Beranda blog Halaman 122

Tafsir Tarbawi: Lima Sebab yang Menjadikan Kita Kesulitan dalam Belajar

0
Kesulitan
Kesulitan dalam Belajar

Adakalanya ketika menuntut ilmu, seorang pelajar mengalami kesulitan. Kesulitan itu merupakan suatu keniscayaan dan pasti dialami oleh tiap pelajar. Bahkan, tak jarang kesulitan tersebut membuatnya putus asa dan frustasi sehingga mengendurkan semangat belajarnya. Beberapa kesulitan tersebut sejatinya telah disinggung oleh para ulama misalnya Syekh Az-Zarnuji (pengarang kitab Ta’lim), KH. Hasyim Asy’ari (pengarang kitab Adabul ‘Alim), dan sebagainya. Dalam hal ini, kami akan mengulas lima sebab pelajar mengalami kesulitan, baik ketika mempelajari, memahami, menghafalkan materi maupun kesulitan dalam hal semangat dan istikamah.

Putus Asa

Sebab kesulitan pertama yang dialami pelajar adalah putus asa. Rasa putus asa ini tak jarang acapkali membuat pelajar mengalami kesulitan dalam belajar dan menghafalkan materi. Ketika seorang pelajar sudah putus asa, maka otak bawah sadarnya akan memformat ulang memori dan mindset kita bahwa kita sudah tidak bisa lagi. Jikalau itu yang terjadi, maka sudah selesailah hidup kita dalam status sebagai pelajar.

Hadirnya putus asa ini sesungguhnya merupakan ujian dari Allah swt apakah pelajar masih kuat meneruskan dan melanjutkan belajarnya atau justru sebaliknya. Allah swt berfirman,

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (Q.S. Yusuf [12]: 87)

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Perintah Tirakat dalam Menuntut Ilmu

Selain itu, Syekh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim mengatakan bahwa seorang pelajar tidak boleh putus asa karena akan berakibat fatal.

وَيَنْبَغِيْ اَنْ لَايَكُوْنَ لِطَالِبِ الْعِلْمِ فَتْرَةٌ وَتَحَيُّرٌ فَإِنَّهَا آفَةٌ

“Seorang pelajar tidak boleh patah semangat atau frustasi karena hal itu berakibat buruk”.

Lanjut Syekh Az-Zarnuji, Syaikh Burhanuddin berkata, “Aku dapat mengalahkan teman-temanku karena aku tak pernah mengalami patah semangat dan tak pernah goncang dalam menuntut ilmu”.

Tidak Mengulang-Ulang Pelajaran

Kesulitan kedua adalah pelajar tidak mengulang-ulang (muraja’ah) pelajaran. Biasanya ketika sudah mendapatkan materi dari guru, ia tidak lekas mengulangnya di waktu nanti, semisal waktu sore dan malam hari. Hal ini disebabkan tidak lain munculnya sifat malas. Sifat malas ini lagi-lagi adalah sebuah godaan bagi pelajar. Jika malas mengulang pelajaran, malas pulalah ia beribadah dan cenderung akan banyak bermain.

Mengulang-ulang pelajaran ini Allah swt tegaskan dalam Surat al-Hijr ayat 87,

وَلَقَدْ اٰتَيْنٰكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْاٰنَ الْعَظِيْمَ

Sungguh, Kami benar-benar menganugerahkan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang408 dan Al-Qur’an yang agung. (Q.S. al-Hijr [15]: 87)

Dalam Tafsir kemenag dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang adalah surah al-Fātiḥah yang terdiri atas tujuh ayat. Sebagian mufasir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tujuh surah yang panjang, yaitu al-Baqarah, Āli ‘Imrān, al-Mā’idah, an-Nisā’, al-A‘rāf, al-An‘ām, dan al-Anfāl yang digabung dengan at-Taubah.

Bagi seorang pelajar, menurut Syekh al-Zarnuji, hendaknya pelajar wajib mengulang pelajarannya setiap waktu. Ia mengatakan,

وَيَنْبَغِيْ لِطَالِبِ الْعِلْمِ اَنْ يَعُدَّ وَيُقَدِّرُ لِنَفْسِهِ تَقْدِيْرًا فِى التِّكْرَارِ فَإِنَّهُ لَايَسْتَقِرَّ قَلْبَهُ حَتَّى يَبْلُغَ ذَلِكَ الْمَبْلَغَ

“Para santri harus mengulang-ulang pelajarannya sampai jumlah bilangan tertentu. Kalau setiap malamnya mengulangi pelajarannya sampai sepuluh kali, maka begitu seterusnya. Karena pelajaran itu tidak bisa melekat di hati bila tidak diulang-ulang”.

Berharap selain Allah

Kesulitan ketiga adalah niat belajar atau menuntut ilmu tidak karena Allah. Niatnya sudah tidak murni untuk mencari ridha Allah, melainkan sudah dicampuri niat-niat keduniaan, misal niat menuntut ilmu supaya dapat uang yang banyak, supaya dapat anak-nya kiai, dan seterusnya. Niat-niat semacam ini diharamkan bagi seorang pelajar karena Allah swt sendiri menegaskan,

وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ

Dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah! (Q.S. al-Insyirah [94]: 8)

Hanya kepada Allah lah kita berharap, bukan kepada yang lain. Dalam ayat yang lain dikatakan,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Q.S. Ghafir [40]: 60)

Syekh Az-Zarnuji, juga berpesan kepada kita semua sebagaimana tertulis di bawah ini,

وَيَنْبَغِيْ اَنْ لَايَرْجُوْا اِلَّا مِنَ اللهِ تَعَالَى وَلَا يَخَافَ إِلَّا مِنْهُ وَيَظْهَرُ ذَلِكَ بِمُجَاوَزَةِ حَدِّ الشَّرْعِ وَعَدَمِهَا

“Para pelajar seharusnya tidak berharap kecuali hanya kepada Allah. Dan tidak takut kecuali kepada-Nya. Hal itu tampak dari berani tidaknya ia melanggar hukum syariat”.

Tidak Sungguh-Sungguh dalam Belajar

Kesulitan keempat adalah tidak sungguh-sungguh dalam belajar. Menurut Syekh Az-Zarnuji, kesungguhan ini menjadi modal utama bagi siapapun, terutama bagi pelajar, yang menginginkan keberhasilan dalam usahanya. Ia mengatakan,

وَالرَّأْسُ فِيْ تَحْصِيْلِ الْأَشْيَاءَ الْجِدُّ وَالْهِمَّةُ الْعَالِيَةُ فَلَمَّا إِذَا كَانَتْ لَهُ هِمَّةٌ عَالِيَةٌ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ جِدُّ أَوْ كَانَ لَهُ جِدٌّ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ هِمَّةٌ عَالِيَةٌ لاَ يَحْصُلُ لَهُ اِلَّا عِلْمٌ قَلِيْلٌ

“Modal paling utama adalah kesungguhan. Segala sesuatu bisa dicapai asal mau bersungguh-sungguh. Jika ada yang bercita-cita ingin pandai, tapi tidak mau bersungguh-sungguh dalam belajar, tentu dia tidak akan memperoleh ilmu kecuali hanya sedikit”.

Baca Juga: Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang santri atau pelajar tidak boleh terlalu memaksakan diri hingga melebihi batas kemampuannya. Karena akan melemahkan tubuhnya, sehingga tidak mampu belajar dan beraktivitas karena terlalu letih. Menuntut ilmu itu harus sabar. Pelan-pelan tapi kontinyu, sabar inilah pokok yang paling penting dari segala sesuatu. Bahkan, Allah swt pasti memberi petunjuk bagi siapapun yang bersungguh-sungguh sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya,

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ

Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. al-Ankabut [29]: 69)

Banyak Maksiat

Yang terakhir adalah banyak maksiat. Bagi seorang pelajar, melakukan maksiat merupakan suatu pantangan yang harus dihindari. Dampak seringnya bermaksiat, akan mempengaruhi kualitas ilmu yang diperoleh dan keberkahannya. Tidak jarang kita dapati orang yang pandai namun ilmunya kurang berkah dan bermanfaat, bahkan berani melanggar perbuatan yang seharusnya tidak ia lakukan dalam kapasitasnya sebagai orang yang berilmu.

