bisa mewakili semuanya.

Menurut Tafsir Kementerian Agama, dalam ayat ini disampaikan bahwa di antara tanda kemahakuasaan Allah adalah angin yang memberikan manfaat besar kepada manusia dalam empat hal yaitu sebagai berita baik, membawa rahmat, kepentingan pelayaran, dan untuk memperoleh karunia Allah.

Pertama, sebagai pembawa berita baik, angin merupakan pendahuluan atau pertanda akan datangnya hujan. Hal itu karena angin membentuk awan. Ketika awan itu semakin padat dan mendingin, ia berubah menjadi butir-butir air, lalu turun berupa hujan. Dengan demikian, angin membawa berita gembira bagi manusia, yaitu kemungkinan turunnya hujan.

Kedua, angin merupakan salah satu yang berperan dalam proses terjadi hujan. Dengan hujan itu, Allah ingin merasakan rahmat-Nya kepada manusia. Berkat dari adanya hujan tersedialah air yang merupakan sumber kehidupan, baik bagi tanaman, hewan, maupun manusia sendiri.

Ketiga, kegunaan lain dari angin yang disebutkan dalam ayat ini adalah untuk pelayaran. Pada era kapal layar sampai era kapal mesin bahkan sampai era kapal bertenaga nuklir sekarang sekalipun, cuaca dan angin masih merupakan faktor yang menentukan atau berpengaruh dalam kesuksesan pelayaran.

Angin bertiup atas perintah Allah, dalam artian berdasar hukum-hukum yang ditentukan-Nya. Oleh karena itu, manusia perlu mengembangkan ilmu meteorologi yang mempelajari angin, cuaca, dan sebagainya agar pelayaran lancar dan maju.

Keempat, kegunaan lebih lanjut dari angin adalah untuk mencari karunia Allah. Oleh karena itu, perlu dikembangkan berbagai teknologi pemanfaatan angin selain untuk pertanian, peternakan, dan pelayaran di atas. Sekarang ini, yang sedang dikembangkan manusia adalah memanfaatkan angin sebagai sumber energi, misalnya untuk pembangkit tenaga listrik, menggerakkan mesin, dan sebagainya.

Demikian M. Quraish Shihab juga menambahkan bahwa penciptaan angin dalam ayat tersebut bertujuan agar manusia dapat mencari rezeki dari karunia-Nya dengan berdagang dan mempergunakan apa-apa yang ada di darat dan di laut dengan berbagai inovasi terbarukan melalui perantara manfaat angin. Selain itu agar manusia bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya dengan cara taat dan beribadah kepada-Nya semata.

Namun menurut Imam Al-Qurthubi, yang perlu digaris bawahi dalam ayat di atas adalah biamrihi (dengan perintah-Nya). Ketika Allah mengizinkan kapal-kapal berlayar, maka angin dapat memberi manfaat kepada manusia. Namun sebaliknya, ketika Allah tidak mengizinkan, angin dapat saja bertiup tidak tenang hingga menenggelamkan kapal-kapal manusia.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa angin dapat memberi manfaat ketika sang penciptanya mengizinkan. Oleh sebab itu, redaksi terakhir ayat tersebut mengisyaratkan manusia untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diterima melalui kemanfaatan angin tersebut.

Baca Juga: Mengenal Tujuh Istilah Angin yang Disebutkan dalam Al-Quran

Penutup

Sebagai salah satu karunia Allah untuk manusia, diciptakan angin yang dapat memberikan segenap manfaat untuk kehidupan. Namun dibalik manfaat tersebut, terdapat pula berbagai bencana yang ditimbulkannya seperti angin topan, puting beliung, dan berbagai bencana lain yang dipicu oleh angin. Hal tersebut terjadi ketika manusia tidak mampu mensyukuri segala nikmat yang diberikan oleh Allah serta tidak mampu memakmurkan alam ini.

Sebagai contoh, ketika manusia sibuk menggunduli hutan, pohon-pohon habis ditebang sehingga menyebabkan angin dapat dengan mudah meniup tanpa ada yang menghalangi. Kemanfaatan angin yang semula menjadi rahmat, namun berubah menjadi bencana akibat dari ulah manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, karunia Allah berupa angin untuk kehidupan manusia mestinya disyukuri dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Wallahu A’lam.

Tafsir Tarbawi: Perintah Bersungguh-sungguh dalam Belajar

0
Tafsir surah Al-Ankabut ayat 69
Tafsir surah Al-Ankabut ayat 69

“Man jadda wajada” (siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan mencapai apa yang dicita-citakan), demikian ungkapan kata mutiara (mahfudzat) yang sering didengar. Bersungguh-sungguh belajar dan tekun beribadah adalah suatu kewajiban bagi seorang pelajar. Bahkan, kewajiban bersungguh-sungguh dalam belajar Allah swt. tegaskan sendiri dalam surah Al-Ankabut ayat 69 bahwa Kami, kata Allah, benar-benar akan tunjukkan kepada mereka sesuatu yang tidak diketahuinya (lanahdiyannahum subulana). Selengkapnya mari kita simak ulasan di bawah ini.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Pentingnya Perencanaan Bagi Guru Sebelum Mengajar

Tafsir Surah Al-Ankabut Ayat 69

Di dalam surah Al-Ankabut ayat 69, Allah swt. secara tegas menyatakan bahwa Dia pasti memberi petunjuk bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari ridha Allah, tidak terkecuali belajar. Allah swt. berfirman,

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. al-Ankabut [29]: 69).

Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Quran menafsirkan kalimat lanahdiyannahum subulana bahwa Allah swt. pasti memberi taufik (hidayah) atau membimbing hamba-hamba-Nya menuju jalan yang lurus (linuwaffiqannahum li ishabati al-thariqi al-mustaqimah), yaitu agama Allah (al-Islam) yang dengannya Allah swt. mengutus Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah-Nya.

Sedangkan al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasyaf dan Al-Baidhawi dalam Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Takwil menafsiri kata lanahdiyannahum subulana bahwa Allah swt pasti akan menambahkan hidayah dan bimbingan-Nya kepada mereka menuju jalan kebaikan dan kesuksesan (لنزيدنهم هداية إلى سبل الخير وتوفيقاً). Selain itu, al-Zamakhsyari menyitir penafsiran Abi Sulaiman al-Darani bahwa mereka yang berjihad (bersungguh-sungguh dalam belajar) di jalan Allah, maka pasti Allah ajarkan dan tunjukkan kepada mereka sesuatu yang belum dia ketahui (‘allimu lanahdiyannahum ila ma lam ya’lamu).

Tidak jauh berbeda, al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkan lanahdiyannahum subulana dengan barang siapa yang berjihad dengan ketaatan, maka Allah menunjukkan jalan surga baginya (man jahada bi al-tha’ah hadahu subula al-jannah). Selain itu, ia menambahkan, orang yang bersungguh-sungguh dalam belajar maka sungguh dia memperoleh petunjuk dari ilmu-Nya, dan penjelasan yang gamblang atas sesuatu sejelas-jelasnya (linashila fihim al-ilm bina wa linubayyina hadza fadhlu bayan).

Bahkan, menurut al-Mawardi dalam al-Nukat wal ‘Uyun, makna jahadu memunculkan empat penafsiran, yaitu pertama, memerangi kaum musyrik agar patuh kepada kita (قاتلوا المشركين طائعين لنا). Kedua, jihad melawan hawa nafsu dan perasaan khawatir atau was-was (جاهدوا أنفسهم في هواها خوفاً منا). Ketiga, jihad dengan amal perbuatan dalam rangka meraih ketaatan dan menghindari kemaksiatan dengan mengharap pahala Allah swt (اجتهدوا في العمل بالطاعة والكف عن المعصية رغبة في ثوابنا وحذراً من عقابنا). Dan keempat, berjihadlah kepada dirimu sendiri dengan cara taubat kepada Allah atas dosa-dosamu (جاهدوا أنفسهم في التوبة من ذنوبهم).

Adapun makna lanahdiyannahum subulana (memperoleh petunjuk dan keberuntungan), Al-Mawardi membaginya menjadi tiga hal. Pertama, surga sebagaimana penafsiran al-Saddi. Kedua, Allah membimbingnya menuju agama yang benar sebagaimana periwayatan al-Naqasy. Ketiga, diberi petunjuk dan bimbingan dari sesuatu yang belum diketahui seperti yang dikemukakan oleh Abbas Abu Ahmad. Keempat, Allah swt sungguh memberikan rasa ikhlas dan tulus kepada hamba-Nya atas segala yang perbuatannya, baik sedekahnya, selawatnya, salatnya, maupun puasanya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Yusuf bin Asbath.

Baca Juga: Dua Metode Pendidikan Pralahir Berbasis Alquran

Perintah bersungguh-sungguh dalam belajar

Syekh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim pernah berpesan dalam syairnya, bagi seorang pelajar harus mampu menahan diri dari hawa nafsu yang menggebu karena itu bagian daripada bersungguh-sungguh dalam belajar.

إن الهوى لهو الهوان بعينه وصريع كل هوى صريع هوان

“Sungguh hawa nafsu itu rendah nilainya, barangsiapa terkalahkan oleh hawa nafsunya berarti ia terkalahkan oleh kehinaan”.

Lanjut Az-Zarnuji, bagi seorang pelajar harus memanfaatkan di usia mudanya untuk menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya (afdhalu al-auqati syarakhu al-syababi). Dan pelajar harus memanfaatkan seluruh waktunya untuk belajar (wa yanbagi an yastaghriqa jami’a auqatihi), apabila ia bosan dengan satu bidang ilmu, maka selinganlah dengan bidang ilmu yang lain (faidza malla ‘an ‘ilmin yasytaghilu bi ‘ilmin akhara).

