Beranda blog Halaman 278

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 1 (3)

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 1 melanjutkan pembicaraan sebelumnya, yakni memaparkan hadis-hadis yang berkaitan dengan isra’ mi’raj. Dalam artikel ini juga dipaparkan mengenai perbedaan pendapat mengenai perjalanan isra’ Nabi dengan jasad atau roh.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 1 (2)


Ketiga:

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُتِيْتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُوْنَ الْبِغَالِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ فَرَكِبْتُهُ فَسَارَبِي حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَرَبَطْتُ الدَّابَّةَ بِالْحَلْقَةِ الَّتِى يَرْبِطُ فِيْهَا الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ دَخَلْتُ فَصَلَّيْتُ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَأَتَانِى جِبْرِيْلُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيْلُ أَصَبْتَ الْفِطْرَةَ. (رواه أحمد عن أنس بن ملك)

Bahwa Rasulullah saw bersabda, “Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu binatang putih lebih besar dari himar, dan lebih kecil dari bigal. Ia melangkahkan kakinya sejauh pandangan mata. Kemudian saya mengendarainya, lalu ia membawaku sehingga sampai ke Baitul Makdis. Kemudian saya mengikatnya pada tempat para nabi mengikatkan kendaraannya. Kemudian saya salat dua rakaat di dalamnya, lalu saya keluar. Kemudian Jibril membawa kepadaku sebuah bejana yang berisi minuman keras (khamar) dan sebuah lagi berisi susu; lalu saya pilih yang berisi susu, lantas Jibril berkata, “Engkau telah memilih fitrah sebagai pilihan yang benar.” (Riwayat Ahmad dari Anas bin Malik)

Dari hadis-hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad diperjalankan pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa atas izin Allah di bawah bimbingan malaikat Jibril.

Sebelum Nabi Muhammad saw diperjalankan pada malam itu, hatinya diisi iman dan hikmah, agar beliau tahan menghadapi segala macam cobaan dan tabah dalam melaksanakan perintah-Nya. Perjalanan itu dilakukan dengan mengendarai Buraq yang mempunyai kecepatan luar biasa sehingga Isra’ dan Mi’raj hanya memerlu-kan waktu kurang dari satu malam.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Kewajiban Salat Lima Waktu dalam Peristiwa Isra Mikraj


Dalam ayat ini tidak dijelaskan secara terperinci, apakah Nabi saw Isra’ dengan roh dan jasadnya, ataukah rohnya saja. Itulah sebabnya para mufasir berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Mayoritas mereka berpendapat bahwa Isra’ dilakukan dengan roh dan jasad dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur. Mereka itu mengajukan beberapa alasan untuk menguatkan pendapatnya di antaranya:

  1. Kata subhana menunjukkan adanya peristiwa yang hebat. Jika Nabi di-isra’-kan dalam keadaan tidur, tidak perlu diungkapkan dengan meng-gunakan ayat yang didahului dengan tasbih.
  2. Andaikata Isra’ itu dilakukan dalam keadaan tidur, tentulah orang Quraisy tidak dengan serta merta mendustakannya. Banyaknya orang muslim yang murtad kembali karena peristiwa Isra’ menunjukkan bahwa peristiwa itu bukanlah hal yang biasa. Kata-kata Ummu Hani yang melarang Nabi menceritakan kepada siapapun pengalaman-pengalaman yang dialami ketika Isra’ agar mereka tidak menganggap Nabi saw berdusta, juga menguatkan bahwa Isra’ itu dilakukan Nabi dengan roh dan jasadnya. Peristiwa ini yang menyebabkan Abu Bakar diberi gelar as-Siddiq karena dia membenarkan Nabi, dengan cepat dan tanpa ragu, ber-Isra’ dengan roh dan jasadnya, sedangkan orang-orang lain berat menerimanya.
  3. Firman Allah yang menggunakan bi’abdihi menunjukkan bahwa Nabi Isra’ dengan roh dan jasad karena kata seorang hamba mengacu pada kesatuan jasad dan roh.

Perkataan Ibnu Abbas bahwa orang-orang Arab menggunakan kata ru’ya dalam arti penglihatan mata, maka kata ru’ya yang tersebut dalam firman Allah berikut ini mesti dipahami sebagai penglihatan dengan mata.

وَمَا جَعَلْنَا الرُّءْيَا الَّتِيْٓ اَرَيْنٰكَ اِلَّا فِتْنَةً لِّلنَّاسِ

Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia. (al-Isra’/17: 60)

  1. Yang diperlihatkan kepada Nabi waktu Isra’ dan Mi’raj adalah penglihatan mata yang mungkin terjadi karena kecepatan yang serupa telah dibuktikan oleh manusia dengan teknologi modern.

Beberapa mufassir yang lain berpendapat bahwa Isra’ dilakukan Nabi dengan rohnya saja. Mereka ini menguatkan pendapatnya dengan perkataan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan ketika ditanya tentang Isra’ Nabi Muhammad saw, beliau menjawab:

كَانَ رُؤْيَا مِنَ اللهِ صَادِقَةً…

Isra’ Nabi itu adalah mimpi yang benar yang datangnya dari Allah.

Pendapat yang mengatakan bahwa Isra’ hanya dilakukan dengan roh saja lemah, karena sanad hadis yang dijadikan hujjah atau pegangan tidak jelas.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 2-3


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Ahkam: Hukum Membasuh Jenggot Saat Wudhu

0
Hukum Membasuh Jenggot Saat Wudhu
Hukum Membasuh Jenggot Saat Wudhu

Diantara permasalahan yang menimbulkan perdebatan antara para ulama, yakni terkait membasuh wajah saat wudhu, tentang wajib tidaknya membasuh bagian wajah yang ditumbuhi rambut jenggot. Hal ini disebabkan bagaimanapun juga tempat tumbuhnya jenggot adalah bagian dari wajah. Sehingga seharusnya juga wajib membasuh jenggot saat wudhu.

Namun disisi lain, membasuh kulit bagian wajah yang ditumbuhi jenggot menimbulkan kesulitan tersendiri. Terlebih bila rambut jenggot yang tumbuh tersebut amat tebal sehingga pemiliknya kesulitan membuat air sampai pada area kulit tempat tumbuhnya jenggot. Lalu bagaimana sebenarnya hukum membasuh kulit tempat tumbuhnya jenggot saat wudhu? Apakah hukum membasuh rambut jenggot?. Berikut penjelasan ulama’ pakar tafsir dan pakar hukum fikih.

Baca juga: Ragam Makna Kata An-Nur dalam Al-Quran

Bagian dari Wajah

Imam Ibn Katsir memberikan penjelasan tatkala menguraikan tafsir firman Allah yang berbuyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki (QS. Al-Ma’idah [5] :6).