Dalam hal ini, kita patut menyimak curhatan Imam Syafi’i kepada gurunya, Syekh Waqi’ perihal banyaknya maksiat yang dilakukan seorang pelajar. Imam Syafi’i curhat kepada gurunya, Syekh Waqi: “Mengapa, wahai guru, aku sulit untuk menghafal dan jikalau hafal, hafalanku lekas hilang”. Maka berkatalah sang guru, “tinggalkan maksiat, karena ilmu itu cahaya Allah, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang ahli maksiat”. Kata Allah dalam Surat An-Nisa ayat 14, “Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar batas-batas ketentuan-Nya, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam api neraka. (Dia) kekal di dalamnya. Baginya azab yang menghinakan”. Wallahu A’lam.

Dasar Hukum Nifas Sama dengan Haid

0
Dasar hukum nifas sama dengan haid
Dasar hukum nifas sama dengan haid

Para ulama menyatakan bahwa hukum orang yang mengalami nifas sama dengan orang yang mengalami haid dalam hal keharaman untuk melaksanakan ibadah tertentu seperti salat dan puasa. Dasar keharaman salat dan puasa bagi orang yang haid adalah keterangan Alquran dan hadis yang cukup banyak ditemui. Lalu bagaimana bagi orang nifas? Apa dasar para ulama menyatakan salat dan puasa diharamkan bagi orang yang nifas seperti halnya haid? Apa alasan ulama menyamakan hukum nifas dengan haid?

Baca juga: Tafsir Ahkam: Ketahuilah, Apa Makna Junub Di dalam Al-Qur’an

Darah nifas sama dengan darah haid

Apabila dilacak dasar hukum kewajiban mandi ketentuan lain bagi orang nifas dalam literatur para ulama, maka akan didapati bahwa dasar hukumnya sama dengan dasar hukum kewajiban mandi bagi orang yang haid. Syaikh Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir misalnya, menjelaskan bahwa dasar hukum kewajiban mandi bagi orang nifas adalah firman Allah (Tafsir Munir/6/108):

وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ

“Dan jangan kamu dekati mereka (untuk melakukan hubungan intim) hingga mereka suci (habis masa haid). Apabila mereka benar-benar suci (setelah mandi wajib), campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu.”  (Q.S. Al-Baqarah [2]: 222)

Selain bertendensi pada ayat di atas, ulama juga telah sepakat bahwa nifas sama dengan haid. Kewajiban serta larangan yang berlaku bagi orang yang haid, juga berlaku bagi orang yang nifas. Lalu sebenarnya apa yang menyebabkan ulama menyamakan hukum tersebut?

Berdasar keterangan beberapa ulama, alasan penyamaan hukum nifas dan haid meski keduanya memiliki karakter yang berbeda, adalah karena sebenarnya darah nifas adalah darah haid, sehingga keduanya adalah jenis darah yang sama.

Baca juga: Perempuan Menstruasi Wajib Qada Puasa, Bukan Salat

Imam al-Syairazi dalam al-Muhadzdzab menyatakan bahwa kewajiban dan larangan yang dikenakan pada orang yang haid juga dikenakan pada orang yang nifas. Hal ini disebabkan oleh kesamaan dua darah tersebut.  Darah nifas adalah darah haid yang tertimbun dan tertahan untuk keluar sebab terjadi kehamilan. (al-Muhadzdzab/1/83)

Imam Ibn Hazm dari kalangan Mazhab Dzahiri menyatakan, nifas sejatinya adalah benar-benar darah haid. Sebab itu, hukum yang dikenakan pada orang yang haid juga dikenakan pada orang yang nifas. (al-Muhalla/1/776)

Beberapa ulama menyatakan, di masa-masa awal Islam, kadang kata haid juga diperuntukan bagi orang yang nifas atau sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa kedua darah tersebut sejatinya adalah jenis darah yang sama. Imam al-Bukhari misalnya, menuliskan satu bab khusus dalam Sahih Bukhari dengan judul “orang yang menyebut nifas sebagai haid”. Dalam bab itu, beliau meriwayatkan hadis dari Ummi Salamah:

قَالَتْ بَيْنَا أَنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – مُضْطَجِعَةً فِى خَمِيصَةٍ إِذْ حِضْتُ ، فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حِيضَتِى قَالَ « أَنُفِسْتِ » . قُلْتُ نَعَمْ . فَدَعَانِى فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِى الْخَمِيلَةِ

“Ummi Salamah berkata: “Saat aku berbaring bersama Nabi dengan memakai Khamishah (sejenis pakaian), tiba-tiba aku mengalami haid. Lalu aku pergi ke tempat yang agak tertutup dan mengambil baju haidku. Nabi berkata: ‘Apa engkau mengalami nifas?’ aku menjawab: ‘Ya’” (HR. Bukhari)

Ibn Hajar menyatakan, lewat hadis ini kemudian beberapa ulama menyatakan bahwa hukum haid dan nifas adalah sama. (Fath al-Bari/1/469)

Kesimpulan

Dari berbagai keterangan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan, alasan ulama menyamakan hukum nifas dan haid adalah karena sejatinya keduanya adalah darah yang sama. Kalau keduanya sama, mengapa secara bahasa dibedakan? Hal ini mungkin karena dua darah tersebut keluar pada waktu yang berbeda. Gramatikal arab kemudian memunculkan dua kosa kata yang berbeda untuk mengakomodir perbedaan tersebut, lalu muncul anggapan bahwa darah nifas dan haid adalah dua jenis darah yang berbeda.

Meski begitu, penyamaan hukum dua darah tersebut janganlah dianggap secara mutlak. Sebab dalam beberapa kasus, darah nifas memiliki dampak hukum yang tidak sama dengan darah haid, seperti dalam permasalahan tanda-tanda baligh. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Annur Ayat 45: Setiap Orang Memiliki Keahlian Masing-Masing

0
Tafsir surah Annur ayat 45_setiap orang memiliki keahlian
Tafsir surah Annur ayat 45_setiap orang memiliki keahlian

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam pepatah Arab di katakan “Janganlah kamu menghina atau merendahkan yang lain, karena setiap orang memiliki maziyyah (kelebihan) masing-masing”. Surga terlalu luas untuk ditempati seorang saja, sedangkan ada begitu banyak jutaan bidang keahlian atau keilmuan yang kita tidak kuasai. Karena itu, penting bagi pelajar untuk tidak merendahkan atau menghina orang lain atas ketidakmampuan suatu bidang yang dimiliki. Sebaliknya, pelajar harus memiliki paradigma bahwa setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing.

Surah Annur ayat 45 menyinggung tentang ciri khas dan masing-masing karakter dari ciptaanNya. Jika membacanya dari kacamata pendidikan, ayat tersebut dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa ciri khas dari masing-masing ciptaan Allah menunjukkan tentang keahlian dari mereka yang memang diberikan oleh Allah sejak awal. Allah swt berfirman,

وَاللّٰهُ خَلَقَ كُلَّ دَاۤبَّةٍ مِّنْ مَّاۤءٍۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى بَطْنِهٖۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى رِجْلَيْنِۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰٓى اَرْبَعٍۗ يَخْلُقُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Allah menciptakan semua jenis hewan dari air. Sebagian berjalan dengan perutnya, sebagian berjalan dengan dua kaki, dan sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. al-Nur [24]: 45)

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Pandai-pandailah Memanfaatkan Momentum Belajar dengan Baik!

Tafsir surah Annur ayat 45

Sepintas, ayat di atas menginformasikan tentang cara Allah menciptakan berbagai jenis hewan dan cara mereka bertahan hidup. Allah swt. tidak lupa untuk memberikan sejumlah organ tubuh agar mereka bisa bertahan hidup. Tentu perbedaan organ di antara beragam hewan itu tidaklah sama. Hal itu bersifat alamiah, sesuatu yang sifatnya kodrati, tidak untuk direndahkan, diremehkan apalagi dibunuh.

Ali al-Shabuni dalam Shafwah al-Tafasir memaknai ayat tersebut bahwa semua jenis hewan itu diciptakan untuk memberi bukti akan kekuasaan Allah swt., juga pemuliaan Allah terhadap penduduk langit dan bumi. Kemudian khusus mengenai kondisi hewan, mufasir yang lain, yakni Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah swt. dengan kekuasaan dan otoritas-Nya yang powerfull menciptakan semua jenis makhluk dalam berbagai bentuk, warna, sifat dan kekhasannya itu semua berasal dari satu air (min ma’in wahid).

