Beranda blog Halaman 121

Kesunahan Membawa Oleh-oleh Haji

0
Kesunahan membawa oleh-oleh haji
Kesunahan membawa oleh-oleh haji

Setelah sekitar sebulan para jemaah haji melaksanakan proses ibadah haji di tanah suci Mekah, kini tibalah hari-hari kepulangan mereka ke tanah air. Saat pulang dari berhaji, ada beberapa hal yang biasa dilakukan para jemaah haji saat hendak kembali ke rumah. Diantaranya ialah membawa oleh-oleh haji dan memberi kabar kepulangan. Meski keduanya adalah hal yang lumrah dilakukan oleh orang yang pulang dari berhaji, tapi penting untuk diketahui bahwa keduanya merupakan sunah Nabi.

Baca juga: Alasan Jamaah Haji Singgah di Masjid Sebelum Pulang ke Rumah

Membawa hadiah atau oleh-oleh saat pulang dari bepergian termasuk dari berhaji, juga memberi kabar waktu kepulangan mereka, bukanlah tradisi yang tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Dua hal itu bahkan sesuatu yang dianjurkan Nabi Muhammad dengan tujuan semakin mempererat tali kasih sayang terutama dengan keluarga yang ditinggalkan. Berikut keterangan lengkapnya:

Membawa oleh-oleh haji untuk keluarga

Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ menerangkan, salah satu kesunahan yang dapat dilakukan oleh orang yang pulang dari bepergian jauh, adalah membawa oleh-oleh. Istri Nabi, Aisyah meriwayatkan suatu hadis terkait hal ini (al-Majmu’/4/398):

إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ مِنْ سَفَرِهِ فَلْيُهْدِ إِلَى أَهْلِهِ وَلْيُطْرِفْهُمْ وَلَوْ كَانَتْ حِجَارَةً

“Ketika salah seorang kalian kembali dari bepergian, maka hendaknya dia memberikan hadiah pada keluarganya. Hendaknya dia memberikan sesuatu pada mereka meski berupa batu.” (HR. al-Baihaqi)

Imam al-Munawi menyatakan, hadis ini menunjukkan bahwa bagi orang yang pulang dari bepergian, entah itu jauh maupun dekat, disunahkan membawa oleh-oleh untuk keluarga. Keluarga bisa berarti orang yang wajib dia nafkahi atau sahabat karib. Tujuan membawa oleh-oleh haji adalah membuat senang hati mereka. Oleh karena itu, Nabi memerintahkan membawa oleh-oleh meski hanya berbentuk batu. Artinya, batu yang unik atau menarik, yang meski mungkin tidak bernilai secara ekonomi, tapi membuat orang lain merasa takjub atau senang. (Faid al-Qadir/2/129)

Memberi tahu apabila akan pulang

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa salah satu kesunahan pada saat pulang dari bepergian seperti dari berhaji adalah memberi tahu keluarga bahwa dirinya hendak kembali pulang. Selain itu, juga dianjurkan memilih waktu kepulangan selain malam hari, kecuali bila berada di dalam rombongan besar yang sudah biasa datang pada malam hari atau keluarga sudah tahu apabila dia akan datang malam hari (al-Majmu’/4/399).

Ketentuan itu bertujuan agar membuat keluarga yang ada di rumah dapat mempersiapkan diri mereka untuk menyambut kedatangan jemaah haji. Selain itu, agar mereka juga dapat menghindarkan Jemaah haji dari hal-hal yang dapat membuat hati mereka tidak nyaman saat mereka kembali ke rumah.

Sahabat Jabir ibn Abdullah meriwayatkan:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً يَتَخَوَّنُهُمْ أَوْ يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ

“Rasulullah -salallahualaihi wasallam- melarang seseorang pulang dari bepergian dan kembali ke rumah di malam hari. Tujuannya agar hal itu tidak membuat mereka memiliki prasangka buruk atau mencari-cari kesalahan keluarga mereka.” (HR. Imam Muslim)

Imam al-Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan, hadis ini menunjukkan makruhnya pulang dari bepergian dan kembali ke rumah saat malam hari serta tanpa memberi tahu keluarga terlebih dahulu. Maksud dari memiliki prasangka buruk adalah muncul anggapan bahwa keluarga mereka sedang melakukan hal buruk yang dapat dia ketahui saat itu juga. Padahal, bisa saja keluarganya dalam keadaan yang membuat orang lain salah faham dengan keadaan mereka. (Syarah Shahih Muslim/6/406).

Baca juga: Revolusi Ibadah Haji: Dari Paganis Menuju Islamis

Imam al-Shan’ani menjelaskan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa sahabat Abdullah ibn Abi Rawahah pulang ke rumah pada malam hari. Saat itu, di rumahnya sang istri sedang bersama perempuan yang menyisir rambutnya. Sahabat Abdullah menyangka perempuan itu adalah lelaki dan sempat mengacungkan pedang pada perempuan tersebut. Oleh karena itu, Nabi melarang pulang dari bepergian dan kembali ke rumah saat malam hari (Subul al-Salam/5/33). Wallahu a’lam[]

Belajar Kedermawanan Dari Keluarga Nabi

0
Kedermawanan keluarga Nabi
Kedermawanan keluarga Nabi

Kedermawanan menjadi kebaikan yang langka di tengah kehidupan yang penuh persaingan kepentingan. Masihkah kita percaya kemurahan hati di hari ini? Adakah derma tanpa pamrih? Boleh jadi ada, namun hanya sejumlah hitungan jari, sementara yang tidak, mungkin banyak sekali. Sebagaimana kita belajar dari kasus baru-baru ini yang menyasar lembaga, yang menyebut dirinya “lembaga kemanusiaan”.

Kira-kira kepada siapa kita harus belajar kedermawanan di hari ini? Tentu, sebagai mukmin kita harus merujuk pada Alquran. Dan perihal kemanusiaan dan kedermawanan, Surah Alinsan ayat 7-10 menarik untuk diambil pelajaran.

Berikut ayat dan terjemahan ayat tersebut:

وفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.”

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan atas kesukaannya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.”

Berkaitan dengan ayat ini, al-Suyuthi menerangkan hadis  yang diriwayatkan dari Ibn Mardawaih dari Ibn Abbas, bahwa ayat وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ diturunkan kepada Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah Saw. (al-Dūr al-Manthūr fī Tafsīr bi al-Ma’thūr, hal. 371) Sementara Fakhruddin al-Razi mengutip riwayat yang lebih panjang dari Ibn Abbas sebagai berikut:

Pada waktu kecil, Hasan dan Husain R.A. menderita sakit, Rasulullah akhirnya datang ke rumah Ali dan Fatimah untuk menjenguk dua cucunya yang sakit tersebut. Saat melihat mereka, Rasul bersabda kepada Ali R.A.: “wahai Abal Hasan nazarlah, supaya Allah menghilangkan penyakit mereka!”

Setelah mendengar itu, Sahabat Ali. langsung berkata: “Ya Allah jika kedua anakku ini sembuh maka aku akan berpuasa selama tiga hari.” Fatimah juga bernazar demikian. Bahkan, Hasan dan Husain –kendati usia mereka masih kecil- melakukan hal yang sama yaitu mengikuti orang tua mereka berpuasa selama tiga hari. Fidhah, pembantu rumah mulia itu kemungkinan besar bernazar hal yang sama.

