Beranda blog Halaman 306

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 78

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 78 berbicara mengenai hal-hal gaib dan ajaib di sekitar manusia. misalnya fase pertumbuhan janin.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 77


Ayat 78

Dalam ayat ini, Allah swt menjelaskan kegaiban dan keajaiban yang sangat dekat dengan manusia. Mereka mengetahui fase-fase pertumbuhan janin, tetapi tidak mengetahui bagaimana proses perkembangan janin yang terjadi dalam rahim sehingga mencapai kesempurnaan.

Sejak bertemunya sel sperma dan sel telur sampai menjadi manusia baru yang membawa sifat-sifat kedua orang tua dan leluhurnya. Dalam proses kejadian ini, terdapat rahasia hidup yang tersembunyi.

Sesudah mencapai kesempurnaan, Allah mengeluarkan manusia dari rahim ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Tetapi sewaktu masih dalam rahim, Allah menganugerahkan potensi, bakat, dan kemampuan seperti berpikir, berbahagia, mengindra, dan lain sebagainya pada diri manusia.

Setelah manusia lahir, dengan hidayah Allah segala potensi dan bakat itu berkembang. Akalnya dapat memikirkan tentang kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan, serta hak dan batil. Dengan pen-dengaran dan penglihatan yang telah berkembang itu, manusia mengenali dunia sekitarnya, mempertahankan hidupnya, dan mengadakan hubungan dengan sesama manusia.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Hukum Memakan Janin yang Mati dalam Perut Hewan yang Disembelih


Dengan perantaraan akal dan indra, pengalaman dan pengetahuan manusia dari hari ke hari semakin bertambah dan berkembang. Semua itu merupakan rahmat dan anugerah Tuhan kepada manusia yang tidak terhingga.

Oleh karena itu, seharusnyalah mereka bersyukur kepada-Nya, baik dengan cara beriman kepada keesaan Allah, dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain maupun dengan mempergunakan segala nikmat Allah untuk beribadah dan patuh kepada-Nya.

Hadis Nabi saw:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ اِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْئٍ اَحَبَّ اِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ. وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ. فَإِذَا اَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُهُ وَيَدَهُ الَّتَيْ يَبْطِشُ بِهَا وَ رِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ َلأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اِسْتَعَاذَنِيْ لَأُعِيْذَنَّهُ.

(رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah swt berfirman, “Siapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku menyatakan  perang kepadanya. Dan tiada mendekat kepada-Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada menjalankan pekerjaan yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku selalu mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan menjalankan ibadah-ibadah sunah sehingga Aku menyukainya. Apabila Aku telah menyukainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia pakai mendengar, penglihatannya yang ia pakai melihat, tangannya yang ia pakai memukul, dan kakinya yang ia pakai berjalan. Apabila ia memohon kepada-Ku, pasti akan Kukabulkan permohonannya, dan apabila ia minta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi dia. (Riwayat al-Bukhāri)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 79-80


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 77

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 77 berbicara mengenai pengetahuan Allah terhadap hal gaib. Allah maha Kuasa atas segalanya. Tidak ada yang samar baginya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 75-76


Ayat 77

Dalam ayat ini, Allah swt menegaskan kesempurnaan ilmu-Nya tentang hal-hal yang gaib dan kemahakuasaan-Nya.

Di antara hal yang gaib itu ialah segala yang berada di luar jangkauan indra dan akal pikiran manusia, baik yang ada di langit, maupun yang ada di bumi. Hanya Allah swt yang mengetahui tentang apa yang ada di luar alam nyata ini.

Meskipun pengetahuan umat manusia tentang angkasa luar dan keadaan bumi saat ini sangat maju, namun yang belum mereka ketahui jauh lebih besar. Ketika manusia sampai ke bulan, masih terbentang di muka mereka kegaiban dan kerahasiaan yang ada di planet Mars, Venus, dan lain-lain. Padahal planet-planet tersebut bagaikan butir-butir pasir di tengah sahara yang luas jika dibanding dengan keluasan alam semesta ini.

Demikian pula mengenai keadaan bumi ini. Tidak seorang pun sarjana geologi yang dapat memperkirakan dengan tepat kapan terjadinya gempa bumi atau meletusnya gunung berapi. Bahkan pada diri manusia sendiri masih ada hal-hal yang merupakan misteri atau rahasia Allah yang belum diketahui manusia, walaupun sejak berabad-abad para ahli dalam bidang masing-masing berusaha memikirkan dan mengungkapkannya.

Tidak se-orang pun yang dapat memastikan apa yang akan dialami besok, kapan kematian datang kepadanya, dan di manakah dia akan dikuburkan. Semua itu merupakan soal yang gaib bagi manusia. Namun demikian, ketidaktahuan itu adalah rahmat Allah yang besar bagi manusia. Mereka dapat menyusun rencana dan tindakan-tindakan yang sesuai dengan keinginan mereka.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Asal Usul Kewajiban Menguburkan Mayat dalam Islam


Hari kiamat termasuk pula hal gaib. Allah swt menyebutkan secara khusus tentang hari kiamat karena masalah itu banyak mendapat penolakan dan sanggahan pada setiap zaman dan setiap bangsa. Bahkan banyak orang yang mengingkarinya, dan menyatakan sebagai suatu hal yang tidak mungkin terjadi.

Allah merahasiakan waktu datangnya hari kiamat agar manusia tidak menghentikan kegiatan hidupnya. Seharusnya manusia tidak perlu memikir-kan kapan hari kiamat itu terjadi, karena hal itu adalah urusan Allah. Yang penting bagi mereka adalah menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Persoalan hari kiamat bagi Allah swt sangatlah mudah. Kecepatan waktu peristiwa itu berlangsung secepat kedipan mata atau lebih cepat lagi. Kecepatan ini menurut waktu yang bisa digambarkan oleh hitungan manusia karena pengaturan Allah terhadap alam semesta ini sesungguhnya tidak dapat dihubungkan dengan ruang dan waktu.

Mudah atau sukar, dan cepat atau lambat adalah ukuran manusia. Allah sesungguhnya sangat kuasa atas segala perkara. Bila Allah berkehendak atas sesuatu, Dia pun berfirman, “Kun (Jadilah),” maka terciptalah sesuatu itu. Tidak satu pun yang dapat menghalangi kehendak-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 78


(Tafsir Kemenag)

 

Ilmu Tajwid: Mengenal Hukum Mad Asli (Mad Thobi’i)

0
Hukum Mad Asli (Mad Thobi'i
Hukum Mad Asli (Mad Thobi'i

Secara teoritis seorang qori’ ataupun orang yang mengajar membaca Al-Qur’an harus mengetahui pedoman-pedoman yang telah digariskan para ‘ulama ahli tajwid dan yang telah dibukukan para imam Qurra’, yaitu tentang hukumnya nun mati, tanwin dan mim mati, bacaan mad dan hukumnya, makhorijul huruf dan sifatnya, tantang waqof dan ibtida’ dan begitu seterusnya. Setelah pada bab-bab awal dalam buku tajwid memaparkan hukum nun sukun, tanwin dan mim mati, salah satu yang sering kita jumpai dalam mushaf Al-Qur’an adalah bacaan mad dan qasr. Pada tulisan ini akan mengurai tentang hukum mad asli (mad thobi’i)

Adapun dalil asal bacaan mad adalah dari haditsnya Musa bin Yazid al-Kindiy ra. Berkata ; ketika sahabat Ibnu Mas’ud mengajar seseorang, maka orang itu membaca

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسٰكِيْنِ

Dengan bacaan yang polos, maka sahabat Ibnu Mas’ud menegurnya “tidak begitu” Nabi saw membacakannya kepadaku, maka orang itu bertanya. “lalu bagaimana beliau membacakannya kepadamu? Maka ibnu Mas’ud membacanya dengan memanjangkan

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ

Sahabat Ibnu Mas’ud mengingkari orang yang membaca لِلْفُقَرَاۤءِ tanpa memanjangkan dan tidak memberi keringanan tidak memanjangkan, padahal panjang pendek disitu tidaklah mempengaruhi  kalimah dan maknanya, akan tetapi karena bacaan Al-Qur’an itu merupakan bacaan sunah muttaba’ah yang orang akhir mengambil dari orang awal, maka sahabat Ibnu Mas’ud mengingkari bacaan yang tidak sama dengan bacaan Nabi saw yang dibacakan kepada sahabat semua. Maka demikian itu menunjukkan atas wajibnya mempelajari tajwid dan mengikuti ketentuanannya ketika membaca Al-Qur’an.