Oleh karena itu, penting bagi seorang pelajar untuk bersungguh-sungguh dalam belajar dan menahan diri dari hawa nafsu serta segala keinginan yang menggebu karena belajar adalah sebuah proses, bukan sesuatu sekali jadi. Tekuni prosesnya, Insya Allah hasilnya pun berkualitas. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 36: Bantahan Terhadap Misoginis

0
tafsir surah Al-Baqarah ayat 36
tafsir surah Al-Baqarah ayat 36

Misoginis merupakan istilah untuk orang yang memiliki kebencian atau rasa tidak suka terhadap perempuan secara ekstrem. Perilakunya sendiri disebut dengan misogini. Hampir sebagian besar pelaku misogini adalah pria, tetapi ada juga perempuan yang memiliki perilaku demikian.

Di antara wujud dari kebencian para misoginis terhadap perempuan adalah melalui narasi keagamaan yang menyudutkan perempuan. Nasaruddin Umar dalam buku Jihad Melawan Religious Hate Speech menjelaskan bahwa kebencian misoginis terhadap perempuan menyebabkan mereka menuduh bahwa perempuan adalah penyebab laki-laki terusir dari surga.

Persepsi tersebut didasarkan kepada kisah Nabi Adam yang digoda oleh Siti Hawa untuk memakan buah Khuldi di surga hingga dia menurutinya dan menyebabkan Allah mengusir mereka berdua. Lalu bagaimana Alquran mengomentari hal ini? Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 36 sebagai berikut.

فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيۡطَٰنُ عَنۡهَا فَأَخۡرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِۖ وَقُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّٞۖ وَلَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرّٞ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ

Terjemah: “Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 36)

Baca Juga: Tidak Benar Bahwa Al-Quran itu Misoginis, Simak Penjelasannya

Tafsir surah Al-Baqarah ayat 36

Menurut Tafsir Kementerian Agama, dalam ayat ini dijelaskan, bahwa setan telah menggoda Adam`alaihis salam dan istrinya sehingga akhirnya mereka tergoda dan melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah pohon Khuldi. Dalam melakukan godaan itu, setan berusaha untuk meyakinkan Adam bahwa dia benar-benar hanya memberikan nasihat yang baik.

Karena kesalahan yang telah dilakukan Adam dan istrinya, maka Allah ﷻ mengeluarkan mereka dari kenikmatan dan kemuliaan yang telah mereka peroleh, lalu Allah ﷻ memerintahkan agar mereka turun dari surga itu ke bumi. Sejak itu mereka dan setan senantiasa dalam keadaan bermusuhan satu sama lain.

Demikian pula M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut iblis yang iri dan dengki kepada Adam, mulai membujuk mereka berdua (Adam dan istrinya Hawa) untuk memakan buah pohon Khuldi, sehingga mengakibatkan mereka tergoda dan memakannya.

Wahbah Az-Zuhaili juga menegaskan dalam Tafsir Al-Munir bahwa mereka terbujuk oleh godaan setan sehingga mereka keluar dari surga ke bumi dan kesengsaraan dunia. Permusuhan antara manusia dan setan telah tumbuh. Iblis adalah musuh Adam dan istrinya, Hawa, serta anak cucu mereka; dan manusia adalah musuh lblis. Maka dari itu waspadailah godaannya.

Redaksi kata mereka pada beberapa penafsiran di atas mengisyaratkan bahwa yang dibujuk dan dirayu oleh iblis adalah lebih dari satu orang yaitu Adam dan istrinya Hawa.

Baca Juga: Perempuan dalam Al-Quran: Antara Pernyataan Allah Sendiri dan Kutipan atas Ucapan Orang Lain

Bantahan Terhadap Persepsi Misoginis

Mengacu kepada beberapa penafsiran ayat di atas, tidak ada kalimat atau redaksi yang menyebutkan bahwa Hawa lah yang semata-mata menggoda Nabi Adam memakan buah dari pohon terlarang sehingga melanggar perintah Allah. Namun dalam ayat tersebut iblis secara langsung berbicara dan membujuk keduanya.

Bahkan dalam ayat yang lain yaitu Surah Al-A’raf ayat 20 digambarkan bahwa iblis berkata bahwa: ““Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).”

Perkataan iblis dalam ayat di atas kembali memperkuat bahwa Nabi mendengar sendiri bujukan dan rayuan iblis tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa bukan pihak perempuan yang menjadi penyebab utama Nabi Adam terusir dari surga, tetapi karena tipu muslihat iblis itu sendiri.

Ahmad Rifa’i dalam bukunya Bahkan Tuhan Pun Berqurban menjelaskan pendapat yang mengatakan bahwa Hawa adalah penyebab terusirnya Adam hanya merupakan sandaran dikriminatif untuk merendahkan perempuan, padahal persepsi tersebut dibantah Allah melalui ayat ini.