Baca juga: Kisah Kecintaan Sahabat Nabi Muhammad Saw Terhadap Surah Al-Ikhlas

Tak lama kemudian, penyakit dua buah hati Rasul tersebut hilang, dan tiba saatnya bagi mereka untuk melaksanakan nazar. Pada hari pertama, Ali R.A. telah menyiapkan tepung jo (sejenis gandum; kualitasnya lebih rendah dari gandum) untuk buka puasa selama tiga hari tersebut. Tepung tersebut dibagi menjadi tiga bagian. Satu bagian darinya diperuntukkan untuk membuat roti sebagai santapan buka puasa pada hari pertama. Saat hendak berbuka, terdengar suara ketukan pintu, penghuni rumah menuju pintu untuk mengetahui siapa gerangan yang berada di balik pintu. Ternyata, di situ sudah berdiri seseorang yang berkata: “Salam atasmu wahai Ahlulbait Muhammad.”

Kemudian dia berkata, “aku adalah orang miskin dan butuh bantuan, maka bantulah diriku!”

Ali memberikan rotinya kepada si miskin. Fatimah juga melakukan hal yang sama. Bahkan semua anggota keluarga yang lain juga menyedekahkan jatah buka puasanya yang tak lain sepotong roti kepada orang miskin yang datang. Dan pada hari itu mereka berbuka dengan air putih saja.

Hari berikutnya, mereka juga berpuasa dan dengan sepertiga tepung tadi mereka siap berbuka. Akan tetapi, terdengar suara dari luar rumah yang berkata: “Salam atasmu wahai Ahlulbait Muhammad.”

Merekapun keluar dan bertanya: “siapakah anda dan apa keperluanmu?”

Dia menjawab, “saya salah seorang anak yatim di kota ini, aku lapar tolong berikan aku makanan untuk mengisi perutku yang kosong ini.”

 Kembali Ali memberikan jatah buka puasanya kepada yatim itu. Anggota keluarga yang lain juga mengikuti beliau dengan penuh keikhlasan. Dengan demikian, malam kedua sama seperti malam pertama, buka puasa mereka dengan air putih saja.

Pada hari ketiga, sesuai nazar, mereka menyempurnakan puasa mereka. Sebagaimana hari pertama dan kedua, kisah itu terulang lagi. Kali ini, yang datang ialah seorang tawanan. Dia meminta bantuan kepada keluarga suci ini. Lagi-lagi seluruh keluarga ini memberikan jatah buka puasa mereka kepadanya dan untuk ketiga kalinya mereka berbuka dengan air saja. Pada akhirnya, nazar itu terbayar juga.

Baca juga: Kisah Kedermawanan Dua Sahabat Nabi Saw yang Diabadikan Al-Qur’an

Pada hari berikutnya, Rasulullah Saw sangat sedih melihat Hasan dan Husain dalam keadaan lemas yang akibatnya badan mereka bergetar. Di sisi lain, mata Fatimah cekung.

Beliau bertanya kepada Ali: “wahai Ali, kenapa anak-anak begitu lemah seperti ini dan kenapa raut muka putriku memudar?”

Ali menuturkan kisah yang telah mereka alami. Pada saat itu, malaikat Jibril datang dengan membawa ayat-ayat surah Alinsan ini. (Tafsīr Al-Kabīr, Jil. 15, hal. 747)

Quraish Shihab mencermati frasa ‘ala (atas) yang dirangkaikan dengan hubbihi (kesukaannya) dengan isyarat kemurahan hati serta kesediaan mereka untuk mendahulukan orang lain atas diri mereka sendiri. Bisa juga dimaknai dalam arti atas kecintaannya pada Allah, yakni atas keikhlasan yang penuh karena Allah. (Tafsir Al-Misbah, jilid 14, hal. 659) Di sini tampak kedermawanan keluarga Nabi melalui kebiasaan memberi tanpa pamrih, mendahulukan orang lain atas diri mereka, serta tidak pilih kasih dalam memberi.

Keikhlasan mereka disambung oleh ayat selanjutnya:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya, kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”

إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

“Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.”

Quraish Shihab melanjutkan bahwa untuk menepis rasa risih dan malu orang-orang yang diberi, keluarga Nabi berkata bahwa pemberian ini hanyalah demi mengharap rida Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan dan tindakan yang menjadi simbol rasa syukur. Kami hanya takut akan siksa Tuhan kami di hari orang-orang bermuka kerut dan kesulitan.

Melalui ayat ini, kita dapat mengambil beragam hikmah kemanusiaan kisah keluarga Nabi. Mereka adalah panutan dalam kedermawanan, keikhlasan, serta mendahulukan orang lain. Bahkan, di saat memberi, yang mereka takutkan adalah kejadian kelak di hari akhir. Artinya, segala pemberiannya hanya untuk Allah dan untuk bekal hari kemudian.

Baca juga: Menampakkan Amal Sedekah Menurut Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 271

Kisah tersebut menjadi perenungan kita bersama untuk belajar menapaki sifat-sifat mulia mereka. Memberi tanpa pamrih, segalanya dikhususkan untuk meraih rida Allah, bukan kepentingan pribadi mereka. Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk menadaburi Surah Alinsan yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan, khususnya kedermawanan. Wallahu a’lam[]

Munasabah Surah Quraisy dan Alma’un

0
Munasabah Surah Quraisy dan Alma'un
Munasabah Surah Quraisy dan Alma'un

Dalam khazanah Ulumul Quran terdapat istilah munasabah yang berarti keterkaitan. Munasabah dapat terjadi dalam konteks ayat maupun surah. Dalam tesis Sahiron Syamsuddin yang telah dibukukan, munasabah diistilahkan dengan Irtibat al-Ayat wa al-Suwar. Jika dialih bahasakan menjadi “ketersalingterkaitan ayat-ayat dan surah-surah dalam Alquran”. Tujuan dari mempelajari munasabah ialah untuk mengambil pelajaran antar ayat dan surah dalam Alquran, meskipun terkadang bila dibaca sepintas terdapat perbedaan. Untuk itu, tulisan ini mengulas salah satu munasabah surah dalam Alquran, yakni Surah Quraisy dan Alma’un.

Penafsiran Surah Quraisy dan Alma’un menurut para mufasir

Ayat pertama dan kedua surah Quraisy mengisahan tentang masyarakat Quraisy yang berkebiasaan berdangang ke negeri Syam ketika musim panas serta Yaman dan Basrah ketika musim dingin (Tejemah Tafsir At-Thabari, jilid 26, hlm. 973). Pada ayat ketiga, Allah memerintahkan Nabi yang juga sebagian dari masyarakat Quraisy untuk menyembah Allah dan bersyukur. Yakni Dzat yang memberikan rezeki berupa makanan dikala lapar dan keamanan dikala hati takut yang dijelaskan pada ayat ke empat.

Mayoritas ulama sepakat bahwa Surah Quraisy dan Alfiil adalah dua surah yang berbeda. Akan tetapi Ibnu Jarir dan dan Quraish Shihab dalam Al-Misbah mendiskusikan tentang alasan mengapa kedua surah ini saling terhubung. Pada surah Al-Fiil disebutkan tentang pertolongan Allah atas kaum Quraisy terhadap serangan pasukan gajah. Melalui surah Quraisy ini, Allah juga memberikan beberapa kenikmatan lainnya dan memerintahkan mereka untuk bersyukur (Tafsir Al-Misbah, jilid 15, hlm. 536).