Baca juga: Inilah Lima Kitab Tajwid Karangan Ulama Nusantara

Dalam kitab Nihayatul Qoul Al-Mufid, Syaikh M.Makky Nashor menerangkan mad menurut Bahasa المدوالزيادة artinya memanjangkan dan menambah. Sedangkan menurut istilah adalah:

اِطَالَةُ الصَّوْتِ بِحَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ الْمَدِّ

Memanjangkan suara dengan salah satu huruf dari huruf-huruf mad (asli)

Sedangakan menurut KH. Maftuh Basthul Birri dalam buku Standart Tajwid terjemahan Fathul Mannan beliau menuturkan mad menurut istilah qurra’ ialah memanjangkan suaranya huruf mad. Huruf mad itu ada 3, yaitu alif, wawu dan ya’ denagan syarat harus mati dan jatuh setelah harakat yang munasabah.

Ukuran membaca panjang itu memakai gerakan jari-jari tangan. Satu gerakan namanya satu harakat, satu huruf itu satu harakat dan satu alif itu dua harakat (dua gerakan). Menggerakkannya biasa dengan digenggam atau dengan di buka (dibeber), biasanya juga dengan ketukan, satu ketukan satu harakat. Ukuran ini sebagai kadar kira-kira dan harus di stabilkan dengan cepat dan perlahan-lahannya bacaan.

Baca juga: Lima Referensi Awal Pembelajaran Tajwid di Bumi Nusantara

Pembagian Mad

Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri dalam kitab Tuhfatul Athfal berkata:

وﺃلمد اﺻﻠـﻰ ﻭ ﻓـﺮﻋــﻰ ﻟـﻪ * ﻭﺳــﻢ ﺃﻭﻻ ﻃﺒﻴـﻌـﻴﺎ ﻭﻫـــﻮ

ﻣـﺎﻻ ﺗﻮﻗـﻒ ﻟـﻪ ﻋـﻠـﻰ ﺳـﺒﺐ * ﻭﻻﺑـﺪﻭﻧﻪ ﺍﻟﺤـﺮﻭﻑ ﺗﺠـﺘـﻠـﺐ

بل أي حرف غير هنز اوسكون * ﺟﺎ ﺑﻌـﺪ ﻣـﺪ ﻓﺎﻟﻄﺒــﻴﻌﻰ ﻳﻜـﻮﻥ

Mad itu ada dua; Mad Asli dan Mad Far’i. Mad asli disebut juga Mad Thabi’i.Mad Thabi’i itu tidak tergantung kepada sebab dan tidak pula ketiadaan huruf yang didapat. Setiap huruf selain hamzah dan sukun yang datang setelah huruf mad (alif, waw,ya) maka ia adalah mad thabi’i

Pengertian mad asli atau mad thobi’i dalam kitab Nihayatul Qoul Al-Mufid, Syaikh M.Makky Nashor mengatakan bahwa mad asli adalah hukum mad yang dasar atau pokok. Mad asli di kenal dengan istilah mad thobi’i karena seorang yang mempunyai tabiat baik tidak mungkin akan mengurangi atau menambah panjang bacaan dari yang telah di tetapkan. Jadi apabila ada wawu mati(وْ) jatuh setelah dhomah, ya’ mati (يْ) jatuh setelah kasrah dan alif (أ) jatuh setelah fathah. Panjangnya yaitu satu alif atau dua harakat. Sedangkan Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri dalam kitab Tuhfatul Athfal berkata:

ﺣـﺮﻭﻓــﻪ ﺛـــﻼﺛـﺔ ﻓﻌـﻴـﻬﺎ * ﻣﻦ ﻟﻔـﻆ ﻭﺍﻯ ﻭﻫﻰ ﻓﻰ ﻧﻮﺣـﻴـﻬﺎ

ﻭﺍﻟﻜﺴﺮ ﻗﺒـﻞ ﺍﻟﻴﺎ ﻭﻗﺒﻞ ﺍﻟﻮﺍﻭ ﺿـﻢ * ﺷـﺮﻁ ﻭﻓـﺘﺢ ﻗﺒـﻞ ﺃﻟﻒ ﻳﻠﺘــﺰﻡ

Huruf mad ada tiga maka hafalkanlah.. dari lafaz “ﻭﺍﻯ” contohnya ﻧﻮﺣـﻴـﻬﺎ. Syaratnya harus senantiasa ada kasroh sebelum ya, Dhammah sebelum waw, dan fathah sebelum alif

Baca juga: Mengenal 8 Huruf HijaiyahTambahan dalam Ilmu Tajwid

Dinamakan mad asli sebab panjang dari mad ini adalah sesuai dengan dasarnya (redaksi), sedangkan dinamakan Thobi’i (sebangsa karakter) karena sifat mad atau panjangnya ini adalah pasti, yaitu satu alif. Bagi seorang qori’ seharusnya tidak akan mengurangi atau menambah panjang mad asli atau mad thobi’i.

Mad thobi’i dibagi menjadi tiga yaitu:

  1. Mad thobi’i dhoriri (artinya tampak)

Yaitu apabila ada salah satu huruf mad tersebut (tanda-tandanya)jelas, sehingga dapat diketahui langsung. Posisi wawu jatuh setelah dhommah, ya’ mati jatuh setelah kasroh dan alif jatuh setelah fathah.contoh:

وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

  1. Mad thobi’i Muqaddar (dikira-kirakan)

Yaitu apabila ada salah satu huruf mad yang tanda-tandanya dikira-kirakan, dalam membacanya dibaca panjang tapi penulisan huruf madnya tidak tampak. Hal ini dikarenakan ada kaitannya dengan arti dan demikian cara penulisan dari khat utsmani. Seluruh ulama’ membaca panjang pada huruf lam dan mim. Contoh:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

  1. Mad thobi’i harfi (sebangsa huruf)

Syaikh Sulaiman Al-Jamzuri dalam kitab Tuhfatul Athfal  mengatakan bahwa huruf-huruf fawatih as-suwar (ح ي ط ه ر) itu madnya disebut mad thobi’i harfi bukan mad lazim. Contoh:

كۤهٰيٰعۤصۤ, طٰهٰ

Baca juga: 4 Macam Bacaan Mad Badal dalam Ilmu Tajwid dan Contohnya

Perlu diketahui bahwa huruf-huruf (ح ي ط ه ر) dipanjangkan dengan 2 harakat atau 1 alif, dan disebut dengan Mad Thobi’i Harfi, tidak disebut dengan Mad Lazim Harfi Mukhaffaf karena dua alasan:

  1. Tidak ada sukun asli setelah huruf alif (huruf mad)حا ,يا ,طا ,ها ,را berbeda dengan huruf ق yang dibaca قاف setelah mad ada sukun pada huruf fa’ yang mana Mad Lazim Harfi Mukhaffaf.
  2. Huruf-huruf (ح ي ط ه ر) dipanjangkan 2 harakat, bukan 6 harakat sebagaimana mad lazim. Semua huruf Fawatih As-Suwar dibaca dengan menggunakan Asma’ Al-Huruf dan apabila diwasholkan pada huruf yang dibaca dengan musammayat al-huruf, maka menurut riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Ashim tidak boleh di idghomkan. Contoh:

يٰسۤ ۚ – ١ وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ –  نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ – ١

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 75-76

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 75-76 berbicara mengenai perumpamaan orang-orang yang menyembah berhala.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 71-74


Ayat 75

Dalam ayat ini, Allah swt membuat suatu perumpamaan tentang orang-orang musyrik sehubungan dengan kepercayaan mereka yang menyamakan kedudukan sembahan mereka yang berupa patung dan berhala dengan Allah Yang Maha Sempurna.

Kekeliruan dan kebatilan kepercayaan mereka itu sama halnya dengan kekeliruan orang-orang yang menyamakan seorang budak sahaya yang tidak memiliki hak dan kuasa apa pun dengan orang merdeka, yang punya hak untuk memiliki, mengembangkan, dan menafkahkan harta kekayaan menurut keinginannya, baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.

Setiap orang dengan mudah mengetahui bahwa keduanya jauh berbeda, baik dalam kemuliaan, kekuasaan, ataupun keluhurannya. Demikian pula halnya orang-orang musyrik. Mereka jadikan benda-benda mati sebagai tumpuan dan tujuan ketika memanjatkan doa dan menggantungkan harapan. Alangkah jauhnya kesesatan mereka yang menyamakan Tuhan pencipta alam semesta dengan makhluk yang punya keterbatasan.

Segala puji hanya milik Allah swt. Dialah yang paling berhak untuk menerima segala macam pujian karena Dialah yang agung dan sempurna. Segala sifat-sifat terpuji terkumpul pada-Nya. Segala pujian hanya ditujukan kepada-Nya, tidak kepada patung-patung, berhala-berhala, ataupun sesuatu lainnya.

Sembahan-sembahan selain Allah, tidak ada yang patut menerima pujian. Akan tetapi, manusia banyak yang tidak mengetahui atau sadar bahwa segala sifat kesempurnaan hanya milik Allah swt. Karena kejahilan, mereka memandang sifat kesempurnaan juga ada pada selain Allah. Mereka menjadikan makhluk itu sebagai tujuan dari pujaan atau sembahan.


Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Melalui Matahari dalam Al-Quran


Ayat 76

Seperti halnya ayat yang lalu, pada ayat ini Allah swt menjelaskan kembali perumpamaan bagi orang-orang musyrik dengan bentuk yang lebih jelas seputar kepercayaan mereka kepada patung sembahan mereka.

Allah swt mengambil perumpamaan antara dua orang: yang seorang bisu, bodoh, dan tidak mengerti apa-apa dan seorang lagi mampu berbicara lagi cakap. Orang yang pertama adalah perumpamaan untuk patung sembahan orang-orang musyrik, sedangkan yang kedua perumpamaan untuk Allah.

Patutkah dipersamakan antara keduanya? Jika hal demikian tidak patut, maka lebih tidak patut lagi menyamakan antara patung dengan Allah.

Allah swt dalam ayat ini menerangkan persamaan sifat-sifat antara patung dengan orang yang bisu yang bukan saja tidak memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga tidak memiliki kemampuan berpikir. Dia tidak mengerti maksud orang lain, dan orang lain juga tidak dapat memahami maksudnya. Karena itu, dia tidak dapat menyelesaikan urusannya sendiri apalagi urusan orang lain. Dia hanya jadi beban orang lain, di manapun dia ditempatkan, dan tugas apa punyang diberikan kepadanya tentulah tidak mendatangkan hasil yang baik.

Sifat Allah “menyeru kepada keadilan atau kebenaran”, mengandung pengertian bahwa Dia mengetahui, mengajarkan, dan menyukai keadilan dan kebenaran serta memerintahkan kepada hamba-Nya agar bersifat adil. Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil dan bersifat adil serta tidak memerintahkan hamba-Nya kecuali menjunjung keadilan.

Bahkan Allah swt Mahasuci dari sifat-sifat yang berlawanan dengan keadilan seperti sifat zalim, aniaya, jahil, dan bakhil. Perintah dan syariat-Nya bersifat adil seluruhnya. Mereka yang bersifat dan berbuat adil adalah kekasih dan wali-wali Allah. Mereka hidup di sisi Allah dan di bawah cahaya-Nya.

Sifat Allah swt “di jalan yang lurus” mengandung pengertian bahwa Allah tidak memerintahkan sesuatu selain kebenaran dan keadilan.  Allah tidak mengadakan atau menciptakan sesuatu kecuali untuk kemaslahatan, rahmat, hikmah, dan keadilan. Allah selalu di atas kebenaran pada perkataan dan perbuatan-Nya.

Allah tidak menjatuhkan hukuman dengan zalim kepada hamba-Nya, tidak menyiksa tanpa dosa yang dilakukan hamba itu, tidak pula mengurangi sedikit pun kebajikan yang diperbuatnya, dan tidak membebani seseorang dengan dosa orang lain. Tindakan dan perbuatan Allah selalu penuh hikmah dan berakhir dengan kebaikan. Semua itu disebabkan karena Allah selalu menginginkan hamba-hamba-Nya berada dalam keadaan yang lurus.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 77


(Tafsir Kemenag)

Al-Quran: Antara Ragam Qiraat dan Sumber Ilmu Nahwu

0
antara ragam qiraat Al-Quran dan sumber ilmu nahwu
antara ragam qiraat Al-Quran dan sumber ilmu nahwu

Jika berbicara tentang ragam qiraat Al-Quran dan kaitannya dengan ilmu Nahwu, maka uraian tentang lahjah (dialek) masyarakat Arab tidak bisa dilewatkan, karena hal ini sumber dari dua ‘persoalan’ tadi. Al-Qattan dalam Mabahits fi Ulum Al-Quran menjelaskan bahwa ada banyak ragam lahjah (dialek) yang dimiliki orang Arab yang timbul dari fitrah mereka. Setiap kabilah/suku memiliki kekhasan bahasa yang tidak dimiliki kabilah lainnya. Namun, di antara dialek-dialek kabilah Arab, dialek Quraisy lah yang menjadi induk bagi semua kabilah Arab.

Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, di antaranya adalah faktor teologis, yaitu peran suku Quraisy yang merupakan suku yang mengemban tugas menjaga Baitullah serta menjamu jemaah haji kala itu, yang di kemudian hari juga bergeser menjadi faktor ekonomi, sebab Makkah kemudian menjadi basis perdagangan yang maju. Posisi suku Quraisy yang seperti ini membuat dialek mereka secara tidak langsung cukup berpengaruh.

Perbedaan lahjah (dialek) ini nanti pada akhirnya menyebabkan munculnya ragam bacaan al-Quran atau yang kita sebut qiraat. Lalu salah satu pendapat dalam menafsirkan sab’atu ahruf (tujuh huruf) al-Quran juga merujuk kepada dialek kabilah yang tujuh, masing-masing ialah kabilah Quraiys, Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yaman.