Baca Juga: Respon Al-Qur’an Terhadap Toxic Masculinity dalam Berumah Tangga

Penutup

Allah telah menciptakan manusia sama secara kemanusiaan (Q.S. An-Nisa [4]: 1) hingga mereka dapat saling bekerja sama satu sama lain, bukan saling mendiskriminasi. Bahkan terkait persepsi misoginis tersebut, seharusnya yang lebih dipertanyakan adalah kekuatan dari laki-laki (Adam) itu sendiri yang seharusnya lebih tegar dalam menghadapi godaan Iblis daripada istrinya Hawa (M. Quraish Shihab, Islam yang Saya Pahami).

Kesan pada ayat di atas menunjukkan bahwa Allah tidak membuat kasta antara laki-laki dan perempuan. Allah menciptakan dua jenis manusia ini dengan segenap sisi baik dan buruknya masing-masing. Tidak ada diskriminasi dan rasa superioritas satu sama lain. Wallahu A’lam.

Lima Kriteria Seorang Guru yang Tergambar dalam Al-Qur’an

0
Kompetensi Yang Harus Dimiliki oleh Pendidik
Kriteria Menjadi Seorang Guru

“Menjadi seorang guru adalah menjadi teladan”. Demikianlah ungkapan singkat namun penuh makna. Peran guru sebagai sosok digugu dan ditiru sampai kapanpun takkan pernah terganti. Begitu sentralnya peran seorang guru, sehingga mampu mempengaruhi karakter seorang murid. Oleh karena itu, pada artikel kali ini, kita akan mengulas lima pokok kriteria memilih guru bagi seorang pelajar menurut Al-Quran. Simak ulasannya.

Memiliki Kemampuan Manajerial yang Matang

Dalam Kurikulum 2013, memiliki kemampuan manajerial yang matang disebut kompetensi pedagogik. Kompetensi ini meniscayakan kemampuan guru dalam merancang pelaksanaan pembelarajan, mengelola kelas, memahami karakter peserta didik dan mampu mengembangkan kemampuan peserta didik. Kemampuan manajerial atau pedagogik ini tergambar dalam Q.S. al-Kahfi [18]: 70, 71, 72, 75, 76, dan 78.

قَالَ فَاِنِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْـَٔلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰٓى اُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا ࣖ فَانْطَلَقَاۗ حَتّٰٓى اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَاۗ قَالَ اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَاۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا قَالَ اَلَمْ اَقُلْ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang apa pun sampai aku menerangkannya kepadamu.” Kemudian, berjalanlah keduanya, hingga ketika menaiki perahu, dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Apakah engkau melubanginya untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.” Dia berkata, “Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?”

Baca Juga: Pentingnya Membangun Nalar Argumentatif

Kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidir di atas dapat menjadi pelajaran penting bagi seorang guru untuk dapat memiliki kompetensi pedagogik secara matang. Nabi Khidir sebenarnya sudah memahami karakter Nabi Musa yang “agak bebal”. Oleh karenanya, ia menanyakan kepadanya, “apakah engkau mampu mengikutiku?”. Lantas Nabi Musa menimpali, “ya, aku bersedia”. Namun di tengah perjalanan, Nabi Musa gerah dan tak tahan untuk tidak mempertanyakan kelakukan gurunya, Nabi Khidir yang menurutnya “nyeleneh”.

Nah, di sinilah letak ketegasan sang guru. Dengan nada tegas, Nabi Khidir berkata “jika engkau mengikutiku, jangan banyak bertanya”. Kalimat tersebut ia tegaskan beberapa kali. Namun, karena karakter Nabi Musa yang penasaran sekali, ia tak tahan untuk tidak mengomentari kelakuan “nyeleneh” gurunya. Puncaknya, Nabi Khidir dengan tegas berkata “Inilah waktu perpisahan antara aku dan engkau. Aku akan memberitahukan kepadamu makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya”, sebagaimana terlukiskan dalam Q.S. al-Kahfi [18]: 78.

Dari kisah tersebut, ada dua hikmah yang dapat diambil. Pertama, bagi seorang guru harus tegas dalam mendidik, ia harus paham betul mengenai batasan-batasan dalam mengajar. Yang kedua, bagi seorang peserta didik, ia harus menaati perintah sang guru selama tidak melanggar ketentuan syariat dan bersabar untuk tidak meluapkan segala pertanyaannya kecuali dipersilahkan oleh gurunya.

Dapat menjadi Teladan

Bagi seorang pelajar, patut kiranya memilih guru yang dapat menjadi teladan yang baik (uswah hasanah). Atau dalam kurikulum 2013, teladan yang baik merupakan bagian dari kompetensi kepribadian. Dan ini harus dimiliki oleh seorang guru. Rasul saw sendiri mencerminkan sosok guru yang dapat menjadi teladan bagi para keluarga, sahabat dan umatnya sebagaimana termaktub dalam Q.S. al-Ahzab [33]: 21,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah. (Q.S. al-Ahzab [33]: 21)

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menafsirkan kata uswah atau iswah berarti teladan. Shihab menjelaskan makna uswah dengan menyitir penafsiran al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasyaf bahwa ada dua kemungkinan tentang maksud keteladanan yang terdapat dalam diri rasul itu. Pertama, dalam arti kepribadian beliau secaa totalitasnya adalah teladan. Kedua, dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan merupakan pilihan banyak ulama. Lanjut Shihab, pakar tafsir dan hukum, al-Qurtubi, mengemukakan bahwa dalam soal-soal agama, keteladanan itu merupakan kewajiban, tetapi dalam soal-soal keduniaan maka ia merupakan anjuran.