Baca juga: Tafsir Surah Quraisy Ayat 2: Ke Mana Rihlah Quraisy?

Dalam Tafsir Al-Misbah begitu juga dalam tulisan Siti Rohmah yang telah terbit, dijelaskan muasal tradisi berdangang berasal dari Hasyim Ibnu Abd Manaf, kakek Rasulullah. Sebelumnya, ketika musim kelaparan melanda, masyarakat Quraisy berpindah-pindah tempat sampai mereka mati kelaparan. Melihat realita tersebut, Hasyim mengajak penduduk Quraisy untuk bergotong-royong berdagang ke negara tetangga guna mempertahankan hidup. Keuntungan yang mereka dapatkan dibagi rata antara kaya dan miskin (Tafsir Al-Misbah, jilid 15, hlm. 538).

Terkait penafsiran Surah Alma’un, sebelumnya saya telah menuliskan dalam dua artikel tersendiri yang tentu tidak perlu diulang di sini. Inti dari surah Alma’un pada dua tulisan saya sebelumnya adalah kecaman Allah pada orang-orang yang mendustakan Agama. Yakni orang-orang  yang tidak memenuhi hak-hak orang yang membutuhkan, tidak bersungguh-sungguh dalam salat dan melakukan perbuatan terpuji tanpa dilandasi niat tulus karena Allah.

Hubungan Surah Quraisy dan Alma’un

Munasabah surah Quraisy dan Alma’un terwujud dalam bentuk yang berlawanan. Pada surah Quraisy, Allah mengabarkan tentang banyak nikmat yang Dia berikan kepada masyarakat Quraisy. Nikmat tersebut berupa keamanan dan keselamatan dari kelaparan.

Sekalipun Surah Quraisy mengisahkan tentang kebiasaan berdagang masyarakat Quraisy, keberhasilan berdangang mereka yang menghasilkan banyak harta semata-mata bukan hanya dari usaha, melainkan juga melibatkan kuasa Allah sebagaimana yang dijelaskan pada ayat keempat. Untuk itu, redaksi ayat sebelumnya berisi seruan untuk menyembah Tuhan pemilik Kabah.

Pesan tersirat dari Surah Quraisy adalah seruan untuk menyembah Allah. Sebab kenikmatan dan keamanan yang manusia dapatkan adalah berkat rahmat Allah. Begitulah yang tergambarkan pada kisah dalam Surah Quraisy secara keseluruhan.

Baca juga: Surah Alma’un dan Ibadah Dimensi Sosial

Adapun dalam Surah Alma’un, kecaman  terhadap pendusta agama merupakan implementasi dari seruan menyembah Allah. Setelah bertauhid, seseorang harus menjalankan syariat Islam secara keseluruhan. Pada artikel saya sebelumnya, implementasi beragama terbagi menjadi dua bentuk ibadah yakni ibadah ketuhanan dan ibadah dimensi sosial.

Ibadah ketuhanan seperti salat merupakan suatu kewajiban tiap muslim kepada Allah. Adapun dimensi sosial seperti zakat dan sedekah merupakan bentuk ibadah yang mengajarkan bahwa tiap-tiap harta yang dimiliki seorang muslim mengandung hak orang lain yang membutuhkan.

Itu sebabnya pada surah Quraisy  pada ayat 3 yang berisi seruan menyembah Allah didahului dengan kisah perdagangan masyarakat Quraisy di masa lampau. Ayat 3 juga di akhiri dengan alasan perintah menyembah Allah, yakni karena mereka telah dimudahkan mendapatkan rezeki dan rasa aman dari ketakutan.

Simpulan

Munasabah surah Quraisy dan Alma’un terletak pada seruan dan implementasi menyembah Allah. Salah satu pesan dari surah Quraisy berisi seruan kepada Allah atas segala kenikamatan yang telah diberikan-Nya. Adapun pada Surah Alma’un berisi kecaman terhadap orang-orang yang tidak menerapkan esensi agama Islam secara paripurna. Inti dari beragama pada surah tersebut yani ibadah berdimensi spiritual dan sosial.  Wallahu a’lam[]

Tafsir Surah Al-Hadid ayat 26-27

0
Tafsir Surah al-Hadid
Tafsir Surah al-Hadid

Tafsir Surah Al-Hadid ayat 26-27 menceritakan tetang Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim yang merupakan Rasul Allah yang mana semua Rasul berasal dari keturunan mereka hingga ke Nabi Muhammad SAW.

Pada ayat 27 dalam Tafsir Surah Al-Hadid ayat 26-27 ini mengkhususkan tentang Nabi Isa dan penjelasan mengenai sifat-sifat pengikutnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 17-20


Ayat 26

Allah menerangkan, bahwa Dia telah mengutus Nuh sebagai rasul kepada kaumnya, kemudian Dia mengutus Ibrahim sebagai rasul kepada kaum yang lain. Diterangkan pula bahwa para rasul yang datang kemudian setelah kedua orang rasul itu, semuanya berasal dari keturunan mereka berdua, tidak ada seorang pun daripada rasul yang diutus Allah yang bukan dari keturunan mereka berdua. Hal ini dapat dibuktikan kebenarannya sampai kepada rasul terakhir Nabi Muhammad saw.

Diterangkan bahwa tidak semua keturunan Nuh dan Ibrahim beriman kepada Allah, di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan dari mereka tidak beriman, mereka adalah orang-orang yang fasik, yang mengurangi, menambah dan mengubah agama yang dibawa oleh para rasul sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka.

Dari ayat ini dipahami bahwa belum tentu seseorang hamba yang saleh kemudian anaknya menjadi hamba yang saleh pula, tetapi banyak tergantung kepada bagaimana cara seseorang mendidik dan membesarkan anaknya. Ayat ini juga merupakan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang telah beriman dan mengikuti para rasul yang diutus kepada mereka, tetapi mereka tidak mengikuti ajaran yang dibawa para rasul itu.

Ayat 27

Demikianlah Allah mengutus para rasul, kemudian diiringi pula oleh rasul-rasul yang sesudahnya, untuk menyampaikan agama-Nya kepada manusia, sehingga tidak ada alasan bagi manusia di akhirat untuk meng-atakan, mengapa mereka diazab padahal kepada mereka tidak diutus seorang rasul pun.

Dalam ayat ini Allah mengkhususkan keterangan tentang Isa karena banyak pengikut-pengikutnya yang fasik, yaitu mengubah-ubah, menambah dan mengurangi ajaran-ajaran yang disampaikan Isa. Diterangkan bahwa Isa adalah putera Maryam, diberikan kepadanya Kitab Injil, berisi pokok ajaran yang agar dijadikan petunjuk oleh kaumnya dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat dan sebagai penyempurnaan ajaran Allah yang terdapat dalam kitab Taurat yang telah diturunkan kepada Nabi Musa sebelumnya.

Kemudian diterangkan sifat-sifat pengikut Nabi Isa:

  1. Allah swt menjadikan dalam hati mereka rasa saling menyantuni sesama mereka, mereka berusaha menghindarkan kebinasaan yang datang kepada mereka dan saudara-saudara mereka serta berusaha memperbaiki kebina-saan yang terjadi pada mereka.
  2. Antara sesama mereka terdapat hubungan kasih sayang dan mengingin-kan kebaikan pada diri mereka.