Baca Juga: Al-Quran dan Faktor Kemunculan Ilmu Nahwu

Munculnya Para Imam Qiraat

Pada permulaan abad pertama Hijriah, tampillah sejumlah ulama yang fokus pada masalah qiraat secara kamil dan menjadikannya sebagai suatu displin ilmu yang berdiri sendiri, yaitu ilmu qiraat. Para ahli qiraat tersebut adalah Abu ‘Amr, Nafi’, ‘Ashim, Hamzah, al-Kisa`i, Ibn ‘Amir dan Ibn Katsir. Kelak tujuh qiraat para imam ini dikenal dengan al-qiraah al-sab’. Di sini ada kesamaan bilangan yang mengesankan tujuh imam qiraat tersebut adalah tafsiran dari sab’atu ahruf (tujuh huruf). Namun pendapat tersebut merupakan pendapat yang lemah.

Selain tujuh imam qiraat yang telah disebutkan, ada tiga imam yang qiraatnya dinilai sahih dan mutawatir oleh para ulama. Tiga imam tersebut ialah Abu Ja’far Yazin bin Qa’qa’ al-Madani, Ya’qub bin Ishaq al-Hadrami, dan Khalaf bin Hisyam. Ketujuh imam di depan ditambah tiga imam yang disebut belakangan ini dikenal dengan al-qiraat al-‘asyr (bacaan yang sepuluh).

Di luar sepuluh qiraat di atas dinilai sebagai qiraat yang syaz dan tidak dapat dijadikan dalil bacaan al-Quran, seperti qiraat Yazidi, A’masy, Hasan, Ibn Jubari dan lain sebagainya. Meskipun, sebagaimana al-Qattan dalam Mabahits fi Ulum al-Quran (2013) mengatakan, bukan berarti tidak satu pun dari qiraat sepuluh, bahkan qiraat tujuh yang masyhur itu terlepas dari ke-syaz-an, sekalipun hanya sedikit.

Adanya perbedaan yang kompleks di atas di kemudian hari turut mempengaruhi diskursus ilmu nahwu yang menimbulkan perdebatan di kalangan ulama nahwu, apakah al-Quran beserta ragam qiraatnya dapat dijadikan sebagai syawahid alias sumber kaidah nahwu atau tidak?

Baca Juga: Qiraat Al-Quran (1): Sejarah dan Perkembangannya di Era Islam Awal

Al-Quran sebagai Sumber Ilmu Nahwu

Menukil pandangan Syauqi Dhaif, Al-Quran sebagai teks klasik, merupakan bahasa yang paling sempurna sehingga tidak ada seorang linguis pun yang tidak menggunakannya sebagai sumber pengetahuan nahwu. Namun, Abd al-‘Al Salim dalam al-Madrasah al-Nahwiyyah fi Mishr wa al-Syam (1980) menyebutkan, dari berbagai contoh al-Quran, mazhab Bashrah hanya membatasi pada dialek Quraisy dan teks-teks klasik Arab, baik prosa maupun syair hingga abad kedua Hijrah. Selebihnya mereka—para ahli nahwu mazhab Bashrah—tidak menggunakannya sebagai syawahid. Para ulama nahwu umumnya juga tidak menerima qiraat yang diriwayatkan secara ahad dan syaz, seperti al-qiraat al-‘asyr.

Berbeda dengan para ulama nahwu umumnya yang menyeleksi al-Quran beserta ragam qiraatnya sebagai syawahid (sumber pengetahuan nahwu), Ibn Malik—sang pengarang Alfiyah—menjadikan semua ragam qiraat, baik yang mutawatir maupun syaz, sebagai syawahid dalam ilmu nahwu.

Sebagai contoh, seperti Yunus bin Habib, Ibn Malik membolehkan membuang nun fiil mudhari’ yakunu dengan mengacu pada qiraat syaz dalam surah al-Bayyinah: 1

لَمْ يَكُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا

Al-Suyuthi dalam al-Iqtirah fi Ushul al-Nahw (2006) menyebutkan bahwa Ibn Malik membantah para ulama nahwu sebelumnya (mutaqaddimin) yang mencela Ashim, Hamzah, Ibn Amir sebagai qiraat yang jauh dari ke-tsiqah-an bahasa Arab dan menyebut nama-nama tersebut banyak melakukan lahn(kesalahan berbahasa). Ibn Malik menegaskan qiraat mereka—Ashim, Hamzah, dan Ibn Amir—adalah qiraat yang memiliki kualitas sanad yang mutawatir, sahih, serta tak ada cela di dalamnya. Hal itu cukup untuk dijadikan dalil bolehnya mengambil syawahid dari ragam qiraat.

Baca Juga: Qiraat Al-Quran (2) : Sejarah dan Perkembangan Qiraat di Era Sahabat

Ibn Malik tidak membuat kriteria yang ketat dalam menerima ragam qiraat sebagai syawahid. Berbeda dengan ulama mazhab Bashrah, misalnya. Sebab menurut Ibn Malik ragam qiraat tersebut diriwayatkan dari Arab murni. Bukan bahasa Arab yang tercampur dengan bahasa lain.

Ibn Malik juga membuat hirarki syawahid dengan urutan pertama; al-Quran-hadits-syair Arab. Jika tidak ditemukan dalam al-Quran, maka diambil dari hadits, jika tidak ada maka diambil dari syair-syair Arab. Untuk menggunakan syair Arab tidak begitu sulit karena Ibn Malik piawai dalam bersyair dan memiliki banyak karya dalam bentuk syair, di antaranya Alfiyah (yang masyhur di pesantren di nusantara), lalu al-Kafiyah al-Syafiah yang berjumlah tiga ribu bait dan lain sebagainya.

Syauqi Dhaif dalam al-Madaris al-Nahwiyyah (1968) juga menyebutkan bahwa ulama nahwu pertama yang menggunakan ragam hadits Nabi sebagai syawahid (sumber nahwu) dalam karyanya adalah Ibn Malik. Sedangkan banyak pakar nahwu lainnya yang tidak mengakui hadits sebagai sumber bahasa yang dapat dipercaya karena kebanyakan hadist dikunil secara maknawi, bukan secara lafzi (redaksi) yang sama persis dengan apa yang diucapkan Nabi. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 71-74

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 71-74 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai perbedaan dalam pembagian rizki di antara makhluknya. Kedua mengenai ciptaan yang berpasang-pasangan. Ketiga mengenai ke-Esaan Allah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 69-70


Ayat 71

Setelah Allah menjelaskan perbedaan usia manusia dalam ayat ini, Ia menyebutkan perbedaan rezeki mereka. Allah swt menjelaskan bahwa Allah melebihkan rezeki sebagian manusia dari sebagian yang lain.

Ada manusia yang kaya, ada pula yang fakir, ada manusia yang menguasai sumber-sumber rezeki, dan ada manusia yang tidak memperoleh rezeki yang memadai bagi kehidupannya. Semuanya bertujuan agar satu sama lain saling menolong karena saling membutuhkan.

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa di antara orang-orang yang diberi rezeki lebih, ada yang tidak mau memberikan sedikit pun rezekinya kepada orang-orang yang bekerja padanya yang semestinya mendapat bagian dari mereka.

Padahal di antara orang-orang yang menguasai dan dikuasai, di antara tuan dan budak sama-sama berhak atas rezeki itu. Oleh karenanya, sepantasnyalah rezeki itu didistribusikan secara adil dan merata kepada semua pihak.