Selain menjadi teladan, bagi seorang guru wajib memiliki karakter yang penyantun dan penyayang terhadap peserta didik, baik peserta didik yang taat maupun sebaliknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Q.S. al-Taubah [9]: 128,

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Q.S. al-Taubah [9]: 128)

Tidak cukup di situ, di dalam Al-Quran surah Thaha ayat 44, guru juga hendaknya berbicara lembut (tidak kasar) dan menenangkan sekalipun kepada peserta didik yang dianggapnya bebal dan menjengkelkan. Kata Allah, “faqula lahu qaulan layyina la’allahu yatadzakkaru au yakhsya” (maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”).

Mudah Memaafkan dan Suka Bermusyawarah (Hablun Minannas)

Kriteria ketiga yang harus diperhatikan seorang pelajar dalam memilih guru adalah pilihlah guru yang mudah memaafkan dan suka bermusyawarah atau berdikusi bersama. Dalam kurikulum 2013, kriteria ketiga ini disebut juga kompetensi sosial. Hal ini dilukiskan Allah swt dalam Q.S. Ali Imran [3]: 159,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (Q.S. Ali Imran [3]: 159)

Ahli di Bidangnya

Kriteria keempat berikutnya adalah pilihlah sosok guru yang memiliki ekspertasi di bidangnya sehingga ia memiliki kompetensi dan pemahaman yang mendalam, tidak sepotong-potong. Atau kalau di dalam istilah kurikulum 2013, kompetensi semacam ini disebut kompetensi profesional seperti yang dinyatakan Allah swt dalam Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 7, “bertanyalah kalian kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui”.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Epistemologi ‘Irfani dalam Pendidikan Islam

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka, bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 7)

Memiliki Kedekatan dengan Allah SWT (Hablun Minallah)

Terakhir, pilihlah seorang guru yang memiliki kedekatan yang baik dengan Allah Swt sebab ia akan selalu dalam bimbingan Allah dan kecil kemungkinan akan terperdaya oleh hawa nafsu. Inilah yang kami sebut dengan kompetensi spiritual. Betapa banyak fenomena guru belakangan ini yang mencabuli anak didiknya, bersikap keras, memukuli dan mencemooh (bully) anak didiknya sendiri, bisa jadi disebabkan renggangnya hubungan dia dengan Allah swt. Karenanya, kedekatan yang baik kepada Allah akan memberi nilai tambah sehingga ilmu yang dipelajari benar-benar memberi kemanfaatan bagi dirinya sendiri maupun kepada orang lain sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. al-Sajdah [32]: 16,

تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk salat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. al-Sajdah [32]: 16

Bentuk kedekatan kepada Allah swt salah satunya, menurut ayat di atas, adalah mendirikan shalat malam dengan memohon ampun kepada Allah dan menginfakkan sebagian rizki yang dimiliki untuk orang lain, dan tidak memperkaya diri sendiri. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 6-7: Mengisi Momen Kemerdekaan dengan Bersyukur

0
Kemerdekaan
Kemerdekaan

Kini, kita telah tiba pada hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke-77 tahun. Usia kemerdekaan ini merupakan pencapaian yang begitu besar mengingat perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan tersebut menempuh jalan yang amat panjang.

Berbicara soal kemerdekaan, Alquran juga pernah menceritakan tentang kisah Bani Israil yang dilepaskan dari jajahan Fir’aun. Sebagaimana terekam dalam QS. Ibrahim [14]: 6 sebagai berikut.

وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ أَنجَىٰكُم مِّنۡ ءَالِ فِرۡعَوۡنَ يَسُومُونَكُمۡ سُوٓءَ ٱلۡعَذَابِ وَيُذَبِّحُونَ أَبۡنَآءَكُمۡ وَيَسۡتَحۡيُونَ نِسَآءَكُمۡۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَآءٞ مِّن رَّبِّكُمۡ عَظِيمٞ

Terjemah: “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu”. (QS. Ibrahim [14]: 6)

Tafsir Surah Ibrahim [14]: 6 Memoriam Kekejaman Fir’aun Menjajah 

Menurut Tafsir Kementerian Agama, dalam ayat ini, Allah ﷻ mengisahkan tentang Nabi Musa yang mengajak umatnya untuk mengenang nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, yakni ketika Allah menyelamatkan mereka dari kekejaman Firaun beserta para pengikutnya, yang telah menyiksa mereka dengan siksaan yang berat, menyembelih anak laki-laki mereka, dan membiarkan anak-anak perempuan mereka hidup.