Sekalipun mereka telah mempunyai sifat-sifat terpuji dan baik seperti yang diajarkan Nabi Isa, tetapi mereka melakukan kefasikan, yaitu mengada-adakan rahbaniyyah, dengan menetapkan ketentuan larangan kawin bagi pendeta-pendeta mereka, padahal perkawinan termasuk sunah Allah yang ditetapkan bagi makhluk-Nya. Mereka menetapkan rabbaniyah itu dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah, tetapi Allah tidak pernah menetapkannya. Karena itu mereka adalah orang yang suka mengada-adakan sesuatu yang bertentangan dengan sunatullah, yaitu tidak mensyariatkan perkawinan bagi pendeta-pendeta mereka yang tujuannya untuk melanjutkan keturunan dan menjaga kelangsungan hidup manusia.

Perbuatan fasik lain yang mereka lakukan, ialah mereka telah mengubah, menambah dan mengurangi agama yang dibawa Nabi Isa, yang terdapat dalam Injil, karena memperturutkan hawa nafsu mereka.

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia akan memberikan pahala yang berlipat-ganda kepada orang-orang yang beriman, mengikuti syariat yang dibawa para rasul, tidak mengada-adakan yang bukan-bukan dan tidak pula menambah dan mengubah kitab-kitab-Nya. Sedang kepada orang-orang fasik itu akan ditimpakan azab yang sangat berat.

(Tafsir Kemenag)

nyebabkan anemia, mungkin jumlah sel darah merahnya atau karena hemoglogin (bahan yang berisi zat besi berwarna merah yang dapat mengangkut zat asam) dalam sel darah merah berkurang dari biasanya.

Allah swt menerangkan bahwa Dia berbuat yang demikian itu agar Dia mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang mengikuti dan menolong agama yang disampaikan para rasul yang diutus-Nya dan siapa yang mengingkarinya. Dengan anugerah itu, Allah ingin menguji manusia dan mengetahui sikap manusia terhadap nikmat-Nya. Manusia yang taat dan tunduk kepada Allah akan melakukan semua yang disampaikan para rasul itu, karena ia yakin bahwa semua perbuatan, sikap dan isi hatinya diketahui Allah, walaupun ia tidak melihat Allah mengawasi dirinya.

Pada akhir ayat ini, Allah swt menegaskan kepada manusia bahwa Dia Mahakuat, tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan-Nya, bahwa Dia Mahaperkasa dan tidak seorang pun yang dapat mengelakkan diri dari hukuman yang telah ditetapkan-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 28-29

Tafsir Surah al-Hadid ayat 28-29

0
Tafsir Surah al-Hadid
Tafsir Surah al-Hadid

Tafsir Surah al-Hadid ayat 28-29 menerangkan tentang perintah Allah kepada Bani Israil agar beriman kepada Nabi Muhammad dan mengikuti perintah dan larangan-Nya sesuai dengan yang disiarkan Isa bin Marya sebagai rasul dan utusan-Nya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 25


Ayat 28

Allah swt memerintahkan kepada Bani Israil yang telah beriman kepada Isa bin Maryam sebagai rasul dan utusan-Nya agar beriman kepada Muhammad saw yang datang sesudah itu, mengikuti perintah-perintah dan menghentikan larangan-larangan-Nya yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadis. Perintah ini pada hakikatnya menguatkan perintah Allah yang terdapat dalam Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa.

Jika Bani Israil mengikuti perintah Allah swt, maka Allah menjanjikan kepada mereka pahala dua kali lipat dari pahala yang akan diterima orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw saja. Di samping itu, akan mengampuni dosa-dosa mereka, karena Dia mengampuni dosa-dosa orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Jika yang dijanjikan Allah kepada pengikut Nabi Isa dan mereka beriman pula kepada Muhammad ialah:

  1. Mereka akan dianugerahi pahala dua kali lipat.
  2. Mereka akan diterangi cahaya petunjuk dalam menghadapi kesengsaraan dan malapetaka di hari Kiamat dan dalam menuju surga yang penuh kenikmatan.
  3. Allah swt mengampuni dosa-dosa yang telah mereka perbuat.

Dalam hadis di bawah ini diterangkan orang-orang yang akan memperoleh pahala dua kali lipat, yaitu:

رَوَى الشَّعْبِيُّ عَنْ أَبِيْ بُرْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ اَبِيْ مُوْسَى اْلأَشْعَرِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْل ُاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتاَبِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِيْ فَلَهُ أَجْرَانِ وَ عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ وَحَقَّ مَوَالِيْهِ فَلَهُ أَجْرَانِ وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ.

(رواه البخاري ومسلم)

Diriwayatkan oleh asy- Sya’biy dari Abu Burdah dari bapaknya Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Tiga macam orang yang diberi pahala dua kali lipat, yaitu ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman pula kepadaku, maka baginya dua pahala, dan budak yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya maka baginya dua pahala, dan orang yang mendidik budak perempuannya dengan baik kemudian di-merdekakan dan dikawini, maka baginya dua pahala pula.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Ayat 29

Pada Tafsir Surah al-Hadid ayat 28-29 khususnya dalam ayat ini Allah menolak pendapat Bani Israil yang mengatakan bahwa rasul-rasul dan nabi-nabi itu hanyalah diangkat dari keturunan mereka saja. Allah mengangkat Nabi Muhammad saw bukan dari keturunan Bani Israil, agar mereka mengetahui bahwa hanya Dia yang menentukan segala sesuatu dan yang akan memperoleh pahala dua kali lipat itu hanyalah ahli kitab yang beriman kepada Muhammad saw saja, jika mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw mereka tidak akan mendapat pahala sedikit pun.

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia mempunyai karunia yang tidak terhingga banyaknya, yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

(Tafsir Kemenag)

Filosofi Hijrah Rasulullah Saw Menuju Transformasi Sosial

0
Filosofi hijrah
Filosofi hijrah

Semarak hijrah kaum millenial dewasa ini sangat menggembirakan di satu sisi, namun sangat mengkhawatirkan di sisi lain. Munculnya sejumlah slogan, komunitas dan event berbasis hijrah menunjukkan kesadaran keberagamaan yang meningkat di kalangan masyarakat. Namun di sisi lain, semangat tersebut terkadang melenceng dari semangat awal atau filosofi hijrah Rasul itu sendiri. Kata hijrah dewasa ini telah mengalami penyempitan makna. Gerakan hijrah tidak selamannya mencerminkan nilai-nilai spiritual, tetapi telah menjadi sebuah gerakan sosial, ekonomi maupun politik. Nilai-nilai hijrah yang bersifat substansial kerap terabaikan dan tertutupi oleh euforia simbolik yang mengarah pada komodifikasi maupun konstruk identitas baru, terlebih di dunia digital (Afina Amna, 2019).

