Beranda blog Halaman 306

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 26-27

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 26-27 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai tipu daya yang dilakukan orang-orang musyrik. Tipu daya itu hanya akan mencelakakan mereka sendiri. Kedua mengenai siksaan yang menanti di akhirat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 24-25


Ayat 26

Allah menjelaskan bahwa tipu daya orang-orang musyrik itu hanya akan mencelakakan diri mereka sendiri. Mereka akan mengalami penderitaan seperti yang dirasakan oleh umat-umat terdahulu dimana mereka juga mendustakan rasul-rasul mereka dengan berbagai macam tipu daya dan berbagai macam alasan.

Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan Fir’aun ketika ia meminta menterinya untuk membangun menara yang tinggi guna melihat Tuhan Musa a.s.

Firman Allah:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يٰهَامٰنُ ابْنِ لِيْ صَرْحًا لَّعَلِّيْٓ اَبْلُغُ الْاَسْبَابَۙ  ٣٦  اَسْبَابَ السَّمٰوٰتِ فَاَطَّلِعَ اِلٰٓى اِلٰهِ مُوْسٰى وَاِنِّيْ لَاَظُنُّهٗ كَاذِبًا ۗوَكَذٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيْلِ ۗوَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ اِلَّا فِيْ تَبَابٍ ࣖ   ٣٧ 

Dan Fir’aun berkata, ”Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa, tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta.” Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir’aun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (al-Mu’min/40: 36-37)

Kemudian Allah swt melukiskan bahwa tipu daya yang mereka lakukan terhadap Rasulullah saw bagaikan orang-orang yang membangun rumah. Setelah rumah itu jadi, Allah menghancurkan rumah itu dari fondasinya.

Setelah pondasi itu hancur dan tiang-tiangnya mulai berjatuhan, berguguranlah atap dan seluruh bangunannya, sehingga menimpa diri mereka sendiri. Mereka sendiri tidak merasakan sebelumnya apa yang akan terjadi dan akibat apa yang harus mereka terima terhadap perbuatan yang mereka lakukan itu.

Akibat dari perbuatan mereka itu tidak saja menghancurkan diri mereka sendiri, tetapi juga menghancurkan keluarga dan keturunan mereka. Hal itu merupakan gambaran yang tepat bagaimana Allah swt menggagalkan tipu daya mereka.

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa mereka itu akan mendapat azab pada saat yang tidak mereka duga sebelumnya dan tidak pula mereka sadari. Hal ini menunjukkan bahwa akibat yang mereka temui tidaklah seperti yang mereka duga sebelumnya.

Apa yang terjadi pada umat terdahulu berlaku pula bagi umat Islam, di mana mereka mengira bahwa dengan berbagai macam tipu daya, mereka dapat menghalang-halangi dan menghancurkan dakwah Islam.

Akan tetapi justru sebaliknya, dakwah  Islam makin lama makin meluas dan semangat pengikut-pengikutnya makin lama makin membaja. Akhirnya mereka akan mengalami kehancuran di berbagai medan pertempuran terutama pada saat terjadinya perang Badar.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Hajj Ayat 39: Perang itu Diizinkan Bukan Diperintahkan


Ayat 27

Malapetaka tersebut di atas merupakan azab dunia bagi mereka, sedangkan di akhirat Allah swt akan memberikan siksaan yang pedih dan mereka akan merasakan kehinaan yang tiada taranya. Kehinaan mereka digambarkan dengan keadaan mereka yang bingung, mencari sekutu-sekutu mereka yang dahulu pernah mengajak mereka untuk melakukan tipu daya.

Mereka menyesal karena orang-orang yang dahulu mengajak mereka tidak lagi dapat memberikan dukungan kepada mereka untuk melepaskan diri mereka dari siksa Allah. Sebab pada saat itu, manusia tidak mempunyai kekuatan dan tidak pula ada yang dapat memberikan pertolongan.

Firman Allah:

فَمَا لَهٗ مِنْ قُوَّةٍ وَّلَا نَاصِرٍ

Maka manusia tidak lagi mempunyai suatu kekuatan dan tidak (pula) ada penolong. (at-Tariq/86: 10)

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa pada hari kebangkitan, orang-orang yang telah diberi ilmu, yaitu orang-orang yang mengetahui dan mengikuti petunjuk-petunjuk wahyu dan yakin akan kebenaran hidayah yang diterimanya, serta meyakini keesaan Allah dan kerasulan Muhammad, akan tersenyum dengan penuh kepuasan.

Mereka mengatakan bahwa kehinaan dan azab pada hari itu benar-benar ditimpakan kepada orang-orang kafir akibat mengingkari Allah, memusuhi para rasul-Nya, dan mendustakan akan terjadinya hari kebangkitan.

Firman Allah:

فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ  ٣٤  عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ  ٣٥ 

Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan. (al-Mutaffifin/83: 34-35)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 28-31


(Tafsir Kemenag)

 

Kontradiksi Penafsiran Al-Quran Surah Al-A’raf Ayat 52

0
kontradiksi penafsiran Al-Quran
kontradiksi penafsiran Al-Quran

“Makna dalam teks-teks Al-Qur’ān adalah produk penafsiran manusia (a product of human interpretation). Penafsir Al-Qur’ān lah pihak yang berperan aktif dalam memproduksi makna.” Saya ingin meneguhkan kembali tesis utama risalah ini. Karena penafsir tidak pernah satu dan sama dalam tradisi penafsiran, maka makna yang diproduksi oleh penafsir yang beragam itu pun menjadi kontradiktif. Hal ini terefleksikan pada penafsiran atas makna fasala, yang akar katanya, f-s-l, dipakai sekitar 43 kali dalam Al-Qur’ān dalam konteks yang variatif. Selama ini, pemahaman umum tentang makna fasala merujuk pada karakter Qur’ān yang jelas dan detail.

Baca Juga: Lokus Makna Al-Quran: Otoritas Teks atau Otoritas Penafsir?

Penafsiran Al-Quran yang kontradiktif atas frasa fassal

Al-Qur’ān surah Al-A’raf [7]: 52, misalnya. Ayat ini diterjemahkan dan ditafsirkan dengan makna bahwa Tuhan menjelaskan Kitab Al-Qur’ān secara jelas dan detail. Penafsir Islam modern, ‘Abdullah Yusuf Ali (w. 1953), menerjemahkan Al-Qur’ān surah Al-A’raf [7]: 52, “For We had certainly sent unto them a Book, based on knowledge, which We explained in detail, a guide and mercy to all who believe.

Pemaknaan yang sama juga dapat ditemukan dalam karya Habib Shakir, seorang hakim di Mesir, yang menerjemahkannya seperti berikut: “And certainly We have brought them a Book, which We had made clear with knowledge, a guidance and mercy for people who believe.” Frase fassalnāhu dalam dua karya Muslim modern yang populer itu diterjemahkan dan, dengan sendirinya, ditafsirkan sebagai rujukan atas makna bahwa “Tuhan menjelaskan Al-Qur’ān secara detail dan jelas.”

Pemaknaan atas Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 di Islam modern ini sebenarnya hanyalah replika pemikiran dari tradisi penafsiran Al-Quran pada periode awal dan pertengahan Islam. Adalah Abū Ja‘far b. Jarīr Ath-Thabarī (w. 310/923) yang menafsirkan Al-Qur’ān surah Al-A’raf [7]: 52 sebagai rujukan atas karakter Al-Qur’ān yang jelas dan detail.