Sementara Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menegaskan kembali bahwa kala itu Fir’aun dan para pengikutnya, telah menyiksa Bani Israil berupa penindasan dan penghinaan, menerapkan kerja paksa untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak sanggup dilakukan. Mereka juga membantai anak lelaki yang baru lahir dan masih kecil karena khawatir munculnya seorang anak yang akan menjadi sebab kehancuran kerajaan Fir’aun sebagaimana tafsir mimpi yang dialami Fir’aun. Sedangkan anak-anak perempuan dibiarkan tetap hidup sebagai perempuan-perempuan hina dan tertindas.

Baca Juga: Tafsir Kontekstual Gus Dur Seputar Moderasi Islam

Maka kemudian pada ayat berikutnya Allah SWT mengingatkan manusia untuk bersyukur terhadap nikmat-nikmat yang telah diberikannya. Sebab pada setiap rasa syukur atas nikmat tersebut akan melahirkan berbagai kebaikan-kebaikan berikutnya. Sebagaimana dinyatakan dalam QS. Ibrahim [14]: 7 sebagai berikut.

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

Terjemah: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14]: 7)

Sebagai lanjutan dari ayat sebelumnya, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut Allah menjanjikan dua konsekuensi ketika manusia memilih salah satu dari keduanya. Pertama, ketika manusia bersyukur maka Allah akan menambah nikmat yang diterima, tetapi apabila kufur maka justru nikmat tersebut akan dicabut bahkan mereka akan disiksa.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah mengatakan bahwa secara spesifik ayat tersebut ditujukan kepada Bani Israil dengan perintah yang berisi untuk mensyukuri nikmat penyelamatan dan lain-lain yang pernah Allah berikan kepada mereka berupa keteguhan iman dan ketaatan. Allah akan menambah nikmat-nikmat itu jika mereka bersyukur.

Wujud Syukur Kemerdekaan Sesuai Kapasitas Masing-masing

Peringatan Nabi Musa kepada Bani Israil dan perintah Allah untuk bersyukur dalam ayat di atas sejatinya merupakan tindakan-tindakan yang harus dilakukan dalam mengisi kemerdekaan. Miftahul Arifin dalam buku Aktivasi Mukjizat Surat Al-Fatihah menjelaskan bahwa wujud rasa syukur dapat ditunjukkan dengan amal kebaikan yang berlandaskan pada keikhlasan hati. Sehingga dapat dipahami bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas (sesuai kapasitas diri dan hati) akan melahirkan rasa syukur terhadap nikmat-nikmat Allah.

Kisah tauladan yang telah dicontohkan oleh Nabi Musa as. ketika mengingatkan umatnya atas nikmat dan terbebas dari penjajahan Fir’aun di atas, membuka memori kita bersama untuk juga mensyukuri anugerah kemerdekaan Indonesia setelah menerima kekejaman penjajah yang telah menindas bangsa ini.

Baca Juga: Surah An-Nisa [4]: 59: Larangan Melakukan Kudeta terhadap Pemerintah yang Sah

Wujud syukur yang dapat dilakukan ketika momen kemerdekaan ini adalah dengan melakukan hal-hal yang menunjukkan semangat kemerdekaan sesuai kapasitas masing-masing. Bagi pelajar misalnya, dapat mengisi peringatan kemerdekaan dengan mengikuti upacara bendera dengan baik serta memanjatkan doa untuk para pejuang terdahulu. Begitu pun dengan elemen-elemen masyarakat yang lain dapat menunjukkan semanagat kemerdekaan tersebut sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Penutup

Maka sepantasnya, anugerah kemerdekaan, keselamatan, dan kemakmuran bangsa ini disikapi dengan rasa syukur yang utama kepada Allah SWT kemudian diwujudkan dengan semangat cinta tanah air dan mensyukuri anugerah kemerdekaan. Bentuk rasa syukur tersebut tidak hanya dipanjatkan melalui doa, tetapi melalui tindakan nyata sesuai dengan kapasitas masing-masing walau dengan hal-hal yang sederhana namun penuh makna. Wallahu A’lam.

Kritik Alquran Terhadap Kesenjangan Sosial

0
Kesenjangan sosial
Kesenjangan sosial

Sejak awal penurunan, Alquran melontarkan kritik terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Mekah. Kritik tersebut merupakan langkah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang berakhlak dan berkeadilan.