Bahwa ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum membasuh rambut janggut yang memanjang sehingga keluar dari area wajah yang seharusnya dibasuh. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa jenggot dalam kosakata Bahasa Arab juga tercakup dalam istilah wajah. Hal ini dibuktikan adanya suatu ungkapan diantara orang Arab yang diperuntukkan pada anak remaja yang baru tumbuh jenggotnya: “Wajahnya telah tampak”. Selain itu ada sebagian riwayat hadis yang menyatakan bahwa jenggot adalah termasuk wajah (Tafsir Ibn Katsir/3/48).

Sedang mengenai hukum membasuh kulit dagu atau tempat tumbuhnya jenggot serta rambut jenggot, ulama’ ahli tafsir di dalam kitab tafsir, mereka memberikan bermacam-macam perincian. Penjelasan mereka berbicara sekitar apakah jenggotnya tebal atau tipis? Apakah rambut jenggotnya memanjang sampai keluar wajah atau tidak? Sebab ulama’ yang meyakini bahwa rambut jenggot termasuk bagian dari wajah, menyatakan wajib menuangkan air ke jenggot meski ia memanjang sampai keluar dari batas wajah (Tafsir Al-Jami’ Liahkamil Qur’an/6/83 dan Tafsir Mafatihul Ghaib/5/485).

Baca juga: Ragu yang Diperbolehkan, Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 260

Hukum Membasuh Jenggot

Untuk menghindari kesulitan dalam memahami kesimpulan hukum dari perdebatan ulama’ terkait membasuh jenggot beserta kulit di bawahnya, maka kami akan memcoba memaparkannya langsung merujuk pada referensi kitab fikih:

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan, apabila jenggotnya tidak lebat, maka menurut Mazhab Syafi’i, Imam Ahmad, Malik dan Dawud, wajib membasuh kulit dagu besertaan rambut jenggotnya. Sedang menurut Imam Abu Hanifah dan sebagian pengikut Mazhab Syafi’i, tidak wajib membasuh kulit dagu.

Sedang apabila rambut janggutnya lebat, maka ulama’ sepakat membasuh rambut yang tampak saja. Sedang mengenai kulit dagu, Imam Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah menyatakan tidak wajib dibasuh. Hanya sebagian ulama’ yang menyatakan wajib dibasuh. Di antaranya Imam Muzani dari kalangan Mazhab Syafi’i.

Untuk ukuran lebat atau tidaknya rambut janggut, ulama’ memiliki pandangan berbeda-beda. menurut pendapat yang disahihkan Imam An-Nawawi, apabila sampai menghalangi orang lain yang diajak bicara dari melihat kulit dagu, maka dikategorikan lebat. Apabila tidak, maka tidak lebat (Al-Majmu’ syarah Muhadzdzab/1/374-375).

Baca juga: Tadabbur Al-Hujurat Ayat 6: Membangun Nalar Kritis di Tengah Krisis Literasi Digital

Lalu apabila rambut jenggot lebat, apakah wajib menyela-nyelai jenggot dengan air? Menurut Imam Syafi’i hukumnya sekedar Sunnah saja, tidak wajib. Sedang menurut Imam Muzani dan Abi Tsaur, hukumnya wajib (Al-bayan/1/116).

Sedang untuk rambut jenggot yang memanjang sampai keluar dari batas wajah, dalam Mazhab Syafi’i sendiri ada dua pandangan. Ada yang menyatakan wajib membasuh yang tampak, ada yang menyatakan tidak wajib membasuhnya. Hal ini disebabkan menurut ulama’ yang memandang saat jenggot lebat kewajiban membasuh berpindah dari kulit dagu menuju rambut janggut, maka otomatis rambut yang wajib dibasuh tidak terbatas pada yang ada pada batas wajah saja (Tafsir Mafatihul Ghaib/5/485). Wallahu a’lam bish showab [].

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 1 (2)

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 1 bagaian dua ini berbicara mengenai perbedaan pendapat tentang makna isra mi’raj di antara para ulama. Selain itu juga dipaparkan mengenai hadis-hadis yang berkaitan dengan isra’ mi’raj.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 1 (1)


Ayat ini menyebutkan terjadinya peristiwa Isra’, yaitu perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa di waktu malam. Sedangkan peristiwa Mi’raj, yaitu naiknya Nabi Muhammad  dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha (Mustawa) tidak diisyaratkan oleh ayat ini, tetapi diisyaratkan dalam Surah an-Najm.

Hampir seluruh ahli tafsir berpendapat bahwa peristiwa Isra’ terjadi setelah Nabi Muhammad diutus menjadi rasul. Peristiwanya terjadi satu tahun sebelum hijrah. Demikian menurut Imam az-Zuhri, Ibnu Sa’ad, dan lain-lainnya. Imam Nawawi pun memastikan demikian. Bahkan menurut Ibnu Hazm, peristiwa Isra’ itu terjadi di bulan Rajab tahun kedua belas setelah pengangkatan Muhammad menjadi nabi. Sedangkan al-Hafidz ‘Abdul Gani al-Maqdisi memilih pendapat yang mengatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj tersebut terjadi pada 27 Rajab, dengan alasan pada waktu itulah masyarakat melaksanakannya.


Baca juga: Mengapa Al-Quran Mukjizat Terbaik? Ini Jawaban al-Suyuthi dalam al-Itqan


Adapun hadis-hadis yang menjelaskan terjadinya Isra’ itu sebagai berikut:

Pertama:

قال أنس بن مالك: لَيْلَةَ اُسْرِيَ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ أَنَّهُ جَاءَهَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوْحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَقَالَ أَوَّلُهُمْ: أَيُّهُمْ هُوَ؟ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ: هُوَ خَيْرُهُمْ. فَقَالَ اٰخِرُهُمْ: خُذُوْا خَيْرَهُمْ، فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى فِيْمَا يَرَى قَلْبُهُ وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلاَ يَنَامُ قَلْبُهُ وَكَذٰلِكَ اْلأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلاَ يَنَامُ قَلْبُهُمْ- فَلَمْ يُكَلِّمُوْهُ حَتَّى احْتَمَلُوْا فَوَضَعُوْهُ عِنْدَ بِئْرِ زَمْزَمَ فَتَوَلاَّهُ مِنْهُمْ جِبْرِيْلُ فَشَقَّ جِبْرِيْلُ مَا بَيْنَ نَحْرِهِ إِلَى لِبَّتِهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَدْرِهِ وَجَوْفِهِ فَغَسَلَهُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ بِيَدِهِ حَتَّى أَنْقَى جَوْفَهُ ثُمَّ أَتَى بِطَشْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيْهِ نُوْرٌ مِنْ ذَهَبٍ مَحْشُوٍّ إِيْمَانًا وَحِكْمَةً فَحَشَابِهِ صَدْرَهُ وَلَغَادِيْدَهُ يَعْنِى عُرُوْقَ حَلْقِهِ ثُمَّ اَطْبَقَهُ. (رواه البخاري)