Baca Juga: Konflik Bacaan Al-Quran, Preferensi Bacaan atas Surah Al-Isra Ayat 106

Kontradiksi penafsiran Ath-Thabari dan Al-Maturidi

Dalam karya tafsirnya yang momumental, Jāmi‘ albayān ‘an ta’wīl āy Al-Qur’ān, 30 vol. (Cairo: Mustafa al-Bābī Al-Halabī, 1986), Ath-Thabarī menafsirkan frase fassalnāhu dalam Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 dengan makna “untuk menjelaskan, membedakan antara kebenaran dan kepalsuan” (mufassilan, mubayyinan fīhi al-haqq min al-bāthil). Yang sungguh mengejutkan adalah Ath-Thabarī tidak mempresentasikan keragaman opini, seperti kebiasaannya, dengan hanya memproduksi penafsiran yang tunggal dan monolitik.

Hal ini memberikan suatu indikasi kuat bahwa frase fassalnāhu telah disepakati maknanya secara konsensus oleh komunitas penafsir, sehingga terjadi proses stabilisasi makna yang pasti (the fixation of meaning). Yakni, Tuhan telah menurunkan Kitab Al-Qur’ān secara jelas dan detail (mufassilan), sehingga Kitab itu dapat berfungsi sebagai pembeda/ distingsi (mubayyinan) antara kebenaran dan kebatilan.

Dalam genre tafsīr, kebenaran atas makna ini sudah mencapai status konsensus dalam otoritas komunitas penafsir dan, konsekuensinya, makna yang disepakati itu memperoleh legitimasi yang kuat secara keagamaan, sehingga validitas kebenarannya nyaris tidak pernah dipertanyakan lagi.

Baca Juga: Tafsir Al-Qur’an Bersifat Multivokal, Ini Tiga Alasannya

Seorang teolog, penafsir dan fakih, Abū Mansūr al-Matūrīdī (w. 333/944), melakukan terobosan penafsiran inovatif atas Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 yang sudah terlanjur mengalami stabilisasi makna yang pasti dalam rentang waktu yang panjang.

Dalam karyanya yang multi-volume, Ta’wīlāt Al-Qur’ān (Turkey: Dār al-Mīzān, 2005-2011, 18 volumes), al-Māturīdī menafsirkan fassalnāhu dalam Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 yang sama sekali tidak lazim di kalangan ortodoksi Islam Sunni dan Shi’i sekalipun. Sembari mengakui kemungkinan makna umum fassalnāhu sebagai rujukan atas titah Tuhan sendiri, (1), yang menjelaskan Kitab secara detail (explained in detail), (2) yang membuat Qur’ān jelas (to make the Qur’ān clear), dan (3) yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan (to distinguish between truth and falsehood).

Al-Māturīdī juga mengeksplorasi penafsiran atas kemungkinan makna baru fassalnāhu yang selama ini tidak pernah disajikan dan diperbincangkan dalam tradisi penafsiran Al-Quran. Yakni, pemaknaan baru fassalnāhu itu merujuk pada karakter utama pewahyuan Al-Qur’ān yang bersifat gradual, sedikit demi sedikit, dan tidak turun sekaligus (jumlatan wāhidatan, all at once). Secara lebih spesifik, menurut al-Māturīdī, bahwa makna baru fassalnāhu dalam Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 adalah pewahyuan Al-Qur’ān yang bersifat gradual itu sendiri, sebagaimana ia analisis secara sangat meyakinkan di bawah ini:

“Kami telah menurunkan atau membagi Al-Qur’an menjadi beberapa bagian selama proses pewahyuannya dan Kami tidak mengirimkannya [kepada Muhammad] dalam satu wahyu sekaligus (jumlatan wāhidatan), seperti dalam firman Tuhan: Dan Qur’an yang Kami telah turunkan menjadi beberapa bagian atau potongan, sehingga kamu [Muhammad] dapat membacakannya kepada orang-orang dengan tidak tergesa-gesa (Al-Qur’an, surah Al-Isra [17]: 106), yaitu, Kami telah membagi Al-Qur’an menjadi bagian-bagian atau potongan-potongan selama proses pewahyuannya sesuai dengan peristiwa atau keadaan tertentu (‘alā qadr al-nawāzil) agar mereka [orang-orang] mengetahui makna hukum dari setiap ayat sesuai dengan peristiwa, keadaan, atau peristiwa yang mendorong turunnya wahyu tertentu. Atau Tuhan menurunkan Al-Qur’ān sedikit demi sedikit (mufarraqan, terpisah) karena lebih mudah (ahwan wa-aisar) bagi orang-orang untuk memahami hukum-hukum Tuhan jika Al-Qur’an diturunkan sebagian atau potongan-potongan kecil (bi-al-tafārīq), bukan secara keseluruhan atau lengkap” (jumlatan) (al-Matūrīdī, Ta’wīlāt Al-Qur’ān, Turkey: Dār al-Mīzān, 2005-2011, vol. 5:362).

Penafsiran brilian al-Māturīdī atas makna fassalnāhu dalam Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 memberikan sumbangsih terbesar dalam tradisi penafsiran Al-Quran yang multivokal dan kontradiktif. Makna fassalnāhu tidak melulu ditafsirkan sebagai kehendak Tuhan untuk menjelaskan Kitab-Nya secara detail dan sekaligus membedakan antara kebenaran dan kebatilan, tetapi juga ditafsirkan dengan makna baru, yakni Tuhan yang mewahyukan Al-Qur’ān secara gradual, sedikit demi sedikit, tidak sekaligus.

Apakah dua makna fassalnāhu dalam Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 yang kontradiktif itu bersumber dari Tuhan? Tidak! Itulah kesimpulan saya melalui risalah ini, karena dua makna yang kontradiktif itu sejatinya hanya bersumber dari pikiran manusia itu sendiri, yakni pikiran penafsir Al-Qur’ān. Makna dalam teks Al-Qur’ān, dengan demikian, bukanlah makna yang diwahyukan oleh Tuhan dalam peristiwa yang transhistoris, tetapi makna yang dikonstruksikan secara historis oleh penafsir Al-Qur’ān itu sendiri.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 24-25

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 24-25 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai sifat sombong dari orang-orang musyrik ketika mereka menganggap al-Qur’an adalah dongeng kitab kuno. Kedua mengenai dosa dari apa yang mereka perbuat itu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 22-23


Ayat 24

Allah swt menjelaskan kesombongan orang-orang musyrik, yaitu apabila ditanyakan kepada mereka apakah yang telah diturunkan oleh Allah? Mereka pun menjawab bahwa Allah tidak menurunkan apa pun juga kepada Muhammad. Apa yang dibacakan oleh Muhammad itu tiada lain hanyalah dongeng-dongeng orang-orang dahulu yang ia ambil dari kitab kuno.

Ucapan seperti itu menggambarkan kesombongan mereka terhadap diri Rasulullah dan kepada firman Allah.

Allah swt berfirman :

وَقَالُوْٓا اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلٰى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا

Dan mereka berkata, ”(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (al-Furqan/25: 5)

Kesombongan mereka terhadap Nabi Muhammad digambarkan dengan kata-kata seperti tuduhan mereka bahwa Nabi Muhammad itu tukang sihir, penyair, dan tukang tenung. Bahkan ada yang secara berlebih-lebihan menuduhnya sebagai orang gila. Kesombongan mereka kepada Nabi Muhammad saw bukan saja terlihat dari ucapan-ucapan mereka akan tetapi betul-betul telah merasuki jiwa dan darah daging mereka.

Allah swt berfirman:

اِنَّهٗ فَكَّرَ وَقَدَّرَۙ   ١٨  فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَۙ   ١٩  ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَۙ   ٢٠  ثُمَّ نَظَرَۙ   ٢١  ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَۙ   ٢٢  ثُمَّ اَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَۙ   ٢٣  فَقَالَ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ يُّؤْثَرُۙ   ٢٤  اِنْ هٰذَآ اِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِۗ   ٢٥

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia (merenung) memikirkan, lalu berwajah masam dan cemberut, kemudian berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, ”(Al-Qur’an) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini hanyalah perkataan manusia.” (al-Muddassir/74: 18-25)


Baca juga: Al-Wujuh dan Al-Nazhair Kata Shalat pada Al-Qur’an


Ayat 25

Allah swt menjelaskan bahwa ucapan mereka yang congkak itu menyebabkan mereka harus memikul dosa-dosa mereka sendiri dan dosa orang-orang yang secara taklid buta mengikuti ucapan itu.