Melalui momentum tahun baru Hijriah, 1 Muharram 1444 H yang bertepatan pada tanggal 30 Juli 2022, tulisan ini merespon persoalan tersebut, dengan kembali membaca filosofi hijrah Rasul sebagai acuan bagi aktifis hijrah menuju hijrah transformatif. Hijrah Rasulullah ke Madinah tidak hanya mengajarkan arti penting sebuah pengorbanan, cinta dan keikhlasan Nabi dan para sahabat muhajirin. Tetapi, momentum hijrah tersebut menjadi awal transformasi sosial dari masyarakat jahiliyah ke masyarakat madani. Di saat yang sama, Rasulullah melalui spirit hijrah telah membentuk sebuah pandangan dunia (world view) yang qurani menuju peradaban islami.

Pandangan dunia yang dimaksud dari hijrah Rasul setidaknya bermuara pada tiga kata kunci, yaitu pentingnya membangun tiga kekuatan utama secara bersamaan; fisik (maddiyah), spiritual (ruhiyyah), rasionalitas (aqliyah). Tiga kekuatan tersebut menjadi perhatian Rasulullah sejak pertama kali hijrah di kota Madinah;

Baca Juga: Tiga Metode Pendidikan Para Rasul dalam Al Quran

Pertama, membangun fisik (maddiyah). Dalam hal ini, persoalan yang pertama kali dilakukan oleh Nabi adalah membangun masjid Quba. Masjid tersebut sebagai simbol arti penting sebuah infrastruktur dalam sebuah komunitas. Masjid Quba sebagai infrastruktur ibadah ketika itu menjadi wadah bagi umat Islam awal untuk melakukan sejumlah aktifitas, baik yang terkait pembinaan rohaniyah, pendidikan maupun urusan ekonomi dan politik.

Dalam perkembangannya, untuk mewujudkan kekuatan fisik umat Islam, Rasulullah menjalin kerjasama dengan dengan non Muslim dalam berbagai aspek, baik ekonomi, politik maupun sosial kemasyakatan. Dalam riwayat terekam bahwa Rasulullah pernah menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi (HR. Bukhari dan Muslim). Riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah pernah memberikan tanah Khaibar kepada orang Yahudi untuk digarap dan bagi hasil (HR. Bukhari). Data tersebut mencerminkan karakter Rasulullah yang sangat kolaboratif dan toleran terhadap penduduk agama lain.

Kedua, membangun kekuatan spiritual (ruhiyyah). Selain fisik, Rasulullah sejak awal hijrahnya juga telah membangun kekuatan spiritual. Kekuatan fisik sangat penting, tapi hal itu akan menjadi rapuh, jika tidak dibarengi dengan kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual yang dimaksud adalah keikhlasan, kesederhanaan, kebermaknaan hidup. Keikhlasan mencerminkan kejernihan hati dalam segala bentuk perbuatan dan perkataan. Tidak ada tujuan selain untuk ridha Allah. Kesederhanaan menggambarkan kehidupan yang bersahaja, ketawadhuan serta hidup sesuai dengan kebutuhan, bukan sesuai keinginan. Sementara kebermaknaan hidup adalah orentasi kehidupan pada pengabdian. Mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Spirit tersebut yang terinternalisasi pada diri sahabat secara alamiah maupun melalui pendidikan. Karakter tersebut terbentuk secara alamiah pada diri para sahabat karena tauladan secara langsung dari Rasul. Mereka menyaksikan kehidupan Rasul yang penuh dengan kebersahajaan. Hidupnya semata untuk menyebarkan pesan ilahi, yang penuh kasih. Selain itu, pendidikan Rasulullah lebih mementingkan aspek subtansial daridapa formalistik semata. Di antaranya, Rasulullah memvonis seorang sahabat yang mati dalam medan perang sebagai penghuni neraka karena niat yang tidak tulus dalam hatinya. Metode pendidikan ini yang kemudian dikenal dengan educational prophetic (pendidikan profetik).

Ketiga, membangun kekuatan rasionalitas (aqliyyah). Kekuatan ini juga tidak kalah penting dari dua hal sebelumnya. Rasionalitas menggambarkan pentingnya daya pikir dan kritis dalam kehidupan sosial maupun beragama. Kekuatan rasionalitas menjadi perhatian Rasulullah sejak awal, baik melalui motivasi qurani maupun hadis. Ayat pertama turun adalah petintah untuk membaca dan menalar. Membaca bukan hanya yang tertulis, sebagai kitab Allah (Alquran), tapi mencakup pembacaan dalam bentuk penalaran semua fenomena alam. Selain itu, pentingnya rasionalitas juga ditegaskan dalam hadis, ‘tidak ada agama bagi yang tidak memiliki akal’. Artinya taklif gugur bagi mereka yang tidak berakal, baik yang belum tamyiz maupun yang gila.

Rasionalitas dalam beragama semakin penting ketika kita mampu memahami spirit dari tiap ajaran agama Islam. Dalam tiap perintah maupun larangan, sejatinya terdapat unsur kemaslahatan dan kemudaratan di dalamnya. Misalnya, perintah salat,  bukan hanya sekedar mengingat Allah, tapi salat yang benar adalah menjadi perisai dari segala bentuk kemungkaran. Begitupun dengan zakat, tidak hanya bermakna kesalehan individu, tapi zakat sebagai spirit pementasan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Inilah di antara bentuk rasionalitas dalam beragama. Dampaknya adalah agama tidak hanya sebatas ajaran normatif-formalistik semata, tapi agama hadir secara fungsional baik dalam membetuk kesalehan individu maupun sosial.

Baca Juga: Tantangan Alquran kepada Penentang Risalah Nabi Muhammad

Demikian tiga filosofi hijrah Rasul yang bisa menjadi pegangan dewasa ini. Tiga fondasi tersebut juga tersirat dalam QS. Al-An’am: 141:

۞وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَ جَنَّٰتٖ مَّعۡرُوشَٰتٖ وَغَيۡرَ مَعۡرُوشَٰتٖ وَٱلنَّخۡلَ وَٱلزَّرۡعَ مُخۡتَلِفًا أُكُلُهُۥ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُتَشَٰبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٖۚ كُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثۡمَرَ وَءَاتُواْ حَقَّهُۥ يَوۡمَ حَصَادِهِۦۖ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ

141.  Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

Kaitannya dengan filosofi hijrah, Syeikh Ali Jum’ah, dalam al-Biah wa al-Hifadz alaiha min Manzur Islami, menyatakan bahwa QS. Al-An’am di atas mencakup tiga prinsip dasar dalam membangun masyarakat madani. Perintah untuk merenungi ciptaan Allah yang penuh hikmah dan bernaneka ragam itu adalah aspek rasionalitas. Perintah untuk makan buah adalah aspek materi/fisik, sementara perintah mengeluarkan hak dan larangan berlebihan adalah nilai-nilai spiritualitas. Ketiganya saling terkait, dan tak terpisahkan. Itulah tiga hakekat filosofi hijrah Rasul yang telah berhasil membangun peradaban Islam yang sangat dahsyat dalam sejarah.

Dalam konteks hijrah dewasa ini, filosofi tersebut menjadi acuan untuk mewujudkan hijrah transformatif dan holistik. Hijrah yang tidak hanya sebatas fisik-formalisitk semata, tapi yang tak kalah penting adalah menjaga aspek subtansial, baik yang berkaitan dengan aspek spiritualitas maupun aspek rasionalitas. Hijrah tanpa spiritualitas hanya akan melahirkan keterasingan (alienasi) di tengah keramaian. Sementara, hijrah tanpa rasionalitas cenderung melahirkan ekslusivitas berbasis identitas keagamaan! Wallah a’lam.