Anas bin Malik menuturkan bahwa pada malam diperjalankannya Rasulullah saw dari Masjidilharam, datanglah kepadanya tiga orang pada saat sebelum turunnya wahyu, sedangkan Rasul pada waktu itu sedang tidur di Masjidilharam. Kemudian berkatalah orang yang pertama, “Siapakah dia ini?” Kemudian orang kedua menjawab, “Dia adalah orang yang terbaik di antara mereka (kaumnya).” Setelah itu berkatalah orang ketiga, “Ambillah orang yang terbaik itu.” Pada malam itu Nabi tidak mengetahui siapa mereka, sehingga mereka datang kepada Nabi di malam yang lain dalam keadaan matanya tidur sedangkan hatinya tidak tidur. Demikianlah para nabi, meskipun mata mereka terpejam, namun hati mereka tidaklah tidur. Sesudah itu rombongan tadi tidak berbicara sedikit pun kepada Nabi hingga mereka membawa Nabi dan meletakkannya di sekitar sumur Zamzam. Di antara mereka ada Jibril yang menguasai diri Nabi, lalu Jibril membelah bagian tubuh, antara leher sampai ke hatinya, sehingga kosonglah dadanya. Sesudah itu Jibril mencuci hati Nabi dengan air Zamzam dengan menggunakan tangannya, sehingga bersihlah hati beliau. Kemudian Jibril membawa bejana dari emas yang berisi iman dan hikmah. Kemudian dituangkanlah isi bejana itu memenuhi dada beliau dan urat-urat tenggorokannya lalu ditutupnya kembali. (Riwayat al-Bukhari)

Kedua:

اِذْ أَتَانِي اٰتٍ فَقَدَّ فَاسْتَخْرَجَ قَلْبِي، ثُمَّ أُتِيْتُ بِطَشْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوْءَةٍ إِيْمَانًا، فَغَسَلَ قَلْبِي ثُمَّ حُشِيَ (أُعِيْدَ) (رواه البخاري عن سعصعة)

Bahwa Nabi saw bersabda, “Tiba-tiba datang kepadaku seseorang (Jibril). Kemudian ia membedah dan mengeluarkan hatiku. Setelah itu dibawalah kepadaku bejana yang terbuat dari emas yang penuh dengan iman, lalu ia mencuci hatiku. Setelah itu menuangkan isi bejana itu kepadaku. Kemudian hatiku dikembalikannya seperti sediakala”. (Riwayat al-Bukhari dari Sa’sha’ah)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 1 (3)


(Tafsir Kemenag)

Benarkah Mushaf Rotterdam Tertua Se-Nusantara? Ini Data Pembandingnya

0
Benarkah Mushaf Rotterdam Tertua Se-Nusantara? Ini Data Pembandingnya
Ilustrasi Mushaf Kuno

Zainal Abidin Sueb dalam Mushaf Nusantara: Jejak, Ragam, dan Para Penjaganya menyebutkan bahwa dalam penelitian benda-benda bersejarah sangat wajar jika terjadi revisi atau perubahan. Zainal mencontohkan dengan hasil kajian terhadap Mushaf Sultan Ternate yang sempat dianggap sebagai mushaf tertua di Nusantara.

Dalam konteks penjelasan Zainal ini, penulis ingin mengajukan pertanyaan terhadap hasil kajian yang telah dilakukan Zainal yang menyimpulkan bahwa mushaf berkode MS 96 D 16, yang tersimpan di perpustakaan di Rotterdam, Belanda, adalah mushaf tertua di Nusantara (baca selengkapnya di Tersimpan di Perpustakaan Rotterdam Belanda, Inilah Mushaf Al Qur’an Tertua dari Nusantara). Benarkah mushaf Rotterdam ini mushaf tertua se-Nusantara?

Kesimpulan Zainal ini, sebagaimana disebutkan dalam ulasannya, didasarkan pada catatan Pak Peter G. Riddell dalam Rotterdam MS 96 D 16: The Oldest Known Surviving Qur’an from The Malay World. Di sana disebutkan, antara bulan Mei hingga Agustus 1606 M. Kesultanan Johor yang terdesak serangan Portugis akhirnya menerima kesepakatan aliansi pihak Belanda dengan menyerahkan mushaf Rotterdam ini sebagai bukti iktikad baik persetujuan.

Riwayat ini sesuai dengan catatan kolofon mushaf, dengan bahasa Belanda, yang kurang lebih artinya menyebutkan, “Tahun 1606. Pada tanggal 20 Juli di lepas pantai Malaka, salinan Al-Qur’an ini didermakan atas desakan Mufti Kesultanan Johor kepada Laksamana Matelief de Jonge.”

Kesimpulan Zainal ini agaknya perlu ditinjau kembali. Dalam sebuah penelusuran terhadap awal kemungkinan adanya aktivitas penyalinan Al-Qur’an di Nusantara, penulis mendapati catatan menarik yang diberikan Ali Akbar dalam Kaligrafi dalam Mushaf Kuno Nusantara, tesis beliau yang kemudian diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tahun 2019. Beliau menyebutkan bahwa mushaf tertua yang diketahui saat ini berasal dari akhir abad ke-16, tepatnya pada Jumadal Ula 993 H. yang dikonversi ke dalam tahun masehi menjadi 1585. Sebuah mushaf koleksi William Marsden.

Informasi ini diperoleh dari hasil kajian yang dilakukan oleh Bu Annabel Teh Gallop pada naskah-naskah koleksi William Marsden yang tersimpan di perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London. Mushaf ini memiliki kode MS 12716 dengan kolofon berbahasa Arab menyebutkan Jumadal Ula 993. Dari kertas, bentuk buku, dan kaligrafinya, Bu Annabel menyimpulkan bahwa mushaf ini berasal dari Indonesia, mungkin dari Sumatera.

Baca juga: Inilah Potret Mushaf Tertua Nusantara di Rotterdam, Tidak dengan Rasm Usmani

William Marsden sendiri merupakan seorang sejarawan Inggris berdarah Irlandia yang lahir di Dublin. Ia juga terkenal sebagai ahli bahasa, pakar jurnalistik, dan pelopor ethnohistory Hindia Belanda. Ia lahir pada 16 November 1754. Bersama saudaranya, John, ia sempat melayani East India Company di Sumatera bagian barat sebelum akhirnya berangkat ke Inggris pada tahun 1779. Namanya melejit melalui karya fenomenalnya, The History of Sumatra. Beberapa karyanya yang lain seperti A Grammar of The Malayan Language dan A Dictionary of the Malayan Language (Komunitas Bambu dan Britannica).

Melihat perjalanan hidupnya dan beberapa karya yang dituliskannya, boleh jadi memang mushaf koleksi William Marsden ini berasal dari Indonesia, tepatnya Sumatera, sebagaimana disebutkan oleh Bu Annabel. Catatan lain Ali Akbar dalam blognya berjudul Qur’an Nusantara Koleksi Inggris juga sempat menyinggung mushaf koleksi William Marsden ini. “Selain mushaf-mushaf tersebut, ada satu buah fragmen mushaf dalam koleksi William Marsden.