Orang yang mengikuti disamakan hukumnya dengan orang yang diikuti karena mereka masing-masing telah diberi akal untuk menilai ucapan orang-orang yang diikuti itu. Akan tetapi, mereka tidak menggunakan akal itu sehingga mereka mengikuti tanpa dasar pijakan sedikit pun.

Sedangkan orang yang diikuti, di samping menanggung dosa sendiri, juga menanggung dosa orang yang disesatkan. Mereka dianggap sebagai penyesat dan penyebab orang-orang lain berkeyakinan seperti keyakinan mereka. Sabda Rasulullah saw:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ لَهُ مِنَ اْلأِثْمِ مِثْلُ اٰثَاِم مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ اٰثَامِهِمْ شَيْئًا.

(رواه أحمد ومسلم عن أبي هريرة)

Barang siapa mengajak orang-orang kepada petunjuk (agama Islam), maka ia memperoleh pahala orang-orang yang mengikutinya, dan hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan ia memperoleh dosa seperti dosa-dosa yang mengikuti, yang hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun. (Riwayat Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah)

Dan firman Allah:

وَلَيَحْمِلُنَّ اَثْقَالَهُمْ وَاَثْقَالًا مَّعَ اَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْـَٔلُنَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَمَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ࣖ

Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka, dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan. (al-‘Ankabµt/29: 13)

Mereka diancam dengan ancaman yang berat karena menilai firman Allah yang disampaikan kepada Rasulullah dengan penilaian yang tidak wajar. Mereka telah mengotori pikiran dan jiwa mereka sendiri sehingga mereka berani berbuat berbagai macam tipu daya untuk menjatuhkan pribadi Rasul di hadapan para pengikutnya.

Mereka diberi ancaman keras karena perbuatan dosa yang mereka lakukan. Bahkan mereka memikul dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya pada hari akhir. Lalu Allah menyatakan bahwa dosa yang mereka pikul itu adalah dosa yang paling berat.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 26-27


(Tafsir Kemenag)

Kritik Aliran Sastrawi terhadap Aliran Ilmi dalam Bingkai Penafsiran Al-Quran Era Modern

0
Kritik Aliran Sastrawi terhadap Aliran Ilmiah dalam Penafsiran Al-Qur'an Modern
Kritik Aliran Sastrawi terhadap Aliran Ilmiah dalam Penafsiran Al-Qur'an Modern

Era modern merupakan titik balik bagi sarjana muslim dalam melakukan pembaruan intelektual di dunia Muslim setelah mengalami kebekuan yang cukup lama. Pembaruan intelektual tersebut hampir nyaris terjadi di semua disiplin keilmuan yang telah mapan dalam Islam, tak terkecuali pada bidang penafsiran Al-Quran. Ciri khas penafsiran Al-Quran era modern tidak lagi mengomentari teks dengan kutipan teks, otoritas sanad, dan sifatnya lebih mengkontekstualisasikan interpretasi dengan realitas zaman.

Aliran yang cukup populer dalam penafsiran Al-Quran era modern salah satunya adalah penafsiran ilmi (al-tafsir al-‘imi), yang berusaha mendekatkan argumentasi saintifik dengan ayat-ayat Al-Quran. Namun, dalam perkembangan tafsir Al-Quran, aliran ini mendapat kritikan yang tajam dari penafsiran sastrawi modern yang datang setelahnya dan tak kalah populernya.

Baca Juga: Potret Penafsiran Al-Quran Hari Ini: Era Modern-Kontemporer

Dua tren penafsiran Al-Quran era modern: aliran ilmi dan sastrawi

Dalam pembaruan penafsiran Al-Quran era modern, tepatnya pada abad 19, penafsiran bercorak ilmi menyita perhatian mufasir. Penafsiran Al-Quran dengan pendekatan saintifik mengalami kebangkitan kembali dengan munculnya pelopor seperti Tantawi Jawhari yang meluncurkan karya tafsirnya Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Yūsuf al-Qaraḍāwī sebagai salah satu ulama otoritatif era modern menganggap penasiran ilmi merupakan satu penafsiran yang penting. Ini dibuktikan dengan ditulisnya satu bab khusus oleh Al-Qaraḍāwī mengenai al-tafsir al-‘imi dalam bukunya yang berjudul Kayfa Nataʿāmal maʿa al-Qurʾān al-ʿAẓīm.

Aliran penafsiran ilmi semakin dikukuhkan menjadi tren penafsiran modern dengan agumentasi ʿAbdallāh Shiḥāta dalam karyanya, ʿUlūm al-Tafsīr yang menyatakan bahwa penafsiran ilmi merupakan satu pendekatan yang sudah mapan. Aliran ini sebenarnya mencoba membantah argumentasi para sarjana Barat yang berusaha membenturkan antara agama dan sains modern, teknologi, dan penemuan ilmiah. Konsep i’jaz al-Qur’an dengan pendekatan penafsiran ini mendapatkan validasi dan ruang yang kukuh sebagai kebenaran ilmu.

Jenis aliran kedua yang juga menjadi tren penafsiran modern adalah tafsir sastrawi. Aliran tafsir tersebut digawangi oleh Amīn Al-Khūlī, ia merumuskan banyak fomulasi linguistik sastra untuk menafsirkan Al-Quran sebagaimana dalam karyanya Manahij Tajdid fi al-Nahwi wa al-Balaghah wa al-Tafsir wa al-Adab dll.

Kerja akademik Al-Khūlī kemudian dikembangkan lebih dalam oleh istrinya, ʿĀisha ʿAbd al-Raḥmān Bint al-Shātịʾ dengan menulis tafsir Al-Quran berdasarkan rumusan sastra tersebut,  Al-Qurʾān wa al-Tafsir al-ʿAṣrī. Kerja utama dari aliran ini adalah meremajakan kembali tradisi sastra Arab (al-Balaghah) sebagai alat memahami Al-Quran dengan interpretasi yang lebih relevan.

Kedua tren tafsir era modern tersebut sebagaimana tesis yang dikemukakan oleh Suruq Naguib dalam jurnal The Hermeneutics of Miracle: Evolution, Eloquence, and the Critique of Scientific Exegesis in the Literary School of tafsīr, jika ditelisik lebih ke atas sedikit ternyata berangkat dari akar teologis yang sama yaitu beranjak dari pemikiran Muhammad ʿAbduh. Pada prinsipnya, pemikiran ʿAbduh adalah melakukan reformasi pola pikir umat Islam agar maju dengan perkembangan zaman.

Baca Juga: Amin Al-Khuli: Mufasir Modern Yang Mengusung Tafsir Sastrawi

Kritik aliran penafsiran sastrawi terhadap penafsiran ilmi

Sebagaimana diketahui di muka, ada dua tren aliran dalam penafsiran Al-Quran era modern, yang ternyata punya satu hilir pijakan yaitu berasal dari pemikiran ʿAbduh. Namun, menariknya kedua aliran tersebut tidak bisa dikatakan senafas. Terjadi ketegangan sengit di antara keduanya. Aliran penafsiran ilmi mendapat hujaman kritik dari aliran sastrawi. Amīn Al-Khūlī, sebagaimana diungkapkan H{usayn al-Dhahabī’ dalam Al-Tafsīr wa al-Mufassirūn, merupakan seorang kritikus aliran ilmiah dengan mengusung genre baru tafsir sastrawinya tersebut.