Fazlur Rahman dalam Tema-tema Pokok Alquran (2017: 56) mencatat bahwa ketimpangan ekonomi menjadi sesuatu yang paling umum mendapat kecaman dari Alquran. Itulah yang paling sulit diperbaiki serta merupakan akar konflik sosial. Terjadi banyak penyiksaan terhadap anak perempuan, anak yatim, kaum perempuan, hingga perbudakan. Dari sudut pandang ekonomi, Mekah merupakan kota perdagangan yang makmur, akan tetapi ia memiliki dunia bawah tanah yang berisi eksploitasi kaum lemah dan berbagai praktik perdagangan yang curang.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 11: Larangan Saling Menghina Dan Merendahkan dalam Al-Quran

Mekah saat itu menampilkan kehidupan bermegah-megahan dengan kekikiran yang egois dan tidak berperasaan di satu sisi, namun ada kemiskinan luar biasa dan kesengsaraan di sisi lain. Menurut Rahman (2017: 56), Alquran membuat pernyataan yang mengesankan untuk merespons situasi tersebut, seperti dalam Q.S. Attakasur [102]: 1-4.

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ . حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ . كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ .ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ

“Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).” (Q.S. Attakasur [102]:1-4)

Alquran tentu tidak melarang usaha mengumpulkan kekayaan dan menggapai kemakmuran. Bahkan, kedamaian dan kekayaan dipandang sebagai bentuk rahmat Allah. Akan tetapi, penyalahgunaan kekayaan akan membuat manusia menyimpang dari meraih nilai-nilai yang lebih tinggi. Mereka yang menyimpang itu hanya mementingkan kehidupan dunia saja, sementara kehidupan akhirat mereka lalaikan. Dalam konteks ini, bahkan para ahli ibadah yang tidak memperhatikan nasib orang-orang miskin pun dapat terjerumus dalam kemunafikan. Alquran mengistilahkan mereka dengan allazi yukadhdhibu bi al-din (orang yang mendustakan agama) dalam Alma’un.

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ. فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ. وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ. فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ. الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ. الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ. وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim; dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.” (Q.S. Alma’un [107]:1-7)

Dalam Tafsir Al-Azhar (2015, 9: 673), Buya Hamka menegaskan bahwa orang yang membenci anak yatim adalah orang yang mendustakan agama, walaupun dia beribadah. Buya Hamka juga menjelaskan bahwa rasa benci, sombong, dan kikir tidak boleh ada dalam jiwa seseorang yang mengaku beragama. Dia mengaku menyembah Allah, tetapi hamba Allah tidak dipedulikan dan tidak diberi pertolongan. Artinya, spirit Alquran menginginkan agar orang yang menjalankan ritual ibadah secara individu juga memiliki rasa kepedulian secara sosial.

Baca juga: Semangat Filantropi dalam Al-Quran dan Keadilan Ekonomi

Dalam istilah Gus Mus, sesorang hendaknya memadukan antara soleh ritual dan soleh sosial. Yang dikatakan Gus Mus tersebut memang menjadi tuntutan bagi Muslim untuk ihsan kepada diri sendiri dan orang lain. Sebagai salah satu dasar pensyariatan saleh sosial dan ritual terdapat pada Alquran. Pada banyak ayat,  salat dan zakat disandingkan (Misal Q.S. 2: 43, 83, 110, 177, 277; QS. 4: 77; QS. 5: 55). Salat merupakan simbol ibadah ritual disandingkan dengan zakat yang berdimensi sosial.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa Alquran mengajarkan spirit kepedulian sosial dan melawan kesenjangan sosial. Secara tegas, Alquran menyatakan sebagai berikut.

“Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Q.S. Alisra’ [17]:26)

Baca juga: Kritik Al-Quran Terhadap Fenomena Pembunuhan Anak Di Masa Jahiliyah

Ayat di atas menegaskan perintah untuk memberikan hak kepada orang lain yang membutuhkan seraya diiringi larangan untuk menghambur-hamburkan harta. Hal ini relevan dengan fakta bahwa biasanya orang yang berbuat boros dalam membelanjakan harta cenderung tidak memiliki kepedulian sosial. Sikap seperti ini dikritik keras oleh Alquran. Berdasarkan itu semua, Alquran memiliki tujuan utama membentuk masyarakat yang adil dan makmur. Semua itu dapat dicapai apabila setiap individu senantiasa menjaga rasa kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat. Wallahu a’lam[]

Tuntunan Alquran untuk Hilangkan Insecurity Berlebih

0
Insecurity
Insecurity

Insecurity atau perasaan tidak aman seringkali muncul pada kebanyakan orang, terutama pada anak muda usia remaja. Berbagai tren dan gaya mereka ikuti hanya ingin memenuhi rasa ketidakpuasan terhadap standar kecantikan dan ketampanan yang banyak diimpikan.

Bahkan ironisnya, ada orang-orang yang sampai melakukan operasi plastik demi memperindah diri dan tidak ingin dianggap jelek oleh orang lain. Rasa insecurity yang berlebihan ini sejatinya memberi dampak buruk terhadap kesehatan mental seseorang hingga berujung pada perbuatan yang tidak dibenarkan seperti merubah bagian tubuh atau menyesali dirinya diciptakan dengan kemampuan yang sudah dimiliki.