Tafsir Surah al-Hadid ayat 25

0
Tafsir Surah al-Hadid
Tafsir Surah al-Hadid

Tafsir Surah al-Hadid ayat 25 menjelaskan tentang mukjizat para rasul yang diutus Allah kepada umat-Nya dengan membawa bukti kebenaran risalah-Nya. Selengkapnya Tafsir Surah al-Hadid ayat 25 di bawah ini.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 17-20


Ayat 25

Tafsir Surah al-Hadid ayat 25 Allah menerangkan bahwa Dia telah mengutus para rasul kepada umat-umat-Nya dengan membawa bukti-bukti yang kuat untuk membukti-kan kebenaran risalah-Nya. Di antara bukti-bukti itu, ialah mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para rasul. Di antara mukjizat tersebut seperti tidak terbakar oleh api sebagai mukjizat Nabi Ibrahim, mimpi yang benar sebagai mukjizat Nabi Yusuf, tongkat sebagai mukjizat Nabi Musa, Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw dan sebagainya.

Setiap rasul yang diutus itu bertugas menyampaikan agama Allah kepada umatnya. Ajaran agama itu adakalanya tertulis dalam sahifah-sahifah dan adakalanya termuat dalam suatu kitab, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Ajaran agama itu merupakan petunjuk bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sebagai dasar untuk mengatur dan membina masyarakat, maka setiap agama yang dibawa oleh para rasul itu mempunyai asas “keadilan”. Keadilan itu wajib ditegakkan oleh para rasul dan pengikut-pengikutnya dalam masyarakat, yaitu keadilan penguasa terhadap rakyatnya, keadilan suami sebagai kepala rumah tangga, keadilan pemimpin atas yang dipimpin-nya dan sebagainya, sehingga seluruh anggota masyarakat sama kedudukan-nya dalam hukum, sikap dan perlakuan.

Di samping itu, Allah swt menganugerahkan kepada manusia “besi” suatu karunia yang tidak terhingga nilai dan manfaatnya. Dengan besi dapat dibuat berbagai macam keperluan manusia, sejak dari yang besar sampai kepada yang kecil, seperti berbagai macam kendaraan di darat, di laut dan di udara, keperluan rumah tangga dan sebagainya. Dengan besi pula manusia dapat membina kekuatan bangsa dan negaranya, karena dari besi dibuat segala macam alat perlengkapan pertahanan dan keamanan negeri, seperti senapan, kendaraaan perang dan sebagainya. Tentu saja semuanya itu hanya diizinkan Allah menggunakannya untuk menegakkan agama-Nya, menegak-kan keadilan dan menjaga keamanan negeri.

Sebuah ensiklopedia sains modern menggambarkan unsur-unsur kimia yang ada di bumi kita ini mempunyai variasi yang menakjubkan, beberapa di antaranya susah ditemukan tapi ada juga yang berlimpah. Ada yang dapat dilihat oleh mata telanjang karena berbentuk cairan dan padat, tetapi ada juga yang tak tampak karena berupa gas.

Sekitar 300 tahun yang lalu hanya 12 unsur yang diketahui di antaranya adalah unsur Ferrum (Fe) yang bernomor atom 26 pada Tabel Susunan Berkala Unsur-Unsur. Fe ini lebih dikenal dengan sebutan besi.


Baca Juga: Tafsir Surah al-Hadid Ayat 25: Fungsi Besi bagi Kehidupan Manusia


Besi merupakan salah satu unsur paling mudah ditemukan di Bumi. Diperkirakan 5% daripada kerak Bumi adalah besi. Kebanyakan besi ditemukan dalam bentuk oksida besi, seperti bahan galian hematit, magnetit dan takonit. Juga diduga keras permukaaan bumi banyak mengandung aloi logam besi-nikel.

Konon unsur besi bukan unsur asli “kepunyaan” bumi tapi ia berasal dari luar bumi. Para pakar sependapat bahwa meteorit turut andil dalam pembentukan aloi besi-nikel yang ada di bumi. Barangkali, inilah “cara” Allah mendatangkan” unsur besi ke permukaan bumi jauh sebelum manusia ada.

Pada umumnya besi adalah logam yang diperoleh dari bijih besi, dan dijumpai bukan dalam keadaan bebas tetapi selalu dalam bentuk senyawa atau campuran dengan unsur-unsur yang lain. Karenanya untuk mendapatkan unsur besi, unsur lain harus dipisahkan yang biasanya dilakukan melalui proses kimia.

Seperti dalam industri besi baja, besi banyak digunakan yakni dalam bentuk logam campuran (aloi). Jenis campuran ada yang terdiri dari logam-logam yang berlainan tetapi ada juga bahan campuran yang digunakan berasal dari nonlogam, misalnya karbon. Semuanya dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kualitas yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan dan dengan pertimbangan untuk menekan biaya produksi.

Sifat fisis unsur Fe jika dipanaskan terus menerus maka sebelum mencair ia akan mengalami fasa pelelehan. Fasa dimana besi dalam keadaan padat tapi ia memiliki sifat lunak. Karenanya pada fasa atau keadaan ini besi mudah dibentuk walaupun hanya dengan menggunakan teknologi tradisional yang sederhana seperti teknologi pandai besi (black-smith).

Dengan teknologi yang sederhana tadi maka dalam sejarah perkembangan manusia pemanfaatan besi telah digunakan banyak dalam aspek kehidupan manusia sehari-hari, termasuk juga untuk perang. Sayyid Qutub dalam tulisannya menguraikan, “Allah menurunkan besi ‘…yang padanya terdapat kekuatan yang hebat…, yaitu kekuatan dalam perang dan damai. Kemudian ‘…Dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya… Penggalan ini mengisyaratkan jihad dengan senjata. Sebuah penyajian yang selaras dengan konteks surah yang tengah membicarakan pengorbanan dengan jiwa dan harta.”

Dalam pengetahuan biologi maka unsur besi (Fe) dalam bentuk zat besi juga amat dibutuhkan oleh semua makhluk organik, kecuali bagi sebagian kecil bakteria. Seperti dalam tubuh kita zat besi sangat diperlukan. Dalam tubuh manusia besi kebanyakan ditemukan dalam bentuk logamprotein (metalloprotein) yang stabil, jika tidak maka ia dapat menyebabkan timbulnya radikal bebas yang cenderung menjadi racun bagi sel.

Dalam tubuh manusia zat besi terlibat dalam pembentukan sel–sel darah merah. Sementara sel-sel darah merah sangat penting keberadaannya karena dialah yang membawa zat asam (oksigen) dari paru-paru ke seluruh jaringan-jaringan yang ada dalam tubuh kita. Jaringan hidup memerlukan persediaan zat asam. Lebih giat suatu jaringan maka semakin banyak ia membutuhkan zat asam.

Kekurangan zat besi dalam darah dapat menyebabkan anemia, mungkin jumlah sel darah merahnya atau karena hemoglogin (bahan yang berisi zat besi berwarna merah yang dapat mengangkut zat asam) dalam sel darah merah berkurang dari biasanya.