Di buku karangannya, Kitāb al-Khayr, Al-Khūlī mengungkapkan dua keberatan filosofisnya atas penafsiran ilmi. Pertama, menurut Al-Khūlī, penafsiran ilmi Al-Quran mengabaikan tujuan utama terhadap eksistensi teks asli yang dapat memberikan panduan etis. Kedua, penafsiran ilmi pasti sifatnya sangat dangkal dan lemah, karena Al-Quran hanya memberikan sedikit rincian mengenai hal-hal saintifik, tidak seluruhnya, ditambah pemahaman kita pasti tidak lengkap tentang data-data alam semesta.

Kritik Al-Khūlī tersebut ia jabarkan lebih lanjut dalam artikelnya yang berjudul Al-Khūlī al-Tafsir. Dengan menambahkan dukungan dari sarjana Andalusia, Al-Shātịbī, Al-Khūlī membangun kontra-narasinya atas penafsiran ilmi dengan menyuguhkan tiga argumentasi. Ketiga argumentasi tersebut adalah linguistik, estetika sastra (al-balagha), dan interpretasi relijius yang seluruhnya merupakan dimensi tekstualitas Al-Qur’an.

Argumentasi linguistik menekankan ‘evolusi leksikal’ (tadarruj al-dalāla) dari kata-kata Al-Quran yag sifatnya historis untuk menentukan suatu makna. Bagi Al-Khūlī, kata-kata dalam Al-Qur’an dapat memperoleh konotasi yang baru dengan melakukan analisis sejarah-filologis, yaitu menelusuri konteks makna itu muncul dan digunakan.

Dengan ini, penafsir dapat mencocokkan kata Al-Quran dengan konotasi yang paling sesuai dengan konteks wahyu. Ini pulalah yang menjadi letak tolak Al-Khūlī terhadap penafsiran ilmi, bahwa penafsiran ilmi adalah ahistoris dan bertentangan dengan istilah-istilah Al-Quran konteks wahyu turun.

Baca Juga: Pro Kontra Tafsir Ilmi dan Cara Menyikapinya (2): Ulama Kontra

Argumentasi estetika sastra melanjutkan kerja argumen linguistik. Al-Khūlī mendasarkan argumentasinya tersebut pada teori al-balāgha klasik “mutạ̄baqat al-kalām li-muqtaḍā al-ḥāl” (kesesuaian antara ucapan dengan konteks situasi). Argumen ini menyingkap penafsiran ilmi yang menghasilkan implikasi pemahaman bahwa penerima wahyu Al-Qur’an gagal memahami persyaratan situasi, dan ini bertentangan dengan kaidah al-balāgha tersebut.

Argumentasi terakhir soal interpretasi religius Al-Quran. Argumentasi ini menitikberatkan tentang pesan Al-Quran yang harus progresif dan relevan. Hermeneutika yang dikembangkan Al-Khūlī sifatnya menstabilkan teks, sedangkan penafsiran ilmi bersifat fluktuatif sehingga sangat mudah dipatahkan oleh penemuan yang lebih baru. Hanya kajian historis-kontekstual teks lah menurut Al-Khūlī yang akan menstabilkan aspek kebahasaannya, dan dengan perangkat al-balāgha-reformasi sebagai kritik sastra akan memungkinkan interpretasi Al-Quran yag lebih terbuka sepanjang masa.

Bint al-Shātị̄ʾ, melanjutkan serta mengembangkan bangunan proyek aliran sastrawi dari Al-Khūlī, suami sekaligus gurunya tersebut. Ia melengkapi karya Al-Khūlī denga memperbaharui konsep pada i’jaz al-Qur’an. Kemukjizatan Al-Quran dapat dipahami dengan pendekatan aspek linguistik-sastra, bukan dengan teori-teori saintifik yang ahistoris.

Adanya kritik dari aliran sastrawi terhadap aliran ilmiah ini makin memperlebar garis patahan di antara keduanya, terutama soal konsep i’jaz al-Qur’an. Aliran sastrawi menanggap i’jaz hanya bisa disentuh dengan pendekatan linguistik-sastra, sedang aliran ilmiah kukuh memegang asumsi i’jaz dapat valid hanya dengan pendekatan ilmiah. Terlepas dari itu semua, perbedaan-perbedaan dan kritik tersebut justru memperkaya diskursus disiplin studi Al-Quran. Hal itu justru semakin memudahkan umat dalam menentukan jalan kebenaran sesuai pilhan masing-masing. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 22-23

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 22-23 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai pernyataan Allah bahwa seluruh manusia wajib meng-EsakanNya. Kedua berbicara mengenai keingkaran orang-orang kafir terhadap wahyu Allah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 17-21


Ayat 22

Allah swt menjelaskan bahwa Tuhan yang wajib disembah dan ditaati oleh seluruh manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Penegasan dengan Yang Maha Esa, memberikan pengertian yang pantas disembah hanyalah Dia. Oleh sebab itu, Dia pulalah yang wajib ditaati oleh seluruh manusia dan tidak boleh mengangkat tuhan-tuhan yang lain sebagai sekutu-Nya.

Sesudah itu, dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang kafir mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain karena tidak mau mengakui keesaan Allah, janji dan ancaman-Nya, serta terjadinya hari akhir.

Itulah sebabnya maka mereka membangkang terhadap apa saja yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, meskipun berita yang disampaikan itu mengandung berita tentang kekuasaan dan kebenaran Allah serta luasnya nikmat yang diberikan kepada manusia.

Hati mereka telah tertutup, meskipun telah diberitakan kepada mereka bahwa peribadatan mereka itu tidak benar. Seharusnya yang berhak disembah ialah Allah Yang Maha Esa, namun mereka tetap tidak mau percaya.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang sombong dan tidak mau menerima kebenaran. Mereka tidak mau tunduk kepada kebenaran, tetap mengingkarinya, dan bertaklid buta mengikuti nenek moyang mereka.

Allah swt berfirman:

اَجَعَلَ الْاٰلِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ 

Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. (Sad/38: 5)

وَاِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَحْدَهُ اشْمَـَٔزَّتْ قُلُوْبُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِۚ وَاِذَا ذُكِرَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ 

Dan apabila yang disebut hanya nama Allah, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira. (az-Zumar/39: 45)

بَلْ قَالُوْٓا اِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّهْتَدُوْنَ   ٢٢  وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ  ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ  ٢٣ 

Bahkan mereka berkata, ”Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.” Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ”Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.” (az-Zukhruf/43: 22-23)


Baca juga: Surah Al-Hajj [22] Ayat 36-37: Dua Tujuan Ibadah Kurban


Ayat 23

Tidak dapat diragukan lagi, sesungguhnya Allah telah mengetahui keingkaran orang-orang musyrik itu terhadap wahyu yang telah diberikan kepada Nabi Muhammad saw yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Allah juga mengetahui apa yang mereka nyatakan terhadap Nabi Muhammad saw serta tuduhan mereka bahwa beliau membuat berita-berita palsu.

Di akhir ayat dijelaskan bahwa Allah tidak suka kepada orang-orang sombong yang tidak mau percaya kepada keesaan-Nya dan enggan mengikuti seruan para nabi dan rasul-Nya. Pernyataan ini menunjukkan betapa murka dan bencinya Allah kepada mereka dan sikap mereka yang tidak mengerti akan kedudukan diri mereka.