Sementara itu, ‘satu air’ yang dimaksud pada ayat tersebut coba dijelaskan oleh At-Tabari dalam tafsirnya, Tafsir al-Tabari yaitu nuthfah (sperma). Mufasir yang berjuluk syaikh al-mufassirin ini juga menjelaskan bahwa penciptaan pada ayat ini tidak hanya terbatas pada hewan saja, bahkan manusia sekalipun juga tumbuh-tumbuhan semuanya diciptakan dari bahan yang satu, yaitu air.

Ibn Katsir memaknai macam-macam hewan yang disinggung dalam ayat tersebut. Hewan yang diitilahkan dengan ‘ala batnih adalah ular dan hewan yang serupa dengannya, yakni hewan melata. Sedang hewan yang bersifat rijlain dicontohkan seperti burung dan manusia. Untuk hewan yang bersifat ‘empat kaki’ (‘ala arba’) adalah hewan ternak yang berjalan menggunakan empat kaki.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Dua Pantangan yang harus dijauhi bagi Pelajar

Setiap orang memiliki keahlian masing-masing

Dari ayat di atas, sebagaimana setiap hewan mempunyai ciri khasnya sendiri, seseorang pun demikian. Setiap orang mempunyai ciri khas atau keistimewaan masing-masing. Tidak elok kiranya apabila seseorang mengunggulkan/ menyombongkan keilmuan yang dimilikinya dengan merendahkan keilmuan yang lain. Pelajar harus memegang prinsip “Benar tanpa menyalahkan, baik tanpa mengafirkan, dan beradab tanpa bermuka dua”. Mengutip pernyataan Abdul Wahab Ahmad, intelektual muda NU, “ada ratusan atau bahkan mungkin ribuan bidang pengetahuan dan keahlian di dunia ini. Kita hanya menguasai satu dua saja dan bodoh selebihnya. Lalu bagaimana bisa ada yang merasa hebat?”.

Setiap bidang ilmu dan keahlian memiliki “ulil amri”-nya sendiri. Semisal keilmuan agama merujuk pada ulama, kiai, ustad. Pakar kesehatan merujuk pada dokter. Pakar geografi dan klimatologi merujuk pada ahli geografi, dan seterusnya. Dalam pepatah Arab dikatakan,

لاَ تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَيْئٍ مَزِيَّةٌ

“Jangan menghina seseorang yang lebih rendah daripada kamu, karena segala sesuatu itu mempunyai kelebihan.”

Dalam bahasa Quraish Shihab, surga terlalu luas untuk dimonopoli atau didiami sendirian. Syekh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim berpesan,

وَيَنْبَغِيْ اَنْ يَكُوْنَ صَاحِبُ الْعِلْمِ مُشْفِقًا نَاصِحًا غَيْرَ حَاسِدٍ فَالْحَسَدُ يَضُرُّ وَلَا يَنْفَعُ

“Orang berilmu harus menyayangi sesama. Senang kalau orang mendapat kebaikan. Tidak iri (hasad) karena sifat iri itu berbahaya dan tidak ada gunanya.”

Syekh Az-Zarnuji menambahkan, “barang siapa yang sibuk mengerjakan sesuatu yang tidak berguna, maka dia kehilangan sesuatu yang berguna baginya”. Manusia adalah makhluk sosial. Setiap manusia memiliki kedaulatan berpikir dan kebebasan untuk mengembangkan kemampuannya sesuai fitrah Allah swt. Maka, jangan kemudian lantas sombong, merasa paling pintar sejagad sehingga merendahkan dan meremehkan yang lain. Itu bukan akhlak seorang pelajar. Akhlak seorang pelajar adalah cinta kasih kepada sesama. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Alhadid Ayat 23: Ciri-Ciri Zuhud

0
surah Al-Hadid ayat 23_ciri-ciri zuhud
surah Al-Hadid ayat 23_ciri-ciri zuhud

Tasawuf dengan salah satu ajarannya yakni zuhud seringkali disalahartikan sebagai ajaran tentang membenci kehidupan dunia, sehingga ajaran zuhud dianggap tidak sesuai dengan kenyataan kehidupan dunia. Apakah memang demikian? Surah Alhadid ayat 23 berikut menyinggung tentang salah satu ciri-ciri dari zuhud.

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (Q.S. Al-Hadid [57]: 23)

Baca Juga: Zuhud yang Sejati

Tafsir surah Alhadid ayat 23: bersikap wajar terhadap kesedihan dan kegembiraan

Menurut Tafsir Kementerian Agama, melalui ayat ini Allah menyatakan bahwa semua peristiwa ditetapkan sebelum terjadinya, agar manusia bersabar menerima cobaan Allah. Cobaan tersebut adakalanya berupa kesengsaraan dan malapetaka, ada pula berupa kesenangan dan kegembiraan.

Karena itu janganlah terlalu bersedih hati ketika ditimpa kesengsaraan dan malapetaka. Sebaliknya, jangan pula terlalu bersenang hati dan bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hati. Sikap yang paling baik ialah sabar dalam menerima bencana dan malapetaka yang menimpa serta bersyukur kepada Allah setiap menerima pemberian yang dianugerahkan-Nya.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah juga menkelaskan bahwa ayat ini memberitahukan kepada manusia agar tidak terlalu kecewa atas apa yang tidak diperoleh, dan tidak terlalu senang dengan apa yang diterima. Sebab Allah tidak menyukai orang yang membangga-banggakan apa-apa yang dia miliki kepada orang lain.

Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir kemudian menambahkan bahasan tentang ayat sebelumnya, yaitu ayat 22. Di situ telah Allah jelaskan bahwa setiap hal yang terjadi di dunia merupakan ketetapan, qada dan qadar dari Allah. Ini nyambung dengan pesan di ayat berikutnya, yaitu ayat 23 bahwa sebaik dan seburuk ‘bagian’ yang diterima oleh seseorang, hal itu tetap dari Allah. Di sini berarti bahwa orang yang zuhud di saat yang sama berarti orang yang menerima dengan lapang dada ketentuan dari Allah. Praktiknya adalah, tidak larut sedih ketika menghadapi takdir buruk dan tidak terlampau bahagia jika diberi takdir baik.

Melalui ayat ini pula dapat diketahui bahwa kesedihan yang tercela adalah kesedihan yang tidak dibarengi dengan kesabaran serta kerelaan dan keridaan atas qada dan qadar Allah SWT. Sedangkan kegembiraan yang terlarang adalah bergembira hingga lupa diri yang mendorong seseorang melakukan perbuatan melampaui batas dan melalaikannya dari rasa syukur.

Baca Juga: Ketika Alquran Berbicara tentang Miskin dan Kaya

Rekonstruksi sikap zuhud untuk mencapai ketenangan hidup

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Seseorang yang zuhud tidak akan bergembira dengan dunia yang ia dapatkan, juga tidak akan bersedih atas dunia yang hilang darinya.” Hal tersebut sejatinya merujuk kepada surah Alhadid ayat 23 di atas.

Selain menjalankan perintah Allah, bersikap zuhud dengan implementasi seperti dalam surah Alhadid ayat 23 di atas juga dapat mendatangkan ketenangan hati, karena tidak mempunyai kecenderungan apa pun, satu-satunya kecenderungan hatinya adalah percaya terhadap semua yang datang dari Allah adalah baik untuk dirinya.

Bahasa lain dari ciri-ciri zuhud di atas juga disampaikan oleh Ibnu Qadamah yang dikutip oleh B. Wiwoho dalam buku Bertasawuf di Zaman Edan. Dia menyatakan bahwa orang zuhud mempunyai tiga sifat. Beberapa di antaranya yaitu menggemari dunia dan menerima apa yang ada serta tidak merisaukan sesuatu yang sudah tidak ada. Hal ini senada dengan kandungan surah Alhadid ayat 23 sebelumnya yang memerintahkan kepada manusia agar manusia bersikap wajar terhadap nikmat dan ujian Allah. Hal tersebut bertujuan agar mendapatkan ketenangan hidup dan tidak terlalu tamak dengan segala keindahan dunia.