Allah swt menerangkan bahwa Dia berbuat yang demikian itu agar Dia mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang mengikuti dan menolong agama yang disampaikan para rasul yang diutus-Nya dan siapa yang mengingkarinya. Dengan anugerah itu, Allah ingin menguji manusia dan mengetahui sikap manusia terhadap nikmat-Nya. Manusia yang taat dan tunduk kepada Allah akan melakukan semua yang disampaikan para rasul itu, karena ia yakin bahwa semua perbuatan, sikap dan isi hatinya diketahui Allah, walaupun ia tidak melihat Allah mengawasi dirinya.

Pada akhir ayat ini, Allah swt menegaskan kepada manusia bahwa Dia Mahakuat, tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan-Nya, bahwa Dia Mahaperkasa dan tidak seorang pun yang dapat mengelakkan diri dari hukuman yang telah ditetapkan-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 26-27

Tafsir Surah al-Hadid ayat 23-24

0
Tafsir Surah al-Hadid
Tafsir Surah al-Hadid

Tafsir Surah al-Hadid ayat 23-24 menjelaskan tentang implementasi dari sikap sabar. Sebab cobaan itu sejatinya bukan hanya berupa kesengsaraan dan malapetaka saja, akan tetapi kesenangan dan kegembiraan juga bentuk lain dari cobaan. Oleh sebab itu ketika sedang mendapatkan cobaan hendaknya orang mukmin bersabar menghadapinya.

Di akhir penjelasan, Tafsir Surah al-Hadid ayat 23-24 ini menerangkan sikap angkuh dan sombong manusia. Sikap itu terbentuk sebab manusia merasa dapat melakukan suatu hal sendiri tanpa campur tangan Allah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 21-22


Ayat 23

Pada ayat ini Allah swt menyatakan bahwa semua peristiwa itu ditetapkan sebelum terjadinya, agar manusia bersabar menerima cobaan Allah. Cobaan Allah itu adakalanya berupa kesengsaraan dan malapetaka, adakalanya berupa kesenangan dan kegembiraan. Karena itu janganlah terlalu bersedih hati menerima kesengsaraan dan malapetaka yang menimpa diri, sebaliknya jangan pula terlalu bersenang hati dan bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hati. Sikap yang paling baik ialah sabar dalam menerima bencana dan malapetaka yang menimpa serta bersyukur kepada Allah atas setiap menerima nikmat yang dianugerahkan-Nya.

Ayat ini bukan untuk melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati, tetapi maksudnya ialah melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati dengan berlebih-lebihan. ‘Ikrimah berkata, “Tidak ada seorang pun melainkan ia dalam keadaan sedih dan gembira, tetapi hendaklah ia menjadikan kegembiraan itu sebagai tanda bersyukur kepada Allah dan kesedihan itu sebagai tanda bersabar.”

Pada akhir ayat ini ditegaskan, bahwa orang yang terlalu bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hatinya dan terlalu bersedih hati menerima bencana yang menimpanya adalah orang yang pada dirinya terdapat tanda-tanda tabkhil dan angkuh, seakan-akan ia hanya memikirkan kepentingan dirinya saja. Allah swt menyatakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang mempunyai sifat-sifat bakhil dan angkuh.

Ayat 24

Orang-orang yang mempunyai sifat sombong dan angkuh adalah orang yang bila memperoleh suatu nikmat, kesenangan atau harta, maka ia berpendapat bahwa semuanya itu diperolehnya semata-mata karena kesanggupan dan kepandaiannya sendiri. Karena berusaha, maka ia memperolehnya, bukan karena pertolongan dan anugerah Allah kepadanya.

Kemudian setan membisik-bisikkan ketelinganya bahwa ia adalah orang-orang yang kuat dan mampu, tidak memerlukan pertolongan orang lain. Karena yakin akan kemampuan dirinya itu, ia merasa tidak mengindahkan orang lain dan memberi orang lain. Jika ia memberi dan mengindahkan orang lain ia akan menjadi miskin. Keyakinan itu disampaikan pula kepada orang lain dan menganjurkan orang lain berkeyakinan seperti dirinya, yaitu berlaku kikir agar tidak menjadi miskin.

Pada ayat ini ditegaskan, bahwa orang yang mempunyai sifat-sifat seperti di atas adalah orang-orang yang berpaling dari perintah-perintah Allah. Allah memerintahkan agar manusia bersifat rendah hati, suka menolong sesamanya, membantu fakir miskin, berinfak di jalan Allah dan sebagainya, tetapi mereka menganjurkan dan berbuat sebaliknya. Allah menyatakan bahwa sikap dan tindakan mereka yang demikian itu tidak akan merugikan Allah sedikit pun, melainkan akan merugikan diri mereka sendiri, karena Allah tidak memerlukan sedikit pun harta dan pemberian mereka, tetapi merekalah yang memerlukannya. Allah Maha Terpuji karena Dialah yang melimpahkan nikmat kepada seluruh makhluk-Nya.

Ayat lain yang sama artinya dengan ayat ini, ialah:

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَاِيَّاكُمْ اَنِ اتَّقُوا اللّٰهَ ۗوَاِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَنِيًّا حَمِيْدًا   ١٣١

Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar, maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (an-Nisa’/4: 131)

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 25

Tafsir Surah al-Hadid ayat 21-22

0
Tafsir Surah al-Hadid
Tafsir Surah al-Hadid

Dalam Tafsir Surah al-Hadid ayat 21-22 ini Allah memerintahkan agar manusia berlomba-lomba untuk mengerjakan amal saleh agar mendapat ampunan dari Allah. Kemudian Tafsir Surah al-Hadid ayat 21-22 ini ditutup dengan penjelasan bahwa musibah yang terjadi di muka bumi ini telah ditetapkan dalam sebuah catatan.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 17-20


Ayat 21

Pada ayat ini Allah memerintahkan agar manusia itu bersegera dan berlomba-lomba mengerjakan amal saleh untuk dapat memperoleh ampunan dari Allah dan mendapat surga di akhirat kelak, yang luasnya seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang-orang yang beriman, kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mengakui keesaan Allah membenarkan rasul-rasul-Nya.

Semua yang dipersiapkan Allah bagi mereka, adalah karunia, rahmat dan anugerah daripada-Nya.

Di dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dijelaskan sebagai berikut:

إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِيْنَ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالْأُجُوْرِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيْمِ الْمُقِيْمِ. قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قَالُوْا: يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّيّ وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُوْنَ وَلاَ نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُوْنَ وَلاَ نُعْتِقُ قَالَ: أَفَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ سَبَقْتُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلاَ يَكُوْنُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ اِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ تُسَبِّحُوْنَ وَتُكَبِّرُوْنَ وَتَحْمَدُوْنَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ. قَالَ: فَرَجَعُوْا فَقَالُوْا: سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ اْلأَمْوَالِ مَا فَعَلْنَا فَعَلُوْا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: (ذٰلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَشَاءُ) (رواه مسلم عن أبي صالح عن أبي هريرة)

Fakir miskin dari kalangan Muhajirin mengeluh, “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah membawa pergi pahala, derajat yang tinggi dan nikmat yang tiada hingga.” Rasulullah bertanya, “Apa itu?” Fakir miskin Muhajirin menjawab, “Mereka (orang-orang kaya) salat sebagaimana kami salat, puasa sebagaimana kami puasa, tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak, mereka memerdekakan budak sedangkan kami tidak (karena tidak mampu.)” Nabi menjawab, “Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang apabila diamalkan niscaya kalian mendahului orang-orang sesudahmu serta tidak ada seorang pun yang lebih mulia darimu kecuali seseorang yang mengerjakan amalan seperti amalan kalian, yakni membaca tasbih, takbir, tahmid, tiga puluh tiga kali setiap selesai salat. Abu Shalih (perawi) berkata, “Kemudian fakir miskin Muhajirin itu kembali kepada Nabi seraya berkata, ‘Saudara-saudara kita yang kaya itu telah mendengar amalan yang kita kerjakan lalu mereka mengamalkan apa yang kita amalkan. Lalu Nabi bersabda, ‘Itu merupakan keutamaan Allah yang diberikan kepada orang yang Ia kehendaki.” (Riwayat Muslim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah).