Apabila pemilik modal merasa berhak mendapat keuntungan karena modal yang dimilikinya, pekerja hendaknya diberi penghasilan sesuai dengan kemampuannya, supaya pemilik modal dan pekerja sama-sama menikmati sumber-sumber penghasilan itu.

Allah swt berfirman:

ضَرَبَ لَكُمْ مَّثَلًا مِّنْ اَنْفُسِكُمْۗ هَلْ لَّكُمْ مِّنْ مَّا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ مِّنْ شُرَكَاۤءَ فِيْ مَا رَزَقْنٰكُمْ فَاَنْتُمْ فِيْهِ سَوَاۤءٌ تَخَافُوْنَهُمْ كَخِيْفَتِكُمْ اَنْفُسَكُمْۗ  كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

Dia membuat perumpamaan bagimu dari dirimu sendiri. Apakah (kamu rela jika) ada di antara hamba-sahaya yang kamu miliki, menjadi sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, sehingga kamu menjadi setara dengan mereka dalam hal ini, lalu kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada sesamamu. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengerti. (ar-Rµm/30: 28)

Di akhir ayat, Allah mengingatkan bahwa semua itu adalah nikmat-Nya. Oleh karena itu, mereka seharusnya mensyukuri nikmat itu dengan tidak memonopoli sumber-sumber penghasilan itu untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Bolehkah Berwudhu dengan Cairan Lain Selain Air Mutlak?


Ayat 72

Kemudian Allah menjelaskan nikmat-Nya, yaitu bahwa Allah swt telah menciptakan pasangan untuk mereka dari jenis mereka sendiri. Pasangan-pasangan itu merupakan mitra dalam kerja sama membina keluarga dan masyarakat.

Dengan pasangan itu, manusia dapat memiliki keturunan untuk memelihara dan mengembangkan jenis manusia dalam mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi ini. Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Dialah yang telah memberi mereka rezeki dalam makanan dan minuman yang baik dan berguna.

Oleh karena itu, manusia tidak boleh takut akan kesulitan memperoleh rezeki karena anak. Sebaliknya, mereka harus mendidik anak-anak itu agar mampu nantinya setelah dewasa untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi.

Di akhir ayat, Allah swt mencela orang-orang kafir yang mempercayai berhala-berhala sebagai tuhan, padahal berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan nikmat Allah mereka ingkari seakan-akan rezeki itu bukan dari Allah.

Ayat 73

Selanjutnya Allah swt menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menyembah patung-patung atau tuhan-tuhan lain selain Allah, padahal tuhan-tuhan mereka itu tidak mampu memberi mereka rezeki dari langit seperti menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, dan sebagainya.

Patung-patung itu tidak memiliki kekuatan apa punkarena patung-patung itu adalah benda mati. Patung-patung tidak mungkin memberikan keuntungan apapun, bahkan seandainya dihancurkan, ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Ayat 74

Allah melarang hamba-Nya menyamakan sifat-sifat Allah dengan makhluk-Nya, karena sifat-sifat Allah itu tidak dapat disamai dan ditandingi.

Untuk memperkuat pengertian ayat ini, dapat dikemukakan sebuah riwayat dari Ibnu Munzir dan Abi Hatim dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata mengenai arti ayat itu bahwa Allah berfirman, “Makanya jangan kamu beranggapan adanya tuhan-tuhan lain selain Aku, karena sesungguhnya tidak ada tuhan selain Aku.”

Kemudian Allah swt menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi. Dia mengetahui kejahatan yang dilakukan oleh makhluk-Nya dan Dia pulalah yang berkuasa untuk menghukum mereka dengan siksaan yang pedih. Mereka tidak mengetahui sedikit pun siksaan apa yang harus mereka rasakan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 75-76


(Tafsir Kemenag)

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/harushttps://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/harus

Tafsir An-Nahl Ayat 12: Tanda Kekuasaan Allah dalam Pergerakan Matahari

0
Tafsir An-Nahl Ayat 12: Tanda Kekuasaan Allah dalam Pergerakan Matahari
Ilustrasi matahari

Matahari sebagai salah satu tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Swt ternyata menyimpan segudang hikmah bagi mereka yang berpikir. Salah satu surah dalam al-Qur’an secara khusus dinamai dengan surah al-Syams (surah matahari), yang diawali dengan ungkapan wa syams (Demi Matahari). Sungguh luar biasa dan istimewanya matahari ini sampai-sampai Allah Swt bersumpah atas namanya. Sejatinya matahari sebagai tanda kekuasaan Allah Swt telah dinyatakan salah satunya dalam firman-Nya, Q.S. An-Nahl ayat 12:

وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۙ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۗوَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرٰتٌۢ بِاَمْرِهٖ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَۙ

Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti, (Q.S. An-Nahl [16]: 12)

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 12

Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan ayat di atas, bahwa di antara nikmat yang dianugerahkan kepada manusia ialah Allah Swt menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untuk manusia. Tujuannya tidak lain adalah untuk memberikan kenyamanan bagi kehidupan manusia. Matahari dan bulan juga berfungsi sebagai penanda waktu dalam peradaban mereka.

Lebih dari itu, al-Tabari menuturkan bahwa penciptaan matahari sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah Swt merupakan petunjuk-petunjuk yang jelas (dalailat wadhihat) bagi mereka yang berpikir dan memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Senada dengan al-Tabari, al-Qurtubi dalam tafsirnya juga menyampaikan bahwa di balik penciptaan malam dan siang, matahari dan bulan, serta bintang-bintang ialah agar manusia dapat mengetahui waktu dengan jelas (li ma’rifati al-auqat), kapan musim panen buah dan sayuran, kapan bergantinya hari dan tahun, kapan waktunya beraktifitas dan beristirahat, dan lain sebagainya. Bahkan, tidak lain tujuan penciptaan semua itu, kata al-Qurtubi, ialah agar memantik akal manusia untuk merenungi keindahan ciptaan-Nya, sehingga semakin memperkokoh keimanannya kepada Allah Swt.

Adapun Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa cahaya matahari, bulan maupun bintang-bintang berfungsi sebagai nuran wa dhiya-an (sinar dan cahaya yang memancar) untuk menerangi gelapnya malam (li yahtadi biha fi al-dzulumat).

Lebih dari itu, Ibnu Katsir menyatakan bahwa matahari, bulan, planet-planet, dan semua benda langit ciptaan-Nya berjalan sesuai garis orbitnya. Mereka patuh dengan ketetapan tersebut, tidak saling mendahului apalagi memasuki garis di luar edarnya sehingga tidak terjadi tabrakan satu sama lain. Semuanya berjalan secara harmoni. Ia mengatakan:

وكل منها يسير في فلكه الذي جعله الله تعالى فيه، يسير بحركة مقدرة لا يزيد عليها ولا ينقص عنها، والجميع تحت قهره وسلطانه وتسخيره وتقديره وتسهيله

“Masing-masing bergerak dalam orbit yang telah diciptakan oleh Allah Swt. Mereka bergerak dengan gerakan yang teratur, tidak bertambah atau berkurang darinya. Segala sesuatu berada di bawah kekuasaan, aturan, ketetapan dan naungan-Nya.”

Lebih lanjut, Ibnu Katsir juga menyampaikan sesungguhnya di balik penciptaan semua itu terdapat bukti-bukti yang estetis (li dalailat ‘ala qudratihi ta’ala al-bahirah). Bukti bahwa Dia (Allah Swt) Maha Agung (sulthanuhu al-‘adzim). Tujuannya tidak lain untuk membuat mereka berpikir dan faham terhadap hujjahnya (li qaumin ya’qiluna ‘anillahi, wa yafhamuna hujjahu).