Penutup

Poin penting Surah Alhadid ayat 23 di atas adalah berupaya menerima dan tidak berlebihan dalam menghadapi ketetapan Allah sebagai ciri utama dari sifat zuhud harus dihadirkan dalam mencapai ketenangan hidup di zaman sekarang. Ketika tidak mendapatkan target yang diinginkan, maka berusahalah memainkan peran zuhud dalam hati agar merasa lega terhadap ketentuan tersebut. Begitu pula ketika berhasil, maka terapkanlah sifat zuhud untuk tidak terlalu tertarik pada keangkuhan.

Dengan demikian bahwa pemaknaan zuhud yang dirasa tepat zaman sekarang adalah bagaimana memposisikan segala sesuatu yang terjadi dengan sikap menerima dan menyikapinya secara wajar. Hal ini kemudian menepis anggapan bahwa zuhud tidak selalu bermakna sikap melepaskan diri dari semua kenikmatan duniawi yang selama ini selalu disalahpahami. Wallahu A’lam.

Tafsir Tarbawi: Dua Pantangan yang harus dijauhi bagi Pelajar

0
Pelajar
Yang harus dihindari Pelajar

Dalam menuntut ilmu, ada beberapa pantangan yang harus dijauhi bagi seorang pelajar. Pantangan tersebut menyangkut kebermanfaatan dan keberkahan ilmunya. Selain pantangan yang harus dihindari, ada baiknya seorang pelajar berlaku wara’ (bersikap hati-hati dan menjauhi dari hal-hal yang syubhat). Anjuran ini ditegaskan Allah swt dalam firman-Nya Q.S. al-Nur ayat 30 yang akan kami ulas di bawah ini. Simak selengkapnya.

Menjaga Pandangan

Pantangan pertama adalah menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. Perintah ini tersurat pada lafadz yaghuddu min absharihim. Oleh al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan, menjaga pandangan yang dimaksud adalah mereka berhenti melihat apa yang ingin mereka lihat, yang dilarang Tuhan untuk mereka lihat (يكفوا من نظرهم إلـى ما يشتهون النظر إلـيه مـما قد نهاهم الله عن النظر إلـيه). Allah swt berfirman,

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat. (Q.S. al-Nur [24]: 30)

Senada dengan al-Tabari, Ibn Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat tersebut merupakan perintah dari Allah swt yang ditujukan kepada hamba-hambaNya yang beriman, tak terkecuali bagi pelajar, agar mereka menahan pandangan matanya terhadap hal-hal yang diharamkan bagi mereka. Dalam hal ini, Ibn Katsir menegaskan janganlah bagi pelajar melihat kecuali kepada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat dan hendaklah mereka menahan pandanganya dari wanita-wanita yang bukan mahramnya.

Demikian pula al-Shabuni dalam Shafwah al-Tafasir bahwa tujuan menundukkan pandangan agar tidak tergoda dan gagal fokus sehingga menghilangkan tujuan semula. Selain itu agar mencukupkan pandangan pada sesuatu yang dihalalkan-Nya (لأن المراد غض البصر عما حرَّم الله لا عن كل شيء فحذف ذلك اكتفاءً بفهم المخاطبين). Bagi pelajar, tujuan menjaga pandangan tidak lain supaya bisa istikamah belajar, mempermudah hafalan atau mudah memahami materi dan melatih nafsunya dengan baik.

Baca Juga: Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Pertanyaannya kemudian, lantas bagaimana jika tidak sengaja melihat sesuatu yang dilarang? Dalam hal ini, kita patut merujuk pada sabda Nabi saw yang berpesan kepada menantunya, Sayyidina Ali,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلِيٍّ: يَا عَلِيُّ، لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النظرةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَ لَكَ الْآخِرَةُ

“Hai Ali, janganlah kamu mengikutkan suatu pandangan ke pandangan berikutnya, karena sesungguhnya engkau hanya diperbolehkan menatap pandangan yang pertama, sedangkan pandangan yang berikutnya tidak boleh lagi bagi kamu.”

Menjaga Kemaluan dari Perzinahan

Pandangan kedua bagi pelajar adalah menjaga kemaluan dari perzinahan (yahfadzu furujahum). Menjaga kemaluan ini, menurut al-Tabari, salah satu caranya adalah dengan mengenakan pakaian yang menutupi sesuai batasan auratnya, jangan justru diumbar. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari, sebagaimana dikutip Ibn Katsir disebutkan,

مَنْ يَكْفُلْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيه وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ، أَكْفُلْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (yakni memelihara lisannya) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (yakni memelihara kemaluannya), niscaya aku menjamin surga untuknya”.

Memelihara kemaluan itu adakalanya mengekangnya dari perbuatan zina, seperti yang disebutkan Allah swt dalam surat Al Mu’minun ayat 5, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya”. Bahkan, menurut al-Shabuni dalam Shafwah al-Tafasir, ia menyebutkan,

هو أن النظر بريد الزنى ورائد الفجور، وهو مقدمة للوقوع في الخطر

“Berawal dari pandangan merambah pada perzinahan dan keinginan seksual, dan itu adalah awal untuk jatuh ke dalam jurang kehinaan”.

Oleh karena itu, Allah swt menutup ayat tersebut dengan ungkapan yang sangat menyejukkan dzalika azka lahum yang berarti barang siapa yang mampu menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya dari hal-hal yang diharamkan Allah baginya bernilai kesucian dan kemuliaan di sisi-Nya. Dalam tafsir Ibn Katsir, lebih suci bagi hati mereka dan lebih bersih bagi agama mereka sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, “Barang siapa yang memelihara pandangan matanya, Allah akan menganugerahkan cahaya pada pandangan (kalbu)nya”. Menurut riwayat lain disebutkan dalam hatinya.

Hikmah Menundukkan Pandangan dan Menjaga Kemaluan

Salah satu hikmah menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan bagi seorang pelajar adalah dimudahkan ia dalam menghafalkan dan memahami materi yang diajarkan oleh guru. Hal ini dikatakan sendiri oleh Imam Syafi’i jikalau seorang pelajar terlalu banyak maksiat, termasuk dua hal tersebut, dipastikan akan sulit dalam mencerna suatu ilmu. Sebagaimana dinyatakan dalam syairnya kepada gurunya, Syekh Waqi’,

شَكَوتُ إِلى وَكيعٍ سوءَ حِفظي # فَأَرشَدَني إِلى تَركِ المَعاصي

وَأَخبَرَني بِأَنَّ العِلمَ نورٌ #  وَنورُ اللَهِ لا يُهدى لِعاصي

Imam Syafi’i berkata, “Kuadukan buruknya hafalanku kepada Syekh Waqi’, lalu beliau menyuruhku meninggalkan maksiat. Sesungguhnya kuatnya hafalan itu merupakan keutamaan yang diberikan oleh Allah dan kuatnya hafalan itu tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat”. Dalam terjemahan yang lain disebutkan, “Karena sesungguhnya ilmu itu nur (cahaya) dan nur Allah tidak diberikan kepada ahli maksiat”.

Syekh az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim juga menegaskan di antara hal-hal yang dapat merusak hafalan salah satunya adalah banyak berbuat maksiat dan banyak dosa (al-ma’ashi wa katsratu al-dzunub). Bagi pelajar hendaknya bersikap wara’ (menjaga) dalam menuntut ilmu. Wara’ adalah perbuatan menjauhi segaa perbuatan dari hal-hal yang syubhat (tidak jelas kehalalannya atau keharamannya). Sebagian ulama meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah saw, Beliau bersabda, “

مَنْ لَمْ يَتَوَرَّعْ فِي تَعَلُّمِهِ اِبْتَلاَهُ اللهِ تَعَالَى بِأَحَدِ ثَلاَثَةِ أَشْيَاءَ: اِمَّا اَنْ يُمِيْتَهُ فِي شَبَابِهِ اَوْ يُوْقِعَهُ فِى الرَّسَاتِيْقِ اَوْ يَبْتَلِيَهُ بِخِدْمَةِ السُّلْطَانِ

“Barang siapa tidak berlaku wara’ ketika belajar ilmu, maka dia akan diuji oleh Allah dengan salah satu dari tiga macam ujian, yaitu mati muda, ditempatkan bersama orang-orang bodoh, atau diuji menjadi pelayan pemerintah”.