Di ayat lain, Allah swt mengancam bahwa orang-orang yang sombong akan dimasukkan ke neraka Jahanam. Allah swt berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ 

Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (al-Mu’min/40: 60)

Rasulullah saw bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ وَلاَ يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ اِيْمَانٍ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَلرَّجُلُ يُحِبُّ اَنْ يَكُوْنَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنًا؟ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ. اَلْكِبْرُ بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

(رواه مسلم وأبو داود و الترمذي وابن ماجه عن ابن مسعود)

Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan sebiji sawi, dan tidak akan masuk neraka orang yang di hatinya ada iman sebiji sawi, kemudian berkatalah seorang laki-laki, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau seorang laki-laki ingin agar bajunya bagus dan sandalnya bagus? Kemudian Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah indah, menyukai keindahan. Kesombongan itu ialah tidak mau menerima kebenaran dan menghina manusia.” (Riwayat Muslim, Abu Dawud, at-Tirmizi, dan Ibnu Majah, dari Ibnu Mas’ud)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 24-25


(Tafsir Kemenag)

 

Makna Fahsya’ dan Munkar dalam Al-Qur’an, Mirip Namun Tak Sama

0
Makna Fahsya’ dan Munkar dalam Al-Qur’an, Mirip Namun Tak Sama
Makna Fahsya’ dan Munkar dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an sebagai mukjizat nan agung dengan upper class literature memang sudah tidak dapat diragukan lagi eksistensinya. Berbagai bentuk derivasi kata dengan makna nan elok yang dikandung, seakan tak ada tandingannya. Maka, tugas terbesar kita sebagai umat Islam adalah menggali dan mendalami lebih jauh kandungan makna tersebut agar semakin mempertajam pemahaman kita terhadap kitab Allah ini, sekaligus menguak pesan-pesan tersirat di dalamnya.

Dari sekian ribu kata yang ada dalam Al-Qur’an, satu hal yang menjadi pokok kajian tulisan ini ialah perbedaan kandungan makna fahsya’ dan munkar. Dua lafaz ini sering kali disalahartikan hingga menimbulkan kerancuan dan misunderstanding di kalangan awam khususnya. Pasalnya, banyak yang menganggap bahwa dua istilah ini memiliki arti serupa. Padahal, jika kita telisik lebih lanjut ternyata menyimpan dua perspektif makna yang sedikit berbeda. Lantas, seberapa jauh perbedaan makna keduanya?

Makna dan derivasi kata fahsya’ dalam Al-Qur’an

Lafaz fahsya’ dengan kata dasar yang terdiri dari tiga huruf, yaitu fa’, ha’, dan syin memiliki arti amat buruk, amat kejinya sesuatu, serta berbagai hal buruk yang melebihi batas. Ini sebagaimana yang dikemukakan Ibnu Zakariyya dalam Mu’jam al-Maqayyis fi al-Lugah (Ibnu Zakariyya, 1994, hal. 827). Berbagai macam derivasinya disebutkan sebanyak 24 kali pada 23 ayat yang berbeda di dalam Al-Qur’an (Fauzan, 2018, hal. 66). Kata ini termasuk kategori ism dari akar kata fahusya dengan bentuk jamaknya, fahisyah dan fawahisy. Baik fahsya’ ataupun fahisyah, keduanya sama-sama berbentuk mashdar

Secara etimologi, kata fahsya’ dimaknai sebagai segala bentuk perilaku yang dianggap sangat buruk dalam perspektif agama, kultur, naluri kemanusiaan, dan akal sehat, serta melibatkan ucapan maupun perbuatan. Sedangkan secara istilah, fahsya’ lebih mengacu pada kekejian perilaku dan perkataan, kecurangan, pengingkaran syariat, atau sejenisnya. Bisa juga dikatakan bahwa fahsya’ adalah tindakan yang keluar dari jalur norma kemanusiaan dan hukum, serta ketetapan Allah (Fauzi, 2020, hal. 274-275).

Adapun dalam kitab Al-Mu’jam al-Wasit diterangkan bahwa kata fahsya’ beserta derivasinya memiliki arti berbagai hal yang qabih (sangat buruk, kotor, menjijikkan, hina), syani’ (amat buruk, tidak sedap dipandang), baik berupa perkataan (aqwal) maupun perbuatan (af’al) (Anis, 1973, hal. 675). Sementara Ibnu Manzur menjelaskan bahwa fahsya’ adalah setiap perkara yang sangat besar keburukannya dari segala bentuk dosa serta kemaksiatan.

Sebagai contoh yaitu pendapat Ibnu al-Asir yang menyatakan bahwa kata al-fahisyah lebih mengarah pada makna zina, lantaran zina itu sendiri adalah fahisyah dan termasuk kategori perilaku fahisyah seperti disebutkan pada QS. An-Nisa’ (4): 19 (Manzur, 1990, hal. 325). Contoh lain perbuatan manusia yang tergolong fahsya’ di antaranya adalah kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan, termasuk pemaksaan pernikahan pada usia ini yang justru akan merusak mental dan psikologis anak (Fauzi, 2020, hal. 282).

Baca juga: Aplikasi Pendekatan Tafsir Maqashidi Atas Surat al-Mujadilah: Perlawanan Perempuan Terhadap Diskriminasi

Makna dan derivasi kata munkar dalam Al-Qur’an

Selanjutnya, terkait dengan kata munkar terulang penyebutannya sebanyak 15 kali di dalam Al-Qur’an. Pada Kamus Bahasa Al-Qur’an, ditemukan bahwa kata ini pada awalnya memiliki arti suatu hal yang tidak masyhur atau dikenal sehingga mengalami pengingkaran, dalam artian tidak disetujui. Itulah mengapa Al-Qur’an menyandingkan kata ini yang bermakna tidak dikenal atau diingkari dengan kata al-ma’ruf yang berarti dikenal atau disetujui.

Dalam penafsirannya, sebagian ulama menginterpretasikan kata al-munkar sebagai segala hal yang membentur norma-norma keagamaan dan adat istiadat pada masyarakat. Melalui pengertian ini, maka dapat dipahami bahwa kata al-munkar mengandung makna yang jauh lebih luas daripada sebatas kata ma’shiyah atau maksiat (Hariyanto, 2016, hal. 1-2). Sehingga, munkar mencakup segala perilaku durhaka kepada Allah dengan berbagai bentuknya, yang sudah barang tentu dilarang oleh Islam serta tidak bisa diterima akal sehat dan fitrah manusia.

Tindakan pencurian menjadi salah satu contoh dari perbuatan munkar yang mana tidak dapat diterima oleh akal sehat. Fitrah maupun akal sehat manusia dapat menilai bahwa tidak sepantasnya seseorang mengambil sesuatu yang bukan miliknya tanpa disertai alasan yang kredibel (Fauzi, 2020, hal. 278-279).

Penempatan kata fahsya’ yang disandingkan dengan kata munkar dalam Al-Qur’an dapat dijumpai pada QS. An-Nahl (16): 90.

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Quraish Shihab menerangkan bahwa kata al-fahsya’ pada ayat tersebut merupakan nama bagi segala tindakan ataupun ucapan, hingga keyakinan tertentu yang dipandang buruk oleh jiwa maupun akal sehat, serta memberikan pengaruh negatif bagi diri sendiri dan lingkungan.

Sedangkan kata al-munkar menurutnya, dengan merujuk pada gagasan Ibnu ‘Asyur adalah segala sesuatu yang dianggap buruk dan diingkari oleh masyarakat tertentu, serta bertolak belakang dengan nilai-nilai ilahi (Shihab, 2002, hal. 701-702). Bentuk dari kemungkaran ini juga beraneka ragam dan memiliki tingkatan tersendiri. Mulai dari yang berhubungan dengan pelanggaran kepada Allah, baik dalam persoalan ibadah maupun non-ibadah. Hingga yang berhubungan dengan manusia dan lingkungannya.

Baca juga: Tiga Posisi Amr Ma’ruf Nahi Munkar dalam Tafsir Ar Razi

Kesimpulan

Melalui berbagai uraian tersebut, maka dapat ditarik benang merah bahwa interpretasi lafaz fahsya’ mengacu pada interpretasi lafaz munkar. Namun, tidak setiap kemungkaran termasuk fahsya’, lantaran makna yang dikandung lafaz fahsya’ lebih spesifik daripada lafaz munkar (Fauzi, 2020, hal. 279).