Baca juga: Memahami Makna Tadabbur al-Quran dan Implementasinya

Matahari Sebagai Tanda Kekuasaan Allah Swt

Q.S. An-Nahl ayat 12 di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa sesungguhnya kejadian siang dan malam, penciptaan matahari, bulan dan bintang-bintang adalah sebagai bukti akan kebesaran Allah Swt. Allah menciptakan bulan sebagai pelita di malam hari, matahari sebagai sumber cahaya yang menyinari di siang hari, dan Dia menciptakan garis edar atau garis orbit segala benda-benda langit agar berjalan sesuai kehendak-Nya untuk kepentingan manusia di muka bumi.

Lalu ayat di atas kemudian ditutup dengan isyarat di mana tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Swt itu dapat dipahami, diteliti, dan ditelaah bagi manusia yang berpikir. Bagi mereka yang tidak menggunakan akalnya dengan baik, maka sesungguhnya mereka menyia-nyiakan anugerah yang Allah berikan. Allah Swt kerap kali membuat perumpamaan untuk menjelaskan kebenaran dan mengungkap rahasia di balik fenomena yang ada. Tentu perumpamaan ini hanya dapat dipahami bagi mereka yang mau berpikir.

Sebagai penutup, matahari sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Swt akan semakin tampak berguna dan bermanfaat jika dipahami oleh manusia yang menggunakan akal dan mengoptimalkan segenap potensinya dengan baik. Semoga kita semua mampu mengoptimalkan akal dan segenap potensi kita dengan baik sehingga mampu memahami tanda-tanda kekuasann-Nya. Aamiin. Wallahu A’lam.

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Melalui Matahari dalam Al-Quran

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 69-70

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 69-70 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kekuasaan Allah yang tampak pada seekor lebah sebagaimana telah di bahas sebelumnya. Kedua mengenai perbedaan usia manusia. Tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 67-68


Ayat 69

Allah lalu meminta perhatian para hamba-Nya agar memikirkan bagaimana Allah telah memberikan kemahiran kepada para lebah untuk mengumpulkan makanan dari berbagai macam bunga-bungaan dan meng-ubahnya menjadi madu yang tahan lama dan bergizi. Kemahiran ini diwariskan lebah secara turun-temurun.

Lebah-lebah mengisap makanan dari bunga-bungaan kemudian masuk ke dalam perutnya dan dari perutnya dikeluarkan madu yang bermacam-macam warnanya. Ada yang putih, ada yang kekuning-kuningan, dan ada pula yang kemerah-merahan, sesuai dengan jenis lebah itu dan bunga-bungaan yang ada di sekitarnya.

Di antara manfaat madu ialah untuk ketahanan tubuh dan mungkin pula sebagai obat berbagai penyakit. Hal ini dapat diterima oleh ilmu pengetahu-an, antara lain karena madu mudah dicerna dan mengandung berbagai macam vitamin.

Penjelasan tentang fungsi madu ini dapat dibaca dalam sebuah hadis:

اِنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِنَّ أَخِيْ اِسْتَطْلَقَ بَطْنُهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: اِسْقِهِ عَسَلاً، فَسَقَاهُ عَسَلاً ثُمَّ جَاءَهُ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ سَقَيْتُهُ عَسَلاً فَمَا زَادَهُ اِلاَّ اِسْتِطْلاَقاً. قَالَ: اِذْهَبْ فَاَسْقِهِ عَسَلاًً فَذَهَبَ فَسَقَاهُ عَسَلاً، ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا زَادَهُ ذَلِكَ اِلاَّ اِسْتِطْلاَقًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ اللهُ وَكَذَبَ بَطْنُ اَخِيْكَ، اِذْهَبْ فَاَسْقِهِ عَسَلاً، فَذَهَبَ فَسَقَاهُ عَسَلاً فَبَرِئَ.

(رواه البخاري و مسلم عن أبي سعيد الخدري)

Bahwa seseorang datang kepada Rasulullah saw seraya berkata, “Sesungguhnya saudaraku perutnya mulas.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Minumkan kepadanya madu,” kemudian orang itu memberinya madu. Kemudian orang itu datang lagi kepada Rasulullah saw seraya berkata, “Ya Rasulullah saya telah memberinya madu, tetapi perutnya bertambah mulas.” Rasulullah saw bersabda, “Pergilah dan minumkan (lagi) kepadanya madu.” Maka orang itu pergi dan memberinya lagi madu, kemudian orang itu datang lagi kepada Rasulullah saw seraya berkata, “Ya Rasulullah, perutnya justru tambah mulas,” kemudian Rasulullah bersabda, “Allah benar dan perut saudaramu berdusta. Pergilah dan beri lagi saudaramu itu madu.” Lalu orang itu pergi dan memberinya lagi madu, kemudian ia pun sembuh. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri)

Dan hadis Nabi saw:

اَلشِّفَاءُ فِي ثَلاَثَةٍ: فِي شَرْطَةِ مَحْجَمٍ اَوْ شُرْبَةِ عَسَلٍ اَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ وَانْهَى اُمَّتِي عَنِ الْكَيِّ

(رواه البخاري و مسلم عن ابن عباس)

Obat itu ada tiga macam: mengeluarkan darah dengan bekam, minum madu dan membakar kulit dengan api (besi panas), dan aku melarang umatku membakar kulit. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas)

Beberapa manfaat yang diberikan lebah sebagai berikut:

  1. Madunya merupakan minuman yang lezat berguna bagi kesehatan. Sarangnya dapat dibuat lilin, bahan untuk membatik, dan lain-lain.
  2. Lebah membantu penyerbukan bunga sehingga terjadi pembuahan.

Baca juga: Mengenal Tafsir Al-Ubairiz Karya Gus Mus


Ayat 70

Allah swt menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan manusia dan menentukan usianya. Di antara manusia ada yang meninggal pada waktu masih berada dalam kandungan, ada yang meninggal pada waktu lahir, ada yang meninggal pada waktu kecil, ada yang meninggal ketika mencapai puncak kejayaan, dan ada pula yang meninggal setelah mencapai usia yang sangat lanjut, setelah lemah dan pikun.

Allah swt berfirman:

وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ  

Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti? (Y±s³n/36: 68);Kebanyakan orang menginginkan umur yang panjang, tetapi tetap sehat, dan tidak ingin menjadi pikun. Dalam hadis Nabi saw disebutkan:

اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ فِى دُعَائِهِ: أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَالْكَسَلِ وَأَرْذَلِ الْعُمُرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَةِ الدَّجاَّلِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

(رواه البخاري عن أنس بن مالك)

Bahwa Rasulullah saw, mengatakan di dalam do’anya, “Aku berlindung kepada-Mu  ya Allah dari kebakhilan, kemalasan, tua renta (pikun), siksa kubur, fitnah (cobaan) Dajjal dan fitnah (cobaan) di waktu hidup dan di waktu mati.” (Riwayat al-Bukh±r³ dari Anas bin M±lik);Pada saat manusia diberi umur lanjut, kekuatan tubuh mereka berkurang secara bertahap sampai pada taraf dimana mereka seperti dikembalikan pada masa kecil lagi. Mereka menjadi lemah, pikun dan tidak bisa mengingat lagi apa yang pernah diketahuinya.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Maksudnya Dialah yang mengetahui hikmah dari penciptaan manusia dan hikmah diwafatkan. Allah juga Mahakuasa mewafatkan manusia saat masih bayi atau setelah lanjut usia.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 71-74


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Fenomena Tafsir Lisan dan Kajiannya Perspektif Andreas Gorke

0
Andreas Gorke
Andreas Gorke

Penafsiran Al-Qur’an tidak terbatas pada tafsir tulis, melainkan dijumpai dalam tafsir lisan. Bahkan, tafsir lisan sebenarnya telah dimulai jauh sebelum terjadinya tafsir tulisan. Dalam hal ini, Andreas Gorke memberi perhatian khusus tentang kajian tafsir lisan, sebagaimana dalam artikelnya yang berjudul Redefining the Borders of Tafsir: Oral Exegesis, Lay Exegesis and Regional Particularities.