Lanjut Syekh Az-Zarnuji, pelajar yang bersifat wara’ ilmunya lebih berkah dan bermanfaat. Belajarnya lebih mudah. Termasuk sifat wara’ ialah menundukkan atau menjaga pandangan dari melihat sesuatu yang diharamkan-Nya dan menjaga kemaluannya dari perzinahan. Semoga pembaca sekalian dapat menundukkan pandangan dari sesuatu yang diharamkan oleh-Nya dan mampu menjaga kemaluan dengan baik agar timbu keberkahan dan kemanfaatan ilmu yang kita miliki. Amin. Wallahu A’lam.

Jadilah Kaum yang Mencipta Perubahan!: Tafsir Kiai Sahal Mahfudh [Bagian 2]

0
Perubahan
Menjadi Kaum Perubahan

Setiap orang mungkin saja mampu melakukan perubahan walaupun kecil, berupa kebaikan ataupun keburukan. Namun sebagai khalifah di bumi, setiap orang mengemban tugas mulia untuk menciptakan perubahan berupa kemaslahatan, yang sudah semestinya menjadi impian kolektif umat manusia.

Hal inilah yang dicita-citakan Kiai Sahal Mahfudh saat membicarakan perubahan masyarakat sebagai proses pembangunan di muka bumi. Semangat melakukan perubahan ini diinspirasi oleh kutipan ayat dalam Surat Ar-Ra’du ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حتى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du [13]: 11).

Dalam belantara penafsiran, Fahruddin Ar-Razi menegaskan bahwa segenap mufasir membicarakan maksud kutipan ayat ini. Yakni, Allah tidak akan mengubah suatu kaum, yang telah dianugerahi kenikmatan, kemudian berbalik menjadi sebuah siksaan. Kecuali, karena ulah mereka sendiri yang penuh kemaksiatan dan berbuat kerusakan (Mafatih al-Ghaib Juz 19, hal. 20).

Baca Juga: Tugas Khalifah dan Krisis Ekologi: Tafsir Kiai Sahal Mahfudh [Bagian 1]

Sebagaimana Muhammad Ali Ash-Shabuni menafsirkan, hal ini merupakan sunnatullah bagi kehidupan manusia. Di mana Allah tidak akan mencabut segenap anugerah-Nya berupa kesehatan, kenikmatan, kedamaian, kemuliaan. Kecuali mereka mengingkarinya (kafaru) lalu berbuat kemaksiatan.

Berdasarkan sebuah atsar, “bahwa Allah pernah mewahyukan kepada salah seorang nabi dari kalangan Bani Israil, untuk bersabda kepada kaummu (Bani Israil): bahwa tidak ada suatu penduduk kota dan tidak ada penghuni suatu ahli bait pun, yang semula berada dalam ketaatan kepada Allah, lalu mereka berpaling dari ketaatan dan bermaksiat kepada Allah, melainkan Allah memalingkan dari mereka hal-hal yang mereka sukai, kemudian menggantikannya dengan hal-hal yang mereka benci.” (Shafwat al-Tafasir Juz 2, hal. 70).

Hampir semua mufassir menerangkan demikian, bahwa perubahan yang dimaksud di sini adalah dari keadaan yang semula baik penuh kenikmatan, menjadi buruk dengan penuh kesengsaraan. Bukan sebaliknya.

Meskipun begitu, justru Kiai Sahal Mahfudh berpandangan sebaliknya, yakni perubahan dari hal yang buruk menjadi baik. Di mana ia menafsirkan, bahwa mengubah berarti berupaya dan ikhtiyar yang menuntut berbagai kemampuan yang disebut kualitas. Ini berarti membangun manusia butuh kualitas, di mana manusia menjadi subjek sekaligus objek pembangunan. (Nuansa Fiqih Sosial, bab Kontekstualisasi Al-Qur’an, hal. 59).

Pandangan yang senada juga dikemukakan oleh Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah Jilid 6. Penggunaan kata ma (apa) dalam kutipan ayat di atas, berbicara tentang perubahan apapun, baik dari nikmat atau suatu yang positif menuju ke niqmat (murka) atau suatu yang negatif. Maupun sebaliknya, dari negatif ke positif.

Dengan menafsirkan sebaliknya demikian, maka kutipan ayat ini menjadi pelecut semangat untuk mewujudkan perubahan. Bahkan, sekali lagi Quraish Shihab menegaskan, bahwa perubahan yang dilakukan oleh Allah, haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan masyarakat menyangkut sisi dalam mereka (bi anfusihim). Tanpa perubahan ini, mustahil akan terjadi perubahan sosial.

Bayangkan saja, jika dahulu Pangeran Diponegoro hanya duduk manis di dalam istana, tidak mungkin terjadi Perang Jawa (1825-1830) yang berusaha melenyapkan penjajahan Belanda. Dilanjut dengan rentetan kronik perjuangan melalui organisasi dan pers di awal abad 20, disertai dengan pemogokan dan pemberontakan. Sampai pada puncaknya berhasil meletuskan revolusi 1945.

Sehingga perjuangan yang panjang tersebut mampu menciptakan sebuah perubahan sosial berupa kemerdekaan Indonesia dari belenggu penjajahan. Semua ini terjadi karena para pejuang melakukan ikhtiyar dengan sekuat tenaga penuh cucuran keringat dan darah.

Senada pula Buya Hamka, yang menyelingi penafsirannya dengan kiasan metafora: manusia bukanlah semacam kapas yang diterbangkan angin ke mana-mana atau laksana batu yang terlempar di tepi jalan.

Dia (manusia) mempunyai akal dan tenaga buat mencapai yang lebih baik, dalam batas-batas yang ditentukan oleh Allah. Kalau tidak demikian, niscaya manusia tidak akan sampai mendapat kehormatan menjadi khalifah Allah di muka bumi ini (Tafsir Al-Azhar Jilid 5, hal. 3741).

Kembali pada penafsiran Kiai Sahal Mahfudh, sebagai upaya untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembangunan, dalam hal ini menuju perubahan sosial masyarakat. Dari pemaparannya, penulis mencoba meringkas dan membaginya menjadi tiga hal, berikut:

Pertama, Allah memerintahkan manusia agar mampu berpacu dalam berbagai kebajikan (istibaqul khairat). Yakni menumbuhkan sikap dan perilaku kompetisi yang sehat untuk mencapai kebaikan. Berarti memerlukan dinamika yang tinggi, wawasan kreatif dan inovatif yang luas, serta daya analisa untuk proses transformasi menuju masa depan.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Mukminun Ayat 33: Pendusta Nabi Shalih Adalah Para Penguasa yang Kaya Raya

Kedua, wujud dinamika berupa gerakan yang selalu menuntut etos kerja tinggi dari semua lapisan masyarakat. Etos kerja ini dalam Alquran disebut sebagai ibtigha’ al-fadlillah (secara optimal berupaya mencari anugerah Allah) atau secara umum disebut amal shalih.

Ketiga, kualitas manusia pada dasarnya ditentukan oleh potensi dirinya. Secara umum potensi yang dibekalkan Allah kepada setiap manusia adalah potensi rasio dan fisik. Rasio, berkembang menjadi potensi ilmu pengetahuan, teknologi, profesi, dsb. Sedangkan fisik, berkembang menjadi keterampilan, etos kerja, ketahanan tubuh, dan kesehatan yang prima.

Kesemuanya ini demi mencapai perubahan sosial yang lebih maslahat bagi kehidupan di muka bumi ini, atau dalam bahasa Kiai Sahal Mahfudh, untuk mencapai sa’adatud darain, yakni kebahagiaan dunia dan akhirat, sebagai tujuan hidup manusia. Semoga

Ibrah Surah Alfil: Iri dan Dengki Penyebab Kehancuran

0
Ibrah Surah Alfil: Iri dan Dengki Penyebab Kehancuran
Surah Alfil

Surah Alfil merupakan salah satu surah yang paling awal diturunkan. Surah yang berisi lima ayat ini termasuk golongan surah makiyah yang karakternya ringkas, mudah dibaca, dan mudah menarik perhatian pembaca.

Ulama tafsir menegaskan, meskipun ayat-ayat dalam surah makiyah pendek dan ringkas, tetapi menghadirkan pesan yang kuat dengan nada tegas kepada liyan. Dalam Surah Alfil terkandung kisah dan episode komunitas masa lalu. Mereka adalah masyarakat Makkah pra-Islam.