Di samping beberapa perbedaan tersebut, kata fahsya’ dan munkar juga memiliki keterkaitan yang dapat disimpulkan dalam dua hal, yaitu keduanya merupakan perbuatan dosa yang sama-sama berasal dari setan sebagaimana diterangkan dalam QS. An-Nur (24): 21. Selain itu, fahsya’ sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari munkar. Pasalnya, berbagai bentuk dosa fahsya’ yang lebih mengarah pada dosa-dosa sosial sangat berhubungan dengan konteks makna munkar yang jauh lebih luas.

Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa antara makna fahsya’ dan munkar memang mempunyai korelasi, namun tidak benar-benar identik satu sama lain. Hal ini berarti, kita tidak bisa serta merta mengartikan dua kata ini dengan makna yang serupa, terlebih lagi hanya berdasarkan terjemahan Al-Qur’an. Wallahu A’lam.

Baca juga: Problem Status Terjemah dan Tafsir Al Quran

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 17-21

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 17-21 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kekafiran orang-orang musyrik Mekah. Allah mematahkan seluruh argumen mereka terkait berhala yang mereka sembah. Kedua mengenai nikmat Allah yang tiada tara.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 15-16


Ayat 17

Sesudah itu, Allah swt membungkam orang-orang musyrik dan mematahkan alasan-alasan yang mereka kemukakan karena mereka tidak mau memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan tetap bergelimang dalam kemusyrikannya.

Allah swt menyuruh mereka agar memperhatikan apakah yang menciptakan segala macam nikmat yang diberikan kepada manusia sama dengan patung-patung yang mereka sembah yang tidak dapat menciptakan apa-apa.

Mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari berbagai macam nikmat tadi sehingga mereka akan mengenal siapakah sebenarnya yang pantas memiliki kekuasaan tertinggi, dan menentukan segala macam bentuk kejadian menurut kehendaknya.

Sebenarnya apabila mereka mau merenungkan kejadian alam beserta seluruh isinya dan segala macam nikmat yang diperoleh, mereka tentu akan meninggalkan penyembahan patung-patung yang menjadi tradisi nenek moyang mereka.

Ayat 18

Allah lalu menegaskan bahwa apabila manusia mau menghitung nikmat-Nya, tentu mereka tak akan dapat menentukan jumlahnya karena pikiran manusia itu sangat terbatas, sedangkan nikmat Allah begitu luas.

Oleh sebab itu, kewajiban manusia hanyalah mensyukuri nikmat-nikmat itu dan memanfaatkannya untuk memenuhi keperluan hidupnya dan berkhidmat kepada masyarakat sesuai dengan tuntunan dan keridaan Allah.

Di akhir ayat ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Pengampunan disebut dalam ayat ini karena kebanyakan manusia mensyukuri sebagian kecil dari nikmat yang mereka terima, sedangkan nikmat-nikmat yang sangat luas mereka lupakan begitu saja.

Penyebutan kata-kata Maha Penyayang menunjukkan bahwa Allah tidak akan memberikan hukuman kepada mereka dengan segera karena keingkaran mereka terhadap nikmat Allah yang Mahaluas itu.


Baca juga: Benarkah Malaikat Sujud Kepada Nabi Adam? Begini Pendapat Mufassir


Ayat 19

Allah swt menjelaskan bahwa Dia Maha Mengetahui segala apa yang dirahasiakan manusia. Maksudnya, Allah mengetahui apa yang ada dalam hati manusia, yang berbeda dengan apa yang mereka ucapkan dan kerjakan.

Meskipun manusia merahasiakan dalam hati mereka apa yang sebenarnya terjadi dan tidak seorang pun yang dapat mengetahuinya, nanti di hari kiamat rahasia itu akan dibukakan Allah bagi siapa saja.

Allah akan memberikan pahala kepada orang yang melakukan kebajikan sesuai dengan kebajikannya, dan menghukum orang-orang yang melakukan kejahatan sesuai dengan kejahatannya. Allah sendiri yang akan menanyakan kepada mereka apakah mereka mensyukuri atau bahkan mengingkari nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka.

Ayat 20

Sesudah itu, Allah swt menjelaskan kepada orang-orang musyrik bagaimana keadaan patung yang sebenarnya. Hal ini sebagai penegasan terhadap kebodohan mereka yang tidak dapat menilai keadaan yang sebenarnya dari patung-patung yang mereka sembah.

Allah swt menyatakan bahwa orang-orang yang menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah berarti menyembah sesuatu yang tidak dapat menciptakan suatu apapun. Apa yang mereka sembah itu hanyalah makhluk yang diciptakan oleh Allah. Jadi patung-patung dan sembahan-sembahan lainnya itu tidak dapat memberikan pengaruh apa-apa karena hanya merupakan hasil pahatan manusia itu sendiri.

Allah swt berfirman:

قَالَ اَتَعْبُدُوْنَ مَا تَنْحِتُوْنَۙ  ٩٥  وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ  ٩٦

Dia (Ibrahim) berkata, ”Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu?Padahal Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (as-Saffat/37: 95-96)

Pertanyaan ini adalah cetusan perasaan Nabi Ibrahim pada saat melihat kaumnya yang menyembah patung-patung. Hal ini menunjukkan kebenaran ungkapan Nabi Ibrahim karena patung-patung itu hanyalah ciptaan manusia belaka.

Ayat 21

Allah swt lalu menjelaskan bahwa berhala-berhala itu adalah benda mati. Berhala itu tidak dapat memikirkan bagaimana seharusnya mengabulkan doa-doa yang mereka minta. Allah swt menegaskan bahwa patung-patung itu bukanlah benda hidup yang dapat memberikan pengaruh, baik bagi dirinya maupun di luar dirinya.

Berhala itu, baik disembah ataupun tidak, tidak akan memberikan faedah apa punjuga dan tidak akan pula menyebabkan kemudaratan.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa berhala-berhala itu tidak akan mengetahui dan merasakan bila penyembah-penyembahnya kelak dibangkitkan. Hanya Allah, pencipta jagat raya dan isinya saja yang mengetahuinya, sedang patung-patung itu tidak akan mengetahui apa-apa karena hanya merupakan benda-benda mati.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 22-23


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Empat Tipologi Anak dalam Al-Quran

0
tipologi anak dalam Al-Quran
tipologi anak dalam Al-Quran

Setidaknya ada empat tipologi anak dalam Al-Quran. Hal ini bisa kita telisik di berbagai ayat yang mengandung dan menjelaskan seorang anak. Seorang anak adalah amanah dari Allah Swt. ia bisa menjadi kebanggan atau perhiasan, penyejuk, tetapi di sisi lain anak juga bisa menjadi ujian, bahkan menjadi musuh bagi para orang tuanya.  Lantas, bagaimanakah penjelasan Al-Quran bahwa seorang anak dikatakan sebagai penyejuk jiwa, perhiasan, fitnah atau ujian dan musuh bagi para orang tua?

Empat tipologi anak

Pertama, anak sebagai perhiasan dunia atau zinah. Di dalam Al-Quran terdapat beberapa ayat yang menjelaskan terkait status seorang anak sebagai perhiasan bagi orang tuanya, yakni di QS al-Kahfi ayat ke 46,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. al-Kahfi [18]: (46))

Ayat tersebut menjelaskan bahwa harta dan keturunan atau anak-anak adalah perhiasan dunia (Zinah). Sebagaimana sifat perhiasan, ia bernilah mahal, indah dan menawan. Maka tidak salah, perhiasan tersebut harus kita (orang tua) jaga, rawat dan simpan agar dapat memperindah dan memperbagus kedua orang tuanya.