Maka berdasarkan informasi-informasi ini boleh jadi mushaf tertua dari Nusantara adalah koleksi William Marsden, bukan mushaf Rotterdam sebagaimana disimpulkan oleh Zainal.

Namun di sisi lain, kesimpulan yang diberikan Zainal di atas juga barangkali ada benarnya. Mushaf Rotterdam memiliki dua catatan kolofon. Catatan pertama, sebagaimana disebutkan di atas lebih kepada informasi mengenai perpindahan kepemilikan mushaf, bertahun 1606. Sedangkan catatan kedua dengan bahasa Jawa beraksara Arab yang menyebutkan, “Tamat dina tsalats wulan Ramadlan”, boleh jadi merupakan informasi kepenulisan mushaf.

Sehingga jika mushaf dipindahkan kepemilikannya pada tahun 1606, boleh jadi ia telah ditulis jauh sebelum tahun itu. Mengingat bahwa catatan kepenulisan ini menggunakan bahasa Jawa dan dimiliki oleh Kesultanan Johor. Namun hipotesis ini hanya penulis dasarkan pada informasi sekunder yang disebutkan oleh Zainal dalam ulasannya.

Alhasil dari beberapa informasi yang ada, tanggal dan tahun yang tertulis, menunjukkan bahwa mushaf koleksi William Marsden agaknya memang lebih tua jika dibandingkan mushaf Rotterdam. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Baca juga: Naskah-Naskah Mushaf Makna Antarbaris di Nusantara

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 1 (1)

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 1 bagian satu ini berbicara mengenai penjelasan pemakaian kata ‘subhana’ di awal ayat surah al Isra’ ini. selain itu juga dipaparkan mengenai pemaknaan kata asra.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An Nahl Ayat 127-128


Ayat 1

Allah swt menyatakan kemahasucian-Nya dengan firman “subhana”, agar manusia mengakui kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat keagungan-Nya yang tiada tara. Ungkapan itu juga sebagai pernyataan tentang sifat kebesaran-Nya yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dengan perjalanan yang sangat cepat.

Allah swt memulai firman-Nya dengan subhana dalam ayat ini, dan di beberapa ayat yang lain, sebagai pertanda bahwa ayat itu mengandung peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena iradah dan kekuasaan-Nya.

Dari kata asra dapat dipahami bahwa Isra’ Nabi Muhammad saw terjadi di waktu malam hari, karena kata asra dalam bahasa Arab berarti perjalanan di malam hari. Penyebutan lailan, dengan bentuk isim nakirah, yang berarti “malam hari”, adalah untuk menggambarkan bahwa kejadian Isra’ itu mengambil waktu malam yang singkat dan juga untuk menguatkan pengertian bahwa peristiwa Isra’ itu memang benar-benar terjadi di malam hari.

Allah swt meng-isra’-kan hamba-Nya di malam hari, karena waktu itulah yang paling utama bagi para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan waktu yang paling baik untuk beribadah kepada-Nya.

Perkataan abdihi (hamba-Nya) dalam ayat ini maksudnya ialah Nabi Muhammad saw yang telah terpilih sebagai nabi yang terakhir. Beliau telah mendapat perintah untuk melakukan perjalanan malam, sebagai penghormat-an kepadanya.

Dalam ayat ini tidak diterangkan waktunya secara pasti, baik waktu keberangkatan maupun kepulangan Nabi Muhammad saw kembali ke tempat tinggalnya di Mekah.

Hanya saja yang diterangkan bahwa Isra’ Nabi Muhammad saw dimulai dari Masjidilharam, yaitu masjid yang terkenal karena Ka’bah (Baitullah) terletak di dalamnya, menuju Masjidil Aqsa yang berada di Baitul Makdis. Masjid itu disebut Masjidil Aqsa yang berarti “terjauh”, karena letaknya jauh dari kota Mekah.


Baca juga: Menguak Sisi Sains Skenario Perjalanan Isra Mikraj dalam Al-Quran


Selanjutnya Allah swt menjelaskan bahwa Masjidil Aqsa dan daerah-daerah sekitarnya mendapat berkah Allah karena menjadi tempat turun wahyu kepada para nabi. Tanahnya disuburkan, sehingga menjadi daerah yang makmur. Di samping itu, masjid tersebut termasuk di antara masjid yang menjadi tempat peribadatan para nabi dan tempat tinggal mereka.

Sesudah itu, Allah menyebutkan alasan mengapa Nabi Muhammad saw diperjalankan pada malam hari, yaitu untuk memperlihatkan kepada Nabi tanda-tanda kebesaran-Nya.

Tanda-tanda itu disaksikan oleh Muhammad saw dalam perjalanannya dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa, berupa pengalaman-pengalaman yang berharga, ketabahan hati dalam menghadapi berbagai macam cobaan, dan betapa luasnya jagat raya serta alangkah Agungnya Allah Maha Pencipta.

Pengalaman-pengalaman baru yang disaksikan Nabi Muhammad sangat berguna untuk memantapkan hati beliau menghadapi berbagai macam rintangan dari kaumnya, dan meyakini kebenaran wahyu Allah, baik yang telah diterima maupun yang akan diterimanya.

Di akhir ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa Dia Maha Mendengar bisikan batin para hamba-Nya dan Maha Melihat semua perbuatan mereka. Tak ada detak jantung, ataupun gerakan tubuh dari seluruh makhluk yang ada di antara langit dan bumi ini yang lepas dari pengamatan-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 1 (2)


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Fathir Ayat 44-45

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Tafsir Surah Fathir Ayat 44-45 menjelaskan bahwa seharusnya orang kafir mampu belajar melalui sejarah dan peninggalan kuno, dimana kaum tedahulu pernah mendapat azab akibat menolak kebenaran. Dan seharusnya, mereka tidak mengulangi perbuatan mereka, supaya Allah tidak menurunkan murka-Nya yang mampu membuat mereka binasa.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 42-43


Tafsir Surah Fathir Ayat 44-45 juga meyerukan kepada manusia agar tidak menunda taubatnya, sebab tidak akan diketahui kapan Allah akan menurunkan azab. Jikapun, Allah belum menurunkan azab, itu dikarenakan sifat Rahmat-Nya yang luas, dan menunda azab pada waktu yang ia kehendaki, maka selagi ada kesempatan, laksanakan taubat dan taati perintah-Nya.

Ayat 44

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya memperingatkan kaum pendusta (musyrik), apakah mereka tidak pernah melakukan perjalanan untuk menyaksikan betapa dahsyatnya azab yang diturunkan pada bangsa-bangsa dahulu akibat keingkaran mereka pada kebenaran ajaran Allah.