Satu pesan penting yang disampaikan dalam Surah Alfil adalah bahwa iri dan dengki merupakan penyakit hati yang dapat menghancurkan empunya. Kisah serangan Abrahah dan pasukan tentaranya terhadap Kakbah yang tesurat dalam Surah Alfil sangatlah populer dalam catatan sejarah. Dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir, misi penyerangan ke Kakbah dilakukan Abrahah tidak lain karena kedengkian terhadap kesuksesan tempat ibadah itu yang menarik perhatian banyak orang untuk menziarahinya.

Dijelaskan dalam Tafsir al-Jalalain, Abrahah kemudian membangun sebuah gereja di Shan’a (Yaman) dengan tujuan untuk menandingi tempat ibadah yang berada di Makkah sana, supaya orang-orang berpaling dan tidak menziarahi Kakbah lagi.

Bangsa Arab menyebutnya dengan al-Qalis, karena bangunannya yang tinggi. Sebab, orang yang melihatnya akan mengangkat kepala sehingga qolansuwah (peci) mereka yang melihat bisa-bisa terjatuh karena mendongak terlalu tinggi.

Kecemburuan dan kemarahan Abrahah terhadap pesaingnya semakin kuat dan tak tertahankan. Dia semakin iri dengan Kakbah dan memutuskan untuk menghancurkannya sehingga orang tidak bisa lagi mengunjunginya.

Abrahah menyiapkan pasukan besar termasuk gajah dengan tujuan menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang Makkah dan menyebabkan kehancuran besar-besaran di Kakbah. Namun demikian, serangan mereka gagal karena Allah Swt. mengirimkan sekawanan burung yang membawa dan menjatuhkan batu api kepada mereka. Ini sebagaimana yang termaktub dalam Q.S. Alfil/105: 1-5,

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحٰبِ الْفِيْلِۗ ١ اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍۙ ٢ وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَۙ ٣ تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍۙ ٤ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ ࣖ ٥

Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, sehingga Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat) (Q.S. Alfil/105: 1-5).

Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan bahwa Abrahah dan bala tentaranya bergerak menuju Kakbah dengan pasukan gajah untuk menakut-nakuti penduduk Makkah. Akan tetapi, Allah membinasakan mereka sebelum maksud jahat itu tercapai. Peristiwa Gajah ini menjadi suatu peristiwa yang paling terkenal di kalangan bangsa Arab, sehingga peristiwa ini mereka jadikan patokan tanggal bagi peristiwa-peristiwa lainnya.

Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menyebutkan banyak yang tewas seketika karena serangan sekawanan burung yang membawa batu panas itu. Sementara beberapa berhasil melarikan diri kembali ke negara mereka, termasuk Abrahah. Meskipun selamat dari tempat kejadian, Abrahah mengalami rasa sakit yang luar biasa hingga meninggal tak lama kemudian karenanya.

Iri dan dengki sumber kehancuran

Baca juga: Kisah Pasukan Bergajah dan Burung Ababil dalam Surah Alfîl

Sifat iri dan dengki yang tertanam di dalam hati Abrahah terhadap kesuksesan pihak lain, dalam hal ini Kakbah telah mendorongnya untuk berbuat kejahatan dengan merusak bangunan tempat ibadah yang populer di Arab itu. Lebih-lebih kedengkian tersebut juga membuatnya tidak mampu melihat potensi lain dari negerinya yang mungkin lebih bisa dikembangkan, kendati bukan sama seperti sektor perdagangan dan pariwisata di wilayah Makkah.

Nasib buruk yang menimpa Abrahah telah menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa penyakit iri hati dapat merusak pelakunya. Kita harus menghancurkan keirian dan kedengkian dalam hati sebelum penyakit itu menghancurkan kita.

Sifat hasad, baik iri maupun dengki adalah klaster penyakit jiwa yang paling parah dan memiliki dampak luar biasa, karena dapat menyebabkan dan mendatangkan bencana bukan hanya bagi orang lain, namun juga dirinya sendiri. Terkait ini, Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah yang berbunyi; Waspadalah kalian terhadap hasad (iri dan dengki) karena ia dapat menghabiskan kebajikan, seperti api menghabiskan kayu bakar (H.R. Abu Daud).

Nabi telah memperingatkan kita untuk menjauhi sifat hasad karena itu melemahkan jiwa, membahayakan, dan mengikis pahala-pahala amal saleh yang telah dilakukan.

Baca juga: Surah Annisa Ayat 32: Larangan Iri Hati Terhadap Orang Lain

Nasihat Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali mengatakan, hasad adalah sikap batin berupa ketidaksenangan terhadap kebahagiaan atau kesuksesan pihak lain dan berusaha untuk menghilangkannya. Dalam pengertian ini, orang yang memiliki kecemburuan di dalam hatinya mencerminkan ketidaksenangannya terhadap keputusan Allah Swt.

Pada hakikatnya, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Bidayatul Hidayah bahwa penyakit hasad mengakibatkan si penderitanya lelah, sebab kecemburuan yang mendalam dan terus menerus terhadap orang lain. Itu menjadikan pikiran dan hatinya tumpul karena selalu merasa resah oleh berkat yang diperoleh orang lain dari Allah Swt.

Lebih lanjut, Al-Ghazali menawarkan kepada kita obat untuk penyakit iri dan dengki. Beliau menasihati, ketika hasad memaksa seseorang untuk mengatakan atau melakukan sesuatu yang buruk, dia harus mengalahkan sifat tercela tersebut yang berada dalam dirinya. Dia harus berpikir bahwa sifat hasad hanya akan membuat dirinya tidak pernah puas. Dengan demikian dia dapat mengalahkan penyakit iri dan dengki, sehingga sifat hina tersebut tunduk dengan kecerdasan akalnya.

Q.S. Alfil memberikan pelajaran penting bahwa Abrahah sebagai simbol sifat hasad dalam hati mesti dihancurkan sebelum penyakit itu malah menghancurkan diri kita. Hendaknya kita menghindari sifat tercela yang menggerogoti hati itu. Kita harus ikut bahagia, bahkan lebih baik lagi jika turut mensyukuri nikmat yang didatangkan Allah untuk orang lain. Dengan begitu hati akan terasa tenang dan damai sentosa. Wallahu a’lam.[]

Baca juga: Penjelasan tentang Hati yang Sakit dalam Q.S. Albaqarah: 10

Belajar Menghadapi Mental Block dari Kisah Siti Maryam

0
Belajar Menghadapi Mental Block dari Kisah Siti Maryam
Belajar Menghadapi Mental Block dari Kisah Siti Maryam

Mental block adalah salah satu gejala psikologis yang dialami seseorang ketika terjadi penolakan tak terkendali yang berasal dari otak. Kondisi ini didefinisikan sebagai bentuk penyangkalan di alam bawah sadar terhadap sebuah pemikiran atau emosi. Saat mental block terjadi, seseorang tidak dapat berpikir dengan baik seperti biasanya, khususnya dalam topik-topik tertentu. Akibat yang sering terjadi dari mental block ini adalah terjadi keputusasaan atau hilangnya harapan akan berhasil (hellosehat.com).

Terkait kondisi mental block ini, ada satu kisah menarik dalam Alquran, yaitu tentang kondisi Siti Maryam saat dia akan melahirkan Nabi Isa. Hal tersebut terekam dalam Q.S. Maryam [19]: 23-25 sebagai berikut.

فَأَجَآءَهَا ٱلۡمَخَاضُ إِلَىٰ جِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ قَالَتۡ يَٰلَيۡتَنِي مِتُّ قَبۡلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسۡيٗا مَّنسِيّٗا فَنَادَىٰهَا مِن تَحۡتِهَآ أَلَّا تَحۡزَنِي قَدۡ جَعَلَ رَبُّكِ تَحۡتَكِ سَرِيّٗا وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا

Terjemah: “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (Q.S. Maryam [19]: 23-25).

Baca juga: Tafsir Q.S. Ali Imran Ayat 139: Berdamai dengan Mental Health

Tafsir Q.S. Maryam [19]: 23-25 tentang kisah melahirkan Siti Maryam

Menurut Tafsir Kementerian Agama, ketika Maryam merasa sakit karena akan melahirkan anaknya, dia terpaksa bersandar pada pangkal pohon kurma untuk memudahkan kelahiran. Dengan penuh kesedihan dia berkata, “Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati saja sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.”