Lalu bagaimana kata Alquran ketika menyikapi rasa insecurity berlebihan ini? Allah SWT menjawabnya dalam Q.S. Attin [95]: 4 sebagai berikut.

لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ

 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S. Attin [95]: 4)

Tafsir Q.S. Attin [95]: 4 manusia adalah ciptaan Allah yang terbaik

Menurut Tafsir Kementerian Agama, dalam Surah Attin ini Allah SWT telah bersumpah dengan buah-buahan yang bermanfaat dan tempat-tempat yang mulia. Kemudian Allah menegaskan dalam ayat keempat surah ini bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis terbaik.

Dari segi fisik, misalnya, hanya manusia yang berdiri tegak sehingga otaknya bebas berpikir, yang menghasilkan ilmu, dan tangannya juga bebas bergerak untuk merealisasikan ilmunya itu, sehingga melahirkan teknologi.

Bentuk manusia adalah yang paling indah dari semua makhluk-Nya. Dari segi psikis, hanya manusia yang memiliki pikiran dan perasaan yang sempurna. Terlebih lagi, hanya manusia yang beragama.

Baca juga: Amalan Untuk Mengatasi Krisis Kepercayaan Diri dalam Al-Quran

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya juga mengatakan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang terbaik secara batin dan zahir. Bentuknya bagus dan susunannya indah; kepala dengan segala isinya, dada dengan segala talentanya, perut dengan segala yang terkandung di dalamnya dan kedua tangan dengan segala apa yang disentuhnya, serta kedua kaki dengan segala beban yang dipikulnya. Oleh karena itu, para ahli filsafat berkata, “Sesungguhnya manusia itu adalah alam semesta yang kecil karena segala sesuatu yang terkandung di dalam seluruh makhluk ada di dalam diri manusia.

Demikian pula M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan bentuk dan sifat yang amat baik dibandingkan makhluk yang lain.

Namun sayangnya, terkadang manusia itu lupa dengan potensi-potensi tersebut dan menelantarkannya. Manusia lebih menuruti hawa nafsu dan syahwatnya. Ketika manusia tidak sadar dengan kelebihan yang dimilikinya, Allah kemudian memposisikan mereka pada tempat yang serendah-rendahnya sebagaimana ditegaskan dalam ayat kelima:

ثُمَّ رَدَدۡنَٰهُ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ

 “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),” (Q.S. Attin [95]: 5)

Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir mengatakan tempat tersebut adalah neraka. Hal ini disebabkan kekufuran yang dilakukan oleh sebagian manusia. Namun pendapat lain mengatakan manusia akan menyesali segala kesalahannya tersebut ketika mereka telah tua (renta) dan daya pikirnya berkurang.

Meredam insecurity dengan fokus pada kelebihan diri

Ayat di atas menegaskan bahwa manusia tercipta dengan segenap kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk ciptaan Allah yang lain. Manusia diberi fisik yang bagus disertai dengan psikis ataupun daya pikir yang hebat. Semestinya kelebihan-kelebihan ini dijadikan modal dalam menepis rasa tidak aman atas kekurangan diri yang berlebihan.

Tsindisyfa dalam bukunya Insecure No, Bersyukur Yes menjelaskan bahwa rasa tidak aman muncul ketika seseorang terlalu fokus dengan kekurangan diri sendiri. Padahal jika lebih cermat dan menggali potensi dirinya, terdapat banyak kelebihan yang dimiliki dan tidak perlu membanding-bandingkan dengan kelebihan orang lain.

Baca juga: Kunci Ketiga dan Keempat Menggapai Kebahagiaan: Beribadah dan Jujur

Jaminan Allah dalam Surah Attin di atas memberi penegasan bahwa manusia perlu menyadari bahwa diri mereka adalah makhluk versi terbaik yang diciptaan oleh Allah sehingga Dia memberi banyak kelebihan. Kelebihan-kelebihan itu kemudian dituntut untuk digali, dikembangkan, dan dipelihara dengan baik.

Kelebihan fisik misalnya, dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya gizi yang cukup dan menjaga kesehatannya. Sementara psikis manusia dipelihara dan ditumbuhkembangkan dengan memberinya agama dan pendidikan yang baik. Dengan demikian bahwa pada diri setiap manusia terdapat kelebihan masing-masing yang berbeda dengan segenap versi terbaiknya. Tugas manusia adalah menjaga anugerah-Nya bukan malah merubahnya.

Penutup

Kunci utama dalam menghilangkan rasa tidak aman adalah dengan mensyukuri ciptaan yang telah dianugerahkan kepada kita. Apalagi Q.S. Attin ayat 4 di atas memberi keyakinan bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk ciptaan terbaik. Sehingga, fokus pada diri sendiri dengan potensi dan kelebihan yang dimiliki adalah kunci untuk menepis rasa tidak aman yang berlebihan. Sebab Allah memerintahkan untuk memanfaatkan potensi dan kelebihan tersebut, bukan malah merubah dan menyesali anugerah yang telah diberikan-Nya. Wallahu a’lam.