Semula ayat ini ditujukan kepada kaum musyrik Mekah, yang umumnya bermata pencaharian berdagang. Pada musim-musim tertentu, kafilah Quraisy berangkat menuju Syam (Syiria) dan Iraq.

Pada daerah-daerah gurun pasir yang mereka lewati, banyak terdapat bekas-bekas negeri yang pernah dihuni manusia di zaman kuno, akibat kedurhakaan penduduknya kepada rasul utusan Allah.

Mereka disiksa, dan bumi tempat mereka berpijak dijungkirbalikkan sehingga hancur sama sekali. Allah memperingatkan kaum pedagang Quraisy, andaikata mereka juga mengikuti jejak bangsa yang mendustakan-Nya, maka kepada mereka pasti akan berlaku sunatullah. Mereka akan merasakan siksaan dan azab yang tidak sanggup mereka tolak.

Untuk meyakinkan mereka, ayat 44 ini lebih lanjut memberi penjelasan bahwa umat-umat yang telah merasakan balasan akibat sikap dan tindak-tanduk mereka yang menentang ajaran rasul itu adalah umat yang perkasa, berani, punya harta, dan anak keturunan yang banyak sekali. Namun demikian, keperkasaan, kekayaan, dan keturunan mereka yang besar itu ternyata tidak sanggup membela dan melindunginya dari azab Allah.

Maksud berjalan di muka bumi, menurut penafsiran Sayid Qutub dalam Tafsir fi Zilal al-Qur’an, adalah berjalan dengan mata hati terbuka dan pikiran yang segar sambil merenungkan peristiwa-peristiwa yang pernah menimpa umat dahulu, betapa dan bagaimana keadaan mereka sewaktu ditimpa azab Allah.

Perjalanan demikian, menurutnya, menambah perasaan takwa kepada Allah, membangunkan hati dari kelalaian dan kelengahan akan sunatullah yang pasti berlaku itu.

Mereka diingatkan bahwa Allah Yang Mahakuasa itu tidak pernah kewalahan untuk melaksanakan keputusan-Nya, apabila Dia telah menginginkan. Sebab dengan tegas dikatakan tiada satu daya dan kekuatan yang sanggup melemahkan Allah, baik kekuatan itu terdapat di langit maupun di bumi. Bagaimana Allah itu lemah?

Bukankah ilmu dan kekuasaan-Nya meliputi kerajaan langit dan bumi? Bagaimana mungkin makhluk ciptaan-Nya, Sekalipun seluruh manusia bersatu menandingi kekuasaan Allah, tidak akan sanggup menjatuhkan atau menandingi kekuasaan-Nya, sedang semuanya dijadikan dengan fisik yang lemah? Allah berfirman:

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah. (an-Nisa’/4: 28)

Perhatikanlah akhir ayat ini dengan penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Mahakuasa terhadap segala makhluk ciptaan-Nya.

Dalam Tafsir al-Maragi dijelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Mahakuasa terhadap orang-orang yang harus mendapatkan siksaan dengan segera. Sebaliknya, orang yang tobat, dan ingin kembali kepada Tuhan dari kesesatannya, Dia memberi petunjuk kepadanya sehingga beriman sepenuhnya.

Ketika orang-orang musyrik meminta kepada Nabi Muhammad agar azab yang dijanjikan itu segera diturunkan, maka diterangkan kepada mereka bahwa Allah menentukan peraturan-Nya bagi umat ini, yakni siksaan tidak segera diturunkan kepada mereka yang melakukan kedurhakaan atau keingkaran terhadap ajaran rasul. Sebab diharapkan sebagian di antara mereka mungkin masih ada yang insaf dan kembali kepada ajaran Tuhannya.


Baca Juga : Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 28-30: Kecaman terhadap Kaum Musyrikin Mekah


Ayat 45

Ayat ini menjelaskan manifestasi dari sifat rahman dan rahim dari Allah. Jika Allah langsung menyiksa orang-orang musyrik itu seperti apa yang mereka kehendaki, pasti mereka dan binatang-binatang mati kehausan akibat kurang minum.

Tetapi, Allah tidak bertindak begitu sekalipun Dia berkuasa, sebaliknya Dia tetapkan suatu ketentuan yakni siksaan itu ditunda sampai pada waktu yang hanya diketahui-Nya sendiri. Akan tetapi, kalau azab itu telah menimpa, tidak akan dikurangi dan mereka tidak akan bisa melepaskan diri.

Ketentuan Allah yang demikian itu hanya berlaku bagi umat Nabi Muhammad saja, sedang pada umat sebelumnya bila mereka bersalah, langsung dihukum tanpa penundaan.

Dalam Tafsir al-Wadih dijelaskan bahwa ketentuan itu adalah kemuliaan yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Muhammad, sebagai suatu hukum bagi beliau dan umatnya. Dengan harapan agar orang-orang yang masih belum mau beriman segera tobat, kembali kepada petunjuk dan ajaran-Nya.

Tetapi, bila janji Allah telah datang, tidak ada waktu lagi untuk menundanya. Di situlah nanti masing-masing orang akan diperhitungkan perbuatannya. Yang baik dibalas dengan ganjaran kebaikan, yang jahat dibalas dengan azab.

Dengan kasih dan sayang Allah, Al-Qur’an menyerukan supaya manusia bertobat dan kembali kepada-Nya. Biarpun azab itu telah ditunda kedatangannya, namun kapan waktunya yang pasti, tiada seorang pun yang mengetahuinya.

Orang yang merasa dirinya bersalah tidak perlu berputus asa, sebab betapapun besarnya kesalahan, jika diakhiri dengan penyesalan dan tobat yang sesungguhnya, pasti akan diampuni Allah. Dialah Yang Maha Pengampun dan Penyayang. Dialah Yang Maha Mengetahui dan memperhatikan sekalian hamba-Nya.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Fathir Ayat 42-43

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Tafsir Surah Fathir Ayat 42-43 menerangkan awal mula doa orang kafir yang meminta seorang Rasul dan berjanji akan mentaatinya. Doa pun terkabul, alih-alih taat mereka justru ingkar terhadap Rasul itu, bersikap sombong, bahkan sampai memerangi dakwah yang ia jalankan.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 40-41


Tafsir Surah Fathir Ayat 42-43 juga menjelaskan bahwa Allah mengecam sikap demikian, bagi Allah siapapun yang berusaha memadakan cahaya yang hadir di dunia, maka Allah pun akan memusuhi mereka, kecuali mereka yang hendak bertaubat dan kembali kepada cahaya tersebut.