Maryam mengharapkan seandainya mati saja sebelum melahirkan karena merasa beratnya penderitaan akibat melahirkan anak tanpa seorang ayah. Dia yakin hal ini akan berakibat timbulnya tuduhan dan cemoohan dari kaumnya yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Maka datanglah Jibril dan berseru dari suatu tempat yang rendah, dan mengatakan kepada Maryam untuk tidak bersedih hati, karena Allah telah mengalirkan sebuah anak sungai di bawahnya. Ini merupakan suatu rahmat bagi Maryam karena di tempat itu pada mulanya kering; tidak ada air yang mengalir, tetapi kemudian terdapat aliran air yang bersih.

Jibril kemudian menyuruh Maryam untuk menggoyang pohon kurma supaya pohon itu menjatuhkan buahnya yang telah masak kepadanya. Dan ini adalah rahmat yang lain untuk Maryam karena pada mulanya pohon kurma itu telah kering. Namun, dengan kehendak Allah ia menjadi hijau dan subur kembali serta berbuah sebagai rezeki untuk Maryam.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah juga menjelaskan bahwa Maryam membayangkan kemungkinan sikap ingkar keluarganya terhadap kelahiran anaknya kelak. Dia pun berharap cepat meninggal dunia supaya kejadian ini tidak lagi berarti dan cepat dilupakan.

Senada dengan hal di atas, Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir juga mengatakan bahwa kala itu Maryam berangan-angan untuk mati karena malu dari manusia dan karena takut jika mereka menganggapnya sebagai orang yang buruk dalam agama. Dia berangan-angan menjadi sesuatu yang tidak diindahkan seperti sebatang tonggak dan tali.

Namun, dia tetap melaksanakan perintah Allah untuk menggoyangkan batang kurma itu yang kemudian mengugurkan kurma-kurma basah dan segar yang sudah masak dan dapat langsung dimakan, tanpa perlu difermentasi dan diolah. Hal ini juga menjadi salah satu kuasa Allah yang begitu luar biasa.

Baca juga: Kisah Keluarga ‘Imran (Bag. 4): Ujian Maryam dan Kelahiran Isa yang di Luar Nalar

Kondisi Siti Maryam yang mengalami mental block

Kondisi mental dan mindset Siti Maryam yang tergambar dalam ayat di atas benar-benar dalam keadaan yang hampir putus asa. Hal tersebut ditunjukkan dengan perkataan, “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini…” yang melukiskan betapa kesakitan dirinya ketika akan melahirkan dan akibat-akibat yang akan dia terima pasca melahirkan kelak.

Kondisi mental Siti Maryam yang hampir putus asa tersebut menandakan mental block yang begitu berat karena ketidakmampuan dirinya dalam mengendalikan mindset serta adanya ketakutan untuk menjalani hidupnya yang penuh cobaan kelak.

Yusdarmanto dalam bukunya, Spiritual Mental Block Breaking mengatakan bahwa kondisi Siti Maryam saat itu sedang mengalami mental yang terperangkap dengan segenap penderitaan yang sedang dan akan dia rasakan.

Namun, pelajaran penting yang didapat adalah meski Siti Maryam berada pada fase mental block, dia tetap berpegang dan mengikuti perintah Allah dengan menggoyangkan batang pohon kurma tersebut. Hal ini mengisyaratkan bahwa ketika seseorang mengalami mental block, tidak berarti terus berlarut dengan kerapuhan tersebut. Namun, hendaknya dia tetap mencari petunjuk Allah dengan beribadah dan berdoa serta mengikuti saran-saran terbaik dari orang yang dipercaya.

Penutup

Banyak pertolongan Allah Swt. yang tidak bisa tertangkap oleh mindset dan mental manusia sebagai sebuah solusi ketika dalam keadaan mental block. Namun, Siti Maryam tidak demikian. Dia tetap menjalankan perintah Allah walau keadaannya sedang rapuh dan hampir putus asa.

Pelajaran terpetik dari kisah Siti Maryam ini kemudian menunjukkan bahwa dalam kondisi mental block sekali pun, akan selalu ada pertolongan yang Allah berikan. Hanya saja pertolongan tersebut ada yang disadari manusia melalui akalnya, tetapi ada pula yang hanya memerlukan keimanan sebagaimana yang dilakukan Maryam. Wallahu a’lam.

Baca juga: Tuntunan Alquran untuk Hilangkan Insecurity Berlebih

Tafsir Tarbawi: Pandai-pandailah Memanfaatkan Momentum Belajar dengan Baik!

0
Memanfaatkan momentum untuk belajar
Memanfaatkan momentum untuk belajar

“Pandai-pandailah memanfaatkan momentum dengan baik!” Begitulah kalimat yang harus dipegang erat oleh pelajar. Momentum yang dimaksud tidak lain adalah momentum belajar di usia muda dan nikmat kesehatan. Dua momentum tersebut merupakan kenikmatan terbesar yang dimiliki bagi seorang manusia. Tidak setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan, baik di bangku sekolah, pesantren maupun nikmat kesehatan yang prima.

Dua nikmat tersebut juga yang sering dilalaikan manusia, tak terkecuali seorang pelajar. Bagi pelajar, dua nikmat tersebut harus dimanfaatkan dengan baik agar kelak tidak menyesal di hari tua. Artikel ini mengulas bagaimana seharusnya seorang pelajar memanfaatkan dua momentum tersebut dengan mendasarkan pada firman Allah Q.S. Yunus [10]: 49 di bawah ini.

Tafsir Surah Yunus ayat 49

قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa (menolak) mudarat dan tidak pula (mendatangkan) manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak (pula) dapat meminta percepatan.”(Q.S. Yunus [10]: 49)

Dalam hal ini, kami akan fokus pada penafsiran makna dharran (mudarat), naf’an (manfaat), dan ajal. Secara umum, ayat di atas berbicara tentang ancaman kepada orang-orang musyrik yang ingin meminta pembuktian janji Allah kepada mereka sebagaimana penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah.

al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsiri ayat di atas bahwa siapapun, termasuk Nabi Muhammad saw, tidak lebih sebagai pembawa risalah-Nya. Rasul saw hanya menyampaikan janji Allah kepada orang-orang musyrik berupa ancaman dan siksa yang akan menimpa mereka. Sebab menurut Allah, kata al-Tabari, setiap umat dan manusia pasti memiliki ajal.

Ajal yang dimaksud adalah bahwa setiap orang memiliki batas waktu hidup di dumia, dan jika waktu akhir masa hidup mereka datang, mereka tidak dapat menunda sedetikpun. Mereka tidak bisa menunda ataupun memajukannya karena semua itu berjalan sesuai ketetapan Allah.

Baca juga: Tafsir Surat At-Taubah Ayat 122: Pencari Ilmu Wajib Membangun Expertise

Tidak jauh berbeda, Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menafsiri kata dharran dengan makna kemudharatan dan na’fan bermakna kemanfaatan. Bagi Shihab, didahulukannya kata dharran (ضَرًّا) menunjukkan bahwa konteks pembicaraan ayat tersebut adalah siksa yang diminta agar disegerakan untuk kaum musyrikin, sehingga kata mudharat lebih tepat didahulukan ketimbang manfaat (naf’an). Kemudian kalimat, illa masya Allah (اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ), ada juga ulama yang memahaminya dalam arti “kecuali apa yang dikehendaki Allah, maka itulah yang mampu kulakukan.”

Pemahaman tersebut, menurut Shihab, mengisyaratkan bahwa banyak hal yang berada di luar kemampuan manusia, walau dalam saat yang sama pun berada dalam kemampuannya. Sedangkan kata ajal dimaknai oleh Shihab sebagai batas akhir dari sesuatu, usia, atau kegiatan. Tidak cukup di situ, Shihab juga memaknai kata yasta’khiruna dan yastaqdimuna bahwa tidak ada kemampuan mereka untuk melakukannya dan dapat juga dalam arti kesungguhan, yakni mereka tidak akan mampu walaupun mereka bersungguh-sungguh untuk melakukan pengajuan atau pengunduran.

Pandai-pandailah memanfaatkan momentum

Momentum yang kami maksud adalah momentum kesempatan belajar, kesehatan, dan usia muda. Inilah yang kami maksud dengan makna ajal dalam ayat di atas. Bagi kami, setiap orang memiliki kesempatan masing-masing, termasuk ketiga hal tersebut, terkhusus sebagai pelajar. Bagi pelajar, ketiga nikmat tersebut justru harus disyukuri dengan memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari sosok guru teladan dan para pakar ilmu pengetahuan. Sebab, sabda Nabi saw, “dua nikmat yang sering diabaikan oleh manusia adalah nikmat sehat dan waktu luang.”