Baca Juga: Pola Asuh Anak Ala Istri Imran: Tafsir Surat Ali-Imran Ayat 35-37

Perhiasan ini juga akan menyilaukan orang lain, maka para orang tua hendaknya berhati-hati, agar tidak salah merawatnya dan mengambil pengsuh juga guru bagi anak, dan jangan pula dapat memalingkan pemiliknya. Untuk itu Allah memerintahkan kita untuk senantiasa mengingat Allah Swt dan tidak lalai sebab perhiasan dunia tersebut, sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Hadid [57]:20,

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…”

Diceritakan dalam Tafsir al-Qurthubi tentang ‘Uyainah Ibn Hisni yang terlena dengan kekayaan dan kemuliaan, maka Allah Swt. memberitahukannya dan berfirman bahwa perhiasan dunia hanyalah tipu daya yang bisa hilang begitu saja. Dalam sebuah keterangan juga mengatakan bahwa “janganlah kita terperdaya dengan harta karena ia tidak kekal, begitupula perihal istri, bisa jadi hari ini adalah milikmu dan bisa jadi esok ia milik orang lain, sama hal nya dengan jabatan”. (Tafsir al-Qurthubi, 414)

Kedua, anak sebagai ujian. Di dalam Al-Quran ada beberapa ayat yang menjelaskan bahwa anak sebagai ujian atau fitnah, di antaranya adalah QS. al-Anfal [8]:28,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Setiap orang yang –mengaku- beriman pasti diuji (Al-Ankabut ayat 2) dan salah satu ujiannya yaitu anak. Ada dan tidak adanya anak merupakan ujian bagi pasangan suami istri. Jika belum dikaruniai anak dalam waktu yang lama, pasangan suami istri tentu akan resah dan gelisah. Akankah mereka tetap yakin dan beriman kepada Allah dan mampu melaluinya?

Sedang lahirnya anak juga tidak kalah berat ujiannya, terkadang anak dapat melalaikan kedua orang tuanya dari mengingat Allah Swt. Untuk itu para orang tua jangan sampai lengah. Tentu kita masih ingat dengan kisah para Nabi Allah yang diuji keimanannya oleh Allah melalui anak-anak mereka, seperti Nabi Nuh yang anaknya tidak mau beriman kepada Allah, Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih ananya Ismail, Nabi Ya’kub dengan anak-anaknya yang iri dan dengki pada saudara mereka sendiri, dan seterunya. Kisah-kisah agung mereka menjadi teladan bagi kita semua, khsususnya untuk para orang tua.

Baca Juga: Tafsir Surah Yusuf Ayat 11-14: Waspadai Firasat Buruk Orang Tua terhadap Anaknya!

Ketiga, anak sebagai musuh orang tua. Tipologi anak dalam Al-Quran yang ketiga ini meski terlihat agak janggal, karena mana mungkin anak akan menjadi musuh orang tuanya, namun hal ini perlu diperhatikan. Hal tersebut diungkap langsung oleh QS. al-Taghabun [64]: 14,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Sebagaimana dalam Fath al-Qadir, sang mufasir menjelaskan bahwa seorang anak terkadang mampu menghalangi orang tuanya untuk melakukan kebaikan dan menghalang-halangi menuju jalan Allah Swt. Maka sikap orang tua semestinya berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam jurang keburukan karena perilaku dan sikap anak sendiri.

Baca Juga: Kritik Al-Quran Terhadap Fenomena Pembunuhan Anak Di Masa Jahiliyah

Keempat, anak sebagai penyejuk jiwa. Tipologi anak dalam Al-Quran yang satu ini terdapat ayat yang menjelaskan tipe anak sebagai penyejuk jiwa, yakni pada ayat ke 74 surah al-Furqan,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan [25]:74)

Yang perlu digaris bawahi adalah kata qurrata a’yun yang bermakna permata hati, penyejuk mata, penyejuk jiwa. Dalam beberapa penafsiran, misalnya; Tafsir at-Thabari, Tafsir Zad al-Masir dan tafsir mu’tabaryang lainnya menjelaskan bahwa seorang anak yang menjadi permata hati adalah mereka yang senantiasa taat kepada Allah Swt, berbakti kepada orang tua dan menyebarkan manfaat kepada sesama.

Tentu tipe inilah yang menjadi dambaan setiap orang tua, memiliki anak yang senantiasa menjadi penyejuk jiwa. Anak yang seperti ini yang nantinya akan menjadi tabungan amal jariyah bagi kedua orang tuanya, yaitu anak yang saleh yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.

Mengingat bahwa tipologi anak dalam Al-Quran ini bermacam-macam, maka para orang tua (ayah dan ibu) khususnya, harus sama-sama perhatian dari awal, karena didikan orang tua lah faktor pertama dan utama pembentuk kepribadian anak,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتَجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ؟

Dari Abu Hurairah RA., Nabi Saw. bersabda “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani atau Majusi, sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya? (HR. Al-Bukhari)

Semoga kita dikaruniai keturunan yang saleh, salehah yang senantiasa menjadi penentram hati dan penyejuk jiwa, nantinya menjadi keturunan yang mampu mengangkat derajat kedua orang tuanya di sisi Allah Swt.

“Rabbana Hablana Min Azwaajina Wa dzurriyyatina Qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imaama”. Amin Allahumma Amin.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 15-16

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 15-16 berbicara mengenai dua hal. Pertama berbicara mengenai nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah yang tidak dirasakan manusia secara langsung. Misalnyanya penciptaan gunung-gunung. Hal ini sekaligus menjadi pembicaan kedua.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 13-14


Ayat 15

Allah swt juga menyebutkan nikmat yang didapat manusia secara tidak langsung. Dia menciptakan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang. Dengan demikian, binatang-binatang serta manusia yang berada di permukaannya dapat hidup tenang.

Gambaran yang dapat diambil dari ayat ini ialah bahwa gunung diciptakan oleh Allah sebagai pemelihara keseimbangan bumi sehingga dapat berputar dengan tenang. Mengenai ketenangan bumi karena adanya gunung itu dapat diumpamakan seperti tenangnya perahu di atas air.

Apabila perahu itu tidak diberi beban, ia mudah tergoncang oleh gelombang ombak. Tetapi apabila diberi beban yang cukup berat, maka perahu itu tidak mudah oleng.

Allah swt menciptakan sungai di permukaan bumi yang mengalir dari suatu tempat ke tempat lain sebagai nikmat yang diberikan pada hamba-Nya.

Sungai itu berfungsi sebagai sumber pengairan yang dapat diatur untuk mengairi sawah dan ladang, sehingga manusia dapat bercocok tanam untuk memenuhi segala macam kebutuhannya. Di samping itu, sungai dapat juga dijadikan sebagai sarana lalu lintas guna kepentingan pengangkutan barang-barang dagangan manusia.

Allah juga menciptakan daratan yang dapat digunakan sebagai sarana perhubungan dan transportasi dari suatu negeri ke negeri yang lain. Jalan-jalan itu terbentang mulai dari tepi pantai, menembus hutan-hutan, dan melingkari gunung-gunung, sehingga dengan demikian manusia dapat mencapai tujuannya tanpa tersesat ke tempat lain. Itulah sebabnya di akhir ayat ini, Allah swt menyebutkan bahwa manfaat dari jalan-jalan itu agar manusia mendapat petunjuk. Artinya tidak tersesat tanpa arah tujuan.

Firman Allah:

وَجَعَلْنَا فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِهِمْۖ وَجَعَلْنَا فِيْهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّهُمْ يَهْتَدُوْنَ

Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia (tidak) guncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (al-Anbiya’/21: 31)

Ayat 15 Surah an-Nahl/16 ini juga menyiratkan bagaimana proses geologi berjalan, yang pada dasarnya berupa siklus yang tiada berhenti.

Ketika proses erosi terjadi maka seluruh material hasil erosi dihamparkan dan diendapkan pada tempat-tempat yang lebih rendah, bahkan mencapai wilayah-wilayah terendah seperti palung-palung yang terdapat di sebelah barat pulau Sumatera ataupun di selatan pulau Jawa.