Ayat 42

Orang-orang musyrik itu bersumpah dengan sepenuh hati, seandai-nya Allah mengirimkan seorang rasul yang memperingatkan kesesatan jalan pikiran dan kerusakan moral masyarakatnya, pasti merekalah yang paling mudah menerima petunjuk rasul itu, dibanding dengan umat mana pun yang pernah ada sebelum mereka. Penjelasan ayat ini diperkuat pula oleh ayat lain yang berbunyi:

لَوْ اَنَّ عِنْدَنَا ذِكْرًا مِّنَ الْاَوَّلِيْنَۙ  ١٦٨  لَكُنَّا عِبَادَ اللّٰهِ الْمُخْلَصِيْنَ  ١٦٩  فَكَفَرُوْا بِهٖۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ  ١٧٠

Sekiranya di sisi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu, tentu kami akan menjadi hamba Allah yang disucikan (dari dosa). Tetapi ternyata mereka mengingkarinya (Al-Qur’an); maka kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu). (As-Shaffat/37: 168-170)

Dalam tafsir al-Khazin diriwayatkan bahwa orang-orang kafir Mekah ketika mengetahui Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mendustakan para rasul yang diutus kepada mereka, mereka pun bersumpah dengan nama Allah seandainya kepada mereka diutus pula rasul seperti yang pernah diutus kepada Bani Israil itu, tentulah mereka akan menjadi bangsa yang lebih banyak memperoleh petunjuk dibanding dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Sikap demikian itu mereka tunjukkan sebelum Muhammad saw diutus sebagai rasul.

Tetapi, setelah beliau betul-betul diutus ke tengah mereka, mereka pun mendustakannya sebagaimana sikap Ahli Kitab terhadap rasul-Nya. Untuk memperingatkan kaum Muslimin akan sikap orang-orang kafir yang telah memperoleh kebenaran murni tentang Nabi Muhammad dan risalahnya itu, Allah menurunkan ayat-ayat di atas.

Setelah impian mereka menjadi kenyataan, yakni dengan diutusnya Muhammad saw sebagai rasul di tengah masyarakat mereka untuk menyampaikan kebenaran dari Allah, yang tercantum dalam Al-Qur’an al-Karim, maka dengan serta merta mereka mendustakannya.

Bahkan sikap keingkaran dan kesombongan mereka makin menjadi-jadi. Mereka bukannya makin dekat kepada kebenaran, bahkan semakin jauh dengan alasan menjaga kehormatan dan martabat kaumnya.

Tegasnya, para pemimpin musyrik Mekah itu enggan mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Keadaan mereka serupa dengan unta liar yang kabur, semakin dikejar oleh pemiliknya, semakin cepat larinya dan semakin tersesat jalannya, sehingga sukar ditangkap.

Ayat 43

Ayat ini masih menjelaskan sikap orang musyrik Mekah terhadap dakwah Nabi saw. Dengan segala daya dan pikiran, dengan harta dan kekayaan yang dimiliki, mereka menentang dakwah Nabi Muhammad, bahkan beliau diboikot dan dihalangi.

Tetapi, segala rencana jahat guna mematahkan dakwah Islam itu pada akhirnya menjadi bumerang bagi mereka. Kegagalan kaum kafir Mekah mencegah tersiarnya dakwah Islam telah tertulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam.

Setiap usaha dan rencana jahat untuk memadamkan cahaya agama Allah di bumi ini, pasti akan gagal, sebab Allah selalu akan memelihara eksistensi agama-Nya di bumi ini, sampai akhir zaman, biarpun tidak disukai oleh orang-orang musyrik, sebagaimana disebutkan dalam ayat:;

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. (as-Shaf/61: 8)


Baca Juga : Matahari Juga Sebagai Sumber Energi Cahaya, Berikut Penjelasan Tafsirnya


Dalam Aisar at-Tafasir disebutkan satu riwayat bahwa Ka’ab berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Dalam Taurat diterangkan bahwa siapa yang menggali lubang untuk kawannya, dialah yang masuk ke dalamnya.”

Ibnu ‘Abbas menjawab, “Hal itu aku temukan dalam Al-Qur’an.” Ka’ab bertanya, “Di mana?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Bacalah wa la yahiqul-makrus-sayyi’ illa bi ahlih (Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri.)”

Seperti diuraikan di atas, kadang-kadang Allah menunda kedatangan siksa sebagai bukti kasih sayang-Nya kepada orang-orang kafir. Tetapi, jangan dikira bahwa Allah tidak akan menyiksa mereka bila mereka tidak tobat, sebab bila mereka di dunia belum merasakan siksaan, di akhirat kelak pasti akan mereka alami juga.

Di akhirat nanti baru mereka yakini ke mana orang yang zalim itu ditempatkan Allah sesuai dengan ancaman Allah ketika mereka masih di dunia.

وَسَيَعْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَيَّ مُنْقَلَبٍ يَّنْقَلِبُوْنَ

Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali. (asy-Syu’ara’/26: 227)

Sekalipun azab itu sudah pasti datang, orang-orang yang tidak meng-imaninya masih saja menentang kedatangannya dengan tidak menghentikan segala perbuatan jahatnya.

Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan nasib mereka kelak dengan mengatakan bahwa tidak ada yang mereka tunggu-tunggu itu melainkan siksaan seperti apa yang telah menimpa manusia dahulu kala disebabkan keingkaran mereka terhadap risalah para rasul.

Tetapi, ujung ayat ini menegaskan bahwa sunah Allah menentukan bahwa setiap orang yang mendustakan ajaran-Nya pasti akan disiksa dengan azab yang tidak akan berubah dan tidak akan dipindahkan kepada orang lain. Allah tidak akan melimpahkan rahmat-Nya pada seseorang yang sudah tercatat sebagai pembangkang dan pendosa, serta tidak akan memikulkan dosanya kepada diri orang lain.

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى

Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. (al-An’am/6: 164)

(Tafsir Kemenag)

Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 44-45

 

Tafsir Surah Fathir Ayat 40-41

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Tafsir Surah Fathir Ayat 40-41 dalam tafsir kali ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk berdiskusi dengan kaum kafir tentang alasan mereka menyembah berhala. Sejatinya, Allah telah mengetahui jalan pikiran mereka, akan tetapi di sini, Allah ingin mamatahkan argumen mereka dengan logika yang sering digaungkan. Terbukti, mereka hanya mengikuti kesesatan nenek moyang mereka, bukan dari kitab-kitab nabi terdahulu, yang bersih dari ajaran demikian.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 38-39


Tafsir Surah Fathir Ayat 40-41 menerangkan bahwa sesembahan tersebut hanyalah benda mati, yang tidak bisa apa-apa. Sementara Allah, adalah Tuhan yang Esa dengan segala macam kekuasaan-Nya, baik di langit atau di bumi, baik di dunia atau di akhirat, segalanya ada di bawah kuasa-Nya. Disamping itu, Allah tetap berlaku rahmat terhadap hamba-hamba-Nya.

Ayat 40

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar mengajak orang-orang musyrik itu untuk berdialog menjajaki jalan pikiran mereka yang salah. Apa sebab orang-orang musyrik itu meminta pertolongan kepada patung dan berhala yang mereka sekutukan kepada Allah. Adakah bukti yang menunjukkan bahwa berhala itu pantas disembah.