Ada dua hal yang menarik perhatian Andreas Gorke. Satu, kajian tafsir Al-Qur’an cenderung menempatkan diri sebagai pelaku yang memahami Al-Qur’an. Sarjana Al-Qur’an menjadi penafsir Al-Qur’an. Dua, sarjana yang mengkaji tafsir Al-Qur’an masih berpatokan pada sumber tertulis, seperti kitab tafsir dan semacamnya, baik dalam bahasa Arab maupun lainnya, baik yang telah dicetak maupun masih dalam bentuk manuskrip.

Dua hal tersebut seakan menafikan fakta awal, bahwa penafsiran Al-Qur’an pertama kali dilakukan dalam bentuk lisan. Andreas Gorke menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai penafsir bentuk lisan pertama. Ia juga menunjukkan maraknya tafsir lisan dari pasca Nabi Muhammad SAW hingga di media saat ini.

Baca Juga: Mengenal Asma Barlas Sebagai Tokoh Tafsir Feminis

Tentang Andreas Gorke dan Kajiannya

Andreas Gorke adalah sarjana kontemporer sekaligus dosen dalam studi Islam di Universitas Edinburgh. Ia menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Hamburg pada tahun 2001 dan di Universitas Basel pada tahun 2010. Ia juga menjadi peneliti di beberapa tempat sekaligus seperti di Universitas Hamburg, Universitas Basel, Pusat Penelitian Ilmu Sosial Berlin (WZB), Universitas Kiel, dan sebagai professor pada kajian klasik dan awal Islam di Universitas Hamburg.

Andreas Gorke termasuk sarjana yang meminati banyak kajian seputar Islam seperti sejarah Islam awal, sirah Nabi Muhammad SAW, studi Al-Qur’an, dan tafsir Al-Qur’an, Hadis, hukum Islam, manuskrip Arab, dan lainnya. Di antara karyanya adalah Criteria for Dating Early Tafsir Traditions: The Exegetical Traditions and Variant Readings of Abu Mijlaz Lahiq B. Humayd (2021), Tafsir and Islamic Intellectual History: Exploring the Boundaries of a Genre (2015), Redefining the Borders of Tafsir: Oral Exegesis, Lay Exegesis and Regional Particularities (2014), dan lainnya.

Kajian tafsir lisan merupakan bagian dari kajian artikel yang berjudul Redefining the Borders of Tafsir. Buku ini membahas oral tafsir, partial tafsir, lay exegesis, dan regional trends and variety of languages. Terkait oral tafsir atau tafsir lisan, Andreas Gorke mengatakan bahwa sebagian besar dalam tradisi tafsir selama berabad-abad ini tidak lepas dari lisan, yang dapat ditemui secara beragam.

Kemunculan Tafsir Lisan dan Perkembangannya

Menurut Andreas Gorke, fenomena tafsir lisan sebenarnya telah berlangsung sejak era Nabi Muhammad SAW, bahkan tafsir lisan ini merupakan bentuk awal dari tradisi tafsir Al-Qur’an. Nabi Muhammad SAW sendiri dikenal banyak memberikan penjelasan terhadap sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an, yang kemudian banyak direkam dalam kitab-kitab Hadis.

Setelah masa Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada era sahabat, fenomena tafsir lisan ini tidak hilang. Menurut Andreas Gorke bahwa pada era sahabat penjelasan dan penafsiran Al-Qur’an sebagian besar dilakukan dalam bentuk lisan. Lebih jauh, fenomena tafsir lisan terus dilakukan di kemudian hari, sekalipun telah muncul tafsir tulis.

Menurut Andreas Gorke fenomena kekhasan lisan penting dilihat ketika sebuah tafsir telah berbentuk tulis. Seringkali ditemui tafsir tulis, tetapi sebenarnya ia berasal dari tafsir lisan. Perkembangan tafsir lisan ini semakin hari semakin banyak ditemui, bukan hanya dalam konteks Arab, tetapi juga di luarnya. Bahkan, tafsir lisan tersebut akan lebih banyak ditemui di luar Arab.

Selain itu, perkembangan alat elektronik yang menghasilkan alat perekam suara (lisan) berupa audio dan video menjadi bagian penting dan tersendiri dalam menyaksikan perkembangan tafsir lisan yang lebih luas. Hal ini karena data-data tafsir lisan semakin mudah diakses dan dijaga. Termasuk dalam hal ini adalah kehadiran media sosial, yang juga ikut ‘mempromosikan’ bahkan lebih memeriakkan fenomena tafsir lisan dari sebelum-sebelumnya.

Tradisi Tafsir Lisan di Sekitar Kita

Sebenarnya, tradisi tafsir lisan bukan hanya dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW beserta sahabat-sahabat beliau, tetapi juga banyak ditemui di sekeliling kita, terutama di luar wilayah Arab dan didukung adanya berbagai media. Misalnya, seorang guru memberikan pengajian kitab tafsir atau ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian murid menuliskan isi pengajian tersebut. Biasanya ditulis dalam satu buku tertentu, atau di bagian pinggir/tepi salinan Al-Qur’an.

Menurut Andreas Gorke bahwa dalam proses pengajian tersebut, sangat mungkin terjadi penjelasan tambahan yang dilakukan oleh guru tersebut yang tidak tertuang dalam kitab-kitab tafsir. Penjelasan tambahan inilah yang menempatkan guru tersebut melakukan tafsir lisan. Lebih jauh, penjelasan tambahan tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh keilmuan guru (penafsir), keadaan muridnya (audiens), ataupun faktor lainnya.

Dalam kasus lain, pengajaran beserta penjelasan Al-Qur’an (karena multak bagi Al-Qur’an berbahasa Arab), juga menjadi bagian tersendiri maraknya fenomena tafsir lisan. Andreas Gorke mengatakan bahwa sekitar abad 18-19 banyak ditemui penjelasan yang disampaikan dan diajarkan secara lisan daripada tulisan, Termasuk di dunia Melayu-Indonesia. Sebenarnya, model ini masih marak ditemui hingga saat ini, terutama di daerah-daerah kampung di mana masyarakat awam mengandalkan penjelasan lisan dari seorang Kiai atau Ustadz.

Memasuki era media, tafsir lisan memainkan peran penting yang bahkan mengalami perbedaan sebelum era media. Andreas Gorke menilai bahwa sebelum modern (era media), tafsir lisan mungkin hanya berupa sisa-sisa lisan, karena yang ditemui kita saat ini adalah catatan-catatan tafsir, yang merupakan hasil transmisi lisan ke tulis. Beberapa tafsir tampaknya berasal dari penjelasan lisan dari karya-karya tafsir lainnya.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Revisionis John Wansbrough, yang Mempertanyakan Kemurnian Al-Qur’an

Tetapi di era media, data-data tafsir lisan dengan jelas secara gampang ditemukan. Bahkan, menurut Andreas Gorke bahwa karya tafsir modern dan kontemporer awal berasal dari kuliah umum, atau sebagai program televisi atau radio, yang kemudian direkam dalam bentuk tulisan. Terdapat juga bentuk tafsir lisan, dalam bentuk ceramah misalnya, yang disimpan dalam bentuk rekaman kaset, video, podcast, youtube, dan lainnya.