Ayat ini ditutup dengan ketegasan bahwa Allah itu amat luas pembe-rian-Nya dan besar karunia-Nya. Dia memberikan orang yang dikehen-daki-Nya apa saja menurut kehendak-Nya; dilapangkan rezekinya di dunia, dianugerahi bermacam-macam nikmat, diberitahu di mana ia harus bersyukur, kemudian dibalas di akhirat dengan balasan yang menyenangkan yaitu surga Jannatun Na’im.


Baca Juga: Bertakwalah, Maka Allah Akan Mengajarimu!


Ayat 22

Tafsir Surah al-Hadid ayat 21-22 khususnya pada Ayat ini menerangkan bahwa semua bencana dan malapetaka yang menimpa permukaan bumi, seperti gempa bumi, banjir dan bencana alam yang lain serta bencana yang menimpa manusia, seperti kecelakaan, penyakit dan sebagainya telah ditetapkan akan terjadi sebelumnya dan tertulis di Lauh Mahfudz, sebelum Allah menciptakan makhluk-Nya. Hal ini berarti tidak ada suatu pun yang terjadi di alam ini yang luput dari pengetahuan Allah dan tidak tertulis di Lauh Mahfudz.

Menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi itu adalah sangat mudah bagi Allah, karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang telah ada maupun yang akan ada nanti, baik yang besar maupun yang kecil, yang tampak dan yang tidak tampak.

Ayat ini merupakan peringatan sebagian kaum Muslimin yang masih percaya kepada tenung, suka meminta sesuatu kepada kuburan yang dianggap keramat, menanyakan sesuatu yang akan terjadi kepada dukun dan sebagainya. Hendaklah mereka hanya percaya kepada Allah saja, karena hanyalah Dia yang menentukan segala sesuatu. Mempercayai adanya kekuatan-kekuatan gaib, selain dari kekuasaan Allah termasuk memperseri-katkan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya dan berarti tidak percaya kepada tauhid rububiyyah yang ada pada Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 23-24


Laknat Isa kepada Yahudi Perspektif Alquran dan Injil

0
Laknat Isa kepada Yahudi Perspektif Alquran dan Injil
Laknat Isa kepada Yahudi Perspektif Alquran dan Injil

Mendialogkan konsep tertentu dalam Alquran dan Injil atau Bibel sudah lama dilakukan para mufasir klasik lewat periwayatan israiliyyat. Kini kajian serupa mulai marak kembali dengan sebutan kajian intertekstual. Tulisan ini ingin melanjutkan tradisi tersebut dengan mengangkat topik laknat Isa kepada kaum Yahudi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. [Q.S. Almaidah: 78].

Ibnu ‘Abbas berkata mengenai “laknat” kepada golongan kafir dari Bani Israil dalam ayat di atas:

Telah dilaknati mereka itu dengan semua lisan; dilaknat di atas perjanjian Musa di dalam Taurat, dilaknat di atas perjanjian Nabi Daud di dalam Zabur, dan dilaknat di atas perjanjian Nabi Isa di dalam Injil

At-Thabari mengatakan dalam tafsirnya, laknat yang keluar dari lisan Nabi Isa itu juga termaktub dalam kitab injil, sebagaimana laknat dari lisan Nabi Daud termaktub dalam kitab Zabur (sering dikaitkan dengan Mazmur).

Jika kita menelisik Perjanjian Baru, kitab suci yang sering dikaitkan dengan Injil, kita akan temukan delapan laknat atau yang dikenal dengan the eight woes yang keluar dari lisan Yesus atau Isa kepada kaum Yahudi dari kelompok Farisi. Laknat itu tercantum dalam Kitab Matius 23 dimulai dari ayat 13:

  1. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.
  2. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.
  3. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.
  4. Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.
  5. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
  6. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.
  7. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.
  8. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi  dan memperindah tugu orang-orang saleh.

Baca juga: Pemahaman Anak Allah dalam Perspektif Alkitab dan Alquran

Perbandingan dua konsep

Bisa jadi delapan laknat Yesus kepada kaum Yahudi dari golongan Farisi bukanlah yang dimaksud dengan laknat Isa bin Maryam kepada orang kafir dari Bani Israil sebagaimana diterangkan ayat 78 surah Almaidah di atas. Namun setidaknya ia menunjukkan bahwa “kecaman keras” Yesus terhadap golongan Yahudi yang menyimpang itu memang ada di dalam Perjanjian Baru. Sehingga ayat 78 dari surah Almaidah di atas dan delapan laknat dari Matius 23, yang belum tentu berkaitan itu setidaknya memiliki kemiripan makna.

Apabila diperhatikan dari kecaman keras Yesus dalam Matius 23 di atas, tabiat Farisi yang dominan dalam konteks ini adalah kemunafikan, kepalsuan berbungkus agama, berbangga dengan pakaian kebesaran, menghalangi orang dari jalan kebenaran, menganjurkan orang lain berbuat kebaikan namun dirinya sendiri lalai, dan bermegah-megahan dalam membangun kuburan para nabi.

Menariknya, dalam delapan laknat itu tersebutlah karakter semisal mengetahui tetapi tidak beramal; dan yang demikian itu di antara karakter dominan Yahudi Madinah. Ibnu Katsir saat mengomentari surah Alfatihah ayat ke-7 berkata:

Kaum Yahudi keluputan amal dan kaum Nasrani luput dari mereka ilmu, karena itu kemurkaan itu (al-maghdhub) adalah bagi kaum Yahudi, dan kesesatan itu (adh-dhalal) bagi Nasrani.

Di masa Yesus dahulu Bani Israil setidaknya terbagi menjadi tiga kelompok; perushim (Farisi), seduqim (Saduki), dan Issiyim (Eseni). Farisi merupakan satu kandidat kuat dari identitas kaum Yahudi di Madinah.

Seorang peneliti sejarah Yahudi bernama Dr. Haggai Mazuz berpendapat setidaknya ada 17 contoh bagaimana para kalangan ahli ilmu mereka mengubah-ubah huruf-huruf dalam penafsiran mereka akan Taurat. Haggai juga memandang kritik Alquran tentang ini “tidak sepenuhnya keliru.” Anggapan Haggai ini cukup beralasan, dalam khazanah keislaman, kaum Yahudi Madinah dikenal kerap mengubah perkataan dari tempat yang semestinya (tahrif bil nash) atau menakwilnya dengan takwil yang jauh (tahrif bil ma’na). Wallahu a’lam.

Baca juga: Sepuluh Perintah Tuhan dalam Alquran dan Alkitab: Membaca Argumen Sebastian Günter