Orang-orang musyrik Mekah itu tidak paham benar akan hakikat tuhan mereka, bagaimana keadaannya. Seandainya mereka menyadari bahwa tuhan-tuhan mereka itu tidak sanggup berbuat apa-apa, tentulah mereka tidak menyembahnya. Tetapi sebaliknya, kalau memang betul berhala-berhala itu mempunyai kekuatan (untuk mencipta), tentulah mereka mampu memperlihatkan hasilnya.

Demikian juga, apabila Allah mempunyai sekutu dalam menciptakan langit, tentu sekutu itu juga berhak disembah seperti yang mereka duga. Apakah ada kitab suci (yang benar isinya) yang dapat menguatkan dalil-dalil tentang adanya sekutu bagi Tuhan itu?

Nabi Muhammad memberi kesempatan kepada kaum musyrik agar mengemukakan alasan penyembahan mereka terhadap berhala, terutama kemampuan tuhan-tuhan itu untuk menciptakan makhluk, sehingga ia berhak disembah dan dipersekutukan  dengan Allah dalam soal penciptaan.

Karena kepercayaan demikian hanya semata-mata warisan dari nenek moyang mereka (lihat Surah al-Baqarah/2: 170), maka tiada satu alasan yang dapat mereka kemukakan, baik alasan yang diterima dari dalil naqli (nas) maupun alasan aqli (logika).

Di mana pun tidak pernah ada dijumpai suatu kitab suci yang menyerukan manusia menyembah berhala, sebab semuanya hanyalah imajinasi dan khayalan orang-orang dahulu saja.

Setelah Al-Qur’an menyalahkan dan mematahkan jalan pikiran mereka, dan bahwa apa yang mereka turuti itu adalah jalan pikiran pemimpin-pemimpin mereka yang sesat, maka tentulah pendapat mereka batil dan membawa kepada kesengsaraan.


Baca Juga :Gambaran Delusi Para Penolak Kebenaran dalam Surah Al-Hajj Ayat 46


Ayat 41

Allah melukiskan kebenaran dan keagungan kekuasaan-Nya. Dengan kekuasaan-Nya, langit tercipta tanpa tiang, dan gunung-gunung berdiri dengan kokoh. Allah menyebarkan makhluk melata (dabbah), manusia, dan hewan di atas bumi, seperti bunyi ayat:

خَلَقَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۗ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ

Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. (Luqman/31: 10)

Semuanya membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah Yang Maha-agung. Pengertian Allah menahan langit dan bumi ialah menahan langit itu dengan hukum gravitasi agar tidak guncang dan roboh, atau bergeser dari tempatnya.

Allah memelihara dan mengawasi keduanya dengan pengawasan yang Dia sendirilah yang mengetahuinya. Semua benda-benda langit di jagat raya ini beredar menurut garis edarnya masing-masing.

Para ahli ilmu astronomi dapat membuktikan bahwa tidak pernah terjadi benturan antara benda-benda angkasa itu satu dengan yang lain. Semuanya beredar menurut garis edarnya masing-masing. Keterangan lain yang menguatkan arti yang terkandung dalam ayat di atas yakni:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ تَقُوْمَ السَّمَاۤءُ وَالْاَرْضُ بِاَمْرِهٖۗ  ثُمَّ اِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةًۖ مِّنَ الْاَرْضِ اِذَآ اَنْتُمْ تَخْرُجُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur).  (ar-Rum/30: 25)

Kuatnya bangunan langit dan bumi itu sehingga tidak pernah mengalami kerusakan, keruntuhan, dan sebagainya adalah karena kekuasaan Allah juga. Jika Allah Yang Mahakuasa itu bermaksud menghancurkan bumi dan langit itu, tiada satu kekuatan pun dari makhluk yang sanggup mencegahnya. Demikianlah pula dijelaskan oleh ayat lain:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖۗ وَيُمْسِكُ السَّمَاۤءَ اَنْ تَقَعَ عَلَى الْاَرْضِ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu (manusia) apa yang ada di bumi dan kapal yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. (al-Hajj/22: 65)

Di samping sifat-Nya Yang Maha Perkasa itu, Allah juga mempunyai sifat rasa kasih sayang kepada hamba-Nya. Biarpun manusia di bumi ini kebanyakan kafir dan tidak mau tunduk pada pengajaran dan pedoman hidup menuju kesejahteraan dunia dan akhirat yang telah ditetapkan-Nya, namun azab dan murka Allah tiada segera diturunkan untuk menghukum kaum kafir dan pendurhaka.

Kasih sayang Allah itu ialah selain menunda siksaan bagi orang kafir dan ingkar, juga sangat mudah memberi ampunan kepada siapa yang mau tobat dari segala kesalahannya, bagaimanapun besarnya perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya.

Allah Maha Perkasa, Maha Pengasih, dan Penyayang kepada seluruh hamba-Nya, baik terhadap orang mukmin maupun kafir.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 42-43


 

Tafsir Surah Fathir Ayat 38-39

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Tafsir Surah Fathir Ayat 38-39 adalah kesekian kali Allah menerangkan bahwa Nabi Muhammad merupakan utusan yang membawa risalah-Nya. Apa yang disampaikan Muhammad, baik peringatan ataupun kabar gembira, adalah benar. Salahnya, mereka – saat di dunia– menolak seruan itu, justru berbalik memerangi Muhammad, sikap yang justru memicu kemurkaan Allah Swt.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 37


Allah memperingati mereka melalui lisan Nabi Muhammad, bahwa ia mengetahui seagala sesuatu, termasuk isi hati mereka, baik yang sudah ataupun yang akan terlintas. Dan Allah, kian murka, ketika mereka semakin kufur, dan menjajikan kepada mereka siksaan yang pedih kelak di neraka.

Ayat 38

Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar memberi peringatan keras kepada orang-orang musyrik bahwa Allah Maha Mengetahui segala apa yang mereka sembunyikan. Allah juga Maha Mengetahui perasaan yang terkandung dalam hati mereka, dan rencana apa yang akan mereka kerjakan.

Allah pulalah yang mengetahui segala yang tak terlihat oleh pancaindra manusia, baik yang ada di langit maupun di bumi. Oleh karena itu, hendaklah orang-orang musyrik itu merasa takut kepada Allah, sebab segala gerak-gerik mereka di bawah pengawasan-Nya.

Segala yang mereka rencanakan untuk menipu rasul dan melenyapkan kebenaran agama-Nya di bumi ini, atau usaha mereka untuk membantu sekutu mereka dalam menuhankan berhala, pasti diketahui Allah.

Allah Mengetahui segala perasaan yang terkandung dalam hati manusia, dan perbuatan apa saja yang mereka kerjakan.

Firman Allah “Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada manusia” mengisyaratkan kepada pengertian sekalipun orang-orang kafir diberi kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, namun mereka tidak akan meninggalkan kekufurannya. Oleh karena itu, sia-sia Allah memanjangkan umurnya.