Kumpulan material akibat erosi selama jutaan tahun ini secara bersamaan dihimpit oleh lempengan-lempengan yang terus bergerak dan lambat laun menghasilkan pegunungan.

Proses geologi selalu menuju ke keseimbangan yang terukur. Pada pegunungan yang menjulang tinggi, maka beban ini menekan kerak bumi di bawahnya dan menyebabkan kerakbumi menekuk lebih dalam, ibarat sebuah akar yang menunjam dalam dan membuat bumi stabil. Jadi, di bawah pegunungan terdapat akar yang ketebalannya prororsional dengan beratnya (terukur).

Contoh dari fenomena  adalah  di bawah pengunungan Himalaya yang menjulang tinggi terdapat akar yang dalam.


Baca juga: Ketahui Manfaat Gunung Sebagai Pasak Bumi, Ini Penjelasannya dalam Al Quran


Ayat 16

Di samping itu, Allah swt menciptakan gunung-gunung itu sebagai tanda yang dapat digunakan manusia sebagai petunjuk untuk mengetahui di mana mereka berada. Apabila seseorang berlayar di lautan dan masih dapat melihat rambu-rambu darat maka gunung-gunung itulah sebagai tanda baginya untuk menentukan posisi dan kedudukan perahunya.

Selanjutnya Allah swt menjelaskan pula bahwa Dia menciptakan bintang-bintang yang juga dapat dijadikan sebagai penunjuk arah. Bintang digunakan para musafir di darat, pelaut, dan penerbang sebagai petunjuk di waktu malam apabila rambu-rambu tak dapat dipergunakan lagi.

Karena di waktu malam gelap, hanya cahaya-cahaya bintang itulah yang paling jelas bagi mereka. Manusia dapat mengambil petunjuk dari bintang dengan jalan mengenal gugusan bintang-bintang itu yang dalam ilmu falak telah diberi nama-nama tersendiri.

Sudah tentu, yang dapat menggunakan bintang sebagai petunjuk ialah mereka yang telah dapat membedakan masing-masing gugusan bintang itu dan mengenal saat terbit dan tenggelamnya. Gugusan-gugusan bintang itu dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan kedudukan mereka di permukaan bumi.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 17-21


(Tafsir Kemenag)

Surah Al-Hajj [22] Ayat 36-37: Dua Tujuan Ibadah Kurban

0
tujuan ibadah kurban
tujuan ibadah kurban

Setiap bulan Dzulhijjah, tepatnya pada tanggal 10, 11, 12, dan 13, umat Islam yang tidak melaksanakan haji disunahkan untuk melakukan ibadah kurban dengan menyembelih hewan ternak dan membagikannya kepada orang lain guna mendekatkan diri kepada Allah Swt. Hewan ternak yang bisa digunakan dalam ibadah kurban terdiri dari domba, kambing, sapi, dan unda atau biasa disebut al-udhiyah (Bidayat al-Mujtahid).

Sama seperti ibadah-ibadah lain dalam ajaran Islam, tujuan ibadah kurban terdiri dari dua dimensi utama, yakni dimensi ritual-spiritual dan dimensi sosial. Dua dimensi tujuan ibadah kurban ini mesti ditekankan oleh setiap muslim, karena tanpa kehadiran salah satunya, pelaksanaan ibadah kurban akan kehilangan sebagian makna utamanya.

Baca Juga: Surah Al-Hajj [22] Ayat 34: Berkurban Adalah Syariat Agama Samawi

 Dua tujuan ibadah Al-Qur’an tersebut disebutkan oleh Allah dalam surah al-Hajj [22] ayat 36-37 yang berbunyi:

وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٣٦ لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧

Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.”

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj [22]: ayat 36-37).

Secara umum, surah al-Hajj [22] ayat 36-37 perintah melaksanakan ibadah kurban atas nama Allah swt untuk mengagungkan-Nya, membagikan daging kurban kepada orang yang berhak, dan meluruskan niat ibadah kurban, yakni semata-semata mengupayakan rida Allah dalam konteks ketakwaan. Orang yang mampu melakukan itu semua disebut sebagai muhsinin.

Menurut Quraish Shihab, surah al-Hajj [22] ayat 36 berisi tentang perintah menyembelih hewan kurban atas nama Allah swt. Bentuk ucapannya adalah bismillah, Allahu Akbar, Minka Wa Ilaika (dengan nama Allah, Allah Maha Besar, dari-Mu sumbernya dan kepada-Mu aku tujukan). Selain itu, Allah juga memerintahkan untuk membagi daging kurban kepada orang yang berhak.

Kemudian menurutnya, surah al-Hajj [22] ayat 37 berisi tentang tujuan ibadah kurban yang paling asasi, yakni mendekatkan diri dan bertakwa kepada Allah swt. Ketakwaan inilah yang membuat ibadah kurban seseorang diterima di sisi Allah, bukan hal lain. Ditegaskan juga bahwa ketakwaan itu sendiri semata-mata berasal dari petunjuk-Nya (Tafsir al-Misbah [9]: 60).

Al-Sa;adi dalam Taisir al-Karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan menyebutkan, surah al-Hajj [22] ayat 36 berisi tentang perintah berkurban dengan menyebut nama Allah, memakan dan membagikan daging kurban kepada orang-rang yang berhak, yakni al-qani’ dan al-mu’tar. Al-qani’ adalah fakir yang tidak mau meminta-minta, sedangkan al-mu’tar adalah fakir yang meminta sedekah.

Lalu pada surah al-Hajj [22] ayat 37 ditegaskan bahwa tujuan dari ibadah kurban bukan sekedar menyembelih hewan kurban dengan nama Allah, karena pada hakikatnya Dia tidak membutuhkan itu, Dia Maha Kaya dan Maha Terpuji. Tujuan ibadah kurban yang sebenarnya – menurut al-Sa’adi – adalah merengkuh keikhlasan, bentuk upaya ketaatan, dan niat yang benar, yakni mengharap rida Allah semata, bukan untuk menyombongkan diri maupun riya.

Hal senada juga disampaikan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam tafsir Marah Labid. Ia menyebutkan bahwa surah al-Hajj [22] ayat 36 berbicara tentang ketentuan ibadah kurban, mulai dari niat yang tulus karena Allah swt, menyebut nama-Nya ketika berkurban, perintah untuk memanfaatkan sebagian dagingnya bagi diri sendiri, dan juga membagikan dagingnya kepada orang yang membutuhkan.

Al-Bantani menegaskan, tujuan ibadah kurban pada dasarnya adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan. Oleh karena itu, hendaknya ibadah kurban dilakukan dengan penuh keikhlasan, sebab yang menjadi patokan diterimanya atau tidaknya ibadah kurban ialah keikhlasan dan ketakwaan dari pelaku. Ia menyebut, “darah dan daging kurban tidak akan sampai kepada Allah, yang sampai adalah perbuatan baik yang ada di dalamnya seperti sedekah.”

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Hukum Memakan Janin yang Mati dalam Perut Hewan yang Disembelih

Artinya, hal yang paling mendasar dari ibadah kurban ada dua hal, yakni: pertama, keikhlasan dan ketauhidan kepada Allah swt dalam ibadah kurban. Hal ini diisyaratkan dengan menyebut nama-Nya. Kedua, berbuat baik kepada sesama dengan cara membagikan sebagian rezeki dari Allah berupa daging kurban sebagai bentuk rasa syukur dan manifestasi ketaatan kepada-Nya.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa surah al-Hajj [22] ayat 36-37 berisi tentang dua dimensi tujuan ibadah kurban, yaitu: pertama, tujuan yang bersifat ritual-spiritual guna mendekatkan diri kepada Allah swt. Kedua, tujuan yang bersifat sosial dalam rangka membangun masyarakat sejahtera. Dua tujuan ini juga menegaskan bahwa Islam adalah agama ketuhanan dan kemanusiaan. Wallahu a’lam.