Baca juga: Tafsir Tarbawi: Perintah Bersungguh-sungguh dalam Belajar

Karena itu, selagi masih bisa belajar, masih diberikan kesehatan yang prima, dan usia muda, mari kita manfaatkan momentum tersebut untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan menebarkan manfaat kepada sesama. Pepatah Arab mengatakan,

التعلم في الصغر كالنقص على الحجر

“Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu”

Juga, Syekh al-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim berpesan khusus kepada pelajar:

تَعَـلَّـمْ فَــإِنَّ الْـعِلْـمَ زَيـْنٌ لِأَهْــلــِهِ # وَفَــضـْلٌ وَعـُـنـْوَانّ لِـكـُلِّ مَـــحَامِـدٍ

وكــن مـستـفـيدا كـل يـوم زيـادة # من العـلم واسـبح فى بحـور الفوائـد

تَفَقَّهْ فإِنَّ الفِقْهَ أَفْضَلُ قائِدٍ # إلى البِرِّ والتقوَى وأَعْدَلُ قاصِدِ

هُوَ العَلَمُ الهَادِي إلى سُنَنِ الهُدَى # هُوَ الحِصْنُ يُنْجِي مِنْ جَميْعِ الشِّدائِدِ

فإنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَورّعًا # أَشَدُّ على الشَّيْطانِ مِن أَلْفِ عَابِدِ

“Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Dan menjadi tanda dan keutamaan bagi setiap yang terpuji. Jadilkanlah hari-harimu untuk menambah ilmu dan berenanglah di lautan keutamaan ilmu! Belajarlah ilmu agama, karena ia merupakan ilmu yang paling unggul! Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan takwa. Ia ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk Allah. Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari segala kegundahan. Karena itu, sesungguhnya satu orang faqih (berilmu) yang wara’ lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah tapi bodoh.” Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Albaqarah Ayat 31: Dasar Teori Pembentukan Bahasa

0
Dasar teori pembentukan bahasa dalam Alquran
Dasar teori pembentukan bahasa dalam Alquran

Bahasa merupakan salah satu anugerah berharga yang Allah berikan kepada manusia. Dengan bahasa, manusia dapat berkomunikasi satu sama lain. Selain itu, bahasa juga menjadi sebuah identitas dan menggambarkan keragaman dengan segenap perbedaan yang ada, sebab di dunia ini, ada banyak bahasa yang berbeda tergantung pada masing-masing tempat atau orang yang menuturkannya.

Berbicara mengenai bahasa, pernahkah terpikir di benak kita bagaimana bahasa bisa terbentuk? Terkait hal ini, Alquran telah mengisyaratkan teori pembentukan bahasa sebagaimana tergambar dalam Q.S. Albaqarah [2]: 31 sebagai berikut.

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبئونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ

Terjemah: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”” (Q.S. Albaqarah [2]: 31)

Allah yang mengajar Nabi Adam

Menurut Tafsir Kementerian Agama, ayat ini menerangkan bahwa Allah ﷻ mengajarkan kepada Adam `alaihis salam nama-nama, tugas, dan fungsinya sebagai Nabi dan Rasul, serta tugas dan fungsinya sebagai pemimpin umat. Manusia memang makhluk yang dapat dididik (educable), bahkan harus dididik (educandus), karena ketika baru lahir bayi manusia tidak dapat berbuat apa-apa, anggota badan dan otak serta akalnya masih lemah.

Tetapi, setelah melalui proses pendidikan bayi, manusia yang tidak dapat berbuat apa-apa kemudian berkembang dan melalui pendidikan yang baik, sehingga apa saja dapat dilakukan olehnya. Adam sebagai manusia pertama dan belum ada manusia lain yang mendidiknya, maka Allah secara langsung mendidik dan mengajarinya.

Baca juga: Stratifikasi Bahasa Jawa dalam Tafsir Karya Kiai Misbah Musthofa

Cara Allah mendidik dan mengajar Adam tidak seperti manusia yang mengajar sesama manusia, melainkan dengan mengajar secara langsung dan memberikan potensi kepada Adam untuk dapat berkembang. Potensi tersebut berupa daya pikir, sehingga memungkinkan Adam untuk mengetahui semua nama yang di hadapannya. Setelah nama-nama itu diajarkan-Nya kepada Adam, maka Allah memperlihatkan benda-benda itu kepada para malaikat dan diperintahkan-Nya agar mereka menyebutkan nama-nama benda tersebut yang telah diajarkan kepada Adam dan ternyata mereka tidak dapat menyebutkan nama-nama benda tersebut.

Quraish Shihab juga menjelaskan dalam Tafsir al-Misbah bahwa dalam ayat tersebut Allah mengajarkan Adam tentang nama dan karakteristik benda agar dia dapat hidup dan mengambil manfaat dari alam. Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir juga menambahkan penjelasan ayat ini bahwa Allah SWT mengadakan ujian bagi para malaikat untuk membuktikan ketidakmampuan mereka dan menggugurkan anggapan mereka bahwa mereka lebih pantas menjadi khalifah daripada khalifah yang ditunjuk-Nya. Ujian ini diadakan setelah Allah mengajari Adam nama benda materiil (seperti tumbuhan, benda mati, manusia, dan hewan) yang mendiami dunia ini, lalu Allah memperlihatkan benda-benda yang memiliki nama itu kepada para malaikat. Ternyata mereka tak mampu menyebutkan nama-nama tersebut.

Bahasa dibentuk melalui proses meniru

Mengacu pada penjelasan para mufassir di atas, dapat dipahami bahwa kemungkinan manusia untuk membahasakan atau menyebut sesuatu yang dilihat maupun didengar adalah karena proses peniruan dari penutur sebelumnya. Dalam konteks ayat di atas, penutur pertama yang mengajarkan bahasa adalah Allah SWT, kemudian ditirukan oleh Nabi Adam.

Pengajaran terhadap nama-nama benda kepada Nabi Adam mengisyaratkan bahwa sejatinya Allah sendiri telah menetapkan nama-nama tersebut sebelumnya, kemudian mempublikasikannya kepada Adam untuk diketahui dan ditirukan.  Lalu pengetahuan Adam tersebut dipamerkan kepada para malaikat untuk membantah ketidakyakinan mereka.

Baca juga: Serba-Serbi Seputar Surah Albaqarah

Hal tersebut mengindikasikan bahwa awal pembentuk bahasa bermula pada sebuah percontohan. Seseorang dapat membahasakan sesuatu karena dia mengetahui tentang hal tersebut dari penutur sebelumnya. Misalnya, seseorang dapat berbahasa Inggris, karena dia mempelajari dan menirukannya.

Meskipun begitu, Prof. Mudjia Raharjo dalam tulisannya Spekulasi tentang Asal-usul Bahasa mengatakan bahwa teori tentang asal mula bahasa masih kabur dan demikian beragam, dari yang bersifat mitos, religius, mistis sampai yang agak ilmiah. Namun poin penting yang perlu ditegaskan adalah bahwa bahasa terbentuk karena sebuah “ketetapan” yang dibuat kemudian dituturkan dan selanjutnya ditirukan.

Penutup

Teori asal-usul bahasa yang beredar masih bersifat spekulatif. Sebab tidak ada manusia yang dapat memastikan kapan dan bagaimana awal mula bahasa terbentuk. Namun sebagai seorang muslim kita juga perlu menganut teori dogmatik melalui penggembaran Alquran dalam Q.S. Albaqarah ayat 31 di atas yang menyatakan bahwa Adam telah diajari nama-nama oleh Allah terkait hal-hal yang ada di Bumi, meskipun cara Allah mengajari Adam tentu berbeda dengan cara manusia mengajari sesamanya.

Kisah yang tergambar di atas cukup memberi petunjuk bahwa sejak Adam diciptakan pun, dia sudah menggunakan “bahasa”. Hanya saja, bahasa tersebut kemudian berkembang dengan segenap perbedaan yang disebabkan keanekaragamaan latar belakang daerah atau suku. Sehingga, hal tersebut memunculkan teori baru bahwa bahasa dapat dibentuk dengan sebuah “kesepakatan”, dituturkan, kemudian ditirukan. Wallahu a’lam.