Baca Juga : Tafsir Ahkam: Batas Umur Anak yang Menyebabkan Sepersusuan


Ayat 39

Ayat ini menegaskan bahwa manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi. Sebagai khalifah, yang dapat diartikan sebagai penguasa, manusia diberi kemampuan untuk memanfaatkan alam ini dengan sebaik-baiknya guna kesejahteraan hidup mereka.

Sebagian ahli tafsir menerangkan maksud khala’if fi al-ardh ialah sebagian manusia menggantikan manusia yang lain, satu generasi menggantikan generasi lain agar mereka mengambil pelajaran karena Allah telah membinasakan umat terdahulu disebabkan dosa yang mereka lakukan.

Semuanya bertujuan agar mereka menyadari siapakah mereka itu sebenarnya. Rasa keinsafan demikian insya Allah akan mendorong untuk mensyukuri segala nikmat-Nya yang tidak terhingga, mengesakan-Nya dari segala perbuatan dan kepercayaan yang berbau syirik, serta menaati segala perintah-Nya.

Semakin bertambah rasa kekafiran itu dalam lubuk hati mereka, makin bertambah pula kemarahan dan kemurkaan Allah. Akan tetapi, tidaklah berarti bahwa hal demikian akan mengurangi kebesaran dan keagungan Allah, sebab Dia tidak memerlukan puji dan syukur manusia untuk keagungan dan kemuliaan-Nya, seperti bunyi ayat:

وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (Luqman/31: 12)

Sebaliknya, kerugian akan menimpa mereka di hari akhirat kelak karena tidak mau kembali ke jalan yang benar, dan tetap berada dalam kekafiran. Mereka kekal dalam siksaan api neraka Jahanam seperti diuraikan di atas.

Sengaja kalimat, “tidaklah menambah kekafiran itu bagi orang-orang kafir” disebutkan dua kali karena mengandung maksud bahwa kufur yang menimbulkan kemarahan Allah dan kufur yang mendatangkan kerugian, keduanya terpisah dan mengandung makna sendiri-sendiri.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 40-41


 

Tafsir Surah Fathir Ayat 37

0
Tafsir Surah Fathir
Tafsir Surah Fathir

Tafsir Surah Fathir Ayat 37

Tafsir Surah Fathir Ayat 37 menjelaskan keadaan orang kafir yang malang, dimana rasa penyesalan hadir dalam diri mereka. Namun, nahasnya, sekeras apapun mereka memohon hal itu tidak akan terwujud, sebab mereka telah diberi umur dan kesempatan ketika di dunia, sekarang pintu kesempatan itu telah ditutup, dan mereka akan kekal di dalam neraka.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Fathir Ayat 35-36


Ayat 37

Lebih lanjut diterangkan bahwa orang yang bernasib malang itu memohon kepada Allah agar dilepaskan dari azab dan dikembalikan ke dunia lagi. Mereka berjanji akan menaati Allah yang selama di dunia mereka lalaikan.

Akan tetapi, seandainya permohonan itu dikabulkan—dan ini tidak mungkin sama sekali—tentulah mereka akan mengulangi kembali perbuatan lama yang terlarang. Perbuatan yang mereka sesali dan pernah mereka lakukan di dunia dulu adalah perbuatan syirik dan segala perbuatan jahat lainnya.

Allah menjawab dan menghardik mereka dengan ucapan yang menghina bahwa di dunia dulu kepada mereka telah diberikan kesempatan hidup dengan umur yang cukup panjang untuk memperbaiki kesalahan dan menerima kebenaran yang disampaikan rasul selaku orang yang memberi peringatan.

Dengan kata lain, permohonan demikian tidak diterima Allah sama sekali. Ayat lain menyatakan:

رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْهَا فَاِنْ عُدْنَا فَاِنَّا ظٰلِمُوْنَ  ١٠٧  قَالَ اخْسَـُٔوْا فِيْهَا وَلَا تُكَلِّمُوْنِ  ١٠٨

Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya (kembalikanlah kami ke dunia), jika kami masih juga kembali (kepada kekafiran), sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.” Dia (Allah) berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (al-Mu’minun/23: 107-108)

Allah berfirman:

وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ وَّلِيٍّ مِّنْۢ بَعْدِهٖ ۗوَتَرَى الظّٰلِمِيْنَ لَمَّا رَاَوُا الْعَذَابَ يَقُوْلُوْنَ هَلْ اِلٰى مَرَدٍّ مِّنْ سَبِيْلٍۚ

Dan barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada baginya pelindung setelah itu. Kamu akan melihat orang-orang zalim ketika mereka melihat azab berkata, “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?”  (asy-Syura/42: 44)

Baca Juga :

Tentang umur yang dimaksudkan dalam ayat 37 ini, Ibnu ‘Abbas menerangkan dalam satu riwayat, yaitu 40 tahun, dan riwayat lain mengatakan 60 tahun. Ibnu Katsir dalam tafsirnya memilih riwayat yang paling sahih dari Ibnu ‘Abbas yakni 60 tahun.

Demikian pula hadis riwayat Imam Ahmad dari Abi Hurairah. Di antara sekian banyak lafaz hadis itu, ada yang berarti: Adapun orang yang memberi peringatan yang disebutkan dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad sendiri yang mengajarkan Kitabullah kepada umatnya, mengancam mereka dengan siksaan yang pedih bagi siapa yang tidak patuh kepada perintah Allah dan tidak mau menaati-Nya.

Ringkasnya, permohonan mereka itu tidak dikabulkan untuk kembali ke dunia ialah karena dua hal. Pertama, karena mereka rata-rata telah diberi kesempatan untuk hidup begitu lama antara 60 – 70 tahun, dan kedua, rasul sudah diutus kepada mereka untuk menyampaikan ajaran dan peringatan dari Tuhan.

Perhatikan firman Allah:

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِۗ كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌۙ

Hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)?” (al-Mulk/67: 8)

Dalam Tafsir al-Wahidi dikatakan bahwa nazir (pemberi peringatan) dalam ayat ini berarti Rasulullah yang membawa Al-Qur’an, boleh pula diartikan sebagai umur tua dan kematian. Memang umur dan kematian tersebut adalah peringatan penting bagi manusia bahwa sebentar lagi dia akan meninggalkan dunia yang fana ini, dan diwajibkan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Jelaslah bahwa orang-orang kafir di atas kekal di dalam neraka dan tidak dikeluarkan selama-lamanya. Azab nerakalah yang mereka rasakan sepanjang masa sebagai imbalan yang setimpal bagi orang yang zalim yang tidak mau tunduk kepada ajaran rasul sebagai utusan Allah dalam kehidupan duniawinya.

Ayat ini menegaskan jangan diharap mereka akan memperoleh penolong yang akan menyelamatkan mereka dari azab neraka dari rantai dan belenggu yang terbuat dari api neraka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Saba’ Ayat 38-39