Semua ini, memungkinkan kita untuk mengkajinya dari sudut pandang yang berbeda: antara Tafsir lisan yang telah selesai, atau tafsir lisan yang masih berlangsung. Antara tafsir lisan yang telah berbentuk tulisan, atau yang masih dalam bentuk lisan yang tersimpan di audi dan video. Singkatnya, tafsir lisan adalah bentuk awal penafsiran itu sendiri, yang muncul secara beragam sepanjang perkembangan zaman, dan karenanya menghasilkan bentuk kajian yang khas juga. []

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 67-68

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 67-68 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai tanda-tanda kekuasaan Allah pada sesuatu yang lain, yaitu buah kurma dan anggur. Kedua berbicara mengenai kekuasaan Allah pada seekor lebah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 63-66


Ayat 67

Selanjutnya, Allah swt meminta para hamba-Nya agar memperhati-kan buah kurma dan anggur. Dari kedua buah-buahan itu, manusia dapat memproduksi sakar, yaitu minuman memabukkan yang diharamkan dan minuman baik yang dihalalkan.

Sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas menjelaskan, “Sakar ialah minuman yang diharamkan yang berasal dari buah kurma dan anggur. Rezeki yang baik ialah makanan halal yang bisa diproduksi dari kurma dan anggur.

Jadi dari kurma dan anggur, manusia dapat memproduksi berbagai jenis makanan. Di antaranya ada yang memudaratkan dan ada yang bermanfaat. Yang memudaratkan dilarang oleh agama, sedang yang bermanfaat dibolehkan untuk diproduksi. Dengan demikian, ayat ini sudah mengandung isyarat bagi mereka yang berpikiran suci bahwa meminum minuman keras haram hukumnya dan tidak boleh diproduksi.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa dalam penciptaan kedua macam tumbuh-tumbuhan itu terdapat tanda-tanda yang jelas untuk menunjukkan keesaan Tuhan bagi orang-orang yang mempergunakan pikirannya untuk meneliti, memperhatikan, dan mengambil pelajaran dari penciptaan tumbuh-tumbuhan yang disebutkan dalam ayat itu.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Apakah Berwudhu Diwajibkan Niat Terlebih Dahulu?


Ayat 68

Kemudian Allah swt meminta perhatian para hamba-Nya agar memperhatikan lebah. Allah telah memberikan naluri kepada lebah sehingga mempunyai kemahiran untuk membuat sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon dan bangunan-bangunan yang didirikan manusia.

Seorang yang mau memperhatikan bagaimana kemahiran lebah membuat sarangnya, tentu ia akan takjub. Sarang lebah terbuat dari bahan serupa lilin dan mempunyai bentuk segi enam berangkai yang menurut para ahli struktur bangunan merupakan ruang yang paling banyak memuat isi dibanding dengan segi-segi lain.

Apabila diperhatikan bobotnya, sarang lebah itu sangat ringan, tetapi dapat menahan beban yang berat yaitu madu, telur, dan embrio-embrionya. Hal ini juga menjadi bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha Esa.

Ayat di atas menggambarkan perikehidupan lebah madu secara singkat namun akurat sebagai berikut.

1. “…Buatlah sarang-sarang pada sebagian pegunungan dan sebagian pepohonan, dan pada sebagian tempat-tempat tinggi yang mereka buat…”. Kelompok lebah diperkirakan terdiri atas, paling tidak, 20.000 jenis.

Masing-masing jenis memiliki cara sendiri-sendiri dalam membuat sarangnya. Mereka menggunakan semua sarana, mulai dari gua-gua yang terletak di pegunungan, lubang-lubang pada pohon tua, atau membuat sarang sendiri dan menggantungnya pada cabang pohon. Mengingat ayat ini ditujukan khusus untuk lebah madu, maka uraian tentang sarang lebah madu akan diuraikan secara lebih rinci.

Sarang lebah madu, atau lebah pada umumnya, merupakan tempat yang strategis dan sentral untuk seluruh kehidupan kelompok. Mulai dari tempat mengasuh anakan (larva) sampai dengan pusat informasi, semuanya ada di sarang.

Sarang lebah madu terdiri atas  bilik-bilik yang berupa lubang-lubang segi enam (hexagonal) yang nyaris sempurna. Para ahli konstruksi mengakui bahwa bentuk segi enam adalah bentuk yang paling kuat, menghemat bahan dan ruangan. Bentuk tersebut juga mencegah serangga lain masuk di sela-sela bilik dan membuat sarang.

  1. “…Kemudian makanlah dari setiap buah-buahan….” Bahan utama yang dijadikan makanan lebah madu adalah nektar, suatu cairan manis yang terdapat pada bunga. Sedangkan jenis-jenis lebah lainnya ada juga yang memperoleh makanan dari sari buah-buahan.
  2. “…Dan tempuhlah jalan-jalan Tuhanmu dalam keadaan mudah’….” Dalam proses pencarian lapangan bunga, beberapa lebah pekerja dikirim sebagai pemandu untuk mencari daerah yang potensial. Mereka dapat terbang sampai sejauh lima kilometer dan akan terus mencari sampai menemukan jumlah yang cukup untuk dipanen untuk kemudian disampaikan kepada lebah lainnya.;“Allah mewahyukan kepada lebah” mengandung arti kiasan.

Mengapa wahyu yang biasa diturunkan kepada manusia itu bisa diturunkan kepada bangsa lebah. Kita harus memahami ayat ini dengan memahami apa fungsi dan tujuan dari Allah menurunkan wahyu. Wahyu bertujuan untuk memberikan petunjuk. Jadi Allah memberikan petunjuk kepada bangsa lebah untuk ditaati sepanjang hidupnya oleh setiap lebah sampai kiamat.

Berbeda dengan manusia, dimana ada yang taat dan  ada pula yang membangkang bahkan dan yang mendustakan wahyu dari Allah swt. Lebah (dan binatang maupun tumbuhan lainnya) tanpa terkecuali akan menaati dan menjadikan-nya sebagai pegangan dan petunjuk hidupnya

Dalam ayat ini, petunjuk Allah adalah untuk membuat sarang (lebah) pada tempat-tempat yang dibuat manusia. Ini artinya  bahwa Allah menolong manusia untuk membudidayakan dan memanfaatkannya seperti yang dijelaskan dalam An-Naḥl 16:69.

Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari dunia tumbuhan, dan beberapa di antaranya sangat bermanfaat setelah diproses lebih lanjut oleh binatang, misalnya madu yang diperoleh dari aktivitas lebah madu.

Aristoteles adalah orang pertama yang menekuni dan mempelajari lebah madu. Walaupun banyak teorinya yang tidak masuk akal, apabila dikaji dengan pengetahuan saat ini, namun harus diakui bahwa dialah pionir dalam penelitian dan pengungkapan perikehidupan lebah.

Perhatian manusia diper-kirakan sudah dimulai  antara 8.000 sampai 15.000 tahun yang lalu.  Banyak lukisan-lukisan di dinding gua prehestorik yang memperlihatkan bagaimana manusia memanen madu dari sarang lebah madu. Pemeliharaan lebah diduga dimulai di Mesir sekitar tahun 2400 SM.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 69-70


(Tafsir Kemenag)